Wacana Penghapusan Sarjana Pendidikan Mengemuka, Akademisi UMM: Kampus Bukan Pabrik Pekerja

Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. M. Isnaini, M.Pd. | Foto: Humas UMM Portalbontang.com, Malang – Dunia pendidikan tinggi di Indonesia tengah dihangatkan oleh sebuah perdebatan serius di ranah kebijakan akademik. Perdebatan publik tersebut mencuat menyusul munculnya wacana penghapusan program studi (prodi) di bidang keguruan. Usulan kontroversial tersebut secara terbuka dikemukakan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Sekjen Kemdiktisaintek) RI. Adapun dasar dari pemikiran Sekjen tersebut dilandaskan pada alasan pencapaian relevansi lulusan dengan kebutuhan sektor industri. Namun, kebijakan pragmatis tersebut dinilai sangat berisiko karena dapat menyederhanakan makna pendidikan yang sesungguhnya. Kebijakan tersebut juga dikhawatirkan dapat mengancam masa depan pembentukan karakter generasi penerus bangsa. Kritik tajam atas wacana ini langsung datang dari kalangan akademisi yang melihatnya sebagai sebuah bentuk ‘tragedi kalkulator pendidikan’. Istilah tersebut merujuk pada cara pandang pragmatis yang menilai keberhasilan lembaga pendidikan hanya melalui angka statistik dan tingkat serapan kerja semata. Jika logika statistik ini terus digunakan, peran perguruan tinggi dikhawatirkan akan tereduksi menjadi sekadar ‘pabrik’ pemasok tenaga kerja bagi industri. Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. M. Isnaini, M.Pd., menyatakan bahwa wacana tersebut menunjukkan ketidaksiapan pemerintah. Pemerintah dinilai tidak siap dalam memetakan arah pendidikan nasional secara komprehensif ke depannya. Menurut Dr. Isnaini, kampus memiliki tanggung jawab strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar mengikuti tren pasar kerja saat ini. “Pemerintah melalui pendidikan tinggi tidak selalu harus mengekor pada tren industri,” ujarnya pada tanggal 29 April lalu kepada Tim Humas UMM. Jika logika ini terus digunakan, peran perguruan tinggi dikhawatirkan akan tereduksi menjadi sekadar ‘pabrik’ pemasok tenaga kerja bagi industri semata. “Kampus adalah ruang inkubasi pemikiran kritis,” tegasnya. ***
UMM Gelar Kejuaraan Karate Nasional, Bangun Kecerdasan Fisik dan Mental di Momen Hardiknas

Kejuaraan Karate Nasional UMM MALANG | KEJORANEWS.COM: Gemuruh suara teriakan dan dentuman langkah kaki di atas matras memenuhi atmosfer kemegahan Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu, 02 Mei 2026. Bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional, Kampus Putih secara resmi menggelar perhelatan bergengsi bertajuk “Kejuaraan Karate Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026” yang diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai daerah. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., dalam sambutannya menekankan signifikansi penyelenggaraan acara ini yang bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Menurutnya, olahraga bela diri adalah elemen penting dalam memajukan kualitas manusia di masa depan. “Hari ini kita mengenang jasa para pahlawan pendidikan. Semangat itu kami manifestasikan melalui olahraga. Kami berharap dari Dome UMM ini akan lahir bibit-bibit talenta baru yang nantinya tidak hanya mengharumkan nama Indonesia di kancah nasional, tetapi juga di panggung internasional,” tegasnya. Lebih lanjut, ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pengurus Besar (PB) FORKI yang telah memberikan restu atas terselenggaranya ajang ini. UMM berkomitmen menjadikan Rektor Cup Karate Championship sebagai agenda tahunan yang dinanti oleh para atlet Karate-Do di seluruh Indonesia. “Event ini menjadi sarana penting bagi para atlet untuk mengukur kualifikasi mereka. Kami memohon maaf jika masih ada kekurangan dalam teknis penyelenggaraan, namun kami bertekad untuk terus memperbaiki kualitas agar kejuaraan ini menjadi kalender tetap karate di tingkat nasional,” tambahnya. Ajang ini bukan sekadar kompetisi fisik, melainkan menjadi panggung pembuktian bagi ratusan atlet muda untuk menunjukkan hasil latihan keras mereka. Dalam laporannya, Ketua Panitia Pelaksana, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., menyampaikan bahwa kejuaraan ini dirancang sebagai sistem pembinaan yang berkesinambungan. “Tujuan utama kami adalah menciptakan tolak ukur pembinaan karate yang terstruktur. Kami ingin memberikan kontribusi positif dalam mengembangkan tidak hanya kecerdasan fisik, tetapi juga intelektual, mental, dan spiritual generasi muda Indonesia,” ujarnya. Antusiasme peserta pada edisi kali ini tergolong luar biasa. Tercatat sebanyak 825 atlet dari 63 kontingen turut berpartisipasi. Mereka memperebutkan medali di 974 kelas pertandingan yang terbagi dalam berbagai kategori, mulai dari usia dini, pra-pemula, pemula, cadet, junior, under-21, hingga kategori senior. Tak hanya dari Jawa Timur, para peserta berasal dari lintas provinsi, meliputi Bali, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, yang mewakili dojo, klub, hingga pengurus cabang FORKI. Melalui perhelatan akbar ini, UMM kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung kemajuan olahraga nasional. Kejuaraan Karate Piala Rektor 2026 diharapkan mampu menjadi kawah candradimuka yang melahirkan atlet-atlet profesional bermental juara. Pada akhirnya, tempaan fisik dan mental di atas matras ini akan menjadi bekal berharga bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan masa depan, baik di kancah nasional maupun global.(Ans)
Dosen UMM Ajak Pengusaha Nasyiah Optimalkan Pemasaran Digital agar Bisa Naik Kelas

Dosen Ilmu Komunikasi UMM memberikan pelatihan pemasaran digital kepada pengusaha Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur. (Maharina/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Minimnya pemanfaatan media sosial oleh pelaku UMKM perempuan di Jawa Timur mendorong tiga dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan program “Sisterpreneur” sebagai solusi peningkatan kapasitas pemasaran digital di Surabaya, Sabtu (26/4). Tiga dosen tersebut, yakni Maharina Novi, Arum Martikasari, dan Rahmania Santoso, menggelar kegiatan pemberdayaan bertajuk “Sisterpreneur: Inovasi Pemasaran Digital untuk Peningkatan Daya Saing UMKM Perempuan di Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur”. Kegiatan ini diikuti puluhan peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengabdian masyarakat yang berfokus pada peningkatan kapasitas pelaku UMKM perempuan yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah (APUNA). Para peserta dibekali keterampilan pemasaran digital agar mampu bersaing lebih luas di tengah perkembangan teknologi komunikasi. Ketua tim pengabdian Maharina Novi menjelaskan, kegiatan ini dilatarbelakangi minimnya omzet penjualan UMKM perempuan di lingkungan Nasyiah, sebutan Nasyiatul Aisyiyah. Berdasarkan riset singkat, tidak semua pelaku usaha memanfaatkan media sosial secara maksimal sehingga pasar masih terbatas pada penjualan konvensional. Menurutnya, optimalisasi media digital sangat penting untuk meningkatkan penjualan dan memperluas jangkauan pasar. Hal tersebut dinilai dapat berdampak pada kenaikan omzet. “Kami melihat pelaku UMKM perempuan di PWNA Jawa Timur bisa lebih optimal jika memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran. Jika digunakan dengan baik, hal ini dapat memberikan nilai tambah dan membuat mereka lebih siap bersaing,” ujarnya. Dia menambahkan, kemampuan tersebut perlu terus diasah agar pelaku UMKM perempuan tidak tertinggal dalam persaingan yang semakin ketat. Dengan strategi yang tepat, pelaku usaha di bawah naungan APUNA diharapkan mampu meningkatkan daya saing secara berkelanjutan. Sementara itu, narasumber Arum Martikasari menekankan pentingnya strategi pemasaran yang adaptif. Ia menyampaikan bahwa pelaku UMKM perempuan harus mampu bersaing, baik melalui kanal offline maupun online. Dalam sesi materinya, Arum memperkenalkan rumus PCBA (Perkenalkan, Ceritakan, Buktikan, dan Ajakan) sebagai pendekatan dalam menyusun konten media sosial yang efektif. “Melalui formula ini, pelaku UMKM dapat membangun komunikasi yang lebih terarah dengan audiens di media sosial, sehingga produk yang ditawarkan lebih dikenal dan diminati,” jelasnya. Dosen Ilmu Komunikasi UMM bersama para peserta program Sisterpreneur berfoto bersama usai pelatihan pemasaran digital bagi pengusaha Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur. (Maharina/Klikmu.co) Selain itu, peserta juga diajak praktik mengoptimalkan media sosial melalui pemanfaatan AI. Dua dosen lainnya turut mendampingi peserta secara langsung sehingga materi lebih mudah dipahami dan diterapkan. Peserta kegiatan pun menunjukkan antusiasme tinggi. Yunik, anggota APUNA asal Trenggalek, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari pelatihan tersebut. “Saya jadi lebih tahu bagaimana memanfaatkan media sosial dan AI untuk promosi. Sekarang saya juga lebih percaya diri membuat konten karena sudah memahami caranya,” ungkapnya. Melalui kegiatan ini, tim dosen UMM berharap para pelaku UMKM perempuan di Jawa Timur mampu mengoptimalkan pemasaran digital sebagai strategi utama dalam meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha mereka. (Mnz/AS)
Rektor UMM Kritik Wacana Penutupan Prodi

Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik. (Foto: Heri Prasetyo) CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Rektor Universitas Muhammadiyah Malang Prof Dr Nazaruddin Malik mengkritik wacara penutupan program studi (prodi) yang tidak relevan dengan kebutuhan industri. Menurutnya, kebijakan tersebut terlalu menyederhanakan fungsi pendidikan tinggi yang sejatinya tidak hanya berorientasi pada kebutuhan pasar tenaga kerja. Nazaruddin menegaskan tidak ada disiplin ilmu yang kehilangan relevansi hingga layak dihentikan. Pendidikan tinggi memiliki mandat yang lebih luas dari pada sekadar mencetak lulusan untuk profesi tertentu. “Kalau pendidikan hanya dipandang dari sisi keterhubungan langsung dengan pekerjaan, cara pandang itu terlalu sempit,” kata Nazaruddin, usai upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional, Sabtu (2/5/2026). Ia menjelaskan konsep link and match memang penting. Namun tidak bisa bermakna linear bahwa lulusan hanya harus bekerja sesuai bidang akademiknya. Perguruan tinggi harus membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir, daya adaptasi dan keterampilan hidup agar mampu bertahan di berbagai dinamika zaman. “Yang harus dibangun bukan hanya kompetensi teknis, tetapi juga karakter, kemampuan intelektual, dan life skill. Dengan bekal itu, lulusan bisa berkontribusi di berbagai bidang,” ujarnya. Nazaruddin menilai ukuran keberhasilan pendidikan bukan dari seberapa banyak lulusan terserap di sektor yang linier dengan jurusannya. Ia mencontohkan, banyak lulusan yang justru berkembang di bidang berbeda karena memiliki kapasitas berpikir kritis dan kemampuan beradaptasi. “Yang perlu dievaluasi adalah kualitas proses pendidikannya, bukan langsung mengambil langkah penutupan. Pendidikan harus dilihat secara komprehensif,” tegasnya. Ia menegaskan hingga saat ini tidak memiliki rencana melakukan penutupan prodi. Sebaliknya, kampus akan terus memperluas pengembangan keilmuan melalui pembukaan program-program studi baru yang bersifat multidisipliner dan responsif terhadap perkembangan global. “Justru kami terus mengembangkan program studi baru, termasuk yang menggabungkan berbagai disiplin ilmu seperti energi terbarukan dan bidang-bidang strategis lainnya,” katanya. Menurutnya, kampus harus menjadi inkubator talenta, mitra strategis dan hadir untuk menjawab persoalan masyarakat.
Overparenting Jadi Tren Ortu Zaman Modern: Pakar Usul Buku Saku Parenting dan Digital Detox

Pakar Pendidikan UMM, Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd (Anggara Sudiongko/JatimTIMES) JATIMTIMES – Gelombang modernisasi yang membawa kemudahan ekonomi, teknologi digital, dan pola hidup serba praktis ternyata memunculkan problem baru dalam dunia pengasuhan. Banyak orang tua masa kini dinilai terjebak dalam pola overparenting, yakni kasih sayang berlebihan yang justru membuat anak kurang tangguh, miskin inisiatif, dan lemah mengambil keputusan. Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd, menilai fenomena tersebut semakin nyata di tengah keluarga urban maupun kelas menengah yang ingin memberi kenyamanan total kepada anak. Baca Juga : Long Weekend Bawa Berkah, Hunian Hotel Malang Tembus Angka Tinggi Menurutnya, niat baik orang tua memberi perlindungan penuh sering kali berubah menjadi pola asuh yang terlalu mengontrol setiap langkah anak. Akibatnya, anak tumbuh patuh tetapi kurang memiliki keberanian menentukan pilihan. “Kadang anak sedikit-sedikit bertanya ke ibunya, ‘Mi, aku harus gimana?’ Semua harus konfirmasi. Bagus karena hormat kepada orang tua, tetapi sisi inisiatif dan pengambilan keputusannya menjadi kurang terasah,” ujar Dr. Arina, Minggu, (3/5/2026). Ia mengaku melihat langsung fenomena itu, termasuk dari pengamatan di lingkungan sekolah dasar. Bahkan, menurutnya, sebagian orang tua saat ini cenderung lebih memanjakan anak dibanding generasi sebelumnya. Padahal, karakter tangguh justru lahir dari pengalaman kecil sehari-hari, seperti menyelesaikan masalah sendiri, bermain di luar rumah, hingga menghadapi situasi yang tidak selalu nyaman. Dr. Arina menyoroti kecenderungan orang tua modern yang terlalu khawatir terhadap aktivitas fisik anak. Kehujanan dilarang, bermain tanah dianggap kotor, dan beraktivitas luar ruang dibatasi karena takut sakit. Padahal, menurutnya, anak membutuhkan stimulasi alami untuk membangun daya tahan tubuh dan kecerdasan motorik. “Hujan itu tidak selalu buruk. Anak-anak kalau diajak kehujanan justru senang. Dulu kita hujan-hujanan happy sekali. Sekarang sedikit kena hujan langsung dianggap bahaya,” katanya. Ia menjelaskan, anak-anak generasi lama banyak berinteraksi dengan lingkungan alam. Bermain tanah, bergerak aktif, berlari, berkeringat, hingga terkena cuaca alami justru menjadi bagian dari proses tumbuh kembang yang sehat. “Tanah itu bisa menjadi terapi sensorik untuk menstimulasi psikomotorik anak. Kalau ada anak pendiam, kurang aktif, coba banyak diajak gerak. Itu bisa membantu nafsu makan, perkembangan motorik, bahkan mencegah stunting,” jelasnya. Menurut Dr. Arina, terlalu sterilnya lingkungan anak masa kini membuat paparan mikroba baik berkurang. Imunitas menjadi tidak terlatih, sehingga tubuh lebih rentan terhadap perubahan cuaca maupun lingkungan. Karena itu, ia mendorong orang tua kembali memberi ruang eksplorasi sehat. Anak yang terlihat kurang aktif, sulit makan, atau kurang berkembang secara fisik sebaiknya lebih sering diajak beraktivitas luar ruang dan terkena sinar matahari pagi. “Outdoor activity itu penting. Kena sinar matahari, bergerak, bermain, itu booster alami bagi tumbuh kembang anak,” tegasnya. Selain overparenting, Dr. Arina menilai tantangan terbesar keluarga modern saat ini adalah screen dependency atau ketergantungan layar. Teknologi digital memang memiliki sisi positif, namun tanpa kontrol justru dapat melemahkan kualitas generasi muda. Ia menegaskan, konten edukatif seperti video pembelajaran bahasa Inggris, bahasa Jepang, sains, atau kreativitas digital tetap bermanfaat jika digunakan proporsional. “Kalau anak menonton materi belajar, kartun berbahasa Inggris, itu malah bagus. Teknologi bisa jadi alat akselerasi belajar,” ujarnya. Namun persoalan muncul ketika anak terlalu lama bermain gim digital seperti Roblox atau larut dalam tontonan video tanpa batas waktu. Menurutnya, beberapa gim memang melatih ketelitian, logika, dan respons cepat. Tetapi jika durasinya berlebihan, anak menjadi kehilangan kontrol waktu, tidak responsif terhadap panggilan orang tua, dan minim interaksi sosial. “Dipanggil orang tua saja tidak dengar karena fokus bermain. Ini tanda bahwa manajemen penggunaan teknologi di rumah belum berjalan,” katanya. Baca Juga : Rakerda Golkar Situbondo: Ali Mufthi Tekankan Sinergi Partai dan Pemerintah Daerah Dr. Arina juga mengingatkan paparan gawai berlebihan pada usia dini dapat memicu keterlambatan bicara, malas berkomunikasi, kurang sosialisasi, dan tumpulnya kreativitas. “Anak hanya menerima stimulus. Dia menikmati tontonan, menerima instruksi, tetapi tidak tumbuh inisiatif. Ini berbahaya untuk masa depan,” ujarnya. Ia menyebut kondisi tersebut dapat berkembang menjadi anak yang sangat cerdas secara individual, tetapi tertutup secara sosial. Dalam beberapa kasus, anak menjadi introvert ekstrem, merasa cukup dengan dunianya sendiri, dan enggan berinteraksi dengan lingkungan. “Kadang ada anak yang cepat paham, berpikir kritis, bahkan genius. Tetapi sisi sosialnya lemah. Dia merasa sudah tahu, jadi tidak mau mendengar guru atau orang lain,” katanya. Fenomena itu, lanjutnya, harus dijawab dengan kebijakan yang lebih progresif. Ia mendorong pemerintah tidak hanya membenahi kurikulum sekolah formal, tetapi juga menyiapkan kurikulum parenting nasional bagi keluarga Indonesia. Dr. Arina melanjutkan, bahwa rumah adalah ekosistem pendidikan pertama. Sekolah yang bagus tidak cukup jika atmosfer rumah tidak mendukung. “Ibu adalah madrasah pendidikan di rumah. Kalau sekolah sudah bagus, maka di rumah tinggal distimulus. Harus selaras,” tegasnya. Salah satu langkah konkret yang ia usulkan ialah menghadirkan buku saku parenting untuk orang tua. Isinya berupa panduan sederhana namun aplikatif tentang pola asuh modern, batas penggunaan gawai, komunikasi keluarga, nutrisi anak, stimulasi tumbuh kembang, hingga penguatan karakter. “Walaupun sekarang ada YouTube dan teknologi, buku saku untuk orang tua itu keren. Tidak hanya untuk ibu, tetapi juga untuk ayah,” ujarnya. Ia menilai peran ayah selama ini belum maksimal dalam sistem pengasuhan. Padahal keterlibatan ayah, terutama terhadap anak perempuan, berdampak besar pada pembentukan rasa percaya diri. “Anak perempuan yang dekat dengan ayah biasanya punya self confidence tinggi. Dia tidak mudah insecure dan keberaniannya berbeda,” katanya. Dr. Arina juga mengusulkan penerapan digital detox keluarga, yakni hari tanpa gawai di rumah, khususnya setiap akhir pekan. “Kalau bisa hari Minggu full anak tidak menggunakan handphone. Orang tua juga harus memberi contoh. Dari situ bonding keluarga tumbuh dan nasihat akan lebih mudah diterima,” ucapnya. Menurutnya, keluarga Indonesia dulu memang dikenal lebih sederhana, bahkan kadang otoriter. Namun ada nilai positif yang tidak boleh hilang, yakni kedisiplinan, kebersamaan, penghormatan pada orang tua, serta rutinitas spiritual dan sosial yang kuat. Kini, tantangannya adalah meramu nilai lama dengan pendekatan baru yang lebih sehat, demokratis, dan adaptif terhadap zaman. “Ini investasi jangka panjang. Kalau rumah tertata, komunikasi tertata, kelembutan tertata, maka kepribadian anak juga akan tertata,” pungkasnya. Ia menegaskan, generasi emas Indonesia tidak cukup dibangun lewat gedung sekolah dan kurikulum negara. Fondasi utamanya tetap berada di ruang keluarga, ketika orang tua mampu menjadi navigator, bukan sekadar penyedia fasilitas.
Hardiknas 2026, Rektor UMM Tegaskan Posisi Kampus sebagai Pusat Layanan Unggul

Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Nazaruddin Malik MSi memberikan amanat pada Hardiknas 2026. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Transformasi budaya serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang terjadi bersamaan dengan menipisnya daya dukung sumber daya alam (SDA) menjadi tantangan modern yang harus dipecahkan oleh sektor pendidikan. Hal tersebut ditegaskan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Nazaruddin Malik MSi dalam amanat upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada Sabtu (2/5/2026) yang diikuti ribuan dosen dan karyawan Kampus Putih. Pernyataan ini menjadi penekanan utama yang membuka refleksi arah pendidikan di tengah perubahan global yang semakin kompleks. Ia menempatkan pendidikan sebagai aktor kunci yang tidak hanya merespons, tetapi juga menyelesaikan persoalan zaman. Nazar, sapaan akrabnya, menekankan bahwa tantangan global saat ini tidak bisa lagi dihadapi dengan pendekatan pendidikan yang konvensional. Ia menyoroti keterbatasan SDA di tengah meningkatnya kebutuhan dasar manusia sebagai ancaman serius bagi kualitas kehidupan. Kondisi ini menuntut pendidikan untuk bertransformasi menjadi lebih adaptif, inovatif, dan berorientasi pada solusi. “Pendidikan tinggi harus menjadi solution center excellence. UMM harus hadir sebagai pusat layanan unggul, mitra solusi industri, serta inkubator inovasi dan talenta. Peran tersebut hanya dapat dicapai melalui perbaikan kualitas pendidikan secara menyeluruh, mulai dari proses pembelajaran, tata kelola institusi, hingga relevansi lulusan dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Lebih lanjut, ia menjadikan pemikiran Ki Hajar Dewantara sebagai fondasi pendidikan nasional yang harus diterjemahkan secara kontekstual dalam menghadapi tantangan modern. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada simbol historis semata, melainkan menjelma menjadi kekuatan transformasi sosial. Untuk mewujudkan hal tersebut, UMM menetapkan tiga pilar strategis pengembangan universitas. Ketiga pilar tersebut meliputi Service Excellence Hub yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas layanan pendidikan, Industry Solution Partner yang berperan aktif dalam menjawab kebutuhan riil dunia industri, serta Innovation and Talent Incubator yang bertujuan mendorong lahirnya inovasi dan pengembangan talenta unggul. “Ketiga pilar ini adalah jaminan mutu universitas yang sesungguhnya. Ini bukan sekadar konsep, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata. Implementasi pilar tersebut menjadi indikator keberhasilan perguruan tinggi dalam menjawab tantangan zaman. Universitas tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga solusi konkret bagi masyarakat,” tegasnya. Sebagai bagian dari rangkaian upacara peringatan Hardiknas, UMM turut memberikan penghargaan kepada sivitas akademika berprestasi. Penghargaan diberikan kepada dosen dengan capaian Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak sekaligus peraih rekor MURI 2026. Selain itu, apresiasi juga dianugerahkan kepada dosen dengan masa pengabdian 25 tahun, humas terbaik tingkat fakultas dan program studi, serta mahasiswa berprestasi tingkat universitas. Momentum Hardiknas di UMM tahun ini mempertegas bahwa pendidikan tidak bisa lagi berjalan dalam pola status quo. Pidato rektor menjadi penanda kuat bahwa perguruan tinggi dituntut bergerak lebih kritis, responsif, dan solutif. Di tengah dinamika global, pendidikan harus hadir sebagai jawaban nyata, bukan sekadar wacana. (Faqih/AS)
Rektor UMM: Hardiknas harus jadi `solution center excellence`

By : Sigit Kurniawan Update: 2026-05-02 16:10 GMT Sumber foto: AH Sugiha Transformasi budaya dan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang terjadi bersamaan dengan menipisnya daya dukung sumber daya alam (SDA) merupakan tantangan modern yang harus dipecahkan oleh sektor pendidikan. “Tantangan global saat ini tidak bisa lagi dihadapi dengan pendekatan pendidikan yang konvensional. Ia menyoroti keterbatasan SDA di tengah meningkatnya kebutuhan dasar manusia sebagai ancaman serius bagi kualitas kehidupan. Kondisi ini menuntut pendidikan untuk bertransformasi menjadi lebih adaptif, inovatif, dan berorientasi pada solusi. Pendidikan tinggi harus menjadi solution center excellence. UMM harus hadir sebagai pusat layanan unggul, mitra solusi industri serta inkubator inovasi dan talenta. Peran tersebut hanya dapat dicapai melalui perbaikan kualitas pendidikan secara menyeluruh, mulai dari proses pembelajaran, tata kelola institusi, hingga relevansi lulusan dengan kebutuhan masyarakat,” kata Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik saat memberikan sambutan pada upacara Nasional (Hardiknas), Sabtu (2/5/2026) di Lapangan Helipad UMM yang diikuti ribuan dosen dan karyawan kampus putih. Lebih lanjut, dikatakan Nazaruddin, pemikiran Ki Hajar Dewantara sebagai fondasi penting pendidikan nasional yang harus diterjemahkan secara kontekstual dalam menghadapi tantangan modern. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada simbol historis semata, melainkan menjelma menjadi kekuatan transformasi sosial. Untuk mewujudkan hal tersebut, UMM menetapkan tiga pilar strategis pengembangan universitas. Ketiga pilar tersebut meliputi Service Excellence Hub yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas layanan pendidikan, Industry Solution Partner yang berperan aktif dalam menjawab kebutuhan riil dunia industri, serta Innovation and Talent Incubator yang bertujuan mendorong lahirnya inovasi dan pengembangan talenta-talenta unggul. “Ketiga pilar ini adalah jaminan mutu universitas yang sesungguhnya. Ini bukan sekadar konsep, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata. Implementasi pilar tersebut menjadi indikator keberhasilan perguruan tinggi dalam menjawab tantangan zaman. Universitas tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga solusi konkret bagi masyarakat,” ujarnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, AH Sugiharto, Sabtu (2/5). Sebagai bagian dari rangkaian upacara peringatan Hardiknas, UMM turut memberikan penghargaan kepada sivitas akademika yang berprestasi. Penghargaan diberikan kepada dosen dengan capaian Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak sekaligus peraih rekor MURI tahun 2026. Selain itu, apresiasi juga dianugerahkan kepada dosen dengan masa pengabdian 25 tahun, humas terbaik tingkat fakultas dan program studi, serta mahasiswa berprestasi tingkat universitas. “Momentum Hardiknas di UMM tahun ini mempertegas bahwa pendidikan tidak bisa lagi berjalan di jalur yang sama (status quo). Pidato Rektor menjadi penanda kuat bahwa perguruan tinggi dituntut untuk bergerak lebih kritis, responsif, dan solutif. Di tengah dinamika global, pendidikan harus hadir sebagai jawaban yang nyata, bukan sekadar wacana,” tandas Nazaruddin.
Mahasiswi UMM Ini Buktikan Beras Bayam, Bisa Jadi ‘Jalan Ninja’

POJOKSATU.id – Skripsi sering dianggap “ritual wajib” sebelum wisuda. Tapi bagi Nisrina Nabila Nasywa, jalannya berbeda—dan justru penuh dampak nyata. Mahasiswi Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang angkatan 2022 ini berhasil lulus tanpa skripsi lewat jalur ekuivalensi. “Tiket emas”-nya? Sebuah inovasi beras artifisial berbahan ekstrak daun bayam merah. Bukan sekadar ide, inovasi ini terbukti mampu membantu menekan angka stunting di masyarakat. Dari PKM ke Dampak Nyata Perjalanan Riri—sapaan akrabnya—dimulai dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Ia menggagas proyek “Stunting Free Zone with Gen Z” yang diterapkan di Kelurahan Tlogomas. Bersama timnya, ia mengembangkan beras yang diperkaya ekstrak bayam merah dan bahan alami kaya zat besi. Hasilnya tidak main-main. “Alhamdulillah, program kami tidak hanya sebatas riset di atas kertas, tetapi membawa dampak yang nyata. Dalam waktu empat bulan penerapan, angka stunting di wilayah tersebut berhasil menurun signifikan, dari 12 persen menjadi 6 persen,” ungkapnya. Lanjut Inovasi, Lanjut Prestasi Tidak berhenti di situ, Riri kembali mencetak prestasi lewat proyek “Elder-Greens: Partisipasi Gen Z dalam Degradasi Stres Lansia dengan Pendekatan Hydroponic Serenity”. Program ini bahkan menembus tingkat nasional dan berlanjut menjadi kerja sama resmi dengan Pemerintah Kota Batu untuk diterapkan di lingkungan pondok lansia. Dari sinilah, ia akhirnya mendapatkan hak ekuivalensi untuk lulus tanpa skripsi. “Melalui keberhasilan dan keberlanjutan proyek Elder-Greens ini, saya akhirnya mendapatkan ekuivalensi untuk lulus tanpa harus menulis skripsi. Rasanya bangga bisa berkontribusi membantu menurunkan tingkat stres para lansia melalui kegiatan hidroponik,” tambahnya. Aktif di Mana-Mana, Bukan Cuma di Lab Di balik inovasi dan prestasinya, Riri dikenal sebagai sosok yang aktif di berbagai bidang. Sejak semester dua, ia sudah terlibat di Humas sebagai reporter. Ia juga aktif di BEM Fakultas dan organisasi IMM. Prestasi lain pun ikut menyusul, termasuk Juara 1 National University Debating Championship (NUDC) 2023. Tak hanya itu, kepeduliannya terhadap sosial diwujudkan lewat kegiatan mengajar anak-anak dari kelompok marjinal melalui program Sekolah Relawan. Metode yang digunakan pun kreatif, salah satunya dengan teknik mendongeng agar materi lebih mudah dipahami. Dari Kampus ke Dunia Profesional Pengalaman Riri tidak berhenti di kampus. Pada 2025, ia menjalani magang di salah satu BUMN di Jakarta selama empat bulan. Di sana, ia terlibat dalam pengembangan SDM, termasuk memberikan pelatihan psikotes kepada karyawan. “Walaupun hanya empat bulan, aku merasa mendapat banyak pengalaman berkesan. Di sana aku berkesempatan memberikan pelatihan kepada karyawan BUMN melalui psikotes training,” ceritanya.***
MENARIK! Beasiswa Pemimpin Muda UMM 2026 Dibuka, Pengurus OSIS Bisa Kuliah Tanpa Tes

KELUMAJANG.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuka program Beasiswa Jalur Pemimpin Muda untuk tahun akademik 2026. Beasiswa Pemimpin Muda UMM 2026 ini secara khusus ditujukan bagi pelajar yang aktif sebagai pengurus OSIS untuk melanjutkan pendidikan tinggi tanpa melalui tes masuk reguler. Langkah tersebut menjadi bentuk apresiasi kampus terhadap siswa yang memiliki pengalaman organisasi dan jiwa kepemimpinan. Melalui jalur ini, calon mahasiswa dapat diterima berdasarkan rekam jejak organisasi dan prestasi yang dimiliki. Selain bebas tes, penerima beasiswa juga berkesempatan mendapatkan potongan biaya pendidikan sesuai ketentuan yang berlaku. Program ini juga menawarkan proses administrasi yang lebih cepat melalui jalur khusus bagi peserta terpilih. Tak hanya itu, mahasiswa juga akan mendapatkan peluang pengembangan soft skill melalui komunitas mahasiswa berprestasi. Untuk dapat mengikuti seleksi, pendaftar harus pernah atau sedang menjabat sebagai pengurus OSIS di tingkat SMA atau sederajat. Calon peserta juga diwajibkan memiliki nilai rapor yang baik, khususnya dari semester satu hingga semester lima. Selain itu, pendaftaran terbuka bagi lulusan tahun 2026 maupun lulusan satu tahun sebelumnya. Peserta juga harus melampirkan surat rekomendasi dari kepala sekolah sebagai bukti kepengurusan organisasi. Adapun dokumen yang perlu disiapkan antara lain scan rapor, bukti kepengurusan OSIS, identitas diri, serta pas foto terbaru. Proses pendaftaran dilakukan secara online melalui portal resmi penerimaan mahasiswa baru UMM dengan mengunggah seluruh berkas yang dipersyaratkan.***
Akademisi Malang Soroti Wacana Penutupan Program Studi Keguruan

MALANG, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Akademisi menyoroti wacana penutupan program studi keguruan yang diusulkan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Republik Indonesia, Kamis 30 April 2026. Sebab wacana itu dinilai berisiko terhadap arah pendidikan nasional, dan pembentukan karakter bangsa. Wacana tersebut didasarkan pada relevansi lulusan dengan kebutuhan industri yang memicu perdebatan di dunia pendidikan tinggi. Selain itu, akademisi menilai pendekatan tersebut menyederhanakan makna pendidikan dan hanya berorientasi pada angka statistik serta tingkat serapan kerja. Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Malang Dr. M. Isnaini, M.Pd., menyatakan kebijakan tersebut menunjukkan ketidaksiapan pemerintah dalam memetakan arah pendidikan nasional. “Kampus memiliki tanggung jawab strategis jauh lebih besar daripada sekadar mengikuti tren pasar kerja, kampus adalah ruang inkubasi pemikiran kritis, ketika kebijakan hanya berorientasi pada pasar kerja fungsi intelektual akan tergerus,” jelasnya. Ayo bolo kita gempur rokok ilegal.– Ia menambahkan dalam jangka panjang kebijakan tersebut berpotensi melemahkan posisi pendidikan tinggi sebagai penggerak intelektualitas kritis masyarakat. Sementara itu, Rektor Universitas Brawijaya Prof Widodo menyebut setiap program studi selalu dilakukan monitoring dan evaluasi termasuk kurikulum serta serapan lulusan di dunia kerja. Menurutnya, reposisi program studi dapat dilakukan melalui penutupan, pembukaan, atau transformasi sesuai kebutuhan. “program studi tidak hanya dikaitkan dengan kebutuhan industri tetapi juga pengembangan pengetahuan dan teknologi masa depan, ada program studi yang sangat dasar yang belum terserap industri tetapi tetap harus berkembang,” ujarnya. Ia menambahkan kondisi Universitas Brawijaya masih aman karena serapan lulusan dinilai baik dan sekitar 85 persen alumni bekerja tepat waktu sesuai kriteria Kementerian Pendidikan. (edr)