Dosen Prodi Biologi FKIP UMM Latih Guru IPA SMP Muhammadiyah KWB Membuat Preparat Histologi

pwmu.co – Pelatihan pembuatan preparat histologi bagi guru IPA SMP Muhammadiyah Kota Wisata Batu (KWB) dilaksanakan pada Senin (2/2/2026) di Laboratorium Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).Kegiatan ini bertujuan membekali guru IPA dengan keterampilan membuat preparat awetan jaringan tumbuhan dan hewan sebagai penunjang pembelajaran dan praktikum IPA di tingkat SMP. Preparat awetan jaringan tumbuhan dan hewan merupakan media penting dalam pembelajaran IPA. Namun, ketersediaannya di sekolah sering kali terbatas karena proses pembuatannya yang relatif rumit dan belum banyak dikuasai oleh guru. Oleh karena itu, pelatihan ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kemandirian guru dalam menyediakan media praktikum yang berkualitas. Kegiatan ini pun disambut dengan antusias oleh para peserta. Sri Wahyuni, pakar histologi anatomi dari Program Studi Biologi UMM sekaligus pelaksana kegiatan, menyampaikan bahwa pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan praktikum IPA di SMP. Ia menjelaskan bahwa proses pembuatan preparat meliputi penyediaan bahan sesuai spesifikasi dan metode yang digunakan. Tahapan utama mencakup fiksasi, dehidrasi, penjernihan, infiltrasi, pengeblokan, pemotongan (pada metode section), pewarnaan (staining), hingga mounting dan pelabelan. Ia menambahkan bahwa pelatihan kali ini memanfaatkan bahan pewarna alami yang berasal dari tumbuhan morning glory yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Metode yang dilatihkan pada tahap awal meliputi metode apus (smear) darah aves serta metode whole mount pada tumbuhan. Nurwidodo menegaskan bahwa penggunaan bahan alam dalam pelatihan ini memiliki misi khusus, yakni menumbuhkan apresiasi terhadap potensi lingkungan yang selama ini kurang dimanfaatkan dalam pembelajaran IPA. Pelatihan ini mendapat respons positif dari para guru IPA SMP Muhammadiyah KWB. Cantia, guru SMP Muhammadiyah 8 KWB, mengaku sangat terbantu dengan pelatihan tersebut. Ia menilai kegiatan ini memberikan pemahaman dan keterampilan yang sangat bermanfaat, khususnya dalam mendukung peningkatan kualitas layanan laboratorium IPA yang dikelolanya. Hal senada disampaikan oleh Iin Hindun. Ia menuturkan bahwa keterampilan membuat preparat awetan sangat dibutuhkan karena preparat tersebut menjadi objek belajar penting dalam pendidikan IPA, yang menyajikan informasi faktual mengenai struktur jaringan tumbuhan dan hewan. Sementara itu, Kepala SMP Muhammadiyah 8 Batu, Windra Rizkiana, menyampaikan bahwa kemampuan guru IPA dalam menyediakan preparat awetan secara mandiri akan membuat pembelajaran menjadi lebih efisien. Ia juga mengapresiasi hasil pelatihan yang dinilainya sangat baik, dengan tampilan preparat berwarna kontras sehingga jaringan terlihat jelas. Pelatihan ini merupakan wujud kepedulian tim pengabdian dosen Program Studi Pendidikan Biologi UMM dalam memperkuat kualitas layanan laboratorium pendidikan. Melalui kegiatan ini, sekolah diharapkan semakin berdaya dalam memenuhi kebutuhan sendiri terhadap objek dan preparat pembelajaran yang memegang peranan penting dalam pembelajaran IPA (*)

Kuliah Bahasa Arab yang Membawa Umar Faruq Keliling Dunia

KLIKMU.CO – Membekali diri dengan kompetensi bahasa dan pengalaman organisasi menjadi kunci utama bagi para lulusan perguruan tinggi untuk menembus pasar kerja global. Hal itulah yang dibuktikan oleh Umar Faruq, alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang kini sukses meniti karier sebagai tour leader profesional perjalanan haji, umrah, dan halal tour ke berbagai negara. Bahkan, hampir setiap pekan ia bepergian ke luar negeri, mulai Arab Saudi, Tiongkok, Thailand, Turki, hingga sejumlah negara lainnya. Umar Faruq merupakan lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Agama Islam (FAI) UMM angkatan 2016. Saat ini, ia memegang tanggung jawab besar dalam mendampingi dan melayani para tamu Allah untuk beribadah di Tanah Suci, sekaligus memandu wisatawan yang ingin berwisata ke luar negeri. Kesuksesan yang diraih Umar tidak datang secara instan. Semua berawal dari keputusannya memperdalam ilmu agama dan bahasa selama menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang. Dia mengungkapkan, alasannya memilih Program Studi Pendidikan Bahasa Arab di FAI UMM adalah untuk memperluas wawasan kependidikan sekaligus memperdalam bahasa Arab agar lebih memahami ajaran Islam. “Alasan saya dulu memilih Fakultas Agama Islam karena ingin menambah wawasan terkait pendidikan, khususnya di bidang pendidikan bahasa Arab, sehingga saya semakin tertarik untuk mendalami agama Islam,” ujar Umar, Jumat (6/2/2026). Selama masa studinya, alumnus asal Bekasi ini dikenal aktif menyeimbangkan aktivitas akademik dan organisasi. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Ketua Eksternal Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Bahasa Arab. Tak hanya aktif berorganisasi, Umar Faruq juga mengasah keterampilan profesional sebelum lulus dengan bergabung di biro administrasi kampus. Ia sempat bekerja di Humas UMM sebagai penerjemah berita dan translator untuk berbagai konten yang dimuat di laman resmi universitas. Pengalaman di Humas UMM dan keterlibatannya di HMPS, diakui Umar, sangat membentuk karakter serta kesiapan dirinya menghadapi dunia kerja. Ia menilai lingkungan kampus UMM, baik dari sisi fasilitas maupun kualitas dosen, sangat mendukung pengembangan potensi mahasiswa. Menariknya, transisi karier Umar sebagai pemandu wisata internasional memiliki cerita tersendiri. Saat pertama kali menjalankan amanah sebagai tour leader, ia mengaku tidak mengalami kendala berarti. Latar belakang pendidikan yang relevan menjadi modal utama, terutama kemampuan bahasa yang diperoleh selama kuliah. “Alhamdulillah, karena memiliki dasar bahasa Arab, semuanya bisa terkendali dan berjalan lancar saat pertama kali saya membawa tamu-tamu Allah untuk umrah,” tuturnya. Ia juga menyoroti salah satu mata kuliah yang paling berkesan selama kuliah di UMM, yakni Bahasa Arab Amiyah atau bahasa Arab percakapan sehari-hari. Ilmu tersebut hingga kini menjadi bekal penting dalam berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal, khususnya di Arab Saudi. “Mata kuliah Bahasa Arab Amiyah sangat berkesan dan bermanfaat sampai sekarang bagi saya sebagai tour leader,” ujarnya. Saat ini, Umar Faruq juga tengah merintis bisnis biro perjalanan haji dan umrah miliknya sendiri. Ia berupaya menjalani profesi sekaligus menata mimpi yang memberi manfaat bagi masyarakat, khususnya bagi mereka yang ingin beribadah dan berwisata dengan aman dan nyaman. Sebagai penutup, Umar menyampaikan pesan motivasi kepada mahasiswa UMM yang masih menempuh pendidikan agar terus berjuang meraih impian tanpa mudah menyerah. Ia menekankan pentingnya menyeimbangkan usaha dan doa dalam setiap langkah kehidupan. “Prinsip hidup saya, selalu libatkan Allah dalam setiap ikhtiar. Karena setiap usaha tanpa doa adalah sombong, dan setiap doa tanpa usaha adalah bohong,” pungkasnya. (Faqih/AS)

Melihat Agenda JUFOC UMM Diklat Fotografi di Pelabuhan Perikanan Pondokdadap

BERITABANGSA.ID, MALANG – Pelabuhan Perikanan Pondokdadap menyajikan sisinya yang lain bagi komunitas fotografi mahasiswa. Selain sebagai pelabuhan perikanan yang diisi oleh aktiktivitas nelayan dan pelaku usaha kelautan dan perikanan, pelabuhan perikanan Pondokdadap juga diminati oleh mahasiswa pencinta fotografi. Pada tanggal 13 dan 14 Desember 2025, komunitas fotografi yang tergabung dalam Jurnalistik Fotografi Club Universitas Muhammadiyah Malang (JUFOC-UMM) menggelar kegiatan Orientasi Dasar (Ordas) Fotografi di pelabuhan perikanan yang dikelola oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur. Orientasi dasar fotografi tersebut dilaksanakan sebagai bekal dasar teknis fotografi untuk mahasiswa baru jurusan ilmu Komunikasi FISIP – UMM. Kegiatan diawali dengan pemaparan materi tentang Profile UPT PPP Pondokdadap oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Achmad Sonhaji, dilanjutkan materi fotografi dasar oleh fotografer profesinal, Fully Syafi Handoko. Selain materi pengenalan pelabuhan perikanan dan dasar-dasar fotografi, panitia juga menyampaikan materi tentang organisasi JUFOC. Ketua JUFOC, Mustafa Kamal menjelaskan, bahwa kegiatan Ordas adalah kegiatan rutin setiap penerimaan anggota baru. ”Ordas dilaksanakan sebagai dasar pengenalan fotografi bagi mahasiswa yang menjadi anggota baru JUFOC, sekaligus sebagai bagian dari program kerja tahunan organisasi JUFOC,” kata Mustafa Setelah pemaparan materi usai seluruhnya, peserta Ordas diberikan kesempatan untuk melakukan hunting foto yang berlokasi di seluruh area pelabuhan, termasuk di dermaga, di kios ikan nelayan dan tempat lain yang menjadi pusat aktifitas nelayan dan pelaku usaha. Kegiatan hunting foto berakhir pada Minggu (14/12) siang. ”Alhamdulillah, kegiatan kami berjalan lancar. Kami sampaikan banyak terima kasih atas dukungan UPT Pelabuhan Perikanan Pantai Pondokdadap, dimana kami diperkenankan untuk melaksanakan kegiatan Ordas di wilayah pelabuhan, serta memanfaatkan fasilitas layanan di Pondokdadap,” jelas Nazhif Wiradafa selaku Ketua Pelaksana Ordas JUFOC.

Perkuat Ketahanan Pangan di Tengah Cuaca Tak Menentu, Mahasiswa UMM Kembangkan Bed Dryer Pengering Gabah

MALANG POST – Ketergantungan petani pada sinar matahari kerap berujung pada turunnya kualitas panen, terutama saat musim hujan ketika proses penjemuran tidak berjalan optimal. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan inovasi bed dryer, sebuah teknologi pengeringan gabah yang dirancang lebih efektif dan stabil untuk menjaga mutu hasil panen di tengah cuaca yang semakin tidak menentu. Bed dryer tersebut digagas oleh Malikul Arifin, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2022 asal Jombang, bersama timnya. Melalui penelitian lapangan, Malikul melihat langsung kesulitan petani dalam mengeringkan gabah saat musim hujan. Cuaca yang tidak stabil membuat proses penjemuran tradisional menjadi kurang optimal dan berisiko menurunkan kualitas hasil panen. “Waktu kami melakukan penelitian di Desa Ampeldento, Karangploso, Kabupaten Malang, kebetulan sedang musim hujan. Dari situ kami melihat pengeringan gabah secara manual kurang efektif. Akhirnya kami berinisiatif merancang bed dryer sebagai solusi,” ujar Malikul kepada Tim Humas UMM, 1 Februari lalu. Alat ini bekerja dengan memanfaatkan panas dari pembakaran minyak jelantah yang dikombinasikan dengan kain dan tisu sebagai media pembakaran. Kombinasi tersebut menghasilkan panas yang lebih stabil, sehingga proses pengeringan dapat berlangsung merata dan berkelanjutan. Tak hanya untuk gabah padi, bed dryer ini juga berpotensi digunakan untuk mengeringkan berbagai hasil pertanian lainnya. “Selain gabah, alat ini bisa dimanfaatkan untuk biji-bijian lain seperti jagung dan kopi, sehingga manfaatnya lebih luas,” jelas Malikul. Dalam proses pengembangannya, tim menghadapi sejumlah tantangan, terutama pada tahap pengelasan dan pemilihan material. Mereka harus memastikan bahan yang digunakan tepat agar hasil pengelasan optimal. “Kami sempat kesulitan karena ada kombinasi bahan besi dan aluminium, sehingga proses pengelasan harus dilakukan dengan sangat hati-hati,” ungkapnya. Saat ini, bed dryer yang dikembangkan masih berupa prototipe berskala 1:10 dari ukuran sebenarnya. Meski demikian, prototipe tersebut telah melalui tahap uji coba dan menunjukkan kinerja yang menjanjikan. Hasil pengujian menunjukkan alat ini mampu menurunkan kadar air gabah hingga berada pada kisaran ideal, yakni 12–14 persen. Ke depan, bed dryer ini dirancang untuk direalisasikan dalam skala penuh dengan kapasitas pengeringan sekitar 500 kilogram gabah dalam waktu kurang lebih delapan jam, menggunakan suhu optimal 40–50 derajat Celsius. Dosen pembimbing, Dr. Thomy Eko Saputro, S.T., M.Sc., memberikan apresiasi atas capaian mahasiswa tersebut. Menurutnya, inovasi bed dryer merupakan wujud nyata kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan kompetensi teknik untuk menjawab kebutuhan masyarakat. “Saya mengapresiasi mahasiswa Capstone Design yang berhasil merancang bed dryer sebagai solusi nyata bagi permasalahan UMKM. Karya ini menunjukkan kemampuan dalam mengidentifikasi kebutuhan pengguna, merancang sistem, memilih material, hingga menguji fungsi alat secara teknis,” tuturnya. Ia juga menilai karya ini mencerminkan peran seorang engineer sebagai problem solver yang mampu menghadirkan solusi aplikatif dan relevan. Ke depan, ia berharap alat tersebut dapat terus dikembangkan dari berbagai aspek, mulai dari efisiensi energi, ergonomi, hingga kesiapan implementasi di lapangan. “Harapannya, karya ini tidak berhenti sebagai prototipe akademik, tetapi dapat dikembangkan melalui kerja sama dengan UMKM, inkubasi produk, dan hilirisasi riset agar siap digunakan secara luas,” tambahnya. Melalui inovasi bed dryer ini, mahasiswa Teknik Industri UMM tidak hanya menghasilkan karya akademik, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi sektor pertanian. Inovasi tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara ilmu pengetahuan, kepedulian sosial, dan semangat berkarya mampu melahirkan teknologi tepat guna yang berdampak langsung bagi masyarakat.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Berkat Pendidikan Bahasa Arab UMM, Umar Faruq Terbang ke Luar Negeri Hampir Setiap Pekan

MALANG| JATIMSATUNEWS.COM: Kemampuan bahasa dan pengalaman organisasi menjadi bekal penting bagi lulusan perguruan tinggi untuk bersaing di kancah global. Hal tersebut dibuktikan oleh Umar Faruq, alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang kini sukses meniti karier sebagai tour leader profesional perjalanan haji, umrah, dan halal tour ke berbagai negara. Hampir setiap pekan, Umar dipercaya memimpin perjalanan ke luar negeri, mulai dari Arab Saudi, Tiongkok, Thailand, Turki, hingga sejumlah negara lainnya. Umar Faruq merupakan lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Agama Islam (FAI) UMM angkatan 2016. Saat ini, ia mengemban amanah besar untuk mendampingi jamaah dalam menjalankan ibadah di Tanah Suci sekaligus memandu wisatawan muslim yang ingin berlibur ke luar negeri dengan nyaman dan aman. Kesuksesan yang diraihnya saat ini tidak lepas dari keputusan Umar untuk memperdalam ilmu agama dan bahasa selama menempuh pendidikan di UMM. Ia mengungkapkan bahwa pilihannya berkuliah di Pendidikan Bahasa Arab didasari keinginannya untuk memperluas wawasan kependidikan sekaligus memperdalam pemahaman terhadap bahasa Arab sebagai kunci memahami ajaran Islam. “Alasan saya memilih Fakultas Agama Islam, khususnya Pendidikan Bahasa Arab, karena saya ingin menambah wawasan pendidikan dan memperdalam bahasa Arab agar bisa lebih memahami agama Islam,” tutur Umar. Selama masa perkuliahan, alumnus asal Bekasi ini dikenal aktif dan produktif. Selain fokus pada akademik, ia juga terlibat dalam organisasi mahasiswa. Umar tercatat pernah menjabat sebagai Ketua Eksternal Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Bahasa Arab. Tak hanya itu, Umar juga memperkaya pengalaman profesionalnya dengan bergabung di biro administrasi kampus sebelum lulus. Ia sempat bekerja di Humas UMM sebagai penerjemah berita dan translator untuk berbagai konten yang dimuat di laman resmi universitas. Menurutnya, pengalaman berorganisasi dan bekerja di lingkungan kampus sangat berperan dalam membentuk karakter, kepercayaan diri, serta kesiapan menghadapi dunia kerja. Umar menilai UMM memiliki lingkungan akademik yang kondusif, didukung fasilitas memadai dan dosen yang kompeten dalam membimbing mahasiswa. Peralihan karier Umar menjadi tour leader internasional pun memiliki kisah tersendiri. Meski pada awalnya baru pertama kali menjalankan tugas tersebut, ia mengaku tidak mengalami kendala berarti. Latar belakang pendidikan yang relevan serta penguasaan bahasa Arab menjadi modal utama dalam menjalani profesinya. “Alhamdulillah, dengan basic bahasa Arab yang saya dapatkan selama kuliah, semua bisa berjalan lancar saat pertama kali saya membawa jamaah umrah,” ungkapnya. Umar juga menyoroti salah satu mata kuliah yang paling berkesan baginya, yakni Bahasa Arab Amiyah atau bahasa Arab sehari-hari. Menurutnya, mata kuliah tersebut sangat aplikatif dan membantunya berkomunikasi langsung dengan masyarakat lokal, khususnya di Arab Saudi. “Mata kuliah Bahasa Arab Amiyah itu sangat berkesan dan sampai sekarang sangat bermanfaat bagi saya sebagai tour leader,” ujarnya. Kini, Umar Faruq juga tengah merintis bisnis biro perjalanan haji dan umrah miliknya sendiri. Ia berharap usahanya tersebut dapat memberikan manfaat luas bagi masyarakat, khususnya bagi mereka yang ingin menjalankan ibadah maupun berwisata ke luar negeri dengan aman dan nyaman. Menutup kisahnya, Umar berpesan kepada mahasiswa UMM agar terus berjuang meraih mimpi dan tidak mudah menyerah. Ia menekankan pentingnya menyeimbangkan usaha dengan doa dalam setiap langkah kehidupan. “Prinsip hidup saya adalah selalu melibatkan Allah dalam setiap ikhtiar. Karena usaha tanpa doa adalah sombong, dan doa tanpa usaha adalah bohong,” pungkasnya. (*)

Berjaya! Karate UMM Borong Enam Medali di Kejuaraan Nasional

  pwmu.co – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tim Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate UMM berhasil memborong enam medali dalam ajang Kejuaraan Karate STKIP Pasundan Open Tournament Series II 2026 Piala Kemenpora.Kompetisi itu digelar di Bandung dan diikuti lebih dari 1.200 atlet dari berbagai daerah di Indonesia. Pada kejuaraan tingkat nasional tersebut, kontingen UMM sukses membawa pulang empat medali perak dan dua medali perunggu. Capaian ini diraih oleh enam atlet dari lintas program studi yang menunjukkan bahwa prestasi olahraga di UMM tumbuh seiring dengan keberagaman latar akademik mahasiswa. Adapun para peraih medali kontingen UMM antara lain Arif Tri Dermawan (Manajemen) yang berhasil meraih Juara 2 Kumite Perorangan Senior Putra. Prestasi berlanjut melalui nomor Kata Beregu Senior Putri yang sukses mengantarkan Miranti Eka Pranejia (Manajemen), Khoirun Nisa Mufadilah (Ekonomi Pembangunan), dan Artika Atha Thaworn Thanyalak (Teknologi Pangan) meraih Juara 2. Sementara itu, Miranti Eka Pranejia kembali menyumbang medali dengan meraih Juara 3 Kata Perorangan Senior Putri, serta Ilma Mazida (Teknologi Pangan) yang mengamankan Juara 3 Kumite Perorangan Senior Putri. Miranti, salah satu peraih medali, mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas hasil yang diraih tim UKM Karate UMM. Ia menegaskan bahwa pencapaian ini bukan hanya tentang medali. Namun juga tentang proses panjang yang dilalui bersama tim. “Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan bangga karena bisa mempersembahkan hasil terbaik, tidak hanya untuk diri sendiri dan orang tua, tetapi juga untuk Universitas Muhammadiyah Malang,” ujarnya. Menurut Mira, tantangan terbesar dalam kejuaraan ini adalah menjaga fokus dan kekompakan, terutama bagi atlet yang turun di lebih dari satu kelas. Tekanan mental dan fisik menjadi ujian tersendiri mengingat ketatnya persaingan antar atlet dari berbagai daerah. “Bertanding di nomor perorangan dan beregu menuntut kami untuk pandai membagi fokus, menjaga komunikasi tim, serta tetap percaya diri di tengah tekanan pertandingan,” jelasnya. Ia juga menekankan bahwa kunci keberhasilan tim terletak pada disiplin latihan dan kebersamaan yang terus dijaga sejak masa persiapan. Intensitas latihan yang tinggi, termasuk latihan penuh menjelang keberangkatan, menjadi bagian dari komitmen seluruh atlet meskipun harus berbagi waktu dengan aktivitas akademik. Dukungan kampus turut berperan besar dalam pencapaian ini. UMM memberikan kemudahan izin akademik dan motivasi. Dukungan fasilitas pun disiapkan secara optimal, mulai dari transportasi hingga akomodasi selama kejuaraan berlangsung. Dengan dukungan tersebut, para atlet dapat bertanding dengan aman, nyaman, dan fokus memberikan performa terbaik. Kepala Bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., menyampaikan apresiasi atas prestasi UKM Karate UMM. Ia menilai capaian ini sebagai wujud nyata pembinaan kemahasiswaan yang berkelanjutan. “Prestasi ini menjadi salah satu bukti keberhasilan pembinaan minat dan bakat mahasiswa, sekaligus ajang penjaringan atlet potensial yang akan dipersiapkan menuju kompetisi seperti Pomprov dan Pomnas,” tuturnya. Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari peran pelatih dan semangat konsisten para atlet dalam berlatih dan bertanding. Dengan capaian tersebut, UKM Karate UMM diharapkan dapat terus meningkatkan prestasi dan mengharumkan nama kampus di level nasional hingga internasional.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim

Ramai Disalahgunakan, Dokter Anestesi UMM Peringatkan Risiko Fatal Gas N₂O

  pwmu.co – Penggunaan gas Dinitrogen Oksida (N₂O) diluar kepentingan medis dan kuliner dalam pembuatan whipped cream menyimpan risiko kesehatan serius yang tidak bisa dianggap ringan.Dalam dunia medis, gas ini sejatinya merupakan bagian dari praktik anestesi yang penggunaannya dibatasi secara ketat, namun belakangan justru disalahgunakan untuk memperoleh sensasi euforia sesaat. Tanpa pengawasan dokter, N₂O dapat mengganggu proses pertukaran oksigen di paru-paru. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan hipoksia, yakni kekurangan oksigen dalam tubuh yang dapat berujung pada gangguan pernapasan hingga kematian mendadak. “Kandungan dalam gas pembuat whipped cream itu sebenarnya adalah N₂O, yang di medis dikenal sebagai gas tertawa, tetapi efeknya tidak sesederhana tertawa saja. N₂O memicu pelepasan hormon endorfin di dalam tubuh, hormon yang efeknya menyerupai morfin. Efek ini menimbulkan sensasi nyaman, rileks, dan euforia ringan, sehingga sering kali membuat penggunanya merasa aman. Padahal, sensasi tersebut justru menutupi risiko fisiologis yang berbahaya bagi sistem pernapasan,” ujar dr. Shonif Akbar, Sp.An-TI., Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang(UMM) 02 Februari lalu pada Tim Humas UMM. Pria yang juga dokter anestesi dan terapi intensif Rumah Sakit UMM itu menjelaskan bahwa dalam praktik kedokteran, N₂O tidak pernah digunakan secara bebas atau tunggal. Gas ini selalu dikombinasikan dengan oksigen serta anestesi lain dalam dosis terukur untuk menekan efek samping dan menjaga keselamatan pasien. Fungsinya adalah sebagai analgesik untuk meredakan nyeri dan ansiolitik untuk memberikan efek menenangkan, bukan sebagai zat rekreasional. Seluruh proses penggunaannya dilakukan di ruang operasi dengan pemantauan ketat terhadap fungsi pernapasan, kadar oksigen, dan sirkulasi darah pasien. Ia mengatakan jika masalah besar muncul ketika N₂O dihirup 100 persen tanpa campuran oksigen dan tanpa pengawasan dokter. “N₂O memiliki sifat mudah berdifusi dan cepat mengisi ruang kosong contohnya di paru, sehingga saat menggunakan N20 dan penggunaannya N2O dihentikan, N2O yang sudah berada di dalam tubuh akan cepat berdifusi ke keluar tubuh dan menumpuk di paru. Akibatnya oksigen gagal masuk ke dalam aliran darah melalui paru yang penuh dengan N2O. Ketika pertukaran oksigen terganggu, kadar oksigen dalam darah akan turun drastis atau mengalami desaturasi. Dalam hitungan menit, kondisi ini dapat memicu penurunan kesadaran, gangguan pernapasan, hingga henti jantung, terutama pada individu dengan kelainan jantung yang belum terdeteksi sebelumnya,” ujarnya. Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana informasi kesehatan kerap tereduksi ketika berpindah ke ruang publik dan media sosial. Gas N₂O yang belum beredar luas di masyarakat tetap berpotensi disalahgunakan ketika dipersepsikan sebagai barang aman dan legal tanpa pemahaman ilmiah yang memadai. Ketiadaan narasi risiko yang kuat membuat praktik ini tampak tidak berbahaya, padahal dampaknya bisa fatal. Kondisi ini memperlihatkan celah besar dalam edukasi kesehatan publik, khususnya terkait zat medis yang penggunaannya sangat spesifik. “Selain risiko jangka pendek, penyalahgunaan N₂O juga berdampak pada kesehatan jangka panjang. Paparan berulang dapat mengganggu metabolisme vitamin B12 yang berperan penting dalam fungsi saraf. Akibatnya, pengguna berisiko mengalami gangguan neurologis seperti nyeri saraf, gangguan otot, hingga kelumpuhan secara perlahan. Dampak ini sering tidak disadari karena muncul dalam jangka waktu lama dan tidak langsung terasa, sehingga banyak pengguna tidak mengaitkan keluhan fisik dengan riwayat paparan gas tersebut,” ujarnya. Dokter anestesi tersebut menegaskan bahwa penggunaan gas seperti N₂O seharusnya hanya dilakukan oleh tenaga medis terlatih dengan pengawasan ketat dan dukungan alat bantu pernapasan. Ia mengingatkan bahwa kegagalan pertukaran oksigen di paru-paru, meskipun hanya berlangsung beberapa menit terutama lebih dari empat menit dapat berakibat fatal, terlebih pada individu dengan gangguan jantung atau pernapasan yang tidak terdeteksi sebelumnya. Karena itu, fenomena whip pink menjadi peringatan penting bahwa sensasi euforia sesaat tidak sebanding dengan risiko kesehatan yang mengancam keselamatan jiwa.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim

Lulus Pendidikan Bahasa Arab, Umar Faruq Kini Kerjanya ke Luar Negeri Tiap Minggu

KOMPAS.com – Hampir tiap minggu Umar Faruq berangkat ke luar negeri, mulai dari Arab Saudi, Tiongkok, Tailan, Turki, dan negara lainnya dalam rangka bekerja. Umar merupakan lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2016. Saat ini ia bekerja sebagai tour leader profesional untuk perjalanan haji, umrah dan halal tour ke berbagai negara. Ia memegang tanggung jawab besar dalam menemani dan melayani para tamu yang hendak beribadah di Tanah Suci atau memandu wisatawan yang sekadar ingin berlibur ke luar negeri. Pilihannya mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Arab dulu lantaran memang ingin lebih memahami bahasa Arab. “Alasan saya dulu memilih Fakultas Agama Islam karena saya ingin menambah wawasan terkait dengan pendidikan, khususnya di pendidikan bahasa Arab, sehingga saya tertarik dengan agama Islam,” ujar Umar, dikutip dari situs UMM. Selama kuliah Umar aktif menyeimbangkan kegiatan akademik dan organisasi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Eksternal Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Bahasa Arab. Jadi Penerjemah Sebelum Lulus Bahkan sebelum lulus ia sudah menapaki dunia kerja untuk mengasah keterampilan profesionalnya. Ia bergabung di biro administrasi kampus. Kemudian pernah menjadi penerjemah berita dan konten-konten yang dimuat di situs resmi UMM. Bagi pemuda asal Bekasi, Jawa Barat ini pengalaman berorganisasi dan bekerja tersebut sangat membentuk karakter serta kesiapannya dalam menghadapi dunia kerja yang nyata. Menurutnya lingkungan kampus, fasilitas, dan para dosen juga sangat mendukung perkembangan mahasiswa. Karier Profesional Latar belakang pendidikan yang Umar tempuh terasa sangat relevan dengan pekerjaannya sekarang. Kemampuan bahasa Arab menjadi modal penting Umar untuk berkomunikasi di luar negeri. “Alhamdulillah, karena ada basic bahasa Arab, jadi semua bisa terkendali dan dijalankan dengan lancar saat pertama kali saya membawa tamu-tamu Allah untuk umrah,” katanya.

Bed Dryer Karya Mahasiswa UMM Jaga Mutu Gabah di Tengah Cuaca Tak Menentu

Kota Malang, Tagarjatim.id – Ketergantungan petani pada sinar matahari dalam proses pengeringan gabah kerap menjadi persoalan serius, terutama saat musim hujan. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan inovasi bed dryer, alat pengering gabah yang dirancang lebih efektif untuk menjaga kualitas hasil panen di tengah cuaca yang semakin tidak menentu. Inovasi bed dryer ini digagas oleh Malikul Arifin, mahasiswa Teknik Industri UMM angkatan 2022 asal Jombang, bersama timnya. Gagasan tersebut berangkat dari hasil penelitian lapangan yang dilakukan di Desa Ampeldento, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, saat musim hujan. Malikul menuturkan, proses penjemuran gabah secara manual menjadi kurang optimal ketika intensitas hujan tinggi. Kondisi tersebut berisiko menurunkan mutu gabah karena kadar air sulit dikendalikan. “Waktu kami melakukan penelitian di Desa Ampeldento, kebetulan sedang musim hujan. Dari situ terlihat bahwa pengeringan gabah secara manual kurang efektif. Karena itu, kami berinisiatif merancang bed dryer sebagai solusi,” ujar beberapa waktu lalu. Bed dryer ini bekerja dengan memanfaatkan panas dari pembakaran minyak jelantah yang dikombinasikan dengan kain dan tisu sebagai media pembakaran. Kombinasi tersebut menghasilkan panas yang lebih stabil sehingga proses pengeringan gabah dapat berlangsung merata dan berkelanjutan. Tak hanya diperuntukkan bagi gabah padi, alat ini juga berpotensi digunakan untuk mengeringkan hasil pertanian lain. “Selain gabah, bed dryer ini bisa dimanfaatkan untuk biji-bijian seperti jagung dan kopi, sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh petani,” jelas Malikul. Dalam proses pengembangannya, tim menghadapi sejumlah kendala, terutama pada tahap pengelasan dan pemilihan material. Kombinasi antara besi dan aluminium menuntut ketelitian ekstra agar hasil pengelasan tetap optimal dan aman digunakan. Saat ini, bed dryer yang dikembangkan masih berupa prototipe berskala 1:10 dari ukuran sebenarnya. Meski demikian, hasil uji coba menunjukkan kinerja yang menjanjikan. Alat ini mampu menurunkan kadar air gabah hingga kisaran ideal, yakni 12–14 persen. Ke depan, bed dryer tersebut dirancang untuk dikembangkan dalam skala penuh dengan kapasitas pengeringan sekitar 500 kilogram gabah dalam waktu kurang lebih delapan jam pada suhu optimal 40–50 derajat Celsius. Dosen pembimbing, Dr. Thomy Eko Saputro, mengapresiasi inovasi tersebut. Menurutnya, bed dryer menjadi contoh nyata peran mahasiswa sebagai problem solver yang mampu menghadirkan solusi aplikatif bagi masyarakat. “Inovasi ini menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi kebutuhan pengguna, merancang sistem, memilih material, hingga menguji fungsi alat secara teknis,” tuturnya. Ia berharap karya tersebut tidak berhenti pada tahap prototipe akademik, melainkan dapat dikembangkan melalui kolaborasi dengan UMKM, inkubasi produk, dan hilirisasi riset agar siap diterapkan secara luas. (*)