Kasus Mahasiswa Bunuh Diri di Malang Jadi Sorotan, Apa Kata Psikolog?

MALANG, KOMPAS.com – Kasus percobaan bunuh diri yang kerap terjadi pada kalangan mahasiswa di Kota Malang, Jawa Timur menjadi sorotan publik. Terlebih, peristiwa memilukan ini terjadi di lokasi yang sama. Sehingga menimbulkan perhatian publik terhadap kondisi psikologis mahasiswa. Psikolog, Cahyaning Suryaningrum, mengatakan fenomena ini tidak bisa dilihat sebagai persoalan individual semata. Menurut dia, ada persoalan kesehatan mental yang lebih kompleks, terutama pada mahasiswa rantau yang dihadapkan langsung pada tuntutan adaptasi tinggi di tanah rantau. “Mahasiswa rantau secara alamiah lebih rentan karena mereka terpisah dari orangtua dan lingkungan yang selama ini menjadi tempat aman.” “Ketika kemampuan adaptasi dan dukungan sosialnya rendah, risiko masalah psikologis menjadi lebih besar,” ujar Cahyaning di Malang, Kamis (29/1/2026). Psikolog yang juga sebagai Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini menilai, kondisi ini tidak semata mata disebabkan adanya tekanan akademik. Sejumlah konseling melihatkan persoalan ini banyak dipicu adanya beban emosional yang sudah terbentuk sejak dari rumah. Ketahanan keluarga rapuh “Banyak kasus yang ditangani justru berakar dari rapuhnya ketahanan keluarga.” “Masalah pendidikan atau skripsi sering kali hanya menjadi pemicu dari tumpukan beban emosional yang telah dibawa mahasiswa dari rumah,” ungkap dia. Menurut Naning, mahasiswa sejatinya tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual saja, melainnya juga ketahanan mental (resiliensi). Sebab, tanpa kemampuan menghadapi ketidaknyamanan hidup, mahasiswa cenderung berpikir sempit ketika berada dalam tekanan. “Pada dasarnya, tekanan akademik merupakan hal yang wajar dan tidak terpisahkan dari proses pendidikan.” “Tekanan dalam taraf wajar justru penting agar mahasiswa belajar menjadi lebih fokus,” ungkap dia. Ia menekankan pendekatan konseling yang berorientasi pada pemberdayaan. Mahasiswa tidak sekadar dibantu memahami masalahnya, tetapi juga diajak mengenali kekuatan diri serta sumber persoalan yang dihadapi. “Kami berharap mahasiswa dapat menyadari bahwa mereka memiliki kapasitas dan potensi untuk menghadapi serta keluar dari permasalahannya.” “Dengan demikian, pendampingan konselor berfungsi sebagai penguat, bukan sebagai satu-satunya tumpuan,” tegas Naning. Naning juga menekankan pentingnya coping mechanism yang sehat, yakni cara individu melepaskan emosi negatif sebelum menumpuk dan meledak (blow up). “Hal-hal sederhana seperti berolahraga, mendengarkan musik, atau melakukan aktivitas yang disukai, misalnya sekadar menikmati makanan favorit dapat menjadi saluran emosi yang efektif jika dilakukan dengan penuh penghayatan,” sambung dia. Selain peran profesional, lingkungan terdekat seperti teman kos dan teman sebaya menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan. Mendengarkan tanpa menghakimi, menjaga kerahasiaan, serta menghindari sikap menyepelekan atau menertawakan masalah teman merupakan langkah sederhana, tetapi berdampak besar. “Melalui pendekatan preventif dan promotif, BK UMM berharap mahasiswa mampu mengenali kondisi psikologisnya sejak dini.” “Sebab, pada akhirnya, setiap masalah selalu memiliki jalan keluar meskipun tidak selalu ideal selama pikiran tidak dibiarkan tertutup oleh kabut keputusasaan,” kata dia.
Mengapa Mahasiswa Rantau Rentan Bunuh Diri?

Tugumalang.id – Rentetan kasus percobaan bunuh diri di kalangan mahasiswa di Malang, Jawa Timur kembali menjadi sorotan publik. Beberapa kasus bahkan terjadi di lokasi yang sama dan dialami oleh mahasiswa perantau. Hal ini memunculkan kegelisahan sekaligus keprihatinan mendalam terhadap kondisi psikologis mahasiswa saat ini. Peristiwa tersebut tidak dapat dipandang semata sebagai kejadian individual, melainkan sebagai gambaran persoalan kesehatan mental yang lebih kompleks, khususnya yang dialami mahasiswa rantau. Kepala Bimbingan dan Konseling Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., Psi. menjelaskan bahwa dalam situasi ini, mahasiswa rantau secara alamiah memiliki kerentanan terkait masalah adaptasi. Perpindahan dari lingkungan rumah ke tanah perantauan menuntut kemampuan adaptasi yang tidak ringan. Jika tidak dibarengi dengan dukungan sosial yang kuat, kerentanan ini dapat memicu berbagai masalah psikologis. “Mahasiswa rantau itu rentan karena mereka tidak tinggal bersama orang tua atau di lingkungan yang biasa mereka tempati. Mereka berisiko mengalami problem psikologis ketika dukungan sosial atau kemampuan adaptasinya rendah,” jelas Naning, Kamis (29/1/2026). Menariknya, meski tekanan akademik kerap dituding sebagai biang keladi, Naning mengungkapkan fakta lain yang ia temukan di ruang konseling. Banyak kasus yang ditangani justru berakar dari rapuhnya ketahanan keluarga. Masalah pendidikan atau skripsi sering kali hanya menjadi “pemicu” dari tumpukan beban emosional yang telah dibawa mahasiswa dari rumah. Menurutnya, bekal utama seorang mahasiswa bukan hanya kecerdasan intelektual, melainkan mental yang terlatih untuk berjuang dan menghadapi ketidakenakan hidup. Tanpa ‘senjata’ berupa ketahanan mental (resiliensi), mahasiswa cenderung terjebak dalam cara berpikir yang sempit ketika menghadapi persoalan. “Pada dasarnya, tekanan akademik merupakan hal yang wajar dan tidak terpisahkan dari proses pendidikan. Tekanan dalam taraf wajar justru penting agar mahasiswa belajar menjadi lebih fokus. Namun, yang menjadi landasan utama adalah sejauh mana seseorang telah dibekali ketahanan mental, memahami makna berjuang, serta terbiasa menghadapi proses jatuh bangun dalam kehidupan,” tambahnya. Fenomena pemilihan lokasi yang sama dalam percobaan bunuh diri juga menjadi perhatian. Menurut Naning, hal tersebut berkaitan dengan kondisi psikologis individu yang sudah berada dalam situasi terdesak dan berpikir sempit. Paparan cerita atau pemberitaan sebelumnya dapat membentuk gambaran tertentu di benak mahasiswa yang rapuh, sehingga lokasi tersebut dianggap sebagai pilihan. Pada titik ini, peran lingkungan menjadi sangat krusial. BK UMM menekankan pendekatan konseling yang berorientasi pada pemberdayaan. Mahasiswa tidak sekadar dibantu memahami masalahnya, tetapi juga diajak mengenali kekuatan diri serta sumber persoalan yang dihadapi. “Kami berharap mahasiswa dapat menyadari bahwa mereka memiliki kapasitas dan potensi untuk menghadapi serta keluar dari permasalahannya. Dengan demikian, pendampingan konselor berfungsi sebagai penguat, bukan sebagai satu-satunya tumpuan,” tegas Naning. Naning menekankan pentingnya coping mechanism yang sehat, yakni cara individu melepaskan emosi negatif sebelum menumpuk dan meledak (blow up). Hal-hal sederhana seperti berolahraga, mendengarkan musik, atau melakukan aktivitas yang disukai, misalnya sekadar menikmati makanan favorit dapat menjadi saluran emosi yang efektif jika dilakukan dengan penuh penghayatan. Selain peran profesional, lingkungan terdekat seperti teman kos dan teman sebaya menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan. Mendengarkan tanpa menghakimi, menjaga kerahasiaan, serta menghindari sikap menyepelekan atau menertawakan masalah teman merupakan langkah sederhana, tetapi berdampak besar. Kesalahan kecil seperti membocorkan cerita pribadi justru dapat memperparah kondisi psikologis seseorang. Melalui pendekatan preventif dan promotif, BK UMM berharap mahasiswa mampu mengenali kondisi psikologisnya sejak dini. Sebab, pada akhirnya, setiap masalah selalu memiliki jalan keluar meskipun tidak selalu ideal selama pikiran tidak dibiarkan tertutup oleh kabut keputusasaan.
Ketika Jalan Tuhan Berbeda dari Rencana Sendiri

Aku benar-benar merasakan kedamaian. Bukan karena aku sampai di tempat yang aku inginkan. Tapi karena aku akhirnya sampai di tempat di mana aku seharusnya berada. Cerpen oleh Fanisa Dwi Listiani Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Tagar.co – Aku tidak menangis saat membuka link pengumuman SNBP 2024. Tanganku gemetar mengetikkan NISN, berkali-kali salah ketik. Di sekitarku, grup WhatsApp kelas sudah meledak dengan ucapan selamat. Screenshot pengumuman bertebaran—latar belakang hijau dengan tulisan “LULUS”. Aku menekan tombol “Cek Hasil” dengan napas tertahan. Loading… Dan muncul tulisan yang membuat dunia terasa berhenti: “Anda dinyatakan TIDAK LULUS Seleksi SNBP 2024” Aku menatap layar itu. Membaca ulang. Sekali. Dua kali. Berharap aku salah baca. Tapi tidak. Tulisan itu tetap sama. Perlahan, aku menutup laptop. Dada sesak. Aku merosot ke lantai, memeluk lutut, dan baru setelah sepuluh menit terdiam, air mataku jatuh. Tiga hari aku tidak keluar kamar. Ibu beberapa kali mengetuk pintu, membawa makanan yang akhirnya mendingin begitu saja. “Sayang, buka pintunya. Ibu mau ngobrol,” suara Ibu lembut dari balik pintu. “Nggak mau, Bu. Biarkan aku sendiri dulu.” Bagaimana aku bisa menghadap Ibu? Bagaimana aku bisa bilang bahwa semua doa dan dukungannya sia-sia? Bahwa aku gagal? Aku siswa eligible. Prestasiku cukup bagus. Aku bahkan datang ke UB untuk tes offline, membayangkan diriku berjalan di lorong-lorongnya sebagai mahasiswa. Tapi semua itu hanya mimpi. Malam itu, Ibu masuk kamar dengan membawa secangkir teh hangat. Beliau tidak bicara banyak. Hanya duduk di tepi kasur, mengusap rambutku pelan. “Bu, aku capek,” bisikku akhirnya. “Ibu tahu, Nak.” Ibu memelukku. “Tapi Ibu yakin, ini bukan akhir. Masih ada jalan lain.” “Usaha tidak pernah mengkhianati hasil, Nak. Tapi kadang, hasilnya berbeda dari yang kita bayangkan. Dan itu tidak apa-apa.” Hari keempat, aku memaksa diri bangun. Masih ada UM. Aku mendaftar tes mandiri, setengah hati. Bagian dariku yang lain sudah tidak percaya lagi pada keberuntungan. Dua minggu kemudian, pengumuman UM keluar. SELAMAT, anda diterima di Program Studi S1 Sosiologi – Universitas Negeri Malang. Untuk pertama kalinya dalam dua minggu ini, aku tersenyum. Aku berlari keluar kamar. “Bu! Ibu! Aku diterima! UM, Bu!” Ibu langsung memelukku erat. “Alhamdulillah, Nak.” Tapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Malam itu, aku dan Ibu duduk bersama menghitung biaya kuliah. UKT, biaya administrasi, biaya hidup, kos, buku… Angka di layar HP semakin membengkak. “Bu, ini… biayanya besar banget,” kataku pelan. Ibu nenatap kertas penuh coretan hitungan kami. Wajahnya terlihat lelah. “Ibu sudah hitung juga, Nak. Memang… ini di luar kemampuan kita saat ini.” Dadaku sesak lagi. Kali ini lebih sakit dari penolakan UB. “Aku… aku nggak jadi ambil ya, Bu?” Ibu menggenggam tanganku. “Ibu minta maaf, Nak—” “Udah, Bu. Nggak apa-apa.” Aku memotong. Tidak mau melihat Ibu merasa bersalah. Malam itu, aku tidak menangis. Aku sudah terlalu lelah untuk menangis. Aku hanya berbaring, menatap langit-langit kamar, merasa hampa. Mungkin aku memang tidak ditakdirkan kuliah. Tiga hari kemudian, HP-ku berdering. Bunda Wina, saudara dari Malang menelepon. “Aku dengar dari Ibumu kamu diterima UM tapi nggak jadi ambil karena biaya, ya?” “Iya, Bun,” jawabku pelan. “Coba kamu lihat UMM, Dek. Universitas Muhammadiyah Malang. Mereka buka jalur beasiswa. Masih buka pendaftaran. Ada beasiswa penuh.” “UMM?” Aku mengulang. Kampus itu tidak pernah masuk radarku. “Coba aja daftar. Siapa tahu rezeki kamu di sana. Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia-nya bagus.” Pendidikan Bahasa Indonesia? Itu bahkan bukan jurusan yang pernah aku pertimbangkan. “Tapi Bun, aku kan nggak pernah minat ke jurusan itu…” “Dek, kadang rezeki datang dari tempat yang nggak pernah kita duga. Rugi nggak coba.” Malam itu, saat makan malam, aku ceritakan ke Ibu. “Bu, tadi Bunda telepon. Nyaranin aku coba beasiswa di UMM. Jurusannya Pendidikan Bahasa Indonesia.” “Kenapa nggak dicoba?” Mata Ibu berbinar. “Beasiswa kan? Itu kesempatan bagus, Nak.” “Tapi Bu, itu bukan jurusan yang aku mau.” Ibu menatapku. “Nak, kadang kita nggak tahu apa yang terbaik buat kita. Coba dulu. Kalau memang jalan kamu di sana, pasti ada jalannya.” Aku mendaftar beasiswa UMM dengan perasaan campur aduk. Proses pengisian data terasa panjang. Lalu aku harus melengkapi berkas-berkas. Pagi-pagi berangkat ke balai desa, mengantre di kecamatan, mengurus surat keterangan tidak mampu. Setelah semua terkumpul, aku pergi ke kantor pos. “Kirim ke mana, Dek?” tanya petugas. “Malang. Ke UMM. Ini penting sekali, Pak. Untuk pendaftaran beasiswa.” Saat paket itu diserahkan ke petugas, aku membisikkan doa kecil. Ya Allah, lancarkan. Ini usaha terakhirku. Seminggu kemudian, email masuk. Berkasku sudah diterima. Aku dipanggil untuk tes online. Hari H tes, aku bangun pukul lima pagi, padahal tes baru dimulai pukul sembilan. Aku cek koneksi internet berkali-kali. Charge laptop sampai full battery. Tidak mau ada kesalahan kecil yang bisa menggagalkanku lagi. Pukul 08.45, aku sudah duduk di depan laptop. Aku buka link, login, masuk ke ruang tunggu virtual. Layar menampilkan hitungan mundur. Jantungku berdebar semakin kencang. Tarik napas dalam-dalam. Tenang. Aku sudah belajar. Sekarang tinggal percaya pada diri sendiri dan pasrahkan sisanya pada Tuhan. Dua jam kemudian, tes selesai. Bismillah. Ya Allah, kalau memang jalan-Ku di sini, bukakanlah pintu ini untukku. Seminggu menunggu terasa seperti sebulan. Sampai suatu pagi, email notification masuk. Tanganku gemetar. “Bu! Ibu!” teriakku. “Email dari UMM. Aku nggak berani buka.” Ibu duduk di sampingku. Menggenggam tanganku. “Bismillah, Nak. Apapun hasilnya, kita terima.” Aku menarik napas panjang. Membuka email. “Selamat! Anda dinyatakan LULUS seleksi beasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia… Beasiswa penuh.” Aku membaca ulang. Sekali. Dua kali. “Bu… aku… aku diterima. Dengan beasiswa, Bu. Beasiswa penuh.” Ibu merebut HP-ku, membaca sendiri. Kemudian memelukku erat. Sangat erat. Kami menangis bersama. Tangis bahagia. “Alhamdulillah, Nak. Lihat, Tuhan punya rencana yang lebih baik. Lebih indah.” Aku tidak bisa berhenti menangis. Semua kelelahan, semua kekecewaan, semua air mata yang pernah jatuh, rasanya terbayar di momen ini. Bulan pertama kuliah di UMM, aku masih merasa asing. Tapi lambat laun, aku mulai menyesuaikan diri. Dosen-dosennya ramah. Teman-temannya asik. Yang paling mengejutkan, aku mulai menyukai jurusan yang awalnya tidak pernah aku pilih ini. Di semester ketiga sekarang, jurusanku berganti nama menjadi Prodi Bahasa & Sastra Modern. Lebih luas. Lebih kekinian. Dan aku semakin jatuh cinta. “Suatu hari, saat berjalan di area kampus, aku berhenti sejenak. Menatap gedung-gedung di sekelilingku,
KKN Tematik UMM, Dari Pawon ke Penyiaran Budaya

RRI.CO.ID, Malang – Pawon Kampung Budaya Polowijen (KBP) kembali menjadi ruang belajar dan kebersamaan. Tidak hanya sebagai dapur tradisional, pawon dimaknai sebagai tempat bertemunya nilai gotong royong, kepedulian lingkungan, dan transfer pengetahuan lintas generasi. Semangat inilah yang turut dihidupkan oleh mahasiswa KKN Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui rangkaian kegiatan yang digelar pada Selasa, 27 Januari 2025. Kegiatan diawali dengan bersih-bersih Pawon KBP sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap ruang budaya yang selama ini menjadi pusat aktivitas warga. Bersama-sama, mahasiswa membersihkan area pawon agar tetap nyaman digunakan untuk berbagai kegiatan, mulai dari memasak tradisional, rewang, hingga agenda edukasi budaya yang kerap melibatkan masyarakat dan pengunjung. Usai kegiatan tersebut, mahasiswa mengikuti agenda Sinau Budaya bertema “Strategi dan Teknik Broadcasting Budaya” yang disampaikan oleh Mamik Dwi Purwaningsih atau yang biasa disapa Budhe Mey selaku Penyiar Budaya RRI Malang. Dalam sesi ini, mahasiswa diajak memahami peran media penyiaran sebagai sarana penting dalam mengenalkan dan melestarikan budaya lokal di tengah arus modernisasi media. Advertisement Budhe Mey menyampaikan materi dengan gaya yang santai dan komunikatif, sehingga suasana diskusi berlangsung hidup. Mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan seputar teknik penyiaran, penyusunan pesan budaya, hingga strategi agar konten budaya tetap menarik dan mudah diterima oleh masyarakat luas, khususnya generasi muda. Interaksi yang terbangun membuat kegiatan terasa fun dan tidak membosankan. Salah satu mahasiswa KKN Tematik UMM, Putra Bayu, menilai materi yang disampaikan sangat relevan dengan upaya pelestarian budaya. “Materinya seru dan mudah dipahami. Aku jadi semakin sadar kalau media broadcasting punya peran besar untuk mengenalkan budaya lokal ke masyarakat yang lebih luas,” tuturnya. Advertisement Sementara itu, Aura Tsania, mengaku antusias mengikuti sesi praktik membaca teks siaran. “Aku jadi tahu kalau membaca teks siaran itu nggak cuma soal lancar, tapi juga bagaimana menyampaikan pesan dengan intonasi dan semangat supaya pendengar bisa ikut merasakan isinya,” ujarnya. Melalui rangkaian kegiatan ini, mahasiswa KKN Tematik UMM tidak hanya terlibat dalam upaya merawat pawon sebagai ruang tradisi, tetapi juga mendapatkan wawasan baru tentang bagaimana budaya dapat diangkat dan disuarakan melalui media broadcasting. Pawon pun kembali ditegaskan sebagai ruang belajar bersama yang menyatukan aksi nyata, pengetahuan, dan nilai kebersamaan dalam menjaga keberlanjutan budaya Kampung Budaya Polowijen.
Budaya Gila Kerja di Indonesia, Dosen UMM Ingatkan Bahayanya

Malang (beritajatim.com) – Fenomena overwork atau bekerja melampaui batas waktu kini bukan lagi sekadar isu kesehatan individu, melainkan telah bergeser menjadi masalah keadilan sosial yang serius di Indonesia. Budaya gila kerja yang sering kali diglorifikasi sebagai bentuk loyalitas, justru menjadi ancaman nyata bagi kualitas hidup manusia dan ketahanan bangsa. Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial (Kesos) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Eko Rizqi Purwo Widodo, MSW, memberikan sorotan tajam terhadap fenomena ini. Menurutnya, kesejahteraan (well-being) tidak boleh hanya diukur melalui nominal pendapatan atau angka pertumbuhan ekonomi semata. Eko menilai masyarakat sering terjebak dalam pemahaman keliru bahwa jam kerja panjang adalah simbol dedikasi. Padahal, di balik hal tersebut, terdapat persoalan struktural dalam sistem ketenagakerjaan Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperkuat argumen ini, mencatat sekitar 25,5 persen atau 37,3 juta pekerja di Indonesia bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Angka tersebut membuktikan bahwa overwork telah menjadi persoalan sistemik yang mengakar. “Overwork tidak bisa dipandang sebagai persoalan sepele. Ini adalah isu keadilan sosial yang menyentuh langsung kualitas hidup manusia. Jika Indonesia ingin menjadi negara yang benar-benar kuat dan berdaya, maka kesejahteraan individu dan keluarga harus ditempatkan sebagai prioritas utama,” tegas Eko dalam keterangan resminya, Rabu (28/1/2026). Banyak pekerja yang terjebak dalam lembur bukan karena pilihan sadar untuk produktif, melainkan karena keterpaksaan ekonomi dan minimnya perlindungan sosial. Ketimpangan relasi kuasa antara pemberi kerja dan karyawan membuat lembur seolah menjadi kewajiban yang normal. Eko memaparkan bahwa kondisi ini mencerminkan kegagalan sistem sosial dalam melindungi hak dasar pekerja. Tanpa kompensasi dan perlindungan yang layak, jam kerja panjang hanyalah bentuk lain dari eksploitasi modern. “Dalam perspektif kesejahteraan sosial, pijakan utamanya adalah well-being. Ini mencakup keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, psikologis, hingga kesehatan individu,” imbuhnya. Dampak dari beban kerja yang berlebih tidak berhenti di meja kantor. Eko menyoroti ancaman yang lebih besar di ranah domestik. Kelelahan fisik dan mental akibat bekerja berlebihan dapat melumpuhkan peran sosial individu di dalam keluarganya sendiri. Kelompok yang paling rentan terkena dampak ini antara lain, pekerja sektor informal, buruh outsourcing, pekerja migran, dan pekerja perempuan dengan beban ganda. “Negara yang kuat dibangun dari individu dan keluarga yang sehat secara psikososial. Jika beban kerja justru merusak relasi keluarga, seperti renggangnya hubungan orang tua dan anak, maka ini menjadi persoalan serius bagi masa depan bangsa,” jelas Eko. Sebagai solusi, UMM melalui pakar Kesos ini mendorong pemerintah untuk tidak hanya fokus pada indikator produktivitas dalam menyusun regulasi. Diperlukan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih humanis dan berpihak pada kesejahteraan nyata. Pemerintah diharapkan mampu menjamin batas kerja yang wajar dan tegas secara hukum. Selain itu, diharapkan dapat perlindungan sosial yang memadai bagi seluruh lapisan pekerja. Work-life balance yang memungkinkan pekerja tetap memiliki kualitas hidup bersama keluarga. “Kebijakan ketenagakerjaan harusnya mampu menjamin keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan keluarga agar pembangunan ekonomi tidak dibayar dengan hilangnya kualitas hidup manusia,” pungkasnya. (dan/but)
UMM Gandeng Bank Jatim, Perkuat Sinergi Pendidikan hingga Pembangunan Ekonomi Daerah

Malang, JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi menjalin kerja sama strategis dengan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim). Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) berlangsung di Ruang Sidang Senat UMM, Rabu (28/1/2026), sebagai langkah memperkuat sinergi antara dunia pendidikan tinggi dan sektor perbankan daerah. Kerja sama tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, hingga pengembangan UMKM, digitalisasi layanan, literasi keuangan, serta penguatan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Kolaborasi ini diarahkan untuk mengoptimalkan peran akademisi dan perbankan dalam mendorong pembangunan ekonomi dan sosial berbasis pengetahuan. Direktur Bisnis Mikro, Ritel, dan Usaha Syariah Bank Jatim, Tony Prasetyo, M.M., mengatakan bahwa MoU ini menjadi payung formal atas kerja sama yang selama ini telah terjalin antara kedua belah pihak. Dengan adanya kesepakatan tersebut, kolaborasi diharapkan tidak lagi bersifat insidental, melainkan terstruktur dan berorientasi jangka panjang. “Selama ini kerja sama sebenarnya sudah berjalan, khususnya dalam layanan keuangan mahasiswa dan pengembangan institusi. Dengan MoU ini, ruang kolaborasi bisa diperluas dan dikembangkan lintas bidang secara lebih sistematis,” ujarnya. Tony menambahkan, kerja sama tidak hanya difokuskan pada layanan transaksi keuangan, tetapi juga mencakup pengembangan layanan digital, penguatan literasi dan inklusi keuangan, serta integrasi program CSR dengan agenda pendidikan dan sosial kampus. Salah satu fokus utama adalah dukungan akses pendidikan melalui program beasiswa bagi mahasiswa UMM. “Transformasi digital kami dorong secara bertahap dan kontekstual. Melalui kolaborasi ini, kami ingin membuka ruang sinergi yang fleksibel, termasuk dalam menyiapkan talenta muda yang adaptif terhadap kebutuhan sektor keuangan dan pembangunan daerah,” tegasnya. Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menilai kerja sama dengan Bank Jatim sebagai langkah strategis dalam memperkuat peran perguruan tinggi di tengah tantangan pembangunan daerah. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya bertugas mencetak lulusan, tetapi juga menghasilkan riset dan pengabdian yang berdampak nyata bagi masyarakat. “UMM memiliki agenda riset dan pengabdian yang bersentuhan langsung dengan isu pembangunan daerah, seperti pendampingan UMKM, penanganan stunting, pengentasan kemiskinan ekstrem, hingga pengembangan sektor pertanian, energi, kesehatan, dan transformasi digital. Sinergi dengan Bank Jatim diharapkan memperkuat aspek pembiayaan, pendampingan, dan keberlanjutan program-program tersebut,” jelasnya. Kerja sama ini menjadi penanda komitmen bersama UMM dan Bank Jatim dalam membangun ekosistem kolaborasi antara pendidikan tinggi dan sektor keuangan daerah. Melalui sinergi tersebut, kedua institusi berharap dapat berkontribusi pada penguatan sumber daya manusia, riset aplikatif, serta pembangunan ekonomi Jawa Timur yang berkelanjutan. (raf) Sumber: Rilis Berita UMM
Kolaborasi GNI dan Mahasiswa COE Sosiologi UMM Dorong Transformasi UMKM Lokal

JATIMTIMES – Dalam konteks pembangunan ekonomi nasional, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran strategis sebagai tulang punggung perekonomian. Selain berkontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja, UMKM juga menjadi indikator penting keberhasilan pembangunan ekonomi di tingkat lokal maupun nasional. Upaya peningkatan kualitas dan daya saing UMKM terus dilakukan melalui berbagai program pendampingan. Salah satu inisiatif yang menonjol adalah kolaborasi antara Gerakan Nasional Indonesia (GNI) dan mahasiswa COE Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yaitu Muhammad Rosul Rega Ardiansyah dan Aurelius Elmori Gading S, dalam mendampingi pelaku UMKM di sejumlah wilayah. Melalui program pendampingan terpadu, GNI bersama mahasiswa UMM mendorong perubahan signifikan dalam kehidupan para pelaku usaha mikro. Mahasiswa UMM terlibat langsung dalam proses pendampingan, mulai dari pemetaan potensi usaha, pelatihan manajemen sederhana, hingga pendampingan pemasaran berbasis digital. Pendampingan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga menyentuh dimensi sosial dan kultural masyarakat pelaku UMKM. Dengan pendekatan humanis dan partisipatif, GNI dan mahasiswa UMM berupaya memahami kondisi sosial yang melatarbelakangi aktivitas usaha masyarakat, termasuk tantangan budaya, struktur sosial, serta dinamika komunitas setempat. Pendekatan ini dinilai penting karena keberhasilan pengembangan UMKM tidak hanya ditentukan oleh kemampuan produksi, tetapi juga oleh keberlanjutan sosial dan dukungan lingkungan sekitar. Oleh sebab itu, pendampingan yang diberikan tidak sebatas pada pelatihan teknis, melainkan juga pada penguatan kepercayaan diri serta kapasitas sosial para pelaku usaha. Dampak dari kolaborasi tersebut mulai terlihat melalui peningkatan kualitas produk, perluasan akses pasar, serta penguatan kelembagaan usaha. Pelaku UMKM yang sebelumnya mengalami keterbatasan dalam pengetahuan pemasaran dan akses permodalan kini menunjukkan perkembangan positif. Mereka menjadi lebih mandiri dan mampu bersaing di tingkat lokal hingga nasional. Fenomena ini menunjukkan bahwa pendampingan yang bersifat holistik mampu menciptakan perubahan berkelanjutan dalam komunitas usaha mikro. Tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat struktur sosial yang menopang keberlangsungan usaha. Keberhasilan program ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta dalam pembangunan ekonomi. Pendekatan yang inklusif dan berbasis komunitas memungkinkan terciptanya ekosistem usaha yang lebih kuat dan berdaya tahan. Lebih dari sekadar capaian angka, keberhasilan kolaborasi GNI dan mahasiswa UMM menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi juga berkaitan erat dengan penguatan nilai solidaritas sosial dan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Secara keseluruhan, peran GNI bersama mahasiswa UMM sebagai pendamping UMKM di tingkat lokal membuktikan bahwa perubahan sosial yang berkelanjutan dapat dicapai melalui pendekatan yang manusiawi dan partisipatif. Pendampingan tidak hanya menjadi sarana transfer pengetahuan ekonomi, tetapi juga menjadi proses membangun kapasitas sosial dan memperkuat komunitas. Dengan demikian, pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan menjadi kunci dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.
UMM Teken MoU dengan Bank Jatim dalam Berbagai Bidang Strategis

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) resmi menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) di Ruang Sidang Senat UMM, Rabu (28/1/2026). Kesepakatan ini menjadi payung kerja sama strategis yang mencakup bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan UMKM, digitalisasi layanan, literasi keuangan, hingga penguatan sinergi program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Kerja sama tersebut diarahkan untuk mempertemukan kapasitas akademik perguruan tinggi dengan peran perbankan daerah dalam mendorong pembangunan ekonomi dan sosial berbasis pengetahuan. Salah satu fokus utama dalam kesepakatan ini adalah dukungan terhadap akses pendidikan melalui program beasiswa bagi mahasiswa UMM. Direktur Bisnis Mikro, Ritel, dan Usaha Syariah Bank Jatim Tony Prasetyo MM menyebut MoU ini sebagai bentuk formalisasi atas kolaborasi yang selama ini telah berjalan, khususnya dalam layanan keuangan mahasiswa dan pengembangan institusi. Menurutnya, payung kerja sama yang jelas diperlukan agar kolaborasi tidak bersifat insidental, melainkan terstruktur dan berorientasi jangka panjang. “Selama ini kerja sama sebenarnya sudah berjalan, tetapi belum memiliki payung formal. Dengan MoU ini, ruang kolaborasi bisa diperluas dan dikembangkan lintas bidang secara lebih sistematis,” ujarnya. Dia menambahkan, kerja sama tersebut tidak hanya berfokus pada layanan transaksi, tetapi juga meliputi pengembangan layanan digital, penguatan literasi dan inklusi keuangan, serta integrasi program CSR dengan agenda pendidikan dan sosial kampus. Program beasiswa diposisikan sebagai instrumen strategis untuk memperluas pemerataan akses pendidikan sekaligus menyiapkan talenta muda yang adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja dan sektor keuangan daerah. “Kami melayani berbagai segmen, mulai dari nasabah konvensional hingga digital. Karena itu, transformasi digital kami dorong secara bertahap dan kontekstual, sambil membuka ruang kolaborasi yang fleksibel dengan UMM,” tegasnya. Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi MPsi PhD menilai MoU ini sebagai penguatan posisi perguruan tinggi dalam membangun kemitraan strategis dengan sektor industri dan perbankan. Ia menekankan bahwa peran pendidikan tinggi saat ini tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga menghasilkan riset dan pengabdian yang berdampak langsung bagi masyarakat. “UMM memiliki agenda riset dan pengabdian yang beririsan dengan isu pembangunan daerah, mulai dari pendampingan UMKM, penanganan stunting, pengentasan kemiskinan ekstrem, hingga pengembangan sektor pertanian, energi, kesehatan, dan transformasi digital. Sinergi dengan Bank Jatim diharapkan mampu memperkuat aspek pembiayaan, pendampingan, serta keberlanjutan program,” jelasnya. Kesepakatan ini menandai komitmen UMM dan Bank Jatim dalam membangun ekosistem kolaborasi antara pendidikan tinggi dan sektor keuangan daerah, dengan orientasi pada penguatan kapasitas sumber daya manusia, riset aplikatif, serta pembangunan ekonomi Jawa Timur yang berkelanjutan. (Faqih/AS)
Dosen UMM Ungkap Pola Child Grooming, Kekerasan Terselubung Kasih Sayang

KOMPAS.com – Isu child grooming mulai membuka mata khalayak untuk lebih memberikan perhatian kepada anak-anak di sekitar kita dari tindakan kekerasan dan pelecehan fisik maupun seksual dari orang dewasa. Pembahasan ini semakin nyata di warganet Indonesia pada awal Januari 2026 setelah aktris Aurelie Moeremans menceritakan pengalamannya sebagai korban dari sosok bernama fiksi Bobby yang dituangkan melalui buku digital Broken Strings. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ratih Eka Pertiwi, S.Psi., M.Psi., Psikolog. menegaskan bahwa child grooming merupakan persoalan serius yang kerap luput dikenali. Sebab, tindakannya berlangsung secara perlahan, sistematis, dan melibatkan relasi kuasa yang timpang. “Pelaku sering dipersepsikan sebagai sosok yang baik, peduli, dan penuh perhatian. Akibatnya, korban merasa nyaman bahkan membela pelaku karena terbentuk emotional attachment yang kuat, mirip dengan Stockholm syndrome,” ujar Ratih dikutip dari situs UMM, Rabu (28/1/2026). Awas fase awal child grooming Ratih berujar fase awal child grooming tidak menunjukkan kekerasan fisik secara langsung sehingga kerap diabaikan. Biasanya baru dipahami sebagai child grooming ketika sudah terjadi pelecehan seksual. Padahal jauh sebelumnya terjadi manipulasi emosional yang meninggalkan dampak psikologis serius bagi korban. “Proses grooming itu tidak kasat mata, ketika kekerasan baru diakui setelah ada kontak fisik, berarti kita sudah terlambat melindungi anak,” tegasnya. Usia, posisi, popularitas Menurut Ratih, relasi kuasa menjadi faktor kuat dalam tindakan child grooming apalagi jika pelaku memiliki usia lebih tua, posisi sosial lebih tinggi, atau popularitas tertentu. Ketidaksetaraan ini sering berujung ke praktik victim blaming, yang mana korban justru disalahkan atas kekerasan yang dialaminya. Dengan kondisi demikian korban semakin tidak memiliki untuk berbicara dan mencari pertolongan. “Ketika korban disalahkan atau dianggap ikut berperan, itu adalah bentuk victim blaming yang sangat merugikan dan justru memperparah trauma psikologis korban,” ujar Ratih. Kenali perubahan emosi anak Ratih menuturkan, tanda-tanda anak mengalami child grooming dapat dikenali orangtua melalui perubahan emosi dan perilaku anak. Misalnya menarik diri dari lingkungan sosial, perubahan suasana hati yang ekstrem, dan kecenderungan menyimpan rahasia dari keluarga. Risiko terjadinya child grooming semakin besar di era digital sebab pelaku dapat menjangkau anak melalui media sosial, gim daring, dan berbagai platform komunikasi lainnya. “Jika anak diminta merahasiakan hubungan atau dibuat merasa bersalah saat menolak permintaan orang dewasa, itu sudah merupakan alarm serius yang tidak boleh diabaikan,” tegas Ratih. Ratih menekankan bahwa pencegahan child grooming membutuhkan kesadaran kolektif dengan relasi keluarga yang hangat, komunikasi terbuka, pendidikan seksual yang sesuai usia, serta pengawasan aktif terhadap aktivitas digital anak. Perlindungan anak juga membutuhkan keberanian masyarakat untuk mengkritisi relasi yang berpotensi membahayakan.
Budaya Kerja Berlebihan Dinormalisasi, Akademisi Soroti Overwork Sebagai Masalah Sistemik

JATIMTIMES – Budaya kerja berlebihan atau overwork kian melekat dalam keseharian dunia kerja di Indonesia. Jam kerja panjang sering dipersepsikan sebagai bentuk loyalitas dan dedikasi, padahal di balik itu tersimpan persoalan serius yang menyentuh keadilan sosial dan kualitas hidup pekerja. Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Eko Rizqi Purwo Widodo menilai overwork tidak bisa lagi dilihat sebagai pilihan individu semata, melainkan persoalan struktural dalam sistem ketenagakerjaan. Eko menegaskan bahwa kesejahteraan tidak cukup diukur dari pendapatan atau produktivitas kerja. Dalam perspektif kesejahteraan sosial, kesejahteraan justru tercermin dari kemampuan individu menjalankan fungsi sosialnya secara seimbang, baik di ranah kerja, keluarga, maupun sosial. Ia menilai negara yang ingin tumbuh kuat harus meletakkan kesejahteraan individu dan keluarga sebagai fondasi utama pembangunan. “Overwork adalah isu keadilan sosial yang berdampak langsung pada kualitas hidup manusia,” ujarnya, Rabu (28/1/2026). Fenomena kerja berlebihan kini bukan lagi kasus sporadis. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan sekitar 25,5 persen atau setara 37,3 juta pekerja di Indonesia bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa overwork telah menjadi pola yang dinormalisasi, bukan sekadar pilihan personal pekerja. Menurut Eko, jam kerja yang melampaui batas sering kali lahir dari keterpaksaan. Lemahnya perlindungan tenaga kerja dan minimnya jaminan sosial membuat banyak pekerja tidak memiliki ruang tawar untuk menjaga batas kerja yang sehat. Lembur pun perlahan dianggap wajar dan menjadi bagian dari tuntutan kerja sehari-hari. Dalam kerangka kesejahteraan sosial, situasi ini mencerminkan kegagalan sistem dalam menjamin well-being pekerja, yang mencakup keseimbangan aspek ekonomi, sosial, psikologis, dan kesehatan. Dampak overwork, lanjut Eko, tidak berhenti di tempat kerja. Tekanan fisik dan mental akibat jam kerja panjang berpotensi menggerus kualitas relasi dalam keluarga. Peran sosial individu sebagai orang tua, pasangan, maupun anggota keluarga menjadi melemah karena keterbatasan waktu dan energi. Risiko ini semakin besar bagi kelompok pekerja rentan, seperti buruh sektor informal, pekerja outsourcing, pekerja migran, serta pekerja perempuan yang menghadapi beban ganda antara pekerjaan dan urusan domestik. Baca Juga : Praktisi Hukum Soroti Tuntutan Ringan Pelaku Pembunuhan di Gresik Tanpa perlindungan dan kompensasi yang memadai, kerja berlebihan dapat berubah menjadi bentuk eksploitasi modern yang tersembunyi di balik tekanan ekonomi. Eko menilai kondisi tersebut berbahaya bagi keberlanjutan sosial bangsa. “Negara yang kuat dibangun dari individu dan keluarga yang sehat secara psikososial,” tegasnya. Sebagai langkah ke depan, Eko mendorong penguatan advokasi serta perumusan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih humanis. Ia menekankan bahwa pemerintah tidak semestinya hanya berfokus pada indikator pertumbuhan ekonomi dan produktivitas. Dampak kebijakan terhadap kesehatan fisik, mental, serta keseimbangan kehidupan kerja dan keluarga pekerja harus menjadi pertimbangan utama. “Kebijakan ketenagakerjaan perlu menjamin batas kerja yang wajar, perlindungan sosial yang memadai, serta keseimbangan antara kerja dan kehidupan keluarga agar pembangunan ekonomi tidak dibayar dengan turunnya kualitas hidup manusia,” pungkasnya.