UMM Berangkatkan Dosen dan Mahasiswa ke Eropa Lewat Erasmus+
Penuh Tantangan, bangga terbitkan bacawarta+
Data Terbaru! 15 Kampus Swasta Terbaik 2026 Versi Webometrics, Kamu Pilih yang Mana?

Jabaribernews — Calon mahasiswa yang ingin kuliah tahun ini perlu punya strategi cadangan. Jika perguruan tinggi negeri (PTN) incaran belum berhasil, universitas swasta terbaik bisa jadi pilihan tepat. Webometrics 2026 baru saja merilis daftar perguruan tinggi swasta terbaik di Indonesia, menilai kualitas akademik, riset, keterbukaan, hingga reputasi global. “Pemeringkatan ini bisa menjadi referensi untuk menentukan kampus yang tepat, sekaligus memperbesar peluang karier di masa depan,” tulis Webometrics dalam laporan resminya, Minggu (18/1/2026). Pemeringkatan Universitas Swasta: Mengapa Penting? Webometrics melakukan pemeringkatan setiap enam bulan, pada Januari dan Juli. Indikatornya mencakup kualitas riset, publikasi ilmiah, serta visibilitas dan dampak digital kampus. Dengan data ini, calon mahasiswa bisa menilai universitas bukan hanya dari nama, tapi juga kinerja akademik dan pengaruh global. Selain itu, peringkat ini memengaruhi reputasi lulusan di mata perusahaan dan organisasi, sehingga pilihan kampus yang tepat bisa membuka peluang karier lebih luas. 15 Universitas Swasta Terbaik di Indonesia Versi Webometrics 2026 Berikut daftar 15 universitas swasta terbaik, beserta peringkat nasional dan global: Telkom University – Nasional: 9 | Global: 1.164 Universitas Bina Nusantara (Binus University) – Nasional: 13 | Global: 1.371 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) – Nasional: 19 | Global: 1.768 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) – Nasional: 20 | Global: 1.824 Universitas Meda Area – Nasional: 24 | Global: 2.153 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) – Nasional: 27 | Global: 2.397 Universitas Pelita Harapan – Nasional: 33 | Global: 2.656 Universitas Kristen Satya Wacana – Nasional: 36 | Global: 2.836 Universitas Katolik Parahyangan – Nasional: 38 | Global: 3.081 Universitas Gunadarma – Nasional: 39 | Global: 3.085 Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta – Nasional: 45 | Global: 3.224 Universitas Islam Malang – Nasional: 46 | Global: 3.307 Universitas Islam Indonesia (UII) – Nasional: 47 | Global: 3.333 Universitas Surabaya (Ubaya) – Nasional: 48 | Global: 3.398 Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya – Nasional: 50 | Global: 3.417 Telkom University kembali memimpin daftar universitas swasta dengan reputasi global yang kuat, sementara universitas Muhammadiyah mendominasi daftar sebagai pilihan favorit bagi calon mahasiswa yang mengutamakan kualitas pendidikan dan nilai keagamaan. Memilih Kampus: Lebih dari Sekadar Peringkat Selain peringkat, calon mahasiswa perlu menimbang program studi, fasilitas, dan budaya kampus. Pilihan kampus yang tepat akan memengaruhi pengalaman belajar dan prospek karier. Dengan daftar ini, calon mahasiswa bisa menilai universitas dari kualitas akademik, peluang riset, dan jaringan profesional yang tersedia. Bagi kamu yang belum lolos PTN, daftar ini bisa menjadi panduan untuk menentukan pilihan kampus swasta terbaik agar masa kuliahmu produktif dan penuh peluang.***
Data Terbaru! 15 Kampus Swasta Terbaik 2026 Versi Webometrics, Kamu Pilih yang Mana?

JAKARTA, KalderaNews.com – Bagi kamu pejuang masuk perguruan tinggi, inilah 15 kampus swasta terbaik 2026 versi Webometrics. Mana pilihan kamu? Webometrics, lembaga pemeringkatan universitas dunia, baru saja merilis daftar terbaru periode Januari 2026 yang membuktikan bahwa kualitas kampus swasta di Indonesia kini semakin kompetitif, bahkan mampu bersaing di level global. Pemeringkatan Webometrics yang diperbarui setiap enam bulan ini bukan sekadar angka. Penilaian tersebut didasarkan pada keunggulan riset, keterbukaan informasi, hingga performa akademik yang mencerminkan kualitas fasilitas dan prospek karier lulusannya di mata perusahaan. Alasan pilih kampus swasta Banyak calon mahasiswa menjadikan Universitas Swasta (PTS) sebagai strategi cadangan. Namun, dengan reputasi yang terus menanjak, deretan PTS terbaik ini seringkali memiliki fasilitas yang lebih modern dan jejaring industri yang lebih luas dibanding beberapa kampus negeri. Berikut 15 kampus swasta terbaik di Indonesia versi Webometrics (Januari 2026) secara berurutan: Telkom University Universitas Bina Nusantara (Binus) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Universitas Medan Area Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Universitas Pelita Harapan (UPH) Universitas Kristen Satya Wacana Universitas Katolik Parahyangan Universitas Gunadarma Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta Universitas Islam Malang Universitas Islam Indonesia (UII) Universitas Surabaya (Ubaya) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
Akar Konflik AS vs Venezuela dan Dampaknya bagi Indonesia

KLIKMU.CO – Konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela tidak dapat dipahami secara sederhana. Ketegangan kedua negara ini melibatkan beragam lapisan, mulai dari ideologi, politik, ekonomi, hingga kepentingan geopolitik global. Hal tersebut disampaikan Azza Bimantara MA, Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), saat mengulas dinamika hubungan AS–Venezuela yang kembali memanas beberapa waktu terakhir. Azza menjelaskan bahwa akar konflik dapat ditelusuri sejak era kepemimpinan Hugo Chávez yang terpilih sebagai Presiden Venezuela pada 1998. Chávez menerapkan kebijakan ekonomi sosialis, salah satunya melalui nasionalisasi sektor minyak yang sebelumnya dikuasai perusahaan asing. “Kebijakan ini secara ideologis bertolak belakang dengan model ekonomi Amerika Serikat yang neoliberal dan sangat mengedepankan kepentingan perusahaan multinasional,” jelasnya, Sabtu (17/1/2026). Hasil nasionalisasi minyak kemudian dialokasikan untuk kebijakan populis, seperti pengentasan kemiskinan serta peningkatan akses layanan kesehatan dan pendidikan. Namun, langkah ini justru membuat Venezuela dipandang sebagai ancaman ideologis oleh Amerika Serikat. “Sejak saat itu, Venezuela mulai diantagonisasi melalui berbagai tekanan, mulai dari pemboikotan hingga pembatasan akses ekonomi internasional,” ujar Azza. Kompleksitas konflik semakin meningkat ketika Venezuela menjalin hubungan erat dengan Kuba, serta kekuatan besar lain seperti Tiongkok dan Rusia. Menurut Azza, kedekatan ini dipersepsikan Amerika Serikat sebagai ancaman geopolitik, terutama mengingat Venezuela memiliki cadangan minyak yang sangat besar. “Venezuela merupakan negara dengan cadangan energi strategis. Kedekatannya dengan Tiongkok dan Rusia jelas dipandang mengganggu kepentingan Amerika Serikat,” katanya. Tekanan politik Amerika Serikat terus berlanjut hingga era kepemimpinan Nicolás Maduro. Maduro dinilai melanjutkan bahkan memperkuat kebijakan Chávez dengan gaya kepemimpinan lebih otoriter. Dukungan Barat terhadap oposisi Venezuela, termasuk Maria Corina Machado, turut memperuncing konflik. “Dukungan terbuka Amerika Serikat terhadap oposisi menunjukkan adanya upaya perubahan rezim yang semakin nyata,” ungkap Azza. Dari perspektif energi, Azza menegaskan bahwa minyak menjadi faktor kunci dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa keamanan energi merupakan fondasi utama stabilitas ekonomi AS. “Amerika Serikat belajar dari krisis minyak 1970-an bahwa ketergantungan energi harus dikendalikan. Karena itu, akses terhadap minyak Venezuela menjadi kepentingan strategis,” jelasnya. Ia juga menyinggung pernyataan Presiden AS pasca penangkapan Nicolás Maduro yang secara terbuka menyampaikan keinginan untuk mengelola minyak Venezuela. Terkait dampaknya bagi Indonesia, Azza menilai belum terlihat efek signifikan dalam jangka pendek. “Hingga saat ini belum ada perubahan besar dalam tata kelola sektor energi Venezuela. Pertamina juga memastikan operasi migas di Venezuela masih berjalan normal,” katanya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dampak jangka panjang tetap perlu dicermati seiring dinamika konflik yang terus berkembang. Azza menutup dengan menekankan pentingnya konflik ini sebagai bahan pembelajaran bagi mahasiswa Hubungan Internasional. “Kasus Amerika Serikat dan Venezuela menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak pernah lepas dari kepentingan ekonomi dan energi. Ini menjadi peluang besar bagi mahasiswa HI untuk mengkaji isu global secara lebih komprehensif,” pungkasnya. (Faqih/AS)
15 Universitas Swasta Terbaik di Indonesia Versi Webometrics 2026

KONTEKS.CO.ID – Webometrics kembali merilis pemeringkatan universitas dunia edisi Januari 2026. Lembaga independen ini menggunakan metodologi Webometrics yang telah teruji untuk menilai kinerja perguruan tinggi berdasarkan kehadiran web, keterbukaan, dampak, serta keunggulan akademik dan riset. Dalam daftar peringkat universitas swasta di Indonesia, sejumlah perguruan tinggi nasional berhasil menembus jajaran atas, baik di tingkat nasional maupun global. Penilaian ini menjadi indikator penting dalam mengukur daya saing institusi pendidikan tinggi Indonesia di kancah internasional. Berdasarkan data Webometrics Januari 2026, Telkom University menempati posisi teratas di antara universitas swasta Indonesia dengan peringkat nasional ke-9 dan peringkat global ke-1.164. Lembaga independen ini menilai perguruan tinggi berdasarkan visibilitas web, keterbukaan, dampak riset, dan keunggulan akademik. Telkom University menempati posisi teratas di antara universitas swasta Indonesia dengan peringkat nasional ke-9 dan peringkat global ke-1.164. Posisi kedua ditempati Universitas Bina Nusantara (BINUS University) dengan peringkat nasional ke-13 dan peringkat global ke-1.371. Sementara itu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berada di peringkat nasional ke-19 dan global ke-1.768. Selanjutnya, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menempati peringkat nasional ke-20 dan global ke-1.824. Universitas Medan Area juga masuk jajaran 5 besar universitas swasta dengan peringkat nasional ke-24 dan global ke-2.153. Berikut daftar 15 universitas swasta terbaik di Indonesia versi Webometrics Januari 2026: 1. Telkom University Peringkat Nasional: 9 Peringkat Global: 1.164 2. Universitas Bina Nusantara (BINUS University) Peringkat Nasional: 13 Peringkat Global: 1.371 3. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Peringkat Nasional: 19 Peringkat Global: 1.768 4. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Peringkat Nasional: 20 Peringkat Global: 1.824 5. Universitas Medan Area Peringkat Nasional: 24 Peringkat Global: 2.153 6. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Peringkat nasional: 27 Peringkat global: 2.397 \ 7. Universitas Pelita Harapan (UPH) Peringkat Nasional: 33 Peringkat Global: 2.656 8. Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Peringkat Nasional: 36 Peringkat Global: 2.836 9. Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Peringkat Nasional: 38 Peringkat Global: 3.081 10. Universitas Gunadarma Peringkat Nasional: 39 Peringkat Global: 3.085 11. Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta Peringkat Nasional: 45 Peringkat Global: 3.224 12. Universitas Islam Malang (Unisma) Peringkat Nasional: 46 Peringkat Global: 3.307 13. Universitas Islam Indonesia (UII) Peringkat Nasional: 47 Peringkat Global: 3.333 14. Universitas Surabaya (UBAYA) Peringkat Nasional: 48 Peringkat Global: 3.398 15. Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) Peringkat Nasional: 50 Peringkat Global: 3.417.***
Dosen HI UMM Kupas Ketegangan AS–Venezuela, Indonesia Diminta Tetap Waspada

JATIMTIMES – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela bukan sekadar drama dua negara yang bersitegang. Di baliknya, tersimpan simpul rumit kepentingan ideologi, energi, hingga perebutan pengaruh global. Dinamika itulah yang diulas dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Azza Bimantara, M.A., saat membedah kembali relasi panas Washington, Caracas yang belakangan kembali mencuat. Menurut Azza, konflik ini berakar jauh ke belakang, tepatnya sejak Hugo Chávez memenangkan pemilihan presiden Venezuela pada 1998. Chávez membawa arah baru: ekonomi sosialis dengan kebijakan berani, termasuk nasionalisasi industri minyak yang sebelumnya dikuasai perusahaan asing. Langkah tersebut langsung berbenturan dengan kepentingan Amerika Serikat. “Secara ideologis, kebijakan Chávez berseberangan dengan sistem ekonomi Amerika Serikat yang neoliberal dan pro korporasi multinasional,” jelas Azza, Sabtu, (17/1/2026). Pendapatan dari sektor minyak kemudian digunakan pemerintah Venezuela untuk program sosial, mulai dari pengentasan kemiskinan hingga perluasan akses pendidikan dan layanan kesehatan. Namun, kebijakan populis ini justru memantik resistensi dari AS. Venezuela perlahan ditempatkan sebagai musuh ideologis. “Sejak itu, tekanan mulai diberikan, baik dalam bentuk pemboikotan, sanksi, hingga pembatasan akses ekonomi internasional,” ungkapnya. Situasi makin kompleks ketika Venezuela mempererat hubungan dengan Kuba, serta menjalin kemitraan strategis dengan Tiongkok dan Rusia. Bagi Amerika Serikat, kedekatan tersebut bukan sinyal biasa. “Venezuela memiliki cadangan energi yang sangat strategis. Ketika negara ini mendekat ke Tiongkok dan Rusia, tentu itu dipersepsikan mengganggu kepentingan geopolitik Amerika Serikat,” kata Azza. Ketegangan tidak mereda ketika tongkat estafet kekuasaan beralih ke Nicolás Maduro. Justru sebaliknya. Maduro dinilai melanjutkan, bahkan memperkeras, arah kebijakan Chávez dengan gaya kepemimpinan yang lebih sentralistik. Dukungan terbuka Barat terhadap oposisi Venezuela, termasuk Maria Corina Machado, turut memperkeruh keadaan. “Sikap Amerika Serikat yang terang-terangan mendukung oposisi menunjukkan indikasi kuat adanya agenda perubahan rezim,” ujarnya lugas. Dari sudut pandang energi global, Azza menekankan bahwa minyak adalah kunci utama membaca sikap Amerika Serikat. Keamanan energi, kata dia, menjadi fondasi stabilitas ekonomi negeri Paman Sam. “Amerika Serikat belajar banyak dari krisis minyak era 1970-an. Sejak itu, akses dan kontrol terhadap sumber energi strategis, termasuk minyak Venezuela, menjadi kepentingan utama,” paparnya. Ia juga menyinggung pernyataan presiden AS pasca penangkapan Nicolás Maduro yang secara terbuka menyatakan minat untuk mengelola minyak Venezuela. Lalu, bagaimana dampaknya bagi Indonesia? Azza menilai, untuk saat ini, efek langsungnya belum terasa signifikan. “Belum ada perubahan besar dalam pengelolaan sektor energi Venezuela. Pertamina juga memastikan bahwa aktivitas migas Indonesia di sana masih berjalan normal,” jelasnya. Meski begitu, ia mengingatkan agar Indonesia tidak lengah, mengingat konflik geopolitik kerap berdampak jangka panjang. Menutup ulasannya, Azza menegaskan bahwa konflik AS-Venezuela layak menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa Hubungan Internasional. “Kasus ini menunjukkan bahwa geopolitik selalu berkaitan erat dengan ekonomi dan energi. Ini peluang penting bagi mahasiswa HI untuk membaca isu global secara lebih utuh dan kritis,” pungkasnya.
UMM Bekali Mahasiswa dan Dosen Penerima Erasmus+ Jelang Mobilitas Internasional

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui International Relations Office (IRO) menggelar Pre-Departure Orientation bagi mahasiswa dan dosen penerima program Erasmus+, Kamis (15/1/2026). Kegiatan yang berlangsung di GKB 4 Lantai 1 tersebut menjadi bagian dari persiapan sebelum peserta menjalani mobilitas akademik ke sejumlah perguruan tinggi mitra di Eropa. Sebanyak lima mahasiswa UMM yang mengikuti skema student mobility serta empat dosen penerima teaching mobility hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka dijadwalkan menjalani aktivitas akademik di kampus mitra luar negeri dalam waktu dekat. Program Erasmus+ merupakan program mobilitas internasional yang didanai oleh Uni Eropa dan mencakup bidang pendidikan, pelatihan, kepemudaan, serta olahraga. Melalui program ini, mahasiswa dan dosen memperoleh kesempatan mengikuti pembelajaran, pengajaran, serta pertukaran pengalaman akademik dalam lingkungan internasional. Kepala IRO UMM, Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, MP, menjelaskan bahwa seleksi peserta Erasmus+ dilakukan melalui tahapan yang ketat. Proses dimulai dari kerja sama resmi dengan universitas mitra, pembukaan pendaftaran, seleksi administrasi dan wawancara, hingga persetujuan akhir dari institusi tujuan. Setiap peserta juga wajib mendapatkan rekomendasi dari program studi masing-masing. “Kami memastikan peserta yang berangkat telah siap secara akademik, administratif, dan kultural, sehingga mampu beradaptasi serta menjaga reputasi UMM di tingkat internasional,” ujarnya. Ia menambahkan, saat ini UMM memiliki 14 mitra aktif dalam program Erasmus+ dengan skema outbound dan inbound. Seluruh pendanaan mobilitas berada di bawah Uni Eropa. UMM juga menetapkan kriteria khusus bagi mahasiswa peserta, yakni minimal semester tiga dan maksimal semester lima, agar proses konversi mata kuliah dapat berjalan optimal setelah peserta kembali ke kampus. Sebagai bentuk dukungan institusi, UMM memberikan pembebasan biaya SPP selama satu semester bagi mahasiswa outbound, memfasilitasi konversi nilai, serta menyiapkan bentuk apresiasi tambahan melalui unit kemahasiswaan. Dukungan ini diharapkan dapat membantu mahasiswa fokus menjalani program tanpa kendala administratif maupun finansial. Selain Erasmus+, UMM terus mendorong agenda internasionalisasi melalui penguatan kelas internasional, pengembangan micro-credential, serta pembelajaran daring lintas negara. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring global dan meningkatkan kehadiran mahasiswa internasional di lingkungan kampus. Sementara itu, Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menegaskan bahwa mobilitas internasional merupakan salah satu strategi utama UMM dalam meningkatkan mutu pendidikan dan daya saing global. Ia berharap mahasiswa dan dosen penerima Erasmus+ dapat memanfaatkan kesempatan tersebut secara maksimal. “Peserta diharapkan mampu membangun jejaring internasional serta membawa pulang praktik-praktik baik yang dapat dikembangkan di UMM,” ujarnya. UMM berkomitmen untuk terus memperluas kerja sama internasional sebagai bagian dari upaya mencetak lulusan berwawasan global, kompetitif, dan tetap berlandaskan nilai keislaman serta kemuhammadiyahan. (raf) Sumber: Rilis Berita UMM
Dosen UMM Kupas Akar Konflik AS-Venezuela dan Dampaknya Bagi Indonesia

Malang (beritajatim.com) – Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela kembali menyita perhatian dunia. Konflik yang terjadi di antara kedua negara ini dinilai bukan sekadar perselisihan diplomatik biasa, melainkan sebuah pertarungan kompleks yang melibatkan ideologi, ekonomi, hingga kepentingan geopolitik global. Hal tersebut diungkapkan oleh Azza Bimantara, M.A., Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam analisisnya, Azza membedah lapisan-lapisan konflik yang menjadikan hubungan Washington dan Caracas terus memanas, serta bagaimana dampaknya terhadap negara lain, termasuk Indonesia. Menurut Azza, untuk memahami situasi saat ini, kita harus melihat ke belakang, tepatnya sejak era kepemimpinan Hugo Chávez yang terpilih pada tahun 1998. Chávez membawa perubahan radikal dengan menerapkan kebijakan ekonomi sosialis, yang paling mencolok adalah nasionalisasi sektor minyak, sektor yang sebelumnya didominasi oleh perusahaan asing. “Kebijakan ini secara ideologis bertolak belakang dengan model ekonomi Amerika Serikat yang neoliberal dan sangat mengedepankan kepentingan perusahaan multinasional,” jelas Azza, kepada beritajatim.com, Sabtu (17/1/2026). Hasil dari pengambilalihan kendali minyak tersebut kemudian diarahkan Chávez untuk kebijakan populis, seperti pengentasan kemiskinan serta peningkatan akses pendidikan dan kesehatan gratis. Sayangnya, langkah pro-rakyat ini justru dipersepsikan sebagai ancaman ideologis oleh Washington. Sejak saat itulah, narasi antagonisme terhadap Venezuela mulai dibangun melalui berbagai tekanan, mulai dari pemboikotan hingga pembatasan akses ekonomi di kancah internasional. Kompleksitas masalah kian meruncing ketika Venezuela tidak berjalan sendirian. Negara Amerika Latin ini menjalin hubungan erat dengan Kuba, serta kekuatan global pesaing AS, yakni Tiongkok dan Rusia. Azza menyoroti bahwa kedekatan ini dianggap AS sebagai ancaman geopolitik serius. Hal ini tidak lepas dari fakta bahwa Venezuela adalah pemegang cadangan minyak terbesar di dunia. “Venezuela merupakan negara dengan cadangan energi strategis. Kedekatannya dengan Tiongkok dan Rusia jelas dipandang mengganggu kepentingan Amerika Serikat,” tegasnya. Era Maduro dan Motif Energi Amerika Serikat Tekanan politik AS berlanjut dan semakin intensif di era kepemimpinan Nicolás Maduro. Maduro dinilai tidak hanya melanjutkan kebijakan Chávez, tetapi juga memperkuatnya dengan gaya kepemimpinan yang lebih otoriter. Situasi ini dimanfaatkan Barat untuk mendukung kubu oposisi, termasuk tokoh Maria Corina Machado. “Dukungan terbuka Amerika Serikat terhadap oposisi menunjukkan adanya upaya perubahan rezim (regime change) yang semakin nyata,” ungkap Azza. Lebih jauh, Azza menegaskan bahwa faktor energi adalah kunci utama dalam memahami kebijakan luar negeri AS terhadap Venezuela. Stabilitas ekonomi AS sangat bergantung pada keamanan energi. Azza mengingatkan bahwa AS belajar banyak dari krisis minyak tahun 1970-an, di mana ketergantungan energi harus dikendalikan dengan ketat. “Karena itu, akses terhadap minyak Venezuela menjadi kepentingan strategis,” jelasnya. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Presiden AS pasca penangkapan Nicolás Maduro, yang secara terbuka menyatakan keinginan untuk mengelola minyak Venezuela. Lantas, bagaimana dampaknya bagi Indonesia? Azza menilai bahwa dalam jangka pendek, efeknya belum terasa signifikan. “Hingga saat ini belum ada perubahan besar dalam tata kelola sektor energi Venezuela. Pertamina juga memastikan bahwa operasi migas di Venezuela masih berjalan normal,” ujarnya. Namun, ia tetap memperingatkan agar Indonesia terus mencermati dinamika ini, mengingat dampak jangka panjang konflik geopolitik bisa berubah sewaktu-waktu. Menutup analisisnya, Azza menekankan bahwa kasus AS–Venezuela adalah materi pembelajaran yang sangat berharga bagi akademisi. “Kasus Amerika Serikat dan Venezuela menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak pernah lepas dari kepentingan ekonomi dan energi. Ini menjadi peluang besar bagi mahasiswa HI untuk mengkaji isu global secara lebih komprehensif,” pungkasnya. (dan/kun)
UMM dan Umsura Tembus 20 Besar Kampus Terbaik di Jatim Versi Webometrics 2026

pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura ) masuk 20 universitas terbaik di Jatim berdasarkan pemeringkatan Webometrics edisi Januari 2026. Dengan data pemeringkatan ini bisa melihat kualitas dan daya saing sebuah kampus, baik di tingkat nasional maupun global. Salah satu pemeringkatan internasional terbaru dirilis oleh Webometrics. Lembaga pemeringkatan internasional itu baru saja merilis pemeringkatan edisi Januari 2026. Pada edisi Januari 2026, Webometrics kembali merilis pemeringkatan universitas dunia, termasuk perguruan tinggi di Indonesia. Hasil pemeringkatan tersebut memberikan gambaran tentang peta persaingan kampus nasional, sekaligus menunjukkan daerah-daerah yang memiliki kontribusi kuat dalam pengembangan pendidikan tinggi. Di Jatim, sejumlah perguruan tinggi tampil menonjol dan masuk jajaran kampus terbaik nasional versi Webometrics. Kampus-kampus tersebut tersebar di berbagai kota, mulai dari Surabaya, Malang hingga Madura. Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember tercatat sebagai kampus dengan peringkat dunia tertinggi di Jawa Timur. Ketiganya menunjukkan konsistensi dalam aspek riset, visibilitas akademik, serta kontribusi ilmiah yang berdampak luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Selain perguruan tinggi besar, sejumlah kampus kecil di Jawa Timur juga mencatatkan performa positif. Hal ini menunjukkan ekosistem pendidikan tinggi di provinsi ini terus berkembang dan tidak hanya bertumpu pada segelintir institusi. Pemeringkatan Webometrics ini dapat menjadi bahan pertimbangan awal bagi calon mahasiswa dan orang tua dalam memilih perguruan tinggi. Universitas Muhammadiyah Surabaya. Foto: Umsura Berikut daftar 20nkampus terbaik di Jatim versi Webometrics edisi Januari 2026: 1. Universitas Airlangga World Rank: 590 Impact Rank: 694 Opennes Rank: 27720 Excellence Rank: 1056 2. Universitas Brawijaya World Rank: 747 Impact Rank: 572 Opennes Rank: 822 Excellence Rank: 1905 3. Institut Teknologi Sepuluh Nopember World Rank: 888 Impact Rank: 932 Opennes Rank: 1119 Excellence Rank: 1892 4. Universitas Negeri Malang World Rank: 951 Impact Rank: 1005 Opennes Rank: 948 Excellence Rank: 2438 5. Universitas Islam Malang World Rank: 1913 Impact Rank: 1409 Opennes Rank: 1960 Excellence Rank: 5694 6. Universitas Jember World Rank: 1423 Impact Rank: 1070 Opennes Rank: 1276 Excellence Rank: 3654 7. Universitas Negeri Surabaya World Rank: 1340 Impact Rank: 1523 Opennes Rank: 1153 Excellence Rank: 3981 8. Politeknik Elektronika Negeri Surabaya World Rank: 1985 Impact Rank: 2481 Opennes Rank: 2906 Excellence Rank: 5115 9. Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya World Rank: 1921 Impact Rank: 3793 Opennes Rank: 2629 Excellence Rank: 4728 10. Universitas Muhammadiyah Malang World Rank: 1291 Impact Rank: 904 Opennes Rank: 1526 Excellence Rank: 3634 11. Universitas Surabaya World Rank: 2063 Impact Rank: 5313 Opennes Rank: 2262 Excellence Rank: 4191 12. Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya World Rank: 2112 Impact Rank: 3526 Opennes Rank: 2756 Excellence Rank: 4730 13. Universitas Muhammadiyah Surabaya World Rank: 2290 Impact Rank: 2371 Opennes Rank: 2674 Excellence Rank: 5984 14. Petra Christian University World Rank: 1974 Impact Rank: 2977 Opennes Rank: 28811 Excellence Rank: 4575 15. Universitas Katolik Widya Karya Malang World Rank: 2415 Impact Rank: 3349 Opennes Rank: 30112 Excellence Rank: 4871 16. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya World Rank: 2611 Impact Rank: 5561 Opennes Rank: 29862 Excellence Rank: 5971 17. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur World Rank: 1738 Impact Rank: 1844 Opennes Rank: 2087 Excellence Rank: 4421 18. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang World Rank: 1300 Impact Rank: 957 Opennes Rank: 29323 Excellence Rank: 4053 19. Universitas Trunojoyo Madura World Rank: 1689 Impact Rank: 1751 Opennes Rank: 3487 Excellence Rank: 4512 20. Universitas Dr Soetomo World Rank: 2746 Impact Rank: 4012 Opennes Rank: 32210 Excellence Rank: 5231.