Gelar Rakorwil di UMM, Muhammadiyah Jatim Dorong Digitalisasi Tata Kelola Panti Asuhan dan LKS

Portalbontang.com, Malang – Transformasi layanan sosial menjadi fokus utama Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur. Melalui Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS), PWM Jatim menggelar Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ahad (8/2/2026). Kegiatan strategis ini dihadiri lebih dari 200 peserta yang terdiri atas pengurus MPKS Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA), serta para pengelola Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-Jawa Timur. Forum ini bertujuan untuk menyosialisasikan program kerja MPKS tahun 2026 sekaligus memperkuat sinergi antar-lembaga dalam mengembangkan layanan kesejahteraan sosial yang lebih berdampak. Ketua MPKS PWM Jawa Timur, M. Himawan Sutanto, M.Si., menegaskan bahwa Rakorwil ini bukan sekadar pertemuan rutin. Ini adalah momen penyatuan visi seluruh unsur pelaksana layanan sosial persyarikatan. “Penguatan koordinasi ini penting agar program kesejahteraan sosial Muhammadiyah dapat berjalan efektif, terukur, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat luas,” ujar Himawan. Era Baru Digitalisasi LKS Sorotan penting disampaikan oleh Wakil Ketua PWM Jawa Timur Bidang Kesejahteraan Sosial dan Pembinaan Angkatan Muda Muhammadiyah, Muh. Khoirul Abduh, M.Si. Ia menekankan urgensi profesionalisme dalam tata kelola amal usaha bidang sosial. Menurutnya, LKS Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (seperti panti asuhan dan santunan) tidak bisa lagi dikelola dengan cara-cara konvensional semata. Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci untuk meraih kepercayaan publik. “Mulai periode ini, tata kelola LKS akan kita digitalisasi. Tujuannya agar semua potensi LKS dapat dengan mudah diakses oleh publik,” tegas Khoirul Abduh. Baca Juga:Dukung Keberlanjutan Swasembada Pangan, Pupuk Indonesia Resmikan Modernisasi Pabrik Tertua Pupuk Kaltim Ia menambahkan, tantangan masalah sosial ke depan menuntut pengelola LKS untuk terus meningkatkan kapasitas SDM, memperkuat manajemen, serta adaptif terhadap regulasi dan perkembangan teknologi. Rangkaian Rakorwil diisi dengan pemaparan program kerja, diskusi panel, serta penyusunan rencana tindak lanjut (RTL). Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun sinergi yang solid untuk memperluas jangkauan dan kualitas pelayanan sosial Muhammadiyah di Jawa Timur. ***

Tampil Gemilang, Tim Karate UMM Borong Enam Medali di Kejuaraan Nasional Piala Kemenpora

UKM Karakter Universitas Muhammadiyah Malang pada perhelatan Kejuaraan Karate STKIP Pasundan Open Tournament Series II 2026 Piala Kemenpora (umm.ac.id) INDOZONE.ID – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membawa pulang enam medali Kejuaraan Karate STKIP Pasundan Open Tournament Series II 2026 Piala Kemenpora, Bandung, Jawa Barat. Ajang kompetisi nasional tersebut dihadiri oleh lebih dari 1.200 atlet profesional dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Melalui kompetisi tersebut, tim karate UMM yang beranggotakan enam atlet, berhasil meraih empat medali perak dan dua medali perunggu. Arif Tri Dermawan (Manajemen) membuka raihan prestasi dengan menyabet Juara 2 Kumite Perorangan Senior Putra. Kemudian disusul keberhasilan Miranti Eka Pranejia (Manajemen), Khoirun Nisa Mufadilah (Ekonomi Pembangunan), dan Artika Atha Thaworn Thanyalak (Teknologi Pangan), meraih Juara 2 Kata Beregu Senior Putri. Sementara itu, Miranti Eka Pranejia kembali menambah medali melalui Juara 3 Kata Perorangan Senior Putri dan Ilma Mazida (Teknologi Pangan) mengamankan Juara 3 Kumite Perorangan Senior Putri. “Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan bangga karena bisa mempersembahkan hasil terbaik, tidak hanya untuk diri sendiri dan orang tua, tetapi juga untuk Universitas Muhammadiyah Malang,” tutur Miranti. Menurutnya, tantangan terbesar mereka adalah menjaga tim agar tetap kompak, khusunya bagi atlet yang turun di lebih dari satu kelas sekaligus. “Bertanding di nomor perorangan dan beregu menuntut kami untuk pandai membagi fokus, menjaga komunikasi tim, serta tetap percaya diri di tengah tekanan pertandingan,” tambahnya. Selain itu, keberhasilan tim juga berangkat dari disiplin latihan yang tinggi, kekompakkan, hingga komitmen para atlet yang terus dipertahankan selama mempersiapkan lomba. Kepala Bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM, Ary Bakhtiar, menilai raihan cemerlang UKM Karate UMM tersebut merupakan bukti pembinaan kemahasiswaan secara berkelanjutan. “Prestasi ini menjadi salah satu bukti keberhasilan pembinaan minat dan bakat mahasiswa, sekaligus ajang penjaringan atlet potensial yang akan dipersiapkan menuju kompetisi seperti Pomprov dan Pomnas,” ujarnya.

Tetap Optimal di Musim Hujan, Mahasiswa UMM Ciptakan Inovasi Pengering Gabah bagi Petani

Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang memperkenalkan inovasi teknologi pengering gabah (umm.ac.id) INDOZONE.ID – Empat mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mengembangkan alat pengering gabah (bed dryer) yang efektif digunakan petani walaupun saat musim hujan. Inovasi yang dikepalai oleh Malikul Arifin tersebut berangkat dari permasalahan di lapangan, yang kerap dialami oleh petani saat musim hujan tiba, yakni kesulitan untuk mengeringkan hasil tani secara optimal. Hal tersebut menyebabkan kualitas panen yang dihasilkan pun turun drastis, “Waktu kami melakukan penelitian di Desa Ampeldento, Karangploso, Kabupaten Malang, kebetulan sedang musim hujan. Dari situ kami melihat pengeringan gabah secara manual kurang efektif. Akhirnya kami berinisiatif merancang bed dryer sebagai solusi,” tutur Malikul. Bed dryer yang tim kembangkan bekerja dengan memanfaatkan panas dari pembakaran minyak jelantah, hasil dari kain dan tisu yang telah dibakar sebelumnya. Hasilnya, panas yang dihasilkan terbukti stabil sehingga proses pengeringan hasil tani juga lebih merata dan optimal. “Selain gabah, alat ini bisa dimanfaatkan untuk biji-bijian lain seperti jagung dan kopi, sehingga manfaatnya lebih luas,” tambahnya. Bed dryer, alat pengering gabah yang dikembangkan tim (umm.ac.id) Selama proses pengembangan bed dryer, tim mengalami kendala saat pemilihan bahan material yang akan digunakan. “Kami sempat kesulitan karena ada kombinasi bahan besi dan aluminium, sehingga proses pengelasan harus dilakukan dengan sangat hati-hati,” tuturnya. Sampai saat ini, bed dryer tersebut masih berbentuk sample uji coba dengan skala 1:10 dari ukuran alat sebenarnya. Walaupun masih berbentuk sample, bed dryer tersebut telah berhasil melewati berbagai tahap uji coba dengan hasil akhir yang memuaskan.

Dosen HI UMM Tanggapi Pro Kontra Keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace

Dosen Hubungan Internasional UMM, Dion Maulana P., M.Hub.Int, Ph.D (cand.), dalam menanggapi tuaian pro kontra Indonesia tergabung dalam Board of Peace. (Ist) Malangpariwara.com – Di tengah dinamika politik global yang terus berkembang, keputusan Indonesia untuk bergabung dengan Board of Peace (BoP) memunculkan perbincangan luas di ruang publik. Kebijakan ini dinilai menghadirkan peluang bagi Indonesia untuk berperan aktif secara langsung dalam mendukung program perdamaian dunia. Sekaligus membawa tantangan yang memunculkan beragam respons di tengah masyarakat. BoP merupakan forum internasional yang dibentuk untuk mendorong dialog dan kerja sama dalam upaya menciptakan perdamaian, khususnya di wilayah konflik. Namun, dalam perkembangannya, keberadaan BoP turut memantik diskusi terkait efektivitas, peran negara anggota. Serta dampaknya terhadap isu kemanusiaan global, termasuk Palestina dan Gaza. Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana P., M.Hub.Int, Ph.D (cand.), menjelaskan bahwa jika merujuk pada piagam resmi BOP. Terdapat sejumlah aspek yang masih menjadi perhatian, salah satunya terkait tidak disebutkannya secara eksplisit Palestina dan Gaza. Menurutnya, hal ini menjadi bahan kajian dalam perspektif akademis, terutama terkait posisi masyarakat yang terdampak dalam proses pengambilan keputusan internasional. Strategi Suarakan Kemerdekaan Palestina Dion juga menilai bahwa keikutsertaan Indonesia sebagai strategi untuk menyuarakan kemerdekaan Palestina dari dalam forum, sah secara politis. Namun, secara akademis, ia menilai klaim tersebut sulit dibuktikan selama piagam BoP tidak mengakui secara jelas Palestina dan Gaza sebagai subjek utama dalam upaya perdamaian. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tidak adanya keterlibatan Palestina dalam forum tersebut berpotensi memunculkan persepsi bahwa nasib negara Palestina ditentukan oleh negara-negara luar. Kondisi tersebut dinilai dapat membatasi hak Palestina dalam menentukan masa depannya sendiri. Sehingga menurutnya, hal ini perlu dikritisi agar upaya perdamaian benar-benar berjalan atas dasar keadilan dan kedaulatan. Risiko dan Dampak Tergabung dalam BoP Di sisi lain, Dion menilai ada dua sisi risiko maupun dampak dari bergabungnya Indonesia ke BoP. Hal ini dapat dilihat dari dua perspektif, yakni internasional dan domestik. Secara internasional, kredibilitas Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Atau lebih umum dalam mempertahankan politik luar negeri bebas aktif, akan semakin dipertanyakan. Hal itu karena BoP merupakan inisiatif Trump secara pribadi, tidak melalui persetujuan DPR AS, maupun melalui mekanisme PBB. Sementara secara domestik, isu Palestina memiliki sensitivitas yang tinggi di kalangan masyarakat. Oleh karena itu, setiap kebijakan yang berkaitan dengan isu tersebut berpotensi memunculkan beragam pandangan di masyarakat Indonesia. Pemerintah dinilai perlu terus memperkuat komunikasi publik secara terbuka dan informatif agar masyarakat dapat memahami tujuan, mekanisme, serta dampak dari kebijakan yang diambil. Sementara itu dari sisi keuntungan, keikutsertaan Indonesia dalam BOP membuka peluang bagi Indonesia. Dengan membawa tujuan untuk berperan aktif dalam mendukung program kemanusiaan dan pembangunan di wilayah terdampak konflik. Selain itu, langkah ini juga dinilai mampu memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang konsisten dan berkomitmen aktif dalam isu perdamaian dunia. Meski demikian, keikutsertaan Indonesia dalam BOP juga dapat dipahami sebagai bagian dari strategi diplomasi aktif di tingkat global. Dalam konteks kebijakan luar negeri, Indonesia selama ini dikenal memiliki komitmen terhadap perdamaian dunia, sebagaimana tertuang dalam konstitusi dan prinsip politik luar negeri bebas aktif. Buka Pintu Ruang Dialog Keikutsertaan Indonesia dalam BOP juga membuka ruang dialog yang lebih luas dengan berbagai negara, baik dari kawasan Timur Tengah maupun negara-negara lain. Hal ini dapat memperluas jaringan kerja sama serta memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan global. Meski demikian, timbul berbagai pandangan dan respons masyarakat yang beragam. Hal ini dinilai oleh Dion sebagai bagian dari dinamika demokrasi. “Pro dan kontra terhadap kebijakan luar negeri merupakan hal yang wajar, selama disampaikan secara rasional dan bertanggung jawab. Keberagaman pendapat justru dapat menjadi penyeimbang dalam proses pengambilan kebijakan publik,” katanya. Sebagai penutup, ia mengajak mahasiswa dan masyarakat untuk menyikapi isu internasional secara rasional dan bijak. Kepedulian terhadap isu global juga perlu dibarengi dengan pemahaman yang komprehensif, agar tidak terjebak pada informasi yang belum jelas kebenarannya. (Djoko W)

Keren! Mahasiswa UMM Rancang Irigasi Otomatis Bertenaga Surya untuk Pertanian Modern

Solar Powered Automatic Irrigation System karya Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (umm.ac.id) INDOZONE.ID – Mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menorehkan prestasi melalui penciptaan alat irigasi inovatif, yang dinamakan Solar Powered Automatic Irrigation System. Inovasi tersebut merupakan sistem irigasi tetes otomatis yang dirancang khusus untuk mendukung sektor pertanian skala kecil agar lebih efisien dan ramah lingkungan. Proyek ini lahir dari mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3) sebagai bentuk nyata dukungan kampus terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Isti Rohmania, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2023, bersama timnya merasakan keprihatinan terhadap kondisi petani di Indonesia. Mereka mengamati, bahwa mayoritas petani masih menggunakan metode penyiraman manual yang sangat menyita waktu serta tenaga. Selain itu, teknik tradisional bisa berisiko menyebabkan pemborosan air. Menanggapi masalah yang terjadi, tim mahasiswa berusaha menghadirkan solusi teknologi yang cerdas namun tetap hemat energi. Secara teknis, sistem irigasi ini mengandalkan panel surya sebagai pemasok listrik utama. Energi matahari yang ditangkap akan disimpan ke dalam baterai untuk menjalankan perangkat berbasis Arduino. “Melalui sensor kelembapan tanah, sistem bisa menyesuaikan kebutuhan air tanaman secara otomatis. Penyiraman tidak dilakukan terus-menerus, tetapi berdasarkan kondisi tanah,” ungkap Isti. Isti menjelaskan bahwa sistem akan memastikan tanaman mendapatkan asupan air sesuai kebutuhan, sehingga tidak ada air yang terbuang sia-sia. Meski sekarang masih dalam bentuk prototipe, alat tersebut memiliki fleksibilitas tinggi untuk diterapkan pada berbagai jenis lahan dan tanaman. Penggunaan energi surya menjadi keunggulan utama karena dapat membantu petani menekan pengeluaran operasional dan mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional. Alat ini berpotensi dikembangkan lebih lanjut menjadi sistem perawatan tanaman yang terintegrasi, di mana penyaluran pupuk cair dan nutrisi bisa dilakukan secara otomatis melalui saluran irigasi. Dosen pembimbing, Amelia Khoidir, S.T., M.Sc., memberikan apresiasi tinggi terhadap karya para mahasiswa sebagai wujud nyata integrasi teknologi Internet of Things (IoT) dalam pertanian presisi. “Inovasi seperti ini membuktikan bahwa mahasiswa mampu menghadirkan solusi teknologi yang relevan dan berdampak nyata bagi sektor pertanian,” ujarnya. Baca juga:Kolaborasi UPH dan Singapore Polytechnic Hadirkan Inovasi Nyata bagi Lingkungan dan Masyarakat Inovasi yang ditampilkan pada Industrial Engineering Expo 2026 membuktikan bahwa mahasiswa mampu menciptakan solusi teknologi tepat guna. Bagi Isti dan timnya, pengalaman ini mengajarkan bahwa sebuah inovasi yang hebat tidak harus rumit, asalkan mampu memberikan dampak nyata bagi kehidupan banyak orang.

MPKS PWM Jatim Gelar Rakorwil di UMM, Kuatkan Sinergi dan Digitalisasi Tata Kelola Lembaga Sosial

Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menyelenggarakan Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ahad (8/2/2026). (Foto: Istimewa) Malang, (afederasi.com) – Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menyelenggarakan Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ahad (8/2/2026). Acara yang dihadiri lebih dari 200 peserta ini bertujuan menyamakan visi dan memperkuat sinergi seluruh unsur kesejahteraan sosial Muhammadiyah di wilayah Jatim. Peserta Rakorwil terdiri dari pengurus MPKS tingkat daerah (PDM/PDA) serta pengelola Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-Jawa Timur. Dalam sambutannya, M. Himawan Sutanto, M.Si., Ketua MPKS PWM Jawa Timur, menekankan pentingnya forum ini sebagai penggerak program yang efektif dan terukur. “Rakorwil ini menjadi momentum strategis untuk menyatukan visi dan langkah gerak seluruh unsur MPKS dan LKS. Penguatan koordinasi sangat krusial agar program kesejahteraan sosial Muhammadiyah dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya. Sementara itu, Muh. Khoirul Abduh, M.Si., Wakil Ketua PWM Jatim Bidang Kesejahteraan Sosial, menyoroti urgensi profesionalisme dan transformasi digital dalam pengelolaan LKS. “LKS Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah harus dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel untuk meningkatkan daya dan kepercayaan publik. Mulai periode ini, tata kelola LKS akan kita digitalisasi agar potensi dan layanan dapat lebih mudah diakses masyarakat,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa LKS perlu terus beradaptasi dengan regulasi dan perkembangan teknologi guna menjawab kompleksitas tantangan sosial di masa depan. Rangkaian acara diisi dengan pemaparan program kerja MPKS PWM Jatim tahun 2026, diskusi interaktif, serta penyusunan rencana tindak lanjut. Melalui Rakorwil ini, MPKS PWM Jatim berharap dapat membangun sinergi yang lebih kuat guna memperluas jangkauan dan meningkatkan kualitas pelayanan sosial di seluruh Jawa Timur.(san)

Analisis Sosiolog Soal Maraknya Kasus Pembuangan Bayi di Jatim

detik.com, Malang – Kasus pembuangan bayi kembali terjadi di sejumlah daerah. Terbaru terjadi di Mojokerto pekan lalu. Sosiolog Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Tutik Sulistyowati menilai fenomena ini bukan peristiwa tunggal, melainkan sebuah gambaran gunung es dari berbagai persoalan sosial di masyarakat. Menurutnya, apa yang terlihat di permukaan hanyalah sebagian kecil dari masalah yang sebenarnya jauh lebih kompleks. Mulai dari moral hingga tekanan ekonomi. “Pembuangan bayi itu bukan masalah yang berdiri sendiri. Itu puncak dari berbagai persoalan sosial, mulai dari minimnya pendidikan moral dan empati, tekanan ekonomi, atau bahkan jika itu berawal dari hubungan di luar nikah yang memunculkan rasa malu dan ketakutan sendiri bagi pelaku,” ujar Tutik kepada detikJatim, Jumat (6/2/2026). Menurutnya, anggapan bahwa membuang bayi adalah solusi dari kehamilan yang tidak diinginkan merupakan pandangan yang keliru. Tindakan tersebut justru menambah persoalan baru, baik itu secara hukum, sosial, maupun kemanusiaan. “Bayi tetap memiliki hak untuk hidup, ia sendiri tidak dapat memilih untuk dilahirkan atau tidak. Ketika bayi dibuang, itu menunjukkan rendahnya empati dan tanggung jawab pelaku terhadap hasil perbuatannya sendiri,” jelasnya. Tutik menyebut bahwa pelaku pembuangan bayi tidak hanya berasal dari mereka yang mengalami tekanan ekonomi, melainkan juga berasal dari kelompok usia remaja atau dewasa muda yang secara mental dan psikologis belum matang. “Rasa malu itu seringkali justru muncul setelah hubungan terlarang terjadi. Saat bayi lahir dan tidak bisa lagi disembunyikan, rasa panik kemudian yang mengambil alih dengan pembuangan bayi yang dianggap sebagai jalan keluar,” kata Tutik. Tutik juga menyoroti peran keluarga, khususnya orang tua. Ia menilai kurangnya perhatian dan kontrol orang tua terhadap anak menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya pergaulan bebas. “Dalam konteks Sosiologi, keluarga itu punya peran covering status. Bagaimana jika statusnya masih anak harus diproteksi. Berbeda dengan status anak yang sudah berkeluarga, orang tua tidak boleh campur tangan banyak di situ,” kata Tutik. Ketika anak tidak dibekali dengan pendidikan moral hingga tidak berada dalam pengawasan yang sehat, euforia perayaan kerap disalahartikan sebagai pembenaran untuk perilaku bebas yang berisiko. “Selama anak belum menikah, itu masih menjadi tanggung jawab orang tua. Jangan merasa anak sudah dewasa lalu dilepas begitu saja. Orang tua perlu tahu anaknya di mana, dengan siapa, dan melakukan apa,” ujarnya. Minimnya pendidikan moral juga membuat pelaku tidak menyadari beratnya konsekuensi dari tindakan tersebut. Alih-alih berpikir secara rasional, pelaku justru menggunakan sisi emosionalnya dan berpusat pada diri sendiri, tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain dan masyarakat. Selain keluarga, lembaga pendidikan juga diminta berperan aktif. Sekolah dan kampus diharapkan memberikan dan memaksimalkan ruang kegiatan positif seperti ekstrakurikuler di sekolah maupun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus agar remaja tidak memiliki banyak waktu luang, berpotensi untuk disalahgunakan sebagaimana yang sifatnya tidak bertanggung jawab. “Apalagi anak-anak kita saat ini juga hidup di era digital. Apa yang ditonton belum tentu menjadi tuntunan, misalnya kreator yang mempromosikan pernikahan dini atau pergaulan bebas,” ujar Tutik. Tak hanya itu, Tutik juga menekankan peran aparat kepolisian dan penegak hukum untuk semakin tegas dalam menangani kasus seperti ini. Ia menyoroti bagaimana baik polisi maupun penegak hukum sudah seharusnya bekerjasama dengan pihak-pihak pengelola penginapan, terutama di daerah wisata seperti Pacet, Mojokerto. Menurutnya, kawasan wisata memiliki potensi tinggi terjadinya penyimpangan perilaku jika tidak diawasi dengan ketat. “Polisi harus tegas menertibkan hotel, penginapan, karaoke. Yang bukan pasangan sah seharusnya tidak diberi ruang. Ini harus ada bekerjasama dengan pemilik usaha,” tegasnya. Dalam hal ini, Tutik menyampaikan apresiasinya terhadap potensi perkembangan wisata di Jawa Timur dengan banyaknya destinasi wisata. Namun, di satu sisi, ia juga turut menyampaikan rasa keprihatinannya terhadap bebasnya remaja di luar pernikahan untuk mendapat akses penginapan. “Kita juga tidak bisa menyalahkan begitu saja kepada pengelola wisata. Namanya lokasi yang menjadi destinasi wisata kan pasti ramai dengan penginapan, hotel, karaoke, atau tempat hiburan lainnya. Tapi ini juga perlu mendapat perhatian lebih oleh kita semua. Ketika itu semua tersedia, efeknya adalah para remaja yang dalam konteks akhlak dan moralnya sedang rapuh, itu akan terseret kepada arus-arus yang tidak senonoh,” kata Tutik prihatin. Ia menilai sinergi semua pihak menjadi kunci untuk menekan angka pembuangan bayi yang meresahkan banyak masyarakat ini. Mulai dari orang tua, lembaga pendidikan, aparat keamanan, pengelola usaha penginapan, hingga tokoh agama dan pendakwah di media sosial. “Karena itu, penanaman iman, akhlak, dan kedewasaan moral sangat penting agar mereka punya benteng untuk mengatakan tidak pada hal-hal yang berisiko,” pungkasnya. Tutik berharap masyarakat dapat lebih kritis dan berpikir sebelum bertindak. Menurutnya, tragedi pembuangan bayi seharusnya menjadi alarm bersama bahwa pengawasan, pendidikan, dan kepedulian sosial tidak boleh kendur. “Berpikir dulu sebelum melakukan, bukan melakukan dulu baru menyesal. Kalau semua pihak bergerak, kasus seperti ini seharusnya bisa ditekan. Masyarakat harus dituntut untuk kritis dan cerdas supaya hasilnya juga tidak mengecewakan dan hasilnya bisa baik untuk semuanya.” tutupnya. Ia juga menyampaikan bahwa apa yang dianggap baik oleh diri sendiri belum tentu baik dalam pandangan masyarakat. Norma sosial yang berlaku di dalam kehidupan bermasyarakat sudah seharusnya menjadi standar yang menjadi pedoman dalam bertindak dan menyikapi segala hal. “Sekali lagi, keluarga terutama orang tua, lembaga pendidikan, agama kepolisian, harus betul-betul semuanya bergerak. Penyedia fasilitas umum, hotel penginapan karaoke juga harus betul-betul jangan hanya sekadar mencari untung, tetapi juga harus ikut berpikir bagaimana menjadikan masyarakat yang baik,” tegas Tutik. Jadi, tidak hanya berpusat pada momen Valentine saja. Pergaulan bebas yang masih menghantui remaja di Indonesia terutama di Jawa Timur ini sudah seharusnya mendapatkan sorotan dari berbagai pihak agar tidak menimbulkan tindakan kriminal yang mana berkaitan dengan pendidikan moral, sosial, dan agama. “Apa mereka senang memberikan kesempatan anak anak muda untuk hidup bebas bermalam di tempatnya tanpa ikatan perkawinan, kemudian mereka hamil, dan punya bayi, itu kan itu juga harus dipertanyakan,” pungkasnya.

Maraknya Kasus Pembuangan Bayi di Mojokerto, UMM Soroti Masalah Sosial

infonasional – Kasus pembuangan bayi kembali terjadi di Mojokerto dan sejumlah daerah lainnya. Sosiolog Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Tutik Sulistyowati, menilai fenomena ini sebagai gambaran dari persoalan sosial yang lebih besar di masyarakat. Tutik menjelaskan bahwa pembuangan bayi bukanlah masalah tunggal. Menurutnya, hal ini merupakan puncak dari berbagai persoalan sosial yang kompleks, mulai dari moral hingga tekanan ekonomi. “Pembuangan bayi itu bukan masalah yang berdiri sendiri. Itu puncak dari berbagai persoalan sosial, mulai dari minimnya pendidikan moral dan empati, tekanan ekonomi, atau bahkan jika itu berawal dari hubungan di luar nikah yang memunculkan rasa malu dan ketakutan sendiri bagi pelaku,” ujar Tutik, Jumat (6/2/2026). Ia menambahkan bahwa anggapan membuang bayi sebagai solusi adalah pandangan yang keliru dan justru menimbulkan masalah baru. “Bayi tetap memiliki hak untuk hidup, ia sendiri tidak dapat memilih untuk dilahirkan atau tidak. Ketika bayi dibuang, itu menunjukkan rendahnya empati dan tanggung jawab pelaku terhadap hasil perbuatannya sendiri,” jelasnya. Faktor Pemicu dan Peran Keluarga Tutik menyebutkan bahwa pelaku pembuangan bayi tidak hanya berasal dari kalangan ekonomi sulit, tetapi juga dari remaja atau dewasa muda yang belum matang secara mental dan psikologis. “Rasa malu itu seringkali justru muncul setelah hubungan terlarang terjadi. Saat bayi lahir dan tidak bisa lagi disembunyikan, rasa panik kemudian yang mengambil alih dengan pembuangan bayi yang dianggap sebagai jalan keluar,” kata Tutik. Ia juga menyoroti kurangnya perhatian dan kontrol orang tua sebagai pemicu pergaulan bebas. “Dalam konteks Sosiologi, keluarga itu punya peran covering status. Bagaimana jika statusnya masih anak harus diproteksi. Berbeda dengan status anak yang sudah berkeluarga, orang tua tidak boleh campur tangan banyak di situ,” kata Tutik. Kurangnya pendidikan moral juga membuat pelaku tidak menyadari konsekuensi dari tindakan mereka. Peran Lembaga Pendidikan dan Penegak Hukum Selain keluarga, lembaga pendidikan juga memiliki peran penting. Sekolah dan kampus diharapkan dapat memaksimalkan kegiatan positif agar remaja tidak memiliki waktu luang yang berpotensi disalahgunakan. “Apalagi anak-anak kita saat ini juga hidup di era digital. Apa yang ditonton belum tentu menjadi tuntunan, misalnya kreator yang mempromosikan pernikahan dini atau pergaulan bebas,” ujar Tutik. Tutik juga menekankan peran aparat kepolisian dan penegak hukum untuk bertindak tegas dalam menangani kasus serupa, termasuk pengawasan di kawasan wisata. “Polisi harus tegas menertibkan hotel, penginapan, karaoke. Yang bukan pasangan sah seharusnya tidak diberi ruang. Ini harus ada bekerjasama dengan pemilik usaha,” tegasnya.

Cuaca Tak Menentu, Mahasiswa UMM Kembangkan Bed Dryer Pengering Gabah

Sketsamalang.com – Ketergantungan petani pada sinar matahari kerap berujung pada turunnya kualitas panen, terutama saat musim hujan ketika proses penjemuran tidak berjalan optimal. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan inovasi bed dryer, sebuah teknologi pengeringan gabah yang dirancang lebih efektif dan stabil untuk menjaga mutu hasil panen di tengah cuaca yang semakin tidak menentu. Bed dryer tersebut digagas oleh Malikul Arifin, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2022 asal Jombang, bersama timnya. Melalui penelitian lapangan, Malikul melihat langsung kesulitan petani dalam mengeringkan gabah saat musim hujan. Cuaca yang tidak stabil membuat proses penjemuran tradisional menjadi kurang optimal dan berisiko menurunkan kualitas hasil panen. “Waktu kami melakukan penelitian di Desa Ampeldento, Karangploso, Kabupaten Malang, kebetulan sedang musim hujan. Dari situ kami melihat pengeringan gabah secara manual kurang efektif. Akhirnya kami berinisiatif merancang bed dryer sebagai solusi,” ujar Malikul. Alat ini bekerja dengan memanfaatkan panas dari pembakaran minyak jelantah yang dikombinasikan dengan kain dan tisu sebagai media pembakaran. Kombinasi tersebut menghasilkan panas yang lebih stabil, sehingga proses pengeringan dapat berlangsung merata dan berkelanjutan. Tak hanya untuk gabah padi, bed dryer ini juga berpotensi digunakan untuk mengeringkan berbagai hasil pertanian lainnya. “Selain gabah, alat ini bisa dimanfaatkan untuk biji-bijian lain seperti jagung dan kopi, sehingga manfaatnya lebih luas,” jelas Malikul. Bed Dryer Pengering Gabah Dalam proses pengembangannya, tim menghadapi sejumlah tantangan, terutama pada tahap pengelasan dan pemilihan material. Mereka harus memastikan bahan yang digunakan tepat agar hasil pengelasan optimal. “Kami sempat kesulitan karena ada kombinasi bahan besi dan aluminium, sehingga proses pengelasan harus dilakukan dengan sangat hati-hati,” ungkapnya. Saat ini, bed dryer yang dikembangkan masih berupa prototipe berskala 1:10 dari ukuran sebenarnya. Meski demikian, prototipe tersebut telah melalui tahap uji coba dan menunjukkan kinerja yang menjanjikan. Hasil pengujian menunjukkan alat ini mampu menurunkan kadar air gabah hingga berada pada kisaran ideal, yakni 12–14 persen. Ke depan, bed dryer ini dirancang untuk direalisasikan dalam skala penuh dengan kapasitas pengeringan sekitar 500 kilogram gabah dalam waktu kurang lebih delapan jam, menggunakan suhu optimal 40–50 derajat Celsius. Dosen pembimbing, Dr. Thomy Eko Saputro, S.T., M.Sc., memberikan apresiasi atas capaian mahasiswa tersebut. Menurutnya, inovasi bed dryer merupakan wujud nyata kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan kompetensi teknik untuk menjawab kebutuhan masyarakat. “Saya mengapresiasi mahasiswa Capstone Design yang berhasil merancang bed dryer sebagai solusi nyata bagi permasalahan UMKM. Karya ini menunjukkan kemampuan dalam mengidentifikasi kebutuhan pengguna, merancang sistem, memilih material, hingga menguji fungsi alat secara teknis,” tuturnya. Ia juga menilai karya ini mencerminkan peran seorang engineer sebagai problem solver yang mampu menghadirkan solusi aplikatif dan relevan. Ke depan, ia berharap alat tersebut dapat terus dikembangkan dari berbagai aspek, mulai dari efisiensi energi, ergonomi, hingga kesiapan implementasi di lapangan. “Harapannya, karya ini tidak berhenti sebagai prototipe akademik, tetapi dapat dikembangkan melalui kerja sama dengan UMKM, inkubasi produk, dan hilirisasi riset agar siap digunakan secara luas,” tambahnya. Melalui inovasi bed dryer ini, mahasiswa Teknik Industri UMM tidak hanya menghasilkan karya akademik, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi sektor pertanian. Inovasi tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara ilmu pengetahuan, kepedulian sosial, dan semangat berkarya mampu melahirkan teknologi tepat guna yang berdampak langsung bagi masyarakat.(*)