Dari Lapak Hasil Bumi ke Kursi Sekda: Cerita Akhmad Sugiharto Menginspirasi Wisudawan UMM

Malangpariwara.com – Suasana haru dan penuh semangat mewarnai Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang pada Kamis (23/4). Di hadapan ribuan lulusan, kisah hidup Akhmad Sugiharto menjadi sorotan. Akhmad Sugiharto Pejabat alumni Teknik Sipil UMM pada 1991 .(Ist) Pria yang kini menjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Demak itu membagikan perjalanan panjangnya dari keterbatasan hingga menembus puncak birokrasi. Akhmad mengawali langkahnya sebagai mahasiswa Teknik Sipil UMM pada 1991 dengan kondisi ekonomi sederhana. Merantau ke Malang dengan bekal minim, ia tak hanya fokus pada akademik, tetapi juga aktif berorganisasi dan berusaha membaur dengan masyarakat sekitar. Baginya, kampus bukan sekadar ruang belajar formal, melainkan tempat membentuk karakter dan daya juang. Selepas lulus pada 1997, jalan hidupnya tidak langsung mulus. Berbagai lamaran kerja yang ia ajukan berujung penolakan. Kondisi tersebut sempat membuatnya harus beralih profesi dengan berjualan hasil bumi untuk bertahan hidup. Namun, kegigihan yang ia pegang teguh, ditopang doa dan nilai-nilai keluarga, akhirnya membuahkan hasil saat ia lolos seleksi CPNS pada 1998. Perjalanan kariernya terus menanjak. Salah satu capaian pentingnya hadir pada 2010 ketika ia menggagas inovasi pembangunan jalan beton (rigid pavement) di Demak. Inovasi ini terbukti lebih tahan lama dibandingkan jalan aspal konvensional, hingga akhirnya diadopsi oleh berbagai daerah di Jawa Tengah. Di hadapan para wisudawan, Akhmad menekankan pentingnya ketahanan mental dan kemampuan beradaptasi. Ia mengingatkan bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari jabatan, tetapi dari seberapa besar kontribusi yang diberikan kepada masyarakat. “Lulusan harus siap menghadapi realitas yang tidak selalu mudah. Teruslah berinovasi, jaga integritas, dan berikan manfaat nyata bagi orang lain,” pesannya. Semangat yang ditunjukkan Akhmad sejalan dengan arah pendidikan UMM yang terus berkembang. Wakil Ketua PWM Jawa Timur, Thohir Luth, menilai program Center of Excellence (CoE) menjadi bukti nyata kesiapan kampus dalam menghadapi tantangan global sekaligus membekali mahasiswa dengan pengalaman praktis. Sementara itu, Rektor UMM Nazaruddin Malik menegaskan bahwa lulusan UMM diharapkan menjadi generasi “Thrivers”—individu yang tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang dalam berbagai situasi. Ia juga mendorong lulusan untuk menjadi new collar workers yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan mampu menciptakan peluang kerja. “Jadilah pembelajar sepanjang hayat yang berani melangkah dan berkontribusi. Bekali diri dengan mental tangguh, kemampuan kolaborasi, serta nilai spiritual yang kuat,” ujarnya. Kisah Akhmad Sugiharto menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju sukses kerap berliku. Namun, dengan ketekunan, integritas, dan semangat pantang menyerah, setiap langkah kecil dapat membawa perubahan besar.( Djoko W )

Dari Kampus ke Masyarakat, Kiprah Wisudawan Berprestasi UMM Ciptakan Inovasi Beras untuk Tekan Stunting

KLIKMU.CO – Siapa sangka inovasi beras artifisial berbahan ekstrak daun bayam merah bisa menjadi “tiket emas” untuk lulus sarjana tanpa harus menyusun skripsi. Prestasi membanggakan ini diraih oleh Nisrina Nabila Nasywa, mahasiswi Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022. Tak sekadar lulus melalui jalur ekuivalensi, inovasi yang ia buat terbukti mampu menekan angka stunting di masyarakat. Capaian gemilang mahasiswi asal Makassar ini berawal dari keaktifannya dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Riri, sapaan akrabnya, menginisiasi proyek bertajuk Stunting Free Zone with Gen Z yang berfokus pada pengentasan stunting di Kelurahan Tlogomas. Bersama timnya, ia menciptakan inovasi pangan berupa beras yang diperkaya dengan ekstrak bayam merah serta bahan alami kaya zat besi. “Alhamdulillah, program kami tidak hanya sebatas riset di atas kertas, tetapi membawa dampak yang nyata. Dalam waktu empat bulan penerapan, angka stunting di wilayah tersebut berhasil menurun signifikan, dari 12 persen menjadi 6 persen,” ungkapnya, Kamis (23/4/2026). Seakan tak pernah puas berkarya, ia kembali menorehkan prestasi di ajang PKM pada tahun berikutnya. Kali ini, ia menggagas proyek bertajuk Elder-Greens: Partisipasi Gen Z dalam Degradasi Stres Lansia dengan Pendekatan Hydroponic Serenity. Program ini sukses menembus tingkat nasional dan berujung pada kerja sama resmi dengan Pemerintah Kota Batu untuk diimplementasikan di lingkungan pondok lansia hingga saat ini. “Melalui keberhasilan dan keberlanjutan proyek Elder-Greens ini, saya akhirnya mendapatkan ekuivalensi untuk lulus tanpa harus menulis skripsi. Rasanya bangga bisa berkontribusi membantu menurunkan tingkat stres para lansia melalui kegiatan hidroponik,” tambahnya. Di balik kesuksesan riset dan pengabdiannya, Riri merupakan sosok yang dinamis. Ia mampu menyeimbangkan kehidupan akademis dengan berbagai kegiatan organisasi dan pengembangan diri di kampus. “Sejak semester dua, aku sudah bergabung di Humas sebagai reporter. Aku juga aktif di BEM Fakultas dan IMM. Selain itu, aku pernah meraih Juara 1 dalam ajang National University Debating Championship (NUDC) 2023,” ujarnya. Kepedulian sosial Riri juga tersalurkan melalui perannya sebagai relawan pendidikan. Ia rutin mengajar anak-anak dari kelompok marjinal, seperti anak pemulung dan kaum duafa, melalui program Sekolah Relawan. Agar materi lebih mudah dipahami, ia kerap menggunakan metode pembelajaran interaktif, salah satunya melalui teknik mendongeng. Tak hanya aktif di lingkungan kampus dan sosial, Riri juga membekali diri dengan pengalaman profesional melalui program magang di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Jakarta pada tahun 2025. Selama empat bulan, ia terlibat dalam bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM) perusahaan. “Walaupun hanya empat bulan, aku merasa mendapat banyak pengalaman berkesan. Di sana aku berkesempatan memberikan pelatihan kepada karyawan BUMN melalui psikotes training,” ceritanya. Bagi Riri, seluruh pengalaman selama masa kuliah menjadi bekal penting untuk terus berkembang dan memberi manfaat bagi masyarakat luas. Menutup kisahnya, ia membagikan pesan inspiratif bagi mahasiswa agar berani mengeksplorasi potensi diri. “Kalau ada kesempatan, langsung dijalankan saja asalkan konsisten dan percaya diri. Jangan ragu, kalau ada lomba atau kegiatan yang bisa menambah pengalaman, ikuti saja. Dari situ kita akan menemukan peluang,” tuturnya. (Faqih/AS)

Dialog dengan Mahasiswa UMM, H. Rokhmad: Tanpa DPRD, Siapa Awasi Anggaran Negara?

MALANGKOTA (SurabayaPost.id) – Anggota DPRD Kota Malang H. Rokhmad. S.Sos menjadi narasumber dialog bersama Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang di Aula DPRD Kota Malang, Jumat (24/4/2026). Dialog yang didampingi dosen UMM Ahmad Sulaiman dan dipandu moderator Jesicha Putri itu membahas peran lembaga legislatif yang kerap disalahpahami publik. Rokhmad menegaskan fungsi DPRD tidak berhenti pada pembentukan Peraturan Daerah dan pengalokasian anggaran infrastruktur. Fungsi pengawasan justru paling krusial. Menanggapi sentimen publik yang menyerukan pembubaran dewan, ia mengingatkan secara logis. “Tanpa lembaga tersebut, tidak akan ada pihak yang mengontrol dan mengawasi penggunaan anggaran negara agar tidak terjadi penyelewengan,” tegas politisi Fraksi PKS itu. Ia juga mengurai dinamika sosiopolitik masyarakat perkotaan dan perdesaan. Di kawasan seperti Dinoyo yang mayoritas berpendidikan tinggi, instruksi tokoh agama atau takmir masjid untuk memilih calon tertentu tidak serta-merta diikuti. “Warga kota lebih kritis. Arahan tidak langsung ditelan mentah-mentah,” ujarnya. SESI DIALOG: H. Rokhmad didampingi dosen UMM Ahmad Sulaiman dan dipandu moderator Jesicha Putri itu membahas peran lembaga legislatif yang kerap disalahpahami publik. Sebaliknya di perdesaan, pengaruh tokoh masyarakat masih sangat kuat. Warga cenderung patuh pada figur otoritas karena kedekatan emosional ketimbang pertimbangan rasional. Rokhmad menyoroti fenomena politik uang yang mengaburkan logika pemilih. Ia membandingkan kandidat berpendidikan tinggi dan cakap organisasi namun tak punya modal, dengan kandidat kurang kompeten tapi rajin “bagi-bagi sedekah” demi suara. Meski godaan itu nyata, ia menegaskan komitmen menjaga integritas selama dua periode menjabat. “Politisi itu harus seperti Emas 24 Karat. Nilainya tetap sama, mau ditaruh di tempat bersih atau kotor,” katanya. Menutup dialog, Rokhmad berpesan agar setiap langkah hidup didasarkan pada dua prinsip: kebermanfaatan bagi sesama dan kedekatan kepada Tuhan. Ia memakai analogi pertanian untuk menggambarkan hukum sebab-akibat. “Kebaikan yang ditanam akan berbuah kebaikan pula,” ucapnya. Sesi diakhiri pantun hangat yang mengajak rajin beribadah demi kebahagiaan dunia dan akhirat. “Ojo mandek dadi wong apik (Jangan berhenti menjadi orang yang baik), karena setiap menanam padi akan tumbuh rumput. Tetaplah menanam padi, kalau menanam rumput belum tentu tumbuh padi,” pungkasnya. (lil).

Konflik AS-Iran: Pakar UMM Sebut Diplomasi Indonesia Tertinggal

  pwmu.co – Di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus mengguncang stabilitas ekonomi dan keamanan global, posisi strategis Indonesia kembali diuji. Pertanyaannya, apakah Indonesia akan terus berada di zona nyaman dengan sikap normatif, atau berani tampil sebagai aktor utama dalam percaturan dunia?Isu tersebut mengemuka dalam forum Ruang Gagasan bertajuk “Dinamika Geopolitik Global: Implikasi Konflik Amerika–Iran bagi Indonesia” yang digelar oleh Universitas Muhammadiyah Malang melalui Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB), RBC A. Malik Fadjar Institute, dan Program Studi Hubungan Internasional. Kegiatan ini berlangsung di RBC A. Malik Fadjar Institute pada Kamis (23/4/2026), menghadirkan diskusi mendalam terkait posisi Indonesia dalam dinamika geopolitik global. Guru Besar Hubungan Internasional UMM sekaligus Kepala PSIB UMM, Gonda Yumitro, menyoroti kecenderungan Indonesia yang masih berlindung di balik pendekatan normatif berbasis hukum internasional. Prof. Gonda Yumitro, MA., Ph.D. “Kekuatan narasi yang dibangun Indonesia belum sepenuhnya berdampak pada level internasional. Kebijakan kita masih banyak berada pada tataran konseptual,” tegas Prof. Gonda Yumitro, Ph.D. Menurutnya, keputusan Indonesia untuk tidak secara eksplisit mengutuk Amerika Serikat dan Israel dipandang sebagai upaya menjaga posisi sebagai mediator. Namun, pendekatan tersebut dinilai belum cukup kuat dalam menghadapi realitas geopolitik global. Ia juga menegaskan bahwa Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara Eropa dan ASEAN, terutama dalam hal kemandirian dan kekuatan strategis. Pandangan serupa disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana. Prof. Hikmahanto Juwana, Ph.D. Ia menjelaskan bahwa konflik global akan berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi dalam negeri, khususnya melalui lonjakan harga minyak dunia. “Dominasi negara-negara besar dalam rantai produksi global mempersempit ruang gerak negara berkembang. Sikap hati-hati Indonesia dinilai realistis, tetapi belum cukup menjadikan kita aktor strategis,” ujar Prof. Hikmahanto Juwana, Ph.D. Menurutnya, tanpa langkah diplomasi yang lebih tegas, ambisi Indonesia sebagai penengah global berpotensi hanya menjadi wacana. Sementara itu, Rektor UMM Nazruddin Malik menekankan pentingnya pendekatan Islam Berkemajuan dalam menghadapi dinamika global. “Perubahan lanskap ekonomi global menempatkan Indonesia pada posisi yang belum kuat. Sebagai negara dengan pasar besar, potensi kita belum diimbangi kekuatan produksi yang memadai,” paparnya. Prof. Dr. Nazruddin Malik, M.Si. menegaskan bahwa penguatan industri domestik dan kapasitas negosiasi internasional menjadi kunci agar Indonesia tidak terus bersikap reaktif. Forum ini menegaskan bahwa tantangan utama Indonesia bukan hanya memahami konflik global, tetapi menentukan posisi yang tegas dalam percaturan internasional. Tanpa penguatan kebijakan yang implementatif, Indonesia berisiko tetap menjadi “penonton” dalam arena geopolitik global yang semakin kompetitif. Bongkar Dinamika Konflik AS-Iran, Pakar HI UMM Sebut Nyali Diplomasi Indonesia Masih Tertinggal *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

Dari Penjual Hasil Bumi Hingga Menjadi Sekda, Kisah Inspiratif Akhmad Sugiharto Warnai Wisuda ke-121 UMM

radarmalang, MALANG – Kesuksesan tidak pernah diraih dalam semalam. Prinsip inilah yang dibuktikan oleh Akhmad Sugiharto, S.T., M.T., Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Demak, saat membagikan kisah perjalanan hidupnya di hadapan ribuan lulusan pada pergelaran Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (23/4). Berawal dari anak rantau dengan keterbatasan ekonomi yang bahkan sempat berjualan hasil bumi, Akhmad kini sukses memegang jabatan birokrasi strategis berkat ketangguhan mental yang ia tempa di Kampus Putih. Masuk ke Fakultas Teknik Sipil UMM pada tahun 1991, Akhmad merantau ke Malang dengan bekal pas-pasan. Menyadari bangku kuliah bukan sekadar tempat mengejar transkrip nilai, ia aktif berorganisasi dan sengaja memilih tempat kos yang memungkinkannya membaur dengan warga lokal. Ujian sesungguhnya datang pasca-kelulusan pada 1997. Penolakan lamaran kerja yang datang berkali-kali sempat memaksanya memutar otak dengan berjualan hasil bumi. Namun, berkat etos kerja keras warisan keluarga, ketaatan, serta doa orang tua, ia berhasil lolos seleksi CPNS pada tahun 1998 dari titik nol. Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., Titik balik karier puncaknya terjadi pada tahun 2010. Mengawinkan keilmuan Teknik Sipil dari UMM dan kemampuan kolaborasi tim, ia mencetuskan inovasi pembangunan jalan beton (rigid pavement) di Demak. Inovasi yang terbukti jauh lebih awet dari aspal konvensional ini akhirnya sukses direplikasi oleh berbagai daerah di Jawa Tengah. “Pendidikan sejati di UMM adalah tentang belajar cara beradaptasi, bertahan di tengah kondisi yang sulit, serta membangun mentalitas pantang menyerah. Lulusan UMM harus memiliki ketahanan mental yang tangguh saat menghadapi realitas di lapangan. Jangan lupa untuk terus berinovasi, menjaga integritas, dan ingatlah bahwa kesuksesan sejati diukur dari seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain, bukan semata-mata dari tingginya jabatan,” tegasnya. Prosesi wisuda UMM Lahirnya alumni berdaya juang tinggi seperti Akhmad selaras dengan sistem pendidikan UMM yang terus bertransformasi. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. Thohir Luth, M.A., menyoroti program Center of Excellence (CoE) UMM sebagai ekosistem penting yang mendidik mahasiswa menghadapi dunia nyata. “Kehadiran program CoE ini menjadi bukti nyata bahwa UMM telah melaju dan terus berkembang secara pesat. Inovasi ini tidak hanya bertujuan membekali mahasiswa untuk memenangkan ketatnya persaingan di tingkat global, tetapi juga wujud nyata kontribusi Muhammadiyah dalam menghadirkan kebaikan bagi umat, bangsa, dan negara saat mereka terjun ditengah masyarakat,”ungkapnya. Senada dengan hal tersebut, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan komitmen universitas untuk mencetak generasi Thrivers, sosok yang tidak sekadar mampu bertahan di bawah tekanan, tetapi berkembang menjadi pribadi utuh dan cerdas secara emosional. Rektor menuntut lulusan UMM untuk memiliki jiwa juang kompetitif dan bertransformasi menjadi new collar workers yang lincah dan melek teknologi. “Pegang teguh semboyan student today, leaders tomorrow. Jangan hanya mengandalkan kecerdasan di atas kertas. Jadilah pembelajar tangguh yang siap menciptakan lapangan kerja produktif. Anggaplah UMM sebagai ibu kandung kedua kalian, jaga terus ikatan batin ini. Dengan bekal ketahanan mental, kemampuan kolaboratif, dan landasan takwa kepada Allah SWT, melangkahlah dengan penuh percaya diri menyongsong masa depan,” pesannya.

Kisah Sukses Akhmad Sugiharto, dari Jualan Hasil Bumi hingga Jadi Sekda Demak

MAKLUMAT – Kisah sukses Akhmad Sugiharto menjadi bukti bahwa keberhasilan tidak datang secara instan. Sekretaris Daerah (Sekda) Demak itu menapaki kariernya dari titik nol, penuh keterbatasan, hingga akhirnya menduduki posisi strategis di birokrasi. Cerita itu ia bagikan di hadapan ribuan lulusan saat wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (23/4/2026). Di momen itu, alumnus Fakultas Teknik Sipil itu mengingat kembali masa-masa sulit yang pernah ia jalani. Akhmad merantau ke Malang pada 1991 dengan bekal serba terbatas. Sebagai mahasiswa, ia tidak hanya fokus pada akademik. Ia aktif berorganisasi dan sengaja memilih lingkungan tempat tinggal yang membaur dengan masyarakat. “Kuliah bukan sekadar mengejar nilai, tapi juga membentuk mental dan kemampuan bertahan,” ungkapnya. Ujian terberat justru datang setelah lulus pada 1997. Lamaran kerja yang berulang kali ditolak memaksanya mencari cara bertahan hidup. Ia sempat berjualan hasil bumi demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, kerja keras dan doa orang tua menjadi fondasi penting. Setahun berselang, tepatnya 1998, Akhmad berhasil lolos seleksi CPNS. Dari sanalah perjalanan kariernya di birokrasi dimulai. Pengaruh Pendidikan Karakter Kampus Titik balik penting terjadi pada 2010. Dengan bekal ilmu Teknik Sipil dan kemampuan kolaborasi, ia menggagas inovasi pembangunan jalan beton atau rigid pavement di Demak. Inovasi itu terbukti lebih tahan lama dibandingkan aspal konvensional, hingga kemudian diadopsi berbagai daerah di Jawa Tengah. Baca Juga  UMM Perkuat Upaya Cegah Bullying di Sekolah Menurut Akhmad, keberhasilan yang ia raih tidak lepas dari pendidikan karakter yang ia dapat selama di kampus. “Kesuksesan sejati bukan soal jabatan, tetapi seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain,” tegasnya. Kisah sukses Akhmad Sugiharto juga mencerminkan sistem pendidikan UMM yang terus berkembang. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Thohir Luth, menilai program Center of Excellence (CoE) menjadi salah satu kekuatan kampus dalam menyiapkan mahasiswa menghadapi dunia nyata. Program tersebut, kata dia, tidak hanya membekali mahasiswa secara akademik, tetapi juga membangun kesiapan menghadapi persaingan global. Pejuang Tangguh Selalu Cetak Peluang Sementara itu, Rektor UMM, Nazaruddin Malik menegaskan komitmen kampus dalam mencetak lulusan yang tangguh. Ia menyebut lulusan UMM harus menjadi “thrivers”, yakni individu yang tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang di tengah tekanan. “Jangan hanya mengandalkan kecerdasan akademik. Jadilah pembelajar tangguh yang mampu menciptakan peluang,” pesannya. Kisah sukses Akhmad Sugiharto menjadi inspirasi nyata bagi para lulusan. Dari keterbatasan ekonomi, penolakan kerja, hingga akhirnya menjadi Sekda, perjalanan itu menunjukkan bahwa ketekunan dan mental kuat menjadi kunci utama meraih keberhasilan.

Pusat Laba Dalam Manajemen

radarbojonegoro – Bisnis adalah organisasi yang terlibat dalam berbagai kegiatan untuk keuntungan dan pertumbuhan jangka panjang. Dalam dunia bisnis saat ini khususnya di Indonesia telah menimbulkan persaingan yang semakin ketat di bidang jasa, perdagangan dan industri. Situasi ini memaksa perusahaan untuk melihat ke masa depan untuk meramalkan segala kemungkinan yang dapat mempengaruhi perkembangan perusahaan, termasuk ancaman dan peluang. Perusahaan yang menghadapi persaingan yang ketat antar perusahaan membutuhkan manajer yang dapat dipercaya untuk menjalankan perusahaan secara efektif. Untuk memanfaatkan sumber daya yang dimiliki perusahaan, manajer membiarkan perusahaan memperoleh keuntungan yang maksimal. Tingkat keuntungan yang maksimal merupakan tujuan dari setiap perusahaan. Manajer pendapatan bertanggung jawab penuh atas semua pendapatan yang diperoleh perusahaan. Manajer pusat laba bertanggung jawab atas keuntungan yang dihasilkan oleh bisnis, termasuk pendapatan dan pengeluaran bisnis. Oleh karena itu, evaluasi kinerja manajer pusat laba sangat penting. Pengertian penilaian kinerja yaitu suatu evaluasi atau evaluasi yang digunakan untuk menilai keberhasilan atau kegagalan manajer pusat pertanggungjawaban dalam memenuhi tugas, wewenang dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya (Sukarno, 2008: 207). Pusat laba yaitu unit organisasi di mana pendapatan dan pengeluaran diukur dalam mata uang. Laba adalah pengukuran kinerja yang bermanfaat, sebab laba membantu manajer puncak menggunakan metrik yang komprehensif daripada harus menggunakan beberapa metrik dan kemudian fokus dalam mengelola unit bisnis. Menjadi pusat laba, ingatlah bahwa istilah unit bisnis dan pusat laba tidaklah sama. Pengertian lain dari pusat laba ialah pusat pertanggungjawaban dengan kinerja manajer diukur menggunakan jumlah laba yang diperoleh, yaitu perbedaan antara pendapatan dan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan pendapatan. Manfaat pusat laba Unit organisasi dapat menjadi sebagai pusat laba dan dapat diperoleh manfaatnya, yaitu sebagai berikut : • Dapat meningkatkan kualitas pengambilan tindakan atau keputusan • Dapat meningkatkan pergerakan pengambilan keputusan operasional • Manajer tidak perlu membuat keputusan harian • Banyak kebebasan untuk menggunakan inisiatif dan juga imajinasi • Pusat laba dapat membantu membuat landasan pelatihan yang sempurna untuk manajemen umum • Dapat meningkatkan kesadaran keuntungan profit • Pusat laba menyediakan informasi siap pakai tentang profitabilitas berbagai komponen perusahaan untuk manajemen puncak • Karena produksi selalu aktif, tekanan pada pusat laba dalam peingkatkan kinerja kompetitif  sangat sensitif. Kesulitan dalam pusat laba Tidak hanya manfaat yang diperoleh tadi, pusat laba dapat menyebabkan beberapa kesulitan : • Kehendak yang diambil dan sudah terdesentralisasi bisa mempengaruhi manajemen puncak untuk lebih mengandalkan laporan pengendalian manajemen daripada pengetahuan mereka tentang informasi pribadi tentang operasi. Menyebabkan hilangnya kendali. • Manajer kantor pusat lebih bisa dan berpengetahuan daripada manajer pusat laba rata-rata, kualitas kesepakatan yang dibuat di tingkat unit lebih rendah. • Perbedaan dapat meningkat karena perselisihan tentang penetapan harga transfer yang tepat, alokasi biaya bersama yang tepat, dan pendapatan yang dahulunya dihasilkan oleh dua atau lebih unit bisnis. • Unit organisasi yang bekerja sama sebagai unit fungsional akan saling bersaing. • Karena kebutuhan untuk manajemen, staf, dan akuntansi tambahan, departemen dapat dikenakan biaya tambahan dan dapat menyebabkan duplikasi tugas untuk setiap pusat laba. • Mungkin tidak ada CEO yang kompeten dalam organisasi fungsional karena tidak ada cukup kesempatan untuk mengembangkan kemampuan CEO. • Tekanan profitabilitas jangka pendek mungkin terlalu besar, dengan merelakan profitabilitas jangka panjang. Untuk melaporkan keuntungan yang berlebihan, manajer lokasi mungkin lalai melakukan penelitian dan pengembangan, pelatihan, atau rencana pemeliharaan. Tren ini terutama terlihat saat tingkat pertukaran manajer pusat laba relatif tinggi. • Dalam sistem tidak ada yang sangat memuaskan dalam kepastian bahwa pengoptimalan laba dari satu pusat laba dapat mengoptimalkan laba seluruh perusahaan. (Faruq Ahmad, Mahasiswa Jurusan Akuntansi FEB, Universitas Muhammadiyah Malang)

Menakar Program Makan Bergizi Gratis: Antara Ketahanan Pangan vs Tantangan Implementasi Gizi Nasional

Oleh: Ghassani Nurul Amalia (061) dan Vinda Wahyu Meilani (064) Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian-Peternakan, Universitas Muhammadiyah Malang JurnalPost.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilaksanakan oleh pemerintah pada awal tahun 2025 menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia dan ketahanan pangan nasional. Program ini menargetkan 92,78 juta anak sekolah, balita, serta ibu hamil dan menyusui sebagai penerima manfaat hingga tahun 2029 sebagaimana yang diuraikan dalam RPJMN 2025-2029. Dengan adanya MBG, diharapkan dapat menekan angka stunting, memperbaiki status gizi, serta mendukung ketahan pangan nasional. Hingga Mei 2025, penerima MBG telah mencapai 3,97 juta jiwa dengan anggaran mencapai Rp 3 triliun. Namun, apakah MBG mampu mengatasi prevalensi stunting yang masih berada di angka 19,8% menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dirilis pada 2025? Meskipun terjadi penurunan dari 21,5% pada 2023, ketimpangan angka stunting antardaerah masih tinggi. Dilema Logistik dan Kualitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menghadapi tantangan besar dalam aspek logistik dan kualitas. Indonesia memiliki keragaman geografis yang luas, mulai dari daerah perkotaan sampai wilayah terpencil yang sulit untuk dijangkau. Kondisi tersebut menghambat distribusi bahan pangan segar secara merata, sehingga berpotensi menurunkan kualitas gizi yang diterima anak-anak. Risiko ini semakin tinggi jika pengawasan menu tidak dilakukan secara ketat, karena menu makanan bisa saja hanya memenuhi kebutuhan kalori tanpa memperhatikan keseimbangan gizi yang vital untuk pertumbuhan dan kesehatan mereka. Keberhasilan MBG juga bergantung pada koordinasi lintas sektor yang erat. Kementerian Pendidikan, Kesehatan, Pertanian, serta pemerintah daerah perlu bersinergi untuk menyelaraskan distribusi pangan, pengawasan gizi, dan edukasi. Tantangan krusial lainnya adalah keberlanjutan anggaran, dengan jutaan anak sebagai penerima manfaat, pendanaan jangka panjang harus dirancang secara cermat agar program tidak berhenti mendadak. Dengan demikian, masalah logistik dan kualitas pada MBG bukan hanya isu teknis distribusi, melainkan juga melibatkan integrasi kebijakan, pengawasan gizi, serta keberlanjutan finansial. Hal ini terlihat pada informasi di media sosial yang menyoroti kasus keracunan makanan dan perhitungan gizi oleh SPPG. Oleh karena itu, keberhasilan program ini bergantung pada sinergi Kementerian Pendidikan, Kesehatan, Pertanian, Badan Gizi Nasional (BGN), dan daerah, termasuk juga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berperan untuk memberikan edukasi terkait gizi dan memonitoring program MBG. Data Pendukung SSGI 2024 mengemukakan persentase stunting di NTT mencapai 37,0% dan Papua Pegunungan mencapai 40,0% yang hampir dua kali lipat rata-rata nasional akibat rendahnya diversifikasi pangan lokal. Laporan FAO 2025 menyatakan Indonesia berada di angka 22,6% kategori stunting dan 8,4% kategori wasting pada balita. Data tersebut menunjukkan kerentanan struktural di wilayah Indonesia Timur, di mana mayoritas bergantung pada karbohidrat tunggal, seperti singkong dan ubi-ubian, sehingga menyebabkan defisit protein hewani serta vitamin A, zat besi, dan seng yang penting bagi tumbuh kembang anak.  Ketimpangan ini mendorong urgensi MBG untuk memprioritaskan intervensi berbasis pangan lokal di daerah yang lebih membutuhkan untuk mengatasi malnutrisi kronis yang tidak hanya bergantung pada suplai kalori, tetapi juga kualitas nutrisi esensial, seperti protein dan mikronutrien. Tanpa adanya reformasi, program MBG bisa saja tidak mencapai target Sustainable Development Goal (SDG) 2: Zero Hunger. Mengapa Data Ini Krusial? Data SSGI 2024 dan FAO 2025 bukan sekedar angka, tetapi keduanya mencerminkan ketimpangan struktural yang bisa merusak potensi MBG. Di wilayah seperti NTT dan Papua Pegunungan, prevalensi stunting mencapai dua kali lipat rata-rata nasional akibat pola konsumsi yang bergantung pada pangan tunggal seperti singkong atau ubi, yang minim protein dan mikronutrien penting. FAO mencatat wasting sebesar 8,4% sebagai indikasi malnutrisi akut, yang bisa semakin parah bila MBG tidak menekankan diversifikasi pangan, misalnya dengan mengoptimalkan superfood lokal seperti sagu yang difortifikasi atau ikan dari perairan timur. Tanpa langkah ini, program berisiko hanya menutup defisit kalori tanpa menyentuh akar masalah gizi kronis, sehingga target RPJMN 2029 sulit tercapai. Pemberdayaan Pangan Lokal sebagai Kunci Kemandirian dan Ekonomi Salah satu strategi vital untuk menjamin keberlanjutan MBG adalah dengan mengintegrasikan rantai pasok pangan lokal ke dalam ekosistem program secara menyeluruh. Ketergantungan pada distribusi terpusat hanya akan memperlebar celah logistik serta meningkatkan biaya transportasi yang tinggi. Sebaliknya, pelibatan kelompok tani lokal dan UMKM di sekitar satuan pendidikan dapat menciptakan ekosistem sirkular yang kuat.  Dengan menyerap hasil panen petani lokal, pemerintah tidak hanya menyediakan bahan makanan segar bagi siswa namun juga meningkatkan pendapatan masyarakat perdesaan secara langsung. Penggunaan pangan fungsional berbasis kearifan lokal seperti sorgum di NTT, ikan melimpah di Maluku, atau protein nabati dari olahan kacang-kacangan di Jawa dapat menjadi solusi atas masalah diversifikasi pangan yang selama ini menjadi catatan kritis dalam laporan FAO 2025.

Berbuah Manis! Warga Tlekung Sulap Lahan TORA Jadi Wisata Edukasi Kopi Giri Murti

MALANG POST – Perjuangan bertahun-tahun warga Dusun Gangsiran Putuk, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu dalam mengejar kepastian hukum atas tanah garapan akhirnya mencapai puncaknya. Lahan yang dulunya penuh ketidakpastian kini resmi bertransformasi menjadi destinasi wisata edukasi agroforestri bertajuk Unit Usaha Giri Murti, yang diresmikan langsung oleh Plt Wali Kota Batu, Heli Suyanto, pada Kamis (23/4/2026). Peresmian ini menjadi momentum sakral bagi masyarakat setempat sebagai bentuk syukur atas keberhasilan Program Tanah Objek Reforma Agraria (TORA). Kawasan yang kini menghijau dengan hamparan pohon kopi tersebut menjadi bukti nyata legalitas lahan yang mampu memacu produktivitas ekonomi desa. “Melihat lahan ini sekarang, saya sangat bangga. Dahulu kita berjuang keras demi kepastian hukumnya. Hari ini, kita saksikan tanah ini telah menghidupi masyarakat melalui pengelolaan luar biasa oleh KTH Guyub Rukun,” ujar Heli Suyanto di sela-sela peresmian. TINJAU LANGSUNG: Plt Wali Kota Batu saat meninjau langsung lahan program TORA di Desa Tlekung yang kini menjadi tempat wisa edukasi kopi. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post) Dari Konflik Menuju Kepastian Hukum Heli mengenang kembali proses panjang yang dilalui warga sejak tahun 2023. Saat itu, Pemkot Batu bersama masyarakat terus mengawal percepatan pelepasan kawasan hutan untuk reforma agraria. Perjuangan tersebut membuahkan hasil saat Presiden Joko Widodo menyerahkan langsung Surat Keputusan (SK) TORA kepada warga Desa Tlekung. ​Kini, setelah legalitas di tangan, pengelolaan lahan dilakukan secara profesional oleh Koperasi Produsen Merah Putih Puthuk Sejahtera melalui Unit Usaha Giri Murti. “Kawasan ini tidak sekadar lahan tani. Warga mengembangkannya menjadi kawasan agroforestri terpadu. Ada produksi kopi, wisata edukasi, hingga ekonomi kreatif yang saling terintegrasi,” urai Heli. Konsep Edukasi Kopi dari Hulu ke Hilir Di Giri Murti, wisatawan tidak hanya disuguhi pemandangan asri, tetapi juga pengalaman belajar budidaya kopi secara mendalam. Mulai dari teknik penanaman, proses panen, pengolahan pascapanen, hingga mencicipi seduhan kopi hasil bumi lokal. Untuk menunjang kenyamanan, pengelola juga menyediakan fasilitas pendukung seperti: ​Homestay: Pengalaman menginap di tengah perkebunan. ​Kuliner Tradisional: Sajian khas desa yang otentik. ​Pendampingan Akademis: Pengembangan kawasan yang bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Model pengelolaan ini menjadi role model keberhasilan reforma agraria. Tidak berhenti pada pembagian sertifikat, tapi berlanjut pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan,” tambah politisi asli Batu tersebut. Komitmen Dukungan Infrastruktur Mengapresiasi kemandirian warga, Heli Suyanto menegaskan komitmen Pemerintah Kota Batu untuk memperkuat aksesibilitas menuju kawasan Giri Murti. Pemkot berencana melakukan penguatan infrastruktur jalan agar arus wisatawan semakin lancar. “Prinsipnya, jika alam dirawat (diopeni), maka alam akan menghidupi kita. Ke depan, penguatan infrastruktur dan fasilitas penunjang akan terus kami dorong agar potensi Giri Murti berkembang lebih besar lagi,” pungkasnya. (Ananto Wibowo)

Vinilon Siapkan Bekal Dunia Kerja bagi Mahasiswa di 4 Kampus Ternama di Kota Malang

vinilon – Dunia kerja saat ini menuntut para lulusan universitas agar dapat siap terjun ke lapangan. Oleh karena itu, melalui kunjungan ke empat kampus ternama di kota Malang pada tanggal 13-16 April 2026, Vinilon Group menghadirkan pembelajaran langsung tentang sistem perpipaan, serta bekal bagi para mahasiswa, melalui program Vinilon Goes To Campus (VGTC). Program ini merupakan bentuk langkah nyata dari Vinilon untuk mensinergikan teori yang didapat di kelas dengan realita yang ada di lapangan. Di sini,mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman secara teori, tetapi juga gambaran nyata tentang bagaimana sistem infrastruktur dirancang dan diimplementasikan di lapangan. Vinilon Goes to Campus mengajak  mahasiswa bisa berdiskusi secara interaktif, mulai dari aspek material pipa, implementasi secara teknis, hingga pembangunan sistem yang berkelanjutan. Di Universitas Brawijaya, diskusi dimulai dari fondasi utama dalam sistem perpipaan, yaitu dari  sisi material. Melalui tema diskusi “Pipa Plastik, Pipa Masa Depan”. “Perkembangan material seperti pipa plastik membuka perspektif baru bagi mahasiswa bahwa inovasi juga berkaitan dengan efisiensi, kinerja teknis, dan keberlanjutan untuk  jangka panjang,” ujar Ir. Eko Andi Suryo, ST., MT., PH.D – Dosen Universitas Brawijaya Pembahasan tersebut kemudian berlanjut di UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang dengan pembahasan yang lebih komprehensif mengenai sistem infrastruktur air. Melalui tema “Smart Water System dalam Perencanaan Infrastruktur Sipil”, mahasiswa diajak memahami pentingnya integrasi antara teknologi, desain teknis, dan pendekatan berkelanjutan. Diskusi ini menegaskan bahwa sistem air modern tidak hanya berfokus pada distribusi, tetapi juga pada pengelolaan yang efisien, adaptif, dan terintegrasi. “Pengelolaan sistem air saat ini membutuhkan pendekatan yang tidak hanya presisi, tetapi juga adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.”  kata Sucipto Eko Pranoto – Kasubdiv IT Perum Jasa Tirta I Pandangan ini semakin dipertegas oleh Ir. Yanuar Hendra Pramana, ST., MT., IPM., ASEAN Eng., selaku Direktur Flow Ed, yang melihat bahwa tantangan infrastruktur air saat ini terus berkembang seiring perubahan kebutuhan masyarakat dan kompleksitas pembangunan. Menurutnya, pendekatan konvensional tidak lagi cukup untuk menjawab tuntutan tersebut. Dibutuhkan cara pandang yang lebih adaptif, di mana sistem tidak hanya dirancang untuk berfungsi, tetapi juga mampu bertahan dan berkembang dalam jangka panjang. “Tantangan infrastruktur air saat ini bukan hanya pada distribusi, tetapi bagaimana merancang sistem yang adaptif, efisien, dan berkelanjutan dalam menghadapi perubahan kebutuhan masyarakat.” tambahnya. Tuntutan Kompetensi di Lapangan  Selanjutnya, di Universitas Muhammadiyah Malang, diskusi berkembang pada aspek kompetensi profesional. Menghadirkan perspektif dari alumni yang kini berkarier sebagai konsultan, sehingga mahasiswa memperoleh gambaran mengenai tuntutan di bidang konstruksi yang semakin kompleks. “Teori menjadi fondasi, namun kemampuan membaca situasi dan mengambil keputusan serta beradaptasi di lapangan menjadi kunci dalam praktik profesional di lapangan.” tambah Ahmad Handri Widiyanto, Alumni Teknik Sipil UMM, Konsultan Konstruksi Rangkaian kegiatan ini kemudian ditutup di Politeknik Negeri Malang, dengan fokus tentang penerapan praktis di lapangan. Mahasiswa diajak memahami bagaimana teori yang dipelajari di kelas diterapkan di lapangan dalam proses instalasi, pemilihan sistem perpipaan yang tepat, serta standar implementasi dalam proyek nyata. Pendekatan ini semakin memperkuat keterkaitan antara pembelajaran akademik dan kebutuhan industri saat ini, khususnya dalam konteks pendidikan vokasi yang menekankan kesiapan kerja. “Di lapangan, mahasiswa dituntut tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam berbagai kondisi yang dinamis,” ujar Mohamad Zenurianto, Dipl.Ing.HTL. , M.Sc., – Dosen Politeknik Negeri Malang Vinilon Goes to Campus menjadi bagian dari komitmen Vinilon Group dalam mendukung pengembangan generasi profesional yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga siap menghadapi tantangan di dunia industri.