Rupiah Melemah, Ini Tips Bijak Atur Keuangan Menurut Pakar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali berada dalam tekanan. Para Rabu (20/5/2026) diperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.600 hingga Rp 17.750 per dolar AS. Pakar Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Yunan Syaifullah, menjelaskan kenaikan dolar dapat memicu efek berantai yang langsung membebani pengeluaran rumah tangga, terutama karena tingginya ketergantungan Indonesia pada bahan impor. “Tentu harga bahan pokok yang naik, seperti tahu tempe karena 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih didatangkan dari luar negeri. Kemudian BBM dan transportasi naik karena Indonesia masih ketergantungan impor minyak dan energi, hingga berdampak pada belanja bulanan jadi lebih mahal,” kata Yunan dalam keterangan tertulis, dikutip pada Rabu (20/5/2026). Hemat (ilustrasi). – (www.freepik.com) Banyak masyarakat merasa aman karena tidak membeli barang impor secara langsung. Padahal menurut Yunan, biaya hidup mereka akan tetap membengkak seiring naiknya biaya produksi industri lokal. “Sebenarnya beli atau tidaknya mereka terhadap barang impor, mereka akan tetap terkena efek berantai mulai dari BBM naik, bahan baku naik, biaya produksi juga naik. Kenaikan dolar ini memberi dampak pada seluruh lapisan masyarakat,” kata dia. Ia kemudian mengungkap beberapa tips bijak mengelola keuangan di tengah kondisi sekarang. Pertama, ia mengimbau masyarakat untuk segera mengevaluasi kembali arus kas (cash flow) pribadinya masing-masing. Berhenti berlangganan layanan yang tidak krusial dan memangkas gaya hidup konsumtif adalah langkah darurat yang wajib diambil. Perempuan bijak berbelanja (ilustrasi). – (Dok. Freepik) “Dalam kondisi kurs yang tengah bergejolak, stabilitas ekonomi seseorang tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar penghasilannya, melainkan seberapa sehat dan rasional ia mengelola keuangannya,” kata Yunan. Halaman 2 / 2 Kedua, ia menyarankan masyarakat untuk memastikan dana darurat aman serta menunda konsumsi yang tidak mendesak. Prioritaskan kebutuhan utama terlebih dahulu dan tunda pembelian yang sensitif terhadap dolar seperti gawai atau alat elektronik baru. Karyawan menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026). Pada perdagangan Jumat sore, nilai tukar rupiah ditutup menguat pada level Rp17.268 per dolar AS. Pemerintah menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS dipicu meningkatnya tekanan global yang turut mengguncang mata uang di kawasan. Meski demikian, pemerintah bersama Bank Indonesia akan terus memantau pergerakan pasar guna menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi. – (Republika/Prayogi) Untuk menjaga nilai aset jangka panjang, Yunan menyarankan agar sebagian tabungan bisa didiversifikasi ke emas, reksadana, dan saham sektor defensif secukupnya saja untuk mengurangi risiko. Terakhir, ia meminta masyarakat tidak menggunakan layanan kredit instan karena berpotensi menguras tabungan. “Kebiasaan masyarakat kita seperti hobi paylater ini membuat terlena. Kebiasaan ini membuat ilusi kita punya uang lebih padahal itu utang. Bunga dan denda jika terlambat membayar dapat menguras habis uang kita,” kata Yunan.
Harkitnas 2026: Menjaga tunas bangsa, menyongsong masa depan Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Tema Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118, 20 Mei 2026, “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara” terasa sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan pesan yang mendalam. Tema itu tidak sekadar berbicara tentang anak-anak dan generasi muda sebagai penerus bangsa. Lebih dari itu, tema ini mengajak kita membaca ulang makna kebangkitan nasional. Sebab sebuah bangsa tidak benar-benar bangkit hanya karena memiliki sejarah besar, melainkan karena mampu menjaga generasi yang kelak akan meneruskan sejarah itu. Kata “tunas” sendiri menarik untuk direnungkan. Tunas adalah sesuatu yang masih muda dan rapuh, tetapi menyimpan kemungkinan untuk tumbuh. Ia baru muncul, belum menjadi pohon besar, belum menghasilkan buah. Karena itu pula, tunas masih rentan diterpa angin kencang dan hujan badai. Ia membutuhkan perlindungan agar mampu bertahan dan berkembang. Merawat tunas, pada akhirnya, adalah merawat masa depan. Dalam konteks kebangsaan, tunas bangsa tentu merujuk pada anak-anak, remaja, dan generasi muda hari ini. Namun maknanya tidak berhenti pada usia biologis semata. Tunas bangsa juga dapat dimaknai sebagai seluruh potensi yang sedang tumbuh di tengah masyarakat, mulai dari kreativitas anak muda, kemampuan literasi, kecerdasan digital, daya inovasi, kepekaan sosial, semangat kewirausahaan, hingga kesadaran kebangsaan. Semua itu merupakan modal penting bagi masa depan Indonesia. Karena itu, menjaga tunas bangsa bukan hanya soal melindungi generasi muda dari ancaman fisik. Lebih jauh, ia berarti memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang sehat, baik secara pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, maupun digital. Generasi muda juga tidak cukup hanya dibekali nasihat tentang nasionalisme. Yang mereka perlukan adalah pendidikan yang berkualitas, akses pengetahuan yang luas, ruang untuk berkreasi, pekerjaan yang bermartabat, lingkungan digital yang aman, serta kehadiran negara yang mampu membuat mereka percaya bahwa masa depan masih layak diperjuangkan. Dalam konteks itulah, hubungan antara tunas bangsa dan kedaulatan negara menjadi penting untuk dipahami. Selama ini, kedaulatan kerap dimaknai sebatas urusan batas wilayah, kekuatan militer, hukum, dan relasi antarnegara. Padahal, di tengah dinamika dunia modern, kedaulatan tidak hanya dijaga di garis perbatasan. Ia juga dipertaruhkan di ruang kelas, pasar kerja, pusat data, laboratorium, sawah, laut, kawasan industri, media sosial, hingga di dalam keluarga. Sebuah negara mungkin memiliki wilayah yang luas, tetapi jika generasi mudanya rapuh secara pendidikan, kedaulatan jangka panjangnya akan mudah goyah. Negara yang kaya sumber daya alam, tetapi tertinggal dalam penguasaan teknologi, pada akhirnya akan bergantung pada pihak lain. Begitu pula negara yang memiliki jutaan pengguna internet, tetapi rendah dalam literasi digital. Mereka akan mudah diguncang hoaks, penipuan daring, dan manipulasi informasi. Bahkan ketika ekonomi tampak tumbuh, tetapi anak-anak mudanya kehilangan harapan terhadap masa depan, sesungguhnya negara itu sedang menghadapi krisis kedaulatan dalam bentuk yang lebih halus dan sering kali tidak disadari. Tantangan kebangsaan Karena itulah, tema Harkitnas 2026 mengajak kita memahami makna kedaulatan secara lebih luas. Kedaulatan bukan semata kemampuan negara mengatakan “tidak” terhadap tekanan dari luar, melainkan juga kemampuan bangsa ini mengatakan “ya” terhadap masa depan rakyatnya sendiri. Kedaulatan tidak hanya soal menjaga wilayah dari ancaman eksternal, tetapi juga memastikan tunas bangsa tidak kehilangan pijakan di negerinya sendiri. Tantangan itu tentu tidak ringan. Di bidang pendidikan dan literasi, misalnya, Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah yang besar. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam kemampuan membaca, jauh di bawah rata-rata global yang mencapai 74 persen. Padahal, Level 2 merupakan ambang minimum untuk memahami gagasan utama dalam sebuah teks, menemukan informasi, serta merefleksikan tujuan bacaan secara sederhana. Data tersebut penting dibaca dalam konteks Hari Kebangkitan Nasional. Ingatan kita kerap kembali pada tahun 1908, ketika Budi Utomo lahir dan kemudian dipahami sebagai salah satu penanda awal tumbuhnya kesadaran kebangsaan modern Indonesia. Organisasi itu lahir dari kesadaran kaum terdidik bahwa pengetahuan dapat menjadi jalan menuju perubahan. Karena itu, jika hari ini kita berbicara tentang kebangkitan untuk menghadapi tantangan masa kini dan masa depan, maka literasi seharusnya ditempatkan sebagai fondasinya. Bangsa yang berdaulat tidak cukup hanya memiliki kekayaan sumber daya alam. Ia juga harus memiliki sumber daya manusia yang mampu membaca dengan kritis, berpikir jernih, menimbang informasi, memahami kompleksitas persoalan, serta menciptakan pengetahuan baru. Selain itu, kebangkitan ekonomi juga berkaitan erat dengan masa depan tunas bangsa. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I-2026. Angka tersebut menunjukkan daya tahan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global, meskipun pada saat yang sama nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan terhadap dolar AS. Tekanan terhadap rupiah tentu perlu segera dipulihkan. Sebab, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen hanya akan menjadi kebangkitan yang benar-benar bermakna apabila mampu menghadirkan ruang hidup yang lebih baik bagi generasi muda. Bagi generasi muda, ekonomi bukan sekadar angka pertumbuhan di atas kertas. Ekonomi hadir dalam pertanyaan-pertanyaan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: setelah lulus apakah mereka bisa memperoleh pekerjaan? Apakah gaji cukup untuk hidup layak? Apakah penghasilan memungkinkan mereka membeli rumah? Apakah kreativitas mereka mendapat ruang untuk berkembang? Apakah desa dan kota-kota kecil juga menyediakan peluang, atau seluruh harapan harus ditumpuk di kota besar? Ketika pertanyaan-pertanyaan itu tidak menemukan jawaban, tunas bangsa akan tumbuh dalam kecemasan, bukan optimisme. Lebih dari itu, ruang digital menghadirkan lapisan tantangan baru. Generasi muda Indonesia hidup di dalam dunia yang semakin terkoneksi. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2026 menunjukkan tingkat penetrasi internet Indonesia telah mencapai 81,72 persen. Situasi ini tentu membuka peluang besar. Akses digital dapat memperluas pendidikan, membuka kesempatan usaha, mendorong kreativitas, dan memperkuat partisipasi publik. Namun, konektivitas yang luas juga membawa berbagai risiko, mulai dari kecanduan layar, kekerasan berbasis digital, penipuan daring, hoaks, ujaran kebencian, hingga budaya serba instan. Karena itu, menjaga tunas bangsa di era digital tidak cukup hanya dengan menyediakan akses internet. Yang jauh lebih penting adalah membangun literasi digital, etika bermedia, kemampuan memilah informasi, serta daya tahan mental agar generasi muda tidak mudah terseret arus disinformasi dan tekanan sosial di ruang digital. Generasi muda tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mereka juga perlu menjadi pencipta, pengkritik, dan pengendali teknologi. Di sinilah kedaulatan digital bertemu dengan kedaulatan manusia. Spirit Harkitnas Oleh sebab itu, melalui spirit Harkitnas 2026, menjaga tunas bangsa berarti memastikan generasi muda tumbuh tanpa mengalami kelaparan pengetahuan. Remaja tumbuh tanpa kehilangan arah. Mahasiswa menjalani masa
Solusi Petani Cengkeh Mahasiswa UMM Ciptakan Clove Separator EVO
Solusi Petani Cengkeh: Mahasiswa UMM Ciptakan Clove Separator EVO

MALANG POST – Di tengah tuntutan efisiensi biaya pertanian dan ancaman tingginya inflasi bahan pokok yang membayangi kesejahteraan petani lokal, inovasi teknologi tepat guna menjadi kunci kelangsungan usaha tani. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menciptakan mesin pemisah cengkeh semi-otomatis bernama Clove Separator EVO. Inovasi ini hadir sebagai solusi konkret bagi petani cengkeh di Dusun Karanggongso, Trenggalek, yang selama ini terbebani oleh tingginya biaya tenaga kerja dan lambatnya proses panen secara manual. Mesin ini merupakan karya inovatif Risqi Andy Sulbi Sasmita dan timnya dari Program Studi Teknik Industri UMM angkatan 2022. Sebelumnya, proses pemisahan bunga dan tangkai cengkeh secara tradisional memakan waktu sangat lama, di mana tenaga manusia hanya sanggup menghasilkan maksimal dua kilogram per jam. Risqi menjelaskan bahwa inovasi mesin ini dirancang secara khusus untuk mendongkrak kapasitas produksi petani hingga puluhan kali lipat namun dengan harga beli yang ramah di kantong. “Tujuan utama kami memang untuk meningkatkan kapasitas produksi petani hingga berkali-kali lipat dibandingkan cara manual. Apalagi, alat ini kami proyeksikan memiliki harga jual yang jauh lebih kompetitif, yaitu sekitar enam hingga tujuh juta rupiah, dibandingkan mesin serupa di pasaran yang bisa mencapai belasan juta,” ujar Risqi. Melalui Clove Separator EVO, kapasitas pengolahan melonjak drastis hingga 50 kilogram per jam dengan hanya membutuhkan satu hingga dua operator. Mesin ini beroperasi secara sistematis; bunga cengkeh yang masuk ke dalam corong akan melewati rotor penggilingan, lalu disaring menggunakan sistem ayakan bergetar untuk memisahkan bunga dan tangkai secara utuh. Tim mahasiswa UMM ini juga memastikan rancangan alat tersebut tetap memperhatikan kenyamanan dan keselamatan pengguna berkat arahan langsung dari para dosen pembimbing. Alat yang lahir dari proyek mata kuliah Perancangan Sistem Terpadu (PST) ini juga menawarkan kemudahan perawatan harian. Rencananya, purwarupa Clove Separator EVO akan dikirim ke Desa Tasikmadu pada bulan Juni mendatang untuk menjalani uji coba lapangan secara langsung saat masa panen raya. Ia berharap karya mahasiswa dari Kampus Putih UMM ini bisa memantik semangat sivitas akademika lain untuk terus berkreasi memecahkan persoalan riil di masyarakat. “Kami berharap mahasiswa lain tidak perlu mencari ide terlalu jauh, cukup peka dengan kebutuhan di sekitar kita. Sebab, sekecil apa pun inovasi yang kita buat sangat berarti bagi masyarakat,” pungkasnya. Kehadiran Clove Separator EVO menjadi bukti nyata bahwa hilirisasi riset di lingkungan perguruan tinggi bukan sekadar wacana akademis. Kolaborasi antara kepekaan sosial mahasiswa dan dukungan fasilitas kampus terbukti mampu menghadirkan teknologi tepat guna yang berdampak langsung pada peningkatan ekonomi kerakyatan. Harapannya, inovasi ini segera mendapatkan dukungan untuk diproduksi secara massal agar kesejahteraan petani cengkeh di berbagai pelosok Nusantara dapat terus melesat.(M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Pakar Ekonomi UMM Bagikan Strategi Amankan Dompet Saat Dolar Melonjak

Malang (beritajatim.com) – Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Yunan Syaifullah, M.Sc, memberikan strategi praktis agar masyarakat tetap tangguh secara finansial saat Pelemahan mata uang Rupiah atas Dolar AS. Pelemahan mata uang Rupiah ini dinilai sebagai ancaman nyata yang mulai menyusup ke dapur masyarakat luas. Yunan menjelaskan bahwa lonjakan kurs Dolar AS memicu efek domino yang langsung membebani pos pengeluaran rumah tangga. Kondisi ini terjadi lantaran tingginya ketergantungan Indonesia terhadap sejumlah komoditas impor di pasar internasional. ”Tentu harga bahan pokok yang naik, seperti tahu tempe karena 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih didatangkan dari luar negeri. Kemudian BBM dan transportasi naik karena Indonesia masih ketergantungan impor minyak dan energi, hingga berdampak pada belanja bulanan jadi lebih mahal,” ungkap Yunan kepada Tim Humas UMM pada Selasa (19/5/2026). Menurut Yunan, banyak masyarakat yang keliru dan merasa aman hanya karena tidak membeli barang impor secara langsung. Padahal, biaya hidup masyarakat dipastikan akan tetap membengkak seiring dengan merangkaknya biaya produksi pada sektor industri lokal. ”Sebenarnya beli atau tidaknya mereka terhadap barang impor, mereka akan tetap terkena efek berantai mulai dari BBM naik, bahan baku naik, biaya produksi juga naik. Kenaikan dolar ini memberi dampak pada seluruh lapisan masyarakat,” tegas pakar ekonomi UMM tersebut. Menghadapi situasi makroekonomi yang fluktuatif ini, Yunan mengimbau masyarakat untuk tidak panik. Langkah awal yang paling krusial untuk dilakukan saat ini adalah mengamankan ketersediaan dana darurat dan menunda konsumsi yang sifatnya tidak mendesak. ”Prioritaskan kebutuhan utama terlebih dahulu dan tunda pembelian yang sensitif terhadap dolar seperti gadget baru. Namun, untuk menjaga nilai aset jangka panjang, sebagian tabungan bisa didiversifikasi ke emas, reksadana, dan saham sektor defensif secukupnya saja untuk mengurangi risiko,” jelasnya. Di samping itu, Yunan juga menyoroti ancaman inflasi yang diperparah oleh perilaku keuangan masyarakat yang gemar memanfaatkan layanan kredit instan. Kebiasaan ini dinilai menciptakan ilusi finansial yang berpotensi menguras habis tabungan di masa depan. ”Kebiasaan masyarakat kita seperti hobi paylater ini membuat terlena. Kebiasaan ini membuat ilusi kita punya uang lebih padahal itu utang. Bunga dan denda jika terlambat membayar dapat menguras habis uang kita,” tambah Yunan mengingatkan. Kendati situasi ekonomi tampak menantang, Yunan justru mendorong generasi muda untuk jeli melihat penguatan Dolar AS sebagai momentum emas. Fluktuasi kurs ini dapat dimanfaatkan untuk mencari peluang penghasilan mandiri berbasis pasar global. ”Sekarang anak muda bisa mempelajari skill digital dan membangun side hustle sesuai minat, misalnya menjadi konten kreator atau copywriter. Skill yang bisa menghasilkan pendapatan dolar saat ini justru menjadi peluang saat Rupiah melemah,” urainya optimis. Sebagai langkah penyelamatan jangka pendek, masyarakat diharapkan segera mengevaluasi kembali arus kas (cash flow) pribadi masing-masing. Langkah darurat seperti berhenti berlangganan layanan digital yang tidak krusial serta memangkas gaya hidup konsumtif wajib diambil. ”Sebab, dalam kondisi kurs yang tengah bergejolak, stabilitas ekonomi seseorang tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar penghasilan yang diperoleh, melainkan dari seberapa sehat dan rasional mereka mengelola keuangan,” kata Yunan Syaifullah, menutup. (dan/ted)
UMM Hadirkan Beragam Program Beasiswa untuk Dukung Talenta Muda Indonesia

UMM Hadirkan Beragam Program Beasiswa untuk Dukung Talenta Muda Indonesia. (Humas UMM/PWMU.CO) pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang atau UMM menyiapkan puluhan program beasiswa inklusif bagi lebih dari 6.000 calon mahasiswa baru.Kebijakan ini menjadi bentuk komitmen kampus dalam memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus menghapus anggapan bahwa kuliah berkualitas identik dengan biaya mahal. Wakil Rektor II UMM, Ahmad Juanda, menuturkan bahwa keberagaman program beasiswa tersebut merupakan bagian dari pengelolaan keuangan universitas yang berorientasi pada keadilan dan keberlanjutan. Menurutnya, pendanaan kampus dikelola secara strategis agar program bantuan pendidikan dapat terus berjalan dan menjangkau lebih banyak mahasiswa berprestasi. Ia menegaskan bahwa langkah ini merupakan implementasi nyata semangat filantropi pendidikan Muhammadiyah melalui Kampus Putih. Sejalan dengan visi universitas, berbagai skema beasiswa itu dirancang untuk menjaring talenta terbaik dari seluruh daerah di Indonesia tanpa memandang latar belakang ekonomi. UMM ingin membuka kesempatan seluas-luasnya bagi generasi muda agar dapat mengakses pendidikan tinggi yang unggul dan berdaya saing global. Program beasiswa yang ditawarkan juga disesuaikan dengan perkembangan zaman. Salah satunya Beasiswa Pendidikan Indonesia Emas yang memberikan potongan 50 persen Biaya Studi Semester I bagi lulusan pendidikan menengah. Selain itu, tersedia Beasiswa Jalur Prestasi Akademik dan Nonakademik yang memungkinkan calon mahasiswa diterima tanpa tes seleksi. Menariknya, UMM juga memberi ruang bagi kreator konten digital. Influencer seperti YouTuber dengan minimal 5 ribu subscriber maupun selebgram dengan minimal 10 ribu pengikut dapat mengikuti jalur ini selama memiliki konten yang kreatif, edukatif, dan bernilai positif. Tidak hanya fokus pada prestasi, UMM juga memberikan perhatian pada aspek sosial melalui Beasiswa Yatim Piatu bagi siswa kurang mampu. Program ini mencakup pembebasan Dana Pengembangan Pendidikan dan SPP hingga delapan semester. Sementara pada jenjang pascasarjana, tersedia Beasiswa 5.000 Doktor untuk kepala dan wakil kepala sekolah Muhammadiyah dan Aisyiyah. Ekosistem pendanaan pendidikan di UMM turut diperkuat melalui kerja sama dengan pemerintah dan dunia industri. Kampus ini juga menyediakan Beasiswa KIP serta Beasiswa Mitra Industri dan Unit Bisnis UMM yang didukung sejumlah perusahaan milik universitas. Selain membantu pembiayaan studi, program tersebut juga membuka peluang magang dan pengembangan karier profesional bagi mahasiswa.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman Editor : Zahrah Khairani Karim
Sempat Mengais Limbah di Eropa, Alumnus UMM Ini Jadi Bos Spa Beromzet Ratusan Juta

Galang. Alumnus Program Studi Agribisnis UMM angkatan 2011, yang kini membangun bisnis beromzet ratusan juta per bulan di Polandia. (Faqih/PWMU.CO). pwmu.co –Membangun bisnis spa beromzet ratusan juta rupiah per bulan di Polandia bukanlah pencapaian instan bagi Galang. Alumnus Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2011 ini harus merintis karirnya di Eropa dari titik terendah. Yakni dengan memeras keringat sebagai petugas kebersihan gudang dan mengurus sisa limbah demi bertahan hidup. Keberangkatannya ke Eropa pada Mei 2021 bukanlah perjalanan yang mulus. Setelah berkali-kali gagal menembus visa kerja ke Australia, Selandia Baru, dan Kanada sejak 2017, ia membidik Polandia yang saat itu minim lirikan pekerja Indonesia. Fase Belajar Bertahan Setibanya di sana, kenyataan keras langsung menyapanya. Galang mengungkapkan bahwa pengalaman awalnya di Eropa sangatlah berat karena ia harus bekerja kasar tanpa modal bahasa asing yang mumpuni. “Sesampainya di Polandia, saya bekerja sebagai petugas kebersihan gudang tanpa membutuhkan kemampuan bahasa khusus. Mulai dari membersihkan area produksi, mengangkut kardus, hingga membersihkan sisa limbah kerja setiap hari” terang Galang. “Pengalaman itu memang berat, tetapi justru menjadi fase penting untuk belajar bertahan, memahami budaya kerja Eropa, dan membentuk mental sebagai perantau” tegasnya pada Senin (18/05/2026) lalu. Tak ingin selamanya menjadi pekerja kasar, Galang beralih profesi menjadi pegawai di sebuah restoran kebab selama hampir tiga setengah tahun. Di sanalah ia mulai menyerap bahasa Polandia, sistem pajak, legalitas usaha, dan celah bisnis di Eropa. Ia menyadari bahwa kesuksesan di luar negeri membutuhkan kejelian melihat peluang, bukan sekadar bekerja dan menerima gaji. “Banyak orang datang ke luar negeri hanya bekerja biasa, tapi ada juga yang mencoba membangun sesuatu yang lebih besar” katanya. Jeli Melihat Peluang Peluang emas itu ia temukan pada bisnis relaksasi bertema Asia yang masih langka di Polandia. Galang kemudian menggandeng terapis asal Bali untuk merintis usaha spa, meski harus membagi waktu dengan pekerjaannya di restoran kebab. Ia menjelaskan bahwa membuka usaha di Eropa menuntut pemahaman regulasi yang sangat ketat dan perhitungan finansial yang matang. “Membangun usaha di Eropa tidak sesederhana membuka bisnis di Indonesia. Saya harus memahami regulasi yang sangat detail, mulai dari pajak perusahaan, keamanan pelanggan, administrasi usaha, hingga kewajiban menggunakan jasa lawyer dan akuntan” jelas Galang. Kini, berkat insting bisnis yang telah terasah sejak menjadi sales di Indonesia, usaha “Tera Thai Salon Day Spa” miliknya melesat. Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, bisnis tersebut meraup omzet Rp500 hingga Rp600 juta per bulan dan bersiap membuka cabang baru di Kota Gdansk. Kisah inspiratif Galang ini memberikan pesan kuat bagi generasi muda bahwa kesuksesan di negeri orang bukanlah undian berhadiah. Melainkan hasil dari ketahanan mental, kemauan beradaptasi, dan keberanian mengambil risiko. “Kadang kita tidak pernah tahu rezeki ada di mana kalau tidak berani mencoba dan terus belajar” pungkasnya menutup cerita. *) Penulis : Faqih Editor : Danar Trivasya Fikri
Pernah Jualan Hasil Bumi hingga Jadi Sekda Demak, Akhmad Sugiharto Buktikan Kesuksesan Butuh Ketangguhan

Sekda Kabupaten Demak Akhmad Sugiharto, ST, MT, saat menjadi pembicara di hadapan ribuan Wisudawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), beberapa waktu lalu.(Foto: Dok. UMM). “Kesuksesan sejati bukan diukur dari tingginya posisi yang kita capai, tetapi dari manfaat yang bisa kita hadirkan untuk orang lain.” DEMAK, SUDUTPANDANG.ID – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Akhmad Sugiharto, ST, MM, mengungkap perjalanan hidupnya yang pernah berjualan hasil bumi sebelum akhirnya mengemban amanah jabatan strategis di pemerintahan. Pengalaman tersebut, membuktikan bahwa kesuksesan membutuhkan ketangguhan dan kerja keras. Kisah penuh perjuangan dan inspiratif tersebut disampaikan Akhmad saat menjadi pembicara dalam Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) beberapa waktu lalu. Di hadapan ribuan wisudawan, ia menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh tantangan sejak merantau ke Kota Malang pada 1991 untuk menempuh pendidikan di Fakultas Teknik Sipil UMM. Sekda Kabupaten Demak, Akhmad Sugiharto, ST, MT, saat menjadi pembicara dalam Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang, beberapa waktu lalu (Foto: Dok. UMM). Akhmad mengenang masa awal dirinya merantau ke Kota Apel pada 1991 untuk menempuh pendidikan di Fakultas Teknik Sipil UMM. Dengan kondisi ekonomi yang terbatas, Akhmad menjalani kehidupan mahasiswa secara sederhana. Meski demikian, ia tetap aktif mengikuti kegiatan organisasi dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Menurutnya, pengalaman hidup selama masa kuliah menjadi bekal penting dalam membangun kemampuan beradaptasi dan menghadapi berbagai tekanan kehidupan. “Di UMM saya belajar bukan hanya soal akademik, tetapi juga bagaimana bertahan dalam situasi sulit dan tetap memiliki semangat untuk terus maju,” ungkap Akhmad. Tantangan terbesar, lanjutnya, justru datang setelah lulus kuliah pada 1997. Berulang kali melamar pekerjaan namun belum berhasil membuatnya harus mencari cara lain untuk bertahan hidup. Akhmad pun sempat berjualan hasil bumi, sebuah fase yang diakuinya menjadi titik paling berat sekaligus paling berharga dalam hidupnya. Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa keberhasilan tidak dibangun dalam semalam. Ketekunan, doa orang tua dan keyakinan untuk terus berusaha menjadi kekuatan utama yang membuatnya mampu bangkit. Sekda Kabupaten Demak, Akhmad Sugiharto, ST, MT, saat menjadi pembicara dalam Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang, beberapa waktu lalu (Foto: Dok.UMM). Usaha keras tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada 1998, Akhmad berhasil lolos seleksi CPNS dan mulai mengabdikan diri di pemerintahan. Tak hanya sukses dalam karier birokrasi, Akhmad juga dikenal melalui inovasinya di bidang infrastruktur. Selain dikenal di bidang birokrasi, Akhmad juga disebut menggagas pembangunan jalan beton atau rigid pavement di Kabupaten Demak pada 2010. Konsep pembangunan jalan tersebut dinilai lebih kuat dan tahan lama dibandingkan jalan aspal konvensional, serta kemudian diadopsi sejumlah daerah lain di Jawa Tengah. Menurut Akhmad, keberhasilan tidak hanya diukur dari jabatan yang diraih, tetapi juga dari manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat. “Kesuksesan sejati bukan diukur dari tingginya posisi yang kita capai, tetapi dari manfaat yang bisa kita hadirkan untuk orang lain,” tegasnya. Ia juga berpesan kepada generasi muda agar tidak takut menghadapi kegagalan karena setiap tantangan merupakan bagian dari proses pembentukan karakter dan mental yang kuat. Menurutnya, tantangan hidup justru menjadi proses penting dalam membentuk mental yang kuat dan karakter kepemimpinan. Perjalanan hidup Akhmad Sugiharto menjadi gambaran bahwa kerja keras, ketekunan, dan integritas dapat menjadi modal untuk meraih keberhasilan di tengah berbagai keterbatasan.(red).
Gerak Cepat, PMB Kampus Swasta Sudah Dibuka sejak Akhir 2025

ANIMO TINGGI: UMM sudah membuka pendaftaran PMB sejak akhir 2025. (umm.ac.id) MALANG KOTA, RADAR MALANG – Gerak cepat sudah ditunjukkan kampus-kampus swasta di Kota Malang dalam Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Mulai akhir 2025 lalu, mayoritas dari mereka sudah membuka pendaftaran. Langkah tersebut dilakukan karena jumlah pelajar lulusan SMA/SMK sederajat dari Kota Malang tak terlalu banyak. Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun lalu, jumlahnya 19.618 pelajar. Empat kampus negeri masih menjadi tujuan favorit para pelajar tersebut. Yakni Universitas Negeri Malang, UIN Maliki Malang, Universitas Brawijaya, dan Politeknik Negeri Malang (Polinema). Meski masih ada proyeksi menggaet calon mahasiswa dari luar Kota Malang, kampus swasta menolak pasif. ”Kami mulai membuka pendaftaran sejak 1 November 2025 lalu,” ujar Kepala Humas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Maharina Novia Zahro. Pendaftaran pertama dibuka untuk jalur prestasi mulai 1 November 2025 hingga 25 Februari 2026. Tesnya hanya dengan mengunggah nilai rapor calon mahasiswa baru pada semester 1 sampai 4 saja. Saat ini, UMM masih membuka pendaftaran jalur prestasi periode II. Dibuka mulai 26 Februari sampai 25 Juni mendatang. Selain jalur prestasi, UMM juga membuka pendaftaran jalur reguler. Dimulai 1 November 2025 hingga 30 Juni mendatang. Penilaiannya lebih beragam. Mulai dari rapor atau ijazah, hingga tes motivasi. Rata-rata jalur pendaftaran di UMM memang dimulai sejak 1 November 2025 lalu. Animo pendaftar di sana juga selalu melampaui kuota yang ditentukan. ”Sebagai contoh tahun lalu kami membuka kuota sekitar 6 ribu kursi, dan pendaftarnya sampai 9 ribu calon maba,” lanjut Maharina. Biaya pendaftaran yang dipatok untuk calon maba tidak terlalu tinggi. Untuk jenjang SI dan vokasi dibanderol Rp 400 ribu saja. Sementara untuk profesi Rp 450 ribu. Di sisi lain, Tim Marketing Bina Nusantara (Binus) Malang Amelia menuturkan, pihaknya juga membuka pendaftaran lebih awal. Proses registrasi terus dibuka hingga 22 Mei mendatang. ”Sebab kami jadwalkan perkuliahan mulai September 2026,” kata dia. Banyak kegiatan yang dilakukan Binus untuk menggaet mahasiswa. Mulai dari sosialisasi hingga memasang iklan di reklame pinggir jalan. Selain itu mereka juga banyak memasang penawaran beasiswa hingga 50 persen untuk calon maba. Update terakhir, kuota beberapa jurusan favorit di sana hampir penuh. (aff/by) Editor : Bayu Mulya Putra
Pernah Jualan Hasil Bumi hingga Jadi Sekda Demak, Akhmad Sugiharto Buktikan Kesuksesan Butuh Ketangguhan

Sekda Demak Akhmad Sugiharto saat memberikan motivasi kepada wisudawan UMM tentang pentingnya kerja keras, ketekunan, dan keberanian menghadapi kegagalan. SuaraMerdeka – Kariernya terus berkembang hingga dipercaya menjadi Sekretaris Daerah Kabupaten Demak. Tak hanya sukses dalam karier birokrasi, Akhmad juga dikenal melalui inovasinya di bidang infrastruktur. Pada 2010, ia menggagas pembangunan jalan beton atau rigid pavement di Demak. Konsep tersebut terbukti lebih kuat dan tahan lama dibandingkan jalan aspal konvensional, bahkan kemudian diikuti sejumlah daerah lain di Jawa Tengah. Bagi Akhmad, keberhasilan sejati bukan sekadar soal jabatan, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat. “Kesuksesan sejati bukan diukur dari tingginya posisi yang kita capai, tetapi dari manfaat yang bisa kita hadirkan untuk orang lain,” tegasnya di hadapan para wisudawan. Ia juga berpesan kepada generasi muda agar tidak takut menghadapi kegagalan. Menurutnya, tantangan hidup justru menjadi proses penting dalam membentuk mental yang kuat dan karakter kepemimpinan. Kisah hidup Akhmad Sugiharto menjadi gambaran nyata bahwa ketangguhan, kerja keras dan integritas mampu mengubah keterbatasan menjadi keberhasilan besar. (Red).***