Music Video Salma Salsabil Trending 1 YouTube, Ternyata Sutradaranya Alumni UMM

KLIKMU.CO – Sineas kebanggaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prialangga, kembali menorehkan prestasi gemilang di industri kreatif nasional. Alumni Program Studi Ilmu Komunikasi ini sukses membawa wajah Kota Malang memuncaki trending satu YouTube melalui karya terbarunya sebagai sutradara music video (MV) “Hatchu!!” milik Salma Salsabil. Keberhasilan karya yang telah menembus lebih dari 1,7 juta penonton tersebut semakin mengukuhkan eksistensinya setelah sebelumnya menuai sukses besar lewat MV “Bahasa Kalbu” milik Raisa. Lebih dari sekadar pencapaian komersial, Prialangga menjadikan proyek kolosal ini sebagai panggung apresiasi bagi daerah asalnya. Ia menyulap berbagai sudut ikonik Kota Malang menjadi latar visual yang dinamis. Tak hanya itu, sutradara yang telah menggarap lebih dari 200 MV ini juga menggandeng puluhan talenta lokal lintas generasi, mulai dari musisi seperti Sambadha (Coldiac) dan Onedink (SATCF), hingga kreator konten seperti Rizky Boncell dan Canda Cendol. Menurut Prialangga, pelibatan talenta lokal tersebut merupakan wujud dedikasinya untuk mengenalkan potensi besar Malang kepada khalayak yang lebih luas, sekaligus menyampaikan pesan mendalam tentang realitas para pekerja keras. “Lewat MV ini, saya ingin mengenalkan Malang yang kaya akan potensi tempat berkreasi, sekaligus melibatkan orang-orang yang menurut saya sangat berpotensi dikenal lebih luas. Ini juga untuk menggambarkan makna lagu tentang realitas kehidupan para pekerja yang mengejar mimpi di tengah tekanan rutinitas pekerjaan,” ungkapnya. Reputasi Prialangga sebagai sutradara andalan musisi papan atas seperti NOAH, Rossa, Slank, hingga JKT48 tentu tidak dibangun dalam semalam. Mengawali karier dari skena musik independen Malang, ia menyadari bahwa ritme industri yang kompetitif menuntut kesiapan mental dan keterampilan teknis yang mumpuni. Ia mengakui, kemampuan adaptasinya di dunia profesional yang dinamis sangat dipengaruhi oleh sistem pembelajaran aplikatif selama menempuh pendidikan di Kampus Putih. “Secara ilmu, yang paling berkesan dan terasa manfaatnya sampai sekarang adalah saat kuliah kami benar-benar diajarkan praktik secara intensif, tidak melulu teori. Itu membuat saya lebih siap ketika memasuki industri ini,” ujarnya. Di luar keterampilan teknis, pria tersebut menyebut jejaring sebagai modal yang tak kalah berharga. Sejak menjadi mahasiswa, alih-alih pasif, ia proaktif memproduksi film pendek dan membangun relasi lintas kampus. Ia menekankan bahwa kualitas karya yang baik harus diimbangi dengan ekosistem kepercayaan antarpekerja kreatif agar mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan industri. “Relasi menjadi faktor krusial. Kualitas karya memang penting, tetapi kepercayaan melalui jejaring sering kali menjadi pintu masuk utama di industri kreatif. Karena itu, jangan menutup diri, cari teman sebanyak-banyaknya, terus belajar, dan bangun relasi dengan siapa pun,” paparnya. Kiprah panjang Prialangga menjadi bukti nyata bahwa putra daerah mampu bersaing dan menembus level tertinggi industri kreatif nasional. Sebagai penutup, ia berpesan kepada seluruh mahasiswa dan generasi muda agar tidak pernah ragu untuk memulai dan pantang berhenti berkarya. Berbekal konsistensi, kesabaran, serta kemauan kuat untuk terus berproses, setiap dedikasi pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri menuju puncak kesuksesan.

MV Hatchu!! Trending: Prialangga Buktikan Kualitas Lulusan UMM di Industri Kreatif dan Tak Lupakan Potensi Lokal

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Sineas kebanggaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prialangga, menorehkan prestasi gemilang lagi di industri kreatif nasional. Lulusan Program Studi Ilmu Komunikasi ini sukses membawa wajah Kota Malang memuncaki trending satu YouTube lewat karya terbarunya sebagai sutradara music video (MV) ‘Hatchu!!’ milik penyanyi Salma Salsabil. Keberhasilan karya yang telah menembus lebih dari 1,7 juta penonton ini semakin mengukuhkan eksistensinya setelah sebelumnya menuai sukses besar lewat MV ‘Bahasa Kalbu’ milik Raisa. Lebih dari sekadar pencapaian komersial, Prialangga menjadikan proyek kolosal ini sebagai panggung apresiasi bagi daerah asalnya. Ia menyulap berbagai sudut ikonik Kota Malang menjadi latar visual yang dinamis. Sutradara yang telah menggarap lebih dari 200 MV ini turut menggandeng puluhan talenta lokal lintas generasi, mulai dari musisi seperti Sambadha (Coldiac) dan Onedink (SATCF), hingga kreator konten seperti Rizky Boncell dan Canda Cendol. Menurut Prialangga, pelibatan talenta lokal ini merupakan wujud dedikasinya untuk mengenalkan potensi besar Malang ke audiens luas, sembari menyampaikan pesan mendalam tentang realita para pekerja keras. “Lewat MV ini, saya ingin mengenalkan Malang yang kaya akan potensi tempat berkreasi, sekaligus melibatkan orang-orang yang menurut saya sangat berpotensi dikenal lebih luas. Ini juga untuk menggambarkan makna lagu tentang realita kehidupan para pekerja yang mengejar mimpi di tengah tekanan rutinitas pekerjaan,” ungkap Prialangga pada rilis UMM, Senin (22/6). Reputasi Prialangga sebagai sutradara andalan musisi papan atas seperti NOAH, Rossa, Slank, hingga JKT48 tentu tidak dibangun dalam semalam. Mengawali karier dari skena musik independen Malang, ia menyadari bahwa ritme industri yang kompetitif menuntut kesiapan mental dan keterampilan teknis yang mumpuni. Ia mengakui, kemampuan adaptasinya di dunia profesional yang dinamis ini sangat dipengaruhi oleh sistem pembelajaran aplikatif selama menempuh pendidikan di Kampus Putih. “Secara ilmu, yang paling berkesan dan terasa manfaatnya sampai sekarang adalah dulu saat kuliah kami benar-benar diajarkan praktik terus, tidak melulu tentang teori. Itu membuat saya lebih siap ketika memasuki industri ini,” bebernya. Di luar keterampilan teknis, pria itu menyebut jejaring sebagai modal yang tak kalah berharga. Sejak menjadi mahasiswa, alih-alih pasif, ia proaktif memproduksi film pendek dan membangun relasi lintas kampus. Ia menekankan bahwa kualitas karya yang baik harus senantiasa diimbangi dengan ekosistem kepercayaan antar pekerja kreatif agar mampu bertahan di ketatnya persaingan ibu kota. “Relasi menjadi faktor krusial. Kualitas karya memang penting, tetapi kepercayaan melalui jejaring sering kali menjadi pintu masuk utama di industri kreatif. Karena itu, jangan menutup diri, cari teman sebanyak-banyaknya, terus belajar, dan bangun relasi dengan siapa pun,” jelasnya. Prialangga, sutradara video musik lulusan Universitas Muhammadiyah Malang./dok.UMM Kiprah panjang Prialangga menjadi bukti nyata bahwa putra daerah mampu mendobrak dan bersaing di level tertinggi industri kreatif nasional. Ia juga berpesan kepada seluruh mahasiswa dan generasi muda untuk tidak pernah ragu memulai dan pantang berhenti berkarya. Berbekal konsistensi, kesabaran, dan kemauan keras untuk terus berproses, setiap dedikasi pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri menuju puncak kesuksesan.

PSIB UMM Hadirkan Pakar dari Inggris, Bekali Mahasiswa Agar Tidak Mudah Terbawa Narasi Provokatif

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjawab krisis epistemik dengan melakukan Kajian Islam Multidisipliner pada Senin (22/6). Kajian ini merespons situasi dominasi peradaban Barat dalam produksi ilmu pengetahuan yang terus menjadi ancaman serius bagi kemandirian akademisi di negara-negara berkembang. Kajian ini pun dirancang PSIB dengan berkolaborasi bersama Program Studi Hubungan Internasional (HI) UMM untuk menghadirkan Dr. Mohammad Ilyas, pakar dari University of Derby, Inggris. Forum internasional ini bertajuk Producing Knowledge from the Global South: Challenges for Muslim Scholars dan digelar secara luring di Aula Masjid A.R. Fachruddin UMM. Acara ini membedah tegas bagaimana semestinya cendekiawan muslim bersikap di tengah kepungan hegemoni Barat. Dalam forum, Ilyas secara tajam membongkar realitas dominasi Global North (Barat) yang memicu suburnya fenomena captive mind atau pemikiran tertawan di kalangan intelektual. Ia menjelaskan, hegemoni kultural dan akademik ini secara tidak sadar membuat cendekiawan lokal terbelenggu oleh teori-teori impor. Akibatnya, mereka kesulitan melahirkan inovasi dan memproduksi pengetahuan yang benar-benar relevan dengan realitas sosio-kultural bangsanya sendiri. Pembebasan dari jerat pemikiran ini dinilai sebagai syarat mutlak untuk membangun kemajuan. “Kita harus menyadari bahwa selama ini kita terbiasa melihat dunia menggunakan kacamata buatan Barat. Pola pikir yang terjajah inilah yang harus segera kita dekonstruksi dengan memperbanyak literatur dari pemikir lokal kita,” ungkap Ilyas. Pria yang akrab disapa Elias ini juga menyoroti fenomena ironis akademisi di negara berkembang. Banyak dari mereka berlomba-lomba mempublikasikan karya ilmiah di jurnal internasional berbahasa Inggris demi pengakuan, namun secara perlahan mulai abai pada bahasa ibu. Menurutnya, peminggiran terhadap publikasi berbahasa lokal sangat berbahaya karena berpotensi memicu pemusnahan epistemik secara sistematis dan menghilangkan fungsi bahasa asli sebagai pengantar keilmuan. “Mempublikasikan karya dalam bahasa Inggris memang bagus untuk standar global, tetapi jika kita mengabaikan jurnal berbahasa lokal, kualitas akademik di negeri sendiri tidak akan berkembang karena sekadar mereproduksi budaya kolonialisme,” ujarnya. Upaya dekonstruksi pemikiran rancu dari Barat juga ditekankan Elias saat memandang isu terorisme, yang selama ini selalu distereotipkan secara sepihak dengan ajaran Islam. Ia membantah keras narasi provokatif tersebut dan menegaskan bahwa fenomena kekerasan sejatinya berakar dari ketimpangan struktural, kemiskinan ekstrem, serta eskalasi konflik politik. Simbol agama, menurutnya, sering kali hanya dieksploitasi oleh segelintir oknum sebagai alat legitimasi demi menggalang simpati massa. “Terorisme tidak disebabkan oleh agama apa pun. Pelaku kekerasan hanya meminjam bahasa agama untuk mencari simpati, sementara akar konflik sebenarnya adalah murni persoalan ketidakadilan sosial di masyarakat,” tegasnya di hadapan ratusan audiens yang hadir. Kolaborasi strategis lewat kajian keilmuan ini menjadi bukti nyata komitmen Kampus Putih UMM dalam membekali mahasiswa agar tangguh menghadapi arus hegemoni global. Melalui diskursus yang mencerahkan ini, sivitas akademika didorong untuk tidak sekadar duduk manis menjadi konsumen pasif dari teori-teori asing. Pesan utamanya jelas yakni ke depan, generasi muda UMM dituntut berani memegang estafet sebagai cendekiawan muslim yang proaktif memproduksi pengetahuan autentik, memecahkan persoalan ketimpangan di masyarakat, serta memberi kontribusi nyata bagi kebangkitan peradaban bangsa yang mandiri.

Visiting Professor Program UMM: Perkuat Pendidikan Islam Global melalui Harmoni Khazanah Nusantara

pwmu.co –Lanskap pendidikan Islam di era kontemporer diperhadapkan pada tiga tantangan krusial. Yaitu disrupsi transformasi digital dengan banjir informasi, realitas demografi majemuk yang menuntut moderasi beragama, serta krisis lintas budaya yang memerlukan dialog peradaban yang intens.Merespons dinamika global ini, Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Visiting Professor Program yang menghadirkan diskursus mendalam dari dua pakar lintas negara. Mereka adalah Prof Dr Abu Muslim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia, serta Prof Dr Khadijah binti Mohd Khambali dari Universiti Malaya, Malaysia. Pertemuan akademik ini berhasil memetakan reposisi penting pendidikan Islam, mulai dari penguatan akar epistemologi lokal hingga reformasi radikal pada metodologi pembelajaran dunia siber. Rekonstruksi Epistemologi Islam Nusantara dan Nilai Moderasi Prof Dr Abu Muslim mengawali elaborasi dengan membedah khazanah epistemologi Islam Nusantara yang berpijak pada tradisi pemikiran para ulama lokal. Jejak historis ini bermula dari strategi dakwah Walisongo yang berhasil mendialogkan ajaran Islam dengan kearifan lokal, melahirkan manifestasi keberagamaan yang anti-kekerasan, serta meletakkan fondasi toleransi di bumi Nusantara. Kontribusi kultural tersebut kemudian dilanjutkan oleh dua organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia. Nahdlatul Ulama (NU) menawarkan epistemologi “Pribumisasi Islam” yang ramah terhadap budaya lokal. Sementara Muhammadiyah mengusung konsep “Islam Berkemajuan” yang mentransformasikan doktrin agama menjadi amal usaha nyata di sektor pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Meskipun bergerak dengan corak berbeda, keduanya berhasil membuktikan bahwa agama dapat hadir sebagai problem solver yang inklusif untuk mewujudkan transformasi sosial. Implikasi nyata dari penguatan khazanah ini adalah lahirnya paradigma baru dalam pendidikan Islam yang mampu menangkal konflik sektarian, memperkuat komitmen kebangsaan (nasionalisme), serta menanamkan moderasi beragama melalui wadah kolaboratif seperti Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Lebih jauh, Prof Abu Muslim menekankan fleksibilitas beragama dalam aspek muamalah melalui metode adaptif Amati, Tiru, dan Modifikasi (ATM) atau yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai “Niteni, Nirokke, Nambahi” (3N). Di era digital, warisan intelektual ini tidak boleh dibiarkan usang; digitalisasi manuskrip sejarah dan karya klasik para ulama harus digalakkan agar integrasi keilmuan Islam tetap relevan di dunia maya. Sekaligus, menjadi penapis narasi radikalisme demi menyongsong visi Indonesia Emas 2045. Namun, kekayaan substansi Islam Nusantara ini menuntut adanya revolusi pada sistem penyampaiannya di ruang kelas. Di sinilah Prof Dr Khadijah binti Mohd Khambali memberikan kritik tajam terhadap sistem pendidikan konvensional yang stagnan. Pembelajaran tradisional yang berpusat pada pendidik, mengutamakan hafalan tekstual, dan melanggengkan praktik taklid tanpa konteks, dinilai berada pada tingkat kognitif terendah. Praktik ini dikritik keras dalam Surah Al-Baqarah: 170 karena berisiko melahirkan lulusan yang hanya meniru hukum masa lalu tanpa mampu menjawab tantangan dunia kontemporer. Sebagai solusinya, Prof Khadijah menawarkan pergeseran epistemologi menuju pendidikan futuristik melalui metode Problem-Based Learning (PBL). Melalui PBL, peran pendidik bergeser menjadi fasilitator, sementara pelajar dituntut aktif sebagai penyelesai masalah dan kolaborator. Pendekatan ini secara otomatis mendongkrak kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS)—meliputi kemampuan menganalisis, mensintesis, dan menilai—sehingga teori tidak lagi terasing dari krisis industri yang nyata. Secara historis, PBL bukanlah konsep barat yang asing, melainkan manifestasi modern dari amalan Ijtihad yang bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah, dan penalaran akal budi, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW dalam hadis Mu’adh bin Jabal. Metode ini mempertemukan konsep Al-Fikr Al-Mustaqbali (pemikiran berorientasi masa depan, seperti proyeksi ekonomi Nabi Yusuf a.s.) dengan teori Konstruktivisme Sosial. Melalui lima fase navigasinya—orientasi, organisasi, investigasi, presentasi, serta analisis—PBL tidak hanya melatih kedalaman analisis akademis, tetapi juga berfungsi sebagai penapis kognitif era digital untuk menilai otoritas sumber (sanad) sekaligus memupuk adab berbeda pendapat dalam masyarakat majemuk. Pada akhirnya, sinergi antara nilai moderasi Islam Nusantara dan metodologi futuristik berbasis PBL di lingkungan belajar hibrida menjadi mandat penting kelangsungan peradaban. Melalui integrasi kurikulum yang berakar pada tradisi namun tanggap terhadap disrupsi teknologi, dunia pendidikan Islam siap mencetak lulusan holistik yang memiliki keseimbangan sempurna antara Akidah, Syariah, dan Akhlak yang relevan dengan kemajuan zaman.

Dua Kampus Muhammadiyah Jatim Bersinar di Anugerah Kampus Unggul 2026

pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) meraih penghargaan sebagai kampus terbaik di bidang penelitian dan pengabdian dalam ajang Anugerah Kampus Unggul (AKU) 2026. Penghargaan tersebut diberikan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII pada Senin (22/6/2026). Dalam ajang tersebut, UMM meraih penghargaan pada kategori penerima program hibah penelitian dengan pendanaan dan jumlah judul terbanyak tahun 2026. Sementara itu, Umsura meraih penghargaan pada kategori penerima program hibah pengabdian kepada masyarakat dengan pendanaan dan jumlah judul terbanyak tahun 2026. Capaian ini menegaskan komitmen kedua kampus Muhammadiyah tersebut dalam menjaga mutu riset sekaligus mengimplementasikan tridharma perguruan tinggi secara nyata. Penghargaan diserahkan langsung oleh Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M., dalam Rapat Kerja Pimpinan (Rakerpim) Perguruan Tinggi dan Anugerah Kampus Unggul 2026 yang digelar di Hotel Morazen Surabaya. Dalam sambutannya, Dyah mengatakan Rakerpim tahun ini mengusung tema “Peranan Strategis Indikator Kinerja Utama untuk Kampus Berdampak.” Tema tersebut, kata dia, diimplementasikan secara nyata melalui program “Kakak Tangguh”, akronim dari Kampus untuk Komunitas Lebih Tangguh. “Program ini merupakan inisiatif strategis yang diluncurkan LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur untuk mendorong perguruan tinggi agar menghadirkan dampak nyata dan terukur bagi masyarakat. Program ini bahkan telah dipresentasikan hingga tingkat pemerintah pusat,” je;as Dyah. Lebih lanjut, Dyah menjelaskan bahwa Program Kakak Tangguh merupakan konsep penguatan peran perguruan tinggi melalui pemetaan wilayah dan kebutuhan riil masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, kampus tidak lagi sekadar menjadi pusat teori akademik, melainkan juga aktor utama dalam pembangunan daerah. Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, Prof. Mundakir, mengatakan penghargaan tersebut merupakan buah dari kerja kolektif seluruh sivitas akademika Umsura di bawah koordinasi Lembaga Riset, Inovasi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (LRIPM) yang selama ini berkomitmen menghadirkan program pengabdian kepada masyarakat secara nyata, relevan, dan berkelanjutan. “Pengabdian bukan sekadar kewajiban tridharma, tetapi bentuk tanggung jawab dalam menciptakan dampak yang nyata bagi masyarakat,” ujar Mundakir. Ia menegaskan, capaian tersebut menjadi motivasi bagi Umsura untuk terus memperkuat kualitas dan dampak program pengabdian, khususnya dalam pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, penghargaan ini juga menegaskan posisi Umsura sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pengembangan akademik dan riset, tetapi juga kuat dalam menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. “Alhamdulillah, selama ini program pengabdian Umsura dinilai berhasil menjawab kebutuhan riil masyarakat, mulai dari pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal, penguatan pendidikan dan literasi, hingga inovasi teknologi tepat guna,” imbuhnya. Ke depan, Umsura akan terus mendorong kolaborasi dosen dan mahasiswa agar pengabdian yang dilakukan tidak hanya memenuhi indikator kinerja, tetapi benar-benar memberi manfaat luas dan berkontribusi pada pembangunan masyarakat.

Hadirkan Pakar dari Inggris, PSIB UMM Bekali Mahasiswa agar Tidak Mudah Terbawa Narasi Provokatif

pwmu.co –Dominasi peradaban Barat dalam produksi ilmu pengetahuan dinilai masih menjadi tantangan serius bagi kemandirian akademik negara-negara berkembang. Menjawab persoalan tersebut, Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) berkolaborasi dengan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Kajian Islam Multidisipliner bertajuk Producing Knowledge from the Global South: Challenges for Muslim Scholars. Kegiatan yang berlangsung di Aula Masjid A.R. Fachruddin UMM, Senin (22/6/2026), menghadirkan pakar dari University of Derby, Inggris, Dr. Mohammad Ilyas. Forum tersebut membahas tantangan yang dihadapi cendekiawan Muslim dalam membangun tradisi keilmuan yang mandiri di tengah dominasi pemikiran dan teori yang berkembang di negara-negara Barat. Dalam pemaparannya, Dr. Mohammad Ilyas menjelaskan bahwa dominasi Global North atau negara-negara Barat telah melahirkan fenomena captive mind atau pemikiran tertawan di kalangan akademisi negara berkembang. Menurutnya, hegemoni kultural dan akademik yang berlangsung selama ini membuat banyak intelektual lokal tanpa sadar terjebak dalam penggunaan teori-teori impor yang belum tentu relevan dengan realitas sosial dan budaya di negaranya masing-masing. Akibatnya, kemampuan untuk melahirkan inovasi dan menghasilkan pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal menjadi terhambat. “Kita harus menyadari bahwa selama ini kita terbiasa melihat dunia menggunakan kacamata buatan Barat. Pola pikir yang terjajah inilah yang harus segera kita dekonstruksi dengan memperbanyak literatur dari pemikir lokal kita,” urainya. Ia menegaskan bahwa pembebasan dari pola pikir tersebut merupakan langkah penting untuk membangun kemajuan ilmu pengetahuan yang lebih mandiri dan kontekstual. Selain menyoroti dominasi teori Barat, akademisi yang akrab disapa Elias itu juga mengkritisi kecenderungan akademisi di negara berkembang yang lebih mengejar publikasi pada jurnal internasional berbahasa Inggris dibandingkan mengembangkan publikasi ilmiah dalam bahasa lokal. Menurutnya, publikasi internasional memang penting untuk memperluas jangkauan ilmu pengetahuan. Namun, pengabaian terhadap jurnal dan literatur berbahasa lokal berpotensi melemahkan perkembangan tradisi akademik di dalam negeri. “Mempublikasikan karya dalam bahasa Inggris memang bagus untuk standar global, tetapi jika kita mengabaikan jurnal berbahasa lokal, kualitas akademik di negeri sendiri tidak akan berkembang karena sekadar mereproduksi budaya kolonialisme,” tegasnya. Ia mengingatkan bahwa bahasa lokal memiliki peran strategis sebagai medium pengembangan ilmu pengetahuan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Dalam kesempatan tersebut, Elias juga menyoroti isu terorisme yang kerap dikaitkan dengan Islam. Ia menilai narasi tersebut merupakan bentuk penyederhanaan persoalan yang tidak tepat karena mengabaikan faktor-faktor sosial yang lebih kompleks. Menurutnya, berbagai tindakan kekerasan lebih banyak dipicu oleh ketimpangan struktural, kemiskinan, serta konflik politik yang berkepanjangan. “Terorisme tidak disebabkan oleh agama apa pun. Pelaku kekerasan hanya meminjam bahasa agama untuk mencari simpati, sementara akar konflik sebenarnya adalah murni persoalan ketidakadilan sosial di masyarakat,” paparnya. Karena itu, mahasiswa dan akademisi perlu memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah menerima narasi yang bersifat provokatif maupun stereotip terhadap kelompok tertentu. Kolaborasi antara PSIB dan Program Studi HI UMM ini menjadi bagian dari komitmen Kampus Putih untuk memperkuat kapasitas intelektual mahasiswa dalam menghadapi berbagai tantangan global. Melalui forum akademik tersebut, mahasiswa didorong tidak hanya menjadi konsumen teori dan pengetahuan yang dihasilkan pihak lain, tetapi juga mampu menjadi produsen ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Selain itu, generasi muda diharapkan mampu berkontribusi dalam menghadirkan solusi atas berbagai persoalan sosial, sekaligus memperkuat peran cendekiawan Muslim dalam membangun peradaban yang mandiri dan berkemajuan. Melalui diskursus yang kritis dan mencerahkan, UMM terus berupaya melahirkan lulusan yang tidak mudah terbawa arus narasi provokatif, tetapi mampu melihat persoalan secara objektif, ilmiah, dan berkeadaban.

Alumni UMM Prialangga Sukses Bawa MV Hatchu!! Puncaki Trending YouTube

pwmu.co –Alumni Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prialangga, kembali mencatatkan prestasi di industri kreatif nasional. Sineas asal Malang tersebut sukses membawa music video (MV) Hatchu!! milik Salma Salsabil menempati posisi trending nomor satu di YouTube. Karya yang telah ditonton lebih dari 1,7 juta kali itu semakin memperkuat kiprah Prialangga setelah sebelumnya juga meraih perhatian publik melalui MV Bahasa Kalbu milik Raisa. Dalam proyek terbarunya, Prialangga tidak hanya berfokus pada pencapaian karya secara kreatif. Ia juga memanfaatkan MV tersebut untuk memperkenalkan berbagai potensi yang dimiliki Kota Malang kepada audiens yang lebih luas. Beragam lokasi ikonik di Kota Malang ditampilkan sebagai latar visual dalam video musik tersebut. Selain itu, Prialangga juga melibatkan puluhan talenta lokal dari berbagai bidang. Sejumlah nama yang terlibat antara lain Sambadha dari Coldiac, Onedink dari SATCF, hingga kreator konten Rizky Boncell dan Canda Cendol. Menurut Prialangga, keterlibatan para talenta lokal tersebut merupakan bentuk apresiasinya terhadap potensi kreatif yang dimiliki Kota Malang sekaligus mendukung pesan yang ingin disampaikan melalui lagu tersebut. “Lewat MV ini, saya ingin mengenalkan Malang yang kaya akan potensi tempat berkreasi, sekaligus melibatkan orang-orang yang menurut saya sangat berpotensi dikenal lebih luas. Ini juga untuk menggambarkan makna lagu tentang realita kehidupan para pekerja yang mengejar mimpi di tengah tekanan rutinitas pekerjaan,” ungkapnya. Prialangga dikenal sebagai sutradara yang telah menggarap lebih dari 200 video musik dan bekerja sama dengan berbagai musisi ternama Indonesia, seperti NOAH, Rossa, Slank, hingga JKT48. Perjalanannya di industri kreatif bermula dari skena musik independen Kota Malang. Ia menilai pengalaman belajar selama menempuh pendidikan di UMM menjadi bekal penting dalam menghadapi dunia kerja yang kompetitif. “Secara ilmu, yang paling berkesan dan terasa manfaatnya sampai sekarang adalah dulu saat kuliah kami benar-benar diajarkan praktik terus, tidak melulu tentang teori. Itu membuat saya lebih siap ketika memasuki industri ini,” ujarnya. Selain kemampuan teknis, Prialangga juga menilai jejaring atau relasi memiliki peran penting dalam membangun karier di industri kreatif. Sejak masih menjadi mahasiswa, ia aktif memproduksi film pendek dan membangun hubungan dengan berbagai komunitas kreatif. Menurutnya, kualitas karya perlu didukung dengan kepercayaan yang dibangun melalui relasi yang baik. “Relasi menjadi faktor krusial. Kualitas karya memang penting, tetapi kepercayaan melalui jejaring sering kali menjadi pintu masuk utama di industri kreatif. Karena itu, jangan menutup diri, cari teman sebanyak-banyaknya, terus belajar, dan bangun relasi dengan siapa pun,” paparnya. Prialangga berharap mahasiswa dan generasi muda tidak ragu untuk memulai berkarya serta terus mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Menurutnya, konsistensi, kesabaran, dan kemauan untuk terus berproses menjadi kunci dalam mencapai kesuksesan di bidang yang ditekuni.

Mahasiswa UMM Ubah Cara Belajar Sejarah di Museum Singhasari Jadi Edukasi Interaktif

Mediakompeten-Pembelajaran sejarah yang biasanya identik dengan aktivitas menghafal tahun dan membaca buku teks tebal kini dikemas secara berbeda. Dikutip dari Detikcom, Museum Singhasari yang terletak di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, menyajikan suasana baru yang lebih interaktif. Sebanyak 21 sekolah yang berbatasan langsung dengan area museum terlibat dalam kegiatan ini, meliputi 13 Sekolah Dasar (SD) dan 8 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ratusan siswa terlihat antusias mengeksplorasi ruang pameran, mencoba memanah virtual, hingga menikmati jajanan pasar tradisional. Kegiatan edukatif bernama KERSANI (Kenali Sejarah di Museum Singhasari) tersebut diinisiasi oleh mahasiswa Praktikum Public Relations 3 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berkolaborasi dengan pihak pengelola museum melalui kampanye bertajuk ‘Singhasari Hits Different S Ketua Pelaksana Kersani Syakila Dewi Mujizatul menjelaskan bahwa program ini dirancang khusus demi mendobrak anggapan bahwa mempelajari sejarah adalah hal yang menjemukan. Pihaknya berupaya menyajikan pengalaman langsung yang mengaktifkan seluruh panca indra para peserta. “Kalau di program KERSANI, kami berusaha bikin belajar sejarah jadi lebih seru dan tidak cuma fokus pada teori. Peserta diajak mengenal sejarah lewat pengalaman langsung, seperti main permainan tradisional, mencoba makanan tradisional, dan ikut tour museum yang dikemas dengan diskusi bareng teman satu kelompok,” ujar Syakila Dewi. Saat mengikuti tur museum, para peserta dapat mengamati arca serta aneka benda peninggalan bersejarah secara langsung sembari mendengarkan paparan dari edukator. “Selain itu, kami juga meluncurkan website interaktif yang bisa membantu proses belajar sejarah dengan cara yang lebih menarik,” ujar Syakila. Salah satu daya tarik utama dari acara ini adalah wahana MUSTAKA, sebuah inovasi yang memadukan sejarah lokal dengan pemanfaatan teknologi modern. Melalui MUSTAKA, para siswa ditantang untuk memainkan gim interaktif yang dilengkapi teknologi sensor gerak. “KERSANI juga menggabungkan sejarah dengan teknologi lewat program MUSTAKA. MUSTAKA adalah permainan interaktif yang mengajak peserta berperan sebagai tokoh Ken Arok dan Ken Dedes dalam aktivitas memanah,” kata Syakila. Melalui bantuan sensor gerak tersebut, peserta dapat meniru gerakan yang muncul pada layar animasi sehingga proses belajar terasa lebih aktif, seru, dan menyenangkan. “Walaupun dikemas dalam bentuk permainan, peserta tetap bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang Ken Arok dan Ken Dedes dengan cara yang lebih interactif dan mudah dipahami,” tutur Syakila. Berbeda dengan kunjungan konvensional yang bersifat pasif, KERSANI menerapkan sistem Kartu Misi yang mengharuskan siswa bersama guru pendamping menjelajahi koleksi museum dalam format kelompok. Komposisi anggota kelompok sengaja diacak dari sekolah berbeda guna melatih kemampuan kerja sama dan sosialisasi. Sebelum menjalankan misi, para peserta diperkenalkan terlebih dahulu dengan situs resmi milik Museum Singhasari yang baru saja dirilis. Situs web ini menyediakan informasi komprehensif mengenai Kerajaan Singhasari yang dirancang agar dapat diintegrasikan sebagai media pembelajaran interaktif pada mata pelajaran IPAS tingkat SD dan IPS tingkat SMP. Di saat para siswa sibuk menyelesaikan misi serta mencoba stan MUSTAKA, para guru pendamping berkumpul di pendopo museum untuk mengikuti sesi berbagi (sharing session) terkait optimalisasi fungsi museum sebagai ruang belajar alternatif. Langkah inovatif dari para mahasiswa UMM ini pun mendapatkan apresiasi positif dari pihak pengelola karena dinilai menyajikan konsep yang matang sejak awal perencanaannya. “Saya mengikuti proses kegiatan ini sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Hasilnya sangat baik dan menunjukkan bahwa belajar sejarah dapat dilakukan dengan cara yang lebih menarik serta mudah diterima oleh siswa,” kata Kepala Museum Singhasari Yossy Indra Hardyanto. Dukungan serupa juga disampaikan oleh Pemerintah Kecamatan Singosari yang menganggap kegiatan interaktif seperti ini sangat krusial dalam menjaga kelestarian identitas daerah bagi generasi muda. “Kami menyambut baik kegiatan KERSANI karena membantu mengenalkan kembali sejarah Singhasari kepada generasi muda melalui pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan,” ujar Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial dan Kepemudaan Kecamatan Singosari, Abid RH.

Mahasiswa Hukum UMM Perkuat Kompetensi Lewat Magang PERADI

Kabar Baru, Mojokerto – Fania Fazelian, mahasiswa Program Studi Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengikuti program magang di Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) Mojokerto sebagai bagian dari upaya meningkatkan kompetensi akademik dan keterampilan praktik di bidang hukum. Program ini menjadi sarana bagi Fania untuk memperoleh pengalaman langsung mengenai dunia profesi advokat serta dinamika penegakan hukum yang berlangsung di tengah masyarakat. Kegiatan magang tersebut dilaksanakan sebagai bentuk implementasi pembelajaran berbasis praktik yang bertujuan menjembatani pemahaman teoritis yang diperoleh di bangku perkuliahan dengan realitas hukum di lapangan. Melalui program ini, Fania diberikan kesempatan untuk mengenal lebih dekat berbagai aspek profesi advokat, mulai dari pendampingan hukum, penyusunan dokumen perkara, hingga proses penanganan kasus yang dilakukan oleh para praktisi hukum. Selama menjalani magang, Fania terlibat dalam berbagai aktivitas yang berkaitan dengan pelayanan hukum kepada masyarakat. Ia memperoleh pemahaman mengenai prosedur konsultasi hukum, mekanisme penyelesaian sengketa, serta proses administrasi yang menjadi bagian penting dalam praktik advokat. Pengalaman tersebut memberikan gambaran nyata mengenai tanggung jawab dan tantangan yang dihadapi profesi hukum dalam menjalankan tugasnya. Ketua DPC PERADI Mojokerto menyambut baik kehadiran Fania sebagai peserta magang dari Universitas Muhammadiyah Malang. Menurutnya, program magang menjadi salah satu langkah strategis dalam mempersiapkan generasi muda yang memiliki kompetensi hukum yang baik sekaligus memahami etika profesi secara menyeluruh. Selain mendapatkan pembelajaran mengenai aspek teknis hukum, Fania juga memperoleh pemahaman tentang pentingnya integritas, profesionalisme, dan tanggung jawab moral dalam menjalankan profesi advokat. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi utama yang harus dimiliki oleh setiap calon penegak hukum di masa depan. Dalam kegiatan sehari-hari, Fania turut mengamati proses penyusunan berkas perkara, telaah dokumen hukum, serta diskusi kasus yang dilakukan oleh para advokat. Kesempatan tersebut memberikan wawasan baru mengenai bagaimana teori hukum diterapkan dalam penyelesaian persoalan yang dihadapi masyarakat. Program magang juga menjadi ruang pembelajaran yang efektif bagi Fania untuk mengembangkan kemampuan komunikasi hukum. Interaksi dengan advokat, klien, maupun pihak-pihak yang terlibat dalam suatu perkara membantunya memahami pentingnya kemampuan menyampaikan argumentasi hukum secara jelas, sistematis, dan profesional. Bagi Fania, pengalaman magang di DPC PERADI Mojokerto memberikan manfaat signifikan dalam memperluas perspektif mengenai dunia kerja di bidang hukum. Ia tidak hanya memahami proses litigasi dan nonlitigasi secara lebih mendalam, tetapi juga mempelajari dinamika profesi yang menuntut ketelitian, kedisiplinan, serta kemampuan analisis yang kuat. Fania mengungkapkan bahwa program tersebut memberikan pengalaman yang tidak diperoleh secara langsung di ruang kuliah. Menurutnya, keterlibatan dalam aktivitas praktik hukum membantu memahami bagaimana peraturan perundang-undangan diterapkan dalam penyelesaian berbagai persoalan di masyarakat. Keberadaan program magang seperti ini dinilai penting dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia di bidang hukum. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi profesi, mahasiswa dapat memperoleh pengalaman yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja sekaligus meningkatkan kesiapan memasuki profesi hukum setelah menyelesaikan pendidikan. DPC PERADI Mojokerto sendiri terus berkomitmen mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa hukum melalui berbagai kegiatan edukatif dan pendampingan profesional. Organisasi tersebut menilai bahwa keterlibatan mahasiswa dalam lingkungan praktik hukum dapat menjadi investasi penting bagi lahirnya calon advokat dan penegak hukum yang berkualitas. Kerja sama antara Universitas Muhammadiyah Malang dan DPC PERADI Mojokerto diharapkan dapat terus berlanjut serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi pengembangan pendidikan hukum. Sinergi tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki pengalaman praktik yang memadai. Melalui program magang ini, Fania Fazelian diharapkan mampu memperkuat kapasitas keilmuan, keterampilan profesional, dan pemahaman etika hukum sebagai bekal untuk berkontribusi dalam mewujudkan sistem hukum yang berkeadilan. Pengalaman yang diperoleh selama berada di DPC PERADI Mojokerto menjadi langkah awal yang berharga dalam membentuk generasi penegak hukum yang kompeten, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan dunia profesi di masa depan.

Mahasiswa UMM Ubah Metode Belajar Sejarah di Museum Singhasari

Infonasional.com-Metode mempelajari sejarah yang biasanya bertumpu pada hafalan tahun dan buku teks tebal kini diubah menjadi lebih interaktif. Inovasi tersebut diterapkan di Museum Singhasari, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Seperti dilansir dari Detikcom, ratusan siswa terlihat antusias mengeksplorasi ruang pameran, memanah lewat wahana virtual, hingga menikmati kuliner pasar tradisional. Aktivitas seru ini dikemas dalam program KERSANI (Kenali Sejarah di Museum Singhasari). Kegiatan edukatif interaktif ini diinisiasi oleh mahasiswa Praktikum Public Relations 3 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berkolaborasi dengan pengelola museum. Kampanye bertajuk ‘Singhasari Hits Different Stories’ ini diikuti oleh 21 sekolah di sekitar area museum, meliputi 13 Sekolah Dasar (SD) dan 8 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ketua Pelaksana Kersani, Syakila Dewi Mujizatul, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk mendobrak anggapan bahwa mempelajari sejarah itu menjemukan. Pihaknya berupaya menyajikan pengalaman langsung yang mengaktifkan seluruh indra peserta. “Kalau di program KERSANI, kami berusaha bikin belajar sejarah jadi lebih seru dan tidak cuma fokus pada teori. Peserta diajak mengenal sejarah lewat pengalaman langsung, seperti main permainan tradisional, mencoba makanan tradisional, dan ikut tour museum yang dikemas dengan diskusi bareng teman satu kelompok,” ujar Syakila Dewi. Syakila menambahkan bahwa saat tur berlangsung, para peserta dapat mengamati arca serta benda-benda peninggalan purbakala secara langsung sembari menyimak paparan dari edukator museum. “Selain itu, kami juga meluncurkan website interaktif yang bisa membantu proses belajar sejarah dengan cara yang lebih menarik,” kata Syakila. Salah satu fitur yang menarik perhatian dalam agenda ini adalah MUSTAKA. Wahana tersebut memadukan narasi sejarah lokal dengan pemanfaatan teknologi modern, di mana siswa ditantang bermain gim interaktif berbasis teknologi sensor gerak. “KERSANI juga menggabungkan sejarah dengan teknologi lewat program MUSTAKA. MUSTAKA adalah permainan interaktif yang mengajak peserta berperan sebagai tokoh Ken Arok dan Ken Dedes dalam aktivitas memanah,” ucap Syakila. Melalui bantuan teknologi sensor gerak tersebut, para siswa dapat menirukan gerakan yang muncul pada layar animasi. Hal ini membuat proses pengenalan sejarah menjadi lebih aktif dan menyenangkan. “Walaupun dikemas dalam bentuk permainan, peserta tetap bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang Ken Arok dan Ken Dedes dengan cara yang lebih interaktif dan mudah dipahami,” tutur Syakila. KERSANI juga menerapkan sistem Kartu Misi yang mewajibkan siswa beserta guru pendamping menjelajahi koleksi museum secara berkelompok. Anggota kelompok sengaja diacak dari sekolah yang berbeda guna menumbuhkan kemampuan bersosialisasi. Sebelum misi kelompok dimulai, para peserta diperkenalkan pada situs resmi Museum Singhasari yang baru dirilis. Situs ini menyediakan informasi komprehensif mengenai Kerajaan Singhasari yang diproyeksikan sebagai media pembelajaran interaktif mata pelajaran IPAS tingkat SD dan IPS tingkat SMP. Di saat para siswa menyelesaikan misi dan mencoba stan MUSTAKA, para guru pendamping mengikuti sesi berbagi di pendopo museum. Sesi tersebut membahas mengenai optimalisasi fungsi museum sebagai ruang belajar alternatif bagi anak didik. Langkah inovatif dari mahasiswa UMM ini mendapat apresiasi positif dari pihak pengelola. Kepala Museum Singhasari menyatakan kepuasannya terhadap konsep matang yang disiapkan sejak awal perencanaan. “Saya mengikuti proses kegiatan ini sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Hasilnya sangat baik dan menunjukkan bahwa belajar sejarah dapat dilakukan dengan cara yang lebih menarik serta mudah diterima oleh siswa,” kata Kepala Museum Singhasari, Yossy Indra Hardyanto. Dukungan senada dipaparkan oleh Pemerintah Kecamatan Singosari yang diwakili Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial dan Kepemudaan, Abid RH. Ia menganggap kegiatan edukasi interaktif ini krusial dalam menjaga kelestarian identitas daerah bagi generasi muda. “Kami menyambut baik kegiatan KERSANI karena membantu mengenalkan kembali sejarah Singhasari kepada generasi muda melalui pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan,” ujar Abid RH.