Keren, Mahasiswa UMM Kembangkan Alat Pembuat briket Berbahan Limbah Kayu

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menciptakan inovasi baru demi menyukseskan Indonesia Emas 2045. Salah satunya datang dari mahasiswa Teknik Industri di Industrial Engineering Expo yang sukses merancang alat pembuat briket otomatis bernama “Automatic Briket Maker”. Menariknya, alat ini dapat mengolah limbah kayu menjadi sumber energi alternatif. Adapun industrial Engineering Expo, de brilian ini bermula dari pengalaman mereka saat melakukan praktikum terintegrasi di sebuah pabrik mebel yang ternyata menghasilkan banyak limbah kayu yang tidak terpakai. Salah satu tim Lucky Argo Bramantyas mengatakan, pada awalnya mereka kebingungan ingin merancang alat apa. Hingga akhirnya mereka menemukan masalah banuyaknya limbah kayu di pabrik mebel. Dari situ, tim ini akhirnya mencoba menciptakan alat pembuat briket. Ia menjelaskan, fungsi utama alat ini adalah untuk mencetak dan menekan adonan briket dari bahan baku limbah kayu. Menariknya, mereka melakukan pengembangan prototipe lebih lanjut dengan menambahkan fitur pemotong otomatis yang bekerja sesuai gerakan dinamo serta pengendalian mesin melalui software Blynk berbasis IoT. Hal ini tentu saja, memberikan kelebihan pada produk mereka dibandingkan dengan yang ada di pasaran. Selain itu, tingkat efisiensi penggunaan dayanya juga cukup baik, yakni hanya memerlukan daya 110V-220V. Dengan tambahan pemotong otomatis, setiap briket yang dihasilkan memiliki ukuran yang konsisten, yaitu 5 cm. Namun, seperti halnya proses inovasi lainnya, tantangan juga hadir dalam pengembangan alat ini. “Tantangan terbesar adalah memastikan codingan kami dapat terhubung dan terbaca oleh kode mikrokontroler ESP 32 yang juga terhubung dengan software Blynk. Selain itu, ada juga uji coba yang sering gagal, namun berkat kerja sama tim kami dapat mengatasinya,” ungkapnya. Terakhir, Lucky dan tim berharap, alat Automatic Briket Maker bisa dikembangkan lebih lanjut. Misalnya dnegan menambahkan pembuat adonan otomatis, pemotong horizontal, dan sensor berat yang akan menghentikan mesin jika bahan baku habis. “Kami ingin briket yang kami buat bisa menjadi alternatif sumber energi yang ramah lingkungan dan membantu mengurangi ketergantungan pada energi berbasis batubara di Indonesia,” tutupnya. (vin/wil)
Gandeng PCIM Thailand, Dosen FH UMM Berikan Pelatihan Mediator

Ada berbagai hal yang dibutuhkan untuk menjadi mediator andal, terutama dalam beberapa kasus. Hal itu mendorong dosen hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Tinuk Dwi Cahyani, SH., M.Hum., Ph.D. dan sederet mahasiswa Fakultas Hukum untuk melakukan penyuluhan hukum mediator. Menariknya, agenda yang dilaksanakan sejak Desember hingga pertengahan Januari itu dilaksanakan di negara Gajah Thailand. Adapun agenda yang menggandeng Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Thailand itu dilaksanakan secara liuring dan daring melalui zoom. Tinuk menjelaskan bahwa penyuluhan tersebut berupaya untuk memfasilitasi penyelesaian permasalahan hukum yang dihadapi oleh Warga Negara Indonesia dan kader yang berada di Thailand. Apalagi melihat bahwa PCIM Thailand belum memiliki keahlian khusus dalam penyelesaian atau mediasi di luar pengadilan. “Dalam konteks ini, mediasi digunakan untuk mendamaikan kesenjangan daya tawar antara pihak-pihak yang berkonflik untuk mencapai kesepakatan. Dengan begitu, permasalahan hukum yang dialami dapat berakhir dengan baik untuk semua pihak,” ungkap Tinuk. Lebih lanjut, Tinuk menambahkan bahwa peran mediator adalah untuk menemukan solusi dan penyelesaian atas permasalahan yang diutarakan oleh pihak-pihak yang berkonflik. Maka, dalam penyuluhan itu, ia dan tim memberikan materi pendekatan konseling yang meliputi persiapan, penjelasan peran dan fungsi mediator, pembagian tugas, dan sesi tanya jawab. Seluruh peserta program ini mengamati simulasi mediasi yang dilakukan masing-masing kelompok. Masing-masing kelompok berperan sebagai mediator dan memfasilitasi komunikasi antara kedua belah pihak untuk menyelesaikan perselisihan. “Konsep ‘berada di tengah’ mengharuskan mediator menjaga netralitas dan imparsialitas, tidak memihak salah satu pihak yang berkonflik. Melalui layanan hukum ini, peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang konsep-konsep yang dibahas dalam mediasi, termasuk peran mediator, strategi negosiasi, dan teknik manajemen konflik yang konstruktif,” tegasnya menambahkan. Terakhir, ia berharap pengabdian ini bisa memberikan wawasan baru dan keahlian baru untuk masyarakat. Khususnya WNI yang tengah berada di Thailand dan menghadapi masalah hukum. Mediasi bisa menjadi salah satu cara baik yang bisa dilakukan dalam mencapai kesepakatan dan perdamaian. (*/wil)
Dosen UMM tentang Pemagaran 30,16 Km di Laut Tangerang: Ancaman Ekosistem dan Digaan Reklamasi

Pemagaran sepanjang 30,16 kilometer di kawasan laut Tangerang menjadi sorotan publik. Klaim bahwa pagar bambu tersebut berfungsi untuk mencegah abrasi dan tsunami memicu berbagai pertanyaan, terutama mengenai motivasi sebenarnya di balik proyek tersebut. Ahli Pengelolaan Kawasan Pesisir dan Lautan, Dr. David Hermawan, M.P., IPM., memaparkan analisis kritis yang mengungkap fakta-fakta mengkhawatirkan terkait kasus ini. “Pagar sepanjang 30,16 kilometer ini menelan biaya hingga Rp4-5 miliar. Angka sebesar itu jelas tidak berasal dari gotong royong masyarakat biasa. Ada pihak besar yang membiayai proyek ini. Alasan pencegahan abrasi menggunakan pagar bambu tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Metode yang lazim digunakan adalah breakwater atau bronjong batu, bukan pagar bambu,” ungkap David yang juga dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Temuan di lapangan mengungkap indikasi yang lebih besar. Berdasarkan data, terdapat 263 bidang tanah yang telah bersertifikat di kawasan tersebut. Mayoritas dimiliki oleh perusahaan-perusahan besar menguasai 20 bidang, bahkan hingga 234 bidang. Sisanya dimiliki oleh perseorangan. Fakta ini menunjukkan bahwa proyek pemagaran ini bukan sekadar untuk konservasi lingkungan, melainkan bagian dari rencana reklamasi besar untuk pembangunan kota baru seluas 30.000 hektar. “Nilai ekonominya untuk penguasaan lahan bisa mencapai Rp30 triliun. Namun, kalau nantinya setelah reklamasi, nilai proyek ini diperkirakan mencapai Rp300 kuadriliun. Dengan asumsi luas reklamasi 30.000 hektar atau 30 juta meter persegi, dan nilai tanah minimal Rp10 juta per meter persegi, keuntungan yang diperoleh bisa mencapai Rp300 triliun,” ungkapnya. Dampaknya terhadap lingkungan laut dinilai sangat besar. Pola arus laut akan berubah, ekosistem terumbu karang dan padang lamun yang menjadi habitat ikan juga akan rusak. Ini bukan hanya persoalan ekonomi, tapi juga keberlanjutan ekologi yang harus dipikirkan. Lebih dalam, ia mengungkap sejumlah potensi pelanggaran prosedur. Reklamasi laut seharusnya memiliki izin resmi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang jelas, serta penyesuaian tata ruang dan zonasi. Sayangnya, proyek ini disinyalir berjalan tanpa izin resmi. “Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil jelas mengatur bahwa pengelolaan wilayah pesisir harus berlandaskan prinsip keberlanjutan, melindungi ekosistem, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa merusak lingkungan. Proyek ini melanggar prinsip-prinsip tersebut. Kawasan ruang laut tidak boleh disertifikatkan, baik berupa SHGU maupun SHM,” tegasnya. Ia juga menyoroti keterlibatan sejumlah pengembang besar seperti Pantai Indah Kapuk (PIK 2), yang diduga memonopoli lahan laut. Hal ini tidak hanya menimbulkan persoalan hukum, tetapi juga mengancam keadilan akses sumber daya bagi masyarakat kecil yang bergantung pada laut sebagai sumber penghidupan. “Proyek ini sebaiknya dipertimbangkan ulang atau bahkan dihentikan karena dampaknya akan merusak ekosistem dan tatanan sosial masyarakat pesisir. Pemerintah harus bergerak cepat menegakkan aturan dan memastikan semua prosedur dijalankan dengan benar. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, saya berharap pemerintah dapat mengambil langkah tegas untuk menyelesaikan kasus ini. Peraturan ada untuk ditegakkan. Jika bukan sekarang, kapan lagi? Jika bukan kita, siapa lagi?” pungkasnya. (vin/wil)
Dela, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia UMM yang Jadi Duta Literasi Jatim

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mengukir prestasi. Salah satunya L. Dela Fimeta mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang berhasil meraih gelar Putri Literasi Jawa Timur 2024 dalam ajang bergengsi ‘Pemilihan Duta Baca Jawa Timur 2024’. Ia sukses mengharumkam nama kampus pada ajang yang dilaksanakan pada akhir Desember lalu. Dela, sapaannya, menjelaskan bahwa ajang inj bertujuan untuk meningkatkan minat baca dan menumbuhkan budaya literasi di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Timur. Ada puluhan peserta yang bersaing untuk bisa meraih predikat itu. “Saya dan peserta lain bersaing kemampuan dalam aspek literasi, public speaking, dan inovasi program literasi untuk masyarakat,” tegasnya. Adapum Dela berhasil memukau para juri dengan gagasan-gagasan kritisnya terkait strategi meningkatkan minat baca di era digital, serta kemampuannya yang luar biasa dalam menyampaikan pesan-pesan inspiratif. Ia turut serta dalam ajang ini agar bisa melatih keterampilan public speaking, memperluas wawasan literasi melalui berbagai sumber bacaan, serta menginspirasi masyarakat luas untuk semangat membaca. “Membaca adalah jendela dunia. Saya ingin menginspirasi lebih banyak orang untuk menjadikan membaca sebagai kebiasaan harian, khususnya di kalangan generasi muda,” ujar Dela penuh semangat. Sebagai pemenang, Dela akan menjalankan peran penting sebagai Putri Literasi Jawa Timur 2024. Tugas utamanya adalah mengampanyekan budaya literasi di seluruh penjuru Jawa Timur melalui berbagai program edukasi. Di antaranya workshop literasi, kampanye membaca, dan kegiatan sosial lainnya. Dengan latar belakangnya sebagai mahasiswa PBI FKIP UMM, Dela optimis dapat mengaplikasikan ilmu yang didapatkan di bangku kuliah untuk memajukan literasi masyarakat. Ajang ‘Pemilihan Duta Baca Jawa Timur 2024’ tidak hanya menjadi platform kompetisi, tetapi juga wadah untuk berdiskusi dan berbagi ide mengenai pentingnya literasi. Kegiatan literasi merupakan salah satu bentuk untuk memajukan bangsa dan menjadi pengingat bahwa kemajuan suatu bangsa sangat bergantung pada tingkat literasi masyarakatnya. Prestasi L. Dela Fimeta ini tidak hanya membanggakan dirinya secara pribadi, tetapi juga UMM yang selalu mendukung mahasiswa dalam meraih prestasi di berbagai bidang. Keberhasilan Dela diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi masyarakat. (*/wil)
Puluhan Prototipe Teknik Industri UMM Dipamerkan di Industrial Engineering Expo

Inovasi selalu datang dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Begitupun para mahasiswa Teknik Industri yang mengadakan pameran hasil perancangan dan pengembangan produk prototipe. Tahun ini, pameran Industrial Engineering Expo ini berfokus pada bahan bangunan, paving dan batako. Sebanyak 38 kelompok mahasiswa Teknik Industri sukses memamerkan hasil karya produk pada 16 Januari lalu. Ada prototipe menarik yang ditampilkan. Mulai dari alat sortir biji kopi, smart inventory, automatic bricket maker, solar box dryer, dan lain-lain. Yoga Adiwinata Prayitno selaku ketua pelaksana mengatakan, pameran ini merupakan hasil dari mata kuliah praktikum Perancangan Sistem Terpadu (PST). Tujuan lainnya yakni berupaya memberikan solusi untuk menyelesaikan permasalahan di sistem kerja manual pada dunia industri. “Saat ini di dunia industri, masih banyak sistem kerja yang masih manual. Sehingga menyebabkan waktu produksi sangat lama atau tidak efisien. Di pameran ini, kami hadir untuk menganalisis dan merancang produk yang bisa membantu permasalahan itu. Misalnya, mungkin saja pabrik yang awalnya hanya bisa membuat 1000 batako atau paving perharinya, nanti bisa menjadi 3000 paving perhari,” ungkap Yoga. Salah satu prototipe yang menarik adalah mesin pengayak pasir. Alat ini mencoba mengatasi masalah panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk mengayak. Alat ini juga tidak membutuhkan banyak orang untuk menggunakannya, cukup satu orang saja. Ini meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam proses indusrti bangunan. “Hal menarik lainnya adalah bahan-bahan yang digunakan untuk membentuk prototipe. Bahan yang digunakan merupakan bahan-bahan daur ulang seperti halnya plastik, kardus, maupun botol bekas. Pemilihan bahan tersebut tentunya dibarengi pertimbangan agar produk yang dipamerkan lebih sesuai dengan desain yang telah dirancang. Ada juga beberapa kelompok mahasiswa yang menggunakan teknologi AI sebagai pengembangan produk prototypenya,” jelasnya. Adapun para mahasiswa dituntut untuk bisa menciptakan prototipe dalam waktu yang relatif singkat yakni satu bulan. Menariknya, beberapa kelompok bahkan bisa menyelesaikan rancangannya dalam waktu seminggu saja. Sebagai penutup, Yoga berharap pelaksanaan industrial engineering expo ini semakin menarik. “Menarik dari segi produknya, agar nantinya dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Jadi tidak hanya dipamerkan saja tetapi juga dapat diterapkan ke masyarakat, karena ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang juga disebarkan ke masyarakat luas,” pungkasnya mengakhiri. (zaf/wil)
Dosen UMM Sekaligus Koordinator MDMC Soroti Kebakaran di LA

Kebakaran besar yang terjadi di Los Angeles, Amerika Serikat, menjadi perhatian dunia karena dampaknya yang luas. Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sekaligus Koordinator Bidang Pelatihan Penanggulangan Bencana MDMC PP Muhammadiyah, Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si., memberikan pendapatnya atas kejadian tersebut. Menurutnya, kejadian itu dapat memberikan pelajaran penting dan relevan bagi Indonesia. Kondisi wilayah tersebut memiliki suhu tinggi, kondisi kering, dan angin kencang yang memperburuk risiko kebakaran. “Los Angeles memiliki kondisi lingkungan yang mendukung penyebaran kebakaran seperti suhu tinggi, kelembapan rendah, dan angin kencang. Situasi ini serupa dengan apa yang sering kita hadapi di Kalimantan atau Sumatera saat musim kemarau. Kebakaran lahan dan hutan di Indonesia juga sering kali dipicu oleh faktor manusia, termasuk aktivitas yang ceroboh atau kelalaian. Sebagai contoh, kasus kebakaran di Gunung Bromo beberapa tahun lalu terjadi akibat api unggun yang dinyalakan di area terlarang.” Jelasnya. Menurut Zakarija, mitigasi adalah langkah utama yang harus diprioritaskan dalam penanggulangan bencana kebakaran. Ia menekankan pentingnya mengenali potensi bahaya sejak dini. Di lingkungan rumah tangga misalnya, risiko seperti kabel listrik yang terkelupas, penggunaan colokan yang tidak sesuai kapasitas, atau keberadaan bahan kimia mudah terbakar sering kali diabaikan. Selain pencegahan, kesadaran akan langkah tanggap darurat juga menjadi hal krusial. Zakarija mengingatkan masyarakat untuk tidak panik saat menghadapi kebakaran. Mengikuti instruksi penyelamatan dan utamakan keselamatan diri. Di samping itu juga harus memahami jalur evakuasi dan menjauh dari area berisiko tinggi, seperti tempat dengan vegetasi kering atau bahan mudah terbakar. “Dalam hal penanganan korban kebakaran, perlu pendekatan holistik, mencakup aspek fisik dan psikologis. Luka bakar tidak hanya menimbulkan bekas di tubuh, tetapi juga sering menyisakan trauma mendalam. Kita harus mendukung mereka dengan tidak memunculkan kembali memori buruk atau memperparah kondisi psikologis korban melalui komentar yang tidak sensitif,” tambahnya. Terkait peran MDMC Muhammadiyah, Zakarija menjelaskan bahwa edukasi masyarakat menjadi prioritas. Pelatihan dan simulasi kebakaran di berbagai daerah telah dilakukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Ia juga mendorong rumah tangga untuk memiliki alat pemadam kebakaran sederhana dan memahami cara menggunakannya. “Langkah kecil seperti ini dapat membawa dampak besar dalam mengurangi risiko kebakaran, saya berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya mitigasi sebagai langkah utama menghadapi bencana. Bencana mungkin tidak bisa kita cegah sepenuhnya, tetapi risiko dan dampaknya bisa kita minimalisir dengan langkah yang tepat,” pungkasnya. (vin/will)
Viral Putusan Kasus Agus, Dosen Hukum UMM Sebut Penjara Harus Banyak Dibenahi

Kasus ‘Agus buntung’ berakhir menuju dakwaan hukuman penjara atas tindak pidana yang dilakukannya. Banyak pihak yang menilai kasus pidana ini tak biasa karena kurangnya aksesibilitas penjara bagi narapidana penyandang disabilitas. Melihat kegelisahan tersebut, Dosen Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kukuh Dwi Kurniawan, SH., S.Sy., MH. menyebut bahwa aksesibilitas penjara bagi narapidana disabilitas perlu dibenahi. Adapun beberapa bangunan penjara di Indonesia merupakan peninggalan sejak penjajahan Belanda. Tempat ini menjadi tempat bagi pelaku tindak kejahatan untuk melakukan penginsafan dan rehabilitasi secara hati dan perbuatannya. Sayangnya, tidak ada penambahan fasilitas dan pelaku kejahatan terus bertambah. Ia menyebut bahwa rumah tahanan di Bagansiapiapi berada pada level overcapacity, bahkan mencapai 800% dari kapasistas seharusnya. Menurutnya, tingkat optimalisasi rehabilitasi narapidana jauh dari maksimal, terlebih lagi bagi para narapidana disabilitas. “Narapidana dituntut berebut napas di dalam lapas. Bayangkan saja, dalam satu sel dengan kapasitas 17 orang, dihuni oleh 60 orang dalam pengawasan satu orang sipir. Dengan kondisi ini, saya rasa negara perlu cepat memberikan solusi konkret dan melakukan banyak pembenahan,” ungkapnya. Kukuh juga mengungkapkan bahwa negara harus menyediakan fitur mobilitas yang dapat digunakan narapidana penyandang disabilitas semasa di penjara. Maka, Lapas dapat bekerjasama dengan balai-balai kerja yang dapat menfasilitasi narapidana memperoleh keterampilan mandiri. Setelah keluar dari penjara, tidak menutup kemungkinan mantan napi untuk mendapatkan hukuman sosial di masyarakat. Untuk itu, rehabilitasi sekaligus pembekalan keterampilan mandiri sangat penting diterapkan oleh Lapas. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa segala perbuatan seseorang akan dimintai pertanggungjawaban sebagaimana asas hukum ‘Equality before the law’ yakni semua manusia setara atau sama di mata hukum dan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya. Asas ini mencakup hal-hal seperti kapasitas diri (fisik) seseorang. Meski begitu, bukan berarti disabilitas fisik bisa menjadi salah satu alasan pemaaf, baik di Indonesia maupun hukum global. “Jadi, pelaku pidana disabilitas tetap dikenai hukuman dan mendapat sanksi yang setara. Maksudnya adalah tidak ada perlakuan khusus dalam hukum pidana terhadap tersangka atau terdakwa penyandang disabilitas, kecuali terdapat alasan pemaaf dan ketika seseorang dalam kondisi darurat,” sambungnya. Pada dasarnya, beberapa Hak Asasi Manusia dirampas oleh negara dengan tujuan memberikan peradilan atas kejahatan yang dilakukan. Di samping itu, Ia berharap kasus ini tidak terulang di masa depan. Mewujudkan negara yang maju perlu adanya komitmen dan kerjasama dari seluruh elemen, baik pemerintah maupun masyarakat. (din/will)
Kadin Jatim-FEB UMM Kaji Kebijakan Cukai Hasil Tembakau

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur bersama dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merampungkan kajian rekomendasi kebijakan kenaikan cukai hasil tembakau (CHT) untuk optimalisasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Hasil kajian tersebut menekankan pentingnya penentuan kebijakan CHT dengan mempertimbangkan keseimbangan berbagai aspek. Adapun kajian itu dilaksanakan pada awal Januari 2025 ini. Sederet pertimbangan mendasari hasil kajian itu. Termasuk kontribusi industri hasil tembakau (IHT) terhadap perekonomian nasional dan daerah, tenaga kerja, rokok ilegal, maupun kesehatan masyarakat. Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut, diharapkan tercapai kebijakan yang berimbang dan berdampak positif bagi pembangunan daerah melalui alokasi DBHCHT. Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto menyampaikan bahwa IHT adalah salah satu industri penting dengan kontribusi yang signifikan. Tidak hanya di tingkat nasional, melainkan juga di daerah-daerah seperti Jawa Timur. “Pembangunan di Jawa Timur tidak dapat dilepaskan dari IHT. Kontribusinya mencapai 33% dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Di sisi lain, Jawa Timur juga merupakan kontributor utama penerimaan CHT secara nasional dengan kontribusi hingga 60%,” katanya. Adik menambahkan, Jawa Timur adalah salah satu sentra produk tembakau di Indonesia. Di samping kontribusinya terhadap penerimaan cukai nasional, pelaku industri di Jawa Timur menyerap 40% tenaga kerja langsung dari sektor IHT skala nasional. Dengan keterkaitan erat ini, ia memberikan apresiasi secara khusus kepada pemerintah, utamanya Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan yang menetapkan tidak ada kenaikan tarif CHT untuk tahun 2025. “Kami yakin, kebijakan ini akan mendorong optimalisasi DBHCHT yang dapat mendukung pembangunan Jawa Timur. Namun, mengingat saat ini IHT tengah mengalami berbagai tekanan, kami berpandangan bahwa kebijakan ke depannya memerlukan kajian mendalam untuk memastikan keberlangsungan industri,” ujarnya. Sementara itu, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM Prof. Dr. Idah Zuhroh, M.M. turut menegaskan pentingnya DBHCHT bagi Jawa Timur. Menurutnya, Jawa Timur secara konsisten selalu menjadi provinsi dengan alokasi DBHCHT terbesar secara nasional. “Akan tetapi, DBHCHT yang diterima Jawa Timur pada tahun 2024 ini mengalami penurunan drastis hingga mencapai sekitar 10%. Kami meyakini hal ini terjadi seiring dengan turunnya penerimaan CHT secara nasional pada tahun 2023 akibat kenaikan tarif yang tinggi secara berturut-turut,” kata Idah. Berdasarkan kesimpulan ini, ia berpandangan bahwa optimalisasi DBHCHT dapat dilakukan dengan kebijakan kenaikan tarif CHT yang tepat dan berimbang untuk memicu pertumbuhan penerimaan CHT secara nasional serta alokasi DBHCHT ke daerah. Idah melihat tidak adanya kenaikan tarif CHT untuk tahun 2025 sebagai langkah yang tepat untuk jangka pendek. Kebijakan kenaikan tarif di tahun 2026 dan dalam masa mendatang juga perlu melalui kajian yang berimbang untuk menjaga momentum pemulihan dan pertumbuhan penerimaan CHT dan DBHCT. “Sedangkan untuk jangka panjang tentu dibutuhkan kajian yang lebih mendalam. Universitas Muhammadiyah Malang sebagai institusi akademik siap memberikan dukungan, baik kepada Pemerintah maupun kepada Kadin Jawa Timur agar tercapai kebijakan yang berimbang bagi IHT ke depannya,” sambung Idah. (*/wil)
Apa Untungnya Indonesia Masuk ke BRICS? Begini Kata Dosen HI UMM

Baru-baru ini Indonesia resmi bergabung pada organisasi global BRICS. Tentunya hal itu mendapat banyak respons positif dan dukungan dari masyarakat Indonesia. Salah satunya Ruli Inayah Ramadhoan, M.Si. selaku dosen Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia menyampaikan, sebenarnya bukan hanya Indonesia saja yang memiliki kepentingan untuk bergabung dalam BRICS, sebaliknya BRICS juga punya kepentingan terhadap Indonesia. “Masuknya Indonesia ke dalam BRICS menjadi hal yang ditunggu-tunggu oleh negara anggota BRICS. Menurutnya, selain potensi pasar yang besar, Indonesia merupakan salah satu pemimpin di negara ASEAN. Sehingga diharapkan kedepannya Indonesia juga mampu mempengaruhi perilaku negara-negara Asia Tenggara lainnya untuk ikut serta bergabung dalam BRICS,” jelasnya. Disinggung mengenai apa yang melatar belakangi Indonesia untuk bergabung dalam BRICS, Ruli melihat kepentingan nasional di bidang ekonomi dan politik menjadi latar belakang bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS. Indonesia harus mampu menjadi negara besar seperti China ataupun India yang mampu merebut pasar global dengan UMKM yang dimilikinya. BRICS bisa menjadi alternatif utama untuk meningkatkan posisi tawar Indonesia ditengah perilaku standar ganda Barat. Misalnya seperti berhentinya distribusi CPO Indonesia ke Uni Eropa, lalu pembatasan kuota ekspor dan ancaman naiknya hambatan tarif dan non tarif oleh Amerika Serikat dibawah Donald Trump. Indonesia bisa menjual CPO maupun diversifikasi produk CPO kedepan kepada negara-negara BRICS. Jika dikalkulasikan secara rasional, bergabung ke dalam BRICS membawa banyak keuntungan di bidang politik dan ekonomi. Akses pasar global bagi produk-produk lokal sudah terbuka lebar, sehingga apabila UMKM Indonesia masih belum siap, maka percuma. Tugas besarnya adalah bagaimana UMKM-UMKM harus bisa digenjot agar mampu menghasilkan produk-produk yang mampu bersaing di pasaran internasional. Selain itu, keanggotaan dalam BRICS akan berdampak pada meningkatnya peluang investasi. “Optimisme pemerintahan Presiden Prabowo untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen bisa terealisasikan karena tingginya peluang untuk menarik investasi langsung dari negara-negara BRICS,” imbuhnya. Di sisi lain, Ruli mengungkap, walaupun masuknya Indonesia ke dalam BRICS merupakan peluang yang besar namun melahirkan tantangan diplomatik yang tetap tidak mudah. Tantangan yang dihadapi oleh Indonesia kedepannya adalah bagaimana cara Indonesia untuk tetap menjaga keseimbangan hubungan dengan negara great power, terutama Amerika Serikat dan sekutu Eropa. Selain itu, masuknya Indonesa dalam BRICS pasti akan semakin mendekatkan hubungan dengan Tiongkok dan Rusia. Ini bukan hal yang menyenangkan bagi Amerika Serikat, apalagi isu dedolarisasi oleh negara-negara BRICS mengancam legitimasi global akan kekuatan ekonomi Amerika Serikat. “Jangan sampai Ex Unipolar tersebut merasa ‘ditinggalkan’. Indonesia harus mampu menjaga keseimbangan dan membangun kohesivitas dengan great power khususnya Tiongkok dan Amerika Serikat. Oleh karena itu, agenda Indonesia berikutnya untuk bergabung bersama deretan negara-negara maju dalam OECD menjadi sangat penting sebagai strategi untuk menyeimbangkan hubungan Indonesia dengan barat dan BRICS, sekaligus menegaskan konsistensi Politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif,” tegasnya. Adapun keuntungan lain yang bisa diperoleh Indonesia menurut Ruli yaitu sebagai forum dialog komprehensif dengan negara-negara anggota BRICS untuk meningkatkan komunikasi dan pemahaman bersama dalam mengatasi tantangan global maupun regional. Pun untuk meminimalisir potensi konflik karena perbedaan kepentingan antara negara anggota. Momentum ini juga menonjolkan kesempatan bagi Indonesia untuk ikut memainkan peran aktif dalam menentukan arah kerjasama maupun arah kebijakan ekonomi yang saling menguntungkan. “Tidak kalah penting, mudah-mudahan dengan bergabungnya Indonesia ini dapat ikut menekan potensi ancaman keamanan akibat perselisihan antara negara. Misalnya seperti Tiongkok dengan India. Di samping itu juga untuk menciptakan hubungan yang saling menguntungkan yang berkontribusi pada terwujudnya stabilitas dan perdamaian dunia,” pungkasnya. (zaf/wil)
PGSD UMM Ungkap Rahasia Pembelajaran dengan Hipnosis

Pembelajaran menggunakan teknik hypnoteaching belum banyak dilakukan di Indonesia. Hal itu mendorong program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk membahasnya dalam kuloah tamu tematik. Dilaksanakan pada 6 Januari 2025, kuliah tamu tersebut mengkaji mengenai ‘Hypnoteaching untuk Calon Guru PGSD: Kunci Sukses Dalam Menciptakan Pembelajaran Bermakna. Turut hadir sebagai pemateri Owner-CEO PT Internasional Better Learning Upgrader, Umar Khadafi, M.Pd. yang memberikan wawasan baru. Menurutnya, hypnoteaching sangat penting bagi seorang guru. Apalagi melihat bahwa banyak mahasiswa yang menggunakan materi skripsi seputar hypnoteaching. Ia menjelaskan, hypnoteaching merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menggunakan prinsip-prinsip hypnosis atau metodelogi hipnosis. Tujuan utama hypnoteaching adalah untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendukung. Adapun hipnosis adalah suatu keadaan kesadaran yang berubah, ditandai dengan fokus perhatian yang meningkat dan sugestibilitas yang tinggi. Peristiwa ini biasanya terjadi ketika seseorang sedang menonton drama korea, main game, menonton iklan, dan lain-lain. Umar menegaskan bahwa hipnosis adalah ilmiah, tanpa menggunakan jin, mantra dan unsur klenik. Namun memanfaatkan alfa dan theta state. Hipnosis adalah kondisi sehari-hari dan tidak bisa digunakan pada tindak kriminalitas. Hipnosis hanya bekerja pada klien yang bersedia dan setuju dihypnosis dan tidak memaksakan kehendak. “Peristiwa hypnosis dapat terjadi ketika manusia dalam tingkat kesadaran Alpha dan Theta. Sementara jika manusia berada di tingkatan Beta dan Delta, ia tidak bisa dihipnosis,” katanya. Cara ini dinilai efektif untuk meningkatkan kemampuan siswa. Ada tujuh kiat yang disampaikan para para peserta. Pertama yakni first impressiom yang penting untuk mendobrak pikiran bawah sadar siswa. Kedua, building rapport yaknj membangun kedekatan bersama siswa. Ketiga attention focusing statement yang mendorong siswa untuk lebih fokus serta mengembalikan topik materi pelajaran yang mungkin lepas kendali karena satu dan lain hal. “Sisanya yakni positive statement yakni menyampaikan kalimat positif, jangkar emosi, time alocation, dan self image reprogramming yakni seorang guru harus selalu memberikan afirmasi untuk meningkatkan motivasi kepada siswa,” lanjutnya. Pada kesempatan itu, Umar juga mencontohkan metode ini langsung di hadapan para peserta. Mengajak mahasiswa PGSD untuk berkonsentrasi dan diminta berdiri dan mengikuti aba-aba agar melakukan gerakan sesuai dengan instruksi. (*/wil)