UMM dan GAPKI Kritisi Kebijakan Moratorium Kelapa Sawit

FAKULTAS Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dan Radar Malang menggelar sosialisasi dan diskusi terkait efektivitas aturan moratorium sawit yang akan diterapkan pemerintah. Kegiatan berlangsung di Theater UMM Dome, Jumat (3/6). Hadir sebagai narasumber Dekan FPP UMM, Dr. Ir. Damat, MP, Ketua Bidang Komunikasi GAPKI, Tofan Mahdi serta Pengamat Lingkungan dan Kehutanan, Dr. Ir. Ricky Avensora M.ScF. Hadir pula Rektor UMM Fauzan dan Direktur Utama Radar Malang, Kurniawan Muhammad. Tofan Mahdi mengatakan, moratorium adalah kebijakan yang harus mempertimbangkan berbagai aspek. Ia menilai, ekspor kelapa sawit merupakan penyumbang devisa terbesar dari sektor non-migas. “Ekspor kelapa sawit bisa mencapai hingga hampir US$19 miliar pada 2015, 13.5 persen dari total ekspor non-migas,” paparnya. Selain itu, lanjut Tofan, sektor industri kelapa sawit merupakan industri yang mampu meminimalisir permasalahan sosial dan ekonomi di masyarakat. “Sektor kelapa sawit mampu mengentaskan kemiskinan, hampir 28 tenaga kerja di Indonesia bergantung pada industri ini. Banyak daerah-daerah yang maju karena adanya perkebunan kelapa sawit,” jelasnya. Ia juga menapik jika pengelolaan kelapa sawit oleh perusahaan dinilai menjadi penyebab terjadinya kerusakan lingkungan, termasuk bencana kebakaran yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. “Justru sektor kelapa sawit dari segi pengelolaan SDA adalah yang paling ramah lingkungan. UU di Indonesia tidak memungkinkan perusahaan untuk membuka lahan dengan membakar,” ujarnya. Sementara itu, Damat memaparkan, banyak kontribusi yang diberikan usaha kelapa sawit terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di Indonesia. Menurutnya, moratorium terhadap pengelolaan kelapa sawit mencerminkan perlakuan tidak adil terhadap satu komoditas. “Kelapa sawit dari sisi konsumsi minyak nabati di Indonesia paling besar dan produktivitas hasil minyak nabati juga paling tinggi, jumlahnya sepuluh kali lipat dari minyak kedelai,” ungkapnya. Damat juga mengingatkan jika moratorium harus mempertimbangkan aspek sosial, politik, ekonomi dan juga kedaulatan negara. “Segera lakukan cetak biru Industri kelapa sawit nasional, termasuk di dalamnya peruntukan lahan bagi kelapa sawit dengan melibatkan seluruh pemegang kepentingan,” imbuhnya. Di sisi lain, Ricky Avensora lebih menyoroti isu negatif yang berkembang dalam dunia industri kelapa sawit Indonesia. Mulai dari isu persaingan di dunia global, perkembangan perekonomian, isu sosial, pengembangan daerah pedesaan, pengentasan kemiskinan, permasalahan lingkungan, hingga tata kelola perkebunan kelapa sawit. Ada ketidakseimbangan informasi, ada pengaburan fakta tentang isu-isu terkait perkebunan dan pengelolaan minyak kelapa sawit di Indonesia,” pungkasnya. Rektor UMM, Fauzan dalam sambutan pembukaannya mengatakan, di Indonesia segala segmen kehidupan telah dicampuri oleh masalah politik. “Apalagi dalam dunia usaha dan bisnis, termasuk kelapa sawit, moratorium adalah kebijakan yang mestinya diambil dengan pertimbangan dari berbagai aspek,” paparnya. Fauzan melihat moratorium sebagai salah satu kebijakan pemerintah untuk menetapkan aturan yang memiliki dampak yang luar biasa bagi masyarakat dan juga pengusaha. “Mudah-mudahan dari diskusi ini dapat diambil suatu pencerahan mengenai moratorium bagaimana seharusnya pihak-pihak terkait memposisikan diri dan menyikapi moratorium nantinya,” jelasnya. (gas/han)
IRO Dorong Mahasiswa Miliki Wawasan Internasional

INTERNATIONAL Relations Office (IRO) UMM mengadakan “Great Lecture and Book Discussion” bersama pimpinan Kementrian Luar Negeri RI, Ahmad Djatmiko. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang Senat (RSS) UMM (3/6) ini bertujuan membuka wawasan mahasiswa untuk mengenal berbagai universitas di dunia, sehingga ke depan bisa melanjutkan studi di kampus-kampus tersebut. Djatmiko mengatakan, ada tiga hal yang harus dikembangkan mahasiswa agar ke depan ia bisa melanjutkan kuliah di luar negeri. Pertama, yaitu kemampuan Bahasa Inggris. Kedua, lanjutnya, yaitu kemampuan beromunikasi. Ketiga, wawasan dan kepakaran keilmuan. “Jadi tidak hanya kemampuan Bahasa Inggris yang dibutuhkan, kemampuan komunikasi dan kapasitas keilmuan untuk dikembangkan,” ungkapnya. Djatmiko juga menyinggung tema menarik yang tengah menjadi perhatian dunia internasional, yaitu international security (IR). IR, Djatmiko menjelaskan, adalah bidang ilmu baru di dunia internasional, di mana paradigmanya yaitu memandang keamanan berbeda dengan pemahaman paradigma di Amerika. Kepala IRO UMM, Abdul Haris, dalam sambutannya mengatakan, mahasiswa perlu memperbanyak referensi mengenai kuliah diluar negeri. “Saat tamat kuliah nanti, ada banyak universitas yang bisa dimasuki, tentu saja mengharuskan kemampuan berbahasa Inggris”, paparnya. Ketua Pelaksana Kegiatan, Abdul Kadir berharap setelah mengikuti acara ini mahasiswa dapat mengembangkan teori-teori yang telah didapat di universitas untuk membuka wawasan lebih luas lagi. “Saat ini kita hidup di kampung global, kita diwajibkan untuk mampu menguasai dasar-dasar kemampuan yang telah disampaikan untuk diterapkan ke depannya”, tutupnya. (roh/han)
UKM FOCUS Gelar Pameran Foto Pemula
UNIT Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fotografi, FOCUS kembali menggelar pameran foto. Acara yang diadakan di salahsatu Gazebo Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini memamerkan 40 karya fotografi karya anggota muda FOCUS. Dengan tema “Kontradiksi”, para fotografer muda ini menunjukkan kemampuannya dalam seni fotografi. Pembina UKM FOCUS, Nasrullah MSi mengatakan dalam sambutannya agar para anggota FOCUS ini mampu mengekspresikan karya-karya fotografinya dengan baik. “Saya meminta nanti dibuatkan program agar seluruh karya-karya anggota ini dikampanyekan baik di media sosial maupun media-media lain agar bisa mendapatkan kritik ataupun saran dari orang lain supaya karya fotografinya lebih berkualitas,” ujarnya. Senada, Ketua Umum FOCUS, Brian Antonov mengatakan belajar dari kesalahan yang terdahulu itu penting bagi seorang fotografer. “Untuk itu, dengan adanya pameran ini dapat memberikan masukan-masukan dari berbagai pihak agar karya-karya berikutnya lebih baik dari sebelumnya,” kata mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM. Rencananya, pameran foto ini akan diadakan selama tiga hari mulai Kamis (2/6) hingga Sabtu (4/6). (zul)
Kaprodi Komunikasi UMM Terpilih Ketua Aspikom Jatim

KETUA Program Studi Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sugeng Winarno, MA, terpilih sebagai ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Komunikasi (Aspikom) wilayah Jawa Timur. Sugeng terpilih dengan suara terbanyak melalui voting dalam Musyawarah Wilayah Aspikom Jawa Timur yang berlangsung di kampus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi AWS Surabaya, Rabu (1/5). Muswil yang dipimpin Ketua Aspikom Jatim periode 2007-2015, Dr. Prilani, MSi berlangsung gayeng. Sejumlah 24 kampus penyelenggara pendidikan tinggi komunikasi ikut ambil bagian di acara itu. “Aspikom ini lebih merupakan wadah paguyuban untuk para penyelenggara pendidikan tinggi komunikasi daripada sebuah organisasi profesi atau keilmuan,” kata Prilani tentang suasana guyub Muswil. Dalam menentukan calon ketua, Muswil menyepakati agar seluruh Prodi Komunikasi yang terakreditasi A dicalonkan. Di Jawa Timur, Jurusan Komunikasi yang terakreditasi A adalah UMM, Universitas Airlangga, UPN Veteran Surabaya, dan Universitas Kristen Petra Surabaya. Oleh karena Ketua Jurusan Komunikasi Unair tidak hadir, hanya tiga nama yang akhrinya disepakati dipilih secara voting. Mereka adalah Sugeng Winarno, MA (UMM) yang meraih 12 suara, Dr Ido Prijana Hadi, MSi (UK Petra) dengan 9 suara dan Dr Yudiana Indriastuti, MSi (UPN Surabaya) dengan 3 suara. Sebagai ketua terpilih, Sugeng diberi amanah untuk membentuk tim formatur untuk menyusun kepengurusan periode 2016-2019. Sedangkan sekretariatan diusulkan dari berbagai kampus, seperti UIN Sunan Ampel Surabaya, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan UMM. Menanggapi terpilihnya sebagai ketua, Sugeng tak menyangka. “Sejak kecil tidak pernah bercita-cita jadi ketua Aspikom. Tetapi karena semangat teman-teman yang luar biasa, saya tidak kuasa menolaknya. Bismillah, mohon dukungan semua pihak agar Aspikom Jawa Timur ini lebih maju lagi,” katanya. Dalam brainstorming program yang sudah diusulkan oleh setiap kampus terungkap prioritas kerja Aspikom periode mendatang antara lain soal akreditasi, kurikulum, penerbitan jurnal dan memperkuat jaringan. “Ini akan menjadi perhatian kepengurusan mendatang. Yang penting saya berharap tetap kompak,” tutur Sugeng. Sementara itu, Muswil Aspikom Jawa Timur juga menjadi ajang reuni kecil bagi para alumni UMM. Ada beberapa pengurus prodi Komunikasi ternyata adalah alumni UMM, seperti Fatihatul lailiyah dari Universitas Islam Mojopahit Mojokerto, Awang Darmawan dari Unesa, Carmia Diahloka dari Unitri Malang, Imam Sofyan dari Untirta, Ratna Puspitasari dari Stikom AWS dan Ninuk Riswandari dari Universitas Yudharta Pandaan. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk saling berbagi pengalaman terutama dalam mengembangkan prodinya masing-masing. (nas)
Abusalman Kulem, Mahasiswa Thailand yang Ingin Jadi Pemain Arema

MENJADI bintang dalam pertandingan final Rector Cup 2016 cabang sepakbola menjadi kebanggaan tersendiri bagi mahasiswa UMM asal Thailand, Abusalman Kulem. Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional yang akrab dipanggil Abu ini mencetak gol penentu via tendangan bebas yang membuat tim Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) berhasil menang atas tim Fakultas Agama Islam (FAI) dengan skor 3-2. Tak heran, Abu memang telah memiliki pengalaman bermain bola sejak SMA di Darul Maarif School Satun, Thailand Selatan. Di sekolahnya, ia menjadi kapten tim sekaligus spesialis penendang set piece, baik tendangan bebas, tendangan pojok maupun pinalti. Posisi favoritnya adalah second striker, sekalipun ia juga kadang bermain sebagai winger maupun playmaker. Karena skill-nya memainkan si kulit bundar, Abu pernah tergabung dengan tim Satun United Junior pada 2011. Saat itu tim yang diikutinya menjadi juara di Nopokho Cup, kompetisi sepokbola junior di Thailand Selatan. Ia bahkan ikut bertanding saat timnya berhadapan dengan tim papan atas Thailand, Chonburi FC. Di UMM, selain menjadi bagian penting dalam tim sepakbola FISIP, Abu juga beberapa kali dipanggil untuk memperkuat tim sepakbola UMM, atau UMM FC. Termasuk, saat UMM berlatih tanding dengan Arema pada Desember 2014. “Saya ini Aremania. Saya sebenarnya ingin jadi pemain Arema, tapi tidak tahu caranya,” tuturnya. Namun, ia menyadari bahwa tugas utamanya di UMM adalah kuliah. Terlebih, Abu adalah salah satu penerima beasiswa belajar dari Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. “Sekitar 80 persen warga di daerah saya (Satun) beragama Islam. Jadi saya merasa beruntung bisa kuliah di sini, apalagi saya dapat beasiswa. Saya benar-benar berterima kasih pada UMM,” akunya. Beasiswa yang didapat Abu bermula saat sejumlah pimpinan Southern Border Provinces Administrative Center (SBPAC) Thailand dan Konsulat Jenderal Indonesia di Songkhla Thailand mengunjungi sekolahnya, Darul Maarif School, pada 2012. SBPAC mewakili PP Muhammadiyah menyeleksi para siswa Muslim yang tertarik kuliah di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di Indonesia. Abu lantas ikut seleksi dan lolos menjadi mahasiswa UMM angkatan 2013 sekalipun sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia dan Melayu. Karena itulah, sembari kuliah di HI, Abu juga belajar Bahasa Indonesia di unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA). Abu mengaku terharu dengan kepedulian teman-temannya di UMM yang sangat peduli membantunya beradaptasi. Rencananya, selepas lulus dari UMM pada 2017 Abu berencana bekerja di bidang ekspor impor batik. “Tapi, sebelum bekerja saya ingin keliling Indonesia dan dunia terlabih dahulu. Itu juga akan mempermudah saya dalam berbisnis batik nantinya,” papar Abu. (nov/han)
Pagelaran Budaya Matematika UMM Lestarikan Kearifan Lokal

PROGRAM Studi (Prodi) Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan pagelaran seni dan budaya di pelataran lantai 2,5 Gedung Kuliah Bersama (GKB) I, UMM. Pagelaran yang diselenggarakan rutin tiap tahun ini mengangkat tema “Eksistensi Budaya NKRI Berbasis Modal Kultural di Tengah Pasar Bebas ASEAN”. Ketua Pelaksana Kegiatan, Rahmad memaparkan, tema tersebut menyiratkan pesan pada generasi muda agar bisa melestarikan budaya nasional di era globalisasi, khususnya di kawasan ASEAN. “Sayangnya, fenomena yang saat ini berkembang, generasi muda justru mulai meninggalkan, bahkan melupakan budaya sendiri dan malah mengadopsi budaya dari luar,” ujarnya. Mahasiswa asal Tarakan, Kalimantan Utara ini juga mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara besar yang memiliki keragaman seni dan budaya. “Tugas kita sebagai generasi muda wajib tahu, mempelajari, dan juga melestarikan budaya di Indonesia, setidaknya di daerah kelahirannya masing-masing,” urainya. Pada gelaran ini, berdiri stan-stan dari hampir seluruh provinsi yang ada di Indonesia. Setiap stan menampilkan berbagai ciri khas dan kearifan lokal dari daerahnya masing-masing, mulai dari makanan, pakaian adat, hingga alat perang dan lainnya. Selain itu, ada juga pawai budaya dan talkshow yang mengundang ahli sejarah. Toraya, salah satu mahasiswa yang meramaikan gelaran ini merasa sangat antusias dengan diselenggarakannya kegiatan ini. Menurutnya, saat ini perlu adanya wadah bagi mahasiswa untuk memperkenalkan budaya dan kesenian dari daerahnya masing-masing. “Dengan cara ini, mereka bisa bangga dan mencintai daerah asalnya,” ujar mahasiswi asal Sampit, Kalimantan Tengah ini. Ia berharap, gelaran ini bisa membuat generasi muda, khususnya mahasiswa untuk selalu mencintai dan bisa melestarikan budaya Tanah Air. (gas/han)
PUSAM Gelar Kursus Internasional HAM dan Syariah

PUSAT Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Master Level Course (MLC/kursus tingkat master) tentang Syariah dan Hak Asasi Manusia (HAM) di Aula Ahmad Dahlan, Hotel UMM Inn, Senin-Jumat (30/5-3/6). Gelaran internasional ini merupakan hasil kerjasama UMM dengan Oslo Coalition, Norwegian Center for Human Rights, University of Oslo-Norwegia, Universitas Brigham Young University-Amerika Serikat dan The Asia Foundation. Direktur PUSAM, Prof. Syamsul Ariffin, M.Si memaparkan forum internasional yang diselenggarakan untuk keenam kalinya ini bertujuan membangun cara pandang yang lebih konstruktif tentang HAM dan Syariah. Menurutnya, HAM tidak seharusnya dipertentangkan dengan Syariah. “HAM dan Syariah memiliki bagian-bagian yang universal, yang penting keduanya itu harus berguna untuk kemanusiaan,” jelasnya. Syamsul mencontohkan salah satu isu yang diangkat dalam kegiatan ini, yaitu tentang hak kewarganegaraan dalam kebebasan beragama. “Dalam deklarasi universal HAM, ada jaminan bahwa setiap orang memiliki kemerdekaan dalam memeluk agama dan keyakinan. Syariah Islam juga sudah mengatur hal ini,” paparnya. Syamsul menambahkan, implementasi di lapangan selalu memunculkan persoalan. “Indonesia adalah negara yang menjadi sorotan dalam pelaksanaan kebebasan beragama ini,” imbuh pria yang menjabat sebagai Wakil Rektor I UMM ini. Kegiatan MLC menghadirkan sejumlah pakar internasional, di antaranya yaitu Prof. Mun’im Sirry, Ph.D (The University of Notre Dame, Amerika Serikat), Prof. Tore Lindholm (The University of Oslo, Norwegia), Prof. Brett Schraffs (Brigham Young University, Amerika Serikat), Lena Larsen, Ph.D (Director of Oslo Coalition, Norwegia), Prof. Jeroen Temperman (Erasmus University Rotterdam), Dr. Budhy Munawar Rachman (The Asia Foundation), Dr. Ahmad Nur Fuad (UIN Sunan Ampel Surabaya) dan Cekli Setya Pratiwi, SH.,LL.M (UMM). Mun’im Sirry mengatakan, pembatasan agama oleh pemerintah dapat memicu lebih banyak kekerasan. Dalam konteks ini, kata Mun’im, kebebasan beragama dapat mengurangi konflik dan meningkatkan rasa percaya pada pemerintah. “Lebih dari itu, kebebasan beragama dapat memperkuat partisipasi produktif dari seluruh elemen kelompok agama-agama,” paparnya. Mun’im yakin, prinsip tersebut akan menjadi modal sosial yang diperlukan bagi konsolidasi demokrasi dan pengembangan sosial-ekonomi. “Jadi, tidak ada sama sekali ruang untuk regulasi yang diskriminatif,” tegasnya. Sementara itu, Ketua Pelaksana MLC, Muh. Hasyim Musthofa, menjelaskan ada tiga tahap penyelenggaran dalam kegiatan yang diikuti berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa hingga aktivis setara master ini. Pertama yaitu in house training. “Pada tahap ini, peserta wajib mengikuti seminar, mulai hari pertama hingga hari terakhir,” paparnya. Kedua, peserta diajak untuk melakukan riset yang berhubungan dengan HAM dan Syariah selama satu bulan. Dan terakhir, setelah penelitiannya membuahkan hasil, peserta dipersilahkam untuk mempresentasikan hasil penelitiannya tersebut. “Salah satu peserta terbaik akan dikirim ke Norwegia mendapatkan kursus internasional tentang HAM dan Syariah ini,” paparnya. Ia berharap, dengan agenda yang digelar tiap tahunnya ini akan menjadikan UMM memiliki keunggulan dalam kajian HAM dan Syariah. “Untuk itu, Pascasarjana UMM dibuka konsentrasi HAM dan Syariah dimana sepuluh orang akan mendapatkan beasiswa dari Asia Foundation,” pungkasnya. (gas/han)
UMM Luluskan 5680 Mahasiswa English for Specific Purpose

SEBANYAK 5680 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil lulus program English for Specific Purpose (ESP). Pengukuhan gelar kelulusan dilakukan oleh Rektor UMM, Fauzan di hall UMM Dome, Minggu (29/5). Dalam sambutan pengukuhan, Fauzan memaparkan program ESP yang diselenggarakan Language Center (LC) UMM ini untuk mempersiapkan mahasiswa UMM agar memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang baik. “Sehingga bisa mengambil peran penuh di era globalisasi saat ini,” ujarnya. Fauzan berharap, dengan kompetensi yang telah dimiliki mahasiswa UMM mampu difungsionalisasikan. Ia menjelaskan, bahasa merupakan kebiasaan dan keterampilan. “Jadi kalian harus menjalankan untuk mengimplementasikan keterampilan itu,” terangnya. Sementara itu, Kepala LC UMM, Dr. Masduki, M.Pd menerangkan, ESP merupakan program yang wajib ditempuh oleh mahasiswa UMM pada semester satu hingga semester tiga. Program ESP, lanjut Masduki merupakan proses pengayaan Bahasa Inggris yang mendukung keilmuan tertentu. “Jadi materi ESP ini disesuaikan dengan program studi masing-masing, sehingga membiasakan mahasiswa dalam menggunakan referensi Bahasa Inggris,” paparnya. Setelah dinyatakan lulus dalam menempuh ESP inu, mahasiswa akan memperoleh sertifikat Bahasa Inggris setara program Diploma I. “Dengan sertifikat ini nantinya mahasiswa UMM memiliki bukti standarisasi kemampuan Bahasa Inggris yang bisa digunakan untuk kepentingan kerja atau akademik,” jelas Masduki. Dalam prosesi ini juga diumumkan mahasiswa yang menjadi lulusan terbaik program ESP di tingkat universitas. Penilaian didasari raihan skor Test of Academic English Proficiency (TAEP). Peringkat pertama diraih atas nama Aditya Henerik Risamasu dari Fakultas Kedokteran dengan skor TAEP 455. Peringkat dua dan tiga berturut-turut diraih Nalurita Wahyuningtyas dari Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP).dengan skor TAEP 419 dan Frida Tia Rahma dari Fakultas Psikologi dengan skor TAEP 412. Peraih peringkat pertama mendapatkan apresiasi berupa uang pembinaan dan jalan-jalan ke Thailand. Selain itu, diumumkan juga peraih skor TAEP tertinggi di setiap fakultasnya. Untuk Fakultas Teknik (FT) diraih Abdul Rahman Fauzi dengan skor 377, Fakultas Hukum (FH) diraih Astri Cahyaning Arum dengan skor 322. Di Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) skor TAEP tertinggi diraih Bagas Ardian Rizkita dengan skor 397, Fakultas Agama Islam (FAI) diraih Muhammad Fikri dengan skor 293. Sementara untuk Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) ada nama Shella Viveronica Rapani dengan raihan skor TAEP 370, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) diraih Amalia Dini dengan skor 397 dan Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) menempatkan Riswanda Aulia Ridwansyah dengan skor 372. (gas/han)
BEM UMM Persoalkan RUU Tax Amnesty

RANCANGAN Undang-Undang (RUU) Tax Amnesty yang akan diparipurnakan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) dalam waktu dekat menimbulkan kegelisahan dari mahasiswa. Melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mereka mempersoalkan seberapa efektifkah RUU Tax Amnesty ini dalam Konferensi BEM se-Jawa Timur. Dalam acara yang digelar di Theater UMM Dome, Selasa (31/5), hadir sebagai pemateri, Pengamat Hukum Pidana yang juga Wakil Rektor III UMM, Dr. Sidik Sunaryo, SH., M.Si., M.Hum. dan Dosen Perpajakan Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Dra.Eny Suprapti, Ak., M.M., CA. Dalam pemaparannya, Sidik mengungkap jika kebijakan Tax Amnesty bertentangan dengan prinsip keadilan dan kemanfaatan. Ia menyebut, seorang yang tidak membayar pajak tidak sepatutnya mendapatkan ampunan dari negara. “Kalau di Jepang, pejabat negara yang tidak membayar pajak itu akan memiskinkan dirinya sendiri. Malu dia kalau tidak bayar pajak, karena itu sama dengan korupsi,” tegas dosen Fakultas Hukum ini. Sidik mengungkap, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia saat ini mencapai 2.200 T, sedangkan hutang negara ini sendiri mencapai 3.200 T. Terjadi defisit anggaran sekitar 1.000 T. “Seandainya para pengemplang pajak itu membayar pajaknya secara jujur, mungkin defisit anggaran ini bisa tertutupi,” ujarnya. Sementara, Ketua Pelaksana konferensi ini, Riyanda Barmawi menyebut, banyak sekali pejabat negara yang dalam melaporkan kekayaannya tidak jujur. “Misalnya dalam LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara) mereka mencantumkan kekayaan yang mereka simpan hanya 300 Juta. Padahal, ada miliaran rupiah yang sebenarnya ia simpan di bank-bank luar negeri yang tidak terdeteksi di dalam negeri,” ungkap mahasiswa Ilmu Pemerintahan ini. Selain itu, DPR, menurut Riyanda dalam menyusun RUU ini berdasarkan logika materiil semata, bukan logika hukum yang benar. “Ini yang ingin kami luruskan, bahwa RUU ini masih butuh banyak pertimbangan sebelum benar-benar disahkan dalam paripurna nanti,” katanya. Hasil konferensi dan diskusi yang diadakan ini, lanjut Riyanda, akan dibawa ke Komisi XI DPR-RI dan kemudian pihak BEM akan melakukan dengar pendapat dengan anggota Komisi XI DPR-RI. “Kami berharap pemerintah mau mempertimbangkan kembali RUU Tax Amnesty ini untuk menyelamatkan bangsa ini dari para pengemplang pajak,” ujar Wakil Menteri Luar Negeri BEM UMM ini. (zul/han)
UMM Kenalkan Kuliner 21 Negara Pada Warga Malang

RATUSAN mahasiswa asing Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dari 21 negara ramaikan International Culinary Festival yang berlangsung di Simpang Balapan, Malang, Jawa Timur, Sabtu (28/5) malam. Para mahasiswa tersebut menjajakan kuliner khas negara mereka pada ribuan warga Malang yang memadati festival hasil kerja bareng UMM dan Pemerintah Kota Malang ini. Diiringi penampilan perkusi dan lomba tabuh patrol, tak ayal pengunjung yang datang antusias mengantre untuk masuk ke area festival. Sebanyak 1050 kupon yang disediakan panitia ludes diserbu pengunjung. Banyak di antaranya bahkan tak kebagian kupon, namun tetap menikmati kegiatan ini dengan berbaur, berinteraksi dengan mahasiswa asing. “Kami menyiapkan 1050 kupon gratis. Baik mahasiswa UMM maupun masyarakat umum bisa melakukan registrasi dan mendapatkan kupon yang bertuliskan nama salah satu negara peserta festival. Pengunjung bisa mendatangi negara yang tertulis di kupon dan mencicipi makanan khasnya,” urai Nimas Ratnasari, staf International Relations Office (IRO) UMM yang juga ketua pelaksana festival ini. Nimas mengungkapkan, ide kegiatan ini berawal dari keinginan untuk menggerakkan internasionalisasi di dalam kampus dalam bentuk yang berbeda. Menurutnya, sudah banyak kegiatan yang dikemas dalam bentuk seminar internasional dan kurang menarik perhatian. Lantas, terpikirlah ide untuk membuat sesuatu yang berbeda, yakni melalui festival kuliner. Awalnya, sasaran kegiatan ditujukan pada mahasiswa UMM saja, tapi setelah digodok lagi, mengenalkan budaya internasional pada masyarakat Malang dinilai lebih seru. “Kami akhirnya bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) kota Malang , dan responnya sangat positif. Dari sini, masyarakat tak hanya bisa have fun, tapi juga tahu dan mengenal keunikan kuliner dari negara lain. Bisa belajar ngobrol juga,” beber Nimas perihal tujuan diadakannya festival kuliner ini. Nimas berharap, kegiatan ini bisa menjadi wadah bagi mahasiswa asing untuk mengenalkan budaya internasional di Indonesia, juga sarana mengenal dan belajar budaya lain bagi masyarakat Indonesia. Olenka, salah satu mahasiswa UMM asal Ukraina yang ditemui di stan miliknya menyajikan makanan khas Ukraina, yakni Deruny. Deruny adalah parutan kentang yang dicampur dengan tepung, telur, dan garam lalu digoreng dan dimakan dengan topping sesuai selera. “Bisa dengan saus, mayonnaise, jamur, ayam, atau keju,” ulas Olenka dengan bahasa Indonesia yang masih terpatah-patah. Deruny merupakan makanan tradisional Ukraina yang biasa dinikmati dengan seduhan teh hangat. Meski begitu, Deruny bukan makanan yang biasa dimakan sehari-hari oleh masyarakat Ukraina. Olenka mengatakan respon masyarakat sangat bagus terhadap kegiatan ini karena mereka bisa mencoba banyak makanan dari beragam negara. Berbeda dengan Ukraina, di stan kuliner Sudan, salah satu makanan khas yang dihidangkan bernama Lugmat Elgaadi. “Ini adalah sejenis makanan ringan terbuat dari tepung, air, dan pengembang, yang digoreng dan dihidangkan dengan taburan kelapa parut manis dan disajikan dengan teh manis. Lugmat Elgaadi biasanya dimakan di sore hari,” terang Muhammad Fauzi, mahasiswa Sudan yang kuliah di Teknik Sipil UMM angkatan 2015. (ich/han)