Maknai Isra Mi’raj, Dosen PAI UMM Ungkap Shalat Adalah Kompas Kesadaran

Kota Malang, Tagarjatim.id – Peringatan Isra Mi’raj tidak hanya menjadi agenda keagamaan tahunan, tetapi juga momentum refleksi bagi mahasiswa untuk menata kembali arah hidup di tengah tekanan akademik. Salah satu pesan penting dari peristiwa Isra Mi’raj yang kerap luput dibahas adalah bagaimana shalat seharusnya menjadi pengatur ritme kehidupan manusia. Hal tersebut disampaikan I’anatut Thoifah, M.Pd.I., dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, Isra Mi’raj bukan sekadar perjalanan Nabi Muhammad SAW dari bumi ke langit, melainkan pesan spiritual tentang penguatan diri di saat manusia berada pada titik terendah. “Isra Mi’raj terjadi ketika Rasulullah berada di fase paling berat secara psikologis. Ini menunjukkan bahwa ketika manusia berada di titik paling lemah, Allah justru menguatkan dengan pendekatan spiritual,” ujar I’ana saat diwawancarai tim Humas UMM, Rabu (14/1/2026). Ia menilai pesan tersebut sangat relevan dengan kondisi mahasiswa saat ini. Tekanan akademik, kecemasan terhadap masa depan, hingga kelelahan mental kerap tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan akademik atau materiil. Spiritualitas, menurutnya, menjadi sumber ketenangan yang sering kali terabaikan. Lebih lanjut, I’ana menjelaskan bahwa keistimewaan Isra Mi’raj terletak pada ditetapkannya satu ibadah utama, yakni shalat. Berbeda dengan ibadah lain yang disampaikan melalui wahyu, shalat justru “dijemput” langsung oleh Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Mi’raj. “Shalat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan tanpa perantara Malaikat Jibril. Ini menunjukkan betapa pentingnya shalat dalam kehidupan seorang muslim,” jelas dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) tersebut. Menurutnya, shalat tidak hanya dimaknai sebagai ritual, tetapi juga sebagai sistem pengelolaan waktu yang relevan dengan kehidupan mahasiswa. Lima waktu shalat membentuk pola hidup teratur dan berbasis nilai. “Shalat adalah siklus manajemen waktu paling lengkap: plan–do–check–reflect–reset,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dalam kehidupan mahasiswa yang kerap terjebak pada kesibukan tanpa jeda, shalat justru berfungsi sebagai penyeimbang. Bukan mengurangi produktivitas, melainkan membantu menjaga fokus, ketenangan, dan kesadaran diri. I’ana kemudian memaknai setiap waktu shalat sebagai tahapan pengelolaan hidup. Subuh mengajarkan perencanaan dan niat, Dzuhur menjadi ruang evaluasi aktivitas, Ashar menumbuhkan kesadaran akan keterbatasan waktu, Maghrib sebagai momen refleksi, dan Isya menjadi saat penyerahan diri sekaligus pemulihan batin. Dalam konteks pembentukan karakter mahasiswa, nilai Isra Mi’raj dan shalat dinilai memiliki peran strategis. Isra Mi’raj memberikan orientasi hidup bahwa kuliah bukan sekadar mengejar indeks prestasi, tetapi bagian dari perjalanan menuju tujuan yang lebih bermakna. Sementara shalat menjadi ruang jeda di tengah tekanan akademik. “Prestasi diraih melalui usaha dan kesungguhan, bukan jalan pintas. Nilai spiritual menjadi penguat agar mahasiswa tetap jujur, bertanggung jawab, dan berintegritas,” tegasnya. Ia pun berpesan agar shalat benar-benar dijadikan kompas kesadaran hidup mahasiswa. Di tengah kehidupan kampus yang semakin kompetitif, shalat menjadi pengingat agar tetap berjalan di jalur yang benar. “Shalat bukan sekadar kewajiban ritual yang berhenti di atas sajadah, tetapi kompas kesadaran yang menuntun sikap dan perilaku dalam nilai-nilai yang penuh keberkahan,” pungkasnya. (*)

7 Kampus Terbaik di Jawa Timur 2026 Versi UniRank dan Akreditasi BAN-PT

NGAWI PIKIRAN RAKYAT – Jawa Timur dikenal sebagai salah satu provinsi dengan jumlah perguruan tinggi terbaik terbanyak di Indonesia. Memasuki tahun 2026, pencarian tentang kampus terbaik di Jawa Timur versi UniRank dan akreditasi BAN-PT semakin meningkat, terutama bagi calon mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi negeri maupun swasta unggulan. Artikel ini merangkum 7 kampus terbaik di Jawa Timur berdasarkan peringkat UniRank serta akreditasi resmi BAN-PT. 1. Universitas Airlangga (UNAIR) – Surabaya Universitas Airlangga menempati posisi teratas sebagai kampus terbaik di Jawa Timur versi UniRank 2026. UNAIR unggul di bidang kedokteran, kesehatan, hukum, dan ilmu sosial. Kampus ini juga telah meraih akreditasi Unggul dari BAN-PT, menjadikannya salah satu universitas terbaik di Indonesia. 2. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) – Surabaya ITS dikenal sebagai kampus teknologi dan rekayasa terbaik di Jawa Timur. Reputasinya sangat kuat di bidang teknik, sains, dan inovasi. ITS juga berstatus akreditasi Unggul BAN-PT serta memiliki pengakuan internasional. 3. Universitas Brawijaya (UB) – Malang Universitas Brawijaya merupakan salah satu kampus favorit di Indonesia. UB unggul dalam bidang pertanian, ekonomi, hukum, dan teknik. Popularitas digital yang tinggi membuat UB konsisten berada di peringkat atas UniRank Jawa Timur. 4. Universitas Negeri Malang (UM) – Malang Universitas Negeri Malang dikenal sebagai kampus pendidikan terbaik di Jawa Timur. Selain unggul di bidang kependidikan, UM juga berkembang pesat di bidang sains dan humaniora serta telah meraih akreditasi Unggul BAN-PT. 5. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) – Surabaya UIN Sunan Ampel Surabaya menjadi kampus Islam negeri terbaik di Jawa Timur. Kampus ini memadukan keilmuan modern dan keislaman serta memiliki reputasi akademik dan digital yang terus meningkat. 6. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) – Malang UMM merupakan perguruan tinggi swasta terbaik di Jawa Timur versi UniRank 2026. Kampus ini dikenal dengan julukan The White Campus dan memiliki fasilitas modern serta jaringan internasional yang luas.

UMM Siapkan Eksportir Muda Agribisnis Hadapi Pasar Dunia

Kota Malang, Tagarjatim.id – Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang menegaskan perannya dalam mencetak sumber daya manusia unggul di sektor ekspor agribisnis. Memasuki tahun 2026, UMM memastikan Kelas Center of Excellence (CoE) Profesional Ekspor Agribisnis akan diisi dengan kurikulum berbasis praktik langsung bersama pelaku ekspor internasional. Langkah tersebut merupakan respons atas besarnya peluang ekspor agribisnis Indonesia yang belum sepenuhnya diimbangi oleh ketersediaan SDM andal. Indonesia tercatat sebagai salah satu eksportir utama di Asia Tenggara untuk berbagai komoditas unggulan seperti kopi, rempah-rempah, minyak nabati, dan pangan olahan. Namun, peluang tersebut kerap terkendala persoalan teknis, mulai dari dokumentasi perdagangan, pemenuhan standar mutu, logistik, hingga pemetaan pasar internasional. Ketua Program Studi Agribisnis UMM, M. Zul Mazwan, menjelaskan bahwa penguatan Kelas CoE pada 2026 menjadi wujud konsistensi kampus dalam menjembatani kebutuhan industri dengan dunia akademik. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dibekali teori, namun juga dipersiapkan untuk memahami ekosistem ekspor secara menyeluruh. “Kami tidak hanya mengajarkan teori pengembangan komoditas atau pemasaran, tetapi menempatkan mahasiswa langsung pada konteks rantai nilai global. Di kelas ini, mereka belajar dari praktisi yang sehari-hari berinteraksi dengan pembeli luar negeri,” ujar Zul. Kurikulum CoE Ekspor Agribisnis 2026, memadukan pembelajaran akademik berbasis analisis, pelatihan teknis dari pelaku industri, serta kajian penetrasi pasar internasional. Mahasiswa ditargetkan mampu menguasai seluruh tahapan ekspor, mulai dari pemetaan potensi komoditas, standardisasi produk, pemenuhan legalitas, hingga teknis distribusi dan pengiriman. UMM juga menggandeng mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) yang telah berpengalaman di pasar Eropa, Timur Tengah, dan Asia Tenggara untuk menjaga kualitas pembelajaran, Agribisnis. Para praktisi dari sektor kopi, hortikultura, pangan olahan, hingga produk turunan agribisnis dijadwalkan menjadi pengajar tamu sepanjang semester. Zul menambahkan, tantangan agribisnis global saat ini menuntut eksportir muda yang adaptif terhadap isu-isu modern. “Mahasiswa harus memahami riset pasar, strategi negosiasi, sertifikasi, manajemen risiko global, hingga isu keberlanjutan, ketertelusuran produk, dan preferensi konsumen lintas negara,” jelasnya. Kelas CoE Agribisnis UMM kini menjadi salah satu program unggulan karena menawarkan arah karier yang jelas. Lulusannya diproyeksikan mampu mendukung ekspansi perusahaan agro ke pasar internasional atau menjadi eksportir mandiri melalui skema inkubasi bisnis kampus. Dengan penguatan kurikulum dan jejaring global, tahun 2026 dipandang sebagai momentum penting bagi lahirnya generasi eksportir muda agribisnis Indonesia. (*)

Salat Adalah Kompas Kesadaran, Dosen PAI UMM Maknai Isra’ Mi’raj

MALANG POST – Peringatan Isra Mi’raj tidak hanya menjadi agenda keagamaan tahunan, tetapi juga momentum untuk merefleksikan kembali arah hidup mahasiswa di tengah tekanan akademik. Namun sering kali tersimpan pesan penting yang jarang dibahas, yaitu bagaimana shalat seharusnya menjadi pengatur ritme hidup manusia, termasuk bagi mahasiswa. Hal ini disampaikan oleh I’anatut Thoifah, M.Pd.I., dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, Isra Mi’raj bukan hanya peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari bumi ke langit, melainkan pesan kuat tentang bagaimana manusia menguatkan diri di tengah krisis. “Isra Mi’raj terjadi ketika Rasulullah berada di titik paling berat secara psikologis. Ini menunjukkan bahwa ketika manusia berada di titik paling lemah, Allah justru menguatkan dengan pendekatan spiritual,” ujar I’ana 14 Januari lalu saat diwawancara tim humas UMM. Ia menilai kondisi tersebut sangat relevan dengan realitas mahasiswa hari ini. Tekanan akademik, kecemasan akan masa depan, hingga kelelahan mental sering kali tidak bisa diselesaikan hanya dengan strategi akademik atau materiil. Spiritualitas, menurutnya, menjadi sumber ketenangan yang kerap diabaikan. Lebih lanjut, I’ana sapaan akrabnya menyampaikan bahwa keistimewaan Isra Mi’raj terletak pada satu ibadah yang ditetapkan di dalamnya, yaitu shalat. Berbeda dengan ibadah lain yang diperintahkan melalui wahyu, shalat justru “dijemput” langsung oleh Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Mi’raj. “Shalat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan tanpa perantara malaikat Jibril. Itu menunjukkan betapa pentingnya shalat dalam kehidupan seorang muslim,” jelasnya. Lebih dari sekadar ritual, dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) itu memandang shalat sebagai sistem pengelolaan waktu yang sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa. Lima waktu shalat, katanya, membentuk pola hidup yang teratur dan berbasis nilai. “Shalat adalah siklus manajemen waktu paling lengkap: plan–do–check–reflect–reset,” ujarnya. Dalam konteks mahasiswa yang sering terjebak pada kesibukan tanpa henti, shalat justru menjadi penyeimbang. Bukan mengurangi produktivitas, tetapi membantu menjaga fokus dan ketenangan. Ia menambahkan, Subuh mengajarkan perencanaan dan niat hidup. Dzuhur menjadi jeda untuk evaluasi aktivitas. Ashar menumbuhkan kesadaran bahwa waktu terbatas. Maghrib menjadi ruang refleksi. Dan Isya adalah saat penyerahan diri sekaligus pemulihan batin. Pola ini, menurutnya, membuat hidup menjadi lebih terarah meskipun ditengah kesibukan yang padat. Bagi mahasiswa, I’ana menganggap bahwa nilai Isra Mi’raj dan shalat memiliki peran strategis dalam membentuk karakter. Isra Mi’raj memberi orientasi hidup, bahwa kuliah bukan sekadar mengejar IPK, tetapi bagian dari perjalanan menuju tujuan yang lebih bermakna. Sementara shalat menjadi ruang jeda di tengah tekanan akademik. “Prestasi diraih melalui usaha dan kesungguhan, bukan jalan pintas. Nilai spiritual menjadi penguat agar mahasiswa tetap jujur dan bertanggung jawab,” katanya. Terakhir, Ia berpesan kepada mahasiswa bahwa sholat harus menjadi kompas kesadaran hidup. Di tengah kehidupan kampus yang semakin kompetitif dan penuh tekanan, hal itu menjadi pengingat penting. Bahwa shalat, sebagaimana diajarkan melalui Isra Mi’raj, bukan hanya kewajiban ritual, tetapi sistem yang membantu mahasiswa mengelola waktu, menjaga integritas, dan tetap berjalan pada arah yang benar. “Shalat bukan sekadar kewajiban ritual dan berhenti di atas sajadah. Tetapi menjadi kompas kesadaran yang menuntun sikap dalam nilai yang penuh berkah,” pungkasnya.(*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)

Siswa Mamumtaza Dibekali Literasi Keuangan Digital agar Tak Terjerat Pinjol dan Judol

KLIKMU.CO – Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (FAI UMM) membekali literasi keuangan digital kepada siswa MA Muhammadiyah 1 Malang (Mamumtaza) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat, Selasa (13/1/2026). Kegiatan ini diikuti seluruh siswa kelas XII IPA, IPS, dan Bahasa. Kepala MA Muhammadiyah 1 Malang Akhmad Ari Wibowo MPd dalam sambutannya menyampaikan bahwa kerja sama antara Mamumtaza dan FAI UMM selama ini berjalan sangat baik. Menurutnya, kegiatan pengabdian masyarakat tersebut memberikan manfaat besar bagi siswa sebagai bekal kehidupan, khususnya dalam mengelola keuangan secara bijak. “Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada tim pengabdian dan FAI UMM atas kontribusi dan perhatiannya kepada siswa-siswi kami,” tegasnya. Ketua tim pengabdian Prof Dr Khozin MSi menjelaskan bahwa setiap siswa umumnya menerima uang saku dari orang tua, baik harian, mingguan, maupun bulanan. Karena itu, siswa perlu dibiasakan untuk menyisihkan sebagian uang saku tersebut untuk ditabung dan tidak dihabiskan seluruhnya. Ia menekankan pentingnya kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan harus dipenuhi karena tidak bisa ditunda, sementara keinginan perlu disesuaikan dan tidak selalu dituruti. “Mereka yang mampu membedakan dan memprioritaskan antara kebutuhan dan keinginanlah yang kelak akan meraih keberhasilan dan kesuksesan hidup,” ungkap Khozin yang juga Ketua Komite Mamumtaza. Sementara itu, pemateri Afifah Nur Millatina SE MSEi memaparkan sejumlah data terkait fenomena pinjaman online dan judi online di kalangan generasi muda. Mengutip Suara Aisyiyah 2024 yang dilansir dari BPS, ia menyebutkan bahwa 37,17 persen kredit macet pinjaman online dilakukan oleh generasi Z. Selain itu, terdapat 191.380 pemain judi online dari generasi Z dengan sekitar 2,1 juta transaksi senilai Rp282 miliar. Adapun dari generasi Alpha tercatat 4.514 anak dengan 45 ribu transaksi senilai Rp7,9 miliar. Afifah menegaskan kembali pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan, sebagaimana disampaikan Prof Khozin. Ia juga mengingatkan bahwa sebagai seorang muslim, setiap transaksi harus dijauhkan dari riba dan perilaku boros, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 26–27. Menurutnya, di era digital dan keterbukaan informasi saat ini, berbagai tawaran menggiurkan sangat mudah diakses, mulai dari bunga rendah, bonus, giveaway, hingga potongan harga. Namun, jika tidak berhati-hati dan tidak mampu menahan keinginan, seseorang dapat terjerumus dalam pinjaman online, judi online, maupun gaya hidup konsumtif. “Karena itulah, membangun kesadaran literasi keuangan digital menjadi sangat penting agar generasi muda terhindar dari pinjol dan judol,” pungkasnya. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh antusiasme. Para siswa mengikuti acara hingga selesai, aktif berdiskusi dan berbagi pengalaman, bahkan sejumlah peserta mendapatkan doorprize atas keaktifan mereka.

Dosen PAI UMM Maknai Isra’ Mi’raj, Sholat Adalah Kompas Kesadaran

MALANG | JATIMSATUNEWS Peringatan Isra Mi’raj tidak hanya menjadi agenda keagamaan tahunan, tetapi juga momentum untuk merefleksikan kembali arah hidup mahasiswa di tengah tekanan akademik. Namun sering kali tersimpan pesan penting yang jarang dibahas, yaitu bagaimana shalat seharusnya menjadi pengatur ritme hidup manusia, termasuk bagi mahasiswa. Hal ini disampaikan oleh I’anatut Thoifah, M.Pd.I., dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, Isra Mi’raj bukan hanya peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari bumi ke langit, melainkan pesan kuat tentang bagaimana manusia menguatkan diri di tengah krisis. “Isra Mi’raj terjadi ketika Rasulullah berada di titik paling berat secara psikologis. Ini menunjukkan bahwa ketika manusia berada di titik paling lemah, Allah justru menguatkan dengan pendekatan spiritual,” ujar I’ana 14 Januari lalu saat diwawancara tim humas UMM. Ia menilai kondisi tersebut sangat relevan dengan realitas mahasiswa hari ini. Tekanan akademik, kecemasan akan masa depan, hingga kelelahan mental sering kali tidak bisa diselesaikan hanya dengan strategi akademik atau materiil. Spiritualitas, menurutnya, menjadi sumber ketenangan yang kerap diabaikan. Lebih lanjut, I’ana sapaan akrabnya melanjutkan bahwa keistimewaan Isra Mi’raj terletak pada satu ibadah yang ditetapkan di dalamnya, yaitu shalat. Berbeda dengan ibadah lain yang diperintahkan melalui wahyu, shalat justru “dijemput” langsung oleh Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Mi’raj. “Shalat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan tanpa perantara malaikat Jibril. Itu menunjukkan betapa pentingnya shalat dalam kehidupan seorang muslim,” jelasnya. Lebih dari sekadar ritual, dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) itu memandang shalat sebagai sistem pengelolaan waktu yang sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa. Lima waktu shalat, katanya, membentuk pola hidup yang teratur dan berbasis nilai. “Shalat adalah siklus manajemen waktu paling lengkap: plan–do–check–reflect–reset,” ujarnya. Dalam konteks mahasiswa yang sering terjebak pada kesibukan tanpa henti, shalat justru menjadi penyeimbang. Bukan mengurangi produktivitas, tetapi membantu menjaga fokus dan ketenangan. Ia menambahkan, Subuh mengajarkan perencanaan dan niat hidup. Dzuhur menjadi jeda untuk evaluasi aktivitas. Ashar menumbuhkan kesadaran bahwa waktu terbatas. Maghrib menjadi ruang refleksi. Dan Isya adalah saat penyerahan diri sekaligus pemulihan batin. Pola ini, menurutnya, membuat hidup menjadi lebih terarah meskipun ditengah kesibukan yang padat. Bagi mahasiswa, I’ana menganggap bahwa nilai Isra Mi’raj dan shalat memiliki peran strategis dalam membentuk karakter. Isra Mi’raj memberi orientasi hidup, bahwa kuliah bukan sekadar mengejar IPK, tetapi bagian dari perjalanan menuju tujuan yang lebih bermakna. Sementara shalat menjadi ruang jeda di tengah tekanan akademik. “Prestasi diraih melalui usaha dan kesungguhan, bukan jalan pintas. Nilai spiritual menjadi penguat agar mahasiswa tetap jujur dan bertanggung jawab,” katanya. Terakhir, Ia berpesan kepada mahasiswa bahwa sholat harus menjadi kompas kesadaran hidup. Di tengah kehidupan kampus yang semakin kompetitif dan penuh tekanan, hal itu menjadi pengingat penting. Bahwa shalat, sebagaimana diajarkan melalui Isra Mi’raj, bukan hanya kewajiban ritual, tetapi sistem yang membantu mahasiswa mengelola waktu, menjaga integritas, dan tetap berjalan pada arah yang benar. “Shalat bukan sekadar kewajiban ritual dan berhenti di atas sajadah. Tetapi menjadi kompas kesadaran yang menuntun sikap dalam nilai yang penuh berkah,” pungkasnya.(Ans)

Cindy Adams Telusuri Biografi Bung Karno, Warga Gelar Rekonstruksi Peringati 62 Tahun Kunjungan Perdana di Ploso Artikel ini telah tayang di Rmoljatim.id dengan judul Cindy Adams Telusuri Biografi Bung Karno, Warga Gelar Rekonstruksi Peringati 62 Tahun Kunjungan Perdana di Ploso

rmoljatim – Pegiat sejarah bersama warga menggelar rekonstruksi peristiwa bersejarah untuk memperingati kedatangan penulis asal Amerika Serikat, Cindy Adams, ke Ploso, Kabupaten Jombang. Kegiatan ini menjadi penanda 62 tahun kunjungan perdana Cindy Adams pada 16 Januari 1964, saat menelusuri jejak masa kecil Bung Karno guna menyusun biografi Penyambung Lidah Rakyat. Dalam rekonstruksi tersebut digambarkan kunjungan legendaris Cindy Adams yang kala itu merupakan mandat langsung dari Presiden Soekarno. Di Ploso, Cindy Adams melakukan riset mendalam dengan mewawancarai sejumlah sosok kunci yang mengetahui masa kecil Sang Proklamator, di antaranya pengasuh Bung Karno Mbok Suwi dan Mbok Mirah, serta teman masa kecilnya Mbah Joyo Dipo. Melalui napak tilas dan rekonstruksi ini, suasana Ploso pada tahun 1964 dihidupkan kembali. Tokoh Cindy Adams diperankan oleh Yesinta Aprilia, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang, yang tampil membersamai tokoh-tokoh pendamping Cindy Adams kala itu, seperti Wedono Ploso Soetomo, Abdussukur, Hutauruk, dan Nusyirwan. Kegiatan tersebut juga dirangkai dengan peresmian Tetenger Situs Kelahiran Ir. Soekarno. Hadir dalam acara itu perwakilan Keluarga Persada Soekarno Kediri, Raden Mas Kuswartono, yang menegaskan pentingnya pelurusan sejarah keluarga terkait tempat kelahiran Bung Karno. “Menurut keterangan keluarga kami, Bung Karno lahir di Ploso, yang pada masa itu secara administratif masuk wilayah Karesidenan Surabaya,” ujar Kuswartono, dikutip RMOLJATIM, Jumat (16/1/2026). Hal senada disampaikan Masfiin, Kuncen Titik Nol Soekarno, yang memimpin pembacaan pernyataan tetenger. Ia menegaskan keyakinan Bung Karno lahir di Ploso bukan sekadar klaim sepihak, melainkan memori kolektif yang terjaga turun-temurun di Desa Rejoagung. “Warga setempat sejak lama mengenal lokasi ini sebagai tempat lahirnya Raden Koesno Sosro Di Hardjo, nama kecil Bung Karno,” jelasnya. Sementara itu, Binhad Nurrohmad, Inisiator Titik Nol Soekarno, mengungkapkan bahwa dukungan data atas fakta tersebut semakin menguat. Hingga kini pihaknya telah mengantongi lebih dari 10 dokumen yang menjelaskan kelahiran Bung Karno di Ploso. “Data ini juga diperkuat oleh penelusur sejarah Jombang, Moch. Faisol, yang memaparkan sejumlah foto autentik sebagai bukti pendukung,” tuturnya. Dukungan juga datang dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang. Koordinator Wilayah Ploso, Arif Yulianto atau Cak Arif, menyebut kajian teknis telah dilakukan dan memberikan rekomendasi kuat mengenai validitas kelahiran Soekarno di Ploso. Melalui peringatan ini, para pegiat sejarah berharap upaya pelestarian sekaligus pelurusan sejarah Bung Karno dapat terus berlanjut, sehingga generasi muda memperoleh edukasi yang akurat tentang jejak dan perjalanan hidup Sang Proklamator.

Menakar Arah Bangsa Menuju 2045, PSIB UMM Dorong Refleksi Kritis Indonesia Emas

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Ketika awal tahun kerap dimaknai sebagai sekadar jeda rutinitas dan perayaan seremonial, Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru memilih jalur berbeda. Awal 2026 dimanfaatkan sebagai momentum strategis untuk menakar arah masa depan bangsa melalui diskusi bertajuk “Refleksi Awal Tahun: Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045”, yang digelar di Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar, Senin (12/1/2026). Forum ini menjadi ruang refleksi kritis terhadap visi besar Indonesia Emas 2045 yang selama ini kerap digaungkan dalam wacana politik. Kepala PSIB UMM, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., menegaskan bahwa pemilihan waktu di awal tahun bukan tanpa alasan. Menurutnya, refleksi sejak dini merupakan langkah proaktif untuk menawarkan inovasi dan koreksi arah pembangunan. “Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan. Ia adalah visi besar yang harus diuji secara akademik dan ditopang fondasi ilmiah yang kuat. Diskusi ini tidak berhenti pada wacana, tetapi akan kami rumuskan menjadi book chapter yang dapat menjadi rujukan kebijakan bagi pemerintah dalam mengambil langkah strategis,” tegas Prof. Gonda. Diskusi kian menghangat saat Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PWM Jawa Timur, Luthfi J. Kurniawan, menyampaikan peringatan keras terkait bonus demografi. Ia menyebut, peluang besar tersebut dapat berubah menjadi ancaman serius jika tidak diiringi pembangunan sumber daya manusia dan sektor kesehatan yang memadai. “Bonus demografi bukan jaminan otomatis menuju negara maju. Jika pendidikan dan kesehatan diabaikan, justru akan menjadi bencana pembangunan. Indonesia Emas 2045 hanya bisa dicapai dengan tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas SDM, bukan sekadar jumlah penduduk usia produktif,” ujarnya. Kekhawatiran itu diperkuat oleh paparan Abdus Salam, M.Si., pakar sosiologi politik UMM. Ia mengajak peserta melihat sisi gelap pembangunan yang kerap luput dari jargon kemajuan, yakni kemiskinan struktural. Menurutnya, persoalan ini masih nyata dan berlapis, mulai dari sektor agraria hingga wilayah perkotaan. “Kita menghadapi kemiskinan agraria ketika petani kehilangan akses lahan, serta kemiskinan urban akibat struktur industri yang lemah sehingga masyarakat bergantung pada sektor informal. Ini pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan jika Indonesia benar-benar ingin melangkah menuju kemajuan,” paparnya. Diskusi yang dihadiri puluhan peserta dari berbagai latar belakang—mulai dari aktivis mahasiswa, akademisi, hingga pegiat literasi—ditutup dengan komitmen bersama untuk terus mengawal isu-isu strategis kebangsaan. PSIB UMM berharap gagasan kritis yang lahir dari forum ini dapat menjadi kontribusi nyata dalam merumuskan peta jalan Indonesia menuju masa depan yang adil, berkelanjutan, dan berkemajuan. (ANS)

UMM Cetak Garda Depan Penggerak Ekosistem Halal Nasional

Prof Elfi Anis Saati bersama tim mahasiswa UMM. Kompetensi Halal Jadi Senjata Lulusan, UMM Cetak Garda Depan Penggerak Ekosistem Halal Nasional MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Upaya membangun industri halal nasional tidak bisa dilakukan secara parsial. Dengan indeks literasi ekonomi syariah Indonesia yang masih berada di bawah 50 persen, dibutuhkan sinergi lintas sektor sekaligus penguatan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten. Menjawab tantangan tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tampil progresif dengan menjadikan mahasiswa sebagai garda terdepan penggerak ekosistem halal. Melalui Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS P3 Halal), UMM secara konsisten mengintegrasikan kompetensi halal ke dalam kurikulum lintas program studi. Mulai dari Teknologi Pangan, Agribisnis, Ekonomi Syariah, hingga Fakultas Hukum, mahasiswa dibekali pemahaman dan keterampilan halal yang aplikatif serta relevan dengan kebutuhan industri. Ketua PS P3 Halal UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP, menegaskan bahwa industri halal bertumpu pada empat pilar utama, yakni produk barang dan jasa, infrastruktur, SDM, serta dukungan regulasi pemerintah. Karena itu, penguatan kompetensi halal di bangku kuliah menjadi investasi strategis bagi masa depan lulusan. “Kompetensi halal saat ini membuka peluang karier yang sangat luas. Salah satunya dalam mendukung program strategis nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Dapur-dapur MBG bukan hanya membutuhkan ahli gizi, tetapi juga SDM yang memahami dan mampu menjamin kehalalan proses produksinya,” ujar Prof. Elfi kepada tim Humas UMM, 12 Januari 2026 lalu. Ia mencontohkan keberhasilan Iffi Amalia, S.T.P., alumni Teknologi Pangan UMM yang setelah hampir dua tahun magang di tim halal UMM, kini dipercaya menjadi Ahli Gizi dapur MBG di Banyuwangi. Keunggulannya terletak pada keahlian ganda, yakni pemahaman gizi sekaligus sertifikasi halal. PS P3 Halal UMM sendiri tercatat sebagai pusat kajian pangan aman halal pertama di Indonesia sejak berdiri pada 2008. Melalui program Pendamping Proses Produk Halal (P3H), mahasiswa diterjunkan langsung mendampingi pelaku UMKM dalam proses sertifikasi halal. “Mahasiswa mendapatkan empat manfaat sekaligus. Pertama, kompetensi teknis halal. Kedua, konversi nilai A tanpa harus mengikuti UAS jika berhasil meloloskan sertifikat halal UMKM. Ketiga, percepatan kelulusan karena laporan pendampingan dapat dijadikan skripsi. Keempat, ini menjadi amal jariyah karena membantu UMKM mendapatkan sertifikasi halal secara gratis,” jelas Prof. Elfi. Dampak program ini terbukti nyata. Dalam waktu hanya empat minggu, dari 90 mahasiswa yang terlibat, sebanyak 14 mahasiswa berhasil menuntaskan tugas terstruktur dan mengawal terbitnya sertifikat halal bagi sejumlah produk, seperti Minuman Bu Neneng (Sengkaling), Bumbu Pecel Bu Romlah (Singosari), hingga Dimsum Littlebite. “Mahasiswa adalah agent of change. Dengan bekal kompetensi halal ini, mereka tidak hanya siap terjun ke dunia kerja, tetapi juga mampu menjadi penggerak gaya hidup halal yang inklusif di tengah masyarakat,” pungkasnya. (ANS)

Memperingati 62 Tahun Kedatangan Cindy Adams di Ploso Jombang: Rekonstruksi Sejarah Kelahiran Bung Karno

Jombang (beritajatim.com) –Puluhan pegiat sejarah dan masyarakat Jombang menggelar rekonstruksi bersejarah yang memperingati kedatangan penulis asal Amerika Serikat, Cindy Adams, ke Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jumat, 16 Januari 2026. Acara ini diadakan bertepatan dengan peringatan 62 tahun kunjungan perdana Cindy Adams pada 16 Januari 1964 yang menjadi bagian dari riset penting dalam penulisan biografi Penyambung Lidah Rakyat, yang diinisiasi langsung oleh Presiden Soekarno. Kunjungan Cindy Adams pada tahun 1964 ini memiliki nilai sejarah yang mendalam. Dalam penugasan tersebut, Cindy melakukan riset dan wawancara dengan berbagai sosok kunci dari masa kecil Bung Karno, termasuk Mbok Suwi dan Mbok Mirah, pengasuh Bung Karno, serta Mbah Joyo Dipo, teman masa kecil Bung Karno. Di Ploso, Cindy Adams mengumpulkan banyak bahan penting untuk biografi Sang Proklamator. Rekonstruksi Sejarah dan Napak Tilas 1964 Dalam rangkaian acara tersebut, suasana tahun 1964 dihidupkan kembali melalui rekonstruksi yang diperankan oleh Yesinta Aprilia, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang, yang menggambarkan sosok Cindy Adams. Sejumlah tokoh yang turut hadir dalam kegiatan ini juga diperankan, antara lain Wedono Ploso Soetomo, Abdussukur, Hutauruk, dan Nusyirwan. Suasana tahun 1964 yang ditampilkan dalam rekonstruksi ini memberikan gambaran mendalam tentang bagaimana situasi pada masa itu. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan peresmian Tetenger Situs Kelahiran Ir. Soekarno, yang menjadi sorotan utama. Raden Mas Kuswartono, perwakilan dari Keluarga Persada Soekarno Kediri, hadir dalam acara tersebut dan menegaskan pentingnya meluruskan sejarah keluarga. Dalam sambutannya, Kuswartono menekankan, “Persoalan tempat kelahiran Bung Karno memang sering diperdebatkan. Namun, berdasarkan keterangan internal keluarga kami, Bung Karno lahir di Ploso, yang pada masa itu secara administratif masuk dalam wilayah Karesidenan Surabaya.” Memori Kolektif Masyarakat Desa Rejoagung Masfiin, yang memimpin pembacaan pernyataan tetenger, menjelaskan bahwa keyakinan bahwa Bung Karno lahir di Ploso bukanlah klaim sepihak. “Ini adalah memori kolektif yang terjaga turun-temurun di Desa Rejoagung,” kata Masfiin. Sejak lama, warga setempat mengenal lokasi tersebut sebagai tempat kelahiran Raden Koesno Sosrodihardjo, nama kecil Bung Karno. Dukungan terhadap klaim ini semakin menguat dengan adanya lebih dari 10 dokumen yang menjelaskan kelahiran Soekarno di Ploso, sebagaimana disampaikan oleh Binhad Nurrohmad, inisiator Titik Nol. “Kami memiliki lebih dari 10 bukti dokumen yang menjelaskan kelahiran Soekarno di sini,” ungkapnya. Moh Faisol, seorang penelusur sejarah Jombang, juga memaparkan sejumlah foto autentik sebagai bukti pendukung. Penelusuran ini juga diperkuat oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang yang melakukan kajian teknis terkait validitas klaim kelahiran Soekarno di Ploso. Koordinator Wilayah Ploso, Arif Yulanto atau Cak Arif, menyatakan bahwa kajian ini memberikan rekomendasi kuat mengenai kebenaran klaim tersebut. Peringatan ini menjadi momen penting bagi para pegiat sejarah dan masyarakat Ploso, yang berharap upaya pelestarian dan pelurusan sejarah dapat terus berlanjut. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi yang akurat tentang jejak hidup dan perjalanan Bung Karno kepada generasi muda. Dengan adanya bukti-bukti autentik dan kajian mendalam, diharapkan masyarakat luas dapat lebih memahami fakta sejarah yang sebenarnya. [suf]