Dosen Keperawatan UMM Tekankan Pencegahan Dini Hadapi Cuaca Ekstrem 2026

Malangpariwara.com – Cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi pada awal 2026 dinilai tidak hanya berdampak pada kondisi lingkungan, tetapi juga berisiko terhadap kesehatan masyarakat. Perubahan suhu, curah hujan tinggi, dan peningkatan kelembapan memengaruhi kemampuan tubuh dalam beradaptasi. Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ns. Zaqqi Ubaidillah, M.Kep., Sp.Kep.MB., menyebut kondisi tersebut sebagai stresor lingkungan. Di mana yang meningkatkan gangguan pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan, terutama pada kelompok rentan. “Cuaca ekstrem tidak bisa dipandang hanya sebagai perubahan cuaca semata, tetapi harus dilihat sebagai risiko kesehatan populasi. Ketika tubuh terus-menerus terpapar stres lingkungan dan tidak mampu beradaptasi secara optimal, maka kerentanan terhadap penyakit akan meningkat. Karena itu, respons kesehatan harus bersifat promotif dan preventif, bukan sekadar reaktif ketika sakit sudah terjadi,” ujar Zaqqi. Cuaca Ekstrem Picu Stres Kronik Ia menambahkan, cuaca ekstrem dapat memicu stres fisiologis kronik yang berdampak pada penurunan daya tahan tubuh. Suhu dingin dan kelembapan tinggi berpotensi melemahkan pertahanan mukosa saluran pernapasan. Sementara suhu panas ekstrem meningkatkan kehilangan cairan dan elektrolit. Kondisi ini dapat menimbulkan kelelahan fisiologis, gangguan termoregulasi, penurunan toleransi aktivitas, hingga meningkatnya risiko infeksi. “Penurunan daya tahan tubuh sebenarnya bukan semata-mata disebabkan oleh cuaca. Tetapi karena tubuh gagal mempertahankan homeostasis secara optimal. Ketika keseimbangan ini terganggu dalam waktu lama, maka tubuh menjadi lebih mudah terserang penyakit,” jelasnya. Langkah Pencegahan Dalam menghadapi kondisi tersebut, pendekatan keperawatan menekankan pencegahan primer. Melalui perubahan perilaku hidup bersih dan sehat, pemenuhan nutrisi seimbang, serta kecukupan cairan tubuh. Asupan protein, vitamin, dan mineral berperan penting dalam mendukung sistem imun, sementara suplemen hanya bersifat pendukung dan tidak dapat menggantikan pola makan sehat. Kebutuhan cairan juga perlu diperhatikan karena dalam cuaca ekstrem tubuh cenderung kehilangan cairan lebih cepat meski rasa haus tidak selalu muncul. “Langkah-langkah sederhana seperti mencuci tangan secara konsisten. Memastikan keamanan makanan dan air minum, menjaga asupan gizi. Serta memenuhi kebutuhan cairan sekitar 2–2,5 liter per hari untuk orang dewasa merupakan bentuk pencegahan yang sangat efektif. Upaya ini jauh lebih baik dibandingkan menunggu sakit lalu berobat,” kata Zaqqi. Zaqqi juga menyoroti kerentanan kelompok anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis. Serta pekerja lapangan yang memiliki kapasitas adaptasi fisiologis dan psikososial lebih rendah. Perlindungan terhadap kelompok ini membutuhkan dukungan keluarga dan komunitas. Melalui pengawasan kesehatan, pengaturan aktivitas harian, pemenuhan nutrisi, serta lingkungan yang aman dan mendukung. Gencarkan Kesehatan Mental Selain itu, kesehatan mental dinilai memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan tubuh. “Stres dan kecemasan akibat cuaca ekstrem dapat meningkatkan hormon stres yang berdampak pada penurunan imunitas. Karena itu, menjaga kesehatan mental adalah bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kesehatan fisik. Ketahanan kesehatan tidak dibangun saat krisis, tetapi melalui kebiasaan hidup sehat yang konsisten dan adaptif terhadap perubahan lingkungan,” pungkasnya. Terakhir, Ia berharap masyarakat semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan kesehatan menghadapi cuaca ekstrem. Tidak hanya dengan kewaspadaan individu, tetapi juga melalui penguatan peran keluarga, komunitas, dan fasilitas layanan kesehatan. Menurutnya, sinergi antara edukasi kesehatan yang berkelanjutan, kebijakan yang responsif, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci dalam menekan dampak kesehatan akibat perubahan iklim. Dengan upaya preventif yang konsisten dan berbasis ilmu pengetahuan. Ia optimistis masyarakat dapat tetap menjaga ketahanan kesehatan dan kualitas hidup meski di tengah tantangan cuaca ekstrem yang semakin kompleks. (Djoko W)

Cuaca Ekstrem 2026, Dosen UMM Tekankan Pencegahan Dini

MALANG (SurabayaPost.id) – Cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi pada awal 2026 dinilai tidak hanya berdampak pada kondisi lingkungan, tetapi juga berisiko terhadap kesehatan masyarakat. Perubahan suhu, curah hujan tinggi, dan peningkatan kelembapan memengaruhi kemampuan tubuh dalam beradaptasi. Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ns. Ubaidillah, M.Kep., Sp.Kep.MB., menyebut kondisi tersebut sebagai stresor lingkungan yang meningkatkan gangguan pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan, terutama pada kelompok rentan. “Cuaca ekstrem tidak bisa dipandang hanya sebagai perubahan cuaca semata, tetapi harus dilihat sebagai risiko kesehatan populasi. Ketika tubuh terus-menerus terpapar stres lingkungan dan tidak mampu beradaptasi secara optimal, maka kerentanan terhadap penyakit akan meningkat. Karena itu, respons kesehatan harus bersifat promotif dan preventif, bukan sekadar reaktif ketika sakit sudah terjadi,” ujar Zaqqi, Selasa (6/1/2026). Ia menambahkan, cuaca ekstrem dapat memicu stres fisiologis kronik yang berdampak pada penurunan daya tahan tubuh. Suhu dingin dan kelembapan tinggi berpotensi melemahkan pertahanan mukosa saluran pernapasan, sementara suhu panas ekstrem meningkatkan kehilangan cairan dan elektrolit. Kondisi ini dapat menimbulkan kelelahan fisiologis, gangguan termoregulasi, penurunan toleransi aktivitas, hingga meningkatnya risiko infeksi. “Penurunan daya tahan tubuh sebenarnya bukan semata-mata disebabkan oleh cuaca, tetapi karena tubuh gagal mempertahankan homeostasis secara optimal. Ketika keseimbangan ini terganggu dalam waktu lama, maka tubuh menjadi lebih mudah terserang penyakit,” jelasnya. Dalam menghadapi kondisi tersebut, pendekatan keperawatan menekankan pencegahan primer melalui perubahan perilaku hidup bersih dan sehat, pemenuhan nutrisi seimbang, serta kecukupan cairan tubuh. Asupan protein, vitamin, dan mineral berperan penting dalam mendukung sistem imun, sementara suplemen hanya bersifat pendukung dan tidak dapat menggantikan pola makan sehat. Kebutuhan cairan juga perlu diperhatikan karena dalam cuaca ekstrem tubuh cenderung kehilangan cairan lebih cepat meski rasa haus tidak selalu muncul. “Langkah-langkah sederhana seperti mencuci tangan secara konsisten, memastikan keamanan makanan dan air minum, menjaga asupan gizi, serta memenuhi kebutuhan cairan sekitar 2–2,5 liter per hari untuk orang dewasa merupakan bentuk pencegahan yang sangat efektif. Upaya ini jauh lebih baik dibandingkan menunggu sakit lalu berobat,” kata Zaqqi. Zaqqi juga menyoroti kerentanan kelompok anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis, serta pekerja lapangan yang memiliki kapasitas adaptasi fisiologis dan psikososial lebih rendah. Perlindungan terhadap kelompok ini membutuhkan dukungan keluarga dan komunitas melalui pengawasan kesehatan, pengaturan aktivitas harian, pemenuhan nutrisi, serta lingkungan yang aman dan mendukung. Selain itu, kesehatan mental dinilai memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan tubuh. “Stres dan kecemasan akibat cuaca ekstrem dapat meningkatkan hormon stres yang berdampak pada penurunan imunitas. Karena itu, menjaga kesehatan mental adalah bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kesehatan fisik. Ketahanan kesehatan tidak dibangun saat krisis, tetapi melalui kebiasaan hidup sehat yang konsisten dan adaptif terhadap perubahan lingkungan,” pungkasnya. Terakhir, Ia berharap masyarakat semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan kesehatan menghadapi cuaca ekstrem, tidak hanya dengan kewaspadaan individu, tetapi juga melalui penguatan peran keluarga, komunitas, dan fasilitas layanan kesehatan. Menurutnya, sinergi antara edukasi kesehatan yang berkelanjutan, kebijakan yang responsif, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci dalam menekan dampak kesehatan akibat perubahan iklim. Dengan upaya preventif yang konsisten dan berbasis ilmu pengetahuan, ia optimistis masyarakat dapat tetap menjaga ketahanan kesehatan dan kualitas hidup meski di tengah tantangan cuaca ekstrem yang semakin kompleks. (**).

Maharesigana UMM Mengembalikan Senyum Anak-anak Penyintas Bencana

www.majelistabligh.id – Kehadiran Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi angin segar bagi pemulihan kondisi psikologis warga terdampak. Senyum anak-anak di Desa Sekoci, Dusun Sukaramai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, kembali ceria setelah mereka mendapatkan pendampingan psikososial pascabanjir. Tim Maharesigana UMM sudah turun ke lokasi bencana sejak Desember 2025 lalu, melaksanakan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) bagi anak-anak dan penyintas banjir. Kegiatan ini bertujuan membantu mereka mengatasi trauma serta mengembalikan rasa aman dan percaya diri setelah bencana melanda wilayah tersebut. Salah satu anggota tim Maharesigana, Fadilla Azzahra, mengungkapkan bahwa pendampingan psikososial menjadi kebutuhan penting setelah bencana, terutama bagi anak-anak. “Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terdampak secara psikologis. Melalui kegiatan bermain dan interaksi positif, kami berupaya membantu mereka mengekspresikan perasaan serta kembali merasa aman,” ujar Fadilla. Layanan Dukungan Psikososial ini dilakukan melalui berbagai distract activity seperti bermain bersama, bernyanyi, dan kegiatan kreatif lainnya. Selain itu, relawan juga memberikan psikoedukasi kepada orang tua dan penyintas tentang cara berdamai dengan bencana serta teknik relaksasi sederhana untuk mengurangi kecemasan dan stres pascatrauma. Sebanyak 47 anak mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Mereka didampingi oleh tiga ibu dan sepuluh guru setempat yang turut membantu menciptakan suasana aman dan mendukung selama proses pendampingan berlangsung. Para orang tua mengaku senang dan mengapresiasi kehadiran relawan karena kegiatan ini dinilai mampu menghibur anak-anak sekaligus memberikan edukasi yang bermanfaat. Salah satu warga menyampaikan bahwa sebelum adanya pendampingan, anak-anak masih sering menunjukkan tanda-tanda trauma. “Awalnya mereka mudah takut dan gelisah setelah banjir. Sekarang terlihat lebih ceria dan berani,” tuturnya. Ia juga menambahkan bahwa edukasi yang diberikan kepada orang tua dan guru sangat membantu dalam mendampingi anak-anak pascabencana. Selama masa bencana, aktivitas anak-anak sempat terhambat. Proses belajar terganggu akibat buku hanyut, listrik padam, dan jaringan internet terputus. Bahkan, sebagian anak harus membantu orang tua membersihkan rumah dari lumpur dan sisa material banjir. Melalui kegiatan Layanan Dukungan Psikososial ini, harapannya bahwa anak-anak terdampak banjir dapat kembali pulih secara emosional, mengurangi kecemasan, serta membangun ketahanan psikologis agar mampu menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih tenang dan percaya diri. (*/tim)

Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi Awal 2026, Ancaman Kesehatan Perlu Diantisipasi

HALLO MALANG – Ancaman cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi pada awal 2026 tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga menyimpan risiko serius bagi kesehatan masyarakat. Perubahan suhu yang tajam, curah hujan tinggi, serta kelembapan yang meningkat dinilai dapat mengganggu kemampuan tubuh dalam beradaptasi, terutama pada kelompok rentan. Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Zaqqi Ubaidillah, menegaskan bahwa cuaca ekstrem harus dipahami sebagai persoalan kesehatan populasi, bukan sekadar fenomena alam musiman. Menurutnya, kondisi tersebut berperan sebagai stresor lingkungan yang dapat mengganggu pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan. “Cuaca ekstrem tidak bisa dipandang hanya sebagai perubahan cuaca semata, tetapi harus dilihat sebagai risiko kesehatan populasi. Ketika tubuh terus-menerus terpapar stres lingkungan dan tidak mampu beradaptasi secara optimal, maka kerentanan terhadap penyakit akan meningkat. Karena itu, respons kesehatan harus bersifat promotif dan preventif, bukan sekadar reaktif ketika sakit sudah terjadi,” ujar Zaqqi, Selasa 6 Januari 2026. Ia menjelaskan, paparan cuaca ekstrem dalam jangka waktu tertentu dapat memicu stres fisiologis kronik yang berdampak langsung pada penurunan daya tahan tubuh. Suhu dingin dan kelembapan tinggi berpotensi melemahkan pertahanan mukosa saluran pernapasan, sementara suhu panas ekstrem dapat mempercepat kehilangan cairan dan elektrolit. Kondisi tersebut, lanjut Zaqqi, dapat memicu kelelahan fisiologis, gangguan termoregulasi, menurunnya toleransi aktivitas, hingga meningkatkan risiko infeksi. “Penurunan daya tahan tubuh sebenarnya bukan semata-mata disebabkan oleh cuaca, tetapi karena tubuh gagal mempertahankan homeostasis secara optimal. Ketika keseimbangan ini terganggu dalam waktu lama, maka tubuh menjadi lebih mudah terserang penyakit,” jelas Zaqqi. Dalam menghadapi ancaman tersebut, pendekatan keperawatan menekankan pentingnya pencegahan primer melalui perubahan perilaku hidup bersih dan sehat. Pemenuhan nutrisi seimbang serta kecukupan cairan tubuh menjadi kunci dalam menjaga sistem imun agar tetap optimal. Zaqqi menekankan bahwa asupan protein, vitamin, dan mineral memiliki peran utama dalam menjaga daya tahan tubuh, sementara suplemen hanya bersifat pendukung dan tidak dapat menggantikan pola makan sehat. Selain itu, kebutuhan cairan perlu menjadi perhatian serius karena pada kondisi cuaca ekstrem tubuh dapat kehilangan cairan lebih cepat meskipun rasa haus tidak selalu muncul.

Cuaca Ekstrem di Awal Tahun, Dosen UMM Ajak Masyarakat Lakukan Pencegahan Dini

KLIKMU.CO – Cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi pada awal 2026 dinilai tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berisiko terhadap kesehatan masyarakat. Perubahan suhu, curah hujan tinggi, dan peningkatan kelembapan akan memengaruhi kemampuan tubuh dalam beradaptasi. Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ns Zaqqi Ubaidillah MKep SpKepMB, menyebut kondisi tersebut sebagai stresor lingkungan yang dapat meningkatkan gangguan pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan, terutama pada kelompok rentan. “Cuaca ekstrem tidak bisa dipandang hanya sebagai perubahan cuaca semata, tetapi harus dilihat sebagai risiko kesehatan populasi. Ketika tubuh terus-menerus terpapar stres lingkungan dan tidak mampu beradaptasi secara optimal, maka kerentanan terhadap penyakit akan meningkat. Karena itu, respons kesehatan harus bersifat promotif dan preventif, bukan sekadar reaktif ketika sakit sudah terjadi,” ujarnya, Selasa (6/1/2026). Ia menambahkan, cuaca ekstrem dapat memicu stres fisiologis kronis yang berdampak pada penurunan daya tahan tubuh. Suhu dingin dan kelembapan tinggi berpotensi melemahkan pertahanan mukosa saluran pernapasan, sementara suhu panas ekstrem meningkatkan kehilangan cairan dan elektrolit. Kondisi tersebut dapat menimbulkan kelelahan fisik, gangguan termoregulasi, penurunan toleransi aktivitas, hingga meningkatnya risiko infeksi. “Penurunan daya tahan tubuh sebenarnya bukan semata-mata disebabkan oleh cuaca, tetapi karena tubuh gagal mempertahankan homeostasis secara optimal. Ketika keseimbangan ini terganggu dalam waktu lama, maka tubuh menjadi lebih mudah terserang penyakit,” jelasnya. Dalam menghadapi kondisi tersebut, pendekatan keperawatan menekankan pencegahan primer melalui penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, pemenuhan nutrisi seimbang, serta kecukupan cairan tubuh. Asupan protein, vitamin, dan mineral berperan penting dalam mendukung sistem imun, sementara suplemen hanya bersifat pendukung dan tidak dapat menggantikan pola makan sehat. Kebutuhan cairan juga perlu diperhatikan karena dalam cuaca ekstrem tubuh cenderung kehilangan cairan lebih cepat, meski rasa haus tidak selalu muncul. “Langkah-langkah sederhana seperti mencuci tangan secara konsisten, memastikan keamanan makanan dan air minum, menjaga asupan gizi, serta memenuhi kebutuhan cairan sekitar 2–2,5 liter per hari untuk orang dewasa merupakan bentuk pencegahan yang sangat efektif. Upaya ini jauh lebih baik dibandingkan menunggu sakit lalu berobat,” kata Zaqqi. Zaqqi juga menyoroti kerentanan kelompok anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis, serta pekerja lapangan yang memiliki kapasitas adaptasi fisiologis dan psikososial lebih rendah. Perlindungan terhadap kelompok ini membutuhkan dukungan keluarga dan komunitas melalui pengawasan kesehatan, pengaturan aktivitas harian, pemenuhan nutrisi, serta lingkungan yang aman dan mendukung. Selain itu, kesehatan mental juga dinilai memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan tubuh. “Stres dan kecemasan akibat cuaca ekstrem dapat meningkatkan hormon stres yang berdampak pada penurunan imunitas. Karena itu, menjaga kesehatan mental adalah bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kesehatan fisik. Ketahanan kesehatan tidak dibangun saat krisis, tetapi melalui kebiasaan hidup sehat yang konsisten dan adaptif terhadap perubahan lingkungan,” pungkasnya. Ia berharap masyarakat semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan kesehatan menghadapi cuaca ekstrem. Tidak hanya melalui kewaspadaan individu, tetapi juga dengan penguatan peran keluarga, komunitas, dan fasilitas layanan kesehatan. Menurutnya, sinergi antara edukasi kesehatan yang berkelanjutan, kebijakan yang responsif, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci dalam menekan dampak kesehatan akibat perubahan iklim. Dengan upaya preventif yang konsisten dan berbasis ilmu pengetahuan, ia optimistis masyarakat dapat menjaga ketahanan kesehatan dan kualitas hidup meski di tengah tantangan cuaca ekstrem yang semakin kompleks. (Faqih/AS)

Pembelajaran Adab Melalui Model Team Teaching di Madrasah Ibtidaiyah 6 Nglegok Ponorogo

timesindonesia, MALANG – Pembelajaran adab berbasis team teaching terbukti efektif membentuk karakter peserta didik di MI Muhammadiyah 6 Nglegok, Ponorogo. Penelitian disertasi yang dilakukan oleh Saiful Anwar, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2025, mengungkap bahwa kolaborasi dua guru dalam satu kelas mampu menanamkan nilai adab secara lebih sistematis, reflektif, dan berkelanjutan sejak pendidikan dasar. Perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang cepat membawa tantangan serius bagi dunia pendidikan, khususnya dalam pembinaan karakter peserta didik. Fenomena menurunnya sopan santun, rendahnya empati, hingga melemahnya disiplin menunjukkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya berhasil menanamkan nilai adab secara mendalam. Pendidikan dasar, khususnya madrasah ibtidaiyah, memiliki peran strategis sebagai fondasi pembentukan kepribadian. Namun, praktik pembelajaran adab selama ini cenderung bersifat normatif dan kurang menyentuh dimensi pembiasaan. Kondisi inilah yang mendorong pentingnya inovasi model pembelajaran yang mampu mengintegrasikan keteladanan, kolaborasi guru, dan pembentukan budaya sekolah beradab. Disertasi ini berjudul “Pembelajaran Adab melalui Model Team Teaching di Madrasah Ibtidaiyah 6 Nglegok Ponorogo.” Fokus penelitian diarahkan pada perencanaan, penerapan, dan evaluasi pembelajaran adab melalui kolaborasi dua guru dalam satu kelas, serta dampaknya terhadap pembentukan karakter peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam bagaimana model team teaching diterapkan dalam pembelajaran adab, bagaimana proses kolaborasi guru berlangsung, serta bagaimana model tersebut berkontribusi terhadap pembentukan perilaku beradab siswa. Sasaran akhirnya adalah merumuskan model pembelajaran adab yang efektif, kontekstual, dan relevan dengan nilai-nilai pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian meliputi kepala madrasah, wakil kepala bidang kurikulum, guru adab, penanggung jawab adab, serta siswa kelas VI MI Muhammadiyah 6 Nglegok. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan secara induktif dengan teknik penjodohan pola, pembuatan eksplanasi, dan analisis deret waktu untuk melihat perubahan perilaku siswa secara berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran adab melalui team teaching berjalan efektif karena didukung perencanaan kolaboratif, pembagian peran guru yang fleksibel, serta evaluasi reflektif berkelanjutan. Dua guru dalam satu kelas mampu mengintegrasikan dimensi kognitif dan afektif secara seimbang—satu guru berfokus pada penyampaian materi, sementara guru lain menguatkan pembiasaan dan keteladanan. Kebaruan penelitian ini terletak pada temuan bahwa team teaching tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga membentuk budaya sekolah beradab melalui praktik nyata seperti keteladanan guru, “bengkel adab”, dan evaluasi berbasis refleksi. Dampaknya terlihat pada meningkatnya kesopanan, kedisiplinan, dan kepedulian sosial siswa. Secara ilmiah, penelitian ini memperkaya kajian pendidikan karakter Islam dengan mengintegrasikan konsep pendidikan adab Imam Al-Ghazali ke dalam model team teaching modern. Penelitian ini menawarkan kerangka konseptual pembelajaran adab yang kolaboratif, reflektif, dan kontekstual. Secara praktis, hasil penelitian dapat menjadi rujukan bagi madrasah dan sekolah dasar dalam merancang program pendidikan karakter, mengembangkan profesionalisme guru, serta membangun budaya sekolah yang berorientasi pada adab dan akhlak mulia. Ke depan, model pembelajaran adab berbasis team teaching diharapkan dapat direplikasi dan dikembangkan di madrasah lain sebagai strategi penguatan pendidikan karakter. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah terakreditasi nasional sinta 2 dan juga dapat dijadikan bahan pengembangan kebijakan pendidikan berbasis nilai adab dan kolaborasi guru. *) Oleh: Saiful Anwar, Mahasiswa Doktor Pendidikan Agama Islam, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang. *) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

Prodi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang Terapkan Program OSCE Berbasis Mini Hospital

MALANG POSCO MEDIA, MALANG- Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuka program Objective Structured Clinical Examination (OSCE) berbasis mini hospital. Ujian keterampilan klinis ini digelar di Gedung Kuliah Bersama (GKB V), fasilitas baru berteknologi tinggi yang dirancang menyerupai lingkungan rumah sakit modern. Kepala Departemen Keperawatan Gawat Darurat (KGD) UMM, Indah Dwi Pratiwi, S.Kep., Ns., M.Ng, menjelaskan bahwa OSCE menegaskan komitmen Prodi Keperawatan UMM dalam menghadirkan pendidikan kesehatan berkualitas. Dan OSCE merupakan metode paling relevan untuk memastikan kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja. “OSCE mini hospital di GKB V memberikan gambaran nyata bagaimana mahasiswa menghadapi pasien dalam kondisi kritis, berkomunikasi di bawah tekanan, serta melakukan tindakan klinis berbasis keselamatan pasien. Inilah yang membentuk mereka menjadi perawat profesional di masa depan,” ujarnya. OSCE menjadi salah satu instrumen utama evaluasi kompetensi mahasiswa keperawatan karena tidak hanya menguji kemampuan teknis, tetapi juga menilai komunikasi terapeutik, berpikir kritis, clinical reasoning, hingga pengambilan keputusan dalam kondisi gawat darurat. Sejak pagi hari, suasana ujian tampak dinamis dengan mahasiswa yang berpindah dari satu station ke station lain sesuai alur skenario klinis yang telah ditetapkan. Pelaksanaan OSCE kali ini memiliki keunggulan pada penerapan konsep mini hospital yang menghadirkan simulasi klinis secara realistis. Berbagai station dirancang mencerminkan kondisi nyata pelayanan kesehatan, mulai dari penanganan kegawatdaruratan, perawatan luka, pemeriksaan fisik komprehensif, penyuluhan kesehatan, hingga pelayanan pasien dengan penyakit kronis dan kasus maternitas serta anak. Indah mengungkapkan bahwa station kegawatdaruratan dirancang menyerupai Instalasi Gawat Darurat (IGD) modern. Meliputi simulasi resusitasi jantung paru, penanganan trauma, triase bencana, hingga stabilisasi perdarahan dan koordinasi tim keperawatan. Keberhasilan OSCE juga didukung oleh fasilitas GKB V yang dilengkapi laboratorium keperawatan terintegrasi, manekin digital multiprogram, ruang mini ICU, sistem kamera pemantau tindakan, hingga simulasi rekam medis elektronik. Kaprodi S1 Keperawatan FIKES UMM, Nur Aini, Ph.D, menuturkan bahwa OSCE bukan sekadar ujian praktik, melainkan bagian dari sistem penjaminan mutu pendidikan. “Dengan fasilitas GKB V, kami memastikan mahasiswa tidak hanya lulus secara akademik, tetapi juga siap bersaing di dunia kerja nasional maupun global dengan kompetensi dan empati yang seimbang,” jelasnya. Ia mengapresiasi keterlibatan tim penguji lintas bidang keperawatan yang memastikan penilaian dilakukan secara komprehensif dan objektif. “Melalui pelaksanaan OSCE mini hospital ini, Prodi Keperawatan UMM menegaskan bahwa transformasi pendidikan kesehatan bukan hanya wacana, tetapi telah diwujudkan secara nyata,” tegasnya. (imm/udi)

FIKES UMM Gelar International Guest Lecture Bahas Keperawatan Pasien Penderita Diabetes

Malangpariwara.com – Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kegiatan International Guest Lecture dengan tema “Bridging Technology and Compassion: The Future of Nursing Care For People With Diabetes.” Kegiatan ini menjadi agenda rutin tahunan yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas akademik mahasiswa sekaligus memperkuat jejaring dengan institusi layanan kesehatan. Ketua Program Studi Profesi Ners UMM, Ns. Anis Ika Nur Rohmah, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.MB., menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya ditujukan bagi mahasiswa. Tetapi juga melibatkan tenaga kesehatan dari rumah sakit mitra. “Acara International Guest Lecture ini memang rutin kita adakan setiap tahun. Tujuannya pertama untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa. Lalu kita juga mengundang relasi dari beberapa rumah sakit untuk melakukan transfer knowledge,” jelasnya. Fokuskan pada Penyakit Diabetes Melitus Ia menambahkan, materi yang disampaikan berfokus pada perkembangan terbaru dalam evidence based nursing. Khususnya terkait perawatan pasien diabetes melitus. Dengan begitu, baik mahasiswa maupun tenaga kesehatan dapat terus mengikuti pembaruan ilmu. “Isinya nanti membahas penelitian-penelitian terbaru dan evidence based nursing terbaru. Sehingga teman-teman di rumah sakit juga bisa ikut update. Jadi kita saling berbagi pengetahuan,” ujarnya. Kegiatan ini diikuti sekitar 250 peserta yang berasal dari mahasiswa S1 Keperawatan, mahasiswa Profesi Ners, serta perwakilan dari sejumlah rumah sakit mitra. Seperti RSSA, RS Wava Husada, RSI Aisyiyah, RS UMM, dan RSUD Kepanjen. Hadirkan Narasumber Internasional Untuk pemateri, UMM menghadirkan narasumber dari berbagai negara, di antaranya Vietnam, Taiwan, dan Indonesia. Menurut Anis, hal ini merupakan bentuk implementasi dari kerja sama internasional yang telah dijalin UMM. “Ini juga bagian dari implementasi MoU kami. Di dalam MoU itu ada pelaksanaan penelitian, pengabdian masyarakat, dan sharing knowledge seperti ini,” katanya. Ia berharap, melalui kegiatan ini mahasiswa mendapatkan gambaran nyata tentang penerapan perawatan pasien diabetes di rumah sakit, baik di dalam maupun luar negeri. “Mahasiswa jadi tidak hanya tahu praktik di Indonesia, tapi juga mendapat gambaran bagaimana implementasi perawatan pasien diabetes di luar negeri,” tutupnya. (Djoko W)

Cuaca Ekstrem Awal 2026, Dosen UMM Ingatkan Bahaya Stresor Lingkungan

Malang (beritajatim.com) – Prediksi cuaca ekstrem yang melanda awal tahun 2026 menjadi peringatan serius bagi masyarakat. Fenomena ini dinilai tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan fisik, tetapi juga membawa risiko besar terhadap kesehatan publik. Perubahan suhu yang drastis, curah hujan tinggi, hingga fluktuasi kelembapan menuntut tubuh manusia untuk beradaptasi lebih keras. Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ns. Zaqqi Ubaidillah, M.Kep., Sp.Kep.MB., menyoroti kondisi ini sebagai stresor lingkungan. Jika tidak diantisipasi, stresor ini dapat mengganggu pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan, terutama pada kelompok masyarakat yang rentan. Zaqqi menegaskan bahwa cuaca ekstrem jangan hanya dipandang sebagai fenomena alam biasa, melainkan sebagai ancaman nyata bagi kesehatan populasi. Paparan terus-menerus terhadap kondisi lingkungan yang tidak menentu membuat tubuh gagal melakukan adaptasi optimal, yang berujung pada meningkatnya kerentanan terhadap penyakit. “Cuaca ekstrem tidak bisa dipandang hanya sebagai perubahan cuaca semata, tetapi harus dilihat sebagai risiko kesehatan populasi. Ketika tubuh terus-menerus terpapar stres lingkungan dan tidak mampu beradaptasi secara optimal, maka kerentanan terhadap penyakit akan meningkat,” ujar Zaqqi, Selasa (6/1/2026). Ia menekankan pentingnya respons kesehatan yang bersifat promotif dan preventif, bukan sekadar reaktif atau mengobati saat penyakit sudah menyerang. Menurut Zaqqi, cuaca ekstrem memicu stres fisiologis kronik yang menurunkan daya tahan tubuh. Secara spesifik, ia menjelaskan dampaknya. Pertama, suhu dingin dan lembap, dapat melemahkan pertahanan mukosa saluran pernapasan, mempermudah masuknya virus dan bakteri. Kedua, suhu panas ekstrem, meningkatkan risiko kehilangan cairan dan elektrolit secara cepat. “Kondisi ini dapat menimbulkan kelelahan fisiologis, gangguan termoregulasi, penurunan toleransi aktivitas, hingga meningkatnya risiko infeksi,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa penurunan imunitas bukan semata karena cuaca, melainkan kegagalan tubuh mempertahankan keseimbangan internal (homeostasis) dalam jangka waktu lama. Untuk menghadapi tantangan ini, pendekatan keperawatan menyarankan pencegahan primer. Kuncinya ada pada Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), nutrisi seimbang, dan hidrasi yang cukup. Zaqqi mengingatkan bahwa asupan protein, vitamin, dan mineral adalah fondasi utama sistem imun. Sementara itu, suplemen hanyalah pendukung dan tidak bisa menggantikan peran makanan sehat (real food). “Langkah sederhana seperti mencuci tangan secara konsisten, memastikan keamanan makanan dan air minum, menjaga asupan gizi, serta memenuhi kebutuhan cairan sekitar 2–2,5 liter per hari untuk orang dewasa merupakan bentuk pencegahan yang sangat efektif,” paparnya. Penting dicatat, saat cuaca ekstrem, tubuh cenderung kehilangan cairan lebih cepat meskipun rasa haus tidak selalu muncul. Oleh karena itu, disiplin minum air menjadi krusial. Lindungi Kelompok Rentan dan Kesehatan Mental Dosen UMM tersebut juga memberikan perhatian khusus pada kelompok rentan yang memiliki kapasitas adaptasi fisiologis lebih rendah, yakni anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis, dan pekerja lapangan. Perlindungan terhadap mereka membutuhkan benteng berupa dukungan keluarga dan komunitas, mulai dari pengawasan kesehatan, pengaturan aktivitas harian, hingga penciptaan lingkungan yang aman. Tak hanya fisik, faktor psikologis juga berperan vital. Stres dan kecemasan akibat ketidakpastian cuaca dapat memicu hormon kortisol yang menekan sistem imun. “Menjaga kesehatan mental adalah bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kesehatan fisik. Ketahanan kesehatan tidak dibangun saat krisis, tetapi melalui kebiasaan hidup sehat yang konsisten,” tegas Zaqqi. Menutup penjelasannya, Zaqqi berharap adanya sinergi antara kesadaran individu, peran keluarga, serta kebijakan pemerintah yang responsif. Edukasi kesehatan yang berkelanjutan dinilai menjadi kunci untuk menekan dampak buruk perubahan iklim. “Upaya ini jauh lebih baik dibandingkan menunggu sakit lalu berobat,” pungkasnya. (dan/ted)

Mahasiswi PAI UMM Torehkan Prestasi Multitalenta, dari Juara Stand Up Comedy hingga Founder Bisnis

pwmu.co –Latar belakang sebagai mahasiswi Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak menghalangi Umi Khabibah untuk berprestasi di berbagai bidang. Mahasiswi angkatan 2023 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini sukses menorehkan prestasi nasional dengan meraih Juara Harapan 1 Stand Up Comedy pada ajang KMI Expo 2025.Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa lingkungan akademik UMM mendorong lahirnya mahasiswa multitalenta yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Melalui dunia komedi tunggal, Umi tidak hanya tampil menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan kritis dengan pendekatan komunikasi yang cerdas dan membumi. Bagi Umi, kemampuan public speaking bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan bagian dari tanggung jawab moral dalam menyampaikan nilai-nilai kebaikan kepada masyarakat. Ia menilai, latar belakang keilmuan PAI justru memberi kekuatan tersendiri dalam membangun komunikasi yang beretika dan berlandaskan ilmu. “Kalau lulusan PAI tidak mahir bicara, panggung dakwah bisa diisi oleh orang yang keliru. Sekarang banyak yang pintar bicara, tetapi tidak memiliki kompetensi keilmuan. Di sinilah pentingnya mahasiswa PAI menguasai komunikasi,” tegasnya. Selama menempuh studi di UMM, Umi aktif mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri. Ia tercatat sebagai anggota UKM MTQ, aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), serta pernah dipercaya menjadi Ambassador I’am Women Indonesia 2023. Berbagai pengalaman tersebut menjadi ruang pembelajaran kepemimpinan dan komunikasi yang membentuk kepercayaan dirinya. “Justru dari organisasi saya belajar banyak, mulai dari mengelola tim, menyampaikan gagasan, hingga memahami perbedaan karakter,” ujarnya. Ia juga memanfaatkan forum presentasi kelas sebagai sarana melatih kemampuan membaca audiens dan strategi komunikasi yang tepat. Tak berhenti di situ, Umi juga menapaki dunia wirausaha. Ia kini menjabat sebagai CEO Speak Minds Academy, lembaga kursus komunikasi profesional dengan sepuluh kelas spesialisasi. Ia mengantongi sejumlah sertifikasi nasional, seperti Certified Public Speaker (CPS), neuro linguistic programming (NLP), serta sertifikasi penyiar TV level 3 KKNI. Umi Khabibah saat membuka jualannya. Foto: Hassan/PWMU.CO Selain itu, bisnis rintisannya, Tale Gifts and Co, berhasil lolos pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dan dikonversi menjadi nilai mata kuliah melalui kebijakan akademik UMM. Di bidang sosial, Umi mendirikan Komunitas Santri Putri Khawla Benazir sebagai wadah pemberdayaan santri putri. Komunitas ini rutin menggelar workshop untuk membangun kepercayaan diri santri, khususnya dalam bidang menulis dan public speaking. “Saya sering melihat santri minder ketika masuk dunia kampus. Padahal potensi mereka besar. Komunitas ini ingin menegaskan bahwa santri juga bisa tampil percaya diri dan berprestasi,” jelasnya. Menutup kisahnya, Umi berpesan agar mahasiswa berani membangun portofolio sejak dini dan memanfaatkan seluruh fasilitas kampus. Menurutnya, masa kuliah adalah fase terbaik untuk belajar, bereksplorasi, dan menempa diri. “Selama masih mahasiswa, kita punya banyak akses dan dukungan. Jangan takut mencoba, karena banyak peluang berharga justru hanya datang saat kita masih kuliah,” pungkasnya. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Azrohal Hasan