Budaya Gila Kerja Dinilai Mengancam Kualitas Hidup, Dosen UMM Sebut Overwork Masalah Sistemik

Malang, JATIMSATUNEWS.COM – Budaya kerja berlebihan atau overwork yang kian dianggap lumrah di Indonesia mendapat sorotan serius dari akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial UMM, Eko Rizqi Purwo Widodo, MSW, menilai overwork bukan sekadar persoalan individu, melainkan masalah sistemik yang berkaitan erat dengan keadilan sosial dan kualitas hidup manusia. Menurut Eko, kesejahteraan tidak bisa hanya diukur dari besarnya penghasilan atau capaian produktivitas kerja. Lebih dari itu, kesejahteraan menyangkut kemampuan individu menjalankan fungsi sosialnya secara seimbang, termasuk dalam keluarga dan lingkungan sosial. “Overwork bukan hal sepele. Ini menyentuh langsung kualitas hidup manusia. Jika Indonesia ingin menjadi negara yang kuat dan berdaya, maka kesejahteraan individu dan keluarga harus menjadi prioritas,” ujarnya, Selasa (27/1/2026). Fenomena jam kerja panjang, kata Eko, masih kerap dipersepsikan sebagai simbol loyalitas dan etos kerja tinggi. Padahal, di balik glorifikasi budaya “gila kerja”, terdapat persoalan struktural dalam sistem ketenagakerjaan yang perlahan menggerus kesejahteraan pekerja. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sekitar 25,5 persen atau 37,3 juta pekerja di Indonesia bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Angka tersebut menandakan bahwa overwork telah menjadi persoalan yang meluas dan sistemik. Eko menjelaskan, dalam banyak kasus, bekerja melebihi batas bukanlah pilihan bebas pekerja. Minimnya perlindungan dan jaminan sosial membuat banyak orang terpaksa mengorbankan waktu istirahat demi memenuhi kebutuhan hidup. Situasi ini memperlihatkan lemahnya sistem sosial dalam melindungi hak dasar pekerja, termasuk ketika lembur dianggap sebagai kewajiban yang dinormalisasi. “Dalam perspektif kesejahteraan sosial, pijakan utamanya adalah well-being. Ini mencakup keseimbangan aspek ekonomi, sosial, psikologis, hingga kesehatan,” jelasnya. Dampak overwork, lanjut Eko, tidak hanya berhenti di tempat kerja. Jam kerja yang berlebihan berpotensi menimbulkan kelelahan fisik dan mental, serta melemahkan peran sosial individu di dalam keluarga. Ia menyoroti kelompok pekerja yang paling rentan, seperti pekerja sektor informal, buruh outsourcing, pekerja migran, dan pekerja perempuan yang kerap menghadapi beban ganda. Tanpa perlindungan dan kompensasi yang layak, jam kerja panjang berisiko berubah menjadi praktik eksploitasi modern yang terselubung di balik tekanan ekonomi. “Negara yang kuat dibangun dari individu dan keluarga yang sehat secara psikososial. Jika beban kerja justru merusak relasi keluarga, seperti renggangnya hubungan orang tua dan anak, ini menjadi ancaman serius bagi masa depan bangsa,” tegasnya. Sebagai solusi, Eko mendorong penguatan advokasi serta kebijakan ketenagakerjaan yang lebih humanis dan berpihak pada kesejahteraan pekerja. Ia menilai pemerintah tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi dan produktivitas, tetapi juga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan fisik, mental, dan sosial tenaga kerja. “Kebijakan ketenagakerjaan harus menjamin batas kerja yang wajar, perlindungan sosial yang memadai, serta keseimbangan antara kehidupan kerja dan keluarga, agar pembangunan ekonomi tidak dibayar dengan hilangnya kualitas hidup manusia,” pungkasnya. Sumber: Rilis berita UMM
Cerita Mahasiswa Gen Z UMM yang Nekat Buka Apotek di Tengah Padatnya Jadwal Kuliah

pwmu.co – Di tengah jadwal kuliah yang padat dan tuntutan akademik sebagai mahasiswa semester tujuh, Melani Rahmabutri justru mengambil langkah yang tak biasa bagi kebanyakan mahasiswa seusianya.Mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022 ini nekat merintis bisnis apotek 24 jam, sembari tetap menjalani perannya sebagai mahasiswa aktif. Keputusan tersebut bukan tanpa tantangan. Di saat sebagian besar mahasiswa Gen Z masih berfokus menyelesaikan studi, Melani harus membagi waktu antara perkuliahan, praktikum, dan tanggung jawab mengelola usaha. Namun baginya, dunia akademik dan bisnis justru bisa berjalan beriringan. Apotek yang mulai beroperasi sejak September 2025 itu hadir dengan konsep pelayanan komprehensif dan humanis. Tak hanya melayani penjualan obat, apotek ini juga aktif melakukan edukasi kesehatan, penyuluhan ke desa-desa, hingga menyediakan layanan cek kesehatan gratis bagi masyarakat. Mulai dari pemeriksaan gula darah, asam urat, kolesterol, hingga tekanan darah, semuanya dapat diakses tanpa dipungut biaya. Mahasiswa asal Kalimantan Selatan itu mengungkapkan bahwa ketertarikannya pada dunia farmasi telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah. Ia merupakan lulusan SMK Farmasi yang kemudian melanjutkan pendidikan S1 Farmasi di UMM. Latar belakang tersebut menjadi bekal kuat sekaligus alasan di balik keberaniannya membuka apotek di usia muda. “Sejak awal memang ingin punya apotek. Dari SMK sampai kuliah saya berada di jalur farmasi, jadi ini bukan keputusan yang tiba-tiba,” ujarnya. Dalam pengelolaan usaha, Melani berperan sebagai Pemilik Sarana Apotek (PSA), sementara tanggung jawab kefarmasian dijalankan oleh dua apoteker resmi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh layanan berjalan sesuai regulasi dan standar profesi. “Kami selalu mengedepankan konsultasi sebelum pemberian obat. Pasien ditanya dulu kondisinya, riwayat obatnya, lalu kami jelaskan cara penggunaan dan penyimpanan agar tidak terjadi medication error,” jelasnya. Kesibukan mengelola apotek tak membuat Melani berhenti berkontribusi langsung ke masyarakat. Bersama timnya, ia rutin terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan, mulai dari acara RT, desa, hingga kegiatan warga, sambil membuka layanan cek kesehatan gratis sebagai bentuk pengabdian. “Kami sering ikut kegiatan warga. Di sana kami adakan cek gula darah, asam urat, kolesterol, dan tekanan darah gratis. Ini bagian dari edukasi supaya masyarakat lebih peduli pada kesehatan,” tuturnya. Mengikuti karakter Gen Z yang akrab dengan teknologi, apotek ini juga memanfaatkan media sosial seperti TikTok dan Instagram sebagai sarana edukasi sekaligus promosi. Layanan pemesanan obat daring pun terhubung langsung ke WhatsApp, lengkap dengan fasilitas antar obat gratis untuk pelanggan dalam radius dua kilometer. Dalam pengelolaan sumber daya manusia, Melani juga memberdayakan generasi muda dengan merekrut pegawai dari kalangan Gen Z. Selain memiliki latar belakang farmasi, para pegawai dilibatkan aktif dalam pembuatan konten edukasi sebagai bagian dari strategi branding. Melalui pengalamannya, Melani berharap kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani melangkah, meski di tengah kesibukan kuliah. “Jangan takut memulai. Ilmu yang kita pelajari di bangku kuliah seharusnya bisa memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” pungkasnya.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim
Ujian Promosi Doktor Sosiologi UMM, Bertholomeus George da Silva Kupas Politik Investasi Sosial DPR RI

VOICEOFJATIM – Ujian promosi doktor bukan sekadar ritual akademik. Di Universitas Muhammadiyah Malang, Senin siang 26 Januari 2026, forum ilmiah itu berubah menjadi ruang refleksi tentang bagaimana politik bekerja di level akar rumput. Bertholomeus George da Silva resmi meraih gelar doktor Sosiologi setelah mempertahankan disertasinya yang menyorot praktik politik investasi sosial anggota DPR RI di Malang Raya. Ujian terbuka berlangsung di Gedung GKB IV Lantai 2 Direktorat Program Pascasarjana UMM. Disertasi berjudul Politik Investasi Sosial Anggota DPR RI Studi Fenomenologi pada Dapil Jawa Timur V Malang Raya menjadi fokus utama pengujian. Kajian ini mengurai relasi antara kekuasaan politik, kepentingan elektoral, dan praktik investasi sosial yang dijalankan wakil rakyat di daerah pemilihan. Bertholomeus menjelaskan bahwa riset tersebut berangkat dari kegelisahan akademik sekaligus pengalaman empirik melihat bagaimana program sosial sering kali tidak berdiri netral. Menurutnya, investasi sosial dalam praktik politik kerap menjadi instrumen strategis untuk membangun loyalitas publik. “Penelitian ini mencoba membaca realitas politik secara lebih jujur, bagaimana investasi sosial dijalankan, dimaknai, dan dirasakan oleh masyarakat serta aktor politik di Malang Raya,” ujar Bertholomeus usai ujian promosi doktor. Ia menempuh studi magister dan doktoral pada konsentrasi Sosial Politik di Universitas Muhammadiyah Malang. Proses akademik tersebut diselesaikan dalam waktu 2 tahun 10 bulan, dengan capaian indeks prestasi 3,96 dan predikat kelulusan disertasi nilai A. Sidang promosi doktor ini dipimpin oleh jajaran akademisi lintas kepakaran. Bertindak sebagai promotor Prof. Dr. Oman Sukmana, MSi, dengan Ko Promotor I Prof. Dr. Wahyudi, MSi dan Ko Promotor II Prof. Dr. Asep Nurjaman, MSi. Dewan penguji lainnya terdiri atas Prof. Dr. Khozin, MSi selaku Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang dan Prof. Dr. Vina Salviana DS, MSi. Dalam forum tersebut, para penguji menilai disertasi Bertholomeus memiliki kekuatan pada kedalaman analisis fenomenologis serta keberanian mengangkat praktik politik yang kerap dianggap sensitif. Kajian ini dinilai relevan untuk memperkaya khazanah ilmu sosiologi politik, khususnya dalam membaca dinamika hubungan wakil rakyat dan konstituennya. Ujian promosi doktor ini juga mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan. Sejumlah tokoh dan institusi mengirimkan karangan bunga sebagai bentuk apresiasi, di antaranya Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, Bupati Malang Sanusi, dan Wakil Bupati Malang Lathifah Sohib. Beberapa nama tersebut juga tercatat sebagai subjek dalam penelitian yang dilakukan. Selain itu, dukungan datang dari Kombes Pol. Budi Hermanto mantan Kapolresta Malang Kota, Raul Lemos dan Kris Dayanti yang turut menjadi bagian dari objek kajian, serta Forum Komunikasi Antar Umat Beragama Malang Raya, Lions Club Malang Amazing, Forum Pemuda Nusa Tenggara Timur, dan jejaring kolega di MPD. Bertholomeus menyampaikan rasa terima kasihnya atas kehadiran dan dukungan berbagai komunitas, mulai dari Forum Pemuda NTT Malang Raya, FKAUB Malang Raya, hingga para kolega lintas organisasi. “Semua perhatian dan doa ini menjadi energi moral yang besar bagi saya. Semoga seluruh kebaikan dibalas dengan keberkahan,” katanya. Tak lupa ia juga menyampaikan, apresiasi dan terima kasih kepada seluruh dewan penguji yang telah memberikan masukan kritis dan konstruktif selama proses ujian promosi doktor. Selain promotor dan ko promotor, ia secara khusus menyebut peran penguji eksternal Prof. Dr. Bonaventura Mgarawula, MS, selaku Ketua Program Studi S3 Pascasarjana Universitas Merdeka Malang, yang turut memperkaya perspektif akademik dalam penyempurnaan disertasi. Menurutnya, kontribusi para penguji menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas ilmiah dan ketajaman analisis penelitian yang dihasilkan. Dengan capaian akademik tersebut, disertasi ini diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen kampus semata, tetapi dapat menjadi rujukan kritis dalam membaca praktik politik representasi, terutama di daerah yang menjadi episentrum kontestasi elektoral seperti Malang Raya.
Siswa SMA Muhammadiyah 3 Batu Kunjungi Universitas Muhammadiyah Malang Kenali Dunia Kampus

RADAR MALANG BATU – SMA Muhammadiyah 3 Batu melaksanakan kegiatan Goes to Campus pada Kamis lalu (15/1). Kampus yang jadi tujuan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Para siswa berkunjung ke Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Kegiatan ini merupakan bentuk kerja sama UMM dengan SMAM 3 Batu. Goes to Campus jadi bagian dari pembelajaran di luar kelas yang dirancang untuk mengenalkan dunia perguruan tinggi secara langsung kepada siswa. Pembukaan kegiatan berlangsung pukul 08.00–08.30 WIB. Kegiatan itu didukung Liaison Officer (LO) Fajar serta Person in Charge (PiC) Humas masing-masing program studi. Dalam sambutannya, kepala SMA Muhammadiyah 3 Batu Aris Sahruli SPd. ”Kunjungan ke kampus UMM ini diharapkan dapat memberikan gambaran nyata tentang kehidupan perkuliahan sekaligus memotivasi siswa agar lebih bersemangat melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi,” ungkap Aris Sahruli SPd. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sesi presentasi dan pengenalan program studi FKIP pada pukul 09.00–10.00 WIB. Materi disampaikan PiC Humas dari masing-masing program studi. Dalam sesi ini, siswa memperoleh informasi seputar program studi, peluang karier, dan aktivitas akademik. Selanjutnya, pada pukul 10.00–10.30 WIB, peserta mengikuti tes bakat dan minat menggunakan instrumen tertulis. Tes ini bertujuan membantu siswa mengenali potensi dan minat akademik. Itu sebagai bekal dalam menentukan pilihan studi di perguruan tinggi. Sesi tanya jawab dan penutupan dilaksanakan pada pukul 10.30–11.00 WIB. Pada sesi ini, peserta aktif berdiskusi serta memperoleh penjelasan lebih mendalam mengenai kehidupan perkuliahan. Lalu para siswa diajak mengunjungi berbagai fasilitas kampus, seperti perpustakaan dan sarana pendukung lainnya. (gp)
Sinau Budaya KKN Tematik UMM: Memaknai Udeng dan Kerudung sebagai Identitas Masyarakat Jawa

KLIKTIMES.COM | MALANG– Budaya merupakan bagian integral dari kehidupan manusia, mencakup pola pengetahuan, keyakinan, seni, moral, hukum, serta adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu wujud budaya tersebut adalah busana adat daerah yang telah ada sejak masa lampau dan terus lestari hingga kini. Pada Minggu, 25 Januari 2026, kegiatan Sinau Budaya di Kampung Budaya Polowijen (KBP) mengajak peserta menelusuri kembali makna kain penutup kepala yang lazim dikenakan masyarakat Jawa sejak dahulu. Bagi perempuan dikenal kerudung, sedangkan bagi laki-laki dikenal iket atau udeng. Di hadapan para tamu yang berkunjung ke KBP, Ki Demang selaku penggagas Kampung Budaya Polowijen memperagakan tata cara penggunaan kerudung perempuan Jawa tempo dulu yang berfungsi sebagai penanda status sosial. Cara mengenakan kerudung berbeda antara perempuan yang masih gadis, telah dipinang, sudah bersuami, hingga janda. Demikian pula pada laki-laki, terdapat ragam udeng yang umum dijumpai dalam lingkungan seni budaya, seperti udeng jingkengan untuk kalangan senior dan udeng kemplengan untuk generasi muda. Pada Minggu, 25 Januari 2026, kegiatan Sinau Budaya di Kampung Budaya Polowijen (KBP) mengajak peserta menelusuri kembali makna kain penutup kepala yang lazim dikenakan masyarakat Jawa sejak dahulu. Bagi perempuan dikenal kerudung, sedangkan bagi laki-laki dikenal iket atau udeng. (HO/KLIKTIMES.COM) Bagi masyarakat Jawa tempo dulu, kerudung dan udeng memiliki makna filosofis yang kuat. Ki Demang menjelaskan bahwa kerudung perempuan melambangkan kesopanan, penjagaan diri, serta ketertiban rasa, sekaligus menjadi sarana komunikasi sosial terkait status dan etika pergaulan. Sementara itu, udeng bagi laki-laki bermakna pengendalian pikiran dan tanggung jawab moral, sebagaimana disampaikan pria yang bernama asli Isa Wahyudi tersebut. Ikatan udeng mengajarkan pentingnya menata cipta, rasa, dan karsa sebelum bertindak. Keduanya mencerminkan falsafah Jawa tentang keseimbangan lahir dan batin serta kepatuhan terhadap nilai budaya. Kegiatan Sinau Budaya ini turut dihadiri beberapa siswi SMPN 9 Malang yang sebelum acara dimulai menampilkan Tari Bekalan Putri Malang. Hadir pula mahasiswa IKIP Budi Utomo Jurusan Sejarah dan Sosiologi, mahasiswa Pascasarjana Magister Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (Unesa), serta Kelompok 14 mahasiswa KKN Tematik UMM Berdampak yang telah dua hari berkegiatan di KBP. Kegiatan Sinau Budaya ini turut dihadiri beberapa siswi SMPN 9 Malang yang sebelum acara dimulai menampilkan Tari Bekalan Putri Malang. Hadir pula mahasiswa IKIP Budi Utomo Jurusan Sejarah dan Sosiologi, mahasiswa Pascasarjana Magister Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (Unesa), serta Kelompok 1 (HO/KLIKTIMES.COM) “Sungguh pengalaman berharga datang ke KBP. Awalnya saya kira di sini hanya membahas topeng, ternyata banyak sekali pembelajaran seni tradisi lainnya, termasuk busana adat daerah,” ungkap Sinahika Sajar, mahasiswa Pascasarjana Unesa sekaligus guru SDN Bumiayu 2 Kota Malang. Senada dengan itu, Koordinator KKN Kelompok 14, Desfian Ahmad Saputra, menyampaikan bahwa selama berada di KBP terdapat banyak materi budaya yang dapat dipelajari dan diajarkan. Ia menegaskan bahwa setiap pengetahuan budaya yang diperoleh selalu mengandung makna filosofis dan nilai-nilai mendalam. Ke depan, pihaknya siap mengenakan busana yang telah diperagakan sebagai wujud kecintaan terhadap tradisi dan budaya Jawa. Ki Demang menjelaskan bahwa kerudung perempuan melambangkan kesopanan, penjagaan diri, serta ketertiban rasa, sekaligus menjadi sarana komunikasi sosial terkait status dan etika pergaulan. (HO/KLIKTIMES.COM)
Pakar UMM Ungkap Child Grooming: Kekerasan Terselubung Berkedok Kasih Sayang

Malang, JATIMSATUNEWS.COM – Kasus child grooming yang kembali mencuat ke ruang publik menegaskan bahwa kekerasan terhadap anak tidak selalu hadir dalam bentuk fisik yang mudah dikenali. Kekerasan ini justru kerap berlangsung secara halus melalui manipulasi emosional yang disamarkan sebagai perhatian, kepedulian, bahkan kasih sayang. Di tengah derasnya sorotan media dan perdebatan warganet, pemahaman keliru mengenai posisi korban masih kerap mengemuka. Tidak sedikit korban justru mendapat penghakiman, bahkan dianggap terlibat atas dasar “kesepakatan”, padahal relasi yang terjadi sarat ketimpangan kuasa. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ratih Eka Pertiwi, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa child grooming merupakan bentuk kekerasan serius yang sering luput dikenali karena terjadi secara perlahan, sistematis, dan tidak kasat mata. “Pelaku sering tampil sebagai sosok yang baik, peduli, dan penuh perhatian. Akibatnya, korban merasa nyaman, bahkan membela pelaku karena terbentuk ikatan emosional yang kuat, mirip dengan Stockholm syndrome,” ujar Ratih saat ditemui Tim Humas UMM, Senin (26/1/2026). Ia menjelaskan, fase awal grooming kerap tidak disadari sebagai bentuk kekerasan karena belum melibatkan kontak fisik. Banyak kasus baru diakui sebagai kekerasan ketika sudah terjadi pelecehan seksual, padahal manipulasi emosional telah berlangsung jauh sebelumnya dan meninggalkan dampak psikologis yang mendalam. “Ketika kekerasan baru diakui setelah ada sentuhan fisik, itu berarti kita sudah terlambat melindungi anak,” tegasnya. Menurut Ratih, relasi kuasa menjadi elemen kunci dalam praktik child grooming. Pelaku umumnya memiliki usia lebih tua, posisi sosial lebih tinggi, atau popularitas tertentu yang membuat korban merasa tidak memiliki daya tawar. Ketimpangan ini sering berujung pada praktik victim blaming, di mana korban justru disalahkan atas kekerasan yang dialaminya. “Ketika korban dianggap ikut berperan atau disudutkan, itu adalah bentuk victim blaming yang sangat merugikan dan justru memperparah trauma psikologis korban,” jelasnya. Ratih menambahkan, tanda-tanda child grooming dapat dikenali melalui perubahan perilaku dan emosi anak, seperti menarik diri dari lingkungan sosial, perubahan suasana hati yang ekstrem, hingga kecenderungan menyimpan rahasia dari keluarga. Risiko ini semakin besar di era digital, mengingat pelaku dapat menjangkau anak melalui media sosial, gim daring, dan berbagai platform komunikasi. “Jika anak diminta merahasiakan hubungan tertentu atau dibuat merasa bersalah ketika menolak permintaan orang dewasa, itu sudah menjadi alarm serius yang tidak boleh diabaikan,” tandasnya. Sebagai penutup, Ratih menekankan bahwa pencegahan child grooming membutuhkan kesadaran kolektif, mulai dari relasi keluarga yang hangat, komunikasi terbuka, pendidikan seksual yang sesuai usia, hingga pengawasan aktif terhadap aktivitas digital anak. “Perlindungan anak tidak cukup hanya mengandalkan regulasi. Yang lebih penting adalah keberanian masyarakat untuk mengkritisi relasi yang tampak normal, tetapi sejatinya berpotensi membahayakan,” pungkasnya. (raf) Sumber: Rilis berita UMM
Waspada Manipulasi Berkedok Kasih Sayang, Pakar Psikologi UMM Ungkap Bahaya Child Grooming

Malang (beritajatim.com) – Kasus child grooming yang belakangan ini kembali viral di media sosial menjadi alarm keras bagi masyarakat Indonesia. Kekerasan terhadap anak ternyata tidak selalu hadir dalam bentuk fisik yang kasar, melainkan sering kali menyamar di balik tirai perhatian dan kasih sayang semu. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ratih Eka Pertiwi, S.Psi., M.Psi., Psikolog., menyoroti fenomena ini sebagai ancaman serius yang bekerja secara sistematis melalui manipulasi emosional. Menurutnya, pemahaman masyarakat yang masih minim sering kali membuat korban justru berada dalam posisi yang semakin terpojok. Ratih menjelaskan bahwa child grooming adalah proses panjang di mana pelaku membangun ikatan emosional dengan anak untuk menurunkan batasan (boundary) korban. Tujuannya untuk mempermudah eksploitasi di masa depan. “Pelaku sering dipersepsikan sebagai sosok yang baik, peduli, dan penuh perhatian. Akibatnya, korban merasa nyaman bahkan membela pelaku karena terbentuk emotional attachment yang kuat, mirip dengan Stockholm syndrome,” ungkap Ratih pada Selasa (27/1/2026). Ironisnya, fase awal ini sering kali luput dari pengawasan. Masyarakat cenderung baru menyadari adanya kekerasan ketika sudah terjadi pelecehan seksual secara fisik. Padahal, dampak psikologis dari manipulasi emosional sudah terjadi jauh sebelumnya. Salah satu faktor yang membuat child grooming sulit diberantas adalah adanya relasi kuasa yang timpang. Pelaku biasanya merupakan orang yang lebih dewasa, memiliki posisi sosial lebih tinggi, atau figur yang populer. Kondisi ini sering kali memicu fenomena victim blaming atau menyalahkan korban. Narasi bahwa kekerasan tersebut terjadi atas dasar suka sama suka atau kesepakatan adalah kesalahan fatal dalam memandang kasus perlindungan anak. Ketika korban disalahkan atau dianggap ikut berperan, itu adalah bentuk victim blaming yang sangat merugikan dan justru memperparah trauma psikologis korban,” tegasnya. Ratih mengingatkan para orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku anak. Beberapa tanda peringatan (red flags) yang harus diwaspadai antara lain anak mulai menarik diri dari lingkungan sosial. Selain itu, terjadi perubahan suasana hati (mood swing) yang ekstrem. Lalu, ada kecenderungan menyimpan rahasia besar dari keluarga. Di sisi lain, adanya permintaan dari orang dewasa agar anak merahasiakan hubungan mereka. Di era teknologi, risiko ini meningkat tajam. Media sosial, gim daring, dan platform komunikasi menjadi pintu masuk bagi pelaku untuk menjangkau anak-anak tanpa batas ruang dan waktu. Pakar UMM ini menekankan bahwa regulasi saja tidak cukup untuk melindungi anak. Dibutuhkan kesadaran kolektif dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. “Pencegahan membutuhkan relasi keluarga yang hangat, komunikasi terbuka, pendidikan seksual yang sesuai usia, serta pengawasan aktif terhadap aktivitas digital anak,” pungkasnya. [dan/aje]
Nekat di Tengah Padatnya Kuliah, Mahasiswa Gen Z UMM Ini Buka Apotek 24 Jam

Malang. JATIMSATUNEWS.COM – Di saat sebagian besar mahasiswa semester akhir sibuk bergulat dengan tugas dan praktikum, Melani Rahmabutri justru melangkah lebih jauh. Mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022 ini nekat merintis bisnis apotek 24 jam, sembari tetap menjalani rutinitas perkuliahan yang padat. Sebagai mahasiswa semester tujuh, Melani harus pandai membagi waktu antara kuliah, praktikum, dan tanggung jawab mengelola usaha. Namun baginya, dunia akademik dan bisnis bukan dua hal yang saling bertabrakan, melainkan bisa berjalan beriringan. Apotek yang mulai beroperasi sejak September 2025 tersebut mengusung konsep pelayanan yang komprehensif dan humanis. Tidak hanya melayani penjualan obat, apotek ini juga aktif melakukan edukasi kesehatan kepada masyarakat. Mulai dari penyuluhan ke desa-desa hingga layanan cek kesehatan gratis, seperti pemeriksaan gula darah, asam urat, kolesterol, dan tekanan darah. Mahasiswa asal Kalimantan Selatan itu mengungkapkan bahwa ketertarikannya pada dunia farmasi telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah. Ia merupakan lulusan SMK Farmasi sebelum melanjutkan pendidikan S1 Farmasi di UMM. Latar belakang tersebut menjadi fondasi kuat yang mengantarkannya berani membuka apotek di usia muda. “Sejak awal memang ingin punya apotek. Dari SMK sampai kuliah saya berada di jalur farmasi, jadi ini bukan keputusan yang tiba-tiba,” ujar Melani. Dalam pengelolaan usaha, Melani berperan sebagai Pemilik Sarana Apotek (PSA). Sementara itu, tanggung jawab kefarmasian dijalankan oleh dua apoteker resmi untuk memastikan seluruh layanan berjalan sesuai regulasi dan standar profesi. “Kami selalu mengedepankan konsultasi sebelum pemberian obat. Pasien ditanya dulu kondisinya, riwayat obatnya, lalu dijelaskan cara penggunaan dan penyimpanannya agar tidak terjadi medication error,” jelasnya. Kesibukan mengelola apotek tidak membuat Melani berhenti terjun langsung ke masyarakat. Bersama tim, ia rutin terlibat dalam berbagai kegiatan warga, mulai dari tingkat RT hingga desa, sambil membuka layanan cek kesehatan gratis sebagai bagian dari pengabdian sosial. “Kami sering ikut kegiatan warga. Di sana kami adakan cek gula darah, asam urat, kolesterol, dan tekanan darah gratis. Ini bagian dari edukasi agar masyarakat lebih peduli pada kesehatan,” tuturnya. Mengikuti karakter Generasi Z yang lekat dengan teknologi digital, apotek ini juga aktif memanfaatkan media sosial seperti TikTok dan Instagram sebagai sarana edukasi kesehatan sekaligus promosi. Layanan pemesanan obat daring terhubung langsung ke WhatsApp, lengkap dengan fasilitas antar obat gratis bagi pelanggan dalam radius dua kilometer. Dalam pengelolaan sumber daya manusia, Melani turut memberdayakan anak muda dengan merekrut pegawai dari kalangan Gen Z. Selain memiliki latar belakang farmasi, para pegawai juga dilibatkan dalam pembuatan konten edukasi sebagai bagian dari strategi branding. Melalui pengalamannya, Melani berharap kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani memulai langkah, meski di tengah padatnya aktivitas kuliah. “Jangan takut memulai. Ilmu yang kita pelajari di bangku kuliah seharusnya bisa memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” pungkasnya. (raf) Sumber: Rilis Berita UMM
Hidupkan Pawon, Rawat Gotong Royong: Mahasiswa KKN Tematik UMM Olah Singkong Jadi Jajanan Tradisional di Kampung Budaya Polowijen

KLIKTIMES.COM | MALANG– Kampung Budaya Polowijen (KBP) terus menghidupkan pawon sebagai dapur tradisional Jawa yang dimaknai bukan sekadar tempat memasak, tetapi sebagai ruang edukasi sosial budaya. Pawon menjadi pusat interaksi warga, ruang rewang, serta sarana menanamkan nilai gotong royong, kebersamaan, dan pelestarian tradisi kuliner lokal yang kian tergerus modernisasi. Senin, 26 Januari 2025, Kelompok 14 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang melaksanakan KKN Tematik di Kampung Budaya Polowijen mempraktikkan pembuatan jajanan tradisional berbahan dasar singkong yang dipanen dari pekarangan warga. Kegiatan ini diikuti oleh Desfian Achmad Saputra (Hukum), Najwa Nabila (Farmasi), dan Elsa (Ilmu Kesejahteraan Sosial). Pemangku Pawon KBP, Siti Juwariyah, mengaku senang pawon masih menjadi ruang belajar lintas generasi. “Saya senang anak-anak muda masih mau dan bisa membuat jajanan tradisional. Di pawon KBP ini segala macam makanan tradisional bisa dibuat, mulai dari bubur selametan, jenang gede, cenil, kue srabi, apem, sampai masak sego berkat dan tumpeng. Semua biasanya dibuat di pawon ini,” tuturnya. Kelompok 14 mahasiswa UMM yang melaksanakan KKN Tematik di Kampung Budaya Polowijen mempraktikkan pembuatan jajanan tradisional berbahan dasar singkong yang dipanen dari pekarangan warga. Kegiatan diikuti oleh Desfian Achmad Saputra (Hukum), Najwa Nabila (Farmasi), dan Elsa (Ilmu Kesejahteraan Sosia (HO/KLIKTIMES.COM) Ia menambahkan, pawon KBP juga terbuka bagi pengunjung yang ingin mengambil paket edukasi membuat jajanan tradisional maupun sekadar mencicipi hidangan khas. Kegiatan diawali dengan pengenalan singkong sebagai bahan utama jajanan pasar karena rasanya gurih, teksturnya kenyal, dan harganya terjangkau. Beragam olahan diperkenalkan, seperti getuk, misro, combro, lemet, sawut, sentiling, sate singkong, putri noong, onde-onde singkong, timus, keripik, tape singkong, hingga singkong keju yang umumnya disajikan dengan parutan kelapa. Mahasiswa juga mempelajari pembuatan wadah makanan dari daun pisang, mulai dari takir, pincuk, sudi, sumpil, tempelang, pinjung, hingga pasung. Proses melipat dan menyemat daun pisang ini menjadi bagian penting dari pembelajaran kuliner tradisional yang ramah lingkungan. Salah satu peserta KKN, Najwa Nabila, mengaku kegiatan ini terasa dekat dengan pengalaman pribadinya. “Sebenarnya jajanan seperti ini masih sering saya jumpai di kampung halaman saya. Saya juga pernah membantu ibu membuat jajanan lemet, dan kalau ke pasar tradisional masih bisa menemukan jajanan singkong seperti ini,” ujarnya. Proses pembuatan lemet singkong dilakukan secara tradisional, mulai dari mencampur singkong parut, gula merah, kelapa parut, dan garam, kemudian dibungkus daun pisang dan dikukus menggunakan tungku kayu bakar di pawon KBP dengan dandang logam dan kukusan anyaman bambu. Setelah matang, jajanan tradisional tersebut dihidangkan dan dinikmati bersama seluruh mahasiswa KKN Tematik UMM. Melalui pawon, Kampung Budaya Polowijen tidak hanya melestarikan kuliner tradisional, tetapi juga menumbuhkan ruang belajar bersama yang memperkuat solidaritas, gotong royong, dan kesadaran budaya lintas generasi.
Dari Pawon ke Penyiaran Budaya: Mahasiswa KKN Tematik UMM Rawat Ruang Tradisi dan Sinau Broadcasting di Kampung Budaya Polowijen

KLIKTIMES.COM | MALANG – Pawon Kampung Budaya Polowijen (KBP) kembali menjadi ruang belajar dan kebersamaan. Tidak hanya sebagai dapur tradisional, pawon dimaknai sebagai tempat bertemunya nilai gotong royong, kepedulian lingkungan, dan transfer pengetahuan lintas generasi. Semangat inilah yang turut dihidupkan oleh mahasiswa KKN Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui rangkaian kegiatan yang digelar pada Selasa, 27 Januari 2025. Kegiatan diawali dengan bersih-bersih Pawon KBP sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap ruang budaya yang selama ini menjadi pusat aktivitas warga. Bersama-sama, mahasiswa membersihkan area pawon agar tetap nyaman digunakan untuk berbagai kegiatan, mulai dari memasak tradisional, rewang, hingga agenda edukasi budaya yang kerap melibatkan masyarakat dan pengunjung. Budhe Mei menyampaikan materi dengan gaya yang santai dan komunikatif, sehingga suasana diskusi berlangsung hidup. Mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan seputar teknik penyiaran, penyusunan pesan budaya, hingga strategi agar konten budaya tetap menarik dan mudah diterima oleh masyarakat luas, khusus (HO/KLIKTIMES.COM) Usai kegiatan tersebut, mahasiswa mengikuti agenda Sinau Budaya bertema “Strategi dan Teknik Broadcasting Budaya” yang disampaikan oleh Ibu Mamik Dwi Purwaningsih atau yang biasa disapa Budhe Mei selaku Penyiar Budaya RRI Malang. Dalam sesi ini, mahasiswa diajak memahami peran media penyiaran sebagai sarana penting dalam mengenalkan dan melestarikan budaya lokal di tengah arus modernisasi media. Budhe Mei menyampaikan materi dengan gaya yang santai dan komunikatif, sehingga suasana diskusi berlangsung hidup. Mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan seputar teknik penyiaran, penyusunan pesan budaya, hingga strategi agar konten budaya tetap menarik dan mudah diterima oleh masyarakat luas, khususnya generasi muda. Interaksi yang terbangun membuat kegiatan terasa fun dan tidak membosankan. Melalui rangkaian kegiatan ini, mahasiswa KKN Tematik UMM tidak hanya terlibat dalam upaya merawat pawon sebagai ruang tradisi, tetapi juga mendapatkan wawasan baru tentang bagaimana budaya dapat diangkat dan disuarakan melalui media broadcasting. Pawon pun kembali ditegaskan sebagai ruang belajar (HO/KLIKTIMES.COM) Salah satu mahasiswa KKN Tematik UMM, Putra Bayu, menilai materi yang disampaikan sangat relevan dengan upaya pelestarian budaya. “Materinya seru dan mudah dipahami. Aku jadi semakin sadar kalau media broadcasting punya peran besar untuk mengenalkan budaya lokal ke masyarakat yang lebih luas,” tuturnya. Sementara itu, Aura Tsania, mengaku antusias mengikuti sesi praktik membaca teks siaran. “Aku jadi tahu kalau membaca teks siaran itu nggak cuma soal lancar, tapi juga bagaimana menyampaikan pesan dengan intonasi dan semangat supaya pendengar bisa ikut merasakan isinya,” ujarnya. Melalui rangkaian kegiatan ini, mahasiswa KKN Tematik UMM tidak hanya terlibat dalam upaya merawat pawon sebagai ruang tradisi, tetapi juga mendapatkan wawasan baru tentang bagaimana budaya dapat diangkat dan disuarakan melalui media broadcasting. Pawon pun kembali ditegaskan sebagai ruang belajar bersama yang menyatukan aksi nyata, pengetahuan, dan nilai kebersamaan dalam menjaga keberlanjutan budaya Kampung Budaya Polowijen.