Santri PPI AMF Kembangkan Teh Herbal dari Daun Putri Malu, Ini Khasiatnya

Tagar.co – Sejumlah santri kelas 7 SMP Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) Kabupaten Malang menciptakan teh herbal berbahan dasar daun putri malu yang diklaim membantu mencegah insomnia alias sulit tidur. Inovasi ini lahir dari praktikum mata pelajaran IPA yang mendorong siswa menghasilkan produk kreatif. Aqeela Ahmad Darun, salah satu santri pencetus ide, menjelaskan, “Guru IPA kami mendorong kami untuk menghasilkan produk kreatif, sehingga lahirlah teh herbal berbahan putri malu ini. Efeknya sangat terasa, kualitas tidur kami lebih baik. Kami bangun tetap segar dan tidak mengantuk di kelas.” Tanaman putri malu (Mimosa pudica) dikenal karena daunnya yang menutup saat disentuh. Selain sifatnya yang unik, tanaman ini mengandung flavonoid, alkaloid, dan tanin yang dipercaya menenangkan, sehingga sering digunakan dalam ramuan herbal untuk membantu mengatasi gangguan tidur. Pemilihan tanaman ini juga praktis karena mudah ditemukan dan sering diabaikan. Para santri mengombinasikan daun putri malu dengan madu, jahe, kayu manis, dan air, kemudian merebusnya dua hingga tiga jam agar sari teh maksimal. Dari sisi tampilan, teh ini serupa dengan teh pada umumnya, berwarna cokelat, dengan rasa cukup manis sehingga mudah diterima anak-anak dan remaja. Uji coba oleh teman-teman sekelas Ahmad menunjukkan respons positif. “Ada satu teman yang sering mengantuk di kelas. Setelah minum teh ini, dia jadi lebih segar,” imbuh Ahmad, dikutip dari siaran pers, Selasa (9/12/25). Proses pembuatan teh herbal ini dibimbing langsung oleh Zumrotin Firdaus, guru IPA sekaligus Wakil Kepala SMP–SMA AMF Bidang Kurikulum. “Kami ingin anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi yang bermanfaat,” ujarnya. Ia mendampingi para santri mulai dari pencarian tanaman, pemilihan daun, pencucian, hingga pembuatan ekstrak herbal sesuai prosedur praktikum. Ke depan, Firdaus dan para santri berencana memproduksi teh herbal ini secara massal dengan kemasan menarik, sebagai alternatif bagi masyarakat yang mengalami insomnia agar memperoleh tidur lebih berkualitas. (#)

Magang di PBH PERADI Malang, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang Praktik ke Akses Keadilan

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Dalam upaya memperluas akses keadilan bagi masyarakat kurang mampu, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) semester 7 melaksanakan program magang mandiri di Pusat Bantuan Hukum (PBH) PERADI Malang langsung pendampingan hukum, penyusunan dokumen perkara, serta pengamatan berbagai proses persidangan. Salah satu kelompok mahasiswa FH UMM yang melaksanakan magang tersebut atas nama Verdina Putri Masruri (Koordinator Kelompok) serta tiga anggota Dian Novita Sari, Anggi Anggraini Herawati, dan Nazan Muhammad Akbar. Mereka dibimbing Dosen Pembimbing Mahasiswa (DPM) Dwi Ratna Indri Hapsari, SH, MH, serta Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Raden Destayoma Anugrah Putra Armada, SH. Program magang tersebut dikembangkan Laboratorium Hukum Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang. Menurut Koordinator kelompok magang, Verdina Putri Masruri program magang dilaksanakan satu semester. Tujuannya  membuka pemahaman mendalam mengenai mekanisme penegakan hukum sekaligus peran advokat dalam memberikan bantuan hukum gratis kepada warga yang tidak mampu. Selama magang kata Verdina mahasiswa arahan dari Dosen Pembimbing Lapangan tentang alur persidangan pidana dan perdata. Pada perkara perdata, proses pembuktian mengacu pada Pasal 164 HIR yang meliputi alat bukti surat, persangkaan, sumpah, keterangan saksi, dan pengakuan. Sementara untuk perkara pidana, mahasiswa mempelajari tahapan mulai dari dakwaan, eksepsi, tanggapan eksepsi, putusan sela, pembuktian, tuntutan, pembelaan, hingga putusan. Dijelaskan Verdina, dosen pembimbing lapangan menekankan prinsip equality before the law, bahwa setiap orang diperlakukan sama di hadapan hukum tanpa memandang status sosial maupun ekonomi. Pengamatan Persidangan dan Proses Mediasi Dalam praktiknya, mahasiswa turut mengikuti proses mediasi sesuai Peraturan Mahkamah Agung No 1 Tahun 2016. Pada salah satu perkara perdata yang dimediasi, mahasiswa melihat secara langsung bagaimana mediator bersikap netral dan memberikan ruang seimbang kepada para pihak untuk menyampaikan pendapat. Selain itu, mahasiswa ikut mengamati agenda pembuktian dalam perkara tindak pidana narkotika di Pengadilan Negeri Kota Malang. JPU menghadirkan saksi-saksi untuk menguatkan dakwaan, disusul pemeriksaan terdakwa guna menilai peran serta keterlibatannya dalam penyalahgunaan narkotika. Proses ini mengacu pada ketentuan KUHAP serta UU No 35/2009 tentang Narkotika. Di persidangan lainnya, mahasiswa juga mengikuti pembacaan tuntutan dalam perkara peredaran sabu dimana terdakwa dituntut 12 tahun penjara berdasarkan Pasal 114 ayat (2) jo. Pasal 132 ayat (1) UU Narkotika. Tahapan selanjutnya berupa penyampaian pleidoi oleh penasihat hukum. Keterlibatan dalam Penyusunan Dokumen Hukum Mahasiswa FH UMM ikut menyusun berbagai dokumen litigasi dan non-litigasi—mulai dari surat kuasa, jawaban pra-peradilan, resume perkara, hingga somasi. Dalam perkara pra-peradilan terkait dugaan penipuan Pasal 378 KUHP, mahasiswa membantu menyusun surat kuasa yang memberikan kewenangan kepada tim pembela untuk mendampingi klien dalam proses hukum di Pengadilan Negeri Kepanjen. Mereka juga berperan menyusun jawaban termohon sebagai tanggapan atas permohonan pra-peradilan, berbasis fakta hukum dan prinsip due process of law. Pada bidang non-litigasi, mahasiswa mempelajari mekanisme somasi yang menjadi instrumen peneguran dalam sengketa perdata. Di PBH PERADI, somasi disusun dengan format baku mulai dari kop surat, uraian peristiwa hukum, jangka waktu, hingga ancaman upaya hukum apabila debitur tidak menanggapi. Mahasiswa juga mempelajari perbedaan somasi, undangan klarifikasi, serta pihak yang berwenang mengeluarkannya. Pendampingan Klien Kurang Mampu Sebagai lembaga bantuan hukum, PBH PERADI Malang memberikan layanan gratis bagi masyarakat kurang mampu dengan syarat membawa KTP, permohonan tertulis, dan bukti ketidakmampuan seperti JKN-KIS atau SKTM. Selama magang, mahasiswa menerima dan mewawancarai sejumlah klien. Mahasiswa dilibatkan untuk menganalisis dokumen kepemilikan, menelusuri status tanah, serta mengidentifikasi adanya potensi pelanggaran hukum dalam proses sertifikasi. Pendampingan dilakukan dari aspek pidana maupun perdata guna memastikan hak klien terlindungi. Bedah Kasus dan Pemeriksaan Setempat Mahasiswa juga mengikuti kegiatan bedah kasus di PBH PERADI tentang gugatan pembatalan penetapan ahli waris yang melibatkan pasangan saudara kandung. Analisis dilakukan terhadap keabsahan hubungan pernikahan, dokumen penetapan ahli waris, serta implikasinya terhadap struktur kewarisan. Tim kemudian memetakan strategi litigasi dan dasar hukum untuk mengajukan gugatan pembatalan penetapan. Selain itu, mahasiswa turut hadir dalam Pemeriksaan Setempat (PS) pada perkara sengketa tanah yang lain. PS diperlukan untuk memastikan batas tanah secara faktual sebagai bagian dari pembuktian perdata. Panitera mencatat seluruh temuan lapangan untuk dituangkan dalam berita acara resmi. Pemahaman Kode Etik Advokat Selama magang, mahasiswa juga mendapatkan materi mengenai Kode Etik Advokat yang menjadi pedoman moral dan profesional seorang advokat. Pembahasan mencakup pengaturan honorarium, larangan success fee tertentu, kewajiban menjaga integritas, hingga sanksi atas pelanggaran kode etik yang diatur dalam UU  No 18/2003 dan Kode Etik Advokat Indonesia. Peran Mahasiswa dalam Sistem Bantuan Hukum Magang di PBH PERADI Malang memberikan pengalaman menyeluruh kepada mahasiswa tentang mekanisme kerja organisasi bantuan hukum, mulai dari penerimaan klien, administrasi perkara, penunjukan advokat berdasarkan domisili, hingga tahapan pendampingan di kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan. Selain itu Mahasiswa juga mempelajari bahwa setiap perkara dilaporkan dan dipertanggungjawabkan oleh koordinator perkara hingga selesai. Praktik lapangan di PBH PERADI Malang tidak hanya memperkenalkan mahasiswa pada dunia advokasi, tetapi juga memperkuat pemahaman bahwa hukum harus berpihak pada mereka yang paling membutuhkan. Keterlibatan mahasiswa dalam proses persidangan, penyusunan dokumen hukum, serta pendampingan klien kurang mampu menjadi bagian dari komitmen PBH dalam memperluas akses keadilan di Kota Malang. (mahasiswa magang fh umm)

Perjuangan Tim Relawan Universitas Brawijaya dan Universitas Muhammadiyah Malang Bantu Warga yang Terisolasi Pascabanjir di Malalak, Kabupaten Agam

Harus Berjalan Dua Kilometer karena Akses Terputus SUARA sekop menyentuh batu bercampur lumpur menjadi bunyi yang paling sering terdengar di Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat dalam sepekan terakhir. Warga berusaha menyingkirkan sisa banjir bandang. Sementara sebagian lain menatap kosong rumah mereka yang kini miring dan kehilangan bentuk aslinya. Malalak adalah satu dari tiga kecamatan terdampak banjir bandang. Dua wilayah lainnya adalah Maninjau dan Palembayan. Meski sudah lewat lebih dari sepekan, masih ada beberapa dusun yang terisolasi. Jalan terputus, jembatan rubuh, dan akses komunikasi yang putus membuat penyaluran logistik serta penanganan kesehatan berjalan tersendat. Dalam situasi krisis itu, tim dari Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turun tangan membantu warga. Ada tiga misi utama yang mereka bawa. Penanganan kesehatan, dukungan psikososial, dan penyediaan air bersih melalui alat filtrasi mandiri. radarmalang, Tim pertama dipimpin dr Aurick Yuda Nugraha SpEM. Mereka berangkat lebih awal untuk melakukan asesmen dan membangun koordinasi dengan tenaga kesehatan setempat. Aurick dan dua rekannya tiba di Kabupaten Agam pada Sabtu (6/12). Setibanya di lokasi, mereka langsung bergerak menuju Kecamatan Lubuk Lesung, titik pertemuan terakhir sebelum memasuki tiga wilayah yang paling terdampak. Selepas Lubuk Lesung, sinyal telepon mulai menghilang. Di daerah yang lebih dalam, relawan harus mengandalkan komunikasi radio atau menumpang sinyal Starlink yang dibawa tim lain. Keesokan harinya, Minggu (7/12), Aurick dan kelompok kecilnya mulai meninjau sejumlah dusun di Kecamatan Malalak. Salah satunya adalah Nagari Malalak, yang aksesnya terputus total. Jembatan utama yang biasa digunakan warga runtuh tersapu banjir. Sebagai pengganti, warga membangun jembatan kayu darurat yang hanya bisa dilalui pejalan kaki dan sepeda motor. Untuk sampai ke dusun itu, relawan harus berjalan kaki hampir dua kilometer melewati jalan tanah yang sebagian telah tergerus. Di tepi jalur itu tebing-tebing terlihat basah. Aurick dan tim beberapa kali berhenti, memastikan tanah tidak bergerak. ”Saya lihat dari tebing itu tanahnya mengeluarkan air. Sewaktu-waktu bisa longsor,” ujar Aurick. Karena itu, kegiatan lapangan dibatasi hanya hingga pukul 13.00. Hujan nyaris selalu turun pada siang hari dan risiko longsor meningkat drastis. Meski begitu, tim tetap melanjutkan misi mereka. Warga setempat yang memahami medan bertindak sebagai penunjuk jalan dan penjamin keselamatan. Aurick menyebut mereka sangat bergantung pada arahan warga. Begitu warga meminta berhenti atau menghindari jalur tertentu, relawan langsung mengikuti instruksinya. ”Kalau nanti disuruh lari, ya kami lari saja. Sejauh ini aman. Pernah kaki menginjak seng, untung pakai sepatu boots,” tuturnya. Kondisi di Malalak disebutnya masih lebih baik dibanding Maninjau. Untuk masuk ke Kecamatan Maninjau, akses darat tertutup sepenuhnya. Bahkan truk logistik sekalipun tidak bisa masuk. Maka satu-satunya jalan adalah menumpang perahu dan melintasi Danau Maninjau.

Dosen Psikologi UMM Beberkan “Akar Tekanan” yang Picu Keputusan Ekstrem Mahasiswa

Malang, JATIMSATUNEWS.COM — Insiden memilukan yang menimpa seorang mahasiswa di Malang kembali menggugah dunia kampus untuk lebih serius membangun lingkungan akademik yang ramah kesehatan mental. Peristiwa tersebut menjadi alarm keras bagi perguruan tinggi, termasuk Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), untuk memastikan mahasiswa memiliki ruang aman dalam mencari dukungan psikologis. Dosen Fakultas Psikologi UMM, Uun Zulfiana, M.Psi., menjelaskan bahwa keputusan ekstrem, termasuk mengakhiri hidup, umumnya tidak muncul secara tiba-tiba. Ada tekanan berlapis yang menumpuk, terutama ketika mahasiswa berhadapan dengan beban akademik berat seperti pengerjaan skripsi. Ia menyebut ada tiga faktor yang saling berkelindan dan berpotensi mendorong tindakan impulsif: biologis, psikologis, dan sosial. Pada faktor biologis, kondisi seperti genetika serta ketidakseimbangan neurotransmitter dapat memengaruhi stabilitas emosi seseorang. Dari sisi psikologis, mahasiswa dengan kepribadian tertutup, riwayat trauma, atau sedang bergulat dengan masalah mental lebih rentan mengambil keputusan yang tidak biasa. “Orang-orang dengan kepribadian tertutup, problem mental, atau pengalaman traumatis sangat mungkin mengambil keputusan yang tidak biasa,” tegas Uun. Sementara itu, tekanan sosial berupa isolasi, minim dukungan, hingga paparan isu negatif di media sosial turut memperparah kondisi. Merespons anggapan bahwa dosen pembimbing kerap menjadi pihak yang disalahkan, Uun menegaskan bahwa perilaku manusia tidak pernah dipengaruhi satu faktor saja. Menurutnya, dosen pembimbing memang idealnya menjadi support system yang aman bagi mahasiswa, namun dukungan tidak bisa dibebankan pada satu pihak. Keluarga, teman, dan kekuatan mental diri sendiri turut memegang peran penting dalam menjaga kesehatan psikologis. Uun mendorong mahasiswa untuk mengelola stres secara lebih sehat. Ia menyarankan penggunaan Problem Focused Coping, yakni strategi menghadapi stres dengan menyelesaikan sumber masalahnya. Hal ini dapat dilakukan melalui penyusunan skala prioritas, manajemen diri yang teratur, hingga membuat pembagian waktu yang jelas antara belajar, bekerja, dan waktu pribadi. Sementara bagi mahasiswa yang lebih condong mengekspresikan stres melalui emosi, Emotional Focused Coping seperti bercerita kepada orang tepercaya, melakukan aktivitas menyenangkan, serta memperluas jaringan sosial dapat menjadi langkah efektif. Ia juga menekankan pentingnya bantuan profesional, seperti psikolog atau psikiater, terutama jika muncul tanda-tanda seperti kesedihan berkepanjangan, kecemasan berlebih, perubahan mood ekstrem, atau menurunnya kemampuan menjalankan aktivitas sosial. Sebagai langkah pencegahan, Uun mengingatkan mahasiswa untuk menghindari coping maladaptif seperti merokok, makan berlebihan, atau terus-menerus mengonsumsi berita negatif. Menurutnya, menjaga pola makan dan tidur, memperkuat jejaring sosial, serta menata prioritas hidup merupakan

Prestasi Gemilang di KKI dan Abdidya Ormawa 2025, Mahasiswa UMM Perkuat Identitas Kampus Berdampak

radarmalang, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mendapatkan kepercayaan nasional dengan menjadi tuan rumah dua agenda besar sekaligus pada 4–6 Desember 2025 lalu, yakni Abdidaya Ormawa 2025 dan Kontes Kapal Indonesia (KKI) 2025. Kedua kegiatan yang diinisiasi Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendiktisantek RI) tersebut menghadirkan ribuan peserta dari seluruh Indonesia. Kampus putih kembali menegaskan posisinya sebagai Kampus Berdampak melalui torehan prestasi gemilang yang menjadi bukti nyata kontribusi dan kualitasnya. Sebagai tuan rumah berbagai ajang bergengsi, UMM berhasil meraih Juara 3 kategori Prototipe Fuel Engine Remote Control (FERC) serta penghargaan Best Poster pada Kontes Kapal Indonesia, disusul kemenangan di kategori khusus Terfavorit dan Best Speed yang semakin mengukuhkan kapasitas inovatif mahasiswa. Tidak berhenti di bidang teknologi, UMM juga menunjukkan keunggulan dalam pengembangan organisasi kemahasiswaan melalui capaian di Abdidaya Ormawa 2025, seperti predikat Perguruan Tinggi dengan Dukungan Paling Komprehensif Terbaik III dan penghargaan Ormawa dengan Dukungan Riil Terlengkap Terbaik II untuk UKM Forum Diskusi Ilmiah (FDI) UMM. Ditambah dengan raihan sebagai Tim dengan Realisasi Kemitraan Terbaik IV, Poster Paling Lengkap Terbaik III, serta Stand Expo Terfavorit, deretan prestasi ini mempertegas bahwa UMM tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berdampak luas dalam inovasi, pemberdayaan, dan penguatan ekosistem kemahasiswaan. Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Republik Indonesia (Mendiktisaintek), Prof. Dr. Brian Yuliarto, M.Eng., Ph.D., memberikan apresiasi tinggi kepada UMM atas konsistensinya membangun ekosistem inovasi mahasiswa. Ia menegaskan bahwa penyelenggaraan terpadu KKI dan Abdidaya merupakan momentum penting untuk memperkuat budaya riset, rekayasa teknologi, dan pengabdian masyarakat. “Bagi negara, kedua ajang ini bukan sekadar perlombaan tahunan, melainkan investasi strategis untuk mencetak generasi muda yang berani menghadapi ketidakpastian, piawai menciptakan solusi berbasis sains, serta memiliki kepedulian sosial yang kuat”. Tegasnya Penyelenggaraan tahun ini sebagai momen bersejarah karena untuk pertama kalinya KKI dan Abdidaya digelar secara terpadu. Tercatat 93 perguruan tinggi berpartisipasi dengan 131 tim KKI dan 119 tim Abdidaya. Itu membuktikan adanya peningkatan signifikan yang menunjukkan tingginya antusiasme mahasiswa terhadap inovasi maritim dan pemberdayaan masyarakat. KKI dan Abdidaya Ormawa 2025 di kampus putih ini berlangsung meriah dengan perpaduan kompetisi, hiburan, dan rekreasi. Panggung Kreasi Seni menghadirkan musik, tari, dan karaoke yang mencairkan suasana, sementara stand UMKM menambah kenyamanan dengan sajian kuliner beragam. Keseruan semakin lengkap dengan venue di Taman Rekreasi Sengkaling yang memungkinkan peserta menikmati wahana seperti bebek air di sela kegiatan. Seluruh rangkaian ini menciptakan atmosfer hangat, kreatif, dan menyenangkan bagi para peserta, sebagaimana disampaikan Indah salah satu peserta, “Bisa lomba sambil rekreasi itu pengalaman yang jarang dan bikin makin semangat.” Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa kolaborasi merupakan kunci lahirnya karya akademik dan pengabdian masyarakat yang mampu mempercepat terwujudnya Indonesia Maju 2045.

Workshop Know Yourself, Know Your Future Bersama UMM Bekali Siswa SMA Muhammadiyah 3 Batu Rencanakan Karir Masa Depan

pwmu.co – SMA Muhammadiyah 3 Batu menggelar workshop bertajuk Know Yourself, Know Your Future bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Senin, (8/12/2025). Kegiatan ini dilaksanakan di Mushala SMA Muhammadiyah 3 Batu mulai pukul 07.30 hingga 10.30 WIB dan diikuti oleh siswa kelas X, XI, dan XII. Workshop ini merupakan rangkaian lanjutan dari kegiatan asesmen yang telah dilaksanakan pada 27 Oktober 2025. Pada kegiatan tersebut, siswa memperoleh materi edukasi mengenai pengenalan dan eksplorasi diri, orientasi studi lanjutan, serta perencanaan karier masa depan. Materi disampaikan oleh mahasiswa Program Studi Psikologi UMM yang berperan sebagai fasilitator kegiatan. Salah satu fokus utama dalam workshop ini adalah pengenalan konsep Ikigai. Ikigai merupakan metode refleksi diri yang membantu individu menemukan tujuan hidup melalui pertemuan antara hal-hal yang disukai, kemampuan yang dimiliki, kebutuhan lingkungan sekitar, serta peluang profesi yang dapat dijalani di masa depan. Konsep ini diperkenalkan kepada siswa sebagai pendekatan untuk memahami diri secara lebih mendalam dan terarah. Setelah pemaparan materi, siswa diminta melakukan refleksi diri menggunakan metode Ikigai untuk menggali potensi, minat, bakat, dan cita-cita pribadi. Antusiasme Siswa Dalam sesi refleksi tersebut, beberapa siswa diberi kesempatan maju ke depan untuk menyampaikan hasil pemikirannya. Kegiatan berlangsung secara interaktif dan kondusif, dengan antusiasme siswa yang tinggi sejak awal hingga akhir kegiatan. Salah satu peserta, Nabil Giovani, siswa kelas XII, mengaku sangat senang mengikuti kegiatan tersebut. “Selama ini saya memang berminat di bidang wirausaha, dan melalui kegiatan ini saya jadi lebih mengenal diri sendiri. Sekarang saya semakin yakin dan termotivasi untuk menjadi pengusaha sukses di masa depan,” ujarnya. Kepala SMA Muhammadiyah 3 Batu, Aris Sahruli, S.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat penting bagi peserta didik. “Pengenalan diri menjadi fondasi utama bagi siswa dalam menentukan pilihan studi dan karier. Melalui kegiatan seperti ini, siswa diharapkan lebih bersemangat belajar, memiliki tujuan yang jelas, serta mampu merencanakan masa depan sesuai potensi yang dimiliki,” tuturnya. (*)

Tekanan Akademik Berujung Tragedi: Dosen UMM Ungkap Faktor Pemicu Keputusan Ekstrem

MALANG (SurabayaPost.id) – Peristiwa memilikan yang menimpa seorang mahasiswa di Malang beberapa waktu lalu kembali menyadarkan kita akan pentingnya kesehatan mental di dunia akademik. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Uun Zulfiana, M.Psi., menjelaskan bahwa keputusan ekstrem seperti mengakhiri hidup kerap dipicu oleh tekanan berlapis, termasuk penyusunan skripsi. Menurut Uun, ada tiga faktor utama yang memengaruhi keputusan ekstrem tersebut, yaitu faktor biologis, psikologis, dan sosial. Faktor biologis meliputi genetika dan ketidakseimbangan neurotransmitter. Dari sisi psikologis, individu dengan kepribadian tertutup, memiliki masalah mental, atau pengalaman traumatis lebih rentan bertindak impulsif. “Orang-orang dengan kepribadian tertutup, problem mental, atau pengalaman traumatis sangat mungkin mengambil keputusan yang tidak biasa,” tegas Uun, Selasa (9/12/2025). Faktor sosial seperti isolasi, kesepian, minim dukungan sosial, serta paparan isu negatif di media sosial turut memperbesar risiko. Uun menekankan bahwa tindakan ekstrem bukanlah solusi bagi persoalan akademik apa pun dan mendorong mahasiswa untuk menerapkan strategi pengelolaan stres. “Bagaimana kita menentukan prioritas dan memisahkan waktu bekerja, belajar, serta waktu pribadi,” jelasnya. Uun menyarankan mahasiswa untuk menerapkan Problem Focused Coping, yaitu strategi yang berfokus pada penyelesaian masalah, serta Emotional Focused Coping, yaitu strategi yang berfokus pada pengelolaan emosi. Ia juga menekankan pentingnya bantuan profesional jika muncul gejala seperti kesedihan berkepanjangan, kecemasan yang sulit dikendalikan, atau perubahan mood ekstrem. Sebagai langkah pencegahan, Uun mengingatkan mahasiswa untuk menghindari coping maladaptif seperti merokok atau makan berlebihan, membatasi konsumsi berita negatif, memperkuat jejaring sosial, mengatur prioritas, serta menjaga pola makan dan tidur yang sehat. (lil).

LSO Psychology Club UMM Peringati Hari Disabilitas Internasional di MCC, Ajak Publik Rayakan Dunia yang Inklusif

Malang | JATIMSATUNEWS.COM – LSO Psychology Club Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar peringatan Hari Disabilitas Internasional pada Minggu (7/12/2025) di Malang Creative Center (MCC). Kegiatan yang bekerja sama dengan Wisma Disabilitas Nusantara ini menjadi bentuk komitmen berkelanjutan organisasi dalam memperkuat budaya inklusif dan meningkatkan kepedulian terhadap hak penyandang disabilitas. Acara dihadiri 30 anak dari komunitas teman disabilitas serta 40 mahasiswa Fakultas Psikologi UMM. Interaksi yang terjalin sepanjang kegiatan menciptakan suasana hangat dan inklusif. Direktur LSO Psychology Club UMM dalam sambutannya menegaskan pentingnya kesetaraan. “Semoga acara ini menjadi wadah kita untuk saling memahami satu sama lain bahwa kita itu setara,” ujarnya. Tahun ini, kegiatan mengusung jargon “Create a Beautiful World for Everyone”. Rangkaian acara mencakup sharing session, mewarnai kipas bersama, hingga penampilan bakat oleh teman-teman disabilitas seperti pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan persembahan lagu. Setiap penampilan disambut antusias oleh para peserta dan menjadi momen apresiasi yang memperlihatkan keberagaman kemampuan yang dimiliki masing-masing individu. Steering Committee kegiatan, Diana Nur Holida, juga menekankan pentingnya ruang aman dan suportif bagi penyandang disabilitas. “Kami ingin menunjukkan bahwa kegiatan sederhana pun bisa menjadi jembatan untuk membangun empati. Inklusivitas bukan hanya konsep, tetapi perilaku sehari-hari yang harus kita biasakan,” ungkapnya. Ia berharap kegiatan ini dapat menginspirasi mahasiswa UMM untuk lebih terlibat dalam gerakan keberpihakan bagi kelompok rentan. Acara ditutup dengan penyerahan cinderamata berupa kanvas berisi pesan motivasi dari berbagai pihak sebagai simbol dukungan kepada teman-teman disabilitas. Kegiatan terlaksana berkat dukungan sponsor dan media partner yang turut memperluas dampak acara. Melalui agenda tahunan ini, LSO Psychology Club UMM berharap gerakan menuju lingkungan yang ramah, setara, dan dapat diakses oleh semua dapat terus berkembang dan menginspirasi lebih banyak pihak.

Lewat Inovasi SolarSonic IoT Guard, UMM Berjaya di Abdidaya Ormawa 2025

MALANG, Suara Muhammadiyah – Di ajang Abdidaya Ormawa 2025, tim dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih predikat terbaik Nasional melalui inovasi “Integrasi Smart Farming 5.0 Berbasis SolarSonic IoT Guard untuk Efisiensi Pengendalian Hama Tikus dan Burung pada Padi di Desa Ampeldento.” Inovasi ini seolah membuka arah baru bagi pengembangan teknologi pertanian di Indonesia. Inovasi tersebut datang dari mahasiswa lintas jurusan yakni Agribisnis, Teknik  Elektro, dan Teknik Informatika. Ketua tim, Muhammad Hafizh Abdurrahman menjelaskan bahwa teknologi yang dikembangkan mampu mengusir hama melalui gelombang suara dan sensor pendeteksi termal. Menariknya alat tersebut menggabungkan panel surya, baterai, dan sistem IoT sehingga alat dapat bekerja 24 jam tanpa henti. Abdur menegaskan keunggulan lainnya. “Cara kerja alat ini dengan mengeluarkan frekuensi yang mengganggu pendengaran tikus, sehingga mereka pergi dari lahan. Kami juga menambahkan mikrofon khusus untuk mengusir burung. Alat kami juga bisa mendeteksi tikus menggunakan sensor termal dan image processing berbasis Raspberry pi 5. Kami memasukkan puluhan ribu data agar sensor mampu mengidentifikasi hama secara akurat. Ini pertama kali ada di Indonesia,” tuturnya. Pada proses penilaian, Abdur bersama dengan timnya menampilkan beragam elemen, mulai dari miniatur alat, booth kreatif, hingga permainan untuk audiens. Selain itu, dekorasi yang digunakan juga banyak menggunakan bahan bekas. Hal tersebut menjadi salah satu komitmen untuk mendukung semangat SDGs. Terakhir, ia berharap kedepan melalui inovasi yang timnya buat ini mampu untuk membantu petani secara keseluruhan dalam menghadapi hama. “Fokus kami saat ini adalah pengoptimalan alat untuk meningkatkan produktivitas petani, dan ke depan harpaan kami bahwa alat ini bisa diproduksi secara masal” harapnya. Sementara itu. Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BAK) UMM, Dr. Tatag Muttaqin, M.Sc., menyampaikan apresiasi besar atas capaian tersebut. . Ia juga menekankan bahwa UMM berkomitmen kuat mendukung potensi mahasiswa “Kami sangat bangga. Proses yang dilalui adik-adik ini sangat panjang dan penuh hambatan, tetapi mereka tidak menyerah hingga mencapai titik ini.” Ungkapnya. Ia melanjutkan bahwa UMM juga punya Program percepatan prestasi, salah satunya dengan melibatkan mahasiswanya untuk mengikuti ajang Abdidaya Ormawa 2025. Hal itu menjadi salah satu bukti bahwa UMM memberi ruang luas bagi mahasiswa untuk berkembang. Tatag sapaan akrabnya juga berpesan kepada seluruh mahasiswa agar tidak ragu mengikuti ajang prestasi. “Jangan malu-malu untuk menunjukkan minat dan bakat. Banyak sekali peluang apresiasi di UMM, dan setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama. Kemahasiswaan mendukung penuh setiap minat dan bakat yang dimiliki,” pesannya. (diko)

Ngalam Mbois: UB-UMM Kompak Kirim Relawan dan Logistik ke Sumatera

detikjatim, Malang – Universitas Brawijaya (UB) melalui Emergency and Disaster Team (EDT) memberangkatkan sebanyak 55 relawan di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Relawan yang berangkat merupakan gabungan dari Universitas Brawijaya dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kepala Tim Tanggap Bencana Sumatera dr. Aurick Yudha Nagara menyatakan, tim yang berangkat terdiri dari 16 dosen, 10 tenaga kependidikan, 2 mahasiswa spesialis, 14 mahasiswa. Selain personel, tim ini juga mengirimkan bantuan berupa obat-obatan, logistik, sembako, peralatan dapur umum, peralatan edukasi serta kebutuhan darurat pengungsi seperti tenda darurat dan peralatan pengolahan air bersih senilai lebih dari Rp 1,5 miliar. “Total dana ini merupakan gabungan dari program Kampus UB dan yayasan UB,” kata Aurick kepada wartawan, Senin (8/12/2025). Di Agam, kata Aurick, para relawan akan memberikan pelayanan darurat kesehatan kepada pengungsi, penyediaan air bersih menggunakan mesin penjernih karya UB, dan layanan psikososial. Keberangkatan tim dibagi dalam tiga tahap, yaitu tim AJU pada Sabtu (6/12/2025), tim logistik di hari Minggu (7/12/2025) dan tim relawan pada Senin (8/12/2025). Sementara itu, Rektor UB Prof. Widodo menyampaikan bahwa UB turut berduka atas musibah yang terjadi di Sumatera. Widodo juga menegaskan pentingnya kehadiran universitas dalam membantu masyarakat. Rektor menyebut bahwa tim kemanusiaan berangkat dalam tiga gelombang, mulai dari Tim Aju yang diberangkatkan pada 6 Desember untuk koordinasi awal di Kabupaten Agam, Sumatera Baratm Kemudian pengiriman bantuan obat-obatan, teknologi tepat guna, serta logistik pada 7 December, hingga keberangkatan dosen dan mahasiswa pada 8 Desember 2025. “Di tengah kegiatan Dies Natalis ke-63 ini, kita harus berempati dan mendoakan atas bencana yang terjadi agar semua berjalan dengan baik,” kata Prof Widodo terpisah. UB menyematkan program DIES UB PEDULI SUMATERA untuk mengumpulkan donasi dari civitas akademika dan masyarakat, mendoakan korban terdampak melalui moment of silence untuk berdoa bersama, dan secara simbolik memasangkan rompi kepada relawan yang akan bertugas di Agam.