Mahasiswa UMM Ubah Edukasi Sejarah Lewat Program Kersani di Museum Singhasari

Koranmanado-Belajar sejarah yang biasanya identik dengan aktivitas menghafal tahun dan membaca buku teks tebal kini dikemas secara berbeda. Seperti dilansir dari Detikcom, Museum Singhasari di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, menyajikan suasana pembelajaran yang lebih interaktif. Ratusan siswa terlihat antusias saat menjelajahi ruang pameran, mencoba memanah secara virtual, hingga mencicipi aneka jajanan pasar tradisional. Kegiatan edukatif ini bernama KERSANI atau Kenali Sejarah di Museum Singhasari. Program tersebut diinisiasi oleh mahasiswa Praktikum Public Relations 3 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang bekerja sama dengan pengelola museum. Mengusung kampanye ‘Singhasari Hits Different Stories’, agenda ini diikuti oleh 21 sekolah di sekitar museum yang terdiri dari 13 SD dan 8 SMP. Ketua Pelaksana Kersani, Syakila Dewi Mujizatul, mengungkapkan bahwa program ini dirancang khusus demi menghapus stigma membosankan dalam mempelajari sejarah. Pihaknya ingin menyajikan pengalaman langsung yang mengaktifkan seluruh indra para peserta. “Kalau di program KERSANI, kami berusaha bikin belajar sejarah jadi lebih seru dan tidak cuma focus pada teori. Peserta diajak mengenal sejarah lewat pengalaman langsung, seperti main permainan tradisional, mencoba makanan tradisional, dan ikut tour museum yang dikemas dengan diskusi bareng teman satu kelompok,” ujar Syakila Dewi kepada detikJatim, Senin (22/6/2026). Saat sesi tur berjalan, para peserta berkesempatan melihat arca beserta berbagai benda peninggalan bersejarah secara langsung. Mereka juga menyimak pemaparan dari edukator museum. “Selain itu, kami juga meluncurkan website interaktif yang bisa membantu proses belajar sejarah dengan cara yang lebih menarik,” ujar Syakila saat ditemui di lokasi acara. Daya tarik utama dari kegiatan ini terletak pada wahana MUSTAKA. Wahana tersebut memadukan unsur sejarah lokal dengan pemanfaatan teknologi modern, di mana siswa ditantang bermain gim interaktif berbasis sensor gerak. “KERSANI juga menggabungkan sejarah dengan teknologi lewat program MUSTAKA. MUSTAKA adalah permainan interaktif yang mengajak peserta berperan sebagai tokoh Ken Arok dan Ken Dedes dalam aktivitas memanah,” beber Syakila. Melalui bantuan teknologi sensor gerak, para peserta dapat meniru gerakan yang muncul pada layar animasi. Hal itu membuat pengalaman belajar sejarah terasa lebih aktif dan menyenangkan. “Walaupun dikemas dalam bentuk permainan, peserta tetap bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang Ken Arok dan Ken Dedes dengan cara yang lebih interaktif dan mudah dipahami,” tambah Syakila. Berbeda dengan kunjungan museum konvensional yang pasif, KERSANI menerapkan sistem Kartu Misi. Konsep ini mewajibkan siswa bersama guru pendamping menjelajahi koleksi museum dalam format kelompok. Anggota kelompok tersebut sengaja diacak dari sekolah yang berbeda untuk mengasah kemampuan bersosialisasi dan kerja sama. Sebelum misi dimulai, peserta diperkenalkan dengan situs resmi Museum Singhasari yang baru dirilis. Situs web ini memuat informasi komprehensif mengenai Kerajaan Singhasari. Ke depannya, platform tersebut dirancang agar dapat diadopsi menjadi media pembelajaran interaktif untuk mata pelajaran IPAS di tingkat SD dan IPS di tingkat SMP. Ketika para siswa sibuk menyelesaikan misi dan mencoba stan MUSTAKA, para guru pendamping berkumpul di pendopo museum. Mereka mengikuti sesi berbagi mengenai optimalisasi museum sebagai ruang belajar alternatif. Inovasi yang diusung oleh mahasiswa UMM ini mendapat respons positif dari pihak pengelola. Kepala Museum Singhasari menyatakan kepuasannya terhadap kematangan konsep yang disajikan sejak awal perencanaan. “Saya mengikuti proses kegiatan ini sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Hasilnya sangat baik dan menunjukkan bahwa belajar sejarah dapat dilakukan dengan cara yang lebih menarik serta mudah diterima oleh siswa,” tegas Kepala Museum Singhasari Yossy Indra Hardyanto, terpisah. Apresiasi serupa datang dari jajaran pemerintah setempat. Pemerintah Kecamatan Singosari melalui Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial dan Kepemudaan, Abid RH, menilai kegiatan ini sangat krusial dalam menjaga kelestarian identitas daerah bagi generasi muda. “Kami menyambut baik kegiatan KERSANI karena membantu mengenalkan kembali sejarah Singhasari kepada generasi muda melalui pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan,” katanya.
Hadirkan Guru Besar Ekonomi-Asisten Direktur OJK Malang, Prodi EP UMM Bahas Transformasi Perbankan dan Fintech Syariah di Era Revolusi Industri 4.0

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Dua pemateri internal dan eksternal Prodi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (EP UMM) hadir dalam acara kuliah tamu tematik Transformasi Perbankan dan Fintech Syariah di Era Revolusi Industri 4.0. Dijelaskan PIC Humas Prodi EP UMM, Muhammad Firmansyah, SE, ME, dua pemateri tersebut adalah Prof. Dr. Idah Zuhroh, MM, dan Retno Heruwati Asisten Direktur Pengawasan LJK 1 Kantor OJK Malang. Prof. Dr. Idah Zuhroh, MM, (berdiri) ketika menjelaskan digitalisasi kepatuhan syariah dan resiko tata kelolanya. Dalam penjelasannya Prof. Dr. Idah Zuhroh, MM, memaparkan materi tentang Digitalisasi Kepatuhan Syariah dan Resiko Tata Kelola terkait transformasi digital syariah meliputi perubahan model intermediasi, tata kelola risiko, kepatuhan syariah, perlindungan konsumen, dan stabilitas sistem keuangan. Dimana artsitektur keuangan bergeser dari cabang ke ekosistem data. Hal ini menyebabkan ekosistem syariah saling bergantung. Hal ini dibuktikan dengan Bank Syariah bergerak dari aplikasi menuju transformasi bisnis. Retno Heruwati Asisten Direktur Pengawasan LJK 1 Kantor OJK Malang, saat opening ketika menjelaskan tentang tupoksi OJK. Idah Zuhroh juga mengungkapkan Fintech sebagai instrumen inklusi sekaligus sumber risiko baru. Itu sebabnya dibutuhkan empat lensa untuk membaca transformasi digital syariah. Pertama Ekonomi kelembagaan: digitalisasi mengubah aturan main. Kedua, Maqashid syariah menggeser ukuran keberhasilan. Ketiga, Teknologi dapat memperkuat sekaligus mengganggu intermediasi bank. Serta ke-empat, Platform economy: nilai berpindah ke penguasa jaringan dan data. Foto bersama antara pemateri dan unsur pimpinan Prodi Ekonomi Pembangunan UMM. Di akhir sesi Idah Zuhroh menjelaskan tentang Teknologi dapat menjadi maslahah — atau mafsadah. Risiko digital syariah bergerak dari dokumen ke system. Bank Syariah dan Fintech Syariah, serta ditutup dengan maqashid teknologi atau digitalisasi di bidang syariah. Berikutnya Retno Heruwati membuka penjelasan dengan prolog tentang pembentukan OJK (UU Nomor 21 Tahun 2011). Tiga lines model dalam mengatur, mengawasi SJK (Sektor Jasa Keuangan) untuk mewujudkan industri yang sehat berintegritas. Termasuk penjelasan tentang peran OJK dalam mendorong transformasi perbankan dan fintech syariah di era revolusi industri 4.0. Foto bersama antara pemateri dan unsur pimpinan Prodi Ekonomi Pembangunan UMM dengan mahasiswa peserta kuliah tamu. Ketika menjelaskan tema diatas, Retno Heruwati memaparkan potensi akselerasi transformasi digital Indonesia, indeks literasi dan inklusi keuangan nasional, literasi keuangan digital dan risiko di era digital, fungsi OJK dalam regulasi dan pengawasan keuangan syariah. Bahkan ketika sesi terkahir materi dijelaskan tentang dasar hukum fintech atau Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) Syariah. Termasuk daftar fintech syariah dimana ada 10 aplikasi pinjol syariah resmi. Retno Heruwati mengingatkan waspada pinjaman online ilegal, investasi ilegal, dan judi online. Perbedaan pinjol illegal serta fintech pendanaan bersama legal.
Dosen Fakultas Pertanian-Peternakan UMM Ajak Ibu PKK Loandeng Praktikkan Ekonomi Hijau

Mediapribumi.id, Sumenep — Selama ini, konsep ekonomi hijau lebih sering terdengar di ruang seminar daripada di dapur. Namun di Dusun Loandeng, Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, gagasan itu justru hidup di tangan ibu-ibu rumah tangga yang mengolah limbah organik menjadi kompos dan menyulap pekarangan menjadi kebun produktif. Itulah wajah nyata dari program pemberdayaan masyarakat yang digagas tim dosen Fakultas Pertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Program ini dikomandoi Nur Ocvanny Amir, SP., MP., bersama Fithri Mufriantie, SP., MP., dan Prof. Jabal Tarik Ibrahim, dengan menggandeng ibu-ibu PKK Dusun Loandeng sebagai pelaku utamanya. Kegiatan yang didanai Program BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini berjalan selama delapan bulan, April hingga November 2026. Empat mahasiswa Program Studi Agribisnis turut turun langsung mendampingi warga di lapangan. Nur Ocvanny Amir, yang akrab disapa Vany, mengungkapkan bahwa program ini lahir dari kegelisahan atas lebarnya jurang antara wacana pembangunan berkelanjutan dan kenyataan di tingkat rumah tangga. “Usulan kegiatan kepada Kemendiktisaintek tidak mudah. Proposal diperiksa secara ketat, terutama untuk memastikan apakah program benar-benar berdampak kepada masyarakat,” ujarnya. Dalam pelaksanaannya, warga tidak sekadar diberi ceramah. Mereka didampingi langsung mempraktikkan sejumlah keterampilan berbasis ekonomi sirkuler — mulai dari pengolahan sampah organik, pembuatan kompos, penyiapan media tanam, budidaya tanaman kebutuhan dapur, pembuatan ecoenzyme, hingga penjernihan air limbah rumah tangga. Fithri Mufriantie menegaskan bahwa seluruh aktivitas ini berakar pada agenda global Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 6 soal air bersih dan sanitasi layak, serta SDGs 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. “Langkah kecil di tingkat rumah tangga dapat memberi dampak besar bagi kehidupan ekologis yang lebih baik,” kata Fithri. Sebanyak 25 peserta menerima peralatan berkebun dan alat penjernih air mini untuk digunakan di rumah masing-masing. Sementara peralatan pembuatan kompos dipusatkan di salah satu pekarangan warga agar bisa diakses bersama oleh seluruh anggota PKK. Hasilnya sudah mulai dirasakan. Cabai yang ditanam di pekarangan bisa dipanen sendiri oleh keluarga. Sampah dapur yang sebelumnya hanya dibuang kini berubah fungsi menjadi pupuk. Ketua PKK Dusun Loandeng, Yuliati, mengaku warganya mendapat pengetahuan dan keterampilan yang sebelumnya tidak pernah mereka miliki. “Ada banyak manfaat dari program ini. Ibu-ibu mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru, mulai dari membuat kompos dari limbah rumah tangga, membuat media tanam, membudidayakan tanaman kebutuhan rumah tangga, membuat ecoenzyme, hingga menjernihkan air limbah rumah tangga,” ujar Yuliati. Pengalaman berharga juga dirasakan dari sisi mahasiswa. Muhammad Hilmy, salah satu peserta dari kampus yang terlibat, mengaku mendapatkan sesuatu yang tak bisa diperoleh dari bangku kuliah semata. “Kami dapat belajar langsung implementasi green economy di luar kampus bersama para dosen dan masyarakat. Sangat bermakna dan menyenangkan mengikuti kegiatan ini,” katanya.
Semula Limbah Organik, Kini Menjadi Panel Peredam Suara

Trubus.id — Semula ampas tebu, sabut kelapa, dan kertas bekas hanya dianggap limbah yang kurang bernilai. Di tangan para santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) Malang, bahan-bahan tersebut justru disulap menjadi panel peredam suara ramah lingkungan bernama Ecouiet. Inovasi itu mengantarkan tim PPI AMF meraih medali perak pada ajang Bali International Science Fair (BISF) 2026 yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA). Kompetisi tersebut diikuti pelajar dari berbagai negara, antara lain Amerika Serikat, negara-negara Asia Tenggara, Kazakhstan, dan Uzbekistan. Tim terdiri atas Ahmad Adila Al Ghifari, Abyan Agha Al Ghifari, Faizul Umam, Farrand Al Azka, Haidar Abimanyu Tuarita, dan Muhammad Mahir. Mereka mengembangkan Ecouiet sebagai solusi untuk membantu mengurangi polusi suara di lingkungan belajar. Perwakilan tim, Haidar Abimanyu Tuarita, mengatakan panel peredam suara itu memiliki ketebalan sekitar 2,5 sentimeter dengan tekstur padat menyerupai semen. Dalam proses pembuatannya, tim menambahkan arang hitam untuk meningkatkan kerapatan struktur sekaligus kemampuan menyerap suara. “Juga ada campuran arang hitam pada proses pembuatannya agar struktur panel lebih padat dan menyerap suara dengan baik,” ujar siswa kelas VIII yang akrab disapa Abi. Untuk menguji efektivitasnya, tim membuat simulasi sederhana menggunakan kotak kardus yang bagian dalamnya dilapisi panel Ecouiet. Musik dengan volume tinggi diputar dari dalam kotak, kemudian tingkat kebisingan yang keluar diukur menggunakan aplikasi pengukur desibel pada telepon pintar. “Alat pendeteksi suara yang kami gunakan saat uji coba adalah decibel meter. Aplikasinya bisa diunduh langsung di Play Store,” kata Abi dilansir dari laman Universitas Muhammadiyah Malang. Meski berhasil menghasilkan inovasi yang membanggakan, proses pengembangannya tidak berjalan mulus. Tim hanya memiliki waktu sekitar empat pekan sejak tahap perencanaan hingga perakitan produk. Muhammad Mahir dan Faizul Umam menuturkan tantangan terbesar adalah menemukan komposisi bahan yang tepat agar panel memiliki tekstur kokoh sekaligus mampu meredam suara secara optimal. “Waktu yang mepet membuat kami harus bekerja ekstra cepat, apalagi mencari tekstur panel yang pas dan sesuai keinginan itu cukup sulit,” ujar Mahir. Pembina Karya Ilmiah Remaja (KIR) PPI AMF, Nabila Almayda, mengaku bangga atas pencapaian para santri yang mampu bersaing di tingkat internasional melalui inovasi berbasis lingkungan. “Semoga santri-santri PPI AMF dapat terus berkembang dengan berbagai inovasi dan prestasi yang membawa kebermanfaatan luas bagi masyarakat,” ujar Nabila. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa limbah organik dapat diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Selain membantu mengurangi pencemaran lingkungan, pemanfaatan limbah sebagai bahan baku panel peredam suara juga berpotensi menjadi solusi ramah lingkungan untuk mengatasi kebisingan di ruang kelas maupun fasilitas umum. Dengan dukungan riset lanjutan, Ecouiet berpeluang dikembangkan menjadi produk komersial yang mampu menjawab kebutuhan material akustik berkelanjutan di masa depan.
Awal Merantau Jadi Buruh, Kini Punya Bisnis Sendiri, Kisah Sukses Galang Bikin Bisnis Salon Spa di Polandia

MALANG POSCO MEDIA-Ketekunan dan etos kerja yang tinggi menjadi kunci kesuksesan. Apalagi dipadu semangat tanpa menyerah. Itulah resep rahasia Galang, alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam meraih kesuksesannya. Dari awalnya seorang buruh yang mengais limbah, lalu tekun berproses hingga kini sukses menjadi pebisnis. Jarum jam di dinding Tera Thai Salon Day Spa, Gdynia, Polandia, menunjukkan pukul 18.00 waktu setempat. Suasana di dalam salon terasa hangat meski di luar suhu udara di angka 11 hingga 20 derajat Celsius. Tidak lama, satu per satu pelanggan berdatangan memasuki salon. Mereka yang datang rata-rata telah memesan jadwal pijat sejak tiga hari sebelumnya. Di tengah kesibukan aktifitas sore itu, seorang pria tampak sigap bergerak. Yakni Galang, ‘Arek Malang’ pemilik salon tersebut. Ia tak segan turun tangan membantu resepsionis melayani pelanggan yang membeludak. Alumnus Jurusan Agribisnis UMM itu, kini telah menetap dan menjadi warga di kota pesisir utara Polandia tersebut Pemandangan itu jauh berbeda dibanding lima tahun lalu saat pertama kali menginjakkan kaki di Gdynia, Polandia. Kala itu, Galang datang ke Polandia sebagai perantau yang belum memiliki pekerjaan tetap. Pada Mei 2021, tepatnya ketika pandemi Covid-19 masih membatasi mobilitas masyarakat di berbagai negara dan saat banyak orang memilih bertahan di rumah, Galang justru nekat merantau ke Eropa. “Keinginan ke luar negeri sebenarnya sejak 2020. Karena pembatasan di Indonesia lebih ketat, sehingga 2021 saya paksa pergi,” kenang Galang. Bagi Galang, Gdynia bukan sekadar tempat mengadu nasib. Kota yang berjarak 25 kilometer dari Gdansk, kota yang paling populer untuk kalangan pecinta sepak bola itu terasa familiar. Sebab, menurut Galang, suasananya hampir mirip dengan Kota Batu. Galang pun mulai mencari pekerjaan dan menggantungkan harapannya di Polandia. Mulanya ia berharap bisa mendapatkan pekerjaan sesuai latar belakang pendidikannya. Namun kenyataan berkata lain. Agensi yang menyalurkannya justru menempatkan dia sebagai buruh kebersihan gudang. Setiap hari, pekerjaannya membersihkan area produksi, mengangkut kardus, hingga membereskan limbah sisa kegiatan industri. Pekerjaan fisik itu menjadi pintu masuk yang umum bagi pekerja migran karena tidak membutuhkan kemampuan bahasa Polandia yang tinggi. “Pengalaman itu memang berat, tetapi justru menjadi fase penting untuk belajar bertahan, memahami budaya kerja Eropa, dan membentuk mental sebagai perantau,” kata Galang. Singkat cerita, dari pekerjaan itu, Galang tetap berkomitmen dan tekun menjalaninya. Sehingga membawa Galang melanglang buana ke sejumlah pekerjaan lainnya. Bahkan ia kemudian sempat bekerja di toko kebab. Tidak disangka, dari bekerja di toko kebab itu lah, karir Galang ternyata mulai menanjak. Selama 3,5 tahun, ia meniti jenjang hingga menjadi kepala toko. Di sanalah ia juga mulai menyerap lebih banyak bahasa Polandia, sistem pajak, legalitas usaha, dan celah bisnis di Eropa. Ia menyadari bahwa kesuksesan di luar negeri membutuhkan kejelian melihat peluang, bukan sekadar bekerja dan menerima gaji. Tidak hanya itu, berkat subsidi tempat tinggal dan biaya makan yang ditanggung tempat kerja, tabungannya terkumpul dengan cepat. Dengan modal tabungan yang lumayan, keputusan besar pun diambil Galang tepatnya pada Agustus 2024 lalu. Galang banting setir membuka usaha spa, terinspirasi dari perbincangan dengan pekerja pijat asal Bali. Di Eropa yang jarang mengenal budaya pijat, layanan ini menjadi komoditas emas. Warga lokal begitu menggemari teknik pijat Asia, terutama untuk refleksi dan melepas pegal. Galang kemudian menggandeng terapis asal Bali untuk merintis usaha spa, meski harus membagi waktu dengan pekerjaannya di restoran kebab. Ia menjelaskan bahwa membuka usaha di Eropa menuntut pemahaman regulasi yang sangat ketat dan perhitungan finansial yang matang. “Membangun usaha di Eropa tidak sesederhana membuka bisnis di Indonesia. Saya harus memahami regulasi yang sangat detail, mulai dari pajak perusahaan, keamanan pelanggan, administrasi usaha, hingga kewajiban menggunakan jasa lawyer dan akuntan,” beber dia. Artinya, perjuangan merintis usaha spa yang kemudian diberi nama Tera Thai ini memang tidak mudah. Dengan modal Rp 365 juta atau 90 ribu zloty, ia harus menempuh birokrasi ketat tersebut. Selama tujuh bulan pertama, Galang melakoni double job atau kerja ganda. Ia tetap menjadi kepala toko kebab sembari mengelola spa, bekerja hingga 16–18 jam sehari. “Itu modal saya sebagai pendatang. Jadi ya memang arus ‘ngoyo’ (kerja keras) daripada warga asli,” ujar pria yang hobi motor trail ini. Kerja kerasnya terbayar tuntas. Setelah melepas jabatan di toko kebab pada Maret 2025, Galang kemudian fokus penuh pada bisnisnya. Omzet Tera Thai bahkan mencapai Rp 500 juta hingga Rp 600 juta per bulan. Prestasi ini membuatnya berani melebarkan sayap dengan membuka cabang kedua di Gdansk pada akhir Mei 2026. Meski kini harus berhadapan dengan persaingan ketat di kota besar, Galang mengaku tetap optimis. Baginya, kunci kesuksesan di Polandia adalah ketekunan. Ia melihat warga lokal cenderung santai dan tidak menjadikan uang sebagai segalanya, bahkan enggan bekerja di akhir pekan. Celah itulah yang ia manfaatkan dengan etos kerja khas perantau Indonesia. Dari buruh kasar yang membersihkan sisa limbah, kini Galang sukses membuktikan untuk berdiri tegak sebagai pengusaha di negeri orang. Tidak hanya itu, juga sekaligus membuktikan bahwa ketekunan melampaui batas jarak dan perbedaan budaya. Dengan modal ketekunan yang ia yakini itu, Galang percaya rezeki akan selalu mengiringi. “Kadang kita tidak pernah tahu rezeki ada di mana kalau tidak berani mencoba dan terus belajar,” tandasnya.
“Mahasiswa Malang Ubah Museum Singhasari Jadi Tempat Belajar Intereaktif”

Detik.com Malang – Belajar sejarah sering kali identik dengan menghafal tahun dan membaca buku teks yang tebal. Namun, suasana berbeda terlihat di Museum Singhasari, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Ratusan siswa tampak antusias menjelajahi ruang pameran, memanah secara virtual, hingga mencicipi jajanan pasar tradisional. Suasana seru ini merupakan bagian dari KERSANI (Kenali Sejarah di Museum Singhasari), sebuah kegiatan edukatif interaktif yang diinisiasi oleh mahasiswa Praktikum Public Relations 3 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan pihak museum. Mengusung kampanye Singhasari Hits Different Stories’, kegiatan itu diikuti 21 sekolah yang berbatasan langsung dengan area museum, terdiri dari 13 Sekolah Dasar (SD) dan 8 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ketua Pelaksana Kersani Syakila Dewi Mujizatul mengungkapkan, program ini sengaja dirancang untuk mendobrak stigma bahwa belajar sejarah itu membosankan. Pihaknya ingin memberikan pengalaman langsung yang melibatkan seluruh indra para peserta. “Kalau di program KERSANI, kami berusaha bikin belajar sejarah jadi lebih seru dan tidak cuma fokus pada teori. Peserta diajak mengenal sejarah lewat pengalaman langsung, seperti main permainan tradisional, mencoba makanan tradisional, dan ikut tour museum yang dikemas dengan diskusi bareng teman satu kelompok,” ujar Syakila Dewi kepada detikJatim, Senin (22/6/2026). Saat tur, lanjut Syakila, peserta bisa melihat arca dan berbagai benda bersejarah secara langsung sambil mendengarkan penjelasan dari edukator museum. Salah satu daya tarik utama dalam kegiatan ini adalah MUSTAKA, sebuah wahana yang menggabungkan unsur sejarah lokal dengan kecanggihan teknologi modern. Melalui MUSTAKA, para siswa ditantang untuk bermain gim interaktif menggunakan teknologi sensor gerak. “KERSANI juga menggabungkan sejarah dengan teknologi lewat program MUSTAKA. MUSTAKA adalah permainan interaktif yang mengajak peserta berperan sebagai tokoh Ken Arok dan Ken Dedes dalam aktivitas memanah,” beber Syakila. Menurut Syakila, dengan bantuan teknologi sensor gerak, peserta bisa mengikuti gerakan yang ditampilkan di layar animasi sehingga pengalaman belajar sejarah terasa lebih seru, aktif, dan menyenangkan. “Walaupun dikemas dalam bentuk permainan, peserta tetap bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang Ken Arok dan Ken Dedes dengan cara yang lebih interaktif dan mudah dipahami,” tambah Syakila. Tidak seperti kunjungan museum konvensional di mana peserta hanya datang dan mendengarkan, KERSANI menerapkan sistem Kartu Misi. Konsep ini mewajibkan siswa dan guru pendamping mengeksplorasi koleksi museum dalam format kelompok. Uniknya, anggota kelompok sengaja diacak dari sekolah yang berbeda untuk melatih kemampuan bersosialisasi dan kerja sama mereka. Sebelum misi dimulai, para peserta terlebih dahulu diperkenalkan dengan website resmi Museum Singhasari yang baru diluncurkan. Baca juga: Massa Demo di Malang Sampaikan 9 Tuntutan Situs ini memuat informasi secara menyeluruh mengenai Kerajaan Singhasari yang dirancang agar bisa diadopsi menjadi media pembelajaran interaktif pada mata pelajaran IPAS di tingkat SD dan IPS di tingkat SMP. Sementara para siswa asyik menuntaskan misi dan menjajal stan MUSTAKA, para guru pendamping berkumpul di pendopo museum untuk mengikuti sesi berbagi (sharing session) mengenai optimalisasi museum sebagai ruang belajar alternatif. Inovasi yang dibawa oleh para mahasiswa UMM ini mendapat respons positif dari pihak pengelola. Kepala Museum Singhasari mengaku sangat puas dengan konsep matang yang disajikan sejak awal mula ide ini digulirkan. “Saya mengikuti proses kegiatan ini sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Hasilnya sangat baik dan menunjukkan bahwa belajar sejarah dapat dilakukan dengan cara yang lebih menarik serta mudah diterima oleh siswa,” tegas Kepala Museum Singhasari Yossy Indra Hardyanto, terpisah. Apresiasi senada juga datang dari struktur pemerintahan setempat. Pemerintah Kecamatan Singosari yang diwakili oleh Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial dan Kepemudaan, Abid RH, menilai bahwa kegiatan semacam ini krusial untuk menjaga kelestarian identitas daerah di mata generasi muda. “Kami menyambut baik kegiatan KERSANI karena membantu mengenalkan kembali sejarah Singhasari kepada generasi muda melalui pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan,” pungkasnya.
PLN Terapkan Manajemen Beban Listrik Terbatas di Sejumlah Wilayah

DOK. Humas PLN beritajejakfakta – PT PLN (Persero) menerapkan kebijakan manajemen beban listrik secara terbatas di sejumlah wilayah Jabodetabek dan Solo Raya pada Juni 2026 akibat adanya kendala teknis operasional pada dua unit pembangkit besar. Langkah tersebut memicu terjadinya pemadaman listrik bergilir dengan estimasi durasi berkisar antara satu hingga tiga jam demi menjaga keandalan pasokan sistem kelistrikan Jawa. Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN Gregorius Adi Trianto menjelaskan bahwa sistem kelistrikan Jawa saat ini sebenarnya beroperasi dan terkendali dengan baik oleh perusahaan. “Langkah tersebut dilakukan karena terdapat kendala teknis operasional pembangkit serta ada dua unit pembangkit besar yang mengalami gangguan sehingga tidak beroperasi sementara dan menurunkan kemampuan sistem pasokan listrik,” kata Gregorius Adi Trianto di Jakarta, Jumat (19/6/2026). Pihak PLN terus mengoptimalkan percepatan pemulihan serta mengatur operasi sistem kelistrikan untuk meminimalkan dampak buruk yang dirasakan langsung oleh para pelanggan. “PLN memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan,” katanya. Kebijakan pemadaman berkala ini memicu keluhan masyarakat di media sosial, terutama para pelaku UMKM di Solo Raya yang mengalami kerugian finansial akibat terganggunya aktivitas ekonomi. Menanggapi keluhan tersebut, PLN ULP Karanganyar menyediakan saluran WhatsApp resmi untuk membagikan informasi jadwal pemadaman, sementara pelanggan luas dapat menggunakan aplikasi PLN Mobile atau situs resmi www.pln.co.id guna memantau peta pemadaman melalui fitur Cek Padam Sekitar Saya. Selain memantau jaringan, Guru Besar Program Studi Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang Machmud Effendy mengimbau warga untuk segera mencabut kabel peralatan elektronik dari stop kontak saat listrik padam mendadak. “Kalau listrik mulai menyala, sering kali disertai dengan lonjakan tegangan (voltage surge) yang tinggi dan mendadak. Jadi berbahaya kalau tegangan masuk ke barang elektronik,” katanya saat dihubungi Kompas.com pada Sabtu (14/6/2026). Masyarakat juga disarankan untuk menunda mencolokkan kembali perangkat elektronik selama beberapa menit setelah aliran listrik kembali normal demi menghindari kerusakan mesin di dalam perangkat tersebut. “Sebab kalau langsung dinyalakan ketika listrik baru nyala, berpotensi merusak mesin di dalamnya,” tutupnya.
Mahasiswa FH UMM Dapatkan Pengalaman Praktik Hukum Nasional

Magang di Mahkamah Agung RI, Mahasiswa FH UMM Dapatkan Pengalaman Praktik Hukum Nasional (Foto: Dokumen Pribadi) RRI.CO.ID, Malang: Tiga mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yakni Hendrico Noval Ramadhani, Satria Ananta Agung Nugraha, dan Arjuna Galih Taruna, berhasil memperoleh kesempatan untuk menjalani program magang di Mahkamah Agung Republik Indonesia (MA RI). Melalui penempatan di Biro Hukum dan Humas, Bagian Peraturan Perundang-Undangan (PUU), ketiganya mengikuti program magang selama kurang lebih lima bulan yang dimulai sejak 23 Februari 2026. Program magang ini merupakan bagian dari kegiatan Laboratorium Fakultas Hukum UMM yang dirancang untuk memberikan pengalaman praktik kepada mahasiswa dalam memahami proses kerja lembaga hukum negara secara langsung. Selama menjalani magang, para mahasiswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pembentukan regulasi dan pengelolaan informasi hukum di lingkungan Mahkamah Agung. Salah satu agenda yang diikuti adalah pembahasan rancangan kebijakan Mahkamah Agung. Melalui keterlibatan dalam proses tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengamati secara langsung mekanisme penyusunan kebijakan yang melibatkan hakim dan pejabat di lingkungan Mahkamah Agung Republik Indonesia. Berbagai pembahasan yang berlangsung memberikan pemahaman mengenai bagaimana suatu kebijakan dirumuskan dengan mempertimbangkan kesesuaian terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku serta kebutuhan praktik peradilan. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa pembentukan regulasi tidak hanya berfokus pada perumusan norma, tetapi juga pada bagaimana norma tersebut dapat diterapkan secara efektif dalam penyelenggaraan peradilan. Selain itu, para mahasiswa juga memperoleh wawasan mengenai proses penafsiran hukum yang dilakukan dalam pembahasan regulasi. Berbagai isu yang muncul dalam praktik peradilan menjadi bahan pertimbangan dalam merumuskan ketentuan yang akan digunakan sebagai pedoman bagi badan peradilan. Tak hanya terlibat dalam pembahasan kebijakan, mahasiswa juga berpartisipasi dalam kegiatan validasi produk hukum Mahkamah Agung melalui sistem Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) Mahkamah Agung. Kegiatan ini dilakukan dengan memeriksa kesesuaian data sebelum dipublikasikan kepada masyarakat, meliputi pengecekan nomor, identitas, nama pengadilan negeri, serta kelengkapan dokumen dalam sistem. Keterlibatan dalam proses validasi tersebut memberikan pemahaman mengenai pentingnya akurasi data dalam mendukung keterbukaan informasi di lingkungan peradilan. Melalui sistem JDIH, Mahkamah Agung menyediakan akses terhadap berbagai produk hukum dan putusan pengadilan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, akademisi, maupun praktisi hukum. Hendrico Noval Ramadhani mengaku bersyukur atas kesempatan yang diberikan oleh Fakultas Hukum UMM dan Mahkamah Agung RI. Menurutnya, pengalaman selama magang menjadi bekal berharga untuk masa depan. “Selama melaksanakan kegiatan magang yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang, saya sangat bersyukur karena banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan di Mahkamah Agung Republik Indonesia. Kegiatan magang selama kurang lebih lima bulan ini memberikan kesan yang sangat baik dan banyak ilmu yang dapat saya ambil. Saya berterima kasih kepada Fakultas Hukum dan Mahkamah Agung Republik Indonesia yang telah memberikan ilmu yang semoga berguna di masa yang akan datang,” ujarnya kepada RRI, Jumat (19/6/2026). Senada dengan Hendrico, Satria Ananta Agung Nugraha juga menyampaikan rasa syukur atas kesempatan yang diperolehnya. “Selama melaksanakan kegiatan magang yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang, saya merasa sangat beruntung dan bersyukur karena banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan di Mahkamah Agung Republik Indonesia. Kegiatan magang selama kurang lebih lima bulan ini memberikan kesan yang baik dan banyak ilmu yang dapat saya ambil. Saya berterima kasih kepada Fakultas Hukum dan Mahkamah Agung Republik Indonesia atas ilmu yang diberikan dan semoga dapat berguna di masa yang akan datang,” tuturnya. Sementara itu, Arjuna Galih Taruna menilai program magang ini menjadi pengalaman luar biasa yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar hukum secara praktik. “Bagi saya, kesempatan ini sangat luar biasa. Kami berkesempatan magang di Mahkamah Agung Republik Indonesia guna menimba ilmu secara praktik. Semoga program magang yang dirancang oleh Laboratorium Fakultas Hukum UMM ini dapat terus berlanjut dan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menjadi calon-calon sarjana hukum yang kompeten,” ungkapnya. Program magang di Mahkamah Agung RI ini menjadi salah satu bentuk implementasi pembelajaran berbasis praktik yang dikembangkan oleh Fakultas Hukum UMM. Melalui pengalaman langsung di lembaga peradilan tertinggi di Indonesia, mahasiswa diharapkan mampu memperkuat pemahaman terhadap sistem hukum nasional serta memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai praktik hukum di tingkat nasional.
Board Game Edukasi UMM Jadi Inovasi Pembelajaran Interaktif untuk Generasi Muda

Sejumlah mahasiswa prodi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang mengujicobakan board game edukasi bersama Lets Play dan RBC Institute. Foto: dok.UMM MALUMAT – Inovasi pendidikan terus lahir dari kampus. Kali ini, mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2025 menghadirkan sembilan purwarupa board game edukasi. Game ini dirancang sebagai media pembelajaran interaktif sekaligus sarana memperkuat literasi dan ketangguhan mental generasi muda. Menariknya, board game edukasi UMM ini hasil kolaborasi dengan Lets Play Indonesia dan Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute. Seluruh karya itu resmi diujicobakan di hadapan para santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF), Jumat (19/6/2026). Inovasi ini menjadi bagian dari upaya merawat warisan pemikiran dan semangat literasi almarhum Abdul Malik Fadjar, sebagai Guru Bangsa. Melalui pendekatan dengan generasi muda, nilai-nilai pendidikan dan literasi dikemas dalam bentuk permainan edukatif . Direktur RBC Institute, Dr. Faizin, M.Pd., menjelaskan bahwa pengembangan board game edukasi UMM dilakukan secara intensif selama tiga bulan. Menurutnya, media pembelajaran tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas pendidikan nasional. “Kami berharap game-game inovatif ini tidak hanya digunakan di lingkungan PPI AMF, tetapi juga dapat didistribusikan secara nasional untuk meningkatkan kapasitas pendidikan dan kualitas sumber daya manusia Indonesia,” ujarnya. Baca Juga Belajar Meracik Jahe dan Jamu: Cerita Ibu-Ibu Desa Wonoasri Bersama Mahasiswa UMM Tidak sekadar menjadi sarana bermain, sembilan board game edukasi tersebut juga memiliki landasan akademik yang kuat. Manajer Riset RBC Institute AMF, Ahmad Sulaiman, M.Ed., M.Ag., menjelaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari hilirisasi pembelajaran yang terintegrasi dengan delapan pertemuan kelas. Menurutnya, board game ini dirancang sebagai instrumen untuk mengukur ketangguhan psikologis atau psychological capital melalui metode pretest dan posttest. “Sembilan purwarupa game ini akan segera kami publikasikan dalam jurnal ilmiah bereputasi dan didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI)-nya atas nama institusi serta mahasiswa pembuatnya,” jelas Ahmad. Dukungan juga datang dari industri permainan edukatif. CEO Lets Play Indonesia, Arif Bawono Surya, mengapresiasi kreativitas mahasiswa UMM yang berhasil menerjemahkan konsep akademik ke dalam bentuk permainan yang menarik. Dalam sesi uji coba, ia meminta para pengembang fokus menerima masukan terkait mekanisme permainan agar kualitas board game edukasi UMM semakin optimal. “Presentasikan karya kalian dan terbukalah terhadap evaluasi. Pengembangan berikutnya sebaiknya lebih difokuskan pada penguatan alur permainan atau gameplay tanpa perlu mengubah desain visual yang sudah sangat baik,” katanya. Uji coba yang melibatkan santri jenjang SMP dan SMA ini menjadi tahapan penting untuk melihat efektivitas permainan sebagai media pembelajaran. Berbagai masukan dari peserta akan menjadi bahan penyempurnaan sebelum produk dikembangkan lebih lanjut. Baca Juga Menenun Masa Depan Ekonomi Indonesia-Jepang Lewat Kampus Lahirnya sembilan board game edukasi UMM menunjukkan bahwa luaran akademik perguruan tinggi tidak harus berhenti sebagai laporan penelitian atau tugas perkuliahan. Inovasi tersebut dapat ditransformasikan menjadi instrumen pendidikan yang aplikatif, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan generasi saat ini. Lebih jauh, board game edukasi ini diharapkan menjadi jembatan untuk meneruskan semangat literasi Abdul Malik Fadjar kepada generasi muda. Dengan pendekatan yang menyenangkan, nilai-nilai pendidikan, kecerdasan kognitif, serta ketangguhan mental dapat ditanamkan sejak dini sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.
Tak Ada Pemberitahuan, Ini Cara Cek Wilayah yang Kena Padam Bergilir

Lihat Foto Penulis: Sandra Desi Caesaria | Editor: Resa Eka Ayu Sartika KOMPA.com – Informasi mengenai pemadaman listrik sering dicari masyarakat nyaris setiap hari. PT PLN rajin memberikan informasi akan adanya jadwal pemadaman melalui akun Instagram resmi masing-masing daerah. Namun akhir-akhir ini, masyarakat banyak yang protes ketika tak ada info pemadaman. Banyak masyarakat yang mengatakan wilayah mereka tiba-tiba padam bergilir tanpa pemberitahuan sebelumnya di media sosial. Sehingga hal ini cukup merepotkan masyarakat yang masih beraktivitas pada siang hari. Masyarakat dapat mengecek lokasi pemadaman bergilir yang mendadak. Seperti pada Sabtu (20/6/2026) tercatat daerah Solo, Yogyakarta, Lamongan, Surabaya, dan beberapa lokasi lainnya. Bagaimana caranya? Cara mengecek wilayah yang padam bergilirJika tak ada pemberitahuan di media sosial PLN, masyarakat masih bisa mencari info mana saja daerah yang terdampak. PT PLN (Persero) menyediakan berbagai layanan digital melalui aplikasi PLN Mobile bagi pelanggan. Fitur ini memungkinkan pengguna melihat apakah terjadi gangguan listrik di area tertentu, mengetahui wilayah yang terdampak, serta memantau kondisi jaringan listrik di sekitar lokasi pelanggan. Berikut langkah-langkah untuk mengecek pemadaman listrik secara online: Unduh dan buka aplikasi PLN Mobile. Masuk menggunakan nomor ponsel yang telah terdaftar. Pilih menu Pengaduan pada halaman utama. Klik fitur Cek Padam Sekitar Saya. Pilih ID Pelanggan atau nomor yang ingin diperiksa. Tunggu hingga sistem selesai memproses data. Aplikasi akan menampilkan peta dan informasi kondisi kelistrikan di sekitar lokasi pelanggan, termasuk area yang sedang mengalami gangguan atau pemadaman. Melalui fitur tersebut, pelanggan dapat memperoleh informasi terkait listrik padam di sekitar rumah tanpa harus terlebih dahulu menghubungi layanan pelanggan PLN. Jika tidak dapat mengakses PLN Mobile, pelanggan tetap dapat menyampaikan laporan melalui fitur Live Chat yang tersedia di aplikasi atau dengan menghubungi Call Center PLN 123. Lihat Foto Apa yang harus dilakukan saat padam bergilir? Guru Besar Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Machmud Effendy, membagikan beberapa hal yang harus dilakukan saat padam bergilir dadakan. 1. Melepas kabel dari colokan Pria yang juga wakil dekan 1 FT UMM mengatakan, saat lampu mati mendadak segeralah mencopot colokan barang elektronik dulu. Mulai dari TV, kulkas, bahkan sampai laptop, dan mesin cuci. Mengapa harus mencopot kabel barang-barang elektronik dari stop kontak? Hal itu untuk mencegah alat cepat rusak saat listrik menyala lagi. “Kalau listrik mulai menyala, sering kali disertai dengan lonjakan tegangan (voltage surge) yang tinggi dan mendadak. Jadi berbahaya kalau tegangan masuk ke barang elektronik,” katanya, saat dihubungi Kompas.com pada Sabtu (14/6/2026). Baca juga: Mengapa Listrik Padam Bergilir di Jawa? Ini Penjelasan PLN 2. Jangan langsung menyalakan alat elektronik Jika listrik sudah menyala, ia mengatakan jangan terburu-buru langsung mencolokkan barang elektronik. Sebaiknya ditunggu beberapa menit, baru dicolokkan. “Sebab kalau langsung dinyalakan ketika listrik baru nyala, berpotensi merusak mesin di dalamnya,” tutupnya..