UMM Sulap Desa Sumbergedang Jadi Sentra Smart Farming

MALANG, PENAJATIM.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M) telah mengubah wajah Desa Sumbergedang, Pasuruan menjadi sentra agrowisata produktif yang mengintegrasikan peternakan, pertanian modern, dan wisata edukasi. Desa yang terletak di Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan ini memiliki lahan kas desa strategis seluas enam hektare. Pemanfaatan lahan ini menjadi strategi kunci pemerintah desa dan UMM untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian bernilai tambah yang terintegrasi. “Pada tahap awal, kami memperkuat ekonomi dasar masyarakat melalui pengembangan peternakan, perikanan, serta UMKM berbasis hasil pertanian seperti keripik pisang dan minuman tradisional,” kata Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes., IPU, Ketua Tim P3M UMM dikutip dari rilis resmi Humas UMM, Kamis (8/1/2026). Daya tarik utama agrowisata Sumbergedang saat ini adalah budidaya melon lavender yang menerapkan teknologi smart farming. Budidaya dilakukan di dalam greenhouse berukuran 11×40 meter yang menampung sekitar 1.450 tanaman. Sistem hidroponik yang diterapkan dilengkapi dengan pengendalian irigasi dan nutrisi digital. “Penerapan teknologi digital memungkinkan pengelolaan tanaman dilakukan secara presisi. Kebutuhan nutrisi dan pengairan dapat dikontrol melalui ponsel, sehingga risiko kesalahan perawatan dapat diminimalkan,” jelas Sujono. Selain melon, tim UMM juga mengembangkan perkebunan pisang di lahan seluas 1,5 hektare. Sebanyak 1.500 pohon pisang dari varietas unggul seperti raja nangka, raja bulu, dan cavendish telah ditanam. Dengan estimasi produksi lebih dari dua ton per siklus tanam, agrowisata ini berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan desa. Ke depan, greenhouse dirancang untuk berproduksi secara berkelanjutan dengan empat kali siklus tanam dalam setahun. Sujono berharap pengembangan agrowisata ini terus meluas dengan penambahan wahana edukasi lainnya, menjadikan Desa Sumbergedang tidak hanya sekadar desa wisata, tetapi pusat rujukan agrowisata melon dan pisang di Kabupaten Pasuruan. (Zai).
Inovasi COLARIX Karya Mahasiswa UMM Sabet Emas PKMM Kategori Karsa Cipta

Reportasemalang – Berangkat dari kepekaan terhadap persoalan nyata di sektor peternakan, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan kapasitasnya sebagai inovator muda di tingkat nasional. Melalui ajang Penghargaan Kreativitas Mahasiswa Muhammadiyah (PKMM) yang digelar pada November 2025, dua mahasiswa Program Studi Informatika UMM sukses menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih medali emas kategori PKMM-KC (Karsa Cipta). Mereka adalah Putri Nayla Sabri dan Nisrina Nurhafihah yang berhasil mengungguli peserta lain berkat inovasi teknologi bertajuk COLARIX. Sebuah perangkat cerdas untuk pemantauan kesehatan ternak. Capaian ini menegaskan peran mahasiswa UMM sebagai generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif menghadirkan solusi berbasis teknologi atas persoalan riil di masyarakat. Putri Nayla Sabri menjelaskan bahwa PKMM merupakan wadah strategis bagi mahasiswa Muhammadiyah untuk mengembangkan gagasan inovatif berbasis riset dan kebutuhan nyata. Menurutnya, skema kompetisi ini memiliki kemiripan dengan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tingkat nasional, namun diselenggarakan secara khusus oleh Muhammadiyah sebagai ruang aktualisasi intelektual mahasiswa. Mahasiswa asal Wamena tersebut menuturkan, timnya mengangkat isu serius di sektor peternakan, yakni penyakit mulut dan kuku (PMK). Penyakit ini berdampak signifikan terhadap kesehatan ternak sekaligus menimbulkan kerugian ekonomi bagi peternak. Berdasarkan data kasus, PMK tercatat menginfeksi lebih dari 14.000 ekor ternak dalam rentang Desember 2024 hingga Januari 2025, sehingga dinilai sebagai persoalan mendesak yang membutuhkan pendekatan inovatif dan berbasis teknologi. Berangkat dari permasalahan tersebut, tim kemudian mengembangkan COLARIX, sebuah smart collar berbasis Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI) yang berfungsi memantau kondisi sapi pasca infeksi PMK secara otomatis dan real time. Perangkat ini mengintegrasikan kamera ESP32-CAM, sensor suhu DS18B20, serta sensor gerak MPU6050. Data yang diperoleh kemudian diproses menggunakan algoritma MobileNet dan Dempster-Shafer Theory, sebelum ditampilkan dalam sebuah dashboard pemantauan kesehatan ternak. “COLARIX ini merupakan smart collar berbasis IoT dan AI yang digunakan untuk memonitoring kondisi sapi pasca infeksi penyakit mulut dan kuku,” ujar Putri. Dalam proses pengembangannya, tim mengakui masih menghadapi sejumlah keterbatasan. Riset dilakukan dalam waktu relatif singkat, kurang dari dua minggu, dan produk yang dihasilkan masih berada pada tahap prototipe fungsional awal tanpa uji lapangan. Meski demikian, Putri menegaskan bahwa fokus utama tim adalah memastikan kelayakan teknis serta landasan ilmiah alat sebagai pijakan pengembangan lanjutan. Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan pihak kampus. Tim memperoleh pendampingan dari dosen pembimbing, fasilitasi akademik, hingga ruang pengembangan ide di lingkungan Program Studi Informatika UMM. “Dukungan tersebut menjadi faktor penting yang mendorong mahasiswa berani berinovasi dan berkompetisi di tingkat nasional,” ungkapnya. Sementara itu, Zamah Sari, S.T., M.T., Dosen Fakultas Teknik Program Studi Informatika sekaligus dosen pembina tim PKMM-KC UMM, menilai inovasi COLARIX memiliki sejumlah keunggulan. Diantaranya pada sistem pemantauan real time dan non-invasif, penggunaan multi-sensor yang meningkatkan akurasi, serta biaya produksi yang relatif terjangkau sehingga berpotensi diterapkan di peternakan komunal. Sebagai penutup, Ia berpesan kepada mahasiswa UMM agar tidak ragu memulai ide dan berinovasi meskipun belum sempurna. Menurutnya, inovasi bernilai lahir dari keberanian mengangkat masalah nyata dan kemauan untuk terus belajar. “Prestasi ini menjadi bukti konsistensi UMM dalam melahirkan mahasiswa yang peka terhadap persoalan sosial dan mampu menghadirkan solusi berbasis teknologi bagi masyarakat,” pungkasnya.
Manajemen Waktu: Seni Mengatur Diri Sendiri di Tengah Kesibukan

JurnalPost.com – Di era sekarang serba cepat seperti sekarang kemapuan nengatur waktu menjadi keterampilan penting yang harus dimiliki setiap individu. Waktu adalah sumber daya yang tidak bisa diperbarui sekali berlalu akan pernah kembali maka karena itu manajemen waktu bukan sekadar kemampuan teknis melainkan seni untuk seimbangkan aspek kehidupan ditengah kesibukan yang tak terhindarkan. Pentingnya manjemen waktu dalam kehidupan pribadi dan profesional manjemen waktu memiliki waktu peran sangat besar baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional. Dalam konteks pribadi hal ini sering kali berkaitan dengan cara seseorang mengatur waktu diluar kewajiban utama misalnya bagi mahasiswa yang juga berkerja part-time .Sementara dalam konteks profesional manajemen waktu berhubungan dengan bagaimana orang mengatur kegiatan akademik dikampus seperti tugas hingga penelitian tugas hingga penelitian Sebagai berikut : 1. Manajemen waktu dalam kehidupan pribadi (Perkerjaan Part-Time) Menjalani perkerjaan part- time disela sela kegiatan akademik adalah tantangan tersendiri di satu sisi berkerja memberikan pengalaman, keterampilan dan tambahan penghasilan. Namun disisi lain hal ini menuntut pengaturan waktu yang matang biar tidak menggangu aktivitas utama. Beberapa manfaat manajemen waktu bagi perkerja part-time antara lain: – Menjaga keseimbangan hidup yaitu dengan jadwal yang jelas,kamu dapa mengatur waktu antar berkerja belajar dan istirahat. – Menghindari kelelahan mental dan fisik dengan perencanaan yang baik mencegah burnout akibat terlalu banyak aktivitas dalam satu hari. – Meningkatkan kualitas kerja ketika waktu diatur dengan efesien hasil kerja menjadi lebih baik optimal tanpa harus terburu-buru. – Mebangun kedisiplinan dan tanggung jawab yaitu tepat waktu dalam berkerja membentuk etika prefesional yang akan berguna dimasa depan . 2. Manajemen waktu dalam kehidupan prefesional (Aktivitas kampus) Dalam konteks kampus manajemen waktu sangat berpengaruh terhadap prestasi akademik dan keseimbangan kehidupan mahasiswa . Banyak mahasiswa yang kesulitan menyeimbangkan antara kuliah organisasi dan kegiatan sosial tanpa perencanaan waktu yang baik hal ini dapat menimbulkan stress dan menurunkan produktivitas. Manfaat utama manajemen waktu di dunia kerja kampus antara lain : – Meningkat efektivitas belajar yaitu Mahasiswa dapat fokus pada prioritas akademik dan menghindari penundaan tugas. – Mendukung pengembangan diri dengan waktu yang terkelola baik membuka peluang untuk mengikuti kegiatan organisasi seminar atau magang. – Mengurangi tekanan akademik dengan perencanaan jadwal mahasiswa lebih tenang menghadapi ujian dan tenggat tugas. -Membentuk kebiasan profesional displin dalam waktu kuliah melatih kesiapan menghadapi dunia kerja dimasa depan . Agar manajemen waktu berjalan efektif berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan: 1.Buat perencaan harian dan mingguan dengan gunakan kalender digital atau buku agenda untuk mencatat kegiatan penting. 2.Tentukan prioritas dengan bedakan anatara tugas yang penting dan yang mendesak dengan metode Eisenhower Matrix. 3. Hidari multitasking yaitu fokus pada satu perkerjaan agar hasil lebih optimal dan cepat selesai. 4. Sediakan waktu istirahat jangan abaikan waktu untuk relaksasi karena tubuh dan pikiran yang segar meningkatkan produktivitas. 5.Evaluasi waktu secara berkala lakukan refleksi mingguan untuk melihat apakah waktu sudah digunakan dengan efesien . Manajemen waktu bukan sekadar cara mengantur jadwal tetapi juga seni mengdalikan diri ditengah berbagai kesibukan baik dalam kehidupan pribadi seperti menjalani perkerjaan part-time maupun dalam kehidupan profesional dilingkungan kampus kemapuan ini menjadi fondasi untuk meraih kesuksesan tanpa kehilangan kesimbangan hidup .Dengan penglolaan waktu yang baik setiap individu dapat menjadi lebih produktif,terarah,dan tenang dalam menghadapi kesibukan sehari-hari.
Inovasi COLARIX Antarkan Mahasiswa UMM Raih Medali Emas PKMM Kategori Karsa Cipta

Sketsamalang.com – Kepekaan terhadap persoalan riil di sektor peternakan mengantarkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih prestasi nasional. Dua mahasiswa Program Studi Informatika UMM berhasil meraih medali emas di ajang Penghargaan Kreativitas Mahasiswa Muhammadiyah (PKMM) kategori Karsa Cipta (PKMM-KC). Dua mahasiswa tersebut adalah Putri Nayla Sabri dan Nisrina Nurhafihah. Keduanya unggul berkat inovasi teknologi bertajuk COLARIX, sebuah perangkat cerdas untuk pemantauan kesehatan ternak. Prestasi ini menegaskan peran mahasiswa UMM sebagai generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan solusi berbasis teknologi terhadap persoalan nyata di masyarakat. Putri Nayla Sabri menjelaskan, PKMM merupakan wadah strategis bagi mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah untuk mengembangkan gagasan inovatif berbasis riset dan kebutuhan lapangan. Mahasiswa asal Wamena tersebut menuturkan bahwa timnya mengangkat persoalan penyakit mulut dan kuku (PMK) yang hingga kini masih menjadi ancaman serius di sektor peternakan. Penyakit ini berdampak langsung terhadap kesehatan ternak serta menimbulkan kerugian ekonomi bagi peternak. “Berdasarkan data kasus, PMK tercatat menginfeksi lebih dari 14.000 ekor ternak pada periode Desember 2024 hingga Januari 2025. Kondisi ini membutuhkan penanganan inovatif berbasis teknologi,” ujarnya. Berangkat dari permasalahan tersebut, tim mengembangkan COLARIX, yakni smart collar berbasis Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI) yang berfungsi memantau kondisi sapi pascainfeksi PMK secara otomatis dan real time. Perangkat ini mengintegrasikan kamera ESP32-CAM, sensor suhu DS18B20, serta sensor gerak MPU6050. Data yang diperoleh kemudian diolah menggunakan algoritma MobileNet dan Dempster-Shafer Theory, sebelum ditampilkan melalui dashboard pemantauan kesehatan ternak. “COLARIX ini merupakan smart collar berbasis IoT dan AI yang digunakan untuk memonitoring kondisi sapi pasca infeksi penyakit mulut dan kuku,” ujar Putri. Dalam proses pengembangannya, tim mengakui masih menghadapi sejumlah keterbatasan. Penelitian dilakukan dalam waktu relatif singkat, kurang dari dua pekan, dan produk yang dihasilkan masih berupa prototipe fungsional awal tanpa uji lapangan. Meski demikian, tim memastikan bahwa aspek kelayakan teknis dan landasan ilmiah telah terpenuhi sebagai dasar pengembangan lanjutan. Keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan pihak kampus, mulai dari pendampingan dosen pembimbing, fasilitasi akademik, hingga lingkungan pengembangan ide di Program Studi Informatika UMM. Dosen Fakultas Teknik Program Studi Informatika UMM sekaligus pembina tim PKMM-KC, Zamah Sari, S.T., M.T., menilai COLARIX memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya sistem pemantauan real time yang non-invasif, penggunaan multisensor untuk meningkatkan akurasi, serta biaya produksi yang relatif terjangkau sehingga berpotensi diterapkan di peternakan komunal. Ia juga berpesan agar mahasiswa tidak ragu memulai inovasi meskipun masih memiliki keterbatasan. “Inovasi yang bernilai lahir dari keberanian mengangkat masalah nyata dan kemauan untuk terus belajar,” ujarnya. Prestasi ini sekaligus menjadi bukti konsistensi UMM dalam melahirkan mahasiswa yang peka terhadap persoalan sosial dan mampu menghadirkan solusi teknologi yang aplikatif bagi masyarakat.
Dosen UMM Terbang ke Istanbul: Akademisi Pertama dari Indonesia Tempuh Course DNS Internasional

MALANG POST – Tahun 2026 dibuka dengan langkah strategis menuju panggung internasional dari Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Konsistensi dalam pengembangan kompetensi dosen kembali ditunjukkan melalui partisipasi aktif Rakhmad Rosadi, SST.Ft., Ftr., M.Sc.PT., Ph.D. Ia tercatat sebagai dosen pertama dari Indonesia dalam Course Dynamic Neuromuscular Stabilization (DNS) tingkat internasional di Istanbul, Turki. Course bergengsi ini mengangkat tema “Clinical Evaluation of Patients with Scoliosis”. Berfokus pada pemanfaatan DNS functional tests untuk mengevaluasi pasien dengan Adolescent Idiopathic Scoliosis (AIS) serta berbagai kondisi asimetri postural. Pendekatan yang digunakan menitikberatkan pada evaluasi klinis berbasis neuromuskular guna memahami gangguan stabilisasi postural secara komprehensif dan sistematis. Dalam pelatihan tersebut, peserta memperoleh pemahaman mendalam mengenai klasifikasi dan etiologi AIS, skoliosis yang bersifat didapat (acquired scoliosis), hingga berbagai bentuk asimetri postur yang muncul sejak usia anak-anak. Selain itu, dibahas pula prinsip sagittal stabilization pada anak, dewasa, maupun atlet, dengan tujuan mencapai postur optimal sekaligus meningkatkan performa fungsional dan olahraga pada individu dengan skoliosis. “Ini tidak hanya menjadi upaya peningkatan kompetensi profesional sebagai fisioterapis dan akademisi, tetapi juga bagian dari strategi pengembangan pendidikan di Program Studi Fisioterapi UMM.” “Pengetahuan dan pengalaman internasional yang diperoleh diharapkan dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran, baik pada mata kuliah inti maupun mata kuliah pilihan,” ujarnya Rakhmad. Sebagai bentuk komitmen tersebut, Program Studi S1 Fisioterapi UMM memiliki sejumlah mata kuliah pilihan unggulan yang dirancang sesuai kebutuhan praktik profesional. Salah satunya adalah mata kuliah Dynamic Neuromuscular Stabilization (DNS). Seluruh mata kuliah pilihan dibimbing langsung oleh dosen tersertifikasi. Sehingga mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga keterampilan klinis aplikatif yang sesuai dengan standar internasional. Mata kuliah DNS sendiri membekali mahasiswa dengan pemahaman tentang kontrol motorik, stabilisasi postural, serta penerapan DNS dalam berbagai kasus muskuloskeletal. Ketua Program Studi S1 Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, Ph.D., menyampaikan. Bahwa melalui pengembangan kurikulum berbasis keilmuan mutakhir serta keterlibatan aktif dosen dalam forum internasional, Prodi Fisioterapi UMM terus berupaya mencetak lulusan yang kompeten, adaptif, dan memiliki daya saing global. “Keikutsertaan dosen dalam course DNS internasional ini merupakan bukti nyata komitmen kami dalam menghadirkan pendidikan fisioterapi yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan praktik klinis terkini.” “Ilmu dan pengalaman yang diperoleh akan kami integrasikan langsung ke dalam proses pembelajaran agar mahasiswa siap menghadapi tantangan profesional di tingkat global,” pungkasnya.(*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)
Mahasiswa UMM Sabet Emas PKMM Kategori Karsa Cipta Berkat Inovasi COLARIX

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Berangkat dari kepekaan terhadap persoalan nyata di sektor peternakan, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan kapasitasnya sebagai inovator muda di tingkat nasional. Melalui ajang Penghargaan Kreativitas Mahasiswa Muhammadiyah (PKMM) yang digelar pada November 2025, dua mahasiswa Program Studi Informatika UMM sukses menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih medali emas kategori PKMM-KC (Karsa Cipta). Dua mahasiswa tersebut adalah Putri Nayla Sabri dan Nisrina Nurhafihah yang berhasil mengungguli peserta lain berkat inovasi teknologi bertajuk COLARIX, sebuah perangkat cerdas untuk pemantauan kesehatan ternak. Capaian ini menegaskan peran mahasiswa UMM sebagai generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif menghadirkan solusi berbasis teknologi atas persoalan riil di masyarakat. Putri Nayla Sabri menjelaskan bahwa PKMM merupakan wadah strategis bagi mahasiswa Muhammadiyah untuk mengembangkan gagasan inovatif berbasis riset dan kebutuhan nyata. Menurutnya, skema kompetisi ini memiliki kemiripan dengan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tingkat nasional, namun diselenggarakan secara khusus oleh Muhammadiyah sebagai ruang aktualisasi intelektual mahasiswa. Mahasiswa asal Wamena tersebut menuturkan bahwa timnya mengangkat isu serius di sektor peternakan, yakni penyakit mulut dan kuku (PMK). Penyakit ini berdampak signifikan terhadap kesehatan ternak sekaligus menimbulkan kerugian ekonomi bagi peternak. Berdasarkan data kasus, PMK tercatat menginfeksi lebih dari 14.000 ekor ternak dalam rentang Desember 2024 hingga Januari 2025, sehingga dinilai sebagai persoalan mendesak yang membutuhkan pendekatan inovatif dan berbasis teknologi. Berangkat dari permasalahan tersebut, tim kemudian mengembangkan COLARIX, sebuah smart collar berbasis Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI) yang berfungsi memantau kondisi sapi pasca infeksi PMK secara otomatis dan real time. Perangkat ini mengintegrasikan kamera ESP32-CAM, sensor suhu DS18B20, serta sensor gerak MPU6050. Data yang diperoleh kemudian diproses menggunakan algoritma MobileNet dan Dempster-Shafer Theory, sebelum ditampilkan dalam sebuah dashboard pemantauan kesehatan ternak. “COLARIX ini merupakan smart collar berbasis IoT dan AI yang digunakan untuk memonitoring kondisi sapi pasca infeksi penyakit mulut dan kuku,” ujar Putri. Dalam proses pengembangannya, tim mengakui masih menghadapi sejumlah keterbatasan. Riset dilakukan dalam waktu relatif singkat, kurang dari dua minggu, dan produk yang dihasilkan masih berada pada tahap prototipe fungsional awal tanpa uji lapangan. Meski demikian, Putri menegaskan bahwa fokus utama tim adalah memastikan kelayakan teknis serta landasan ilmiah alat sebagai pijakan pengembangan lanjutan. Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan pihak kampus. Tim memperoleh pendampingan dari dosen pembimbing, fasilitasi akademik, hingga ruang pengembangan ide di lingkungan Program Studi Informatika UMM. Dukungan tersebut menjadi faktor penting yang mendorong mahasiswa berani berinovasi dan berkompetisi di tingkat nasional. Sementara itu, Zamah Sari, S.T., M.T., Dosen Fakultas Teknik Program Studi Informatika sekaligus dosen pembina tim PKMM-KC UMM, menilai inovasi COLARIX memiliki keunggulan pada sistem pemantauan real time dan non-invasif, penggunaan multi-sensor yang meningkatkan akurasi, serta biaya produksi yang relatif terjangkau sehingga berpotensi diterapkan di peternakan komunal. ANS Sebagai penutup, Ia berpesan kepada mahasiswa UMM agar tidak ragu memulai ide dan berinovasi meskipun belum sempurna. Menurutnya, inovasi bernilai lahir dari keberanian mengangkat masalah nyata dan kemauan untuk terus belajar. Prestasi ini menjadi bukti konsistensi UMM dalam melahirkan mahasiswa yang peka terhadap persoalan sosial dan mampu menghadirkan solusi berbasis teknologi bagi masyarakat.(*)
Berbasis IoT dan AI, COLARIX Mahasiswa UMM Raih Medali Emas PKMM

pwmu.co – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Dua mahasiswa Program Studi Informatika UMM berhasil meraih medali emas dalam ajang Penghargaan Kreativitas Mahasiswa Muhammadiyah (PKMM) kategori Karsa Cipta (PKMM-KC) yang digelar pada November 2025. Dua mahasiswa tersebut adalah Putri Nayla Sabri dan Nisrina Nurhafihah. Keduanya berhasil unggul berkat inovasi teknologi bertajuk COLARIX, sebuah perangkat cerdas untuk pemantauan kesehatan ternak berbasis Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI). Capaian ini menegaskan peran mahasiswa UMM sebagai inovator muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap persoalan riil di masyarakat, khususnya di sektor peternakan. Putri Nayla Sabri menjelaskan bahwa PKMM merupakan wadah strategis bagi mahasiswa Muhammadiyah untuk mengembangkan gagasan inovatif berbasis riset dan kebutuhan nyata. Menurutnya, skema kompetisi ini memiliki kemiripan dengan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tingkat nasional, namun diselenggarakan secara khusus oleh Persyarikatan Muhammadiyah. Mahasiswa asal Wamena tersebut menuturkan bahwa timnya mengangkat isu penyakit mulut dan kuku (PMK) yang masih menjadi persoalan serius di sektor peternakan. Penyakit ini berdampak langsung pada kesehatan ternak sekaligus menimbulkan kerugian ekonomi bagi peternak. “Berdasarkan data kasus, PMK tercatat menginfeksi lebih dari 14.000 ekor ternak pada Desember 2024 hingga Januari 2025. Ini menjadi persoalan mendesak yang membutuhkan pendekatan inovatif berbasis teknologi,” jelasnya. Berangkat dari persoalan tersebut, tim kemudian mengembangkan COLARIX, sebuah smart collar yang dirancang untuk memantau kondisi sapi pasca infeksi PMK secara otomatis dan real time. Perangkat ini mengintegrasikan kamera ESP32-CAM, sensor suhu DS18B20, serta sensor gerak MPU6050. Data yang dikumpulkan kemudian diproses menggunakan algoritma MobileNet dan Dempster-Shafer Theory, sebelum ditampilkan dalam sebuah dashboard pemantauan kesehatan ternak. “COLARIX ini merupakan smart collar berbasis IoT dan AI yang digunakan untuk memonitoring kondisi sapi pasca infeksi penyakit mulut dan kuku,” ujar Putri. Dalam proses pengembangannya, tim mengakui masih menghadapi sejumlah keterbatasan. Riset dilakukan dalam waktu relatif singkat, kurang dari dua minggu, dan produk masih berada pada tahap prototipe fungsional awal tanpa uji lapangan. Meski demikian, fokus utama tim adalah memastikan kelayakan teknis dan landasan ilmiah sebagai pijakan pengembangan lanjutan. Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan kampus. Tim memperoleh pendampingan dosen pembimbing, fasilitasi akademik, serta ruang pengembangan ide di lingkungan Program Studi Informatika UMM. Dosen Fakultas Teknik Program Studi Informatika UMM sekaligus pembina tim PKMM-KC, Zamah Sari, S.T., M.T., menilai inovasi COLARIX memiliki sejumlah keunggulan. Di antaranya sistem pemantauan real time dan non-invasif, penggunaan multi-sensor yang meningkatkan akurasi, serta biaya produksi yang relatif terjangkau sehingga berpotensi diterapkan di peternakan komunal. Sebagai penutup, ia berpesan kepada mahasiswa UMM agar tidak ragu memulai ide dan berinovasi meskipun belum sempurna. “Inovasi bernilai lahir dari keberanian mengangkat masalah nyata dan kemauan untuk terus belajar,” ujarnya. Prestasi ini menjadi bukti konsistensi UMM dalam melahirkan mahasiswa yang peka terhadap persoalan sosial dan mampu menghadirkan solusi berbasis teknologi bagi masyarakat. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Azrohal Hasan
FIKES UMM Gelar International Guest Lecture Bahas Keperawatan Pasien Penderita Diabetes

Malangpariwara.com – Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kegiatan International Guest Lecture dengan tema “Bridging Technology and Compassion: The Future of Nursing Care For People With Diabetes.” Kegiatan ini menjadi agenda rutin tahunan yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas akademik mahasiswa sekaligus memperkuat jejaring dengan institusi layanan kesehatan. Ketua Program Studi Profesi Ners UMM, Ns. Anis Ika Nur Rohmah, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.MB., menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya ditujukan bagi mahasiswa. Tetapi juga melibatkan tenaga kesehatan dari rumah sakit mitra. “Acara International Guest Lecture ini memang rutin kita adakan setiap tahun. Tujuannya pertama untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa. Lalu kita juga mengundang relasi dari beberapa rumah sakit untuk melakukan transfer knowledge,” jelasnya. Fokuskan pada Penyakit Diabetes Melitus Ia menambahkan, materi yang disampaikan berfokus pada perkembangan terbaru dalam evidence based nursing. Khususnya terkait perawatan pasien diabetes melitus. Dengan begitu, baik mahasiswa maupun tenaga kesehatan dapat terus mengikuti pembaruan ilmu. “Isinya nanti membahas penelitian-penelitian terbaru dan evidence based nursing terbaru. Sehingga teman-teman di rumah sakit juga bisa ikut update. Jadi kita saling berbagi pengetahuan,” ujarnya. Kegiatan ini diikuti sekitar 250 peserta yang berasal dari mahasiswa S1 Keperawatan, mahasiswa Profesi Ners, serta perwakilan dari sejumlah rumah sakit mitra. Seperti RSSA, RS Wava Husada, RSI Aisyiyah, RS UMM, dan RSUD Kepanjen. Hadirkan Narasumber Internasional Untuk pemateri, UMM menghadirkan narasumber dari berbagai negara, di antaranya Vietnam, Taiwan, dan Indonesia. Menurut Anis, hal ini merupakan bentuk implementasi dari kerja sama internasional yang telah dijalin UMM. “Ini juga bagian dari implementasi MoU kami. Di dalam MoU itu ada pelaksanaan penelitian, pengabdian masyarakat, dan sharing knowledge seperti ini,” katanya. Ia berharap, melalui kegiatan ini mahasiswa mendapatkan gambaran nyata tentang penerapan perawatan pasien diabetes di rumah sakit, baik di dalam maupun luar negeri. “Mahasiswa jadi tidak hanya tahu praktik di Indonesia, tapi juga mendapat gambaran bagaimana implementasi perawatan pasien diabetes di luar negeri,” tutupnya. (Djoko W)
Dosen Keperawatan UMM Tekankan Pencegahan Dini Hadapi Cuaca Ekstrem 2026

Malangpariwara.com – Cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi pada awal 2026 dinilai tidak hanya berdampak pada kondisi lingkungan, tetapi juga berisiko terhadap kesehatan masyarakat. Perubahan suhu, curah hujan tinggi, dan peningkatan kelembapan memengaruhi kemampuan tubuh dalam beradaptasi. Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ns. Zaqqi Ubaidillah, M.Kep., Sp.Kep.MB., menyebut kondisi tersebut sebagai stresor lingkungan. Di mana yang meningkatkan gangguan pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan, terutama pada kelompok rentan. “Cuaca ekstrem tidak bisa dipandang hanya sebagai perubahan cuaca semata, tetapi harus dilihat sebagai risiko kesehatan populasi. Ketika tubuh terus-menerus terpapar stres lingkungan dan tidak mampu beradaptasi secara optimal, maka kerentanan terhadap penyakit akan meningkat. Karena itu, respons kesehatan harus bersifat promotif dan preventif, bukan sekadar reaktif ketika sakit sudah terjadi,” ujar Zaqqi. Cuaca Ekstrem Picu Stres Kronik Ia menambahkan, cuaca ekstrem dapat memicu stres fisiologis kronik yang berdampak pada penurunan daya tahan tubuh. Suhu dingin dan kelembapan tinggi berpotensi melemahkan pertahanan mukosa saluran pernapasan. Sementara suhu panas ekstrem meningkatkan kehilangan cairan dan elektrolit. Kondisi ini dapat menimbulkan kelelahan fisiologis, gangguan termoregulasi, penurunan toleransi aktivitas, hingga meningkatnya risiko infeksi. “Penurunan daya tahan tubuh sebenarnya bukan semata-mata disebabkan oleh cuaca. Tetapi karena tubuh gagal mempertahankan homeostasis secara optimal. Ketika keseimbangan ini terganggu dalam waktu lama, maka tubuh menjadi lebih mudah terserang penyakit,” jelasnya. Langkah Pencegahan Dalam menghadapi kondisi tersebut, pendekatan keperawatan menekankan pencegahan primer. Melalui perubahan perilaku hidup bersih dan sehat, pemenuhan nutrisi seimbang, serta kecukupan cairan tubuh. Asupan protein, vitamin, dan mineral berperan penting dalam mendukung sistem imun, sementara suplemen hanya bersifat pendukung dan tidak dapat menggantikan pola makan sehat. Kebutuhan cairan juga perlu diperhatikan karena dalam cuaca ekstrem tubuh cenderung kehilangan cairan lebih cepat meski rasa haus tidak selalu muncul. “Langkah-langkah sederhana seperti mencuci tangan secara konsisten. Memastikan keamanan makanan dan air minum, menjaga asupan gizi. Serta memenuhi kebutuhan cairan sekitar 2–2,5 liter per hari untuk orang dewasa merupakan bentuk pencegahan yang sangat efektif. Upaya ini jauh lebih baik dibandingkan menunggu sakit lalu berobat,” kata Zaqqi. Zaqqi juga menyoroti kerentanan kelompok anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis. Serta pekerja lapangan yang memiliki kapasitas adaptasi fisiologis dan psikososial lebih rendah. Perlindungan terhadap kelompok ini membutuhkan dukungan keluarga dan komunitas. Melalui pengawasan kesehatan, pengaturan aktivitas harian, pemenuhan nutrisi, serta lingkungan yang aman dan mendukung. Gencarkan Kesehatan Mental Selain itu, kesehatan mental dinilai memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan tubuh. “Stres dan kecemasan akibat cuaca ekstrem dapat meningkatkan hormon stres yang berdampak pada penurunan imunitas. Karena itu, menjaga kesehatan mental adalah bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kesehatan fisik. Ketahanan kesehatan tidak dibangun saat krisis, tetapi melalui kebiasaan hidup sehat yang konsisten dan adaptif terhadap perubahan lingkungan,” pungkasnya. Terakhir, Ia berharap masyarakat semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan kesehatan menghadapi cuaca ekstrem. Tidak hanya dengan kewaspadaan individu, tetapi juga melalui penguatan peran keluarga, komunitas, dan fasilitas layanan kesehatan. Menurutnya, sinergi antara edukasi kesehatan yang berkelanjutan, kebijakan yang responsif, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci dalam menekan dampak kesehatan akibat perubahan iklim. Dengan upaya preventif yang konsisten dan berbasis ilmu pengetahuan. Ia optimistis masyarakat dapat tetap menjaga ketahanan kesehatan dan kualitas hidup meski di tengah tantangan cuaca ekstrem yang semakin kompleks. (Djoko W)
Mahasiswa UMM Kembangkan COLARIX, Kalung Pintar IoT–AI untuk Deteksi Dini PMK pada Ternak

Malang (beritajatim.com) – Ancaman Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak masih menjadi momok serius bagi sektor peternakan nasional. Berdasarkan data terbaru, lebih dari 14.000 kasus infeksi PMK tercatat menyerang ternak di Indonesia dalam periode Desember 2024 hingga Januari 2025, memicu kekhawatiran peternak dan menuntut solusi cepat berbasis teknologi. Merespons kondisi tersebut, dua mahasiswa Program Studi Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Putri Nayla Sabri dan Nisrina Nurhafihah, berhasil menghadirkan inovasi teknologi bertajuk COLARIX. Inovasi ini merupakan perangkat pemantau kesehatan ternak cerdas yang sukses meraih medali emas dalam ajang Penghargaan Kreativitas Mahasiswa Muhammadiyah (PKMM) kategori Karsa Cipta (PKMM-KC) pada November 2025. Putri Nayla Sabri, mahasiswa asal Wamena, menjelaskan bahwa COLARIX dirancang sebagai jawaban atas kerugian ekonomi peternak akibat keterlambatan deteksi penyakit pada ternak. Perangkat ini berbentuk smart collar atau kalung pintar yang mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI). “COLARIX ini merupakan smart collar berbasis IoT dan AI yang digunakan untuk memonitoring kondisi sapi pasca infeksi penyakit mulut dan kuku,” ungkap Putri, Rabu (7/1/2026). Secara teknis, COLARIX bekerja dengan menggabungkan sejumlah sensor canggih, antara lain kamera ESP32-CAM, sensor suhu DS18B20, serta sensor gerak MPU6050. Kombinasi sensor tersebut memungkinkan pemantauan kondisi fisiologis sapi secara real-time dan otomatis. Data yang dikumpulkan tidak ditampilkan secara mentah. Informasi tersebut terlebih dahulu diproses menggunakan algoritma MobileNet dan teori Dempster-Shafer guna memastikan tingkat akurasi diagnosis sebelum disajikan dalam dashboard pemantauan kesehatan ternak. Dengan sistem ini, peternak dapat mengetahui kondisi sapi pasca-infeksi PMK secara cepat tanpa harus melakukan pemeriksaan manual satu per satu. Dalam proses pengembangannya, tim mengakui bahwa riset COLARIX dilakukan dalam waktu yang relatif singkat, yakni kurang dari dua minggu. Saat ini, perangkat tersebut masih berada pada tahap prototipe fungsional awal dan belum melalui uji lapangan berskala luas. Meski demikian, Putri menegaskan bahwa fokus utama pengembangan saat ini adalah memastikan kelayakan teknis serta validitas landasan ilmiah COLARIX sebagai dasar pengembangan lanjutan menuju produksi yang lebih matang. Keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan ekosistem akademik Universitas Muhammadiyah Malang. Fasilitas dari Program Studi Informatika serta pendampingan intensif dosen pembimbing menjadi faktor penting yang mendorong mahasiswa berani mengeksekusi ide inovatif menjadi produk nyata. Dosen Pembina Tim PKMM-KC sekaligus Dosen Informatika UMM, Zamah Sari, S.T., M.T., memberikan apresiasi tinggi terhadap inovasi tersebut. Menurutnya, COLARIX memiliki keunggulan signifikan dibandingkan metode pemantauan kesehatan ternak konvensional. Keunggulan tersebut antara lain sistem pemantauan yang non-invasif, kemampuan pemantauan real-time, serta penggunaan multi-sensor yang meningkatkan akurasi data kesehatan ternak. Selain aspek teknis, Zamah juga menyoroti sisi ekonomis inovasi ini. “Biaya produksinya relatif terjangkau, sehingga sangat berpotensi untuk diterapkan di peternakan komunal,” jelasnya. Zamah berharap capaian ini dapat menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa UMM lainnya untuk berani berinovasi. Menurutnya, keberanian mengangkat persoalan nyata di masyarakat, seperti wabah PMK pada ternak, menjadi kunci lahirnya teknologi yang memiliki dampak sosial luas.