KKN Berdampak: Mahasiswa UMM Gelar Penyuluhan Pendidikan di RSI Aisyiyah Malang

MALANG POST – Sebanyak lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik, melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Rumah Sakit Islam (RSI) Aisyiyah Malang. Kegiatan ini berlangsung selama satu bulan. Mulai 24 November hingga 24 Desember 2025, dengan mengusung semangat “KKN Berdampak.” Program KKN Tematik mahasiswa UMM tersebut, difokuskan pada bidang pendidikan, yang diwujudkan melalui kegiatan penyuluhan kepada pasien, keluarga pasien, serta pengunjung rumah sakit. Penyuluhan dilaksanakan sebagai upaya memberikan edukasi dan meningkatkan pemahaman masyarakat melalui penyampaian informasi yang sederhana, jelas dan mudah dipahami. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menyampaikan materi penyuluhan secara langsung dengan pendekatan komunikatif dan edukatif. Materi disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan rumah sakit, sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi sasaran. Melalui konsep KKN Berdampak, kegiatan penyuluhan ini tidak hanya berorientasi pada terlaksananya program akan tetapi juga pada dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat. Edukasi yang diberikan diharapkan mampu menambah wawasan serta mendorong peningkatan kesadaran akan pentingnya pengetahuan sebagai dasar perilaku yang lebih baik. Pihak RSI Aisyiyah Malang menyambut positif kehadiran mahasiswa KKN Tematik UMM. Antusiasme peserta terlihat dari partisipasi aktif selama kegiatan penyuluhan berlangsung, yang menunjukkan bahwa kegiatan edukatif masih sangat dibutuhkan di lingkungan pelayanan kesehatan. Melalui KKN Tematik dengan semangat KKN Berdampak, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang memperoleh pengalaman berharga dalam menerapkan ilmu yang dimiliki, melatih kemampuan komunikasi, serta meningkatkan kepedulian sosial. Meskipun dilaksanakan oleh tim kecil, kegiatan penyuluhan ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan menjadi kontribusi nyata mahasiswa dalam bidang pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. (M. Abd. Rachman Rozzi)
Waspada Efek Kemudahan QRIS
RBC Institute AMF Berikan Sentuhan Edukatif di Masjid Baiturrahmah Sawojajar

MALANG, Suara Muhammadiyah – Di tengah derasnya arus gawai yang kian menjauhkan anak-anak dari ruang ibadah, Rumah Baca Cerdas Institute Abdul Malik Fadjar (RBC Institute AMF) bersama Masjid Baiturrahmah Sawojajar, Kota Malang dan santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI-AMF) justru menghadirkan wajah berbeda. Masjid tak hanya menjadi tempat salat, tetapi juga ruang belajar yang ramah anak melalui kegiatan literasi dan pembinaan akhlak yang digelar pada 18 Januari 2026. Fokus utama kegiatan tersebut diarahkan pada pembentukan akhlak dan adab anak sebagai fondasi pendidikan sejak dini. Seluruh rangkaian aktivitas dikemas secara sederhana dan menyenangkan agar mudah diterima anak-anak, dengan metode yang meliputi kegiatan berkisah, bermain, permainan edukatif, serta berbagai aktivitas kreatif yang disesuaikan dengan usia dan karakter peserta. Pemilihan lokasi Masjid sebagai pusat peradaban dan ruang pendidikan yang ramah anak, mengingat fenomena anak-anak yang rajin datang ke masjid saat kecil namun cenderung menjauh ketika beranjak dewasa. Oleh karena itu, kegiatan ini dirancang untuk menjaga kedekatan anak dengan masjid sejak usia dini. Koordinator Program RBC Institute Abdul Malik Fadjar, Manda Danastri, menegaskan bahwa kehadiran literasi di masjid menjadi ikhtiar penting untuk menyeimbangkan perkembangan anak di tengah arus digital. “Anak-anak hari ini sangat dekat dengan gawai. Karena itu, masjid perlu dihadirkan sebagai ruang alternatif yang menyenangkan, aman, dan mendidik. Melalui literasi dan pembinaan akhlak, kami ingin anak-anak merasa bahwa masjid adalah rumah belajar yang ramah bagi mereka,” ujarnya. Ia menambahkan, kolaborasi antara ibu-ibu masjid dan pelajar IPM menjadi kekuatan utama dalam program ini. “Gerakan literasi akan lebih berdampak jika dilakukan bersama. Ketika masjid, komunitas, dan pelajar bergerak bersama, pembinaan akhlak dan budaya baca anak dapat tumbuh secara berkelanjutan,” katanya. Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Ranting (PR) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) PPI-AMF, Azhar Izzudin, mengatakan keterlibatan IPM merupakan bentuk kontribusi pelajar dalam kegiatan sosial dan pendidikan masyarakat. “Kami datang ke sini sebagai relawan untuk membantu kegiatan rutin di masjid. Kami bekerja sama dengan RBC melalui mobil baca, mendampingi adik-adik membaca buku, mengenalkan gambar, dan bermain bersama,” ujar Azhar Izzudin. Ia menambahkan, momen yang paling berkesan bagi relawan adalah saat mendampingi anak-anak membaca buku. “Ada adik-adik yang meminta dibacakan buku dan bertanya tentang gambarnya. Dari situ kami belajar mengenali karakter anak-anak,” katanya. Melalui kolaborasi ibu-ibu Masjid Baiturrahmah, RBC Institute Abdul Malik Fadjar, dan IPM PPI-AMF tingkat ranting, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan positif, minat literasi, serta kedekatan anak-anak dengan masjid secara berkelanjutan. (diko)
Dosen UMM Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, MM: QRIS di Kalangan Generasi Z Pemicu Terkikisnya Finansial
Malang, hariandialog.co.id.– – Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, M.M., memperingatkan generasi Z mengenai risiko finansial serius di balik kemudahan transaksi nontunai QRIS pada Selasa (21/1/2026). Fenomena “ilusi digital” ini dinilai menjadi pemicu utama terkikisnya kesadaran finansial anak muda karena hilangnya sensasi kehilangan uang secara fisik. Rifqi menjelaskan bahwa terdapat perbedaan psikologis yang sangat tajam antara penggunaan uang tunai dibandingkan dengan metode pindai kode batang. Saat membayar dengan uang fisik, seseorang secara alami merasakan dompet yang menipis sehingga kontrol diri tetap terjaga secara intuitif. “Secara psikologis, ketika kita mengeluarkan uang fisik, ada sensasi kehilangan yang benar-benar terasa karena fisik uang berpindah tangan dan dompet menipis. Namun saat menggunakan QRIS, perasaan itu cenderung memudar; prosesnya terlalu singkat karena cukup klik, scan, lalu transaksi selesai,” jelas Rifqi. Hilangnya hambatan psikologis ini memicu munculnya fenomena latte factor yang sering tidak disadari oleh kalangan mahasiswa maupun pekerja muda. Pengeluaran kecil rutin seperti kopi kekinian atau jajanan receh sering dianggap remeh, padahal akumulasinya mampu menguras tabungan di akhir bulan secara signifikan. Rifqi menegaskan bahwa diskon sering kali mendorong konsumen membeli barang yang sebenarnya tidak menjadi prioritas kebutuhan mendasar mereka. “Konsumen yang awalnya tidak butuh, akhirnya terdorong membeli hanya karena merasa mendapatkan diskon; padahal secara jangka panjang justru perusahaanlah yang paling diuntungkan,” paparnya, tulis beritajatim. Perilaku ini secara perlahan mengubah pola pikir pengguna sehingga hal yang semula bukan kebutuhan berubah menjadi keinginan konsumtif yang sulit dibendung. “Dalam jangka panjang, perilaku konsumtif naik karena terbentuk kebiasaan baru, sehingga akhirnya terjadi repeat order secara terus-menerus,” tambah Rifqi. Bahaya terbesar dari ketergantungan pada saldo digital adalah terbentuknya mentalitas keuangan yang tidak disiplin karena nilai nominal uang terasa sangat abstrak. Gen Z berisiko tinggi mengalami defisit anggaran karena merasa saldo di m-banking masih mencukupi, meski pengeluaran harian sebenarnya sudah melampaui batas wajar, tulis beritajatim. (nanang-01)
Dosen UMM Soroti Efek QRIS, Pengeluaran Kecil Bisa Jadi Masalah Besar

MALANG, Suara Muhammadiyah – Berbekal kemudahan dalam satu genggaman, sistem pembayaran nontunai QRIS kini menjadi primadona di kalangan mahasiswa Gen Z. Namun, di balik kepraktisan tersebut, tersimpan risiko finansial berupa ilusi digital yang sering kali tidak kasat mata bagi para penggunanya. Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, M.M., menyoroti fenomena ini sebagai pemicu utama terkikisnya kesadaran finansial anak muda. Rifqi sapaan akrabnya menjelaskan, bahwa secara psikologis, bertransaksi dengan QRIS terasa sangat berbeda dibandingkan dengan mengeluarkan lembaran uang fisik dari dompet. Saat menggunakan uang tunai, seseorang akan merasakan sensasi “kehilangan” yang nyata karena fisik uang benar-benar berpindah tangan dan terlihat berkurang. Sebaliknya, pembayaran digital membuat hambatan psikologis untuk belanja menjadi sangat rendah karena prosesnya yang terlalu instan. Kondisi inilah yang memicu munculnya latte factor, yaitu pengeluaran kecil rutin seperti kopi atau jajanan yang sering dianggap remeh namun berdampak signifikan pada tabungan di akhir bulan. “Secara psikologis, ketika kita mengeluarkan uang fisik, ada sensasi kehilangan yang benar-benar terasa. Namun saat menggunakan QRIS, perasaan itu cenderung memudar karena prosesnya sangat singkat, cukup klik, scan, lalu transaksi selesai,” ungkapnya pada tim humas UMM pada 19 Januari lalu. Sistem QRIS sejatinya memiliki keuntungan besar, seperti kemudahan transaksi tanpa perlu repot membawa uang kembalian dan pencatatan otomatis di aplikasi. Namun, kekurangannya terletak pada kontrol diri yang sering kali melemah akibat iming-iming promo cashback. Ia menjelaskan bahwa promo tersebut merupakan strategi bisnis untuk membentuk kebiasaan belanja yang berkelanjutan (repeat order). Konsumen yang semula tidak butuh, akhirnya terdorong membeli hanya karena merasa mendapatkan diskon, padahal secara jangka panjang justru perusahaanlah yang paling diuntungkan. “Dalam jangka panjang, perilaku konsumtif naik karena terbentuk kebiasaan baru, yang semula bukan kebutuhan menjadi keinginan karena adanya promo, sehingga akhirnya terjadi repeat order secara terus-menerus,” jelasnya. Bahaya jangka panjang dari ilusi saldo digital ini adalah mentalitas keuangan yang menjadi tidak disiplin karena nilai uang terasa lebih abstrak. Tanpa adanya evaluasi berkala, terkhusus Gen Z berisiko mengalami defisit anggaran karena merasa saldonya masih mencukupi padahal pengeluaran harian sudah melampaui batas yang ditentukan. Sebagai langkah antisipasi hal itu, Rifqi menyarankan penggunaan satu aplikasi khusus untuk pembayaran harian. Supaya mempermudah rekapitulasi dan evaluasi pengeluaran bulanan. “Gunakan satu aplikasi khusus untuk transaksi QRIS, lalu biasakan mengecek rekap pengeluaran bulanan agar tujuan keuangan jangka panjang tetap terjaga dan tabungan tidak habis oleh pengeluaran kecil yang sering tidak terasa,” pungkasnya. Strategi ini diharapkan mampu membantu mahasiswa tetap menikmati kemudahan teknologi tanpa harus kehilangan kendali atas kondisi finansial mereka. Dengan perencanaan yang matang, Gen Z tetap bisa menjalani gaya hidup cashless yang bijak sekaligus aman dari jebakan konsumerisme berlebih. (diko)
Beri Kontribusi Nyata Dunia Internasional, UMM Lepas Mahasiswa KKN ke Malaysia

KLIKMU.CO — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya dalam memperluas pengabdian masyarakat ke ranah internasional melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional. Program ini menjadi langkah strategis UMM dalam memperluas kontribusi akademik dan sosial secara global. Pelepasan mahasiswa KKN Internasional ke Penang Malaysia berlangsung Selasa (20/1/2026) di ruang inovasi bidang 4 UMM. Sebanyak empat mahasiswa terpilih secara resmi dilepas dan dijadwalkan berangkat Rabu (21/1/2026). Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi MPsi PhD dalam sambutannya menegaskan bahwa KKN Internasional bukan sekadar pengabdian lintas negara, melainkan bagian dari strategi internasionalisasi UMM yang berbasis nilai dan kebermanfaatan nyata. Mahasiswa yang diberangkatkan membawa tanggung jawab sebagai representasi institusi di ruang global. “KKN Internasional ini menjadi pintu awal bagi UMM untuk menghadirkan pengabdian masyarakat yang tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga relevan secara internasional. Mahasiswa diharapkan mampu menunjukkan keunggulan akademik, kepekaan sosial, serta nilai-nilai kemuhammadiyahan dalam konteks lintas budaya,” ungkap Salis. Salis menjelaskan, dalam pelaksanaan KKN Internasional ini, UMM menggandeng PERMAI Malaysia (Persatuan Masyarakat Indonesia di Malaysia) sebagai mitra. Kerja sama ini dipilih karena komunitas PERMAI memiliki ikatan kultural dan emosional kuat dengan Indonesia, sehingga menjadi ruang tepat bagi mahasiswa UMM untuk menjalankan pengabdian berbasis lintas budaya. Sejalan dengan itu, Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UMM Prof Dr Ir Sutawi MP menuturkan bahwa KKN Internasional ini merupakan program perdana yang diinisiasi LPPM sebagai bentuk pengembangan skema pengabdian berbasis internasional. Program difasilitasi Bidang Kerja Sama di bawah koordinasi Wakil Rektor IV. Pada periode 2025–2026, UMM memfokuskan penguatan jejaring pengabdian di kawasan ASEAN, seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura. “Kami memulai dari kawasan terdekat agar model pengabdian ini matang dan terukur. Jika program perdana ini berjalan baik dan berdampak nyata, ke depan jejaring pengabdian UMM akan diperluas hingga luar kawasan ASEAN,” jelasnya. Sementara itu, Kepala Divisi Pengabdian LPPM UMM Dr Arina Restian MPd menyampaikan bahwa mahasiswa KKN Internasional tidak hanya menjalankan kegiatan sosial, tetapi juga menghasilkan luaran akademik yang konkret dan berkelanjutan. Luaran mencakup penyusunan buku sejarah diplomasi Malaysia berbasis komunitas, pengajuan Hak Kekayaan Intelektual dari riset fenomena sosial, serta publikasi artikel. “Kami mendorong mahasiswa menjadikan KKN Internasional sebagai ruang integrasi antara pengabdian, riset, dan publikasi. Pengalaman lintas budaya yang diperoleh diharapkan memberikan kontribusi akademik nyata bagi universitas dan masyarakat,” tuturnya. Ke depannya, UMM berharap jumlah peserta KKN Internasional meningkat seiring meluasnya jejaring mitra luar negeri. Program ini diharapkan menjadi salah satu program unggulan pengabdian internasional UMM yang berkelanjutan dan berorientasi pada solusi nyata. (Faqih/AS)
Super Flu: Viral di Media Sosial, Nyata di Dunia Medis
RBC Institute Beri Sentuhan Edukatif agar Masjid Lebih Ramah Anak

KLIKMU.CO — Di tengah derasnya arus gawai yang kian menjauhkan anak-anak dari ruang ibadah, Rumah Baca Cerdas Institute Abdul Malik Fadjar (RBC Institute AMF) bersama Masjid Baiturrahmah Sawojajar, Kota Malang, dan santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI-AMF) menghadirkan wajah berbeda pada masjid. Tak sekadar menjadi tempat salat, masjid juga dihadirkan sebagai ruang belajar yang ramah anak melalui kegiatan literasi dan pembinaan akhlak, Sabtu (18/1/2026). Kegiatan ini difokuskan pada pembentukan akhlak dan adab anak sebagai fondasi pendidikan sejak dini. Seluruh rangkaian aktivitas dikemas secara sederhana dan menyenangkan agar mudah diterima anak-anak. Metode yang digunakan meliputi kegiatan berkisah, bermain, permainan edukatif, serta berbagai aktivitas kreatif yang disesuaikan dengan usia dan karakter peserta. Pemilihan masjid sebagai lokasi kegiatan didasari pandangan bahwa masjid merupakan pusat peradaban sekaligus ruang pendidikan yang semestinya ramah anak. Fenomena anak-anak yang rajin ke masjid saat kecil namun cenderung menjauh ketika beranjak dewasa menjadi perhatian tersendiri. Karena itu, kegiatan ini dirancang untuk menjaga kedekatan anak dengan masjid sejak usia dini. Koordinator Program RBC Institute Abdul Malik Fadjar Manda Danastri menegaskan bahwa kehadiran literasi di masjid merupakan ikhtiar penting untuk menyeimbangkan perkembangan anak di tengah arus digital. “Anak-anak hari ini sangat dekat dengan gawai. Karena itu, masjid perlu dihadirkan sebagai ruang alternatif yang menyenangkan, aman, dan mendidik. Melalui literasi dan pembinaan akhlak, kami ingin anak-anak merasa bahwa masjid adalah rumah belajar yang ramah bagi mereka,” ujarnya. Dia menambahkan, kolaborasi antara ibu-ibu masjid dan pelajar IPM menjadi kekuatan utama dalam program tersebut. “Gerakan literasi akan lebih berdampak jika dilakukan bersama. Ketika masjid, komunitas, dan pelajar bergerak bersama, pembinaan akhlak dan budaya baca anak dapat tumbuh secara berkelanjutan,” katanya. Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) PPI-AMF Azhar Izzudin mengatakan keterlibatan IPM merupakan bentuk kontribusi pelajar dalam kegiatan sosial dan pendidikan masyarakat. “Kami datang sebagai relawan untuk membantu kegiatan rutin di masjid. Kami bekerja sama dengan RBC melalui mobil baca, mendampingi adik-adik membaca buku, mengenalkan gambar, dan bermain bersama,” ujarnya. Azhar menambahkan, momen yang paling berkesan bagi para relawan adalah saat mendampingi anak-anak membaca. “Ada adik-adik yang meminta dibacakan buku dan bertanya tentang gambarnya. Dari situ kami belajar mengenali karakter anak-anak,” katanya. Melalui kolaborasi ibu-ibu Masjid Baiturrahmah, RBC Institute Abdul Malik Fadjar, dan IPM PPI-AMF tingkat ranting, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan positif, meningkatkan minat literasi, serta mempererat kedekatan anak-anak dengan masjid secara berkelanjutan. (Faqih/AS)
Lawan Kecanduan Gawai, Masjid Baiturrahmah Malang Hadirkan Literasi Seru Demi Selamatkan Akhlak Anak

www.majelistabligh.id –Di tengah gempuran era digital yang seringkali menjauhkan generasi muda dari nilai-nilai spiritual, sebuah kolaborasi inspiratif lahir di sudut Kota Malang. Masjid Baiturrahmah Sawojajar mendadak riuh dengan keceriaan anak-anak pada Ahad (18/1/2026). Bukan sekadar berkumpul untuk ibadah ritual, mereka hadir untuk menyelami dunia literasi dalam balutan pembinaan karakter yang hangat. Inisiasi ini digerakkan oleh kolaborasi tiga pilar: Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar, pengurus Masjid Baiturrahmah, serta para santri dari Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI-AMF). Melalui kegiatan ini, masjid tidak lagi dipandang sebagai tempat yang kaku, melainkan bertransformasi menjadi laboratorium pendidikan yang menyenangkan bagi anak-anak. Fokus utama dari agenda ini adalah menanamkan adab dan akhlak sejak dini. Panitia menyadari bahwa mendidik anak-anak membutuhkan metode yang luwes. Alih-alih ceramah satu arah, materi disampaikan lewat rangkaian aktivitas kreatif seperti mendongeng, permainan edukatif yang menstimulasi logika, hingga berbagai simulasi karakter yang disesuaikan dengan jenjang usia peserta. Manda Danastri, selaku Koordinator Program RBC Institute AMF, memandang langkah ini sebagai ikhtiar mendesak di tengah ketergantungan anak terhadap gawai. “Masjid harus hadir sebagai alternatif ruang publik yang aman dan edukatif,” ujarnya. Manda menekankan bahwa literasi dan pembinaan akhlak adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan agar anak-anak merasa memiliki kedekatan emosional dengan masjid hingga mereka dewasa nanti. Satu hal yang menarik adalah pelibatan pelajar dari Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) PPI-AMF sebagai relawan lapangan. Kehadiran “Mobil Baca” milik RBC Institute menjadi magnet tersendiri. Di sana, para santri muda mendampingi adik-adik mereka mengeksplorasi ribuan judul buku, mulai dari buku cerita bergambar hingga literatur agama yang ringan. Azhar Izzudin, Ketua Umum PR IPM PPI-AMF, menceritakan pengalamannya dalam aksi sosial ini. Baginya, keterlibatan para pelajar adalah bentuk nyata kontribusi kepada masyarakat. Azhar mengisahkan bagaimana para relawan harus jeli memahami karakter tiap anak saat membacakan buku atau menjawab pertanyaan-pertanyaan polos tentang ilustrasi yang mereka lihat. Interaksi dua arah inilah yang kemudian menumbuhkan minat baca secara organik. Membangun Peradaban dari Serambi Masjid Keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari dukungan penuh ibu-ibu jamaah Masjid Baiturrahmah. Sinergi antara komunitas literasi, lembaga pendidikan, dan takmir masjid menciptakan sebuah ekosistem belajar yang berkelanjutan. Ada kekhawatiran umum bahwa anak-anak seringkali rajin ke masjid saat kecil namun perlahan menjauh saat menginjak usia remaja. Program ini dirancang khusus untuk memutus rantai tersebut. Dengan menjadikan masjid sebagai pusat peradaban dan literasi, diharapkan anak-anak di Kota Malang tidak hanya cerdas secara intelektual melalui hobi membaca, tetapi juga memiliki akar moral yang kuat. Kolaborasi ini menjadi pesan kuat bahwa pendidikan karakter terbaik dimulai dari tempat yang paling dekat dengan hati masyarakat yakni Masjid. (abdul fatah)
UMM Hadirkan Pengabdian Global Melalui Program KKN Internasional di Malaysia

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jangkauan pengabdian masyarakat hingga ke tingkat internasional melalui pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional.Program ini menjadi bagian dari strategi UMM dalam memperkuat kontribusi akademik dan sosial di kancah global. Pelepasan mahasiswa KKN Internasional tujuan Penang, Malaysia, dilaksanakan pada Selasa (20/01/2026) di Ruang Inovasi Bidang 4 UMM. Sebanyak empat mahasiswa terpilih secara resmi dilepas dan dijadwalkan bertolak ke Malaysia pada Rabu (21/01/2026). Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menyampaikan bahwa KKN Internasional tidak sekadar menjadi program pengabdian lintas negara, tetapi merupakan bagian dari agenda internasionalisasi UMM yang berlandaskan nilai kebermanfaatan. Ia menegaskan bahwa mahasiswa yang mengikuti program tersebut mengemban peran strategis sebagai duta institusi di ruang global. Menurutnya, KKN Internasional menjadi langkah awal bagi UMM dalam menghadirkan praktik pengabdian masyarakat yang berdampak luas dan relevan secara internasional. Mahasiswa diharapkan mampu menampilkan kompetensi akademik, kepekaan sosial, serta mengimplementasikan nilai-nilai kemuhammadiyahan dalam dinamika lintas budaya. Lebih lanjut, Salis menjelaskan bahwa pelaksanaan KKN Internasional ini melibatkan kerja sama dengan Persatuan Masyarakat Indonesia di Malaysia (Permai Malaysia). Kolaborasi tersebut dipilih karena karakter komunitas Permai yang dinilai unik. Meskipun telah berasimilasi sebagai warga Malaysia, komunitas ini tetap memiliki keterikatan kultural dan emosional yang kuat dengan Indonesia, sehingga menjadi ruang yang tepat bagi mahasiswa UMM untuk menjalankan pengabdian berbasis interaksi lintas budaya. Hal senada disampaikan Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMM, Prof. Dr. Ir. Sutawi, MP., yang menyebut bahwa KKN Internasional ini merupakan program perdana yang diinisiasi oleh LPPM sebagai upaya pengembangan skema pengabdian berskala internasional. Program tersebut difasilitasi oleh Bidang Kerja Sama di bawah koordinasi Wakil Rektor IV. Pada periode 2025–2026, UMM akan memprioritaskan penguatan jejaring pengabdian di kawasan ASEAN, meliputi Malaysia, Thailand, dan Singapura. Ia menjelaskan bahwa pemilihan kawasan ASEAN sebagai fokus awal bertujuan agar model pengabdian yang dikembangkan dapat berjalan secara matang dan terukur. Apabila program awal ini berhasil dan memberikan dampak signifikan, UMM berencana memperluas jejaring pengabdian hingga ke kawasan di luar ASEAN. Sementara itu, Kepala Divisi Pengabdian LPPM UMM, Dr. Arina Restian, M.Pd., menuturkan bahwa peserta KKN Internasional tidak hanya melaksanakan aktivitas sosial, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan luaran akademik yang berkelanjutan. Luaran tersebut meliputi penyusunan buku sejarah diplomasi Malaysia berbasis komunitas, pengajuan Hak Kekayaan Intelektual dari hasil kajian fenomena sosial, serta publikasi ilmiah. Melalui pendekatan integratif antara pengabdian, riset, dan publikasi, mahasiswa diharapkan mampu mengonversi pengalaman lintas budaya menjadi kontribusi akademik yang konkret bagi universitas maupun masyarakat. Ke depan, UMM menargetkan peningkatan jumlah peserta KKN Internasional seiring dengan bertambahnya mitra luar negeri. Program ini diharapkan menjadi salah satu unggulan pengabdian internasional UMM yang berkelanjutan dan berorientasi pada solusi nyata.(*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Zahrah Khairani Karim