Pemisahan Antara Pemilu Nasional dan Lokal, Begini Tanggapan Dosen UMM

PWMU.CO – Pemisahan antara pemilu nasional dan lokal dinilai sebagai manuver besar yang bisa memperkuat demokrasi lokal. Namun sekaligus hasil putusan Mahkamah Konstitusi ini membuka risiko konstitusional dan ketidakefektifan tata kelola politik. Kebijakan ini bukan hanya soal pemisahan jadwal, tetapi menyangkut struktur kekuasaan, arah kebijakan, dan kepercayaan publik terhadap sistem politik. Menurut dosen senior PPKn Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr Nurul Zuriah MSi, pemisahan ini memang bisa menciptakan ruang kontestasi yang lebih sehat. Isu-isu lokal tidak akan lagi tertutup oleh dominasi narasi nasional. Pemilih juga dapat lebih fokus pada rekam jejak dan kapabilitas kandidat di tingkat daerah. Namun, ia menilai bahwa dampaknya terhadap stabilitas politik dan efektivitas pemerintahan tidak bisa dianggap remeh. Tanpa sinergi antara caleg pusat dan daerah, partai politik harus bekerja dua kali lebih keras dan mahal untuk menggalang dukungan publik. “Koalisi antara pusat dan daerah bisa tidak sejalan. Ini membuka ruang disharmoni kebijakan, yang berisiko memecah arah pembangunan nasional dan daerah,” jelasnya. Beban anggaran politik juga akan membengkak. Dua siklus pemilu berarti dua kali kampanye, dua kali logistik, dan dua kali pengamanan. Meskipun beban teknis penyelenggara seperti KPU dan Bawaslu lebih ringan, masyarakat bisa mengalami kejenuhan politik karena terlalu sering dimobilisasi. Permasalahan paling mengkhawatirkan adalah persoalan konstitusional. UUD 1945 menyebut pemilu dilakukan setiap lima tahun. Sementara putusan Mahkamah Konstitusi memberi jeda antara pemilu nasional dan lokal hingga 2,5 tahun. Ini menimbulkan ketimpangan masa jabatan dan berpotensi menyebabkan kekosongan jabatan legislatif maupun eksekutif. “Kalau tidak diantisipasi, bisa terjadi pelanggaran konstitusi. DPRD bisa menjabat melebihi lima tahun, atau malah terjadi kekosongan tanpa mekanisme pengganti,” ujarnya. Oleh karena itu, diperlukan rekayasa konstitusional berupa revisi undang-undang atau amendemen terbatas untuk menutup celah hukum ini. Pemerintah juga harus segera menyusun regulasi transisi yang tegas dan implementatif, bukan sekadar administratif. Jika dijalankan dengan sistematis, pemisahan ini bisa meningkatkan kualitas kaderisasi dan representasi politik. Partai punya waktu lebih panjang menyiapkan kandidat terbaik, dan kandidat lokal bisa bersinar tanpa ‘menumpang tenar’ pada popularitas pusat. Namun, Nurul menekankan bahwa semua itu hanya bisa tercapai kalau masyarakat aktif, kritis, dan tidak lagi hanya ikut arus. “Pemilu harus jadi alat perbaikan kehidupan masyarakat, bukan sekadar agenda politik lima tahunan,” pungkasnya. Dengan demikian, pemisahan pemilu nasional dan lokal memerlukan perencanaan yang matang dan implementasi yang efektif untuk menghindari risiko konstitusional dan meningkatkan kualitas demokrasi. (*) Sumber: https://pwmu.co/436845/07/16/pemisahan-antara-pemilu-nasional-dan-lokal-begini-tanggapan-dosen-umm/
Tim Maharesigana UMM Juara 2 Lomba LDP Tingkat Nasional di Jambore Relawan Muhammadiyah-Aisyiyah 2025

Malanginspirasi.com – Tim relawan Maharesigana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih Juara 2 dalam Lomba Layanan Dukungan Psikososial (LDP) Tingkat Nasional. Kompetisi yang digelar sebagai bagian dari Jambore Relawan Nasional Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-3 ini berlangsung pada 26–29 Juni 2025 di Karanganyar, Jawa Tengah. Lomba ini menjadi ajang pembuktian kapasitas relawan muda dalam memberikan pelayanan psikososial yang responsif, empatik, dan berbasis kebutuhan penyintas bencana. Dalam pelaksanaannya, tim LDP Maharesigana UMM yang beranggotakan 3 orang. Ketiganya adalah Rahma Aldina Rafina Putri, Fadlila Risang Maulana, dan Fadhila Azzahra. Mereka menyajikan rancangan program layanan psikososial yang kontekstual dan tepat sasaran. Program tersebut meliputi asesmen cepat, intervensi psikososial awal, serta pendampingan kelompok rentan secara kreatif dan profesional. Rahma Aldina, selaku Koordinator Tim Lomba LDP sekaligus Ketua Kontingen Maharesigana UMM, menyampaikan rasa bangga atas pencapaian timnya. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja sama dan komitmen seluruh anggota tim yang telah mempersiapkan diri dengan serius. “Kami sangat bersyukur dan bangga atas pencapaian ini. Namun, lebih dari sekadar lomba, Jambore ini adalah ruang belajar bersama. Bukan sekadar ajang bersaing, tetapi juga momentum untuk saling bertukar ilmu dan memperkuat kolaborasi dalam penanganan kebencanaan, terutama di sektor layanan dukungan psikososial,” ujar Rahma. Tim LDP Maharesigana UMM menunjukkan skema program yang telah disusun di Lomba LDP Tingkat Nasional di Jambore Relawan Muhammadiyah-Aisyiyah 2025. Sementara itu, Indra Ferry, selaku Pembina Maharesigana UMM, turut memberikan apresiasi dan menyoroti pentingnya dukungan kelembagaan dalam mengembangkan potensi relawan mahasiswa. “Capaian ini adalah bukti nyata bahwa mahasiswa mampu berkontribusi secara profesional dalam isu-isu kemanusiaan, khususnya layanan psikososial. Kami dari pembina tentu akan terus mendorong dan mendampingi Maharesigana UMM agar menjadi garda terdepan dalam penanganan bencana yang inklusif dan berkelanjutan,” ungkapnya. Apresiasi juga disampaikan Wakil Ketua MDMC/Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Indrayanto. Ia menilai peran mahasiswa relawan sangat penting dalam penguatan sistem kebencanaan Muhammadiyah. “Kelompok mahasiswa relawan yang ada di Universitas Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah ini menjadi kekuatan yang strategis dalam proses membangun pengurangan risiko bencana, kesiapsiagaan, dan penanganan darurat bencana,” ujarnya. Pencapaian ini menjadi motivasi bagi Maharesigana UMM untuk terus meningkatkan kapasitas dan kontribusinya. Juga komitmen dalam mencetak relawan tangguh dan berdaya baik di tingkat lokal maupun nasional.
UMM Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Olimpiade Sains Nasional 2025

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggaraan Olimpiade Sains Nasional (OSN) jenjang SMA tahun 2025. Ajang bergengsi tingkat nasional ini diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Kepala Puspresnas, Dr Maria Veronica Irene Herdjiono MSi, menyampaikan bahwa pemilihan Kota Malang dan UMM sebagai lokasi pelaksanaan OSN telah melalui proses seleksi yang ketat dengan mempertimbangkan aspek teknis dan substansial. “Dari sisi akomodasi, transportasi, dan kelengkapan kota, Malang dianggap ideal untuk menunjang kegiatan nasional seperti OSN. Selain itu, kota ini juga memiliki atmosfer pendidikan yang kuat,” ujarnya, Rabu (16/7/2025). Tahun ini, Puspresnas menggelar 17 ajang prestasi nasional, lima di antaranya secara luring, termasuk OSN. UMM dipilih sebagai lokasi utama OSN setelah melalui seleksi terbuka yang mempertimbangkan kesiapan institusi dan daya dukung kampus. “UMM menjadi salah satu universitas yang paling responsif dan siap menyelenggarakan acara ini secara menyeluruh. Potensi serta kesiapan mereka sangat besar,” jelas Maria. Ia menambahkan, UMM aktif dalam pengembangan talenta pelajar dari berbagai jenjang, serta berkontribusi besar dalam penyediaan sarana-prasarana, publikasi, hingga tim panitia yang solid. “Kontribusi UMM sangat berarti, termasuk dalam urusan teknis dan promosi kegiatan. Keterlibatan aktif ini menjadi indikator utama keberhasilan penyelenggaraan OSN nanti,” ucapnya. OSN jenjang SMA 2025 akan menguji siswa dalam sembilan mata pelajaran strategis: kimia, fisika, matematika, biologi, informatika, astronomi, ekonomi, geografi, dan kebumian. Maria menyatakan, bidang-bidang ini menjadi fondasi penting bagi peningkatan daya saing sains dan teknologi Indonesia di tingkat global. “OSN bukan sekadar ajang kompetisi, tapi batu loncatan menuju kancah internasional. Tahun ini, Indonesia berhasil meraih dua medali perak dan dua perunggu di International Chemistry Olympiad (IChO),” tambahnya. Terkait jumlah peserta, OSN 2025 akan diikuti lebih dari 540 siswa dari seluruh provinsi di Indonesia, didampingi oleh 38 ketua kontingen. “Jumlah ini masih bisa bertambah tergantung dinamika dan kesiapan daerah. Namun sejauh ini, 540 peserta sudah terkonfirmasi,” jelas Maria. Seluruh peserta akan difasilitasi secara maksimal selama berada di Malang, mulai dari transportasi, akomodasi, hingga aspek keamanan. Maria menutup pernyataannya dengan harapan besar terhadap pelaksanaan OSN di UMM. “Kami berharap ajang ini tidak hanya sukses secara teknis, tetapi juga memberikan dampak nyata dalam pengembangan potensi dan karakter anak bangsa,” pungkasnya.
AmCor UMM Ajak Siswa Cakap Berbahasa Inggris

Memiliki kemampuan berbahasa Inggris dalam berkomunikasi merupakan suatu hal yang penting dalam memasuki dunia global. Belajar bahasa Inggris juga dirasa tidak cukup kalau hanya melalui materi pembelajaran di ruang kelas saja, namun harus praktek langsung. Oleh karena itu, American Corner (AmCor) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) datang ke sekolah-sekolah dan memberikan motivasi. Kali ini tim Amcor datang mengunjungi Ar-Rohmah putri pada akhir Agustus lalu. Menariknya, tim AmCor UMM tidak hanya datang dengan mahasiswa Indonesia, tapi juga ada mahasiswa asing yang berbagi ilmu. Utamanya tentang bahasa Inggris. Salah satu volunteer senior AmCor, Emeralda Narulita Halim menekankan peserta untuk percaya diri dan tidak malu berbahasa Inggris. Tak apa sekalipun cara bicaranya masih kurang baik. “Semua memang membutuhkan proses. Keberanian untuk berbicara bahasa Inggris bisa membuat teman-teman lebih baik lagi. Terus latih dan praktekkan bersama teman-teman lain,” tegasnya. Selain itu, AmCor turut menggandeng mahasiswa asing UMM asal Tanzania, Francis Raphael Sendalo. Ia memberikan waktu para peserta untuk berbiacara dengannya sebagai proses belajar bahasa Inggris. Francis juga berbagi tips mudah belajar bahasa asing serta pengalaman internasionalnya bersama para pejabat Tanzania dan negara-negara Afrika lain. Direktur AmCor UMMRia Arista Asih, P.hD. merasa senang timnya bisa berbagi ilmu di Ar-Rohmah Putri. Menurutnya, aktivitas seperti ini sangat baik untuk menignkatkan skill anak-anak muda. Apalagi bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang membantu mereka di tahap kehidupan selanjutnya. “Tak perlu malu meski bahasa Inggris dan aksesnya masih kurang. Saya yakin selama teman-teman terus berlatih, sedikit demi sedikit skill bahasa Inggris kalian akan menjadi lebih bagus. Kami juga menyediakan berbagai program yang bisa diikuti oleh mahasiswa maupun kalangan umum,” tambahnya. Di sisi lain, pembina English Club Ar-Rohmah, Laili Isna Nur Cahyani, mengucapkan terima kasih kepada AmCor UMM atas kunjungannya. Pihaknya memang ingin meningkatkan dan mengembangkan kemampuan santri dalam berbahasa. Selain itu juga skill public speaking sebagai sarana dakwah, tidak hanya dalam bahasa Indonesia tapi juga Inggris. “Sebelumnya, kami cukup kesulitan untuk mendapat pemateri yang berkualitas. Alhamdulillah, AmCor UMM datang bersama dengan pemateri berkualitas. Bahkan membawa mahasiswa asing untuk berbagi ilmu. Kami berharap kerja sama ini bisa terus terjalin dan kami pun bisa berkunjung langsung ke sana,” ungkap Laili. (zak/wil)
Dua Mahasiswa UMM Juara Debat Nasional

Sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak henti mengukir prestasi. Kali ini datang dari mahasiswa Fakultas Hukum UMM, ia adalah Amanda Putri Rahmawati dan Yogi Syahputra yang berhasil mengunci juara dua di lomba debat nasional bertajuk Public Expo 2022 pada akhir Agustus lalu. Total, terdapat 24 tim yang mengikuti perlombaan dengan menggunakan sistem debat british parliamentary, yakni dua orang dalam satu tim. Tim dari kampus putih UMM berhasil melesat ke final dan berjumpa dengan mahasiswa dari Universitas Insan Cita Indonesia. Adapun peserta lain berasal dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia seperti Universitas Sriwijaya, Universitas Hasanuddin dan lain-lain. Mahasiswi yang kerap disapa Amanda ini menuturkan jika ia dan tim mempersiapkan lomba dalam waktu singkat, namun cukup matang. Sebab ia dan Yogi telah melakukan riset mendalam terkait topik yang diangkat untuk nantinya dikemukakan ke juri dalam bentuk video. Terdapat tiga babak yang harus dilalui oleh tim kampus putih. Pertama babak penyisihan, semifinal dan kemudian final. Khusus untuk babak penyisihan, mereka mengirim video mosi ke pihak panitia. Ia dan Yogi merasa beruntung berkuliah Kampus Putih UMM. Hal itu tidak lepas dari sederet organisasi yang disediakan, baik yang meningkatkan skill di akademik maupun akademik. Terhitung, Amanda mengikuti tiga lembaga semi otonom (LSO) yang membekalinya dalam bertorika yakni LSO Peradilan Semu, Komunitas Riset dan Debat serta Pusat Kajian keilmuan (Pukas). “Dari sanalah saya belajar banyak hal. Tidak hanya ilmu jurusan yang saya tekuni, tapi juga cara berbicara, beretorika, hingga berorganisasi. Apalagi melihat bahwa lomba ini dilaksanakan secara tim, jadi mau tidak mau saya harus bisa berkompromi dan menyatukan ide bersama Yogi agar bisa memenangkan lomba ini dengan apik,” tegas mahasiswa kelahiran Lampung itu. Menurut Amanda, UMM juga sangat membantunya selama sebelum hingga proses perlombaan. Ada bimbingan, bantuan take video, mengedit video dan persiapan krusial lainnya. Bahkan nuga mengapresiasi kemenangannya dengan berbagai bentuk. “Adapun pada babak semi final kami berhadapan dengan tuan rumah, Universitas Negeri Makassar dan membahas mosi terkait pembangunan jalan tol tidak terdampak signifikan terhadap peningkatan ekonomi masyarakat. Sedangkan saat final, mosi yang diangkat adalah Konflik Palestina dan Israel serta sistem konfesionalisme lebih baik dari pada sistem two state dalam menyelesaikan konflik tersebut,” ujar mahasiswi angkatan 2020 itu. (Ros/Wil)
Haedar Nashir: Inklusif Harus jadi Bekal Pemuda Berkemajuan

Di usia kemerdekaannya yang ke-77, Indonesia telah mengalami berbagai kemajuan. Namun masih ada banyak tantangan yang menanti di depan. Oleh karenanya, peranan kaum muda dalam dalam memajukan bangsa Indonesia sangat dibutuhkan. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. pada acara konsolidasi kebangsaan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM). Kegiatan tersebut digelar secara luring di hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Senin (05/09) lalu. Lebih lanjut, Haedar sapaan akrabnya mengatakan bahwa ada beberapa masalah potensial yang akan mengancam kehidupan bangsa. Pertama adalah pembelahan politik dan idelogi. Dari pemilu ke pemilu seharusnya dapat mendewasakan masyarakat agar tidak terjadi berpecahan. Namun fakta di lapangan menunjukan bahwa pemilu selalu melahirkan perpecahan baru. Kedua, ada golongan orang yang menginginkan kekuasaan. Dalam hal ini, pembangkitan primordialisme atau keinginan menjunjung tinggi ikatan sosial sangat dibutuhkan. “Terakhir adalah bias dalam memproyeksikan ideologi kebangsaan. Beberapa kelompok kecil masyarakat yang tidak puas akan sistem kebangsaan mencoba untuk membuat idealisme sendiri dengan menggunakan Islam sebagai landasannya. Hal itu bisa menjadi sebuah ancaman bagi ideologi bangsa dan melahirkan suatu perpecahan. Pemahaman terhadap konsep pancasila harus benar-benar ditanamkan,” tegasnya menekankan. Dalam kegiatan tersebut, Haedar juga berpesan pada Angkatan Muda Muhammadiyah agar bergaul dengan berbagai macam orang yang berbeda. Hal ini akan membuka pandangan-pandangan baru yang belum pernah mereka temui. Selain itu, para kaum muda juga harus cepat tanggap terhadap perkembangan iptek dan teknologi terbaru. Hal ini akan menjadi instrumen penting dalam kemajuan Muhammadiyah kedepannya. “Jangan menjadi orang yang eksklusif, kita harus mejadi orang yang inklusif. Meskipun inklusif, kita juga harus memiliki pendirian yang kokoh dan juga pandangan-pandangan yang berkemajuan. Berkolaborasi dan saling belajar dari kesalahan satu sama lain juga menjadi hal yang penting. Saya Mpercaya, di tangan anak-anak muda, organisasi muhammadiyah dan bangsa akan memperoleh masa yang berkemajuan,” kata Haedar. Di sisi lain, perwakilan AMM, Diyah Puspitarini, M.Pd. menjelaskan bahwa gelaran acara ini dilaksanakan untuk menampung gagasan dan sumber pikiran dari para kader muda Muhammadiyah. hal ini juga akan berguna untuk kemajuan muhammadiyah dan bangsa di masa yang akan datang. “Dalam agenda ini, saya harap para narasumber dapat memberikan buah pikirannya sehingga mampu mendorong generasi muda Muhammadiyah menghasilkan ide dan inovasi cemerlang serta memberikan jalan keluar bagi persoalan bangsa,” tutur ketua umum pimpinan pusat Nasyiatul Aisyiyah itu. Senada dengan Diyah, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa konsolidasi ini penting untuk mengidentifikasi kekuatan dari berbagai perspektif yang ada. Keberadaan konsolidasi ini juga berguna untuk menyamakan persepsi serta ideologi untuk pergerakan di masa depan. “Banyak organisasi yg memiliki idealisme tapi tidak memiliki konsolidasi di dalamnya. Hal ini membuat mereka tidak dapat sampai pada tujuan yang diharapakan. Oleh karenanya, kita harus tahu dan jeli dalam melihat masa depan agar konsolidasi dapat berjalan dengan tepat. Kesempatan yang hadir saat ini, menjadi langkah strategis untuk mengidentifikasi kekuatan para Angkatan Muda Muhammadiyah dalam besaran kontribusi yang lebih besar,” ungkapnya mengakhiri. (*syi/wil)
Pra-Muktamar Muhammadiyah UMM: Matius Ho dan Romo FX Armada Riyanto Sebut Peran Toleransi Muhammadiyah bagi Kemajuan Bangsa

Kemajemukan di Indonesia bisa membawa bangsa kita menjadi lebih baik. Namun jika tidak diimbangi dengan rasa toleransi yang tinggi, kemajemukan itu akan menjadi sebuah ancaman untuk memecah belah bangsa kita. Itulah sepatah kata pembuka yang di ucapkan oleh Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, Ph.D. dalam acara Pra Muktamar yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Agenda ini berlangsung secara luring di Dome UMM pada Sabtu (03/09) lalu. Lebih lanjut, Matius mengatakan bahwa pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 telah tertanam nilai-nilai tatanan negara Indonesia. Nilai tersebut meliputi kemanusiaan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Hal ini lah yang mempersatukan kemajemukan yang ada di Indonesia dan membuat bangsa ini merdeka. Namun kemajemukan akan menjadi boomerang jika masyarakat tidak menanamkan toleransi. “Survei yang diadakan di 17 negara maju di dunia, mengatakan bahwa keberagaman merupakan faktor penting yang menjadi pendorong kemajuan. Namun di saat yang sama konflik antar kelompok meningkat. Beberapa faktor penyebab konflik yaitu partai politik, suku, agama, Kebiasaan, dan lingkungan hidup,” katanya. Terkait faktor penyebab konflik, Matius menjelaskan bahwa di negara maju penyebab utama terjadi perpecahan adalah partai politik. Namun di negara berkembang seperti Indonesia, perpecahan biasa terjadi karena agama dan suku. Selain itu, adanya sosial media juga dapat memperparah ancaman perpecahan yang dapat terjadi di masa yang akan datang. “Sosial media bisa memberi dampak kuat bagi kehidupan sosial masyarakat. Algoritma sosial media hanya akan menayangkan hal-hal yang kita sukai dan melewatkan sudut pandang dari sisi yang lain. Hal ini dapat dengan cepat membuat seseorang menjadi radikal. Belum selesai dengan media sosial, dunia telah siap dengan metaverse. Oleh karenanya, kita harus membekali diri dengan lebih baik lagi utamanya dalam konsep kebersamaan,” ungkap Matius. Ia menegaskan bahwa kemajemukan tetap menjadi modal kemajuan peradaban Indonesia dalam menghadapi ancaman polarisasi sosial, sekaligus sebagai sumbangsih bagi peradaban dunia. Matius juga mengapresiasi dan menilai bahwa dalam hal ini Muhammadiyah berada di garis terdepan. Senada dengan Matius, Prof. Dr. Romo FX Armada Riyanto menjabarkan bahwa ada beberapa masyarakat yang masih tidak menerapkan konsep kebangsaan. Maka perlu adanya gebrakan yang perlu dilakukan Muhammadiyah. Menurutnya, Muhammadiyah sudah memiliki andil besar dalam proses pembangunan bangsa. Muhammadiyah, dijelaskannya juga harus ikut andil pula dalam pembangunan tata kelola kehidupan global. Apalagi organisasi ini memiliki modal yang besar dan strategis untuk bisa melakukannya. “Saya menyarankan lima bidang yang harus dipertahankan muhammadiyah dalam merevitalisasi nilai kebudayaan yang ada dimasyarakat. Pertama adalah teladan yang baik. kedua adalah penerapan konsep inklusifitas. Ketiga adalah nilai kultural relasionalitas yang tidak diskriminasi. Keempat yakni kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan. Terakhir yaitu adanya penerapan budaya damai,” ungkap Rektor Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang itu. (*syi/wil)
Pra-Muktamar Muhammadiyah di UMM: Sejumlah Tokoh Tegaskan Peran Muhammadiyah Sambut Indonesia Emas 2045

Generasi yang akan menentukan keberhasilan Indonesia emas pada 2045 nanti adalah penduduk yang lahir di antara tahun 1980 hingga 2028 mendatang. Mereka yang akan menginjak usia produktif pada tahun di mana Indonesia berusia 100 tahun. Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. dalam Sarahsehan Pra-Muktamar Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Agenda yang dilaksanakan pada Sabtu (3/9) lalu itu turut menghadirkan sederet pembicara andal untuk menstimulasi ide dalam menyongsong Muktamar Muhammadiyah. Lebih lanjut, Muhadjir yang juga membuka acara menegaskan bahwa penduduk dengan usia produktif memiliki peran penting. Jika mereka bekerja dengan produktif, maka pendapatannya akan mengalir pada tiga hal, kebutuhan diri, pembiayaan bagi usia non-produktif, serta tabungan. Besar kecilnya tabungan ini baik dari segi individu maupun agregat akan jadi taruhan negara dalam upaya menjadi negara maju. “Kalau kita mampu memanfaatkan bonus demografi dan penduduk memiliki pendapatan yang tinggi, maka kita bisa menjadi negara maju. Kalau tidak bisa memanfaatkannya, maka bonus demografi akan menjadi sia-sia,” tutur Muhadjir. Ia juga mengatakan bahwa usia seratus tahun bagi bangsa masih dianggap sebagia usia yang muda. Bahkan Muhammadiyah lebih tua karena sudah berdiri sebelum Indonesia merdeka. Menurutnya, sudah semestinya Indonesia belajar banyak hal dari Muhammadiyah yang lebih tua. “Apalagi kalau kita lihat, sistem dan kepribadian Muhammadiyah yang lebih matang. Ini bisa jadi bahan yang bagus bagi bangsa untuk membenahi kekurangan yang ada,” tambahnya. Hadir pula dalam event itu Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elistianto Dardak. Ia mengatakan bahwa dalam dokumen Indonesia emas 2045, tercantum bahwa Indonesia diharapkan mampu menjadi negara maju, salah satu dari lima kekuatan ekonomi dunia, dan memiliki sumber daya manusia yang unggul. Selain itu juga tingkat penguasaan Iptek yang tinggi dan kesejahteraan yang lebih baik serta merata. Ia menjelaskan bahwa menurut data dari International Monetery Fund (IMF), saat ini ekonomi Indonesia berada pada peringkat 15 dunia berdasarkan nominal GDP. Sementara, jika dilihat dari purchasing power parity, Indonesia bahkan sudah berada di peringkat tujuh di dunia. Diperkirakan pada 2030 Indonesia akan masuk ke lima besar dunia dengan besaran 5,42 triliun USD. Menurutnya, target lima besar ini sangat mungkin dicapai, bahkan jauh sebelum 2045. Namun ada tantangan-tantangan yang harus segera diatasi. Dua di antaranya pengangguran generasi muda dan ancaman hilangnya pekerjaan di masa depan karena disrupsi teknologi. “Saya sangat bangga dan mengapresiasi salah satu inovasi solutif yang dilakukan oleh UMM dengan membangun Center for Future of Work (CFW) dan Center of Excellence (CoE) di kawasan ekonomi khusus Singhasari. Harapannya, CFW dan CoE bisa menjadi jawaban agar kita bisa menghadapi beragam tantangan masa depan. Banyak stakeholder di nasional maupun internasional yang turut mendukung terobosan UMM ini, termasuk di antaranya pakar marketing dunia, Hermawan Kartajaya,” ungkapnya. Dalam menghadapi tantangan tersebut, Emil juga yakin bahwa Muhammadiyah tidak hanya berhenti pada pembahasan saja. Namun juga berusaha menggas ide dan kemudian melaksanakannya sehingga bisa memberikan manfaat lebih luas. Pada kesempatan yang sama, hal menarik lain disampaikan oleh Habib Huesin Ja’far Al Hadar. Menurutnya, moderatisme di tubuh Muhammadiyah sudah sangat baik. Muhammadiyah dinilai inklusif dan terbuka bagi semua kalangan. Bahkan sudah menjadi ciri awal sejak organisasi ini berdiri. Terkait Islam wasathiyah, Habib Ja’far mengatakan moderatisme atau wasathiyah bukan berarti tidak memihak pada siapapun. Namun, layaknya wasit yang berdiri di tengah, Muhammadiyah melihat ke kanan dan ke kiri secara fair. Tidak bias ke kanan maupun ke kiri. Muhammadiyah akan menilai suatu keadaan yang berdiri di hal yang benar. “Adapun moderatisme pada dasarnya bagian integral paling mendasar dari Islam. Jadi kemunculannya bukan karena terorisme atau radikalisme,” katanya. Habib Ja’far juga menyebut sederet implementasi moderatisme dalam Muhammadiyah. Mulai dari moderatisme ekonomi yang mencegah kemiskinan hingga moderatisme pendidikan dengan puluhan ribu lembaga pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah, termasuk UMM dan 174 perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah lainnya. Pun dengan moderatisme moral yang dibuktikan sikap integritas yang tinggi, anti korupsi, disipilin dan lainnya. Moderatisme sosial Muhammadiyah juga ia nilai sangat baik. Bisa dilihat dari keterbukannya yang bagus, contohnya persentase mahasiswa non-muslim di perguruan tinggi Muhammadiyah Kupang yang mencapai 70% lebih. Kemudian tiga aspek terakhir yakni moderatisme Muhammadiyah dalam aspek dakwah, kebangsaan, serta gender. “Mungkin satu masukan yang bisa didiskusikan lebih lanjut di Muktamar Muhammadiyah nanti adalah moderatisme digital. Saya seringkali hadir di forum digital, tapi susah sekali menemui orang-orang Muhammadiyah yang jadi dai digital. Padahal tantangan dan medan perang utama ada di sini. Hampir 63% orang itu belajar Islam lewat platform digital. Bahkan menurut riset, masyarakat Indonesia rata-rata menggunakan 8,5 jam untuk gawainya. Maka ini menjadi hal yang penting untuk segera didiskusikan dan dicari strateginya,” ungkap Habib Ja’far. Di sisi lain, Wakil Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center PP Muhammadiyah Rahmawati Husein, P.hD. menyampaikan Islam wasathiyah dari perpektif praksis. Bagaimana gerakan kemanusiaan yang Muhammadiyah lakukan menjadi bagian wujud Islam wasathiyah. Ia menjelaskan bahwa prinsip kemanusiaan ada empat yakni humanity, impatiality, neutrality dan independence. “Muhammadiyah menolong orang itu tidak didasarkan atas latar belakang agama atau golongan. Tapi, Muhammadiyah membantu didasarkan atas teologi Al-Maun dan prinsip-prinsip kemanusiaan,” tegas Rahmawati. Hal tak jauh berbeda juga disampaikan Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial Humaniora BRIN Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani. Ia menjelaskan secara historis dan politis makna dari ummatan washatan. “Dalam konteks menuju Indonesia emas 2045 nanti, maka makna ummatan wasathan yang paling cocok dengan kita adalah bagaimana kita menjadi umat terbaik,” tegasnya. (*wil)
Mahasiswa KKN UMM Dorong Potensi Siswa di Malaysia

Beri pendidikan kepada anak-anak Indonesia di Malaysia, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kirim mahasiswa untuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) ke daerah Kuala Lumpur serta Selangor, Malaysia. Program ini merupakan kolaborasi antara Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dengan Kedutaan Besar (Kedubes) Republik Indonesia (RI) untuk Malaysia. Salah satu dosen pembimbing KKN UMM, Innany Mukhlishina, M.Pd, mengatakan bahwa program ini juga bekerja sama dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) RI Malaysia di Kuala Lumpur. Pun juga dengan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), dan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Kuala Lumpur. Pada kegiatan ini UMM mengirimkan 12 mahasiswa dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). “Para mahasiswa ini melaksanakan KKN selama 28 hari dari tanggal 26 Agustus sampai 23 September 2022 mendatang. Mereka akan ditempatkan di SIKL dan delapan sanggar belajar Indonesia yang ada di Kuala Lumpur serta Selangor. Para mahasiswa juga mendorong potensi anak-anak dalam budaya Indonesia, salah satunya kesenian tari,” terang dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ini. Lebih lanjut, Innany menjelaskan bahwa populasi penduduk Indonesia di Malaysia cukup banyak. Tercatat, ada dua setengah juta orang Indonesia yang tercatat secara resmi berada di Malaysia. Sayangnya, masih ada sebagian yang tidak memiliki surat resmi. Hal itu berimbas pada anak-anak mereka yang tidak dapat bersekolah secara formal di lembaga pendidikan di Malaysia. “Tugas para mahasiswa ini di Malaysia adalah untuk memberi pendidikan kepada anak-anak Indonesia yang tidak bisa bersekolah secara formal. Pun juga sebagai upaya pengenalan bahasa dan budaya, apalagi ada sebagian orang tua yang menikah dengan etnis lain. Maka dengan ini, mereka bisa tahu dan belajar banyak tentang budaya yang Indonesia miliki serta tidak terjadi akulturasi budaya,” ungkap dosen asli Malang itu. Inany juga berharap, KKN yang dilaksanakan mahasiswa UMM dapat membantu anak-anak Indonesia di Malaysia untuk mengembangkan potensi dan minatnya. Sehingga bisa meraih dan menyongsong masa depan yang lebih cerah. Di sisi lain, Duta Besar RI untuk Malaysia, Hermono menyambut hangat kedatangan para mahasiswa KKN tersebut. Ia menilai, kehadiran anak-anak muda KKN memberikan sumbangsih yang bagus, utamanya dalam meningkatkan motivasi belajar dan cinta akan tanah air. “Saya yakin teman-teman mahassiwa tidak hanya memberikan kegiatan yang biasa saja. pasti ada terobosan dan inovasi sehingga menarik anak-anak didik untuk lebih mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Semoga selama program ini, transfer ilmu yang diberikan dapat semakin menambah pengetahuan anak-anak Indonesia di Malaysia,” ungkap Hermono mengakhiri. (syi/wil)
Rakornas Pesantren Muhammadiyah di UMM: Upaya Ciptakan Pesantren Berkemajuan

Jumlah pondok pesantren (Ponpes) di bawah naungan Muhammadiyah terus bertambah. Terbaru, ada 440 ponpes yang tersebar di seluruh Indonesia dengan lebih dari 67 ribu santri. Bahkan angka tersebut terus bertambah dari hari ke hari. Data itu dijelaskan dalam Rapat Koordinasi Nasional ke-V Pesantren Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (31/8) lalu. Turut hadir ratusan perwakilan dari pesantren seluruh Indonesia. Terkait hal itu, Menteri Koordinator PMK RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP menjelaskan bahwa pemerintah telah memberikan perhatian spesifik akan keberadan pesantren. Salah satunya melalui Undang-undang nomor 18 tahun 2019 tentang Pesantren. Dengan begitu, eksistensi ponpes yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu sudah diakui dan mendapatkan kepastian serta perlindungan hukum. “Adanya regulasi ini juga membeikan implikasi yang besar, baik dari segi bisnis, model pendidikan, anggaran, dan lainnya. Maka saya berpesan agar teman-teman mampu mengkaji dan memahami regulasi pesantren, termasuk produk turunannya. Perlu adanya kreativitas dan pikiran segar untuk membenahi dan memberi inovasi dalam sebuah regulasi,” tegasnya. Muhadjir mengatakan bahwa ponpes Muhammadiyah tidak hanya menyediakan pendidikan semata. Namun juga harus bisa memberikan bekal bagi peserta didiknya, agar mampu mewujudkan visi dan misi Muhammadiyah. Selain itu, ia juga berharap tiap pesantren dapat memiliki corporate culture yang mengakar sehingga ada ciri yang unggul. Dalam kesempatan yang sama, Ketua PW Muhammadiyah Jatim Dr. Saad Ibrahim, MA. mengutip apa yang dikatakan profesor antropologi dari Boston University, Robert Hefner bahwa seni Islam itu dapat dilihat dari Muhammadiyah. Hal itu tidak lepas gerakan Muhammadiyah yang memadukan ilmu sains dan agama, bahkan sejak awal berdiri. “Maka, pesantren Muhammadiyah harus bisa memberikan nilai lebih pada santri. Bukan hanya fokus mentransferkan ilmu agama, tapi juga mampu memberikan ilmu dunia yang dibutuhkan untuk memajukan umat,” tuturnya. Antusiasme perwakilan tiap pesantren juga tinggi. Hal itu disampaikan Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah Dr. Maskuri M.Ed. Menurutnya, antusiasme yang tinggi juga berbanding lurus dengan semangat membina pesantren. Maskuri menjelaskan bahwa pada 2015 lalu, pesantren Muhammadiyah mencapai angka 127. Kini, jumlah tersebut melambung tinggi menjadi 440 dan terus bertambah setiap tahunnya. Perkembangan ini tentu memberikan tantangan baru, utamanya dalam aspek sumber daya manusia (SDM). “Kalau dihitung, satu pesantren kecil kira-kira membutuhkan ustad dan ustadzah sebanyak 14. Maka, untuk memenuhi SDM di tiap pesantren, minimal kita harus memiliki 6160 ustad yang mumpuni dan unggul. Itu kalau pesantren kecil, situasi berbeda akan muncul di pesantren yang besar,” paparnya. Sepak terjang pesantren juga bisa dimaksimalkan dengan membangun sinergisitas bersama perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM). Menurut Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. pihak PTM tanpa ragu akan membantu mengembangkan berbagai hal. Pada dasarnya, ada banyak program yang bisa diakses oleh santri maupun ustaz ustazah. Utamanya yang mengenai entrepreneurship. “Pengetahuan keislaman dan iptek memang penting. Tapi hal yang tak kalah pentingnya adalah keterampilan hidup. Maka saya rasa, PTM khususnya UMM bisa mengisi aspek tersebut sehingga mampu melahirkan generasi unggul nan lengkap,” pungkasnya. (wil)