Buka-Bukaan AREMA, Dedikasi UMM untuk Ultah Arema ke-29 Tahun

DI hari ulang tahunnya (ultah) ke-29 tahun, klub kebanggaan Arek Malang, Arema, menerbitkan buku kumpulan essay berisi dua puluh-an tulisan karya pemain dan menejemen Arema di penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).  “UMM sedari dulu telah memiliki hubungan yang baik dan emosional dengan Arema. Khususnya tahun-tahun saat Arema tidak berada di situasi-kondisi seperti sekarang,” kata Yunan Syaifullah, Sekretaris UMM Press. Dilatar belakangi sejarah dan hubungan yang baik itu, menejemen Arema meminta kesediaan UMM untuk menerbitkan sebuah buku. “Tentu kita sambut dengan tangan terbuka. Alasannya, satu yang paling penting, belum satupun klub sepakbola di Indonesia yang mendokumentasikan perjalanan sejarahnya dalam bentuk tulisan. Selama ini dokumentasi itu kebanyakan berupa visual,” klaim Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM yang juga pengamat sepak bola dan penulis buku Filosofi Bola ini. Selaras dengan judul sampulnya, Buka-Bukaan Arema, buku setebal  delapan puluh lima halaman ini mengulas ‘isi dapur’ dan juga pengalaman yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Pengolahan buku tersebut, mulai dari proses pengeditan naskah hingga siap buku cetak hanya memakan waktu empat hari saja. Kamis (11/8) lalu, bertepatan dengan Tasyakuran ultah Arema ke-29 tahun, buku Buka-Bukaan Arema resmi diluncurkan. Yunan mengatakan, pihaknya menyanggupi penerbitan buku itu kalau memang mau digarap dengan serius. “Serius itu salah satunya harus terlegalisasi, yakni dengan kita daftarkan ke perpustakaan nasional dan memenuhi standar buku internasional (baca: ISBN). Kalau mau buat sejarah, harus buat buku dengan serius,” jelas Yunan. Dibalik itu, melaui buku tersebut, diharapkan dapat meningkatkan budaya literasi di kalangan pecinta sepak bola. “Kami mencoba menyelamatkan edukasinya, literasinya, tentu saja pesan-pesan moral kampus juga tetap tersampaikan,” terangnya. Rencananya, buku yang baru tercetak seribu eksemplar ini bakal didistribusikan ke seluruh toko buku dan dikirimkan ke tak kurang lima ratus-an klub sepak bola di seluruh Indonesia. “Kalau tanggapan masyarakat bagus, kami (baca: UMM) dan menejemen Arema akan melanjutkan penerbitan buku berikutnya,” ungkapnya. Dalam testimoninya, Rektor UMM, Fauzan mengungkapkan, diterbitkannya buku tersebut semakin menegaskan bahwa Arema adalah aset bangsa yang menjadi icon Malang Raya. “Ia bukan sekedar sepak bola dan suporternya, tapi juga value dan culture, bahkan menjadi ideologi. Maka menjadikan Arema sebagai pusaran peradaban yang berkeadaan harus kita bangun, karena itu akan menjadi pertaruhan sejarah bagi Arema yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita. UMM dan kita semua berkepentingan untuk menjaga marwah Arema yang progresif tetapi tetap beradab. Salam Satu Jiwa,“ tandasnya. (can/rin)

UMM Dampingi 365 Personil US Army Latihan Tempur

SEBANYAK 34 dosen, mahasiswa dan karyawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkesempatan merasakan pengalaman langka berinteraksi dengan tentara Amerika Serikat (AS). Mereka dipercaya badan kemiliteran milik AS, United State (US) Army untuk mendampingi 365 personil angkatan bersenjata yang tengah mengadakan rangkaian agenda latihan tempur bersama tentara Republik Indonesia di Banyuwangi dan sejumlah kawasan di Jawa Timur. Selain latihan tempur, terdapat agenda lain berupa pengobatan masal serta seminar manajemen. Peran UMM sendiri membantu berkomunikasi, yakni sebagai interpreter atau penerjemah bahasa. “Komunikasinya bisa dengan masyarakat umum ketika ada pengobatan masal misalnya, bisa kepada tentara Indonesia, bisa juga kepada pejabat-pejabat setempat ketika mendampingi seputar kerjasama atau urusan administrasi,” ungkap Asisten Rektor Bidang Kerjasama Luar Negeri, Soeparto. UMM merupakan satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang dipercaya mendampingi para tentara dari Negeri Paman Sam tersebut. “Bagusnya, volunteer kita bisa mengikuti seluruh rangkaian meski harus tergopoh-gopoh,” kata Soeparto, Rabu (10/8) di ruang kerjanya. Agenda latihan yang diikuti personil Angkatan Darat, Angkatan Laut, Korps Marinir, Angkatan Udara, dan Penjaga Pantai itu berlangsung sejak 17 Juli hingga 18 Agustus 2016 mendatang. “Agenda kerjasama ini merupakan kali kedua sejak pertama kali diadakan pada 2014 lalu. Terkait tempat dan agenda lengkapnya dirahasiakan,” katanya. Bertugas mendampingi para tentara bukan soal remeh bagi para akademisi UMM, lantaran harus menyesuaikan diri dengan kehidupan dan pola pikir militer AS. “Seolah-olah memang kegiatannya begitu-begitu saja, tapi kalau di lapangan luar biasa kegiatannya. Bisa dibayangkan, tentara itu betapa disiplinnya. Banyak pembelajaran sangat penting yang bisa diambil di situ,” tuturnya. Terkait volunteer yang diikutkan dalam project ini merupakan mereka yang pernah mengikuti program Learning Express (LEx), yakni sebuah program belajar cepat kerjasama UMM dengan sejumlah kampus di Singapura dan Jepang. “Pada 24 September mendatang IRO akan kembali menjalin kerjasama program dengan LEx Singapura,” ungkapnya. Selain itu, lanjut Soeparto, pengalaman menarik lainnya yakni volunteer bisa belajar tentang kerahasiaan tugas. “Jadwal aja kami tidak diberi. Kedutaan Amerika di Indonesia pun kadang diubah-ubah jadwalnya. Yang pasti, being on time merupakan sesuatu yang sangat penting mereka pelajari,” tandasnya. (can/han)

25 Tahun Mengabdi, Security Ini Diberangkatkan Haji

KUSMANADHI tak pernah bermimpi sebelumnya akan menunaikan ibadah haji tahun ini. Meski hanya bekerja sebagai staf keamanan (security) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), ia akhirnya masuk dalam daftar karyawan yang diberangkatkan untuk menunaikan rukun Islam ke-5 itu. Keharuannya tidak dapat ia bendung saat diwawancarai Humas UMM, usai pelepasan oleh Wakil Rektor II, Dr Nazarudin MSi, di Ruang Sidang Senat UMM, Selasa (9/8). “Alhamdulillah sekali, saya berterimakasih pada UMM. Sangat-sangat berterimakasih,” ucap Kusmanadhi. Ia mengaku sangat senang dan bersyukur mengingat kesempatan naik haji tidak pernah menjadi angan-angannya sebelumnya. “Mudah-mudahan dengan adanya tradisi ini, kampus ini menjadi lebih besar dan selalu dalam lindungan Allah,” doa Kusmanadhi yang juga didampingi istrinya, Sulis Rahayu. Sulis turut berbahagia lantaran suaminya tahun ini diberangkatkan haji oleh UMM. “Kami berterimakasih kepada UMM yang telah memberikan fasilitas untuk beribadah haji. Mudah-mudahan ke depan UMM terus jaya. Mudah-mudahan tetap bisa berjuang di jalan Allah. Termasuk memberi manfaat bagi masyarakat, bagi mahasiswa dan bagi seluruh dosen dan karyawan yang ada di UMM ini,” ungkapnya. Memasuki musim haji 1437 Hijriyah, UMM akan memberangkatkan 13 keluarga calon jamaah haji. Rombongan yang terdiri dari dosen dan karyawan tersebut telah memenuhi sejumlah syarat, salah satunya telah mengabdi dan berdedikasi setidaknya dua puluh lima tahun di UMM. “Untuk biaya pemberangkatan karyawan sepenuhnya ditanggung universitas,” terang Kepala Biro Administrasi Umum (BAU) sekaligus penanggungjawab acara,  Dr Muslimin Macmud MSi dalam laporannya. Sedangkan untuk dosen, lanjut Muslimin, diberi bantuan untuk meringankan pemberangkatan hajinya. Wakil Rektor II Dr Nazarudin Malik MM menerangkan, tiap tahunnya UMM memiliki tradisi memberangkatkan sejumlah karyawan, dosen beserta keluarganya untuk naik haji. “Sebagai institusi yang berada di bawah persyarikatan Muhammadiyah, maka ibadah haji ini menjadi tradisi tersendiri bagi segenap warga UMM,” ungkapnya. Bagi Nazar, haji memiliki unsur maqam mustajab, sehingga melaksanakannya dapat meningkatkan kemuliaan seorang Muslim. “Dalam berhaji, yang paling susah itu adalah bagaimana kita merenungi diri untuk membangun pikiran-pikiran positif dan bersih. Kalau tidak, hal Ini bisa kalah lho dengan komat-komitnya (baca: doa). Komat-kamitnya kenceng nggak tahu artinya juga kan kacau. Sehingga suasana kontemplasinya enggak nyambung,” terang Nazar. Hadir pula memberi arahan Sekretaris Badan Pelaksana Harian (BPH) UMM Wakidi. Ia mengingatkan tempat-tempat di mana doa mudah dikabulkan, di antaranya pintu multazam, pintu yamani dan hajar aswad. “Berdoalah untuk diri sendiri, untuk keluarga dan untuk keluarga besar kampus ini,” tuturnya. (can/han)

PSIF dan PWM Jatim Bincangkan Konsep Pancasila dan NKRI Perspektif Al-Qur’an

NEGARA Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan ideologi Pancasila merupakan jatidiri bangsa ini sebagai konsep berbangsa sekaligus pedoman hidup. Dalam konteks Islam, konsep tersebut menarik karena banyaknya ayat Al-Quran yang secara tersurat maupun tersirat berbicara tentang negara, pemerintahan dan masyarakat. Merespon hal tersebut, Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur mengadakan kajian tentang Negara Pancasila sebagai Dar al-Ahdi wasy-Syahadah, yang berlangsung di UMM Inn, Sabtu (6/8). Kegiatan menghadirkan sekretaris umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti dan Dosen Fakultas Hukum (FH) UMM Tongat. Wakil Rektor I Syamsul Arifin turut hadir membuka acara tersebut. Menurut Abdul Mu’ti, dalam Islam bernegara merupakan sunnatullah yang harus ditegakkan oleh setiap segenap kaum Muslimin. Dalam hal ini, lanjut Mu’ti, Muhammadiyah akan selalu berpijak pada Al-Quran dan Hadist sebagai pedoman dalam bernegara. “Surat Ali Imran ayat 110 menjadi salah satu ayat yang menjadi dasar bagi Muhammadiyah dalam praktek bernegara,” jelas lulusan Flinders University, Australia ini. Sebagai dar al-ahdi, Indonesia merupakan satu kesatuan dalam sebuah organisasi. Bagi Mu’ti, negara adalah organisasi di mana hal itu juga dijelaskan dalam Al-Quran. “Dalam Al-Quran tidak disalahkan setiap orang untuk hidup berkelompok atau ber-qobilah, karena Al-Quran memang memerintahkan untuk ber-qabilah,” ujar Ketua PP Pemuda Muhammadiyah periode 2002-2006 tersebut. Selanjutnya, darusy-syahadah dapat ditafsirkan bahwa setiap umat Islam Indonesia melakukan pembuktian bahwa dirinya adalah Muslim. Tidak hanya melalui teori saja, keberislaman itu juga harus dibuktikan melalui praktek yang sejalan. “Perlu dibuktikan bahwa kita semua adalah ummatan wasathan. Jika yang mengatur negara bukan orang Islam atau orang Islam namun tidak mengamalkan ajaran Islam maka tidak terwujudlah baldatun thoyyibatun itu,” ujarnya di hadapan warga Muhammadiyah dan civitas akademika yang hadir. Terkait Pancasila, menurut Tongat, ihwal yang perlu dipaerhatikan yaitu adanya kesalahpahaman yang diajarkan orang tua pada anaknya, semisal tentang monopoli tafsir terhadap Pancasila. Dengan adanya monopoli penafsiran tersebut, maka tertutuplah kesempatan orang lain untuk menafsirkan tentang Pancasila. “Ada monopoli tafsir Pancasila yang dilakukan pada zaman orde baru dulu, sehingga masyarakat umum tidak biasa menafsirkan Pancasila itu sendiri,” jelas Tongat yang juga pakar Hukum Pidana UMM. (jll/han)

Mendikbud Muhadjir Bukti Dedikasi Muhammadiyah untuk Bangsa

KEHADIRAN Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Prof Dr Muhadjir Effendy MA yang juga Rektor UMM 2000-2016 untuk melakukan silaturrahim dan pengajian di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) disambut hangat dan penuh sukacita oleh civitas akademika UMM. Rektor UMM Fauzan mengatakan, dipilihnya Muhadjir sebagai Mendikbud selaras dengan jargon UMM “Dari Muhammadiyah untuk Bangsa”. Fauzan menyebut saat ini Muhadjir bukan hanya milik UMM namun telah menjadi milik bangsa Indonesia, sebagai bentuk dedikasi Muhammadiyah pada bangsa, khususnya di bidang pendidikan. “Saat ini kita perlu mendorong Pak Muhadjir dengan segala kebijakannya, serta mendukung program-program yang dibuatnya,” ujar Fauzan saat kegiatan silaturahim bersama Mendikbud di Teather UMM Dome, Ahad (7/8). Fauzan mengaku bangga karena dua mantan Rektor UMM dipercaya mengemban amanah di pemerintahan, untuk memajukan pendidikan bangsa. “Dulu Pak Malik Fadjar mantan Rektor UMM juga jadi Menteri, sekarang Pak Muhadjir juga jadi Menteri,” ujarnya. Muhadjir Effendy sendiri mengakui, Muhammadiyah memiliki tradisi yang kuat di bidang pendidikan. Dengan bekal pengalaman Muhammadiyah di bidang pendidikan inilah yang membuat Muhadjir yakin dapat menyelesaikan tugas kementrian ini. “Karena Muhammadiyah sudah sering bergerak di ranah pendidikan, jadi saya yakin bisa melaksanakan tugas ini dengan bantuan semua warga persyarikatan,” jelas ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini. Pada kesempatan tersebut,Muhadjir juga mengajak semua warga Muhammadiyah yang hadir untuk bersama-sama mendukung program yang sudah dibuat sehingga syiar Muhammadiyah lewat pendidikan ini bisa terealisasi. Muhadjir juga mengajak semua warga Muhammadiyah untuk memperbaiki pendidikan dasar dan menengah. “Mari kita bersama merestorasi pendidikan dasar dan menengah ini sehingga pendidikan negara ini bisa lebih baik.” Pada kegiatan tersebut, Muhadjir sekaligus pamitan pada semua yang hadir. Ia berharap bisa membawa nama Muhammadiyah dan melaksanakan tugas persyarikatan dengan baik. “Saya pamit jadi Menteri, mudah-mudahan berhasil mengharumkan nama Muhammadiyah,” tutup Muhadjir. (jll/han)

Magister Pendidikan Matematika Fasilitasi Guru dan Dosen Lakukan Riset dan Sertifikasi

MAGISTER Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan Seminar Nasional untuk memfasilitasi guru dan dosen melakukan publikasi penelitian dan sertifikasi. Kegiatan yang rutin diadakan setiap tahunnya ini dihadiri 57 peserta pemakalah terdiri dari guru tingkat SD, SMP, SMA/K pilihan serta 6 mahasiswa pascasarjana bertempat di Ruang Sidang Senat UMM, Sabtu (6/8). Ketua Panitia Siti Miftakhul Muflikha mengatakan, matematika merupakan ilmu yang sangat dibutuhkan di berbagai bidang, tidah hanya pendidikan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya kegiatan ini, Muflikha berharap para guru dan dosen lebih tahu bagaimana mengajarkan dan menanamkan ilmu matematika ke siswa dan mahasiwa, sehingga bisa meningkatkan kualitas bangsa. “Semoga mereka bisa menyiapkan anak didik siswa dan mahasiswa agar bisa mengikuti olimpiade tingkat nasional dan internasional,” jelasnya. Dosen Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang menjadi salah satu pembicara di acara ini, Dr Ahmad MPd, menjelaskan ketika guru mengajar maka ia harus berpedoman pada motivasi dan sikap. Pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), motivasi dan sikap dicantumkan, juga harus dipraktikkan. Penilaian sikap dan motivasi pelajaran matematika yang notabene “menjadi momok” sangat penting untuk diperhatikan agar siswa menyukai matematika. “Guru harus memotivasi, jangan menjadikan matematika itu itung-itungan malah medeni”, ujarnya. Sementara itu dosen Prodi Matematika UMM Mohammad Syaifuddin MM menyampaikan teknik penilaian atau penilaian otentik terhadap sikap pembelajaran di kelas. Ia mengibaratkan seorang guru adalah sebuah air bening yang menjernihkan. Dalam penelitiannya, ia menemukan adanya pengaruh persepsi mahasiwa tentang statistik diskriptif terhadap sikap. “Seharusnya siapapun yang mengajar dengan materi yang sama, tidak berbeda perlakuannya. Supaya hasil yang dicapai juga sama,” ujarnya. Baginya, penilaian haruslah disesuaikan dari awal hingga akhir, tidak hanya nilai ujian tengah semester (UTS) dan ujian akhir semester  (UTS) tetapi juga disesuaikan dengan kemampuan dan perubahan sikap agar tidak membunuh karakter mahasiswa atau siswa. Selain itu, strategi dan proses penilaiannya harus mix combination antara membaca, menulis, mendengar, berperilaku, berpendapat, dan berkelompok dalam penugasan. (roh/han)

ATAS prakarsa Forum Program Studi Ahwal Al-Syakhshiyyah (PERKASA) dan Asosiasi Program Studi Ekonomi Syariah (FORSES), Fakutas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), khususnya dua prodi serumpun, yaitu prodi Ahwal Al-Syakhshiyyah dan prodi Ekonomi Syariah mengadakan Workshop Penyusunan Kurikulum Berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) di Auditorium UMM (5-6/8). Kegiatan diikuti 70 peserta dari 58 institusi se-Koordinator Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (Kopertais) Willayah IV meliputi Jawa Timur, Bali, Lombok dan Kupang. Kegiatan dilatari belum banyaknya universitas yang memiliki kemampuan melakukan penyesuaian kurikulum sesuai peraturan Dikti. “Ini untuk menyesuaikan model kurikulum tingkat pendidikan tinggi dengan standar yang dibakukan oleh Dikti,” tim pengembang Kurikulum Pendidikan Tinggi Prof Dr Hendrawan MPd. Hendrawan mengatakan, filosofi pengembangan kurikulum mengacu pada Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT) Pasal 35 Tahun 2012. Hal ini perlu dikembangkan karena sejumlah alasan di antaranya kesenjangan mutu, jumlah dan kemampuan, relevansi penghasil versus pengguna atau pengangguran, serta beragam aturan kualifikasi. “Ada pula faktor eksternal yaitu persaingan global dan ratifikasi Indonesia di berbagai konvensi internasional. Berbagai faktor itulah yang bisa menjadi acuan penggunaan kurikulum KKNI untuk mendapatkan nilai kesetaraan dan pengakuan kualifikasi dari SDM asing dan SDM Indonesia,” paparnya. Hendrawan mengibaratkan pengembangan kurikulum seperti rangkaian laba-laba dengan kerikil pada sebuah bidang. Baginya, membuat pola hingga menjadi berbentuk laba-laba tidaklah harus berisikan ukuran kerikil yang sama. Demikian pula dengan struktur pada pengembangan kurikulum berbasis KKNI. “Pada setiap prodi pun acuan capaian pembelajarannya tidak sama,” jelasnya. Diharapkan, workshop yang dihadiri para periset, perencana pembelajaran, serta pejabat prodi Ahwal Al-Syakhshiyyah dan Ekonomi Syariah ini akan diterjemahkan pada masing-masing perguruan tinggi. “Endingnya yang jelas kurikulum yang kita hasilkan bisa kita terjemahkan di kampus kita masing-masing,” kata Ketua PERKASA Dr Chan. Sementara itu Ketua FORSES Dr Choirul Ulum menjelaskan, Kurikulum Berbasis KKNI sebenarnya sudah harus digunakan. Namun, dengan banyaknya persoalan yang dihadapi, ia berharap dari kegiatan ini sesegera mungkin harus disosialisasikan pada masing-masing perguruan tinggi. “Kalau bisa kami akan menerapkan di fakultas kami dan harus disosialisasikan pada perguruan tinggi lainnya,” kata Choirul. Menurut Dekan FAI UMM, idealnya, mewujudkan kurikulum berbasis KKNI tidak bisa berjalan sendiri. Alangkah baiknya pemerintah juga memberikan perhatian khusus pada agar para stakeholders lebih terpacu memperbaiki kurikulum berbasis KKNI. “KKNI harus didukung semua pihak, tidak hanya pada perguruan tinggi, namun juga pemerintah. Keduanya harus maksimal,” tegas Faridi. Ketua Panitia Workshop M Arif Zuhri berharap besar akan ada tindak lanjut melalui pelaksanaan lokakarya di tingkat universitas. “Pengembangan kurikulum yang sempurna pada masing-masing perguruan tinggi sesuai dengan KKNI diharapkan menciptakan profil lulusan yang baik,” ujar Dosen Prodi Ahwal Al-Syakhshiyyah UMM ini. (roh/han)

Lima Tim PKM UMM Lolos Pimnas 2016

LIMA kelompok Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil lolos untuk mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) yang akan digelar pada 8-12 Agustus 2016 di Institut Pertanian Bogor (IPB). Saat ini, kelima kelompok tersebut tengah mengikuti pembekalan yang diadakan oleh Biro Kemahasiswaan UMM selama lima hari (1-5/8) di Ruang Sidang Senat UMM. Tim yang lolos tersebut terdiri dari 1 tim PKM Kewirausahaan, 2 tim PKM Pengabdian Masyarakat, 1 tim PKM Penelitian Eksak dan Humaniora dengan keseluruhan tim berjumlah 19 mahasiswa. Staf Kemahasiswaan UMM, Agus Santoso berharap tiga reviewer UMM dapat memberikan semangat dan ilmu semaksimal mungkin kepada tim yang lolos Pimnas ini. Tiga reviewertersebut yaitu Cekli Setya Pratiwi SH LLM yang berbicara tentang “Optimalisasi Materi Laporan Akhir Menjadi Powerpoint yang Efektif”, Dr Untung Santoso tentang “Performa Presentasi dan Public Speaking”MM dan Drs Nur Widodo MKes tentang “Teknik Mendesain Poster Ilmiah”. Wakil Rektor III Dr Sidik Sunaryo MHum dalam sambutan pembekalan turut memberikan motivasi agar tim Pimnas dapat berkiprah sebaik mungkin, serta tidak minder dengan tim-tim Pimnas lainnya. “Kampus sudah membekali kalian jadi kalian tidak boleh minder. Tim Pimnas lain pun juga mempertimbangkan kemampuan kita,” paparnya. Sementara itu Untung Santoso menekankan, salah satu hal yang harus dilakukan tim Pimnas saat mempresentasikan hasil PKM yaitu mengambil hati para juri. “Pintar pintarlah Anda melihat potensi berbahasa untuk melaporkan,” kata Untung. Di sisi lain, Nur Widodo menjelaskan, secara keseluruhan poster ilmiah yang baik yaitu dapat menceritakan banyak hal, di antaranya apa yang menjadi isi poster, ringkasan materi dari keseluruhan PKM, hal-hal penting serta estetika poster yang harus memenuhi attention, interest, desire danaction(AIDA), pola golden rasio dan eye flow. “Seluruh tim harus latihan agar bisa mengoptimalkan waktu presentasi. Aspek dalam presentasi yaitu harus terus berlatih, berlatih dan berlatih”, papar Nur Widodo. (roh/han)

Penuhi Passing Grade, Lima Prodi Ini Ditutup di Gelombang Tiga

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menutup pendaftaran bagi lima program studi (prodi) di gelombang III, yaitu prodi Ilmu Komunikasi, prodi Hubungan Internasional,Manajemen, Akuntansi dan Kedokteran. Hal itu berdasarkan edaran yang dikeluarkan kepala Unit Pelaksana Teknis PenerimaanMahasiswa Baru (UPT PMB), Dr Ermanu Azizul Hakim MT tertanggal 1 Agustus 2016. Menurut Ermanu, ditutupnya pendaftaran lantaran telah memenuhi passing grade yang ditetapkan masing-masing prodi. “Misalnyaprodi Ilmu Komunikasi memasang passing grade 8.00, dengan kuota 200 mahasiswa. Karena yang bernilai 8.00 sudah terpenuhi 200 orang, maka ditutup,” paparnya. Pendaftaran Gelombang III sudah dimulai sejak 1 hingga 19 Agustus 2016 mendatang. Seperti diberitakan sebelumnya, pada gelombang III ini UMM mulai membuka khusus untuk beasiswa Biaya Pendidikan Mahasiswa Miskin Berprestasi (Bidikmisi) dari pemerintah. UMM merupakan salah satu perguruan tinggi swasta yang dipercaya pemerintah untuk menyalurkan beasiswa penuh bagi masyarakat kurang mampu tersebut. Ermanu menjelaskan,secara prosedur,pendaftaran beasiswa Bidikmisi ini sama dengan pendaftaran reguler. “Bedanya, calon mahasiswa harus melengkapi sejumlah berkas keterangan tidak mampu,” terang Ermanu saat ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (30/7). Selain melalui jalur Bidikmisi dan jalur reguler gelombang III, UMM tetap membuka jalur pendaftaran lainnya,yakni Yatim/Yatim Piatu. “Kebetulan, saya menempatkan pendaftaran jalur Yatim/Yatim Piatu ini di gelombang III. Jadi, calon mahasiswa baru yang sudah mendaftar di Bidikmisi, tidak bisa mendaftar di jalur Yatim/Yatim Piatu,juga jalur Reguler, karena ujiannya bersamaan,” ungkapnya. (can/han)

USAID Gandeng UMM Perkuat Tata Kelola PTS

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi salah satu dari tujuh perguruan tinggi di Indonesia yang dipercaya United States Agency for International Development-Higher Education Leadership and Management (USAID-HELM) untuk mengembangkan modul pelatihan Manajemen Keuangan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) serta menyelenggarakan Training of Trainer (TOT) bagi pelatih modul tersebut. Bahkan, UMM manjadi satu-satunya PTS yang menjadi mitra USAID dalam mengemban amanah tersebut. “Hal itu lantaran UMM dianggap layak sebagai role model yang bisa ditularkan pada PTS lain. Sumber daya manusianya dianggap cukup dan layak untuk menyusun modul tata kelola keuangan,” ungkap Kepala Badan Pengendali Internal UMM Dr Ahmad Juanda di sela-sela kegiatan TOT HELM dan Pengembangan Modul Pelatihan Manajemen Keuangan PTS yang berlangsung di Auditorium UMM. Kegiatan yang berlangsung selama lima hari ini (1-5/8) merupakan kolaborasi USAID dan UMM untuk meningkatkan kapasitas PTS dalam bidang pengelolaan keuangan. Pelatihan meliputi perencanaan dan anggaran, pengadaan barang dan jasa, penyusunan laporan keuangan, dan internal audit.Kegiatan dihadiri 44 peserta yang terdiri dari 18 PTS,diantaranya 7 PTS mitra USAID-HELM (termasuk UMM) dan 11 PTS yang berlokasi di Malang. HELM sendiri merupakan program peningkatan kapasitas pengelolaan pendidikan tinggi yang didanai USAID. Bekerjasama dengan Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti), program USAID-HELM berfokus pada empat bidang kegiatan yaitu: Kepemimpinan dan Administrasi Pengelolaan Keuangan, Penjaminan Mutu, serta Kolaborasi dengan Pihak Eksternal. Financial Management Systems Specialist HELM, Addie Permono, menjelaskan tujuan dari program TOT yakni untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi para pelatih untuk mengelola program pengembangan profesional di perguruan tingginyamasing-masing. “Selain itu, program TOT ini untuk memberikan dukungan langsung dan mentransfer keahlian di bidangdesain pelatihan dan pengembangan, penyampaian materi dan manajemen pelatihan,” terangAddie. MetodologiTOT, lanjut Addie, yaitu penekanannya pada pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Selama lima hari, peserta diharapkan terlibat aktif dalam setiap sesi pelatihan dengan menggunakan alat pembelajaran untuk mendukung proses pembelajaran. Juandamenambahkan, poin-poin program TOT HELM, mulai dari anggaran, proses pengadaan, laporan keuangan dan audit merupakan bagian tak terpisah dari prinsip Good University Governanceatau tata kelola universitas yang baik. “Tata kelola universitas yang baik,salah satu pilarnya ya dari aspek akuntabilitas keuangan,” ungkap Juanda yang juga menjadi salah satu pemateridalam acara tersebut. Hingga saat ini, diakui Juanda,sebagian besar PTS belum memiliki modul Tata Kelola Kuangan yang baik. “Berbeda halnya denganPerguruan Tinggi Negeri (PTN). PTS kan secara menejemen saja sudah beda. Kalau menggunakan modul PTN, nggak nyambung! Oleh karena itu, PTS harus membuat sendiri modulnya,” terangnya. (can/han)