AS vs Venezuela, Akademisi UMM: Konflik Geopolitik Kepentingan Ekonomi dan Energi

MALANG POST – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela tidak dapat dipahami secara sederhana. Ketegangan kedua negara ini melibatkan beragam lapisan, mulai dari ideologi, politik, ekonomi, hingga kepentingan geopolitik global. Hal tersebut disampaikan Azza Bimantara, M.A., Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat mengulas dinamika hubungan AS–Venezuela yang kembali memanas dalam beberapa waktu terakhir. Azza menjelaskan bahwa akar konflik dapat ditelusuri sejak era kepemimpinan Hugo Chávez yang terpilih sebagai Presiden Venezuela pada 1998. Chávez menerapkan kebijakan ekonomi sosialis, salah satunya melalui nasionalisasi sektor minyak yang sebelumnya dikuasai perusahaan asing. “Kebijakan ini secara ideologis bertolak belakang dengan model ekonomi Amerika Serikat yang neoliberal dan sangat mengedepankan kepentingan perusahaan multinasional,” jelasnya. Hasil nasionalisasi minyak tersebut kemudian dialokasikan untuk kebijakan populis. Seperti pengentasan kemiskinan serta peningkatan akses layanan kesehatan dan pendidikan. Namun, langkah ini justru membuat Venezuela dipandang sebagai ancaman ideologis oleh Amerika Serikat. “Sejak saat itu, Venezuela mulai diantagonisasi melalui berbagai tekanan, mulai dari pemboikotan hingga pembatasan akses ekonomi internasional,” ujarnya. Kompleksitas konflik semakin meningkat ketika Venezuela menjalin hubungan erat dengan Kuba, serta kekuatan besar lain seperti Tiongkok dan Rusia. Menurut Azza, kedekatan ini dipersepsikan Amerika Serikat sebagai ancaman geopolitik. Terutama mengingat Venezuela memiliki cadangan minyak yang sangat besar. “Venezuela merupakan negara dengan cadangan energi strategis. Kedekatannya dengan Tiongkok dan Rusia jelas dipandang mengganggu kepentingan Amerika Serikat,” katanya. Tekanan politik Amerika Serikat terus berlanjut hingga era kepemimpinan Nicolás Maduro. Maduro dinilai melanjutkan, bahkan memperkuat, kebijakan Chávez dengan gaya kepemimpinan yang lebih otoriter. Dukungan Barat terhadap oposisi Venezuela, termasuk Maria Corina Machado, turut memperuncing konflik. “Dukungan terbuka Amerika Serikat terhadap oposisi menunjukkan adanya upaya perubahan rezim yang semakin nyata,” ungkap Azza. Dari perspektif energi, Azza menegaskan bahwa minyak menjadi faktor kunci dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa keamanan energi merupakan fondasi utama stabilitas ekonomi AS. “Amerika Serikat belajar dari krisis minyak 1970-an bahwa ketergantungan energi harus dikendalikan. Karena itu, akses terhadap minyak Venezuela menjadi kepentingan strategis,” jelasnya. Ia juga menyinggung pernyataan Presiden AS pasca penangkapan Nicolás Maduro yang secara terbuka menyampaikan keinginan untuk mengelola minyak Venezuela. Terkait dampaknya bagi Indonesia, Azza menilai belum terlihat efek signifikan dalam jangka pendek. “Hingga saat ini belum ada perubahan besar dalam tata kelola sektor energi Venezuela. Pertamina juga memastikan bahwa operasi migas di Venezuela masih berjalan normal,” katanya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dampak jangka panjang tetap perlu dicermati seiring dinamika konflik yang terus berkembang. Azza menutup dengan menekankan pentingnya konflik ini sebagai bahan pembelajaran bagi mahasiswa Hubungan Internasional. “Kasus Amerika Serikat dan Venezuela menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak pernah lepas dari kepentingan ekonomi dan energi. Ini menjadi peluang besar bagi mahasiswa HI untuk mengkaji isu global secara lebih komprehensif,” pungkasnya(*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)

Maknai Isra’ Mi’raj, Dosen PAI UMM Posisikan Shalat sebagai Kompas Kesadaran

I’anatut Thoifah MPdI, dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Peringatan Isra’ Mi’raj tidak hanya menjadi agenda keagamaan tahunan, tetapi juga momentum untuk merefleksikan arah hidup mahasiswa di tengah tekanan akademik. Namun, sering kali tersimpan pesan penting yang jarang dibahas, yaitu bagaimana shalat seharusnya menjadi pengatur ritme hidup manusia, termasuk bagi mahasiswa. Hal ini disampaikan oleh I’anatut Thoifah MPdI, dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, Isra’ Mi’raj bukan hanya peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari bumi ke langit, melainkan pesan kuat tentang bagaimana manusia menguatkan diri di tengah krisis. “Isra’ Mi’raj terjadi ketika Rasulullah berada di titik paling berat secara psikologis. Ini menunjukkan bahwa ketika manusia berada di titik paling lemah, Allah justru menguatkan dengan pendekatan spiritual,” ujar I’ana. Ia menilai kondisi tersebut sangat relevan dengan realitas mahasiswa hari ini. Tekanan akademik, kecemasan akan masa depan, hingga kelelahan mental sering kali tidak bisa diselesaikan hanya dengan strategi akademik atau materiil. Spiritualitas, menurutnya, menjadi sumber ketenangan yang kerap diabaikan. Lebih lanjut, I’ana menyampaikan bahwa keistimewaan Isra’ Mi’raj terletak pada satu ibadah yang ditetapkan di dalamnya, yaitu shalat. Berbeda dengan ibadah lain yang diperintahkan melalui wahyu, shalat justru “dijemput” langsung oleh Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Mi’raj. “Shalat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan tanpa perantara malaikat Jibril. Itu menunjukkan betapa pentingnya shalat dalam kehidupan seorang muslim,” jelasnya. Lebih dari sekadar ritual, dosen Pendidikan Agama Islam itu memandang shalat sebagai sistem pengelolaan waktu yang sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa. Lima waktu shalat, katanya, membentuk pola hidup yang teratur dan berbasis nilai. “Shalat adalah siklus manajemen waktu paling lengkap: plan–do–check–reflect–reset,” ujarnya. Dalam konteks mahasiswa yang sering terjebak pada kesibukan tanpa henti, shalat menjadi penyeimbang. Bukan mengurangi produktivitas, tetapi membantu menjaga fokus dan ketenangan. Ia menambahkan, Subuh mengajarkan perencanaan dan niat hidup. Dzuhur menjadi jeda untuk evaluasi aktivitas. Ashar menumbuhkan kesadaran bahwa waktu terbatas. Maghrib menjadi ruang refleksi. Dan Isya adalah saat penyerahan diri sekaligus pemulihan batin. Pola ini membuat hidup lebih terarah meskipun di tengah kesibukan yang padat. Bagi mahasiswa, I’ana menganggap bahwa nilai Isra’ Mi’raj dan shalat memiliki peran strategis dalam membentuk karakter. Isra’ Mi’raj memberi orientasi hidup, bahwa kuliah bukan sekadar mengejar IPK, tetapi bagian dari perjalanan menuju tujuan yang lebih bermakna. Sementara shalat menjadi ruang jeda di tengah tekanan akademik. “Prestasi diraih melalui usaha dan kesungguhan, bukan jalan pintas. Nilai spiritual menjadi penguat agar mahasiswa tetap jujur dan bertanggung jawab,” katanya. Terakhir, Ia berpesan kepada mahasiswa bahwa shalat harus menjadi kompas kesadaran hidup. Di tengah kehidupan kampus yang semakin kompetitif dan penuh tekanan, hal itu menjadi pengingat penting. “Shalat bukan sekadar kewajiban ritual dan berhenti di atas sajadah, tetapi menjadi kompas kesadaran yang menuntun sikap dalam nilai yang penuh berkah,” pungkasnya. (Faqih/AS)

UMM Berangkatkan Dosen dan Mahasiswa ke Eropa Lewat Erasmus+

Kota Malang, Bhirawa- Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkokoh posisinya di kancah global. Melalui International Relations Office (IRO), Kampus Putih membekali lima mahasiswa dan empat dosen terpilih yang berhasil lolos program Erasmus+ (Erasmus Plus) dalam kegiatan Pre-Departure Orientation yang digelar pada akhir pekan kemarin di GKB 4 UMM. Program yang didanai penuh oleh Uni Eropa ini merupakan langkah strategis UMM dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan daya saing global. Para peserta akan menjalani aktivitas akademik di sejumlah perguruan tinggi mitra di Benua Biru tersebut. Kepala IRO UMM, Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, MP, mengungkapkan bahwa proses seleksi program ini dilakukan secara sangat ketat. Tahapan dimulai dari kerja sama resmi antar-universitas, seleksi administrasi, wawancara, hingga verifikasi akhir dari institusi tujuan di Eropa. “Kami ingin memastikan mahasiswa dan dosen yang berangkat benar-benar siap, baik secara akademik maupun kultural. Mereka harus mampu beradaptasi dengan baik dan menjaga nama baik UMM di kampus tujuan,” tegas Listiari. Lilis, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa saat ini UMM telah memiliki 14 mitra aktif Erasmus yang mencakup skema outbound maupun inbound. Untuk menjaga kelancaran studi, UMM menetapkan kriteria mahasiswa yang berangkat minimal berada di semester tiga dan maksimal semester lima. “Kebijakan ini diambil agar mahasiswa tetap memiliki ruang akademik untuk proses konversi mata kuliah sekembalinya ke tanah air,” imbuhnya. Sebagai bentuk dukungan nyata, pihak kampus memberikan fasilitas berupa pembebasan biaya SPP selama satu semester bagi mahasiswa outbound. Selain itu, UMM menjamin kemudahan konversi nilai serta memberikan apresiasi melalui unit kemahasiswaan agar peserta bisa fokus pada studi internasional tanpa kendala administratif. Sementara itu, Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D, dalam arahannya menekankan bahwa para penerima Erasmus+ adalah representasi wajah UMM di tingkat internasional. Ia berharap para delegasi mampu menunjukkan integritas, etika, dan prestasi yang membanggakan. “Manfaatkan kesempatan ini bukan sekadar untuk belajar atau mengajar, tetapi bangunlah jejaring internasional. Bawa pulang praktik-praktik baik (best practices) yang bisa dikembangkan untuk kemajuan UMM,” pesan Prof. In’am. Langkah ini, lanjutnya, selaras dengan komitmen UMM untuk mencetak lulusan berwawasan global yang tetap berakar pada nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan. Selain mobilitas fisik, UMM juga terus menguatkan strategi internasionalisasi melalui kelas internasional, mikro-kredensial, dan pembelajaran daring lintas negara. [mut.wwn]

Penganugerahan Jurnalistik Kerjasama Prodi BSI Modern UMM dan Malang Posco Media, Penuh Tantangan, Bangga Terbitkan BacaWarta+

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Modern Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Penganugerahan Jurnalistik untuk mahasiswa angkatan 2023. Awarding ini merupakan puncak dari praktik mata kuliah Jurnalistik. Digelar di Aula BAU UMM, Rabu (14/1) lalu, dengan nama Nawasena Award 2026. Penganugerahan dikemas unik dan kreatif. Mahasiswa mendesain kegiatan dengan konsep petualangan. Temanya: Nawasena Adventure Petualangan Jurnalistik Menuju Masa Depan. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum launching koran karya mahasiswa. Namanya: BacaWarta+. Baca Sekarang Tahu Segalanya! KARYA MAHASISWA: Dr Faizin M.Pd Wadek 2 FKIP sekaligus dosen pengampu Jurnalistik memberikan karya kepada Dr Isnaini, M.Pd Kajur Prodi BSI Modern didampini Abdul Halim dan para dosen. Sedikitnya ada 20 penghargaan yang perebutkan. Di antaranya manager berbakat, wartawan berbakat, fotografer berbakat, berita dan foto terbaik, rubrik terbaik, pj rubrik berbakat, marketing koran berbakat, marketing iklan berbakat, foto rubrik terkece, nama rubrik terkreatif, dan video liputan terkreatif. Abdul Halim, S.Sos, selaku dosen pengampu Mata Kuliah Jurnalistik, merasa haru sekaligus bangga. Kegiatan ini digelar begitu istimewa. Dan kegiatan ini menjadi puncak dari pembelajaran jurnalistik setelah beberapa bulan mahasiswa menyelesaikan proyek. SELAMAT: Kajur Prodi BSI Modern Dr Isnaini, M.Pd bersama penerima penghargaan Manager Berbakat satu, dua dan tiga serta Pj Rubrik berbakat “Setiap angkatan selalu memunculkan terobosan. Selalu ada kreasi dan inovasi. Dan itu diluar bayangan kami. Termasuk angkatan tahun ini yang telah menghasilkan karya luar biasa,” ujarnya. Sebanyak 35 siswa telah menyelesaikan tugas dengan baik. Seperti biasanya, setiap angkatan membuat proyek surat kabar atau koran. Isi konten beritanya merupakan hasil dari kreasi mahasiswa. Persis seperti perusahaan media profesional. Ada pemimpin perusahaan, pemimpin redaksi, manajer iklan, manajer marketing, kordinator liputan dan wartawan serta fotografer. Selama tiga bulan mereka melaksanakan tugas perencanaan, liputan, wawancara, menulis berita, editing hingga layout. Semua tahapan itu dikerjakan dengan baik. “Program ini sudah tahun ke-15. Dan tahun ini pecah rekor lagi. Mahasiswa berhasil mencetak 1.000 eksemplar koran dan terjual habis. Semua telah bertugas dengan baik dan sukses menaklukkan berbagai tantangan dan kendalanya,” kata Halim. MOTOR: Tim Enam yang menjadi motor praktik Jurnalistik bersam Abdul Halim dosen pengampu Jurnalistik Kaprodi BSI Modern FKIP UMM, Dr. M. Isnaini, M.Pd menilai BacaWarta+ adalah karya mahasiswa yang luar biasa. Dalam mewujudkan acara tersebut butuh perjuangan dan pengorbanan. “Awalnya saya ragu. Namun kalian telah membuktikan bisa menggelar acara ini dengan sukses. Ini akan menjadi bekal berharga untuk kalian terjun ke dunia kerja di masa depan,” katanya. Menurutnya, praktik jurnalistik telah melatih mahasiswa membangun kerja tim. Sesuai dengan atmosfer dunia kerja. Apalagi di perusahaan media yang tuntutan kerjanya sangat tinggi. “Kalian berhasil menerbitkan koran. Sebuah media cetak yang tidak semua bisa melakukan. Setiap dari kalian telah menunjukkan peran. Jadikan referensi dan pengalaman yang berharga sebelum masuk dunia kerja,” tutur mantan Kepala Humas UMM ini. Hal senada disampaikan Wakil Dekan 2 FKIP UMM Dr. Faizin, M.Pd. Dia turut hadir menyaksikan secara langsung produk jurnalistik karya mahasiswa Prodi BSI Modern. “Kami kagum dengan karya mahasiswa. Dari fakultas kami siap selalu mendorong segala bentuk potensi mahasiswa. Baik akademik maupun non akademik,” ujarnya. Faizin mendorong para mahasiswa untuk tidak berhenti sampai di sini. Tetapi harus terus berupaya mengembangkan potensinya sampai maksimal. “Silahkan berproses. Apapun karya dan kegiatannya yang penting mendukung pada nilai kualitas pemberdayaan intelektual. FKIP akan siap memfasilitasi,” tegasnya. Pemimpin Redaksi BacaWarta+, Fatin Safinatunnajah menyampaikan terima kasih kepada Prodi BSI Modern yang telah memberikan kesempatan mereka berkarya. Juga kepada Abdul Halim, selaku dosen pengampu yang telah membimbing mulai awal hingga sukses terbit koran BacaWarta+.(imm/lim)

15 Universitas Swasta Terbaik di Indonesia Versi Webometrics 2026 Sumber: https://www.kompas.com/edu/read/2026/01/18/144054671/15-universitas-swasta-terbaik-di-indonesia-versi-webometrics-2026. Membership: https://kmp.im/plus6 Download aplikasi: https://kmp.im/app6

KOMPAS.com – Calon mahasiswa yang mau kuliah tahun ini, perlu tahu universitas swasta terbaik di Indonesia. Kuliah di universitas swasta terbaik di Indonesia bisa jadi strategi cadangan jika kamu belum lolos di perguruan tinggi negeri (PTN) incaranmu. Untuk tahu universitas terbaik di Indonesia bisa berdasarkan pemeringkatan Webometrics 2026. Lembaga pemeringkatan Webometrics kembali merilis peringkat perguruan tinggi terbaik di dunia periode Januari 2026. Pemeringkatan ini dilakukan setiap enam bulan atau pada Januari dan Juli. Webometrics merilis daftar peringkat kinerja universitas di seluruh dunia, termasuk perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia. Pemeringkatan dilakukan berdasarkan kemampuan perguruan tinggi berdasarkan persaingan global, keunggulan riset, keterbukaan hingga kinerja akademik dari perguruan tinggi. Pemeringkatan ini dapat kamu jadikan referensi sebagai pilihan tempat melanjutkan studi sehingga dapat memilih universitas yang tepat. Universitas swasta terbaik di Indonesia versi Webometrics 2026 Perankingan ini juga dapat mencerminkan kualitas pendidikan, termasuk fasilitas yang tersedia sebagai penunjang pendidikan di kampus tersebut. Di samping itu, perankingan ini juga dapat memengaruhi peluang karier lulusan karena perusahaan atau organisasi sering mempertimbangkan reputasi perguruan tinggi. Berikut 15 universitas swasta terbaik di Indonesia versi Webometrics 2026 dikutip dari laman resminya, Minggu (18/1/2026). 1. Telkom University Peringkat nasional: 9 Peringkat global: 1.164 2. Universitas Bina Nusantara (Binus University) Peringkat nasional: 13 Peringkat global: 1.371 3. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Peringkat nasional: 19 Peringkat global: 1.768 4. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Peringkat nasional: 20 Peringkat global: 1.824 5. Universitas Meda Area Peringkat nasional: 24 Peringkat global: 2.153  6. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Peringkat nasional: 27 Peringkat global: 2.397 7. Universitas Pelita Harapan Peringkat nasional: 33 Peringkat global: 2.656 8. Universitas Kristen Satya Wacana Peringkat nasional: 36 Peringkat global: 2.836 9. Universitas Katolik Parahyangan Peringkat nasional: 38 Peringkat global: 3.081 10. Universitas Gunadarma Peringkat nasional: 39 Peringkat global: 3.085  11. Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta Peringkat nasional: 45 Peringkat global: 3.224 12. Universitas Islam Malang Peringkat nasional: 46 Peringkat global: 3.307 13. Universitas Islam Indonesia (UII) Peringkat nasional: 47 Peringkat global: 3.333 14. Universitas Surabaya (Ubaya) Peringkat nasional: 48 Peringkat global: 3.398 15. Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya Peringkat nasional: 50 Peringkat global: 3.417.

Dosen HI UMM Ulas Ketegangan AS-Venezuela

Reportasemalang – Konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela tidak dapat dipahami secara sederhana. Ketegangan kedua negara ini melibatkan beragam lapisan, mulai dari ideologi, politik, ekonomi, hingga kepentingan geopolitik global. Hal tersebut disampaikan Azza Bimantara, M.A., Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), saat mengulas dinamika hubungan AS–Venezuela yang kembali memanas dalam beberapa waktu terakhir. Azza menjelaskan bahwa akar konflik dapat ditelusuri sejak era kepemimpinan Hugo Chávez yang terpilih sebagai Presiden Venezuela pada 1998. Chávez menerapkan kebijakan ekonomi sosialis, salah satunya melalui nasionalisasi sektor minyak yang sebelumnya dikuasai perusahaan asing. “Kebijakan ini secara ideologis bertolak belakang dengan model ekonomi Amerika Serikat yang neoliberal dan sangat mengedepankan kepentingan perusahaan multinasional,” jelasnya. Hasil nasionalisasi minyak tersebut kemudian dialokasikan untuk kebijakan populis, seperti pengentasan kemiskinan serta peningkatan akses layanan kesehatan dan pendidikan. Namun, langkah ini justru membuat Venezuela dipandang sebagai ancaman ideologis oleh Amerika Serikat. “Sejak saat itu, Venezuela mulai diantagonisasi melalui berbagai tekanan, mulai dari pemboikotan hingga pembatasan akses ekonomi internasional,” ujarnya. Kompleksitas konflik semakin meningkat ketika Venezuela menjalin hubungan erat dengan Kuba, serta kekuatan besar lain seperti Tiongkok dan Rusia. Menurut Azza, kedekatan ini dipersepsikan Amerika Serikat sebagai ancaman geopolitik, terutama mengingat Venezuela memiliki cadangan minyak yang sangat besar. “Venezuela merupakan negara dengan cadangan energi strategis. Kedekatannya dengan Tiongkok dan Rusia jelas dipandang mengganggu kepentingan Amerika Serikat,” katanya. Tekanan politik Amerika Serikat terus berlanjut hingga era kepemimpinan Nicolás Maduro. Maduro dinilai melanjutkan, bahkan memperkuat, kebijakan Chávez dengan gaya kepemimpinan yang lebih otoriter. Dukungan Barat terhadap oposisi Venezuela, termasuk Maria Corina Machado, turut memperuncing konflik. “Dukungan terbuka Amerika Serikat terhadap oposisi menunjukkan adanya upaya perubahan rezim yang semakin nyata,” ungkap Azza. Dari perspektif energi, Azza menegaskan bahwa minyak menjadi faktor kunci dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa keamanan energi merupakan fondasi utama stabilitas ekonomi AS. “Amerika Serikat belajar dari krisis minyak 1970-an bahwa ketergantungan energi harus dikendalikan. Karena itu, akses terhadap minyak Venezuela menjadi kepentingan strategis,” jelasnya. Ia juga menyinggung pernyataan Presiden AS pasca penangkapan Nicolás Maduro yang secara terbuka menyampaikan keinginan untuk mengelola minyak Venezuela. Terkait dampaknya bagi Indonesia, Azza menilai belum terlihat efek signifikan dalam jangka pendek. “Hingga saat ini belum ada perubahan besar dalam tata kelola sektor energi Venezuela. Pertamina juga memastikan bahwa operasi migas di Venezuela masih berjalan normal,” katanya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dampak jangka panjang tetap perlu dicermati seiring dinamika konflik yang terus berkembang. Azza menutup dengan menekankan pentingnya konflik ini sebagai bahan pembelajaran bagi mahasiswa Hubungan Internasional. “Kasus Amerika Serikat dan Venezuela menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak pernah lepas dari kepentingan ekonomi dan energi. Ini menjadi peluang besar bagi mahasiswa HI untuk mengkaji isu global secara lebih komprehensif,” pungkasnya(*)

Dosen HI UMM Ungkap Akar Ketegangan AS-Venezuela dan Dampak Bagi Indonesia

MALANG (SurabayaPost.id) – Konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela tidak dapat dipahami secara sederhana. Ketegangan kedua negara ini melibatkan beragam lapisan, mulai dari ideologi, politik, ekonomi, hingga kepentingan geopolitik global. Hal tersebut disampaikan Azza Bimantara, M.A., Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), saat mengulas dinamika hubungan AS–Venezuela yang kembali memanas dalam beberapa waktu terakhir. Azza menjelaskan bahwa akar konflik dapat ditelusuri sejak era kepemimpinan Hugo Chávez yang terpilih sebagai Presiden Venezuela pada 1998. Chávez menerapkan kebijakan ekonomi sosialis, salah satunya melalui nasionalisasi sektor minyak yang sebelumnya dikuasai perusahaan asing. “Kebijakan ini secara ideologis bertolak belakang dengan model ekonomi Amerika Serikat yang neoliberal dan sangat mengedepankan kepentingan perusahaan multinasional,” jelas Azza, Sabtu (17/1/2026). Hasil nasionalisasi minyak tersebut kemudian dialokasikan untuk kebijakan populis, seperti pengentasan kemiskinan serta peningkatan akses layanan kesehatan dan pendidikan. Namun, langkah ini justru membuat Venezuela dipandang sebagai ancaman ideologis oleh Amerika Serikat. “Sejak saat itu, Venezuela mulai diantagonisasi melalui berbagai tekanan, mulai dari pemboikotan hingga pembatasan akses ekonomi internasional,” ujarnya. Kompleksitas konflik semakin meningkat ketika Venezuela menjalin hubungan erat dengan Kuba, serta kekuatan besar lain seperti Tiongkok dan Rusia. Menurut Azza, kedekatan ini dipersepsikan Amerika Serikat sebagai ancaman geopolitik, terutama mengingat Venezuela memiliki cadangan minyak yang sangat besar. “Venezuela merupakan negara dengan cadangan energi strategis. Kedekatannya dengan Tiongkok dan Rusia jelas dipandang mengganggu kepentingan Amerika Serikat,” katanya. Tekanan politik Amerika Serikat terus berlanjut hingga era kepemimpinan Nicolás Maduro. Maduro dinilai melanjutkan, bahkan memperkuat, kebijakan Chávez dengan gaya kepemimpinan yang lebih otoriter. Dukungan Barat terhadap oposisi Venezuela, termasuk Maria Corina Machado, turut memperuncing konflik. “Dukungan terbuka Amerika Serikat terhadap oposisi menunjukkan adanya upaya perubahan rezim yang semakin nyata,” ungkap Azza. Dari perspektif energi, Azza menegaskan bahwa minyak menjadi faktor kunci dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa keamanan energi merupakan fondasi utama stabilitas ekonomi AS. “Amerika Serikat belajar dari krisis minyak 1970-an bahwa ketergantungan energi harus dikendalikan. Karena itu, akses terhadap minyak Venezuela menjadi kepentingan strategis,” jelasnya. Terkait dampaknya bagi Indonesia, Azza menilai belum terlihat efek signifikan dalam jangka pendek. “Hingga saat ini belum ada perubahan besar dalam tata kelola sektor energi Venezuela. Pertamina juga memastikan bahwa operasi migas di Venezuela masih berjalan normal,” katanya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dampak jangka panjang tetap perlu dicermati seiring dinamika konflik yang terus berkembang. Azza menutup dengan menekankan pentingnya konflik ini sebagai bahan pembelajaran bagi mahasiswa Hubungan Internasional. “Kasus Amerika Serikat dan Venezuela menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak pernah lepas dari kepentingan ekonomi dan energi. Ini menjadi peluang besar bagi mahasiswa HI untuk mengkaji isu global secara lebih komprehensif,” pungkasnya. (**).

Erasmus+ Jadi Pintu Globalisasi Kampus, Mahasiswa dan Dosen UMM Siap Berlaga di Kancah Internasional 17 January 2026 1:57 pm Uki Pendidikan 0

MALANG (SurabayaPost.id) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui International Relations Office (IRO) menggelar kegiatan Pre-Departure Orientation bagi mahasiswa dan dosen penerima program Erasmus+ di GKB 4 Lantai 1 pada Kamis (15/1/2026), sebagai bagian dari persiapan mobilitas internasional. Kegiatan ini diikuti oleh lima mahasiswa UMM penerima student mobility serta empat dosen penerima teaching mobility yang akan menjalani aktivitas akademik di sejumlah perguruan tinggi mitra di Eropa. Program Erasmus+ merupakan program mobilitas internasional yang didanai penuh oleh Uni Eropa (UE) dan berfokus pada bidang pendidikan, pelatihan, kepemudaan, serta olahraga. Kepala IRO UMM, Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, MP, menjelaskan bahwa proses seleksi peserta Erasmus+ dilaksanakan secara bertahap dan ketat. “Kami ingin memastikan mahasiswa dan dosen yang berangkat benar-benar siap, baik secara akademik maupun kultural, sehingga mampu beradaptasi dengan baik dan membawa nama baik Universitas Muhammadiyah Malang di kampus tujuan,” ujarnya, Sabtu (17/1/2026). UMM memiliki 14 mitra aktif Erasmus yang mencakup skema outbound dan inbound, dengan pendanaan sepenuhnya berada di bawah kewenangan Uni Eropa. Kampus putih juga terus mengembangkan strategi internasionalisasi melalui penguatan kelas internasional, mikro kredensial, dan pembelajaran daring lintas negara. Prof. Akhsanul In’am, Ph.D. menekankan bahwa mobilitas internasional merupakan bagian dari strategi besar UMM dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan daya saing global. “Kami berharap para peserta dapat memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin, tidak hanya untuk belajar dan mengajar, tetapi juga untuk membangun jejaring internasional serta membawa pulang praktik-praktik baik yang dapat dikembangkan di UMM,” ungkapnya. Dengan dukungan institusi yang kuat, UMM siap mencetak lulusan berwawasan global, berdaya saing tinggi, dan tetap berakar pada nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan. (lil).

Daftar Kampus dengan Jurusan S1 Akuntansi Terbaik di Indonesia 2026

KOMPAS.com – Berikut daftar universitas dengan jurusan/program studi (prodi) S1 Akuntansi terbaik di Indonesia. Informasi kampus S1 Akuntansi terbaik berikut bisa menjadi bahan pertimbangan bagi siswa yang ingin kuliah Akuntansi saat pendaftaran SNBP 2026. Predikat universitas dengan jurusan Akuntansi terbaik ini dipilih berdasarkan predikat “Unggul” akreditasi BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi). Lantas, mana saja perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki jurusan Akuntansi terbaik dengan akreditasi Unggul? Kampus S1 Akuntansi terbaik di Indonesia Dikutip dari laman resmi BAN-PT, berikut daftar Perguruan Tinggi dengan Prodi S1 Akuntansi terbaik di Indonesia yang terakreditasi Unggul BAN-PT 2026: Universitas Indonesia Universitas Brawijaya Universitas Gadjah Mada Universitas Negeri Semarang Universitas Malikussaleh Universitas Pelita Harapan Universitas Trisakti Universitas Muslim Indonesia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Universitas Pendidikan Indonesia Universitas Bina Nusantara Universitas Sumatera Utara Universitas Negeri Medan Universitas Negeri Padang Universitas Telkom Universitas Jenderal Soedirman Universitas Negeri Surabaya Universitas Padjadjaran Universitas Negeri Yogyakarta Universitas Bakrie Universitas Bunda Mulia Universitas Muhammadiyah Purwokerto Universitas Kristen Krida Wacana Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ekuitas Universitas Negeri Yogyakarta Universitas Syiah Kuala Universitas Negeri Gorontalo Universitas Pendidikan Ganesha Universitas Jember Universitas Negeri Malang Universitas Pancasakti Tegal Universitas Pancasila Universitas Islam Indonesia Universitas Islam Malang Universitas Dian Nuswantoro Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Universitas Bhayangkara Jakarta Raya Universitas Gajayana Universitas Merdeka Malang Universitas Kristen Satya Wacana Universitas Multimedia Nusantara Jakarta Universitas Katolik Parahyangan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa UIN Maulana Malik Ibrahim UPN Veteran Yogyakarta Universitas Diponegoro Universitas Jambi Universitas Airlangga UPN Veteran Jawa Timur Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah Universitas Islam Bandung Universitas Widyatama Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Sekolah Tinggi Manajemen PPM Universitas Muhammadiyah Semarang Universitas Muhammadiyah Palopo Universitas Jakarta Internasional Universitas Stikubank Institut Bisnis dan Teknologi Pelita Indonesia Institut Bisnis dan Informatika Kesatuan Universitas Pasundan Institut Keuangan-Perbankan dan Informatika Asia Perbanas Universitas Ibn Khaldun Bogor Universitas Muhammadiyah Jakarta Universitas Bengkulu Universitas Trilogi Universitas Palangka Raya Universitas Medan Area Universitas Negeri Jakarta Universitas Mulawarman STIE Indonesia Surabaya Universitas Teknologi Yogyakarta Universitas Sriwijaya Universitas Hayam Wuruk Perbanas UIN Alauddin Makassar UPN Veteran Jakarta Universitas Muhammadiyah Malang Universitas Udayana Universitas Ahmad Dahlan Universitas Yarsi Universitas Katolik Soegijapranata Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka Universitas Muhammadiyah Ponorogo Universitas Ciputra Surabaya Universitas Lambung Mangkurat Universitas Muhammadiyah Tangerang Universitas Pendidikan Nasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Universitas Jenderal Achmad Yani Universitas Andalas Universitas Atma Jaya Yogyakarta Universitas Ekuitas Indonesia STIE Malangkucecwara Universitas Muhammadiyah Jember Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Universitas Mercu Buana Universitas Bung Hatta Universitas Gunadarma Universitas Islam Sultan Agung Universitas Bandar Lampung STIE Indonesia Banking School Universitas Lampung Universitas Lancang Kuning Universitas Surabaya Universitas Muhammadiyah Surakarta Universitas Tarumanagara. Data BAN-PT dikutip pada 16 Januari 2026 – tidak termasuk S1 Pendidikan Akuntansi Akreditasi BAN-PT adalah sistem jaminan mutu atau pengakuan formal terhadap kecakapan sebuah perguruan tinggi atau prodi, dengan predikat “Unggul” menjadi strata tertinggi.

Siasat Menepis Cemas: Ketika Rumah Menjadi Benteng Ekonomi di Tengah Badai Inflasi

Malang (beritajatim.com) – Pasangan suami istri asal Malang, Jawa Timur, Erha Authonul Muther dan Monika, mungkin bisa dibilang punya cara pandang menarik soal pemilikan rumah. Cara pandang itu bahkan bertolak belakang dengan kebanyakan anak muda yang masuk kategori Generasi Z (Gen Z). Dalam kacamata sejumlah pakar ekonomi, Gen Z, termasuk pula Generasi Milenial, memilih untuk menunda memiliki rumah. Beberapa alasannya seperti kondisi ekonomi yang tidak pasti, harga rumah yang semakin melambung, serta tingkat pendapatan yang relatif stagnan. Tetapi bagi Erha dan Monika, alasan di atas malah jadi landasan mereka memiliki rumah. Karena dengan adanya rumah, keduanya justru bisa membuat perencanaan keuangan yang lebih baik. “Justru karena ekonomi tidak pasti, maka saya memutuskan untuk mengambil rumah,” ujar Erha saat berbincang dengan beritajatim.com di kediamannya, Rabu (14/1/2025). Erha dan Monika adalah pasangan yang bekerja di sektor swasta. Keduanya memiliki penghasilan bulanan yang nilainya masih di bawah Upah Minimum Kota (UMK) Malang yang berlaku saat ini. Dengan kondisi tersebut, tentu sulit untuk bisa memiliki hunian, apalagi dengan fasilitas perbankan seperti KPR. Mengacu pada data Badan Pusat Statistik per Februari 2025, rata-rata gaji masyarakat Indonesia berada di angka Rp3.094.818 per bulan. Angka yang secara matematis nyaris mustahil untuk mengejar harga properti di perkotaan yang terus melangit. Data inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa Gen Z tak kunjung bisa punya rumah. Alhasil, banyak kaum muda yang akhirnya memilih untuk menghabiskan uangnya untuk kebutuhan lain. Sebut saja misalnya, membeli ponsel mewah, barang-barang bermerek, jajan di kafe mahal, dan banyak lagi. Alasannya pun cukup rasional. Kalaupun mereka memilih menabung, hasilnya juga belum tentu bisa beli rumah dalam waktu dekat. Alasan lain yang juga membuat Gen Milenial dan Z tak kunjung punya rumah adalah bayangan soal ketidakpastian pekerjaan dan pendapatan. Mereka khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk dalam karir seperti Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Jika itu terjadi, maka mereka kehilangan kemampuan untuk membayar angsuran pembelian rumah. Akhirnya, aset hilang akibat disita bank, sementara kondisi ekonomi sedang berantakan. Demikian halnya dengan Erha dan Monika. Jika melihat dari sisi pendapatan, di mana Erha punya pemasukan bulanan sekitar Rp3 juta dan Monika hanya Rp2,5 juta. Dengan tingkat pendapatan tersebut, tentu mustahil bagi masing-masing untuk bisa memiliki hunian. Beruntung, ada solusi yang ditawarkan perbankan yaitu joint income (gabungan penghasilan). Akhirnya, Erha dan Monika bisa memiliki rumah di komplek perumahan sederhana di Wagir, Kabupaten dengan fasilitas pembiayaan pemilikan rumah dari BTN Syariah. “Kalau pakai gaji saya sendiri yang Rp3 juta, jelas tidak masuk (lolos bank). Tapi karena BTN membolehkan joint income dengan istri, total pendapatan kami jadi Rp5,5 juta. Itu yang membuat kami akhirnya bisa akad kredit,” kata Erha. Di mata Erha, rumah bukan sekadar aset mati. Hunian adalah benteng pertahanan dalam menghadapi kondisi ekonomi yang makin tak pasti. Apalagi, inflasi selalu menghantui. Erha mengaku ketakutan terbesarnya bukanlah cicilan melainkan hilangnya nilai mata uang akibat gerusan inflasi. Data Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) Bank Indonesia Triwulan I-2025 yang tumbuh 1,07 persen secara tahunan (yoy) mengonfirmasi kecemasannya: harga properti akan terus naik, sementara nilai uang di tabungan bisa tergerus. Inilah mengapa bagi Erha rumah adalah benteng pertahanan. Rumah adalah aset lindung nilai (hedging) yang paling masuk akal untuk menyelamatkan jerih payah keringatnya. “Rumah itu semacam pelindung mata uang kita dari inflasi. Makanya dia disebut aset. Ketakutan finansial pasti ada, apalagi gaji saya tidak pasti, hanya dari freelance dan bisnis kecil-kecilan. Tapi justru karena inflasi dan isu lay-off tidak bisa dipastikan, saya butuh kepastian di satu hal, tempat tinggal,” tegasnya dengan tatapan tajam. Pilihan Erha jatuh pada skema pembiayaan syariah. Alasannya pragmatis dan sangat teknis, jauh dari sekadar sentimen religius semata. Ia memilih unit rumah di posisi sudut. Dalam kalkulasi ekonominya, skema syariah menawarkan satu hal yang sangat mahal harganya di era fluktuasi suku bunga acuan: cicilan flat alias tetap dari awal hingga selesai. “Cicilannya flat. Tidak ada bunga tambahan atau kejutan kenaikan cicilan ketika sudah berjalan beberapa tahun. Bagi saya, ini pilihan paling masuk akal,” ungkapnya. Ada cerita menarik di balik perjalanannya menjadi debitur. Awalnya, ia mengajukan pembiayaan pemilikan rumah melalui jalur konvensional. Sayangnya, upaya tersebut terhalang kendala teknis administrasi. Bak takdir yang menemukan jalannya, setelah berkas dibenahi, data-datanya justru lolos verifikasi di BTN Syariah yang sekarang berubah menjadi BSN (Bank Syariah Nasional). “Mungkin itu takdir, tapi takdir yang teknis,” kekehnya. Bagi Erha, penting untuk memastikan nominal cicilan. Ia mengambil tenor paling lama, 20 tahun dengan cicilan sekitar Rp1,1 juta. “Mengapa paling lama? Agar risiko masa depan bisa diminimalisir. Jika lima tahun lagi saya kaya raya, uang sejuta itu akan terasa sangat ringan. Tapi jika kondisi memburuk, cicilan itu masih masuk akal untuk dibayar. Sama seperti biaya ngekos.” Erha menghitung dengan cermat. Jika ia memilih mengontrak rumah selama 5 tahun dengan biaya Rp20 juta per tahun, ia akan menghabiskan Rp100 juta tanpa sisa aset. Dengan mencicil rumah, uang yang keluar berubah menjadi aset yang nilainya terus merangkak naik. Rumah yang ia beli seharga Rp166 juta, diprediksi Erha bisa menyentuh angka Rp250 juta dalam lima tahun ke depan. Namun, di luar hitungan itu, ia menyentuh satu aspek fundamental yang sering luput dari perdebatan properti soal kesehatan mental. Dengan memilik rumah ia merasa kesehatan mentalnya menjadi aman. “Kita tidak khawatir ke mana harus pulang. Punya rumah itu menciptakan rasa kepemilikan. Kita tumbuh dan menua di situ. Itu membuat mental lebih nyaman, jadi kita bisa fokus cari duit. Di era kapitalisme ini, punya sesuatu yang benar-benar milik kita itu membuat kita enjoy karena hidup cuma sekali,” jelasnya dengan filosofis. Mencari Ketenangan di Kedungkandang Narasi serupa datang dari Titis Bayu Widagdo di Kedungkandang, Kota Malang. Ia menghindari bunga floating yang fluktuatif. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) Triwulan I-2025 tumbuh 1,07 persen (yoy). Kenaikan ini menjadi ancaman nyata bagi pekerja muda. Titis merasa Rumah sebagai kunci ketenangan. Titis, seorang milenial pengguna BTN Syariah, melihat perbankan syariah bukan sekadar label agama, melainkan sebuah mekanisme pertahanan diri terhadap kejutan ekonomi. Menurutnya, Bank BTN Syariah itu menghadirkan ketenangan untuk masa depan. “Kondisi global naik turun, konflik di mana-mana. Itu memberikan kekhawatiran. BTN Syariah memberikan opsi dengan tidak adanya kejutan kenaikan bunga. Dalam merancang masa depan,