Kelas Profesional Hospitality dan Bahasa Inggris untuk Anak UMM Luncurkan Skema Baru

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkolaborasi dalam membangun jembatan antara dunia akademik dan industri. Salah satunya melalui program Center of Excellence (COE) English for Hospitality (EH) dan English for Young Learners (EYL) yang dijalankan Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM. Bahkan pada 12 Juli ini, kedua CoE itu langsungkan Academic Wrap-Up and Internship Kick-Off Ceremony di Kapal Garden Hotel. Acara ini semakin hangat dengan hadirnya mitra dari Dunia Industri (Dudi) dan dunia professional. Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Drs. Jarum, M.Ed., menyampaikan kebanggaannya kepada para mahasiswa. Ia menyebut bahwa CoE menjadi salah satu program unggulan prodi yang menjembatani teori dan praktik. Baik itu CoE EYL yang melatih mahasiswa mengajar anak-anak terkait abahsa inggris maupun Coe EH yang berkaitan dengan hospitality. Ini adalah peluang besar yang harus mahasiswa manfaatkan sebaik dan sebanyak mungkin. Sebagaimana semestinya, dengan semangat kolaborasi dan inovasi, UMM terus menghadirkan program-program unggulan yang menjawab tantangan zaman dan kebutuhan industri nyata. Sementara itu, salah satu koordinator CoE EH Teguh Hadi Saputro, S. Pd., MA. menegaskan bahwa kurikulum yang ada terus diperbaiki sebagai respon dari pelaksanaan tahun sebelumnya. Tahun ini, program CoE mencakup lebih luas ke berbagai divisi perhotelan seperti front office, housekeeping, food & beverage, hingga bagian administrasi, akuntansi, dan sales marketing. Para peserta lebih dulu melalui tahap seleksi, kemudian mendapat pembekalan berupa kelas teori mendapatkan kelas praktik langsung di mitra Dudi selama satu semester, hingga semester berikutya magang profesional. Adapun CoE English for Hospitality tahun ini merupakan angkatan kedua. Lebih lanjut, Teguh menegaskan bahwa para mahasiswa tak hanya mendapatkan pembekalan teori, praktik, dan menambah pengalaman magang saja, namun juga bisa siap diterima kerja. Ia yakin, dari 22 mahasiswa peserta, ditargetkan 100% dapat langsung diterima kerja usai program intership ini berlangsung, lebih besar dari capaian tahun sebelumnya sebesar 95%. Di samping itu, ia juga sangat berterimakasih kepada para mitra yang telah memberikan ruang dan kesempatan bagi mahasiswa untuk berproses secara nyata. “Enam bulan pertama, Kami membuka kelas teori selama satu bulan dan sembilan minggu praktek lapangan di industri mitra. Setelah itu, mahasiswa melanjutkan magang profesional selama enam bulan lagi di berbagai hotel ternama di Malang, Batu, Surabaya, Yogyakarta, dan Bali,” jelasnya. Di sisi lain, Wakil Rektor IV Bidang Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama UMM Dr. Muhamad Salis Yuniardi M.Psi., Ph.D, menyebut bahwa keberhasilan ini bukan hanya soal pencapaian akreditasi, tetapi cerminan keseriusan UMM dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Program ini memperkuat kolaborasi dengan industri serta keterlibatan internasional. Menurutnya, kolaborasi ini bukan sekadar pelatihan, melainkan bentuk nyata kesiapan UMM mencetak lulusan kompeten dan siap bersaing di tingkat global. Salis percaya bahwa program ini akan menjadi role model, baik bagi jurusan lain bahkan perguruan tinggi lain. “Mahasiswa bukan hanya belajar teori, mereka adalah duta UMM yang sedang dibentuk menjadi pendidik, komunikator, dan pemimpin masa depan. CoE EH dan EYL ini menjadi salah satu jalannya,” pungkas Salis. (din/wil)
Baru Dua Tahun, Santri PPI AMF Naik 200%

Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) terus berkembang sejak pembukaannya pada tahun lalu. Terbukti, jumlah santri baru tahun ajaran 2025/2026 mengalami peningkatan cukup siginifikan. Direktur PPI AMF, Suprat menyampaikan terima kasih atas kepercayaan masyarakat kepada PPI AMF. Sebagaimana disampaikan pimpinan Pimpinan Wilayah Muhamamdiyah Jawa Timur (PWM Jatim), perkembangan PPI AMF sangat luar biasa. “Peningkatannya hampir 200 persen kepercayaan dan santrinya ke pondok pesantren ini. Ini sangat menggembirakan,” ungkap Suprat saat memberikan sambutan dalam Pembukaan Masa Taaruf Santri (Mastasari) Tahun Ajaran 2025/2026 di Aula PPI AMF, Kabupaten Malang, 12 Juli 2025 ini. Pihaknya selalu siap menerima masukan dari para wali santri. Dengan bantuan dari Allah SWT, dia berharap PPI AMF dapat mewujudkan harapan baik dari para orang tua. Kemudian nantinya mampu melahirkan calon-calon pemimpin yang berwawasan global dan berkemajuan di masa mendatang. Suprat juga meminta segala masalah atau keluhan dapat disampaikan dengan baik kepada PPI AMF. Hal ini bertujuan agar persepsi positif antara orang tua dan PPI AMF dapat berjalan bagus. Sebab, persepsi positif dapat mewujudkan keyakinan tinggi dalam melahirkan santri yang berkualitas. Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Pendidikan Pustaka, Informatika, dan Digitalisasi, PWM Jatim, Hidayatullah mengatakan, pendididkan di PPI AMF memang diproyeksikan untuk mempersiapkan calon pemimpin masa depan. Oleh karena itu, para santri diberikan bekal yang tidak hanya menumbuhkan pengetahuan tetapi juga keterampilan. Bahkan, juga diterapkan penguatan nilai utama berbasis Al-Islam Kemuhamadiyahan (AIK). Di sisi lain, Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ahmad Juanda yang mewakili Rektor UMM menjelaskan bahwa pihaknya sangat menyambut gembira atas kedatangan santri baru. UMM merasa semangat untuk menjalankan amanah dari wali yang bersedia menitipkan anaknya di PPI AMF untuk dibina. Apresiasi tinggi juga disampaikan UMM kepada para wali santri yang telah menitipkan anaknya di PPI AMF. Kemudian juga untuk manajemen PPI AMF yang terus berusaha meningkatkan kualitas pondok pesantren. “Dua tahun berjalan, Alhamdulillah terbukti PPI AMF makin dipercayai oleh masyarakat,” ucap Juanda. Di sisi lain, Choirul Umam selaku salah satu wali santri turut memberikan pendapatnya. Dia memilih PPI AMF karena visinya sesuai dengan program unggulan yang ditawarkan pondok pesantren. Salah satu yang dia inginkan adalah anaknya dapat diajarkan kitab kuning. Selain itu, dia juga mengenal banyak guru dan pengasuh di PPI AMF itu pernah menjadi aktivis. Mereka terbukti sudah ditempa sebelumnya sehingga dia berharap nilai-nilai baiknya dapat diturunkan kepada para santri. Dengan demikian, para santri yang lulus nantinya dapat mendedikasikan keilmuannya untuk masyarakat. “PPI AMF juga punya sembilan program. Tentu kita percaya dengan dukungan penuh PWM dan UMM, kita yakin anak kita akan punya mimpi jauh lebih besar dari kita. Menjadi siswa hari ini, menjadi pemimpin di masa mendatang. Students today, leaders tomorrow,” katanya. (*/wil)
Dari Malang hingga Tarakan, Ini Sederet Alumni IP UMM yang Jadi DPRD

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menjadi tempat lahirnya para pemimpin. Salah satunya H. Rokhmad, S.Sos., seorang anggota DPRD Kota Malang. Ia merupakan alumnus Ilmu Pemerintahan (IP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kampus Putih telah menjadi pondasi penting dalam membentuk karakter dan kompetensi kepemimpinannya. Bahkan banyak alumni IP UMM yang kini sukses menapaki jalan sebagai anggota DPR maupun DPRD. Selain Rokhmad, ada Erwin yang mengemban amanah di DPRD Kabupaten Bima, Al Razhali dan Randi di DPRD Kota Tarakan, serta Pandi Widiarto di Kutai Timur Begitupun dengan Amira di DPRD Kota Batu, Nada di Tulang Bawang dan puluhan alumni lainnya. Rokhmad telah membuktikan bahwa politik tidak harus dibangun di atas kekuasaan dan uang, melainkan bisa ditempuh melalui integritas, pengalaman sosial, dan kualitas pribadi. Mengawali pendidikan tinggi pada tahun 1990, Rokhmad mengaku sejak awal tertarik mengambil jurusan Ilmu Pemerintahan karena bercita-cita menjadi pemimpin di tingkat daerah. Ketertarikannya pada dunia pemerintahan bukan sekadar ambisi, tetapi juga ditopang oleh semangat belajar dan keterlibatan aktif di lingkungan akademik. “Saya dipercaya menjadi ketua dari awal kuliah sampai akhir. Dikenal suka bertanya dan aktif di kelas. Itu membuat saya terbiasa berpikir kritis dan percaya diri saat berdiskusi,” ujarnya. Ia menekankan bahwa pengalaman kuliah di UMM tidak hanya memberikan bekal akademik, tapi juga membentuk kepekaan sosial dan semangat pelayanan masyarakat. Nasihat dosen-dosen UMM, terutama dari Prof. Muhadjir Effendy, menjadi pegangan penting dalam karier politiknya. “Saya masih ingat beliau bilang bahwa laboratorium ilmu sosial itu bukan di kampus, tapi di masyarakat. Maka dari itu, saya terbiasa ikut kegiatan sosial, turun langsung ke lapangan, dan belajar dari warga,” katanya. Kini Rokhmad menjabat sebagai anggota Komisi A DPRD Kota Malang, yang membidangi hukum dan pemerintahan. Dalam menjalankan tugasnya, ia dikenal sebagai sosok yang aktif menyerap aspirasi masyarakat secara langsung melalui kegiatan reses. Ia menolak praktik-praktik politik transaksional dan justru mendorong generasi muda untuk meniti jalur politik dengan membangun reputasi dan keterlibatan yang tulus. “Kalau ingin jadi DPR, jangan tiba-tiba muncul. Harus dikenal masyarakat melalui proses sosial yang panjang. Jangan andalkan uang, andalkan kualitas dan rekam jejak,” ujarnya. Ia menyebut bahwa banyak alumni UMM yang kini berkiprah di berbagai sektor, termasuk pemerintahan, menunjukkan bahwa kampus ini berhasil mencetak sumber daya manusia yang unggul dan adaptif. “Saya percaya, jika dibekali kualitas yang bagus dan karakter yang kuat, lulusan UMM bisa masuk ke dunia politik tanpa harus mengorbankan idealisme,” katanya. Kepada generasi muda, Rokhmad berpesan untuk fokus membangun kapasitas diri dan konsisten menapaki jenjang sosial dengan cara yang sehat. Ia mengatakan juka niatnya baik, kualitas bagus, dan disiapkan sejak awal, maka InsyaAllah jalan akan terbuka. Politik bisa menjadi alat perubahan jika dijalankan dengan jujur dan bertanggung jawab. (vin/wil)
UMM-Singapore Polytechnic Jalankan Program Internasional Lex sejak 10 Tahun lalu

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat posisinya sebagai kampus global yang adaptif dengan menyelenggarakan program internasional tahunan Learning Express (Lex). Program ini merupakan hasil kerja sama antara UMM dengan Singapore Polytechnic (SP) yang telah terjalin sejak 2014 dan terus berlanjut hingga saat ini. Kegiatan ini mempertemukan mahasiswa dari kedua negara dalam kolaborasi proyek sosial berbasis metode design thinking. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa yang terlibat dalam program ini tidak hanya terjun langsung ke lapangan, namun juga dituntut untuk memahami kondisi sosial dan merumuskan solusi nyata untuk pengembangan UMKM lokal. Proses ini juga diiringi dengan pelatihan fasilitator serta sistem pendampingan intensif dari dosen muda yang dikirim ke Singapura setiap tahunnya. “Lex merupakan program pembelajaran kolaboratif, ajang pembelajaran kontekstual yang setara dengan KKN internasional. Program ini dirancang untuk mempertemukan 30 mahasiswa UMM dan 30 mahasiswa SP yang kemudian dibagi menjadi tiga kelompok kerja lintas budaya dan lintas disiplin,” jelas Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, MP, Kepala International Relations Office (IRO) UMM. Menurutnya, mahasiswa yang ingin mengikuti program ini harus melewati seleksi terbuka yang diumumkan melalui akun Instagram IRO. Mereka menyaring mahasiswa berdasarkan kemampuan dasar berbahasa Inggris dan kesiapan komunikasi. Terdapat proses wawancara yang dilakukan oleh tiga fasilitator dan satu koordinator dari UMM. “Seleksi ini, juga mempertimbangkan semester perkuliahan karena program ini idealnya diikuti oleh mahasiswa semester dua hingga enam,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa program Lex memiliki tahapan kerja yang padat dan terstruktur. Kegiatan dimulai dari observasi lapangan di UMKM, lalu dilanjutkan dengan proses sense and sensibility, define, ideation, dan diakhiri dengan perancangan prototype. “Prototipe yang dirancang harus disetujui oleh pelaku UMKM, karena kami ingin solusi yang benar-benar bisa dijalankan, bukan sekadar gagasan ideal. Jadi para mahasiswa membuat prototipe berdasarkan kebutuhan UMKM,” ujarnya. Adapun untuk tahun ini, lokasi proyek tersebar di tiga titik: Kebun Strawberry, Tempat Pengolahan Sampah (TPS), dan Pondok Labu. Mahasiswa akan tinggal sementara di lokasi tersebut selama tiga hari untuk menggali persoalan yang paling mendesak. Setelah itu mereka melanjutkan diskusi di UMM. “Lex bukan hanya tentang menyumbang ide, tapi juga menjadi sarana untuk mengasah empati, ketelitian, dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam waktu yang singkat namun intensif, dengan tujuan utama membentuk karakter yang adaptif secara global, percaya diri dalam komunikasi lintas budaya, dan mampu merespons permasalahan nyata dengan solusi yang aplikatif,” kata Listiari. Ia menekankan bahwa Lex menjadi ruang pembelajaran sosial yang menyeimbangkan akademik, komunikasi, dan kepekaan sosial dalam skala internasional. Ia berharap Lex tidak hanya menjadi program seremonial tahunan, tetapi pengalaman transformatif yang mampu mengubah cara pandang mahasiswa terhadap diri mereka sendiri dan dunia. “Banyak dari mereka yang setelah ikut Lex menjadi lebih berani mendaftar ke program internasional lain seperti Erasmus atau studi lanjut ke luar negeri. Bahkan hubungan dengan teman-teman dari Singapura pun sering berlanjut hingga bertahun-tahun,” ujarnya. Ia berharap dengan program ini agar mahasiswa UMM memanfaatkan Lex sebagai batu loncatan untuk melatih kepemimpinan, berani tampil di ranah global, serta percaya bahwa setiap masalah sosial selalu punya solusi—asal ada kemauan, empati, dan kerja sama lintas batas. (vin/wil)
Banyak Peluang ke Luar Negeri, Mahasiswa Psikologi UMM Ini Belajar di Taiwan

Belajar satu kelas dengan mahasiswa S2 lintas negara adalah pengalaman langka yang tak semua mahasiswa bisa rasakan. Tapi tidak demikian bagi Audilia Safira Narullita, mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2021 dari kelas internasional. Melalui program International Psychology Program (IP2), Mahasiswi yang akrab disapa Lia ini berhasil menapaki pengalaman belajar satu semester di Asia University, Taiwan, dan membawa pulang lebih dari sekadar nilai akademik. Program credit transfer ini adalah bagian dari skema internasional kelas Lia yang pada tahun 2023. Sebanyak 14 mahasiswa termasuk Lia, diberangkatkan ke Taiwan dan 4 lainnya ke Turki. Di Asia University, Lia dan rekan-rekannya digabungkan dalam kelas. Menariknya, mahasiswa S2 di sana berasal dari berbagai negara seperti Thailand, Filipina, Vietnam, hingga Mongolia. “Saya merasa beruntung sekali karena ternyata di UMM banyak sekali program internasional yang bisa diikuti. Jadi bisa merasakan kuliah dan pertukaran mahasiswa ke berbagai negara,” katanya. Pengalaman kuliah di kelas S2 membuat Lia merasakan langsung kualitas pendidikan yang berbeda. “Pembelajaran di sana lebih mendalam, dan diskusi menjadi bagian utama dalam proses belajarnya. Materinya dibahas satu per satu sampai tuntas,” ungkap Lia dengan antusias. Ia menambahkan bahwa dosen di sana lebih banyak menayangkan video sebagai pemicu diskusi dibandingkan sekadar ceramah atau presentasi. Tak hanya dalam akademik, Lia juga menunjukkan prestasi di luar kelas. Ia dan timnya mengikuti lomba ajang bakat akhir tahun yang rutin diadakan kampus dan berhasil menyabet juara dua. Kompetisi ini melibatkan mahasiswa internasional lain termasuk dari student exchange lainnya. “Kami benar-benar tidak menyangka bisa menang, apalagi lawannya dari berbagai negara,” cerita Lia. Di sela-sela kesibukan kuliah, Lia juga menyempatkan diri menjalani Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) melalui skema mitra dosen. Ia terlibat dalam kegiatan pengabdian yang ditujukan untuk mahasiswa Muslim asal Indonesia yang juga sedang menempuh studi di Asia University. Di luar akademik dan kegiatan organisasi, Lia menikmati berbagai momen budaya yang berkesan di Taiwan. Salah satu yang paling diingatnya adalah ketika merayakan tahun baru di pusat kota dan menyaksikan pesta kembang api yang spektakuler. “Fireworks-nya benar-benar beragam dan beda banget dari yang biasa aku lihat di Indonesia,” katanya. Lia berharap pengalamannya di Taiwan menjadi bekal berharga untuk masa depan. Ia juga menginginkan agar program IP2 bisa terus dikembangkan, tidak hanya ke Taiwan atau Turki, tapi juga ke negara lain. Ia juga berterimakasih karena UMM memiliki banyak sekali program internasional yang bisa diikuti. (bil/wil)
Geluti Jiujitsu sejak Kecil, Mahasiswa UMM Ini Raih Emas di Porprov Jatim

Tekad kuat dan semangat juang yang tinggi membuahkan hasil yang maksimal. Sepatah kata penuh makna dari Nabila Azzahra Dwi Arimbi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang baru saja menorehkan tinta emas prestasi. Nabila sapaan akrabnya, meraih medali emas pada cabang olahraga Jiu-Jitsu kelas show system mewakili kota Malang dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2025. Adapun ajang itu dilaksanakan pada 28 Juni hingga 5 Juli 2025 lalu di di Kota Malang sebagai tuan rumah. Porprov tahun ini menjadi panggung besar pertama bagi Nabila. Kisah hebat menuju podium bukanlah kisah yang terjadi hanya dalam waktu semalam. Dia telah menekuni cabor Jiu-Jitsu sejak usia 6 tahun, terinspirasi dari orang tua serta keluarga yang menyukai olahraga ini. “Setiap saya mendapatkan medali, saya selalu berpikir bahwa jika hari ini bisa, besok juga bisa. Saya menanamkan mindset itu disetiap pertandingan,” katanya. Lebih lanjut, tak hanya fisik yang diuji, dalam prosesnya, Nabila sempat mengalami cedera di bagian punggung belakang dan lutut. Cedera ini biasanya dapat kambuh sewaktu-waktu jika tidak melakukan pemanasan secara maksimal. Meskipun begitu, semangatnya tak luntur. Dia dituntut untuk belajar membagi waktu dengan baik antara kuliah, tugas, latihan, dan istirahat cukup dengan kedisiplinan tinggi. Beruntung, UMM selalu menyediakan berbagai keperluannya. Termasuk mendukung secara mental, finansial, dan support penuh. Kemudian, Nabila mengatakan persiapan untuk pekan olahraga ini sudah dia lakukan selama satu tahun secara intens. Dia mengorbankan waktu bermainnya dan menghabiskan waktu untuk latihan mempersiapkan diri seperti teknik, fisik, materi dan terutama mental. Selain itu adapula hal penting lain yang harus disiapkan yaitu manajemen emosi dan tekanan dari lawan. Ini diperlukan agar dapat tetap tenang ketika bertanding. Apalagi yang dihadapinya adalah alwan-lawan kuat dari berbagai daerah di Jawa Timur. Pada beberapa pertandingan awal, dia sempat ragu jika tidak dapat bermain dengan maksimal. Namun dia tetap menyakinkan diri bahwa pasti dia bisa. “Sempat merasa campur aduk ketika bertemu dengan lawan yang lebih kuat dari pada saya. Tapi dari situ saya belajar tentang sportivitas dan semangat juang,” ungkapnya. Di balik kemenangan itu, Nabila menyimpan motivasi besar yaitu ingin terus membanggakan orang tua, pelatih dan almamater tercinta UMM. Dengan semua itu, dia ingin terus berkembang, dan membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa semuanya tidak akan sia-sia. “Jangan takut, berani dan jangan menyerah. Apapun bidang yang kalian tekuni, itu kuncinya adalah konsisten. Kita harus kuat dan niat, karena prestasi itu tidak datang semalam,” pesannya. (nam/wil)
Dosen Informatika UMM: Sekali Klik Sembarangan, Uang Bisa Melayang

Sebuah file undangan pernikahan berformat .apk yang masuk ke ponsel bisa jadi awal dari malapetaka finansial. Tanpa disadari, satu klik pada file yang tampak sepele itu mampu memberikan akses penuh kepada peretas untuk menguras isi rekening bank Anda. Hal itu ditegaskan oleh Dosen Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Aminuddin, S.Kom., M.Cs. “Ancaman siber bukanlah isapan jempol, melainkan realitas berbahaya di era digital yang harus dipahami,” katanya. Aminuddin yang juga Kepala Bagian Sistem Informasi dan Pendidikan Digital UMM itu menjelaskan mengenai pencurian data melalui malware. Menurutnya, ini menjadi salah satu ancaman paling serius bagi pengguna internet saat ini. Kemudahan yang ditawarkan dunia maya berjalan beriringan dengan sisi gelap yang mengintai dan yang paling mengkhawatirkan adalah pencurian data pribadi dan finansial. Ia menjelaskan bahwa modus kejahatan ini seringkali dimulai dengan pengiriman file atau tautan yang dirancang untuk menipu korban. Pelaku menyematkan malware atau perangkat lunak jahat di dalam file seperti undangan digital, dokumen PDF, bahkan gambar. “Ketika kita ngeklik, malware itu langsung mengekstrak dirinya ke perangkat kita. Ketika sudah terjadi, seluruh data yang ada di perangkat kita bisa diketahui dengan mudah,” katanya. Ia menyoroti kasus file berformat .apk yang sempat marak. File .apk pada dasarnya adalah installer aplikasi untuk sistem operasi Android. Ketika korban mengkliknya karena penasaran, mereka tanpa sadar menginstal program jahat yang bisa merekam semua aktivitas di ponsel, termasuk saat membuka aplikasi perbankan. Malware tersebut bisa mencatat username, password, bahkan kode OTP, yang kemudian digunakan peretas untuk mengambil alih dan menguras saldo rekening korban. “Bahaya serupa juga mengintai dari penggunaan jaringan WiFi publik yang tidak aman, yang dapat menjadi celah bagi peretas untuk memantau lalu lintas data pengguna,” tambahnya. Lantas, bagaimana cara orang awam membentengi diri? Ia menekankan pentingnya kebijaksanaan dan kehati-hatian. Langkah pertama adalah dengan tidak membuka file atau mengklik tautan dari sumber yang tidak dikenal atau mencurigakan. Ia menyarankan untuk waspada terhadap pesan dari nomor asing, terutama yang mengatasnamakan institusi besar seperti bank namun tidak memiliki lencana verifikasi resmi (centang hijau atau biru) di aplikasi perpesanan. Selain itu, perhatikan jenis file yang diterima. Jika ada file dengan ekstensi yang aneh atau tidak umum selain .jpg, .pdf, atau .docx, sebaiknya jangan dibuka. Namun, bagaimana jika perangkat sudah terlanjur terinfeksi? Ia menyebutkan langkah paling efektif, meskipun terdengar ekstrem, adalah melakukan reset ulang ke setelan pabrik (factory reset). Menurutnya, malware sejenis ini seringkali sudah masuk hingga ke sistem terdalam (root) perangkat, sehingga menghapusnya secara biasa tidak akan cukup. Ia berharap kesadaran atau literasi digital di tengah masyarakat dapat terus meningkat. Menurutnya, ini bukan hanya tanggung jawab individu untuk mencari tahu secara mandiri, tetapi juga memerlukan peran aktif pemerintah untuk menggalakkan sosialisasi mengenai keamanan digital. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat dapat memanfaatkan sisi positif internet yang luar biasa sambil tetap waspada dan terlindungi dari berbagai ancaman yang menyertainya. (nam/wil)
Berkat Kolaborasi Internasional UMM, Mahasiswa Rasakan Sensasi Belajar di Thailand

Empat mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkesempatan mengikuti Program Silpakorn Summer School 2025 di Silpakorn University, Thailand. Selama satu pekan mulai 22 Juni lalu, mereka tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga terjun langsung mempelajari budaya, pertanian, hingga inovasi bisnis berbasis sumber daya lokal. Adapun hal ini didorong oleh kampus UMM yang terus membuka jalan bagi mahasiswanya untuk mengeksplorasi dunia melalui berbagai program kolaborasi internasional. Program ini diikuti oleh kurang lebih 50 peserta dari berbagai negara di Asia, seperti Taiwan, Korea Selatan, Tiongkok, Filipina, Malaysia, Vietnam, Kamboja, dan Indonesia. Menariknya, kegiatan ini dikemas seperti study tour, namun dengan pembelajaran yang lebih menyenangkan dan interaktif. M. Azizzan Al Ghifari salah satu mahasiswa UMM yang turut serta menyampaikan, mereka mendapatkan banyak pengalaman unik mempelajari berbagai budaya khas Negeri Gajah Putih. Mulai dari membuat dessert tradisional, mempelajari tarian lokal, hingga merasakan langsung atmosfer tradisi masyarakat setempat. Salah satu kegiatan yang sangat menarik adalah belajar mengenai pertanian lokal dan bisnis peternakan serangga, yang masih asing di Indonesia. Kemudian, para peserta juga dikenalkan dengan jenis-jenis tanaman yang hanya tumbuh di Thailand beserta cara menanamnya. Tak hanya materi dan teori saja, mereka juga diajak ke Sirindhorn International Environmental Park (SIEP) untuk menjelajah hutan mangrove dan mempelajari pentingnya konservasi lingkungan. Azizzan melanjutkan, disana mereka juga belajar membuat sabun dari bahan alami serta citronella mosquito spray berbahan rempah lokal. Pengalaman kuliner pun tak kalah seru. Para mahasiswa mencoba masakan berbahan dasar serangga yang umum dikonsumsi di Tailand. Bahkan, mereka belajar cara membuat snack bar dari serbuk serangga yang dicampur dengan bahan lain. Uniknya, di Silpakorn University, serangga seperti jangkrik dan ulat disediakan sebagai cemilan sehat kaya protein. “Di Indonesia, mengkonsumsi serangga masih dianggap tabu. Tapi, di Thailand serangga adalah sumber protein yang sangat dihargai. Saya jadi banyak belajar bahwa ini bisa jadi peluang bisnis yag menjanjikan di masa depan,” katanya antusias. Sementara itu, Dekan FPP UMM Dr. Ir. Aris Winaya, M.M., M.Si. menjelaskan, para mahasiswa tidak sekadar belajar teori, namun juga terlibat aktif dalam praktik langsung bersama mahasiswa dari tujuh negara lainnya. Mereka saling berbagi budaya, pengalaman, dan pengetahuan, sehingga menciptakan suasana belajar yang seru dan memorable. “Ini menjadi cara kami untuk mendorong mahasiswa agar bisa merasakan atsmosfer internasional. Ada berbagai kerjasama dan kolaborasi internasional yang sudah kami lakukan, termasuk dengan kampus Thailand. Semua itu demi membuka pintu seluas-luasnya bagi mahasiswa untuk berkiprah,” katanya. (din/wil)
Ilmu Komunikasi UMM Borong Juara di Ajang Internasional SILAT APIK

Kabar membanggakan datang dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini giliran mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM yang sukses borong berbagai penghargaan di ajang International Competition dalam rangka Silaturahmi Asosiasi Pendidikan Ilmu Komunikasi (SILAT APIK) Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Adapun kompetisi ini diselenggarakan pada 22-24 Juni lalu di Cirebon. Para peserta yang bersaing berasal dari puluhan prodi komunikasi di bawah naungan APIK PTMA dan beberapa kampus luar negeri. Termasuk dari Filipina, Thailand, Tiongkok, dan Malaysia. Salah satu mahasiswa yang berhasil meraih juara adalah Salsabila Khairunnisa dan timnya. Ia sukses meraih Juara 1 Digital Content Creator dan Juara 1 Script Writer Internasional. Ia mengangkat motif batik mega mendung yang ada di uang pecahan Rp50.000 sebagai hook dan visual yang naratif. Ia dan tim mampu menjembatani budaya lokal Cirebon dengan keseharian masyarakat. “Saya ingin menunjukkan bahwa budaya bisa dikenalkan dengan cara yang dekat dan relevan, kadang, cerita besar tersembunyi di balik benda-benda kecil yang kita bawa setiap hari,” ujar Salsa. Adapun kompetisi ini mempertandingkan berbagai cabang lomba bidang komunikasi. Mulai dari lomba fotografi, lomba kampanye pr, lomba reportasi, lomba produksi digital content, produksi iklan layanan masyrakat dan lomba-lomba non akademik, seperti fashion show, solo vocal, dan lain-lain. Selain itu, mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM juga berjaya dalam kompetisi fotografi, membawa pulang tiga penghargaan. Wahyu Egi Pratama dan M. Musthofa Kamal mampu meraih juara kategori decisive moment, black and white, dan portrait. Di cabang PR Campaign, Welly Dwi Fahryan berhasil meraih Juara 1, dan Sabrina Rahmadani Sabaruddin meraih Juara 2. Dalam kompetisi PR Campaign ini, peserta ditantang menyusun strategi komunikasi berbasis riset tentang dua isu. Termasuk terkait pelestarian Keraton Kasepuhan atau promosi Batik Trusmi. Materi dipelajari dalam workshop, lalu langsung diterapkan ke dalam rencana kampanye nyata. Kompetisi reportase menjadi tantangan tersendiri. Para peserta hanya diberi waktu 3,5 jam untuk merancang narasi, merekam visual, dan menyunting video dari objek budaya di Cirebon. Tapi waktu singkat itu justru menjadi panggung ketangkasan dan kekompakan. Putra Fahreza Aqila Akhmad dan Mutiara Pasca Nanasya mampu memenangi kategori narasi berita terbaik, visualisasi berita terbaik dan video visual terbaik untuk cabang reporter dan news anchor. UMM melalui mahasiswa ilmu komunikasi telah membuktikan bahwa komunikasi bukan hanya soal kata-kata. Namun mampu merasakan langsung proses kreatif mulai dari riset, produksi, hingga presentasi. Keberhasilan ini tidak hanya mencerminkan kemampuan individu, tetapi juga menunjukkan semangat communicative, creative, and collaborative yang menjadi karakter unggulan Prodi Ilmu Komunikasi UMM. (*/wil)
UMM Ungguli PTN Besar dan Top Ten Nasional Pendanaan PKM

Prestasi membanggakan kembali diraih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini, UMM berhasil menduduki posisi kedua pendanaan program kreativitas mahasiswa (PKM) se-Jatim. Bahkan Kampus Putih mengungguli sederet kampus negeri seperti UB, Unair, UM, Unesa dan lainnya. Sementara di level nasional, UMM berhasil masuk 10 besar dengan 24 judul yang lolos dan didanai oleh Kemdiktisaintek RI untuk dilaksanakan lebih lanjut. Adapun 24 judul PKM tersebut terdiri dari beberapa bidang. Mulai dari PKM kewirausahaan, karsa cipta, penerapan iptek, dan pengabdian pada masyarakat. Selain itu ada juga PKM riset yang terdiri dari PKM RE dan RSH. Terkait hal ini, Kepala Bagian Penalaran UMM Dr. Faizin, M.Pd. menjelaskan bahwa hasil ini meningkat dari tahun sebelumnya yang mana UMM tidak masuk di 10 besar nasional. Adapun hasil baik ini juga mencerminkan upaya UMM dalam meningkatkan daya saing, kreativitas, dan kualitas mahasiswa di level nasional. “Ini juga menunjukkan bahwa kualitas mahasiswa UMM sebanding atau bahkan melebihi mereka yang menimba ilmu di kampus negeri. Selain itu, hasil ini membuktikan bahwa semua kampus memiliki kesempatan yang sama dalam bersaing,” katanya. Lebih lanjut, Faizin menjelaskan sederet program yang dilaksanakan sehingga bisa meraih posisi tersebut. Salah satunya pendampingan yang maksimal di level prodi fakultas, hingga universitas. DI tingkat universitas, pihaknya menerima 1.200an judul yang diseleksi menajdi 300 judul. Kemudian 137 judul di antaranya dikirim ke level nasional dan memberikan hasil positif ini. Ke depan, ia berharap UMM bisa masuk top 3 kampus dengan pendanaan PKM terbanyak pada tahun 2026 atau 2027. Dengan berbagai program persiapan dan berbenah diri, ia yakin mahasiswa UMM mampu meraih target tersebut dengan dukungan penuh dair pihak kampus. “Semoga gen UMM yang lolos pendanaan ini bisa lanjut ke kompetisi Pimnas yang akan dilaksanakan di Universitas Hasanuddin nanti. Memberikan yang terbaik dan meraih medali di setiap bidang PKM,” katanya mengakhiri. (wil)