Mahasiswa Rantau Rentan Bunuh Diri? Pakar UMM Beberkan Akar Masalah dan Langkah Pencegahan

pwmu.co –Rentetan kasus percobaan bunuh diri di kalangan mahasiswa kembali mengusik ruang publik. Beberapa di antaranya bahkan terjadi di lokasi yang sama, memunculkan kegelisahan sekaligus keprihatinan mendalam terhadap kondisi psikologis mahasiswa saat ini. Peristiwa tersebut tidak dapat dipandang semata sebagai kejadian individual, melainkan sebagai gambaran persoalan kesehatan mental yang lebih kompleks, khususnya yang dialami mahasiswa rantau. Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., Psikolog, yang akrab disapa Naning, menjelaskan bahwa mahasiswa rantau secara alamiah memiliki kerentanan terkait masalah adaptasi. Perpindahan dari lingkungan rumah ke tanah perantauan menuntut kemampuan adaptasi yang tidak ringan. Jika tidak dibarengi dengan dukungan sosial yang kuat, kerentanan ini dapat memicu berbagai masalah psikologis. “Mahasiswa rantau itu rentan karena mereka tidak tinggal bersama orang tua atau di lingkungan yang biasa mereka tempati. Mereka berisiko mengalami problem psikologis ketika dukungan sosial atau kemampuan adaptasinya rendah,” jelas Naning kepada Tim Humas UMM, 27 Januari lalu. Menariknya, meski tekanan akademik kerap dituding sebagai biang keladi, Naning mengungkapkan fakta lain dari ruang konseling. Banyak kasus yang ditangani justru berakar dari rapuhnya ketahanan keluarga. Masalah pendidikan atau skripsi sering kali hanya menjadi “pemicu” dari tumpukan beban emosional yang telah dibawa mahasiswa dari rumah. Menurutnya, bekal utama seorang mahasiswa bukan hanya kecerdasan intelektual, melainkan mental yang terlatih untuk berjuang dan menghadapi ketidakenakan hidup. Tanpa “senjata” berupa ketahanan mental (resiliensi), mahasiswa cenderung terjebak dalam cara berpikir yang sempit ketika menghadapi persoalan. “Pada dasarnya, tekanan akademik merupakan hal yang wajar dan tidak terpisahkan dari proses pendidikan. Tekanan dalam taraf wajar justru penting agar mahasiswa belajar menjadi lebih fokus. Namun, yang menjadi landasan utama adalah sejauh mana seseorang telah dibekali ketahanan mental, memahami makna berjuang, serta terbiasa menghadapi proses jatuh bangun dalam kehidupan,” tambahnya. Fenomena pemilihan lokasi yang sama dalam percobaan bunuh diri juga menjadi perhatian. Menurut Naning, hal tersebut berkaitan dengan kondisi psikologis individu yang sudah berada dalam situasi terdesak dan berpikir sempit. Paparan cerita atau pemberitaan sebelumnya dapat membentuk gambaran tertentu di benak mahasiswa yang rapuh, sehingga lokasi tersebut dianggap sebagai pilihan. Pada titik ini, peran lingkungan menjadi sangat krusial. BK UMM menekankan pendekatan konseling yang berorientasi pada pemberdayaan. Mahasiswa tidak sekadar dibantu memahami masalahnya, tetapi juga diajak mengenali kekuatan diri serta sumber persoalan yang dihadapi. “Kami berharap mahasiswa dapat menyadari bahwa mereka memiliki kapasitas dan potensi untuk menghadapi serta keluar dari permasalahannya. Dengan demikian, pendampingan konselor berfungsi sebagai penguat, bukan sebagai satu-satunya tumpuan,” tegas Naning. Naning juga menekankan pentingnya coping mechanism yang sehat, yakni cara individu melepaskan emosi negatif sebelum menumpuk dan meledak (blow up). Hal-hal sederhana seperti berolahraga, mendengarkan musik, atau melakukan aktivitas yang disukai, misalnya sekadar menikmati makanan favorit dapat menjadi saluran emosi yang efektif jika dilakukan dengan penuh penghayatan. Selain peran profesional, lingkungan terdekat seperti teman kos dan teman sebaya menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan. Mendengarkan tanpa menghakimi, menjaga kerahasiaan, serta menghindari sikap menyepelekan atau menertawakan masalah teman merupakan langkah sederhana, tetapi berdampak besar. Kesalahan kecil seperti membocorkan cerita pribadi justru dapat memperparah kondisi psikologis seseorang. Melalui pendekatan preventif dan promotif, BK UMM berharap mahasiswa mampu mengenali kondisi psikologisnya sejak dini. Sebab, pada akhirnya, setiap masalah selalu memiliki jalan keluar meskipun tidak selalu ideal selama pikiran tidak dibiarkan tertutup oleh kabut keputusasaan.(*)
Mahasiswa Rantau Rentan Krisis Mental, Pakar UMM Ungkap Faktor Keluarga hingga Minim Dukungan Sosial

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM – Fenomena meningkatnya kasus percobaan bunuh diri di kalangan mahasiswa kembali memantik perhatian publik. Beberapa peristiwa bahkan terjadi di lokasi yang sama, memunculkan kekhawatiran serius terkait kondisi kesehatan mental generasi muda, khususnya mahasiswa rantau. Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., Psikolog, menilai persoalan ini tidak bisa dilihat sebagai masalah individu semata. Menurutnya, ada persoalan struktural dan psikologis yang saling berkaitan, terutama pada mahasiswa yang menempuh pendidikan jauh dari keluarga. “Mahasiswa rantau secara alami menghadapi tantangan adaptasi yang berat. Mereka tidak lagi berada di lingkungan yang familiar dan kehilangan dukungan sosial utama dari keluarga,” ujar Cahyaning yang akrab disapa Naning, Selasa (27/1/2026). Ia menjelaskan, kerentanan tersebut akan semakin besar ketika mahasiswa tidak memiliki kemampuan adaptasi yang memadai atau lingkungan sosial yang suportif. Kondisi ini dapat memicu tekanan psikologis yang berujung pada gangguan kesehatan mental serius. Menariknya, Naning menepis anggapan bahwa tekanan akademik menjadi penyebab utama. Berdasarkan pengalaman konseling di BK UMM, banyak kasus justru berakar dari persoalan keluarga yang belum selesai sejak mahasiswa masih di rumah. “Masalah akademik seperti skripsi atau nilai sering kali hanya menjadi pemicu terakhir. Akar masalahnya adalah ketahanan keluarga yang rapuh dan beban emosional yang sudah lama dipendam,” ungkapnya. Ia menekankan bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup. Mahasiswa perlu dibekali ketahanan mental atau resiliensi agar mampu menghadapi tekanan hidup yang tak terhindarkan. “Tekanan akademik itu wajar dan bahkan dibutuhkan. Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang tidak memiliki bekal mental untuk menghadapi proses jatuh bangun kehidupan,” jelasnya. Terkait fenomena pemilihan lokasi yang sama dalam percobaan bunuh diri, Naning menilai hal tersebut berkaitan dengan pola pikir sempit pada individu yang sedang berada dalam kondisi terdesak. Paparan informasi atau pemberitaan sebelumnya dapat membentuk sugesti berbahaya bagi mahasiswa dengan kondisi psikologis rentan. Dalam praktiknya, BK UMM mengedepankan pendekatan konseling berbasis pemberdayaan. Mahasiswa tidak hanya diajak memahami masalah, tetapi juga mengenali potensi dan kekuatan diri. “Konselor bukan satu-satunya penopang. Kami ingin mahasiswa sadar bahwa mereka punya kapasional untuk bangkit dan mencari jalan keluar,” tegasnya. Selain pendampingan profesional, Naning menyoroti pentingnya mekanisme koping yang sehat, seperti berolahraga, mendengarkan musik, atau melakukan aktivitas sederhana yang menyenangkan sebagai sarana menyalurkan emosi negatif. Peran teman sebaya juga dinilai sangat krusial. Sikap mau mendengar tanpa menghakimi, menjaga rahasia, dan tidak meremehkan masalah teman dapat menjadi benteng awal pencegahan. “Kesalahan kecil seperti menyebarkan cerita pribadi justru bisa memperparah kondisi psikologis seseorang,” pungkasnya. Melalui pendekatan preventif dan edukatif, BK UMM berharap mahasiswa semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental sejak dini. Sebab, setiap persoalan selalu memiliki jalan keluar selama pikiran tidak terjebak dalam keputusasaan. (raf) Sumber: Rilis berita UMM
Prodi Sosiologi FISIP UMM Jalin Kerja Sama Strategis dengan Detikcom

Surabaya, (afederasi.com) – Program Studi (Prodi) Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) memperkuat jejaring strategisnya dengan dunia media. Pada Rabu (29/01/2026), Prodi Sosiologi FISIP UMM secara resmi menjalin kerja sama dengan detikcom Biro Jawa Timur melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Agreement/MoA). Kerja sama ini menjadi langkah penting bagi Prodi Sosiologi FISIP UMM dalam mengimplementasikan program Kampus Berdampak, memperkuat program akademik, serta membuka akses lebih luas bagi mahasiswa untuk pengalaman langsung di industri media nasional. Kolaborasi antara Prodi Sosiologi FISIP UMM dan detikcom Biro Jawa Timur mencakup empat pilar utama yang saling menguntungkan: Pengembangan Kurikulum dan Kapasitas: Detikcom akan terlibat sebagai mitra dalam pengembangan kurikulum berbasis praktik. Keterlibatan ini diwujudkan melalui kehadiran praktisi media detikcom sebagai narasumber kuliah praktisi, kolaborasi workshop di kelas, serta penguatan pembelajaran di kelas Centre of Excellence (CoE) Prodi Sosiologi UMM. Magang dan Praktik Kerja Lapangan (PKL): Detikcom Biro Jawa Timur resmi menjadi mitra tempat magang bagi mahasiswa dalam skema CoE Prodi Sosiologi FISIP UMM. Selain itu, kerja sama ini juga membuka kesempatan bagi mahasiswa Sosiologi UMM untuk melaksanakan PKL, memberikan pengalaman riil di bidang jurnalistik, media digital, dan komunikasi publik. Dukungan Publikasi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB): Sebagai bagian dari sinergi, detikcom Biro Jawa Timur akan menyediakan ruang publikasi di platform medianya. Ruang ini akan digunakan untuk mensosialisasikan profil dan keunggulan Prodi Sosiologi FISIP UMM, informasi jadwal PMB, jalur pendaftaran, peluang beasiswa, serta berbagai kegiatan unggulan prodi kepada masyarakat luas. Keberlanjutan Program CoE: Kerja sama ini dinilai krusial untuk mendukung keberlanjutan dan efektivitas program Centre of Excellence (CoE) di Prodi Sosiologi, sekaligus meningkatkan kualitas proses pendidikan dan relevansi lulusan dengan dunia kerja. Penandatanganan MoA dilakukan langsung oleh Budi Hartadi, Kepala Biro Redaksi Detikcom Jawa Timur. Sementara itu, Prodi Sosiologi FISIP UMM diwakili oleh dua dosennya, Ahmad Arrozy dan Rajih Arraki. Rombongan akademisi UMM disambut hangat oleh Mira Rachmalia, Asisten Redaktur Detikcom Biro Jawa Timur. “Kegiatan berlangsung dalam suasana dialogis dan konstruktif. Kami mendiskusikan peran strategis media dalam penguatan pendidikan tinggi, respons terhadap isu-isu sosial kontemporer, serta kontribusi Muhammadiyah dalam pengembangan masyarakat,” ujar perwakilan Prodi Sosiologi FISIP UMM. Dengan penandatanganan MoA ini, Prodi Sosiologi FISIP UMM menegaskan komitmennya untuk terus memperluas kolaborasi strategis dengan mitra eksternal berkualitas. Sinergi dengan media nasional seperti detikcom diharapkan tidak hanya meningkatkan visibilitas institusi, tetapi juga mendorong peningkatan jumlah calon mahasiswa baru pada PMB 2026 serta menghasilkan lulusan sosiologi yang adaptif dan kompetitif.(san)
Perkuat Kampus Berdampak, Sosiologi FISIP UMM Resmi Gandeng Detikcom Jatim

Tagar.co — Matahari Surabaya menyengat seperti biasa saat rombongan Program Studi (Prodi) Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) tiba di Kantor Detikcom Biro Jawa Timur, Kamis, 29 Januari 2026. Kedatangan mereka bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan membawa misi besar untuk menjahit sinergi antara akademisi dan praktisi media. Dua dosen Sosiologi UMM, Ahmad Arrozy dan Rajih Arraki, melangkah masuk membawa draf Memorandum of Agreement (MoA). Mereka percaya, sosiologi tidak boleh hanya mendekam di balik meja perpustakaan, tetapi harus selaras dengan dinamika informasi yang bergerak secepat ketukan jari di layar ponsel. Asisten Redaktur Detikcom Biro Jawa Timur, Mira Rachmalia, menyambut hangat rombongan ini dalam suasana yang cair namun tetap profesional. Kerja sama ini menjadi pijakan krusial bagi Prodi Sosiologi untuk mengimplementasikan program “Kampus Berdampak”. Fokus utamanya adalah menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri. Baca Juga: Refleksi Awal Tahun PSIB UMM: Menakar Jalan Indonesia Emas 2045 Melalui kesepakatan ini, praktisi media dari Detikcom akan turun gunung menjadi narasumber kuliah praktisi dan mengisi berbagai lokakarya di kelas. Mahasiswa tidak lagi hanya mengunyah teori konflik atau struktur sosial, tetapi juga belajar bagaimana realitas sosial tersebut terbingkai dalam narasi berita yang akurat. Membuka Gerbang Karier Melalui CoE Poin yang paling menarik perhatian adalah penguatan Centre of Excellence (CoE) Prodi Sosiologi. Detikcom Biro Jawa Timur kini resmi menjadi mitra tempat magang bagi mahasiswa dalam skema CoE tersebut. Artinya, mahasiswa memiliki kesempatan emas untuk mencicipi atmosfer kerja di ruang redaksi media nasional. Kepala Biro Redaksi Detikcom Jawa Timur, Budi Hartadi, menandatangani dokumen kerja sama tersebut dengan penuh keyakinan. Ia memandang kolaborasi ini sebagai jembatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman langsung di dunia kerja, khususnya di bidang komunikasi publik. Selain magang CoE, lokasi ini juga terbuka menjadi tempat Praktik Kerja Lapangan (PKL) bagi mahasiswa reguler. “Melalui sinergi ini, kami ingin memastikan kualitas proses pendidikan di Sosiologi UMM tetap relevan. Mahasiswa harus menjadi lulusan yang adaptif terhadap kebutuhan zaman,” ujar pihak delegasi UMM saat sesi dialog. Baca Juga: Kanwil Kemenag Berbagi Tip Membina Keluarga Muda Penuh Bahagia Tak hanya soal magang, MoA ini juga mencakup dukungan promosi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Detikcom akan menyediakan ruang publikasi untuk mensosialisasikan profil prodi, jadwal pendaftaran, hingga peluang beasiswa bagi calon mahasiswa di tahun 2026. Menjaga Komitmen Tridharma Perguruan Tinggi Diskusi di kantor redaksi itu berkembang menjadi dialog konstruktif. Mereka tidak hanya bicara soal kertas perjanjian, tetapi juga mengupas tuntas peran media dalam memperkuat pendidikan tinggi. Isu-isu sosial terkini hingga kontribusi nyata Muhammadiyah dalam ranah pengembangan masyarakat menjadi bumbu obrolan yang hangat. Bagi Prodi Sosiologi FISIP UMM, kolaborasi dengan media nasional sekelas Detikcom adalah upaya meningkatkan visibilitas institusi di mata publik. Dengan akses informasi yang lebih luas, mereka optimistis dapat menarik minat calon mahasiswa baru yang ingin mendalami ilmu sosial dengan sentuhan praktis media digital. Penandatanganan MoA ini menegaskan kembali komitmen UMM dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi. Dengan memperluas jejaring kemitraan eksternal, Sosiologi UMM tidak hanya mencetak sarjana yang paham teori, tetapi juga praktisi yang tangkas membaca gerak perubahan sosial di masyarakat. (#)
Mahasiswa UMM Kembangkan Steam Press Ecoprint, Solusi Produksi Lebih Efisien untuk UMKM

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM – Inovasi teknologi tepat guna kembali lahir dari lingkungan kampus. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menghadirkan alat produksi ecoprint yang dinilai lebih efisien dan mampu meningkatkan kualitas hasil, khususnya bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Inovasi tersebut berupa Steam Press Ecoprint, alat yang dirancang oleh mahasiswa Teknik Industri UMM, Iqbal Rafif Yuliono (angkatan 2023), bersama timnya. Teknologi ini dikembangkan melalui mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3) sebagai respons atas berbagai kendala yang masih dihadapi pelaku ecoprint di lapangan. Iqbal menjelaskan, proses ecoprint yang selama ini digunakan UMKM umumnya masih bersifat manual atau mengandalkan sistem otomatis sederhana. Metode tersebut dinilai belum mampu menghasilkan warna dan detail motif yang konsisten, terutama saat produksi dalam jumlah banyak. “Dari pengamatan kami, metode ecoprint yang ada sering kali menghasilkan warna yang kurang kuat dan motif tidak merata. Dari situ muncul ide untuk menggabungkan sistem manual dan otomatis dengan mesin press berbasis uap,” ujarnya, Selasa (27/1/2026). Berbeda dengan metode kukus konvensional, Steam Press Ecoprint memanfaatkan kombinasi panas, uap, dan tekanan melalui pelat logam pada mesin press. Sistem ini memungkinkan proses transfer warna dan motif ke kain berlangsung lebih optimal. Hasil uji coba menunjukkan bahwa penggunaan uap bertekanan mampu menghasilkan warna yang lebih tajam dan motif yang lebih detail. Selain itu, konsistensi hasil juga lebih terjaga, terutama untuk produksi skala UMKM. “Ketika dibandingkan dengan metode kukus biasa, warna ecoprint yang dihasilkan mesin ini jauh lebih keluar dan detail motifnya lebih jelas,” tambah Iqbal. Alat tersebut telah diuji coba secara terbatas pada pelaku UMKM, salah satunya Kenikir Natural Ecoprint di Bululawang, Kabupaten Malang. Dari pengujian tersebut, Steam Press Ecoprint dinilai mampu meningkatkan kualitas visual kain sekaligus menjaga keseragaman hasil produksi. Meski mengusung konsep efisiensi, alat ini tidak semata-mata mengejar kecepatan. Steam Press Ecoprint dirancang agar proses produksi dapat disesuaikan dengan tingkat kerumitan motif, sehingga pelaku usaha tetap dapat menghasilkan produk bernilai jual tinggi. Selain itu, desain alat dibuat ramah bagi UMKM skala kecil dan fleksibel untuk berbagai jenis kain. Bahkan, beberapa material tertentu menunjukkan hasil motif yang lebih maksimal saat diproses menggunakan kombinasi uap dan tekanan. Iqbal mengakui, peran dosen pembimbing sangat penting dalam proses pengembangan alat tersebut, terutama dalam menumbuhkan kepekaan mahasiswa terhadap kebutuhan masyarakat. Ke depan, ia berharap Steam Press Ecoprint dapat dikembangkan dengan kapasitas lebih besar, struktur yang lebih kokoh, serta sistem pengoperasian yang semakin praktis. “Yang terpenting jangan takut mencoba. Dari proses itulah kita belajar memahami masalah dan menemukan solusi yang benar-benar dibutuhkan,” katanya. Sementara itu, Ketua Program Studi Teknik Industri UMM, Dr. Dana Marsetiya Utama, M.T., mengapresiasi inovasi mahasiswa tersebut. Ia menilai karya ini menjadi bukti keberhasilan pembelajaran berbasis praktik yang mendorong mahasiswa berpikir kritis dan solutif. Menurutnya, Prodi Teknik Industri UMM terus mendorong agar karya mahasiswa tidak berhenti sebagai tugas akademik, melainkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas, khususnya sektor UMKM. “Kami ingin mahasiswa peka terhadap persoalan di sekitarnya dan berani menghadirkan solusi yang relevan melalui inovasi,” pungkasnya. (raf) Sumber: Rilis Berita UMM
Ecoprint Lebih Efisien dan Berkualitas, Mahasiswa UMM Hadirkan Teknologi Tepat Guna untuk UMKM

MALANG, SURYAKABAR.com – Inovasi teknologi tidak selalu lahir dari laboratorium canggih atau proyek berskala besar. Di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), solusi bagi pelaku UMKM justru dirancang dari ruang kelas. Melalui mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3), mahasiswa Teknik Industri UMM menghadirkan Steam Press Ecoprint, sebuah alat produksi yang menawarkan efisiensi sekaligus peningkatan kualitas pada proses ecoprint. Inovasi tersebut dikembangkan Iqbal Rafif Yuliono, mahasiswa Program Studi Teknik Industri UMM angkatan 2023, bersama timnya. Gagasan ini berangkat dari pengamatan langsung terhadap praktik ecoprint di lapangan yang masih menghadapi berbagai keterbatasan, terutama pada konsistensi hasil dan durasi produksi. Iqbal menuturkan, proses ecoprint yang umum digunakan pelaku usaha masih mengandalkan metode manual atau sistem otomatis sederhana. Baca Juga: Agribisnis UMM Cetak Eksportir Muda Handal hingga Tembus Pasar Mancanegara Keduanya dinilai belum mampu menghasilkan kualitas warna dan detail motif yang optimal. Dari persoalan itulah, ide untuk menggabungkan sistem manual dan otomatis mulai dirumuskan. “Kami melihat ecoprint itu biasanya dilakukan secara manual atau otomatis. Dari situ muncul ide untuk menggabungkan keduanya dengan memanfaatkan mesin press yang dipadukan dengan sistem uap,” ujar Iqbal. Steam Press Ecoprint bekerja dengan mengintegrasikan panas, uap, dan tekanan melalui pelat logam pada mesin press. Pendekatan ini berbeda dari metode kukus konvensional yang menggunakan air secara langsung dan kerap menghasilkan warna yang kurang tajam serta motif yang tidak merata. Berdasarkan hasil uji coba, penggunaan uap bertekanan terbukti mampu memunculkan warna kain yang lebih kuat dan detail motif yang lebih jelas. Metode ini juga membantu menjaga konsistensi hasil, terutama pada produksi dalam jumlah lebih banyak. Baca Juga: Universitas Brawijaya Bebaskan UKT bagi Mahasiswa Terdampak Bencana di Pulau Sumatera “Ketika kami bandingkan, hasil ecoprint menggunakan uap melalui mesin press warnanya jauh lebih keluar dan motifnya lebih tegas dibandingkan metode kukus biasa,” tambahnya. Alat ini telah diuji coba secara terbatas pada pelaku UMKM, salah satunya Kenikir Natural Ecoprint yang berlokasi di Bululawang, Kabupaten Malang. Hasil pengujian menunjukkan, Steam Press Ecoprint mampu menghasilkan warna yang lebih konsisten, sekaligus meningkatkan kualitas visual kain ecoprint. Dari sisi efisiensi, Steam Press Ecoprint tidak semata-mata mengejar kecepatan produksi. Alat ini justru dirancang untuk menyesuaikan proses dengan tingkat detail motif yang diinginkan. Dengan demikian, pelaku usaha tetap dapat menghasilkan kain ecoprint yang presisi dan memiliki nilai jual lebih tinggi. Steam Press Ecoprint juga dirancang agar ramah bagi UMKM skala kecil. Alat ini fleksibel digunakan pada berbagai jenis kain, bahkan beberapa material dengan tekstur tertentu menunjukkan hasil motif yang lebih maksimal ketika diproses menggunakan sistem uap dan tekanan. Dalam proses perancangannya, Iqbal mengakui peran dosen pembimbing sangat krusial, terutama dalam mendorong mahasiswa agar peka terhadap kebutuhan masyarakat dan mampu menghadirkan inovasi yang aplikatif. Ke depan, ia berharap Steam Press Ecoprint dapat dikembangkan dengan kapasitas yang lebih besar, struktur yang lebih kuat, serta sistem pengoperasian yang semakin sederhana. “Jangan takut mencoba. Mulai saja dulu, karena dari proses itulah kita belajar memahami masalah dan menemukan solusi yang benar-benar dibutuhkan,” pesannya. Baca Juga: ITS Panen Raya di Kebun Smart Agrivoltaic, Bukti Keberhasilan Riset di Kampus Sementara itu, Ketua Program Studi Teknik Industri UMM, Dr. Dana Marsetiya Utama, M.T., mengapresiasi karya mahasiswa tersebut sebagai bukti nyata keberhasilan pembelajaran berbasis praktik. Menurutnya, inovasi ini menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam berpikir kritis, mengolah ide, dan menerapkan konsep perkuliahan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Ia berharap karya tersebut dapat menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa lain untuk terus berinovasi. Prodi Teknik Industri UMM, lanjutnya, berkomitmen mendorong pengembangan karya mahasiswa agar tidak berhenti sebagai tugas akademik semata, melainkan mampu memberi manfaat luas bagi masyarakat. “Kami ingin mahasiswa berani mencoba, peka terhadap masalah di sekitarnya, dan mampu menghadirkan solusi yang relevan melalui karya-karya inovatif,” tutupnya. (abs)
PPG UMM Siapkan Guru Berwawasan Global, Buka Peluang PPL ke Australia

MALANG KOTA– Program Pendidikan Profesi Guru (PPG)Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat perannya dalam menyiapkan guru profesional berdaya saing global. Terbaru, PPG UMM membuka peluang praktik pengalaman lapangan (PPL) di sekolah Australia bagi mahasiswa terpilih. Komitmen tersebut disampaikan Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. saat Orientasi Akademik Mahasiswa PPG Calon Guru UMM Gelombang I Kemendikdasmen 2026, Kamis (29/1). Menurut Juanda, PPG merupakan unit strategis dalam mencetak guru profesional sekaligus berkarakter. SAMPAIKAN PESAN: Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. menegaskan pentingnya PPG untuk menyiapkan guru profesional. ”UMM telah lebih dari satu dekade mendampingi proses pembentukan guru dan menjadi salah satu pelaksana PPG terbaik di Indonesia. Gelar profesi guru bukan sekadar administratif, tetapi tanggung jawab moral dan profesional,” ujarnya. Sebagai bagian dari penguatan wawasan global, mahasiswa PPG UMM diwajibkan melakukan presentasi akademik menggunakan bahasa Inggris. Langkah ini menjadi persiapan awal bagi peserta yang berkesempatan mengikuti PPL di Australia. Juanda menekankan, guru yang ideal bukan hanya baik secara akademik, tetapi mampu memberi keteladanan dan inspirasi, terutama pada jenjang pendidikan dasar. KONTRIBUSI: Ketua Program Studi PPG UMM Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M. menjelaskan bahwa tema adalah refleksi atas tantangan nyata dunia pendidikan. ”Guru yang membekas bukan semata karena ilmunya, tetapi karena sentuhan afektif dan keteladanannya,” tambahnya. Dari sisi pemerintah, Subkoordinator Implementasi PPG Prajabatan Kemendikdasmen Yulia Gita Fany, M.Si. menegaskan bahwa PPG adalah instrumen strategis negara dalam menyiapkan guru profesional dan berintegritas. Menurutnya, PPG tidak boleh dipahami sebatas jalur memperoleh sertifikat pendidik. GURU PROFESIONAL: Para peserta Prajabatan PPG UMM antusias mengikuti beragam orientasi yang tersedia. ”Guru profesional adalah mereka yang memahami perannya sebagai pendidik, menghadirkan pembelajaran berpihak pada murid, dan adaptif terhadap perubahan zaman,” katanya. Ketua Program Studi PPG UMM Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M. menambahkan bahwa tantangan pendidikan yang semakin kompleks menuntut guru untuk terus bertumbuh dan berinovasi. Guru, menurutnya, tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga teladan moral. ”Tumbuh sebagai guru lahir dari keberanian menghadapi tantangan dan memperbarui cara berpikir, dengan tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman,” tegas Trisakti. KOMPAK: Para peserta mengucapkan janji mahasiswa PPG UMM bersama-sama Ke depan, sebagian materi PPG UMM juga akan disampaikan dalam bahasa Inggris sebagai bagian dari internasionalisasi program. ”Penguatan ini dibarengi peluang PPL ke Australia bagi peserta terpilih untuk memperkaya perspektif pedagogik dan pengalaman global calon guru,” pungkasnya.(adn)
PPG UMM Siapkan Guru Berwawasan Global, Buka Peluang PPL ke Australia

MALANG KOTA– Program Pendidikan Profesi Guru (PPG)Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat perannya dalam menyiapkan guru profesional berdaya saing global. Terbaru, PPG UMM membuka peluang praktik pengalaman lapangan (PPL) di sekolah Australia bagi mahasiswa terpilih. Komitmen tersebut disampaikan Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. saat Orientasi Akademik Mahasiswa PPG Calon Guru UMM Gelombang I Kemendikdasmen 2026, Kamis (29/1). Menurut Juanda, PPG merupakan unit strategis dalam mencetak guru profesional sekaligus berkarakter. SAMPAIKAN PESAN: Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. menegaskan pentingnya PPG untuk menyiapkan guru profesional. ”UMM telah lebih dari satu dekade mendampingi proses pembentukan guru dan menjadi salah satu pelaksana PPG terbaik di Indonesia. Gelar profesi guru bukan sekadar administratif, tetapi tanggung jawab moral dan profesional,” ujarnya. Sebagai bagian dari penguatan wawasan global, mahasiswa PPG UMM diwajibkan melakukan presentasi akademik menggunakan bahasa Inggris. Langkah ini menjadi persiapan awal bagi peserta yang berkesempatan mengikuti PPL di Australia. Juanda menekankan, guru yang ideal bukan hanya baik secara akademik, tetapi mampu memberi keteladanan dan inspirasi, terutama pada jenjang pendidikan dasar. KONTRIBUSI: Ketua Program Studi PPG UMM Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M. menjelaskan bahwa tema adalah refleksi atas tantangan nyata dunia pendidikan. ”Guru yang membekas bukan semata karena ilmunya, tetapi karena sentuhan afektif dan keteladanannya,” tambahnya. Dari sisi pemerintah, Subkoordinator Implementasi PPG Prajabatan Kemendikdasmen Yulia Gita Fany, M.Si. menegaskan bahwa PPG adalah instrumen strategis negara dalam menyiapkan guru profesional dan berintegritas. Menurutnya, PPG tidak boleh dipahami sebatas jalur memperoleh sertifikat pendidik. GURU PROFESIONAL: Para peserta Prajabatan PPG UMM antusias mengikuti beragam orientasi yang tersedia. ”Guru profesional adalah mereka yang memahami perannya sebagai pendidik, menghadirkan pembelajaran berpihak pada murid, dan adaptif terhadap perubahan zaman,” katanya. Ketua Program Studi PPG UMM Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M. menambahkan bahwa tantangan pendidikan yang semakin kompleks menuntut guru untuk terus bertumbuh dan berinovasi. Guru, menurutnya, tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga teladan moral. ”Tumbuh sebagai guru lahir dari keberanian menghadapi tantangan dan memperbarui cara berpikir, dengan tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman,” tegas Trisakti. KOMPAK: Para peserta mengucapkan janji mahasiswa PPG UMM bersama-sama. Ke depan, sebagian materi PPG UMM juga akan disampaikan dalam bahasa Inggris sebagai bagian dari internasionalisasi program. ”Penguatan ini dibarengi peluang PPL ke Australia bagi peserta terpilih untuk memperkaya perspektif pedagogik dan pengalaman global calon guru,” pungkasnya.(adn)
PPG UMM Cetak Guru Berwawasan Global, Siapkan Program Praktik Ke Australia

JurnalPost.com – Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) merupakan unit strategis yang berperan penting dalam menyiapkan guru profesional di tingkat nasional. Hal itu ditegaskan Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. dalam Orientasi Akademik Mahasiswa PPG Calon Guru UMM Gelombang I Kemendikdasmen tahun 2026, 29 Januari 2026. Menariknya, UMM juga memberikan kesempatan para mahasiswa PPG untuk bisa praktik pengalaman lapangan (PPL) di sekolah Australia. Untuk itu, persiapan yang dilakukan dengan mewajibkan mahasiswa dalam melaksanakan presentasi menggunakan bahasa Inggris. Ini menjadi cara UMM untuk memberikan wawasan global bagi para mahasiswanya. Lebih lanjut, Juanda mengatakan bahwa UMM telah berpengalaman lebih dari satu dekade dalam mendampingi proses pembentukan guru dan menjadi salah satu pelaksana PPG terbaik di Indonesia. Baik dari sisi prestasi mahasiswa maupun kualitas pembelajaran. Menurutnya, gelar profesi guru bukan sekadar atribut administratif, tetapi simbol tanggung jawab moral dan profesional yang melekat pada sosok pendidik. “Guru yang paling membekas dalam ingatan peserta didik bukan semata karena kemampuan akademik, melainkan karena keteladanan dan sentuhan afektif. Khususnya pada jenjang pendidikan dasar yang memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, empati, dan kepribadian murid,” terangnya. Juanda menegaskan, guru ideal bukan hanya good teacher atau excellent teacher, tetapi inspiring teacher yang mampu menanamkan makna, nilai, dan inspirasi. Melalui PPG UMM, calon guru diharapkan tumbuh dengan spirit pengabdian ‘Dari Muhammadiyah untuk Bangsa’. Di sisi lain, Subkoordinator Implementasi PPG Prajabatan Kemendikdasmen, Yulia Gita Fany, M.Si. menjelaskan bahwa Program PPG adalah instrumen strategis negara dalam menyiapkan guru yang profesional dan berintegritas. Di agenda bertema ‘Guru Hebat, Dunia Menanti: Tumbuh, Beraksi, dan Menginspirasi dengan Nilai-Nilai Keislaman’ ini, Yulia menilai PPG tidak boleh dipahami sebatas jalur administratif untuk memperoleh sertifikat pendidik. Melainkan sebagai proses pembentukan kompetensi guru secara utuh dan berkelanjutan. “Guru profesional bukan hanya mereka yang lulus sertifikasi, tetapi yang memahami perannya sebagai pendidik, mampu menghadirkan pembelajaran yang berpihak pada murid, serta adaptif terhadap perubahan zaman dan kebutuhan peserta didik,” katanya. PPG Prajabatan dirancang lebih kontekstual dan aplikatif melalui penguatan praktik lapangan, refleksi pembelajaran, serta integrasi nilai karakter dan etika profesi. Pemerintah juga menyediakan beasiswa penuh sebagai bentuk komitmen negara agar calon guru tidak hanya siap mengajar, tetapi juga siap menjadi figur teladan di tengah masyarakat. “Keberhasilan PPG sangat ditentukan oleh kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah mitra, dan pemerintah daerah,” tegasnya. Hal serupa juga disampaikan Ketua Program Studi PPG UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M. Menurutnya, tema yang diambil bukan sekadar slogan seremonial, melainkan refleksi atas tantangan nyata dunia pendidikan saat ini. Menurutnya, calon guru dihadapkan pada kompleksitas persoalan pendidikan, mulai dari percepatan teknologi hingga perubahan karakter peserta didik. Problem krisis nilai yang ada menuntut kehadiran guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan moral. “Tumbuh sebagai guru tidak lahir dari kenyamanan. Ia tumbuh dari keberanian menghadapi tantangan, memperbarui cara berpikir, serta memperdalam pemahaman terhadap teori pendidikan dan strategi pembelajaran inovatif yang tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman,” tegas Trisakti.
KKN Tematik UMM, Dari Pawon ke Buku Sejarah

RRI.CO.ID, Malang – Kampung Budaya Polowijen (KBP) bersama Mahasiswa KKN Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan rangkaian kegiatan kebudayaan pada Rabu, 29 Januari 2026, yang menggabungkan kerja perawatan ruang tradisi dengan penguatan literasi penulisan sejarah dan budaya. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses penyusunan buku Transformasi Budaya: dari Tradisi, Modernitas, hingga Dunia Digital. Kegiatan diawali dengan beres-beres pawon dan galeri Kampung Budaya Polowijen. Pawon dan galeri tidak hanya dirawat sebagai ruang fisik, tetapi juga sebagai pusat aktivitas budaya, dokumentasi, dan pembelajaran. Dari ruang inilah berbagai praktik budaya—mulai dari kuliner tradisional, selametan, hingga diskusi kebudayaan—terus hidup dan diwariskan. Advertisement Pada siang hingga sore hari, mahasiswa mengikuti agenda Sinau Budaya bertema Teknik dan Strategi Penulisan Sejarah dan Budaya. Kegiatan ini menghadirkan Hariani, S.AP sebagai pemateri dengan Aura Tsania sebagai moderator. Diskusi membahas cara menulis sejarah dan budaya secara sistematis dan kritis, sekaligus menjadi bekal awal bagi mahasiswa yang terlibat dalam proses pendokumentasian budaya Kampung Budaya Polowijen. Materi Sinau Budaya ini sejalan dengan substansi buku yang tengah disusun, yang merangkum transformasi budaya Malangan meliputi busana dan atribut tradisional, ritual dan tradisi, seni pertunjukan rakyat, musik dan bunyi tradisional, kerajinan dan peralatan, senjata tradisional, kuliner dan selametan, serta permainan dan tembang rakyat. Seluruhnya dibaca dalam konteks perubahan zaman, modernitas, dan ruang digital. Materi ditutup dengan kembali membersihkan pawon sebagai simbol konsistensi merawat ruang tradisi. Kolaborasi antara Kampung Budaya Polowijen dan Mahasiswa KKN Tematik UMM ini menegaskan bahwa pawon bukan sekadar ruang memasak, tetapi juga ruang lahirnya pengetahuan, sejarah, dan upaya pelestarian budaya di tengah dunia yang terus berubah.(Mey).