Gandeng PT Charoen Pokphand, UMM Gelar Campus Hiring yang Dipadati Ribuan Pelamar

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang kembali menunjukkan komitmennya dalam menjembatani karier lulusan melalui program Campus Hiring yang digelar di Aula BAU Kampus Putih, Kamis (30/04/2026). Kegiatan ini menjadi peluang strategis bagi mahasiswa dan alumni untuk terhubung langsung dengan dunia industri.Acara ini menghadirkan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk yang tengah membuka rekrutmen besar-besaran. Tercatat sebanyak 1.700 pelamar mendaftar, baik dari UMM maupun luar kampus. Dari jumlah tersebut, sekitar 460 kandidat dipanggil mengikuti tahapan seleksi yang diprioritaskan bagi lulusan UMM, baik fresh graduate maupun yang telah berpengalaman. Human Capital Strategic PT Charoen Pokphand Indonesia, Dian Eko Wicaksono, hadir langsung memantau jalannya proses rekrutmen. Ia menilai UMM bukan sekadar lokasi seleksi, tetapi mitra strategis dalam menjaring sumber daya manusia (SDM) unggul. “Campus hiring di Universitas Muhammadiyah Malang adalah tujuannya untuk menjaring talenta-talenta terbaik,” tegasnya. Menurutnya, rekam jejak alumni UMM yang telah banyak mengisi posisi strategis di perusahaan turut memperkuat kolaborasi ini. Terpilihnya UMM sebagai lokasi campus hiring tidak lepas dari reputasi kampus yang kuat, fasilitas yang memadai, serta jejaring kerja sama yang luas—mulai dari program beasiswa hingga kolaborasi riset dan layanan kesehatan. Dalam proses seleksi, perusahaan menerapkan kualifikasi sesuai kebutuhan masing-masing posisi. “Kriteria utama tentu jurusan, karena beberapa posisi memang membutuhkan latar belakang tertentu,” jelas Dian. Namun demikian, ia menekankan bahwa aspek non-teknis juga menjadi perhatian penting. Soft skills seperti daya juang, inisiatif, kreativitas, dan empati menjadi parameter utama dalam menentukan kandidat yang layak diterima. Untuk mengoptimalkan pelaksanaan, seleksi dibagi dalam beberapa kloter sesuai kapasitas ruangan. Para peserta langsung menjalani rangkaian psikotes hingga wawancara dalam satu hari. Menariknya, sebagian hasil seleksi diumumkan secara langsung pada hari yang sama. Hal ini menjadikan proses rekrutmen lebih efisien, cepat, dan transparan. Salah satu peserta, Abdul Gafur, alumni Program Studi Informatika UMM, menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti kegiatan ini. Ia melamar pada posisi Production Control Analyst dengan persiapan yang matang. “Salah satunya karena proses rekrutmennya dilaksanakan langsung di kampus, sehingga lebih mudah dijangkau, dan juga karena perusahaan yang membuka lowongan merupakan perusahaan besar dengan reputasi yang sudah dikenal luas, sehingga menjadi kesempatan yang sayang untuk dilewatkan,” ungkap Abdul. Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus ditingkatkan agar semakin banyak mahasiswa dan alumni mendapatkan akses langsung ke dunia kerja. Tingginya antusiasme peserta menjadi bukti bahwa program campus hiring memiliki peran penting dalam menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan industri. Melalui kegiatan ini, UMM semakin mengukuhkan diri sebagai kampus unggul yang proaktif mengawal lulusannya memasuki dunia profesional—membuktikan bahwa mereka siap bersaing dan menjawab tantangan zaman. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

Prodi D3 Perbankan dan Keuangan Vokasi UMM Gelar Sosialisasi Bersama Pemkab dan Dikdasmen PNF PDM Muhammadiyah Bojonegoro

Malanginspirasi.com – Program Studi (Prodi) D3 Perbankan dan Keuangan Fakultas Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)  gelar kegiatan sosialisasi pendidikan berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro serta Dikdasmen PNF PDM Muhammadiyah Kabupaten Bojonegoro. Kegiatan ini bertujuan  mendorong generasi muda  terus melanjutkan pendidikan ke jenjang  lebih tinggi serta mempersiapkan diri menghadapi tantangan dunia kerja. Bapak Aufar memberikan sambutan selaku perwakilan Dikdasmen PNF PDM Muhammadiyah Kabupaten Bojonegoro. Dalam sambutannya, ia menekankan  di tengah persaingan global saat ini, keberhasilan generasi muda tidak cukup hanya mengandalkan ijazah. Selain kompetensi akademik, siswa juga perlu dibekali berbagai keterampilan lunak (soft skills) seperti komunikasi, kepemimpinan, kerja sama tim, kreativitas, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman. Perpaduan antara pendidikan formal dan soft skill yang kuat diyakini mampu mencetak generasi unggul yang siap bersaing maupun menciptakan peluang usaha secara mandiri. Dalam kesempatan tersebut, Ibu Bupati Bojonegoro, Dr. Sri Budi Cantika Yuli, SE., MM., turut memberikan motivasi kepada para siswa. Ia menyampaikan  melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi merupakan investasi penting untuk masa depan. Pendidikan tinggi tak hanya berorientasi pada perolehan gelar, tetapi juga sebagai sarana membentuk sumber daya manusia yang unggul, berdaya saing, dan siap menghadapi era kemajuan. Lebih lanjut, Dr. Sri Budi menegaskan  persiapan menuju Generasi Emas Indonesia 2030 harus dimulai sejak dini. Generasi muda Bojonegoro diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, terampil, berkarakter, serta memiliki semangat belajar yang tinggi agar mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan bangsa. Ketua Program Studi D3 Perbankan dan Keuangan, Novi Primita Sari, SE., M.Ec.Dev., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan sosialisasi yang berjalan dengan lancar melalui sinergi berbagai pihak. Novi juga mengungkapkan kebanggaannya terhadap antusiasme peserta yang berasal dari berbagai sekolah, seperti SMA dan SMK Muhammadiyah se-Bojonegoro, SMAN 1 Bojonegoro, serta MA Al Amin Bojonegoro. “Kehadiran para siswa menunjukkan semangat yang tinggi dari generasi muda untuk terus belajar dan melanjutkan pendidikan. Kami berharap kegiatan kolaboratif seperti ini dapat terus berlanjut di masa mendatang,” ujarnya. Dalam sesi pemaparan, Kepala Laboratorium D3 Perbankan dan Keuangan, Dhurotus Sangadah, SE., MM., menjelaskan berbagai keunggulan proses pembelajaran di program studi tersebut. Sistem pembelajaran dirancang secara adaptif dan aplikatif melalui pendekatan Project Based Learning dan Teaching Factory, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga memperoleh pengalaman praktik yang relevan dengan kebutuhan industri. Program studi ini juga didukung oleh berbagai mitra strategis seperti BPRS Arsa Syariah Sinar Sejahtera, Rayz Hotel, dan Dea Bakery. Kolaborasi ini memberikan kesempatan  mahasiswa  mengasah kompetensi profesional, memperoleh pengalaman kerja nyata, serta meningkatkan kesiapan memasuki dunia kerja. Selain itu, mahasiswa dibekali berbagai sertifikasi kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pasar, seperti sertifikasi brevet pajak, sertifikasi kewirausahaan dari Wadhwani Foundation, serta sertifikasi Fintech Syariah dari AFSI. Tersedia pula berbagai program beasiswa, baik nasional maupun internasional, seperti Erasmus+, China Corner, ISMA, dan skema lainnya. Melalui berbagai program unggulan tersebut, Prodi D3 Perbankan dan Keuangan UMM berkomitmen mencetak lulusan yang unggul, kompeten, dan siap bersaing di dunia kerja maupun dalam membangun usaha mandiri.

Solusi atas Jeritan Hati Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik

mojok – Kenaikan harga plastik yang melonjak tajam mencekik para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), akibat konflik geopolitik global yang kian memanas di Timur Tengah. Menghadapi krisis tersebut, pakar ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan saran khususnya untuk pelaku UMKM agar bisa bertahan. Dampak perang mulai dirasakan wong cilik Anna, pelaku usaha laundry mengungkap harga plastik akhir-akhir ini melonjak tajam. Dari yang tadinya Rp30 ribu naik menjadi Rp54 ribu setelah Lebaran 2026 kemarin. Kenaikan sebesar Rp24 ribu itu bikin ia megap-megap, mengingat ia baru saja menjalankan bisnisnya. “Sebagai pemilik laundry pemula, kenaikan harga ini lumayan bikin pusing apalagi plastik termasuk bahan baku wajib buat kemasan baju pelanggan,” kata Anna dihubungi Mojok, Kamis (30/4/2026). Alhasil, Anna harus mengubah plastik yang tadinya berfungsi untuk packing menjadi plastik jinjing seharga Rp45 ribu di toko setrika uap. Kantong kresek pun ia tiadakan, sehingga ia kerap mengimbau pelanggannya untuk membawa kantong sendiri baik kresek maupun tas kain. “Aku memang belum ada niat menaikkan harga laundry, karena riskan banget. Kalau gegabah malah akunya yang susah jadi aku akalin dulu saja selagi bahan baku lainnya aman kayaknya masih bisa,” ujar Anna. Pelaku UMKM menjerit harga plastik naik Kenaikan harga tak hanya terjadi pada plastik laundry, tapi juga kemasan makanan. Orang tua Sabrina Oktavia misalnya yang berjualan bubur ayam. Sabrina berujar, styrofoam yang biasanya dipatok harga Rp25 ribu sekarang jadi Rp35 ribu. Belum lagi plastik kresek yang tadinya Rp9 ribu naik menjadi Rp16 ribu. “Sebagai pedagang bubur ayam, kami juga harus beli plastik alas, plastik kuah, plastik sate, sampai sendok plastik. Dan semuanya ikut naik. Sementara harga bubur kami masih Rp12 ribu per porsi. Gimana pelaku UMKM nggak menjerit?” keluh Sabrina. Kekesalan atas naiknya harga plastik juga dirasakan Lex Simanjuntak. Penjual roti asal Bekasi ini berujar harga plastik kini benar-benar tidak masuk akal. Kantong kresek kecil yang tadinya seharga Rp12 ribu sekarang melonjak jadi Rp21 ribu. “Bahkan aku yang biasa beli bubble wrap 1 gulung Rp110 ribu sekarang naik jadi Rp190 ribu,” ujar Lex. Meski begitu, Lex berusaha untuk tetap bersyukur. Walaupun harga bahan baku dan plastik naik, kata dia, tapi ia yakin ada satu hal yang tidak berubah di situasi sulit seperti sekarang. “Yaitu rasa terima kasihku buat pelanggan yang tetap mau jajan dan dukung usaha kecilku tanpa banyak nawar dan protes,” kata Lex. Alasan UMKM terkena imbas konflik global Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sri Wahyudi Suliswanto menjelaskan lonjakan harga plastik tak terlepas dari imbas konflik geopolitik global yang kian memanas di Timur Tengah. Kenaikan harga plastik ini juga bersamaan dengan harga minyak mentah dunia. Wajar jika pelaku UMKM kini merasa tercekik. Menurut pengamatannya, tren kenaikan harga plastik yang cukup ekstrem telah bertransformasi menjadi “biaya siluman” yang perlahan menggerus margin keuntungan para pedagang kecil. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM tersebut juga menyoroti posisi UMKM kuliner sebagai sektor yang paling rentan akibat ketergantungan absolut mereka pada wadah makanan, gelas minuman, dan tas kresek. Biaya produksi yang membengkak tajam memaksa pelaku usaha masuk ke jurang dilema. Jika mereka nekat menaikkan harga jual produk harian, risikonya para pembeli setia akan berlari mencari alternatif lain, mengingat kemampuan daya beli masyarakat saat ini tergolong masih lesu. Namun, jika mereka menahan harga demi mempertahankan pelanggan, keberlangsungan usaha justru terancam gulung tikar. Wahyudi memaparkan, akar dari krisis ini memperlihatkan dengan jelas rapuhnya kemandirian industri dalam negeri. “Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika gejolak geopolitik mengganggu jalur distribusi internasional dan memicu lonjakan harga minyak mentah, harga domestik langsung tercekik,” tegas Wahyudi dilansir dari laman resmi UMM, Kamis (30/4/2026). Ubah musibah harga naik jadi kesadaran kolektif Menghadapi kebuntuan ini, Wahyudi melihat peluang mengubah musibah menjadi berkah melalui perubahan perilaku konsumsi di tengah masyarakat. Salah satunya dengan membuat pelaku UMKM sadar bahwa mereka sedang menghadapi situasi darurat, tapi ini juga bisa menjadi kesempatan mereka untuk ikut mengurangi dampak lingkungan dengan menyetop plastik sekali pakai. “Ini adalah saat yang paling tepat untuk memukul mundur kebiasaan penggunaan plastik,” ujarnya memberikan solusi atas kenaikan harga plastik. Pelaku UMKM juga bisa menerapkan strategi diferensiasi harga. Khusus pelanggan, Wahyudi menyarankan agar pelaku UMKM bisa memberikan diskon khusus bagi mereka yang membawa wadah sendiri. “Konsumen yang sadar membawa wadah sendiri berhak mendapat harga lebih murah,” tegasnya. Pemerintah tak boleh tutup mata atas penderitaan UMKM Wahyudi meyakini langkah taktis di atas tidak hanya menyelamatkan fondasi finansial UMKM, tetapi juga ampuh membangun budaya pro-lingkungan jangka panjang. Namun, Wahyudi mengingatkan beban kenaikan harga ini tidak bisa dipikul sendirian. Mengingat komponen plastik digunakan secara masif di berbagai sektor industri di Indonesia, mulai dari kuliner rumahan, manufaktur skala besar, hingga otomotif. Oleh karena itu, pemerintah harus mencari pemasok alternatif dari negara non-konflik secara paralel. “Pemerintah tidak boleh tutup mata melihat penderitaan UMKM. Harus ada intervensi tegas mengamankan stabilitas harga plastik di pasaran karena daya rusaknya sangat luas,” tegas Wahyudi. Terakhir, Ia menyarankan langkah paling konkret saat ini adalah pemerintah aktif memfasilitasi pencarian pemasok bahan baku dari negara yang aman dari konflik. Kolaborasi komprehensif antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen diharapkan tak sekadar menyelamatkan bisnis UMKM hari ini, tetapi sukses menjadi titik balik masyarakat menuju pola konsumsi cerdas yang sepenuhnya bebas dari jerat ketergantungan limbah plastik

Kamu Konten Kreator? UMM Buka Jalur Kuliah Tanpa Tes Untuk Kamu

Malang, Tugumalang.id – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi membuka pendaftaran mahasiswa baru jalur khusus influencer dan konten kreator. Menariknya, jalur kuliah khusus ini diberlakukan tanpa tes. Lewat gebrakan ini, puluhan ribu followers dan portofolio digital di dunia maya kini menjadi ‘paspor’ sakti untuk masuk Kampus Putih tanpa perlu pusing memikirkan ujian tulis. Diketahui, pendaftaran jalur khusus konten kreator ini dibuka mulai 1 April hingga 25 Juni 2026 mendatang. Syarat yang ditawarkan juga sangat mudah dan relevan. Para calon pendaftar cukup membuktikan diri dengan kepemilikan minimal 5.000 subscriber di platform YouTube, atau 10.000 followers di Instagram maupun TikTok. Namun, tingginya angka pengikut bukan satu-satunya tolok ukur. UMM tetap memasang filter ketat: konten yang diproduksi wajib bersifat kreatif, edukatif, dan menularkan energi positif. Hal ini menegaskan bahwa kampus tidak sedang memburu popularitas semata, melainkan mencari substansi dan rekam jejak digital yang baik. Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., memaparkan bahwa langkah ini adalah bentuk nyata adaptasi kampus terhadap literasi digital generasi Z. Menurutnya, institusi pendidikan tidak boleh menutup mata terhadap lahirnya profesi-profesi baru dari rahim teknologi, termasuk konten kreator. Menurut dia, para konten kreator ini adalah public relations bagi generasinya. ”Mereka punya panggung, algoritma, dan pengaruh besar. Melalui jalur ini, UMM ingin mewadahi bakat tersebut agar anak muda kita tak sekadar asal viral, tetapi juga dibekali dengan pondasi akademik yang matang dan berintegritas,” ungkapnya. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa program ini adalah investasi strategis untuk mencetak lulusan yang cakap digital sekaligus beretika. “Kami mencari mereka yang bisa menginspirasi publik. Jika mereka sudah mahir berkomunikasi secara visual di media sosial, UMM siap memolesnya menjadi talenta profesional yang dampaknya jauh lebih luas bagi masyarakat,” imbuhnya. Dengan hadirnya jalur influencer ini diharapkan tidak hanya menjaring bibit-bibit unggul di ranah digital, tetapi juga mengukuhkan posisi UMM sebagai kampus yang proaktif membaca zaman. Kini, saatnya mengubah karya kreatif di dunia maya menjadi tiket menuju masa depan yang cerah.

Sarjana Pendidikan Terancam Dihapus Demi Industri, Ini Kata Akademisi UMM

MAKLUMAT – Pendidikan tinggi Indonesia dihadapkan perdebatan serius menyusul munculnya wacana penghapusan program studi keguruan. Usulan ini disampaikan untuk menyelaraskan dengan kebutuhan industri, sementara prodi keguruan dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri. Persoalan ini jelas memicu kritik tajam dari berbagai akademisi yang menilai sebagai ‘tragedi kalkulator pendidikan’. Istilah ini merujuk pada cara pandang pragmatis yang menilai keberhasilan lembaga pendidikan dari angka statistik dan serapan tenaga kerja. Menurut Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. M. Isnaini, M.Pd., wacana tersebut menunjukkan ketidaksiapan pemerintah memetakan arah pendidikan nasional. “Kampus memiliki tanggung jawab strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar mengikuti tren pasar kerja,” tegasnya. Ia menambahkan, jika logika ini digunakan, peran kampus hanya menjadi ‘pabrik’ pemasok tenaga kerja. Pendidikan tinggi, lanjutnya, tidak selalu mengekor tren industry, sekaligus ruang inkubasi melahirkan pemikiran kritis. Jika pendidikan tinggi hanya berorientasi pada pasar kerja, fungsi intelektual berpotensi tergerus. “Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi melemahkan posisi pendidikan tinggi sebagai penggerak intelektualitas kritis masyarakat,” ujarnya menambahkan. Filosofi yang disampaikan Ki Hajar Dewantara, sebagai bapak pendidikan, pendidikan sejati adalah proses memanusiakan manusia. Pendidikan bukan sekadar lembaran ijazah dan keterampilan teknis, di dalamnya mencakup membangun cara berpikir, sikap, estetika, dan tanggung jawab sosial. Baca Juga  IDI Dorong Ormawa Aktif Perbaiki Kesehatan Masyarakat “Kalau logikanya soal keterampilan teknis, lebih baik membangun Balai Latihan Kerja (BLK), tidak perlu perguruan tinggi. Lulusan hanya cakap teknis tanpa bekal estetika dan pekerja berisiko kehilangan arah,” tegasnya. Pada dasarnya sarjana pendidikan memiliki fleksibilitas karier yang luas. Lulusannya tidak harus selalu menjadi guru formal di kelas. Banyak lulusan prodi kependidikan berkontribusi besar di berbagai sektor industri. Sarjana pendidikan sanggup membawa perspektif humanistik yang tidak dimiliki lulusan non-kependidikan. Sentuhan etika dan moral inilah yang sering tidak masuk dalam hitungan statistik serapan kerja, namun sangat krusial dalam dunia profesional. Mengenai isu surplus lulusan, ia menilai persoalan utama bukan pada keberadaan prodinya. Sorotan utamanya adalah sistem distribusi dan rekrutmen tenaga pendidik yang belum optimal secara nasional. “Sejauh ini ketimpangan jumlah guru antarwilayah menunjukkan adanya hambatan struktural yang seharusnya dibenahi pemerintah,” ungkapnya. Solusi yang ia tawarkan bukan menutup prodi. Ia menyarankan agar pemerintah memperketat regulasi melalui sistem on/off program studi berdasarkan akreditasi dan evaluasi kualitas.

Rektor UMM Soroti Wacana Penutupan Prodi di Hardiknas 2026, Kampus Harus Jadi Solution Center Excellence

Tugumalang.id – Momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi momen penegasan bahwa pendidikan hari ini harus menjadi solution center excellence. Momen itu juga sekaligus menjadi ajang mengkritisi wacana penutupan program studi (prodi) yang tak relevan. Di hadapan ribuan dosen dan karyawan, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menekankan bahwa perguruan tinggi tidak boleh lagi sekadar menjadi menara gading, melainkan harus bertransformasi menjadi Solution Center Excellence. Ia menuturkan bahwa tantangan modern seperti menipisnya daya dukung Sumber Daya Alam (SDA) dan pesatnya perkembangan IPTEK menuntut dunia pendidikan untuk lebih adaptif, inovatif dan solutif. Menurut Nazar sapaan akrabnya, tantangan global saat ini tidak bisa lagi dihadapi dengan pendekatan pendidikan yang konvensional. Sebab itu, kata dia, pendidikan tinggi harus menjadi solution center excellence. UMM harus hadir sebagai pusat layanan unggul, mitra solusi industri, serta inkubator inovasi dan talenta. ”Peran tersebut hanya dapat dicapai melalui perbaikan kualitas pendidikan secara menyeluruh, mulai dari proses pembelajaran, tata kelola institusi, hingga relevansi lulusan dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Lebih lanjut, Ia menjadikan pemikiran Ki Hajar Dewantara sebagai pondasi pendidikan nasional yang harus diterjemahkan secara kontekstual dalam menghadapi tantangan modern. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada simbol historis semata, melainkan menjelma menjadi kekuatan transformasi sosial. Untuk mewujudkan hal tersebut, UMM menetapkan tiga pilar strategis pengembangan universitas. Ketiga pilar tersebut meliputi Service Excellence Hub yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas layanan pendidikan, Industry Solution Partner yang berperan aktif dalam menjawab kebutuhan riil dunia industri, serta Innovation and Talent Incubator yang bertujuan mendorong lahirnya inovasi dan pengembangan talenta-talenta unggul. “Ketiga pilar ini bukan sekadar konsep, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata. Implementasi pilar tersebut menjadi indikator keberhasilan perguruan tinggi dalam menjawab tantangan zaman. Universitas tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga solusi konkret bagi masyarakat,” tegasnya. Momentum Hardiknas di UMM ini mempertegas bahwa pendidikan tidak bisa lagi berjalan di jalur yang sama (status quo). Komitmen itu menjadi penanda kuat bahwa perguruan tinggi dituntut untuk bergerak lebih kritis, responsif, dan solutif. Di tengah dinamika global, pendidikan harus hadir sebagai jawaban yang nyata, bukan sekadar wacana. Penutupan Prodi, Pandangan yang Sempit Sementara, menanggapi isu penutupan Prodi yang dianggap tidak relevan dengan dunia kerja, Rektor UMM memiliki pandangan berbeda. Ia menilai isu kebijakan menutup prodi hanya karena alasan serapan kerja linear merupakan pandangan yang sempit. Menurutnya, esensi pendidikan tidak hanya sebatas link and match dalam artian bekerja sesuai ijazah, melainkan pembekalan life skill (keterampilan hidup) dan penguatan daya pikir intelektual. “Itu adalah pandangan yang sempit saya kira. Tidak ada program studi yang jenuh. Bidang ilmu itu luas. Jika pendidikan hanya dilihat secara linear, maka itu sangat membatasi. Lulusan kita harus memiliki kualitas untuk menjalankan seluruh aspek kehidupan yang bermartabat dan mampu bekerja di bidang apa pun karena memiliki daya pikir yang kuat,” jelasnya. Sebab itu, ia memastikan bahwa UMM tidak akan menutup prodi, termasuk prodi keguruan yang di beberapa tempat mengalami penurunan minat. Sebaliknya, UMM justru akan terus berinovasi dengan memunculkan prodi lintas bidang baru lainnya.

UMM Go Internasional Produk Halal-Thoyyib: Pengembangan Pangan Halal-Sehat, Jalin Kerja Sama dengan Universitas Fuyao Cina

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM – Muhammadiyah Berkemajuan adalah paradigma gerakan Islam yang berlandaskan tauhid murni untuk mewujudkan Islam sebagai agama pembawa rahmat (din al-hadlarah), yang tercerahkan dan unggul lahir-batin. Menekankan Islam yang dinamis, membebaskan dari keterbelakangan, serta berfokus pada inovasi pendidikan, sosial, kesehatan, dan peradaban modern. Sebagai gerakan, Muhammadiyah terus mendorong inovasi dalam pelayanan sosial dan dialog peradaban internasional untuk menghadapi tantangan global. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) perguruan tinggi di bawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah yang kukuh mengusung nilai-nilai Islam berkemajuan. UMM diakui secara internasional sebagai salah satu universitas Islam terbaik di dunia, bahkan meraih posisi pertama versi UniRank, yang mencerminkan kualitas pendidikan dan dedikasi pada nilai keislaman. Indonesia bertujuan menjadi pusat kepemimpinan halal dunia pada tahun 2026, sehingga pegiat ekosistem halal berupaya turut memaksimalkan sertifikasi mandatori dan memperkuat daya saing produk lokal di pasar global. UMM sebagai kampus Islami yang mempunyai PS P3Halal. Guna mendukung potensi industri halal global diproyeksikan mencapai US$ 9 triliun pada 2030, menjadikannya penggerak ekonomi baru yang krusial. Pada bulan April 2026 menjalankan kegiatan bidang kerja sama pendampingan halal produk dan lembaga halal di luar negri, yang dimulai dengan Fuyao University of Science and Technology (FYUST) Cina, pada 21-23 April 2026. Hal ini sejalan dengan visi Kemdiktisaintek, yaitu Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang Berdampak, Inklusif, dan Adaptif untuk Membangun Fondasi Transformasi Sosial dan Ekonomi Berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045. Kampus Berdampak adalah konsep perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada akademik dan peringkat, melainkan mentransformasi kehidupan masyarakat melalui solusi nyata, inovasi sosial-ekonomi, dan kolaborasi. Program ini menekankan pengabdian berbasis Tri Dharma untuk mengatasi masalah lingkungan, sosial, dan ekonomi, serta menjadi pusat penggerak perubahan yang dirancang oleh Kemdiktisaintek. Konsep ini bertujuan memosisikan kampus sebagai motor inovasi berkelanjutan yang hadir mendengar, bekerja, dan tumbuh bersama masyarakat. Penandatangan dilaksanakan bersama pengurus/Ketua Yayasan, dan Dekan FYUST Giong Lin pada hari Rabu, 22 April 2026, di kampus Fuyao University of Science and Technology (FYUST) Cina yang megah. Dilanjutkan kunjungan ke lokasi Laboratorium Halal yang dimiliki kampus Fuyao, serta kantin-kantin di sekitarnya melayani kebutuhan makan/kuliner civitas akademik (mahasiswa, dosen) yang juga menghuni di dalam asrama kampus. Beberapa riset unggulan juga telah dilaksanakan, antara lain pengembangan produk berbasis polifenol, carrot dan umbi-umbian, dan pengujian deteksi halal (DNA babi, etanol sebagai titik kritis keharaman). Pengembangan polifenol ini sejalan dengan yang digeluti para peneliti di kampus UMM juga, antara lain pigmen (antosianin bunga dan umbi/ubi jalar ungu) oleh Prof. Elfi Anis S, MP. (riset tahun 2026 aplikasi suplemen pigmen bunganya pada upaya reduksi mikroplastik pada MBG/makan Bergizi Gratis di sekolah),Dr dr. Meddy Setiawan, Sp.PD, FINASIM. Riset pangan fungsional bahan lokal oleh Prof. Damat, Prof Warkoyo, Prof. Ely Purwanti, M.P, bahan bioakitf sebagai bahan obat/herbal oleh Dr. dr. Sulistyo Mulyo Agustini, Sp.PK., Dr. Ahmad Shobrun Jamil, S.Si., M.P, dan lain-lain. Kerja sama yang akan dijalankan antara lain kolaborasi riset halal (dosen mahasiswa), pangan sehat, produk obat/herbal kosmetik halal, serta pendampingan sertifikasi beberapa perusahaan mitra FYUST di Cina dan pembetukan Lembaga halal semacam LPH LN (LHLN) di kampus tersebut dapat terstandar halal negara Indonesia. Penandatanganan MoU kerja sama laboratorium dan sertifikasi halal produk antara Fuyao University of Science and Technology dengan Universitas Muhammadiyah Malang./dok. UMM Prof. Elfi Anis Saati (kedua dari kanan) di laboratorium halal./dok. UMM

Bunyikan Gong, Rektor Prof. Nazaruddin Buka UMM Open Karate Championship 2026 di Dome UMM

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: UMM Open Karate Championship 2026 resmi dibuka dengan penuh semangat di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (2/5) pukul 10.00 WIB. Pembukaan ditandai dengan prosesi pemukulan gong oleh Rektor UMM, Nazaruddin Umar, sebagai simbol dimulainya kejuaraan karate tingkat nasional tersebut. Dalam sambutannya, Nazaruddin Umar menyampaikan kebanggaannya atas antusiasme para peserta yang mencapai hampir 800 atlet dari berbagai jenjang. Mereka akan bertanding dalam lebih dari 900 nomor kualifikasi pertandingan yang mempertemukan atlet dari empat wilayah provinsi di Indonesia. “Anak-anakku para atlet, kejuaraan ini adalah momentum untuk menunjukkan hasil latihan kalian selama ini. Junjung tinggi sportivitas dan teruslah berjuang memberikan yang terbaik,” ujarnya di hadapan peserta, official, serta para orang tua dan suporter yang memadati arena. Pelaksanaan kejuaraan ini bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional, yang menurut Rektor UMM menjadi momentum penting untuk mengingat peran pendidikan dalam membentuk karakter generasi muda, termasuk melalui olahraga bela diri seperti karate. Ia menegaskan bahwa pembinaan olahraga merupakan bagian tak terpisahkan dari dunia pendidikan. Melalui ajang ini, diharapkan lahir bibit-bibit atlet baru yang mampu mengharumkan nama Indonesia, baik di tingkat nasional maupun internasional. “Event ini bukan hanya kompetisi, tetapi juga bagian dari upaya kita meningkatkan kualitas dan pembinaan atlet karate. Semoga dari sini muncul talenta-talenta unggul masa depan,” tambahnya. Lebih lanjut, ia berharap UMM Open Karate Championship dapat menjadi agenda tahunan yang konsisten diselenggarakan dan semakin diminati oleh atlet dari berbagai daerah. Kejuaraan ini juga diharapkan menjadi ajang strategis untuk mengukur kemampuan sekaligus mempererat persaudaraan antar atlet. Dengan dukungan penuh dari panitia, official, serta para pendukung yang hadir, suasana pembukaan berlangsung meriah dan penuh semangat. Kejuaraan ini diharapkan berjalan lancar hingga penutupan dan memberikan manfaat besar bagi perkembangan olahraga karate di Indonesia. “Semoga Allah memberikan kekuatan, keberkahan, dan keselamatan bagi kita semua sehingga tujuan mulia kejuaraan ini dapat tercapai dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Nicholas Saputra dan 9 Mahasiswa UMM Magang di Daihatsu Kyushu, Sukses Tembus Ketatnya Industri Otomotif Jepang

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Sepuluh mahasiswa UMM magang di Daihatsu Kyushu. Mereka berhasil menembus ketatnya persaingan sumber daya manusia di industri otomotif Jepang. Menembus ketatnya industri otomotif Jepang yang terkenal dengan kedisiplinan dan standar tinggi ini tentu bukanlah perkara mudah. Namun, tantangan tersebut berhasil dijawab oleh para mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui program magang bergengsi di Daihatsu Kyushu, Jepang, kampus putih kembali mengukuhkan kualitas mahasiswanya di level internasional. Nicholas Saputra, mahasiswa Teknik Mesin angkatan 2022, menjadi salah satu dari 10 mahasiswa tangguh yang berhasil lolos seleksi untuk menjalani program ini selama satu tahun penuh, terhitung sejak 6 Agustus 2025. Kesempatan emas ini diperoleh melalui jalur resmi kampus yang diinformasikan langsung oleh program studi. Untuk mencapai titik tersebut, Nicholas dan kesembilan rekannya harus melewati proses seleksi yang panjang dan tidak sederhana. Rangkaian ujiannya meliputi tes fisik yang menuntut kebugaran prima, psikotes, evaluasi kemampuan akademik, hingga pelatihan bahasa Jepang dasar guna memastikan kesiapan mereka. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi pencapaian personal, tetapi juga mencerminkan kesiapan mahasiswa UMM dalam menghadapi persaingan global yang sesungguhnya. Pasalnya, dunia industri Jepang sangat lekat dengan budaya kerja yang disiplin, ritme cepat, dan menuntut profesionalisme tinggi. Dalam program tersebut, kesepuluh mahasiswa ditempatkan di berbagai divisi krusial. Mereka terlibat langsung di divisi welding (pengelasan) yang membutuhkan ketelitian menyambung rangka presisi, divisi painting (pengecatan) untuk pelapisan anti-karat dan pewarnaan bodi, hingga divisi assembly (perakitan) yang bertugas merangkai ribuan komponen menjadi mobil utuh. Pengalaman ini memberikan pembelajaran praktis berharga di luar ruang kelas, sekaligus memperkuat kompetensi teknis mereka. “Kalau kerjanya ya disiplin, tepat waktu, terus gak boleh sembarangan, benar-benar harus profesional,” beber Nicholas. Ia mengaku sempat mengalami culture shock dengan ritme kerja yang padat. Jam kerja yang panjang serta kewajiban lembur yang hampir ada setiap hari sempat membuatnya kaget. Namun di sisi lain, sistem tersebut memberikan kompensasi yang adil dan jelas. Upah lembur yang diterima lebih tinggi dibanding jam kerja normal, sehingga memberikan semangat ekstra bagi para mahasiswa. Di balik capaian tersebut, kendala bahasa dan adaptasi budaya tetap menjadi hambatan utama dalam komunikasi di pabrik. Namun, hal itu justru diubah menjadi proses pembelajaran yang membentuk ketangguhan mental. “Kerja di luar negeri itu menarik, buat nyari skill baru, pengalaman baru, biar tahu rasanya kerja sama orang Jepang,” tegasnya. Capaian ini memperkuat citra UMM yang senantiasa sukses menjembatani kualitas akademik dengan realitas industri global. Kisah Nicholas juga membuktikan bahwa mahasiswa dari daerah mampu menembus panggung internasional berbekal kesiapan, keberanian, dan dukungan ekosistem kampus yang kuat. ***

Daripada Tutup Prodi, UMM Pilih Tingkatkan Kurikulum dan Kompetensi Mahasiswa

KETIK, BATU – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki pandangan tersendiri terhadap rencana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menutup program studi (prodi) yang dinilai kurang relevan. Daripada menutup, UMM justru fokus meningkatkan kualitas kurikulum agar setiap jurusan mampu mencetak lulusan siap kerja dan mandiri. Wakil Rektor I UMM Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Teknologi Digital, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menilai kebijakan terkait penataan program studi seharusnya didasarkan pada kajian menyeluruh dan data yang akurat. Menurutnya, ada dua hal utama yang perlu diperhatikan, yakni penyebab persoalan dan solusi yang akan diambil. “Ketika muncul pernyataan seperti itu, pertama yang harus dicari adalah penyebabnya. Kedua, bagaimana solusinya. Kebijakan tidak bisa dibuat begitu saja, tetapi harus berbasis data,” ujarnya saat diwawancarai Ketik.com, pada Kamis, 30 April 2026. Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Matematika ini menjelaskan, dalam merumuskan sebuah kebijakan setidaknya harus melalui empat tahapan, yakni pemahaman, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Keempat aspek tersebut dinilai penting agar keputusan yang diambil benar-benar sesuai kebutuhan dan tidak sekadar berdasarkan asumsi. “Kalau empat aspek itu dilakukan, maka kebijakan yang disampaikan akan akurat, bukan sekadar keinginan sesaat atau berdasarkan kasus tertentu,” katanya. Menurut dia, penutupan program studi bukan satu-satunya jalan keluar. Perguruan tinggi justru perlu melakukan pembaruan kurikulum agar lulusan lebih siap menghadapi dunia kerja dan mampu menciptakan peluang kerja secara mandiri. Baca Juga: Rektor UB Respon Isu Penghapusan Prodi, Tak Bisa Asal Tutup Demi Industri! Di lingkungan UMM, kata dia, langkah penyesuaian sudah dilakukan sejak lama melalui pembaruan kurikulum dan penguatan kompetensi mahasiswa agar siap memasuki dunia kerja maupun menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. UMM sudah mengembangkan konsep Center of Excellence (COE), yang kini akan dikembangkan menjadi Center Excellence Solution (CES). Melalui skema tersebut, setiap program studi didorong memiliki keunggulan spesifik dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta dunia industri. “Kami tidak hanya menyiapkan mahasiswa menjadi pegawai di tempat lain, tetapi juga bagaimana mereka mampu memberdayakan dirinya sendiri. Itu yang kami lakukan melalui COE yang ke depan dikembangkan menjadi CES,” jelasnya. Prof. Akhsanul menambahkan, setiap program studi pada dasarnya tetap memiliki peluang berkembang selama kurikulumnya disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Karena itu, UMM memilih meningkatkan relevansi program studi daripada menutupnya. “Prodi apa pun tidak menjadi masalah selama terus dikembangkan. Kurikulumnya diperbarui, mahasiswanya dibekali kompetensi, dan diarahkan agar bisa bekerja sesuai passion maupun mandiri,” tegasnya. Menurut Prof. Akhsanul, persoalan utama di sejumlah daerah justru terletak pada perencanaan pembukaan program studi yang kurang matang. Ia mencontohkan banyak perguruan tinggi membuka jurusan kesehatan maupun pendidikan secara masif, namun tidak diimbangi kebutuhan pasar dan kualitas pengelolaan. Baca Juga: Rektor UIN Malang Pilih Transformasi Kurikulum Ketimbang Tutup Prodi “Akibatnya, ada perguruan tinggi yang kesulitan mendapatkan mahasiswa, mutu pendidikan menurun, dan biaya pengembangan kurikulum juga menjadi persoalan,” ungkapnya. Selain pembaruan kurikulum, UMM juga menyiapkan mahasiswa menghadapi kebutuhan kerja masa depan melalui konsep Center for Future Work (CFW). Program ini dirancang agar lulusan memiliki kesiapan bekerja sesuai minat, bakat, dan perkembangan dunia kerja ke depan. “Kami sudah lama menyiapkan itu. Mahasiswa harus siap bekerja sesuai passion-nya, sekaligus memiliki kemampuan adaptif terhadap perubahan kebutuhan industri,” ujarnya. Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco menyampaikan rencana penutupan sejumlah program studi yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan industri dan pertumbuhan ekonomi masa depan.