Dosen Sastra Indonesia Fida Dapat Beasiswa S3 ke Austria Berkat Riset Bahasa dan AI

      Head Topics – Dosen Bahasa Sastra Indonesia (BSI) Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini tengah menempuh studi S3 di Austria.   Ia kuliah sebagai penerima Indonesia -Austria Scholarship Programme yang diselenggarakan oleh Ditjen Diktiristek Kemendikti saintek, bekerja sama dengan OeAD-GmbH atas nama Kementerian Pendidikan, Sains, dan Riset Austria. Sembari ia mengumpulkan pengalaman akademik mulai dari Microcredential Literacy di Western Sydney University Australia pada 2023 hingga program PKBI di UPI Bandung pada 2024. “Saya sudah mengetahui beasiswa IASP sejak dua tahun lalu dan tertarik karena kualitas institusi di Austria. Ketika syarat masa kelulusan magister dihapus, saya merasa inilah waktunya mencoba. Perjalanan akademik saya sejak 2023 justru menjadi pintu yang mengarahkan saya sampai ke titik ini,”ujarnya, dikutip dari situs UMM, Minggu . Fida menjalani proses seleksi mulai dari berkas administrasi hingga wawancara luring dengan empat pewawancara Austria dan satu pewawancara Indonesia yang langsung membahas inti penelitiannya. “Yang paling menantang adalah mencari supervisor karena banyak yang menolak topik saya. Wawancara juga langsung fokus ke riset tanpa perkenalan, seperti seminar proposal versi kilat,” ungkapnya.-Assisted Grammar Learning in Indonesian as a Foreign Language, yang fokus menilai bagaimana generative-AI bisa meningkatkan metalinguistic awareness atau kesadaran kebahasaan pemelajar. “Saran saya, persiapkan portofolio sejak awal, bangun jaringan dengan calon pembimbing, dan pilih topik yang benar-benar relevan. Kesiapan dan ketekunan sering lebih berpengaruh daripada sekadar kecerdasan,” kata Fida. Menurut Fida Pangesti, S.Pd., M.A. , materi tata bahasa adalah salah satu yang paling sering dianggap “menguras tenaga” baik bagi pengajar maupun pelajar.Risetnya memang belum berjalan, tetapi penyusunan desain intervensi menjadi tantangan tersendiri bagi Fida karena harus mencakup fonologi, morfologi, sintaksis, hingga semantik. “Supervisor sangat suportif. Saya bebas memilih mata kuliah lintas jenjang dan diarahkan melakukan pilot penelitian di kelas BIPA di Vienna, bahkan disarankan berkunjung dan berkolaborasi dengan ahli AI dalam pembelajaran bahasa di Nanyang Technological University Singapore,” ujarnya. Penelitiannya menunjukkan bahwa AI bukan hanya tren, tetapi alat strategis dalam pembelajaran tata bahasa Indonesia lebih mudah, menarik, dan siap bersaing di ranah global. Kehidupan di Austria juga membawa banyak kejutan menyenangkan. Mulai dari budaya Ruhetag yang membuat semua toko tutup pada hari Minggu, mengutamakan pejalan kaki.Perpustakaan menjadi tempat favorit Fida. Di tengah suasana tenang, ia sering melihat lansia yang tetap giat belajar, sebuah pemandangan yang menurutnya sangat menginspirasi.

Syarif Husen Dikukuhkan Sebagai Profesor Kentang

Tugujatim.id – Prof. Dr. Ir. Syarif Husen, MP. dikukuhkan sebagai Profesor Kentang. Ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Teknologi Produksi Tanaman Hortikultura Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu, 29 November 2025. Syarif menyoroti tantangan rendahnya produktivitas kentang nasional yang masih jauh dari potensi maksimal akibat keterbatasan benih bermutu. Ia menjelaskan bahwa produktivitas yang hanya mencapai 17,67 ton/ha dapat ditingkatkan apabila petani memperoleh benih bebas virus dan memahami standar kualitas benih unggul. Kondisi tersebut terjadi karena penggunaan benih generasi lanjut dan minimnya akses petani terhadap benih berkualitas tinggi. “Permasalah terbesar dari pengembangan tanaman kentang adalah penyediaan benih, petani tidak bisa mencetak sendiri dan pemerintah baru bisa menyediakan kurang dari 10 persen dari kebutuhan benih,” kata Syarif Husen dalam orasi ilmiahnya di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (29/11/2025). Guna menjawab persoalan ini, UMM mengembangkan teknologi kultur meristem, planlet in vitro, serta sistem Temporary Immersion Bioreactor (TIB) sebagai upaya menghasilkan benih sehat dan berstandar. “UMM telah memiliki SOP produksi, legalitas, dan hak cipta yang mendukung penyediaan benih unggul. Teknologi stek pucuk berakar serta produksi benih G0 hingga G2 menjadi langkah penting untuk menyediakan benih secara cepat, efisien, dan terstandar. Teknologi tersebut perlu diteruskan melalui pendampingan dan pelatihan agar petani dapat mengaplikasikannya langsung di lapangan. Dengan cara itu, peningkatan produktivitas dan kemandirian benih nasional dapat tercapai secara berkelanjutan,” ujarnya. Lebih lanjut, Syarif menjelaskan bahwa UMM bekerja sama dengan pemerintah daerah, penangkar milenial, dan BUMDes untuk memastikan inovasi ini tidak berhenti pada skala laboratorium. Berbagai program pelatihan dirancang agar petani memahami cara memanfaatkan teknologi produksi benih secara benar dan berkelanjutan. Ia menilai bahwa kerja kolaboratif tersebut merupakan kunci untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dan meningkatkan pendapatan petani dalam jangka panjang. UMM mengukuhkan dua guru besar yakni Prof. Dr. Ir. Syarif Husen, MP dan Prof. Dr. Ir. Joko Triwanto, MP., IPU. Pengukuhan tersebut sebagai bagian dari komitmen memperkuat kapasitas riset dan inovasi kampus dan menegaskan fokus UMM pada pengembangan keilmuan strategis di bidang silvikultur dan teknik produksi tanaman hortikultura yang berperan penting bagi ketahanan pangan. Langkah tersebut juga sejalan dengan pendirian Direktorat Saintek UMM yang bertujuan mempercepat hilirisasi riset dan menghadirkan inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Sementara Prof Joko menekankan pentingnya pemanfaatan lahan di bawah tegakan hutan sebagai strategi berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan pangan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. Ia menyebut bahwa model agroforestri mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan. Pendekatan ini dipandang relevan dalam menghadapi perubahan iklim, degradasi lahan, dan meningkatnya kebutuhan pangan yang memerlukan solusi berkelanjutan. “Lingkungan bawah tegakan hutan memiliki potensi besar jika dikelola secara bijak. Melalui agroforestri, kita bisa menghasilkan pangan yang beragam, menjaga stabilitas ekosistem, dan meningkatkan kesejahteraan petani. Berbagai tanaman toleran naungan seperti ganyong, garut, talas, dan porang dapat dikembangkan secara produktif di area tersebut. Potensi ini harus dimanfaatkan secara optimal agar manfaat ekologis dan ekonominya semakin luas,” ujarnya. Dalam penjelasan lanjutnya, Joko menguraikan bahwa integrasi tanaman pangan dengan pohon hutan tidak hanya memperkaya ketersediaan pangan lokal, tetapi juga menjaga kesehatan tanah dan memperkuat infiltrasi air. Menurutnya, agroforestri mampu menjaga keanekaragaman hayati sekaligus memberikan sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekitar hutan. Karena itu, pemanfaatan lahan bawah tegakan merupakan peluang besar yang perlu didorong melalui riset, pelatihan, dan pendampingan berbasis masyarakat. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan peran guru besar yang sangat strategis dalam memperkuat riset dan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Ia menilai pembentukan Direktorat Saintek menjadi langkah penting bagi UMM untuk mempercepat hilirisasi riset dan memastikan inovasi kampus dapat dimanfaatkan secara luas. Nazaruddin juga menekankan pentingnya riset terapan sebagai jawaban terhadap tantangan deindustrialisasi nasional. “UMM akan terus berinvestasi pada riset terapan untuk melahirkan inovasi yang mampu mendorong transformasi ekonomi dari konsumsi menuju produksi,” ujarnya.

Mahasiswa Magang COE FH UMM Soroti Maraknya Developer Bodong di Malang

Malang || RADAR JATIM.CO~ Maraknya kasus perumahan bodong di Malang Raya menarik perhatian Mahasiswa Magang COE FH UMM yang tengah mengkaji meningkatnya praktik penipuan properti. Fenomena ini terjadi akibat tingginya permintaan rumah murah, sementara pengawasan terhadap perizinan dan legalitas pembangunan masih lemah. Berbagai kasus seperti Valley Residence Joyogrand, Grand Mutiara Kedungrejo, The Aswindra Hill, dan PT Hadara Propertindo Jaya menunjukkan pola serupa. Developer menawarkan harga murah dan janji bebas biaya notaris, namun tanpa izin dan legalitas tanah yang valid. Mahasiswa Magang COE FH UMM mencatat korban tertipu karena minimnya transparansi. Kasus Grand Mutiara Kedungrejo mencatat 96 user membayar hingga Rp165 juta per orang, tetapi rumah tak kunjung dibangun. Di Kota Batu, pembeli The Aswindra Hill menyetor hingga Rp779 juta meski pengembang belum mengurus izin pembangunan. Temuan ini memperkuat kajian Mahasiswa Magang COE FH UMM terkait lemahnya verifikasi izin. Di Karangploso, PT Hadara Propertindo Jaya menjual 28 kavling tanpa hak, memakai dana user tanpa melunasi tanah pemilik sebelumnya. Mahasiswa Magang COE FH UMM menilai kasus ini sebagai contoh penipuan terstruktur yang menyasar masyarakat dengan harapan memperoleh rumah murah. Peran notaris turut menjadi sorotan setelah ditemukan praktik pengesahan dokumen tanpa verifikasi sertifikat, penahanan berkas tanpa dasar hukum, hingga legitimasi proyek ilegal. Mahasiswa Magang COE FH UMM menilai bahwa notaris seharusnya menjadi benteng awal dalam mencegah transaksi perumahan bermasalah. Firma Padepokan Hukum Lesanpuro menjadi pendamping hukum bagi para korban, termasuk Ibu Umbar sebagai pemilik lahan dan Ibu Sindy sebagai user. Kedua pihak mengalami kerugian besar akibat legalitas lahan yang tidak dipenuhi dan unit rumah yang tidak pernah dibangun oleh pengembang. Ibu Umbar hanya menerima sekitar Rp110 juta dari total harga Rp310 juta, meski perjanjian mewajibkan pelunasan satu tahun. Sementara Ibu Sindy telah melunasi pembayaran tetapi tidak memperoleh unit rumah. Mahasiswa Magang COE FH UMM menilai kondisi ini memperlihatkan urgensi pendampingan hukum bagi masyarakat. Firma Padepokan Hukum Lesanpuro telah melaporkan direktur PT Hadara Propertindo Jaya serta oknum notaris yang diduga terlibat. Upaya pemulihan hak terus berjalan dan sebagian korban telah memperoleh ganti rugi, meski pelaku utama masih belum memenuhi seluruh kewajibannya kepada para korban. Mahasiswa Magang COE FH UMM menilai perlunya edukasi hukum kepada masyarakat agar dapat memeriksa izin, legalitas lahan, dan reputasi notaris sebelum membeli rumah. Firma Padepokan Hukum Lesanpuro turut aktif memberikan penyuluhan melalui media sosial dan layanan konsultasi hukum gratis. Mahasiswa Magang COE FH UMM dan Firma Padepokan Hukum Lesanpuro mendorong pemerintah memperkuat pengawasan, memperbarui regulasi, dan menerbitkan daftar hitam developer serta notaris bermasalah. Langkah ini penting untuk melindungi masyarakat Malang Raya dari penipuan perumahan bodong dan memastikan hak atas perumahan yang layak.

Guru Sebagai Kurator Pembelajaran di Tengah Gempuran AI

Malang, Tugumalang.id – Peran guru di tengah kemajuan teknologi sejak kemunculan Artificial Intelligence (AI) tetap dinilai krusial. Kehadiran AI tidak serta-merta menggantikan posisi guru dalam proses pembelajaran, mengingat teknologi ini tidak memiliki fungsi pendampingan dan sentuhan edukatif secara langsung. Pandangan tersebut disampaikan dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd. Ia menegaskan, perubahan yang terjadi bukan sekadar hadirnya alat baru di ruang kelas, tetapi transformasi mendasar dalam cara belajar dan mengajar. “AI itu tidak hanya mengubah cara guru mengajar, tetapi juga cara belajar siswa dan mahasiswa. Saat ini, guru bukan menjadi sumber informasi utama bagi siswa,” ujarnya. Derasnya arus teknologi yang mempercepat proses pendidikan membuat guru dan dosen menghadapi transformasi besar dalam perannya. Tidak sedikit yang menilai kecerdasan buatan mulai mengambil alih sebagian fungsi pendidik dalam proses belajar mengajar. Namun, di balik kemudahan tersebut, peran pendidik justru semakin strategis. Guru tidak lagi cukup hanya sebagai penyampai materi, melainkan berperan sebagai kurator yang memilah, memverifikasi, dan memastikan sumber informasi yang digunakan siswa benar-benar valid, relevan, serta layak dijadikan rujukan. Dalam konteks ini, pendidik dituntut memposisikan diri sebagai pembimbing utama dalam pemanfaatan teknologi. Beti menjelaskan bahwa guru perlu menjadi learning experience designer dengan merancang pembelajaran yang adaptif, sekaligus berperan sebagai critical thinking coach yang mengasah daya pikir peserta didik. “Jadi bukan hanya sekadar memberikan jawaban, tetapi mengajak siswa atau mahasiswa bertanya dari ‘apa’ menjadi ‘bagaimana’ dan ‘mengapa’. Hal ini tentu akan melatih keterampilan analitis dan argumentasi,” kata dia. Di tengah kekhawatiran akan menurunnya orisinalitas akibat penggunaan AI, Beti justru melihat adanya peluang. Menurutnya, pendidik bisa mendorong peserta didik tetap menghasilkan karya otentik meski memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu. “Paling penting itu mendorong mereka membuat karya otentik, meskipun menggunakan atau memanfaatkan AI. Para peserta didik tetap memiliki sisi orisinalitas yang tidak bisa dibuat oleh AI,” ungkap Beti. Ia menambahkan, AI seharusnya menjadi sarana untuk memperbesar potensi diri, bukan menggantikan kapasitas manusia. Pendidikan, menurutnya, perlu membentuk generasi yang tidak hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami cara kerjanya secara kritis dan bertanggung jawab. “Pendidikan tidak hanya mampu menerima AI, tetapi mampu memanfaatkannya untuk mencerdaskan manusia secara lebih utuh. Begitu pun dengan pendidik yang seharusnya bisa memanfaatkan AI untuk memajukan pendidikan sekaligus mendorong siswa-siswi agar bisa menjadi lebih baik,” tandasnya. Reporter : M Ulul Azmy redaktur: jatmiko

UMM-UiTM Malaysia Angkat Permainan Tradisional Jawa ke Kancah Global

Kota Malang, Bhirawa – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkuat langkah internasionalnya dengan menggandeng Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia melalui program kolaborasi bertajuk “Multimedia Cultural Chronicles Unveiling the Joy of Javanese Traditional Games.” Program selama satu minggu, yang dimulai sejak 23 November 2025, ini melibatkan puluhan mahasiswa dari kedua negara untuk mempelajari, mendokumentasikan, dan mempromosikan permainan tradisional Jawa ke audiens global melalui proyek utama berupa pembuatan coffee table book dan video dokumentasi. Kegiatan pertukaran mahasiswa ini berfokus pada pengembangan wawasan budaya dan penguatan jejaring internasional. Para mahasiswa internasional dari UiTM secara langsung berkolaborasi dengan mahasiswa UMM untuk melakukan pengamatan, wawancara, hingga proses kreatif. Output utama dari kolaborasi ini adalah coffee table book dan serangkaian video yang menjelaskan cara memainkan berbagai permainan tradisional Indonesia, menjadikannya langkah konkret UMM dalam mempromosikan budaya lokal ke tingkat global dengan pendekatan multimedia. Saat pembukaan, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM, Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si., menyambut baik kehadiran mahasiswa UiTM, ia menekankan pentingnya momen ini sebagai penguatan kerja sama kedua institusi. “UMM sangat senang dan bangga menerima mahasiswa dari luar negeri. Saya berharap adik-adik memperkuat kolaborasi dan komunikasi karena itu adalah social capital,” ujar Dr. Fauzik. Ia juga berpesan kepada peserta untuk menjaga perilaku, norma, serta mengembangkan kompetensi selama program berlangsung. Kegiatan eksplorasi permainan tradisional ini akan berlangsung di beberapa lokasi di Malang dan Batu, termasuk, Museum Panji, Desa Wisata Ngawonggo, Taman Dolan. Di lokasi-lokasi tersebut, para peserta diajak melihat dan merasakan pengalaman bermain secara langsung, sebelum akhirnya menyusun materi dokumentasi (video dan coffee table book). Salah satu mahasiswa Malaysia, Tengku Syamimi Afiqah, mengungkapkan antusiasmenya. Menurutnya, program ini memberikan pengalaman akademik dan budaya yang sangat berharga. Ia menambahkan bahwa lingkungan di UMM sangat ramah dan menginspirasi, memungkinkan mereka mendapatkan wawasan yang lebih mendalam tentang budaya Indonesia, khususnya permainan tradisional yang didokumentasikan. [mut.wwn]

UMM Tambah Dua Guru Besar yang Berkiprah di Ketahanan Pangan

Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukuhkan dua guru besar baru pada Sabtu (29/11/2025) sebagai bagian dari komitmen memperkuat kapasitas riset dan inovasi kampus. Pengukuhan ini menegaskan fokus UMM pada pengembangan keilmuan strategis di bidang silvikultur. Juga pada bidang teknik produksi tanaman hortikultura yang berperan penting bagi ketahanan pangan. Langkah tersebut juga sejalan dengan pendirian Direktorat Saintek UMM yang bertujuan mempercepat hilirisasi riset dan menghadirkan inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Dua guru besar yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Ir. Joko Triwanto, M.P., IPU. dan Prof. Dr. Ir. Syarif Husen, M.P. Teknologi Produktivitas Kentang Dalam pemaparannya, Syarif menyoroti tantangan rendahnya produktivitas kentang nasional yang masih jauh dari potensi maksimal akibat keterbatasan benih bermutu. Ia menjelaskan bahwa produktivitas yang hanya mencapai 17,67 ton/ha. Nantinya dapat ditingkatkan apabila petani memperoleh benih bebas virus dan memahami standar kualitas benih unggul. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena penggunaan benih generasi lanjut dan minimnya akses petani terhadap benih berkualitas tinggi. Untuk menjawab persoalan ini, UMM mengembangkan teknologi kultur meristem, planlet in vitro, serta sistem Temporary Immersion Bioreactor (TIB). Hal ini dianggap sebagai upaya menghasilkan benih sehat dan berstandar. “UMM telah memiliki SOP produksi, legalitas, dan hak cipta yang mendukung penyediaan benih unggul. Teknologi stek pucuk berakar serta produksi benih G0 hingga G2 menjadi langkah penting untuk menyediakan benih secara cepat, efisien, dan terstandar,” katanya. “Teknologi tersebut perlu diteruskan melalui pendampingan dan pelatihan agar petani dapat mengaplikasikannya langsung di lapangan. Dengan cara itu, peningkatan produktivitas dan kemandirian benih nasional dapat tercapai secara berkelanjutan,” ujarnya. Kolaborasi Lintas Sektor Lebih lanjut, Syarif menjelaskan bahwa UMM bekerja sama dengan pemerintah daerah, penangkar milenial, dan BUMDes untuk memastikan inovasi ini tidak berhenti pada skala laboratorium. Berbagai program pelatihan dirancang agar petani memahami cara memanfaatkan teknologi produksi benih secara benar dan berkelanjutan. Ia menilai bahwa kerja kolaboratif tersebut merupakan kunci untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Juga strategi dalam meningkatkan pendapatan petani dalam jangka panjang. Berbeda dengan Syarif, Joko menekankan pentingnya pemanfaatan lahan di bawah tegakan hutan. Ia menganggap hal ini sebagai strategi berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan pangan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. Ia menyebut bahwa model agroforestri mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan. Pendekatan ini dipandang relevan dalam menghadapi perubahan iklim, degradasi lahan, dan meningkatnya kebutuhan pangan yang memerlukan solusi berkelanjutan. “Lingkungan bawah tegakan hutan memiliki potensi besar jika dikelola secara bijak. Melalui agroforestri, kita bisa menghasilkan pangan yang beragam, menjaga stabilitas ekosistem, dan meningkatkan kesejahteraan petani.” katanya. “Berbagai tanaman toleran naungan seperti ganyong, garut, talas, dan porang dapat dikembangkan secara produktif di area tersebut. Potensi ini harus dimanfaatkan secara optimal agar manfaat ekologis dan ekonominya semakin luas,” ujarnya. Integrasi Tanaman Dalam penjelasan lanjutnya, Joko menguraikan bahwa integrasi tanaman pangan dengan pohon hutan tidak hanya memperkaya ketersediaan pangan lokal. Tetapi juga menjaga kesehatan tanah dan memperkuat infiltrasi air. Menurutnya, agroforestri mampu menjaga keanekaragaman hayati sekaligus memberikan sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekitar hutan. Karena itu, pemanfaatan lahan bawah tegakan merupakan peluang besar yang perlu didorong melalui riset, pelatihan, dan pendampingan berbasis masyarakat. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan peran guru besar yang sangat strategis dalam memperkuat riset dan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Ia menilai pembentukan Direktorat Saintek menjadi langkah penting bagi UMM untuk mempercepat hilirisasi riset dan memastikan inovasi kampus dapat dimanfaatkan secara luas. Nazaruddin juga menekankan pentingnya riset terapan sebagai jawaban terhadap tantangan deindustrialisasi nasional. “UMM akan terus berinvestasi pada riset terapan untuk melahirkan inovasi yang mampu mendorong transformasi ekonomi dari konsumsi menuju produksi,” ujarnya. (Djoko W)

Dosen PGSD UMM Jelaskan Peran Guru di Era Gempuran AI

Malangpariwara.com – Di tengah derasnya arus teknologi yang mempercepat proses pendidikan, para guru dan dosen justru sedang menghadapi transformasi yang cukup besar dalam perannya. Banyak yang menilai bahwa kecerdasan buatan atau Artifical Intelligence (AI) yang ada mulai mengambil alih peran pendidik dalam proses belajar mengajar. Perkembangan teknologi ini juga mengubah dinamika pendidikan lebih cepat dari sebelumnya. Menurut Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd. selaku dosen prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengemukakan pandangannya. Perkembangan Teknologi dalam Kelas Ia mengungkap perubahan ini bukan sekadar soal alat baru di kelas, tetapi perubahan cara belajar dan mengajar. “AI itu tidak hanya mengubah cara guru mengajar, tetapi juga cara belajar siswa dan mahasiswa. Saat ini, guru bukan menjadi sumber informasi utama bagi siswa,” ujarnya. Namun, dibalik kemudahan itu peran pendidik tidak bisa lagi hanya sebagai penyampai materi, tetapi lebih krusialnya menjadi kurator. Dalam hal ini, pendidik bukan hanya memberi informasi tetapi juga memilah mana sumber yang valid, relevan, dan layak dijadikan rujukan oleh siswa maupun mahasiswa nya. Dalam ekosistem pendidikan, pendidik perlu memposisikan diri sebagai pembimbing utama dalam pemanfaatannya. Menurut Beti, pendidik dituntut untuk bisa menjadi learning experience designer atau mendesain pembelajaran yang adaptif sekaligus menjadi critical thinking coach. Bukan hanya sekedar memberikan jawaban, tetapi mengajak siswa atau mahasiswa bertanya dari “apa” menjadi “bagaimana” dan “mengapa.” Hal ini tentu akan melatih jiwa keterampilan analitis dan argumentasi. Di balik kekhawatiran akan hilangnya orisinalitas akibat penggunaan AI, Beti justru melihat peluang. Menurutnya, pendidik dapat mendorong pelajar menghasilkan karya otentik meskipun memanfaatkan teknologi. Baginya, AI boleh membantu, tetapi kreativitas, intuisi, dan nilai tetap menjadi orisinalitas manusia. “Yang paling penting Itu mendorong mereka membuat karya otentik, meskipun menggunakan atau memanfaatkan AI. Para peserta didik tetap memiliki sisi orisinalitas yang tidak bisa dibuat oleh AI,” ujarnya. Lebih lanjut, Beti berpesan bahwa penggunaan AI cukup sebagai alat untuk memperbesar potensi diri, bukan sebagai pengganti diri. Baginya, pendidikan seharusnya membentuk generasi yang bukan hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami cara kerjanya. “Pendidikan tidak hanya mampu menerima AI tetapi mampu memanfaatkannya untuk mencerdaskan menusia secara lebih utuh. Begitupun dengan pendidik yang seharusnya bisa memanfaatkan AI untuk memajukan pendidikan sekaligus mendorong siswa-siswi agar bisa menjadi lebih baik,” tutupnya. (Djoko W)

Dari Kampus Putih, UMM Hadirkan Dua Guru Besar Baru untuk Menjawab Tantangan Pangan

Agroredaksi.com-Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukuhkan dua guru besar baru pada Sabtu, 29 November 2025, sebagai bagian dari komitmen memperkuat kapasitas riset dan inovasi kampus. Pengukuhan ini menegaskan fokus UMM pada pengembangan keilmuan strategis di bidang silvikultur dan teknik produksi tanaman hortikultura yang berperan penting bagi ketahanan pangan. Langkah tersebut juga sejalan dengan pendirian Direktorat Saintek UMM yang bertujuan mempercepat hilirisasi riset dan menghadirkan inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Adapun dua guru besar yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Ir. Joko Triwanto, MP., IPU. dan Prof. Dr. Ir. Syarif Husen, MP. Dalam pemaparannya, Syarif menyoroti tantangan rendahnya produktivitas kentang nasional yang masih jauh dari potensi maksimal akibat keterbatasan benih bermutu. Ia menjelaskan bahwa produktivitas yang hanya mencapai 17,67 ton/ha dapat ditingkatkan apabila petani memperoleh benih bebas virus dan memahami standar kualitas benih unggul. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena penggunaan benih generasi lanjut dan minimnya akses petani terhadap benih berkualitas tinggi. Untuk menjawab persoalan ini, UMM mengembangkan teknologi kultur meristem, planlet in vitro, serta sistem Temporary Immersion Bioreactor (TIB) sebagai upaya menghasilkan benih sehat dan berstandar. “UMM telah memiliki SOP produksi, legalitas, dan hak cipta yang mendukung penyediaan benih unggul. Teknologi stek pucuk berakar serta produksi benih G0 hingga G2 menjadi langkah penting untuk menyediakan benih secara cepat, efisien, dan terstandar. Teknologi tersebut perlu diteruskan melalui pendampingan dan pelatihan agar petani dapat mengaplikasikannya langsung di lapangan. Dengan cara itu, peningkatan produktivitas dan kemandirian benih nasional dapat tercapai secara berkelanjutan,” ujarnya. Lebih lanjut, Syarif menjelaskan bahwa UMM bekerja sama dengan pemerintah daerah, penangkar milenial, dan BUMDes untuk memastikan inovasi ini tidak berhenti pada skala laboratorium. Berbagai program pelatihan dirancang agar petani memahami cara memanfaatkan teknologi produksi benih secara benar dan berkelanjutan. Ia menilai bahwa kerja kolaboratif tersebut merupakan kunci untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dan meningkatkan pendapatan petani dalam jangka panjang. Berbeda dengan Syarif,Prof Joko menekankan pentingnya pemanfaatan lahan di bawah tegakan hutan sebagai strategi berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan pangan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. Ia menyebut bahwa model agroforestri mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan. Pendekatan ini dipandang relevan dalam menghadapi perubahan iklim, degradasi lahan, dan meningkatnya kebutuhan pangan yang memerlukan solusi berkelanjutan. “Lingkungan bawah tegakan hutan memiliki potensi besar jika dikelola secara bijak. Melalui agroforestri, kita bisa menghasilkan pangan yang beragam, menjaga stabilitas ekosistem, dan meningkatkan kesejahteraan petani. Berbagai tanaman toleran naungan seperti ganyong, garut, talas, dan porang dapat dikembangkan secara produktif di area tersebut. Potensi ini harus dimanfaatkan secara optimal agar manfaat ekologis dan ekonominya semakin luas,” ujarnya. Dalam penjelasan lanjutnya, Joko menguraikan bahwa integrasi tanaman pangan dengan pohon hutan tidak hanya memperkaya ketersediaan pangan lokal, tetapi juga menjaga kesehatan tanah dan memperkuat infiltrasi air. Menurutnya, agroforestri mampu menjaga keanekaragaman hayati sekaligus memberikan sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekitar hutan. Karena itu, pemanfaatan lahan bawah tegakan merupakan peluang besar yang perlu didorong melalui riset, pelatihan, dan pendampingan berbasis masyarakat. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan peran guru besar yang sangat strategis dalam memperkuat riset dan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Ia menilai pembentukan Direktorat Saintek menjadi langkah penting bagi UMM untuk mempercepat hilirisasi riset dan memastikan inovasi kampus dapat dimanfaatkan secara luas. Nazaruddin juga menekankan pentingnya riset terapan sebagai jawaban terhadap tantangan deindustrialisasi nasional. “UMM akan terus berinvestasi pada riset terapan untuk melahirkan inovasi yang mampu mendorong transformasi ekonomi dari konsumsi menuju produksi,” ujarnya. (Sflhms)

Polresta Malang Kota dan UMM Ajak Siswa SMPN 3 Lawan Bullying dan Narkoba

Malang – Polresta Malang Kota bersama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan sosialisasi bagi siswa di SMP Negeri 3 Kota Malang pada Selasa 25 November 2025. Kegiatan ini bertujuan memberi pemahaman tentang bentuk-bentuk perundungan dan bahaya penyalahgunaan narkoba. Dalam sesi edukasi, petugas menjelaskan jenis bullying seperti kekerasan fisik, verbal, sosial, dan cyber. Mereka juga menjelaskan dampak negatif dari bullying dan narkoba, termasuk gangguan mental. Peserta diajak berdiskusi dan diberi ruang untuk bertanya agar mereka benar-benar paham. Pihak sekolah menyambut baik inisiatif ini. Kepala sekolah menyatakan sosialisasi membantu siswa menyadari risiko dan memberi keberanian untuk melaporkan jika mereka atau teman mereka menghadapi perundungan atau tawaran narkoba. Seorang siswi mengungkapkan bahwa acara itu membuka mata banyak siswa. Ia berkata bahwa sekarang mereka tahu cara menghadapi bullying dan narkoba. Dengan kegiatan ini, Polresta Malang Kota dan UMM berharap bisa menurunkan angka perundungan dan penyalahgunaan narkoba di kalangan siswa SMP.

Kolaborasi UMM dan UiTM Malaysia, Apresiasi Budaya Tradisional Jawa ke Ranah Global

MALANG POSCO MEDIA, MALANG- Puluhan mahasiswa Malaysia dan Indonesia berkolaborasi dalam agenda internasional “Multimedia Cultural Chronicles: Unveiling the Joy of Javanese Traditional Games Collaboration Program”. Mereka adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia. Kegiatan yang berlangsung satu minggu sejak 23 November 2025 lalu ini menjadi salah satu program kolabori antar kedua universitas. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM, Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si. menyampaikan, kehadiran mahasiswa UiTM menjadi momentum penguatan kerja sama kedua institusi. “UMM sangat senang dan bangga menerima mahasiswa dari luar negeri. Saya berharap adik-adik memperkuat kolaborasi dan komunikasi karena itu adalah social capital,” ujarnya. Kegiatan tersebut menghadirkan mahasiswa internasional dari UiTM untuk mempelajari dan mendokumentasikan permainan tradisional Jawa sebagai bagian dari proyek pembuatan coffee table book. Ini juga bagian dari pertukaran mahasiswa yang tidak hanya berfokus pada pengembangan wawasan budaya, tetapi juga penguatan jejaring internasional mahasiswa. Selama program, peserta akan melakukan pengamatan langsung, wawancara, hingga proses kreatif untuk menghasilkan coffee table book yang menampilkan kekayaan permainan tradisional Indonesia kepada audiens global. Fauzik menekankan pentingnya menjaga perilaku, norma, serta mengembangkan kompetensi selama mengikuti program tersebut. Apalagi kegiatan ini akan berlangsung di beberapa lokasi di Malang dan Batu. Mulai dari Museum Panji, Desa Wisata Ngawonggo, dan Taman Dolan. “Para peserta diajak melihat dan merasakan pengalaman bermain permainan tradisional di masing-masing lokasi. Kemudian menyusun video yang terkait bagaimana memainkannya dan bisa disebarluaskan,” terangnya. Salah satu mahasiswa Malaysia Tengku Syamimi Afiqah, mengungkapkan bahwa program itu memberikan pengalaman akademik dan budaya yang berharga. Menurutnya, lingkungan di UMM sangat ramah dan menginspirasi. “Kolaborasi ini memungkinkan kami untuk mendapatkan wawasan yang lebih mendalam tentang budaya Indonesia, terutama permainan tradisional yang didokumentasikan,” katanya. Output utama kegiatan ini berupa coffee table book yang menampilkan berbagai permainan tradisional Indonesia. Selain itu juga video-video yang menjelaskan bagaimana permainan tradisional Indonesia itu dimainkan. Adapun kegiatan kolaboratif ini menjadi langkah konkret UMM dalam memperkuat jejaring internasional sekaligus mempromosikan budaya lokal ke tingkat global melalui pendekatan multimedia. (imm/udi)