Tes Gelombang II, UMM Terjunkan 610 Pengawas

PASCA ditutupnya pendaftaran secara online Jumat (22/7) kemarin, Unit Pelaksana Tugas Penerimaan Mahasiswa Baru (UPT PMB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah berkoordinasi dengan berbagai elemen kampus jelang pelaksanaan ujian tulis gelombang II pada Senin (25/7) mendatang. Berdasarkan data terakhir yang diperoleh, jumlah riil pendaftar di gelombang II telah mencapai 10.131. Untuk itu pihak UMM telah menyiapkan seluruh ruangan di seluruh Gedung Kuliah Bersama (GKB I, II, dan III), UMM Dome (hall dan teater), aula Biro Umum, aula masjid AR Fahruddin, aula hotel UMM Inn, aula RS UMM, serta kampus II di jalan Bendungan Sutami, Malang. “Kami menerjunkan 610 pengawas,” kata kepala UPT PMB, Dr. Ir Ermanu Azizul Hakim, MT, usai mengikuti rapat koordinasi persiapan tes masuk UMM gelombang II, Sabtu (23/7). Dalam rapat tersebut, rektor UMM Drs. Fauzan, M.Pd, mengajak seluruh dosen dan karyawan yang menjadi pengawas bersikap ramah dan akrab, meski tegas terhadap pelanggaran apapun. “Sambutlah para calon generasi penerus kita ini dengan senyuman hangat. Bantulah informasi sebaik-baiknya. Jangan membuat ketegangan agar peserta dapat mengerjakan soal secara tenang, fair, jujur,” kata Fauzan seraya memastikan hasil tes adalah penentu utama diterima tidaknya sebagai mahasiswa UMM. Lebih lanjut, kepala Humas UMM, Nasrullah, mengimbau kepada calon peserta dan keluarganya untuk mempersiapkan sebaik-baiknya. Oleh karena banyaknya peserta yang akan ikut ujian, diperkirakan di jalanan menuju lokasi tes akan macet. “Sebaiknya berangkat lebih pagi. Bila perlu cek dulu lokasi tes berdasarkan nomor tes dan nomor sektornya supaya tidak bingung saat hari H,” tuturnya. Tes akan dimulai jam 8.00 pagi tepat. Selain itu, merujuk pada pengalaman tes-tes sebelumnya, diperkirakan akan ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab melakukan aksi penipuan. Untuk itu dihimbau agar tidak mudah terpancing dengan iming-iming jalur ilegal masuk UMM walau mengaku dari pihak internal UMM. “Kami pastikan bahwa satu-satunya jalur masuk ya melalui tes ini. Hasil tes sangat menentukan, bukan hanya formalitas. Segala bentuk ajakan apalagi yang menggunakan bujukan dengan membayar sejumlah uang, harus ditolak. Yang penting yakin dan percaya diri dengan persiapan matang mengikuti tes, insya Allah akan memperoleh kesuksesan,” tambah Nasrullah. Sejauh ini jika ditotal dari pendaftar di jalur undangan dan gelombang I dan II, pendaftar UMM telah mencapai angka di atas 20.000. Namun demikian, tidak semuanya mengikuti tes karena berbagai alasan, seperti tidak melakukan validasi pendaftaran, atau mengundurkan diri. Seperti diberitakan sebelumnya, meski jumlah pendaftar naik, tahun ini UMM akan menurunkan pagu penerimaan. Jika tahun lalu mencapai hampir 7.000 orang, kini turun menjadi 6.500 calon mahasiswa. Rektor mengaku hal ini dilakukan untuk lebih memfokuskan diri pada peningkatan mutu pelayanan. UMM juga masih akan membuka pendaftaran gelombang III pada 1 hingga 19 Agustus dengan tes yang akan dilaksanakan pada 22 Agustus 2016 untuk semua program studi, kecuali kedokteran. “Sejak awal Kedokteran memang hanya mau membuka untuk gelombang 1 dan 2 saja,” tambah Ermanu. (can/nas)

UMM Segera Realisasikan Credit Transfer ke Kun Shan University Taiwan

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) dengann Kun Shan University (KSU), Taiwan, resmi menjalin kerjasama. Tiga orang dari pihak KSU yakni Rektor KSU, Yan Kuin Su, Assistant Professor Chinese Language Center Dori, Wang dan President General Education Center Jen-fang Arthur Ting berkunjung ke UMM dan ditemui antara lain oleh Wakil Rektor I UMM, Prof Dr Syamsul Arifin, Kepala Kantor Internasional UMM, Dr Abdul Haris dan Asisten Rektor Bidan Kerjasama, Drs. Suparto, M.Pd, Jumat (22/7). Kedua pihak sepakat merealisasikan hasil pembicaraan yang sudah dimulai sejak tahun 2014 itu. Pertemuan kali pertama UMM dengan KSU terjadi pada acara join working group tahun 2014 di Taipe. Setelah saling mengenal, universitas Taiwan itu semakin tertarik untuk serius terhadap kerjasama dengan UMM. Alhasil di tahun 2015 Kun Shan University berkunjung ke UMM untuk melakukan penjajakan mengenai kerja sama yang akan dilakukan. Program yang akan dijalankan oleh kedua universitas ini adalah program credit transfer. Dalam satu semester mahasiswa UMM dapat melakukan aktivitas perkuliahan di KSU secara gratis tanpa ada biaya tambahan lagi. Mahasiswa UMM  hanya membayar sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) seperti biasa, namun sudah bisa merasakan kuliah di universitas Taiwan tersebut. Demikian pula  sebaliknya, mahasiswa dari  Kun Shan University juga dapat melakukan hal yang sama. Wakil Rektor I UMM, menyatakan kerjasama ini merupakan kelanjutan dari pertemuan selama ini. Melalui kerjasama kongkrit ini diharapkan bangunan internasionalisasi UMM semakin nyata. “Ya, dengan universitas-universitas besar di kawasan Asia sudah kita mulai dengan kampus-kampus di Cina, Korea, Jepang, Malaysia, Thailand, dan kali ini Taiwan,” terang Syamsul Arifin. Dijelaskan Suparto, untuk merealisasikan kerjasama ini pihaknya segera melakukan seleksi rekrutmen mahasiswa yang berminat. Biaya hidup yang dibutuhkan disana relatif sama dengan biasa hidup di Malang sehingga diyakini mahasiswa UMM banyak yang akan berminat. “Sekelas asrama mahasiswa di Taiwan dapat mencapai harga Rp 6,5 – 7 juta, itu sekitar 500 US dolar dalam satu semester, namun asrama mahasiswa di UMM hanya mencapai 12 dolar tiap semesternya” ungkapnya. Dalam program credit transfer pertama yang dilakukan UMM dengan KSU, sementara ini hanya dikhususkan untuk jurusan managemen S1 dan S2. Dalam semester ini terdapat 2-3 kuota bagi mahasiswa yang ingin mengikuti program credit transfer. Tahun depan, UMM dan KSU akan lebih serius lagi dalam menjalin kerjasama. Akan ada program Join Degrees yang akan dilakukan sekitar bulan september 2017. Mahasiswa Magister Manajemen UMM dapat menjalankan perkuliahan selama 1 tahun di UMM dan satu tahun lagi di KSU. “Program ini masih perlu dirancang lebih serius lagi. UMM akan mengirimkan beberapa orang dari Magister Manajemen ke Taiwan untuk menindak lanjuti program ini,” tutur Suparto. Rektor Kun Shan University, Yan Kuin Su mengakui memantapkan kerjasamanya dengan UMM karena melihat bahwa ada kesamaan antara UMM dan KSU. Keduanya adalah universitas swasta. “UMM juga memiliki kampus yang indah dan suasananya terasa nyaman,”ungkapnya. Suparto menargetkan dalam satu semester setidaknya ada 100 mahasiswa atau dosen yang dikirim ke untuk menjalani credit transfer di berbagai universitas luar negeri. “Dengan demikian mahasiswa UMM semakin bangga dan memiliki kualitas yang mumpuni dan bisa bersaing secara global,” tambahnya. (nov/nas)

Praktikum Mahasiswa Komunikasi UMM Lahirkan Kampung Warna-warni Jodipan

Delapan mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menjadi konseptor untuk menyulap kampung kumuh di kawasan Jodipan, Kecamatan Blimbing Kota Malang. Kawasan di bantaran sungai Brantas itu kini menjadi menjadi destinasi wisata baru setelah disentuh dengan pengecatan warna-warni pada dinding, atap, pagar rumah hingga jalan setapak dan tangga-tangga batunya.   Ya, kawasan kumuh itu berubah lebih berwarna-warni. Dengan warna-warna cerah dan mencolok, tak pelak kini kawasan Jodipan menjadi obyek foto selfie yang menarik bagi siapa saja. Dari berbagai postingan di media sosial, view foto yang diambil dari jembatan yang menghubungkan jalan Panglima Sudirman dan jalan Gatot Subroto, tak jauh dari Stasiun KA Malang Kota, menyebut pemandangan itu lebih menyerupai kawasan Izamal di Meksiko, Nyhavn di Denmark, St John di Kanada, atau bahkan Cinque Terre di Itali.   “Orang sini menyebutnya sebagai kampung warna-warni,” ujar Nabila Firdausiyah, ketua kelompok mahasiswa yang menyulap kampung Jodipan ini. Bersama tujuh teman sekelompok yang diberi nama Guys Pro Komunikasi UMM, kini Nabila bisa tersenyum bangga. Meski pengecatan belum semuanya selesai, sudah ratusan orang memposting foto kampung warna-warni itu di media sosial. Bersama Salis Fitria,  Ira Yulia astutik, Dinni Anggraeni,  Wahyu Fitria, Elmy Nuraidah, Fahd Afdallah, dan Ahmad Wiratman, kini ia gencar mempromosikan warna baru kampung Jodipan itu.   Nabila mengisahkan, semua anggota timnya adalah mahasiswa Komunikasi UMM yang sedang menempuh mata kuliah Praktikum Event Public Relations. Tugas praktikum itulah yang mengharuskan mereka membuat program bermanfaat untuk masyarakat dengan menggandeng klien dari perusahaan swasta atau pemerintah.   “Kami harus membuat sebuah event yang bisa mencakup semuanya; partisipasi masyarakat, kebersihan, keindahan, kreativitas, dan yang penting kontinuitas,” tukas Nabila dibenarkan Salis. Maka pilihan jatuh pada membuat program kerja bakti bersih-bersih, mengecat pagar, dan membuat mural. Tetapi kapasitas mahasiswa yang hanya sekelompok kecil membuatnya tidak maksimal. Guys Pro-pun mencari akal lagi agar gerakan itu semakin masif. “Atas bimbingan dosen, kami berusaha mencari sponsor. Pilihan kami jatuh pada produsen cat di Malang yang memproduksi cat merk Decofresh,” kata Nabila.   Maka, gayung pun bersambut. Tak disangka, pihak PT Indana Paint sangat tertarik dengan proposal Guys Pro. Pemilik merk Decofresh ini siap menggelontorkan dana Corporate Social Responsibility (CSR)-nya untuk program ini. Mereka manamainya sebagai “Decofresh Warnai Jodipan”. Tak kurang dana sebesar Rp 200 juta dialokasikan untuk pengecatan dan berbagai keperluan lainnya. Maka upaya yang mirip the art of urban transformations pun mulai diresmikan akhir Mei lalu. Berbagai elemen masyarakat dilibatkan untuk memulai bersih-bersih dan pengecatan lingkungan. “Alhamdulillah semua antusias membantu kami,” kata Nabila yang pernah menjuarai kontes Marketting Public Relations di Universitas Media Nusantara (UMN) Tangerang, serta menjadi finalis berbagai lomba PR di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Universitas Airlangga Surabaya, UK Widya Mandala Surabaya dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, itu.   Salis yang juga menjadi motor penggerak kelompok ini mengaku ide mengecat Jodipan diinspirasi konsep kawasan Kickstater, Rio De Janeiro, Brazil serta Kota Cinque Terre, Italia. “Apalagi Malang dinobatkan sebagai Kota Kreatif, jadi kami yakin akan menambah nilai bagi kota Malang,” ujar Salis. Sebagai konseptor, Guys Pro tidak mungkin dapat memetik hasilnya tanpa eksekutor. Untuk itu pihaknya menggandeng masyarakat setempat melalui ketua RW dan RT untuk mengerahkan tukang dan teknisi. Selain itu juga didukung oleh komunitas Mural Malang yang mendekorasi pagar dan tangga-tangga batu di dalam perkampungan. Sejumlah 90 rumah di RW 2 meliputi RT 6, 7 dan 9 menjadi sasaran.  “Biasanya juga ketika hari libur masyarakat ada yang membantu dan bahkan masyarakat ikut menghiasi dinding rumahnya dengan lukisan-lukisan,” jelas Salis. Direncanakan seluruh pengecatan dan pembersihan DAS Brantas selesai Agustus mendatang.  Dosen pembimbing praktikum, Jamroji, M.Comm, ikut mengapresiasi kerja kelompok Guys Pro ini. Menurutnya, telah banyak karya yang dilahirkan oleh kelompok kerja praktikum tetapi Jodipan ini merupakan yang paling fenomenal.  “Mahasiswa kami bebaskan untuk memilih klien dan program yang diinginkan. Tetapi mereka harus berangkat dulu dari sebuah riset, presentasi proposal hingga eksekusi dan publikasi kegiatan secara matang,” terang Jamroji yang lulusan Edith Cowan University, Australia, itu.  Meski terasa berat, tugas praktikum ini sangat memuaskan bagi kelompok Guys Pro. Mereka merasa apresiasi masyarakat dan perusahaan swasta cukup besar sehingga ikut membangkitkan semangat. “Saya dan Dinni rela menunda jadwal KKN untuk menunggui program ini agar terus berjalan. Masyarakat di sini juga welcome sekali, siap setiap saat membukakan pintu untuk kami. Ini luar biasa,” kata Nabila. Kini, kawasan Jodipan sudah berubah. Masyarakat lebih mencintai kebersihan dengan tidak membuang sampah ke sungai Brantas karena plengsengannya sudah dicat dan dibersihkan. Tak hanya itu, setiap hari ratusan wisatawan berdatangan ke hanya kampung ini untuk melihat lebih dekat. “Mungkin itu yang membuat masyarakat jadi termotivasi untuk menjaga kebersihan kampungnya,” kata Salis bangga.  Salah satu pengunjung Jodipan, Faisal Teguh Prasetyo, menuturkan Jodipan bisa dijadikan salah satu tempat wisata baru. Nuansa perkampungan yang sangat kental serta corak warna yang cerah menjadikan perkampungan warna-warni ini semakin menarik. “Saya bersama teman-teman kesini hanya sekedar mengambil foto dan mengambil video untuk pribadi, dilihat dari jembatan atau dari dekat sama-sama bagus,” tutur warga Malang tersebut.  Kelompok Guys Pro juga banyak mendapatkan pelajaran. Selain belajar riset lapangan mereka juga belajar bagaimana cara mendekatkan diri dengan masyarakat melalui cara konvensional. “Kita juga banyak belajar tentang manajemen event yang profesional, termasuk bagaimana meyakinkan sponsor tentang suatu program,” tambah Nabila yang asli Probolinggo ini. Tantangan yang didapatkan kelompok inu juga sangat beragam. Mulai dari harus belajar tentang hal-hal yang berkenaan cat kemudian harus meluangkan waktu di tengah-tengah kesibukan tugas dan perkuliahan dan lain sebagainya. “Banyak waktu yang harus dikorbankan dari awal hingga peresmian pada akhir Juli nanti. Tapi kami yakin insya Allah hasilnya juga memuaskan, “ tutup Nabila di akhir wawancara. (jll/nas)

Ini yang Perlu Disiapkan Camaba UMM Jelang Tes Gelombang Dua

BERBAGAI persiapan dilakukan Unit Pelaksana Teknis Penerimaan Mahasiswa Baru (UPT PMB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjelang pelaksanaan ujian tulis gelombang II bagi calon mahasiswa baru (camaba), Senin (25/7) pekan depan. Kepala UPT PMB, Dr.  Ermanu Azizul Hakim, MT menerangkan hingga Rabu (20/7),  mahasiswa yang mendaftar secara online sudah mencapai sepuluh ribu lima ratusan orang. “Namun, jumlah tersebut belum bisa dipastikan akan mengikuti ujian tulis gelombang II ini. Hanya mereka yang telah membayar biaya registrasi serta melengkapi berkas pendaftaran lah yang berhak mengikuti ujian,” terang Ermanu. Ia menghimbau kepada seluruh camaba juga untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin, serta tidak menganggap remeh pelaksanaan tes tulis yang bakal diadakan di sejumlah gedung di lingkungan kampus III UMM. “Karena masuk UMM lewat tes tulis itu bukan sekadar syarat formalitas saja, tapi ini sangat menentukan. Banyak pesaing mereka yang juga berharap bisa masuk UMM. Banyak yang tidak diterima karena menganggap ujian tulis ini hanya sebagai formalitas semata,” papar Ermanu saat ditemui di ruang kerjanya. Selain mempersiapkan diri dalam aspek materi yang akan diujikan, kata Ermanu, camaba juga diharapkan menyiapkan diri di aspek spiritualitas. Membekali diri dengan berdoa misalnya, ”Jangan sekali-kali menggunakan cara-cara yang irasional, seperti memanfaatkan bantuan orang atau bahkan menggunakan jimat di zaman yang sudah modern ini,” terangnya. Tak kalah penting, Ermanu juga menghimbau seluruh camaba untuk mempersiapkan diri dengan kelengkapan ujian seperti alat tulis serta kartu identitas, seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Pelajar dan kartu peserta ujian. Selain itu, dengan tegas Ermanu melarang camaba membawa alat elektronik seperti kalkulator, jam digital, maupun alat komunikasi, “Hal ini untuk mengantisipasi kecurangan yang dilakukan camaba seperti tahun-tahun sebelumnya,” cetusnya. Ermanu mengingatkan agar camaba serta orang tua wali tidak terpengaruh untuk menggunakan jalan pintas atau cara-cara curang lainnya. “Masyarakat dihimbau untuk tidak memedulikan tawaran perjokian atau iming-iming untuk dapat meluluskan putra-putrinya lewat jalur selain tes. Hal ini untuk menghindari terulangnya aksi penipuan yang belakangan ini marak melanda calon mahasiswa. Pokoknya siapkan diri baik-baik, belajar lebih tekun, berdoa, berpikiran jernih, niat yang positif.” Ia juga menekankan agar camaba tidak datang terlambat. Hal ini dapat diantisipasi, saran Ermanu, dengan mencari tempat penginapan yang mudah diakses ke lokasi ujian. “Camaba bisa menggunakan salah satu unit bisnis milik UMM, di antaranya Hotel UMM Inn atau Rusunawa,” ujarnya. UMM sendiri membuka dua jalur dalam penerimaan mahasiswa baru. Dua jalur tersebut meliputi jalur penjaringan rapor (undangan) dan tes tertulis. Pada gelombang sebelumnya (gelombang I), jumlah pendaftar mencapai 10.702 peserta. Sebanyak 2.713 peserta mengikuti seleksi lewat tes tertulis dan sisanya melalui jalur undangan.Setelah gelombang II ditutup pada 22 Juli, UMM akan kembali membuka pendaftaran gelombang III pada 1 hingga 19 Agustus dengan tes yang akan dilaksanakan pada 22 Agustus 2016. Untuk menjaga rasio antara mahasiswa dan dosen, UMM memangkas kuota penerimaan mahasiswa baru. Tahun lalu jumlah yang diterima sekitar 6.900 maba. Ermanu mengatakan, tahun ini UMM akan menerima sekitar 6.500 mahasiswa baru. (can/han)

UMM Berangkatkan 5099 Peserta KKN

SEBANYAK 5099 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi diberangkatkan untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN)Semester Ganjil Tahun Akademik 2016/2017, Selasa (19/7).Mereka ditempatkan di 116 Desa, 61 Kecamatan dan 17 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Timur. Kepala Divisi KKN Direktorat Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (DPPM) UMM, Amir Syarifudin, MP saat ditemui pasca pemberangkatan peserta KKN mengatakan, kegiatan yang diselenggarakan setahun dua kali, yakni di akhir semester ganjil dan genap ini merupakan pelaksanaan dengan jumlah peserta terbanyak sejak pertama kali diadakan pada 1987. Amir melanjutkan, selain mengadakan program KKN reguler, pelaksanaan KKN periode ini menggandeng beberapa lembaga pemerintahan. Diantaranya dari Kementrian Sosial (Kemensos), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), juga Pos Pemberdayaan Keluarga (Pos Daya). “Misalnya nanti ada program keaksaraan fungsional yang akan dilaksanakan di Jabung. Selain itu Diknas juga akan mengadakan beberapa program di sejumlah desa di Sampang,” jelasnya. Amir berharap, peserta KKN periode ini dapat menjalankan program-programnya dengan maksimal. “Saya berharap agar tawaran program kerja masing-masing kelompok bisa berjalan dengan baik serta tidak terdapat banyak permasalahan yang menghambat jalannya program KKN ini,” terangnya. Ditemui di tempat berbeda, Rektor UMM, Fauzanberpesan agar peserta KKN UMM tidak menganggap masyarakat desa sebagai orang yang tidak berpendidikan. Ia menegaskan, mahasiswa harus bisa memperhatikan nilai dan norma yang ada di masyarakat desa. “Kalian hadir di tengah masyarakat, bukan sebagai komunitas yang bebas norma, baik agama maupun budaya. Warga akan menilainya, jangan ciptakan sesuatu yang bertentangan dengan itu,” tegasnya. Fauzan juga menegaskan, peserta KKN harus menghindari kelompok masyarakat desa yang memanfaatkan kehadiran mereka untuk menaikkan citranya di tengah konflik kepentingan masyarakat. “Kalian diharapkan tidak berada di sisi kelompok manapun, tapi kalian harus menjadi kelompok yang selalu memosisikan diri sebagai pemberi solusi bagi siapapun,” imbuhnya.(can/han)

Halal bi Halal Momentum Konsolidasi Keluarga Besar UMM

TRADISI Halal bi Halal dan Silaturrahim keluarga besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berlanjut. Tak kurang 2.000 orang dari kalangan dosen, karyawan serta keluarganya turut hadir di acara yang berlangsung di UMM Dome, Sabtu (16/7). Dari unsur pimpinan, selain rektor dan para wakil rektor, hadir pula Ketua Badan Pembina Harian UMM, Prof Dr Malik Fadjar, MSc, ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Dr. M. Saad Ibrahim, serta jajaran direksi unit bisnis di lingkungan UMM. Rektor UMM, Drs. Fauzan, MPd, mengatakan halal bi halal di UMM ini merupakan tradisi yang setiap tahun dimaksudkan untuk silaturahim sekaligus konsolidasi kekuatan keluarga besarnya. Dengan saling bersilaturahim, katanya, UMM akan kuat dan semakin berkualitas. “Setelah berpuasa sebulan penuh, kita melaksanakan konsolidasi mental, maka saat ini kita akan memetik hasilnya, yakni produk dari puasa kita berupa kualitas diri yang semakin baik. Dan kualitas diri itu dikonsolidasikan untuk membawa manfaat sebesar-besarnya bagi kita semua khususnya untuk kemajuan UMM,” kata rektor seraya berharap guyub, rukun dan kebersamaan senantiasa dijaga. Sementara itu, Ketua PWM Jatim mengemukakan pentingnya memahami sejarah terbentuknya keummatan pasca dilaksanakannya puasa Ramadhan pada zaman Rasulullah. Terminologi keummatan baru diperoleh nabi setelah melaksanakan puasa pada tahun 10 H di mana ibadah haji diikuti steidaknya 114.000 orang. Itu artinya, umat Islam terbentuk secara global pada saat itu dan menjadi momentum lebaran atau kemenangan ummat Islam. “Momentum Idul Fitri dengan demikian adalah hari raya yang menandai usainya puasa untuk membangun keummatan. Para sesepuh UMM dulu juga berpuasa, dan saat ini keluarga besarnya sedang berhari raya. Mungkin saja ada beberapa dosennya yang berpuasa karena masih studi, tetapi yakinlah bahwa juga akan merasakan hari raya baik untuk dirinya maupun untuk UMM,” ungkap Saad berfilsafat. Saad mengaku sempat sungkan dengan kebesaran nama Malik Fadjar sehingga membatasi diri untuk berkomunikasi. Namun setelah menjadi ketua PWM Jatim dan diajak bicara oleh Malik, kesan itu menjadi luntur dan menganggap Malik sebagai sosok yang hangat dan peduli dengan kalangan yang muda. “Kedekatan ini saya kira sangat penting untuk membangun UMM berkemajuan,” katanya. Tausyiah disampaikan oleh Mlaik Fadjar. Malik melihat bahwa silaturahim seperti ini patut direnungkan, betapa banyak orang yang harus ditanguung oleh UMM dan betapa besar harapan mereka. Anak-anak kecil yang dibawa oleh ayah-ibunya ke acara ini merupakan bukti bahwa masa depan UMM harus dipikirkan untuk kelanjutan generasi ke generasi mendatang. “Bukan bangunan fisik yang saya renungkan, tetapi anak-anak kecil yang riang gembira berlarian itu. Itulah generasi yang akan datang yang harus kita pikirkan,” tutur Malik. Islam, kata Malik, adalah iman dan amal soleh. Oleh karenanya generasi mendatang harus didorong agar memiliki iman yang kokoh dan amal kerja keras yang sabaik-baiknya memberi manfaat bagi orang banyak. “Beramal itu memberi makna buat orang lain. Maka harus ada komitmen untuk beramal, membangun kepercayaan, membangun citra dan membangun institusi,” pungkas Malik. Sepanjang acara, alunan musik UMM Voice yang dimainkan oleh dosen-dosen UMM mengalun indah. Acara diakhiri dengan salam-salaman antara dosen, karyawan dan pimpinan UMM dilanjutkan dengan makan bersama di tenda-tenda sekitar UMM Dome. (nas)

PSIF Luncurkan Jurnal Muhammadiyah Studies

PUSAT Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) berkolaborasi menerbitkan jurnal Muhammadiyah Studies. Jurnal ini sekaligus menjadi jurnal pertama di Indonesia, bahkan dunia yang memfokuskan diri pada studi tentang Muhammadiyah. Jurnal Muhammadiyah Studies diluncurkan pada pembukaan Tadarus Pemikiran Islam kerjasama JIMM dan UMM pada Rabu (29/6) melalui penyerahan simbolis dari Kepala PSIF UMM Dr Pradana Boy MA(AS) pada Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr Haedar Nashir MSi dan Rektor UMM Drs Fauzan MPd di Auditorium UMM. Pada edisi perdana ini, jurnal memuat sejumlah paper ilmiah tentang Muhammadiyah yang pernah dipresentasikan dalam Tadarus Pemikiran Islam 2014 serta sejumlah pertemuan JIMM di 2015. Pradana Boy menyatakan, jurnal ini merupakan yang pertama yang mengkaji khusus tema-tema Muhammadiyah. Jurnal yang saat ini banyak beredar adalah jurnal Islam yang  di dalamnya terdapat ulasan, penelitian atau artikel tentang Muhammadiyah, tidak terfokus dan khusus. “Bahkan mungkin ini jurnal pertama di dunia yang isinya fokus tentang Muhammadiyah,“ ungkap Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UMM ini. Bagi Pradana, Muhammadiyah merupakan obyek kajian yang sangat kaya. Cukup banyak tulisan tentang Muhammadiyah yang tersebar di berbagai tempat, sehingga inisiasi penulisan jurnal tersebut mengemuka saat pertemuan Tadarus Pemikiran Islam dua tahun lalu. “Biasanya kan kalau jurnal itu ada temanya, nah untuk jurnal ini temanya khusus tentang Muhammadiyah,” jelas Koordinator Nasional JIMM ini. Dalam jurnal pertama ini, ada tiga jenis tulisan yang dimuat yaitu artikel, penelitian dan book review. Proses yang dilalui adalah terkumpulnya berbagai tulisan dari seluruh peserta Tadarus Pemikiran Islam yang selanjutnya diseleksi dewan redaksi yang terdiri dari sejumlah pakar Muhammadiyah, termasuk dosen National University of Singapore (NUS) Dr Azhar Ibrahim Alwee yang memang cukup intens mengamati tentang Muhammadiyah. Jurnal Muhammadiyah Studies rencananya akan diterbitkan setiap semester yang berarti dalam satu tahun akan ada dua kali penerbitan. “Mungkin ke depannya akan diterjemahkan dalam bahasa Inggris sehingga bisa menjadi referensi bagi kalangan intenasional,” ungkap Pradana.  Pradana berharap, dengan diterbitkannya jurnal ini, ketika orang ingin meneliti Muhammadiyah tidak perlu jauh-jauh untuk mencari, tapi cukup datang ke PSIF UMM. “Nantinya di PSIF akan ada direktori jurnal yang khusus tentang Muhammadiyah,” ujarnya. (jal/naf/han)

Jihad Digital, Agenda Mendesak Muhammadiyah

AGAR lebih diterima masyarakat, Muhammadiyah perlu memperluas ranah dakwahnya dengan memberi perhatian khusus pada mobilitas dakwah virtual. Hal tersebut disampaikan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Nasrullah saat menjadi narasumber pada kegiatan Tadarus Pemikiran Islam kerjasama UMM dan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), Kamis (30/6) di Auditorium UMM. Nasrullah menilai, alasan mengapa ustadz-ustadz artis bisa lebih diterima di masyarakat, karena mereka menggunakan media-media populer yang mudah dijangkau. Namun, ia tetap memberi penekanan bahwa kerja media yang dilakukan Muhammadiyah harus tetap difungsikan sebagai media verifikator atas isu-isu provokasi yang dihadapi oleh persyarikatan. Karenanya, Nasrullah menyayangkan sejumlah media mengatasnamakan Muhammadiyah yang cenderung provokatif. ”Media kita seharusnya tidak untuk memprovokasi, melainkan untuk mengklarifikasi. Inilah yang disebut sebagai jihad digital. Karena yang kita hadapi itu kekuatan-kekuatan digital yang sangat luar biasa,” ungkap Kepala Humas UMM ini. Senada, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Aisyiyah Dr Alimatul Qibtiyah mengatakan, media dakwah Muhammadiyah terkesan kaku dan berat. “Kita ambil contoh misalnya Suara Muhammadiyah. Bahasa dan konten-konten yang disajikan tidak begitu populis di kalangan masyarakat, bahkan di internal Muhammadiyah sendiri,” terang dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Jakarta ini. Oleh karenanya, Qibtiyah menyarankan agar Muhammadiyah melakukan langkah-langkah strategis dalam memanfaatkan multimedia. Di antaranya, dakwah melalui multimedia harus lebih efektif dan menarik. “Saran saya, Muhammadiyah perlu membuat tim dakwah multimedia yang kemudian diunggah di media sosial,” ungkapnya. Yang berikutnya, ia juga menyarankan untuk mengoptimalkan website resmi persyarikatan (muhammadiyah.or.id), baik updating maupun upgrading untuk kegiatan dakwah dan keorganisasian. Sementara itu Wakil Rektor UMM I Prof Dr Syamsul Arifin MSi mengakui, media sangat penting sebagai bagian dari instrumen dakwah. Namun, ia lebih memberi titik tekan bahwa substansi dan konten dakwah juga perlu menjadi perhatian. Syamsul mengaku resah dengan gaya narsisme atau keakuan yang berkembang dalam dunia sosial media. Terlebih, jika narsisme itu merambah pada pada wilayah agama yang mestinya merupakan ruang privat, dan tidak seharusnya dikonsumsi publik. “Misalnya status yang menunjukkan bahwa ia sedang melakukan ibadah. Itu kan privat sekali,” tutur Guru Besar Fakultas Agama Islam UMM ini. (can/han)

Munir Mulkhan: Muhammadiyah Bekerja untuk Kemanusiaan

CENDEKIAWAN Prof Dr Abdul Munir Mulkhan menilai, saat ini secara kultural umat Islam Indonesia adalah pengikut Muhammadiyah. Hal itu dicirikan dengan pemikiran yang modern dan berkemajuan, semisal tak ada lagi yang menolak sekolah dan tak ada lagi yang dengan gencar mengkritik shalat id di lapangan. Munir berharap, kalangan muda Muhammadiyah memanfaatkan situasi tersebut dengan terus mengembangkan dakwah kultural sehingga bisa lebih dekat dengan masyarakat. “Ini perlu menjadi perhatian, bahwa Muhammadiyah tidak bekerja untuk dirinya sendiri, tapi bekerja untuk publik,” paparnya saat mengisi kegiatan Tadarus Pemikiran Islam kerjasama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), Kamis (30/6). Karena bekerja untuk publik, maka Muhammadiyah dinilai sebagai organisasi yang mengabdi pada kemanusiaan. Hal itu juga menurut Munir selaras dengan asas Pembina Kesejahteraan Umat (PKU) sebagai salah satu fondasi amal usaha Muhammadiyah, bahwa Muhammadiyah dalam melaksanakan proses pendidikan dan pelayanan kesehatan, tidak pernah memaksakan seseorang untuk menjadi kadernya. “Bukan agar yang tidak Muslim menjadi Islam, sama sekali bukan. Agar yang Muslim jadi Muhamamdiyah, juga bukan. Muhammadiyah melakukan semua itu semata-mata demi manusia. Ini bukan pernyataan saya. Tapi itu tertulis jelas dalam PKU,” tegas Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini. Sementara itu Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr Syamsul Hidayat MA mengatakan, di tengah dinamisasi dan progresivitas gerakan Muhammadiyah, keragaman pemikiran adalah hal yang tak terelakkan. Namun, lanjut Syamsul, di dalam menyikapi keragaman di lingkup internalnya, Muhamamdiyah berbeda sekali dengan gerakan purifikasi (pemurnian) lainnya. “Kalau gerakan purifikasi yang lain, sedikit berbeda pendapat saja langsung pecah,” ujarnya. Syamsul mencontohkan gerakan Salafi di Indonesia. Ia membagi Salafi di Indonesia setidaknya terdapat lima macam. Dari kesemuanya itu, menurut Syamsul, meski menggunakan kitab dan rujukan yang sama, tetap terjadi perbedaan pendapat, yang lantas mengarah pada perpecahan. Lain hal dengan Muhammadiyah yang menurut Syamsul melihat perbedaan di Internalnya sebagai sebuah kekayaan. “Untuk menghadapinya, kita harus penuh kesabaran memang. Tapi kalau disebut di dalam Muhammadiyah ada yang mengharamkan filsafat, itu hanya sebagian kecil saja. Tidak banyak,” tandas Ketua Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Universitas Muhammadiyah Surakarta ini (can/han)

UMM dan JIMM Kembangkan Riset tentang Muhammadiyah

KIPRAH Muhammadiyah lebih dari satu abad menarik minat sejumlah peneliti untuk melakukan riset tentang seluk beluk persyarikatan ini. Sebaran topik riset juga sangat beragam, mulai dari peran dan dinamika Muhammadiyah dalam konteks pendidikan, kesehatan, politik dan ekonomi, hingga pengembangan amal usaha. Salah satu riset menarik tentang Muhammadiyah disampaikan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM Fauzik Lendriyono tentang tipologi pemikiran di panti asuhan Muhammadiyah. Dari riset tersebut, ditemukan empat tipologi pemikiran panti asuhan Muhammadiyah, yaitu panti asuhan enterpreneur, panti asuhan pengasuh, panti asuhan pendidikan dan panti asuhan doktrin. Di sisi lain Fauzik mengkritik panti asuhan Muhammadiyah yang dinilainya belum melihat aspek pengkaderan dalam kurikulum yang dijalankan. “Muhammadiyah memiliki 318 panti asuhan di seluruh Indonesia dan memiliki 6000 jumlah anak asuh. Namun kebanyakan pengelola panti belum melihat aspek yang terpenting dari adanya panti asuhan, yaitu pengelolaan yang rapi dan transparansi,” kata Fauzik. Paparan Fauzik merupakan salah satu hasil riset yang dipaparkan pada kegiatan Tadarus Pemikiran Islam kerjasama Universitas Muhamamdiyah Malang (UMM) dan Jaringan Islam Muda Muhamadiyah (JIMM) pada Rabu-Kamis (29-30/6). Kegiatan ini mendapatkan apresiasi dari banyak pihak menampilkan sejumlah presentasi riset tentang Muhammadiyah dari beragam konteks dan sudut pandang. Pada kesempatan yang sama, cendekiawan muda Muhammadiyah Budi Asyhari Afwan juga memaparkan roadmap riset Muhammadiyah. Dia menjelaskan, pendokumentasian riset Muhammadiyah masih kurang teratur sehingga berdampak pada kurangnya signifikansi terhadap upaya reproduksi pengetahuan Muhammadiyah. Hasil riset menunjukkan bahwa masih banyak yang menjadikan Muhammadiyah sebagai perbincangan menarik dalam dunia penelitian. Jumlah thesis yang menjadikan Muhammadiyah sebagai bahan riset sebanyak 323 (89%) dan disertasi 11%. Munculnya angka tersebut memiliki dua arti, di satu sisi Muhammadiyah masih menjadi isu yang menarik, namun di sisi lain Muhammadiyah menjadi topik yang minim diperbincangkan dalam dunia akademik. Menurut Budi, grafik riset Muhammmadiyah pada tahun 1990an sebanyak 15 riset dan naik di tahun 2000. “Pada tahun 2000-an riset Muhammadiyah sebanyak 168 riset serta naik pada era 2010an namun tidak seberapa signifikan yaitu sebanyak 181 riset,” jelas peneliti Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) Universitas Gajah Mada (UGM) tersebut. Di lain sisi, saat ini Muhammadiyah tidak hanya berdakwah dan dibicarakan lewat dunia nyata saja, namun juga lewat internet. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh dosen Universitas Negeri Surabaya, Mohammad Rokib, tentang Siber Muhammadiyah menunjukkan jumlah laman, blog, dan laman sejenis dengan label ‘Muhammadiyah’ berjumlah sekitar 495.000.  Sedangkan isu yang diperbincangkan di internet tentang Muhammadiyah bisa mencapai 17,2% yang membicarakan tentang ideologi Muhammadiyah jika dilihat dengan bahasa Indonesia. Sedangkan jika dalam bahasa Inggris ditemukan bahwa isu Muhammadiyah paling banyak pada bidang politik Muhammadiyah dengan persentase 18%.  “Terkait isu-isu lain yang dibicarakan di internet yaitu tentang keberagaman moderat, menyelamatkan negara dengan jihad konstitusi serta isu kemanusiaan universal tentang adaptasi dan mitigasi perubahan iklim,” ungkap Rokib. (jal/naf/han)