Gila Kerja Bisa Menurunkan Kualitas Fungsi Sosial Seseorang
www.majelistabligh.id – Overwork atau gila kerja jangan dipandang sebagai persoalan sepele. Gila kerja justru bisa menjadi isu yang menyentuh langsung kehidupan sosial manusia. Kesejahteraan tidak semata diukur dari besaran pendapatan, tetapi sejauh mana individu mampu menjalankan fungsi sosialnya secara utuh dan seimbang. “Overwork tidak bisa dipandang sebagai persoalan sepele. Ini adalah isu keadilan sosial yang menyentuh langsung kualitas hidup manusia. Jika Indonesia ingin menjadi negara yang benar-benar kuat dan berdaya, maka kesejahteraan individu dan keluarga harus ditempatkan sebagai prioritas utama,” kata Eko Rizqi Purwo Widodo, MSW., dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial (Kesos) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Fenomena kerja berlebihan kian mengakar dalam keseharian masyarakat Indonesia. Jam kerja yang panjang kerap disalahartikan sebagai simbol loyalitas, dedikasi, dan etos kerja tinggi yang patut dibanggakan. Di balik glorifikasi budaya “gila kerja” tersebut, tersembunyi persoalan struktural dalam sistem ketenagakerjaan yang perlahan menggerus kualitas hidup manusia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sebanyak 25,5 persen atau sekitar 37,3 juta pekerja di Indonesia bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Angka ini menegaskan bahwa overwork bukan lagi fenomena sporadis, melainkan persoalan sistemik. Ia menjelaskan bahwa bekerja melampaui batas sering kali bukanlah pilihan bebas pekerja. Dalam sistem kerja yang minim perlindungan dan jaminan sosial, banyak individu terpaksa mengorbankan waktu istirahat demi memenuhi kebutuhan hidup. Kondisi ini mencerminkan kegagalan sistem sosial dalam melindungi hak dasar pekerja. Ketimpangan relasi kuasa antara pemberi kerja dan pekerja pun semakin terlihat ketika lembur diposisikan sebagai kewajiban yang dianggap normal. “Dalam perspektif kesejahteraan sosial, pijakan utamanya adalah well-being. Ini mencakup keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, psikologis, hingga kesehatan individu,” ungkapnya. Ia juga menekankan bahwa dampak overwork tidak berhenti di ruang kerja. Ancaman yang lebih serius justru muncul di ranah domestik. Jam kerja yang berlebihan berpotensi memicu kelelahan fisik dan mental, sekaligus melemahkan peran sosial individu dalam keluarga. Ia menyoroti kelompok pekerja yang berada dalam posisi paling rentan, seperti pekerja sektor informal, buruh outsourcing, pekerja migran, hingga pekerja perempuan yang menghadapi beban ganda. Tanpa perlindungan dan kompensasi yang memadai, jam kerja panjang berisiko menjelma menjadi bentuk eksploitasi modern yang tersembunyi di balik tekanan ekonomi. “Negara yang kuat dibangun dari individu dan keluarga yang sehat secara psikososial. Jika beban kerja justru merusak relasi keluarga, seperti renggangnya hubungan orang tua dan anak, maka ini menjadi persoalan serius bagi masa depan bangsa,” tegasnya. Sebagai langkah konkret, Eko mendorong penguatan advokasi serta perumusan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih humanis dan berpihak pada kesejahteraan pekerja. Menurutnya, pemerintah tidak semestinya hanya berfokus pada indikator pertumbuhan ekonomi dan produktivitas semata dalam menyusun regulasi, tetapi juga perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan fisik, mental, dan sosial pekerja. “Kebijakan ketenagakerjaan harusnya mampu menjamin batas kerja yang wajar, perlindungan sosial yang memadai, serta keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan keluarga,” tutupnya. (*/tim)
Dari PPG UMM untuk Guru Masa Depan

Indonesiana.id – Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) merupakan unit strategis yang berperan penting dalam menyiapkan guru profesional di tingkat nasional. Wakil Rektor II UMM yang memberikan inspirasi dan pesan untuk para mahasiswa PPG UMM. *** Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) merupakan unit strategis yang berperan penting dalam menyiapkan guru profesional di tingkat nasional. Hal itu ditegaskan Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. dalam Orientasi Akademik Mahasiswa PPG Calon Guru UMM Gelombang I Kemendikdasmen tahun 2026, 29 Januari 2026. Menariknya, UMM juga memberikan kesempatan para mahasiswa PPG untuk bisa praktik pengalaman lapangan (PPL) di sekolah Australia. Untuk itu, persiapan yang dilakukan dengan mewajibkan mahasiswa dalam melaksanakan presentasi menggunakan bahasa Inggris. Ini menjadi cara UMM untuk memberikan wawasan global bagi para mahasiswanya. Lebih lanjut, Juanda mengatakan bahwa UMM telah berpengalaman lebih dari satu dekade dalam mendampingi proses pembentukan guru dan menjadi salah satu pelaksana PPG terbaik di Indonesia. Baik dari sisi prestasi mahasiswa maupun kualitas pembelajaran. Menurutnya, gelar profesi guru bukan sekadar atribut administratif, tetapi simbol tanggung jawab moral dan profesional yang melekat pada sosok pendidik. “Guru yang paling membekas dalam ingatan peserta didik bukan semata karena kemampuan akademik, melainkan karena keteladanan dan sentuhan afektif. Khususnya pada jenjang pendidikan dasar yang memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, empati, dan kepribadian murid,” kata dia menerangkan. Juanda menegaskan, guru ideal bukan hanya good teacher atau excellent teacher, tetapi inspiring teacher yang mampu menanamkan makna, nilai, dan inspirasi. Melalui PPG UMM, calon guru diharapkan tumbuh dengan spirit pengabdian ‘Dari Muhammadiyah untuk Bangsa’.
Dosen UMM Beri Pendampingan-Pelatihan Pembelajaran Mendalam Guru SD Muhammadiyah 9 Kota Malang

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi bidang Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Dalam hal ini sebagai mitra pengabdian adalah guru SD Muhammadiyah 9 Kota Malang dalam bentuk pendampingan dan pelatihan pembelajaran bagi guru di sekolah tersebut. Kegiatan ini dijelaskan, salah satu tim pengabdian dosen UMM, Maharani Putri Kumalasani, M.Pd, bahwa selain dirinya tim pengabdian terdiri atas nama Hidayah Budi Qur’ani, S.S, M.Pd, dan Dian Fitri Nuraini, M.Pd. Pengabdian tersebut dilaksanakan sebagai respons atas kebijakan pemerintah terkait penguatan pembelajaran mendalam yang menuntut kesiapan guru dalam memahami konsep, perencanaan, hingga implementasinya di ruang kelas sekolah dasar. Suasana pendampingan-pelatihan pembelajaran mendalam guru SD Muhammadiyah 9 Kota Malang. Menurut Maharani, ketika opening kegiatan pendampingan menyampaikan bahwa pelatihan ini tidak hanya berfokus pada penyampaian kebijakan secara normative, tetapi juga bertujuan memberikan pendampingan yang aplikatif agar guru mampu menerjemahkan pembelajaran mendalam ke dalam praktik pembelajaran sehari-hari sesuai dengan karakteristik peserta didik sekolah dasar. Adapaun tahapan kegiatan, lanjut Maharani, pertama dalam bentuk workshop pembelajaran mendalam (29/11/2025). Workshop ini menghadirkan tiga pemateri, yakni Maharani Putri Kumalasani, M.Pd, Hidayah Budi Qur’ani, S.S, M.Pd, dan Dian Fitri Nuraini, M.Pd. Materi disampaikan secara bertahap dan sistematis, dimulai dari pemaparan kebijakan pemerintah terkait pembelajaran mendalam, dilanjutkan dengan penjelasan mengenai prinsip, karakteristik, serta tujuan pembelajaran mendalam dalam konteks kurikulum merdeka, hingga pembahasan teknis penyusunan modul ajar yang mendukung pembelajaran bermakna dan berpusat pada peserta didik. Implementasi pendampingan-pelatihan pembelajaran mendalam guru SD Muhammadiyah 9 Kota Malang di dalam kelas. Selanjutnya, Maharani mengungkapkan tahap kedua pendampingan penyusunan modul ajar pembelajaran mendalam yang dilaksanakan Desember 2025. Pada tahap ini, guru didampingi secara langsung oleh tim pengabdian dalam menyusun modul ajar deep learning yang selaras dengan capaian pembelajaran, tujuan pembelajaran, aktivitas belajar, serta asesmen. Guru diajak memahami keterkaitan antara capaian pembelajaran, tujuan pembelajaran, aktivitas belajar, serta asesmen sebagai satu kesatuan yang utuh dalam pembelajaran mendalam. Selain itu, disampaikan pula contoh implementasi pembelajaran mendalam di sekolah dasar yang menekankan keterlibatan aktif siswa, penguatan proses berpikir kritis, serta pembelajaran yang berorientasi pada pemaknaan. Suasana forum diskusi antara tim dosen UMM dengan mitra pengabdian yaitu guru SD Muhammadiyah 9 Kota Malang. Dijelaskan Maharani, setelah modul ajar disusun, kegiatan dilanjutkan dengan tahap implementasi pembelajaran deep learning yang mengacu pada modul ajar yang telah dikembangkan sebelumnya. Implementasi pembelajaran ini dilaksanakan oleh guru secara langsung di kelas pada bulan Desember 2025 dengan pendampingan intensif dari tim pengabdian UMM. Dalam tahap ini, guru menerapkan strategi pembelajaran mendalam yang menekankan keterlibatan aktif peserta didik, penguatan proses berpikir kritis, serta pembelajaran yang berorientasi pada pemaknaan. Pendampingan yang dilakukan memungkinkan guru untuk memperoleh umpan balik secara langsung terkait pelaksanaan pembelajaran, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga asesmen. Melalui kegiatan implementasi ini, guru tidak hanya mendapatkan pengalaman praktis dalam menerapkan pembelajaran mendalam, tetapi juga melakukan refleksi terhadap efektivitas pembelajaran yang telah dilaksanakan sebagai dasar perbaikan dan pengembangan pembelajaran selanjutnya. Rangkaian kegiatan pengabdian ditutup dengan pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) diselenggarakan pada bulan Januari 2026. FGD melibatkan guru SD Muhammadiyah 9 Kota Malang bersama tim pengabdian UMM sebagai bentuk evaluasi komprehensif terhadap seluruh rangkaian pelatihan dan pendampingan pembelajaran mendalam yang telah dilaksanakan. Saat diskusi ini guru diberikan ruang menyampaikan pengalaman selama mengikuti kegiatan, mengemukakan berbagai kendala yang dihadapi dalam penyusunan maupun implementasi modul ajar, serta mengungkapkan dampak yang dirasakan terhadap proses pembelajaran di kelas. Pengabdian ini memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan kompetensi professional guru. Sementara itu, tandas Maharani, tim pengabdian memberikan umpan balik dan rekomendasi sebagai bahan refleksi bersama guna memperbaiki dan memperkuat pelaksanaan pembelajaran mendalam ke depan, sehingga implementasinya dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan di lingkungan sekolah. Selain sebagai sarana sosialisasi kebijakan, kegiatan pengabdian ini juga memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan kompetensi professional guru. Melalui pelatihan dan pendampingan yang diberikan, guru memperoleh penguatan dalam merancang, melaksanakan, serta merefleksikan proses pembelajaran sesuai dengan tuntutan kebijakan pemerintah. Pendampingan ini diharapkan mampu mendorong guru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih berkualitas, bermakna, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik. Melalui kegiatan ini, guru diharapkan tidak hanya memahami konsep pembelajaran mendalam secara teoritis, tetapi juga mampu mengimplementasikannya secara konsisten dalam proses pembelajaran di kelas. Pada akhirnya, pembelajaran mendalam diharapkan dapat menghantarkan peserta didik pada pengalaman belajar yang lebih baik, bermakna, serta mendukung perkembangan potensi akademik dan karakter siswa secara optimal. Di tempat sama, perwakilan SD Muhammadiyah 9 Kota Malang menyampaikan kegiatan pendampingan semacam ini sangat dibutuhkan oleh sekolah. Sekolah berharap adanya pendampingan dan pemberian informasi terbaru terkait pembelajaran mendalam yang dikeluarkan oleh pemerintah dapat terus diberikan kepada guru. Hal ini disebabkan sekolah merupakan pihak yang berada di garda terdepan dalam mengimplementasikan kebijakan pembelajaran mendalam, sehingga pemahaman guru yang tepat dan berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan kebijakan tersebut. (tim pkm dosen umm/don)
Untuk Pengembangan Kurikulum Hingga Magang Mahasiswa, Prodi Sosiologi FISIP UMM Jalin Kerja Sama dengan Detikcom

www.majelistabligh.id – Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) melakukan kunjungan ke Kantor Detikcom Biro Jawa Timur pada Kamis (29/01/2026) dalam rangka penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Agreement atau Perjanjian Kerjasama). Kerja sama ini menjadi langkah strategis Prodi Sosiologi FISIP UMM dalam memperkuat implementasi program akademik, pengembangan kapasitas mahasiswa, serta perluasan jejaring kemitraan dengan media nasional. Kerja sama antara Prodi Sosiologi FISIP UMM dan Detikcom Biro Jawa Timur mencakup beberapa poin utama. Pertama, pengembangan kurikulum yang selaras dengan program Kampus Berdampak, antara lain melalui keterlibatan praktisi media Detikcom sebagai narasumber kuliah praktisi, kolaborasi workshop di kelas, serta peningkatan kapasitas pembelajaran pada kelas Centre of Excellence (CoE) Prodi Sosiologi UMM. Kedua, Detikcom Biro Jawa Timur menjadi mitra tempat magang mahasiswa dalam skema CoE Program Studi Sosiologi FISIP UMM. Ketiga, kerja sama ini juga membuka peluang Detikcom sebagai lokasi Praktik Kerja Lapangan (PKL) bagi mahasiswa Sosiologi UMM, sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman langsung di dunia kerja, khususnya di bidang media dan komunikasi publik. Keempat, MoA ini juga mencakup dukungan dalam promosi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Detikcom Biro Jawa Timur akan menyediakan ruang publikasi pada platform media mereka untuk mendukung sosialisasi profil dan keunggulan Prodi Sosiologi FISIP UMM, informasi jadwal PMB, jalur dan tata cara pendaftaran, peluang beasiswa, serta berbagai kegiatan unggulan prodi. Kerja sama ini dinilai penting bagi Prodi Sosiologi FISIP UMM sebagai upaya mewadahi keberlanjutan program Centre of Excellence (CoE), magang mahasiswa, memperluas akses informasi publik terkait PMB, serta meningkatkan kualitas proses pendidikan di sosiologi UMM. Melalui sinergi dengan media nasional seperti detikcom, Prodi Sosiologi FISIP UMM berharap dapat meningkatkan visibilitas institusi serta mendorong peningkatan jumlah mahasiswa baru pada tahun 2026. Penandatanganan MoA dilakukan langsung oleh Budi Hartadi, selaku Kepala Biro Redaksi Detikcom Jawa Timur. Dalam kunjungan ini, Program Studi Sosiologi FISIP UMM diwakili oleh dua dosen, yakni Ahmad Arrozy dan Rajih Arraki. Rombongan Prodi Sosiologi disambut oleh Mira Rachmalia, selaku Asisten Redaktur Detikcom Biro Jawa Timur. Kegiatan berlangsung dalam suasana dialogis dan konstruktif, dengan diskusi mengenai peran media dalam penguatan pendidikan tinggi, isu-isu sosial, serta kontribusi Muhammadiyah dalam ranah pendidikan dan pengembangan masyarakat. Melalui penandatanganan MoA ini, Prodi Sosiologi FISIP UMM menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan kolaborasi strategis dengan berbagai mitra eksternal, khususnya media, guna mendukung pelaksanaan tridharma perguruan tinggi dan penguatan kualitas lulusan yang adaptif terhadap kebutuhan zaman. (*/tim)
Mengapa Mahasiswa Rantau Rentan Bunuh Diri? Pakar UMM Beberkan Akar Masalah dan Langkah Pencegahan

indikatorindonesia, MALANG – Rentetan kasus percobaan bunuh diri di kalangan mahasiswa kembali mengusik ruang publik. Beberapa di antaranya bahkan terjadi di lokasi yang sama, memunculkan kegelisahan sekaligus keprihatinan mendalam terhadap kondisi psikologis mahasiswa saat ini. Peristiwa tersebut tidak dapat dipandang semata sebagai kejadian individual, melainkan sebagai gambaran persoalan kesehatan mental yang lebih kompleks, khususnya yang dialami mahasiswa rantau. Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., Psikolog, yang akrab disapa Naning, menjelaskan bahwa mahasiswa rantau secara alamiah memiliki kerentanan terkait masalah adaptasi. Perpindahan dari lingkungan rumah ke tanah perantauan menuntut kemampuan adaptasi yang tidak ringan. Jika tidak dibarengi dengan dukungan sosial yang kuat, kerentanan ini dapat memicu berbagai masalah psikologis. “Mahasiswa rantau itu rentan karena mereka tidak tinggal bersama orang tua atau di lingkungan yang biasa mereka tempati. Mereka berisiko mengalami problem psikologis ketika dukungan sosial atau kemampuan adaptasinya rendah,” jelas Naning kepada Tim Humas UMM, 27 Januari lalu. Menariknya, meski tekanan akademik kerap dituding sebagai biang keladi, Naning mengungkapkan fakta lain dari ruang konseling. Banyak kasus yang ditangani justru berakar dari rapuhnya ketahanan keluarga. Masalah pendidikan atau skripsi sering kali hanya menjadi “pemicu” dari tumpukan beban emosional yang telah dibawa mahasiswa dari rumah. Menurutnya, bekal utama seorang mahasiswa bukan hanya kecerdasan intelektual, melainkan mental yang terlatih untuk berjuang dan menghadapi ketidakenakan hidup. Tanpa “senjata” berupa ketahanan mental (resiliensi), mahasiswa cenderung terjebak dalam cara berpikir yang sempit ketika menghadapi persoalan. “Pada dasarnya, tekanan akademik merupakan hal yang wajar dan tidak terpisahkan dari proses pendidikan. Tekanan dalam taraf wajar justru penting agar mahasiswa belajar menjadi lebih fokus. Namun, yang menjadi landasan utama adalah sejauh mana seseorang telah dibekali ketahanan mental, memahami makna berjuang, serta terbiasa menghadapi proses jatuh bangun dalam kehidupan,” tambahnya. Fenomena pemilihan lokasi yang sama dalam percobaan bunuh diri juga menjadi perhatian. Menurut Naning, hal tersebut berkaitan dengan kondisi psikologis individu yang sudah berada dalam situasi terdesak dan berpikir sempit. Paparan cerita atau pemberitaan sebelumnya dapat membentuk gambaran tertentu di benak mahasiswa yang rapuh, sehingga lokasi tersebut dianggap sebagai pilihan. Pada titik ini, peran lingkungan menjadi sangat krusial. BK UMM menekankan pendekatan konseling yang berorientasi pada pemberdayaan. Mahasiswa tidak sekadar dibantu memahami masalahnya, tetapi juga diajak mengenali kekuatan diri serta sumber persoalan yang dihadapi. “Kami berharap mahasiswa dapat menyadari bahwa mereka memiliki kapasitas dan potensi untuk menghadapi serta keluar dari permasalahannya. Dengan demikian, pendampingan konselor berfungsi sebagai penguat, bukan sebagai satu-satunya tumpuan,” tegas Naning. Naning juga menekankan pentingnya coping mechanism yang sehat, yakni cara individu melepaskan emosi negatif sebelum menumpuk dan meledak (blow up). Hal-hal sederhana seperti berolahraga, mendengarkan musik, atau melakukan aktivitas yang disukai, misalnya sekadar menikmati makanan favorit dapat menjadi saluran emosi yang efektif jika dilakukan dengan penuh penghayatan. Selain peran profesional, lingkungan terdekat seperti teman kos dan teman sebaya menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan. Mendengarkan tanpa menghakimi, menjaga kerahasiaan, serta menghindari sikap menyepelekan atau menertawakan masalah teman merupakan langkah sederhana, tetapi berdampak besar. Kesalahan kecil seperti membocorkan cerita pribadi justru dapat memperparah kondisi psikologis seseorang. Melalui pendekatan preventif dan promotif, BK UMM berharap mahasiswa mampu mengenali kondisi psikologisnya sejak dini. Sebab, pada akhirnya, setiap masalah selalu memiliki jalan keluar meskipun tidak selalu ideal selama pikiran tidak dibiarkan tertutup oleh kabut keputusasaan.
UMM Gandeng Bank Jatim Memperluas Pengabdian Masyarakat

www.majelistabligh.id – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim). Kedua pihak sepakat bekerjasama dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan UMKM, digitalisasi layanan, literasi keuangan, hingga penguatan sinergi program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Penandatanganan kerjasama yang berlangsung di Ruang Sidang Senat UMM, Rabu (28/1/2026), diarahkan untuk mempertemukan kapasitas akademik perguruan tinggi dengan peran perbankan daerah dalam mendorong pembangunan ekonomi dan sosial. Salah satu fokus utamanya adalah dukungan terhadap akses pendidikan melalui program beasiswa bagi mahasiswa UMM. Direktur Bisnis Mikro, Ritel, dan Usaha Syariah Bank Jatim, Tony Prasetyo, M.M., menyebut MoU ini sebagai bentuk formalisasi atas kolaborasi yang selama ini telah berjalan, khususnya dalam layanan keuangan mahasiswa dan pengembangan institusi. Menurutnya, payung kerjasama yang jelas diperlukan agar kolaborasi tidak bersifat insidental, melainkan terstruktur dan berorientasi jangka panjang. “Selama ini kerjasama sudah berjalan, tetapi belum memiliki payung formal. Dengan MoU ini, ruang kolaborasi bisa diperluas dan dikembangkan lintas bidang secara lebih sistematis,” ujar Tony. Ia menambahkan, kerjasama tidak hanya berfokus pada layanan transaksi melainkan juga meliputi pengembangan layanan digital, penguatan literasi dan inklusi keuangan, serta integrasi program CSR dengan agenda pendidikan dan sosial kampus. Program beasiswa diposisikan sebagai instrumen strategis untuk memperluas pemerataan akses pendidikan sekaligus menyiapkan talenta muda yang adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja dan sektor keuangan daerah. “Kami melayani berbagai segmen, dari nasabah konvensional hingga digital. Karena itu, transformasi digital kami dorong secara bertahap dan kontekstual, sambil membuka ruang kolaborasi yang fleksibel dengan UMM,” tegasnya. Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menilai MoU ini sebagai penguatan posisi perguruan tinggi dalam membangun kemitraan dengan sektor industri dan perbankan. Ia menekankan bahwa peran pendidikan tinggi saat ini tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga menghasilkan riset dan pengabdian yang berdampak langsung bagi masyarakat. “UMM memiliki agenda riset dan pengabdian yang beririsan dengan isu pembangunan daerah, mulai dari pendampingan UMKM, penanganan stunting, pengentasan kemiskinan ekstrem, hingga pengembangan sektor pertanian, energi, kesehatan, dan transformasi digital. Sinergi dengan Bank Jatim diharapkan memperkuat aspek pembiayaan, pendampingan, serta keberlanjutan program,” jelasnya. (*/tim)
Soroti Fenomena Keputusasaan dan Kesehatan Mental Perantau, UMM Tekankan Pentingnya Resiliensi

Malang, WISATA – Rentetan kasus percobaan bunuh diri di kalangan mahasiswa kembali menjadi perhatian publik. Sejumlah kejadian yang bahkan terjadi di lokasi serupa menimbulkan keprihatinan mendalam dan menandai adanya persoalan kesehatan mental yang tidak bisa dipandang sebagai kasus individual semata. Fenomena ini mencerminkan tantangan psikologis yang lebih luas, khususnya yang dihadapi mahasiswa rantau. Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., Psikolog, atau yang akrab disapa Naning, menjelaskan bahwa mahasiswa yang hidup jauh dari keluarga memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi. Proses berpindah dari lingkungan rumah ke tempat perantauan menuntut kemampuan adaptasi yang besar. Ketika dukungan sosial terbatas, kondisi ini dapat memicu tekanan emosional yang serius. Menurut Naning, tekanan akademik memang sering dianggap sebagai penyebab utama, namun pengalaman di ruang konseling menunjukkan bahwa banyak persoalan justru berakar dari masalah keluarga. Tugas kuliah, skripsi, atau tuntutan akademik kerap hanya menjadi pemicu dari beban emosional yang sudah lama terpendam. Ia menegaskan bahwa bekal penting mahasiswa tidak hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga ketahanan mental atau resiliensi. Tanpa kemampuan menghadapi tekanan dan kegagalan, mahasiswa berisiko terjebak dalam pola pikir sempit saat menghadapi masalah. Tekanan akademik, dalam batas wajar, justru merupakan bagian dari proses pembelajaran untuk membangun fokus dan daya juang. Terkait kecenderungan pemilihan lokasi yang sama dalam percobaan bunuh diri, Naning menilai hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi psikologis yang terdesak serta paparan informasi sebelumnya. Dalam situasi rapuh, individu dapat terpengaruh oleh gambaran yang terbentuk dari cerita atau pemberitaan, sehingga peran lingkungan menjadi sangat penting. BK UMM mengedepankan pendekatan konseling berbasis pemberdayaan, dengan membantu mahasiswa mengenali potensi dan kekuatan diri. Selain itu, coping mechanism yang sehat—seperti berolahraga, mendengarkan musik, atau melakukan aktivitas yang disukai—dinilai efektif untuk menyalurkan emosi negatif. Peran teman sebaya dan lingkungan terdekat juga krusial sebagai garda terdepan pencegahan. Sikap empati, menjaga rahasia, dan mendengarkan tanpa menghakimi dapat menjadi langkah sederhana yang berdampak besar. Pendekatan preventif diharapkan mampu membantu mahasiswa mengenali masalah sejak dini dan menemukan jalan keluar sebelum terjebak dalam keputusasaan.
Perluas Jejaring Kemitraan Dengan Media Nasional, Prodi Sosiologi FISIP UMM Lakukan MoA Dengan Detik Jatim

SURABAYA, PIJARNEWS.ID – Program Studi (Prodi) Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Agreement (MoA) dengan Detik Jatim di Kantor Detikcom Biro Jawa Timur pada Kamis (29/01/2026). Kerja sama ini menjadi langkah strategis Prodi Sosiologi FISIP UMM dalam memperkuat implementasi program akademik, pengembangan kapasitas mahasiswa, serta perluasan jejaring kemitraan dengan media nasional. Kunjungan Prodi Sosiologi FISIP UMM diwakili oleh dua dosen, yakni Ahmad Arrozy dan Rajih Arraki dan disambut oleh Mira Rachmalia selaku Asisten Redaktur Detikcom Biro Jawa Timu. Adapun penandatanganan MoA dilakukan langsung oleh Kepala Biro Redaksi Detikcom Jawa Timur, Budi Hartadi. Kerja sama antara Prodi Sosiologi FISIP UMM dan Detikcom Biro Jawa Timur mencakup beberapa poin utama. Pertama, pengembangan kurikulum yang selaras dengan program Kampus Berdampak, antara lain melalui keterlibatan praktisi media Detikcom sebagai narasumber kuliah praktisi, kolaborasi workshop di kelas, serta peningkatan kapasitas pembelajaran pada kelas Centre of Excellence (CoE) Prodi Sosiologi UMM. Kedua, Detikcom Biro Jawa Timur menjadi mitra tempat magang mahasiswa dalam skema CoE Program Studi Sosiologi FISIP UMM. Ketiga, kerja sama ini juga membuka peluang Detikcom sebagai lokasi Praktik Kerja Lapangan (PKL) bagi mahasiswa Sosiologi UMM, sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman langsung di dunia kerja, khususnya di bidang media dan komunikasi publik. Keempat, MoA ini juga mencakup dukungan dalam promosi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Detikcom Biro Jawa Timur akan menyediakan ruang publikasi pada platform media mereka untuk mendukung sosialisasi profil dan keunggulan Prodi Sosiologi FISIP UMM, informasi jadwal PMB, jalur dan tata cara pendaftaran, peluang beasiswa, serta berbagai kegiatan unggulan prodi. Kerja sama ini dinilai penting bagi Prodi Sosiologi FISIP UMM sebagai upaya mewadahi keberlanjutan program CoE, magang mahasiswa, memperluas akses informasi publik terkait PMB, serta meningkatkan kualitas proses pendidikan di sosiologi UMM. Melalui sinergi dengan media nasional seperti detikcom, Prodi Sosiologi FISIP UMM berharap dapat meningkatkan visibilitas institusi serta mendorong peningkatan jumlah mahasiswa baru pada tahun 2026. Dengan demikian, Prodi Sosiologi FISIP UMM menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan kolaborasi strategis dengan berbagai mitra eksternal, khususnya media, guna mendukung pelaksanaan tridharma perguruan tinggi dan penguatan kualitas lulusan yang adaptif terhadap kebutuhan zaman.
UMM Kerja Sama dengan Bank Jatim, Dorong Akses Pendidikan dan Ekonomi Daerah

JATIMPEDIA, Malang – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) di Ruang Sidang Senat UMM, Rabu (28/1/2026). Kesepakatan tersebut menjadi payung kerja sama strategis yang mencakup bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan UMKM, digitalisasi layanan, literasi keuangan, serta penguatan sinergi program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Kerja sama ini bertujuan mengintegrasikan kapasitas akademik perguruan tinggi dengan peran perbankan daerah dalam mendorong pembangunan ekonomi dan sosial berbasis pengetahuan. Salah satu fokus utama adalah dukungan terhadap akses pendidikan melalui program beasiswa bagi mahasiswa UMM. Direktur Bisnis Mikro, Ritel, dan Usaha Syariah Bank Jatim Tony Prasetyo MM menyatakan, MoU tersebut merupakan formalisasi atas kolaborasi yang selama ini telah berjalan, khususnya dalam layanan keuangan mahasiswa dan pengembangan institusi. Menurutnya, payung kerja sama yang jelas diperlukan agar kolaborasi bersifat terstruktur dan berorientasi jangka panjang. “Selama ini kerja sama sebenarnya sudah berjalan, tetapi belum memiliki payung formal. Dengan MoU ini, ruang kolaborasi dapat diperluas dan dikembangkan lintas bidang secara lebih sistematis,” ujarnya. Ia menambahkan, kerja sama tidak hanya berfokus pada layanan transaksi, tetapi juga mencakup pengembangan layanan digital, penguatan literasi dan inklusi keuangan, serta integrasi program CSR dengan agenda pendidikan dan sosial kampus. Program beasiswa diposisikan sebagai instrumen strategis untuk memperluas pemerataan akses pendidikan sekaligus menyiapkan talenta muda yang adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja dan sektor keuangan daerah. “Kami melayani berbagai segmen, mulai dari nasabah konvensional hingga digital. Karena itu, transformasi digital kami dorong secara bertahap dan kontekstual, sambil membuka ruang kolaborasi yang fleksibel dengan UMM,” katanya. Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi MPsi PhD menilai MoU tersebut sebagai penguatan kemitraan strategis antara perguruan tinggi dan sektor industri, khususnya perbankan. Ia menekankan bahwa peran pendidikan tinggi tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga menghasilkan riset dan pengabdian yang berdampak langsung bagi masyarakat. “UMM memiliki agenda riset dan pengabdian yang beririsan dengan isu pembangunan daerah, mulai dari pendampingan UMKM, penanganan stunting, pengentasan kemiskinan ekstrem, hingga pengembangan sektor pertanian, energi, kesehatan, dan transformasi digital. Sinergi dengan Bank Jatim diharapkan memperkuat aspek pembiayaan, pendampingan, serta keberlanjutan program,” jelasnya. Kesepakatan ini menandai komitmen UMM dan Bank Jatim dalam membangun ekosistem kolaborasi antara pendidikan tinggi dan sektor keuangan daerah guna memperkuat kapasitas sumber daya manusia, riset aplikatif, serta pembangunan ekonomi Jawa Timur yang berkelanjutan.
Inovasi Pembelajaran Matematika: Dosen UMM Kembangkan Game Edukasi Metaverse Adaptif

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Inovasi pembelajaran berbasis teknologi terus dikembangkan untuk menjawab tantangan pendidikan abad ke-21. Tim peneliti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mengembangkan game edukasi gamifikasi adaptif berbasis metaverse sebagai media pembelajaran matematika yang imersif dan interaktif. Penelitian ini diketuai oleh Dr. Erna Yayuk, S.Pd, M.Pd, dengan anggota Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si. Pengembangan dilakukan melalui pendekatan Research and Development (R&D) dengan model 4D (Define, Design, Develop, dan Disseminate) yang dirancang secara sistematis untuk menghasilkan produk pembelajaran yang valid, praktis, dan efektif. Menurut Ketua Tim Penelitian FKIP UMM, Dr. Erna Yayuk, S.Pd, M.Pd, pemanfaatan teknologi metaverse dalam pembelajaran matematika bertujuan menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna. “Lingkungan belajar yang imersif memungkinkan mahasiswa tidak hanya memahami konsep secara abstrak, tetapi juga mengalami langsung melalui visualisasi 3D, simulasi, dan tantangan berbasis permainan,” ujar Erna Yayuk. Dijelaskan Erna Yayuk, penelitian ini dilaksanakan pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP UMM yang menempuh mata kuliah Matematika Dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pembelajaran yang dikembangkan sangat layak digunakan, baik dari aspek materi, media, maupun desain pembelajaran. Selain itu, uji kepraktisan memperlihatkan bahwa mahasiswa menilai sistem mudah digunakan dan bermanfaat dalam mendukung proses belajar. Erna Yayuk menegaskan penggunaan game edukasi berbasis metaverse terbukti mampu meningkatkan motivasi belajar matematika secara signifikan, terutama dalam aspek minat belajar, rasa percaya diri, dan penurunan kecemasan terhadap mata pelajaran matematika. Sistem gamifikasi adaptif juga mendorong keterlibatan aktif mahasiswa serta meningkatkan keterampilan pemecahan masalah dan keterlibatan kognitif. Di tempat yang sama, anggota tim penelitian FKIP UMM, Dr. Daroe Iswatiningsih, mengungkapkan integrasi unsur visual, simulasi, dan umpan balik adaptif dalam sistem ini sejalan dengan teori Cognitive Theory of Multimedia Learning. Dimana mahasiswa dapat membangun pemahaman konsep matematika secara lebih komprehensif melalui integrasi visual dan verbal yang saling menguatkan. Sebagai closingnya, Daroe Iswatiningsih mengharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi alternatif solusi inovatif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di pendidikan tinggi, khususnya dalam menyiapkan calon guru sekolah dasar yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital. Ke depan, pengembangan game edukasi berbasis metaverse ini juga berpotensi untuk di-implementasikan pada jenjang pendidikan yang lebih luas. (tim peneliti fkip umm/don)