Dosen UMM Gagas Pemilu Langsung Hakim MK, Sabet Juara Nasional

Kabar membanggakan kembali datang dari sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adalah Sholahuddin Al Fatih, S.H., M.H. yang sukses meraih artikel terbaik dalam ajang 1st Sharia Writing Competition 2024 di Palangkaraya pada awal Mei ini. Hal itu tak lepas dari ide menariknya terkait pemilihan umum untuk memilih haki mahkamah konstitusi (MK) di Indonesia. “Alhamdulillah, tentu saya senang dengan penghargaan ini. Capaian ini sekaligus bukti bahwa tidak hanya mahasiswa dan tendik UMM saja yang berprestasi, tapi juga para dosennya yang juga harus ikut berprestasi. Kan guru itu digugu lan ditiru, semoga menjadi inspirasi bagi seluruh sivitas akademika yang ada,” ujar Fatih Adapun Fatih menulis tentang pemilihan Hakim MK secara langsung oleh rakyat karena melihat model pemilihan hakim MK sekarang kurang akuntabel dan transparan. Model sembilan hakim yang dianut Indonesia meniru kroean representatives. Masing-masing lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif memilih tiga hakim. Hal itu juga membuka kemungkinan akan adanya peluang conflict of interest. “Kan kemarin ada mantan legislator yang jadi Hakim MK. Ada pula Hakim MK yang tersandung kasus, mulai etik hingga pidana. Nah kita mau coba gagas pemilu secara langsung. Memang minusnya adalah berbiaya tinggi, tapi bisa menjadi legitimasi rakyat bahwa memang Hakim MK yang terpilih itu bernar-benar dipilih dan didukung oleh rakyat,” tambahnya. Pemilu langsung Hakim MK tersebut modelnya seperti pemilihan umum, dengan melibatkan rakyat sebagai pemilik suara. Hal itu esuai dengan slogan demokrasi, ‘dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat’. Selanjutnya, Fatih berharap agar ide tersebut bisa menjadi topik diskusi dan kembali diteliti oleh akademisi yang lain, sehingga bisa menjadi masukan untuk perbaikan kelembagaan MK kedepan. Lebih lanjut, dosen fakultas hukum itu menjelaskan bahwa cara ini memang tidak menjamin akna mendapatkan sumber daya manusia terbaik. Namun hal ini membuat pemilihan hakim MK lebih transparan dan akuntabel sehingga masyarakat bisa tahu dan tidak berprasangka buruk. “Sebenarnya, pemilihan langsung hakim MK ini sudah dipakai di beberapa negara bagian di Amerika dan tidak dipilih dari lembaga lain. Jadi lebih transparan dan tidak menimbulkan banyak prasangka,” katanya. Fatih juga menjelaskan bahwa selain berbiaya mahal, model ini juga memungkinkan munculnya sengketa. Apalagi memang pemilu identik dengan sengketa. Meski begitu, sudah ada lembaga yang memiliki tugas memeriksa dan memantau kinerja hakim, yakni komisi yudisial (KY). Di samping itu, ide ini juga dirasa belum bisa dijalankan karena tidak adanya aturan yang mengatur. Bisa juga melalui peraturan pemerintah,preaturan presiden, atau bahkan juga peraturan MK. “Memang belum ada atruan yang mengakomodir model ini. Tapi undang-undang MK bisa diamandemen dan diatur lebih lanjut. Sebenarnya ada potensi dalam pasal bahwa ‘pemilihan MK diatur secara demokratis, akuntabel dan transparan’. Sayangnya, pemahaman kita selama ini hakim MK hanya dipilih oleh lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif. Padahal frasa itu juga bisa dipahami dengan menggunakan model pemilihan umum,” katanya mengakhiri. (*wil)
Alquran dan Sastra Arab Mirip? Begini Kata Dosen UMM

Sastra Arab memang memiliki sejarah yang kaya dan melibatkan berbagai genre dan penulis terkenal. Mereka menyajikan keindahan bahasa melalui gaya puisi yang unik, perumpamaan yang indah, dan metafora yang menawan. Sastra Arab digunakan sebagai sarana ekspresi kreatif dan hiburan. Sementara itu, bahasa arab Al-Qur’an juga dikenal karena keindahannya yang luar biasa. Mulai dari struktur kalimat yang mempesona, hingga makna-makna mendalam. Bahasa Alquran mengandung pesan-pesan agama dan pedoman untuk kehidupan Muslim. Meski terlihat serupa, Murdiono, S.S., M.Pd.I. selaku dosen Prodi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyampaikan, sastra Arab dan bahasa dalam Alquran berbeda. Menurutnya, karya sastra baik dalam bentuk prosa maupun puisi, memiliki struktur bervariasi dengan kebebasan kreatif bagi penulis. “Utamanya untuk mengekspresikan pemikiran dan perasaan menggunakan gaya bahasa seperti majas, metafora dan simile,” katanya. Sementara Alquran, dengan struktur ayat yang unik dan gaya bahasa yang sederhana namun penuh makna, berfungsi sebagai pedoman hidup yang mengandung hukum, etika, sejarah, serta ajaran spiritual dan moral. Bahasa dalam Alquran, menunjukkan kekreatifan dalam penyampaian pesan dengan penekanan pada kejelasan dan ketegasan sebagai wahyu langsung dari Allah yang tidak berubah dalam teksnya. Alquran memiliki pengaruh yang besar terhadap sastra Arab. Bahasa yang digunakan dalam Alquran menjadi sumber inspirasi bagi penulis sastra Arab. Banyak karya sastra Arab yang terinspirasi oleh ayat-ayat Alquran, baik dalam penggunaan bahasa maupun tema yang diangkat. “Meskipun ada perbedaan antara sastra Arab dan bahasa Alquran, terdapat juga kesamaan di antara keduanya, yakni sama-sama memiliki keindahan bahasa yang luar biasa dan mampu memukau pembaca atau pendengar. Baik sastra Arab maupun bahasa Alquran memiliki daya tarik dan kekuatan yang unik,” tambahnya. Murdiono melanjutkan, penggunaan kata-kata indah dan khas dalam sastra Arab klasik menggambarkan keindahan alam dan emosi manusia, sementara metafora, majas, dan perumpamaan digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan moral dan emosional dalam syair yang indah dengan struktur kalimat yang rumit dan puitis. “Di sisi lain, Alquran menggunakan kosakata umum dan istilah khusus yang unik, dengan gaya bahasa yang sederhana namun jelas, serta struktur kalimat yang langsung dan tegas, memudahkan pemahaman pesan-pesan ilahi,” ucapnya. Walaupun memiliki keindahan masing masing, terdapat elemen keindahan sastra yang unik dalam Alquran yang tidak ditemukan dalam karya sastra Arab. Alquran menggunakan teknik retorika seperti repetisi, perumpamaan, penekanan, dan kontras untuk menyoroti pesan-pesan penting secara efektif, dengan struktur yang teratur dan harmonis. “Meskipun memiliki bagian-bagian yang berbeda, Alquran tetap konsisten dalam penyampaian pesan-pesannya, seringkali mengandung makna mendalam dan banyak lapisan yang memungkinkan interpretasi yang beragam dalam berbagai konteks. Daya tarik spiritualnya kuat, mampu menyentuh hati dan jiwa pembacanya, memberikan inspirasi, ketenangan, dan motivasi. Relevansinya tidak hanya pada zamannya, tetapi juga dalam konteks zaman modern, menjadikannya sumber inspirasi bagi berbagai situasi kehidupan manusia,” tutupnya. (lai/wil)
Jubir Prabowo Beri Edukasi Politik di UMM

Edukasi politik tidak hanya penting bagi kelas menengah ke bawah, tapi juga harus diberikan pada kalangan menengah keatas dan yang berpendidikan. Hal itu ditegaskan oleh Jubir Menteri Pertahanan RI Dr. Dahnil Anzar Simanjutak, M.E. dalam diskusi Harmoni Membangun Negeri di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 13 Mei ini. Acara yang dilaksanakan Pusat Studi Islam dan Filsafat UMM dan bertajuk ‘Refleksi Kedewasaan Berdemokrasi Pasca Pemilu 2024’ itu dihadiri pemateri andal serta ratusan anak muda. Lebih lanjut, Dahnil menjelaskan bahwa kebanyakan masyarakat yang ekonominya lemah biasanya berlalu dan melanjutkan hidup mereka setelah pemilu usai. Sementara, sebagian kelas menengah ke atas akan ‘tantrum politik’ dan benci dengan lawan politik terpilih. “Kalau ingin demokrasi kita bisa sehat, salah satu syaratnya adalah tingkat pendidikan masyarakat yang baik. Sementara, rata-rata lama sekolah masyarakat kita hanya ada di kisaran 7,2 tahun atau bisa dibilang tidak lulus SMP. Maka pendidikan politik itu penting dan harus meluas ke seluruh kelompok,” katanya. Dahnil juga membahas mengenai bagaimana pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan berpolitik. Menurutnya, Mbah Dahlan selalu bersikap kooperatif. Beberapa peneliti juga menyebut sikap ini sebagai rival politic atau di era sekarang disebut dengan mitra kritis. “Kalau menurut saya, politik Mbah Dahlan ini adalah politik yang alokatif, tidak misuh ke Belanda secara terbuka tapi terus meningkatkan akselerasi sosial dan dahwah melalui Muhammadiyah,” katanya. Terkait pemilu, ia mengatakan bahwa demokrasi Indonesia masih cukup berantakan. Intelektualitas yang baik dan rekam jejak tidak akan berpengaruh besar jika tidak ada dana atau uang. Saat ini, politik dikuasai oleh mereka yang memiliki darah politik atau oleh mereka yang memiliki uang yang banyak. Meski begitu, ia juga memberikan cara untuk menghadapinya yakni dengan politik taawun atau politik gotong royong. Sementara itu, Direktur Eksekutif DEEP Indonesia Neni Nurhayati M.Ikom. menjelaskan tentang peran anak muda dan harapan demokrasi Indonesia di masa depan. Menurut data, indeks demokrasi Indonesia masih pada taraf demokrasi yang cacat. Neni juga mengatakan bahwa 57% anak muda di bawah 40 tahun yang masuk di DPR terindikasi memiliki hubungan dengan politik dinasti, kekerabatan, dan oligarki. “Melihat situasi seperti ini, maka akan susah untuk bisa bergerak bebas dan fair dalam persaingan menuju parlemen. Indikasi ini juga menutup ruang anak-anak muda untuk bisa masuk sistem. Mungkin ada beberapa yang punya modal sosial, tapi sayangnya tidak memiliki modal kapital. Ini tentu mempersulit anak-anak muda untuk berkecimpung,” katanya. Reformasi politik yang digaungkan oleh partai politik juga sukar untuk dilakukan. Melihat beberapa partai politik yang tidak melakukan reformasi partai dengan menjadi ketua partai bertahun-tahun. Bagaimana bisa memberikan kesempatan dan peluang anak muda juga partainya saja enggan untuk melakukan reformasi. Maka salah satu peran anak muda yang bisa dilakukan dalam menghadapi hal ini adalah dengan merebut narasi publik yang masih kosong. Termasuk narasi-narasi yang ada di media sosial. “Perubahan besar tidak akan terjadi jika tidak dimulai dengan perubahan-perubahan kecil. Kita harus saling bahu membahu dan berkolaborasi,” tegasnya. Hal menarik juga disampaikan Cendekiawan Muhammadiyah Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag. Ia menyoroti pentingnya sosial kapital dalam memperkuat harmoni demokrasi pasca pemilu. Menurutnya, masyarakat Indonesia memiliki kekuatan sosial yang dapat digunakan untuk mengatasi tantangan sosial. Dalam konteks politik, ia menekankan bahwa pemilihan calon kandidat seharusnya didasarkan pada nurani individu, bukan sekadar aliran atau janji manis semata. “Sementara itu, peran anak muda menjadi kunci dalam menggalang perubahan menuju demokrasi yang lebih baik. Untuk itu, mereka perlu memiliki modal sosial yang kuat, termasuk saling percaya dan bekerja sama untuk membangun harmoni dalam kehidupan berdemokrasi,” ujarnya. Keterlibatan anak muda dalam struktur politik juga menjadi esensial dengan memberikan perhatian dan empati kepada pemimpin. Terlebih, hal ini juga berfokus pada reformasi sistem pendidikan. Dengan demikian, keterlibatan anak muda memberikan perubahan yang signifikan dalam menciptakan transformasi positif bagi masa depan demokrasi Indonesia. Di sisi lain, Wakil Rektor V UMM Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si. menyambut baik diskusi tersebut. Menurutnya, tema yang dibawa menarik dan berada pada momen yang tepat karena Indonesia baru saja melaksanakan pesta demokrasi. Ia juga mengutip pernyataan beberapa politikus tentang keadaan demokrasi Indonesia. “Ada politikus yang bilang bahwa politik Indonesia itu unpredictable. Ada juga yang bilang bahwa demokrasi di Indonesia masih berada di tataran perut dan belum dewasa. Apakah benar demikian? Mungkin nanti akan ada penjelasan menarik dari para pemateri. Semoga kita juga termasuk masyarakat yang dewasa dalam berdemokrasi,” pungkasnya. (wil)
Dosen UMM: Judi Online Bisa Terjerat Pidana Berat

Judi adalah permainan dengan memakai uang atau barang berharga sebagai taruhan. Praktik judi, termasuk judi togel, bukanlah hal asing di Indonesia. Di Indonesia, praktik perjudian dilarang. Namun, faktanya masih banyak masyarakat yang berjudi. Penting untuk diketahui bahwa terdapat sanksi pidana yang mengintai bandar judi dan para pemainnya. Tinuk Dwi Cahyani, S.H., S.HI., M.Hum. Ph.D. selaku dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengatakan bahwa penyelesaian kasus judi ini tergantung dari jenisnya. Misalnya judi togel yang mudah dideteksi, penyelesaian dapat dengan proses non litigasi. “Bisa melalui restorative justice atau melalui mediasi dan seterusnya,” kata Tinuk. Jenis judi yang lain seperti online dan lainnya yang lebih canggih atau nilainya lebih besar, maka bisa menggunakan sistem peradilan pidana. Artinya menggunakan proses litigasi, agar memberikan efek yang jera. Namun yang harus diperhatikan adalah memberantas sampai ke akar-akarnya. “Ini harus diperhatikan. Tidak dapat disamakan, judi kelas kecil yang ada di desa-desa dengan judi kelas kakap,” tambah Tinuk. Bagi pelaku judi online, lanjut Tinuk, dapat dikenakan UU ITE pasal 27 (ayat 2). Hukuman untuk mereka yang melanggar adalah dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Kalau untuk bandar, gabungan antar UU ITE pasal 27 ayat (2) dengan UU ITE pasal 45 ayat (2). “Kalau dalam KUHP kita, bisa dilihat pada pasal 303 ayat (1) dimana para pelaku judi ini dapat diancam pidana penjara minimal 10 tahun atau pidana denda paling banyak Rp25 juta. Kemudian, ketentuan Pasal 303 bis ayat (1) KUHP mengatur ancaman hukuman pidana penjara maksimal 4 tahun atau denda paling maksimal Rp10 juta,” jelasnya. Indonesia adalah surganya judi online karena tidak ada pajak, sehingga negara tidak memiliki keuntungan apa-apa. Jika di bandingkan dengan Malaysia, judi online memiliki tempat khusus. Kemudian, dananya tersebut nantinya akan dialirkan terpisah dengan perolehan pemasukan-pemasukan harta yang bersih. “Jangan sampai Indonesia dijadikan tempat untuk berjudi, tapi yang menikmati hasilnya malah negara-negara lain,” ucapnya. Menurut Tinuk, untuk mencegah beredarnya judi, peran pemerintah sangatlah penting. Perlu ada tindakan tegas, termasuk kementerian dan semua yang terkait. Jangan sampai orang yang memiliki pengaruh, seperti aparat penegak hukum turut andil bermain judi. “Diharapkan pelaksanaannya bisa tegas sesuai dengan aturan hukum yang berlaku,” pungkas Tinuk. (dev/wil)
Dosen UMM: Gen Z Sering Gunakan Bahasa Inggris, Bahasa Daerah Terancam Punah

Di era digital yang semakin berkembang, Generasi Z Indonesia lahir sebagai ujung tombak inovasi linguistik. Generasi ini semakin terhubung dengan Bahasa Inggris yang mudah dipelajari melalui media sosial. Bahkan, istilah-istilah seperti Laugh Out Loud (LOL) dan For Your Information (FYI) yang dulunya khas dalam Bahasa Inggris, kini telah diadopsi dalam percakapan sehari-hari. Menurut Masyhud, M.Pd. selaku dosen Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), ada pergeseran preferensi dalam penggunaan Bahasa Inggris saat ini dengan masa lampau. “Contohnya, dulu Bahasa Inggris masih tekstual (baku) dan dipelajari melalui buku-buku pembelajaran. Namun, sekarang apapun yang ada di media sosial, itulah yang diserap,” jelasnya. Selain itu, ia beranggapan bahwa perubahan ini tidak hanya mencakup penggunaan kata-kata, tetapi juga pada pola komunikasi secara keseluruhan. Terlebih, generasi Z kini lebih memilih Bahasa Inggris untuk mengekspresikan dirinya, baik lisan maupun tulisan. “Kecanggihan teknologi juga mengakibatkan tidak adanya batasan dalam berkomunikasi baik dalam negeri maupun luar negeri. Selain itu, Gen Z juga lebih sering menuliskan sesuatu melalui media sosial,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa masifnya penggunaan Bahasa Inggris ini memberikan dampak positif bagi Gen Z. Contohnya saja, kian maraknya pekerjaan baru menjadi copywriting, content writer dan sebagainya. Sehingga, penggunaan Bahasa Inggris tidak hanya terpaku pada komunikasi verbal, tetapi juga secara tertulis. Saat Gen Z semakin nyaman menggunakan bahasa Inggris, muncul konsekuensi terhadap keberadaan bahasa lokal. Masyhud menyampaikan bahwa bisa saja bahasa yang semula dianggap asing ini menjadi bahasa kedua. “Peningkatan penggunaan Bahasa Inggris dapat mengancam keberlangsungan bahasa daerah, karena pemahaman dan penggunaannya menurun di kalangan generasi muda. Cepat atau lambat akan mempengaruhi punahnya bahasa lokal,” tegasnya. Meskipun demikian, penggunaan Bahasa Inggris oleh Gen Z terkadang juga dapat dilihat sebagai upaya untuk terlihat ‘keren’ di media sosial. Dalam konteks ini, juga sebagai simbol identitas digital yang lebih modern dan modis. Namun, ada kemungkinan bahwa kecanggungan masih dirasakan ketika menggunakan Bahasa Inggris di lingkungan masyarakat yang lebih tradisional. Masyhud pun menegaskan bahwa adaptasi terhadap bahasa Inggris adalah sebuah keharusan di dunia yang semakin terkoneksi. “Gen Z harus siap untuk berkomunikasi dalam Bahasa Inggris, karena tantangan global tidak mengenal batas. Dengan demikian, pergeseran dalam penggunaan bahasa menjadi cerminan dari perubahan yang lebih besar dalam cara Gen Z berinteraksi dan beradaptasi dengan dunia yang semakin terhubung melalui media sosial,” pungkasnya.(lai/wil)
Angkat Isu Pendidikan Anak, Mahasiswa UMM Menangi Lomba Essay Nasional

Mengangkat isu kesejahteraan pendidikan anak, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) jadi juara satu lomba esai tingkat nasional mengalahkan kampus ternama lainnya. Adalah Qurrota A’yun, mahasiswi semester enam Fakultas Hukum yang berhasil menyabet juara pertama pada perlombaan esai tingkat nasional yang diadakan oleh Perpustakaan Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, 23 April 2024 lalu. Nuya, sapaan akrabnya, memang merupakan mahasiswi yang menyukai bidang kepenulisan. Ia membuat karya esai dengan mengangkat isu Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) yang masih belum memiliki fasilitas perpustakaan. “Kalau saya fokusnya di daerah Blitar. Karena sepengetahuan saya, di LPKA sana masih belum terdapat fasilitas perpustakaan yang mumpuni,” tambahnya. Apalagi mengingat pendidikan merupakan hal vital bagi seluruh anak, tak terkecuali bagi anak yang sedang di bina di LPKA. Anak usia dini cenderung memiliki mentalitas yang belum stabil, sehingga jika tidak ada fasilitas pendidikan seperti perpustakaan, dikhawatirkan ketika sudah keluar dari LPKA akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Sebagai informasi, LPKA merupakan lembaga pembinaan bagi anak-anak yang sedang menjalani masa pidana. Hal ini juga diatur dalam UU Nomor 11 Tahun 2021 tentang Sistem Peradilan Anak. Tak hanya dibina, anak-anak yang menjalani masa pidana di LPKA wajib mendapatkan pendidikan yang layak seperti anak pada umumnya. Di balik itu, keahliannya dalam menulis sudah ia pupuk sejak kecil. Sejak SMP ia mulai aktif membuat cerita pendek dan mengikuti beberapa lomba kepenulisan. Saat SMA, ia juga aktif mengikuti lomba karya tulis ilmiah dan esai. Walaupun belum mendapat juara, namun keahliannya dalam menulis tak terhenti begitu saja. Bahkan ia sudah menggarap jurnal yang akan segera ia submit. “Memang, target saya itu lulus dengan jalur terbit jurnal dan tanpa skripsi. Maka dari itu, sejak semester tiga saya sudah mulai menulis jurnal kolaborasi bersama dosen,” ujarnya. Salah satu jurnal yang ia tulis mengenai hak masyarakat terhadap partisipasi politik yang saat ini masih di tahap editing. Pun jurnal yang mengangkat isu implementasi blue economy pada peraturan kelautan yang juga masih dalam tahap review. Tak hanya aktif di bidang akademik, Nuya juga aktif dalam beberapa organisasi seperti organisasi Badan Eksekutif mahasiswa (BEM) UMM sebagai staf kemendikbud dan UKM Atletik sebagai staf dokumentasi. Terakhir, ia sangat berterima kasih kepada orang tua dan pihak UMM yang telah memberikan dukungan penuh. Ia menceritakan, bahwa banyak sekali bantuan yang UMM berikan seperti bantuan akomodasi dan bimbingan dosen. Ke depannya, ia juga ingin tetap aktif untuk mengikuti perlombaan dan menulis jurnal. Karena ia memiliki cita-cita menjadi tim riset analisis dampak lingkungan dan dosen. “Untuk itu, pesan saya buat anak-anak muda agar aktif pada apa yang kamu sukai. Bisa saja, apa yang kamu sukai menjadi hal yang membawamu ke kesuksesan,” tegasnya mengakhiri. (tri/wil)
Baitul Arqam PCA UMM, Membumi Lewat Peran Wanita Aisyiyah

Untuk memupuk jiwa kepemimpinan dan menjadi bukti nyata pengabdian masyarakat, Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Baitul Arqam yang ditujukan bagi kepengurusan baru 2023-2027. Kegiatan tersebut dilaksanakan dua hari, dimulai sejak 9 Mei lalu. Masiyah Kholmi, MM. Ak. CA selaku Ketua PCA UMM mengatakan, tujuan Baitul Arqom Pimpinan Cabang Aisyiyah UMM adalah untuk mewujudkan dan meningkatkan kualitas pimpinan yang memiliki integritas, komitmen, militasi, ghirah, memiliki daya juang yang tinggi, serta wawasan dan profesionalitas. Kemudian juga, diharapkan peserta Baitul Arqom memiliki pemahaman yang benar terhadap ideologi gerakan Muhammadiyah dan Aisyiyah. “Ibarat tanaman, harus memiliki akar dan tunas yang kuat dan tidak mudah goyah. PCA UMM diharapkan mampu sebagai penggerak organisasi Aisyiyah dan menjadi perempuan berkemajuan mencerahkan peradaban bangsa dan memberikan kontribusi. Termasuk untuk mengisi Indonesia Emas 2045,” ucap dosen akutansi itu. Di sisi lain, Prof. Dr. Vina Salviana Darvina Soedarwo, M.Si selaku Ketua Pelaksana baitul arqam sekaligus menjelaskan ada beberapa kegiatan yang dilakukan selama dua hari. Mulai dari penguatan Anggaran dasar (AD) Anggaran Rumah Tangga (ART) serta visi misi Aisyiyah di tingkat akar rumput. Baru kemudian, di hari kedua melaksanakan sederet agenda seperti salat dhuha berjamaah, kajian pagi, serta outbond untuk mempererat tali silaturahmi antar pengurus. Sebagai rencana implementasi kontribusi dalam mengisi Indonesia emas, PCA UMM akan melakukan berbagai upaya seperti pengabdian masyarakat dan sinergi memajukan perguruan tinggi. Program tersebut akan disinergikan dalam perguruan tinggi serta dilakukan pada jenjang taman kanak-kanak atau sekolah dasar demi mewujudkan visi Aisyiyah yaitu sebagai penggerak wanita menuju masyarakat utama yang bahagia, sejahtera dan berkeadilan berdasarkan ajaran islam. Untuk itu, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si. selaku Wakil Rektor V UMM turut bangga atas terselenggaranya baitul arqam bagi pengurus PCA UMM baru. Agenda ini dapat dijadikan ladang untuk saling memperkuat tali silaturahmi dan mengenal satu sama lain. Pun dapat menjadi implementasi nyata ke depannya untuk terjun ke masyarakat. “Baitul Arqam ini menjadi awal perjalanan PCA UMM ini untuk mengabdikan dirinya bagi masyarakat melalui kerja nyatanya,” pungkasnya. (tri/wil)
Deklarasi Dukung Palestina di UMM: Melihat Konflik dari Berbagai Perspektif

Sebagai bentuk dukungan penuh untuk Palestina, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar deklarasi dan diskusi konflik Palestina dan Israel. Dalam agenda yang dilaksanakan pada 7 Mei 2024 itu, ratusan sivitas akademika hadir dan memberikan dukungan berupa donasi, pemikiran, dan semangat agar Palestina dapat segera bebas dan menghentikan konflik yang berkepenjangan. Acara ini juga dilaksanakan serentak oleh 172 perguruan Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Indonesia dalam waktu yang sama. Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan bahwa diskusi dan deklarasi ini mencoba memberikan berbagai perspektif akan tragedi kemanusiaan di Palestina. Dukungan akan lebih bagus lagi jika memahami konsep dan hal yang sedang terjadi. Apalagi Indonesia memang tidak mengamini kekerasan antar manusia. Adapun Kampus Putih UMM juga telah mengambil berbagai sikap tegas dukungan untuk Palestina, misalnya dari segi finansial hingga kemanusiaan. “Pada agenda ini, sudah ada Pak Boy dan Pak Haryo yang akan memberikan penjelasan dan pencerahan. Bagaimana kita seharusnya bersikap dan melihat konflik Palestina-Israel dari berbagai perspektif. Sehingga bisa mendapatkan gambaran secara eksplisit tentang hal ini,” katanya. Diskusi menarik juga tersedia dalam acara itu. Turut hadir Pradana Boy ZTF, Ph.D. yang memberikan penjelasan menarik. Menurutnya, meski Indonesia memiliki banyak ideologi keagamaan, namun konflik yang terjadi di Palestina benar-benar bisa menyatukan mereka. Sayangnya, dukungan besar ini tidak dibarengi dengan pemahaman konflik yang cukup. Berbagai upaya juga sudah dilakukan oleh masyarakat, termasuk dari sederet ormas yang ada. “Misalnya saja Muhammadiyah yang sudah bantuan finansial ke Palestina sebesar 45 miliar rupiah yang terkumpul melalui Lazismu. Memberikan pendidikan dan pelatihan bagi para pengungsi Palestina, hingga memperkuat dan pemberdayaan ekonomi. Selain itu, adapula Nahdatul Ulama (NU) yang turut berkontribusi mendukung kebebasan Palestina. Misalnya saja dengan tujuh statement tentang posisi NU, bantuan dana, dan dukugan narasi di media sosial untuk mendukung Palestina,” tambahnya. Di samping itu, Boy juga menjelaskan beberapa tantangan dalam dukungan pada Palestina. Beberapa di antaranya pemahaman yang cukup akan konsep dukungan dan konflik, kurangnya persatuan sikap politik dari neara-negara muslim, hingga penyediaan dukungan substansial yang fokus pada solusi atas inti masalahnya. Sementara itu, Haryo Prasodjo selaku pakar pemikiran politik Islam mengatakan bahwa konflik Palestina-Israel harus diliat dari berbagai perspektif, bukan hanya dari aspek agama saja. Namun juga pada sisi politik, militer, ekonomi dan lainnya. “Apalagi ada juga aktor-aktor internasional yang berkecimpung. Siapa yang memasok rudal atau iron dome? Siapa yang diuntungkan dari konflik di tanah Palestina ini? Hal ini tentu sangat kompleks,” katanya. Ia mengatakan, perlu meilihat juga dari struktur hubungan internasional. Palestina dan Israel tidak berdiri sendiri, pasti ada negara yang mendukung mereka. Misalnya Indonesia yang selalu siap mendukung Palestina. Begitupun dengan aspek hukum dan konsensus internasional “Permasalahannya adalah kita berada pada satu sistem bersama, yakni persyarikatan bangsa-bangsa (PBB). Di dalamnya, pemegang hak veto kebanyakan adalah negara yang mendukung dan pro Israel. Ini menjadi tantangan yang cukup menantang,” katanya. Haryo juga memberikan sederet kunci keberhasilan agar Pelastina mendapatkan haknya. Dimulai dengan penguatan struktur internal pemerintahan Palestina. Kemudian juga memotong dukungan pendanaan dan politik, misalnya dengan memboikot produk pendukung Israel. Begitupun dengan dukungan solid dan konkret dari negara-negara musli serta posisi Indonesia untuk memberikan bantuan kemanusiaan di sana. (wil)
Kasus Mental Health Meningkat, Dosen UMM Jelaskan Penyebab dan Solusinya

Jumlah pengidap masalah kesehatan mental di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan setiap tahunnya. Bahkan pada tahun 2024, diperkirakan jumlah penderita masalah kesehatan mental di Indonesia akan mencapai 3,24 juta orang. Peningkatan jumlah pengidap penyakit mental ini memasuki berbagai kalangan usia, tidak hanya remaja. Meningkatnya populasi yang mengalami gangguan mental disebabkan oleh berbagai faktor. Nandy Agustin Syakarofath, S.Psi., M.A selaku dosen Fakultas Psikologi (Fapsi) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjelaskan, faktor-faktor tersebut dapat berupa perubahan lingkungan. Perubahan lingkungan ini mencakup perubahan sosial, ekonomi dan perkembangan teknologi. “Perubahan gaya hidup, materialisme dan industrialisasi yang terkait teknologi terkadang memunculkan tekanan sosial dan isolasi sosial sehingga memicu stres deperesi hingga bunuh diri,” jelasnya. Faktor selanjutnya karena adanya tekanan hidup yang meningkat dari waktu ke waktu seperti persaingan di dalam pendidikan, pekerjaan dan kehidupan sosial. Berbagai hal tersebut dapat memunculkan respon psikologis yang negatif. Seseorang yang kerap berada pada situasi yang memiliki tekanan hidup tinggi, termasuk tekanan akademik, ekonomi dan sosial. Ini sangat berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan mental seperti depresi dan kecemasan. “Juga pada individu yang mengalami situasi krisis seperti pandemi, perang, bencana alam. Ini karena menderita dalam situasi yang lama, dapat memunculkan kecemasan, stres dan berbagai isu kesehatan mental lainnya,” tambah Nandy. Ia pun menekankan, peningkatan angka individu yang bermasalah dengan kesehatan dan gangguan mental ini sebetulnya seperti fenomena gunung es. Data yang didapat hanya Sebagian saja dari kenyataan yang ada. “Sebagaimana bentuk gunung es yang hanya menonjolkan beberapa elemen di atas puncak, terdapat beberapa elemen penting lainnya yang tak terlihat sebab berada di bawah puncaknya. Ini disebabkan oleh riset yang semakin marak dilakukan sehingga didapatkan data atau temuan-temuan yang seperti itu,” ucapnya. Terakhir adalah keterjangkauan akses layanan kesehatan mental yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Alasannya mulai dari tingginya biaya pengobatan, pelabelan negatif dan fasilitas perawatan kesehatan mental yang masih minim di beberapa daerah. Dampaknya, individu yang bersangkutan akan terhambat saat ingin mencari perawatan yang mereka butuhkan. Untuk mengatasi hal ini, Nandy menyampaikan pentingnya upaya yang sifatnya mikro dan makro. Pada level mikro, pengidap harus diajari untuk meningkatkan kapasitas didalam mengelola emosi dan keterampilan koping stres. Sehingga ia akan mampu beradaptasi dan menangani stres dalam kehidupan sehari-hari. “Untuk tingkat makro, pemerintah harus lebih memperhatikan lagi akses terhadap layanan kesehatan mental, promosi lingkungan komunitas yang mendukung, pelatihan tenaga kerja masyarakat dan pembentukan kebijakan publik yang mendukung kesehatan mental,” tambahnya. Di akhir Nandy berpesan, semua lini dan stakeholder harus ikut bertanggung jawab terhadap isu kesehatan mental. Secara spesifik utamanya keluarga, sekolah, pemerintah, masyarakat, dan individu. “Kerjasama dari semua pihak tersebut sangat penting untuk membentuk lingkungan yang mendukung terhadap pertumbuhan pribadi dan masalah kesehatan mental yang dihadapi,” pungkasnya. (dev/wil)
Sambut 8 Doktor Baru, FKIP UMM Gelar Konferensi Internasional Pendidikan dan SDGs

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (FKIP UMM) gelar Konferensi Internasional bertajuk the 2nd International Conference on Education, Teacher Training, and Professional Development (ICE-TPD). Dalam seminar yang diadakan secara hybrid pada 2 Mei ini, ratusan peneliti, pendidik profesional, pembuat kebijakan pendidikan, praktisi pendidikan, dan mahasiswa berkumpul untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan inovasi dalam tema “Transforming Education through Continuous Professional Teacher Development to Attain SDG’s”. Untuk membedah tema yang diangkat, FKIP UMM menghadirkan dua pembicara utama yaitu Asoc. Prof. Dr. Saifon Songsiengchai dari Rajamangala of Technology Krungthep University, Thailand dan Audrey Nicole Loyer Carlson dari Graduate Teaching Assistant, Department of Teaching and Learning, Washington State University, Amerika Serikat. Tak hanya itu, delapan doktor baru FKIP juga turut hadir menjadi pembicara undangan. Mengawali paparannya yang berjudul “Literacy Development: Foundations and Beyond”, Audrey Nicole Loyer Carlson menegaskan bahwa literasi adalah keterampilan dasar yang sangat penting dalam pembelajaran sepanjang hayat dan merupakan hak dasar manusia. Literasi dapat digunakan untuk mendukung pemerolehan bahasa kedua untuk mencapai kompetensi biliterasi. “Biliterasi adalah keterampilan untuk membaca dan menulis dalam dua bahasa dengan lancar. Dua pendekatan yang dapat diterapkan dalam hal ini adalah Common Underlying Proficiency Model dan Translanguaging,” jelasnya. Untuk meningkatkan kompetensi ini, penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung. Beberapa hal yang dapat diterapkan yaitu mengimplementasikan membaca nyaring setiap hari dengan mengintegrasikannya dengan pembelajaran, melakukan pemodelan membaca lancar, menciptakan lingkungan kaya teks di sekitar kelas, dan mendorong siswa menggunakan bahasa secara aktif dalam komunikasi. Selanjutnya, Asoc. Prof. Dr. Saifon Songsiengchai memperkenalkan gagasan menarik tentang “SAIFON Guidelines” untuk pengembangan profesi guru prajabatan. Menurutnya, calon guru memerlukan pelatihan dengan metode yang memadai untuk mengembangkan kompetensi pedagoginya dalam rangka menjamin kualitas. “Hal ini tidak hanya penting, tetapi juga mendesak untuk dilakukan karena berdampak pada hasil belajar siswa dan kualitas pendidikan secara keseluruhan,” ungkapnya. SAIFON Guideline mencakup enam tahapan dalam rangka meningkatkan keterampilan mengajar calon guru Bahasa Inggris, yaitu survei kebutuhan guru, mengasosiasikan rencana pembelajaran dengan hasil survei, menginstruksikan strategi pengajaran, memberikan umpan balik pada praktik pembelajaran, mengobservasi praktik pembelajaran, dan menyampaikan masalah beserta solusinya. Yang pertama dan utama dalam penerapan SAIFON Guidelines dalam rangka mencapai SDGs adalah memperhatikan konten SDGs. “Calon guru perlu memahami apa saja konten SDGs dan alasan mengapa guru perlu meningkatkan kesadaran siswa terhadap SDGs. Dengan begitu, guru dapat menerapkan SDGs dalam pembelajaran melalui pembelajaran aktif,” tegasnya. Dekan FKIP UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani, MM. dalam sambutannya mengatakan, konferensi internasional ini bertujuan untuk berbagi pengalaman tentang isu-isu pendidikan mutrakhir, khususnya tantangan, teori, dan praktik terbaik dalam meningkatkan kualitas guru. Hal ini merupakan wujud komitmen FKIP UMM untuk berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pendidikan dan mencetak guru profesional. “FKIP UMM telah berkomitmen untuk terus-menerus membina dan mengembangkan pengetahuan, serta menghasilkan guru profesional masa depan. Dan ICE-TPD ini adalah salah satu bentuk bagaimana FKIP UMM memfasilitasi gagasan seputar pendidikan dan peningkatan kualitas profesionalisme guru dalam konteks regional, nasional, dan internasional,” pungkasnya. Lebih lanjut, Prof. Ahsanul Inam, Ph.D. selaku wakilrRektor I UMM, mengungkapkan, selain menjadi medium silaturahmi akademik, konferensi internasional ini juga merupakan bentuk apresiasi atas prestasi delapan dosen FKIP UMM yang telah berhasil meraih gelar doktor. Kedelapan dosen tersebut yaitu Dr. Nur Widodo, M.Kes (Prodi Pendidikan Biologi), Dr. Agung Deddiliawan Ismail, M. Pd (Prodi Pendidikan Matematika), Dr. Dyah Worowirasti Ekawati, M.Pd (Prodi PGSD), Dr. Husamah, M.Pd (Prodi Pendidikan Biologi), Dr. Erna Yayuk, M.Pd (Prodi PGSD), Dr. Rina Wahyu Setya Ningrum, M.A (Prodi Pendidikan Bahasa Inggris), Dr. Alfiani Athma Putri Rosyadi, M.Pd (Prodi Pendidikan Matematika), dan Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd (Prodi PGSD). Ia berpesan agar para doktor melaksanakan tridarma perguruan tinggi yang berbasis pada pendidikan di era digital. Menurutnya, dalam pendidikan di era digital ini, ada tiga aspek yang harus diperhatikan yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, dan Big Data. Ketiganya hendaknya menjadi basis ketika ingin mengembangkan pembelajaran dan riset sehingga akan menghasilkan karya yang baik,” tandasnya. (wil)