Masa Depan Tatanan Internasional

TIMES JATIM, MALANG – Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan ke Venezuela dan menangkap presiden Nicolás Maduro pada 3 Januari lalu. Sejatinya, apapun alasan yang menjadi klaim justifikasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh militer AS jelas telah melanggar prinsip dasar hukum internasional dan hubungan internasional, yakni kedaulatan. Seorang presiden yang sedang menjabat ditangkap oleh negara lain melalui kekuatan militer, tanpa mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa, tanpa proses ekstradisi, dan tanpa persetujuan negara berdaulat yang bersangkutan adalah titik di mana dunia harus bertanya, apakah prinsip kedaulatan negara masih diyakini atau hanya menjadi slogan yang digunakan secara selektif oleh negara kuat? Sejak Perjanjian Westphalia 1648, sistem internasional dibangun di atas satu asumsi kunci bahwa setiap negara berdaulat atas wilayah dan pemerintahannya, dan tidak ada otoritas yang lebih tinggi dari negara itu sendiri dalam urusan domestik. Prinsip ini kemudian dilembagakan dalam Piagam PBB, terutama Pasal 2 ayat 4, yang melarang penggunaan kekuatan terhadap integritas teritorial dan kemerdekaan politik negara lain. Norma ini bukan hiasan moral, melainkan menjadi penyangga utama stabilitas global. Trump berargumen bahwa serangan militer ke Venezuela dan penangkapan Maduro adalah penegakan hukum. Maduro dituduh terlibat dalam kejahatan narkotika transnasional dan narco-terrorism, dan karenanya harus diseret ke pengadilan. Tuduhan ini telah lama diajukan AS meski terus dibantah oleh otoritas Venezuela. Tetapi, sekalipun alasannya demikian, ketika dakwaan pidana ingin ditegakkan dengan jet tempur, pasukan khusus, dan serangan lintas batas, maka yang bekerja bukan law enforcement, melainkan use of force. Masalahnya adalah, hukum internasional tidak pernah memberi ruang bagi suatu negara untuk menegakkan hukum domestiknya dengan menyerbu negara lain. Perkecualian untuk dua kondisi yang sangat terbatas, yaitu dengan mandat Dewan Keamanan PBB atau pembelaan diri (self defense) dari serangan bersenjata yang nyata dan segera. Tanpa dua hal itu, klaim yang disampaikan Trump tidak dapat diterima. Karena itu, tindakan unilateral AS itu jelas adalah pelanggaran kedaulatan dan secara terang melanggar hukum internasional. Reaksi dunia terhadap tindakan AS tersebut paling tidak mempertegas bahwa norma kedaulatan harus tetap menjadi prinsip yang kuat dalam politik global. Misalnya, pemerintah Rusia menyatakan bahwa tindakan tersebut adalah pelanggaran yang tidak dapat diterima terhadap kedaulatan Venezuela. Pemerintah China juga memberikan kecaman keras atas langkah tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional yang mengancam perdamaian dan keamanan kawasan. Sementara Uni Eropa menyerukan agar semua pihak menghormati Piagam PBB dan mencari penyelesaian melalui dialog, bukan militeristik. Demikian pula reaksi kecaman dari banyak negara lain. Bahaya bagi Tatanan Internasional Pertanyaannya kemudian, apa arti semua ini bagi tatanan internasional? Paling tidak, ada tiga bahaya utama. Pertama, tindakan ini bisa menjadi preseden berbahaya, karena jika kekuatan besar dapat mengintervensi negara lain secara sepihak dengan alasan hukum domestik, maka prinsip yang selama ini mendasari hubungan antarnegara, yakni saling menghormati dan menghargai kedaulatan, akan tergerus. Lalu lintas kekuatan militer akan kembali menjadi alat utama politik luar negeri, bukan diplomasi atau pengadilan internasional. Pada akhirnya, kita dapat membayangkan bagaimana dinamika politik global di masa depan jika tindakan sepihak semacam ini terus dipertontonkan oleh negara besar, utamanya AS. Kedua, tindakan AS ini akan semakin menciptakan dua standar dalam sistem internasional. Satu untuk negara kuat yang bisa menggunakan kekuatannya untuk menegakkan klaim hukumnya, satu lagi untuk negara lemah yang dibiarkan menghadapi konfrontasi langsung. Ketimpangan semacam ini mengikis legitimasi institusi global seperti PBB dan menjadikan aturan dan norma global yang selama ini dipelihara terlihat sebagai pilihan, bukan kewajiban. Pada akhirnya, kita juga bisa membayangkan bagaimana dinamika hubungan internasional ke depan. Ketiga, lebih berbahaya lagi, tindakan AS ini mengubah kedaulatan menjadi konsep bersyarat. Maksudnya, kedaulatan tidak lagi melekat pada status kenegaraan, tetapi pada posisi politik sebuah rezim dalam struktur kekuasaan global. Negara yang dianggap nakal, otoriter, mengganggu stabilitas, dan istilah lain yang disematkan, dapat diperlakukan sebagai ruang kosong normatif, wilayah di mana intervensi bisa dibenarkan atas nama moral, hukum, atau keamanan. Jika norma kedaulatan runtuh demi alasan sepihak, maka ini merupakan kemunduran dalam proses politik global yang telah dibangun selama beberapa dekade terakhir. Oleh karena itu, penangkapan Nicolás Maduro bukan hanya tentang Venezuela, bukan hanya tentang AS, dan bahkan bukan semata tentang narkotika ataupun ladang minyak. Tetapi ini tentang masa depan dunia yang sedang bergerak menuju tatanan global yang brutal. *** *) Oleh : Najamuddin Khairur Rijal, Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Muhammadiyah Malang.

Siswa SMAN 1 Kutorejo Antusias Kenal Dunia Kampus Lewat Program MBTS UMM

www.majelistabligh.id –Mahasiswa Program Studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar program Mahasiswa Back To School (MBTS), sebuah agenda rutin tahunan yang bertujuan mengenalkan dunia perguruan tinggi kepada siswa sekolah menengah. Kegiatan MBTS kali ini dilaksanakan pada Senin (5/1/2026) di SMAN 1 Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, dan diikuti oleh siswa-siswi kelas XII. Sejumlah mahasiswa dari Program Studi Sosiologi UMM terlibat langsung dalam kegiatan sosialisasi tersebut. Program “Kembali ke Sekolah” ini dirancang untuk memberikan gambaran utuh tentang Program Studi Sosiologi UMM, mulai dari bidang keilmuan, proses pembelajaran, hingga peluang karier lulusannya. Para mahasiswa menyampaikan materi secara komunikatif dan dialogis, sehingga mudah dipahami oleh para siswa. Melalui MBTS, mahasiswa Sosiologi UMM tidak hanya berbagi informasi kampus, tetapi juga menanamkan semangat belajar dan kesadaran akan pentingnya pendidikan tinggi sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan. Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Kutorejo, Nur Itwati, S.Pd., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Malang, khususnya Program Studi Sosiologi, atas terselenggaranya kegiatan MBTS di sekolahnya. Menurutnya, kegiatan ini menjadi langkah positif dalam membuka wawasan siswa mengenai dunia perguruan tinggi serta membantu mereka mengenal berbagai pilihan program studi yang relevan dengan perkembangan sosial masyarakat saat ini. Ia berharap, melalui sosialisasi ini, para siswa memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang ilmu sosiologi, baik dari sisi akademik, prospek kerja, maupun peran strategisnya dalam memahami dan menyelesaikan persoalan sosial di tengah masyarakat. “Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat untuk memotivasi siswa agar melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dan mempersiapkan masa depan akademik mereka dengan lebih matang,” pungkasnya. (Muchamad Noval Dwi Prasetyo)

Dosen Keperawatan UMM Tekankan Pencegahan Dini Hadapi Cuaca Ekstrem 2026

Malangpariwara.com – Cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi pada awal 2026 dinilai tidak hanya berdampak pada kondisi lingkungan, tetapi juga berisiko terhadap kesehatan masyarakat. Perubahan suhu, curah hujan tinggi, dan peningkatan kelembapan memengaruhi kemampuan tubuh dalam beradaptasi. Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ns. Zaqqi Ubaidillah, M.Kep., Sp.Kep.MB., menyebut kondisi tersebut sebagai stresor lingkungan. Di mana yang meningkatkan gangguan pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan, terutama pada kelompok rentan. “Cuaca ekstrem tidak bisa dipandang hanya sebagai perubahan cuaca semata, tetapi harus dilihat sebagai risiko kesehatan populasi. Ketika tubuh terus-menerus terpapar stres lingkungan dan tidak mampu beradaptasi secara optimal, maka kerentanan terhadap penyakit akan meningkat. Karena itu, respons kesehatan harus bersifat promotif dan preventif, bukan sekadar reaktif ketika sakit sudah terjadi,” ujar Zaqqi. Cuaca Ekstrem Picu Stres Kronik Ia menambahkan, cuaca ekstrem dapat memicu stres fisiologis kronik yang berdampak pada penurunan daya tahan tubuh. Suhu dingin dan kelembapan tinggi berpotensi melemahkan pertahanan mukosa saluran pernapasan. Sementara suhu panas ekstrem meningkatkan kehilangan cairan dan elektrolit. Kondisi ini dapat menimbulkan kelelahan fisiologis, gangguan termoregulasi, penurunan toleransi aktivitas, hingga meningkatnya risiko infeksi. “Penurunan daya tahan tubuh sebenarnya bukan semata-mata disebabkan oleh cuaca. Tetapi karena tubuh gagal mempertahankan homeostasis secara optimal. Ketika keseimbangan ini terganggu dalam waktu lama, maka tubuh menjadi lebih mudah terserang penyakit,” jelasnya. Langkah Pencegahan Dalam menghadapi kondisi tersebut, pendekatan keperawatan menekankan pencegahan primer. Melalui perubahan perilaku hidup bersih dan sehat, pemenuhan nutrisi seimbang, serta kecukupan cairan tubuh. Asupan protein, vitamin, dan mineral berperan penting dalam mendukung sistem imun, sementara suplemen hanya bersifat pendukung dan tidak dapat menggantikan pola makan sehat. Kebutuhan cairan juga perlu diperhatikan karena dalam cuaca ekstrem tubuh cenderung kehilangan cairan lebih cepat meski rasa haus tidak selalu muncul. Dosen Keperawatan UMM, Ns. Zaqqi Ubaidillah, M.Kep., Sp.Kep.MB. (Ist) “Langkah-langkah sederhana seperti mencuci tangan secara konsisten. Memastikan keamanan makanan dan air minum, menjaga asupan gizi. Serta memenuhi kebutuhan cairan sekitar 2–2,5 liter per hari untuk orang dewasa merupakan bentuk pencegahan yang sangat efektif. Upaya ini jauh lebih baik dibandingkan menunggu sakit lalu berobat,” kata Zaqqi. Zaqqi juga menyoroti kerentanan kelompok anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis. Serta pekerja lapangan yang memiliki kapasitas adaptasi fisiologis dan psikososial lebih rendah. Perlindungan terhadap kelompok ini membutuhkan dukungan keluarga dan komunitas. Melalui pengawasan kesehatan, pengaturan aktivitas harian, pemenuhan nutrisi, serta lingkungan yang aman dan mendukung. Gencarkan Kesehatan Mental Selain itu, kesehatan mental dinilai memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan tubuh. “Stres dan kecemasan akibat cuaca ekstrem dapat meningkatkan hormon stres yang berdampak pada penurunan imunitas. Karena itu, menjaga kesehatan mental adalah bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kesehatan fisik. Ketahanan kesehatan tidak dibangun saat krisis, tetapi melalui kebiasaan hidup sehat yang konsisten dan adaptif terhadap perubahan lingkungan,” pungkasnya. Terakhir, Ia berharap masyarakat semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan kesehatan menghadapi cuaca ekstrem. Tidak hanya dengan kewaspadaan individu, tetapi juga melalui penguatan peran keluarga, komunitas, dan fasilitas layanan kesehatan. Menurutnya, sinergi antara edukasi kesehatan yang berkelanjutan, kebijakan yang responsif, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci dalam menekan dampak kesehatan akibat perubahan iklim. Dengan upaya preventif yang konsisten dan berbasis ilmu pengetahuan. Ia optimistis masyarakat dapat tetap menjaga ketahanan kesehatan dan kualitas hidup meski di tengah tantangan cuaca ekstrem yang semakin kompleks. (Djoko W)

Maharesigana UMM Mengembalikan Senyum Anak-anak Penyintas Bencana

www.majelistabligh.id – Kehadiran Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi angin segar bagi pemulihan kondisi psikologis warga terdampak. Senyum anak-anak di Desa Sekoci, Dusun Sukaramai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, kembali ceria setelah mereka mendapatkan pendampingan psikososial pascabanjir. Tim Maharesigana UMM sudah turun ke lokasi bencana sejak Desember 2025 lalu, melaksanakan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) bagi anak-anak dan penyintas banjir. Kegiatan ini bertujuan membantu mereka mengatasi trauma serta mengembalikan rasa aman dan percaya diri setelah bencana melanda wilayah tersebut. Salah satu anggota tim Maharesigana, Fadilla Azzahra, mengungkapkan bahwa pendampingan psikososial menjadi kebutuhan penting setelah bencana, terutama bagi anak-anak. “Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terdampak secara psikologis. Melalui kegiatan bermain dan interaksi positif, kami berupaya membantu mereka mengekspresikan perasaan serta kembali merasa aman,” ujar Fadilla. Layanan Dukungan Psikososial ini dilakukan melalui berbagai distract activity seperti bermain bersama, bernyanyi, dan kegiatan kreatif lainnya. Selain itu, relawan juga memberikan psikoedukasi kepada orang tua dan penyintas tentang cara berdamai dengan bencana serta teknik relaksasi sederhana untuk mengurangi kecemasan dan stres pascatrauma. Sebanyak 47 anak mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Mereka didampingi oleh tiga ibu dan sepuluh guru setempat yang turut membantu menciptakan suasana aman dan mendukung selama proses pendampingan berlangsung. Para orang tua mengaku senang dan mengapresiasi kehadiran relawan karena kegiatan ini dinilai mampu menghibur anak-anak sekaligus memberikan edukasi yang bermanfaat. Salah satu warga menyampaikan bahwa sebelum adanya pendampingan, anak-anak masih sering menunjukkan tanda-tanda trauma. “Awalnya mereka mudah takut dan gelisah setelah banjir. Sekarang terlihat lebih ceria dan berani,” tuturnya. Ia juga menambahkan bahwa edukasi yang diberikan kepada orang tua dan guru sangat membantu dalam mendampingi anak-anak pascabencana. Selama masa bencana, aktivitas anak-anak sempat terhambat. Proses belajar terganggu akibat buku hanyut, listrik padam, dan jaringan internet terputus. Bahkan, sebagian anak harus membantu orang tua membersihkan rumah dari lumpur dan sisa material banjir. Melalui kegiatan Layanan Dukungan Psikososial ini, harapannya bahwa anak-anak terdampak banjir dapat kembali pulih secara emosional, mengurangi kecemasan, serta membangun ketahanan psikologis agar mampu menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih tenang dan percaya diri. (*/tim)

FIKES UMM Gelar International Guest Lecture Bahas Keperawatan Pasien Penderita Diabetes

Malangpariwara.com – Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kegiatan International Guest Lecture dengan tema “Bridging Technology and Compassion: The Future of Nursing Care For People With Diabetes.” Kegiatan ini menjadi agenda rutin tahunan yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas akademik mahasiswa sekaligus memperkuat jejaring dengan institusi layanan kesehatan. Ketua Program Studi Profesi Ners UMM, Ns. Anis Ika Nur Rohmah, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.MB., menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya ditujukan bagi mahasiswa. Tetapi juga melibatkan tenaga kesehatan dari rumah sakit mitra. Kepala Program Studi Profesi Ners UMM, Ns. Anis Ika Nur Rohmah, saat berbicara dengan awak media. (Djoko W) “Acara International Guest Lecture ini memang rutin kita adakan setiap tahun. Tujuannya pertama untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa. Lalu kita juga mengundang relasi dari beberapa rumah sakit untuk melakukan transfer knowledge,” jelasnya. Fokuskan pada Penyakit Diabetes Melitus Ia menambahkan, materi yang disampaikan berfokus pada perkembangan terbaru dalam evidence based nursing. Khususnya terkait perawatan pasien diabetes melitus. Dengan begitu, baik mahasiswa maupun tenaga kesehatan dapat terus mengikuti pembaruan ilmu. “Isinya nanti membahas penelitian-penelitian terbaru dan evidence based nursing terbaru. Sehingga teman-teman di rumah sakit juga bisa ikut update. Jadi kita saling berbagi pengetahuan,” ujarnya. Suasana saat berlangsungnya International Guest Lecture. (Djoko W) Kegiatan ini diikuti sekitar 250 peserta yang berasal dari mahasiswa S1 Keperawatan, mahasiswa Profesi Ners, serta perwakilan dari sejumlah rumah sakit mitra. Seperti RSSA, RS Wava Husada, RSI Aisyiyah, RS UMM, dan RSUD Kepanjen. Hadirkan Narasumber Internasional Untuk pemateri, UMM menghadirkan narasumber dari berbagai negara, di antaranya Vietnam, Taiwan, dan Indonesia. Menurut Anis, hal ini merupakan bentuk implementasi dari kerja sama internasional yang telah dijalin UMM. “Ini juga bagian dari implementasi MoU kami. Di dalam MoU itu ada pelaksanaan penelitian, pengabdian masyarakat, dan sharing knowledge seperti ini,” katanya. Ia berharap, melalui kegiatan ini mahasiswa mendapatkan gambaran nyata tentang penerapan perawatan pasien diabetes di rumah sakit, baik di dalam maupun luar negeri. “Mahasiswa jadi tidak hanya tahu praktik di Indonesia, tapi juga mendapat gambaran bagaimana implementasi perawatan pasien diabetes di luar negeri,” tutupnya. (Djoko W)

Ketika ‘Mobil Terbang’ Mendarat di Dusun Paras, Literasi Anak Tumbuh bersama Republik Gubuk

Program Mobil Terbang RBC Institute menghadirkan perpustakaan keliling yang mengubah sore anak-anak Dusun Paras menjadi ruang belajar penuh tawa dan halaman-halaman buku. Tagar.co — Tawa dan suara halaman buku yang dibuka beriringan mengisi suasana Dusun Paras, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (4/1/2026). Di sebuah ruang belajar sederhana bernama Pondok Anyam, 20 anak tampak larut dalam aktivitas membaca dan belajar bersama. Kehadiran sebuah kendaraan penuh buku—yang akrab mereka sebut sebagai “mobil terbang”—mengubah sore itu menjadi perayaan kecil literasi. Mobil tersebut merupakan bagian dari program Mobil Terbang (Bakti terhadap Bangsa) yang diinisiasi RBC Institute Abdul Malik Fadjar, sebuah perpustakaan keliling yang dirancang untuk menjangkau anak-anak di komunitas akar rumput. Tidak sekadar menghadirkan buku, program ini membawa pengalaman belajar yang menyenangkan, kontekstual, dan dekat dengan dunia anak. Begitu mobil berhenti, anak-anak segera mengerubungi rak-rak buku yang terbuka. Ada buku cerita bergambar, bacaan pengetahuan, hingga buku aktivitas yang langsung mereka pilih dengan mata berbinar. Aktivitas membaca pun berlangsung alami—tanpa paksaan, tanpa sekat—seolah buku-buku itu memang telah lama dinanti. Baca Juga:  Menulis Itu Merayakan Diri: Perempuan Belajar Jujur di Bulan Bahasa Antusiasme tersebut mendapat apresiasi dari Hani Masudi, Kepala Dusun Paras. Ia menilai program ini sangat relevan di tengah gempuran teknologi digital yang kian menggeser kebiasaan membaca anak-anak. “Kami sangat antusias dengan kehadiran Mobil Pustaka dari RBC Institute. Program ini sangat membantu meningkatkan minat baca anak-anak di kampung. Di era sekarang, ketika teknologi berkembang sangat cepat, minat membaca buku mulai berkurang. Mobil ini menjadi inovasi yang mampu menarik kembali perhatian anak-anak terhadap buku,” ujarnya. Kegiatan literasi MobilTerbang RBC Institute di Dusun Paras, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (4/1/2026). (Tagar.co/Maqdis Jannatan) Pondok Anyam merupakan salah satu ruang belajar binaan Republik Gubuk, komunitas literasi yang dipimpin Fachrul Alamsyah, yang akrab disapa Cak Irul. Di bawah kepemimpinannya, Pondok Anyam berkembang sebagai ruang belajar alternatif yang menumbuhkan minat baca, kreativitas, serta kebiasaan belajar sejak usia dini bagi anak-anak Dusun Paras. Kehadiran Mobil Pustaka dinilai selaras dan memperkuat ekosistem literasi yang telah dibangun komunitas tersebut. Program ini tidak hanya memperkaya koleksi bacaan, tetapi juga memperluas pengalaman belajar anak-anak melalui interaksi langsung, diskusi ringan, dan pendampingan membaca. Dalam kegiatan itu, sejumlah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut terlibat mendampingi anak-anak. Kolaborasi antara RBC Institute, komunitas lokal, dan mahasiswa menciptakan suasana literasi yang inklusif sekaligus memperkuat nilai pengabdian kepada masyarakat. Melalui program Mobil Terbang, RBC Institute Abdul Malik Fadjar menegaskan komitmennya menghadirkan literasi secara langsung dan menyenangkan di tingkat komunitas. Upaya ini menjadi bagian dari ikhtiar panjang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan merawat budaya baca sejak usia dini—dimulai dari ruang-ruang kecil, dengan dampak yang besar. Jurnalis Maqdis Jannatan Penyunting Mohammad Nurfatoni

FIKES UMM Menggelar International Guest Lecture untuk Perawatan Penderita Diabetes

Malanginspirasi.com – Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengadakan International Guest Lecture. Kali ini kegiatan mengangkat tema “Bridging Technology and Compassion: The Future of Nursing Care for People With Diabetes.” Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kampus dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di bidang keperawatan. Sarana Kerja Sama dan Perkuat Kapasitas Akademik International Guest Lecture merupakan agenda tahunan FIKES UMM yang dirancang untuk memperkuat kapasitas akademik mahasiswa. Sekaligus menjalin kerja sama dengan berbagai institusi layanan kesehatan. Tidak hanya mahasiswa, kegiatan ini juga melibatkan tenaga kesehatan dari rumah sakit mitra. Ns. Anis Ika Nur Rohmah, S.Kep., M.Kep. Sp.Kep.MB., selaku Kaprodi Profesi Ners UMM. (Djoko W) Ketua Program Studi Profesi Ners UMM, Ns. Anis Ika Nur Rohmah, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.MB., menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi wadah berbagi ilmu. Yang menjadi penghubung antara civitas akademika dan praktisi kesehatan. Menurutnya, kehadiran rumah sakit mitra bertujuan untuk memperluas proses pertukaran pengetahuan. “International Guest Lecture ini rutin kami selenggarakan setiap tahun. Tujuannya untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa sekaligus melakukan transfer knowledge bersama relasi dari rumah sakit,” ujarnya. Angkat Diabetes Sebagai Materi Besar Materi yang dibahas dalam kegiatan ini ditekankan pada perkembangan terbaru evidence based nursing, khususnya dalam penanganan pasien diabetes melitus. Dengan materi tersebut, peserta diharapkan dapat mengikuti pembaruan ilmu sesuai perkembangan penelitian terkini. “Materinya membahas riset riset terbaru dan praktik evidence based nursing, sehingga teman teman di rumah sakit juga bisa terus update. Di sini kita saling berbagi pengetahuan,” tambahnya. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 250 peserta yang terdiri dari mahasiswa S1 Keperawatan, mahasiswa Profesi Ners, serta perwakilan dari sejumlah rumah sakit mitra. Layaknya seperti RSSA, RS Wava Husada, RSI Aisyiyah, RS UMM, dan RSUD Kepanjen. Antusias mahasiswa dalam kegiatan International Guest Lecture. (Djoko) Dalam pelaksanaannya, UMM menghadirkan pemateri dari berbagai negara, antara lain Vietnam, Taiwan, dan Indonesia. Kehadiran narasumber internasional tersebut menjadi wujud nyata dari kerja sama global yang telah dibangun oleh UMM. “Ini merupakan implementasi dari MoU yang kami miliki, di dalamnya mencakup kegiatan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta sharing knowledge seperti ini,” jelas Anis. Melalui International Guest Lecture ini, Anis berharap mahasiswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai praktik keperawatan pasien diabetes. Baik yang diterapkan di Indonesia maupun di luar negeri. “Mahasiswa jadi tidak hanya mengenal praktik di dalam negeri, tetapi juga mendapatkan gambaran bagaimana perawatan pasien diabetes diterapkan di negara lain,” pungkasnya.

Perkuat Kompetensi Profesional, Mahasiswa FH UMM Jalani Magang di Kantor Notaris dan PPAT

Radarjatim.co ~ Mahasiswa semester VII Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan program magang sebagai bagian dari kewajiban akademik. Kegiatan ini dirancang untuk menguatkan pemahaman mahasiswa terhadap praktik hukum secara nyata, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja profesional setelah menyelesaikan pendidikan. Fakultas Hukum UMM menyediakan dua skema magang, yakni Magang Center of Excellence (CoE) dan Magang Mandiri. Kelompok mahasiswa yang terdiri dari Rifqi Alfiyanto, Dara Mardiva A, Adidi Diwayana, Mellya Galuh F, dan Anita Nur Fadhilah memilih mengikuti Magang Mandiri sebagai sarana pembelajaran praktis di luar kampus. Program magang tersebut dilaksanakan di Kantor Notaris dan PPAT Dr. Diah Aju Wisnuwardhani, S.H., M.Hum., yang berlokasi di Jalan Tumenggung Suryo No. 35 G, Kota Malang. Kantor ini menjadi tempat mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam praktik kenotariatan dan pelayanan hukum kepada masyarakat. Selama pelaksanaan magang, mahasiswa dibimbing oleh Dosen Pembimbing Magang Herlena Fatikasari, S.H., serta didampingi secara langsung di lapangan oleh Chusnul Chotimah selaku pembimbing dari kantor notaris. Pendampingan ini membantu mahasiswa memahami alur kerja serta tanggung jawab profesi notaris secara komprehensif. Notaris merupakan pejabat umum yang memiliki kewenangan membuat akta otentik terkait berbagai perbuatan hukum. Profesi ini menuntut sikap independen, jujur, dan profesional sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014, serta berada di bawah pengawasan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Baca Juga :  Proyek Rehabilitasi Ruang Kelas Sekolah Sarat Bermasalah, Disorot Ketua Komisi lV DPRD Gresik Dalam kegiatan magang, mahasiswa terlibat langsung dalam penyusunan akta jual beli, akta hibah, pendirian badan hukum, hingga pemeriksaan dokumen. Melalui aktivitas tersebut, mahasiswa belajar menerapkan teori hukum ke dalam praktik nyata yang membutuhkan ketelitian dan tanggung jawab tinggi. Mahasiswa juga mempelajari proses verifikasi dokumen hukum seperti sertifikat tanah, identitas kependudukan, dan surat keterangan lainnya. Proses ini melibatkan pengecekan ke instansi terkait seperti BPN dan Dukcapil guna memastikan keabsahan data sebelum pembuatan akta dilakukan. Selain aspek teknis, mahasiswa memperoleh gambaran sistem kerja kantor notaris, mulai dari administrasi, pengarsipan, hingga pelayanan klien. Pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan dokumen turut diperkenalkan sebagai upaya meningkatkan efisiensi dan akurasi kerja di era modern. Etika profesi menjadi salah satu pembelajaran utama dalam program magang ini. Mahasiswa diajarkan pentingnya integritas, sikap profesional, serta kemampuan berkomunikasi secara santun dalam menghadapi klien dengan latar belakang yang beragam. Melalui program magang ini, mahasiswa Fakultas Hukum UMM memperoleh bekal penting berupa pengalaman praktis dan nilai profesionalisme. Diharapkan kegiatan serupa terus dikembangkan agar mampu mencetak lulusan hukum yang kompeten, beretika, dan siap berkontribusi di dunia kerja.

Go Halal Dalam dan Luar Negeri: Ukom Instruktur PusdiklatMu hingga menjadi Juri di Konferensi Halal Thailand

ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Halal adalah kombinasi antara prinsip syariah dan intervensi teknologi. Penentuan halal, terutama dalam skema (sertifikasi halal) reguler, membutuhkan dukungan laboratorium untuk memastikan kehalalan produk. Tiga pilar utama yaitu civitas akademika, pemerintah, dan pelaku industri, harus bersemangat bersama dalam mengembangkan industri halal. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini juga diharapkan melahirkan generasi sadar halal, di mana dari mereka dilahirkan agen-agen pembangun ekosistem halal yang berkelanjutan dan inklusif. Dalam kegiatan Inovasi dan IPTEKS, mahasiswa juga terlibat dalam aspek riset dan pengembangan teknologinya. Kompetensi halal sangat penting untuk menjamin kehalalan produk, meningkatkan kepercayaan konsumen Muslim, memperluas akses pasar domestik dan global, serta memenuhi kewajiban hukum di Indonesia, terutama bagi pelaku usaha di sektor makanan, minuman, kosmetik, dan farmasi, dengan melibatkan tenaga ahli seperti Penyelia Halal dan Auditor Halal yang kompeten untuk memastikan standar kualitas dan keabsahan produk sesuai syariat Islam. Pada 5-6 September hingga kegiatan akreditasi LSP PPMuhammadiyah bulan Desember 2025, PS P3-Halal UMM mengirimkan 5 dosen untuk mengikuti kegiatan pelatihan dan uji kompetnsi skema hala (penyelia halal, dan juru sembeli halal) di LSP Muhammadiyah Jogjakarta. Kelima dosen yang lulus Uji Kompetensi sebagai instruktur PusDIklatMu antara lain ; Prof.Dr.Ir. Elfi Anis, MP; Dr. Asmah HIdayati, MP, IPM; Ca Dr.Idaul Hasanah SAg, M.HI; Ir. Ali Mahmud, Spt, MP. dan Dr. Akhis Sholeh, SPt. Bersama Prof Winai Dahlan di Thailand, Chulalongkorn University Jaminan Kualitas dan Keamanan produk menjadi harapan umat untuk memastikan produk aman, higienis, dan bebas dari unsur najis atau haram, baik dari bahan, proses, hingga penyajian. Menjadi syarat penting kepercayaan Konsumen muslim guna pertimbangan utama saat memilih produk, serta meningkatkan daya saing & citra Perusahaan. Citra positif perusahaan sebagai entitas yang peduli kualitas dan nilai moral tersebut bisa diperoleh melalui mutu produk dari aspek halal dan thoyibnya, besar manfaat dari kandungan gizi produk yang disertitifkasi atau dihasilkan dari riset, serta dampak baiknya terhadap pemberdayaan SD Alam, SD Manusia secara sinergis kerkelanjutan. Melalui program magang dan riset bersama baik di dalam amupun luar negri, mahasiswa tidak hanya mendapatkan kompetensi teknis, tetapi juga berkontribusi nyata dalam memperkuat ekosistem halal nasional dan mendukung target Indonesia menjadi pusat industri halal dunia. Oleh karena itu PS P3.Halal juga mengikuti kegiatan ilmiah, seperti konferensi, seminar nasional atau pameran hasil riset Halal Thoyyib baik di dalam, maupun luar negri. Kami mengikuti kegiatan tersebut di UAD, pameran poster di Bahrain, Konferensi Thailand (2023 Prof.Dr. Elfi Anis S, MP, 2025: Prof Dr. Damat, MP, IPM) menjadi juri Thailand Halal Assemby), serta riset terkait upaya penurunan Stunting dan anemia di NTT dan Kabupaten Pasuruan. Oleh : Prof Dr.Ir. Elfi Anis Saati, MP. Ketua PS. P3Halal – UMM (Pusat Studi. Penelitian & Pengembangan Produk Halal-UMM)

Konsep Smart Bridge Antar Teknik Sipil UMM Raih Juara Nasional

Kota Malang, Tagarjatim.id – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Tim dari LSO Surya Teknik Sipil UMM berhasil meraih Juara 3 dalam ajang Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) 2025 kategori Jembatan Model Pelengkung yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KemdiktiSaintek). Tim UMM diketuai oleh Ayunda Elvandari, mahasiswa Teknik Sipil Fakultas Teknik angkatan 2022, dengan anggota Akbar Nurfitriono dari angkatan 2023. Prestasi ini diraih setelah melalui proses seleksi ketat yang diikuti hampir 150 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, dengan hanya 10 tim yang lolos ke babak final pada kategori jembatan pelengkung. Ayunda menjelaskan bahwa persiapan kompetisi dimulai sejak Juli hingga Agustus 2025 dengan penyusunan proposal desain jembatan. Pengumuman finalis dilakukan pada awal September 2025, dilanjutkan rangkaian kegiatan KJI-KBGI yang berlangsung pada 12–17 November 2025. Proses perakitan jembatan dilaksanakan pada 15 November, sementara malam penganugerahan digelar sehari setelahnya. Dalam kompetisi tersebut, tim UMM mengusung konsep jembatan yang optimal, ramah lingkungan, dan berorientasi masa depan. Konsep ini sejalan dengan visi Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045. “Kami mengembangkan konsep smart bridge, yakni jembatan yang dilengkapi sensor untuk mendeteksi potensi kerusakan sejak dini,” ujar Ayunda. Selain itu, tim juga menerapkan prinsip keberlanjutan dengan melakukan efisiensi material. Limbah hasil pembuatan jembatan dimanfaatkan kembali sebagai alat bantu dalam proses perakitan. Menurut Ayunda, konsep tersebut dipilih sebagai respons terhadap tantangan keterbatasan akses transportasi dan kebutuhan infrastruktur yang adaptif di Indonesia. Meski berhasil meraih prestasi, perjalanan tim UMM tidak lepas dari kendala. Tantangan terbesar muncul pada tahap fabrikasi, di mana beberapa pekerjaan tidak berjalan sesuai jadwal yang telah direncanakan. Untuk mengatasinya, tim membagi peran secara jelas, mulai dari pengendalian proses di lapangan hingga penyusunan presentasi dan ornamen jembatan. Dosen pembina tim, Ir. Moh. Abduh, menilai bahwa kompetisi KJI-KBGI menuntut kesiapan yang komprehensif. “Prestasi tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan intelektual. Pengendalian emosi, ketangguhan mental, serta kerja sama tim menjadi faktor kunci,” ujarnya. Ia berharap capaian ini dapat memotivasi mahasiswa Teknik Sipil UMM lainnya untuk terus berinovasi dan berani berkompetisi di tingkat nasional. Keberhasilan tersebut juga menjadi kebanggaan karena mampu mengantarkan kembali LSO Surya Teknik Sipil UMM ke podium nasional setelah dua tahun terakhir belum meraih gelar juara.(*)