Kadis PUPR Batu Dorong Alumni UMM Terus Berkontribusi bagi Masyarakat

MAKLUMAT – Ada yang berbeda dari wisuda ke-120 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (27/11/2025). Pada momen sacral ini terdapat Kepala Dinas PUPR Kota Batu, Ir. Alfi Nurhidayat, yang tak lain adalah alumni Kampus Putih. Ia sengaja hadir dalam prosesi tutup buku mahasiswa UMM untuk mendorong sekaligus memberi motivasi kepda alumni. Tak ada kata lain, selain ajakan menjaga hubungan antaralumni sekaligus memberikan yang terbaik bagi kampus dan lingkungan. “Dunia nyata tidak selalu mudah. Namun bekal ilmu dari UMM cukup untuk menaklukkan setiap tantangan,” ujarnya. Tak lupa ia menitip pesan, bahwa perjalanan hidup akan terus berlanjut dan setiap pencapaian hanya menjadi awal langkah berikutnya. Pentingnya Kompetensi Alumni Sementara itu, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. Thohir Luth, M.A., juga memberi apresiasi kepada UMM yang telah konsisten mencetak intelektual berakhlak. Menurutnya, keberhasilan lulusan tidak bisa diukur dari kompetensi, melainkan juga pengabdian nyata kepada bangsa. Thohir mengingatkan bahwa para wisudawan kini memasuki “kampus tanpa tembok”, yakni kehidupan yang penuh rintangan dan cobaan. “Jaga martabat dan integritas. Jadilah pribadi shaleh dan shalehah yang membawa manfaat bagi keluarga hingga negara,” pesannya. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. meminta para lulusan menjadikan prosesi wisuda sebagai momentum refleksi diri. Ia menegaskan bahwa nilai seorang sarjana ditentukan oleh apa yang bisa ia berikan kepada masyarakat. Babak Baru usai Tutup Buku “Ukuran kehidupan bukan gelar, tapi kontribusi. Sekecil apa pun manfaat, itu yang utama,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa profesionalitas serta kemampuan bersikap di tengah masyarakat harus menjadi pegangan utama para alumni UMM. Dalam penutup sambutannya, Nazaruddin mengutip pesan Andrew Grove, CEO Intel Corporation, “Only paranoid survive”, sebagai dorongan untuk terus memperbaiki diri demi menjaga amanah publik. Peningkatan kualitas ibadah juga disebutnya sebagai fondasi dalam menjaga integritas. Wisuda ke-120 Universitas Muhammadiyah Malang ini menjadi penanda babak baru para lulusan. Mereka diharapkan menjadi generasi yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga memberi dampak positif bagi masyarakat luas.
UMM Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru, Tawarkan Solusi atas Isu Lingkungan, Pendidikan, dan Stunting

Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengukuhkan diri sebagai Kampus Putih penggerak peradaban melalui pengukuhan tiga guru besar baru pada Rabu (26/11/2025). Ketiga akademisi ini menghadirkan gagasan solutif atas tiga isu besar bangsa: keberlanjutan lingkungan, fondasi pendidikan karakter, dan krisis kesehatan stunting. Tiga profesor yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Khozin, M.Si. (Ilmu Pendidikan Islam), Prof. Dr. Ir. Ahmad Mubin, S.T., M.T. (Ekologi dan Keberlanjutan Industri), serta Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M. Kep., Sp.Kom. (Keperawatan Komunitas). Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Ahmad Mubin menyoroti tantangan industri modern yang tidak lagi bisa berorientasi pada keuntungan semata. Ia menegaskan pentingnya prinsip triple bottom line yang menuntut keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan sosial. Menurutnya, circular economy dan efisiensi sumber daya adalah kunci menghadapi tuntutan global, namun semua upaya itu membutuhkan alat ukur yang valid. Mubin menyarankan penggunaan instrumen seperti Sustainability Balanced Scorecard, standar Global Reporting Initiative (GRI), hingga metode OMAX untuk memantau dampak keberlanjutan secara akurat. “Dengan perencanaan strategis, implementasi teknologi bersih, kolaborasi antar industri (simbiosis industri) dan dukungan kebijakan yang tepat, industri dapat berperan sebagai motor penggerak ekonomi yang ramah lingkungan,” tegas Mubin. Ia juga mendesak pemerintah memperkuat regulasi industri hijau dan menyediakan insentif bagi inovasi ramah lingkungan agar daya saing global dan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai. Sementara itu, Prof. Khozin mengangkat persoalan rapuhnya budaya di sejumlah lembaga pendidikan Islam akibat tidak adanya kerangka nilai yang kokoh. Ia menawarkan penguatan tiga nilai fundamental—ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan—sebagai pondasi pembentukan budaya sekolah. Nilai-nilai ini diturunkan menjadi praktik budaya konkret, seperti budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun), kedisiplinan, dan kolaborasi. Baginya, pendidikan Islam harus kembali pada misi utama: membentuk manusia merdeka, cerdas, dan berperadaban. “Kalau ingin ekosistem dan budaya sekolah lebih kuat dan kokoh, serta adaptif terhadap gempuran perubahan, maka ekosistem itu mestinya berdiri di atas pondasi nilai dasar dan nilai utama yang kuat,” jelas Khozin. Isu tak kalah genting disampaikan Prof. Yoyok Bekti Prasetyo. Ia menegaskan bahwa stunting bukan hanya masalah gizi, tetapi krisis kemanusiaan yang ia sebut sebagai ‘kemiskinan biologis’. Kondisi ini, katanya, membatasi kecerdasan, kesehatan, dan produktivitas generasi masa depan. Yoyok menyoroti kondisi di Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, yang pernah mencatat prevalensi stunting ekstrem pada angka 42–50%. Sebagai wujud komitmen Impactful University, UMM terlibat langsung dalam program penguatan parenting self-efficacy, Gerakan Ibu Tangguh, hingga pembangunan sumur bor sedalam 71 meter di Desa Nusa. “Kita tidak akan membangun Indonesia Emas 2045 hanya dengan bangunan tinggi dan ekonomi kuat, tetapi dengan anak-anak yang sehat, keluarga yang percaya diri, dan masyarakat yang saling menguatkan,” pungkasnya. [dan/beq]
Kata Pakar Soal Penyebab Banjir di Malang

detikjatim, Malang – Frekuensi banjir di Malang Raya meningkat akibat hilangnya resapan air dan drainase yang banyak tertutup oleh bangunan warga. Adanya sumur resapan dan biopori didorong menjadi solusi. Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang, Amalia Nur Adibah menyebut alih fungsi lahan menjadi kawasan terbangun menyebabkan air hujan tidak lagi terserap optimal dan langsung mengalir ke jalan. Kondisi ini diperparah oleh saluran drainase yang tertutup oleh bangunan warga. Air hujan langsung mengalir ke jalan dan memicu kerusakan pada infrastruktur maupun pondasi bangunan. “Banyak drainase sengaja ditutup untuk melebarkan rumah, sehingga air tidak punya akses masuk,” ujar Amalia kepada wartawan, Kamis (27/11/2025). Sementara dari kacamata teknik sipil, lanjut Amalia, banjir akan berdampak langsung pada infrastruktur maupun bangunan. Amalia menyebut lapisan aspal kerap terkelupas setelah banjir, menyebabkan jalan cepat berlubang. Sementara untuk bangunan, air hujan yang mengandung zat korosif dapat merusak pondasi, instalasi listrik, hingga peralatan elektronik. Ia menambahkan bahwa banjir yang terjadi berulang dapat mengikis pondasi bangunan, terutama yang berada di bantaran sungai atau wilayah dengan debit air besar. “Semakin lama terhempas air, pondasi bisa terkikis dan memicu kerusakan struktural hingga risiko roboh,” jelasnya. Untuk bangunan yang terlanjur berada di kawasan rawan banjir, Amalia menyarankan pemilik rumah untuk melakukan peninggian bangunan dan menambah titik sumur resapan atau biopori di lingkungan sekitar. Mitigasi sederhana, seperti memasang papan penahan air di pintu ketika hujan deras, juga dinilai efektif mencegah air masuk ke rumah. Dari sudut pandang penataan kota, ia menilai pembangunan dan pembesaran saluran drainase yang saat ini dilakukan pemerintah sudah tepat. Namun ia menemukan beberapa proyek drainase yang posisinya lebih tinggi dari permukaan jalan, sehingga air sulit masuk. “Ini memicu masalah baru karena aliran air tidak bisa langsung mengalir ke saluran,” katanya. Amalia juga menegaskan pentingnya pemilihan lokasi sebelum membangun rumah serta penerapan aturan tata kota, seperti menyediakan 30 persen lahan terbuka dalam satu kavling agar air hujan tetap dapat meresap. Ia berharap pemerintah lebih optimal dalam mengalokasikan anggaran pembangunan infrastruktur agar upaya mitigasi banjir dapat berjalan maksimal. BMKG sendiri merilis adanya potensi cuaca ekstrem di wilayah Jawa Timur termasuk Kota Malang periode 20 Nopember 2025 sampai dengan 29 Nopember 2025. Kondisi atmosfer lokal yang labil dan lembap dari lapisan bawah hingga atas turut mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan lebat. Potensi itu disebabkan karena adanya pola pertemuan angin (konvergensi), serta melintasnya fenomena gelombang atmosfer Equatorial Rossby mulai tanggal 23 November 2025 di wilayah Jawa Timur.
Perjalanan Fida Pangesti ke Austria, Gabungkan Tata Bahasa Indonesia dan AI dalam Riset Doktoral

POJOKSATU.id – Perjalanan Fida Pangesti SPd MA, dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menuju studi doktoral di Austria menyimpan cerita yang panjang, penuh putaran, sekaligus inspiratif. Ia sudah mengincar beasiswa IASP sejak dua tahun lalu, meski saat itu masih terkendala syarat tahun kelulusan yang belum terpenuhi. Nah, justru rangkaian pengalamannya—mulai Microcredential Literacy di Western Sydney University Australia pada 2023 hingga program PKBI di UPI Bandung pada 2024, membuka jalur baru yang mempertemukannya dengan dua minat besarnya: pengajaran tata bahasa Indonesia dan perkembangan kecerdasan buatan (AI). Austria menjadi pilihannya bukan hanya karena kualitas akademiknya yang kuat, tetapi juga karena lingkungan studi yang aman, inklusif, dan ramah bagi peneliti internasional. “Saya sudah mengetahui beasiswa IASP sejak dua tahun lalu dan tertarik karena kualitas institusi di Austria. Ketika syarat masa kelulusan magister dihapus, saya merasa inilah waktunya mencoba. Perjalanan akademik sejak 2023 justru menjadi pintu yang mengarahkan saya sampai ke titik ini,” ujarnya, Rabu (26/11/2025). Seleksi Ketat dan Tantangan Supervisor Proses seleksi beasiswa berlangsung cukup intens, mulai seleksi berkas hingga wawancara luring bersama empat pewawancara Austria dan satu pewawancara Indonesia. Wawancara pun langsung masuk ke inti riset yang ia ajukan, tanpa basa-basi. “Yang paling menantang adalah mencari supervisor karena banyak yang menolak topik saya. Wawancara juga langsung masuk ke riset tanpa perkenalan, seperti seminar proposal versi kilat,” katanya. Riset: AI untuk Tingkatkan Kesadaran Kebahasaan Penelitian doktoral Fida mengusung topik AI-Assisted Grammar Learning in Indonesian as a Foreign Language. Fokusnya pada bagaimana generative-AI dapat meningkatkan metalinguistic awareness atau kesadaran kebahasaan pemelajar BIPA. Menurutnya, tata bahasa sering dianggap “menguras tenaga” baik bagi pengajar maupun pemelajar.
Kadis PUPR Batu sekaligus Alumnus UMM Beri Motivasi ke Wisudawan

Agroredaksi.com-Suasana Wisuda Ke-120 Universitas Muhammadiyah Malang pada 27 November 2025 mencapai puncaknya ketika Ir. Alfi Nurhidayat, Kepala Dinas PUPR Kota Batu, menyampaikan cerita suksesnya yang sarat akan makna. Pidato Alfi yang juga alumnus UMM ini menjadi momen pembuka yang menggerakkan para wisudawan untuk menatap dunia baru dengan keberanian dan keteguhan hati. Dalam sambutannya, Alfi menyampaikan syukur dan terima kasih atas dukungan UMM yang menurutnya sangat berarti. Ia menegaskan pentingnya menjaga hubungan sesama alumni dan memberikan kontribusi terbaik bagi diri sendiri, kampus, hingga masyarakat. Ia menekankan satu pesan yang kuat bahwa para lulusan hari ini akan melangkah ke dunia nyata yang sifatnya tidak selalu mudah, tetapi bekal keilmuan dari UMM menjadi modal untuk melewati setiap tantangan. “Saya yakin semua wisudawan dan wisudawati bisa melampaui semua ujian itu dan bisa sukses,” katanya. Ia juga memberikan ucapan selamat kepada para wisudawan dan orang tua dengan penuh penghargaan. Ia mengajak mereka menanamkan keyakinan bahwa perjalanan hidup tidak memiliki garis akhir. Dikarenakan setiap tahap selalu membuka peluang untuk belajar dan bertumbuh. Setiap pencapaian hanyalah jeda singkat sebelum langkah baru dimulai. Hidup terus bergerak, dan para wisudawan ikut berkembang bersama alurnya. Agroredaksi.com-Suasana Wisuda Ke-120 Universitas Muhammadiyah Malang pada 27 November 2025 mencapai puncaknya ketika Ir. Alfi Nurhidayat, Kepala Dinas PUPR Kota Batu, menyampaikan cerita suksesnya yang sarat akan makna. Pidato Alfi yang juga alumnus UMM ini menjadi momen pembuka yang menggerakkan para wisudawan untuk menatap dunia baru dengan keberanian dan keteguhan hati. Dalam sambutannya, Alfi menyampaikan syukur dan terima kasih atas dukungan UMM yang menurutnya sangat berarti. Ia menegaskan pentingnya menjaga hubungan sesama alumni dan memberikan kontribusi terbaik bagi diri sendiri, kampus, hingga masyarakat. Ia menekankan satu pesan yang kuat bahwa para lulusan hari ini akan melangkah ke dunia nyata yang sifatnya tidak selalu mudah, tetapi bekal keilmuan dari UMM menjadi modal untuk melewati setiap tantangan. “Saya yakin semua wisudawan dan wisudawati bisa melampaui semua ujian itu dan bisa sukses,” katanya. Ia juga memberikan ucapan selamat kepada para wisudawan dan orang tua dengan penuh penghargaan. Ia mengajak mereka menanamkan keyakinan bahwa perjalanan hidup tidak memiliki garis akhir. Dikarenakan setiap tahap selalu membuka peluang untuk belajar dan bertumbuh. Setiap pencapaian hanyalah jeda singkat sebelum langkah baru dimulai. Hidup terus bergerak, dan para wisudawan ikut berkembang bersama alurnya. Sementara itu, Prof. Dr. Thohir Luth, M.A., selaku Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur turut menyampaikan apresiasi mendalam. Menurutnya, UMM telah menunjukkan pergerakan jihad fisabilillah melalui kerja keras, kerja cerdas, dan kemampuan mengikuti perkembangan global. Ia mengungkapkan kebanggaan kepada para orang tua yang mempercayakan putra putrinya untuk ditempa menjadi intelektual yang berilmu dan berakhlak. Meski begitu, Thohir memperingatkan bahwa mulai esok para wisudawan memasuki wilayah baru yang ia sebut sebagai kampus tanpa tembok, tempat rintangan dan cobaan hadir tanpa pola. Ia berpesan agar para lulusan menjaga integritas dan martabat diri, serta menjadi pribadi shaleh dan shalehah yang membanggakan keluarga, bangsa, dan negara. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengajak para wisudawan menjadikan momen wisuda sebagai waktu refleksi. Menurutnya, ukuran kehidupan bukanlah gelar semata, tetapi kontribusi. Sekecil apa pun bentuknya, yang penting bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Ia menekankan pentingnya profesionalitas serta kemampuan membawa diri dengan baik di tengah masyarakat. Ia mengutip kalimat dari Andrew Grove, CEO Intel Corporation, ‘Only paranoid survive’ yang ia jelaskan sebagai sikap untuk terus mawas diri dan memperbaiki kekurangan demi menjaga amanah dan kepercayaan publik. Baginya, peningkatan kualitas ibadah adalah fondasi utama dalam menjaga integritas dan orientasi hidup. (Sfl)
UMM Tambah Tiga Guru Besar Kuasai Bidang Ekologi Industri, Keperawatan Komunitas, hingga Pendidikan Islam

Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan posisinya sebagai kampus penggerak peradaban. Melalui riset mendalam, gagasan visioner, dan komitmen panjang terhadap kemajuan bangsa, UMM kembali mengukuhkan tiga guru besar baru pada 26 November 2025. Kepakaran yang dimiliki juga menarik, mulai dari ilmu pendidikan islam, ekologi dan keberlanjutan industri, hingga keperawatan komunitas. Mereka adalah Prof. Dr. Khozin, M.Si., Prof. Dr. Ir Ahmad Mubin, S.T., M.T., serta Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M. Kep., Sp.Kom. Sesi orasi ilmiah Prof. Dr. Ir Ahmad Mubin, S.T., M.T. Orasi ilmiah pertama diawali oleh Mubin yang menguraikan bahwa industri modern harus bergerak melampaui orientasi profit semata. Industri harus mengadopsi prinsip triple bottom line yang menekankan keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan sosial. Ia menegaskan bahwa ekologi industri adalah kerangka penting untuk menjawab tantangan global, terutama melalui penerapan circular economy, efisiensi sumber daya, dan pengembangan proses produksi ramah lingkungan. Menurutnya, keberlanjutan tidak dapat dicapai tanpa instrumen evaluasi yang kredibel. Oleh sebab itu, penggunaan Sustainability Balanced Scorecard, standar Global Reporting Initiative (GRI), metode pembobotan AHP, hingga OMAX sebagai perangkat analitis untuk memantau dampak keberlanjutan secara akurat harus ada. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan menilai efektivitas strategi lingkungan dan sosial secara terukur. Mubin juga menyampaikan beberapa rekomendasi kebijakan. Termasuk penguatan regulasi industri hijau, pemberian insentif inovasi ramah lingkungan, pengembangan eco-industrial parks, serta peningkatan kapasitas SDM berorientasi teknologi bersih. “Dengan perencanaan strategis, implementasi teknologi bersih, kolaborasi antar industri (simbiosis industri) dan dukungan kebijakan yang tepat, industri dapat berperan sebagai motor penggerak ekonomi yang ramah lingkungan. Selain itu juga bisa membantu meningkatkan kesejahteraan sosial dan memiliki daya saing global,” katanya. Sesi orasi ilmiah oleh Prof. Dr. Khozin, M.Si. Di sisi lain, Khozin yang menyoroti pentingnya perumusan nilai dasar sebagai pondasi ekosistem sekolah di tengah pesatnya perkembangan pendidikan Islam. Menurutnya, banyak lembaga pendidikan tumbuh tanpa kerangka nilai yang jelas sehingga budayanya rapuh. Ia menegaskan tiga nilai fundamental utama yakni ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan sebagai inti pembentukan karakter peserta didik. Nilai-nilai ini kemudian melahirkan nilai inti seperti amanah, empati, solidaritas, dan inovasi. Kemudian diterjemahkan secara konkret melalui budaya sekolah seperti 5S, disiplin, kolaborasi, dan perbaikan berkelanjutan. Menurutnya, tiga nilai dasar yakni ketuhanan, kemanusiaan dan keadilan merupakan pondasi dalam menyusun nilai-nilai inti (core values), nilai-nilai instrumental, dan akhirnya mewujud menjadi ekosistem sekolah. Khozin menekankan, pendidikan Islam harus kembali pada misi utamanya yaitu membentuk manusia merdeka dan berperadaban. Bukan sekadar menyampaikan pengetahuan. “Sekolah dengan ekosistem dan budaya yang baik tentu akan melahirkan lulusan yang memiliki kualitas dan kuantitas yang baik, hidup bahagia di bawah lindungan syariat Islam, serta berkontribusi untuk kemanusiaan. Kalau ingin ekosistem dan budaya sekolah lebih kuat dan kokoh, serta adapti” terhadap gempuran perubahan, maka ekosistem dan budaya itu mestinya berdiri di atas pondasi dasar (fundamental values) dan nilai-nilai utama (core values) yang kuat,” katanya. Sesi orasi ilmiah Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M. Kep., Sp.Kom. Terakhir, Yoyok menjelaskan bahwa stunting bukan hanya krisis persoalan gizi, tapi juga krisis kemanusiaan. Ia menyebut stunting sebagai bentuk ‘kemiskinan biologis’ yang menghambat kecerdasan, kesehatan, dan produktivitas generasi muda. Meski angka stunting nasional telah turun menjadi 19,8% di 2024, ancaman tetap besar. Terutama di wilayah seperti Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT) yang pernah mencatat prevalensi lebih dari 42–50%. Ia memaparkan berbagai program UMM sebagai Impactful University yang hadir secara langsung di masyarakat NTT. Mulai dari penguatan parenting self-efficacy, Gerakan Ibu Tangguh, edukasi pola asuh, hingga intervensi infrastruktur melalui pembangunan sumur bor 71 meter di Desa Nusa. Mengakhiri kalimatnya, Yoyok menyampaikan pentingnya kehadiran ‘profesor penggerak’. Para akademisi yang tidak hanya aktif menerbitkan riset, tetapi juga hadir nyata di tengah masyarakat. “Kita tidak akan membangun Indonesia Emas 2045 hanya dengan bangunan tinggi dan ekonomi kuat, tetapi dengan anak-anak yang sehat, keluarga yang percaya diri, dan masyarakat yang saling menguatkan,” tegasnya. (Djoko W)
Ketua Majelis Dikdasmen PNF PWM Jatim Resmi Guru Besar, Ini Gagasannya tentang Nilai-Nilai Dasar Ekosistem Sekolah

Prof. Dr. Khozin, M.Si. menegaskan bahwa masa depan pendidikan Islam harus bertumpu pada tiga pilar: ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan. Pengukuhan guru besarnya menjadi momentum penting bagi pembaruan ekosistem sekolah Muhammadiyah. Tagar.co – Theater Dome Rabu (26/11/25) pagi terasa hangat. Deretan tokoh Muhammadiyah, akademisi, kepala sekolah, dosen, serta keluarga hadir untuk menyaksikan momen istimewa: pengukuhan tiga guru besar baru. Mereka adalah Prof. Dr. Khozin, M.Si.; Prof. Dr. Ir. Ahmad Mubin, S.T., M.T.; dan Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom., Prof. Dr. Khozin, M.Si., sosok yang selama puluhan tahun mengabdikan diri pada gerakan pendidikan hingga akhirnya dikukuhkan sebagai Guru Besar Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Malang. Dia saat ini menjabat Ketua Majelis Dikdasmen PNF Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim Saat berdiri di podium, Prof. Khozin menyampaikan orasi ilmiah dengan tema yang terasa sangat dekat dengan dunia yang selama ini digelutinya: Nilai-Nilai Dasar Ekosistem Sekolah. Suaranya tenang, namun gagasannya mengalir kuat—menggambarkan hasil perenungan panjang tentang apa yang sesungguhnya membuat sebuah sekolah hidup, bertahan, dan berkembang. Baca naskah lengkap orasi ilmiah Prof. Khozin: Nilai-Nilai Dasar Ekosistem Sekolah Mengawali orasi ilmiahnya, Prof. Dr. Khozin, M.Si. langsung menempatkan fondasi moral sebagai titik berangkat pemikiran. “Mengawali orasi ini saya ingin mengutip pernyataan klasik dari seorang cendekiawan Amerika yang pernah menjadi Menteri Kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan pada pemerintahan John F. Kenedy, John Gardner (1933),” ujarnya sambil membacakan kutipan yang dikemukakan oleh Madjid (1992). Gardner mengatakan, “No nation can achieve greatness unless it believes in something, and unless that something has moral dimensions to sustain a great civilization.” “Tidak ada bangsa yang dapat mencapai kebesarannya, jika tidak bangsa itu percaya kepada sesuatu, dan jika tidak sesuatu yang dipercayainya itu memiliki dimensi-dimensi moral guna menopang peradaban besar itu.” Prof. Khozin kemudian mengutip catatan kritis dari Nurcholish Madjid yang menambahkan konteks penting. Kepercayaan kepada “sesuatu”, menurut Madjid, melahirkan sistem kepercayaan yang umumnya disebut agama. Pengalaman manusia sepanjang sejarah, ujarnya, “lebih banyak berdasarkan, atau berpusat pada legenda, dan mitologi.” Karena itu, jelas Prof. Khozin melalui naskahnya, “sesuatu” yang dimaksud Gardner lebih tepat dimaknai sebagai nilai-nilai yang bersumber dari ajaran agama. Pada konteks pendidikan Islam, maka nilai itu adalah nilai-nilai yang bersumber dari Al-Qur’an, As-Sunah, dan ijtihad. Dalam bagian ini, ia menegaskan bahwa pendidikan Islam harus menjadikan Islam sebagai “sumber nilai, sumber motivasi, dan inspirasi penyelenggaraannya.” Adapun tiga nilai dasar atau fundamental values yang menopang pendidikan Islam—ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan—dipahami sebagai nilai yang bersifat universal. Istilah nilai dasar digunakan “untuk menghindari klaim terlalu besar terhadap Islam, yang ajarannya memang sangat luas.” Prof. Khozin kemudian menarik pernyataan Gardner ke dunia pendidikan masa kini. Ia menyebut bahwa hanya sekolah atau madrasah yang memiliki ekosistem sehat dan budaya positif berbasis Kebenaran Tertinggi yang akan mampu bertahan. Sebaliknya, lembaga yang tidak ditopang nilai moral secara kuat “perlahan akan mengalami keterpurukan, dan pasti kemudian gulung tikar.” Situasi ini, tambahnya, juga dapat menimpa satuan pendidikan Islam jika tidak membangun fondasinya secara serius. Ia mengingatkan bahwa keberlangsungan sekolah adalah tanggung jawab manajerial, bukan sekadar penggunaan simbol keagamaan atau nama Islam semata. Label seperti sekolah Islam, sekolah Muhammadiyah, atau Global Islamic School, katanya, “tidak otomatis terjamin keberlangsungannya.” Berdasarkan pengamatan lapangan, Prof. Khozin mencatat bahwa banyak sekolah dan madrasah tumbuh menjadi lembaga unggul bukan karena modal finansial atau material melimpah, melainkan karena pengetahuan agama yang dipraktikkan secara konsisten. Ia menyebut bahwa “para sarjana agama yang saleh dan berpaham Islam berkemajuan umumnya berhasil membawa perubahan besar di sekolah/madrasah yang dipimpinnya.” Ia juga mencatat fenomena serupa pada kepala sekolah yang bukan sarjana agama tetapi konsisten mengamalkan ajaran Islam. Karena itu, ia menyimpulkan: “Semua yang memiliki pengetahuan agama yang baik, kemudian konsisten mengamalkan untuk kemajuan sekolah/madrasah/satuan pendidikannya umumnya mereka atas perkenan Allah dapat membawa kemajuan.” Pengamatan ini, katanya, berlangsung di banyak tempat. Dalam orasi tersebut, Prof. Khozin menjelaskan bahwa ekosistem sekolah yang sehat dan berbudaya positif sesungguhnya hanyalah “akibat.” Di baliknya, ada pandangan dunia (world view) para warga sekolah—terutama para aktor kunci. Pandangan mereka terhadap nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan menjadi faktor utama kemajuan pendidikan Islam. Pandangan fundamental inilah yang menurunkan nilai-nilai utama atau core values. Ia mengutip kajian yang menyebutkan bahwa banyak sekolah Islam berkembang setelah menetapkan nilai-nilai inti tersebut. Nilai inti inilah yang kemudian melahirkan norma atau tata aturan yang disepakati bersama yang ia sebut sebagai instrumental values. Nilai instrumental inilah yang menghasilkan “artefak berupa ekosistem sekolah,” yang dalam praktik sering dipahami sebagai budaya sekolah. Meski demikian, Prof. Khozin menegaskan bahwa budaya sekolah hanyalah bagian dari ekosistem yang ia maksudkan. Ia lalau menjelaskan bahwa konsep school ecosystem, instrumental values, core values, dan fundamental values. Nilai dasar disebut demikian karena esensi Islam memang berada pada tauhid; pemahaman terhadap ketuhanan akan menghantarkan pada penghayatan kemanusiaan dan keadilan. Dampaknya, para pengambil kebijakan akan membentuk keputusan berdasarkan pandangan dunia tersebut. Di bagian ini, Prof. Khozin mengungkapkan bahwa urutan pemikiran dalam naskah sengaja dibuat terbalik: dimulai dari ekosistem dan budaya sekolah, lalu turun ke norma dan nilai dasar. “Cara ini dipilih semata-mata untuk memudahkan warga sekolah memahami rencana pengembangan ekosistem dan budaya sekolah,” ujarnya, sebelum masuk pada nilai-nilai fundamental. Pendekatan ini, menurutnya, mengajak warga sekolah bergerak “dari tahapan berfikir konkret menuju cara berfikir abstrak.” Ragam Pendidikan Islam Setelah membuka orasinya dengan fondasi nilai, Prof. Dr. Khozin, M.Si. perlahan menggeser pembahasan ke realitas lapangan. Dengan gaya yang tenang namun terstruktur, ia mengajak hadirin memahami betapa luas dan kompleksnya dunia pendidikan Islam di Indonesia. “Pendidikan Islam itu beragam,” ujarnya, lalu menjelaskan bahwa ragam tersebut bukan sekadar berbeda nama, tetapi juga bentuk, jenjang, dan payung kelembagaannya. Ia menggambarkan bagaimana madrasah, pesantren, pendidikan diniyah, hingga Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) seluruhnya berada di bawah Kementerian Agama. Sementara itu, sekolah Islam dan perguruan tinggi umum berciri Islam berada di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kemendikti Saintek. Kompleksitas struktur itu, katanya, bisa disederhanakan menjadi satu pemahaman: selama suatu lembaga mendasarkan programnya pada ajaran Islam, maka ia bagian dari pendidikan Islam. Begitu pula, semua aktivitas yang bertujuan menanamkan nilai-nilai Islam pada peserta didik dapat dikategorikan sebagai pendidikan Islam. Karena kategorinya luas, variasi bentuk lembaga juga sangat besar. Prof. Khozin menyebut ada yang berskala kampung, ada pula yang bergerak pada level nasional hingga internasional. Kualifikasinya pun berbeda-beda, mulai dari unggul utama, unggul madya, hingga unggul pratama.
UMM Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru, Soroti Industri Hijau hingga Krisis Stunting

SURYAMALANG.COM, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) baru saja mengukuhkan tiga guru besar menjelang akhir tahun ini, Rabu (26/11/2025). Tiga profesor baru yang resmi dikukuhkan tersebut masing-masing dengan kepakaran yang menyentuh tiga isu strategis Indonesia, yakni industri hijau, ekosistem pendidikan Islam, dan krisis stunting yang masih menghantui generasi muda. Ketiga guru besar tersebut adalah Prof. Dr. Ir. Ahmad Mubin, S.T., M.T, Prof. Dr. Khozin, M.Si. dan Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom. Ketiganya memaparkan orasi ilmiah yang menyoroti tantangan nasional sekaligus menawarkan peta jalan solutif berbasis riset. Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Ahmad Mubin, menguraikan bahwa industri modern harus bergerak melampaui orientasi profit semata. Industri harus mengadopsi prinsip triple bottom line yang menekankan keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan sosial. Ia menekankan pentingnya ekologi industri sebagai kerangka baru untuk menjawab tantangan global. Circular economy, efisiensi sumber daya, dan proses produksi ramah lingkungan menjadi kunci. Prof. Mubin juga menilai bahwa keberlanjutan tidak akan tercapai tanpa pengukuran yang kredibel. Karena itu, ia menyoroti penggunaan berbagai instrumen seperti Sustainability Balanced Scorecard, GRI, AHP, hingga OMAX sebagai alat analitis. Ia mendorong pemerintah memperkuat regulasi industri hijau, insentif inovasi ramah lingkungan, hingga pembangunan eco industrial parks. “Industri dapat menjadi motor ekonomi sekaligus ramah lingkungan jika teknologi bersih dan kebijakan tepat berjalan bersama,” ucapnya. Sementara itu, Prof. Khozin mengangkat isu krisis nilai di lembaga pendidikan Islam. Menurutnya, banyak sekolah tumbuh tanpa pondasi nilai yang jelas sehingga budaya sekolah rapuh menghadapi perubahan.
Resmi Dikukuhkan, Tiga Guru Besar UMM Ini Kuasai Bidang Ekologi Industri, Keperawatan Komunitas, hingga Pendidikan Islam

pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan posisinya sebagai kampus penggerak peradaban. Pada 26 November 2025, UMM mengukuhkan tiga guru besar baru dengan kepakaran yang mencerminkan keluasan tradisi keilmuan kampus putih: pendidikan Islam, ekologi dan keberlanjutan industri, serta keperawatan komunitas. Mereka adalah Prof. Dr. Khozin, M.Si., Prof. Dr. Ir. Ahmad Mubin, S.T., M.T., dan Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom. Industri Harus Melampaui Profit Orasi ilmiah pertama disampaikan Prof Ahmad Mubin. Ia menguraikan bahwa industri modern tak lagi bisa bertumpu pada orientasi profit semata. Dunia usaha harus mengadopsi prinsip triple bottom line—keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan sosial. Menurutnya, ekologi industri menawarkan kerangka strategis untuk menjawab tantangan global: mulai circular economy, efisiensi sumber daya, hingga proses produksi ramah lingkungan. Semua itu hanya bisa berjalan jika ditopang instrumen evaluasi yang kredibel, seperti Sustainability Balanced Scorecard, standar GRI, metode pembobotan AHP, hingga OMAX. Ia juga mengajukan sejumlah rekomendasi kebijakan: penguatan regulasi industri hijau, insentif inovasi lingkungan, pengembangan eco-industrial parks, hingga peningkatan kapasitas SDM teknologi bersih. “Dengan perencanaan strategis, implementasi teknologi bersih, kolaborasi antarsektor, dan dukungan kebijakan yang tepat, industri dapat menjadi motor ekonomi yang ramah lingkungan, meningkatkan kesejahteraan sosial, dan bersaing di level global,” tegasnya. Pendidikan Islam Butuh Fondasi Nilai yang Kokoh Sementara itu, Prof Khozin menyoroti urgensi perumusan nilai dasar sebagai pondasi ekosistem sekolah di tengah pesatnya perkembangan pendidikan Islam. Banyak lembaga, menurutnya, tumbuh tanpa kerangka nilai yang jelas sehingga budaya sekolah menjadi rapuh. Ia menegaskan tiga nilai fundamental: ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan. Dari sinilah lahir nilai inti seperti amanah, empati, solidaritas, dan inovasi. Nilai-nilai tersebut kemudian diterjemahkan dalam budaya sekolah—5S, disiplin, kolaborasi, hingga perbaikan berkelanjutan. “Kalau ingin ekosistem dan budaya sekolah kuat menghadapi perubahan, maka semuanya harus berdiri di atas fundamental values dan core values yang kokoh,” jelasnya. Ia menekankan bahwa pendidikan Islam harus kembali pada misi utamanya: membentuk manusia merdeka dan berperadaban, bukan sebatas mentransfer pengetahuan. Stunting: Krisis Gizi sekaligus Krisis Kemanusiaan Mengakhiri rangkaian orasi, Prof Yoyok memaparkan bahwa stunting bukan sekadar masalah gizi, tetapi krisis kemanusiaan. Ia menyebutnya bentuk “kemiskinan biologis” yang menghambat kecerdasan, kesehatan, dan produktivitas generasi. Meski angka stunting nasional turun menjadi 19,8 persen pada 2024, ancaman masih besar terutama di wilayah seperti Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, yang pernah mencatat prevalensi lebih dari 42–50 persen. Yoyok kemudian menampilkan berbagai program pengabdian UMM sebagai Impactful University di NTT: penguatan parenting self-efficacy, Gerakan Ibu Tangguh, edukasi pola asuh, hingga intervensi infrastruktur melalui pembangunan sumur bor 71 meter di Desa Nusa. Ia menegaskan pentingnya kehadiran “profesor penggerak”—akademisi yang tidak hanya aktif menerbitkan riset tetapi juga hadir di tengah masyarakat. “Kita tidak akan membangun Indonesia Emas 2045 hanya dengan bangunan tinggi dan ekonomi kuat, tetapi dengan anak-anak yang sehat, keluarga yang percaya diri, dan masyarakat yang saling menguatkan,” ujarnya. Dengan bertambahnya tiga guru besar ini, UMM kembali memperkuat komitmennya untuk menghadirkan riset yang berdampak, pendidikan yang memerdekakan, dan pengabdian yang menjangkau masyarakat secara nyata. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Azrohal Hasan
UMM Kukuhkan Tiga Guru Besar, Perkuat Daya Saing Pendidikan dan Riset

MAKLUMAT – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) semakin menegaskan perannya sebagai kampus penggerak peradaban. Hal itu terlihat dari pengukuhan tiga guru besar baru yang digelar di Dome UMM. Mereka adalah Prof. Dr. Ir. Ahmad Mubin, S.T., M.T. dari bidang Teknik Industri, Prof. Dr. Khozin, M.Si. dari Pendidikan Islam, serta Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom., dari Keperawatan Komunitas. Ketiganya telah mampu memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan riset dan inovasi di level nasional hingga internasional. Dalam orasi ilmiahnya, Prof Ahmad Mubin menyoroti pentingnya circular economy dan industri berkelanjutan. Menurutnya, perusahaan di masa depan tidak hanya mengejar laba, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan dan kesejahteraan sosial. Ia menegaskan konsep sustainability balanced scorecard dapat menjadi strategi bisnis yang mendorong efisiensi, sekaligus memperkuat daya saing industri nasional. Penguatan Karakter dan Peradaban Sementara itu, Prof Khozin menekankan kembali nilai dasar pendidikan Islam yang berpijak pada kemanusiaan, keadilan, dan pembentukan karakter. “Pendidikan Islam harus melahirkan generasi yang berpikir kritis, kreatif, dan berkontribusi bagi kehidupan,” ujarnya. Ia menyebut UMM terus mengembangkan model pendidikan yang memadukan ilmu, iman, dan praktik kemasyarakatan. Di bidang kesehatan, Prof Yoyok Bekti menyoroti kasus stunting sebagai bentuk kemiskinan biologis yang harus tuntas melalui intervensi lintas sektor. Model intervensi kesehatan telah diterapkan di berbagai daerah, termasuk Nusa Tenggara Timur. UMM menargetkan riset keperawatan komunitas dapat mendukung pemerintah mencapai Indonesia Emas 2045, khususnya dalam peningkatan kualitas SDM. Komitmen UMM untuk Negeri Rektor UMM, Prof., Dr., Nazaruddin Malik, M.Si., menyebut tambahan tiga guru besar ini menjadi bukti keseriusan kampus dalam memperkuat kualitas pendidikan dan riset yang berdampak pada masyarakat. “UMM akan terus menghadirkan inovasi dan melahirkan akademisi unggul untuk menjawab tantangan bangsa,” tegasnya. Dengan pengukuhan ini, UMM berharap dapat memperluas kerja sama penelitian, memperkuat jejaring global, serta menjaga komitmen sebagai kampus yang mencetak pemimpin peradaban.