Krisis Air Ancam Petani, Mahasiswa KKN UMM Bangun Sistem Irigasi Kolaboratif di Desa Jambangan

KLIKMU.CO — Sebagai kampus inovasi dan mandiri, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menghadirkan solusi nyata bagi persoalan masyarakat. Salah satunya terlihat dari langkah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 7 yang merespons ketimpangan distribusi air sawah di Desa Jambangan, Kabupaten Malang. Masalah ini bukan sekadar teknis, tetapi berpotensi memicu konflik agraria antarpetani. Ketika sebagian lahan kebanjiran dan lainnya justru mengering, mahasiswa UMM membangun pintu irigasi baru pada Selasa (10/2/2026) sebagai instrumen pengatur distribusi air agar lebih adil dan terkontrol. Bagi warga Jambangan, pertanian adalah urat nadi ekonomi desa. Ketika distribusi air terganggu, yang terancam bukan hanya hasil panen, tetapi juga harmoni sosial. Dalam beberapa musim terakhir, ketidakseimbangan pasokan air menimbulkan keluhan dan potensi konflik horizontal. Koordinator program KKN Rifdah Nuur Fauziyyah menegaskan bahwa persoalan irigasi tidak bisa dipandang semata-mata sebagai isu teknis. “Distribusi air yang tidak terkontrol dapat memicu ketegangan antarpetani. Solusi yang kami tawarkan bukan hanya membangun fisik pintu air, tetapi juga membangun kesepahaman bersama,” ujarnya. Pembangunan ini berangkat dari kebutuhan riil warga. “Setelah observasi dan diskusi dengan petani, kami melihat persoalan utama ada pada pengaturan aliran air. Dari situ kami sepakat untuk fokus membangun pintu irigasi yang bisa digunakan bersama,” jelas Rifdah. Program ini diawali dengan observasi lapangan dan diskusi intensif bersama warga serta perangkat desa. Proses pembangunan dilakukan secara kolaboratif, dengan mahasiswa sebagai pelaksana utama dibantu tenaga tukang dan dukungan pemerintah desa. Meski dihadapkan keterbatasan anggaran dan sumber daya, sinergi tersebut mempercepat realisasi proyek. Fenomena krisis air irigasi sejatinya bukan persoalan lokal semata. Di berbagai wilayah Indonesia, distribusi air pertanian yang tidak merata kerap memicu perselisihan hingga sengketa lahan. Minimnya infrastruktur pengatur air sering memperparah keadaan, terutama di tengah tantangan perubahan iklim dan ketidakpastian musim. Salah satu petani setempat menuturkan kondisi sebelum adanya pintu irigasi baru. “Kadang sawah di hulu kebanyakan air sampai meluap, sementara yang di bawah kering dan retak. Kami sama-sama butuh air, tapi alirannya tidak teratur. Kalau dibiarkan, bisa menimbulkan salah paham,” ujarnya. Keberadaan pintu irigasi baru memberi harapan agar pembagian air lebih adil dan transparan. “Sekarang alirannya bisa diatur. Kami jadi lebih tenang karena ada kesepakatan bersama. Harapannya ke depan tidak ada lagi perdebatan soal air,” tambahnya. Langkah mahasiswa KKN UMM di Desa Jambangan membuktikan bahwa intervensi sederhana berbasis kebutuhan lokal dapat menjadi strategi mitigasi konflik agraria yang efektif. Melalui kolaborasi, riset terapan, dan pengabdian yang berdampak, UMM terus meneguhkan perannya sebagai kampus inovasi dan mandiri yang membangun kemandirian desa serta memperkuat ketahanan sosial di tengah krisis sumber daya. (Faqih/AS)
UMM Dampingi Petani Tlekung Kembangkan Kopi Endemik Srandil lewat Pelatihan dan Teknologi Solar Dryer

pwmu.co – Di tengah kawasan hutan Desa Tlekung, Kota Batu, sejumlah petani tampak antusias mengikuti pelatihan penyambungan pucuk tanaman kopi. Kegiatan yang berlangsung hangat tersebut diisi dengan diskusi interaktif serta praktik langsung di lapangan. Pelatihan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Ahad (15/2/2026) dengan fokus pada pengembangan kopi endemik Srandil sebagai komoditas unggulan lokal. Tim pengabdian yang terdiri atas dosen dan mahasiswa memberikan pelatihan teknis kepada anggota Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Sumber Makmur Sembada. Materi yang disampaikan meliputi teknik grafting atau sambung pucuk serta perbanyakan tanaman melalui metode stek. Pelatihan ini bertujuan menghasilkan bibit kopi unggul yang lebih seragam dan adaptif terhadap berbagai kondisi lingkungan. Tidak hanya mempelajari teknik perbanyakan tanaman, para petani juga mendapatkan pelatihan pemangkasan cabang kopi yang tepat. Melalui praktik langsung di lapangan, peserta memahami bahwa pemangkasan yang benar mampu memperbaiki struktur tajuk tanaman, meningkatkan sirkulasi udara, serta mendorong produktivitas buah kopi. Kegiatan semakin menarik ketika peserta diperkenalkan dengan teknologi solar dryer, yakni alat pengering tenaga surya yang dilengkapi sistem otomatisasi berbasis suhu dan kelembapan. Inovasi ini memungkinkan proses pengeringan biji kopi berlangsung lebih stabil dan higienis, sehingga mutu kopi tetap terjaga meskipun kondisi cuaca tidak menentu. Ketua tim pengabdian, Zul Fahmi, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas petani dari hulu hingga hilir. “Kami ingin para petani tidak hanya mampu menghasilkan bibit unggul, tetapi juga memahami teknik budidaya dan pascapanen yang tepat agar kopi Srandil memiliki kualitas yang mampu bersaing,” ujarnya. Program ini menjadi langkah strategis dalam mendorong kopi endemik Srandil sebagai identitas lokal sekaligus sumber ekonomi masyarakat. Peningkatan keterampilan petani yang diiringi pemanfaatan teknologi tepat guna diharapkan mampu memperkuat tata kelola kopi di kawasan hutan Desa Tlekung agar lebih produktif, berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan petani. Pelatihan ini tidak sekadar membahas teknik bertani, tetapi juga menumbuhkan harapan baru bahwa kopi lokal mampu menjadi penggerak ekonomi desa sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. (*)
UMM Gelar Ujian Promosi Doktor Julio Tomas Pinto: Disertasi Transformasi Militer Timor-Leste

MALANG POST – Transformasi militer dari kekuatan perjuangan menuju tentara profesional menjadi fokus utama dalam Ujian Promosi Doktor Julio Tomas Pinto yang digelar di Aula GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang pada 14 Februari 2026. Melalui disertasinya, ia menelaah proses profesionalisasi militer Timor-Leste sebagai elemen penting dalam menopang konsolidasi demokrasi dan menjaga stabilitas negara pascakonflik. Kajian tersebut menyoroti perubahan mendasar pada struktur dan budaya institusi militer, sekaligus mengurai dinamika hubungan antara militer, negara, dan masyarakat sipil dalam proses transisi politik. Perjalanan akademik Julio memiliki keterkaitan erat dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pada 1993, ia menempuh pendidikan di Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM, dan lulus pada 1998. “Ketika saya sudah mulai punya waktu untuk belajar lagi, saya memilih kembali ke UMM. Selain di sini saya sudah kenal kultur akademiknya, saya juga tertarik dengan Sosiologi Militer dan minta dibimbing oleh pakarnya, Prof. Muhadjir Effendy. Alhamdulillah beliau berkenan,” ujar Julio. Ujian promosi doktor tersebut tidak hanya dihadiri sivitas akademika, tetapi juga sejumlah pejabat penting dari Timor-Leste. Diantaranya Menteri Perencanaan dan Investasi Strategis Gastao de Sousa, Wakil Menteri Urusan Parlemen sekaligus mantan Presiden Parlemen Aderito Hugo da Costa, Duta Besar Timor-Leste untuk Indonesia Roberto Soares, Menteri Muda Komunikasi Expedito Dias Ximenes, mantan Menteri Infrastruktur Pedro Lay, Executive Director Human Capital Development Fund Julio Aparicio, serta Deputy Director Human Capital Development Fund Rogerio Lay. Kehadiran mereka memberikan perspektif diplomatik sekaligus menegaskan relevansi strategis tema disertasi tersebut bagi pembangunan negara. Dalam pemaparannya, Julio menegaskan bahwa sosiologi militer tidak hanya memandang militer sebagai institusi pertahanan, tetapi juga sebagai entitas sosial yang memiliki struktur, budaya, dan relasi kuasa yang terus berkembang. Ia menelusuri transformasi militer Timor-Leste dari pasukan gerilya pembebasan menjadi tentara profesional dalam sistem negara demokratis. “Kajian ini dilakukan secara interdisipliner dengan memadukan perspektif sosiologi politik, sejarah sosial, organisasi, hingga antropologi. Profesionalisasi militer di negara kecil pascakonflik memiliki karakteristik berbeda dibandingkan negara besar. Transformasi militer Timor-Leste bukan penghapusan total identitas lama, tetapi proses redefinisi nilai, tradisi, dan habitus gerilya agar selaras dengan tuntutan institusi modern,” ungkapnya. Lebih lanjut, ia menempatkan profesionalisasi militer sebagai proses sosial yang sarat negosiasi kepentingan, bukan sekadar reformasi struktural. Menurutnya, dalam banyak negara pascakonflik, profesionalisme militer sering kali dimaknai sebatas modernisasi peralatan dan sistem komando. Padahal, tantangan terbesar justru terletak pada pembentukan kultur institusi, legitimasi publik, serta peneguhan kontrol sipil dalam sistem demokrasi. Julio juga menjelaskan bahwa pada masa transisi pascareferendum 1999 dan pembentukan negara baru, terjadi perdebatan mengenai pilihan antara mempertahankan struktur lama atau membangun militer profesional yang sepenuhnya baru. Timor-Leste kemudian memilih jalan tengah, yakni mentransformasi pasukan pembebasan menjadi institusi pertahanan nasional dengan tetap menjaga spirit historisnya. Ia juga menyoroti krisis politik 2006 sebagai momentum penting yang mempercepat pembentukan regulasi, profesionalisme, dan supremasi sipil dalam tubuh militer. “Temuan utama penelitian ini menunjukkan bahwa profesionalisme militer di negara pascakonflik berkembang melalui negosiasi antara struktur institusional modern dan nilai-nilai perjuangan masa lalu. Krisis, konflik internal, serta tekanan internasional turut berperan sebagai katalis perubahan. Dalam konteks ini, militer tidak hanya berfungsi sebagai alat pertahanan, tetapi juga simbol identitas nasional yang dibentuk melalui sejarah panjang perjuangan,” ujar Julio. Sementara itu, salah satu promotor, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP., menilai disertasi tersebut memberikan kontribusi penting bagi pengembangan kajian sosiologi militer, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Ia menilai penelitian ini menghadirkan perspektif baru tentang bagaimana militer di negara pascakonflik bertransformasi melalui proses sosial yang kompleks. Menurutnya, profesionalisasi militer harus dipahami sebagai bagian integral dari proses demokratisasi. Ia menegaskan bahwa militer dapat berkembang menjadi institusi profesional tanpa harus memutus akar sejarah perjuangannya. Justru, identitas masa lalu dapat dikelola sebagai modal sosial untuk membangun legitimasi dan kepercayaan publik, sekaligus memperkuat posisi militer dalam sistem negara demokratis. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Krisis Konstitusi Ancam Demokrasi, Pakar UMM Lahirkan Model Literasi Nasional Berbasis Karakter Indonesia

KLIKMU.CO – Kesadaran berkonstitusi menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan demokrasi yang sehat. Di tengah arus informasi yang kian deras, kemampuan memahami konstitusi tidak lagi cukup sebatas menghafal pasal-pasal, tetapi harus tumbuh menjadi kesadaran dalam sikap dan perilaku warga negara. Berangkat dari kegelisahan tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang kembali menegaskan perannya sebagai kampus inovasi dan mandiri melalui penelitian dosen Bidang Keahlian Pendidikan Konstitusi, Moh. Wahyu Kurniawan MPd. Sebagai kampus inovasi dan mandiri, UMM konsisten mendorong lahirnya riset-riset strategis yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan bangsa. Kemandirian tersebut tercermin dalam keberanian mengembangkan model keilmuan yang kontekstual, adaptif, dan berdampak langsung bagi masyarakat. Dalam penelitiannya, Wahyu mengembangkan Model Literasi Konstitusi yang dirancang khusus untuk konteks Indonesia. Riset ini lahir dari realitas bahwa tingkat literasi konstitusi masyarakat masih tergolong rendah, padahal konstitusi merupakan rujukan utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurut Wahyu, pemahaman konstitusi tidak boleh berhenti pada aspek kognitif semata, tetapi harus tercermin dalam kesadaran bertindak sebagai warga negara yang demokratis. “Konstitusi adalah dasar hidup bersama, sehingga setiap warga negara wajib memahami dan menjadikannya pedoman dalam bersikap,” ujarnya (11/2/2026). Melalui kajian komparatif internasional, Wahyu menemukan bahwa sejumlah negara telah memiliki klasifikasi dan tingkatan literasi konstitusi yang terukur. Sementara itu, Indonesia dinilai belum memiliki model yang sesuai dengan karakter sosial, budaya, dan historisnya. Celah inilah yang kemudian dijawab melalui penelitian berbasis Research and Development (R&D) dengan pendekatan mixed method yang memadukan riset kualitatif deskriptif dan kuantitatif. Hasil penelitian tersebut melahirkan Model Literasi Konstitusi versi Indonesia yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran di jenjang sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Model ini dirancang untuk membentuk peserta didik yang kritis, reflektif, dan solutif. Mereka tidak hanya dilatih memahami konstitusi, tetapi juga mampu menilai kebijakan publik secara rasional serta memberikan masukan yang konstruktif. “Literasi konstitusi harus menumbuhkan keberanian berpikir kritis, bukan sekadar patuh tanpa pemahaman,” tegasnya. Keunggulan riset ini tidak berhenti pada ranah akademik. Temuan disertasi Wahyu telah ditindaklanjuti dalam bentuk policy brief yang memuat rekomendasi kebijakan pendidikan. Langkah ini menunjukkan komitmen UMM dalam mendorong riset yang berdampak langsung pada perumusan kebijakan dan praktik pendidikan nasional. Hal tersebut sekaligus memperkuat posisi UMM sebagai kampus mandiri yang tidak bergantung pada arus wacana global, melainkan mampu melahirkan gagasan autentik berbasis kebutuhan Indonesia. Wahyu menilai pendidikan konstitusi memiliki peran strategis dalam membangun budaya demokrasi yang sehat. Melalui model literasi yang dikembangkan, generasi muda diharapkan tidak tumbuh menjadi warga negara yang pasif, melainkan mampu menjalankan fungsi kontrol sosial secara cerdas dan bertanggung jawab. Kesadaran berkonstitusi diposisikan sebagai modal utama untuk menjaga keadilan, keberlanjutan, dan keseimbangan dalam kehidupan bernegara. “Riset akademik tidak boleh berhenti di rak perpustakaan, tetapi harus hadir untuk menjawab persoalan masyarakat,” ungkapnya. Melalui penelitian ini, UMM kembali menunjukkan jati dirinya sebagai kampus yang mengintegrasikan keilmuan, nilai, dan pengabdian. Sebagai kampus inovasi dan mandiri, UMM terus menghadirkan pembaruan yang tidak hanya menjawab tantangan zaman, tetapi juga memberikan harapan baru bagi penguatan demokrasi Indonesia. Model Literasi Konstitusi yang dihasilkan menjadi bukti bahwa riset dosen UMM tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga berkontribusi nyata dalam memperkuat fondasi demokrasi nasional. (Faqih/AS)
UMM Hadirkan Sarana Air Bersih Berbasis Kearifan Lokal di NTT

Rektor UMM meresmikan sarana air bersih berbasis masyarakat PASIMAS Fetomone di Desa Tliu, Timor Tengah Selatan, NTT. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Rektor Universitas Muhammadiyah Malang Prof Dr Nazaruddin Malik MSi meresmikan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PASIMAS) Fetomone di Desa Tliu, Kecamatan Amanuban Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, pada 10 Februari. Program ini menjadi langkah strategis dalam menghadirkan akses air bersih berkelanjutan di wilayah yang selama ini dikenal memiliki tantangan serius dalam ketersediaan sumber air. Program tersebut merupakan hasil kerja sama Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan Danone Indonesia, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah NTT, serta UMM dan Universitas Muhammadiyah Kupang. Kolaborasi tersebut menjadi bukti bahwa persoalan dasar masyarakat hanya dapat diselesaikan melalui sinergi lintas sektor. Peresmian berlangsung khidmat dan sarat nilai kearifan lokal. Rombongan disambut langsung oleh ketua adat Desa Tliu, diiringi tarian serta sambutan khas suku setempat sebagai simbol penerimaan dan penghormatan masyarakat kepada para tamu. Suasana tersebut menggambarkan keterbukaan masyarakat desa terhadap program pembangunan yang berangkat dari kebutuhan riil warga. Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik MSi yang juga menjabat sebagai rektor Universitas Muhammadiyah Manado menegaskan bahwa program ini bukan sekadar pembangunan fisik. “Air adalah sumber kehidupan. Di daerah seperti NTT, menghadirkan air bersih berarti membuka peluang hidup yang lebih layak, lebih sehat, dan lebih bermartabat bagi masyarakat,” ujarnya. Sarana air bersih yang diresmikan merupakan hasil kerja panjang dan kolaboratif, mulai dari proses penemuan titik mata air hingga pengembangannya menjadi sarana penunjang utama kebutuhan pengairan dan konsumsi masyarakat desa. Hal ini memiliki makna penting mengingat wilayah NTT tidak mudah menemukan sumber air yang layak dan berkelanjutan. Desa Tliu sendiri merupakan wilayah yang tergolong terpencil dengan keterbatasan akses infrastruktur. Meski demikian, semangat pendidikan terus tumbuh. Di desa tersebut telah berdiri SD Muhammadiyah yang menjadi pusat pembelajaran bagi anak-anak setempat. Secara pribadi, Nazar juga memberikan bantuan dana pengembangan untuk SD Muhammadiyah Desa Tliu, beasiswa pendidikan sarjana kepada kepala desa setempat, serta dukungan sarana perpustakaan. “Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Kami ingin anak-anak Desa Tliu memiliki mimpi besar dan akses yang sama untuk meraihnya,” tegasnya. Kepala Desa Tliu menyambut baik kehadiran program PASIMAS Fetomone dan dukungan yang diberikan. “Bagi kami, air bersih bukan sekadar fasilitas, tetapi harapan baru. Program ini sangat berarti bagi kehidupan masyarakat Desa Tliu,” ujarnya. Melalui pengembangan sarana air bersih berbasis masyarakat ini, UMM berharap PASIMAS Fetomone mampu menjadi model pemberdayaan desa yang berkelanjutan, memperkuat kualitas hidup masyarakat, serta mendorong pembangunan pendidikan dan sosial di wilayah Nusa Tenggara Timur. (*)
Terawih Perdana, Rektor UMM: Ramadan Jadi Titik Kebangkitan Intelektual dan Peradaban

beritasatu, MALANGVOICE – Ramadan 1447 Hijriah dimaknai berbeda oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum kebangkitan peradaban kaum intelektual. Pesan itu disampaikan Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si., saat memberikan ceramah Tarawih perdana di Masjid AR. Fachruddin, Selasa (17/2). Menurutnya, Ramadan tidak boleh berhenti pada rutinitas ritual. Ibadah harus menjadi ruang pembentukan karakter sekaligus penguatan intelektual. Dari sana, lahir generasi Ulul Albab yang mampu membawa bangsa menuju kemajuan nyata.
Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Jatuh pada 18 Februari 2026, Simak Penjelasan Pakar UMM

liramedia, Muhammadiyah secara resmi menetapkan awal puasa atau 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Keputusan ini didasarkan pada Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah serta hasil perhitungan Majelis Tarjih dan Tajdid yang menggunakan metode hisab astronomis terbaru. Penetapan tersebut memicu diskusi di tengah masyarakat mengenai potensi perbedaan awal puasa dengan keputusan pemerintah. Menanggapi hal ini, Pakar Ilmu Falak Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Drs. M. Sarif, M.Ag., memberikan penjelasan komprehensif mengenai latar belakang metodologi yang digunakan. Penerapan Kalender Hijriah Global Tunggal Sarif menjelaskan bahwa Muhammadiyah kini menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Sistem ini merupakan ijtihad untuk menghadirkan kalender Islam yang memiliki kepastian jauh hari sebelumnya dan dapat berlaku secara internasional tanpa batasan teritorial negara. “KHGT merupakan ijtihad untuk menghadirkan kalender Islam yang lebih terpadu, memiliki kepastian jauh hari sebelumnya, dan bisa digunakan secara internasional,” ujar Sarif dalam keterangannya pada Rabu, 18 Februari 2026. Sistem ini menggunakan parameter ketinggian hilal minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat setelah ijtimak di wilayah mana pun di permukaan bumi. Detail Astronomis dan Kondisi Hilal Berdasarkan data astronomis, ijtimak atau konjungsi terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12.01 UTC atau sekitar 19.01 WIB. Pada saat itu, parameter KHGT dilaporkan telah terpenuhi di wilayah Alaska, Amerika Serikat, sehingga ketetapan awal bulan berlaku secara global bagi pengguna metode ini. Namun, kondisi di Indonesia menunjukkan hasil yang berbeda secara visual. Saat matahari terbenam pada 17 Februari 2026, posisi hilal di wilayah Indonesia masih berada di bawah ufuk atau bernilai negatif. Hal ini menyebabkan kriteria imkan rukyat yang digunakan pemerintah belum terpenuhi. Potensi Perbedaan dengan Keputusan Pemerintah Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama menggunakan kriteria MABIMS, yang mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Karena posisi hilal di Indonesia masih negatif pada Selasa petang, pemerintah kemungkinan besar akan menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. “Secara astronomis, hilal di Indonesia memang belum memenuhi kriteria MABIMS. Karena itu, pemerintah kemungkinan menetapkan awal Ramadhan pada 19 Februari 2026 setelah proses rukyat dan sidang isbat,” tambah Sarif. Ia menegaskan bahwa perbedaan ini murni masalah teknis metodologi falak dan bukan perbedaan akidah. Informasi lengkap mengenai penjelasan teknis dan imbauan menjaga ukhuwah Islamiyah ini disampaikan melalui pernyataan resmi Drs. M. Sarif, M.Ag. yang dirilis melalui laman resmi Universitas Muhammadiyah Malang pada 18 Februari 2026.
Mengapa Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 18 Februari? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Metrotvnews– Malang: Muhammadiyah resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Keputusan ini didasarkan pada perhitungan astronomi melalui sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Pakar Ilmu Falak Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M Sarif, menjelaskan penetapan tersebut merupakan hasil ijtihad berbasis hisab astronomis. Menurutnya, pendekatan ini memberikan kepastian jauh hari sebelum bulan Ramadan tiba. “Perbedaan penetapan awal Ramadan adalah bagian dari dinamika ijtihad umat Islam. Ini bukan soal siapa yang benar atau salah, tetapi tentang metodologi yang digunakan,” ujar Sarif, Rabu, 18 Februari 2026. Ia menerangkan KHGT disusun dengan Prinsip, Syarat, dan Parameter (PSP) yang jelas dan terukur. Salah satu parameternya adalah ketinggian hilal minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat setelah ijtimak, di mana saja di permukaan bumi. “KHGT merupakan ijtihad untuk menghadirkan kalender Islam yang lebih terpadu, memiliki kepastian jauh hari sebelumnya, dan bisa digunakan secara internasional,” jelas Sarif. Secara astronomis, ijtimak terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12.01 UTC atau sekitar pukul 19.01 WIB. Momentum konjungsi tersebut menandai berakhirnya bulan sebelumnya sekaligus awal terbentuknya hilal. Pada saat itu, parameter KHGT disebut telah terpenuhi di Alaska, Amerika Serikat. Dalam sistem kalender global tersebut, terpenuhinya kriteria di satu wilayah menjadi dasar pemberlakuan awal bulan secara internasional. “Dalam sistem KHGT, ketika hilal sudah memenuhi parameter secara definitif di satu wilayah di bumi, maka ketetapan awal bulan berlaku global. Tidak dibatasi oleh teritorial negara,” tegas Sarif. Namun, kondisi di Indonesia saat matahari terbenam pada 17 Februari 2026 berbeda. Posisi hilal masih berada di bawah ufuk sehingga belum memenuhi kriteria imkan rukyat yang digunakan pemerintah melalui Kementerian Agama. “Secara astronomis, hilal di Indonesia memang belum memenuhi kriteria MABIMS. Karena itu, pemerintah kemungkinan menetapkan awal Ramadan pada 19 Februari 2026 setelah proses rukyat dan sidang isbat,” papar Sarif. Pemantauan hilal ilustrasi. Dok Metrotvnews.com Sarif menekankan bahwa perbedaan tersebut murni terkait metodologi falak dan cakupan keberlakuannya. Muhammadiyah menggunakan hisab global yang bersifat definitif, sementara pemerintah mengombinasikan hisab dan rukyat dalam batas wilayah Indonesia. “Perbedaan ini bukan perbedaan akidah ataupun esensi ibadah. Ini murni perbedaan teknis dalam implementasi metodologi falak dan cakupan keberlakuannya,” kata Sarif. Dari sisi fikih, penerapan KHGT merujuk pada konsep ittihad al-mathali’ atau kesatuan matlak global. Konsep ini memandang bahwa jika hilal telah terbukti secara ilmiah di satu wilayah, maka umat Islam dapat mengikutinya secara bersama-sama. Ia pun mengajak masyarakat menyikapi perbedaan awal Ramadan dengan dewasa. “Yang terpenting adalah menjaga ukhuwah, menghormati keputusan otoritas masing-masing, dan tetap fokus pada kualitas ibadah Ramadan,” ujar Sarif.
Awali Ramadan, UMM Gelar Tarawih Perdana dan Ceramah “Marhaban Ya Ramadan”

Tarawih hari pertama di Masjid Ar-Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang pada Rabu (17/2/2026). Foto: Tria Adha/TIMES Indonesia. Times Indonesia – MALANG – Masjid Ar-Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memulai rangkaian kegiatan Ramadan dengan pelaksanaan salat Tarawih perdana pada Senin malam (17/2/2026). Sebelum ibadah dimulai, pengurus masjid menyampaikan sejumlah informasi teknis dan agenda kegiatan selama bulan suci kepada jemaah. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen Masjid Ar-Fachruddin UMM dalam menghadirkan program ibadah dan kajian yang terstruktur serta terbuka bagi civitas akademika dan masyarakat umum. Selama Ramadan, masjid menggelar beragam kajian keislaman, meliputi ceramah Tarawih, kajian ba’da Subuh, ba’da Zuhur, kajian menjelang berbuka puasa, serta muhasabah dan salat Qiyamul Lail pada sepuluh malam terakhir. Rangkaian tersebut dirancang untuk memperkuat dimensi spiritual sekaligus memperluas akses pembelajaran keagamaan bagi jemaah. Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) juga bekerja sama dengan Komunitas Berbuat Baik menghadirkan program berbuka puasa gratis setiap hari bagi jemaah yang mengikuti kajian menjelang magrib. Program tahunan ini diharapkan mempererat kebersamaan sekaligus mendorong semangat berbagi selama Ramadan. Untuk pelaksanaan salat Tarawih, panitia menetapkan format empat-empat-tiga, yakni delapan rakaat Tarawih dan tiga rakaat Witir. Khusus malam pertama, ibadah diawali dengan salat Iftitah dua rakaat ringan yang dipimpin imam. Bertindak sebagai imam pada malam perdana tersebut adalah Ustaz Wahyu Ramdhani. Sebelum Tarawih dimulai, jemaah mengikuti ceramah bertema “Marhaban Ya Ramadan” yang disampaikan Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., sebagai pengantar spiritual menyambut bulan suci. (*)
Shalat tarawih pertama warga Muhammadiyah di Malang

Warga Muhammadiyah melaksanakan shalat tarawih berjamaah pertama di Masjid AR Fachruddin, Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, Selasa (17/2/2026). Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui maklumat menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu (18/2/2026) berdasarkan hisab yang kini berbasis Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), bukan lagi wujudul hilal, sehingga warga Muhammadiyah mulai menjalankan ibadah puasa pada hari tersebut. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/foc.