Sambut Ramadhan, UMM Gelar Kajian Islam Berkemajuan

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kajian Islam menjelang datangnya Bulan Ramadhan 1437 H yang jatuh pada Senin (6/6) mendatang. Kajian yang diselenggarakan di Ruang Sidang Senat UMM, Sabtu (4/6) mengambil tema “Dakwah Muhammadiyah Menuju Islam Berkemajuan”. Hadir sebagai narasumber pada kajian yang diikuti oleh pejabat struktural se-UMM ini, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S.,M.Kes. Kajian dibuka Wakil Rektor (Warek) I UMM, Prof. Dr. Syamsul Ariffin, M.Si. Dalam sambutannya, Syamsul mengatakan, UMM sebagai bagian dari persyarikatan Muhammadiyah memiliki komitmen dan semangat untuk mengembangkan keilmuan lewat Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK). AIK ini, ia menjelaskan memang sudah menjadi ciri khas di semua Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Indonesia. ” Ke depan UMM akan mengintegrasikan AIK sebagai suatu nilai muatan pada mata kuliah umum lainnya, sehingga AIK bisa jadi nilai yg hidup dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.   Sementara itu, dalam ceramahnya Agus menyampaikan, UMM sebagai salah satu kekuatan yang dimiliki Muhammadiyah khususnya di bidang pendidikan harus bisa melakukan langkah konkrit dakwah bersama komponen masyarakat dan persyakrikatan lainnya. “UMM harus bisa merangkul masyarakat sekitar yang tujuannya membawa Muhammadiyah menuju Islam berkemajuan,” terangnya. Kemudian, Agus memberikan pemahaman mengenai konsep yang disampaikan tokoh Muhammadiyah AR Fachruddin tentang Islam berkemajuan. Ia menjelaskan Muhammadiyah merupakan Islam yang maju dan unggul, membanggakan serta ‘nyah-nyoh’. “Maksudnya nyah nyoh itu Muhammadiyah itu harus bisa memberi dan menolong kepada umat, dan ini yang harus menjadi spirit ajaran Muhammadiyah,” terangnya. Agus pun memaparkan lima fondasi konsep Islam berkemajuan yang harus dikuatkan oleh Muhamadiyah. Pertama memiliki tauhid yang murni. Kedua, memahami Al-Quran dan Sunnah secara mendalam. “Ketiga, Muhammadiyah harus melembagakan amal shalih yang fungsional dan solutif,” paparnya. Keempat, berorientasi kekinian dan masa depan dan terakhir Islam harus bersikap toleran moderat dan saling bekerjasama. “yang terpenting, di era perubahan yang begitu cepat, Islam harus mampu menyesuaikan dengan perubahan itu,”pungkasnya. Selain dengan pejabat struktural, kajian juga dilakukan di Masjid AR Fakhruddin UMM usai Solat Zuhur berjamaah bersama seluruh dosen dan karyawan. Selama Bulan Ramadhan, UMM akan tetap melakukan syiar dengan melakukan berbagai kegiatan diantaranya kajian untuk Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur pada 11-12 Juni mendatang di UMM Dome. Kemudian pada 20 Juni akan ada Halaqah Ramadhan yang diselenggrakan di Masjid AR Fachrudin. Dilanjutkan dengan dialog Ramadhan bagi pimpinan, dosen dan karyawan antar fakultas dan unit yang akan diselenggarakan pada 20-25 Juni. Gebyar Apresiasi Seni yang diselenggrakan pada 17-18 Juni di Helipad UMM juga akan menyemarakan Bulan Ramadhan. Tak ketinggalan UMM juga akan mengadakan kegiatan bakti sosial dan pelayanan kesehatan kepada warga Desa Ngajum, Kabupaten Malang pada 18 Juni mendatang. Pekan I’tikaf pada 25 Juni dan puncaknya adalah penyelenggraan Shalat Idul Fitri di Helipad Kampus II dan Masjid Ad-Da’wah Kampus III UMM pada 6 Juli. (gas/han)    

Program Mentoring Prodi Bahasa Inggris Tinggatkan Skill Mahasiswa

PROGRAM Studi (Prodi) Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar program mentoring Bahasa Inggris untuk mahasiswa baru. Mentoring dilakukan untuk meningkatkan rasa percaya diri mahasiswa dalam berbicara menggunakan bahasa inggris. Selama delapan kali pertemuan, prodi Bahasa Inggris UMM telah menggelar program mentoring ini, yakni pada bulan April dan Mei. Pada pertemuan yang ke-9, program ini ditutup dengan perlombaan-perlombaan yang memicu rasa percaya diri mahasiswa dalam berbahasa Inggris. Kegiatan dikaksanakan di lantai 3,5 Gedung Kuliah Bersama, Sabtu (4/6). Penanggungjawab Program Mentoring, Nina Inayati MEd mengatakan, sebagian besar mahasiswa baru yang masuk dalam Prodi Bahasa Inggris kurang terlihat aktif dalam merespon proses pembelajaran di kelas. Hal ini, kata Nina, dikarenakan mahasiswa kurang percaya diri dalam berargumen menggunakan bahasa Inggris sehingga mahasiswa perlu untuk difasilitasi untuk mendapatkan rasa percaya diri itu sejak sementer awal. Nina menambahkan, monitoring program ini akan melatih mahasiswa untuk dapat percaya diri dalam berbicara menggunakan bahasa Inggris sehingga hal ini akan sangat bermanfaat untuk proses sidang skripsi yang di dalamnya nanti akan ada presentasi dan mempertahankan argumen menggunakan bahasa Inggris. Sejumlah 223 mahasiswa semester II akan dimentori 24 mahasiswa yang berasal dari semester 4, 6 dan 8. 24 mentor tersebut telah diberikan pelatihan terlebih dahulu sehingga dapat membimbing mahasiswa semster 2 untuk mendapatkan proses pembelajaran tambahan yang lebih nyaman dan rilex dengan suasana outdoor juga. Mahasiswa semester 2 akan kelompokkan sekitar 11 hingga 12 orang. Setiap kelompok akan mentori 2 orang. Proses pembelajaran inilah yang akan membedakan seperti saat di kelas. Mahasiswa dan dosen terlihat ada jarak, tidak bisa leluasa bertanya dan harus saklek pada silabus pembelajaran akan dihindari dalam mentoring program ini. Ada tiga hal yang difokuskan dalam mentoring ini yaitu: English independent studies, argumentative skill dan Phecha Kucha skill presentation. Ketua Panitia Mentoring, Dwicky Fandi Setiabudi mengatakan, dalam pembelajaran Phecha Kucha mahasiswa diajak untuk presentasi 20 gambar. Setiap gambarnya akan dipresentasikan dalam waktu 20 detik. “Dalam proses mentoring yang seperti itu mahasiswa dapat menambah vocab bahasa Inggris. Mahasiswa dibebaskan dalam memilih tema gambar yang akan dipresentasikan,” jelasnya. Dalam mengasah argumentative skill, mahasiswa juga diajak untuk melakukan mini debat. Mahasiswa diberikan kasus dan dipersilahkan untuk mempersiapkan argumen yang kuat berdasarkan aturan hukum atau teori kemudian diperdebatkan. Nina mengungkapkan, adanya program ini sangat mempengaruhi proses pembelajaran di kelas. Setelah adanya proses ini mahasiswa terlihat lebih aktif di kelas karena rasa percaya diri telah muncul dan membuat mahasiswa Bahasa Inggris UMM semakin berkualitas. Sama halnya dengan apa yang sudah dirasakan mahasiswa Bahasa Inggris peserta program mentoring, Jeni Florida. Ia mengaku terbantu dengan program mentoring ini. “Pada awalnya saya merasa bukanlah mahasiswa yang terlalu mahir dalam berbahasa inggris, saya sangat canggung ketika ingin bertanya dikelas menggunakan bahasa inggris. Namun setelah mendapatkan mentoring program saya menjadi lebih percaya diri karena sudah terlatih terbiasa berbahasa inggris terlebih saat Phecha Kucha,” ujarnya. (nov/han)

PGSD Dorong Pendidikan Inklusi untuk Kesetaraan

PROGRAM Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogjakarta mengadakan Seminar Nasional “Education For All”, Sabtu (4/6) di Theater UMM Dome. Seminar mengangkat tema “Menyiapkan Pendidik Profesional di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)”. Menurut Sekretaris Jurusan PGSD Erna Yayuk, tema “Education For All” merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) yang dikeluarkan oleh pemerintah, bahwa yang berhak untuk mengecap pendidikan tidak hanya siswa normal saja. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) pun juga berhak menerima pendidikan yang setara, atau yang biasa disebut pendidikan inklusi. “Inilah yang menjadi ciri khas dari PGSD UMM, yaitu pendidikan berbasis inklusi, satu satunya di Indonesia,” papar Erna. Erna menjelaskan, pendidikan Inklusi adalah sistem layanan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) untuk belajar bersama-sama dengan anak normal di sekolah umum, sehingga potensi anak berkembang optimal. “Sekolah penyelenggara pendidikan inklusi adalah sekolah umum atau biasa yang memberikan layanan pendidikan kepada peserta didik normal dan PDBK secara bersama-sama,” paparnya. Sementara itu, Dosen PGSD FKIP UMM Endang Poerwanti menilai, kadangkala perkembangan anak tidak sesuai yang diharapkan. “Dulu ABK dididik secara khusus di SLB (Sekolah Luar Biasa) dan SDLB. Namun, sekarang ada kebijakan baru yaitu pendidikan inklusi di mana ABK diikutsertakan untuk belajar bersama dengan anak normal di sekolah umum dan menjadi bagian dari masyarakat sekolah. Sayangnya, guru SD tidak disiapkan untuk mengelolah pendidioan Inklusi,” jelasnya. Di sisi lain, Teknolog Pembelajaran Universitas Negeri Malang Nyoman S. Degeng menilai pendidikan pada jaman dahulu sedikit sekali para pendidik yang menggunakan budaya mengajar profesional. Karena itu, ia mengajak untuk membangun proses pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan memotivasi. “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan mestinya diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”, tutur Nyoman. Cara mengubah paradigma pendidik dengan belajar mengajar kreatif mulai dari hal terkecil yakni memulai mengabsen murid di kelas dengan cara yang berbeda hingga memulai proses belajar dikelas dengan hal yang baru dan menarik. “Memulai paradigma revolusi belajar dengan memadukan hal yang terkecil seperti tegas, lembut, disiplin, sabar, senyum, mesra, lembut, dan dengan ketulusan hati”, ungkap Nyoman. Selanjutnya, Dosen Prodi PGSD UAD Dr. Suyatno M.Pd.I menjelaskan, ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan sekolah dasar ke depan. Pertama, struktur kurikulum maupun proses pembelajaran di sekolah harus mampu memberikan bekal kepada anak didik secara seimbang antara keilmuan agama dan keilmuan umum. Kedua, proses pembelajaran dari rumpun keilmuan tersebut tidak bisa hanua sebatas pembelajaran kognitif, melainkan lebih banyak menekankan penanaman karakter. “Oleh karena iti, paradigma yang digunakan adalah values based education bukan values education. Jika sekolah dasar dapat memenuhi dua kriteria itu, tidak mustahil mereka akan menjadi pilihan masyarakat untuk menyekolahkan putra putrinya, khususnya dari kalangan menengah Muslim”, ujar Suyatno. (roh/han)

Psikologi UMM Rayakan Dies Natalis ke-30

PANGGUNG seni bertajuk “30PHORIA” digelar di lapangan basket Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (3/6). Perayaan ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan dies natalis ke-30 Fakultas Psikologi (Fapsi) UMM. Ketua pelaksana kegiatan dies natalis Rifqi Naufal Azri mengatakan tema yang diambil pada perayaan malam puncak tersebut menggambarkan kemeriahan menyambut usia Fapsi UMM yang mencapai tiga dekade. “Jadi kita disini menampilkan berbagai karya mahasiswa Fapsi UMM semua angkatan, diharapkan mereka merasakan suka cita ini bersama-sama,” ujarnya. Perayaan ini dimeriahkan berbagai penampilan mahasiswa seperti band, vocal group dan theater. Acara semakin semarak dengan diumumkan mahasiswa terfavorit, dosen terfavorit, Lembaga Semi Otonom (LSO) dibawah naungan Fapsi terfavorit, kelas terfavorit dalam Psycologi Award. Sementara itu, Dekan Fapsi UMM, Dra. Hj. Tri Dayakisni mengaku senang dan bangga atas pencapaian Fapsi UMM di usianya yang sudah “Dewasa Madya” ini. “Alhamdulillah Fapsi UMM tetap bisa mempertahankan akreditasi A hingga saat ini,” ujarnya saat sambutan pembuka acara. Ia berharap dengan kualitas Fapsi UMM yang telah diakui sebagai fakultas psikologi bergengsi diantara perguruan tinggi Jawa Timur bahkan di Indonesia, tidak membuat Fapsi UMM jumawa. “Kita harus tetap bersikap arif dan bijaksana,” imbuhnya. Sikap tersebut, lanjut Tri sangat penting dikedepankan untuk menghadapi persaingan di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Ia berharap Fapsi UMM kedepan tetap bisa menjadi fakultas yang prestisius. “Mari kita bersama-sama bekerja keras membangun dan berdoa mengantarkan Fapsi UMM semakin bergengsi lagi serta bisa menjadi pusat psikologi terapan di Asia Tenggara ,” ajaknya. Selain menonton pertunjukan yang apik, peserta juga diajak menuliskan harapan bagi fakultas mereka di selembar kertas kemudian ditempelkan di “Hope Tree”. Acara tersebut diakhiri dengan pelepasan 30 lampion secara bersama-sama sebagai simbol di usia Fapsi UMM saat ini dan pencapaian yang lebih tinggi dikemudian hari. Rangkaian dies natalis ke-30 ini sebelumnya diisi dengan seminar tentang pendidikan seks untuk anak usia di yang diselenggarakan pada 14 Mei lalu. (gas/han)

BPSDM Tingkatkan Jiwa Corsa Dosen Kontrak

BADAN Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar pelatihan bagi para dosen kontrak. Pelatihan di Rusunawa UMM selama dua hari (3-4/6) bertajuk Capacity Building ini diikuti 33 dosen kontrak dari berbagai fakultas yang telah tandatangan kontrak pada Juli 2015 lalu. Kepala BPSDM, Prof Dr Jabal Tarik Ibrahim MSi mengatakan kegiatan ini merupakan agenda universitas untuk meningkatkan jiwa corsa dari dosen UMM. “Dengan membuat berbagai kegiatan yang sifatnya bersama, diharapkan jiwa corsa semakin meningkat dalam diri dosen-dosen kontrak ini,” ujar Jabal. Berbagai materi disampaikan dalam pelatihan ini, seperti pengarahan umum dan visi UMM ke depan dari rektor, membangun branding UMM, sejarah UMM, bagaimana bekerja di Persyarikatan Muhammadiyah, dan game capacity building. “Untuk game kami datangkan instruktur profesional,” katanya. Rencananya, seluruh dosen kontrak di UMM akan mendapatkan giliran yang sama untuk mengikuti kegiatan ini. “Saya berharap, jiwa corsanya bertambah tinggi, kebersamaannya meningkat, kinerjanya juga meningkat, dan mempunyai semangat untuk mengembangkan UMM,” pungkasnya. Di salah satu materi, Kepala Humas UMM, Nasrullah MSi memberikan materi tentang membangun branding UMM. Ia menyebut jika dosen dan karyawan merupakan tonggak penting hingga UMM dapat dikenal luas oleh masyarakat. (zul/han)

UMM dan GAPKI Kritisi Kebijakan Moratorium Kelapa Sawit

FAKULTAS Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dan Radar Malang menggelar sosialisasi dan diskusi terkait efektivitas aturan moratorium sawit yang akan diterapkan pemerintah. Kegiatan berlangsung di Theater UMM Dome, Jumat (3/6). Hadir sebagai narasumber Dekan FPP UMM, Dr. Ir. Damat, MP, Ketua Bidang Komunikasi GAPKI, Tofan Mahdi serta Pengamat Lingkungan dan Kehutanan, Dr. Ir. Ricky Avensora M.ScF. Hadir pula Rektor UMM Fauzan dan Direktur Utama Radar Malang, Kurniawan Muhammad. Tofan Mahdi mengatakan, moratorium adalah kebijakan yang harus mempertimbangkan berbagai aspek. Ia menilai, ekspor kelapa sawit merupakan penyumbang devisa terbesar dari sektor non-migas. “Ekspor kelapa sawit bisa mencapai hingga hampir US$19 miliar pada 2015, 13.5 persen dari total ekspor non-migas,” paparnya. Selain itu, lanjut Tofan, sektor industri kelapa sawit merupakan industri yang mampu meminimalisir permasalahan sosial dan ekonomi di masyarakat. “Sektor kelapa sawit mampu mengentaskan kemiskinan, hampir 28 tenaga kerja di Indonesia bergantung pada industri ini. Banyak daerah-daerah yang maju karena adanya perkebunan kelapa sawit,” jelasnya. Ia juga menapik jika pengelolaan kelapa sawit oleh perusahaan dinilai menjadi penyebab terjadinya kerusakan lingkungan, termasuk bencana kebakaran yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. “Justru sektor kelapa sawit dari segi pengelolaan SDA adalah yang paling ramah lingkungan. UU di Indonesia tidak memungkinkan perusahaan untuk membuka lahan dengan membakar,” ujarnya. Sementara itu, Damat memaparkan, banyak kontribusi yang diberikan usaha kelapa sawit terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di Indonesia. Menurutnya, moratorium terhadap pengelolaan kelapa sawit mencerminkan perlakuan tidak adil terhadap satu komoditas. “Kelapa sawit dari sisi konsumsi minyak nabati di Indonesia paling besar dan produktivitas hasil minyak nabati juga paling tinggi, jumlahnya sepuluh kali lipat dari minyak kedelai,” ungkapnya. Damat juga mengingatkan jika moratorium harus mempertimbangkan aspek sosial, politik, ekonomi dan juga kedaulatan negara. “Segera lakukan cetak biru Industri kelapa sawit nasional, termasuk di dalamnya peruntukan lahan bagi kelapa sawit dengan melibatkan seluruh pemegang kepentingan,” imbuhnya. Di sisi lain, Ricky Avensora lebih menyoroti isu negatif yang berkembang dalam dunia industri kelapa sawit Indonesia. Mulai dari isu persaingan di dunia global, perkembangan perekonomian, isu sosial, pengembangan daerah pedesaan, pengentasan kemiskinan, permasalahan lingkungan, hingga tata kelola perkebunan kelapa sawit. Ada ketidakseimbangan informasi, ada pengaburan fakta tentang isu-isu terkait perkebunan dan pengelolaan minyak kelapa sawit di Indonesia,” pungkasnya. Rektor UMM, Fauzan dalam sambutan pembukaannya mengatakan, di Indonesia segala segmen kehidupan telah dicampuri oleh masalah politik. “Apalagi dalam dunia usaha dan bisnis, termasuk kelapa sawit, moratorium adalah kebijakan yang mestinya diambil dengan pertimbangan dari berbagai aspek,” paparnya. Fauzan melihat moratorium sebagai salah satu kebijakan pemerintah untuk menetapkan aturan yang memiliki dampak yang luar biasa bagi masyarakat dan juga pengusaha. “Mudah-mudahan dari diskusi ini dapat diambil suatu pencerahan mengenai moratorium bagaimana seharusnya pihak-pihak terkait memposisikan diri dan menyikapi moratorium nantinya,” jelasnya. (gas/han)

IRO Dorong Mahasiswa Miliki Wawasan Internasional

INTERNATIONAL Relations Office (IRO) UMM mengadakan “Great Lecture and Book Discussion” bersama pimpinan Kementrian Luar Negeri RI, Ahmad Djatmiko. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang Senat (RSS) UMM (3/6) ini bertujuan membuka wawasan mahasiswa untuk mengenal berbagai universitas di dunia, sehingga ke depan bisa melanjutkan studi di kampus-kampus tersebut. Djatmiko mengatakan, ada tiga hal yang harus dikembangkan mahasiswa agar ke depan ia bisa melanjutkan kuliah di luar negeri. Pertama, yaitu kemampuan Bahasa Inggris. Kedua, lanjutnya, yaitu kemampuan beromunikasi. Ketiga, wawasan dan kepakaran keilmuan. “Jadi tidak hanya kemampuan Bahasa Inggris yang dibutuhkan, kemampuan komunikasi dan kapasitas keilmuan untuk dikembangkan,” ungkapnya. Djatmiko juga menyinggung tema menarik yang tengah menjadi perhatian dunia internasional, yaitu international security (IR). IR, Djatmiko menjelaskan, adalah bidang ilmu baru di dunia internasional, di mana paradigmanya yaitu memandang keamanan berbeda dengan pemahaman paradigma di Amerika. Kepala IRO UMM, Abdul Haris, dalam sambutannya mengatakan, mahasiswa perlu memperbanyak referensi mengenai kuliah diluar negeri. “Saat tamat kuliah nanti, ada banyak universitas yang bisa dimasuki, tentu saja mengharuskan kemampuan berbahasa Inggris”, paparnya. Ketua Pelaksana Kegiatan, Abdul Kadir berharap setelah mengikuti acara ini mahasiswa dapat mengembangkan teori-teori yang telah didapat di universitas untuk membuka wawasan lebih luas lagi. “Saat ini kita hidup di kampung global, kita diwajibkan untuk mampu menguasai dasar-dasar kemampuan yang telah disampaikan untuk diterapkan ke depannya”, tutupnya. (roh/han)  

UKM FOCUS Gelar Pameran Foto Pemula

UNIT Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fotografi, FOCUS kembali menggelar pameran foto. Acara yang diadakan di salahsatu Gazebo Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini memamerkan 40 karya fotografi karya anggota muda FOCUS. Dengan tema “Kontradiksi”, para fotografer muda ini menunjukkan kemampuannya dalam seni fotografi. Pembina UKM FOCUS, Nasrullah MSi mengatakan dalam sambutannya agar para anggota FOCUS ini mampu mengekspresikan karya-karya fotografinya dengan baik. “Saya meminta nanti dibuatkan program agar seluruh karya-karya anggota ini dikampanyekan baik di media sosial maupun media-media lain agar bisa mendapatkan kritik ataupun saran dari orang lain supaya karya fotografinya lebih berkualitas,” ujarnya. Senada, Ketua Umum FOCUS, Brian Antonov mengatakan belajar dari kesalahan yang terdahulu itu penting bagi seorang fotografer. “Untuk itu, dengan adanya pameran ini dapat memberikan masukan-masukan dari berbagai pihak agar karya-karya berikutnya lebih baik dari sebelumnya,” kata mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM. Rencananya, pameran foto ini akan diadakan selama tiga hari mulai Kamis (2/6) hingga Sabtu (4/6). (zul)

Kaprodi Komunikasi UMM Terpilih Ketua Aspikom Jatim

KETUA Program Studi Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sugeng Winarno, MA, terpilih sebagai ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Komunikasi (Aspikom) wilayah Jawa Timur. Sugeng terpilih dengan suara terbanyak melalui voting dalam Musyawarah Wilayah Aspikom Jawa Timur yang berlangsung di kampus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi AWS Surabaya, Rabu (1/5). Muswil yang dipimpin Ketua Aspikom Jatim periode 2007-2015, Dr. Prilani, MSi berlangsung gayeng. Sejumlah 24 kampus penyelenggara pendidikan tinggi komunikasi ikut ambil bagian di acara itu. “Aspikom ini lebih merupakan wadah paguyuban untuk para penyelenggara pendidikan tinggi komunikasi daripada sebuah organisasi profesi atau keilmuan,” kata Prilani tentang suasana guyub Muswil. Dalam menentukan calon ketua, Muswil menyepakati agar seluruh Prodi Komunikasi yang terakreditasi A dicalonkan. Di Jawa Timur, Jurusan Komunikasi yang terakreditasi A adalah UMM, Universitas Airlangga, UPN Veteran Surabaya, dan Universitas Kristen Petra Surabaya. Oleh karena Ketua Jurusan Komunikasi Unair tidak hadir, hanya tiga nama yang akhrinya disepakati dipilih secara voting. Mereka adalah Sugeng Winarno, MA (UMM) yang meraih 12 suara, Dr Ido Prijana Hadi, MSi (UK Petra) dengan 9 suara dan Dr Yudiana Indriastuti, MSi (UPN Surabaya) dengan 3 suara. Sebagai ketua terpilih, Sugeng diberi amanah untuk membentuk tim formatur untuk menyusun kepengurusan periode 2016-2019. Sedangkan sekretariatan diusulkan dari berbagai kampus, seperti UIN Sunan Ampel Surabaya, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan UMM. Menanggapi terpilihnya sebagai ketua, Sugeng tak menyangka. “Sejak kecil tidak pernah bercita-cita jadi ketua Aspikom. Tetapi karena semangat teman-teman yang luar biasa, saya tidak kuasa menolaknya. Bismillah, mohon dukungan semua pihak agar Aspikom Jawa Timur ini lebih maju lagi,” katanya. Dalam brainstorming program yang sudah diusulkan oleh setiap kampus terungkap prioritas kerja Aspikom periode mendatang antara lain soal akreditasi, kurikulum, penerbitan jurnal dan memperkuat jaringan. “Ini akan menjadi perhatian kepengurusan mendatang. Yang penting saya berharap tetap kompak,” tutur Sugeng. Sementara itu, Muswil Aspikom Jawa Timur juga menjadi ajang reuni kecil bagi para alumni UMM. Ada beberapa pengurus prodi Komunikasi ternyata adalah alumni UMM, seperti Fatihatul lailiyah dari Universitas Islam Mojopahit Mojokerto, Awang Darmawan dari Unesa, Carmia Diahloka dari Unitri Malang,  Imam Sofyan dari Untirta, Ratna Puspitasari dari Stikom AWS dan Ninuk Riswandari dari Universitas Yudharta Pandaan. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk saling berbagi pengalaman terutama dalam mengembangkan prodinya masing-masing. (nas)

Abusalman Kulem, Mahasiswa Thailand yang Ingin Jadi Pemain Arema

MENJADI bintang dalam pertandingan final Rector Cup 2016 cabang sepakbola menjadi kebanggaan tersendiri bagi mahasiswa UMM asal Thailand, Abusalman Kulem. Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional yang akrab dipanggil Abu ini mencetak gol penentu via tendangan bebas yang membuat tim Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) berhasil menang atas tim Fakultas Agama Islam (FAI) dengan skor 3-2. Tak heran, Abu memang telah memiliki pengalaman bermain bola sejak SMA di Darul Maarif School Satun, Thailand Selatan. Di sekolahnya, ia menjadi kapten tim sekaligus spesialis penendang set piece, baik tendangan bebas, tendangan pojok maupun pinalti. Posisi favoritnya adalah second striker, sekalipun ia juga kadang bermain sebagai winger maupun playmaker. Karena skill­-nya memainkan si kulit bundar, Abu pernah tergabung dengan tim Satun United Junior pada 2011. Saat itu tim yang diikutinya menjadi juara di Nopokho Cup, kompetisi sepokbola junior di Thailand Selatan. Ia bahkan ikut bertanding saat timnya berhadapan dengan tim papan atas Thailand, Chonburi FC. Di UMM, selain menjadi bagian penting dalam tim sepakbola FISIP, Abu juga beberapa kali dipanggil untuk memperkuat tim sepakbola UMM, atau UMM FC. Termasuk, saat UMM berlatih tanding dengan Arema pada Desember 2014. “Saya ini Aremania. Saya sebenarnya ingin jadi pemain Arema, tapi tidak tahu caranya,” tuturnya. Namun, ia menyadari bahwa tugas utamanya di UMM adalah kuliah. Terlebih, Abu adalah salah satu penerima beasiswa belajar dari Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. “Sekitar 80 persen warga di daerah saya (Satun) beragama Islam. Jadi saya merasa beruntung bisa kuliah di sini, apalagi saya dapat beasiswa. Saya benar-benar berterima kasih pada UMM,” akunya. Beasiswa yang didapat Abu bermula saat sejumlah pimpinan Southern Border Provinces Administrative Center (SBPAC) Thailand dan Konsulat Jenderal Indonesia di Songkhla Thailand mengunjungi sekolahnya, Darul Maarif School, pada 2012. SBPAC mewakili PP Muhammadiyah menyeleksi para siswa Muslim yang tertarik kuliah di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di Indonesia. Abu lantas ikut seleksi dan lolos menjadi mahasiswa UMM angkatan 2013 sekalipun sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia dan Melayu. Karena itulah, sembari kuliah di HI, Abu juga belajar Bahasa Indonesia di unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA). Abu mengaku terharu dengan kepedulian teman-temannya di UMM yang sangat peduli membantunya beradaptasi. Rencananya, selepas lulus dari UMM pada 2017 Abu berencana bekerja di bidang ekspor impor batik. “Tapi, sebelum bekerja saya ingin keliling Indonesia dan dunia terlabih dahulu. Itu juga akan mempermudah saya dalam berbisnis batik nantinya,” papar Abu. (nov/han)