Ribuan Jamaah Padati Helipad UMM, Khotbah iduladha Sentil Isu Sampah Makanan dan Krisis Ekologi

pwmu.co – Ribuan jamaah memadati area Helipad Universitas Muhammadiyah Malang dalam pelaksanaan salat iduladha 1447 Hijriah, Selasa (27/5/2026).Di tengah ancaman krisis iklim dan meningkatnya persoalan sampah makanan di Indonesia, momentum iduladha di Kampus Putih tidak hanya dimaknai sebagai ritual penyembelihan hewan Kurban, tetapi juga menjadi refleksi kolektif untuk menyembelih egoisme dan gaya hidup konsumtif yang dinilai merusak tatanan bumi. Khotbah iduladha Soroti Krisis Sampah dan Lingkungan Bertindak sebagai khatib, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Achmad Jainuri, M.A., menegaskan bahwa setiap ibadah dalam Islam memiliki implikasi sosial yang luas, termasuk kewajiban menjaga kelestarian lingkungan. Ia menyoroti ironi masyarakat modern yang kerap membuang makanan secara berlebihan dan terjebak dalam pola hidup jangka pendek. “Kuliner berlebih hanya akan terbuang di tempat sampah, kita tidak sadar bahwa masyarakat Indonesia termasuk salah satu penghasil sampah terbesar di dunia. Semangat berkorban yang ditanamkan harus dimaknai sebagai upaya menyembelih kebiasaan yang tidak baik dan merusak lingkungan,” tegasnya. Menurut Jainuri, ibadah Kurban merupakan simbol pengorbanan yang menjadi fondasi kebangkitan peradaban. Ia menilai umat Islam sejatinya mampu mengembalikan kejayaan peradaban apabila bersedia menyingkirkan egosentrisme dan meningkatkan kepedulian terhadap kehidupan sosial maupun lingkungan. “Tiada perjuangan tanpa pengorbanan, dan tiada pengorbanan tanpa halangan. Teladan Nabi Ibrahim dimanifestasikan dalam perjuangan untuk menciptakan kebaikan dan melestarikan keseimbangan tatanan kehidupan di alam ini dengan menyingkirkan rintangan serta kesulitan yang ada pada diri kita sendiri,” paparnya. Sejalan dengan pesan tersebut, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., mengaitkan nilai pengorbanan dengan dedikasi di dunia pendidikan. Ia menjelaskan bahwa mencetak generasi unggul membutuhkan kerja keras yang dilandasi ketauhidan dan kasih sayang, sekaligus menolak praktik keberagamaan yang hanya mengandalkan slogan. “Keislaman bukan terletak pada kerasnya suara dan panjangnya slogan religius melainkan pada kemampuan menghadirkan kemanfaatan sosial. Ini sangat sejalan dengan fungsi perguruan tinggi agar memberikan dampak langsung, kemanfaatan kepada masyarakat luas, yakni kampus UMM sebagai solution center of excellence,” ungkap Juanda. Perayaan iduladha di UMM tahun ini membawa pesan bahwa penyembelihan hewan Kurban hanyalah bagian awal dari makna pengorbanan yang sesungguhnya. Masyarakat diajak untuk secara konsisten “menyembelih” sifat rakus, egois, dan ketidakpedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari. Melalui integrasi kesalehan ritual, pendidikan, dan kepedulian ekologis, UMM berharap masyarakat mampu membangun peradaban unggul yang membawa rahmat bagi semesta sekaligus menghadirkan solusi nyata atas berbagai krisis zaman. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
Khotbah Idul Adha di UMM, Prof Achmad Jainuri Sentil Gaya Hidup Konsumtif Masyarakat Modern

KLIKMU.CO – Di tengah ancaman krisis iklim dan persoalan sampah makanan yang kian mengkhawatirkan di Indonesia, momen Idul Adha tidak lagi sekadar ritual penyembelihan hewan. Pesan kuat mengenai kepedulian ekologis menggema saat ribuan jamaah Shalat Idul Adha 1447 H memadati area Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (27/5/2026). Ibadah ini menjadi momentum refleksi kolektif untuk menyembelih egoisme dan sifat konsumtif yang merusak tatanan bumi. Bertindak sebagai khatib, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof Dr H Achmad Jainuri MA mengingatkan bahwa setiap ibadah dalam Islam memiliki implikasi sosial yang luas, termasuk kewajiban menjaga kelestarian alam. Dia menyoroti ironi masyarakat modern yang kerap membuang makanan dan terjebak gaya hidup konsumtif, sehingga menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara penghasil sampah terbesar di dunia. “Kuliner berlebih hanya akan terbuang di tempat sampah. Kita tidak sadar bahwa masyarakat Indonesia termasuk salah satu penghasil sampah terbesar di dunia. Semangat berkurban harus dimaknai sebagai upaya menyembelih kebiasaan yang tidak baik dan merusak lingkungan,” tegasnya. Lebih jauh, Jainuri menjelaskan bahwa kurban merupakan simbol pengorbanan yang menjadi fondasi kebangkitan peradaban. Ia menilai umat Islam mampu mengembalikan kejayaan masa lalu apabila bersedia menyingkirkan egosentrisme yang menghambat kepedulian terhadap sosial dan lingkungan. “Tiada perjuangan tanpa pengorbanan, dan tiada pengorbanan tanpa halangan. Teladan Nabi Ibrahim dimanifestasikan dalam perjuangan menciptakan kebaikan dan menjaga keseimbangan kehidupan dengan menyingkirkan rintangan dalam diri kita sendiri,” paparnya. Sejalan dengan itu, Wakil Rektor II UMM Dr Ahmad Juanda Ak MM CA mengaitkan nilai pengorbanan dengan dunia pendidikan. Dia menegaskan bahwa pencetakan generasi unggul membutuhkan kerja keras berbasis ketauhidan dan kasih sayang, bukan sekadar slogan keagamaan tanpa dampak nyata. “Keislaman bukan terletak pada kerasnya suara dan panjangnya slogan religius, melainkan pada kemampuan menghadirkan kemanfaatan sosial. Ini sejalan dengan fungsi perguruan tinggi sebagai solution center of excellence,” ungkapnya. Perayaan Idul Adha di Kampus Putih ini meninggalkan pesan esensial bagi umat manusia. Menyembelih hewan kurban hanyalah awal, sementara ujian sesungguhnya adalah kemampuan menahan sifat rakus dan ketidakpedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari. Melalui integrasi kesalehan ritual, pendidikan, dan kepedulian ekologis, diharapkan lahir peradaban unggul yang menebar rahmat bagi semesta. (Faqih/AS)
UMM Konsisten Terapkan Go Green Dalam Penyaluran Ribuan Paket Kurban

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang kembali menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan melalui program Kurban berkonsep go green pada perayaan iduladha 1447 Hijriah. Selama enam tahun terakhir, Kampus Putih konsisten meninggalkan penggunaan plastik sekali pakai dalam distribusi daging Kurban. Pada tahun ini, lebih dari 2.500 paket daging Kurban dibagikan menggunakan kemasan tradisional berupa besek bambu yang dialasi daun segar dan diikat menggunakan tali serabut kelapa. Langkah tersebut menjadi jawaban atas persoalan tumpukan sampah plastik yang kerap muncul setiap momentum iduladha. UMM Tinggalkan Kantong Kresek demi Kelestarian Lingkungan Ketua Panitia Kurban 1447 H UMM, Dr. Yasin Kusumo Pringgodigdo, S.Pd.I., M.H.I., menjelaskan bahwa panitia memastikan tidak ada penggunaan kantong kresek hitam yang berbahaya bagi kesehatan maupun lingkungan. Menurutnya, esensi ibadah Kurban tidak hanya sebatas meraih ketakwaan kepada Allah, tetapi juga harus diwujudkan melalui kepedulian terhadap kelestarian alam dan peradaban. “Alhamdulillah, kita senantiasa mengusung go green. Jadi, spirit kurban bukan hanya untuk meraih takwa, tapi juga menjaga peradaban dan kelestarian lingkungan,” tegasnya kepada Humas UMM, Selasa (27/5/2026). Penyelenggaraan Kurban tahun ini juga mencatat peningkatan jumlah hewan dibanding tahun sebelumnya. Jika tahun lalu terdapat 18 ekor sapi, tahun ini UMM menyiapkan 20 ekor sapi serta sejumlah kambing yang dipastikan dalam kondisi sehat dan tanpa cacat. Distribusi daging Kurban dilakukan tidak hanya untuk lingkungan internal kampus dan masyarakat sekitar, tetapi juga disalurkan ke Lapas Perempuan dan Lapas Laki-laki Malang. Selain itu, UMM turut mendistribusikan enam ekor sapi hidup ke wilayah Sumbawa. Untuk memastikan pembagian berlangsung adil dan merata, panitia menerapkan sistem penghitungan berdasarkan persentase karkas dan daging murni dari total bobot sapi. “Kami memilih sapinya sesuai dengan bobot. Ketika di sini butuh distribusi atau internal sebanyak 200 atau 150 paket, kita ambil sapi yang berbobot 500 kilogram. Jadi kita menyembelih sapi berdasarkan timbangan, bukan sekadar estimasi atau asumsi,” imbuhnya. Paket daging yang dibagikan memiliki takaran bervariasi, mulai dari 0,75 kilogram hingga 1 kilogram daging murni yang dilengkapi tulang dan jeroan. Kesuksesan distribusi ribuan paket daging ramah lingkungan tersebut merupakan hasil sinergi dosen, karyawan, panitia inti, tim teknis, relawan mahasiswa, hingga 12 Juru Sembelih Halal (Juleha). Yasin menjelaskan, seluruh proses pengemasan dikawal secara ketat agar tetap higienis, alami, dan sejalan dengan misi pelestarian lingkungan kampus. “Pakai besek, dialasi daun go green, kemudian talinya pakai tali serabut,” tambahnya. Momentum iduladha di UMM tahun ini dinilai menghadirkan pesan moral yang kuat bagi masyarakat luas. Melalui konsep Kurban go green, UMM membuktikan bahwa ibadah ritual keagamaan dapat berjalan harmonis dengan tanggung jawab sosial dan ekologis. Inovasi penggunaan besek bambu diharapkan mampu menginspirasi instansi maupun masyarakat umum untuk mulai meninggalkan plastik sekali pakai demi menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan lestari. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
Iduladha UMM Jadi Seruan Menjaga Bumi, Ribuan Jamaah Penuhi Helipad Kampus Putih

malangpariwara – Iduladha UMM Jadi Seruan Menjaga Bumi, Ribuan Jamaah Penuhi Helipad Kampus Putih MALANG – Lautan jamaah memadati kawasan Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam pelaksanaan Salat Iduladha 1447 Hijriah, Rabu (27/5/2026). Namun, suasana religius di Kampus Putih kali ini tidak hanya diwarnai gema takbir dan semangat berkurban, melainkan juga seruan kuat untuk menyelamatkan lingkungan dari ancaman krisis ekologi dan budaya konsumtif yang semakin mengkhawatirkan. Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Achmad Jainuri, M.A.,(ist) Dalam khutbahnya, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Achmad Jainuri, M.A., menekankan bahwa makna kurban sejatinya tidak berhenti pada penyembelihan hewan semata. Menurutnya, Iduladha harus menjadi momentum menyembelih sifat egois, rakus, serta kebiasaan hidup berlebihan yang berdampak pada kerusakan alam. Ia menyoroti persoalan sampah makanan yang terus meningkat di Indonesia. Fenomena tersebut dinilai sebagai cerminan masyarakat yang belum mampu mengendalikan pola konsumsi secara bijak. Di tengah kondisi bumi yang menghadapi ancaman perubahan iklim, perilaku membuang makanan justru memperparah persoalan ekologis. “Sering kali makanan berlebih akhirnya terbuang sia-sia. Tanpa disadari, Indonesia menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar di dunia. Karena itu, semangat kurban harus dimaknai sebagai upaya memotong kebiasaan buruk yang merusak lingkungan,” ujarnya di hadapan ribuan jamaah. Menurut Jainuri, sejarah peradaban besar selalu lahir dari pengorbanan. Keteladanan Nabi Ibrahim, lanjutnya, bukan hanya tentang kepatuhan spiritual, tetapi juga tentang keberanian menyingkirkan ego dan kepentingan pribadi demi menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas. Ia menilai tantangan umat Islam saat ini bukan sekadar mempertahankan ritual keagamaan, melainkan menghadirkan nilai-nilai Islam yang mampu menjawab problem nyata masyarakat, termasuk persoalan lingkungan hidup dan ketimpangan sosial. “Tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Spirit Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa manusia harus berani mengalahkan kepentingan dirinya sendiri demi menjaga keseimbangan kehidupan,” tuturnya. Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A.,(ist) Sementara itu, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menyampaikan bahwa nilai pengorbanan juga menjadi fondasi penting dalam dunia pendidikan. Ia menegaskan perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi pusat akademik, tetapi harus mampu melahirkan solusi nyata bagi masyarakat. Menurutnya, keislaman tidak diukur dari kerasnya slogan religius, melainkan dari sejauh mana ajaran tersebut mampu menghadirkan manfaat sosial dan peradaban yang lebih baik. “Perguruan tinggi harus menjadi pusat solusi. Nilai ketauhidan perlu diwujudkan dalam kerja nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat luas,” ungkapnya. Pelaksanaan Salat Iduladha di UMM pun menjadi refleksi bahwa ibadah memiliki dimensi yang jauh lebih luas dibanding ritual seremonial. Di tengah meningkatnya ancaman kerusakan lingkungan, Iduladha menjadi pengingat bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga bumi dan memperkuat solidaritas sosial. Melalui pesan yang disampaikan dalam khutbah, UMM mengajak masyarakat menjadikan Iduladha sebagai momentum perubahan gaya hidup. Tidak hanya berbagi daging kurban, tetapi juga membangun kesadaran kolektif untuk mengurangi pemborosan, memperkuat kepedulian sosial, serta merawat alam demi keberlanjutan generasi mendatang.(Djoko W)
Terapkan Go Green, UMM Salurkan 2.500 Paket Daging Qurban Tanpa Ciptakan Sampah Plastik

Indonesiandaily.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyalurkan kurang lebih 2.500 paket daging qurban. Dengan menerapkan konsep Go Green yang mengedepankan tanpa menciptakan sampah plastik sama sekali. Ketua Panitia Kurban 1447 H UMM, Dr. Yasin Kusumo Pringgodigdo, S.Pd.I., M.H.I., menjelaskan bahwa pihaknya memastikan tidak ada penggunaan kantong kresek hitam. Ia pun menegaskan bahwa esensi berkurban bukan semata-mata untuk meraih derajat takwa, melainkan juga menjadi wujud nyata kepedulian manusia dalam menjaga kelestarian alam dan peradaban. “Alhamdulillah, kami senantiasa mengusung Go Green. Jadi, spirit qurban bukan hanya untuk meraih takwa, tapi juga menjaga peradaban dan kelestarian lingkungan,” ungkap Yasin, Rabu (27/05). Klik di sini untuk ikuti kami di Instagram @lldikti7 Pada penyelenggaraan kurban tahun ini, panitia juga mencatatkan peningkatan jumlah hewan dari 18 ekor pada tahun sebelumnya menjadi 20 ekor sapi, beserta sejumlah kambing. Distribusi daging mencakup ranah internal kampus, warga sekitar, Lapas Perempuan dan Laki-laki Malang. Hingga mereka sebarkan ke Sumbawa dalam bentuk Sapi hidup sebanyak enam ekor. Manajemen Penyembelihan Secara Presisi Guna memastikan pembagian yang adil dan merata, Yasin memaparkan bahwa manajemen penyembelihan dilakukan secara presisi. Yakni dengan menghitung persentase karkas dan daging murni dari total bobot sapi, bukan sekadar menebak ukuran. “Kami mengambil sapi yang berbobot 500 kilogram. Jadi sapi disembelih berdasarkan timbangan, bukan sekadar estimasi atau asumsi,” imbuhnya. Panitia membagikan paket dengan takaran bervariasi, mulai dari 0,75 kilogram hingga 1 Kg daging murni yang mereka tambahkan dengan tulang dan jeroan. Sinergi dari pendanaan sukarela dosen dan karyawan menghasilkan kesuksesan distribusi ribuan paket daging dalam besek ramah lingkungan ini. Dengan melibatlan 27 panitia inti, 70 anggota tim teknis, relawan mahasiswa, hingga 12 Juru Sembelih Halal (Juleha). Sejalan dengan Misi Pelestarian Lingkungan Yasin merinci bahwa panitia mengawal seluruh proses pengemasan secara ketat agar tetap higienis, natural, dan sejalan dengan misi pelestarian lingkungan kampus. “Kami menggunakan besek, mengalasi dengan daun, kemudian mengikat dengan tali serabut,” tambahnya. Momentum Iduladha di Universitas Muhammadiyah Malang tahun ini memberikan pesan moral yang sangat kuat bagi masyarakat luas. Melalui qurban gGo Green, UMM membuktikan bahwa ibadah ritual keagamaan dapat berjalan harmonis dengan tanggung jawab sosial dan ekologis. Harapannya, inovasi penggunaan besek bambu ini dapat menginspirasi instansi maupun masyarakat umum untuk mulai meninggalkan plastik. Hingga keberkahan qurban dirasakan oleh alam semesta melalui lingkungan yang bersih, sehat, dan lestari.
UMM Konsisten Terapkan Kurban Go Green, Salurkan 2.500 Paket Daging dengan Besek Bambu

Reportasemalang – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan melalui pelaksanaan kurban berkonsep go green pada Iduladha 1447 Hijriah. Memasuki tahun keenam pelaksanaannya, UMM mendistribusikan lebih dari 2.500 paket daging kurban menggunakan kemasan tradisional berupa besek bambu yang dilapisi daun segar dan diikat dengan tali serabut kelapa. Ketua Panitia Kurban 1447 H UMM, Dr. Yasin Kusumo Pringgodigdo, S.Pd.I., M.H.I., mengatakan konsep tersebut diterapkan untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, khususnya kantong kresek hitam yang berpotensi membahayakan kesehatan dan lingkungan. Menurutnya, makna kurban tidak hanya sebatas meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi sarana menjaga kelestarian lingkungan dan peradaban. “Alhamdulillah, kita senantiasa mengusung go green. Jadi, spirit kurban bukan hanya untuk meraih takwa, tetapi juga menjaga peradaban dan kelestarian lingkungan,” ujar Yasin, Rabu (27/5/2026). Pada pelaksanaan kurban tahun ini, jumlah hewan yang disembelih meningkat dibanding tahun sebelumnya. Jika pada 2025 sebanyak 18 ekor sapi, tahun ini UMM menyembelih 20 ekor sapi serta 48 ekor kambing atau domba yang telah dipastikan dalam kondisi sehat dan bebas cacat. Ketua Panitia Kurban 1447 H UMM, Dr. Yasin Kusumo Pringgodigdo, S.Pd.I., M.H.I. Distribusi daging kurban tidak hanya menyasar sivitas akademika dan masyarakat sekitar kampus, tetapi juga diberikan kepada penghuni Lapas Perempuan dan Lapas Laki-Laki Malang. Selain itu, UMM juga menyalurkan enam ekor sapi hidup ke Sumbawa sebagai bagian dari program pemerataan manfaat kurban. Untuk menjamin pembagian yang adil dan merata, panitia menerapkan sistem pengelolaan berbasis data bobot hewan. Setiap sapi dipilih sesuai kebutuhan jumlah paket yang akan didistribusikan. “Kami memilih sapi berdasarkan bobotnya. Ketika membutuhkan 150 hingga 200 paket, kami menyesuaikannya dengan sapi berbobot sekitar 500 kilogram. Jadi penyembelihan dilakukan berdasarkan timbangan, bukan sekadar estimasi,” jelasnya. Setiap paket daging kurban berisi antara 0,75 kilogram hingga 1 kilogram daging murni yang dilengkapi tulang dan jeroan. Seluruh proses distribusi melibatkan 27 panitia inti, 70 anggota tim teknis, relawan mahasiswa, serta 12 Juru Sembelih Halal (Juleha). Yasin menambahkan, proses pengemasan dilakukan secara higienis dengan tetap mempertahankan prinsip ramah lingkungan melalui penggunaan bahan-bahan alami. “Pakai besek, dialasi daun, kemudian talinya menggunakan tali serabut,” katanya. Melalui program kurban go green ini, UMM ingin menunjukkan bahwa ibadah keagamaan dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap lingkungan. Inovasi penggunaan besek bambu diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi berbagai institusi dan masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, sehingga manfaat kurban tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga lingkungan yang lebih bersih dan lestari.
Selaraskan Kurikulum dengan DUDI
Aturan Masuk SD Usia 5,5 Tahun Dikritik, Pakar UMM Ingatkan Risiko Anak Stres dan Mogok Sekolah

Malang (beritajatim.com) – Kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang melonggarkan batas usia masuk Sekolah Dasar (SD) menjadi 5,5 tahun menuai sorotan dari kalangan akademisi. Aturan baru tersebut dinilai berpotensi memicu gangguan psikologis pada anak apabila tidak diimbangi kesiapan guru dan manajemen sekolah. Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd., mendesak pemerintah segera melakukan peningkatan kompetensi pedagogi bagi guru kelas satu SD agar mampu menangani siswa usia dini dengan pendekatan yang tepat. Menurut Arina, selama ini kurikulum pendidikan guru lebih banyak disiapkan untuk menangani siswa usia 7 hingga 12 tahun, sehingga guru berpotensi kesulitan ketika menghadapi anak usia 5,5 tahun yang masih berada dalam fase transisi PAUD ke SD. “Pembekalan ilmu pedagogi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi guru kelas satu SD sudah menjadi agenda yang sangat mendesak,” tegas Arina kepada beritajatim.com, Senin (25/5/2026). Ia mengingatkan, tanpa pelatihan khusus, guru bisa memaksakan standar pembelajaran anak usia tujuh tahun kepada siswa yang secara emosional dan psikologis belum siap. “Tanpa upgrade skill melalui pelatihan khusus, guru berpotensi memaksakan standar anak usia tujuh tahun kepada murid 5,5 tahun. Akibatnya sangat fatal, anak bisa stres, mogok sekolah, dan guru rentan salah melabeli mereka sebagai siswa lambat belajar padahal itu fase normal di usianya,” ujarnya. Arina juga meminta sekolah melakukan adaptasi serius dalam penerapan kebijakan baru tersebut. Salah satunya dengan menghadirkan kelas transisi bagi siswa baru kelas satu SD. Menurutnya, ruang kelas perlu didesain lebih ramah anak dengan menyediakan area bermain dan suasana belajar yang tidak terlalu kaku. Selain itu, sekolah juga diminta menerapkan asesmen awal saat masa orientasi untuk memetakan kebutuhan individual siswa, bukan sebagai alat seleksi masuk sekolah. “Manajemen tidak bisa lagi sekadar menerima siswa baru lalu berjalan seperti biasa. Di tiga bulan pertama, durasi belajar wajib dipangkas menjadi 20-30 menit yang diselingi istirahat, agar anak tidak kaget dengan rutinitas baru,” paparnya. Dalam proses pembelajaran, Arina menyarankan guru menggunakan pendekatan singkat, aktif, dan menyenangkan karena rentang fokus anak usia 5,5 tahun masih terbatas. Ia menyebut guru dapat menerapkan pola belajar “15-5-15”, yakni 15 menit pembelajaran inti, lima menit aktivitas bergerak atau bernyanyi, kemudian dilanjutkan kembali dengan 15 menit kegiatan belajar. “Guru bisa menerapkan siklus 15-5-15, yaitu 15 menit kegiatan inti, 5 menit bergerak atau bernyanyi, lalu 15 menit kegiatan lagi. Hindari pemberian lembar kerja di awal, beri mereka pilihan-pilihan kecil untuk mengurangi rasa dikontrol, dan rayakan sekecil apa pun keberaniannya agar sekolah terasa seperti perpanjangan PAUD,” jelasnya. Sebagai penutup, Arina meminta pemerintah tidak menerapkan kebijakan tersebut secara seragam di seluruh daerah tanpa evaluasi berkala terkait dampaknya terhadap kondisi psikologis anak. “Pemerintah harusnya segera melakukan lokakarya pedagogi guru kelas satu dan secepatnya merilis modul praktis transisi PAUD-SD. Jika melalui evaluasi tahunan kelak ditemukan lonjakan angka stres anak atau putus sekolah di awal jenjang dasar, Kemendikdasmen harus mengambil langkah tegas untuk merevisi aturan ini demi melindungi hak tumbuh kembang anak-anak Indonesia,” pungkasnya. [dan/beq]
Pakar UMM Malang Ingatkan Dampak Psikologis Kebijakan Masuk SD Usia 5,5 Tahun

timesindonesia, MALANG –Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mulai menetapkan kebijakan baru mengenai batas usia anak untuk dapat masuk ke jenjang Sekolah Dasar (SD). Jika biasanya anak bisa masuk SD ketika usia 7 tahun, kebijakan baru pemerintah tersebut melonggarkan batas usia menjadi minimal 5,5 tahun. Lantas, apakah kebijakan tersebut efektif terhadap proses pembelajaran anak? Menanggapi hal tersebut, pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd menjelaskan bahwa keputusan tersebut dapat menjadi bom waktu apabila tidak dibarengi perbaikan sistem pembelajaran tingkat SD. Ia menilai, terutama kompetensi padegogi guru perlu ditingkatkan supaya dapat mencegah stress pada anak nantinya. “Kebijakan tersebut perlu dibarengi perbaikan sistem serta peningkatan padegogi guru supaya seimbang,” ujarnya. Arina menilai, kurikulum pendidikan bagi guru saat ini lebih banyak mempersiapkan tenaga pendidik untuk rentang usia 7 hingga 12 tahun. Apabila pendidik tidak dibuatkan masa transisi untuk adaptasi, dikhawatirkan mereka akan gagap saat menghadapi tantrum dan akan kesulitan mengelola emosi anak. Arina juga menekankan apabila hal tersebut tetap dipaksakan sejak awal, maka dapat berakibat fatal. Anak dapat merasa tertekan, stress, mogok sekolah, dan guru akan rentan melabeli mereka sebagai siswa yang lambat belajar. “Dikhawatirkan anak bisa stress hingga mogok sekolah, guru juga rentan melabeli mereka lambat belajar padahal itu normal di usia mereka,” tambahnya. Ia pun menegaskan bahwa pembekalan ilmu pedagogi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi guru kelas satu SD kini menjadi agenda mendesak bagi Kemendikdasmen. Ia pun menyarankan untuk mencegah hal tersebut terjadi, manajemen sekolah perlu melakukan tiga adaptasi krusial. Pertama, sekolah wajib mendesain Kelas satu Transisi dengan tata ruang bersudut bermain, melaksanakan standardisasi asesmen awal saat masa orientasi hanya untuk memetakan kebutuhan individual anak, serta menjembatani komunikasi intensif antara pendidik dan orang tua terkait batasan ekspektasi akademik. Lanjutnya, sekolah perlu memangkas waktu belajar 20-30 menit yang diselingi istirahat supaya anak tidak kaget dengan rutinitas baru mereka. Arina menambahkan, untuk anak rentang usia 5,5 tahun, pendekatan pembelajaran di kelas harus berpegang pada prinsip “Singkat – Bergerak – Bermain” dan maksimal 15 menit. Hal tersebut untuk mencegah anak tertekan pada minggu-minggu awal. “Guru dapat menerapkan siklus 15-5-15, yaitu 15 menit kegiatan inti, 5 menit bergerak atau bernyanyi, lalu 15 menit kegiatan lagi,” tambahnya. Ia juga mengingatkan untuk guru menghindari memberikan lembar tugas dahulu dan menyarankan untuk memberikan keleluasaan bagi siswa serta apresiasi sekecil apapun keberanian siswa. Terakhir, ia juga menghimbau Pemerintah untuk tidak menerapkan kebijakan tersebut secara rata. Harus ada asesmen ketat terkait kesiapan psikologis anak. Pemerintah juga dituntut untuk segera melakukan lokakarya pedagogi guru kelas satu dan secepatnya merilis modul praktis transisi PAUD-SD. (*)
Aturan Anak 5,5 Tahun Bisa Masuk SD Tuai Sorotan, Pakar UMM Desak Kemendikdasmen Upgrade Skill Guru

pwmu.co – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) baru saja menggulirkan kebijakan pelonggaran batas usia masuk Sekolah Dasar (SD) menjadi 5,5 tahun. Langkah ini memicu sorotan tajam dari pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd.Ia menilai, aturan tersebut menyimpan bom waktu jika tidak segera dibarengi dengan perombakan manajemen sekolah dasar dan peningkatan kompetensi pedagogi guru secara masif guna mencegah stres pada anak. Arina menegaskan bahwa pembekalan ilmu pedagogi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi guru kelas satu SD kini menjadi agenda mendesak bagi Kemendikdasmen. Selama ini, kurikulum pendidikan guru dinilai lebih banyak mempersiapkan tenaga pendidik untuk rentang usia 7 hingga 12 tahun. Jika dipaksakan tanpa adaptasi, pendidik akan gagap saat menghadapi tantrum dan sulit mengelola regulasi emosi anak. “Tanpa upgrade skill melalui pelatihan khusus, guru berpotensi memaksakan standar anak usia tujuh tahun kepada murid 5,5 tahun. Akibatnya sangat fatal, anak bisa stres, mogok sekolah, dan guru rentan salah melabeli mereka sebagai siswa lambat belajar padahal itu fase normal di usianya,” tegasnya 25 Mei pada tim Humas UMM. Untuk mencegah kekacauan di lapangan, manajemen sekolah dasar dituntut melakukan tiga adaptasi krusial. Sekolah wajib mendesain Kelas 1 Transisi dengan tata ruang bersudut bermain, melaksanakan standardisasi asesmen awal saat masa orientasi hanya untuk memetakan kebutuhan individual anak, serta menjembatani komunikasi intensif antara pendidik dan orang tua terkait batasan ekspektasi akademik. “Manajemen tidak bisa lagi sekadar menerima siswa baru lalu berjalan seperti biasa. Di tiga bulan pertama, durasi belajar wajib dipangkas menjadi 20-30 menit yang diselingi istirahat, agar anak tidak kaget dengan rutinitas baru,” paparnya. Singkat, Bergerak, Bermain Selain kesiapan manajemen, Arina turut membagikan trik praktis bagi para pendidik agar siswa tidak tertekan di minggu-minggu pertama pembelajaran. Mengingat rentang fokus anak usia 5,5 tahun maksimal hanya 15 menit, pendekatan pengajaran di kelas harus berpegang teguh pada prinsip ‘Singkat, Bergerak, dan Bermain’. “Guru bisa menerapkan siklus 15-5-15, yaitu 15 menit kegiatan inti, 5 menit bergerak atau bernyanyi, lalu 15 menit kegiatan lagi. Hindari pemberian lembar kerja di awal, beri mereka pilihan-pilihan kecil untuk mengurangi rasa dikontrol, dan rayakan sekecil apa pun keberaniannya agar sekolah terasa seperti perpanjangan PAUD,” urai dosen PGSD tersebut. Sebagai pesan penutup, Arina mengingatkan pemerintah agar pelonggaran usia ini tidak diberlakukan secara pukul rata. Kebijakan ini idealnya tetap bersifat opsional dan didasarkan memberi pengetatan asesmen kesiapan psikologis anak. Pemerintah dituntut segera melakukan lokakarya pedagogi guru kelas satu dan secepatnya merilis modul praktis transisi PAUD-SD. Jika melalui evaluasi tahunan kelak ditemukan lonjakan angka stres anak atau putus sekolah di awal jenjang dasar, Kemendikdasmen harus mengambil langkah tegas untuk merevisi aturan ini demi melindungi hak tumbuh kembang anak-anak Indonesia. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan