Dosen Manajemen UMM Soroti Efek QRIS: Pengeluaran Kecil Bisa Picu Masalah Besar

KLIKMU.CO – Kemudahan pembayaran nontunai melalui QRIS kini menjadi primadona di kalangan mahasiswa, khususnya Generasi Z. Namun, di balik kepraktisan tersebut, tersimpan risiko finansial berupa ilusi digital yang kerap tidak disadari penggunanya. Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ainur Rifqi Almahdani Rahmat MM menyoroti fenomena ini sebagai salah satu pemicu terkikisnya kesadaran finansial anak muda. Rifqi menjelaskan, secara psikologis, transaksi menggunakan QRIS terasa sangat berbeda dibandingkan dengan pembayaran tunai. Saat menggunakan uang fisik, seseorang merasakan sensasi “kehilangan” yang nyata karena uang berpindah tangan dan terlihat berkurang. Sebaliknya, pembayaran digital membuat hambatan psikologis untuk berbelanja menjadi sangat rendah karena prosesnya instan. Kondisi tersebut memicu munculnya latte factor, yakni pengeluaran kecil rutin seperti kopi atau jajanan yang kerap dianggap sepele, tetapi berdampak signifikan terhadap tabungan di akhir bulan. “Secara psikologis, ketika kita mengeluarkan uang fisik, ada sensasi kehilangan yang benar-benar terasa. Namun saat menggunakan QRIS, perasaan itu cenderung memudar karena prosesnya sangat singkat, cukup klik, scan, lalu transaksi selesai,” ungkapnya kepada Tim Humas UMM, Senin (19/1/2026). Meski demikian, Rifqi menegaskan bahwa sistem QRIS tetap memiliki banyak keuntungan, seperti kemudahan transaksi tanpa uang kembalian serta pencatatan pengeluaran yang otomatis dalam aplikasi. Namun, tantangan utamanya terletak pada kontrol diri pengguna yang sering melemah akibat godaan promo dan cashback. Dia menjelaskan, promo merupakan strategi bisnis untuk membentuk kebiasaan belanja berulang (repeat order). Konsumen yang semula tidak membutuhkan suatu barang atau jasa akhirnya terdorong membeli karena merasa mendapatkan potongan harga. Dalam jangka panjang, justru pelaku usaha yang lebih diuntungkan. “Dalam jangka panjang, perilaku konsumtif meningkat karena terbentuk kebiasaan baru. Yang semula bukan kebutuhan menjadi keinginan akibat promo, sehingga terjadi repeat order secara terus-menerus,” jelasnya. Lebih jauh, Rifqi mengingatkan bahwa ilusi saldo digital dapat membentuk mentalitas keuangan yang kurang disiplin. Nilai uang menjadi terasa abstrak, sehingga tanpa evaluasi berkala, khususnya Gen Z berisiko mengalami defisit anggaran karena merasa saldo masih aman, padahal pengeluaran harian sudah melampaui batas. Sebagai langkah antisipasi, ia menyarankan agar mahasiswa menggunakan satu aplikasi khusus untuk transaksi harian berbasis QRIS. Cara ini dinilai memudahkan rekapitulasi sekaligus evaluasi pengeluaran bulanan. “Gunakan satu aplikasi khusus untuk transaksi QRIS dan biasakan mengecek rekap pengeluaran setiap bulan agar tujuan keuangan jangka panjang tetap terjaga dan tabungan tidak habis oleh pengeluaran kecil yang sering tidak terasa,” pungkasnya. Dengan strategi tersebut, mahasiswa diharapkan tetap dapat menikmati kemudahan teknologi pembayaran digital tanpa kehilangan kendali atas kondisi keuangan, sekaligus menjalani gaya hidup cashless yang lebih bijak. (Faqih/AS)

UMM Lepas Mahasiswa KKN Internasional ke Malaysia, Perluas Pengabdian Global

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperluas jangkauan pengabdian masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional. Sebanyak empat mahasiswa UMM resmi dilepas untuk menjalankan KKN di Penang, Malaysia, dalam kegiatan pelepasan yang digelar di Ruang Inovasi Bidang 4 UMM, Selasa (20/1/2026). Keempat mahasiswa tersebut dijadwalkan berangkat pada Rabu (21/1/2026) sebagai bagian dari upaya UMM memperkuat kontribusi akademik dan sosial di tingkat internasional. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., mengatakan KKN Internasional merupakan bagian dari strategi internasionalisasi kampus yang menekankan kebermanfaatan nyata bagi masyarakat lintas negara. Menurutnya, mahasiswa yang diberangkatkan membawa tanggung jawab sebagai duta institusi di ruang global. “KKN Internasional bukan sekadar pengabdian lintas negara, tetapi juga representasi nilai akademik, sosial, dan kemuhammadiyahan UMM dalam konteks lintas budaya,” ujarnya. Dalam pelaksanaannya, UMM menggandeng PERMAI Malaysia (Persatuan Masyarakat Indonesia di Malaysia) sebagai mitra pengabdian. Kerja sama ini dinilai strategis karena komunitas PERMAI memiliki kedekatan kultural dengan Indonesia meskipun telah berasimilasi sebagai warga Malaysia. Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMM, Prof. Dr. Ir. Sutawi, MP., menjelaskan bahwa KKN Internasional ini merupakan program perdana yang diinisiasi LPPM sebagai pengembangan skema pengabdian berbasis internasional. Pada periode 2025–2026, UMM memprioritaskan kawasan ASEAN sebagai fokus awal. “Kami memulai dari kawasan terdekat agar model pengabdian ini matang, terukur, dan berkelanjutan sebelum diperluas ke kawasan lain,” jelasnya. Sementara itu, Kepala Divisi Pengabdian LPPM UMM, Dr. Arina Restian, M.Pd., menambahkan bahwa mahasiswa KKN Internasional ditargetkan menghasilkan luaran akademik yang konkret. Luaran tersebut meliputi penyusunan buku sejarah diplomasi Malaysia berbasis komunitas, pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), serta publikasi ilmiah. Program KKN Internasional ini diharapkan menjadi salah satu program unggulan UMM dalam memperkuat peran perguruan tinggi Indonesia di ranah pengabdian global serta memperluas jejaring internasional berbasis solusi nyata.

Pakar HI UMM Sebut Konflik Geopolitik AS-Venezuela Soal Ekonomi dan Energi

spatialhighlights – Dinamika hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela yang kembali memanas baru-baru ini menyita perhatian dunia. Meski operasi militer kilat yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro menjadi sorotan utama, Azza Bimantara, M.A., Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengingatkan bahwa konflik ini memiliki akar yang jauh lebih dalam dan kompleks. Menurut Azza, ketegangan kedua negara ini melibatkan beragam lapisan, mulai dari ideologi, politik, ekonomi, hingga kepentingan geopolitik global yang tidak dapat dipahami secara sederhana. Akar Konflik Sejak Era Hugo Chávez Azza menjelaskan bahwa keretakan hubungan ini sebenarnya dapat ditelusuri sejak 1998, saat Hugo Chávez terpilih sebagai Presiden Venezuela. Kebijakan ekonomi sosialis Chávez, terutama nasionalisasi sektor minyak yang sebelumnya dikuasai perusahaan asing, menjadi titik balik utama. “Kebijakan ini secara ideologis bertolak belakang dengan model ekonomi Amerika Serikat yang neoliberal dan sangat mengedepankan kepentingan perusahaan multinasional,” jelas Azza, dikutip dari laman resmi UMM. Nasionalisasi minyak tersebut digunakan Chávez untuk membiayai kebijakan populis, seperti pengentasan kemiskinan dan akses layanan kesehatan. Namun, langkah ini justru membuat Venezuela dipandang sebagai ancaman ideologis oleh Gedung Putih. “Sejak saat itu, Venezuela mulai diantagonisasi melalui berbagai tekanan, mulai dari pemboikotan hingga pembatasan akses ekonomi internasional,” ujarnya. Perebutan Cadangan Energi Strategis Dalam kacamata Azza, aspek energi adalah jantung dari kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap Venezuela. Sebagai negara dengan cadangan energi strategis yang masif, kontrol terhadap minyak Venezuela menjadi kepentingan nasional bagi AS demi menjaga stabilitas ekonominya. Azza menekankan bahwa keamanan energi merupakan fondasi utama stabilitas ekonomi AS. “Amerika Serikat belajar dari krisis minyak 1970-an bahwa ketergantungan energi harus dikendalikan. Karena itu, akses terhadap minyak Venezuela menjadi kepentingan strategis,” tuturnya. Kepentingan ini makin mendesak ketika Venezuela mulai menjalin hubungan erat dengan kekuatan besar, seperti Tiongkok dan Rusia. Azza menilai kedekatan tersebut dipersepsikan AS sebagai ancaman geopolitik yang nyata di halaman belakang mereka sendiri. “Kedekatannya dengan Tiongkok dan Rusia jelas dipandang mengganggu kepentingan Amerika Serikat,” katanya. Perubahan Rezim dan Nasib Investasi Indonesia Tekanan politik AS terus berlanjut hingga era kepemimpinan Nicolás Maduro yang dinilai lebih otoriter. Azza menyoroti bagaimana dukungan Barat terhadap tokoh oposisi, seperti Maria Corina Machado, menunjukkan adanya niat yang kuat untuk melakukan perubahan kepemimpinan di Caracas. “Dukungan terbuka Amerika Serikat terhadap oposisi menunjukkan adanya upaya perubahan rezim yang semakin nyata,” ungkap Azza. Meski terjadi penangkapan Maduro oleh pasukan khusus AS dalam operasi militer yang melibatkan 150 pesawat pada awal Januari, Azza menilai dampaknya bagi Indonesia belum terlihat signifikan dalam jangka pendek. Ia mencatat bahwa operasional migas Indonesia di sana masih dalam koridor yang aman. “Hingga saat ini belum ada perubahan besar dalam tata kelola sektor energi Venezuela. Pertamina juga memastikan bahwa operasi migas di Venezuela masih berjalan normal,” terangnya. Untuk menutup ulasannya, Azza menekankan pentingnya konflik ini sebagai bahan pembelajaran bagi para mahasiswa dan pengamat Hubungan Internasional. Baginya, kasus ini adalah contoh sempurna bagaimana ekonomi dan politik saling berkelindan. “Kasus Amerika Serikat dan Venezuela menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak pernah lepas dari kepentingan ekonomi dan energi. Ini menjadi peluang besar bagi mahasiswa HI untuk mengkaji isu global secara lebih komprehensif,” jelas Azza.

Dosen UMM Ingatkan Dampak QRIS, Transaksi Kecil Berpotensi Ganggu Keuangan

  pwmu.co – Kemudahan sistem pembayaran nontunai berbasis QRIS kini menjadi pilihan utama di kalangan mahasiswa Generasi Z.Meski menawarkan kepraktisan dalam bertransaksi, penggunaan QRIS juga menyimpan risiko finansial berupa ilusi digital yang kerap luput disadari penggunanya. Fenomena ini mendapat perhatian dari Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, M.M., yang menilai bahwa kebiasaan tersebut dapat menggerus kesadaran finansial anak muda. Rifqi menjelaskan bahwa dari sisi psikologis, transaksi menggunakan QRIS memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan pembayaran tunai. Saat membayar dengan uang fisik, individu cenderung merasakan secara langsung berkurangnya uang yang dimiliki. Sebaliknya, transaksi digital berlangsung cepat dan instan sehingga menurunkan hambatan psikologis dalam membelanjakan uang. Situasi ini memicu munculnya fenomena latte factor, yakni akumulasi pengeluaran kecil yang dilakukan secara rutin—seperti membeli kopi atau camilan—yang terlihat sepele namun berdampak besar terhadap kondisi keuangan di akhir bulan. Ia menuturkan bahwa rasa “kehilangan” uang jauh lebih terasa ketika seseorang mengeluarkan uang tunai, sementara pada pembayaran digital sensasi tersebut semakin samar karena proses transaksi yang singkat, cukup dengan memindai kode dan menekan tombol konfirmasi. Di sisi lain, Rifqi mengakui bahwa QRIS memiliki banyak keunggulan, mulai dari kemudahan transaksi tanpa uang kembalian hingga pencatatan otomatis dalam aplikasi. Namun, tantangan utama terletak pada melemahnya kontrol diri, terutama akibat tawaran promo dan cashback. Menurutnya, strategi tersebut dirancang untuk mendorong konsumen melakukan pembelian berulang, sehingga barang yang awalnya bukan kebutuhan berubah menjadi keinginan semata karena tergiur potongan harga. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat meningkatkan perilaku konsumtif dan membentuk pola belanja baru yang berulang. Akibatnya, konsumen cenderung terus bertransaksi meskipun tidak memiliki kebutuhan mendesak. Lebih lanjut, Rifqi mengingatkan bahwa ilusi saldo digital berpotensi menumbuhkan pola pengelolaan keuangan yang kurang disiplin. Nilai uang yang terasa semakin abstrak membuat sebagian mahasiswa, khususnya Gen Z, berisiko mengalami defisit anggaran karena merasa saldo masih aman, padahal pengeluaran harian telah melampaui batas yang direncanakan. Sebagai langkah pencegahan, ia menyarankan agar pengguna membatasi transaksi QRIS hanya melalui satu aplikasi pembayaran. Dengan demikian, proses pencatatan dan evaluasi pengeluaran bulanan dapat dilakukan secara lebih mudah dan terkontrol. Melalui langkah tersebut, mahasiswa diharapkan tetap dapat memanfaatkan kemudahan teknologi pembayaran digital tanpa kehilangan kendali atas kondisi keuangan pribadi. Perencanaan yang tepat akan membantu Generasi Z menjalani gaya hidup nontunai secara bijak dan terhindar dari perilaku konsumtif berlebihan.(*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Zahrah Khairani Karim

Dosen UMM Ingatkan Bahaya QRIS bagi Keuangan Gen Z

Kota Malang, Tagarjatim.id — Kemudahan sistem pembayaran nontunai menggunakan QRIS kini menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda, khususnya mahasiswa Gen Z. Namun di balik kepraktisan tersebut, tersimpan risiko finansial yang kerap luput disadari, yakni menurunnya kontrol pengeluaran akibat ilusi saldo digital. Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, menilai penggunaan QRIS dapat memicu perilaku konsumtif jika tidak disertai kesadaran dan pengelolaan keuangan yang baik. Menurutnya, transaksi digital membuat nilai uang terasa lebih abstrak dibandingkan penggunaan uang tunai. “Secara psikologis, ketika kita mengeluarkan uang fisik, ada sensasi kehilangan yang benar-benar terasa. Namun saat menggunakan QRIS, perasaan itu cenderung memudar karena prosesnya sangat singkat, cukup klik, scan, lalu transaksi selesai,” ujar Rifqi, Rabu (21/1/2026). Ia menjelaskan, kondisi tersebut menurunkan hambatan psikologis untuk berbelanja. Akibatnya, pengeluaran kecil yang dilakukan secara rutin sering kali tidak terasa, tetapi berdampak besar dalam jangka panjang. Fenomena ini dikenal sebagai latte factor, yakni kebiasaan mengeluarkan uang untuk kebutuhan kecil seperti kopi atau jajanan yang dianggap sepele, namun perlahan menggerus tabungan. Di sisi lain, Rifqi mengakui bahwa QRIS memiliki banyak keunggulan, mulai dari kemudahan transaksi, pencatatan otomatis, hingga efisiensi tanpa uang kembalian. Namun, ia mengingatkan bahwa berbagai promo cashback dan diskon yang ditawarkan justru berpotensi melemahkan kontrol diri pengguna. “Promo cashback itu strategi bisnis untuk membentuk kebiasaan belanja berulang. Awalnya mungkin tidak butuh, tetapi karena ada diskon akhirnya membeli. Dalam jangka panjang, perusahaan yang paling diuntungkan, sementara konsumen terbiasa belanja di luar kebutuhan,” jelasnya. Rifqi menambahkan, tanpa evaluasi keuangan yang rutin, generasi muda berisiko mengalami defisit anggaran. Saldo digital yang masih terlihat cukup sering menimbulkan rasa aman semu, padahal pengeluaran harian telah melampaui batas yang direncanakan. Sebagai langkah antisipasi, ia menyarankan agar pengguna QRIS, khususnya mahasiswa, menggunakan satu aplikasi pembayaran khusus untuk kebutuhan harian. Dengan begitu, pengeluaran bulanan lebih mudah dipantau dan dievaluasi. “Gunakan satu aplikasi khusus untuk transaksi QRIS, lalu biasakan mengecek rekap pengeluaran setiap bulan. Ini penting agar tujuan keuangan jangka panjang tetap terjaga dan tabungan tidak habis oleh pengeluaran kecil yang sering tidak terasa,” pungkasnya. (*)

Daftar Kampus Terbaik Jawa Timur 2026 Versi Webometrics, UMM Masuk Jajaran 10 Besar!

KLIK PENDIDIKAN – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mencatat prestasi membanggakan setelah berhasil menembus 10 besar kampus terbaik di Provinsi Jawa Timur dalam pemeringkatan Webometrics edisi Januari 2026. Pencapaian ini menegaskan posisi UMM sebagai salah satu perguruan tinggi unggulan yang konsisten menunjukkan performa akademik kompetitif. Capaian ini sekaligus dapat menjadi rujukukan bagi calon mahasiswa dan orang tua yang tengah mencari kampus dengan reputasi kuat dan kualitas pendidikan yang terus berkembang. Pemeringkatan Webometrics merupakan salah satu pemeringkatan internasional yang digunakan untuk mengukur kualitas perguruan tinggi, mulai dari visibilitas akademik, keterbukaan akses ilmiah, hingga kualitas riset. Dilansir dari umm.ac.id diketahui pemeringkatan ini memberikan gambaran posisi dan performa kampus dalam persaingan pendidikan tinggi dunia. Dalam rilis Webometrics Januari 2026, Universitas Muhammadiyah Malang menempati peringkat dunia ke-1.291, dengan Impact Rank 904, Openness Rank 1.526, serta Excellence Rank 3.634. Hasil tersebut menempatkan UMM sejajar dengan sejumlah perguruan tinggi unggulan lainnya di Jawa Timur. Masuknya UMM dalam jajaran 10 kampus terbaik di Jawa Timur menegaskan kontribusi perguruan tinggi swasta dalam memperkuat ekosistem pendidikan tinggi di daerah. Adapun berikut daftar TOP 10 kampus terbaik di Provinsi Jawa Timur versi Webometrics 2026: 1. Universitas Airlangga World Rank: 590 Impact Rank: 694 Opennes Rank: 27720 Excellence Rank: 1056 2. Universitas Brawijaya World Rank: 747 Impact Rank: 572 Opennes Rank: 822 Excellence Rank: 1905 3. Institut Teknologi Sepuluh Nopember World Rank: 888 Impact Rank: 932 Opennes Rank: 1119 Excellence Rank: 1892

UMM Hadirkan Pengabdian Global Melalui Program KKN Internasional di Malaysia

pwmu.co –pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jangkauan pengabdian masyarakat hingga ke tingkat internasional melalui pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional. Program ini menjadi bagian dari strategi UMM dalam memperkuat kontribusi akademik dan sosial di kancah global. Pelepasan mahasiswa KKN Internasional tujuan Penang, Malaysia, dilaksanakan pada Selasa (20/01/2026) di Ruang Inovasi Bidang 4 UMM. Sebanyak empat mahasiswa terpilih secara resmi dilepas dan dijadwalkan bertolak ke Malaysia pada Rabu (21/01/2026). Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menyampaikan bahwa KKN Internasional tidak sekadar menjadi program pengabdian lintas negara, tetapi merupakan bagian dari agenda internasionalisasi UMM yang berlandaskan nilai kebermanfaatan. Ia menegaskan bahwa mahasiswa yang mengikuti program tersebut mengemban peran strategis sebagai duta institusi di ruang global. Menurutnya, KKN Internasional menjadi langkah awal bagi UMM dalam menghadirkan praktik pengabdian masyarakat yang berdampak luas dan relevan secara internasional. Mahasiswa diharapkan mampu menampilkan kompetensi akademik, kepekaan sosial, serta mengimplementasikan nilai-nilai kemuhammadiyahan dalam dinamika lintas budaya. Lebih lanjut, Salis menjelaskan bahwa pelaksanaan KKN Internasional ini melibatkan kerja sama dengan Persatuan Masyarakat Indonesia di Malaysia (Permai Malaysia). Kolaborasi tersebut dipilih karena karakter komunitas Permai yang dinilai unik. Meskipun telah berasimilasi sebagai warga Malaysia, komunitas ini tetap memiliki keterikatan kultural dan emosional yang kuat dengan Indonesia, sehingga menjadi ruang yang tepat bagi mahasiswa UMM untuk menjalankan pengabdian berbasis interaksi lintas budaya. Hal senada disampaikan Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMM, Prof. Dr. Ir. Sutawi, MP., yang menyebut bahwa KKN Internasional ini merupakan program perdana yang diinisiasi oleh LPPM sebagai upaya pengembangan skema pengabdian berskala internasional. Program tersebut difasilitasi oleh Bidang Kerja Sama di bawah koordinasi Wakil Rektor IV. Pada periode 2025–2026, UMM akan memprioritaskan penguatan jejaring pengabdian di kawasan ASEAN, meliputi Malaysia, Thailand, dan Singapura. Ia menjelaskan bahwa pemilihan kawasan ASEAN sebagai fokus awal bertujuan agar model pengabdian yang dikembangkan dapat berjalan secara matang dan terukur. Apabila program awal ini berhasil dan memberikan dampak signifikan, UMM berencana memperluas jejaring pengabdian hingga ke kawasan di luar ASEAN. Sementara itu, Kepala Divisi Pengabdian LPPM UMM, Dr. Arina Restian, M.Pd., menuturkan bahwa peserta KKN Internasional tidak hanya melaksanakan aktivitas sosial, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan luaran akademik yang berkelanjutan. Luaran tersebut meliputi penyusunan buku sejarah diplomasi Malaysia berbasis komunitas, pengajuan Hak Kekayaan Intelektual dari hasil kajian fenomena sosial, serta publikasi ilmiah. Melalui pendekatan integratif antara pengabdian, riset, dan publikasi, mahasiswa diharapkan mampu mengonversi pengalaman lintas budaya menjadi kontribusi akademik yang konkret bagi universitas maupun masyarakat. Ke depan, UMM menargetkan peningkatan jumlah peserta KKN Internasional seiring dengan bertambahnya mitra luar negeri. Program ini diharapkan menjadi salah satu unggulan pengabdian internasional UMM yang berkelanjutan dan berorientasi pada solusi nyata.(*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Zahrah Khairani Karim

Siswa Eco Muhammadiyah Boarding School Malang Belajar Bareng Guru Tamu dari Mesir dan India

radarmalang, MALANG KOTA – Eco Muhammadiyah Boarding School (MBS) Malang terus menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan berwawasan global. Salah satunya, melalui kegiatan guru tamu internasional. Pihak sekolah menghadirkan Rabia Rasheed dari Kashmir, India, dan Basma dari Mesir. Keduanya merupakan mahasiswa Program Magister Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kehadiran guru tamu internasional itu jadi momentum berharga bagi para santriwati Eco MBS. Mereka belajar, berinteraksi, memperluas wawasan tentang keberagaman budaya lintas bangsa. Rabia Rasheed senang dapat berbagi pengalaman bersama santriwati. Dia mengajak santriwati mengenal budaya India melalui lagu khas negaranya yang dikemas secara ringan dan edukatif. Kegiatan tersebut mendorong santriwati untuk lebih berani berekspresi serta meningkatkan rasa percaya diri. Rabia juga mengungkapkan ketertarikannya mempelajari beberapa kosakata sederhana dalam Bahasa Indonesia seperti apa kabar dan semangat. Menurutnya, ungkapan itu mencerminkan keramahan dan semangat masyarakat Indonesia. Harapannya, hubungan baik yang terjalin dapat terus berlanjut. Sementara itu, Basma dari Mesir punya kesan positif terhadap lingkungan Eco MBS Malang yang dinilainya sejuk, nyaman, dan kondusif untuk belajar. Dia mengapresiasi sikap santriwati yang ramah, terbuka, dan rendah hati. Kepala Madrasah Eco MBS Malang Truli Maulida menyampaikan, kegiatan guru tamu internasional merupakan bagian dari upaya madrasah menanamkan semangat belajar lintas budaya dan lintas bangsa. ”Melalui interaksi langsung dengan tamu dari berbagai negara, santriwati dilatih untuk berkomunikasi aktif, bersikap terbuka, serta menumbuhkan toleransi dan saling menghargai,” katanya. (gp)

Perkuat Literasi Digital, Vokasi UMM Gelar Pelatihan Artificial Intelligence di SMKN 3 Blitar

malangzone, News – Fakultas Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang menyelenggarakan Pelatihan Artificial Intelligence di SMKN 3 Blitar. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Vokasi UMM dalam mendorong peningkatan literasi digital dan kesiapan teknologi siswa SMK. Pelatihan berlangsung di aula SMKN 3 Blitar pada Selasa, 21 Januari 2026. Peserta terdiri dari siswa dan guru dari berbagai program keahlian. Kegiatan dibuka oleh Kepala SMKN 3 Blitar, Drs. Supriyono, M.Pd, dan didampingi guru BK Fuad Fahruddin, S.Pd. Drs. Supriyono, M.Pd menyampaikan bahwa kolaborasi dengan Vokasi UMM memberi nilai strategis bagi penguatan kompetensi siswa. Dunia kerja vokasi membutuhkan lulusan yang paham teknologi dan mampu beradaptasi dengan perubahan industri. Pelatihan menghadirkan pemateri dari Vokasi UMM, Inda Rusdia Sofiani, ST, M.Sc. Materi disampaikan secara aplikatif dan relevan dengan kebutuhan siswa SMK. Inda menjelaskan konsep dasar Artificial Intelligence, perkembangan AI saat ini, serta penerapannya di dunia pendidikan dan industri. Contoh penggunaan AI disesuaikan dengan konteks vokasi, seperti pembuatan konten digital, pengolahan ide, dan efisiensi pekerjaan berbasis teknologi. “Artificial Intelligence sudah hadir dalam aktivitas harian. Siswa perlu memahami cara memanfaatkan AI secara produktif dan bertanggung jawab,” ujarnya. Peserta juga mengikuti sesi praktik langsung menggunakan beberapa platform berbasis AI. Siswa mencoba memanfaatkan AI untuk mendukung pembelajaran dan mengembangkan kreativitas sesuai bidang keahlian masing-masing.Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan bertanya dan mencoba fitur-fitur AI yang diperkenalkan. Guru juga mendapatkan gambaran pemanfaatan AI sebagai alat bantu pembelajaran yang kontekstual. Vokasi UMM berharap kegiatan ini menjadi langkah awal kolaborasi berkelanjutan dengan sekolah vokasi. Tujuannya membangun budaya literasi digital yang kuat dan menyiapkan generasi muda yang siap menghadapi tuntutan industri berbasis teknologi.