Rektor UMM: Ramadan Momentum Lahirkan Ulul Albab dan Peradaban Unggul

KLIKMU.CO – Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Nazaruddin Malik SE MSi memaknai Ramadan 1447 Hijriah sebagai titik tolak kebangkitan peradaban kaum intelektual. Hal ini ditegaskan dalam ceramah Tarawih perdana di Masjid AR. Fachruddin, Selasa (17/2/2026). Rektor menyerukan agar bulan suci ini tidak hanya menjadi rutinitas ritual semata, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan intelektual untuk melahirkan generasi Ulul Albab yang mampu membawa bangsa menuju kemajuan nyata. Berdasarkan pemahaman itu, Nazar mengajak jamaah merenung secara mendalam mengenai esensi ibadah di malam pertama Ramadan. Ia menekankan bahwa ritual seperti sholat, puasa, dan zakat harus terinternalisasi menjadi pendorong kemajuan sosial (indigenous forces) tanpa pamrih. Ia mencontohkan bagaimana bangsa-bangsa maju mampu berinovasi karena memiliki etos perbaikan yang berkelanjutan, sebuah nilai yang sejatinya sangat ditekankan dalam Islam. “Jika seluruh dimensi ibadah melekat terintegrasi sebagai bagian dari kehidupan keseharian kita, maka selalu akan ada dorongan untuk membuat kemajuan-kemajuan baru, bukan justru melakukan perusakan,” tegas Nazar. Gagasan itu, menurutnya, tidak boleh berhenti pada ranah individu. Dalam konteks pendidikan tinggi, Kampus Putih berkomitmen menjadikan nilai-nilai Ramadan sebagai fondasi utama Center of Excellence. Nazar memandang pendidikan sebagai instrumen strategis untuk mereformasi bangsa dari karakter yang pasif menjadi pribadi yang tangguh dan progresif. Ia pun mendorong mahasiswa dan dosen untuk menjadi Ulul Albab, golongan pemikir yang cerdas secara intelektual sekaligus peka terhadap tanda-tanda kebesaran Allah. Pendidikan harus menjadi ibadah yang melahirkan kebudayaan luhur serta semangat pembaruan tiada henti demi kemaslahatan umat. Lebih lanjut, Nazar menyinggung tantangan sosial seperti ketidaktertiban ruang publik hingga fenomena tragedy of commons. Menurutnya, perilaku koruptif bukan hanya soal materi, tetapi juga ketidakmampuan menahan ego di ranah sosial. Puasa hadir sebagai mekanisme latihan disiplin untuk menahan ego sektoral maupun individual tersebut. “Puasa Ramadan melahirkan kedisiplinan, sekaligus kedisiplinan itu dapat mencegah karakter yang korup, di mana perilaku korup bisa dimaknai luas sebagai ketidakpedulian terhadap hak orang lain di ruang publik,” jelasnya. Dalam kerangka yang lebih luas, Nazar menguraikan makna jihad dalam perspektif modern dan profesional. Jihad tidak lagi dimaknai secara sempit, melainkan sebagai badzlul juhdi atau ikhtiar maksimal dalam bekerja dan berkarya. Seorang muslim yang berpuasa harus memiliki etos kerja superior, solutif, dan penuh inovasi. Hal ini penting agar umat Islam tidak hanya menjadi konsumen peradaban, tetapi juga produsen kebudayaan yang disegani dunia. “Bangsa yang unggul adalah bangsa yang di dalam kesehariannya selalu berpikir untuk melakukan perubahan sedapat mungkin, perubahan yang membawa kebaikan, perubahan yang memberi dampak kemajuan, dan membesarkan hati semua orang,” ujar Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis tersebut. Menutup ceramahnya, Nazar berharap momentum Ramadan dapat mengkristal menjadi gerakan kolektif. Dengan demikian, kampus tidak hanya melahirkan insan yang saleh secara ritual, tetapi juga saleh secara sosial dan intelektual, serta mampu memberikan solusi konkret bagi permasalahan bangsa. “Marilah kita jadikan titik berpikir kita bagaimana mewujudkan the society of Ulul Albab, masyarakat yang dipenuhi keinginan untuk selalu memberikan yang terbaik dan membawa kemajuan bagi lingkungannya,” pungkasnya. (Faqih/AS)

KBP Digital Diluncurkan, Budaya Malangan Siap Go Digital

RRI.CO.ID, Malang – Momentum bersejarah tercipta dalam Festival Kampung Budaya Polowijen (KBP) #9 pada Minggu, 15 Februari 2026, dengan diluncurkannya KBP Digital, sebuah platform digital berbasis dokumentasi budaya Malangan. Peluncuran dilakukan secara resmi oleh Prof. Dr. Ir. Sutawi, MP, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah Malang, sebagai wujud sinergi antara dunia akademik dan komunitas budaya dalam menjaga warisan lokal di era transformasi digital. KBP Digital merupakan karya mahasiswa KKN Tematik UMM Berdampak 2026 Kelompok 14 yang selama masa pengabdian mendokumentasikan, menyusun, dan mengemas kekayaan budaya Kampung Budaya Polowijen dalam bentuk e-book dan arsip digital. Platform ini dapat diakses melalui pemindaian barcode yang terhubung ke aplikasi Linktree, sehingga masyarakat luas dapat menjelajahi konten budaya secara praktis dan terbuka. Peluncuran didampingi oleh Dr. Daroe Wahyutiningsih, Kepala Lembaga Kebudayaan UMM sekaligus Dosen Pendamping Lapangan. Turut hadir dan menyaksikan Rendra Fatrisna Kurniawan, Analis Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, serta I Ketut Widi Eka Wirawan, Camat Blimbing Kota Malang. Momentum tersebut berlangsung dalam suasana khidmat pada sesi Megengan dan Wilujengan KBP #9, yang juga dihadiri berbagai komunitas budaya Kota Malang. Adapun isi KBP Digital meliputi e-book dan dokumentasi Topeng Malang, Batik Malang, Wayang Malang, kerajinan anyaman bambu, gerabah, pawon tradisional, hingga ragam makanan dan minuman tradisional khas Malang. Seluruh konten dirancang sebagai bank data budaya yang sistematis, edukatif, sekaligus promotif. Dalam sambutannya, Prof. Dr. Ir. Sutawi, MP menyampaikan rasa bangga dan haru atas kontribusi mahasiswa dalam pelestarian budaya melalui pendekatan teknologi. “Perubahan budaya itu pasti, modernisasi budaya itu perlu, transformasi budaya itu wajib, dan adaptasi budaya itu keniscayaan. Melalui digitalisasi Kampung Budaya Polowijen ini, kita menjadikan teknologi sebagai strategi pelestarian. Budaya harus didata, didokumentasikan, dan dipublikasikan agar dunia mengetahui betapa kaya dan beragamnya budaya kita, khususnya budaya Malangan,” tegasnya. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan tradisi tidak hanya diwariskan secara lisan, tetapi juga terdokumentasi secara ilmiah dan digital agar dapat diakses lintas generasi. Ki Demang, penggagas Kampung Budaya Polowijen, turut mengapresiasi kerja keras mahasiswa KKN. Ia menjelaskan bahwa KBP Digital bukan lahir secara instan, melainkan melalui proses pembelajaran intensif dalam program Sinau Budaya. Mahasiswa mendapatkan pembekalan mengenai ilmu budaya, pariwisata, komunikasi, administrasi kesekretariatan, pengolahan makanan tradisional, kerajinan anyaman, pengelolaan lahan tanaman, pertukangan, hingga produksi konten budaya untuk media sosiall. “Semua ilmu itu kami bagikan kepada mahasiswa. Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi praktik langsung di lapangan. KBP Digital adalah hasil dari proses laku budaya dan kerja kolektif,” ujarnya. Peluncuran KBP Digital menjadi bagian integral dari rangkaian Festival Kampung Budaya Polowijen #9 yang berlangsung sejak pagi hari. Kegiatan diawali dengan Tandur Karang Kitri berupa penanaman KRPL dan tanaman toga sebagai simbol ketahanan pangan dan kepedulian lingkungan. Selanjutnya digelar Workshop Busana Khas Malang untuk memperkuat identitas budaya daerah melalui praktik membatik, berkebaya, berkain, bersanggul, dan berudeng. Prof. Dr. Ir. Sutawi, MP Kepala LPPM UMM di dampingi Dr. Daroe Iswatingsih, M.Pd Kepala Lembaga Kebudayaan UMM saat Lounching KBP Digital oleh Mahasiswa KKN Tematik UMM 2026 Kelompok 14 (foto:rri/mey) Memasuki siang hingga sore, festival menghadirkan Pentas Seni dan Budaya yang menampilkan tari tradisional, cerita rakyat oleh anak-anak Polowijen, serta tembang dolanan sebagai bentuk regenerasi nilai tradisi. Sore hari menjadi puncak acara melalui prosesi Megengan yang meliputi mocopatan, launching KBP Digital oleh Kepala LPPM UMM, serta wilujengan sebagai ungkapan syukur menyambut bulan suci. Festival kemudian ditutup dengan prosesi Nyadran dan arak-arakan topeng yang merefleksikan penghormatan kepada leluhur serta penguatan nilai spiritual dan kebersamaan warga. Dengan hadirnya KBP Digital, Kampung Budaya Polowijen menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak harus bertentangan dengan modernisasi. Justru melalui digitalisasi, tradisi menemukan ruang baru untuk hidup, berkembang, dan dikenal dunia. Inisiatif ini diharapkan menjadi model pengembangan kampung budaya berbasis dokumentasi, edukasi, dan teknologi yang berkelanjutan di Kota Malang. (Mey)

Rektor UMM Ungkap Ramadan Sebagai Momentum Lahirkan Manusia Ulul Albab dan Peradaban Unggul

Rektor UMM Ungkap Ramadan Sebagai Momentum Lahirkan Manusia Ulul Albab dan Peradaban Unggul MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai kampus inovasi dan mandiri memaknai Ramadan 1447 Hijriah sebagai titik tolak kebangkitan peradaban kaum intelektual. Hal ini ditegaskan Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si., dalam ceramah Tarawih perdana di Masjid AR. Fachruddin, Selasa (17/2/2026). Ia menyerukan agar bulan suci ini tidak hanya menjadi rutinitas ritual semata. Melainkan ruang pembentukan karakter dan intelektual untuk melahirkan generasi Ulul Albab yang mampu membawa bangsa menuju kemajuan yang nyata. Berangkat dari pemahaman tersebut, Nazar mengajak jamaah untuk merenung secara mendalam mengenai esensi ibadah di malam pertama ramadan ini. Ia menekankan bahwa ritual seperti sholat, puasa, dan zakat harus terinternalisasi menjadi pendorong kemajuan sosial (indigenous forces) tanpa pamrih. Ia mencontohkan bagaimana bangsa-bangsa maju mampu berinovasi karena memiliki etos perbaikan yang berkelanjutan, sebuah nilai yang sejatinya sangat ditekankan dalam Islam. “Jika seluruh dimensi ibadah melekat terintegrasi sebagai bagian dari kehidupan keseharian kita, maka selalu akan ada dorongan untuk membuat kemajuan-kemajuan baru, bukan justru melakukan perusakan,” tegas Nazar. Gagasan itu, menurutnya, tidak boleh berhenti pada ranah individu. Dalam konteks pendidikan tinggi, Kampus Putih berkomitmen menjadikan nilai-nilai Ramadan sebagai fondasi utama Center of Excellence. Nazar memandang pendidikan sebagai instrumen strategis untuk mereformasi bangsa dari karakter yang pasif menjadi pribadi yang lebih tangguh dan progresif. Ia mendorong mahasiswa dan dosen untuk menjadi Ulul Albab, golongan pemikir yang cerdas secara intelektual sekaligus peka terhadap tanda-tanda kebesaran Allah. Pendidikan harus menjadi ibadah yang melahirkan kebudayaan luhur serta semangat pembaruan tiada henti demi kemaslahatan umat. Lebih jauh, Nazar menyinggung tantangan sosial seperti ketidaktertiban ruang publik hingga fenomena tragedy of commons. Menurutnya, perilaku koruptif bukan hanya soal materi, tetapi juga ketidakmampuan menahan ego di ranah sosial. Puasa hadir sebagai mekanisme latihan disiplin untuk menahan ego sektoral maupun individual tersebut. “Puasa Ramadan melahirkan kedisiplinan, sekaligus kedisiplinan itu dapat mencegah karakter yang korup, di mana perilaku korup bisa dimaknai luas sebagai ketidakpedulian terhadap hak orang lain di ruang publik,” jelasnya. Dalam kerangka yang lebih luas, Nazar menguraikan makna jihad dalam perspektif modern dan profesional. Jihad tidak lagi dimaknai secara sempit, melainkan sebagai badzlul juhdi atau ikhtiar maksimal dalam bekerja dan berkarya. Seorang muslim yang berpuasa harus memiliki etos kerja superior, solutif, dan penuh inovasi. Hal ini penting agar umat Islam tidak hanya menjadi konsumen peradaban, tetapi juga produsen kebudayaan yang disegani dunia. “Bangsa yang unggul adalah bangsa yang di dalam kesehariannya selalu berpikir untuk melakukan perubahan sedapat mungkin, perubahan yang membawa kebaikan, perubahan yang memberi dampak kemajuan dan membesarkan hati semua orang,” ujar Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis tersebut. Menutup ceramahnya, Nazar berharap momentum Ramadan dapat mengkristal menjadi gerakan kolektif. Dengan demikian, kampus tidak hanya melahirkan insan yang saleh secara ritual, tetapi juga saleh secara sosial dan intelektual, serta mampu memberikan solusi konkret bagi permasalahan bangsa. “Marilah kita jadikan titik berpikir kita bagaimana mewujudkan the society of Ulul Albab, masyarakat yang dipenuhi keinginan untuk selalu memberikan yang terbaik dan memberikan kemajuan bagi lingkungannya,” pungkasnya.(Ans)

Mantan Menhan Timor-Leste Sabet Gelar Doktor Sosiologi Militer di UMM

  pwmu.co – Transformasi militer dari kekuatan perjuangan menjadi institusi pertahanan profesional menjadi pokok bahasan dalam Ujian Promosi Doktor Julio Tomas Pinto yang berlangsung di Aula GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 14 Februari 2026.Dalam disertasinya, ia mengkaji proses profesionalisasi militer Timor-Leste sebagai fondasi penting bagi penguatan demokrasi serta stabilitas negara pascakonflik. Penelitian tersebut menyoroti perubahan struktural dan kultural dalam tubuh militer, sekaligus membedah relasi antara militer, negara, dan masyarakat sipil dalam masa transisi politik. Kiprah akademik Julio memiliki sejarah panjang bersama UMM. Ia pernah menempuh studi di Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM pada 1993 dan lulus pada 1998. Saat memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan, ia memilih kembali ke almamaternya. Ketertarikannya pada bidang Sosiologi Militer membawanya untuk berguru kepada Prof. Muhadjir Effendy, yang kemudian berkenan menjadi pembimbingnya. Sidang promosi tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat penting Timor-Leste, di antaranya Menteri Perencanaan dan Investasi Strategis Gastao de Sousa, Wakil Menteri Urusan Parlemen sekaligus mantan Presiden Parlemen Aderito Hugo da Costa, Duta Besar Timor-Leste untuk Indonesia Roberto Soares, Menteri Muda Komunikasi Expedito Dias Ximenes, mantan Menteri Infrastruktur Pedro Lay, Executive Director Human Capital Development Fund Julio Aparicio, serta Deputy Director Human Capital Development Fund Rogerio Lay. Kehadiran mereka mempertegas relevansi strategis riset ini bagi pembangunan nasional Timor-Leste. Dalam paparannya, Julio menegaskan bahwa sosiologi militer memandang militer bukan semata institusi pertahanan, melainkan juga entitas sosial dengan struktur, budaya, dan dinamika kekuasaan yang terus berkembang. Ia menelusuri perjalanan militer Timor-Leste dari pasukan gerilya pembebasan menuju tentara profesional dalam sistem negara demokratis. Pendekatan penelitian dilakukan secara interdisipliner dengan memadukan sosiologi politik, sejarah sosial, studi organisasi, hingga antropologi. Menurutnya, profesionalisasi militer di negara kecil pascakonflik memiliki karakter berbeda dibandingkan negara besar. Transformasi tersebut bukan berarti menghapus identitas lama, melainkan merekonstruksi nilai, tradisi, dan habitus gerilya agar selaras dengan tuntutan institusi modern. Julio menekankan bahwa profesionalisasi militer merupakan proses sosial yang sarat negosiasi kepentingan, bukan sekadar pembenahan struktur. Di banyak negara pascakonflik, profesionalisme sering dipahami sebatas modernisasi alutsista dan sistem komando. Padahal, tantangan mendasar terletak pada pembentukan kultur organisasi, legitimasi publik, serta penguatan supremasi sipil dalam sistem demokrasi. Ia juga mengulas dinamika pascareferendum 1999 saat Timor-Leste membangun negara baru. Perdebatan muncul antara mempertahankan struktur lama atau membentuk militer profesional yang sepenuhnya baru. Pada akhirnya, dipilih jalan tengah: mentransformasi pasukan pembebasan menjadi institusi pertahanan nasional tanpa menghilangkan spirit historisnya. Krisis politik 2006 turut menjadi momentum penting dalam mempercepat pembentukan regulasi, peningkatan profesionalisme, dan peneguhan kontrol sipil. Temuan utama riset ini menunjukkan bahwa profesionalisme militer di negara pascakonflik tumbuh melalui interaksi antara struktur modern dan nilai perjuangan masa lalu. Krisis internal, konflik, serta tekanan internasional berfungsi sebagai pendorong perubahan. Dalam konteks tersebut, militer tidak hanya berperan sebagai alat pertahanan, tetapi juga simbol identitas nasional yang terbentuk melalui sejarah panjang perjuangan. Salah satu promotor, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP., menilai disertasi ini memberi kontribusi signifikan bagi pengembangan kajian sosiologi militer, khususnya di Asia Tenggara. Ia menyebut penelitian tersebut menghadirkan sudut pandang baru mengenai transformasi militer di negara pascakonflik yang berlangsung melalui proses sosial kompleks. Menurutnya, profesionalisasi militer harus dipahami sebagai bagian integral dari demokratisasi. Militer dapat tumbuh menjadi institusi profesional tanpa memutus akar sejarah perjuangannya. Justru, identitas masa lalu dapat dikelola sebagai modal sosial untuk memperkuat legitimasi, membangun kepercayaan publik, dan meneguhkan posisi militer dalam sistem negara demokratis.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim

UMM Lahirkan Doktor Sosiologi Militer dari Timor Leste

POS-KUPANG.COM, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melahirkan satu lagi doktor dalam bidang militer khusunya sosiologi militer. Doktor baru itu merupakan mantan Menteri Pertahanan Timor Leste yang kini lebih aktif sebagai akademisi dan pengajar di berbagai kampus. Julio Tomas Pinto, mantan menteri yang resmi menyandang gelar doktor sosiologi militer itu mempertahankan disertasinya tentang transformasi militer negara Timor Leste dari basis perjuangan menuju institusi profesional di Ruang sidang doktoral di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu 14 Februari 2026. Julio yang mengajar juga di Universitas Nasional Timor Leste itu membawa refleksi tentang masa depan pertahanan Timor Leste. Hampir empat tahun ia menempuh studi doktoral di Malang. “Saya sudah lama kuliah di sini, hampir empat tahun. Hari ini saya mempresentasikan riset tentang transformasi militer Timor Leste menuju profesionalisme, dan puji Tuhan dinyatakan lulus,” ujarnya. Dalam disertasi berjudul Transformasi Militer Timor Leste Dari Perjuangan Menuju Profesionalisme, Julio membedah proses profesionalisasi militer sebagai fondasi penting dalam konsolidasi demokrasi negara pascakonflik. Ia menyoroti perubahan struktur, budaya organisasi, hingga relasi antara militer dan masyarakat sipil dalam masa transisi politik. Menurutnya, profesionalisasi militer di negara kecil memiliki tantangan tersendiri. “Transformasi ini bukan menghapus identitas lama, melainkan menata ulang nilai dan tradisi gerilya agar selaras dengan tuntutan institusi modern,” tegasnya. Ia menekankan bahwa dalam sistem demokrasi, militer harus berdiri netral dan fokus pada fungsi pertahanan. Tidak terlibat politik, tidak masuk ke ranah bisnis, dan tidak melampaui mandat konstitusional. Timor Leste sendiri, kata dia, telah menetapkan dalam undang undang pertahanan bahwa militernya bersifat self defense force. “Tentara kami hanya untuk pertahanan, bukan ofensif. Sebagai negara kecil, diplomasi dan soft power harus dikedepankan,” jelasnya. Hubungan regional juga menjadi bagian penting dari proses tersebut. Julio menyebut Indonesia sebagai mitra strategis yang turut berkontribusi dalam profesionalisasi militer Timor Leste, bersama Australia dan sejumlah negara demokratis lain melalui kerja sama pertahanan dan pendidikan. Julio menambahkan, bahwa gelar doktor bukan garis akhir. Ia melihatnya sebagai tanggung jawab moral untuk terus mengawal reformasi pertahanan di Timor Leste agar konsisten dengan prinsip demokrasi dan supremasi sipil. “Ini bagian dari kontribusi saya untuk memastikan militer kami profesional dan berorientasi pada perdamaian,” katanya. Sementara itu, keputusannya memilih UMM bukan tanpa alasan. Ia pernah menjadi alumni kampus tersebut dan memahami kultur akademiknya. “Saya tahu karakter akademik di sini. Karena itu saya kembali untuk memperdalam ilmu sosial,” katanya. Rektor UMM, Prof Dr Nazaruddin Malik, SE MSi, menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Ia menilai topik yang diangkat sangat relevan bagi negara yang tengah membangun sistem kelembagaan modern. “Kami mengucapkan selamat kepada Dr. Julio Tomas Pinto dan pimpinan pascasarjana yang telah mengantarkan beliau meraih gelar doktor di bidang sosiologi. Tema yang diangkat sangat strategis karena berbicara tentang transformasi organisasi dalam konteks kebangsaan,” ujarnya.

KKN Tematik UMM Luncurkan KRPL Karang Kitri dan Toga RW 2 Polowijen dalam Festival Kampung Budaya Polowijen #9

Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang, kembali menggelar Festival Kampung Budaya Polowijen #9 pada Minggu, 15 Februari 2025. Kegiatan ini menjadi ruang pelestarian tradisi, penguatan identitas budaya lokal, serta pengembangan potensi masyarakat berbasis kearifan lokal. (HO/KLIKTIMES.COM) KLIKTIMES.COM | MALANG– Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang, kembali menggelar Festival Kampung Budaya Polowijen #9 pada Minggu, 15 Februari 2025. Kegiatan ini menjadi ruang pelestarian tradisi, penguatan identitas budaya lokal, serta pengembangan potensi masyarakat berbasis kearifan lokal. KRPL (Kawasan Rumah Pangan Lestari) merupakan program pemanfaatan pekarangan rumah secara berkelanjutan untuk budidaya tanaman pangan, sayur, buah, serta tanaman obat keluarga (toga). Konsep ini menekankan kemandirian pangan berbasis rumah tangga, optimalisasi lahan sempit perkotaan, serta penguatan gizi keluarga melalui hasil tanam mandiri. Bagi wilayah perkotaan seperti Polowijen yang memiliki keterbatasan ruang, inovasi pemanfaatan lahan menjadi solusi strategis dan berkelanjutan. Kegiatan penanaman ini dihadiri oleh Wakil Ketua TP PKK Kelurahan Polowijen, Ketua PKK RW 02, serta Ketua PKK RT 03 RW 02. Keterlibatan aktif unsur PKK menunjukkan sinergi kelembagaan dalam membangun kesadaran lingkungan dan ketahanan keluarga berbasis partisipasi warga. Sejak hadirnya mahasiswa KKN Tematik UMM Berdampak 2026 Kelompok 14 dari Universitas Muhammadiyah Malang di Kampung Budaya Polowijen, kolaborasi dengan PKK semakin diperkuat. (HO/KLIKTIMES.COM) Amalia Safitri Ketua PKK RW 03 Kelurahan Polowijen merasa senang bahwa mahasiswa KKN Tematik UMM di Kampung Budaya Polowijen berkontribusi terhadap lingkungan baik memalui Posyandu dan penyediaan lahan KRPL RW 02 Kelurahan Polowijen “Tanaman ini bukan sekedar penanda bahwa kelompok kami siap mengkuti lomba kampung bersinar Kota Malang 2026 tapi jauh dari itu kita akan kembali membudayakan tanama pangan dan toga di ilingkungan kita agar lebih bermanfaat pada semuanya” kedepan kita juga akan kembangkan green house yang lebih luas dilingkungan ini juga Ungkap Fitri Sejak hadirnya mahasiswa KKN Tematik UMM Berdampak 2026 Kelompok 14 dari Universitas Muhammadiyah Malang di Kampung Budaya Polowijen, kolaborasi dengan PKK semakin diperkuat. Mahasiswa turut mendampingi pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya tanaman pangan dan tanaman obat-obatan, sekaligus memberikan edukasi pengelolaan sederhana namun produktif. Di tengah keterbatasan ruang perkotaan, langkah ini menjadi model pemberdayaan masyarakat yang adaptif, produktif, dan ramah lingkungan. Program KRPL tidak hanya berdampak pada aspek pangan dan kesehatan keluarga, tetapi juga memperkuat indikator kebersihan, kerapian, inovasi, serta partisipasi masyarakat — unsur penting dalam penilaian Lomba Kelurahan Bersinar. Festival Kampung Budaya Polowijen #9 diharapkan menjadi momentum penguatan ekosistem budaya sekaligus mendorong transformasi kampung budaya berbasis digital tanpa meninggalkan akar tradisinya. (HO/KLIKTIMES.COM) “Kami berharap KRPL ini dapat di rawat oleh ibu ibu PKK sehingga kalo tahun ini diikutkan lomba Kelurahan bersinar kami akan ikut senang, nanti kami juga ikut memanta dan membantu merawat secara berkelanjutan”. Tambah Putra Bayu Wakil Ketua kelompok 14 mahasiswa Hukum UMM. Acara dilanjutkan dengan Workshop Busana Khas Malang yang meliputi pelatihan membatik, pengenalan ragam kebaya, praktik memakai jarik, bersanggul, serta penggunaan Udeng Malang. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman generasi muda terhadap busana tradisi sebagai identitas budaya daerah. Siang Hari, digelar Pentas Seni dan Budaya yang menampilkan pentas tari, cerita rakyat oleh anak-anak Polowijen, serta tembang dolanan sebagai upaya regenerasi seni tradisi. Yang isinya tari topeng tari tradisional dan tari kreasi dari KBP, Sanggar Jejeg Wira dan Miben Voice Pada sore hari berlangsung prosesi Megengan, meliputi mocopatan, launching KBP Digital, penandatanganan MoU antara KBP dan Universitas Muhammadiyah Malang, serta wilujengan Megengan sebagai ungkapan syukur dan doa bersama menyambut bulan suci. Festival ditutup dengan prosesi Nyadran dan arak-arakan topeng Malang, yang merefleksikan penghormatan kepada leluhur serta penguatan nilai spiritual dan kebersamaan warga. Tak ketingggalan juga dalam waktu bersamaan ada kegiatan pentas seni budaya dari kelompok bantengan Bantala Winoro Mukti binaan RW 02 Kelurahan Polowijen serta bazar makanan yang turut memeriahkan acara di Polowijen sebagai salah satu pusat seni budaya. Festival Kampung Budaya Polowijen #9 diharapkan menjadi momentum penguatan ekosistem budaya sekaligus mendorong transformasi kampung budaya berbasis digital tanpa meninggalkan akar tradisinya.

UMM Gaungkan Ramadan Berkemajuan: Sinergi Spiritualitas dan Keilmuan di Tengah Dinamika Zaman

KLIKMU.CO — Di tengah derasnya arus digital, banjir informasi, dan gaya hidup serba cepat yang kerap membuat manusia kehilangan arah, Ramadan hadir sebagai ruang jeda untuk menata kembali makna hidup. Menjawab tantangan zaman tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggaungkan semangat Ramadan Berkemajuan melalui kajian Tarhib Ramadan yang digelar Kamis (12/2/2026) di Masjid AR. Fachruddin. Kegiatan ini menghadirkan Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhammad Rofiq Mudzakkir Lc MA PhD sebagai narasumber utama, sekaligus mengajak sivitas akademika menjadikan Ramadan sebagai momentum refleksi menuju pribadi yang lebih bertakwa dan berilmu. Mengusung tema Ramadan Berkemajuan: Menyiapkan Diri Menjadi yang Bertaqwa dan Berilmu, Rofiq menyoroti realitas manusia modern yang kerap terjebak dalam distraksi dan pengalihan fokus. Kesibukan duniawi serta derasnya arus teknologi, menurutnya, sering kali menjauhkan manusia dari tujuan hakiki penciptaannya. Ramadan hadir sebagai momentum emas untuk melakukan reorientasi diri. “Momen Ramadan sebenarnya adalah momen untuk kembali kepada siapa diri kita yang sebenarnya, yaitu hamba Allah yang tugasnya mencari rida-Nya,” tegasnya. Ia juga mengajak jamaah lebih peka membaca tanda-tanda kebesaran Allah melalui fenomena alam. Ibadah puasa, jelasnya, bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi melatih manusia memahami ritme waktu dari terbit fajar hingga terbenam matahari sebagai bagian dari keteraturan kosmis ciptaan Allah. Kesadaran terhadap ritme ini akan melahirkan kedisiplinan sekaligus memperdalam ketundukan spiritual. Salah satu poin menarik yang disampaikan Rofiq adalah keindahan diksi Al-Qur’an dalam menempatkan urgensi aktivitas manusia. Ia menjelaskan, ketika berbicara tentang mencari rezeki, Al-Qur’an menggunakan kata famsyu (berjalanlah). Namun, saat menyeru manusia menuju ampunan dan perlindungan Allah, diksi yang digunakan meningkat menjadi fafirru (berlarilah). “Al-Qur’an membedakan urgensi dengan sangat indah. Untuk urusan dunia cukup berjalan biasa, namun saat menuju Allah gunakan fafirru atau berlarilah kencang, karena ini kondisi darurat untuk menyelamatkan jiwa kita,” ungkapnya. Lebih jauh, Rofiq mengingatkan agar interaksi dengan Al-Qur’an selama Ramadan tidak dilakukan secara parsial. Ia mengkritisi kecenderungan sebagian orang yang hanya mengejar target kuantitas bacaan (tilawah) tanpa memahami maknanya (tadabbur), atau sebaliknya terlalu fokus pada kajian tanpa membiasakan diri membaca secara rutin. Menurutnya, keduanya harus berjalan beriringan agar ibadah mencapai kualitas yang optimal. “Jangan dipilih salah satu. Dua-duanya harus seimbang. Baca Al-Qur’an setiap hari minimal satu juz dan upayakan setiap hari ada ayat yang kita tadaburi agar meresap ke dalam hati,” pesannya. Sementara itu, Wakil Rektor I UMM Prof Akhsanul In’am PhD dalam sambutannya mengajak seluruh jamaah melakukan refleksi menyeluruh sebelum memasuki Ramadan. Dengan pendekatan manajerial “4M” (Memahami, Merencanakan, Melaksanakan, dan Mengevaluasi), ia menekankan bahwa ibadah perlu dirancang secara sadar dan terukur agar menghasilkan perubahan nyata. “Mari kita mengevaluasi apa yang telah dilakukan dalam satu tahun terakhir, lalu implementasikan perbaikannya di bulan suci ini agar menjadi pribadi yang lebih bertakwa,” tuturnya. Melalui kegiatan Tarhib Ramadan ini, UMM kembali menegaskan perannya sebagai kampus yang tidak hanya berinovasi secara akademik, tetapi juga konsisten menghadirkan ruang penguatan spiritual. Sinergi antara keilmuan dan nilai-nilai keislaman menjadi fondasi penting dalam membentuk insan yang berilmu, berakhlak, dan berkemajuan. (Faqih/AS)

Muhammadiyah Awali Salat Tarawih

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Muhammadiyah secara resmi menggelar salat tarawih malam pertama bulan Ramadan 1447 Hijriah, Selasa (17/2) malam. Para jamaah mulai memadati masjid-masjid naungan Muhammadiyah di Kota Malang yang akan menjalankan puasa Ramadan sejak Rabu (18/2). Sementara, pemerintah memutuskan puasa Ramadan 1447 Hijriah dimulai Kamis (19/2), besok. Para jamaah Muhammadiyah berbondong-bondong memadati masjid menyemarakkan malam Ramadan 1447 Hijriah, seperti yang tampak di Masjid A.R. Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Masjid Manarul Islam Sawojajar Kota Malang. Meskipun, memulai Ramadan lebih dahulu, tidak menyurutkan semangat jamaah yang hadir mulai dari Jamaah Salat Isya, terlebih dahulu. Salah satu tokoh Muhammadiyah Kota Malang, KH Zubeir Suryadi Abdullah, Lc, mengatakan bahwa perbedaan waktu dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan di Indonesia adalah hal yang wajar. Sebagian masyarakat Indonesia seperti Muhammadiyah menganut sistem hisab hakiki dalam penghitungan kalender Hijriah. “Kemudian dalam metode lain ada yang namanya rukyat dan hisab, yang digunakan sebagian masyarakat Indonesia dan juga beberapa negara terkemuka lain, seperti Malaysia. Ini merupakan hal yang diperbolehkan, dan apabila berpegang pada keduanya semuanya tepat,” jelasnya. Sosok yang juga merupakan Pembina Yayasan Amal Shaleh Malang yang menaungi Masjid Manarul Islam. Dalam kesempatan memberikan pencerahan sebelum tarawih malam pertama Ramadan 1447 Hijriah dimulai, ia menekankan bahwa jangan sampai ada kesenjangan dalam kehidupan sosial muslim di Indonesia. “Kita bisa memulai puasa besok (18/2) dan ada yang memulai lusa, jangan sampai nanti bertemu saudara kita, ada hal tidak baik yang muncul dalam hati dan diri. Karena ini adalah sebuah hal wajar, dan beberapa kali juga disamakan,” bebernya. Ia berharap bagi umat muslim dari Muhammadiyah yang memulai puasa sejak Rabu (18/2) sekaligus memasuki 1 Ramadan 1447 Hijriah, untuk bisa saling menghormati. Puasa merupakan ibadah yang dimuliakan dan menjadi ibadah yang sangat baik, sehingga tidak boleh dicemari dengan pemikiran dan perasaan yang mengurangi esensi dan nilai dari puasa itu. “Mari kita ikhlaskan bersama, jangan muncul perasaan tidak enak dan tidak nyaman. Kalau Allah saja membolehkan kita berbeda, sehingga perlunya kita saling mengerti dan memahami, dan memperbanyak ibadah di Bulan Ramadan 1447 Hijriah, kali ini,” jelasnya. (rex/jon)

Teliti Transformasi Militer, Mantan Menteri Timor Leste Sandang Gelar Doktor di UMM

Julio Tomas Pinto meraih gelar Doktor Sosiologi Militer di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan disertasi tentang profesionalisasi militer pascakonflik. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO — Transformasi militer dari pasukan perjuangan menjadi tentara profesional menjadi fokus utama Ujian Promosi Doktor Julio Tomas Pinto di Aula GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (14/2/2026). Disertasinya menelaah proses profesionalisasi militer Timor Leste sebagai elemen penting dalam konsolidasi demokrasi dan menjaga stabilitas pascakonflik. Kajian ini menyoroti perubahan struktur dan budaya institusi militer, sekaligus dinamika hubungan antara militer, negara, dan masyarakat sipil dalam transisi politik. Julio yang merupakan mantan menteri pertahanan Timor Leste memiliki sejarah panjang dengan UMM. Ia menempuh pendidikan di Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM pada 1993 dan lulus pada 1998. “Ketika saya punya waktu untuk belajar lagi, saya memilih kembali ke UMM. Selain sudah mengenal kultur akademiknya, saya tertarik dengan Sosiologi Militer dan dibimbing langsung Prof Muhadjir Effendy. Alhamdulillah beliau berkenan,” tuturnya. Ujian promosi doktor dihadiri sivitas akademika dan sejumlah pejabat penting Timor Leste, antara lain Menteri Perencanaan dan Investasi Strategis Gastao de Sousa, mantan Presiden Parlemen Aderito Hugo da Costa, Duta Besar Timor Leste untuk Indonesia Roberto Soares, Menteri Muda Komunikasi Expedito Dias Ximenes, serta mantan Menteri Infrastruktur Pedro Lay. Kehadiran mereka menegaskan relevansi strategis disertasi tersebut bagi pembangunan negara. Dalam pemaparannya, Julio menekankan bahwa sosiologi militer melihat militer bukan sekadar institusi pertahanan, tetapi juga entitas sosial dengan struktur, budaya, dan relasi kuasa yang terus berkembang. Ia menelusuri transformasi militer Timor Leste dari pasukan gerilya pembebasan menjadi tentara profesional dalam sistem demokratis. “Kajian ini dilakukan secara interdisipliner dengan perspektif sosiologi politik, sejarah sosial, organisasi, hingga antropologi. Profesionalisasi militer di negara kecil pascakonflik berbeda dengan negara besar. Transformasi ini bukan penghapusan total identitas lama, tetapi redefinisi nilai, tradisi, dan habitus gerilya agar selaras tuntutan institusi modern,” jelasnya. Dia menekankan bahwa profesionalisasi militer adalah proses sosial yang sarat negosiasi kepentingan, bukan sekadar reformasi struktural. Pada masa transisi pascareferendum 1999 dan pembentukan negara baru, terjadi perdebatan antara mempertahankan struktur lama atau membangun militer profesional baru. Timor Leste memilih jalan tengah: mentransformasi pasukan pembebasan menjadi institusi pertahanan nasional dengan tetap menjaga spirit historisnya. Krisis politik 2006 menjadi momentum penting yang mempercepat pembentukan regulasi, profesionalisme, dan supremasi sipil dalam tubuh militer. “Temuan utama menunjukkan profesionalisme militer berkembang melalui negosiasi antara struktur modern dan nilai perjuangan masa lalu. Krisis, konflik internal, dan tekanan internasional menjadi katalis perubahan. Militer tidak hanya berfungsi sebagai alat pertahanan, tetapi juga simbol identitas nasional yang dibentuk melalui sejarah panjang perjuangan,” ujarnya. Promotor disertasi Prof Dr Muhadjir Effendy MAP menilai penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi kajian sosiologi militer di Asia Tenggara. Profesionalisasi militer harus dipahami sebagai bagian integral dari demokratisasi. “Identitas masa lalu dapat dikelola sebagai modal sosial untuk membangun legitimasi, kepercayaan publik, dan memperkuat posisi militer dalam sistem demokratis,” ungkapnya. (Faqih/AS)

Aspikom Lantik Pengurus Baru, Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor

timesindonesia, MALANG – Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) Koordinator Wilayah Jawa Timur secara resmi melantik jajaran pengurus baru periode 2025-2029 di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu (14/2/2026). Ketua ASPIKOM Korwil Jatim resmi disandang oleh akademisi dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Awang Dharmawan, S.I.Kom., M.A. yang menggantikan kepengurusan sebelumnya. Tak hanya pelantikan, acara ini juga dibarengi dengan Seminar Nasional dan Rapat Kerja Daerah guna merumuskan program strategis ilmu komunikasi di Jawa Timur. Mengusung tema “Memperkuat Peran Strategis Ilmu Komunikasi dalam Peta Jalan Dikti Saintek yang Berdampak untuk Pembangunan di Jawa Timur”, momentum pelantikan ini penting untuk menyatukan visi 41 perguruan tinggi se-Jawa Timur. Awang Dharmawan, menyoroti potensi besar sumber daya manusia (SDM) komunikasi di wilayahnya. Menurutnya, terdapat lebih dari 16.000 mahasiswa dari sekitar 40 program studi rumpun ilmu komunikasi di Jawa Timur. Rencananya kedepan, kerja sama dengan industri dan pemerintah, seperti Dinas Kominfo Jawa Timur. “Kita perluas supaya ASPIKOM dapat memberikan dampak nyata pada masyarakat, ini juga bukan sekedar kuantitas, tetapi melahirkan peradaban baru,” ujarnya. Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si., juga menyambut hangat ASPIKOM. Ia pun menegaskan bahwa saat ini harus sinergi tingkat tinggi, bukan persaingan individual. “Paradigma “hebat sendirian” dinilai tak lagi relevan di era kolaborasi,” tegasnya dalam sambutan. Prof. Tri menegaskan kemajuan hanya dapat dicapai melalui sinergi, sebagaimana terlihat dari keterlibatan berbagai asosiasi seperti Perhumas dalam forum tersebut. Ia juga menekankan pentingnya laboratorium komunikasi di setiap kampus sebagai pusat pengembangan keilmuan untuk meraih akreditasi unggul. Dosen didorong melanjutkan studi hingga S3 dan meraih gelar Guru Besar guna memperkuat mutu pendidikan. Kegiatan ini dihadiri Ketua Umum ASPIKOM Pusat Prof. Dr. Anang Sujoko dan Kepala Dinas Kominfo Jawa Timur Sherlita Ratna Dewi Agustin, sebagai bentuk komitmen mewujudkan pendidikan komunikasi yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan industri. (*)