Tim Psikososial UMM Dampingi Warga Terdampak Banjir Langkat

pwmu.co – Selain bantuan logistik dan layanan kesehatan, Muhammadiyah Jawa Timur juga memberikan pendampingan psikososial bagi warga terdampak banjir di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, Rabu (18/12/2025). Pendampingan ini dilakukan oleh tim psikososial dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam aksi kemanusiaan Posko Muhammadiyah Langkat bersama MDMC dan Lazismu Jatim. Layanan psikososial diberikan untuk membantu warga, terutama anak-anak dan kelompok rentan, dalam menghadapi dampak psikologis akibat bencana. Trauma kehilangan rumah, lingkungan tempat tinggal, serta rasa aman menjadi perhatian utama tim pendamping. Para relawan melakukan berbagai pendekatan, mulai dari aktivitas bermain, konseling ringan, hingga penguatan mental bagi warga yang masih mengungsi di kawasan perbukitan perkebunan kelapa sawit. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari aksi kemanusiaan Muhammadiyah, karena pemulihan pascabencana tidak hanya menyangkut aspek fisik, tetapi juga kondisi psikis masyarakat. Kehadiran tim psikososial UMM memberikan ruang aman bagi warga untuk mengekspresikan perasaan mereka pascabencana. Melalui pendekatan yang hangat dan komunikatif, relawan berupaya menumbuhkan kembali rasa tenang, optimisme, serta semangat bangkit di tengah kondisi yang masih terbatas. Pendampingan ini juga menjadi sarana edukasi bagi warga tentang pentingnya menjaga kesehatan mental setelah mengalami bencana. Dengan dukungan psikososial yang tepat, diharapkan warga dapat lebih siap menghadapi proses pemulihan dan kembali menjalani aktivitas secara perlahan. Muhammadiyah Jawa Timur menyatakan akan terus melakukan pendampingan berkelanjutan di lokasi terdampak banjir hingga kondisi warga benar-benar pulih.

Humas UMM Istiqomah Borong Penghargaan di Anugerah Diktisaintek

Indonesiandaily.com – Tim Humas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) istiqomah dari tahun ke tahun selalu borong penghargaan di Anugerah Diktisaintek. Yakni ajang penghargaan yang dislenggarkan oleh Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains dan teknologi (Kemdiktisaintek) 2025. Kepala Humas UMM Maharina Novia Zahro M Ikom menguraikan, bahwa timnya sukses membawa pulang dua penghargaan di Anugerah Diktisaintek 2025. Acara yang diadakan Kemdiktisaintek RI, (19/12/2025). “Humas UMM berhasil meraih silver medal kategori pengelolaan laman dan bronze medal untuk pengelolaan media sosial,” ungkap Maharina. Menurutnya, ini menjadi bukti konsistensi performa humas UMM. Utamanya dalam menyebarkan informasi di bidang pendidikan tinggi, termasuk program Kampus Berdampak. “Setiap tahun kami berhasil meraih penghargaan Anugerah Diktisaintek ini. Bahkan kali ini mempertahankan dua raihan penghargaan sekaligus,” katanya. Kepala Humas ini menilai bahwa penghargaan tersebut merupakan bentuk pengakuan dari pemerintah atas kinerja Humas UMM. Terutama dalam menyuarakan berbagai program universitas yang sejalan dengan kebijakan Kemdiktisaintek. Keberhasilan ini juga tak lepas dari strategi publikasi yang dilakukan secara terukur dan sesuai dengan kebutuhan publik. “Kami berusaha membuat konten yang bisa diterima masyarakat luas,” ucap Maharina. Ia kemudian menyontohkan, misalnya konten yang relevan dengan tren generasi muda, seperti Gen Z, melalui platform seperti Instagram dan TikTok. Selain itu, Humas UMM juga rutin merilis berita bernuansa ilmiah dan berdampak yang tetap menarik. Tim Humas UMM, lanjutnya, juga aktif mempromosikan program-program berdampak. Salah satu yang unik dari UMM adalah kehadiran Direktorat Saintek UMM yang menjadi wadah inovasi dan penelitian yang sudah dihilirasi. Berbagai inovasi dan kontribusi pengabdian dilahirkan, tidak hanya di Jawa tapi juga di berbagai wilayah lainnya. Terbaru, melalui program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M), UMM berupaya mengatasi stunting dan kemiskinan ekstrem di Nusa Tenggara Timur. “Jadi Direktorat Saintek ini menjadi katalisator dan mempercepat UMM untuk terus berdampak bagi masyarakat,” ujarnya. Tim Humas UMM berkolaborasi dengan pihak-pihak lain untuk menebar kebermanfaatn. Ini menjadi salah satu program yang senantisa disebarluskan melalui beragam media,. “Prestasi ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas. Menyebarkan informasi baik dan membangun negeri agar semakin berdampak untuk negri,” pungkasnya

Diuji Praktisi Media, 4 Portal Berita Karya Mahasiswa Ikom UMM Dinilai Layak Industri

KETIK, BATU – Empat portal berita karya mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendapat apresiasi dari praktisi media profesional. Website tersebut merupakan luaran praktikum Creative Journalism Production yang dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Komunikasi UMM. Keempat portal yang dipresentasikan yakni soravista.id (kelompok Sahwahita), zheltymedia.id (Sraddhasatya), clickbites.id (Prabharasa), dan natera.id (Narativa Force). Kelayakan serta kualitas karya mahasiswa tersebut diuji melalui kunjungan media ke kantor Tribun Jatim dan Jawa Pos di Surabaya, Kamis, 18 Desember 2025. Dalam agenda tersebut, mahasiswa memaparkan konsep dan pengelolaan portal berita di hadapan Pemimpin Redaksi Tribun Jatim, Tri Mulyono, bersama pengembang konten kreatif dan digital, Adrianus Ardi, yang memberikan penilaian. Tri Mulyono menyambut positif pendekatan pembelajaran yang tidak hanya menyiapkan mahasiswa sebagai jurnalis, tetapi juga sebagai pengelola media. “Ini langkah bagus karena mahasiswa tidak hanya belajar menulis berita, tetapi juga memahami peran sebagai publisher,” ujarnya. Ia mengapresiasi karya mahasiswa sekaligus memberikan sejumlah catatan, terutama terkait kekuatan sumber informasi. “Pembeda utama karya jurnalistik dengan konten kreatif terletak pada kelengkapan informasi yang bersumber dari narasumber tepercaya,” tegasnya. Tri Mulyono juga mendorong mahasiswa lebih berani menulis dengan mengedepankan kutipan yang akurat serta aktif membangun jejaring melalui liputan langsung. Baca Juga: UMM Sapu Dua Penghargaan PKM 2025, Bukti Pembinaan Riset Berjalan Sistematis “Jurnalis memiliki keistimewaan karena bisa bertemu dengan siapa pun,” tambahnya. Sementara itu, Adrianus Ardi menyoroti pentingnya pemahaman terhadap ideologi dan karakter platform media. Ia menekankan bahwa media daring harus ramah dibaca baik melalui desktop maupun perangkat seluler. “Format penulisan perlu disesuaikan. Untuk versi mobile sebaiknya tidak terlalu panjang dan diperkaya unsur visual,” sarannya. Diskusi berlangsung interaktif seiring antusiasme mahasiswa mempresentasikan karya sekaligus menyerap masukan dari praktisi. Salah satu mahasiswa, Rika, menyampaikan keinginannya untuk terus mengembangkan portal yang telah dibuat meski praktikum berakhir. Ia meminta saran agar media daring dapat bertahan. Menanggapi hal itu, Tri Mulyono menekankan pentingnya segmentasi audiens. “Semakin spesifik segmennya, justru semakin kuat. Tidak perlu terlalu mengejar page view, yang terpenting memiliki pembaca yang loyal,” jelasnya seraya mencontohkan media dengan fokus isu tertentu yang mampu bertahan. Kunjungan ke Jawa Pos diisi dengan diskusi dan observasi ruang redaksi di Graha Pena Surabaya bersama Wakil Pemimpin Redaksi, Firzan Syahroni. Ia menjelaskan perbedaan karakter kerja media cetak dan media daring, terutama dalam hal verifikasi. Media cetak dinilai memiliki waktu lebih longgar untuk proses pengecekan sehingga kepercayaan publik relatif lebih terjaga. “Di tengah banjir informasi online, publik justru akan kembali menyandarkan kepercayaannya pada media cetak,” ungkapnya. Ia pun optimistis media cetak masih akan tetap eksis. Kegiatan media visit ini diikuti 30 mahasiswa dan didampingi dosen pengampu serta Kepala Laboratorium Ilmu Komunikasi UMM, Widya Yutanti. “Banyak masukan positif dari kunjungan ini. Semoga dapat memperkaya pengalaman dan pengetahuan mahasiswa jurnalistik,” harapnya. Ia menilai bekal praktikum membuat lulusan Ilmu Komunikasi lebih siap terjun ke dunia media massa maupun media sosial. Pengajar mata kuliah praktikum, Nasrullah, menambahkan bahwa mahasiswa dilatih memproduksi berita secara cepat tanpa mengabaikan akurasi, selaras dengan ritme kerja media daring.

Tim Medis UMM Buka Posko Kesehatan di Maninjau untuk Korban Banjir

AGAM, JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuka posko kesehatan di kawasan Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, untuk melayani warga terdampak banjir. Posko tersebut beroperasi sejak 16 hingga 25 Desember 2025 dan melayani puluhan pasien setiap harinya. Kegiatan kemanusiaan ini melibatkan satu dokter umum dan satu perawat dari Rumah Sakit UMM, serta tiga dokter muda dari Fakultas Kedokteran UMM. Program ini didukung pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) sebagai bagian dari peran perguruan tinggi dalam penanganan pascabencana. Dokter umum RS UMM, dr. Ilham Setya Wicaksono, mengatakan keluhan kesehatan yang paling banyak dialami warga adalah penyakit kulit, terutama gatal-gatal. Kondisi tersebut dipicu oleh keterbatasan akses air bersih dan penggunaan air yang tercemar pascabanjir. “Air bersih masih sulit didapatkan, sehingga banyak warga mengalami gangguan kesehatan, khususnya penyakit kulit,” ujarnya, Kamis (19/12/2025). Selain pengobatan umum, posko kesehatan UMM juga menyediakan layanan pemeriksaan gratis, seperti cek tekanan darah, gula darah, asam urat, dan kolesterol. Tim medis turut memberikan edukasi kesehatan agar warga lebih waspada terhadap kondisi kesehatannya di tengah situasi darurat. dr. Ilham menuturkan, sebagian besar pasien merupakan warga yang terdampak langsung bencana banjir. Ia juga menggambarkan kondisi wilayah yang masih memprihatinkan, dengan banyaknya kerusakan jalan, jembatan, rumah, dan lahan pertanian akibat material batu dan kayu yang terbawa arus banjir. “Perjalanannya tidak mudah, tapi ini bagian dari tugas kemanusiaan. Harapan kami, masyarakat bisa segera pulih dan kesehatan mereka tetap terjaga,” katanya. Sementara itu, bidan setempat, Afrida Arianti, menyampaikan apresiasi atas kehadiran tim medis UMM. Menurutnya, layanan kesehatan gratis tersebut sangat membantu warga yang kesulitan mengakses fasilitas kesehatan akibat dampak banjir. “Kehadiran tim UMM sangat membantu. Warga tidak perlu pergi jauh untuk mendapatkan layanan kesehatan di kondisi yang masih sulit seperti sekarang,” ujarnya.

Tingkatkan Kesiapan Studi Lanjut Siswa, Mahasiswa PAI UMM Gelar Pelatihan di SMA Muhammadiyah 3 Batu

pwmu.co – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan kegiatan pelatihan sebagai bagian dari penugasan mata kuliah Desain Pelatihan pada Selasa (16/12/2025). Kegiatan tersebut mengusung tema “Optimalisasi Kesiapan dan Motivasi Siswa Menuju Pendidikan Tinggi yang Berkualitas di SMA Muhammadiyah 3 Batu”. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapan dan motivasi siswa dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Melalui kegiatan ini, siswa dibekali berbagai materi penting yang berkaitan dengan persiapan studi lanjut. Materi pelatihan meliputi Pentingnya Pendidikan Tinggi dan Perencanaan Karier yang disampaikan oleh Najmus Sakip, Mengenali Minat dan Bakat untuk Pemilihan Jurusan oleh Visca Arinda Putri, Motivasi dan Kesiapan Mental Menghadapi Perguruan Tinggi oleh Burhan Galib Imtinan, Manajemen Waktu dan Strategi Belajar Efektif oleh Aulia Asmallayali, serta Proses Pendaftaran dan Seleksi Perguruan Tinggi yang juga disampaikan oleh Visca Arinda Putri. Selain penyampaian materi, siswa juga mendapat kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan alumni SMA Muhammadiyah 3 Batu yang telah berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Kepala SMA Muhammadiyah 3 Batu, Aris Sahruli, S.Pd., menyampaikan bahwa pelatihan tersebut memiliki peran penting bagi siswa. “Pelatihan ini sangat penting bagi siswa karena akan membantu mereka meningkatkan kesiapan dan motivasi dalam melanjutkan pendidikan tinggi,” ujarnya. Kegiatan pelatihan berlangsung dengan antusiasme tinggi dari para siswa. Hal tersebut terlihat dari keaktifan peserta dalam sesi diskusi, tanya jawab, serta berbagi pengalaman terkait cita-cita dan rencana studi ke depan. Para siswa tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga diajak melakukan refleksi diri, menyusun rencana pendidikan, serta memahami langkah-langkah strategis dalam meraih perguruan tinggi yang sesuai dengan minat dan kemampuan mereka. Para pemateri menyampaikan materi dengan metode yang interaktif dan komunikatif sehingga suasana pelatihan terasa menarik dan mudah dipahami. Pendekatan tersebut membantu siswa lebih terbuka dalam mengungkapkan kendala, keraguan, maupun harapan mereka terkait pendidikan tinggi. Dengan demikian, pelatihan ini tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada penguatan mental dan motivasi siswa. Di akhir kegiatan, mahasiswa Pendidikan Agama Islam UMM berharap pelatihan ini dapat memberikan dampak positif dan berkelanjutan bagi siswa SMA Muhammadiyah 3 Batu. Diharapkan para siswa mampu mempersiapkan diri secara matang, memiliki kepercayaan diri yang kuat, serta termotivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi sebagai bekal membangun masa depan yang lebih baik. Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan sekolah. (*)

Krisis Air Bersih Pasca Banjir Maninjau Picu Penyakit Kulit, Tim Medis UMM Terjun ke Lokasi

Malang (beritajatim.com) – Penanganan pascabencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat (Sumbar) tidak berhenti saat air surut. Masalah kesehatan kini menjadi sorotan utama, terutama terkait krisis air bersih yang memicu berbagai penyakit. Merespons kondisi darurat ini, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengirimkan tim medis langsung ke kawasan Maninjau, Kabupaten Agam. Selama sepuluh hari penuh, mulai tanggal 16 hingga 25 Desember, tim medis UMM membuka posko kesehatan untuk memberikan layanan medis gratis. Langkah UMM diambil guna memastikan puluhan warga terdampak yang datang setiap harinya mendapatkan penanganan medis yang layak. Dalam misi kemanusiaan yang menempuh jarak jauh dari Malang ke Maninjau ini, UMM menerjunkan tim lengkap yang terdiri dari satu dokter umum dan satu perawat dari Rumah Sakit (RS) UMM, serta diperkuat oleh tiga dokter muda dari Fakultas Kedokteran UMM. Gerakan ini tidak berjalan sendiri, melainkan mendapat dukungan pendanaan penuh dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Hal ini menjadi bukti nyata kontribusi perguruan tinggi dalam penanganan krisis pascabencana di Indonesia. Dokter umum RS UMM, dr. Ilham Setya Wicaksono, yang bertugas di lokasi mengungkapkan fakta memprihatinkan di lapangan. Menurutnya, mayoritas pasien yang mendatangi posko mengeluhkan penyakit kulit, khususnya gatal-gatal. “Akses air bersih masih sangat terbatas, sehingga banyak warga mengalami gangguan kesehatan, khususnya penyakit kulit,” jelas dr. Ilham pada beritajatim.com, Jumat (19/12/2025). Ia menambahkan bahwa kondisi ini dipicu oleh penggunaan air yang keruh untuk kebutuhan sehari-hari karena infrastruktur air bersih yang belum pulih sepenuhnya pascabanjir. Meskipun berada di lokasi bencana, standar pelayanan yang diberikan tetap maksimal. Tim medis UMM membawa stok obat-obatan yang lengkap untuk memenuhi kebutuhan warga. Tidak hanya pengobatan kuratif, posko ini juga menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan, meliputi pengecekan tekanan darah (tensi), tes gula darah, pemeriksaan asam urat, dan pengecekan kolesterol. Selain tindakan medis, tim juga memberikan edukasi kesehatan mengenai penanganan awal penyakit. Hal ini bertujuan agar masyarakat memiliki kewaspadaan lebih tinggi terhadap kondisi kesehatan mereka di tengah lingkungan yang belum kondusif. Perjalanan tim medis menuju lokasi posko bukanlah hal yang mudah. dr. Ilham menceritakan kondisi infrastruktur yang rusak parah akibat terjangan banjir. Akses jalan, jembatan, rumah warga, hingga area persawahan mengalami kerusakan signifikan. Material sisa banjir seperti batu besar dan kayu gelondongan masih mendominasi area sekitar, menyulitkan mobilitas. Kendati demikian, dr. Ilham menegaskan bahwa tantangan medan tersebut tidak menyurutkan semangat tim demi tujuan kemanusiaan. “Harapan kami, kehidupan masyarakat bisa kembali pulih dan kolaborasi semua pihak dapat mempercepat pemulihan pascabencana. Kami memang hadir sementara, tetapi semoga bisa membantu warga menjaga kesehatan mereka,” ujarnya penuh harap. Kehadiran tim medis UMM disambut hangat oleh tenaga kesehatan dan warga setempat. Bidan setempat, Afrida Arianti, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas inisiatif UMM menjemput bola memberikan layanan kesehatan. Layanan ini dinilai krusial mengingat akses warga terhadap fasilitas kesehatan reguler masih terhambat akibat dampak bencana “Kami sangat berterima kasih karena kehadiran tim UMM membuat warga tidak perlu jauh-jauh mencari layanan kesehatan, terutama di situasi yang masih sulit seperti sekarang,” tutur Afrida. (dan/ian)

Humas UMM Borong Dua Penghargaan di Anugerah Diktisaintek 2025

Reportasemalang – Prestasi demi prestasi terus diraih Humas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Terbaru, Humas UMM sukses membawa pulang dua penghargaan di Anugerah Diktisaintek 2025 yang diadakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI, 19 Desember 2025 ini. Humas UMM berhasil meraih silver medal kategori pengelolaan laman dan bronze medal untuk pengelolaan media sosial. Terkait kemenangan ini, Kepala Humas UMM Maharina Novia Zahro, M. Ikom. bersyukur dan merasa bangga. Menurutnya, ini menjadi bukti konsistensi performa humas UMM. Utamanya dalam menyebarkan informasi di bidang pendidikan tinggi, termasuk program Kampus Berdampak. “Kami sangat bersyukur atas penghargaan ini. Setiap tahun kami berhasil meraih penghargaan Anugerah Diktisaintek ini. Bahkan kali ini mempertahankan dua raihan penghargaan sekaligus,” katanya. Maharina, panggilan akrabnya, menilai bahwa penghargaan ini adalah bentuk pengakuan dari pemerintah atas kinerja Humas UMM selama ini. terutama dalam menyuarakan berbagai program universitas yang sejalan dengan kebijakan Kemdiktisaintek. Keberhasilan ini juga tak lepas dari strategi publikasi yang dilakukan secara terukur dan sesuai dengan kebutuhan publik. “Kami berusaha membuat konten yang bisa diterima masuarakat luas. Misalnya konten yang relevan dengan tren generasi muda, seperti Gen Z, melalui platform seperti Instagram dan TikTok. Selain itu, kami juga rutin merilis berita bernuansa ilmiah dan berdampak yang tetap menarik,” tegasnya. Tim Humas UMM, lanjutnya, juga aktif mempromosikan program-program berdampak. Salah satu yang unik dari UMM adalah kehadiran Direktorat Saintek UMM yang menjadi wadah inovasi dan penelitian yang sudah dihilirasi. Berbagai inovasi dan kontribusi pengabdian dilahirkan, tidak hany di Jawa tapi juga di berbagai wilayah lainnya. Terbaru, melalui program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M), UMM berupaya mengatasi stunting dan kemiskinan ekstrem di Nusa Tenggara Timur. “Jadi Direktorat Saintek ini menjadi katalisator dan mempercepat UMM untuk terus berdampak bagi masyarakat. Berkolaborasi dengan pihak-pihak lain untuk menebar kebermanfaatn. Ini menjadi salah satu program yang senantisa kami sebarluskan melalui beragam media,” tambahnya. Terakhir, Maharina menegaskan prestasi ini menjadi motivasi bagi Humas UMM untuk terus meningkatkan kualitas. Menyebarkan informasi baik dan membangun negeri agar semakin berdampak untuk Indonesia. (*)

Terhubung tapi Terasing: Fenomena Fomo di Era Digital

RADAR MOJOKERTO – MANUSIA pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa relasi dengan sesamanya. Sejak lahir, manusia membentuk identitas diri melalui interaksi sosial, memahami norma, serta memaknai kehidupan dalam kebersamaan. Konsep ini menjadi fondasi penting dalam kajian sosiologi dan antropologi. Namun, di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, cara manusia membangun relasi sosial mengalami pergeseran yang signifikan. Salah satu gejala paling nyata dari perubahan tersebut adalah maraknya fenomena fear of missing out (FOMO). FOMO bukan sekadar rasa takut tertinggal tren, melainkan bentuk kecemasan sosial yang berakar pada kebutuhan manusia untuk diakui dan diterima dalam kelompoknya. Media sosial kini berfungsi sebagai ruang sosial baru yang membentuk standar pergaulan, gaya hidup, dan keberhasilan. Dalam perspektif sosiologi, media sosial dapat dipahami sebagai fakta sosial yang bekerja secara halus, tetapi kuat, dalam membentuk cara individu berpikir dan bertindak. Sebagai makhluk sosial, manusia cenderung menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku dalam masyarakatnya. Di era digital, norma tersebut tidak lagi hanya hadir dalam interaksi tatap muka, tetapi juga dalam linimasa media sosial. Unggahan tentang pencapaian, hiburan, dan gaya hidup menciptakan tekanan sosial tersendiri. Ketika individu merasa tidak ikut serta dalam arus tersebut, muncul perasaan tertinggal, tidak relevan, bahkan terasing secara sosial. Fenomena FOMO dapat dengan mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Banyak individu merasa perlu menghadiri acara populer, mengunjungi tempat nongkrong yang sedang viral, atau membeli produk tertentu karena ramai diperbincangkan di media sosial. Unggahan tentang konser, coffee shop terkenal, atau gaya hidup influencer mendorong individu untuk ikut terlibat agar tetap dianggap ”ada” dalam lingkaran sosialnya. Ketika tidak ikut serta, individu sering kali merasa kurang gaul atau takut tersisih dari pergaulan. Di kalangan mahasiswa dan generasi muda, FOMO juga tampak dalam aktivitas akademik dan organisasi. Mengikuti seminar, pelatihan, atau tren produktivitas tertentu kerap dilakukan bukan karena kebutuhan pengembangan diri, melainkan karena takut dianggap pasif atau tidak aktif. Media sosial kemudian menjadi ruang pembanding sosial yang memperkuat tekanan tersebut, sehingga nilai diri sering kali diukur dari seberapa sibuk dan terlihat produktif di ruang digital. Dari sudut pandang antropologi, FOMO merupakan bagian dari budaya masyarakat digital yang menekankan kehadiran, partisipasi, dan visibilitas. Budaya ini mendorong individu untuk selalu ”hadir” di ruang virtual, meskipun kehadiran tersebut sering bersifat simbolik. Interaksi sosial tetap terjadi, tetapi kehilangan kedalaman makna karena lebih berorientasi pada citra dan pengakuan sosial, bukan pada kedekatan emosional dan solidaritas nyata. Dalam kajian ilmu komunikasi, FOMO menunjukkan pergeseran fungsi komunikasi sosial. Komunikasi digital tidak lagi sekadar menjadi sarana pertukaran pesan dan pemahaman, tetapi juga alat legitimasi sosial. Likes, views, dan engagement menjadi indikator penerimaan sosial. Akibatnya, manusia sebagai makhluk sosial justru terjebak dalam paradoks: semakin sering berkomunikasi, tetapi semakin merasa tertekan dan kesepian. Fenomena ini menandakan adanya krisis makna dalam kehidupan bermasyarakat. Relasi sosial yang seharusnya memberi rasa aman, dukungan, dan kebersamaan berubah menjadi sumber tekanan psikologis. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk kembali merefleksikan hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Media digital seharusnya digunakan untuk memperkuat relasi sosial, bukan menggantikannya. Pada akhirnya, manusia tidak hidup dari seberapa sering ia terlihat di layar, melainkan dari seberapa bermakna hubungan sosial yang ia bangun dalam kehidupan nyata. (*) Editor: Fendy Hermansyah Sumber: Jawa Pos Radar Mojokerto Tags

Peran Keluarga dan Lembaga Sosial Penting dalam Membentuk Perilaku Sosial Anak

maduraindepth.com — Keluarga dan berbagai lembaga sosial memiliki peran strategis dalam membentuk perilaku sosial anak sejak usia dini. Lingkungan terdekat anak menjadi fondasi utama dalam menanamkan nilai, norma, serta sikap sosial yang akan terbawa hingga dewasa. Keluarga merupakan tempat pertama anak belajar bersosialisasi. Di lingkungan inilah anak mulai mengenal cara berbicara, bersikap, serta berinteraksi dengan orang lain. Pola asuh orang tua, komunikasi di dalam rumah, hingga cara menyelesaikan masalah menjadi contoh nyata yang membentuk karakter sosial anak. “Keluarga menjadi tempat awal anak belajar nilai, norma, dan perilaku sosial dalam kehidupan sehari-hari,” tulis Ayra Selvia Rahmadini dalam artikelnya. Kebiasaan sederhana seperti makan bersama, berdiskusi, serta penerapan aturan di rumah membantu anak memahami tanggung jawab, sopan santun, dan sikap saling menghargai. Selain keluarga, sekolah berperan sebagai ruang sosial yang lebih luas bagi anak. Di sekolah, anak berinteraksi dengan teman sebaya dari latar belakang yang beragam, sekaligus belajar bekerja sama, disiplin, dan menghormati perbedaan. “Sekolah tidak hanya mengajarkan pelajaran akademik, tetapi juga melatih anak untuk bersosialisasi dan berperilaku disiplin,” lanjutnya. Peraturan sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, serta keteladanan guru menjadi faktor penting dalam membentuk perilaku sosial positif anak. Peran lembaga keagamaan juga tidak kalah penting. Melalui kegiatan ibadah dan aktivitas sosial, anak diperkenalkan pada nilai moral, etika, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai keagamaan menjadi pedoman bagi anak dalam mengendalikan diri dan bersikap di tengah masyarakat. Baca juga:  Masjid Jamik Satu-satunya Cagar Budaya di Sumenep yang Diakui Kemendikbud “Nilai keagamaan membantu anak memiliki kontrol diri dan pedoman dalam bersikap di lingkungan sosial,” tulis Ayra. Di sisi lain, perkembangan teknologi dan media sosial menghadirkan tantangan baru. Media sosial dapat memberikan manfaat positif, seperti menambah pengetahuan dan kreativitas anak. Namun, tanpa pengawasan yang tepat, media sosial juga berpotensi memengaruhi perilaku anak secara negatif. “Media sosial dapat menjadi sarana belajar, tetapi juga bisa memengaruhi perilaku anak jika digunakan tanpa pengawasan,” jelasnya. Karena itu, peran orang tua dalam membimbing dan mengawasi penggunaan teknologi menjadi sangat penting agar anak mampu menggunakan media digital secara bijak. Untuk membentuk perilaku sosial anak yang baik, dibutuhkan kerja sama antara keluarga, sekolah, lembaga keagamaan, dan lingkungan masyarakat. Keselarasan nilai yang diajarkan akan membantu anak tumbuh tanpa kebingungan dalam bersikap. “Kerja sama antara keluarga dan lembaga sosial membantu anak tumbuh dengan perilaku sosial yang positif,” tutup Ayra. Dengan kolaborasi yang baik antarberbagai pihak, anak diharapkan dapat berkembang menjadi pribadi yang memiliki perilaku sosial positif serta mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. (*/Aj)

UMM Jadi Kampus Paling Berkelanjutan di Malang Raya dan PTMA Nasional

Malang, JATIMSATUNEWS.COM – Isu air dan energi kerap dibahas di forum global, namun di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), keberlanjutan dijalankan sebagai praktik harian. Mulai dari danau konservasi air hingga transportasi listrik kampus, prinsip ramah lingkungan diterapkan secara sistematis. Pendekatan inilah yang mengantarkan UMM kembali menguatkan posisinya dalam pemeringkatan UI GreenMetric 2025. Pada pemeringkatan tahun ini, UMM menempati peringkat 19 nasional, naik satu tingkat dibanding 2024, serta berada di posisi 102 dunia. Capaian tersebut menegaskan konsistensi UMM dalam membangun kampus berkelanjutan melalui proses panjang dan terukur sejak pertama kali mengikuti UI GreenMetric. Di tingkat regional, UMM menjadi kampus paling berkelanjutan di Malang Raya, sekaligus mengukuhkan diri sebagai perguruan tinggi paling berkelanjutan di lingkungan PTMA secara nasional. Wakil Rektor IV UMM, M. Salis Yuniardi, menyampaikan rasa syukur dan bangganya atas capaian tersebut. Menurutnya, prestasi ini menjadi energi tambahan untuk terus menjadikan UMM bukan hanya kampus hijau dan asri, tetapi juga elemen bangsa yang aktif menjaga kelestarian bumi. “Harapannya, ini menumbuhkan kepedulian menjaga keberlangsungan bumi, mulai dari hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya hingga menanam pohon secara berkelanjutan,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Tim GreenMetric UMM, Sandi Wahyudiono, menegaskan bahwa capaian ini bukan hasil kerja instan atau sekadar mengejar peringkat. UI GreenMetric menilai enam indikator utama—Setting & Infrastructure, Energy & Climate Change, Waste, Water, Transportation, serta Education & Research—yang seluruhnya dibangun UMM secara terintegrasi dan berkelanjutan. “Nilai kami menonjol pada aspek Water berkat danau konservasi kampus, serta Education and Research yang terus diperkuat secara sistemik,” jelasnya. Keunggulan UMM tidak berhenti pada infrastruktur. Integrasi nilai akademik, praktik langsung, dan budaya keberlanjutan menjadi fondasi utama. Kampanye Go Green dan Go Healthy, mata kuliah wajib Wawasan Berkelanjutan, hingga penggunaan transportasi kampus ramah lingkungan dijalankan secara konsisten. Seluruh sivitas akademika dilibatkan aktif melalui riset, kegiatan ekstrakurikuler, serta kampanye sadar lingkungan yang berkelanjutan. UMM juga mengembangkan berbagai program unggulan seperti mobil listrik kampus, sistem transportasi internal ramah lingkungan, pengelolaan limbah terpadu menuju zero waste, pemanfaatan energi terbarukan melalui PLTS dan PLTMH, serta integrasi isu keberlanjutan ke dalam kurikulum. Program-program ini berdampak langsung pada indikator penilaian UI GreenMetric dan manfaat nyata bagi lingkungan kampus. Capaian tersebut selaras dengan visi UMM sebagai kampus unggul berwawasan lingkungan. Ke depan, UMM menargetkan 15 besar nasional dengan memperkuat inovasi, kualitas data, dan dampak program. “Keberlanjutan harus menjadi budaya kampus, bukan sekadar tuntutan penilaian. Di situlah kekuatan UMM yang sesungguhnya,” pungkas Sandi. (raf)