AI Masuk Sekolah, Pedagogi Tertinggal

timesindonesia, Malang – Ketika kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) mulai diajarkan di ruang kelas, persoalannya bukan lagi sekadar apa yang diajarkan, melainkan bagaimana siswa masih benar-benar belajar. Yang mengkhawatirkan, sekolah cepat-cepat menggunakan AI, sementara pedagogi yang seharusnya menjadi ruh dari pendidikan justru relatif jalan di tempat, ketinggalan. Dalam sejumlah laporan media nasional, arah kebijakan pendidikan di Indonesia semakin jelas menempatkan AI dan coding sebagai bagian dari pembelajaran. Memang, langkah ini patut didukung karena menyiapkan generasi masa depan. Tapi ada satu pertanyaan yang nyaris tak pernah ditanyakan dengan sungguh-sungguh, apakah kesiapan pedagogi kita sepadan dengan lompatan teknologi ini? Sebenarnya, yang jadi masalah bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana kita memaknai kegiatan belajar. Belajar, menurut pedagogi klasik, ya proses berpikir bukan sekadar mencetak jawaban. AI datang dengan logika lain yakni kecepatan dan kemudahan. Dua hal yang sering bertolak belakang. Ketika siswa dapat memperoleh esai, ringkasan, bahkan analisis hanya dalam hitungan detik, maka yang terancam bukan sekadar kejujuran akademik, melainkan proses kognitif itu sendiri. Persoalan ini tidak bisa dipahami hanya sebagai masalah kedisiplinan tetapi menyentuh aspek yang lebih mendasar yakni bagaimana proses berpikir siswa terbentuk. Dalam kajian ilmiah, fenomena ini dikenal sebagai cognitive offloading (Risko & Gilbert, 2016), yaitu kecenderungan manusia memindahkan sebagian proses berpikirnya kepada alat eksternal seperti teknologi digital. Studi yang dipublikasikan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD, 2023) mengingatkan bahwa penggunaan teknologi tanpa desain pedagogik yang tepat justru dapat menurunkan kualitas pemahaman mendalam siswa. Anak-anak jadi tidak lagi terbiasa berpikir kritis. Mereka hanya memilah-milah jawaban dari mesin, seperti tukang sortir, bukan pemikir. Kekhawatiran ini disebut Kurniawan & Murtadho (2025) sebagai paradoks kognitif, di mana AI dapat meningkatkan personalisasi sekaligus berpotensi menggerus aspek kognisi inti seperti keterlibatan kognitif (cognitive engagement), retensi, dan pemikiran tingkat tinggi. Akibatnya, efisiensi yang diraih dalam penyelesaian tugas tidak diimbangi dengan pemerolehan pemahaman yang mendalam. Di sinilah terlihat adanya pedagogical lag atau ketertinggalan pedagogi dalam merespons perkembangan teknologi. Banyak guru mulai menggunakan AI, tetapi lebih sering untuk efisiensi administratif seperti membuat soal, merancang materi, atau menyusun laporan. Transformasi pada level pembelajaran seperti membangun dialog reflektif, mendorong inquiry, atau mengasah nalar kritis belum terjadi secara signifikan. Padahal, dalam kerangka Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK), teknologi tidak pernah berdiri sendiri. Ia harus terintegrasi dengan pengetahuan pedagogik dan konten. Tanpa itu, teknologi hanya menjadi alat substitusi, bukan transformasi. Dalam model SAMR, ini disebut level terbawah yakni mengganti alat tanpa mengubah cara belajar sama sekali. Lebih jauh lagi, kehadiran AI juga mengguncang apa yang disebut sebagai epistemic authority guru atau otoritas sebagai sumber pengetahuan. Jika sebelumnya guru adalah rujukan utama, kini siswa memiliki alternatif yang tampak lebih cepat, lengkap, dan selalu tersedia. Dalam situasi ini, peran guru tidak mungkin lagi bertahan sebagai penyampai informasi. Ia harus bergeser menjadi fasilitator yang membimbing proses berpikir, bukan sekadar penyedia jawaban. Sayangnya, perubahan peran ini tidak otomatis terjadi. Data dari laporan UNESCO (2023) menunjukkan bahwa banyak negara, termasuk di kawasan berkembang, masih menghadapi kesenjangan kompetensi guru dalam memanfaatkan teknologi secara pedagogis. Pelatihan yang ada sering berfokus pada penggunaan alat, bukan pada perubahan cara mengajar. Realitas di Indonesia memperkuat kesenjangan ini. Penelitian Halhaji dan Murniati (2025) menunjukkan bahwa kesiapan guru dalam mengintegrasikan AI berbasis kerangka TPACK masih belum merata. Tantangan ini semakin berlapis. Selain persoalan kompetensi, terdapat pula ketimpangan akses, beban administratif guru, serta perubahan kebijakan yang cepat. Akibatnya, inovasi pedagogik sering berhenti pada tataran wacana. Sekolah tampak modern dari luar, tetapi praktik belajar di dalamnya belum banyak berubah. Kalau terus begini, bisa-bisa kita punya generasi yang mahir menggunakan teknologi, tetapi hampa kedalaman nalar. Mereka mampu menghasilkan teks, tetapi tidak terbiasa membangun argumen; cepat menemukan jawaban, tetapi rapuh dalam memahami masalah. Dalam jangka panjang, ini bukan sekadar persoalan pendidikan, melainkan persoalan peradaban. Ormek di Kampus Biru Karena itu, yang mendesak bukan sekadar memasukkan AI ke dalam kurikulum, tetapi menata ulang pedagogi itu sendiri. Pembelajaran harus diarahkan pada proses yang tidak mudah digantikan oleh mesin, di mana berpikir kritis, refleksi, dialog, dan penalaran tetap menjadi perhatian utama. Evaluasi pun perlu berubah tidak lagi hanya menilai jawaban, tetapi cara berpikir Di tengah semua itu, peran guru justru menjadi semakin penting. Bukan hanya sebagai sumber informasi, melainkan sebagai penjaga proses berpikir. Teknologi dapat mempercepat jawaban, tetapi hanya pedagogi yang dapat menjaga makna belajar.
Masih Relevankah Hukuman Fisik di Sekolah Dasar?

Oleh : Khoirul AnamMahasiswa S2 Pedagogi Universitas Muhammadiyah Malang pwmu – Isu kedisiplinan di sekolah dasar kembali mengemuka, terutama ketika perilaku siswa dinilai semakin menantang. Di tengah dinamika tersebut, sebagian pihak masih memandang hukuman fisik sebagai cara cepat untuk menertibkan siswa. Pertanyaannya, masih relevankah pendekatan ini dalam konteks pendidikan masa kini? Secara historis, hukuman fisik pernah dianggap wajar sebagai bagian dari pembentukan karakter. Namun, perkembangan ilmu pendidikan dan psikologi menunjukkan arah yang berbeda. Jean Piaget menegaskan bahwa anak usia sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret, di mana mereka belajar melalui pemahaman sebab-akibat yang logis, bukan melalui rasa takut. Sementara itu, B.F. Skinner dalam teori behaviorisme memang mengakui pentingnya penguatan (reinforcement), tetapi penelitian lanjutan menunjukkan bahwa hukuman—terutama yang bersifat fisik—lebih sering menimbulkan efek jangka pendek dan berisiko memunculkan perilaku agresif atau kecemasan. Sejalan dengan itu, kajian modern seperti yang dirangkum oleh American Academy of Pediatrics (2018) menegaskan bahwa hukuman fisik tidak efektif dalam jangka panjang dan dapat berdampak negatif pada perkembangan emosional anak. Anak mungkin patuh sesaat, tetapi tidak memahami nilai di balik aturan. Dalam konteks pendidikan, kepatuhan tanpa pemahaman bukanlah tujuan utama. Di Indonesia, semangat Kurikulum Merdeka justru menekankan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student-centered learning) dan penguatan karakter melalui pendekatan yang humanis. Disiplin tidak lagi dimaknai sebagai kepatuhan kaku, melainkan sebagai kesadaran diri yang tumbuh dari pemahaman. Guru didorong menjadi fasilitator yang membimbing, bukan otoritas yang menakutkan. Pendekatan disiplin positif menjadi alternatif yang semakin relevan. Tokoh seperti Jane Nelsen melalui konsep Positive Discipline menekankan pentingnya membangun hubungan yang saling menghargai, memberikan konsekuensi logis, serta melibatkan siswa dalam memahami dampak dari perilaku mereka. Misalnya, ketika siswa tidak menjaga kebersihan kelas, alih-alih dihukum fisik, mereka diajak bertanggung jawab membersihkan dan merefleksikan pentingnya lingkungan yang sehat. Pendekatan ini tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga menanamkan nilai. Di lapangan, tantangan tentu tidak sederhana. Guru sering dihadapkan pada keterbatasan waktu, jumlah siswa yang banyak, serta tekanan administratif. Dalam situasi tertentu, hukuman fisik mungkin terasa sebagai jalan pintas. Namun, jalan pintas ini justru berpotensi mengabaikan tujuan pendidikan jangka panjang, yaitu membentuk karakter yang mandiri dan bertanggung jawab. Sekolah perlu hadir sebagai ekosistem yang mendukung perubahan paradigma ini. Pelatihan guru tentang manajemen kelas, dukungan kebijakan yang tegas terhadap perlindungan anak, serta kolaborasi dengan orang tua menjadi kunci. Disiplin tidak bisa hanya dibebankan kepada guru, tetapi harus menjadi budaya bersama. Dengan demikian, dalam konteks kekinian dan semangat Kurikulum Merdeka, hukuman fisik tidak lagi relevan sebagai metode pendisiplinan siswa sekolah dasar. Pendidikan bukan tentang menundukkan, melainkan menuntun. Ketika siswa dipahami, dihargai, dan dibimbing dengan pendekatan yang tepat, disiplin tidak perlu dipaksakan—ia akan tumbuh dengan kesadaran.
Para Pakar Isi Seminar Internasional PPG UMM, Bongkar Ketimpangan Pendidikan Global

Para pakar pendidikan mengisi Seminar Internasional PPG Universitas Muhammadiyah Malang (5/5). Mereka membongkar ketimpangan pendidikan global yang masih terjadi./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang menggelar Seminar Internasional yang melalui Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang bekerja sama dengan Deakin University Australia dan Universitas Sanata Dharma, 5 Mei 2026. Tema Inklusi Transformatif: Mewujudkan Keadilan Pendidikan di Era Polarisasi Global diusung dalam seminar ini untuk menanggapi situasi dewasa ini. Yaitu, fragmentasi sosial global yang menguat sekaligus ketimpangan akses terhadap pengetahuan yang menempatkan pendidikan pada titik krusial. Melalui forum ini menegaskan bahwa inklusi tidak cukup berhenti sebagai jargon kebijakan, melainkan harus hadir sebagai praktik yang membongkar ketimpangan secara nyata. Perspektif awal disampaikan oleh, Dirjen GTK Kemendidkdasmen RI, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd., yang menjelaskan terkait arah kebijakan makro. Nunuk Suryani menempatkan pendidikan inklusif sebagai keharusan moral sekaligus sistemik di tengah dunia yang kian terpolarisasi. Dapat ditegaskan jika posisi negara dalam memastikan pendidikan sebagai hak fundamental yang harus dijamin secara menyeluruh. “Pendidikan inklusif adalah sebuah keharusan moral dan sistemik. Kami mengusung visi pendidikan bermutu untuk semua, dengan penegasan bahwa tidak boleh ada satu pun anak yang tertinggal, apa pun latar belakang sosial, budaya, bahasa, maupun kondisinya,” ungkap Nunuk. Ia menekankan bahwa transformasi menuju keadilan pendidikan memerlukan kolaborasi lintas sektor dan lintas negara. Kebijakan afirmatif, penguatan peran guru pendidikan khusus, serta pengembangan ekosistem inklusif menjadi bagian dari strategi nasional yang terus diakselerasi. “Dengan demikian, keadilan pendidikan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi bergerak menjadi praktik nyata yang menjawab tantangan global secara berkelanjutan,” tegasnya. Dr. Junny Ebenhaezer, Ph.D., dari Daekin University Australia kemudian menyoroti bahwa eksklusi dalam pendidikan kerap bekerja secara laten melalui praktik pedagogi yang tidak sensitif terhadap keberagaman. Maka, transformasi pendidikan harus dimulai bagaimana cara mengajar serta penguatan kapasitas guru. Cara ini akan merespons kebutuhan belajar yang beragam secara kontekstual. “Saya meyakini bahwa keadilan pendidikan harus dimulai dari membuka akses yang setara dan memberdayakan guru sebagai kunci perubahan. Jika kita membekali satu guru dengan kompetensi yang tepat, dampaknya dapat menjangkau ratusan bahkan ribuan siswa,” ucap Ebenhaezer. Menurutnya, dalam pedagogi, perlu kembali pada tiga pilar utama, yaitu purpose, process, dan people. Seorang guru tidak hanya dituntut memahami tujuan pembelajaran, tetapi juga proses yang tepat serta siapa peserta didiknya. Ia menyebutkan pertanyaan mendasar yang harus diajukan adalah, apakah kita benar-benar mengenal siswa kita, latar belakangnya, dan cara mereka belajar. Artinya, inklusi tidak boleh berhenti pada tataran simbolik, melainkan harus bergerak menuju praktik yang substantif dan adaptif. Diferensiasi pembelajaran, asesmen yang responsif, serta pemanfaatan teknologi yang mempertimbangkan kesenjangan akses menjadi kunci. Kemudian, Tarsisius Sarkim, M.Ed., Ph.D., dari Universitas Sanata Dharma membahas keadilan pendidikan di dunia yang terpolarisasi dengan menyoroti krisis resiliensi dan kebutuhan inovasi. Sarkim menempatkan pendidikan sebagai sebagai hal yang membangun ketahanan sosial di tengah tekanan global. Menurutnya, tanpa inovasi yang berkelanjutan, pendidikan beresiko tertinggal dalam merespons dinamika zaman. Dilanjut dengan pernyataan Prof. Dr. Trisakti Handayani, M. M. dari UMM yang menegaskan, capaian pendidikan tidak dapat semata diukur secara kuantitatif, terutama ketika kesenjangan antar wilayah dan kelompok sosial masih tinggi. Realitas global menunjukkan masih jutaan anak belum memperoleh akses pendidikan yang layak, sehingga transformasi kebijakan menjadi kebutuhan mendesak dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. “Pendidikan berkeadilan merupakan inti dari tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDGs keempat, yang menegaskan pentingnya pendidikan inklusif, berkualitas, dan pembelajaran sepanjang hayat bagi semua,” tegas Handayani. Pendidikan inklusif yang transformatif disebutnya harus dimulai dari perubahan paradigma, yakni memandang perbedaan sebagai sumber daya pembelajaran. “Keterlibatan pemerintah, perguruan tinggi, sektor swasta, serta masyarakat sipil menjadi prasyarat penting dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif dan berdaya saing global,” imbuhnya. Pandangan pada standar profesi guru juga dijelaskan oleh Neneng Haryati, S.Si, M.M., yang memaparkan jika guru harus ditempatkan sebagai fondasi utama dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. Pada konteks ini, PPG menjadi bagian integral dari tata kelolah guru secara nasional. Guru dituntut untuk terus mengembangkan diri melalui pelatihan pembelajaran yang berkelanjutan, riset praktik pembelajaran, serta kolaborasi riset lintas pendidikan agar mampu menjawab tantangan global. *** Dokumentasi kegiatan (dok. UMM): *** Editor: YAN
UKM Karate UMM Sapu Bersih 16 Medali dan Rajai Kejuaraan Nasional 2026

UKM Karate UMM Sapu Bersih 16 Medali dan Rajai Kejuaraan Nasional 2026 pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang kembali menorehkan prestasi gemilang melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate. Bertanding di Hall Dome UMM, tim karate berhasil meraih gelar Juara Umum kategori Mahasiswa dalam ajang Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026. Kejuaraan yang berlangsung pada Sabtu (2/5/2026) ini menjadi bukti ketangguhan para atlet UMM. Keberhasilan tersebut sekaligus menegaskan posisi Kampus Putih sebagai salah satu lumbung atlet bela diri berprestasi di Indonesia. Ketua Umum UKM Karate UMM, Fadil Inayatullah, menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil dari komitmen panjang seluruh anggota tim. Mahasiswa program studi Manajemen angkatan 2023 itu menjelaskan bahwa persiapan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari latihan fisik, pendalaman teknik, hingga penguatan mental bertanding. “Gelar juara umum ini adalah bukti nyata bahwa kedisiplinan dan kekompakan tim mampu menghasilkan prestasi yang mengharumkan nama UMM di bidang olahraga,” tegas Fadil. Dalam kompetisi tersebut, kontingen UMM menunjukkan dominasi di berbagai nomor pertandingan, baik individu maupun beregu. Total 16 medali berhasil diraih, terdiri dari 3 medali emas, 5 medali perak, dan 8 medali perunggu. Prestasi ini semakin memperkuat posisi UMM sebagai kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif mengembangkan potensi mahasiswa di bidang olahraga. Pembina UKM Karate UMM, Havidz Ageng Prakoso, M.A, menyoroti tantangan yang dihadapi para atlet dalam menyeimbangkan peran sebagai mahasiswa dan atlet. “Tantangan sejauh ini adalah membagi waktu antara tugas akademik dan porsi latihan yang cukup menguras tenaga,” ungkap Havidz. Ia juga menegaskan bahwa dukungan universitas menjadi faktor penting dalam keberhasilan ini, mulai dari fasilitas hingga kemudahan birokrasi bagi mahasiswa berprestasi. “UKM Karate UMM ke depannya akan semakin baik dengan perbaikan manajerial internal dan seleksi yang ketat bagi calon mahasiswa baru yang ingin bergabung,” pungkasnya. Keberhasilan ini diharapkan mampu menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus berprestasi. UMM tidak hanya menjadi tempat belajar di ruang kelas, tetapi juga menjadi wadah pembinaan atlet berprestasi di tingkat nasional. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
Pohon Harapan Pendidikan UMM Ajang Kritik Penghapusan Program Studi

MALANG POST – Di tengah wacana penghapusan sejumlah program studi yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan industri, peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2026 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru hadir sebagai ruang kritik yang terbuka. Bertempat di jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1, sivitas akademika diajak menyuarakan argumen, kegelisahan dan harapan mereka terkait arah pendidikan nasional melalui medium “Pohon Harapan Pendidikan”. Rangkaian acara ini dikemas sarat makna sosial dan intelektual, melampaui sekadar kegiatan seremonial. Dimulai dengan menyanyikan lagu-lagu nasional, penulisan aspirasi, hingga penampilan musikalisasi puisi oleh dosen dan mahasiswa. Semuanya dirancang sebagai medium artikulasi publik kampus yang menggabungkan ekspresi estetis dengan kritik sosial. Wakil Dekan II Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM sekaligus penanggung jawab kegiatan, Dr. Faizin, M.Pd.,menjelaskan bahwa tema “Menguatkan Pendidikan, Membangun Masa Depan” dipilih untuk membangun kesadaran kolektif. Ia menegaskan, wacana penghapusan program studi perlu dikritisi lebih jauh, apakah benar berorientasi pada peningkatan kualitas, atau sebatas efisiensi struktural. Menurutnya, kualitas pendidikan tidak bisa diukur semata dari relevansi jangka pendek terhadap kebutuhan industri. “Pendidikan memiliki dimensi kultural dan ideologis yang lebih luas, yang tidak selalu dapat diakomodasi oleh logika pasar. Refleksi ini adalah upaya mencegah pendidikan direduksi menjadi kepentingan pragmatis semata,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pendidikan yang unggul adalah hasil kerja kolektif lintas sektor, mulai dari keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, hingga sistem sosial. “Jika tidak disadarkan secara kolektif, capaian pendidikan unggul tidak akan pernah muncul. Kebijakan pendidikan tidak bisa berdiri sendiri tanpa keterlibatan berbagai elemen,” tegasnya. Dalam kegiatan tersebut, “Pohon Harapan Pendidikan” menjadi titik partisipasi yang paling dinamis. Medium ini dipenuhi berbagai tulisan dari sivitas akademika, yang tidak hanya berisi harapan normatif, tetapi juga kritik tajam terhadap sistem pendidikan yang dirasa semakin administratif dan kehilangan substansinya. “Pendidikan bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan lahirnya generasi penerus bangsa yang intelektual,” tulis Erika Firdayanti, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia. Pesan Erika merepresentasikan penolakan mahasiswa yang tidak ingin hanya menjadi objek kebijakan. Melainkan subjek aktif yang menuntut terjaganya esensi pendidikan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya. Peringatan Hardiknas di UMM tahun ini membuktikan bahwa kampus masih memegang teguh perannya sebagai arena dialektika yang sehat. Di tengah kuatnya arus pragmatisme dan efisiensi pasar, inisiatif ini menjadi pengingat bahwa pendidikan harus selalu berpijak pada nilai, nalar kritis, dan kesadaran kolektif untuk membangun masa depan bangsa yang berkelanjutan.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Karate UMM Sapu Bersih 16 Medali dan Rebut Juara Umum Kejurnas 2026

Tim UKM Karate UMM berfoto bersama usai meraih gelar juara umum dengan torehan 16 medali pada Kejurnas 2026. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Hall Dome menjadi saksi ketangguhan para atlet Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pada kejuaraan yang digelar Sabtu (2/5/2026), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate UMM tampil dominan dan berhasil meraih gelar Juara Umum kategori mahasiswa. Capaian ini sekaligus mempertegas posisi Kampus Putih sebagai salah satu lumbung atlet bela diri berprestasi di Tanah Air, setelah sukses mendominasi kejuaraan karate tingkat nasional, Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026. Ketua Umum UKM Karate UMM Fadil Inayatullah menyebut keberhasilan ini merupakan hasil dari komitmen panjang seluruh anggota tim. Mahasiswa Program Studi Manajemen angkatan 2023 itu menjelaskan, persiapan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari latihan fisik, pendalaman teknik, hingga penguatan mental bertanding. Menurutnya, suasana latihan yang suportif namun tetap disiplin menjadi kunci kekompakan tim sejak masa persiapan hingga hari pertandingan. “Gelar juara umum ini adalah bukti bahwa kedisiplinan dan kekompakan tim mampu menghasilkan prestasi yang mengharumkan nama UMM di bidang olahraga,” ujarnya. Dalam kompetisi tersebut, kontingen UMM menunjukkan kekuatan merata di berbagai kelas, baik nomor perorangan maupun beregu. Mereka berhasil memboyong total 16 medali, terdiri atas 3 emas, 5 perak, dan 8 perunggu. Prestasi ini turut menegaskan komitmen UMM sebagai kampus inovatif dan mandiri dalam memfasilitasi pengembangan minat dan bakat mahasiswa secara inklusif. Di balik capaian tersebut, terdapat tantangan besar dalam menyeimbangkan peran sebagai mahasiswa dan atlet. Hal ini disampaikan Pembina UKM Karate UMM, Havidz Ageng Prakoso MA. Menurutnya, para atlet dituntut memiliki kemampuan manajemen waktu yang baik. “Tantangan sejauh ini adalah membagi waktu antara tugas akademik dan porsi latihan yang cukup menguras tenaga,” ungkapnya. Dia menambahkan, dukungan universitas sangat berperan dalam menjaga motivasi atlet. Fasilitas yang memadai serta kemudahan birokrasi bagi mahasiswa berprestasi menciptakan atmosfer kompetisi yang sehat dan progresif di lingkungan kampus. Ke depan, Havidz menegaskan bahwa regenerasi atlet akan terus diperkuat melalui seleksi yang ketat guna menjaga tradisi juara. “UKM Karate UMM ke depannya akan semakin baik dengan perbaikan manajerial internal dan seleksi ketat bagi calon mahasiswa baru yang ingin bergabung,” pungkasnya. Kemenangan ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa lain untuk terus berprestasi. UMM tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga kawah candradimuka bagi lahirnya atlet-atlet berprestasi. (Faqih/AS)
UMM Raih Juara Umum Karate Championship 2026

Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si Saat Membuka Ajang Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026. ( Foto: Dokumentasi Panitia). RRI.CO.ID, Malang- Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih juara umum kategori mahasiswa dalam ajang Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026 yang digelar pada Sabtu, 2 Mei 2026. Sekretaris Panitia, Matronji, menyampaikan bahwa UMM tampil unggul dalam kategori antar mahasiswa hingga berhasil meraih gelar juara umum. “Untuk juara umum mahasiswa diraih oleh UMM Malang,” ujarnya kepada RRI, Selasa ( 5/5/2026). Ia juga memastikan pelaksanaan kejuaraan berlangsung dengan baik tanpa kendala berarti. “Alhamdulillah, kegiatan berjalan lancar dan aman,” jelasnya. Matronji menambahkan, kejuaraan ini diikuti oleh ratusan atlet dari berbagai daerah dengan jumlah peserta yang cukup besar. “Untuk total keseluruhan atlet 825, dengan kelas pertandingan sebanyak 982,” ungkapnya. Ajang ini tidak hanya menjadi kompetisi, tetapi juga sarana pembinaan atlet serta meningkatkan semangat sportivitas di kalangan mahasiswa dalam momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional. (Meuthia)
Sisterpreneur: Inovasi Dosen UMM untuk Dorong UMKM Perempuan Naik Kelas lewat Inovasi Pemasaran Digital

Dosen UMM saat melaksanakan Sisterpreneur bagi kader Nasyiatul ‘Aisyiyah Se-Jatim (Suara ‘Aisyiyah.id) Surabaya, Suara ‘Aisyiyah – Minimnya pemanfaatan media sosial oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perempuan di Jawa Timur, mendorong tiga Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan program “Sisterpreneur”. Inovasi tersebut digagas sebagai solusi peningkatan kapasitas pemasaran digital. Tiga dosen Ilmu Komunikasi UMM yakni Maharina Novi, Arum Martikasari, dan Rahmania Santoso, menggelar kegiatan pemberdayaan bertajuk “Sisterpreneur: Inovasi Pemasaran Digital untuk Peningkatan Daya Saing UMKM Perempuan Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur Kegiatan yang berlangsung di Surabaya ini diikuti puluhan peserta dari Pimpinan Daerah Nasyiatul ‘Aisyiyah Se-Jawa Timur, Ahad, (26/4/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengabdian masyarakat yang berfokus pada peningkatan kapasitas pelaku UMKM perempuan yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah (APUNA). Para peserta dibekali keterampilan pemasaran digital agar mampu bersaing secara lebih luas di tengah perkembangan teknologi komunikasi. Dorong Optimalisasi Pemasaran di Sosial Media Ketua tim pengabdian, Maharina Novi, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi kurangnya omset pada penjualan yang dimiliki UMKM perempuan di Nasyiatul Aisyiyah. Setelah dilakukan riset singkat, ternyata tidak semua menggunakan media sosial secara maksimal, sehingga market hanya terbatas pasa penjualan konvensional. Menurutnya, optimalisasi media digital sangat penting dalam meningkatkan penjualan dan memperluas jangkauan pasar. Hal tersebut disinyalir akan memberikan dampak pada kenaikan omset. “Kami melihat para pelaku UMKM perempuan di PWNA Jawa Timur akan bisa lebih optimal jika memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran. Padahal, jika dimanfaatkan dengan baik, hal ini dapat memberikan nilai tambah dan membuat mereka lebih siap bersaing dengan UMKM lainnya,” ujarnya. Ia menambahkan, kemampuan tersebut perlu terus diasah dan dirawat agar pelaku UMKM perempuan tidak tertinggal dalam persaingan yang semakin ketat. Dengan strategi yang tepat, pelaku usaha di bawah naungan APUNA harapannya mampu meningkatkan daya saingnya secara berkelanjutan. Rumus PCBA dalam Menyusun Konten Sementara itu, narasumber Arum Martikasari, menekankan pentingnya strategi pemasaran yang adaptif. Ia menyampaikan bahwa pelaku UMKM perempuan harus mampu bersaing secara masif, baik melalui kanal offline maupun online. Dalam sesi materinya, Arum memperkenalkan rumus PCBA (Perkenalkan, Ceritakan, Buktikan, dan Ajakan) sebagai pendekatan dalam menyusun konten media sosial yang efektif. “Melalui formula ini, pelaku UMKM dapat membangun komunikasi yang lebih terarah dengan audiens di sosial media, sehingga produk yang ditawarkan lebih dikenal dan diminati,” jelasnya. Selain itu, Arum juga mengajak untuk praktik melakukan optimasi sosial media melalui pemanfaat AI. Bukan sekedar teori, dua dosen yang lain yang turut hadir juga mendampingi satu persatu pelaku UMKM tersebut sehingga peserta bisa jelas dan tidak bingung dalam menggunakannya. Peserta kegiatan pun menunjukkan antusiasme tinggi. Yunik, anggota APUNA asal Trenggalek, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari pelatihan tersebut. “Saya jadi lebih tahu bagaimana memanfaatkan media sosial terlebih AI untuk promosi. Sekarang saya juga lebih percaya diri membuat konten karena sudah memahami caranya,” ungkapnya. Melalui kegiatan ini, tim dosen UMM berharap para pelaku UMKM perempuan di Jawa Timur mampu mengoptimalkan pemasaran digital sebagai strategi utama dalam meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha mereka. (Mnz)-Nely
UMM Jadikan Hardiknas Mimbar Kritik Pendidikan

SUPPORT: Mahasiswa UMM menandatangani petisi untuk mendukung sistem pendidikan yang lebih baik di Indonesia MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2026 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berlangsung beda. Di saat jagat pendidikan tinggi sedang diguncang wacana penghapusan sejumlah program studi (prodi) yang dianggap tak relevan dengan kebutuhan industri, UMM justru menyulap jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 menjadi mimbar kritik yang terbuka. Melalui medium bertajuk “Pohon Harapan Pendidikan”, ratusan mahasiswa dan dosen berkumpul bukan untuk sekadar seremoni, melainkan menyuarakan kegelisahan mereka terhadap arah pendidikan nasional yang dianggap semakin menjauh dari substansi kemanusiaan. Rangkaian acara ini dikemas sarat makna sosial dan intelektual, dimulai dari menyanyikan lagu nasional hingga penampilan musikalisasi puisi oleh dosen dan mahasiswa sebagai bentuk artikulasi publik yang menggabungkan ekspresi estetis dengan kritik sosial. Dr. Faizin, M.Pd., Wakil Dekan II Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM sekaligus penanggung jawab kegiatan, menjelaskan bahwa tema “Menguatkan Pendidikan, Membangun Masa Depan” sengaja dipilih untuk membangun kesadaran kolektif terhadap tantangan zaman. Dalam orasinya, Dr. Faizin secara tajam menyoroti wacana penghapusan prodi yang kini tengah hangat diperbincangkan. Ia menegaskan bahwa kualitas pendidikan tidak bisa diukur semata dari relevansi jangka pendek terhadap kebutuhan pasar. “Pendidikan memiliki dimensi kultural dan ideologis yang lebih luas, yang tidak selalu dapat diakomodasi oleh logika pasar. Refleksi ini adalah upaya mencegah pendidikan direduksi menjadi kepentingan pragmatis semata,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pendidikan yang unggul adalah hasil kerja kolektif, dan jika kebijakan pendidikan berdiri sendiri tanpa keterlibatan berbagai elemen, maka capaian pendidikan unggul tidak akan pernah muncul.Keriuhan di jembatan GKB 1 semakin dinamis saat para sivitas akademika mulai memadati “Pohon Harapan Pendidikan”. Pohon tersebut dipenuhi berbagai tulisan yang tidak hanya berisi harapan normatif, tetapi juga kritik tajam terhadap sistem pendidikan yang dirasa semakin administratif dan kehilangan substansinya. Salah satu suara kritis datang dari Erika Firdayanti, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, yang menuliskan aspirasinya secara lugas. “Pendidikan bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan lahirnya generasi penerus bangsa yang intelektual,” tulis Erika. Pesan tersebut merepresentasikan suara mahasiswa yang menolak hanya menjadi objek kebijakan, melainkan subjek aktif yang menuntut terjaganya esensi pendidikan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya. Peringatan Hardiknas di UMM tahun ini membuktikan bahwa kampus masih memegang teguh perannya sebagai arena dialektika yang sehat. Di tengah kuatnya arus pragmatisme dan efisiensi pasar, inisiatif ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa pendidikan harus selalu berpijak pada nilai, nalar kritis, dan kesadaran bersama untuk membangun masa depan bangsa yang berkelanjutan. (imm/udi)
16 Medali Diboyong UKM Karate UMM dan Rajai Kejuaraan Nasional 2026

Sebanyak 16 medali sukses diboyong UKM Karate UMM dan merajai Kejuaraan Nasional 2026./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Atlet Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tampil luar biasa di Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026 yang berlangsung di Hall Dome UMM. Kompetisi yang digelar pada Sabtu (2/5) tersebut, menjadi saksi keberhasilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate UMM dalam menunjukkan kelasnya dengan keluar sebagai Juara Umum untuk kategori Mahasiswa. Keberhasilan ini sekaligus mempertegas posisi Kampus Putih sebagai lumbung atlet bela diri berprestasi di Tanah Air berkat dominasinya dalam kejuaraan karate tingkat nasional. Ketua Umum UKM Karate UMM, Fadil Inayatullah, menyebut pencapaian ini adalah hasil dari komitmen panjang para anggota. Mahasiswa program studi Manajemen angkatan 2023 tersebut menjelaskan bahwa persiapan tim dilakukan secara menyeluruh. Ada latihan fisik, pendalaman teknik, hingga penguatan mental bertanding. Menurut Fadil, atmosfer latihan yang suportif namun tetap disiplin menjadi kunci utama kekompakan tim selama masa persiapan hingga hari H pertandingan. “Gelar juara umum ini adalah bukti nyata bahwa kedisiplinan dan kekompakan tim mampu menghasilkan prestasi yang mengharumkan nama UMM di bidang olahraga,” ungkap Fadil pada rilis UMM Selasa (5/5). Pada kompetisi bergengsi tersebut, kontingen UMM berhasil mendominasi berbagai kelas pertandingan. Kekuatan tim yang tersebar merata, baik di nomor perorangan maupun beregu, sukses memboyong total 16 medali. Raihan gemilang dari para atlet UKM Karate UMM tersebut terdiri dari 3 medali emas, 5 medali perak, dan 8 medali perunggu. Capaian impresif ini mempertegas keunggulan UMM sebagai kampus inovasi dan mandiri dalam memfasilitasi minat bakat mahasiswa secara inklusif. Di balik prestasi fisik tersebut, terdapat tantangan besar dalam menyeimbangkan kehidupan kampus. Hal ini ditegaskan oleh Pembina UKM Karate UMM, Havidz Ageng Prakoso, M.A. Menurutnya, status sebagai mahasiswa sekaligus atlet menuntut kemampuan manajerial waktu yang tinggi. “Tantangan sejauh ini adalah membagi waktu antara tugas akademik dan porsi latihan yang cukup menguras tenaga,” ujar Havidz. Ia menambahkan bahwa dukungan universitas selama ini sangat berperan dalam memotivasi para atlet. Fasilitas yang memadai serta kemudahan birokrasi bagi mahasiswa berprestasi membuat atmosfer kompetisi di lingkungan UMM tetap sehat dan progresif. Havidz juga menekankan bahwa regenerasi atlet melalui seleksi ketat akan terus dilakukan guna menjaga tradisi juara di masa mendatang. “UKM Karate UMM ke depannya akan semakin baik dengan perbaikan manajerial internal dan seleksi yang ketat bagi calon mahasiswa baru yang ingin bergabung,” tegasnya. Kemenangan ini diharapkan UMM menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa lain untuk terus berkarya. UMM juga membuktikan bukan sekadar tempat menimba ilmu di ruang kelas, tetapi juga kawah candradimuka bagi para jawara di ajang olahraga. *** Editor: YAN