Dosen UMM Ingatkan Risiko Finansial di Balik Tren Pembayaran QRIS

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM – Kemudahan transaksi nontunai melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dinilai membawa konsekuensi tersendiri bagi perilaku keuangan generasi muda. Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, M.M., menilai penggunaan QRIS berpotensi menurunkan kesadaran finansial, khususnya di kalangan mahasiswa. Menurut Rifqi, sistem pembayaran digital menciptakan ilusi pengeluaran yang tidak terasa. Berbeda dengan transaksi tunai yang menghadirkan sensasi kehilangan uang secara nyata, pembayaran digital berlangsung cepat dan minim hambatan psikologis. Kondisi tersebut membuat pengguna cenderung lebih impulsif dalam berbelanja. “Ketika menggunakan uang fisik, seseorang merasakan langsung uangnya berkurang. Pada pembayaran digital, proses yang instan membuat rasa kehilangan itu nyaris tidak muncul,” ujarnya, Senin (19/1/2026). Ia menjelaskan, kebiasaan ini sering memicu fenomena latte factor, yakni pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali dan dianggap sepele, namun berdampak signifikan terhadap kondisi keuangan dalam jangka panjang. Pengeluaran seperti kopi, jajanan, atau belanja impulsif harian berpotensi menggerus tabungan tanpa disadari. Di sisi lain, Rifqi mengakui bahwa QRIS memiliki sejumlah keunggulan, seperti kemudahan transaksi, pencatatan otomatis, serta efisiensi waktu. Namun, kelemahan utamanya terletak pada lemahnya kontrol diri pengguna, terutama ketika dihadapkan pada promo cashback dan diskon. “Promo dirancang untuk membentuk kebiasaan belanja berulang. Konsumen terdorong membeli bukan karena kebutuhan, tetapi karena merasa sedang mendapat keuntungan,” jelasnya. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat membentuk mentalitas keuangan yang tidak disiplin. Nilai uang menjadi abstrak dan sulit dikontrol, sehingga risiko defisit anggaran meningkat meskipun saldo digital masih terlihat aman. Sebagai langkah pencegahan, Rifqi menyarankan agar pengguna membatasi penggunaan aplikasi pembayaran digital. Salah satunya dengan menggunakan satu aplikasi khusus untuk transaksi harian agar pengeluaran lebih mudah dipantau dan dievaluasi. “Biasakan mengecek rekap pengeluaran bulanan. Dengan begitu, pengeluaran kecil yang sering tidak terasa bisa dikendalikan dan tujuan keuangan tetap terjaga,” pungkasnya. Ia menegaskan bahwa teknologi pembayaran digital tetap dapat dimanfaatkan secara optimal, asalkan diiringi dengan perencanaan dan kesadaran finansial yang baik. (raf)

KKN Berdampak UMM 2026: Rektor Tekankan Solusi Nyata Bangun Desa Berbasis SDGs MALANG –

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menegaskan komitmennya dalam membangun desa secara berkelanjutan melalui program KKN Berdampak 2026. Bukan sekadar rutinitas akademik, KKN kali ini dirancang sebagai solusi konkret atas persoalan desa dengan pendekatan jangka panjang berbasis Sustainable Development Goals (SDGs). Hal tersebut ditandai dengan pelepasan 500 mahasiswa peserta KKN Berdampak 2026 oleh Rektor UMM pada Sabtu (24/1). Para mahasiswa tersebut akan diterjunkan di 17 kecamatan di wilayah Malang Raya dengan target intervensi pembangunan desa hingga sepuluh tahun ke depan. Program KKN Berdampak UMM secara khusus difokuskan pada tiga pilar utama SDGs, yakni Pendidikan Berkualitas (SDGs 4), Kehidupan Sehat dan Sejahtera (SDGs 3), serta Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (SDGs 17). Ketiga pilar ini diposisikan sebagai fondasi untuk mewujudkan desa yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan. Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UMM, Ir. Iis Siti Aisyah, MT., PhD., IPM, menjelaskan bahwa KKN Berdampak 2026 dirancang dengan pendekatan strategis berbasis data dan pemetaan partisipatif. Prinsip kemitraan menjadi kunci utama dalam menentukan lokasi dan program pengabdian. “Kami tidak sekadar menempatkan mahasiswa, tetapi membangun sinergi. Karena itu, kami berkoordinasi intensif dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), serta pemerintah desa setempat untuk memetakan potensi dan persoalan riil yang ada,” ujarnya. Hasil pemetaan tersebut kemudian menjadi dasar bagi mahasiswa dalam merancang program yang tepat sasaran. Pada sektor pendidikan, mahasiswa berperan aktif dalam pendampingan sekolah dan madrasah, penguatan kurikulum pesantren, serta pelatihan literasi digital bagi guru dan siswa guna mendukung terwujudnya pendidikan yang inklusif dan berkualitas. Sementara itu, pada aspek kesehatan dan kesejahteraan, mahasiswa didorong terlibat langsung dalam penyuluhan kesehatan masyarakat, perbaikan sanitasi lingkungan, hingga pendampingan ekonomi bagi pelaku UMKM desa. Penerapan teknologi tepat guna juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menekankan pentingnya dampak nyata dari kehadiran mahasiswa KKN di tengah masyarakat. Ia mendorong mahasiswa untuk mampu mentransformasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah menjadi solusi praktis yang relevan dengan kebutuhan warga desa. “Kehadiran mahasiswa tidak hanya untuk menggugurkan kewajiban akademik, tetapi harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang visioner, menyatukan pemikiran akademis dengan realitas yang dirasakan masyarakat,” tegasnya. Melalui KKN Berdampak 2026, UMM berharap pengabdian mahasiswa tidak berhenti pada program sesaat, melainkan menjadi bagian dari proses pembangunan desa yang berkelanjutan dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Ans

Rentetan Percobaan Bunuh Diri Mahasiswa di Malang, Alarm Krisis Kesehatan Mental

Malang (beritajatim.com) – Percobaan bunuh diri yang dilakukan seorang mahasiswi berinisial TA (25) di Jembatan Soekarno-Hatta, Senin (19/1/2026) dini hari, menambah daftar mahasiswa yang hendak melakukan upaya penghilangan nyawa di Kota Malang. Peristiwa ini bukan sekadar statistik kriminalitas, melainkan sinyal bahaya yang terus berulang, menyingkap sisi krisis kesehatan mental yang menghantui kota pendidikan ini. TA (25) ditemukan terempas di dasar Sungai Brantas dengan kedalaman sekitar 12 meter di kawasan Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru. Meski menderita patah tulang tangan kanan, mahasiswi asal Jakarta Selatan itu ditemukan dalam kondisi masih bernapas dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang. Kepala Polsek Lowokwaru Komisaris Polisi (Kompol) Anang Tri Hananta mengonfirmasi peristiwa tersebut. Berdasarkan keterangan saksi pengemudi ojek daring, korban terlihat mondar-mandir gelisah di sekitar jembatan pada pukul 00.30 WIB sebelum akhirnya melompat. “Saksi melihat ada seseorang terjatuh dari atas jembatan, kemudian langsung melapor ke polisi dan relawan. Petugas dan tim medis membawa korban ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut,” ujar Anang, Selasa (20/1/2026). Motif di balik aksi nekat ini terungkap dari pesan terakhir yang dikirimkan TA kepada adiknya beberapa jam sebelum kejadian. Korban meminta maaf dan merasa telah merepotkan keluarga karena skripsinya yang tak kunjung usai. Jembatan Soekarno-Hatta (Suhat) dan Jembatan Tunggulmas di Kota Malang seolah menjadi titik gelap bagi mahasiswa yang mengalami kebuntuan hidup. Sebulan sebelum kejadian TA, tepatnya akhir November 2025, NFR (25) ditemukan tewas di lokasi yang sama. Jauh sebelumnya, pada Juli 2024, mahasiswa berinisial AHM (19) juga mencoba mengakhiri hidup di pagi hari yang ramai, meski beruntung nyawanya selamat. Pola serupa terjadi di Jembatan Tunggulmas, sekitar 4 kilometer ke arah barat. Pada April 2025, BGS (20) asal Jakarta Timur tewas, disusul satu bulan kemudian oleh seorang perempuan muda berinisial A (20). Kompol Anang Tri Hananta memetakan sejumlah motif dominan dari rentetan kasus tersebut. “Ada beberapa motif yang melatarbelakangi, antara lain kuliah yang tidak kunjung rampung dan terancam drop out, gagal ujian, masalah asmara, konflik dengan orang tua, hingga jeratan pinjaman daring (pinjol),” ungkapnya. Sosiolog Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Luluk Dwi Kumalasari, menyoroti fenomena ini sebagai dampak dari tekanan struktural yang dihadapi Generasi Z (kelahiran 1997–2012). Menurutnya, beban akademis dengan standardisasi internasional tidak hanya menekan dosen, tetapi juga mahasiswa yang memiliki kemampuan beragam. Situasi diperparah oleh ekspektasi keluarga yang tinggi. Biaya kuliah yang besar sering kali dikonversikan menjadi tuntutan nilai yang harus sempurna, tanpa melihat proses atau pemanfaatan ilmu itu sendiri. “Tuntutan dari keluarga ini menimbulkan ketakutan pada si anak jika nilainya jelek. Akhirnya mereka mulai berbohong demi menutupi nilainya,” kata Luluk. Ia menambahkan, faktor kesepian menjadi pemicu krusial bagi mahasiswa rantau. Banyak orang tua yang melepaskan pengawasan karena menganggap anaknya sudah dewasa, bahkan jarang berkomunikasi. Luluk menekankan pentingnya kampus menyeimbangkan pencapaian akademis dengan nilai kemanusiaan. “Dukungan emosional keluarga tetap diperlukan. Misalnya, saling berbagi kabar setiap hari. Ini menjadi support system yang menenangkan, karena banyak dari mereka merasa kesepian dan tidak punya tempat menyalurkan unek-unek,” tuturnya. Dari kacamata psikologi, tindakan bunuh diri tidak pernah muncul secara tiba-tiba. Ketua Program Studi Magister Psikologi UIN Malang, Dr. Novia Solichah, menjelaskan bahwa keinginan mengakhiri hidup adalah puncak dari akumulasi pengalaman psikologis negatif dan depresi. “Kalau ada keinginan mengakhiri hidup, itu salah satu simptom depresi. Secara fisik individu bisa terlihat sehat, tapi yang sakit itu psikisnya,” jelas Novia. Ia menguraikan bahwa kerentanan mental sering kali terbentuk dari masa kecil, seperti perundungan (bullying), pelabelan negatif, atau diremehkan oleh keluarga maupun lingkungan. Situasi ini disebut sebagai conditioning event, di mana individu akhirnya memercayai label negatif tersebut, menarik diri, dan tidak tahu cara membangun relasi sosial yang sehat. Fenomena ini sejalan dengan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporannya bertajuk World Mental Health Today (2025) yang secara spesifik menyoroti bahwa bunuh diri telah menjadi penyebab kematian terbesar kedua pada penduduk usia 15–29 tahun secara global. Laporan tersebut menegaskan bahwa kerentanan ini tidak mengenal batas wilayah. Tekanan psikologis pada rentang usia produktif—masa di mana seseorang biasanya menempuh pendidikan tinggi atau memulai karier—telah menjadi epidemi senyap. Kasus-kasus di Malang, di mana korbannya rata-rata berusia 19 hingga 25 tahun, adalah manifestasi nyata dari statistik global tersebut. Data WHO juga menyebutkan, dari setiap satu kasus kematian akibat bunuh diri, terdapat setidaknya 20 upaya percobaan bunuh diri lainnya yang mungkin tidak terlaporkan. Merespons insiden yang terus berulang, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menegaskan perubahan strategi penanganan. Pemerintah Kota (Pemkot) Malang tidak akan lagi berfokus hanya pada infrastruktur fisik seperti menambah tinggi pagar jembatan, melainkan menyasar akar masalah kesehatan mental. “Pagar itu sebenarnya sudah ada dan sudah kami lakukan. Tapi yang ingin kami dorong sekarang adalah pendekatan lain, karena yang harus diselesaikan adalah akarnya. Kalau hanya fisik tanpa menyentuh akarnya, kecenderungan seperti ini tidak akan selesai,” tegas Wahyu saat ditemui di Balai Kota Malang, Senin (19/1/2026). Wahyu berencana membawa isu ini ke meja diskusi strategis bersama para pimpinan perguruan tinggi melalui Forum Rektor. Tujuannya adalah merumuskan pola pendampingan yang efektif dan sistematis bagi mahasiswa. Pemkot Malang juga telah menjalin komunikasi dengan lembaga psikologi untuk merancang kolaborasi penanganan bagi kelompok rentan. “Saya akan minta Forum Rektor menjadikan ini sebagai salah satu agenda penting. Kita evaluasi bersama, bagaimana pendekatan yang paling tepat,” pungkasnya. Disclaimer: Informasi dalam tulisan ini tidak bertujuan untuk menginspirasi siapa pun melakukan tindakan serupa. Jika Anda mengalami gejala depresi dengan kecenderungan ingin mencoba bunuh diri, segera konsultasikan masalah Anda ke penyedia layanan kesehatan mental, seperti psikiater, psikolog, atau klinik kesehatan mental terdekat. (dan/kun)

Angkat Isu Menstruasi, Riset Mahasiswa UMM Tembus Jurnal Internasional Scopus Q2

MALANG  | JATIMSATUNEWS.COM: Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Rintan Rikawati, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM, berhasil menembus jurnal internasional bereputasi Scopus Q2 melalui penelitian yang mengangkat isu kesehatan perempuan, khususnya strategi coping dalam menghadapi perubahan pramenstruasi. Capaian ini terbilang istimewa, mengingat publikasi di jurnal bereputasi internasional bukan hal yang mudah, terlebih bagi mahasiswa strata satu. Penelitian Rintan dinilai memiliki kebaruan sekaligus relevansi tinggi karena mengulas topik menstruasi yang kerap dianggap sepele, padahal berdampak signifikan terhadap kondisi fisik dan psikologis perempuan. Rintan menjelaskan, penelitiannya berfokus pada bagaimana perempuan mengelola perubahan emosi, fisik, dan psikologis menjelang menstruasi melalui berbagai mekanisme coping. Menurutnya, respons perempuan terhadap fase pramenstruasi sangat beragam dan dipengaruhi oleh banyak faktor, baik internal maupun eksternal. “Setiap perempuan memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi perubahan pramenstruasi. Ada yang lebih mudah mengelola emosinya, ada juga yang membutuhkan dukungan lebih besar dari lingkungan sekitar,” ujar Rintan kepada tim Humas UMM, Kamis (22/1/2026). Ketertarikan Rintan terhadap topik ini berawal dari pengalaman pribadinya yang sering mengalami perubahan suasana hati menjelang menstruasi. Dari pengalaman tersebut, muncul dorongan untuk memahami lebih dalam bagaimana perempuan dapat mengelola kondisi emosional dan fisik secara sehat dan efektif. “Saya juga mengalami perubahan emosi menjelang menstruasi. Dari situ muncul keinginan untuk memahami apakah ada cara yang lebih sehat dan efektif untuk mengelola kondisi tersebut,” ungkapnya. Penelitian berjudul “Translation and Validation of the Premenstrual Change Coping Inventory in Indonesian Version” ini melibatkan 321 responden perempuan Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan menerapkan strategi coping dengan menyibukkan diri melalui aktivitas positif, seperti berkumpul bersama teman atau berbagi cerita. “Dari hasil penelitian, komunikasi dan dukungan sosial terbukti menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga kestabilan emosi perempuan menjelang menstruasi,” jelas Rintan. Selain itu, riset ini juga menegaskan pentingnya kesadaran diri terhadap kondisi tubuh. Perempuan yang memahami siklus menstruasinya cenderung lebih siap secara mental dalam menghadapi perubahan pramenstruasi dan mampu menerapkan strategi coping secara lebih cepat, seperti mengatur aktivitas atau memperbanyak waktu istirahat. Rintan juga menemukan bahwa lingkungan memiliki peran besar dalam keberhasilan strategi coping tersebut. Dukungan keluarga, teman, dan lingkungan kampus membuat perempuan merasa lebih aman dan nyaman saat menghadapi fase pramenstruasi. Sebaliknya, kurangnya pemahaman dan stigma justru dapat memperburuk kondisi emosional. “Lingkungan yang suportif sangat membantu perempuan untuk tidak merasa sendirian. Sebaliknya, stigma atau anggapan berlebihan justru bisa memperparah tekanan emosional,” katanya. Melalui riset ini, Rintan menyoroti masih adanya kesenjangan pemahaman masyarakat terkait kesehatan reproduksi perempuan. Ia menilai perubahan emosi saat pramenstruasi merupakan kondisi alami yang perlu dipahami dan dikelola, bukan diabaikan. “Perubahan emosi menjelang menstruasi itu wajar. Yang penting adalah bagaimana perempuan memahami dan mengelolanya, bukan memendam atau mengabaikannya,” tegasnya. Ia berharap hasil penelitiannya dapat menjadi dasar pengembangan edukasi kesehatan reproduksi yang lebih komprehensif, tidak hanya menekankan aspek biologis, tetapi juga psikologis dan sosial. Sementara itu, dosen pembimbing Rintan, Henny Dwi Susanti, MKep., Sp.Kep.Mat., PhD, menjelaskan bahwa penelitian ini sejak awal memang dirancang agar tidak berhenti sebagai skripsi semata. “Kami mendorong mahasiswa untuk memahami metodologi penelitian secara mendalam, konsisten dengan kaidah ilmiah, dan siap menerima masukan, termasuk dari reviewer internasional,” ujarnya. Menurut Henny, penelitian ini memiliki implikasi langsung bagi praktik keperawatan, khususnya dalam pelayanan kesehatan reproduksi perempuan. Dengan instrumen yang telah tervalidasi, perawat dapat lebih mudah mengidentifikasi pola coping perempuan dan menyusun intervensi keperawatan yang lebih tepat sasaran. Ia berharap capaian ini dapat menjadi pijakan bagi pengembangan riset lanjutan serta mendorong semakin banyak mahasiswa UMM berani mengangkat isu-isu kesehatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. (Ans)

PT Muhammadiyah Mendominasi 20 PT Swasta Terbaik di Indonesia Versi Webometrics 2026

Optika.id – PT Muhammadiyah (Perguruan Tinggi Muhammadiyah) mendominasi peringkat akademik untuk PT Swasta versi Webometrics. Webometrics adalah platform pemeringkatan universitas global yang dirancang untuk mencerminkan kinerja multidimensional lembaga pendidikan tinggi. Jika Webometrics membuat 20 peringkat PT Swasta maka PT Muhammadiyah masuk dalam 5 peringkat besar. Secara ajeg, konsisten, dan prestasi akademik dari tahun ke tahun PT Muhammadiyah berada dalam urutan atas dan menengah. Secara umum PT Muhammadiyah berada dalam urutan ke tiga (3) Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, empat (4) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jawa Tengah, enam (6) Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Jawa Tengah, tujuh (7) Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jawa Tengah, dan dua belas (12) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Ranking PT Muhammadiyah itu menunjukkan prestasi akademik selalu baik dan diperhitungkan. Berbagai prestasi akademik, dukungan digital dan ITnya, prestasi mahasiswa, pengabdian masyarakat, penelitian, dan kerja sama nasional dan internasional yang bagus. Berikut daftar PT Swasta terbaik di Indonesia versi Webometrics 2026: Universitas Telkom Peringkat dunia: 850. Universitas Bina Nusantara Peringkat dunia: 1.022. Universitas Muhammadiyah Malang Peringkat dunia: 1.291. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Peringkat dunia: 1.300. Universitas Islam Indonesia Peringkat dunia: 1.390. Universitas Ahmad Dahlan Peringkat dunia: 1.418. Universitas Muhammadiyah Surakarta Peringkat dunia: 1.511. Universitas Medan Area Peringkat dunia: 1.557. Universitas Mercu Buana Peringkat dunia: 1.588. Universitas Kristen Satya Wacana Peringkat dunia: 1.705. Baca juga: Mahasiswi Katolik Jadi Wisudawan Terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun, Raih IPK 3,79 Universitas Pelita Harapan Peringkat dunia: 1.730. Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Peringkat dunia: 1.761. Universitas Katolik Atma Jaya Peringkat dunia: 1.789. Universitas Islam Sultan Agung Semarang Peringkat dunia: 1.878. Universitas Gunadarma Peringkat dunia: 1.897. Universitas Islam Malang Peringkat dunia: 1.913. Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Peringkat dunia: 1.921. Universitas Trisakti Peringkat dunia: 1.945. Universitas Kristen Petra Peringkat dunia: 1.974. Universitas Katolik Parahyangan Peringkat dunia: 2.012. Tolak Ukur Webometrics kali ini menilai universitas dari kehadiran digital, pengaruh akademik, keterbukaan, dan visibilitas global. Ada beberapa indikator penilaian yang digunakan Webometrics, salah satunya visibilitas untuk menilai dampak berdasarkan jumlah domain pada perujuk eksternal dengan bobot sebesar 50 persen. Di samping itu ada juga indikator transparansi yang menggambarkan keterbukaan akademik universitas yang melihat jumlah kutipan dari 310 peneliti yang paling banyak dikutip, tidak termasuk 20 peneliti teratas yang termasuk kategori outlier, dengan bobot penilaian 10 persen. Sementara itu, indikator keunggulan berfokus pada kualitas riset yang menilai jumlah makalah penelitian yang termasuk dalam 10 persen teratas yang paling banyak dikutip pada 2019–2023 merujuk Scopus atau Scimago. Indikator ini memiliki bobot 40 persen. Atas adasar ukuran di atas itulah PT Muhammadiyah selalu bisa berperan dalam peringkat akademik nasional dan internasional. Dan peringkat atau ranking itu konsisten.

10 Universitas Swasta Terbaik di Indonesia versi Webometrics 2026, Tel-U Masih Juara!

medcom.id – Jakarta: Lembaga pemeringkatan perguruan tinggi dunia, Webometrics Ranking of World Universities, kembali merilis daftar peringkat universitas terbaik edisi Januari 2026. Dalam daftar tersebut, sejumlah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia menunjukkan performa yang sangat kompetitif, bersaing ketat dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Melansir data dari laman resminya webometrics.org pada Jumat, 23 Januari 2026, Telkom University (Tel-U) kembali mengukuhkan posisinya sebagai universitas swasta terbaik nomor satu di Indonesia. Secara nasional (gabungan PTN dan PTS), kampus yang berbasis di Bandung ini menempati peringkat ke-9, sementara di tingkat global berada di posisi 1.164. Menyusul di posisi kedua untuk kategori swasta adalah Bina Nusantara University (Binus). Kampus ini menempati peringkat ke-13 nasional dan posisi 1.371 dunia. Dominasi kampus berbasis ormas Islam juga terlihat kuat di lima besar. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bertengger di posisi ketiga swasta terbaik (peringkat 19 nasional), disusul ketat oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di posisi keempat (peringkat 20 nasional). Webometrics melakukan pemeringkatan berdasarkan tiga indikator utama, yakni visibility (dampak konten web), transparency (jumlah kutipan peneliti teratas), dan excellence (jumlah makalah di antara 10% teratas yang paling banyak dikutip). Berikut rincian 10 PTS terbaik di Indonesia berdasarkan pemeringkatan Webometrics edisi Januari 2026: Daftar 10 Universitas Swasta Terbaik di Indonesia 1. Telkom University Peringkat Nasional: 9 Peringkat Global: 1.164 2. Universitas Bina Nusantara (Binus University) Peringkat Nasional: 13 Peringkat Global: 1.371 3. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Peringkat Nasional: 19 Peringkat Global: 1.768 4. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Peringkat Nasional: 20 Peringkat Global: 1.824 5. Universitas Medan Area Peringkat Nasional: 24 Peringkat Global: 2.153 6. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Peringkat Nasional: 27 Peringkat Global: 2.397 7. Universitas Pelita Harapan (UPH) Peringkat Nasional: 33 Peringkat Global: 2.656 8. Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Peringkat Nasional: 36 Peringkat Global: 2.836 9. Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Peringkat Nasional: 38 Peringkat Global: 3.081 10. Universitas Gunadarma Peringkat Nasional: 39 Peringkat Global: 3.085 Itulah 10 universitas swasta terbaik versi Webometrics edisi Januari 2026. Adakah incaran kamu? (Sultan Rafly Dharmawan)

Menyelami Langkah Mahasiswa FH Universitas Muhammadiyah Malang dari Perkampungan Terpencil Tambak Pipi’i(HSS) di Kalsel ke Bangku Sidang Akhir pekuliahan

jatimsatunews – SOPO TOKOH: Muhammad Hamzah yang akrab disapa Hamzah merupakan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM) yang lahir di Kalimantan Selatan dan tumbuh besar di sebuah perkampungan terpencil Tambak Pipi’i Desa Batu Laki (HSS). Masa kecilnya dihabiskan di lingkungan desa dengan aktivitas sederhana namun baginya penuh makna mulai dari berteman dan bersosial bersama warga sekitar, bermain di alam perkampungan, hingga belajar dalam keterbatasan. Pengalaman hidup tersebut membentuk karakter Hamzah menjadi pribadi yang adaptif dalam berbagai hal, kini justru karakter tersebutlah yang mengantarkannya melangkah jauh dari kampung halaman hingga duduk di bangku sidang akhir perkuliahan menandai perjalanan panjang seorang anak yang punya impian dari pelosok Kalimantan Selatan menuju dunia akademik. Setelah menamatkan sekitar enam tahun pendidikan sekolah dasar di kampung halamannya, ia tidak sepenuhnya menghabiskan masa remajanya di kampung halaman tempat ia tumbuh. Demi menempuh pendidikan yang lebih baik ia memilih untuk merantau ke Hulu Sungai Utara tepatnya di Amuntai, Alabio. Di daerah tersebut ia mengenyam pendidikan di MTs Muallimin dan MA Muallimin Muhammadiyah Alabio sekaligus menimba ilmu agama di Pondok Pesantren Nurul Amin Alabio. Dalam perjalanannya ia kerap mendengar pandangan dari sebagian warga desa yang menyarankan agar tidak perlu bersekolah terlalu jauh karena latar belakangnya sebagai anak desa. Namun baginya anggapan tersebut bukanlah sebuah pembatas melainkan motivasi untuk belajar lebih giat.“Pendidikan orang kota dan orang desa itu sama mereka memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan di mana pun,” ujarnya, menegaskan keyakinannya bahwa asal-usul tidak boleh menjadi penghalang dalam meraih cita-cita melalui pendidikan. Selama menempuh pendidikan di MTs Muallimin Muhammadiyah Alabio, MA Muallimin Muhammadiyah Alabio hingga di Pondok Pesantren Nurul Amin Alabio ia dikenal sebagai pribadi yang tekun dan berprestasi baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Berbagai capaian yang diraihnya menjadi bukti kesungguhan dalam belajar dan mengembangkan diri di tengah keterbatasan sebagai perantau. Semangat juang tersebut tidak berhenti di jenjang pendidikan menengah melainkan terus ia bawa hingga ke bangku awal perkuliahan. Bagi Hamzsah konsistensi dalam berprestasi bukan sekadar pencapaian pribadi melainkan bentuk persembahan dan tanggung jawab moral kepada kedua orang tuanya yang telah memberikan dukungan dan kepercayaan penuh terhadap perjalanan pendidikannya.   Setelah menamatkan pendidikan menengah ia memutuskan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi dengan memilih Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Selama masa perkuliahan waktunya tidak hanya diisi dengan aktivitas akademik, tetapi juga membangun relasi pertemanan, aktif berorganisasi, serta mengikuti berbagai ajang perlombaan. Sejak memasuki semester dua ia mulai dikenal sebagai mahasiswa yang memiliki prestasi dan kerap mengharumkan nama kampus melalui kompetisi tingkat nasional. Sejumlah capaian berhasil ia torehkan di antaranya juara I Kompetisi Debat Nasional Aksara Law Competition, juara I Debate Competition For University Season 4, juara II Lomba Debat Semarak Nasional Pendidikan Masyarakat Ke-3, juara II Lomba Debat Hukum Nasional bertajuk Good Governance in the Digital Era for Protection of Cyberspace, juara II Debate Competition For University Season 3, serta juara III Sharia National Debate Championship 2025 (SNDC) disertai berbagai prestasi lainnya yang semakin menegaskan kiprahnya sebagai mahasiswa Fakultas Hukum UMM yang unggul dan berdaya saing.  Kini perjalanan akademiknya memasuki babak akhir setelah ia resmi menyelesaikan tugas akhirnya yang ditandai dengan pelaksanaan sidang akhir perkuliahan pada 10 Januari 2026 kemaren hari. Momen tersebut menjadi penanda bahwa langkah panjang yang ia tempuh sejak dari perkampungan Tambak Pipi’i hingga bangku perkuliahan hampir mencapai garis akhir. Melalui capaian tersebut Hamzah menyampaikan pesan khusus kepada anak-anak desa “agar tidak pernah menyerah pada mimpi dan cita-cita yang ingin diraih. Ia menegaskan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melangkah, dan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berjalan di jalan yang diyakini, meski banyak orang menilai jalan tersebut tidak mungkin untuk ditempuh.

Inovasi Untuk UMKM, Petani Hingga Tunanetra: UMM Gelar Industrial Engineering Expo 2026

MALANG POST – Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Industrial Engineering Expo (IE EXPO) 2026 sebagai ajang pameran karya dan inovasi mahasiswa pada Rabu (22/1/2026). Bertempat di GKB 4 lantai 9 UMM, kegiatan ini menjadi ruang apresiasi atas capaian pembelajaran mahasiswa yang terintegrasi antara riset, perancangan sistem, hingga pengembangan produk aplikatif. Pada IE EXPO 2026 menampilkan puluhan karya mahasiswa yang berasal dari mata kuliah Perancangan Sistem Terpadu (PST) dan Perancangan dan Pengembangan Produk (P3). Mulai dari alat untuk membantu para Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) seperti ekstraksi buah, roaster kopi, serta alat yang membantu para petani padi dalam mengeringkan gabah tanpa harus menjemur dibawah sinar matahari. Menariknya, juga ada alat yang dapat membantu tunanetra dalam mengetahui area sekitar dengan memberi getaran berdasarkan sensor. Ketua Program Studi Teknik Industri UMM, Dr. Dana Marsetiya Utama, M.T., menjelaskan bahwa IE EXPO 2026 menampilkan total 74 produk mahasiswa. Rinciannya, sebanyak 47 produk berasal dari mata kuliah Perancangan Sistem Terpadu dan 27 produk dari Perancangan dan Pengembangan Produk. Sistem Taktil Jarak Hands Free, Peringatan Getar Dini Untuk Gerak Yang Lebih Aman bagi Tunanetra. (Foto: Istimewa) “Poster dan produk terbaik akan kami daftarkan Hak Kekayaan Intelektualnya, khususnya hak cipta desain industri. Dengan begitu, karya mahasiswa tidak berhenti sebagai tugas kuliah, tetapi memiliki nilai lanjut dan perlindungan hukum,” jelas Dana. Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa hasil pengembangan produk dari mata kuliah P3 dan PST juga dapat dilanjutkan sebagai topik skripsi mahasiswa. Skema ini dirancang agar mahasiswa tidak memulai penelitian dari nol, melainkan mengembangkan kajian yang telah dirancang. Dengan demikian, kesinambungan antara pembelajaran, riset, dan inovasi dapat terbangun secara lebih terarah dan berkelanjutan. Sementara itu, Wakil Dekan I Fakultas Teknik UMM, Dr. Machmud Effendy, M.Eng., menegaskan bahwa seluruh produk yang dipamerkan merupakan hasil nyata dari proses pembelajaran komprehensif di ruang kelas. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut menghasilkan produk, tetapi juga membangun cara berpikir sistematis dan terintegrasi lintas disiplin ilmu. “Melalui proses ini, mahasiswa dilatih untuk mengenali kebutuhan pengguna, menyusun konsep, mengembangkan desain, hingga melakukan evaluasi kinerja produk secara menyeluruh. Tahapan tersebut membentuk pola pikir mahasiswa agar lebih sistematis, kritis, dan berorientasi pada solusi nyata,” ungkap Effendy. Ia menambahkan bahwa IE EXPO sejalan dengan visi Fakultas Teknik UMM. Untuk mencetak lulusan yang inovatif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan dunia usaha serta di kawasan berbasis industri. Melalui pameran ini, mahasiswa tidak hanya dinilai dari aspek akademik semata. Namun juga diberi ruang untuk berbagi pengetahuan, menerima masukan profesional dari reviewer, serta membangun kepercayaan diri sebagai calon praktisi dan profesional di bidang teknik industri. Melalui IE EXPO 2026, Program Studi Teknik Industri UMM berharap pameran karya mahasiswa dapat menjadi ruang pembelajaran kontekstual, jembatan kolaborasi dengan dunia industri, serta wahana pembentukan karakter mahasiswa yang siap terjun sebagai profesional di bidang teknik industri.(*/M Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

PPG UMM Kukuhkan 3.016 Guru, Siap Wujudkan Indonesia Emas 2045

radarmalang, MALANG – PPG Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukuhkan dan mengambil sumpah profesi terhadap 3.016 guru, Kamis (22/1). Ribuan peserta yang mengikuti prosesi secara luring dan daring tersebut merupakan mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan bagi Guru Madrasah Mata Pelajaran Umum Batch II Kementerian Agama Tahun 2025. Pengukuhan ini menegaskan komitmen UMM dalam mencetak guru profesional dan berdaya saing untuk mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045. Para peserta telah menuntaskan seluruh rangkaian pendidikan profesi sebagai syarat pengakuan kompetensi dan legalitas profesi pendidik. Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama RIDr. Fesal Musaad, M.Pd., menegaskan, mutu pendidikan madrasah sangat ditentukan oleh kualitas guru. ”Mutu pendidikan madrasah tidak ditentukan oleh kurikulum semata, melainkan oleh sejauh mana negara memastikan guru-gurunya diakui sebagai profesi yang berkompetensi dan berkelanjutan,” ujarnya. BERI AMANAH: Rektor UMM Prof Nazaruddin Malik menegaskan pendidikan madrasah sebagai bagian integral dari kultur pendidikan bangsa. Ia menambahkan, guru merupakan kunci keberhasilan pembelajaran. ”Peserta didik tidak mungkin mencapai kompetensi tinggi apabila gurunya berkompetensi rendah. Guru adalah ujung tombak pembelajaran,” tegas Fesal. Karena itu, menurutnya, program PPG dalam jabatan menjadi bagian penting dari upaya negara menjamin mutu pendidikan madrasah. Ketua Program PPG FKIP UMM Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M., menyebut pengambilan sumpah profesi sebagai fase penting perjalanan pendidik. SAMBUTAN: Ketua Program PPG UMM Prof Trisakti Handayani menekankan pendidik yang terus belajar, berinovasi, dan mengembangkan diri. ”PPG dalam jabatan bukan sekadar proses administratif memperoleh sertifikat, tetapi pengakuan atas dedikasi dan komitmen guru dalam meningkatkan kualitas diri dan pendidikan nasional,” jelasnya. Ia juga menyoroti tantangan pendidikan di era digital.

Dari UMKM hingga Disabilitas, Inovasi Mahasiswa Teknik Industri UMM Tampil di IE EXPO 2026

Malangpariwara.com — Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Industrial Engineering Expo (IE EXPO) 2026 pada Rabu (22/1/2026). Acara ini bertempat di GKB 4 lantai 9 UMM, kegiatan ini menjadi ajang pameran karya sekaligus apresiasi atas capaian pembelajaran mahasiswa yang terintegrasi antara riset, perancangan sistem, dan pengembangan produk aplikatif. IE EXPO 2026 menampilkan puluhan karya mahasiswa yang berasal dari mata kuliah Perancangan Sistem Terpadu (PST) dan Perancangan dan Pengembangan Produk (P3). Berbagai inovasi dipamerkan, mulai dari alat pendukung UMKM seperti mesin ekstraksi buah dan roaster kopi, hingga alat pengering gabah bagi petani padi tanpa bergantung pada sinar matahari. Bed Dryer Gabah, salah satu karya inovasi yang dkembangkan oleh Mahasiswa Teknik Industri UMM (Ist) Selain itu, terdapat pula inovasi berupa alat bantu tunanetra yang mampu mendeteksi area sekitar melalui getaran berbasis sensor. Karya-karya tersebut menunjukkan keberpihakan mahasiswa terhadap kebutuhan kelompok masyarakat yang beragam. Ketua Program Studi Teknik Industri UMM, Dr. Dana Marsetiya Utama, M.T., menyampaikan bahwa IE EXPO 2026 menampilkan total 74 produk mahasiswa. Sebanyak 47 produk berasal dari mata kuliah Perancangan Sistem Terpadu dan 27 produk lainnya dari Perancangan dan Pengembangan Produk. “Poster dan produk terbaik akan kami daftarkan Hak Kekayaan Intelektualnya, khususnya hak cipta desain industri. Dengan begitu, karya mahasiswa tidak berhenti sebagai tugas kuliah, tetapi memiliki nilai lanjut dan perlindungan hukum,” jelas Dana. Karya-karyanya dapat Dilanjutkan Menjadi Topik Skripsi Mahasiswa Ia juga menambahkan bahwa hasil pengembangan produk dari mata kuliah P3 dan PST dapat dilanjutkan sebagai topik skripsi mahasiswa. Skema ini memungkinkan mahasiswa mengembangkan penelitian yang telah dirancang tanpa harus memulai dari awal. Dengan adanya pendekatan tersebut, kesinambungan antara pembelajaran, riset, dan inovasi diharapkan dapat terbangun secara lebih terarah dan berkelanjutan. Disamping itu, Wakil Dekan I Fakultas Teknik UMM, Dr. Machmud Effendy, M.Eng., menegaskan bahwa seluruh produk yang dipamerkan merupakan hasil nyata dari proses pembelajaran komprehensif di ruang kelas. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga dilatih membangun pola pikir sistematis dan terintegrasi lintas disiplin. Bed Dryer Gabah, Alat Penjemur Gabah Berbasis Angin Panas Hasil Pembakaran Minyak Bekas (Ist) “Melalui proses ini, mahasiswa dilatih untuk mengenali kebutuhan pengguna, menyusun konsep, mengembangkan desain, hingga melakukan evaluasi kinerja produk secara menyeluruh. Tahapan tersebut membentuk pola pikir mahasiswa agar lebih sistematis, kritis, dan berorientasi pada solusi nyata,” ungkap Effendy. Ia menambahkan bahwa penyelenggaraan IE EXPO selaras dengan visi Fakultas Teknik UMM. Tujuannya untuk mencetak lulusan yang inovatif, adaptif, serta relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan kawasan berbasis industri. Melalui pameran ini, mahasiswa tidak hanya dinilai dari capaian akademik semata. Mereka juga memperoleh ruang untuk berbagi pengetahuan, menerima masukan profesional dari reviewer. Selan itu, mahasiswa diharapkan mampu membangun kepercayaan diri sebagai calon praktisi dan profesional teknik industri. Melalui IE EXPO 2026, Program Studi Teknik Industri UMM berharap pameran karya mahasiswa dapat menjadi sarana pembelajaran kontekstual. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi jembatan kolaborasi dengan dunia industri serta wahana pembentukan karakter mahasiswa yang siap terjun sebagai profesional di bidang teknik industri. (Djoko W)