Inovasi Terbarukan oleh Mahasiswa Teknik Industri UMM untuk UMKM, Petani, hingga Tunanetra

pwmu.co –Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Industrial Engineering Expo (IE EXPO) 2026 sebagai ajang pameran karya dan inovasi mahasiswa pada Rabu (22/1/2026).Bertempat di GKB 4 lantai 9 UMM, kegiatan ini menjadi ruang apresiasi atas capaian pembelajaran mahasiswa yang terintegrasi antara riset, perancangan sistem, hingga pengembangan produk aplikatif. Pada IE EXPO 2026 menampilkan puluhan karya mahasiswa yang berasal dari mata kuliah Perancangan Sistem Terpadu (PST) dan Perancangan dan Pengembangan Produk (P3). Mulai dari alat untuk membantu para Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) seperti ekstraksi buah, roaster kopi, serta alat yang membantu para petani padi dalam mengeringkan gabah tanpa harus menjemur di bawah sinar matahari. Menariknya, juga ada alat yang dapat membantu tunanetra dalam mengetahui area sekitar dengan memberi getaran berdasarkan sensor. Ketua Program Studi Teknik Industri UMM, Dr. Dana Marsetiya Utama, M.T., menjelaskan bahwa IE EXPO 2026 menampilkan total 74 produk mahasiswa. Rinciannya, sebanyak 47 produk berasal dari mata kuliah Perancangan Sistem Terpadu dan 27 produk dari Perancangan dan Pengembangan Produk. “Poster dan produk terbaik akan kami daftarkan Hak Kekayaan Intelektualnya, khususnya hak cipta desain industri. Dengan begitu, karya mahasiswa tidak berhenti sebagai tugas kuliah, tetapi memiliki nilai lanjut dan perlindungan hukum,” jelas Dana. Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa hasil pengembangan produk dari mata kuliah P3 dan PST juga dapat dilanjutkan sebagai topik skripsi mahasiswa. Skema ini dirancang agar mahasiswa tidak memulai penelitian dari nol, melainkan mengembangkan kajian yang telah dirancang. Dengan demikian, kesinambungan antara pembelajaran, riset, dan inovasi dapat terbangun secara lebih terarah dan berkelanjutan. Sementara itu, Wakil Dekan I Fakultas Teknik UMM, Dr. Machmud Effendy, M.Eng., menegaskan bahwa seluruh produk yang dipamerkan merupakan hasil nyata dari proses pembelajaran komprehensif di ruang kelas. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut menghasilkan produk, tetapi juga membangun cara berpikir sistematis dan terintegrasi lintas disiplin ilmu. “Melalui proses ini, mahasiswa dilatih untuk mengenali kebutuhan pengguna, menyusun konsep, mengembangkan desain, hingga melakukan evaluasi kinerja produk secara menyeluruh. Tahapan tersebut membentuk pola pikir mahasiswa agar lebih sistematis, kritis, dan berorientasi pada solusi nyata,” ungkap Effendy. Ia menambahkan bahwa IE EXPO sejalan dengan visi Fakultas Teknik UMM. Untuk mencetak lulusan yang inovatif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan dunia usaha serta di kawasan berbasis industri. Melalui pameran ini, mahasiswa tidak hanya dinilai dari aspek akademik semata. Namun juga diberi ruang untuk berbagi pengetahuan, menerima masukan profesional dari reviewer, serta membangun kepercayaan diri sebagai calon praktisi dan profesional di bidang teknik industri. Melalui IE EXPO 2026, Program Studi Teknik Industri UMM berharap pameran karya mahasiswa dapat menjadi ruang pembelajaran kontekstual, jembatan kolaborasi dengan dunia industri, serta wahana pembentukan karakter mahasiswa yang siap terjun sebagai profesional di bidang teknik industri.(*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Zahrah Khairani Karim

KKN Berdampak UMM 2026: Rektor Tekankan Solusi Nyata Bangun Desa Berbasis SDGs MALANG –

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menegaskan komitmennya dalam membangun desa secara berkelanjutan melalui program KKN Berdampak 2026. Bukan sekadar rutinitas akademik, KKN kali ini dirancang sebagai solusi konkret atas persoalan desa dengan pendekatan jangka panjang berbasis Sustainable Development Goals (SDGs). Hal tersebut ditandai dengan pelepasan 500 mahasiswa peserta KKN Berdampak 2026 oleh Rektor UMM pada Sabtu (24/1). Para mahasiswa tersebut akan diterjunkan di 17 kecamatan di wilayah Malang Raya dengan target intervensi pembangunan desa hingga sepuluh tahun ke depan. Program KKN Berdampak UMM secara khusus difokuskan pada tiga pilar utama SDGs, yakni Pendidikan Berkualitas (SDGs 4), Kehidupan Sehat dan Sejahtera (SDGs 3), serta Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (SDGs 17). Ketiga pilar ini diposisikan sebagai fondasi untuk mewujudkan desa yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan. Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UMM, Ir. Iis Siti Aisyah, MT., PhD., IPM, menjelaskan bahwa KKN Berdampak 2026 dirancang dengan pendekatan strategis berbasis data dan pemetaan partisipatif. Prinsip kemitraan menjadi kunci utama dalam menentukan lokasi dan program pengabdian. “Kami tidak sekadar menempatkan mahasiswa, tetapi membangun sinergi. Karena itu, kami berkoordinasi intensif dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), serta pemerintah desa setempat untuk memetakan potensi dan persoalan riil yang ada,” ujarnya. Hasil pemetaan tersebut kemudian menjadi dasar bagi mahasiswa dalam merancang program yang tepat sasaran. Pada sektor pendidikan, mahasiswa berperan aktif dalam pendampingan sekolah dan madrasah, penguatan kurikulum pesantren, serta pelatihan literasi digital bagi guru dan siswa guna mendukung terwujudnya pendidikan yang inklusif dan berkualitas. Sementara itu, pada aspek kesehatan dan kesejahteraan, mahasiswa didorong terlibat langsung dalam penyuluhan kesehatan masyarakat, perbaikan sanitasi lingkungan, hingga pendampingan ekonomi bagi pelaku UMKM desa. Penerapan teknologi tepat guna juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menekankan pentingnya dampak nyata dari kehadiran mahasiswa KKN di tengah masyarakat. Ia mendorong mahasiswa untuk mampu mentransformasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah menjadi solusi praktis yang relevan dengan kebutuhan warga desa. “Kehadiran mahasiswa tidak hanya untuk menggugurkan kewajiban akademik, tetapi harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang visioner, menyatukan pemikiran akademis dengan realitas yang dirasakan masyarakat,” tegasnya. Melalui KKN Berdampak 2026, UMM berharap pengabdian mahasiswa tidak berhenti pada program sesaat, melainkan menjadi bagian dari proses pembangunan desa yang berkelanjutan dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Ans

Penelitian Mahasiswa UMM Angkat Tentang Menstruasi Hingga Tembus Publikasi Scopus

MALANG – Rintan Rikawati, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menorehkan prestasi yang membanggakan. Penelitiannya yang berjudul  “Translation and Validation of the Premenstrual Change Coping Inventory in Indonesian Version” berhasil lolos Scopus Q2, jurnal internasional yang tidak mudah untuk dicapai oleh mahasiswa. Penelitian ini mengkaji mengenai isu strategi coping perempuan dalam menghadapi perubahan pramenstruasi, dimana biasanya topik ini sering dianggap sepele namun memiliki dampak yang besar bagi kesehatan fisik dan psikologis perempuan. Ia pun memfokuskan penelitiannya pada cara perempuan dalam mengelola perubahan fisik, emosi, dan psikologis menjelang menstruasi melalui berbagai mekanisme coping. Menurut Rintan, respons setiap perempuan berbeda ketika menghadapi fase pramenstruasi. “Ada perempuan yang lebih mudah mengelola emosinya, ada juga yang membutuhkan dukungan lebih besar dari lingkungan sekitar,” ujar Rintan pada tim humas UMM (22/1/2026). Penelitian ini didasari oleh pengalaman pribadinya saat mengalami perubahan suasana hati menjelang menstruasi. Dimana hal tersebut mendorongnya untuk memahami lebih lanjut mengenai bagaimana cara mengelola fisik dan emosi perempuan secara sehat ketika masa menstruasi. Penelitian ini melibatkan 321 responden perempuan Indonesia. Dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak perempuan menerapkan strategi coping dengan menyibukkan diri melalui kegiatan positif. Dukungan keluarga, teman, dan lingkungan sekitar juga turut berpengaruh terhadap fase pramenstruasi. Sebaliknya, kurangnya pemahaman dari lingkungan sekitar justru dapat memperburuk kondisi emosional. “Dari hasil penelitian, komunikasi dan dukungan sosial terbukti menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga kestabilan emosi perempuan menjelang menstruasi,” ujarnya. Penelitian ini juga menyoroti terkait kesadaran diri perempuan terhadap kondisi tubuhnya. Perempuan yang memahami siklus menstruasinya akan cenderung siap untuk menghadapi fase pramenstruasi. “Perempuan yang mengenal tubuhnya sendiri biasanya lebih cepat menyadari tanda-tanda perubahan emosi. Mereka kemudian bisa langsung menerapkan strategi coping, seperti mengatur aktivitas atau memperbanyak istirahat,” tambahnya. Terakhir, Rintan juga menyoroti terkait masih adanya kesenjangan pemahaman terkait kesehatan reproduksi, terutama di kalangan perempuan awam. Masih banyak perempuan yang belum menyadari bahwa perubahan emosi saat masa pramenstruasi adalah kondisi wajar dan alami. Rintan berharap penelitiannya dapat dikembangkan lebih jauh lagi serta menjadi dasar edukasi reproduksi yang lebih komprehensif. Menurutnya, edukasi tidak hanya perlu menekankan aspek biologis menstruasi, tetapi juga aspek psikologis dan sosial. Sementara itu, dosen pembimbing Rintan, Henny Dwi Susanti, MKep., Sp.Kep.Mat., PhD, menjelaskan bahwa sejak awal penelitian ini memang dirancang tidak berhenti sebagai skripsi semata. “Kami mendorong mahasiswa untuk memahami metodologi penelitian secara mendalam, konsisten dengan kaidah ilmiah, dan siap menerima masukan, termasuk dari reviewer internasional,” jelas Henny. Ia menegaskan bahwa penelitian ini memiliki implikasi langsung bagi praktik keperawatan, khususnya dalam pelayanan kesehatan reproduksi perempuan. Henny berharap hasil penelitian ini dapat menjadi pijakan bagi pengembangan riset lanjutan, baik dalam konteks pendidikan keperawatan maupun pelayanan kesehatan reproduksi di Indonesia.(*)

Tragedi Mahasiswa di Malang: Alarm Darurat Kesehatan Mental Berbunyi Keras, Butuh Penanganan Komprehensif!

Malang, Liputan12.com – Aksi percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh seorang mahasiswi berinisial TA (25) di Jembatan Soekarno-Hatta pada Senin (19/1/2026) dini hari kembali mengguncang Kota Malang. Kejadian ini menambah panjang daftar kasus serupa yang menimpa mahasiswa di kota pendidikan ini, sekaligus menjadi sinyal darurat tentang krisis kesehatan mental yang semakin mengkhawatirkan. TA (25) ditemukan tergeletak di dasar Sungai Brantas dengan kedalaman sekitar 12 meter di wilayah Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru. Meskipun mengalami patah tulang tangan kanan, mahasiswi asal Jakarta Selatan ini berhasil diselamatkan dan dilarikan ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang untuk mendapatkan perawatan intensif. Komisaris Polisi (Kompol) Anang Tri Hananta, Kepala Polsek Lowokwaru, membenarkan terjadinya peristiwa tersebut. Berdasarkan keterangan seorang pengemudi ojek daring yang menjadi saksi mata, korban terlihat mondar-mandir dengan gelisah di sekitar jembatan pada pukul 00.30 WIB sebelum akhirnya memutuskan untuk melompat. “Saksi melihat seseorang jatuh dari atas jembatan, kemudian langsung melaporkan kejadian ini kepada polisi dan relawan. Petugas dan tim medis segera mengevakuasi korban ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis,” jelas Anang pada Selasa (20/1/2026). Motif di balik aksi nekat TA terungkap dari pesan singkat yang dikirimkan kepada adiknya beberapa jam sebelum kejadian. Dalam pesan tersebut, korban meminta maaf dan merasa bersalah karena telah merepotkan keluarga akibat skripsinya yang tak kunjung selesai. Jembatan Soekarno-Hatta (Suhat) dan Jembatan Tunggulmas di Kota Malang seolah menjadi saksi bisu bagi tragedi yang menimpa mahasiswa yang mengalami kebuntuan dalam hidupnya. Sebelumnya, pada akhir November 2025, seorang mahasiswa berinisial NFR (25) ditemukan meninggal dunia di lokasi yang sama. Bahkan, pada Juli 2024, seorang mahasiswa berinisial AHM (19) juga mencoba mengakhiri hidupnya di Jembatan Tunggulmas, meskipun nyawanya berhasil diselamatkan. Kompol Anang Tri Hananta mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah faktor yang menjadi pemicu utama dari rentetan kasus percobaan bunuh diri di kalangan mahasiswa. Faktor-faktor tersebut antara lain tekanan akademik yang tinggi, ancaman drop out, kegagalan dalam ujian, masalah percintaan, konflik dengan orang tua, serta jeratan pinjaman online (pinjol). Luluk Dwi Kumalasari, seorang sosiolog dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menyoroti fenomena ini sebagai akibat dari tekanan struktural yang dialami oleh Generasi Z (kelahiran 1997–2012). Menurutnya, beban akademis yang semakin berat dengan adanya standardisasi internasional tidak hanya menekan para dosen, tetapi juga para mahasiswa yang memiliki kemampuan dan potensi yang beragam. Selain itu, ekspektasi yang tinggi dari keluarga juga menjadi faktor yang memperparah situasi. Biaya kuliah yang mahal seringkali diartikan sebagai tuntutan untuk mendapatkan nilai yang sempurna, tanpa memperhatikan proses belajar dan pemanfaatan ilmu yang diperoleh. “Tuntutan dari keluarga ini seringkali menimbulkan ketakutan pada anak jika nilainya tidak sesuai harapan. Akhirnya, mereka mulai berbohong demi menutupi kekurangan mereka,” ujar Luluk. Luluk juga menambahkan bahwa kesepian menjadi salah satu faktor pemicu utama bagi mahasiswa yang merantau. Banyak orang tua yang kurang memberikan perhatian dan pengawasan.

Siapkan Eksportir Kelas Dunia, UMM Matangkan Kurikulum CoE Agribisnis di Tahun 2026

ZCAMPUS, INDOZONE.ID – Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkuat komitmennya dalam mencetak tenaga profesional di bidang perdagangan internasional. Sebagai langkah strategis menghadapi 2026, UMM mematangkan persiapan Kelas Center of Excellence (CoE) Profesional Ekspor Agribisnis dengan menghadirkan kurikulum yang dirancang khusus bersama para praktisi ekspor tingkat dunia. Langkah ini diambil sebagai jawaban atas tingginya permintaan pasar internasional terhadap produk agribisnis Indonesia yang selama ini belum tergarap maksimal karena keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM). Meskipun Indonesia dikenal sebagai pemasok utama komoditas seperti kopi, rempah-rempah, hingga minyak nabati di Asia Tenggara, para pelaku usaha seringkali terbentur masalah teknis. Kendala yang terjadi biasanya meliputi kerumitan dokumen perdagangan, standarisasi kualitas produk, hingga strategi pemetaan pasar yang tepat. Ketua Prodi Agribisnis UMM, M. Zul Mazwan, M.Sc., menjelaskan bahwa program CoE 2026 adalah upaya kampus untuk mempersempit jarak antara teori akademik dengan dinamika industri ekspor yang nyata. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya berkutat pada teori pemasaran, tetapi langsung terjun ke lapangan. “Kami tidak hanya mengajarkan teori pengembangan komoditas atau pemasaran semata, tetapi menempatkan mahasiswa langsung pada konteks rantai nilai global (global value chain). Di sini, mereka belajar langsung dari grantor industri yang sehari-hari berhadapan dengan buyer luar negeri,” ungkapnya. Kurikulum yang ditawarkan pada edisi 2026 sangat komprehensif, yang mencakup tiga pilar utama, yaitu analisis akademik, pelatihan praktis, dan strategi penetrasi pasar internasional. Mahasiswa akan dibekali keahlian mulai dari mengidentifikasi potensi komoditas, mengurus legalitas, hingga teknis logistik pengiriman barang. Untuk memastikan standar kualitas, UMM berkolaborasi dengan mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) yang telah memiliki jaringan luas di pasar Eropa, Timur Tengah, dan Asia Tenggara.

Akademisi Nilai Rotasi JPTP Pemkot Batu Tepat, Perkuat Soliditas Birokrasi Era Nurochman-Heli

KETIK, BATU – Langkah Pemerintah Kota Batu melakukan rotasi Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) di awal kepemimpinan Wali Kota Nurochman dan Wakil Wali Kota Heli Suyanto mendapat apresiasi dari akademisi. Kebijakan ini dinilai sebagai upaya positif dalam memperkuat soliditas birokrasi guna mengakselerasi program unggulan daerah. Ketua Program Studi Magister (S2) Sosiologi Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Assoc. Prof. Rachmad Kristiono Dwi Susilo, Ph.D., menegaskan bahwa mutasi pejabat adalah instrumen penting untuk membangun kerja tim yang kuat. “Menurut saya, mutasi itu justru bagus. Birokrasi membutuhkan teamwork yang solid. Tidak mungkin pemerintahan hanya mengandalkan wali kota dan wakil wali kota, sementara birokrasi sudah ada jauh sebelum kepemimpinan sekarang,” ujarnya, Jumat, 23 Januari 2026. Ia menilai, birokrasi yang solid menjadi faktor kunci dalam mendorong keberhasilan visi unggulan dan program prioritas kepala daerah. Selain itu, rotasi jabatan juga berfungsi sebagai penyegaran organisasi agar tetap adaptif dan produktif. Rachmad memberikan sorotan khusus pada rotasi jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batu. Menurutnya, Sekda merupakan “panglima” ASN yang harus selaras dengan visi kepala daerah agar administrasi pemerintahan tidak timpang. “Sekda itu sangat krusial. Ia adalah panglima ASN. Jangan sampai kepala daerah dan sekda tidak kompak. Di beberapa daerah lain, ada pengalaman sekda yang tidak sejalan dengan kebijakan kepala daerah, dan itu tidak sehat bagi organisasi,” tegasnya. Menurut Rachmad, Sekda harus memiliki kesamaan visi dengan wali kota agar seluruh jajaran birokrasi bergerak dalam satu komando dan mampu menerjemahkan kebijakan kepala daerah secara efektif. Ia menambahkan bahwa sinergitas antara Sekda dan Wali Kota sangat menentukan efektivitas kebijakan di lapangan. “Sekda harus memahami betul output dan outcome dari kebijakan wali kota. Semua harus satu komando, karena agenda Kota Batu itu sangat banyak. Potensi sumber daya alam sudah mendukung, tetapi tanpa tata kelola yang baik, tujuan pembangunan tidak akan tercapai,” ujarnya. Terkait komitmen Pemkot Batu yang menjadikan capaian kinerja sebagai dasar rotasi, Rachmad menilai hal tersebut sebagai bentuk implementasi good governance. Ia berharap sistem reward and punishment ini konsisten dilakukan agar jauh dari praktik primordialisme. “Itu sangat bagus. Artinya, penghargaan dan penilaian jabatan didasarkan pada capaian kinerja, bukan karena kedekatan politik, kekerabatan, atau kepentingan primordial,” katanya. Meski demikian, Rachmad menekankan pentingnya konsistensi dalam implementasi kebijakan tersebut. Ia berharap evaluasi kinerja ini diterapkan secara tegas dan berkelanjutan. “Kita tunggu implementasinya. Kalau memang dalam beberapa bulan target tidak tercapai, seharusnya ada keberanian untuk melakukan pergantian. Di situlah letak keseriusan reformasi birokrasi,” pungkasnya. Sebagai informasi, Pemerintah Kota Batu melakukan penyegaran birokrasi melalui rotasi terhadap 15 pejabat Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) sebagai upaya memperkuat kinerja organisasi perangkat daerah (OPD) sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik. Prosesi pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan dipimpin langsung oleh Wali Kota Batu Nurochman dan dilaksanakan di Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani, pada Rabu, 21 Januari 2026. Wali Kota Nurochman menjelaskan, rotasi tersebut merupakan tindak lanjut dari evaluasi kinerja birokrasi yang dilakukan selama 10 bulan sepanjang tahun 2025. Hasil evaluasi tersebut menunjukkan perlunya percepatan atau akselerasi kinerja dari seluruh kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD). “Akselerasi dari seluruh kepala SKPD memang dibutuhkan. Ini merupakan hasil evaluasi yang kami lakukan selama 10 bulan selama 2025,” ujar Nurochman. Ia menambahkan, sebelum rotasi dilaksanakan, seluruh pejabat eselon II atau JPTP telah mengikuti uji kompetensi yang dilakukan oleh tim profesional. Hasil uji kompetensi tersebut menjadi salah satu dasar utama dalam menentukan penempatan jabatan, guna memastikan kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan organisasi dan arah kebijakan pemerintahan daerah. (Adv)

Ribuan Mahasiswa PPG UMM Dikukuhkan, Siap Menggerakkan Transformasi Pendidikan Nasional

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Sebanyak 3.016 mahasiswa Profesi Guru Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi dikukuhkan dan disumpah, 22 Januari 2026. Ribuan mahasiswa yang hadir secara luring maupun daring itu merupakan bagian dari program PPG Dalam Jabatan bagi Guru Madrasah Mata Pelajaran Umum Batch II Kementerian Agama Tahun 2025. Kegiatan ini sekaligus menjadi komitmen UMM untuk mencetak guru-guru profesional yang unggul. “Mutu pendidikan madrasah tidak ditentukan oleh kurikulum semata, melainkan oleh sejauh mana negara memastikan guru-gurunya berdiri sebagai profesi yang diakui, berkompetensi, dan berkelanjutan,” tegas Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama RI, Dr. Fesal Musaad, M.Pd., dalam paparannya. Menurutnya, peningkatan mutu pendidikan nasional harus dimulai dari penguatan profesionalisme guru madrasah melalui peningkatan kualifikasi, sertifikasi, dan kompetensi yang terintegrasi. Sebab guru merupakan penentu utama keberhasilan pembelajaran dan kualitas lulusan. Sehingga tanpa guru yang kompeten, sejahtera, dan memiliki kepastian status profesional, cita-cita melahirkan generasi Indonesia yang kompetitif dan berakhlak mulia tidak akan tercapai secara optimal. “Peserta didik tidak mungkin mencapai kompetensi tinggi apabila gurunya berkompetensi rendah. Guru adalah kunci dan ujung tombak pembelajaran, sehingga upaya sertifikasi, PPG dalam jabatan, serta penguatan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian harus dipahami sebagai ikhtiar negara dalam menjamin mutu pendidikan madrasah,” ujarnya. Tonggak profesionalisme guru madrasah juga ditegaskan oleh Ketua Program PPG FKIP Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M.. Ia memandang pengambilan sumpah profesi sebagai fase penting dalam perjalanan pendidik, karena PPG dalam jabatan tidak sekadar proses administratif memperoleh sertifikat pendidik, melainkan bentuk pengakuan resmi atas dedikasi, kompetensi, dan komitmen guru dalam meningkatkan kualitas diri serta mutu pendidikan nasional. “Menjadi pendidik profesional bukan hanya tentang memiliki sertifikat, melainkan komitmen untuk terus belajar, berinovasi, dan mengembangkan diri. Apalagi profesionalisme menuntut penguasaan kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian, dan profesional secara utuh yang telah bapak dan ibu buktikan melalui Program PPG dalam Jabatan,” ujarnya. Ia juga menyoroti perubahan lanskap pendidikan di era digital yang menempatkan guru pada tuntutan baru untuk mampu mengintegrasikan teknologi secara bijak dan bermakna. Mengingat peserta didik merupakan generasi digital yang tumbuh bersama teknologi, pembelajaran harus dirancang lebih kontekstual dan menarik tanpa menghilangkan nilai keteladanan dan peran guru sebagai pusat pembelajaran. “Di tengah derasnya arus digitalisasi, peran guru sebagai inspirator dan pembentuk karakter justru semakin penting, dan pendidikan inklusif harus menjadi komitmen bersama karena setiap anak berhak memperoleh pendidikan yang berkualitas demi terwujudnya generasi emas Indonesia 2045 yang tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga mulia dalam karakter,” tegasnya. Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menempatkan pengambilan sumpah profesi guru madrasah sebagai momentum strategis dalam meneguhkan pilihan karier pendidik. Ia juga menegaskan bahwa pendidikan madrasah merupakan bagian integral dari kultur pendidikan bangsa Indonesia dan tidak lagi dapat diposisikan sebagai entitas yang terpisah dari pendidikan umum. Melainkan satu kesatuan strategis dalam sistem pendidikan nasional. “Pendidikan madrasah dan pendidikan umum bukan lagi sebuah dikotomi, tetapi tatanan pendidikan yang menyatu untuk melahirkan manusia Indonesia yang berkarakter, dan yang paling penting adalah bagaimana bapak-ibu merawat niat untuk terus memberikan yang terbaik demi tercapainya cita-cita mulia pendidikan,” ujarnya. Pengukuhan dan pengambilan sumpah profesi guru PPG dalam jabatan ini pada akhirnya tidak hanya menandai berakhirnya satu tahap pendidikan profesi. Tetapi juga membuka babak tanggung jawab baru bagi para guru madrasah mata pelajaran umum untuk menjadi pendidik profesional di era digital, yang berkomitmen pada nilai inklusi, penguasaan kompetensi abad ke-21, dan pengabdian berkelanjutan dalam membangun Generasi Emas Indonesia 2045.

PPG UMM Kukuhkan 3.016 Guru Madrasah, Siap Hadapi Tantangan Era Digital

Kota Malang, Tagarjatim.id — Sebanyak 3.016 mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi dikukuhkan dan diambil sumpah profesinya pada Kamis (22/1/2026). Pengukuhan ini menjadi bagian dari Program PPG Dalam Jabatan bagi Guru Madrasah Mata Pelajaran Umum Batch II Kementerian Agama Tahun 2025. Prosesi pengukuhan yang digelar secara luring dan daring tersebut menandai komitmen UMM dalam mencetak guru-guru profesional yang berdaya saing serta siap berkontribusi dalam transformasi pendidikan nasional, khususnya di lingkungan madrasah. Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama RI, Dr. Fesal Musaad, menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan madrasah tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, melainkan oleh pengakuan negara terhadap profesi guru yang berkompetensi dan berkelanjutan. “Mutu pendidikan madrasah tidak ditentukan oleh kurikulum semata, melainkan oleh sejauh mana negara memastikan guru-gurunya berdiri sebagai profesi yang diakui, berkompetensi, dan berkelanjutan,” ujarnya. Ia menambahkan, profesionalisme guru menjadi faktor kunci dalam keberhasilan pembelajaran dan kualitas lulusan. Tanpa guru yang kompeten dan memiliki kepastian status profesional, upaya mencetak generasi Indonesia yang unggul dan berakhlak mulia tidak akan berjalan optimal. “Peserta didik tidak mungkin mencapai kompetensi tinggi apabila gurunya berkompetensi rendah. Guru adalah ujung tombak pembelajaran,” tegasnya. Sementara itu, Ketua Program PPG FKIP UMM, Prof. Trisakti Handayani, menyatakan bahwa pengambilan sumpah profesi bukan sekadar tahapan administratif, melainkan bentuk pengakuan atas dedikasi dan komitmen guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional. “Menjadi pendidik profesional bukan hanya tentang memiliki sertifikat, tetapi komitmen untuk terus belajar, berinovasi, dan mengembangkan diri,” ujarnya. Ia juga menyoroti tantangan pendidikan di era digital yang menuntut guru mampu mengintegrasikan teknologi secara bijak, tanpa menghilangkan peran keteladanan dan pembentukan karakter peserta didik. Rektor UMM, Prof. Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa pendidikan madrasah merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Menurutnya, dikotomi antara pendidikan madrasah dan pendidikan umum sudah tidak relevan. “Pendidikan madrasah dan pendidikan umum adalah satu kesatuan untuk melahirkan manusia Indonesia yang berkarakter. Yang terpenting adalah bagaimana guru merawat niat untuk terus memberikan yang terbaik bagi pendidikan,” ujarnya. Pengukuhan ini tidak hanya menandai berakhirnya satu tahapan pendidikan profesi, tetapi juga menjadi awal tanggung jawab baru bagi para guru madrasah untuk berperan aktif membangun pendidikan inklusif, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta berorientasi pada terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045.(*)

Dorong Inovasi Pembelajaran, Polbangtan Malang Bekali Dosen Pengembangan Bahan Ajar Berbasis AI

timesindonesia, MALANG – Upaya menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi terus dilakukan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang. Melalui Workshop Persiapan Pembelajaran Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026, Polbangtan Malang membekali dosen dan tenaga kependidikan dengan pemahaman pengembangan bahan ajar dan petunjuk praktikum berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang tetap berlandaskan kaidah akademik. Kegiatan yang berlangsung pada 22–24 Januari 2026 di Brizantha Hall, Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu ini diikuti oleh dosen dan tenaga pendidik Polbangtan Malang. Workshop ini menjadi ruang belajar bersama dalam menyikapi perubahan lanskap pendidikan tinggi di era digital. Sebagai narasumber, Polbangtan Malang menghadirkan Ahmad Fauzi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa kehadiran AI saat ini sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam aktivitas dosen. “Di era saat ini, AI menjadi teknologi yang sulit dipisahkan dengan kehidupan sehari-hari, termasuk kehidupan dosen. Berbagai platform dan fitur AI dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk membantu dosen menyiapkan serta mengembangkan berbagai bahan ajar,” jelas Ahmad Fauzi. Ia memaparkan bahwa pemanfaatan AI dapat membantu dosen dalam berbagai aspek pembelajaran, mulai dari penyusunan slide presentasi, video pembelajaran, hingga penyusunan draf buku ajar dan petunjuk praktikum. “Ada platform untuk membantu menyiapkan slide presentasi, ada yang membantu menyiapkan video pembelajaran, hingga membantu menyiapkan draf buku ajar dan petunjuk praktikum,” tambahnya. Meski demikian, Ahmad Fauzi menekankan pentingnya sikap bijak dalam memanfaatkan teknologi tersebut. Menurutnya, dosen perlu mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan peran akademiknya. “Sebagai pendidik, kita sebaiknya mengikuti perkembangan teknologi. Tidak terlalu anti AI tapi juga tidak terlalu bergantung pada AI. Kita tetap perlu mempelajari dan mengikutinya, namun kita juga harus tahu etika dan kebijakan penggunaannya,” tegasnya. Melalui materi ini, para dosen diajak untuk memanfaatkan AI sebagai alat bantu strategis yang mendukung kreativitas dan efektivitas pembelajaran, sekaligus menjaga integritas akademik dan kualitas capaian pembelajaran mahasiswa. Polbangtan Malang berharap, pembekalan ini dapat mendorong dosen dan tenaga pendidik untuk lebih siap mengembangkan perangkat pembelajaran yang inovatif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa di era digital, tanpa mengesampingkan nilai-nilai akademik yang menjadi fondasi pendidikan tinggi. (*)