Kesenjangan Kompetensi Hambat Pekerja Disabilitas Masuk Industri
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM — Psikolog dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), May Lia Elfina, yang dikenal aktif berkolaborasi dengan Lingkar Sosial Indonesia dalam pendampingan penyandang disabilitas, mengungkapkan masih adanya kesenjangan besar antara semangat individu berkebutuhan khusus (IBK) untuk bekerja dan terbatasnya akses pelatihan yang mereka butuhkan. Hal ini disampaikan dalam wawancara di Fakultas Psikologi UMM, Rabu (10/12/2025). Menurut May Lia, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa banyak penyandang disabilitas memiliki career self-efficacy yang baik, artinya mereka meyakini kemampuan diri dan prospek kariernya, namun keyakinan itu belum diimbangi dengan kesempatan pengembangan kompetensi yang memadai. “Mereka punya keinginan kuat untuk berkembang. Banyak klien saya yang selalu bertanya ingin ikut kegiatan atau pelatihan. Namun keterbatasan dana membuat mereka tidak bisa mengakses training yang dibutuhkan,” jelasnya. Ia menambahkan, sejumlah perusahaan sebenarnya membuka peluang kerja bagi penyandang disabilitas, namun kualifikasi kompetensi yang dibutuhkan sering kali tidak dapat dipenuhi karena minimnya pendidikan vokasional. “Perusahaan ingin merekrut, tetapi sourcenya tidak ada,” tegasnya. Selama bekerja bersama Lingkar Sosial Indonesia dan komunitas disabilitas lainnya, May Lia melihat perlunya penguatan ekosistem pemberdayaan, mulai dari akademisi, praktisi, pemerintah, pelaku industri, hingga organisasi penyandang disabilitas. Menurutnya, OPDs (Organization People with Disabilities) memiliki peran penting menjaga keberlanjutan pendampingan. Ia juga menilai bahwa pemerintah perlu hadir lebih kuat, tidak hanya dalam bentuk bantuan material, tetapi juga membuka akses terhadap program riset, pengabdian, dan ruang kolaborasi lintas sektor. “Kita tidak bisa bergerak mudah ketika pemerintah kurang proaktif. Akses dari pemerintah dapat menjadi katalisator untuk mempelajari dan memberdayakan IBK secara lebih luas,” ujarnya.
UMM Dorong Penguatan Peran Pekerja Sosial Medis di Rumah Sakit
MAKLUMAT – Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berusaha mendorong penguatan peran pekerja sosial medis dalam layanan kesehatan. Sejumlah praktisi yang meliputi dosen, mahasiswa, hingga mitra strategis turut melakukan praktik lapangan Penguatan ini terlihat dalam Kuliah Tamu Nasional bertema Transformasi Pelayanan Sosial: Inovasi, Kolaborasi, dan Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial di Aula BAU Kampus III UMM pada Rabu (10/12/2025). Kegiatan ini dihadiri 300 peserta, yang juga menyaksikan langsung bagaimana pentingnya kolaborasi lintas profesi di rumah sakit sebagai wajah baru pelayanan kesehatan modern. Tantangan Profesi di Era Instan Wakil Rektor I UMM membuka acara, disusul sambutan dari Ketua Program Studi dan Dekan FISIP. Dalam kesempatan itu, Ketua Prodi Kesejahteraan Sosial UMM, Hutri Agustino, Ph.D. Ia menegaskan bahwa layanan kesehatan masa kini menuntut pendekatan yang lebih adaptif dan inklusif. “Perubahan sosial yang cepat mengharuskan pelayanan kesehatan bergerak ke arah yang lebih holistik dan kolaboratif. Di sinilah pekerja sosial medis mengambil peran penting,” ujarnya. Ia menekankan bahwa profesi tersebut semakin dibutuhkan, terutama dalam sistem pelayanan rumah sakit yang melibatkan multi profesi. Direktur Utama RS dr. Radjiman Wediodiningrat, dr. Yuniar, Sp.KJ., MMRS mengisi sesi pertama. Melalui topik Based Practice Pelayanan Multi Profesi di Rumah Sakit, ia menegaskan bahwa pelayanan yang efektif tak lagi bisa berjalan secara sektoral. “Kolaborasi dokter, perawat, psikolog, dan pekerja sosial medis berdampak langsung pada kecepatan diagnosa, minimnya miskomunikasi, serta meningkatnya kepuasan pasien,” jelasnya. Ia mencontohkan bagaimana model layanan multidisiplin diterapkan dalam menangani pasien dengan kebutuhan kompleks. Para pekerja sosial medis berperan menjembatani aspek sosial pasien, membantu keluarga memahami kondisi, hingga merumuskan keberlanjutan layanan. “Inilah penguatan layanan kesehatan yang berorientasi pada pasien,” tegasnya. Sesi berikutnya menghadirkan akademisi UMM, Dr. Rinikso Kartono, M.Si., yang mengupas Peluang dan Tantangan Praktik Pekerja Sosial Medis di Indonesia. Menurutnya, kebutuhan tenaga profesional di bidang ini terus meningkat seiring keragaman masalah kesehatan masyarakat. Pentingnya Kolaborasi Lintas Profesi Namun, tantangannya tak sedikit, mulai dari regulasi yang belum sepenuhnya mendukung, keterbatasan SDM terlatih, hingga minimnya pemahaman lintas profesi tentang kontribusi pekerja sosial dalam tim medis. “Peran pekerja sosial medis itu kunci. Mereka menjembatani sisi medis dan sosial pasien, sesuatu yang tak bisa dikerjakan profesi lain. Karena itu, penguatan kompetensi, advokasi kebijakan, dan kolaborasi antarprofesi harus terus ditingkatkan,” ujarnya. Melalui forum ini, UMM menegaskan komitmennya untuk memperkuat pembangunan sosial dan mencetak lulusan yang kompeten, berkarakter, serta siap menghadapi tantangan global. Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM berharap pekerja sosial medis semakin diakui sebagai bagian penting dalam pelayanan kesehatan modern, sekaligus menjadi motor perubahan dalam sistem rumah sakit di Indonesia.
Tim Mekatronik UMM Sabet Sejumlah Gelar di Kontes Kapal Indonesia 2025
Malang | JATIMSATUNEWS.COM — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan taringnya di ajang teknologi maritim nasional. Tim Mekatronik kampus tersebut sukses memborong beberapa penghargaan pada Kontes Kapal Indonesia (KKI) 2025 yang berlangsung pada 4–6 Desember lalu. Dari kompetisi yang diikuti berbagai perguruan tinggi di Indonesia itu, Tim Mekatronik UMM membawa pulang Juara 3 Race FERC, Juara 1 Poster FERC, Best Speed FERC, serta predikat Tim Favorit. Capaian ini kian menegaskan kontribusi mahasiswa UMM dalam pengembangan inovasi perkapalan. Manager Tim Mekatronik UMM, Dewi Fatmawati, menyebut persiapan menuju kompetisi tahun ini terbilang berat. Seluruh tahapan—mulai perancangan mesin, riset sistem, hingga pembuatan bodi kapal—harus dilakukan dengan ketelitian tinggi lantaran kapal menggunakan bahan bakar bensin. “Presisi itu harga mati. Stabilitas dan kecepatan kapal sangat dipengaruhi detail kecil dari mesinnya. Kami memulai semuanya benar-benar dari nol, dari proposal sampai finishing video presentasi. Prosesnya sekitar enam bulan, dari Juni sampai Desember,” ujarnya. Fatma mengatakan timnya juga menghadapi berbagai kendala teknis, terutama terkait kestabilan kapal saat uji coba. Namun melalui evaluasi berulang dan dukungan dosen pembina, seluruh persoalan itu dapat diselesaikan hingga kapal siap turun ke arena. Ia menambahkan bahwa dukungan kampus turut menjadi faktor penting, baik dalam pendanaan, fasilitas, maupun pendampingan selama masa persiapan. Menutup keterangannya, Fatma berpesan agar generasi penerus Tim Mekatronik tetap menjaga keseimbangan antara kemampuan teknis dan kemampuan mengelola tim. “Jangan cuma mengejar nama besar tim. Kuasai teknis ‘how to build’, tapi juga kembangkan diri dan manajemen tim ‘how to grow’. Kalau mau berhasil, semuanya harus jalan bareng,” tegasnya. Prestasi ini memberikan sinyal bahwa persaingan inovasi teknologi di kalangan perguruan tinggi kian ketat, sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa di daerah memiliki kapasitas yang tak kalah dengan kampus besar di pusat. (raf)
Inovasi, Kolaborasi, dan Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial
MALANG, Suara Muhammadiyah – Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menghadirkan sesi ilmiah inspiratif dalam rangkaian kegiatan Kuliah Tamu Nasional bertema Transformasi Pelayanan Sosial: Inovasi, Kolaborasi dan Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial pada Rabu, 10 Desember 2025 di Aula BAU Kampus III UMM. Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat peran akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan dalam menjawab tantangan pelayanan sosial di era modern. Acara ini dihadiri oleh 300 orang peserta yang terdiri dari dosen, mahasiswa serta mitra Prodi Kesejahteraan Sosial UMM dalam berbagai program pengabdian dan praktik lapangan. Kegiatan dibuka langsung oleh Wakil Rektor I UMM dan di awali oleh sambutan dari Ketua Program Studi dan Dekan FISIP. Dalam sambutannya, Hutri Agustino., Ph.D selaku Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM menegaskan pentingnya inovasi sebagai motor penggerak perubahan dalam pelayanan sosial. Menurutnya bahwa perubahan sosial yang cepat menuntut kita untuk menghadirkan pendekatan pelayanan yang adaptif, inklusif, dan berbasis bukti. Forum ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi lintas sektor agar transformasi pelayanan sosial dapat berjalan secara lebih efektif, termasuk dalam layanan multi profesi di rumah sakit. Sehingga, profesi Pekerja Sosial Medis menjadi sebuah keniscayaan dalam praktik multi profesi tersebut. Karena dengan pendekatan holistik, kolaboratif dan integratif—diharapkan lembaga kesejahteraan sosial dapat memberikan layanan sosial terbaik. Melalui penyelenggaraan kegiatan ini, Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM berkomitmen untuk terus memperkuat kontribusinya dalam pembangunan sosial, sekaligus mencetak lulusan yang kompeten, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan global di bidang kesejahteraan sosial. Kegiatan kuliah tamu nasional ini menghadirkan sesi pemaparan dan diskusi yang berfokus pada perspektif strategis mengenai praktik pekerja sosial medis dan kolaborasi multi profesi di rumah sakit. Sesi pertama disampaikan oleh dr. Yuniar., Sp.KJ. MMRS selaku Direktur Utama RS dr. Radjiman Wediodiningrat, yang menyampaikan materi tentang “Based Practice Pelayanan Multi Profesi di Rumah Sakit.” Ia menjelaskan bagaimana model pelayanan multidisiplin telah diterapkan di RS dr. Radjiman Wediodiningrat untuk meningkatkan efektivitas penanganan pasien, terutama pasien dengan kebutuhan kompleks. Menurutnya bahwa kolaborasi antara dokter, perawat, pekerja sosial medis, psikolog, dan tenaga kesehatan lain sangat berpengaruh terhadap hasil pelayanan. Ia mencontohkan bagaimana koordinasi terstruktur dalam tim layanan dapat mempercepat proses diagnosa, meminimalkan kesalahan komunikasi, serta meningkatkan kepuasan pasien dan keluarga. Pelayanan kesehatan masa kini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi multi profesi menjadi kunci keberhasilan layanan yang berorientasi pada pasien. Sesi kedua disampaikan oleh Dr Rinikso Kartono, M.Si., akademisi dan pakar kesejahteraan sosial, yang mengulas tentang “Peluang dan Tantangan Praktik Pekerja Sosial Medis di Indonesia.” Dalam paparannya, Dr. Rinikso menekankan bahwa kebutuhan akan pekerja sosial medis semakin meningkat seiring kompleksitas permasalahan kesehatan masyarakat. Ia memaparkan bahwa pekerja sosial medis memiliki peran kunci dalam menjembatani aspek medis dan sosial pasien, terutama dalam manajemen kasus, pendampingan keluarga, hingga perencanaan keberlanjutan layanan. Namun, ia juga menyoroti sejumlah tantangan signifikan, mulai dari regulasi profesi yang belum sepenuhnya mengakomodasi peran pekerja sosial medis, keterbatasan jumlah SDM terlatih, hingga kurangnya pemahaman lintas profesi mengenai kontribusi pekerja sosial dalam sistem kesehatan. Sehingga dibutuhkan penguatan kompetensi, advokasi kebijakan, serta peningkatan kolaborasi antarprofesi agar pelayanan kesehatan lebih komprehensif.
Relawan UB-UMM Bantu Agam Pulihkan Diri dari Bencana
kabarpadang, Lubuk Basung – Pemerintah Kabupaten Agam menerima bantuan tenaga relawan dari Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bantuan ini untuk mempercepat penanganan bencana alam yang melanda wilayah tersebut. Kedatangan tim relawan disambut di Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Alam Kabupaten Agam, Balairong Rumah Dinas Bupati Agam, Rabu (10/12). Staf Ahli Bupati Agam, Dandi Pribadi, menyampaikan apresiasi atas kepedulian para relawan. Ia mengatakan dukungan ini sangat dibutuhkan untuk mempercepat proses penanganan dan pemulihan pascabencana. “Kabupaten Agam saat ini sangat membutuhkan dukungan tenaga relawan untuk mempercepat proses penanganan dan pemulihan pascabencana,” kata Dandi. Dandi juga menjelaskan kondisi terkini bencana dan langkah-langkah penanganan yang telah dilakukan pemerintah daerah. Ketua Tim Relawan, Indra Feri, mengatakan 48 relawan diterjunkan dari UB dan UMM. Mereka akan fokus pada tenaga medis, psikososial, dan layanan WASH. Layanan WASH berupa penyaringan air bersih dengan 10 unit alat yang akan ditempatkan di titik-titik strategis. Dengan bantuan ini, diharapkan penanganan darurat dan pemulihan pascabencana di Agam dapat berjalan lebih cepat dan optimal.
UMM Gelar Kuliah Tamu Nasional Bahas Transformasi Pelayanan Sosial dan Urgensi Pekerja Sosial Medis
Malang, (afederasi.com) – Program Studi (Prodi) Kesejahteraan Sosial Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Kuliah Tamu Nasional dengan tema “Transformasi Pelayanan Sosial: Inovasi, Kolaborasi dan Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial”. Acara yang berlangsung di Aula BAU Kampus III UMM pada Rabu, 10 Desember 2025 ini dihadiri oleh 300 peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, dan mitra lapangan. Dalam sambutannya, Hutri Agustino, Ph.D, Ketua Prodi Kesejahteraan Sosial UMM, menegaskan bahwa inovasi adalah kunci menjawab tantangan pelayanan sosial di era modern. “Perubahan sosial yang cepat menuntut pendekatan pelayanan yang adaptif, inklusif, dan berbasis bukti. Kolaborasi lintas sektor mutlak diperlukan agar transformasi ini efektif, termasuk dalam layanan multi-profesi di rumah sakit dimana Pekerja Sosial Medis menjadi sebuah keniscayaan,” tegas Hutri. Kegiatan yang dibuka oleh Wakil Rektor I UMM ini menghadirkan dua pembicara kunci yang membahas aspek strategis pelayanan sosial di bidang kesehatan. Sesi pertama diisi oleh dr. Yuniar, Sp.KJ., MMRS, Direktur Utama RS dr. Radjiman Wediodiningrat. Ia memaparkan praktik terbaik model pelayanan multi-profesi yang telah diterapkan di rumah sakitnya. “Pelayanan kesehatan masa kini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi antara dokter, perawat, pekerja sosial medis, psikolog, dan tenaga kesehatan lainnya sangat mempengaruhi hasil akhir,” ujar dr. Yuniar. Ia menjelaskan bahwa koordinasi terstruktur dalam tim dapat mempercepat diagnosis, meminimalkan kesalahan komunikasi, dan meningkatkan kepuasan pasien beserta keluarga. Sesi kedua dibawakan oleh Dr. Rinikso Kartono, M.Si., akademisi dan pakar kesejahteraan sosial. Ia mengulas mendalam tentang peluang dan tantangan praktik Pekerja Sosial Medis di Indonesia. Dr. Rinikso menyoroti peran krusial pekerja sosial medis sebagai jembatan antara aspek medis dan sosial pasien, mencakup manajemen kasus, pendampingan keluarga, hingga perencanaan layanan pasca-rumah sakit. “Kebutuhan akan profesi ini semakin tinggi seiring kompleksitas masalah kesehatan masyarakat. Namun, tantangannya masih besar, mulai dari regulasi profesi yang belum optimal, jumlah SDM terlatih yang terbatas, hingga kurangnya pemahaman lintas profesi akan kontribusi mereka,” paparnya. Ia menekankan perlunya penguatan kompetensi, advokasi kebijakan, dan peningkatan sinergi antar-profesi untuk mewujudkan layanan kesehatan yang lebih holistik. Kuliah Tamu Nasional ini menjadi bukti komitmen Prodi Kesejahteraan Sosial UMM untuk terus berkontribusi dalam pembangunan sosial, sekaligus menyiapkan lulusan yang kompeten dan siap menjawab tantangan global di bidang kesejahteraan sosial. (san)
Santri PPI AMF Ciptakan Teh Putri Malu untuk Bantu Atasi Insomnia
KLIKMU.CO – Santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) kembali menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Kali ini, sejumlah santri kelas 7 SMP AMF berhasil menciptakan teh herbal berbahan dasar daun putri malu yang diklaim mampu membantu mencegah insomnia. Aqeela Ahmad Darun, salah satu santri pencetus ide, menjelaskan bahwa inovasi ini berawal dari praktikum mata pelajaran IPA. Guru IPA mendorong para siswa untuk menghasilkan produk kreatif, sehingga lahirlah teh herbal berbahan putri malu tersebut. Ahmad, sapaan akrabnya, menilai bahwa produk ini sangat sesuai dengan kebutuhan banyak orang, termasuk para santri PPI AMF yang kerap mengalami kesulitan tidur. “Efeknya sangat terasa, kualitas tidurnya terasa lebih baik. Kami bangun tetap segar dan tidak mengantuk di kelas,” ujar santri asal Bali itu, Selasa (9/12/2025). Pemilihan tanaman putri malu dilakukan karena tanaman ini mudah ditemukan namun sering diabaikan. Ketersediaannya yang melimpah membuatnya efisien dijadikan bahan inovasi para santri. Untuk membuat teh herbal tersebut, para santri menggunakan daun putri malu yang dipadukan dengan madu, jahe, kayu manis, dan air. Seluruh bahan direbus selama dua hingga tiga jam untuk mendapatkan sari teh terbaik. Dari segi tampilan, teh ini berwarna cokelat seperti teh pada umumnya. Rasanya cukup manis sehingga mudah diterima anak-anak dan remaja. Produk ini telah diuji coba oleh teman-teman sekelas Ahmad dan mendapat respons positif. “Ada satu teman yang sering mengantuk di kelas. Setelah minum teh ini, dia jadi lebih segar,” tuturnya. Guru IPA SMP AMF, Zumrotin Firdaus, yang juga Wakil Kepala SMP–SMA AMF Bidang Kurikulum, turut membimbing seluruh proses pembuatan produk ini. “Kami ingin anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi yang bermanfaat,” ujarnya. Ia mengarahkan siswa mulai dari tahap pencarian tanaman, pemilihan daun, pencucian, hingga pembuatan ekstrak herbal sesuai prosedur praktikum. Ke depan, Firda dan para santri berencana memproduksi teh herbal ini secara massal. Saat ini mereka tengah menyiapkan konsep kemasan yang menarik. “Harapan kami, teh herbal ini bisa menjadi alternatif bagi masyarakat yang mengalami insomnia agar memperoleh tidur yang lebih berkualitas,” tuturnya. (Faqih/AS)
Tekanan Akademik Berujung Tragedi: Dosen UMM Ungkap Faktor Pemicu Keputusan Ekstrem
MALANG (SurabayaPost.id) – Peristiwa memilikan yang menimpa seorang mahasiswa di Malang beberapa waktu lalu kembali menyadarkan kita akan pentingnya kesehatan mental di dunia akademik. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Uun Zulfiana, M.Psi., menjelaskan bahwa keputusan ekstrem seperti mengakhiri hidup kerap dipicu oleh tekanan berlapis, termasuk penyusunan skripsi. Menurut Uun, ada tiga faktor utama yang memengaruhi keputusan ekstrem tersebut, yaitu faktor biologis, psikologis, dan sosial. Faktor biologis meliputi genetika dan ketidakseimbangan neurotransmitter. Dari sisi psikologis, individu dengan kepribadian tertutup, memiliki masalah mental, atau pengalaman traumatis lebih rentan bertindak impulsif. “Orang-orang dengan kepribadian tertutup, problem mental, atau pengalaman traumatis sangat mungkin mengambil keputusan yang tidak biasa,” tegas Uun, Selasa (9/12/2025). Faktor sosial seperti isolasi, kesepian, minim dukungan sosial, serta paparan isu negatif di media sosial turut memperbesar risiko. Uun menekankan bahwa tindakan ekstrem bukanlah solusi bagi persoalan akademik apa pun dan mendorong mahasiswa untuk menerapkan strategi pengelolaan stres. “Bagaimana kita menentukan prioritas dan memisahkan waktu bekerja, belajar, serta waktu pribadi,” jelasnya. Uun menyarankan mahasiswa untuk menerapkan Problem Focused Coping, yaitu strategi yang berfokus pada penyelesaian masalah, serta Emotional Focused Coping, yaitu strategi yang berfokus pada pengelolaan emosi. Ia juga menekankan pentingnya bantuan profesional jika muncul gejala seperti kesedihan berkepanjangan, kecemasan yang sulit dikendalikan, atau perubahan mood ekstrem. Sebagai langkah pencegahan, Uun mengingatkan mahasiswa untuk menghindari coping maladaptif seperti merokok atau makan berlebihan, membatasi konsumsi berita negatif, memperkuat jejaring sosial, mengatur prioritas, serta menjaga pola makan dan tidur yang sehat. (lil).
KKI dan Abdidaya Ormawa 2025 Ditutup Meriah di UMM: Inovasi Mengakhiri Laga, Solidaritas Menguatkan Bangsa
MALANG (SurabayaPost.id) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menutup giat Kontes Kapal Indonesia (KKI) dan Abdidaya Ormawa 2025 dalam sebuah acara akbar yang digelar meriah di Hall Dome UMM pada Sabtu, 6 Desember 2025. Gelaran yang untuk pertama kalinya disatukan dalam satu panggung ini bukan hanya menjadi penanda berakhirnya kompetisi inovasi maritim dan pengabdian masyarakat, tetapi juga momen refleksi dan solidaritas kebangsaan. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., memuji kompetensi yang dimiliki para peserta KKI dan Abdidaya Ormawa, menyebut mereka sebagai kelompok terpilih dari jutaan mahasiswa Indonesia. “Saudara adalah representasi dari jutaan mahasiswa Indonesia yang sedang berjuang meningkatkan kapasitas diri, jadikan kompetisi ini sebagai latihan mental dan intelektual. Negara membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan peduli,” katanya. Fauzan juga menegaskan bahwa penutupan KKI dan Abdidaya Ormawa ini bukanlah titik akhir, melainkan pemantik perjalanan kehidupan selanjutnya. “Ini adalah modal untuk melakukan transformasi kehidupan yang lebih baik,” tambahnya. Acara penutupan ini juga diwarnai dengan momen kemanusiaan, di mana seluruh hadirin diajak menggalang dana dan berdoa bersama sebagai wujud solidaritas terhadap korban bencana banjir di Pulau Sumatera. Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP., Penasihat Khusus Presiden RI untuk Urusan Haji sekaligus Ketua Badan Pembina Harian UMM, menyampaikan motivasi yang membangkitkan semangat para mahasiswa agar terus berjuang dan tidak cepat merasa puas. “Jangan segera puas, dan yang menang juga tidak boleh jumawa (angkuh),” tegasnya. Sementara Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si, menekankan bahwa kolaborasi adalah kunci lahirnya karya akademik dan pengabdian masyarakat yang mampu mempercepat terwujudnya Indonesia Maju 2045. “Semoga ini semua menjadi energi baru dan semangat baru kita untuk terus mengabdi kepada bangsa,” tutupnya. (**).
Santri PPI AMF Ciptakan Teh Putri Malu, Inovasi Herbal untuk Bantu Atasi Insomnia
Malang, JATIMSATUNEWS.COM — Kreativitas santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) kembali mencuri perhatian. Sejumlah santri kelas 7 SMP AMF berhasil mengembangkan teh herbal dari daun putri malu yang diklaim mampu membantu mencegah insomnia dan meningkatkan kualitas tidur. Aqeela Ahmad Darun, salah satu santri penggagas inovasi, menceritakan bahwa ide tersebut lahir dari praktikum mata pelajaran IPA. Melalui tugas membuat produk kreatif, para santri mulai mengeksplorasi bahan-bahan alami yang mudah ditemukan di sekitar mereka. “Efeknya sangat terasa. Tidur kami jadi lebih nyenyak, bangun pun lebih segar dan tidak mengantuk saat pelajaran,” ujar santri asal Bali itu. Daun putri malu dipilih karena tumbuhan ini mudah dijumpai namun jarang dimanfaatkan secara optimal. Ketersediaannya yang melimpah menjadikannya bahan tepat untuk eksperimen para santri. Dalam proses pembuatannya, daun putri malu dipadukan dengan madu, jahe, kayu manis, dan air. Seluruh bahan direbus selama dua hingga tiga jam untuk menghasilkan sari teh herbal yang maksimal. Secara tampilan, teh ini menyerupai teh biasa berwarna cokelat. Cita rasanya cenderung manis sehingga mudah diterima anak-anak dan remaja. Produk hasil percobaan ini sudah dicicipi oleh teman-teman sekelas Ahmad dan mendapatkan respons positif. “Ada teman yang sering mengantuk di kelas. Setelah minum teh ini, dia jadi lebih segar,” ungkapnya. Proses pembuatan produk ini dibimbing langsung oleh guru IPA SMP AMF, Zumrotin Firdaus, yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala SMP–SMA AMF Bidang Kurikulum. Ia mendampingi siswa mulai dari tahap pencarian tanaman, pemilihan daun, pencucian, hingga pembuatan ekstrak sesuai prosedur praktikum. “Kami ingin anak-anak tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” jelasnya. Ke depan, Firda dan para santri berencana mengembangkan teh herbal tersebut ke tahap produksi massal. Saat ini mereka tengah menyiapkan konsep kemasan agar produknya lebih menarik dan layak dipasarkan. “Harapan kami, teh herbal ini bisa menjadi alternatif bagi masyarakat yang mengalami insomnia agar tidurnya lebih berkualitas,” pungkasnya.