Kasus Percobaan Bunuh Diri Mahasiswa Berulang, BK UMM Ungkap Akar Masalah Bukan Sekadar Akademik

Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., Psikolog. (Sumber: UMM) RIAUCERDAS.COM, MALANG – Rentetan kasus percobaan bunuh diri di kalangan mahasiswa yang terjadi berulang, bahkan di lokasi yang sama, memunculkan alarm serius tentang kesehatan mental generasi muda. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi mahasiswa tidak bisa lagi dipandang sebagai masalah individu, melainkan krisis psikologis yang memerlukan perhatian bersama, terutama bagi mahasiswa rantau. Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., Psikolog, menyebut mahasiswa rantau memiliki kerentanan tinggi karena harus beradaptasi dengan lingkungan baru tanpa dukungan langsung dari keluarga. Ketika kemampuan adaptasi dan dukungan sosial rendah, risiko masalah psikologis meningkat. “Mahasiswa rantau itu rentan karena mereka tidak tinggal bersama orang tua atau di lingkungan yang biasa mereka tempati. Mereka berisiko mengalami problem psikologis ketika dukungan sosial atau kemampuan adaptasinya rendah,” ujar Naning dilansir dari portal IMM. Ia mengungkapkan, berdasarkan pengalaman di ruang konseling, tekanan akademik seperti tugas kuliah atau skripsi sering kali bukan penyebab utama. Banyak kasus justru berakar dari rapuhnya ketahanan keluarga, sementara masalah akademik hanya menjadi pemicu dari beban emosional yang telah lama menumpuk. Naning menegaskan bahwa bekal terpenting mahasiswa bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi ketahanan mental (resiliensi) untuk menghadapi ketidaknyamanan hidup. Tanpa resiliensi, mahasiswa cenderung berpikir sempit saat berada dalam situasi tertekan. “Tekanan akademik itu wajar dan bagian dari proses pendidikan. Dalam taraf tertentu justru penting agar mahasiswa lebih fokus. Yang menjadi dasar adalah sejauh mana seseorang memiliki ketahanan mental dan pemahaman tentang makna berjuang,” jelasnya. Terkait pemilihan lokasi yang sama dalam beberapa kasus percobaan bunuh diri, Naning menilai hal itu berkaitan dengan kondisi psikologis individu yang sudah terdesak. Paparan cerita atau pemberitaan sebelumnya dapat membentuk gambaran tertentu dalam pikiran mahasiswa yang rapuh, sehingga lokasi tersebut dianggap sebagai pilihan. BK UMM mengedepankan pendekatan konseling berbasis pemberdayaan, di mana mahasiswa tidak hanya diajak memahami masalahnya, tetapi juga mengenali kekuatan diri dan sumber persoalan yang dihadapi. “Kami ingin mahasiswa sadar bahwa mereka memiliki kapasitas untuk keluar dari masalah. Konselor berfungsi sebagai penguat, bukan satu-satunya tumpuan,” tegas Naning. Ia juga menekankan pentingnya coping mechanism yang sehat, seperti berolahraga, mendengarkan musik, atau melakukan aktivitas sederhana yang disukai untuk menyalurkan emosi negatif sebelum menumpuk. Selain peran profesional, lingkungan terdekat seperti teman kos dan teman sebaya dinilai menjadi garda terdepan pencegahan. Sikap mendengarkan tanpa menghakimi, menjaga kerahasiaan, serta tidak menyepelekan masalah teman disebut sebagai langkah kecil yang berdampak besar. (*)

Mandiri di Semester 7, Mahasiswa UMM Ini Berani Wujudkan Apotek Impiannya

Melani Rahma Putri (umm.ac.id) INDOZONE.ID – Melani Rahma Putri, mahasiswi Program Studi Farmasi angkatan 2022 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengelola bisnis apotek 24 jam sembari tetap aktif menjalankan kewajibannya di semester tujuh. Ia berani membuat keputusan besar tersebut meskipun harus menghadapi tantangan berat dalam membagi waktu antara jadwal praktikum yang padat dan tanggung jawab manajemen usaha. Berawal dari Cita-Cita Sejak Sekolah Mahasiswi asal Kalimantan Selatan ini merupakan lulusan SMK Farmasi yang memilih untuk memperdalam ilmunya di jenjang S1 Farmasi UMM. Ketertarikannya pada dunia kesehatan sudah tertanam sejak lama, sehingga membuka apotek menjadi perwujudan dari rencana yang telah ia susun sejak masa sekolah. “Sejak awal memang ingin punya apotek. Dari SMK sampai kuliah, saya berada di jalur farmasi, jadi ini bukan keputusan yang tiba-tiba,” ungkap Melani. Apotek yang mulai beroperasi pada September 2025 itu, mengusung konsep pelayanan humanis. Melani tidak hanya fokus pada penjualan obat-obatan, tetapi juga menyediakan berbagai layanan kesehatan gratis bagi warga. Masyarakat dapat melakukan pengecekan gula darah, kolesterol, asam urat, hingga tekanan darah tanpa dipungut biaya apa pun. Selain itu, ia juga rutin mengadakan penyuluhan kesehatan hingga ke pelosok desa untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pola hidup sehat. Manajemen Profesional dan Strategi Digital Dalam menjalankan usahanya, Melani tetap mengedepankan profesionalisme dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. Ia menempati posisi sebagai Pemilik Sarana Apotek (PSA), sementara urusan teknis kefarmasian diserahkan kepada dua apoteker resmi. “Kami selalu mengedepankan konsultasi sebelum pemberian obat. Pasien ditanya dulu kondisinya, riwayat obatnya, lalu kami jelaskan cara penggunaan dan penyimpanan agar tidak terjadi medication error,” jelasnya. Melani melakukan konsultasi sebelum pemberian obat (umm.ac.id) Melani juga membawa semangat generasi muda ke dalam bisnisnya dengan memanfaatkan teknologi digital. Inovasi yang diterapkannya, meliputi edukasi sosial, yang memanfaatkan platform TikTok dan Instagram untuk berbagi informasi kesehatan sekaligus sebagai media promosi. Ada pun layanan pemesanan melalui WhatsApp yang memudahkan pelanggan, serta fasilitas pengiriman obat tanpa ongkir untuk pelanggan yang berada dalam radius dua kilometer dari apotek. Selain itu, Melani juga melakukan pemberdayaan Gen Z melalui perekrutan karyawan dari kalangan generasi muda dan melibatkan mereka dalam pembuatan konten kreatif. Dedikasi untuk Masyarakat Meski sibuk mengelola aspek bisnis dan teknologi, Melani tetap menjaga komitmennya untuk terjun langsung ke lapangan. Ia bersama timnya sering kali hadir dalam berbagai kegiatan warga, mulai dari acara tingkat RT hingga desa, untuk memberikan layanan cek kesehatan secara gratis. Melalui pencapaiannya, Melani berharap dapat menginspirasi rekan-rekan mahasiswa lain agar tidak takut dalam memulai langkah baru meski masih berada di bangku kuliah. Baca juga:10 Ide Jualan untuk Mata Kuliah Kewirausahaan Ia meyakini bahwa ilmu akademik yang dipelajari di kelas, menjadi jauh lebih bernilai jika dapat memberikan dampak positif dan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat luas.

Kiprah Alumni UMM, Ruri KTerlibat Strategi Kebijakan di Kemendikdasmen

Miftahussururi, S.Pd., Bukti Kiprah Alumni UMM, Ruri Kini Terlibat Strategi Kebijakan di Kemendikdasmen* JATIM SATU NEWS – SAPA TOKOH: Aktivisme kampus kerap dianggap berhenti di ruang diskusi dan forum mahasiswa. Namun bagi Miftahussururi, S.Pd., semangat berorganisasi justru menjadi fondasi untuk ikut menggerakkan arah kebijakan pendidikan nasional. Alumnus Pendidikan Matematika dan Komputasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini kini berperan di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, membawa nilai-nilai kepemimpinan yang ia bangun sejak bangku kuliah. “Saat ini saya bertugas sebagai leader Tim Kebjiakan dan Komunikasi Analis Data sekaligus membantu penyusunan dan pelaksanaan strategi komunikasi kebijakan dan program di satuan kerja saya,” ujarnya 30 Januari lalu pada Tim Humas UMM. Ruri sapaan akrabnya mengawali kariernya di Kementerian Pendidikan pada 2017 setelah lolos seleksi yang cukup panjang. Dalam perjalanannya, ia juga pernah bertugas di Tim Staf Khusus Menteri Bidang Pembelajaran, Ditjen GTK, serta Ditjen PAUDDasmen selama lima tahun. Hingga akhirnya, pada 2025, ia dipercaya bergabung di Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (Ditjen Vokasi PKPLK). Lebih lanjut, pria itu mengisahkan dirinya yang merupakan mahasiswa produktif dan penuh inisiatif. Ia pernah mengemban amanah sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Matematika “Matriks” (2011-2012), Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) “Raushan Fikr” FKIP (2012-2013), hingga Sekretaris Umum Koordinator Komisariat IMM UMM (2013-2014). Tidak hanya itu, ia juga dipercaya menjadi Presidium Sidang dalam Kongres Ikahimatika Indonesia. Deretan pengalaman tersebut menunjukkan konsistensinya dalam membangun kepemimpinan dan jejaring sejak bangku kuliah. Sementara itu, dalam perjalanannya sebagai mahasiswa, Ruri juga pernah mengalami struggle soal manajemen waktu. Ia sempat kesulitan membagi waktu antara tugasnya sebagai mahasiswa dan keaktifannya di organisasi. Namun Ruri tetap meyakini bahwa kesibukan dan tekanan positif justru akan membentuk karakter dan kedewasaan dalam berpikir. Ia juga menambahkan bahwa ia selalu mengingat sebuah nasehat yang pernah ia terima, “Kesibukan yang membuatmu letih lebih baik daripada waktu luang yang membuatmu terlena.” Itu lah yang membuatnya terus menjaga semangat dalam berproses. Ruri juga menambahkan bahwa perjuangan kedua orang tua nya juga menjadi sumber motivasi utamanya untuk terus berprestasi dan memberi dampak positif. “Yang membuatku punya energi dan terus berjuang adalah potret perjuangan orang tuaku yang telah mengantarkanku hingga bisa merasakan bangku kuliah. Karena itulah aku tidak ingin mengecewakannya,” ujarnya. Bagi Ruri, kebahagiaan terbesar dalam bekerja adalah ketika kontribusinya mampu memberi dampak nyata. Ia mengaku terharu saat melihat perubahan pola pikir guru-guru di berbagai daerah setelah kebijakan yang ikut disusunnya diterapkan. Menurutnya, perubahan kecil dalam dunia pendidikan dapat membawa dampak besar bagi masa depan bangsa. Ruri juga berpesan kepada generasi muda agar tidak takut dan merasa bingung dalam menentukan arah hidup. Ia menekankan pentingnya self-awareness, mengenali minat, bakat, serta potensi diri. “kesadaran diri (self-awareness) itu begitu penting bagi generasi muda saat ini. Perlunya mengenal diri sendiri, ‘Who am I?’, apa yang menjadi minat, bakat, kelebihan, dan kekurangan diri untuk memastikan pilihan setelah lulus sesuai dengan keinginan, kepribadian dan keahlian,” tutupnya. (ANS)

KKN Tematik UMM 2026, Sinau Budaya Setiap Hari

RRI.CO.ID, Malang – Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2026 di Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang, menghadirkan wajah KKN yang berbeda dari umumnya. Selama hampir sepekan, mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja sesuai divisi, tetapi secara konsisten mengikuti sinau budaya setiap hari bersama para budayawan Malang. Sinau budaya di KBP menghadirkan materi seputar tradisi adat istiadat, ritus kehidupan, seni, dan kebudayaan Malang, yang dipandu langsung oleh Ki Demang (Isa Wahyudi) selaku penggagas Kampung Budaya Polowijen bersama Mbah Karjo, sesepuh budaya setempat. Pola pembelajaran berlangsung dialogis dan berbasis praktik budaya hidup, menjadikan kampung sebagai ruang belajar aktif, bukan sekadar lokasi pengabdian. Pada Sabtu, 31 Januari 2026, sinau budaya mengangkat tema “Model Transformasi Budaya untuk Generasi Gen-Z” yang disampaikan oleh Ary Sulistyowati, Guru Sejarah dan Sosiologi SMA Sugiyopranata Kota Pasuruan sekaligus anggota Perempuan Bersanggul Nusantara. Ia menyoroti kegamangan generasi muda dalam melestarikan budaya yang lebih disebabkan oleh keterbatasan ruang pengenalan dan pengalaman, bukan karena tidak peduli. “Minimnya peran keluarga, terbatasnya pembelajaran budaya di sekolah, serta lingkungan yang kurang mendukung menjadi faktor utama keterputusan generasi muda dengan tradisinya,” jelasnya. Keseruan sinau budaya juga terasa sebelum sesi utama, saat mahasiswa KKN berlatih menari selama hampir dua jam di panggung KBP bersama ibu-ibu kampung, mempelajari tari tradisi Gambyong “Mari Kangen”. Suasana latihan berlangsung hangat, meriah, dan penuh tawa, terutama bagi peserta yang baru pertama kali menari, memperlihatkan bahwa budaya dapat dipelajari dengan cara yang menyenangkan dan inklusif. Gizela Putri Ningtyas, guru tari KBP, mengungkapkan antusiasme mahasiswa yang aktif bertanya tentang proses latihan, dinamika pengelolaan sanggar, hingga tantangan melestarikan tari tradisional. “Meski penari KBP menguasai berbagai tari topeng dan kerap tampil di banyak acara, pelestarian tari tradisi tetap menghadapi tantangan karena minimnya minat generasi muda dan kalah pamor dibanding tari kreasi yang lebih dinamis dan glamor,” jelasnya. Diskusi kritis juga muncul dari Shela Putri Retensya, mahasiswi Ilmu Komunikasi, yang mempertanyakan strategi promosi KBP agar lebih mengena ke Gen-Z. Menurutnya, konten KBP selama ini terkesan stagnan, padahal aktivitas budayanya sangat kaya. Pertanyaan ini menegaskan bahwa pelestarian budaya hari ini tidak hanya bertumpu pada panggung dan ritus, tetapi juga pada kemampuan bercerita dan bertransformasi di ruang digital. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan pada malam hari dengan sinau tembang macapat yang diasuh oleh Ki Surjono dan Ki Suto, pegiat Kampung Budaya Polowijen, menegaskan bahwa pewarisan budaya di KBP dilakukan secara utuh, dari gerak, tutur, hingga tembang. (Mey)

Sinau Budaya Setiap Hari, Model Lain dari KKN Tematik UMM 2026 di Kampung Budaya Polowijen

KLIKTIMES.COM | MALANG-Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2026 di Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang, menghadirkan wajah KKN yang berbeda dari umumnya. Selama hampir sepekan, mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja sesuai divisi, tetapi secara konsisten mengikuti sinau budaya setiap hari bersama para budayawan Malang. Sinau budaya di KBP menghadirkan materi seputar tradisi adat istiadat, ritus kehidupan, seni, dan kebudayaan Malang, yang dipandu langsung oleh Ki Demang (Isa Wahyudi) selaku penggagas Kampung Budaya Polowijen bersama Mbah Karjo, sesepuh budaya setempat. Pola pembelajaran berlangsung dialogis dan berbasis praktik budaya hidup, menjadikan kampung sebagai ruang belajar aktif, bukan sekadar lokasi pengabdian. Pada Sabtu, 31 Januari 2026, sinau budaya mengangkat tema “Model Transformasi Budaya untuk Generasi Gen-Z” yang disampaikan oleh Ary Sulistyowati, Guru Sejarah dan Sosiologi SMA Sugiyopranata Kota Pasuruan sekaligus anggota Perempuan Bersanggul Nusantara. (HO/KLIKTIMES.COM) Pada Sabtu, 31 Januari 2026, sinau budaya mengangkat tema “Model Transformasi Budaya untuk Generasi Gen-Z” yang disampaikan oleh Ary Sulistyowati, Guru Sejarah dan Sosiologi SMA Sugiyopranata Kota Pasuruan sekaligus anggota Perempuan Bersanggul Nusantara. Ia menyoroti kegamangan generasi muda dalam melestarikan budaya yang lebih disebabkan oleh keterbatasan ruang pengenalan dan pengalaman, bukan karena tidak peduli. Minimnya peran keluarga, terbatasnya pembelajaran budaya di sekolah, serta lingkungan yang kurang mendukung menjadi faktor utama keterputusan generasi muda dengan tradisinya. Keseruan sinau budaya juga terasa sebelum sesi utama, saat mahasiswa KKN berlatih menari selama hampir dua jam di panggung KBP bersama ibu-ibu kampung, mempelajari tari tradisi Gambyong “Mari Kangen”. Suasana latihan berlangsung hangat, meriah, dan penuh tawa, terutama bagi peserta yang baru pertama kali menari, memperlihatkan bahwa budaya dapat dipelajari dengan cara yang menyenangkan dan inklusif. Keseruan sinau budaya juga terasa sebelum sesi utama, saat mahasiswa KKN berlatih menari selama hampir dua jam di panggung KBP bersama ibu-ibu kampung, mempelajari tari tradisi Gambyong “Mari Kangen”. Suasana latihan berlangsung hangat, meriah, dan penuh tawa, terutama bagi peserta yang baru pertama (HO/KLIKTIMES.COM) Ad Gizela Putri Ningtyas, guru tari KBP, mengungkapkan antusiasme mahasiswa yang aktif bertanya tentang proses latihan, dinamika pengelolaan sanggar, hingga tantangan melestarikan tari tradisional. Meski penari KBP menguasai berbagai tari topeng dan kerap tampil di banyak acara, pelestarian tari tradisi tetap menghadapi tantangan karena minimnya minat generasi muda dan kalah pamor dibanding tari kreasi yang lebih dinamis dan glamor. Diskusi kritis juga muncul dari Shela Putri Retensya, mahasiswi Ilmu Komunikasi, yang mempertanyakan strategi promosi KBP agar lebih mengena ke Gen-Z. Menurutnya, konten KBP selama ini terkesan stagnan, padahal aktivitas budayanya sangat kaya. Pertanyaan ini menegaskan bahwa pelestarian budaya hari ini tidak hanya bertumpu pada panggung dan ritus, tetapi juga pada kemampuan bercerita dan bertransformasi di ruang digital. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan pada malam hari dengan sinau tembang macapat yang diasuh oleh Ki Surjono dan Ki Suto, pegiat Kampung Budaya Polowijen, menegaskan bahwa pewarisan budaya di KBP dilakukan secara utuh, dari gerak, tutur, hingga tembang.

Mahasiswa UMM Kembangkan Steam Press Ecoprint, Solusi Teknologi Tepat Guna untuk UMKM

BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Inovasi teknologi tepat guna kembali lahir dari lingkungan kampus. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan Steam Press Ecoprint, sebuah alat produksi yang dirancang untuk membantu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) meningkatkan kualitas sekaligus konsistensi produk ecoprint. Alat ini dikembangkan oleh mahasiswa Teknik Industri UMM, Iqbal Rafif Yuliono (angkatan 2023), bersama timnya melalui mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3). Inovasi tersebut berangkat dari pengamatan langsung terhadap berbagai kendala yang dihadapi UMKM ecoprint, khususnya pada proses produksi yang masih didominasi metode manual. Iqbal menjelaskan, metode ecoprint konvensional maupun semiotomatis sering kali menghasilkan warna yang kurang tajam dan motif yang tidak merata, terutama ketika digunakan untuk produksi dalam jumlah besar. “Banyak pelaku UMKM masih mengandalkan metode kukus biasa. Hasilnya sering tidak konsisten, baik dari segi warna maupun detail motif,” ujar Iqbal, dikutip dari laman resmi UMM, Sabtu (31/1/2026). Menggabungkan Uap, Panas, dan Tekanan Berbeda dengan teknik kukus konvensional, Steam Press Ecoprint mengombinasikan panas, uap, dan tekanan melalui pelat logam pada mesin press. Sistem ini dirancang untuk memaksimalkan proses transfer warna dan motif dari bahan alami ke kain. Hasil uji coba menunjukkan, penggunaan uap bertekanan mampu menghasilkan warna yang lebih tajam serta detail motif yang lebih jelas. Konsistensi hasil pun dinilai lebih terjaga, sehingga cocok untuk kebutuhan produksi UMKM. “Ketika dibandingkan dengan metode kukus biasa, warna yang dihasilkan jauh lebih keluar dan motifnya lebih detail,” kata Iqbal. Baca Juga: SMARISH FEST 2025: Inovasi Mahasiswa UNNES Hadirkan Belajar Seru di Malaysia Diuji Langsung di UMKM Steam Press Ecoprint telah diuji secara terbatas pada pelaku UMKM, salah satunya Kenikir Natural Ecoprint di Bululawang, Kabupaten Malang. Dari hasil pengujian tersebut, alat ini dinilai mampu meningkatkan kualitas visual kain sekaligus menjaga keseragaman hasil produksi. Meski dirancang lebih efisien, alat ini tidak hanya mengejar kecepatan produksi. Proses kerja Steam Press Ecoprint dapat disesuaikan dengan tingkat kerumitan motif, sehingga pelaku usaha tetap memiliki keleluasaan untuk menghasilkan produk bernilai seni dan jual tinggi. Selain itu, desain alat dibuat ramah bagi UMKM skala kecil, fleksibel untuk berbagai jenis kain, dan menunjukkan hasil optimal pada sejumlah material tertentu berkat kombinasi uap dan tekanan. Dorong Inovasi Berbasis Kebutuhan Masyarakat Iqbal mengakui peran dosen pembimbing sangat penting dalam proses pengembangan alat ini, terutama dalam membangun kepekaan mahasiswa terhadap kebutuhan nyata di masyarakat. Ke depan, ia berharap Steam Press Ecoprint dapat dikembangkan dengan kapasitas lebih besar, struktur lebih kokoh, serta sistem pengoperasian yang semakin praktis. “Yang terpenting jangan takut mencoba. Dari situ kita belajar memahami masalah dan menemukan solusi yang benar-benar dibutuhkan,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Program Studi Teknik Industri UMM, Dr. Dana Marsetiya Utama, M.T., mengapresiasi inovasi mahasiswa tersebut. Ia menilai Steam Press Ecoprint menjadi bukti keberhasilan pembelajaran berbasis praktik yang mendorong mahasiswa berpikir kritis dan solutif. Menurutnya, Prodi Teknik Industri UMM terus mendorong agar karya mahasiswa tidak berhenti sebagai tugas akademik, melainkan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya sektor UMKM. “Kami ingin mahasiswa peka terhadap persoalan di sekitarnya dan berani menghadirkan solusi yang relevan melalui inovasi,” pungkasnya. Mari berpartisipasi di Teropong Media untuk Jurnalisme Berkualitas: https://teropongmedia.id/partisipasi

KKN Tematik UMM 2025 Buka Lahan Karang Kitri dan Bikin Atap Gazebo di Kampung Budaya Polowijen

Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2026 di Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang, menunjukkan pendekatan pengabdian yang menyeluruh. (HO/KLIKTIMES.COM) KLIKTIMES.COM | MALANG– Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2026 di Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang, menunjukkan pendekatan pengabdian yang menyeluruh. Mahasiswa KKN tidak hanya fokus pada kegiatan sinau budaya, pembuatan konten dan dokumentasi budaya, serta penyusunan katalog modul dan buku budaya Malang, tetapi juga aktif terlibat dalam kehidupan sosial dan lingkungan masyarakat. Pada Minggu, 1 Februari 2026, mahasiswa KKN Tematik UMM kelompok 14 turut membersamai warga RW 02 Kelurahan Polowijen dalam kegiatan senam sehat yang rutin diselenggarakan tiap minggu pagi. Kegiatan ini menjadi ruang interaksi sosial sekaligus upaya membangun kedekatan emosional antara mahasiswa dan masyarakat setempat. Selain itu, mahasiswa bersama warga melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan dan aliran sungai yang menjadi view utama pintu masuk Kampung Budaya Polowijen. Aksi ini tidak hanya bertujuan menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memperkuat citra KBP sebagai kawasan budaya yang asri dan ramah pengunjung. Pada Minggu, 1 Februari 2026, mahasiswa KKN Tematik UMM kelompok 14 turut membersamai warga RW 02 Kelurahan Polowijen dalam kegiatan senam sehat yang rutin diselenggarakan tiap minggu pagi. (HO/KLIKTIMES.COM) Mahasiswa KKN bersama warga di Kampung Budaya Polowijen (KBP) juga membuka lahan karang kitri sebagai bagian dari pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Kegiatan ini menjadi upaya nyata pemanfaatan lahan kosong agar lebih produktif, hijau, dan bermanfaat bagi ketahanan pangan warga. Pembukaan lahan karang kitri dilakukan secara gotong royong di lingkungan RW 02 Kelurahan Polowijen. Lahan yang sebelumnya tidak termanfaatkan kini mulai ditata untuk ditanami berbagai tanaman pangan dan tanaman obat keluarga, sekaligus menjadi media praktik Pekarangan Pangan Lestari berbasis kelompok. Mahasiswa KKN bersama warga di Kampung Budaya Polowijen (KBP) juga membuka lahan karang kitri sebagai bagian dari pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Kegiatan ini menjadi upaya nyata pemanfaatan lahan kosong agar lebih produktif, hijau, dan bermanfaat bagi ketahanan pangan warga. (HO/KLIKTIMES.COM) Safitri Ketua PKK RW 02 Kelurahan Polowijen menegaskan pentingnya keberlanjutan program tersebut. “Pemanfaatan Kawasan Rumah Pangan Lestari ini perlu terus dikembangkan sebagai praktik kelompok Pekarangan Pangan Lestari. Harapannya, setiap lahan kosong bisa dimanfaatkan dengan membuat karang kitri agar lingkungan lebih produktif dan mendukung kebutuhan pangan keluarga,” ujarnya. Selain penguatan sektor pangan lestari, mahasiswa KKN Tematik UMM juga menghadirkan inovasi lingkungan dengan memanfaatkan rumput alang-alang sebagai bahan welid atau atap tradisional. Alang-alang yang sebelumnya dianggap limbah diolah menjadi atap gazebo dan elemen estetika kawasan Kampung Budaya Polowijen. Rangkaian kegiatan KKN Tematik UMM di KBP tidak hanya berorientasi pada program fisik, tetapi juga pada pemaknaan nilai gotong royong, kepedulian lingkungan, dan pelestarian budaya. (HO/KLIKTIMES.COM) Abu Bakar, mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM asal Probolinggo, menjelaskan bahwa pemanfaatan alang-alang dipilih untuk menguatkan nuansa budaya. “Kami memanfaatkan alang-alang sebagai atap gazebo supaya tampilannya lebih alami dan berkesan tempo dulu. Material ini juga ramah lingkungan dan selaras dengan karakter Kampung Budaya Polowijen,” katanya. Rangkaian kegiatan KKN Tematik UMM di KBP tidak hanya berorientasi pada program fisik, tetapi juga pada pemaknaan nilai gotong royong, kepedulian lingkungan, dan pelestarian budaya. Melalui pembukaan lahan karang kitri dan inovasi berbasis bahan alami, mahasiswa dan warga bersama-sama membangun ruang hidup yang lestari dan berakar pada kearifan lokal.

Belajar Ritus Kehidupan Jawa, KKN Tematik UMM Dalami Tradisi Selametan dan Mocopat di Kampung Budaya Polowijen

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kelompok 14 mengikuti pembelajaran pelestarian tradisi dan ritus budaya Jawa di Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang, pada Jumat, 30 Januari 2026. Kegiatan ini dipandu langsung oleh budayawan Malang Ki Demang (HO/KLIKTIMES.COM) KLIKTIMES.COM | MALANG-Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kelompok 14 mengikuti pembelajaran pelestarian tradisi dan ritus budaya Jawa di Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang, pada Jumat, 30 Januari 2026. Kegiatan ini dipandu langsung oleh budayawan Malang Ki Demang, yang memiliki nama asli Isa Wahyudi, penggagas Kampung Budaya Polowijen. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa diajak memahami secara mendalam praktik tradisi masyarakat Jawa, khususnya ritus selametan yang secara umum dilaksanakan dalam tiga fase utama kehidupan, yakni kelahiran, pernikahan, dan kematian. Ketiga fase ini memiliki tata adat, ritual, serta simbol-simbol yang sarat makna filosofis sebagai wujud doa, harapan, dan pengharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Ki Demang menjelaskan bahwa dalam setiap selametan, masyarakat Jawa selalu menggunakan simbol-simbol makanan ritual yang tidak sekadar bersifat konsumtif, melainkan mengandung pesan moral dan spiritual. Salah satunya adalah bubur merah putih yang dikenal sebagai jenang sengkolo, jenang palang, dan jenang poncowarno. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa diajak memahami secara mendalam praktik tradisi masyarakat Jawa, khususnya ritus selametan yang secara umum dilaksanakan dalam tiga fase utama kehidupan, yakni kelahiran, pernikahan, dan kematian. (HO/KLIKTIMES.COM) “Bubur merah putih melambangkan keseimbangan hidup, keberanian dan kesucian. Jenang sengkolo dimaknai sebagai penolak bala, jenang palang sebagai pembatas dari hal-hal buruk, sementara jenang poncowarno melambangkan keberagaman unsur kehidupan manusia,” terang Ki Demang. Selain jenang, selametan juga dilengkapi dengan berbagai jenis tumpeng yang masing-masing memiliki makna khusus, di antaranya 7 jenis tumpeng berdasarkan kegunaannya antara lain Tumpeng Ropoh, Tumpeng Robyong, Tumpeng Kapuranto, Tumpeng Duplak, Tumpeng Kendhit, Tumpeng Alus, Tumpeng Among-among, Rangkaian ritual selametan tersebut juga dilengkapi dengan sajen cok bakal, kinangan jangkep, serta minuman tradisional berupa wedang kopi, teh, dan air gula, yang masing-masing merepresentasikan unsur alam, kesederhanaan, dan rasa syukur atas rezeki kehidupan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Tematik UMM tidak hanya belajar tentang bentuk-bentuk ritual, tetapi juga memahami nilai-nilai kearifan lokal, etika sosial, serta filosofi hidup masyarakat Jawa. (HO/KLIKTIMES.COM) Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Tematik UMM tidak hanya belajar tentang bentuk-bentuk ritual, tetapi juga memahami nilai-nilai kearifan lokal, etika sosial, serta filosofi hidup masyarakat Jawa. Pembelajaran langsung di ruang budaya hidup seperti Kampung Budaya Polowijen diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran generasi muda akan pentingnya pelestarian tradisi sebagai identitas dan penopang harmoni sosial. Pada malam harinya, mahasiswa KKN Tematik UMM kelompok 14 melanjutkan pembelajaran budaya melalui kegiatan sinau tembang macapat Jawa yang dipandu oleh Ki Surjono dan Ki Suto, pegiat budaya Kampung Budaya Polowijen. Ki Surjono menjelaskan bahwa isi tembang macapat menggambarkan fase-fase kehidupan manusia, sejak kelahiran, masa remaja, kedewasaan, hingga kematian. Ia juga menuturkan bahwa pada masa lalu, selametan masyarakat Jawa umumnya diiringi dengan mocopatan, namun kini tradisi tersebut semakin jarang dilaksanakan. Pada malam harinya, mahasiswa KKN Tematik UMM kelompok 14 melanjutkan pembelajaran budaya melalui kegiatan sinau tembang macapat Jawa yang dipandu oleh Ki Surjono dan Ki Suto, pegiat budaya Kampung Budaya Polowijen. (HO/KLIKTIMES.COM) “Macapat itu bukan sekadar tembang, tapi tuntunan hidup. Dulu selametan selalu diiringi mocopatan, sekarang jarang. Karena itu penting untuk terus diajarkan agar tetap lestari dan bisa digunakan dalam berbagai acara adat maupun kegiatan sosial,” ungkap Ki Surjono. Melalui rangkaian kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari bentuk ritual dan kesenian tradisional, tetapi juga memahami nilai filosofis, etika hidup, serta kearifan lokal masyarakat Jawa. Kampung Budaya Polowijen menjadi ruang belajar budaya yang hidup, sekaligus jembatan pewarisan tradisi kepada generasi muda agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Mahasiswa Tingkat Akhir Hadapi Tekanan Mental yang Signifikan

MALANG POST – Kampus harus berperan aktif dalam mencegah bunuh diri, yang dilakukan mahasiswa, yang akhir-akhir ini banyak terjadi di Kota Malang. Kata  Wakil Rektor Universitas Islam Malang, Dr. Erna Sulistyowati, saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk, mengatakan, peran kampus sangat penting untuk mencegah kasus bunuh diri mahasiswa. “Kesehatan mental merupakan pandemi selanjutnya pasca Covid-19 dan harus menjadi perhatian serius untuk perguruan tinggi,” katanya di acara yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Sabtu (31/1/2026) kemarin. Erna menyampaikan, pihaknya menyiapkan dosen wali untuk mahasiswa guna memantau akademik dan kesehatan mental. Selain itu, sebutnya, juga ada layanan konseling yang bisa dimanfaatkan mahasiswa untuk bercerita. Sebagai langkah pencegahan, Erna merekomendasikan agar perguruan tinggi menyediakan layanan konseling yang mudah diakses, melakukan pemeriksaan psikologi sederhana untuk mendeteksi potensi gangguan jiwa dan memberikan edukasi kesehatan mental secara rutin. Presiden BEM Universitas Muhammadiyah Malang, Wahyuddin Fahrurrijal mengakui, mahasiswa tingkat akhir menghadapi tekanan mental yang signifikan dalam menyelesaikan studi. “Tekanan itu muncul bukan hanya dari beban akademik, tapi juga faktor lingkungan. Seperti pertemanan yang tidak suportif,” sebutnya. Wahyu menyampaikan, langkah preventif sangat penting dilakukan untuk mengurangi indikasi bunuh diri. Sementara itu Kepala LLDIKTI WIlayah 7 Jatim, Prof. Dyah Sawitri menyampaikan, saat ini perguruan tinggi memiliki regulasi dan sistem yang jelas untuk mencegah dan menangani kasus kekerasan di lingkungan kampus. Termasuk kasus bunuh diri. “Kurikulum pendidikan tinggi juga jauh fleksibel akan perubahan, dengan sejumlah alternatif penyelesaian studi. Jadi tidak harus skripsi.” “Selain itu seluruh perguruan tinggi di Indonesia sudah memiliki Unit Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (PPKPT), yang mengacu pada Undang-undang dan mengatur kewajiban kampus menyediakan layanan konseling untuk mahasiswa. Kata Dosen Psikologi Universitas Merdeka Malang, Husnul Khotimah, berdasarkan penelitian, 9,4 responden usia 18 sampai 29 tahun berada di kategori tinggi untuk bunuh diri. “Rentang usia ini termasuk usia rentan, karena individu menghadapi transisi dari fokus pendidikan ke tanggung jawab pekerjaan.” “Walaupun begitu, tidak semua mahasiswa menganggap skripsi sebagai beban. Khususnya mereka yang memiliki coping stress yang kuat,” ujarnya. (Anisa Afisunani/Ra Indrata)

Bukti Kiprah Alumni UMM, Ruri Kini Terlibat Strategi Kebijakan di Kemendikdasmen

Miftahussururi, S.Pd., Alumni UMM. Foto: Hassan/PWMU.CO pwmu.co –Aktivisme kampus kerap dianggap berhenti di ruang diskusi dan forum mahasiswa. Namun bagi Miftahussururi, S.Pd., semangat berorganisasi justru menjadi fondasi untuk ikut menggerakkan arah kebijakan pendidikan nasional. Alumnus Pendidikan Matematika dan Komputasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini kini berperan di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, membawa nilai-nilai kepemimpinan yang ia bangun sejak bangku kuliah. “Saat ini saya bertugas sebagai leader Tim Kebjiakan dan Komunikasi Analis Data sekaligus membantu penyusunan dan pelaksanaan strategi komunikasi kebijakan dan program di satuan kerja saya,” ujarnya (30/01/2026) lalu pada Tim Humas UMM. Ruri sapaan akrabnya mengawali kariernya di Kementerian Pendidikan pada 2017 setelah lolos seleksi yang cukup panjang. Dalam perjalanannya, ia juga pernah bertugas di Tim Staf Khusus Menteri Bidang Pembelajaran, Ditjen GTK, serta Ditjen PAUDDasmen selama lima tahun. Hingga akhirnya, pada 2025, ia dipercaya bergabung di Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (Ditjen Vokasi PKPLK). Lebih lanjut, pria itu mengisahkan dirinya yang merupakan mahasiswa produktif dan penuh inisiatif. Ia pernah mengemban amanah sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Matematika “Matriks” (2011-2012), Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) “Raushan Fikr” FKIP (2012-2013), hingga Sekretaris Umum Koordinator Komisariat IMM UMM (2013-2014). Tidak hanya itu, ia juga dipercaya menjadi Presidium Sidang dalam Kongres Ikahimatika Indonesia. Deretan pengalaman tersebut menunjukkan konsistensinya dalam membangun kepemimpinan dan jejaring sejak bangku kuliah. Sementara itu, dalam perjalanannya sebagai mahasiswa, Ruri juga pernah mengalami struggle soal manajemen waktu. Ia sempat kesulitan membagi waktu antara tugasnya sebagai mahasiswa dan keaktifannya di organisasi. Namun Ruri tetap meyakini bahwa kesibukan dan tekanan positif justru akan membentuk karakter dan kedewasaan dalam berpikir. Ia juga menambahkan bahwa ia selalu mengingat sebuah nasehat yang pernah ia terima, “Kesibukan yang membuatmu letih lebih baik daripada waktu luang yang membuatmu terlena.” Itu lah yang membuatnya terus menjaga semangat dalam berproses. Ruri juga menambahkan bahwa perjuangan kedua orang tua nya juga menjadi sumber motivasi utamanya untuk terus berprestasi dan memberi dampak positif. “Yang membuatku punya energi dan terus berjuang adalah potret perjuangan orang tuaku yang telah mengantarkanku hingga bisa merasakan bangku kuliah. Karena itulah aku tidak ingin mengecewakannya,” ujarnya. Bagi Ruri, kebahagiaan terbesar dalam bekerja adalah ketika kontribusinya mampu memberi dampak nyata. Ia mengaku terharu saat melihat perubahan pola pikir guru-guru di berbagai daerah setelah kebijakan yang ikut disusunnya diterapkan. Menurutnya, perubahan kecil dalam dunia pendidikan dapat membawa dampak besar bagi masa depan bangsa. Ruri juga berpesan kepada generasi muda agar tidak takut dan merasa bingung dalam menentukan arah hidup. Ia menekankan pentingnya self-awareness, mengenali minat, bakat, serta potensi diri. “kesadaran diri (self-awareness) itu begitu penting bagi generasi muda saat ini. Perlunya mengenal diri sendiri, ‘Who am I?’, apa yang menjadi minat, bakat, kelebihan, dan kekurangan diri untuk memastikan pilihan setelah lulus sesuai dengan keinginan, kepribadian dan keahlian,” tutupnya. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Azrohal Hasan