Daftar Universitas yang Menerima KIP Kuliah 2026

Daftar Isi Daftar universitas yang menerima KIP Kuliah 1. Universitas Indonesia 2. Universitas Gadjah Mada 3. Institut Teknologi Bandung 4. Institut Pertanian Bogor 5. Universitas Airlangga 6. Universitas Diponegoro 7. Universitas Padjadjaran Jakarta, CNN Indonesia — Sejumlah universitas menerima bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Simak daftar universitas yang menerima KIP Kuliah di tahun 2026. KIP Kuliah adalah bantuan biaya pendidikan dari pemerintah Indonesia untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi bagi lulusan SMA atau sederajat yang berprestasi akademik, tetapi memiliki keterbatasan ekonomi. Berkat bantuan ini, pemerintah menjamin akan membiaya biaya kuliah calon mahasiswa dan memberikan bantuan biaya hidup agar mereka bisa fokus menimba ilmu dan memutuskan rantai kemiskinan. Sekarang ini, hampir seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia menerima KIP Kuliah. Jika kamu penasaran, berikut beberapa universitas yang menerima bantuan KIP Kuliah di Indonesia. Daftar universitas yang menerima KIP Kuliah Melansir dari situs resmi Kartu Indonesia Pintar Kuliah, berikut adalah daftar universitas yang menerima KIP Kuliah di tahun 2026. 1. Universitas Indonesia Universitas Indonesia atau UI menjadi salah satu kampus favorit penerima KIP Kuliah. Kampus ini menyediakan banyak program studi dari rumpun saintek, soshum, hingga vokasi. Mahasiswa penerima KIP Kuliah di UI tetap mendapatkan fasilitas pendidikan yang sama seperti mahasiswa lainnya, termasuk akses beasiswa pendukung dan kegiatan kampus. 2. Universitas Gadjah Mada UGM dikenal sebagai salah satu kampus terbaik di Indonesia yang menerima banyak mahasiswa penerima KIP Kuliah setiap tahun. Kampus ini memiliki berbagai program pendampingan mahasiswa agar penerima bantuan tetap bisa berprestasi secara akademik maupun nonakademik. Pilihan Redaksi Apakah KIP Bisa Digunakan untuk Kuliah di PTS? Ini Aturannya Apakah Desil 7 Bisa Lolos KIP Kuliah? Begini Penjelasan dan Syaratnya Berapa IPK Minimal Penerima KIP Kuliah? Ini Ketentuannya 3. Institut Teknologi Bandung ITB juga menerima mahasiswa melalui jalur KIP Kuliah, terutama bagi siswa berprestasi yang ingin melanjutkan studi di bidang teknik, sains, dan seni. Kampus ini cukup diminati karena kualitas pendidikan dan peluang karier lulusannya sangat baik. 4. Institut Pertanian Bogor IPB University membuka kesempatan bagi penerima KIP Kuliah di berbagai program studi, terutama bidang pertanian, pangan, peternakan, dan lingkungan. Kampus ini juga dikenal aktif memberikan pembinaan untuk mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. 5. Universitas Airlangga Universitas Airlangga atau Unair menjadi salah satu kampus negeri yang rutin menerima mahasiswa KIP Kuliah. Pilihan jurusannya cukup lengkap, mulai dari kesehatan, hukum, bisnis, hingga sains dan teknologi. 6. Universitas Diponegoro Undip menerima penerima KIP Kuliah melalui berbagai jalur masuk seperti SNBP, SNBT, dan mandiri. Kampus ini memiliki fasilitas pendidikan yang lengkap dan menjadi salah satu tujuan favorit calon mahasiswa dari Jawa Tengah dan sekitarnya. 7. Universitas Padjadjaran UNPAD termasuk universitas negeri yang cukup populer bagi penerima KIP Kuliah. Kampus ini menawarkan banyak program studi unggulan dan memiliki lingkungan belajar yang aktif serta kompetitif. Daftar universitas lain yang menerima KIP Kuliah: Universitas Brawijaya Universitas Sebelas Maret Universitas Negeri Yogyakarta Universitas Negeri Malang Universitas Hasanuddin Universitas Andalas Universitas Negeri Semarang Universitas Pendidikan Indonesia Institut Teknologi Sepuluh Nopember Universitas Negeri Jakarta Universitas Lampung Universitas Sriwijaya Universitas Negeri Surabaya Universitas Jember Universitas Riau Universitas Negeri Medan Universitas Sumatera Utara Universitas Tadulako Universitas Syiah Kuala Universitas Negeri Padang Universitas Negeri Makassar Universitas Mulawarman Universitas Mataram Universitas Udayana Universitas Negeri Gorontalo Universitas Bengkulu Universitas Khairun Universitas Palangka Raya Universitas Cenderawasih Universitas Negeri Manado Universitas Tanjungpura Universitas Trunojoyo Madura Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Telkom University Universitas Katolik Parahyangan BINUS University Universitas Kristen Maranatha Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Universitas Muhammadiyah Malang Universitas Ahmad Dahlan Universitas Gunadarma Universitas Mercu Buana Universitas Islam Indonesia Universitas Pelita Harapan Universitas Atma Jaya Yogyakarta Universitas Dian Nuswantoro Universitas Esa Unggul Universitas Pancasila Universitas Nasional Universitas Paramadina Universitas Bina Sarana Informatika Universitas Ciputra Universitas Surabaya Universitas Pasundan Universitas Tarumanagara Universitas Kristen Petra Selain universitas yang tertulis, masih ada banyak lagi universitas negeri atau swasta lainnya yang menerima KIP Kuliah. Untuk melihat lebih lengkap, kamu bisa mengakses situs KIP Kuliah di https://kip-kuliah.kemdiktisaintek.go.id/. Demikian adalah daftar universitas yang menerima KIP Kuliah di tahun 2026. Semoga bermanfaat. (sac/fef)

Tips Pilih Hewan Kurban Sehat ala Pakar, Jangan Cuma Tergiur Jumbo!

Ilustrasi hewan kurban/Foto: Aprilia Devi/detikJatim Malang -Hari Raya Idul Adha sudah di depan mata. Masyarakat kini mulai memadati pasar-pasar hewan untuk mencari sapi atau kambing terbaik untuk kurban. Namun, jangan sampai detikers hanya terpaku pada ukuran tubuh yang besar atau harga yang selangit. Ada kriteria kesehatan dan syariat yang wajib dipenuhi agar ibadah kurban menjadi sah. Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. drh. Lili Zalizar mengingatkan, masyarakat untuk menjadi pembeli yang cerdas. Ia membagikan panduan praktis mendeteksi kesehatan hewan melalui pengamatan fisik sederhana sebelum melakukan transaksi. Langkah paling awal yang harus dilakukan adalah memantau postur dan cara berdiri hewan secara menyeluruh. Pembeli disarankan melihat ternak dari berbagai sisi, baik depan, samping, maupun belakang. Hal ini penting untuk memastikan hewan dalam kondisi fisik yang sempurna tanpa cacat. “Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ujar Prof Lili kepada wartawan, Selasa (12/5/2026). Prof Lili juga menegaskan, dalam syariat Islam, hewan dengan cacat fisik seperti pincang tidak diperbolehkan untuk dijadikan kurban. Selain postur, kejernihan mata menjadi indikator vital. Hewan kurban tidak boleh buta atau memiliki gangguan penglihatan yang biasanya ditandai dengan munculnya selaput putih atau mata yang tampak keruh. Kebersihan kulit juga tidak boleh luput dari perhatian. Prof. Lili menyarankan masyarakat untuk memilih hewan dengan kulit yang mulus dan bebas dari penyakit kulit seperti kudis atau scabies. Menurutnya, memberikan yang terbaik adalah inti dari ibadah kurban itu sendiri. Masyarakat juga diminta ekstra waspada terhadap ancaman penyakit menular berbahaya seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Antraks. Gejala PMK yang mudah dikenali adalah keluarnya lendir berlebih dari mulut, adanya luka pada gusi dan lidah, serta peradangan kemerahan di sela kuku kaki. Sementara itu, gejala Antraks jauh lebih mengerikan dan fatal jika dagingnya dikonsumsi manusia. Hewan yang terinfeksi biasanya mengalami kejang-kejang dan pendarahan dari lubang tubuh seperti hidung atau anus. “Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” tegas Prof. Lili. Selain faktor kesehatan fisik, faktor usia juga menjadi syarat mutlak keabsahan kurban. Pastikan sapi sudah berumur minimal dua tahun, sedangkan untuk kambing atau domba minimal sudah menginjak usia satu tahun. Hewan yang sehat juga bisa dilihat dari nafsu makannya yang tinggi dan terlihat bugar. Satu hal penting yang sering kali dilupakan oleh panitia kurban maupun pembeli adalah masa istirahat hewan sebelum disembelih. Prof. Lili mengingatkan agar hewan yang baru saja menempuh perjalanan jauh tidak langsung dipotong demi menghindari stres. Kelelahan ekstrem pada hewan dapat memicu sindrom DFD (Dark, Firm, Dry). “Kondisi itu, bisa menyebabkan kualitas daging menurun drastis menjadi berwarna gelap, bertekstur keras, dan terasa kering,” pungkasnya. (auh/hil)

PPG UMM Kantongi Lisensi HKI, Resmi Lahirkan 4 Model Pembelajaran Inovatif

Mahasiswa PPG UMM 2025 melahirkan empat karya inovatif model pembelajaran yang mendapat lisensi HKI./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2025 berhasil menorehkan prestasi akademik dengan melahirkan empat karya inovatif berupa model pembelajaran. Keempat karya strategis yang dirancang khusus untuk menjawab tantangan pendidikan masa kini telah resmi mengantongi lisensi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang ditetapkan secara serentak pada 15 April lalu. Ini menjadi bukti adanya upaya peningkatan kualitas pendidikan melalui dedikasi para calon guru masa depan. Dosen PPG UMM, Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa meskipun luaran visual dari karya-karya ini disajikan dalam bentuk desain poster, esensi utama dan bobot keilmuannya terletak pada rancangan model pendekatan pendidikan di baliknya. Terdapat empat model spesifik yang telah diakui oleh HKI. Pertama adalah Model Profiling Kunci Pembelajaran Adaptif dan Inklusif, yang disusun untuk merespons keragaman karakter dan kebutuhan siswa di dalam kelas. Kedua, Model Simfoni Kelas Harmoni melalui Deep Learning, sebuah metode yang bertujuan menyelaraskan iklim belajar secara komprehensif. Ketiga, Model Pendekatan Holistik Pembelajaran E-learning, yang dirancang agar sangat relevan dengan masifnya arus digitalisasi pendidikan saat ini. Keempat, Model Transformasi Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2024 dengan Memanusiakan dan Membangun Potensi Siswa, yang menjadi wujud kontribusi nyata terhadap visi besar pendidikan nasional. Empat model pembelajaran inovatif dari mahasiswa PPG UMM 2025 mendapat HKI./dok. UMM Arina memaparkan bahwa pengembangan dan perolehan HKI atas keempat model ini dilatarbelakangi oleh visi yang kuat untuk mencetak pendidik profesional dengan kompetensi global. Tujuan utamanya adalah memastikan lulusan program profesi ini siap menghadapi dinamika kelas modern. “Tujuannya karena calon pendidik di program profesi guru itu harus bisa melahirkan kompetensi 4C, yaitu creative (kreatif), collaborative (kolaboratif), communication (komunikasi), dan critical thinking (berpikir kritis),” beber Arina pada rilis UMM, Selasa (12/5). Melalui perancangan model-model pembelajaran tersebut, para mahasiswa didorong agar tidak sekadar mampu mentransfer ilmu, tetapi juga sanggup menciptakan ekosistem belajar yang adaptif. Pencapaian dari angkatan 2025 ini menjadi bukti bahwa program PPG UMM secara konsisten berhasil menjadi inkubator bagi lahirnya inovator pendidikan yang siap mewujudkan pembelajaran yang memanusiakan siswa. *** Editor: YAN

UMM Sukses Daur Ulang 92 Persen Sampah Organik, Buktikan Diri sebagai Pelopor Kampus Hijau

Universitas Muhammadiyah Malang dapat mengolah 92% sampah organik kampus menjadi pupuk./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan tajinya sebagai kampus inovasi mandiri yang senantiasa memberikan dampak dalam mewujudkan ekosistem berkelanjutan. Melalui tata kelola sirkular yang terintegrasi, Kampus Putih kini sukses menyulap sisa makanan menjadi nutrisi bagi seluruh ruang terbuka hijaunya. Ketua Tim GreenMetric UMM, Sandi Wahyudiono, MT., menegaskan bahwa siklus mandiri ini ibarat peribahasa sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui, sebuah inovasi berdampak yang menyelesaikan dua masalah besar sekaligus. “Melalui program ini, UMM tidak hanya memangkas drastis jumlah sampah organik yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga memperkuat komitmen nyata terhadap kelestarian lingkungan,” ungkap Sandi pada rilis UMM, Senin (11/5). Sebagai kampus inovasi mandiri, UMM membuktikan bahwa dengan tata kelola melingkar ini, urusan limbah kantin tuntas teratasi, dan di saat yang sama kebutuhan pupuk tanaman kampus pun beres terpenuhi dari dalam kampus. Keberhasilan ekosistem ini dibuktikan dengan angka yang fantastis. Pada 2025, total volume sampah organik yang dihasilkan di seluruh fasilitas UMM tercatat mencapai 438 ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 402,9 ton atau setara dengan 92% berhasil diselamatkan dan diolah secara optimal melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kampus III. “Kuncinya ada pada implementasi program vermikompos yang menjadi jantung dari upaya pengelolaan sampah berkelanjutan kami,” beber Sandi. Bagaimana keajaiban ekologis ini bekerja? Siklus ramah lingkungan tersebut bermula langsung dari meja makan mahasiswa. Sampah organik berupa sisa makanan, sayur, dan buah yang terkumpul dari kantin, taman, serta kebun edukasi dipilah secara ketat lalu dicacah hingga berukuran 2–3 sentimeter. Material cacahan ini kemudian memasuki tahap fermentasi, di mana sampah dicampur dengan bahan karbon seperti sekam padi dan diatur kelembapannya pada kisaran 60–70%. Setelah difermentasi di dalam reaktor tertutup selama 7–14 hari, hasil olahan tersebut dipindahkan ke unit modular. Di sinilah proses vermikompos terjadi, di mana olahan sampah organik tadi disajikan sebagai hidangan utama yang akan diurai dan dimakan oleh cacing tanah jenis Eisenia fetida hingga menjadi pupuk yang kaya nutrisi. Proses masif ini didukung oleh fasilitas dan mesin mutakhir hasil pengembangan kampus, mulai dari mesin pencacah berkapasitas 200 kg/jam, saringan kompos 100 kg/jam, hingga granulator 100 kg/jam yang dikelola oleh staf profesional. Pasca 40–60 hari, kompos organik berkualitas tinggi siap dipanen untuk menyuburkan taman kampus, kebun edukasi, dan lahan pertanian mitra. Memproses limbah organik menjadi pupuk./dok. UMM Tahap fermentasi limbah menjadi pupuk./dok. UMM Selain mengolah limbah menjadi kompos, limbah spesifik kantin seperti kulit sayur dan buah juga didaur ulang menjadi cairan kaya manfaat, yakni eko-enzim. Melalui program edukatif yang berjalan setiap hari di UMM Edupark, kampus ini sanggup memproduksi lebih dari 5 liter cairan eko-enzim per harinya. Kesuksesan mengolah 92% sampah organik ini menjadi bukti nyata bahwa operasional kampus berskala besar dapat berjalan harmonis dengan alam. Sebagai kampus inovasi mandiri yang berdampak lead, capaian ini menegaskan posisi UMM di garda terdepan dalam aksi iklim. Melalui inovasi dan kemandirian ini, UMM tidak sekadar merawat lingkungan kampusnya sendiri, melainkan tengah memimpin dengan membangun cetak biru (blueprint) inspiratif bagi institusi pendidikan lain di Indonesia untuk bersama-sama melangkah menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. *** Editor: YAN

Fahmi Daud: Mahasiswa UMM Lolos Program Google Student Ambassador, Kalahkan Puluhan Ribu Pesaing

Fahmi Daud, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang lolos GSA 2026./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Tantangan besar dipikul oleh Fahmi Daud Ibrahim, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi angkatan 2023 dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Prestasinya tak main-main, yakni berhasil terpilih sebagai peserta fully funded inauguration Google Student Ambassador (GSA) 2026. Di tengah derasnya arus perkembangan Artificial Intelligence (AI), mahasiswa kini tidak lagi punya kemewahan untuk sekadar duduk manis sebagai penikmat teknologi. Mereka dituntut untuk bisa memahami, mengelola, sekaligus mengedukasi sekitarnya agar teknologi tidak hanya lewat sebagai tren sesaat. Inilah yang dihadapi salah satu mahasiswa UMM, Fahmi. GSA adalah program bergengsi dari Google untuk mencari mahasiswa dengan jiwa kepemimpinan, kecakapan komunikasi, dan visi kuat di bidang teknologi digital. Tingkat persaingannya pun luar biasa ketat. Dari 81.000 pendaftar di seluruh Indonesia, hanya 2.000 peserta yang lolos seleksi awal. Hebatnya, Fahmi menembus daftar 150 mahasiswa elit yang mendapat undangan dibiayai penuh untuk pelantikan di Jakarta, dan menjadi satu-satunya perwakilan UMM. “Kami menjadi jembatan antara Google dan kampus. Jadi bukan cuma belajar teknologi, tapi juga mengedukasi mahasiswa lain tentang ekosistem Google, khususnya Gemini,” ungkap Fahmi pada rilis UMM, Senin (11/5). Selama inagurasi di MGP Space Jakarta, ia tidak hanya mengikuti pelantikan, tetapi juga berkesempatan melakukan office tour ke kantor Google Indonesia, berjejaring, hingga mengikuti talkshow eksklusif membahas masa depan AI. Di balik euforia pencapaiannya, Fahmi memiliki pandangan kritis terhadap tren AI di kalangan mahasiswa. Ia menyoroti fenomena di mana AI kerap disalahgunakan sebatas ‘mesin penjawab instan’, yang memicu budaya copy-paste tanpa proses analitis. “AI seharusnya menjadi partner diskusi buat riset, brainstorming, atau ngembangin ide. Bukan menggantikan otak sepenuhnya,” ujarnya. Jalan menuju kursi GSA tentu bukan proses instan. Fahmi harus menaklukkan serangkaian seleksi ketat, mulai dari penilaian administrasi, portofolio, wawancara rekaman, hingga wawancara langsung yang membedah pemahamannya soal AI dan kepemimpinan. Sebagai penentu akhir, personal branding digitalnya diuji melalui screening media sosial dan LinkedIn. Pada tahapan ini, Fahmi mengandalkan rekam jejak profesionalnya sebagai content creator dan tim Marketing Communication di Telkomsel. Bagi Google, rekam jejak digital sangat krusial karena tugas seorang GSA adalah mempengaruhi audiens melalui edukasi yang tepat sasaran. Kini, ia mengemban tanggung jawab besar untuk menyelesaikan misi mingguan seperti membuat konten edukasi tentang fitur mutakhir Google (Gemini Canvas dan Deep Research), serta menginisiasi berbagai acara teknologi di lingkungan kampus. Kunci menyeimbangkan tugas GSA, rutinitas kuliah, dan magang ada pada manajemen waktu. Fahmi rutin menyusun timeline mingguan yang sangat detail untuk memastikan tidak ada tanggung jawab yang terbengkalai. Baginya, capaian ini adalah sebuah pembuktian diri. “Menang dari 81 ribu orang bikin aku sadar kalau nggak ada yang nggak mungkin. Aku pengen mahasiswa lain terutama dari daerah juga percaya kalau kesempatan itu selalu terbuka lebar, asalkan kita berani mulai dan mau belajar hal baru,” tegas Fahmi. *** Editor: YAN

UMM Kolaborasi dengan Google, Puluhan Dosen Ikuti Sertifikasi Gemini AI

Puluhan Dosen UMM Ikuti Sertifikasi Gemini AI. (Humas UMM/PWMU.CO) pwmu.co –Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan tinggi kini menjadi kebutuhan penting untuk mendukung kualitas pembelajaran yang lebih adaptif dan inovatif. Hal tersebut disampaikan oleh Arija Rose Wanodya dalam kegiatan Pelatihan Pemanfaatan AI dan Sertifikasi Gemini AI Google yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Selasa (12/5/2026). Dalam pemaparannya, Rose menjelaskan bahwa AI tidak ditujukan untuk menggantikan tenaga pendidik, melainkan membantu memperkuat peran mereka. Melalui platform Google Workspace for Education, teknologi AI generatif dapat dimanfaatkan sebagai asisten kolaboratif yang mendukung berbagai pekerjaan administratif secara lebih cepat dan efisien. Ia mencontohkan, penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), pembuatan kuis, hingga penyusunan rubrik penilaian kini dapat dilakukan dengan lebih akurat dan praktis. Dengan efisiensi tersebut, dosen dan guru memiliki lebih banyak waktu untuk berfokus pada interaksi langsung dengan mahasiswa, pendampingan emosional, serta penguatan karakter peserta didik. Senada dengan hal itu, Kepala Biro Informasi dan Komunikasi UMM, Suyatno, menegaskan bahwa dosen perlu terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Kegiatan hasil kolaborasi antara Indosat dan Google Education tersebut diikuti oleh 30 dosen muda sebagai bagian dari langkah strategis UMM menghadapi era disrupsi digital. Menurutnya, mahasiswa saat ini memiliki kemampuan teknologi yang tinggi dan dapat memperoleh informasi secara instan melalui internet. Karena itu, dosen dituntut menghadirkan metode pembelajaran yang lebih kreatif dan relevan. “Ketika dosen baru menuliskan topik di papan tulis, mahasiswa sudah lebih dulu mencari referensinya di internet. Jika metode pembelajaran tidak berkembang, maka pengajar akan tertinggal,” ujarnya. Suyatno juga menyoroti fenomena tugas makalah yang kini memiliki tingkat kemiripan tinggi akibat kemudahan akses AI. Ia menilai, kehadiran mahasiswa di ruang kelas sering kali hanya sebatas fisik, sementara perhatian mereka lebih banyak tertuju pada perangkat digital. Ia menambahkan bahwa AI bukan sekadar tren sesaat, melainkan bagian dari kebutuhan zaman yang tidak bisa dihindari. Menurutnya, penolakan terhadap AI justru dapat membuat institusi pendidikan kehilangan daya saing di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat. Kegiatan pelatihan kemudian dilanjutkan dengan ujian sertifikasi Gemini AI pada sesi berikutnya. Melalui program ini, UMM berharap para dosen muda mampu menjadi penggerak literasi digital di lingkungan kampus sehingga tercipta ekosistem pembelajaran yang lebih inovatif, inklusif, dan relevan untuk menghadapi tantangan global.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman Editor : Zahrah Khairani Karim

UMM Gandeng Google Education dan Indosat, Latih 30 Dosen Muda Sertifikasi Gemini AI

Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Google Education dan Indosat melatih serta membekali 30 dosen muda melalui program sertifikasi Gemini AI pada Selasa (12/5/2026). Program ini menjadi langkah strategis untuk memastikan tenaga pendidik mampu mengikuti percepatan perkembangan teknologi dan kebutuhan mahasiswa di era digital. Melalui sertifikasi tersebut, para dosen diharapkan dapat mentransformasi metode pembelajaran agar lebih adaptif, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan generasi saat ini. Google Education Specialist, Arija Rose Wanodya, menjelaskan bahwa pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) kini telah berkembang dari sekadar tren menjadi kebutuhan utama dalam dunia pendidikan. “AI hadir untuk memberdayakan pendidik, bukan menggantikan peran mereka. Dengan asisten kolaboratif ini, tugas-tugas repetitif seperti penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), perancangan kuis, hingga pembuatan rubrik penilaian objektif dapat diselesaikan dengan presisi tinggi,” ujar Rose. Ia menambahkan bahwa kehadiran AI dalam ekosistem Google Workspace for Education memberikan ruang lebih besar bagi dosen untuk fokus pada aspek pengajaran yang bersifat humanis, seperti bimbingan emosional, interaksi langsung, dan pembentukan karakter mahasiswa. Senada dengan itu, Kepala Biro Informasi dan Komunikasi UMM, Dr. Ir. Suyatno, M.Si., menekankan pentingnya adaptasi teknologi di dunia pendidikan, terutama menghadapi perubahan perilaku mahasiswa yang semakin cepat dalam mengakses informasi. Menurutnya, dosen harus mampu merancang metode pembelajaran yang lebih inovatif agar tidak tertinggal dari pola belajar mahasiswa yang sudah sangat digital. “Baru saja kita menuliskan judul materi di papan tulis, mahasiswa sudah mencarinya sendiri di internet. Jika dosen tidak mampu meramu metode mengajar yang lebih cerdas dan inovatif, kita pasti akan tertinggal jauh di belakang mereka,” tegas Suyatno. Ia juga menyoroti tantangan akademik saat ini, termasuk meningkatnya potensi plagiasi tugas akibat penggunaan AI yang tidak terkontrol, sehingga menuntut perubahan dalam sistem evaluasi pembelajaran. Dalam arahannya kepada peserta pelatihan, Suyatno menegaskan pentingnya sikap adaptif terhadap teknologi, bahkan menyamakan penolakan terhadap AI dengan kegagalan beradaptasi pada era transformasi digital sebelumnya. Kegiatan yang ditutup dengan ujian sertifikasi Gemini AI ini diharapkan mampu melahirkan dosen-dosen pionir literasi digital di lingkungan UMM, yang kemudian dapat menularkan pemahaman tersebut kepada rekan sejawat lainnya. UMM menargetkan ekosistem pembelajaran yang lebih inklusif, inovatif, dan kompetitif secara global melalui pemanfaatan AI dalam proses pendidikan. “Pemanfaatan AI ini bukan sekadar untuk gaya-gayaan, melainkan tuntutan nyata zaman. Jika kita memilih untuk bermusuhan dengan AI, maka kita sendiri yang akan kolaps. Kita harus mampu menjinakkan teknologi ini untuk kepentingan pendidikan,” pungkas Suyatno. [dan/beq]

UMM Gandeng Google, Bekali Puluhan Dosen dengan Sertifikasi Gemini AI

Universitas Muhammadiyah Malang menggandeng Google untuk pembekalan sertifikasi Gemini AI kepada puluhan dosen./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang menggandeng Google untuk membekali puluhan dosen dengan sertifikasi Gemini AI. Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam ekosistem pendidikan tinggi saat ini bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan sebuah kebutuhan esensial untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kondisi ini diungkapkan Arija Rose Wanodya, Google Education Specialist, dalam agenda Pelatihan Pemanfaatan AI dan Sertifikasi Gemini AI Google yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Selasa (12/5). Melalui paparannya, Rose sapaan akrabnya, menegaskan bahwa AI hadir sebagai katalisator untuk memberdayakan pendidik, bukan untuk menggantikan peran mereka. Melalui pemanfaatan platform Google Workspace for Education, AI generatif berfungsi layaknya asisten kolaboratif tanpa lelah yang mampu mengakselerasi berbagai tugas administratif repetitif. “Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), perancangan kuis, hingga pembuatan rubrik penilaian yang objektif kini dapat dilakukan dengan sangat presisi. Efisiensi ini memberikan ruang waktu berharga bagi pendidik untuk kembali fokus pada aspek esensial yakni interaksi langsung, bimbingan emosional, dan pengembangan karakter anak didiknya,” ungkap Rose. Sejalan dengan wawasan tersebut, Kepala Biro Informasi dan Komunikasi UMM, Dr. Ir. Suyatno, M.Si., menyatakan bahwa dosen dituntut terus beradaptasi dengan teknologi. Agenda kolaborasi antara Indosat dan Google Education ini secara khusus diikuti oleh 30 dosen muda, sebagai langkah konkret UMM dalam merespons disrupsi digital. Suyatno menyoroti fenomena mahasiswa masa kini yang semakin mahir teknologi namun cenderung pasif di ruang kelas. Menurutnya, sejak masifnya penggunaan AI, mahasiswa bisa menggali informasi dengan sangat cepat. “Kalau kita menulis judul di papan tulis, misalnya tentang animal breeding, mereka sudah mencari sendiri di internet. Jika dosen tidak meramu metode mengajar yang lebih cerdas, kita pasti akan tertinggal,” ujar Suyatno. Ia juga mengkritisi pemberian tugas berupa makalah ketik yang tingkat kesamaannya kini bisa mencapai 80 persen. Ia mengingatkan bahwa raga mahasiswa sering kali terlihat ada di kelas, tetapi jiwa dan pikiran mereka sepenuhnya tertuju pada layar gawai pintar masing-masing. “AI ini bukan sekadar gaya-gayaan, melainkan sebuah tuntutan nyata kebutuhan zaman. Sama seperti taksi konvensional yang dulu sempat menolak kehadiran transportasi online, jika kita terus bermusuhan dengan AI, maka kita sendiri yang akan kolaps,” tegasnya. Arija Rose Wanodya, Google Education Specialist, mengisi Pelatihan Pemanfaatan AI dan Sertifikasi Gemini AI Google yang digelar UMM./dok. UMM Pelatihan Pemanfaatan AI dan Sertifikasi Gemini AI Google digelar./dok. UMM UMM ingin terus berkembang sesuai zaman termasuk mempelajari AI agar dapat memaksimalkannya untuk pendidikan yang bermanfaat./dok. UMM Puluhan dosen UMM mengikuti pelatihan dan sertifikasi Gemini AI Google./dok. UMM Acara pelatihan intensif ini dilanjutkan dengan ujian sertifikasi pada sesi kedua. UMM sangat berharap, melalui sertifikasi Gemini AI ini, para dosen muda mampu menularkan virus positif literasi digital kepada rekan sejawat lainnya. Dengan langkah tersebut, diharapkan tercipta ekosistem pembelajaran yang lebih inklusif, inovatif, serta senantiasa relevan dalam membekali generasi muda menghadapi tantangan global. *** Editor: YAN

Generasi Terserah dan Krisis Kepedulian Politik Anak Muda

Penulis: Nurudin * MAKLUMAT — Malam itu, sebuah kafe kecil penuh anak muda. Musik pelan terdengar dari sudut ruangan. Beberapa sibuk membuat tugas kuliah dan konten media sosial. Sebagian lain tertawa sambil bermain game dan main kartu. Lalu obrolan berubah ketika seseorang menyinggung soal politik. Suasana langsung berbeda. “Ah, jangan bahas politik. Capek.” “Politik itu kotor.” “Siapa pun yang naik, hidupku tetap begini.” Kalimat-kalimat itu terdengar memang ringan. Mungkin juga sering dianggap biasa. Tapi sebenarnya, di situlah masalah besar sedang tumbuh. Banyak anak muda mulai memilih tidak peduli pada politik. Mereka merasa politik terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari. Politik dianggapnya terlalu rumit dan penuh kebohongan. Akhirnya, mereka memilih menjauh. Padahal tanpa disadari, keputusan politik justru menentukan hampir seluruh masa depan mereka. Fenomena apatisme politik di kalangan generasi muda bukan cerita baru. Namun hari ini, gejalanya seolah terasa semakin nyata. Media sosial dipenuhi anak muda yang lebih nyaman membahas tren hiburan dibanding kebijakan publik. Politik dianggap identik dengan korupsi, drama elite, saling serang, dan janji palsu. Tidak sedikit yang menganggap apapun suara mereka tidak akan mengubah apa pun. Sikap seperti ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar. Ketika generasi muda memilih diam, keputusan tetap berjalan. Misalnya, undang-undang tetap dibuat. Kebijakan juga tetap ditentukan. Hanya saja semuanya berlangsung tanpa keterlibatan mereka. Padahal generasi muda itu sekelompok yang paling lama merasakan dampak keputusan negara di masa datang. Politik Tidak Jauh dari Anak Muda Bisa ajdi banyak orang muda menganggap politik hanya urusan pejabat dan partai. Padahal politik hadir dalam hampir semua hal yang mereka jalani setiap hari. Ketika biaya kuliah naik, itu hasil keputusan politik. Ketika lapangan kerja makin sempit, itu juga berkaitan dengan kebijakan politik. Bahkan harga kebutuhan pokok, ongkos transportasi, hingga kualitas internet yang mereka gunakan setiap hari, semuanya dipengaruhi keputusan pemerintah. Yang aneh, banyak anak muda baru merasa marah ketika dampaknya sudah langsung mengenai hidup mereka. Mereka kadang baru sadar saat lulus kuliah sulit mendapat pekerjaan. Juga, merasa gaji tidak sebanding dengan biaya hidup. Padahal biaya pendidikan yang orang tua mereka keluarkan tidak sedikit. Mau protes, kebebasan mulai terasa sempit. Apakah mereka benar-benar apatis politik? Sebenarnya tidak juga jika dilihat dari perbincangan mereka di medis sosial dan kehidupan nyata. Sebagian besar generasi muda sebenarnya mengikuti isu politik, tetapi hanya di permukaan. Mereka melihat potongan video debat, cuplikan kontroversi atau drama media sosial. Namun sedikit yang benar-benar memahami substansi kebijakan. Akibatnya, politik berubah menjadi tontonan, bukan ruang partisipasi. Di media sosial, politik sering tampil seperti pertandingan antar kubu. Orang lebih sibuk membela tokoh favorit dibanding membahas solusi. Diskusi berubah menjadi saling hina. Kritik Juga dibalas fanatisme. Situasi ini membuat banyak anak muda semakin malas terlibat karena merasa politik hanya berisi keributan. Padahal demokrasi tidak bisa hidup tanpa partisipasi publik, terutama generasi muda. Jumlah pemilih muda di Indonesia sangat besar. Pada Pemilu 2024, lebih dari 50 persen pemilih berasal dari kalangan muda dan pemilih pemula. Angka itu menunjukkan bahwa generasi muda sebenarnya memiliki kekuatan besar menentukan arah bangsa. Masalahnya, kekuatan itu sering tidak digunakan secara maksimal. Sebagian mungkin memilih golput. Sebagian tidak peduli mencari informasi. Sebagian lagi merasa politik tidak penting selama hidup pribadi masih berjalan normal. Padahal sejarah menunjukkan perubahan besar sering lahir dari keberanian anak muda untuk terlibat. Reformasi 1998 digerakkan mahasiswa. Gerakan sosial tentang lingkungan hidup banyak dipelopori generasi muda, bukan? Bahkan berbagai perubahan budaya digital hari ini juga lahir dari keberanian anak muda menyuarakan sesuatu. Artinya, generasi muda sebenarnya bukan kelompok lemah. Mereka punya energi, kuantitaasnya besar dan pengaruh sosial yang kuat. Namun semua itu menjadi sia-sia ketika berubah menjadi sikap masa bodoh. Asal Jangan Jadi Corong Kekuasaan Di sisi lain, keterlibatan politik juga perlu dijaga agar tidak kehilangan arah. Anak muda memang perlu peduli politik, tetapi bukan berarti harus membela kekuasaan secara membabi buta. Ini jelas menghawatirkan. Banyak anak muda awalnya kritis ketika berada di luar lingkaran kekuasaan. Mereka aktif menyuarakan keresahan publik. Berani mengkritik kebijakan dan terlihat idealis. Namun ketika sudah dekat dengan jabatan, masuk partai, atau mendapat posisi tertentu, sikap itu perlahan berubah. Daya kritisnya mendadak hilang. Akibatnya, kesalahan penguasa selalu dibenarkan. Rakyat yang protes justru dianggap pengganggu. Anak muda akhirnya berubah menjadi “juru bicara kekuasaan”, bukan lagi penyambung suara masyarakat. Padahal esensi keterlibatan politik bukan sekadar mendukung pemerintah atau oposisi. Yang lebih penting adalah menjaga keberpihakan pada kepentingan publik. Anak muda harus tetap punya keberanian untuk mengatakan salah jika memang salah. Bahkan ketika kritik itu ditujukan kepada kelompok yang mereka dukung sendiri. Sikap kritis seperti ini penting karena kekuasaan tanpa pengawasan selalu berpotensi menyimpang. Sejarah di banyak negara menunjukkan bahwa demokrasi melemah ketika masyarakat terlalu fanatik kepada tokoh atau kelompok tertentu. Media sosial membuat situasi ini semakin mudah terjadi. Banyak anak muda hari ini terjebak dalam “pemujaan berhala politik”. Politikus diperlakukan seperti selebritas. Semua tindakan dibela. Semua kritik dianggap serangan pribadi. Padahal demokrasi membutuhkan warga yang berpikir kritis, bukan penggemar politik yang hanya sibuk membela tokoh favorit. Anak muda perlu sadar bahwa menjadi kritis bukan berarti membenci negara. Justru kritik adalah bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa. Negara yang sehat lahir dari masyarakat yang berani mengawasi kekuasaan, bukan masyarakat yang diam atau terlalu takut mengkritik. Oleh karena itu, generasi muda perlu mengambil posisi yang seimbang. Jangan apatis terhadap politik. Tetapi jangan juga kehilangan akal sehat ketika berada dekat dengan kekuasaan. Pada akhirnya, politik akan selalu memengaruhi hidup generasi muda, suka atau tidak. Menjauh dari politik bukan berarti terbebas dari dampaknya. Justru ketika anak muda memilih diam, mereka sedang membiarkan orang lain menentukan masa depan mereka. Namun keterlibatan politik juga harus dibarengi sikap kritis agar anak muda tidak berubah menjadi sekadar pembela kekuasaan. Sebab demokrasi membutuhkan generasi muda yang peduli, berani bersuara, dan tetap mampu menjaga jarak sehat terhadap siapa pun yang sedang berkuasa.*** *) Penulis: Nurudin Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)