PGSD UMM Bahas Matthew Effect dan Growt Mindset untuk Siswa

Anak yang mengalami matthew effect akan berpotensi memiliki masa depan yang lebih baik. Hal itu ditegaskan Education Cordinator Inovasi Jawa Timur-Australia-Indonesia Partnership, Anhar Putra Iswanto, M.Si. dalam kuliah tamu yang digelar oleh Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Malang (PGSD UMM). Ratusan mahasiswa turut serta dalam agenda yang dilaksanakan pada 1 Juli lalu itu. Lebih lanjut, Anhar mengatakan Matthew Effect merupakan istilah tentang anak-anak yang memiliki kemampuan membaca akan cenderung membaca lebih banyak, sehingga semakin meningkatkan kemampuan membacanya. Mereka cenderung memiliki masa depan yang lebih baik. “Jika melihat kondisi literasi secara umum di Indonesia, kita berada di peringkat 63 pada data Programme for International Student Assessment (PISA). Jauh di bawah Singapore, Malaysia, dan Thailand. Ini merupakan kondisi yang menyedihkan,” katanya. Adapun selama ini, literasi di Indonesia hanya dikaitkan dengan membaca. Padahal literasi tidak sekedar membaca, namun kemampuan untuk memahami, menggunakan, merefleksi dan berinteraksi dengan teks tulis agar seorang mampu meraih tujuan pribadi. Mengembangkan pengetahuan dan potensinya sehingga mampu berpartisipasi sebagai warga masyarakat. Ia juga menjelaskan terkait kemampuan numerasi di Indonesia. Hal yang diajarkan hanya sebatas kemampuan berhitung. Berdasarkan pengertian yang dikeluarkan oleh kementerian pendidikan, numerasi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seorang anak dalam menggunakan pengetahuan Matematika yang dimilikinya dalam menjelaskan kejadian, mememecahkan masalah, atau mengambil Keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Menariknya, Anhar juga menjelaskan tantangan yang akan dihadapi para pendidik. Mulai dari sarana dan prasarana kurang memadai, keterlibatan kepala sekolah dan guru dalam meningkatkan semangat literasi hingga kebiasaan membaca. Untuk mengatasinya, hal paling krusial adalah menyediakan guru berkualitas yang salah satu cirinya memiliki kemampuan story telling yang baik. Di ujung penyampaian materi, Anhar juga mengupas tentang growth mindset. Sebuah istilah yang dikenalkan oleh Correl Deck, seorang psikologi Amerika. Kesimpulan dari penelitiannya menyebut bahwa keberhasilan dan kegagalan belajar ditentukan bukan oleh tingkat kecerdasan, tetapi oleh pola pikir yang berkembang (growth mindset). Sementara itu, Kaprodi PGSD UMM Bustanol Arifin, M.Pd. berharap materi kuliah tamu ini bisa dijadikan sebagai pengalaman baru dan wawasan baru. Utamanya dalam memnyusun strategi yang dapat diterapkan dalam mengajarkan literasi kepada siswa. Melalui kegiatan ini, calon guru dapat mengembangkan strategi literasi yang kuat untuk membentuk generasi pembelajar yang kritis dan kreatif. “Calon guru maupun guru dapat menanamkan kecintaan membaca dan menulis sejak dini. Calon guru dan guru bukan sekedar pendidik, tetapi juga pelita yang menyalakan semangat literasi di hati setiap anak,” tegasnya. (*/wil)
Dudung Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertahanan di UMM: Gen Z Harus Ambil Peran Strategis

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkontribusi untuk Indonesia, termasuk dalam bidang pertahanan. Salah satunya menghadirkan Penasihat Khusus Presiden Indonesia Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. H. Dudung Abdurachman, S.E., M.M. pada 2 Juli lalu. Ia memberikan berbagai pesan bagi mahasiswa, terutama bagaimana anak muda mengambil peran strategis dalam pertahanan bangsa. Dalam paparannya, Dudung menekankan masa depan Indonesia berada di tangan generasi muda. Gen-Z harus mampu menjadi agen perubahan yang berdaya saing global. Namun, ia juga mengingatkan bahwa keunggulan teknologi yang dimiliki generasi ini belum tentu membawa dampak positif jika tidak diimbangi dengan karakter kuat, literasi budaya, dan pemikiran kritis. “Saya percaya masa depan Indonesia ada di tangan kalian. Tapi kalau tidak mempersiapkan diri mulai sekarang, Indonesia hanya akan jadi pasar bagi bangsa lain, bukan pemain utama. Internet itu bebas, tapi kalian harus bisa menyaringnya. Jangan hanya jadi pengikut arus—jadilah pembuat arus,” ujarnya. Ia juga menyoroti ancaman internal yang semakin nyata, seperti disinformasi, radikalisme, dan polarisasi sosial. Dudung mengungkap bahwa indeks kerentanan nasional Indonesia tergolong tinggi dan bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak berkepentingan jika generasi mudanya apatis terhadap kondisi sosial-politik. “Bonus demografi tidak menjamin keunggulan bangsa. Kalau kalian hanya cerdas secara akademik tapi lemah secara moral, justru bisa jadi bencana. Jangan hanya bangga dengan gelar, tapi bangun karakter. Jangan hanya pintar, tapi punya prinsip. Bangsa ini tidak dibangun oleh orang yang nyaman, tapi oleh mereka yang rela berjuang dan berkorban,” ungkap Dudung. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik, M.Si. menegaskan bahwa sudah menjadi tradisi UMM untuk mendatangkan tokoh nasional dan internasional demi memberikan wawasan serta inspirasi. Khususnya bagi para mahasiswa yang akan memegang tonggak kepemimpinan masa depan. Adapun kali ini, Kampus Putih mendatangkan penasihat khusus presiden bidang pertahanan. “Selama karirnya, Pak Dudung tentu merasakan banyak pengalaman yang bisa dibagikan kepada para mahasiswa dan kemudian digunakan untuk mengabdi pada masyarakat. UMM senantiasa berjanji untuk dekat dengan masalah-masalah masyarakat dan menjadi pioner dalam memberiakn solusi terbaik,” tegasnya. Selain itu, Nazar juga menegaskan bahwa sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu membangun kerjasama dan kolaborasi produktif. Utamanya demi kemaslahatan umat dan bangsa. UMM juga percaya bahwa kolaborasi menjadi simbol untuk menghadapi berbagai masalah. (vin/wil)
Dudung Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertahanan di UMM: Gen Z Harus Ambil Peran Strategis

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkontribusi untuk Indonesia, termasuk dalam bidang pertahanan. Salah satunya menghadirkan Penasihat Khusus Presiden Indonesia Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. H. Dudung Abdurachman, S.E., M.M. pada 2 Juli lalu. Ia memberikan berbagai pesan bagi mahasiswa, terutama bagaimana anak muda mengambil peran strategis dalam pertahanan bangsa. Dalam paparannya, Dudung menekankan masa depan Indonesia berada di tangan generasi muda. Gen-Z harus mampu menjadi agen perubahan yang berdaya saing global. Namun, ia juga mengingatkan bahwa keunggulan teknologi yang dimiliki generasi ini belum tentu membawa dampak positif jika tidak diimbangi dengan karakter kuat, literasi budaya, dan pemikiran kritis. “Saya percaya masa depan Indonesia ada di tangan kalian. Tapi kalau tidak mempersiapkan diri mulai sekarang, Indonesia hanya akan jadi pasar bagi bangsa lain, bukan pemain utama. Internet itu bebas, tapi kalian harus bisa menyaringnya. Jangan hanya jadi pengikut arus—jadilah pembuat arus,” ujarnya. Ia juga menyoroti ancaman internal yang semakin nyata, seperti disinformasi, radikalisme, dan polarisasi sosial. Dudung mengungkap bahwa indeks kerentanan nasional Indonesia tergolong tinggi dan bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak berkepentingan jika generasi mudanya apatis terhadap kondisi sosial-politik. “Bonus demografi tidak menjamin keunggulan bangsa. Kalau kalian hanya cerdas secara akademik tapi lemah secara moral, justru bisa jadi bencana. Jangan hanya bangga dengan gelar, tapi bangun karakter. Jangan hanya pintar, tapi punya prinsip. Bangsa ini tidak dibangun oleh orang yang nyaman, tapi oleh mereka yang rela berjuang dan berkorban,” ungkap Dudung. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik, M.Si. menegaskan bahwa sudah menjadi tradisi UMM untuk mendatangkan tokoh nasional dan internasional demi memberikan wawasan serta inspirasi. Khususnya bagi para mahasiswa yang akan memegang tonggak kepemimpinan masa depan. Adapun kali ini, Kampus Putih mendatangkan penasihat khusus presiden bidang pertahanan. “Selama karirnya, Pak Dudung tentu merasakan banyak pengalaman yang bisa dibagikan kepada para mahasiswa dan kemudian digunakan untuk mengabdi pada masyarakat. UMM senantiasa berjanji untuk dekat dengan masalah-masalah masyarakat dan menjadi pioner dalam memberiakn solusi terbaik,” tegasnya. Selain itu, Nazar juga menegaskan bahwa sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu membangun kerjasama dan kolaborasi produktif. Utamanya demi kemaslahatan umat dan bangsa. UMM juga percaya bahwa kolaborasi menjadi simbol untuk menghadapi berbagai masalah. (vin/wil)
Uti Bisa Terbang ke Turki berkat Porgram Internasional Psikologi UMM

Putri Usriliana Rizki Jafar selalu membayangkan perpustakaan kampus yang tidak pernah tutup. Selama 24 jam mahasiswa bisa datang untuk belajar, membaca, atau hanya sekadar mencari inspirasi. Hal itu kini sudah bisa ia rasakan langsung berkat menjadi mahasiswa psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia berkesempatan untuk belajar di Turki karena menjadi bagian dari program internasional credit transfer UMM. “Di sini, tersedia juga makanan dan minuman secara gratis untuk memastikan para mahasiswa tetap fokus dan nyaman. Fasilitas luar biasa ini dan sangat membantu,” katanya. Adapun program kelas Internasional ini berjalan sejak angkatan 2020 dan menjadi salah satu program unggulan di Psikologi UMM. Kemudian, Uti juga mengungkapkan alasan dia memilih Psikologi UMM yakni karena sudah terkareditas unggul dan adanya program internasional yang beragam. Program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menempuh kuliah dua tahun kuliah di UMM, lalu melanjutkan satu semester di luar negeri. Ada beberapa kampus mitra dari berbagai negara yang bisa dipilih, seperti Taiwan, Malaysia dan Turki. Adapun Uti memilih kampus di Turki yaitu Middle East Technical University (METU) yang merupakan salah satu universitas ternama. Uti melanjutkan kisahnya dengan menjelaskan bahwa para mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, namun mereka juga bersosialisasi dan membangun jaringan global. Mereka bertemu mahasiswa internasional dari berbagai negara, berdiskusi lintas budaya, dan saling berbagi pengalaman studi di negara masing-masing. Pengalaman ini bukan hanya memperluas wawasan, tetapi juga membangkitkan motivasi untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi di luar negeri. Uti mengatakan, sistem pendidikan di METU sendiri lebih banyak menekankan pendekatan teoritis di dalam kelas, pendekatan praktik seperti role-play dan penyusunan studi kasus. Literasi menjadi kunci utama. Fasilitas yang memadai membuat mahasiswa dapat mengakses lebih banyak referensi akademik. Ada beberapa agenda yang membuat Uti sangat menikmati program ini. Misalnya seperti konferensi, pesta dan acara budaya yang memperkenalkan makanan dan tradisi dari berbagai negara. Program ini merupakan program kampus yang terjalin sangat kuat. Menciptakan rasa kebersamaan yang hangat meski jauh dari rumah. Kampus mendorong solidaritas dan konektivitas antar mahasiswa internasional tanpa harus menekan mereka dengan beban belajar yang berlebihan. Uti menambahkan, walaupun gaya hidup di Turki cenderung individualistis, namun kehidupan kampus justru sangat kolektif. Kampus bahkan menyediakan kursus bahasa Turki untuk mahasiswa asing, yang walaupun tidak diwajibkan, sangat membantu dalam kehidupan sehari-hari. Para dosen mengajar dengan sabar dan pendekatan yang personal, bahkan menggunakan gaya baby talk agar mahasiswa bisa memahami dari dasar. (nam/wil)
Dosen HI UMM Jadi pembicara di Global South di Budapest Global Dialogue 2025

Tonny Dian Effendi, dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mendapat kehormatan untuk menjadi salah satu pembicara dalam forum bergengsi Budapest Global Dialogue (BDG) 2025 yang digelar pada 16-18 Juni di Budapest, Hungaria. Acara ini diselenggarakan oleh Hungarian Institute of International Affairs (HIIA), sebuah lembaga pemikir terkemuka di bidang kebijakan luar negeri, dan tahun ini bekerja sama dengan Observer Research Foundation (ORF) dari India. Konferensi ini nenghadirkan 95 pembicara dan 400 peserta undangan dari kalangan pemerintah, dunia, usaha, akademisi, dan Masyarakat sipil dari 70 negara. Tonny menjadi salah satu panelis pada hari kedua dalam sesi bertema “The Key to Sovereignty in the 21st Century.” Ia tampil bersama János Csák (mantan Menteri Kebudayaan dan Inovasi Hungaria), Ken Jimbo (Profesor dari Universitas Keio, Jepang), Mentor Beqa (Direktur Eksekutif Sami Frasheri Institute, Albania), dan Rami Desai dari Indian Foundation. Diskusi ini dimoderatori oleh Noémi Pálfalvi, Direktur Hubungan Internasional Mathias Corvinus Collegium, Hungaria. Dalam paparannya, Tonny membahas bagaimana konektivitas global saat ini membawa dua sisi mata uang yaitu peluang untuk mempererat kerja sama ekonomi dan perdagangan, namun sekaligus menjadi tantangan terhadap kedaulatan negara dan kerentanan terhadap perubahan geopolitik. Ia menekankan pentingnya negara-negara Global South memperkuat solidaritas dan konektivitas dalam menghadapi dinamika global tersebut. Berbeda dari sebagian panelis yang menekankan pendekatan realisme atau liberalisme hubungan internasional, Tonny mengangkat perspektif konstruktivisme, dengan menyoroti pentingnya peninjauan dan rekonstruksi identitas nasional sebagai landasan dalam menentukan arah kebijakan luar negeri. Menggunakan contoh Poros Maritim Dunia, ia menjelaskan bagaimana Indonesia merespons perubahan geopolitik dengan membangun kembali identitasnya sebagai negara maritim untuk memperoleh keuntungan strategis sekaligus melindungi kedaulatannya. Konferensi ini juga menghadirkan pembicara-pembicara kelas dunia. Pada hari pertama, sesi pembukaan diisi oleh tokoh-tokoh seperti Liz Truss (mantan Perdana Menteri Inggris), John Mearsheimer (profesor politik internasional dari Universitas Chicago), Sanjeev Sanyal (anggota Dewan Penasehat Ekonomi Perdana Menteri India), Eric X. Li (pemimpin Chengwei Capital, Tiongkok), dan Gladden Pappin (presiden HIIA). Di hari kedua, Menteri Luar Negeri Hungaria Pétér Szijjárto dan Menteri Luar Negeri Makedonia Utara Timčo Muncuski turut memberikan pidato kunci mengenai dinamika hubungan internasional kontemporer. Partisipasi Tonny dalam forum global ini menunjukkan kiprah akademisi Indonesia dalam percaturan pemikiran internasional, serta peran strategis dalam membangun wacana alternatif dari perspektif Global South. (*/wil)
UMM Buka Peluang Mahasiswa Belajar di Eropa lewat Erasmus

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkomitmen menguatkan internasionalisasinya melalui program beasiswa Erasmus. Adapun program ini telah berjalan sejak 2009 dan memberi kesempatan bagi mahasiswa, dosen, serta staf untuk mengikuti kegiatan akademik di berbagai universitas di Uni Eropa. Beasiswa ini juga membuka peluang besar bagi mahasiswa UMM untuk bisa pergi ke eropa dan belajar di san amengikuti program pertukaran mahasiswa. Dengan skema kerja sama university to university (U2U), Erasmus memungkinkan mobilitas akademik berbasis proposal dan kesepakatan antara UMM dan mitra luar negeri yang mencakup 15 kampus dari berbagai negara anggota Uni Eropa. Wakil Rektor IV Bidang Riset, Pengabdian, dan Kerjasama Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, PhD. menjelaskan bahwa program ini sepenuhnya didanai oleh Uni Eropa dan dibuka secara berkala. “Kita menyusun proposal bersama dengan kampus mitra di Eropa. Kalau disetujui, kita baru bisa implementasikan mobilitasnya. Skemanya ada tiga: student mobility untuk mahasiswa, teaching mobility untuk dosen, dan training mobility untuk staf. Semua kegiatan tersebut bersifat fully funded, mencakup biaya perjalanan, akomodasi, biaya hidup, dan bahkan asuransi,” ujarnya. Penyelenggaraan Erasmus biasanya dilakukan satu hingga dua kali setahun, bergantung pada besarnya dana hibah yang diperoleh. Setelah mendapatkan pendanaan, International Relations Office (IRO) UMM akan membuka pendaftaran secara terbuka. Proses seleksi dilakukan dengan sistem dua tahap, yakni seleksi administrasi dan wawancara. Mahasiswa yang lolos kemudian diajukan ke universitas mitra untuk seleksi akhir. “Kami umumkan lewat media sosial dan website. Mahasiswa mengisi formulir, upload dokumen seperti CV, motivation letter, dan transkrip. Setelah itu, kita seleksi administrasi, baru interview. Kalau lolos, baru kita kirimkan kandidat ke luar negeri,” ujarnya. Negara dan institusi tujuan ditentukan oleh UMM sesuai prioritas dan jaringan kerja sama yang sudah dibangun. Strategi ini bertujuan memberi akses merata kepada seluruh program studi agar tidak ada fakultas yang tertinggal. Dengan adanya beasiswa Erasmus ini IRO ingin semua prodi punya kesempatan yang sama. Bukan hanya untuk Fakultas Ekonomi atau Teknik, tapi juga Ilmu Sosial, Pertanian, bahkan Keperawatan. “Durasi studi dalam program Erasmus adalah satu semester atau sekitar tiga hingga empat bulan. Mahasiswa mengikuti kelas sesuai perjanjian credit transfer, sehingga mata kuliah yang diambil di luar negeri tidak perlu diulang di UMM. Kalau sudah dapat nilai dari kampus mitra, nanti tinggal kita konversi. Jadi nggak nambah masa studi,” jelas Salis. Lebih dari sekadar pertukaran akademik, Erasmus memberikan pengalaman internasional yang memperluas wawasan, jejaring global, dan kemampuan berpikir kritis. Mahasiswa juga dituntut untuk beradaptasi dengan sistem pendidikan baru, lingkungan multikultural, dan penggunaan bahasa asing. Banyak dari mereka yang pulang jadi lebih mandiri, berani, dan punya cara pandang yang berbeda terhadap dunia. Itu nilai tambah yang tidak semua program bisa berikan. “Sejauh ini, UMM telah mengirim 162 peserta sejak program ini dimulai. Saat ini, dua mahasiswa masih menjalani studi di Portugal dan Spanyol, dan satu lagi akan berangkat ke Spanyol pada September mendatang,” tambahnya. Ia berharap program ini bisa terus dilanjutkan dan menjangkau lebih banyak mahasiswa UMM dari latar belakang program studi yang beragam. Harapan dari adanya program ini terus berlanjut dan lebih banyak mahasiswa tahu dan berani daftar. Ia mengatakan bukan hanya soal pergi ke luar negeri, tapi tentang membentuk cara berpikir global. (din/wil)
UMM Gandeng Bea Cukai Ajari Mahasiswa jadi Eksportir

Diskusi menarik terkait dunia ekspor diselenggarakan oleh Prodi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (EP UMM), 25 Juni lalu. Bertajuk Muda, Mandiri, Mendunia, Gen Z Siap Ekspor, ini menjadi cara mengenalkan ekspor dan berbagai hal yang berkaitan. Turut hadir Kepala Kantor Bea Cukai Wilayah II, Ir. Agus Sudarmaji, M.Sc. dan Direktur Media Mitra Indonesia, Sumhaji. Agus menyampaikan materi tentang tugas dan pokok bea cukai. Ia membahas secara umum tentang peran bea cukai, pengertian cukai, proses ekspor, dinamika ekonomi global, dan arus transportasi ekspor-impor Indonesia. Begitupun dengan tugas dan fungsi bea cukai, hingga prosedur pengawasan dan sanksi terhadap pelaku yang melanggar prosedur ekspor di Indonesia. Berikutnya Direktur Media Mitra Indonesia, Sumhaji mengungkapkan tren baru ekspor digital yang saat ini masih potensi dan peluang besar. Bahkan produk apa saja yang potensi ekspor, peluang ekspor produk digital, jumlah eksportir di ASEAN, langkah-langkah memulai ekspor, referensi ekspor, hingga bagaimana menghadapi tantangan ekspor. “Hal-hal ini harus dimengerti oleh anak-anak muda zaman sekarang. Sehingga, nanti ketika benar-benar terjun, kalian bisa menguasai medan dan sukses menjalankannya,” kata Sumhaji. Hal menarik juga disampaikan oleh alumni EP UMM sekaligus eksportir Nada Ulviani. Ia bercerita bagaiaman ia mengawali sebagai eskportir, bagaimana terjun ke komoditas dan eskpor, hingga tips sukses sebagai eksportir. Ia juga menjelaskan apa saja yang harus dilakukan ketika menerima order, tanggungjawab pengiriman, penentuan harga, dan system pembayaran. Nda juga menjelaskan cara bagaimana ketemu buyer yang pencairan pembayaran yang memiliki termin beberapa bulan kemudian. Pertanyaan juga terkait dokumen sertifikasi produk ekspor itu dibebankan kepada trader, supplier atau eksportir, dan lainnya. Adapun agenda ini menjadi cara EP UMM mendorong inovasi teknologi dan siap mewujudkan eksportir handal yang sukses menembus pasar global. (wil*)
Pendidikan Bahasa Indonesia UMM Sandang Akreditasi Internasional FIBAA

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih akreditasi internasional dari The Foundation for International Business Administration Accreditation (FIBAA). Akreditasi ini berlaku sejak 5 Juni 2025 hingga 4 Juni 2030. Capaian ini menunjukkan keseriusan prodi dalam meningkatkan mutu pendidikan sekaligus membuka peluang kerja sama internasional dan memperkuat reputasi di tingkat global. Ketua Program Studi PBI, Arif Setiawan, M.Pd., menyatakan bahwa akreditasi ini merupakan hasil dari proses panjang yang dijalani dengan komitmen tinggi dan kerja kolektif. Ia mengatakan bahwa akreditasi ini bukan sekadar label internasional, tapi bentuk pengakuan bahwa sistem pendidikan kami telah memenuhi standar global. Prodi kini berada pada posisi strategis untuk mengambil peran dalam pengembangan bahasa Indonesia secara internasional. Ia menjelaskan bahwa FIBAA dipilih karena telah diakui oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Lembaga yang berbasis di Bern, Jerman, ini juga telah mengakreditasi berbagai kampus di Eropa dan Asia. Arif menegaskan bahwa pemilihan FIBAA dilakukan secara selektif karena memiliki kredibilitas tinggi serta pengaruh besar dalam dunia pendidikan tinggi internasional. Ia juga menyebut bahwa keputusan ini memperkuat posisi UMM dalam jejaring akademik global. “Akreditasi ini saya kaitkan dengan keputusan UNESCO pada Oktober 2023 yang menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional. Pengakuan itu menjadi momentum penting bagi prodi untuk meningkatkan kapasitas. Kalau Bahasa Indonesia sudah diakui dunia, maka prodi pengampu harus ikut naik kelas. Kita tidak bisa lagi berpikir lokal. Langkah ini adalah bagian dari tanggung jawab intelektual dan budaya,” kata Arif. Ia juga menekankan pentingnya internasionalisasi prodi melalui penguatan akses informasi dan keterlibatan global. Prodi kini memiliki situs dalam enam hingga tujuh bahasa asing dan aktif dalam program unggulan seperti BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing). Hal ini menunjukkan kesiapan prodi dalam menyambut mahasiswa dari berbagai negara. “Terdapat lima aspek utama dinilai dalam proses akreditasi FIBAA, mulai dari kelembagaan, sistem informasi, kurikulum, sumber daya manusia, hingga penjaminan mutu. Kurikulum kami memadukan linguistik, pedagogik, teknologi pembelajaran, serta pendekatan internasional seperti BIPA dan interkultural studies,” ujarnya. Terkait sumber daya manusia, prodi memiliki 22 dosen aktif dengan latar belakang pendidikan dalam dan luar negeri. Arif menekankan bahwa seluruh dosen diwajibkan memiliki portofolio akademik terbuka serta aktif dalam jejaring internasional. Karena menurutnya dosen tidak cukup hanya mengajar. Sekarang dosen harus berperan sebagai duta ilmu dan budaya di level global. “Sistem penjaminan mutu UMM menjadi salah satu nilai tambah penting dalam proses akreditasi ini. FIBAA sangat mengapresiasi penerapan Audit Mutu Internal (AMI) yang sudah kami jalankan sejak tahun 2010. Mereka ingin tahu bagaimana kami menjamin kualitas dalam jangka panjang. AMI menjadi bukti kesiapan kami dalam menjaga mutu Pendidikan,” ujarnya. Ia menceritakan bahwa proses menuju akreditasi telah berlangsung hampir dua tahun. Prodi memulainya dengan mengikuti pelatihan FIBAA pada tahun 2023, kemudian menyusun dokumen akreditasi, hingga akhirnya menjalani visitasi pada Januari 2025. Ia menjelaskan bahwa visitasi dilakukan secara luring dan daring selama tiga hari. Ia juga menambahkan bahwa tim asesor menilai seluruh dokumen serta berdialog langsung dengan dosen, mahasiswa, dan alumni. “Saya berharap akreditasi ini menjadi awal dari langkah yang lebih besar. Saya ingin pengabdian dan pendidikan kita melintasi batas negara. Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadikan Bahasa Indonesia sebagai kekuatan diplomasi budaya. Kami berkomitmen untuk terus tumbuh sebagai garda depan internasionalisasi bahasa Indonesia,” pungkasnya. (vin/wil)
Psikologi UMM Buka Jalan Mahasiswa Belajar ke Taiwan, Turki, dan Malaysia

Di tengah ketatnya persaingan global, memiliki pengalaman internasional menjadi nilai tambah yang signifikan bagi lulusan perguruan tinggi. Menjawab tantangan tersebut, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menawarkan program yang tidak hanya membuka wawasan, tetapi juga menjamin setiap mahasiswanya untuk merasakan atmosfer pendidikan di luar negeri. Berbeda dengan program sejenis di kampus lain di mana mahasiswa terkadang harus berkompetisi secara mandiri untuk bisa berangkat, program di Psikologi UMM justru memberikan kepastian bahwa semua dapat berangkat keluar negeri. Mulai dari Turki, Malaysia, hingga Taiwan. Melalui International Psychology Program (IP2), fakultas secara proaktif membantu mahasiswa menemukan kampus mitra yang tepat untuk mereka menempuh studi minimal selama satu semester di luar negeri. “Kalau di UMM program IP2-nya, International Psychology Program itu, teman-teman pasti akan berangkat ke luar negeri,” tegas Sakinah Nur Rokhmah, S.Psi., M.Sc., selaku Sekretaris Prodi Psikologi UMM. Sakinah melanjutkan, program yang dijalankan sejak tahun 2020 ini dirancang untuk memfasilitasi mahasiswa yang memiliki minat belajar di tingkat global, sejalan dengan rekognisi internasional yang telah dimiliki oleh fakultas seperti sertifikasi AUN-QA dan FIBAA. Untuk bergabung dengan program ini, calon mahasiswa harus melalui proses seleksi yang lebih ketat, mencakup psikotes dan wawancara dalam bahasa Inggris, selain seleksi umum universitas. Meski begitu, motivasi belajar yang kuat dan kesiapan finansial juga menjadi pertimbangan utama, karena SPP dan fasilitas yang didapatkan berbeda dari kelas reguler. Mahasiswa yang diterima akan masuk ke dalam kelas eksklusif dengan jumlah maksimal sekitar 20 orang. Seluruh proses pembelajaran, mulai dari materi, diskusi, hingga tugas, disajikan sepenuhnya dalam bahasa Inggris. Ini bertujuan untuk melatih dan mempersiapkan kemampuan berbahasa mereka sebelum berangkat ke universitas mitra. IP2 menawarkan dua jalur utama yang bisa dipilih mahasiswa sejak awal pendaftaran: credit transfer dan double degree. Program credit transfer memungkinkan mahasiswa untuk belajar selama satu semester di kampus mitra, biasanya pada semester lima, dan tetap mendapatkan satu gelar, yaitu Sarjana Psikologi (S.Psi). “Sementara itu, program double degree memberikan kesempatan mahasiswa untuk berkuliah selama dua tahun di luar negeri dan akan memperoleh dua gelar sekaligus, yaitu S.Psi dari UMM dan Bachelor of Psychology dari universitas mitra. Program gelar ganda ini pun telah terdaftar secara resmi di DIKTI,” katanya. Jaringan mitra kerja sama yang luas menjadi salah satu keunggulan program ini. Untuk program credit transfer, UMM telah menjalin kemitraan dengan hampir 10 universitas di Malaysia, tiga di Turki, serta beberapa di Taiwan. Sementara untuk program double degree, mitra utamanya saat ini adalah Asia University. Kerja sama ini tidak terbatas pada mobilitas mahasiswa, tetapi juga mencakup kolaborasi riset dengan berbagai universitas ternama dan penyusunan kurikulum bersama untuk program gelar ganda. Selain dua program utama tersebut, mahasiswa IP2 juga dibekali dengan berbagai kesempatan pengembangan diri lainnya yang biayanya sudah termasuk dalam SPP. Di antaranya adalah short course selama dua hingga tiga minggu di kampus mitra saat liburan, magang internasional (international internship) di berbagai instansi seperti KJRI Johor dan Penang, hingga kesempatan melaksanakan KKN Internasional. Mahasiswa hanya perlu menanggung biaya tambahan untuk akomodasi, dan visa. Dukungan fakultas tidak berhenti pada penyediaan program. Sebelum keberangkatan, mahasiswa mendapatkan pendampingan intensif yang tidak hanya mencakup kesiapan akademik, tetapi juga psikologis dan sosial. Fakultas bahkan membekali mereka dengan materi khusus seperti fiqih minoritas untuk membantu adaptasi sebagai seorang muslim di negara lain. Proses pengurusan visa pun turut didampingi untuk meminimalisir risiko. “Selama berada di luar negeri, fakultas tetap melakukan pemantauan melalui sesi evaluasi untuk mengetahui perkembangan dan kendala yang dihadapi mahasiswa,” tambah Sakinah. Lulusan dari program ini terbukti memiliki daya saing yang tinggi. Banyak di antara mereka yang berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi S2 di kampus tempat mereka melakukan credit transfer atau direkrut langsung oleh perusahaan internasional. Pengalaman belajar dengan mahasiswa dari berbagai negara, termasuk Eropa, memberikan mereka jaringan internasional yang luas dan pemahaman budaya yang mendalam. (bil/wil)
UMM Siapkan Belasan Skema Beasiswa

Beragam beasiswa selama studi tersedia di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bahkan jumlahnya ada belasan yang bisa diraih dan didapatkan oleh mahasiswa. Ini menjadi cara Kampus Putih UMM untuk mendorong anak-anak muda agar bisa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. “Jadi selain menyediakan beasiswa studi, ada beasiswa lain selama studi yang bisa dicapai oleh mahasiswa. Termasuk beasiswa hasil kerjasama UMM dengan pihak lain hingga beasiswa yang disediakan institusi lain untuk berkuliah di sini,” kata Kepala perekrutan mahasiswa baru (PMB) UMM Moh. Wahyu Kurniawan, M.Pd. Salah satu beasiswa tersebut adalah program Barista dari BRIN yakni bantuan pembiayaan dan riset bagi mahasiswa aktif tingkat akhir berbasis kerjasama riset. Adapula beasiswa Djarum bagi mahasiswa yang berprestasi yang sedang menempuh pendidikan sarjana dan diploma. Selain itu juga beasiswa lain yang menyasar ribuan mahasiswa aktif jenjang pendidikan sarjana dan vokasi. Beasiswa lain yang bisa diperoleh mahasiswa selama studi yakni beasiswa Bakti BCA, beasiswa BSI, beasiswa BPI, hingga LPDP. Sederet lainnya adalah beasiswa BAZANAZ yang diberikan oleh badan amil zakat nasional, beasiswa pemerintah daerah, Charoen Pokpand Foundation Indonesia, hingga beasiswa alumni UMM. Adapula beasiswa-beasiswa lain yang bisa diusahakan oleh mahasiswa ketika sudah menjadi mahasiswa nanti. Berbagai beasiswa ini menjadi salah satu bukti komitmen UMM untuk mendukung segala potensi dan kerja keras mahasiswa untuk bisa melanjutkan studi. “Semoga semakin banyak anak muda yang bisa melanjutkan pendidikannya, termasuk pada jenjang sarjana. Meraih ilmu, mendapat pengalaman, kemudian memberikan pengabdian bagi masyarakat. Tidak hanya ketika akan masuk kuliah saja, tapi bisa juga mendapat beasiswa di masa studinya,” kata Wahyu. Hal ini semakin membuka pintu pendidikan bagi para mahasiswa. Termasuk mereka yang tergolong dalam ekonomi tidak mampu. Ada banyak beasiswa yang bisa diusahakan dan diupayakan demi masa depan yang lebih baik. (wil)