Dominasi Muhammadiyah, 10 kampus swasta terbaik di Indonesia 2026 versi Webometrics

sukabumiheadline.com – Semua kampus di Indonesia tengah membuka penerimaan mahasiswa baru untuk Tahun Akademik 2026/2027. Pendaftaran tersebut umumnya akan selesai pada Agustus atau September awal. Masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tentunya menjadi harapan besarnya banyak pelajar. Namun, menimba ilmu di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) pun tidak salah dan bisa jadi pertimbangan. Banyak deretan PTS berkualitas. Webometrics merilis deretan Perguruan Tinggi Swasta Terbaik per Januari 2026. Sejumlah kampus memiliki peringkatnya tersendiri. Penilaian diberikan berdasarkan sejumlah poin dalam pengukuran pemeringkatan tersebut, yakni visibilitas global, keunggulan penelitian, keterbukaan, hingga kinerja akademik.
Akar Sosial Radikalisme Diungkap dalam Disertasi Ini

Tagar.co – Akar sosial radikalisme agama bahan disertasi Arief Hidayatullah. Dia menjalani Ujian Promosi Doktor Sosiologi di Aula GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (28/5/2026). Arief Hidayatullah mempresentasikan disertasi berjudul Ekspresi Keagamaan Radikal Jamaah Anshorud Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharus Syariah (JAS) di Kota Bima. Promovendus asal Bima itu menyoroti bagaimana kelompok JAD dan JAS membentuk pola pemahaman diri, interaksi sosial, tindakan sosial, hingga penggunaan simbol keagamaan secara radikal di Kota Bima. Kajian tersebut tidak hanya memandang radikalisme sebagai persoalan keamanan, tapi juga fenomena sosial-keagamaan dan berakar pada dinamika lokal. Sebagai putra Bima, Arief mengaku penelitian tersebut lahir dari keprihatinannya terhadap stigma yang selama ini melekat pada daerah kelahirannya. Menurutnya, Bima kerap dikaitkan dengan aktivitas terorisme atas nama agama sehingga memunculkan pertanyaan mengenai akar berkembangnya radikalisme di wilayah tersebut. Kaprodi Ilmu Komunikasi Universitas Mbojo Bima itu menjelaskan, radikalisme di Bima merupakan bagian dari jaringan nasional yang berkembang sejak dekade 1990-an. Baca Juga: Menghidupkan Kembali Budaya Bertanya di Kelas Ia menyebut sejumlah kelompok seperti Jamaah Islamiyah (JI), Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), JAS hingga JAD yang terafiliasi ISIS pernah memiliki keterhubungan dengan wilayah tersebut. “Radikalisme di Bima tidak berdiri sendiri, tetapi terkait dengan perkembangan jaringan ekstremisme lintas wilayah,” ungkapnya dalam sidang promosi doktor. Hapus Stigma Dalam disertasinya, Arief mengulas keterhubungan jaringan JAD Bima dengan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso di Poso. Relasi itu, menurut dia, dibangun melalui ikatan keluarga, mobilitas sosial, hingga jejaring pernikahan antardaerah. Untuk mengkaji fenomena tersebut, promovendus UMM itu menggunakan Teori Interaksionisme Simbolik dari George Herbert Mead. Teori tersebut menitikberatkan pada konsep mind, self, dan society dalam membentuk identitas serta perilaku sosial individu maupun kelompok. “Ada perbedaan karakter antara JAD dan JAS. JAD memiliki pola kesadaran yang lebih kaku dan tertutup dengan struktur interaksi sentralistik. Sebaliknya, JAS cenderung lebih fleksibel, partisipatif, dan terbuka dalam penggunaan simbol keagamaan, “kata alumni Ilmu Komunikasu UMM tersebut. Hasil kajian soal radikalisme itu diharapkan mampu memberikan kontribusi penting dalam pengembangan ilmu sosial. Khususnya terkait pemahaman radikalisme agama dari perspektif interaksi sosial dan simbolik. Penelitian itu sekaligus menjadi pengingat bahwa memahami radikalisme harus dilakukan secara kontekstual dan ilmiah agar tidak berhenti pada stigma semata.
Tips Cerdas Nikmati Daging Kurban Tanpa Takut Asam Urat dan Kolesterol Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Tips Cerdas Nikmati Daging Kurban Tanpa Takut Asam Urat dan Kolesterol

Bisnis.com, MALANG — Untuk menghindari asam urat dan kolesterol saat menikmati daging kurban, kuncinya menikmati daging tersebut dengan porsi yang wajar dan mengolahnya dengan benar. Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ayu Diawi Ismayawati menegaskan sumber penyakit sejatinya bukan berasal dari daging kurban, melainkan kebiasaan keliru masyarakat dalam mengolah, memporsikan, dan menyimpannya. daging sapi maupun kambing sejatinya mengandung protein hewani, lemak, dan purin yang bermanfaat bagi tubuh jika porsinya wajar. Masalah baru timbul saat konsumsi dilakukan secara berlebihan, apalagi jika hidangan didominasi oleh jeroan bersantan kental, yang mampu memicu lonjakan Low-Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat dan nyeri persendian akibat kristal asam urat. Baca Juga Ahli Gizi Paparkan Cara Bikin Daging Kurban Tidak Alot, Ini Detailnya “Daging kurban sebenarnya tidak perlu ditakuti, tetapi harus diolah dan dikonsumsi dengan bijak. Yang sering jadi masalah itu bukan dagingnya, melainkan pola konsumsi masyarakat yang berlebihan dan cara memasaknya yang terlalu banyak lemak. Bagian yang paling perlu dibatasi adalah jeroan seperti hati, paru, limpa, usus, hingga otak karena kandungan purinnya jauh lebih tinggi,” katanya dikutip Kamis (28/5/2026). Guna menekan tingginya risiko kesehatan, masyarakat disarankan menerapkan teknik trimming atau membuang lemak putih pada daging segar sebelum dimasak. Pakar teknologi pangan ini juga merekomendasikan metode perebusan awal, di mana kuah rebusan pertama sebaiknya dibuang agar kadar purin menurun secara signifikan, menjadikan opsi masakan seperti sup bening jauh lebih aman untuk lambung. Baca Juga Menilik Kadar Kolesterol dalam Daging Sapi dan Kambing, Mana yang Lebih Tinggi? “Kalau membuat gulai atau tongseng, santannya jangan terlalu pekat. Lemak yang mengambang di permukaan juga bisa diambil dengan sendok atau menggunakan es batu setelah masakan agak dingin. Teknik tumis air juga bisa jadi alternatif sehat dibandingkan menumis dengan banyak minyak,” lanjut Ayu. Terkait manajemen penyimpanan, kesalahan fatal yang sering terjadi di tingkat rumah tangga adalah mencairkan daging beku, memotong sebagian, lalu mengembalikannya ke mesin pendingin. Daging seharusnya langsung dibagi dalam kantong-kantong kecil untuk takaran sekali masak sebelum masuk ke freezer bersuhu minus 18 derajat Celsius. Proses pencairannya pun harus diletakkan di chiller, bukan dibiarkan mencair pada suhu ruang. Baca Juga Cara Simpan Daging Kurban di Kulkas, Awet hingga Beberapa Bulan “Siklus pencairan dan pembekuan ulang sangat tidak disarankan karena mempercepat penurunan mutu dan meningkatkan risiko pertumbuhan mikroba. Setiap kemasan sebaiknya diberi label tanggal penyimpanan agar kualitasnya lebih mudah dipantau,” tegasnya. Sebagai pesan penutup sekaligus langkah pencegahan gizi, orang dewasa sehat dianjurkan cukup membatasi konsumsi daging matang di kisaran 50 hingga 100 gram per hari. Keseimbangan metabolisme wajib dijaga melalui pendampingan porsi sayuran tinggi serat, buah-buahan segar, serta asupan air putih untuk menahan laju penyerapan lemak jenuh di saluran cerna. “Prinsip amannya adalah makan secukupnya, pilih daging tanpa lemak, batasi jeroan, kurangi santan dan minyak berlebih, simpan daging dengan benar, serta imbangi dengan sayur, buah, dan air putih yang cukup,” ucapnya.
Konsisten Tinggalkan Plastik, UMM Malang Bagikan Daging Kurban Menggunakan Besek

TIMES INDONESIA – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara konsisten selama enam tahun telah meninggalkan penggunaan plastik atau kresek sekali pakai saat membagikan daging kurban. Fenomena ini disebut sebagai kurban go green UMM, dengan memanfaatkan kemasan tradisional berupa besek bambu yang dialasi daun segar dan diikat dengan tali serabut kelapa sebagai wadah utama. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk kesadaran akan bayang-bayang menumpuknya sampah plastik ketika perayaan Idul Adha Ketua Panitia Kurban 1447 H UMM, Dr. Yasin Kusumo Pringgodigdo, S.Pd.I., M.H.I., menyampaikan bahwa esensi kurban bukan hanya sebagai bentuk ibadah kepada Allah, tetapi juga bentuk kepedulian manusia terhadap lingkungan sekitarnya. Mengurai Ekspresi Radikalisme Agama di Bima “Tahun ini kami kembali menerapkan konsep go green, spirit kurban bukan hanya sebagai ibadah, tetapi juga menjaga peradaban dan kelestarian lingkungan,” ujarnya. Ia pun menegaskan bahwa pihaknya dipastikan tidak menggunakan kantong sekali pakai yang berbahaya bagi lingkungan maupun kesehatan. Pada tahun ini, UMM menyembelih 20 ekor sapi dan sejumlah kambing, serta mendistribusikan hingga 2500 paket daging kurban yang disebar ke ranah internal kampus, warga sekitar, Lapas Perempuan dan Laki-laki Malang. Selain itu, UMM juga menyebar 6 ekor sapi ke Sumbawa. Yasin menambahkan bahwa kesuksesan pendistribusian daging kurban menggunakan besek ramah lingkungan ini adalah hasil kolaboratif dosen, karyawan, panitia inti, anggota tim teknis, relawan mahasiswa, hingga Juru Sembelih Halal (Juleha). Pengemasan daging kurban pun melalui pengawasan ketat supaya tetap higienis, natural, dan sejalan dengan misi pelestarian lingkungan kampus. “Wadahnya menggunakan besek, alasnya pakai daun, dan talinya pakai tali serabut,” tambahnya. Melalui kegiatan ramah lingkungan ini, UMM membuktikan bahwa ibadah sebagai ritual keagamaan dapat berjalan harmonis dan beriringan dengan tanggung jawab ekologis terhadap kelestarian lingkungan. Diharapkan inovasi positif ini bisa menjadi motivasi bagi institusi lainnya untuk mulai meninggalkan penggunaan plastik sekali pakai dan mulai berganti pada wadah ramah lingkungan supaya alam tetap bersih, sehat, dan lestari. “Semoga kurban go green ini bisa menjadi motivasi bagi institusi lainnya supaya mulai meninggalkan penggunaan plastik sekali pakai,” pungkasnya.
Kurban Berwawasan Lingkungan di UMM: Mesin Modern, Kemasan Bambu dan Tali Serabut

MALANG POST– Mesin pemotong daging adalah alat yang menggunakan prinsip mekanika dan kinematika untuk merajang, mengiris atau menggiling daging secara presisi. Dalam lingkup karya ilmiah atau rekayasa Teknik Mesin UMM sendiri, perancangan alat ini berfokus pada optimasi sistem transmisi dan pemilihan material food grade demi kemudahan dalam proses pekerjaan. Prinsip tersebut coba dimanfaatkan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Namun, inovasi kampus putih itu tidak berhenti di situ. Hampir enam tahun ini, UMM juga konsisten menerapkan konsep go green dalam perayaan Iduladha, salah satunya dengan meminimalkan penggunaan plastik sekali pakai. Pada tahun ini, UMM mendistribusikan lebih dari 2.500 paket daging kurban menggunakan kemasan tradisional berupa besek bambu yang dialasi daun segar dan diikat dengan tali serabut kelapa. Ketua Panitia Kurban idul Adha 1447 H UMM, Dr. Yasin Kusumo Pringgodigdo, S.Pd.I., M.H.I., Kamis (28/5/2026) menjelaskan bahwa panitia memastikan tidak ada penggunaan kantong kresek hitam yang berbahaya bagi kesehatan maupun lingkungan. Ia menegaskan bahwa esensi berkurban bukan semata-mata untuk meraih derajat takwa di hadapan Tuhan, melainkan juga wujud nyata kepedulian manusia dalam menjaga kelestarian alam dan peradaban. “Alhamdulillah, kita senantiasa mengusung go green. Jadi, spirit kurban bukan hanya untuk meraih takwa, tapi juga menjaga peradaban dan kelestarian lingkungan,” urainya. Penyelenggaraan kurban tahun ini juga mencatatkan peningkatan jumlah hewan dari 18 ekor pada tahun sebelumnya menjadi 20 ekor sapi, beserta sejumlah kambing yang disiapkan tanpa caca Distribusi daging mencakup ranah internal kampus, warga sekitar, Lapas Perempuan dan Laki-laki Malang, hingga penyebaran ke Sumbawa dalam bentuk 6 ekor sapi hidup. Untuk memastikan pembagian yang adil dan merata, Yasin memaparkan bahwa manajemen penyembelihan dilakukan secara presisi dengan menghitung persentase karkas dan daging murni dari total bobot sapi, bukan sekadar menebak ukuran. Panduan & Petunjuk Perjalanan “Kami memilih sapi sesuai dengan bobotnya. Misalnya, jika kebutuhan distribusi internal sebanyak 200 atau 150 paket, kami ambil sapi yang berbobot 500 kilogram. Jadi, kami menyembelih sapi berdasarkan timbangan, bukan sekadar estimasi atau asumsi,” imbuhnya. Paket yang dibagikan memiliki takaran bervariasi, mulai dari 0,75 kilogram hingga 1 kilogram daging murni yang ditambahkan dengan tulang dan jeroan. Kesuksesan distribusi ribuan paket daging dalam besek ramah lingkungan ini merupakan hasil sinergi dari pendanaan sukarela dosen dan karyawan, yang dieksekusi oleh 27 panitia inti, 70 anggota tim teknis, relawan mahasiswa, serta 12 Juru Sembelih Halal (Juleha). Yasin merinci bahwa seluruh proses pengemasan dikawal ketat agar tetap higienis, natural, dan sejalan dengan misi pelestarian lingkungan kampus. “Pakai besek, dialasi daun, kemudian talinya pakai tali serabut,” tambahnya. Momentum Iduladha di Universitas Muhammadiyah Malang tahun ini memberikan pesan moral yang sangat kuat bagi masyarakat luas. Melalui kurban go green, UMM membuktikan bahwa ibadah ritual keagamaan dapat berjalan harmonis dengan tanggung jawab sosial dan ekologis. Harapannya, inovasi Mesin pemotong daging ini kan akan mempercepat pengerjaan di lapangan dan penggunaan besek bambu ini dapat menginspirasi instansi maupun masyarakat umum untuk mulai meninggalkan plastik sekali pakai, sehingga keberkahan kurban turut dirasakan oleh alam semesta melalui lingkungan yang bersih, sehat, dan lestari. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Usia Murid Baru SD Boleh di Bawah 7 Tahun, Pakar Usul Kelas 1 Transisi

Metrotvnews-Jakarta: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperbolehkan siswa baru jenjang sekolah dasar berusia di bawah 7 tahun dengan catatan sudah memiliki kesiapan menerima pembelajaran. Menanggapi hal tersebut, Pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Arina Restian, mendorong adanya desain mendesain Kelas 1 Transisi. Jika jumlah siswa di bawah 7 tahun lebih banyak, ia menilai manajemen sekolah tidak bisa lagi sekadar menerima siswa baru lalu berjalan seperti biasa. Menurutnya, kelas 1 transisi tersebut didesain dengan tata ruang bersudut bermain. Dalam prosesnya, kelas 1 transisi melaksanakan standardisasi asesmen awal saat masa orientasi hanya untuk memetakan kebutuhan individual anak. Kelas 1 transisi juga menjembatani komunikasi intensif antara pendidik dan orang tua terkait batasan ekspektasi akademik. “Di tiga bulan pertama, durasi belajar wajib dipangkas menjadi 20-30 menit yang diselingi istirahat, agar anak tidak kaget dengan rutinitas baru,” ujar Arina, mengutip laman resmi UMM, Kamis, 28 Mei 2026. Guru butuh adaptasi Arina menegaskan bahwa pembekalan ilmu pedagogi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi guru kelas satu SD kini menjadi agenda mendesak bagi Kemendikdasmen. Selama ini, kurikulum pendidikan guru dinilai lebih banyak mempersiapkan tenaga pendidik untuk rentang usia 7 hingga 12 tahun. Jika dipaksakan tanpa adaptasi, menurutnya, pendidik akan gagap saat menghadapi tantrum dan sulit mengelola regulasi emosi anak. Tanpa upgrade skill melalui pelatihan khusus, guru berpotensi memaksakan standar anak usia tujuh tahun kepada murid berusia di bawahnya. “Akibatnya sangat fatal, anak bisa stres, mogok sekolah, dan guru rentan salah melabeli mereka sebagai siswa lambat belajar padahal itu fase normal di usianya,” tegas Arina. Tips pengajaran Ilustrasi Pexels Arina juga membagikan tips bagi para guru SD kelas 1 untuk mengajar murid di bawah usia 7 tahun. Menurutnya, periode minggu-minggu awal sangat penting agar siswa tidak tertekan. Ia menerangkan, rentang fokus anak usia 5,5 tahun maksimal hanya 15 menit, pendekatan pengajaran di kelas harus berpegang teguh pada prinsip ‘Singkat, Bergerak, dan Bermain’. Guru bisa menerapkan siklus 15-5-15, yaitu 15 menit kegiatan inti, 5 menit bergerak atau bernyanyi, lalu 15 menit kegiatan lagi. “Hindari pemberian lembar kerja di awal, beri mereka pilihan-pilihan kecil untuk mengurangi rasa dikontrol, dan rayakan sekecil apa pun keberaniannya agar sekolah terasa seperti perpanjangan PAUD,” ucapnya.
UMM Salurkan Puluhan Hewan Kurban Lintas Pulau hingga Lapas dengan Konsep Go Green

Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyalurkan puluhan hewan kurban secara masif menjelang Hari Raya Iduladha. Mengusung semangat kepedulian yang inklusif, pendistribusian tahun ini sengaja memperluas jangkauan wilayah, mulai dari kawasan Malang Raya hingga menyeberang ke Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Langkah masif Kampus Putih ini tidak sekadar menyasar kantong persyarikatan Muhammadiyah dan wilayah pelosok terpencil. UMM secara khusus juga menyentuh warga binaan di lembaga pemasyarakatan (lapas) serta sejumlah sekolah mitra yang selama ini memiliki kedekatan strategis dengan universitas. Koordinator Distribusi Hewan Kurban UMM, Ir. Ali Mahmud, S.Pt., M.Pt., memaparkan bahwa proses alokasi dan pengiriman puluhan ekor sapi serta kambing tahun ini memang sengaja dirancang untuk menjangkau teritori yang sangat luas. Menurutnya, perluasan wilayah distribusi ini merupakan bentuk respons cepat dalam mengakomodasi berbagai permintaan yang masuk dari elemen masyarakat, yayasan sosial, organisasi mahasiswa, hingga sekolah-sekolah yang menjadi pilar penyumbang mahasiswa terbanyak bagi UMM. “Tahun ini ada 18 ekor sapi dan kurang lebih 50 ekor kambing atau domba. Itu tersebar mulai dari Sumbawa, lalu di Malang Raya seperti Pimpinan Cabang dan Ranting Muhammadiyah, sekolah-sekolah penyumbang mahasiswa terbanyak seperti SMAN Batu dan SMA Muhammadiyah Gondanglegi, hingga organisasi mahasiswa,” ungkap Ali Mahmud saat memberikan keterangan resmi, Selasa (26/5/2026). Demi menjaga kelancaran ibadah dan ketenteraman para penerima manfaat, pihak UMM tidak hanya berfokus pada kuantitas dan pemerataan distribusi semata. UMM juga memberikan jaminan penuh terhadap kualitas, kesehatan, dan kelayakan seluruh hewan kurban yang disalurkan ke masyarakat. Ali Mahmud menegaskan bahwa setiap ekor sapi, kambing, maupun domba telah melewati proses pemeriksaan kesehatan hewan secara ketat oleh tim ahli sebelum dikirim. Langkah preventif dan skrining medis ini wajib dilakukan guna memastikan seluruh hewan berada dalam kondisi prima, terbebas dari segala macam penyakit menular yang membahayakan, serta benar-benar telah memenuhi standar syariat Islam untuk berkurban. Di sisi lain, skema distribusi yang diterapkan oleh UMM terbilang sangat humanis dan adaptif. Ali Mahmud menjelaskan bahwa pihak kampus memberikan perhatian khusus bagi warga binaan di lapas dengan menyesuaikan wujud bantuan berdasarkan ketersediaan fasilitas pemotongan di masing-masing lokasi. Sebagai contoh, Lapas Kelas I Lowokwaru Malang yang dihuni oleh warga binaan laki-laki akan mendapatkan kiriman berupa hewan kurban dalam kondisi hidup. Sementara itu, untuk lapas perempuan, UMM memilih mengirimkan paket daging yang sudah siap olah demi menyiasati keterbatasan tenaga jagal dan fasilitas pemotongan di dalam lapas tersebut. “Untuk Lapas 1 Lowokwaru yang laki-laki, kita akan memberikan satu ekor sapi. Sedangkan untuk lapas perempuan, karena tidak ada yang memotong, jadi kita berikan paket daging kurban dari hasil pemotongan di kampus,” tegas Ali Mahmud menjelaskan detail teknis pembagian. Tidak berhenti pada nilai sosial dan keagamaan, momentum ibadah kurban kali ini juga dimanfaatkan UMM untuk mengampanyekan gerakan peduli lingkungan secara berkelanjutan. Kampus Putih secara konsisten menerapkan konsep kurban Go Green dengan melarang total penggunaan kantong plastik sekali pakai sebagai pembungkus daging. Sebagai gantinya, pihak panitia memanfaatkan wadah organik yang ramah lingkungan. Langkah hijau ini secara tidak langsung juga ikut menggerakkan roda ekonomi masyarakat bawah karena melibatkan para perajin lokal di sekitar kampus. “Ini konsisten sudah bertahun-tahun kita laksanakan. Kurbannya Go Green, jadi tidak menggunakan kresek atau plastik, tapi menggunakan besek bambu dari kerajinan tangan UMKM dan daun pisang dari kebun sendiri,” tambah Ali Mahmud secara rinci. Dampak nyata dan multiplier effect dari aksi sosial UMM ini langsung menuai respons positif serta apresiasi mendalam dari berbagai pihak yang menerima manfaat. Salah satunya datang dari institusi pendidikan menengah yang selama ini menjadi mitra erat dalam mencetak generasi berprestasi bersama UMM. Eko, yang merupakan salah satu guru di SMA Negeri 1 Kota Batu, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam atas perhatian konkret yang ditunjukkan oleh Kampus Putih. Menurutnya, kepedulian yang konsisten dari UMM ini sangat membantu menghadirkan kebahagiaan bagi warga sekolah dan lingkungan sekitar. “Kami mengucap terima kasih banyak kepada UMM. Semoga hewan kurban yang disalurkan ini bermanfaat bagi umat,” pungkas Eko dengan penuh rasa syukur. (dan/kun)
Anak Bergerak, Bangsa Bergerak : Krisis Aktivitas Fisik Anak Sekolah Dasar di Era Digital

pwmu – Oleh : Frendy Aru FantiroKaprodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga Universitas Muhammadiyah Malang Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, anak-anak Indonesia justru menghadapi ancaman yang sering dianggap sepele: kurang bergerak. Anak usia sekolah dasar kini semakin akrab dengan layar gawai dibanding lapangan permainan. Fenomena tersebut bukan sekadar perubahan gaya hidup, melainkan sudah menjadi persoalan kesehatan, pendidikan, bahkan masa depan bangsa. Data World Health Organization (WHO) menunjukkan lebih dari 80 persen remaja usia sekolah di dunia tidak memenuhi rekomendasi aktivitas fisik harian minimal 60 menit per hari. Kondisi ini menjadi alarm serius karena aktivitas fisik merupakan fondasi utama pertumbuhan fisik, perkembangan motorik, kesehatan mental, hingga kemampuan kognitif anak. Sebagai akademisi sekaligus praktisi pendidikan olahraga, saya melihat persoalan ini bukan hanya tentang anak yang malas bergerak, tetapi tentang lingkungan yang perlahan menjauhkan anak dari aktivitas fisik alami mereka. Anak-anak hari ini hidup di ruang yang semakin sempit untuk bergerak, sementara dunia digital terus mengambil perhatian mereka setiap waktu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia mengalami peningkatan perilaku sedentari (sedentary behavior), yaitu kebiasaan duduk terlalu lama dengan aktivitas minim gerak. Banyak anak menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar, baik untuk hiburan maupun pembelajaran digital. Di sinilah letak persoalan yang sering luput dipahami. Banyak orang tua merasa anaknya aman karena berada di rumah bermain gadget. Padahal secara fisiologis, tubuh anak dirancang untuk bergerak aktif, bukan duduk diam terlalu lama. Jika kondisi ini terus berlangsung, dampaknya bukan hanya obesitas. Risiko lain yang mulai muncul sejak usia dini antara lain: penurunan kebugaran jasmani, gangguan postur tubuh, penurunan kemampuan motorik, gangguan konsentrasi belajar, masalah kesehatan mental, hingga meningkatnya risiko penyakit degeneratif di masa depan. Sebagai Kaprodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga, saya memandang aktivitas fisik bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan kebutuhan dasar tumbuh kembang anak. Anak yang aktif bergerak bukan hanya lebih sehat secara fisik, tetapi juga lebih percaya diri, lebih fokus belajar, dan lebih baik dalam bersosialisasi. Masih ada anggapan bahwa pelajaran PJOK dua jam per minggu sudah cukup memenuhi kebutuhan gerak anak. Padahal secara ilmiah, asumsi tersebut sangat lemah. WHO merekomendasikan anak usia sekolah melakukan aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat minimal 60 menit setiap hari. Artinya, aktivitas fisik harus menjadi budaya hidup sehari-hari, bukan sekadar mata pelajaran formal di sekolah. Sekolah dasar memiliki peran strategis dalam membangun budaya aktif tersebut. Namun realitasnya, banyak sekolah tanpa sadar justru membentuk budaya pasif. Anak terlalu lama duduk di kelas, waktu bermain semakin sedikit, ruang terbuka terbatas, dan permainan tradisional mulai ditinggalkan. Padahal, dari sudut pandang ilmu keolahragaan, bermain aktif merupakan media penting dalam perkembangan motorik, koordinasi, karakter sosial, hingga kecerdasan emosional anak. Saya percaya pendidikan modern seharusnya tidak hanya mencetak anak yang pintar secara akademik, tetapi juga anak yang sehat, aktif, dan memiliki kualitas hidup yang baik. Menyalahkan teknologi sepenuhnya juga bukan solusi bijak. Gadget bukan musuh utama. Persoalan sebenarnya adalah ketidakseimbangan antara aktivitas digital dan aktivitas fisik. Hari ini banyak anak lebih mengenal permainan virtual dibanding permainan gerak nyata. Dunia digital menawarkan hiburan instan yang sering membuat aktivitas fisik terasa melelahkan dan kurang menarik. Karena itu, tugas orang tua, guru, dan masyarakat bukan sekadar melarang gadget, tetapi menciptakan lingkungan yang membuat anak senang bergerak. Aktivitas fisik harus dikemas secara menyenangkan, kreatif, dan sesuai perkembangan zaman. Dalam pandangan saya, jika anak kehilangan budaya bergerak sejak dini, maka kita tidak hanya kehilangan generasi sehat, tetapi juga kehilangan generasi tangguh. Aktivitas fisik bukan hanya urusan olahraga. Ini adalah investasi kualitas manusia Indonesia di masa depan. Anak-anak yang aktif bergerak hari ini berpotensi menjadi generasi yang: lebih sehat, lebih disiplin, lebih produktif, lebih tangguh secara mental, dan lebih siap menghadapi tantangan kehidupan. Sebaliknya, jika budaya pasif terus berkembang, maka bangsa ini akan menghadapi peningkatan beban kesehatan dan penurunan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Melalui momentum ini, saya mengajak seluruh pihak — orang tua, sekolah, pemerintah, dan masyarakat — untuk kembali menghadirkan ruang gerak bagi anak-anak Indonesia. Karena pada akhirnya, anak yang aktif bergerak bukan hanya tumbuh sehat, tetapi juga tumbuh menjadi manusia yang lebih utuh.
Mengurai Ekspresi Radikalisme Agama di Bima

timesindonesia, MALANG – Bima kembali menjadi perhatian dalam diskursus akademik mengenai radikalisme agama. Melalui disertasi berjudul Ekspresi Keagamaan Radikal Jamaah Anshorud Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharus Syariah (JAS) di Kota Bima, Arief Hidayatullah, memaparkan hasil kajian mendalam mengenai bagaimana kelompok Jamaah Anshorud Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharus Syariah (JAS) membentuk pola pemahaman diri, interaksi sosial, tindakan sosial, serta penggunaan simbol keagamaan secara radikal di Kota Bima. Kajian ini tidak hanya menjelaskan fenomena radikalisme sebagai persoalan keamanan, tetapi juga sebagai gejala sosial-keagamaan yang kompleks dan berakar pada dinamika lokal. Sebagai putra daerah Bima, Arief mengawali penelitiannya dari keprihatinan atas stigma yang kerap melekat pada wilayah kelahirannya. Bima sering dikaitkan dengan aktivitas terorisme atas nama agama, sehingga memunculkan pertanyaan mendasar tentang bagaimana fenomena tersebut berkembang dan mengapa daerah ini menjadi salah satu lokasi yang menonjol dalam peta radikalisme di Indonesia Timur. Dari pertanyaan itulah disertasi ini lahir sebagai upaya akademik untuk mengurai persoalan secara lebih utuh dan berbasis analisis ilmiah. Dalam penelitiannya, Arief menjelaskan bahwa radikalisme agama di Bima merupakan bagian dari jaringan radikalisme nasional yang telah berkembang sejak dekade 1990-an. Namun demikian, Bima memiliki karakter lokal tersendiri yang membuatnya menonjol sebagai salah satu kantong ideologis jaringan radikal. Sejumlah kajian terdahulu serta laporan keamanan menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki sejarah keterhubungan dengan jaringan Jamaah Islamiyah (JI), Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), Jamaah Ansharusy Syariah (JAS), hingga Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS. Dengan demikian, persoalan radikalisme di Bima tidak dapat dipahami sebagai peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari perkembangan gerakan ekstremisme lintas wilayah. Arief juga menelusuri akar historis kemunculan radikalisme di Bima melalui keterhubungan sejumlah tokoh lokal dengan jaringan NII, JI, dan gerakan jihad lintas daerah. Dalam laporan International Crisis Group, Bima disebut sebagai salah satu daerah tujuan pelarian dan rekrutmen pengikut JI setelah operasi besar-besaran terhadap jaringan teror pasca Bom Bali I. Pada periode berikutnya, hubungan Bima dengan kelompok radikal semakin kuat melalui mobilitas sosial, relasi keluarga, serta jejaring pernikahan antardaerah. Pola ini menunjukkan bahwa radikalisme tidak hanya tumbuh dari faktor ideologis, tetapi juga diperkuat oleh hubungan sosial yang bersifat personal dan kultural. Salah satu aspek penting yang dibahas dalam disertasi ini adalah hubungan antara jaringan JAD Bima dan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso di Poso. Hubungan tersebut memperlihatkan adanya koneksi ideologis dan logistik yang dibangun melalui ikatan kekerabatan dan kedekatan asal daerah. Dalam beberapa kasus, hubungan keluarga menjadi penghubung yang memperkuat mobilisasi anggota dan penyebaran pengaruh ideologis. Hal ini menegaskan bahwa radikalisme di Bima berkembang dalam struktur jaringan yang kompleks, tidak semata-mata berbasis organisasi formal, tetapi juga melalui relasi sosial yang cair dan lintas wilayah. Di sisi lain, Arief menegaskan bahwa konteks sosial masyarakat Bima turut memberi ruang bagi tumbuhnya berbagai organisasi keagamaan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, mayoritas penduduk Kota Bima beragama Islam, yang pada satu sisi mencerminkan homogenitas religius, namun di sisi lain juga membuka ruang kompetisi wacana dan otoritas keagamaan. Dalam konteks ini, kelompok-kelompok keagamaan memiliki peluang untuk berkembang, termasuk kelompok yang kemudian diberi label radikal. Oleh karena itu, radikalisme di Bima perlu dilihat sebagai hasil interaksi antara faktor historis, demografis, jaringan sosial, dan dinamika keagamaan lokal. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa intensitas aktivitas teror di Bima dapat dilacak melalui sejumlah peristiwa penangkapan dan operasi keamanan yang dilakukan aparat dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai kasus yang diungkap Densus 88 memperlihatkan bahwa Bima bukan hanya ruang ideologis, tetapi juga ruang operasional bagi jaringan radikal. Daerah ini pernah menjadi tempat persembunyian, basis logistik, maupun lokasi pembinaan bagi para anggota jaringan tertentu. Fakta tersebut memperkuat argumentasi bahwa Bima memiliki posisi penting dalam peta radikalisme nasional. Untuk menganalisis persoalan tersebut, Arief menggunakan Teori Interaksionisme Simbolik dari George Herbert Mead. Menurut Mead, tindakan sosial manusia tidak muncul secara spontan, tetapi merupakan hasil dari proses penafsiran simbol, makna, dan interaksi sosial. Dalam teori ini, konsep mind, self, dan society menjadi landasan penting dalam memahami bagaimana individu dan kelompok membentuk identitas serta perilaku sosial. Teori ini digunakan Arief untuk membaca bagaimana kelompok JAD dan JAS membangun sistem makna yang memengaruhi cara berpikir, cara berinteraksi, dan cara bertindak para anggotanya. Hasil analisis disertasi menunjukkan perbedaan yang cukup tegas antara JAD dan JAS. JAD cenderung membangun kesadaran yang kaku dan dikotomis, dengan struktur interaksi yang sentralistik dan sistem simbol yang lebih tertutup. Sementara itu, JAS memperlihatkan karakter yang lebih fleksibel dan pragmatis, dengan pola interaksi yang partisipatif serta simbol-simbol keagamaan yang lebih terbuka terhadap penafsiran. Perbedaan ini menunjukkan bahwa radikalisme tidak hadir dalam bentuk tunggal, melainkan memiliki variasi ekspresi, struktur, dan strategi internal yang berbeda. Melalui disertasi ini, Arief Hidayatullah berhasil memberikan kontribusi penting bagi pengembangan ilmu sosial, khususnya dalam memahami radikalisme agama dari perspektif interaksi sosial dan simbolik. Lebih dari itu, kajian ini menjadi pengingat bahwa upaya memahami radikalisme harus dilakukan secara mendalam, kontekstual, dan berbasis kajian ilmiah agar tidak berhenti pada label atau stigma semata.
Persiapan Kuliah di Kampus Putih: Intip Daftar Biaya Studi Semester (BSS) Program Magister S2 UMM 2026

MALANG, RADAR MALANG – Gelombang “musim maba” di Kota Malang tidak hanya didominasi oleh calon mahasiswa jenjang Sarjana (S1). Minat para praktisi yang ingin menempuh studi pada jenjang Magister (S2) juga terus meningkat tahun ini. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi salah satu perguruan tinggi swasta terbaik di Kota Malang yang menawarkan beberapa program studi Magister (S2). Biaya Studi Semester (BSS) di UMM telah resmi dirilis, berikut adalah rinciannya: Program Studi BSS Semester I BSS Semester II-IV Magister Pendidikan Agama Islam 8.750.000 7.500.000 Magister Hukum 8.750.000 7.500.000 Magister Agribisnis 8.750.000 7.500.000 Magister Psikologi 8.750.000 7.500.000 Magister Pendidikan Matematika 8.750.000 7.500.000 Magister Pendidikan Bahasa Indonesia 8.750.000 7.500.000 Magister Pendidikan Bahasa Inggris 8.750.000 7.500.000 Magister Pendidikan Biologi 8.750.000 7.500.000 Magister Pedagogi 8.750.000 7.500.000 Magister Akuntansi 8.750.000 7.500.000 Magister Sosiologi 8.750.000 7.500.000 Magister Manajemen 8.750.000 7.500.000 Magister Rekayasa Energi Terbarukan 8.750.000 7.500.000 Magister Studi Pemerintahan 8.750.000 7.500.000 Program Studi BSS Semester I BSS Semester II BSS Semester III-IV Magister Keperawatan 10.750.000 9.500.000 7.500.000 Melalui rincian di atas, terlihat bahwa UMM menawarkan biaya yang cukup kompetitif bagi para pencari gelar Magister (S2). Khusus untuk Magister Keperawatan, pembiayaan pada awal semester I cenderung berbeda signifikan dengan program studi lain. Akan tetapi pada semester selanjutnya biaya menjadi turun hingga menyentuh angka Rp7.500.000. Mengingat rangkaian gelombang pendaftaran terus bergerak, para pendaftar diimbau untuk selalu memantau informasi validasi d melalui laman resmi di https://pmb.umm.ac.id/ agar tidak tertinggal informasi penting.