Kursi Roda Bukan Penghalang, Akbar Tuntaskan Studi Psikologi di UMM

MALANG POST – Melalui penyediaan infrastruktur ramah disabilitas dan budaya akademik yang suportif, Kampus Putih sukses mengantarkan Akhmad Ali Akbar, mahasiswa pengguna kursi roda dari Program Studi Psikologi, menyelesaikan masa studinya dengan deretan prestasi gemilang. ​Pria yang akrab disapa Akbar ini, merasakan betul komitmen UMM dalam menyediakan lingkungan kampus yang ramah disabilitas. Dukungan tersebut ia rasakan sejak hari pertama berstatus sebagai mahasiswa. Keberadaan infrastruktur yang memadai, seperti akses khusus jalur kursi roda di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4, hingga kemudahan mobilitas di berbagai fasilitas praktikum. Itu membuatnya leluasa bergerak. Baginya, kenyamanan aksesibilitas fisik adalah kunci utama yang melancarkan rutinitas perkuliahannya selama empat tahun terakhir. ​“Sedari awal hingga kelulusan, UMM benar-benar membantu dan mendukung. Sehingga saya tidak merasa berat menjalani setiap proses perkuliahan meski dengan keterbatasan fisik,” ucapnya. ​Menariknya, ia menegaskan bahwa kemudahan tersebut murni sebatas pada aspek fasilitas penunjang mobilitas. Dalam urusan akademik, Akbar tidak mendapatkan perlakuan khusus atau keistimewaan. Ia harus melewati standar evaluasi, beban tugas, dan ujian yang sama ketatnya dengan rekan sebaya. Prinsip kesetaraan inilah yang memacu semangatnya untuk bersaing secara sehat dan membuktikan kualitas diri secara objektif di dalam ruang kelas. ​Selain di bidang akademik, kapasitas kepemimpinan Akbar juga terasah tajam. Kampus memberikannya panggung yang sama untuk berkontribusi secara nyata. Akbar tercatat pernah mengemban amanah sebagai eksekutif muda di Kementerian Luar Negeri Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas periode 2023-2024. Puncaknya, ia dipercaya menjadi Wakil Ketua Pelaksana Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Fakultas Psikologi 2024. Di bawah arahannya bersama tim, rangkaian acara tersebut sukses menyabet juara tiga sebagai Pesmaba terbaik tingkat universitas. ​“UMM sudah siap menjadi kampus inklusif dan pastinya akan selalu mendukung teman-teman disabilitas untuk menempuh perkuliahan dengan lancar, bagaimanapun caranya,” tegasnya. ​Kiprah Akbar rupanya tidak berhenti di lingkungan kampus saja. Ia juga mendedikasikan dirinya pada kegiatan sosial kemasyarakatan dengan bergabung di komunitas Turun Tangan Malang. Mengawali langkah sebagai staf Hubungan Masyarakat (Humas) pada periode 2022-2023, kinerjanya yang cemerlang mengantarkannya pada posisi Ketua Umum di periode berikutnya. Perjalanan memimpin organisasi diakuinya penuh dinamika dan lika-liku. Namun, pasang surut tersebut justru meneguhkan tekadnya untuk terus mencari pengalaman berharga. ​Di akhir masa studinya, Akbar memberikan pesan bagi seluruh pejuang mimpi, baik yang memiliki keterbatasan fisik maupun tidak. Ia percaya bahwa setiap doa dan kerja keras akan membuahkan hasil manis pada waktunya. ​“Jangan pernah berhenti berharap, berdoa, dan bermimpi karena sejatinya mimpi-mimpi itu akan terwujud di masa yang akan datang,” pungkasnya(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Dari Kursi Roda Menuju Panggung Prestasi: Kisah Lulusan Inklusif dari UMM yang Menginspirasi

Akhmad Ali Akbar, lulus dengan segudang prestasi—meski harus menjalani hari-hari perkuliahan menggunakan kursi roda.(Ist) Malangpariwara.com – Di tengah perjuangan mewujudkan pendidikan tinggi yang setara bagi semua, Universitas Muhammadiyah Malang menghadirkan bukti nyata bahwa inklusivitas bukan sekadar wacana.Kampus yang dikenal sebagai Kampus Putih ini mengantarkan salah satu mahasiswanya, Akhmad Ali Akbar, lulus dengan segudang prestasi—meski harus menjalani hari-hari perkuliahan menggunakan kursi roda. Bagi Akbar, perjalanan akademiknya bukan hanya tentang meraih gelar sarjana, tetapi juga tentang menaklukkan batasan. Bagi Akbar, perjalanan akademiknya bukan hanya tentang meraih gelar sarjana, tetapi juga tentang menaklukkan batasan.(Ist) Sejak awal menjejakkan kaki di kampus, ia merasakan dukungan yang tak setengah hati. Akses ramah disabilitas, mulai dari jalur khusus kursi roda hingga kemudahan mobilitas di berbagai fasilitas, menjadi pintu pembuka bagi kemandiriannya selama menempuh studi. Namun, di balik kemudahan fasilitas tersebut, tidak ada jalan pintas dalam urusan akademik. Akbar tetap menghadapi standar yang sama dengan mahasiswa lainnya—tugas yang menumpuk, ujian yang menantang, dan tuntutan berpikir kritis yang tak bisa ditawar. Justru dari situlah semangatnya tumbuh: membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berprestasi. “Dukungan kampus membuat saya tidak merasa sendiri dalam menjalani proses ini. Tapi untuk akademik, semuanya tetap sama. Itu yang membuat saya semakin termotivasi,” ungkapnya. Tak hanya bersinar di ruang kelas, Akbar juga aktif menempa diri di organisasi. Ia pernah dipercaya sebagai bagian dari Kementerian Luar Negeri Badan Eksekutif Mahasiswa, hingga akhirnya mengemban peran strategis sebagai Wakil Ketua Pelaksana Pengenalan Studi Mahasiswa Baru Fakultas Psikologi 2024. Di bawah kepemimpinannya, kegiatan tersebut berhasil meraih posisi tiga besar terbaik di tingkat universitas—sebuah capaian yang tak lepas dari kerja keras dan kolaborasi tim. Langkahnya melampaui batas kampus. Akbar turut berkiprah di komunitas sosial Turun Tangan Malang, dari staf humas hingga dipercaya menjadi ketua umum. Di sana, ia belajar tentang arti kepemimpinan, menghadapi dinamika, dan bertumbuh dari setiap tantangan. Kini, di penghujung masa studinya, Akbar tak hanya membawa ijazah, tetapi juga cerita tentang keteguhan dan harapan. Ia percaya bahwa setiap perjuangan, sekecil apa pun, akan menemukan jalannya menuju keberhasilan. “Jangan berhenti bermimpi. Terus berdoa dan berusaha, karena mimpi itu punya caranya sendiri untuk menjadi nyata,” pesan lulusan Program Studi Psikologi ini. Kisah Akbar menjadi pengingat bahwa inklusivitas bukan sekadar fasilitas fisik, melainkan tentang membuka ruang yang setara bagi setiap individu untuk tumbuh. Dan di sanalah, mimpi-mimpi menemukan jalannya—tanpa batas.(Djoko W)

Invasi Ikan Sapu-sapu Ancam Kelestarian Ekosistem Ikan Endemik

beritajejakfakta – Populasi ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) yang meledak di berbagai sungai di Indonesia dilaporkan mengancam keberadaan ikan lokal melalui kompetisi nutrisi dan perusakan habitat pada Jumat (24/4/2026). Dosen Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rindya Fery Indrawan, menjelaskan bahwa spesies invasif ini menyebabkan kerusakan ekosistem melalui tiga mekanisme utama. Fenomena ini memicu kekhawatiran akan kolapsnya rantai makanan di perairan tawar. Dilansir dari Hijau, mekanisme pertama melibatkan perebutan sumber nutrisi utama seperti alga dan mikroorganisme dasar. Hal ini membuat ikan lokal kehilangan pakan alami yang menjadi sumber pertumbuhan mereka. Dominasi biomassa menjadi faktor kedua, di mana ikan sapu-sapu mengambil alih ruang hidup secara masif. Kondisi ini diperparah dengan kebiasaan mereka menggali lubang di tepian sungai yang memicu erosi dan merusak tempat pemijahan alami. Ikan sapu-sapu juga diketahui memiliki sifat omnivora oportunistik yang memangsa telur serta larva ikan endemik saat pakan menipis. Spesies lokal seperti nilem, tawes, wader, dan betok kini berada di ambang kepunahan lokal akibat aktivitas tersebut. Kemampuan bertahan hidup ikan ini tergolong ekstrem karena memiliki kulit keras berlapis pelat serta sirip berduri tajam yang sulit dimangsa predator. Selain itu, spesies ini mampu hidup dalam kondisi perairan dengan kadar oksigen yang sangat rendah. “Tujuan utama kami adalah melakukan restocking. Hasil pemijahan ini nantinya akan kita lepas liarkan secara berkala di Kali Brantas untuk merehabilitasi populasi ikan endemik,” kata Rindya Fery Indrawan, Dosen Perikanan UMM. Laboratorium Perikanan UMM saat ini fokus melakukan riset dan pengembangan ikan wader untuk dilepaskan kembali ke alam. Upaya mitigasi lain yang diusulkan meliputi penangkapan massal untuk menekan jumlah biomassa ikan sapu-sapu di perairan. Ikan hasil tangkapan tersebut dapat diolah menjadi bahan baku tepung ikan atau pakan ternak. Namun, pengolahan untuk konsumsi manusia dilarang jika ikan berasal dari perairan yang telah tercemar logam berat. Fery menegaskan pentingnya edukasi kepada masyarakat untuk tidak melepasliarkan ikan predator peliharaan ke alam. Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan publik sangat dibutuhkan guna menjaga ketahanan pangan dan identitas perikanan nasional.

Alasan Kenapa Ikan Sapu-Sapu Picu Kolapsnya Struktur Rantai Makanan di Sungai

Bisnis.com, MALANG — Keberadaan ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) yang kerap dianggap sepele, karena ledakan populasi spesies invasif ini berpotensi memicu kolapsnya struktur rantai makanan sekaligus menyapu bersih eksistensi ikan-ikan endemik lokal. Dosen Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Rindya Fery Indrawan mengatakan proses perusakan ekosistem ini terjadi melalui tiga mekanisme utama yang saling berkaitan. “Pertama, terjadi kompetisi pakan yang tidak seimbang. Ikan sapu-sapu merebut sumber nutrisi utama seperti alga dan mikroorganisme dasar yang seharusnya menjadi pakan ikan lokal kita,” ungkapnya, Jumat ( 24/4/2026). Mekanisme kedua, yakni  dominasi biomassa. Spesies invasif ini berkembang biak dengan sangat masif hingga mengambil alih ruang hidup ekosistem, seperti krisis yang kini melanda sungai-sungai di ibu kota Jakarta. Terakhir, kebiasaan ikan ini menggali lubang di tepian sungai menyebabkan erosi parah dan menghancurkan secara fisik tempat pemijahan alami ikan lokal. Yang lebih memprihatinkan, ikan sapu-sapu memiliki sifat omnivora oportunistik. Saat pakan utama menipis, mereka tak segan memangsa telur dan larva ikan endemik. Aktivitas mereka yang terus menyapu dasar perairan juga membuat telur-telur ikan lokal tertimbun sedimen hingga gagal menetas. Spesies perairan bawah seperti nilem, tawes, wader, dan betok pun kini berada di ambang kepunahan lokal. Sulitnya menekan laju populasi spesies ini, kata dia, tidak lepas dari kemampuannya sebagai super survivor. Tubuh ikan sapu-sapu dilindungi oleh pelat keras dan sirip berduri tajam, menjadikannya mangsa yang dihindari oleh predator alami lokal seperti biawak. Tingkat adaptasinya pun ekstrem, ikan sapu-sapu mampu bertahan hidup di perairan dengan kadar oksigen yang sangat minim. Merespons kondisi kritis ini, Laboratorium Perikanan UMM mengambil langkah taktis. Fery memaparkan, pihaknya kini tengah gencar melakukan upaya riset, pemijahan, dan pengembangan ikan lokal, khususnya jenis wader. “Tujuan utama kami adalah melakukan restocking. Hasil pemijahan ini nantinya akan kita lepas liarkan secara berkala di Kali Brantas untuk merehabilitasi populasi ikan endemik,” tegasnya. Dia mendesak adanya mitigasi komprehensif, mulai dari penangkapan massal untuk menekan biomassa, hingga pemanfaatannya secara ekonomi. Daripada dibuang, ikan ini dapat diolah menjadi bahan baku tepung ikan atau pakan ternak berprotein tinggi, dengan catatan tidak untuk konsumsi manusia jika berasal dari perairan tercemar logam berat. Menurutnya, edukasi publik juga menjadi kunci mutlak.  Karena itulah, harus dilarang keras kebiasaan masyarakat yang sering melepaskan ikan predator peliharaan dari akuarium ke alam liar. “Ini bukan sekadar menyelamatkan satu spesies, tapi menjaga keseimbangan alamiah. Jika tidak ada sinergi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, kita berisiko besar kehilangan ikan lokal yang menjadi identitas serta penopang ketahanan pangan bangsa,” ucapnya.

Anggota Komisi A DPRD Kota Malang Sebut Kedekatan dengan Masyarakat Jadi Modal Utama Jelang Pemilu 2029

KETIK, MALANG – Di tengah mahalnya biaya politik, pendekatan langsung ke masyarakat dinilai menjadi strategi paling efektif untuk membangun kepercayaan publik menjelang Pemilu 2029. Pendekatan berbasis kedekatan sosial menjadi sorotan dalam sebuah sesi diskusi yang digelar oleh mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang dalam kegiatan bertajuk PSYCHEVERITAS. Acara tersebut berlangsung di Aula I DPRD Kota Malang dan mengangkat tema tentang merajut dan membangun Bhinneka. Dalam kegiatan tersebut, H. Rokhmad, S.Sos., anggota Komisi A DPRD Kota Malang, hadir sebagai narasumber dan membagikan pandangannya terkait strategi politik serta dinamika yang terjadi di lapangan. Ia menilai, keterlibatan nyata di tengah masyarakat jauh lebih menentukan dibandingkan sekadar kekuatan finansial saat masa pencalonan. Menurutnya, figur yang sejak awal sudah aktif di lingkungan warga cenderung lebih mudah mendapatkan kepercayaan. Kehadiran dalam kegiatan sosial seperti kerja bakti, komunikasi sehari-hari dengan warga, hingga partisipasi dalam agenda lingkungan menjadi modal penting yang tidak bisa digantikan oleh strategi instan. “Kalau seseorang sudah dikenal baik oleh masyarakat, maka biaya politiknya bisa jauh lebih kecil. Namun, jika belum dikenal, biasanya pengeluarannya justru lebih besar,” ujarnya. Baca Juga: Anggota DPRD Kota Malang H. Rokhmad Tekankan Aspirasi Masyarakat dalam Keputusan Politik Ia menjelaskan, kondisi tersebut kerap terjadi di lapangan, terutama bagi kandidat yang belum memiliki kedekatan dengan masyarakat sehingga harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memperkenalkan diri. Selain itu, Rokhmad juga menyoroti proses pengambilan keputusan dalam forum resmi yang tidak selalu berjalan cepat. Ia menyebut, dinamika dalam rapat sering kali membutuhkan komunikasi lanjutan di luar forum agar tercapai kesepahaman. Pendekatan informal seperti diskusi santai dinilai menjadi cara efektif untuk menyatukan perbedaan pandangan antar pihak hingga akhirnya mencapai kesepakatan bersama. “Kita tidak bisa memaksakan keputusan dalam rapat. Semua harus melalui proses, komunikasi, dan musyawarah sampai menemukan titik sepakat,” jelasnya. Di sisi lain, perkembangan media sosial di era digital juga menjadi perhatian. Meski memiliki jangkauan luas, penggunaannya dinilai tidak cukup untuk membangun kedekatan yang kuat dengan masyarakat. Rokhmad menekankan bahwa interaksi langsung tetap memiliki peran utama, terutama dalam membangun kepercayaan dan empati. Kehadiran di tengah masyarakat, termasuk dalam momen sosial seperti kegiatan lingkungan hingga situasi duka, dinilai sebagai bentuk nyata kepedulian. Ia pun mengingatkan agar penggunaan media sosial tidak membuat seseorang justru jauh dari lingkungan sekitarnya. Menurutnya, masyarakat terdekat harus tetap menjadi prioritas utama. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan wawasan tentang dunia politik, tetapi juga memahami pentingnya nilai kebersamaan, komunikasi, dan peran aktif dalam kehidupan sosial sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang harmonis dalam keberagaman.

Sport Physio UMM, Tim Sigap Penanganan Cedera Atlet di Arena Pertandingan

Reportasemalang – Ancaman cedera olahraga kerap mengintai atlet di tengah pertandingan. Dalam hitungan detik, kondisi fisik atlet bisa berubah drastis jika tidak ditangani secara tepat. Menjawab kebutuhan tersebut, Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan Sport Physio sebagai layanan sigap penanganan cedera di lapangan. Sport Physio UMM berada di bawah naungan Himpunan Mahasiswa Fisioterapi (HIMATERA) dan telah berkembang menjadi laboratorium terapan bagi mahasiswa. Perannya tidak sekadar pelengkap dalam pertandingan, melainkan menjadi penentu keselamatan atlet saat terjadi insiden. Tim ini dituntut mampu mendeteksi secara cepat tanda-tanda kelelahan maupun cedera pada atlet. Saat terjadi kecelakaan di lapangan, mereka menjadi pihak pertama yang memberikan penanganan sekaligus menentukan apakah atlet dapat melanjutkan pertandingan atau harus dievakuasi untuk mencegah cedera yang lebih parah. Eksistensi Sport Physio UMM terlihat dalam berbagai ajang olahraga, baik di lingkungan kampus maupun turnamen eksternal. Fokus utama mereka mencakup penguatan keilmuan, aspek kemanusiaan, serta penanganan kegawatdaruratan. Selain memberikan pertolongan saat insiden, tim juga melakukan pendampingan melalui teknik pemanasan seperti stretching dan taping sebelum pertandingan dimulai. Ketua Komunitas Sport Physio UMM, Muhamad Abdilah Ibdaul Hakiki, menyampaikan bahwa kesiapan tim tidak hanya bergantung pada keterampilan teknis, tetapi juga mental. “Kami rutin melakukan pembekalan materi dasar sport physiotherapy sebelum turun ke lapangan. Kesiapan alat medis juga kami pastikan, mulai dari tandu hingga coolant spray dan perban. Namun yang paling penting adalah kesiapan mental agar tetap tenang di bawah tekanan pertandingan,” ujarnya, Kamis (22/4/2026). Sport Physio UMM saat memberikan perawatan kepada salah satu atlet Sementara itu, Pembina Sport Physio UMM, Arys Hasta Baruna, S.Ft., M.Kes., menilai kegiatan ini sebagai sarana pembelajaran aplikatif bagi mahasiswa. Melalui pengalaman langsung di lapangan, mahasiswa dapat mengasah kemampuan clinical reasoning atau nalar klinis sebelum terjun ke dunia profesional. “Mahasiswa belajar mengambil keputusan medis secara cepat sekaligus mengelola stres di tengah situasi yang penuh tekanan,” jelasnya. Ke depan, Sport Physio UMM diharapkan dapat terus berkembang sebagai rujukan layanan fisioterapi lapangan di Jawa Timur. Selain mencetak tenaga medis yang kompeten secara teknis, komunitas ini juga diharapkan mampu menumbuhkan empati dalam melindungi keselamatan dan karier para atlet. Dengan sinergi antara teori akademik dan praktik di lapangan, Sport Physio UMM berpotensi menjadi salah satu pilar penting dalam menciptakan ekosistem olahraga yang aman dan berprestasi di Indonesia.

8 PTS Terbaik Indonesia Masuk THE Asia University Rankings 2026, Ini Daftar dan Peringkatnya

sindonews, JAKARTA – Delapan perguruan tinggi swasta (PTS) terbaik di Indonesia berhasil masuk dalam daftar universitas terbaik Asia versi Times Higher Education (THE) melalui pemeringkatan THE Asia University Rankings (AUR) 2026. Cek daftarnya berikut ini. Dalam pemeringkatan tahun 2026, THE menilai sebanyak 929 universitas dari 36 negara dan wilayah di Asia. Penilaian dilakukan secara komprehensif menggunakan 18 indikator kinerja yang mencakup lima aspek utama, yaitu kualitas pengajaran (teaching), lingkungan riset (research environment), kualitas riset (research quality), pandangan internasional (international outlook), serta kontribusi industri (industry income dan patents). Dari total 65 perguruan tinggi di Indonesia yang masuk dalam daftar THE AUR 2026, terdapat delapan PTS yang berhasil menembus peringkat global. Berikut daftar lengkapnya, dikutip dari laman THE, Jumat (24/4/2026). 8 PTS Terbaik di Indonesia Versi THE AUR 2026 1. BINUS University Ranking: 401-500 Overall score: 33.7-36.3 2. Telkom University Ranking: 601-800 Overall score: 23.3-30.8 3. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Ranking: 601-800 Overall score: 23.3-30.8 4. Unika Atma Jaya Ranking: 801+ Overall score: 14.7-23.2 5. Universitas Islam Indonesia (UII) Ranking: 801+ Overall score: 14.7-23.2 6. Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Ranking: 801+ Overall score: 14.7-23.2 7. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ranking: 801+ Overall score: 14.7-23.2 8. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ranking: 801+ Overall score: 14.7-23.2. Demikian 8 PTS di Indonesia masuk universitas terbaik versi THE Asia University Rankings 2026. Semoga bermanfaat.

Waspada Predator Berkedok Pembersih, Pakar UMM Bongkar Fakta Mengerikan Invasi Ikan Sapu-Sapu

  pwmu.co – Di balik tenangnya aliran sungai, tersimpan ancaman ekologis serius yang diam-diam menggerus keseimbangan perairan darat. Keberadaan ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) yang selama ini kerap dianggap sepele, kini menjadi sorotan.Pakar sekaligus Dosen Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang, Rindya Fery Indrawan, S.Pi., MP., memperingatkan bahwa ledakan populasi spesies invasif ini berpotensi memicu kolapsnya rantai makanan sekaligus mengancam keberadaan ikan endemik lokal. Fery—sapaan akrabnya—menjelaskan bahwa kerusakan ekosistem terjadi melalui tiga mekanisme utama yang saling berkaitan. “Pertama, terjadi kompetisi pakan yang tidak seimbang. Ikan sapu-sapu merebut sumber nutrisi utama seperti alga dan mikroorganisme dasar yang seharusnya menjadi pakan ikan lokal kita,” ungkapnya 23 April lalu pada Tim Humas UMM Mekanisme kedua adalah dominasi biomassa. Ikan sapu-sapu berkembang biak secara masif hingga menguasai ruang hidup ekosistem. Fenomena ini bahkan telah terlihat di sejumlah sungai besar seperti di wilayah Jakarta. Sementara itu, mekanisme ketiga adalah kerusakan fisik lingkungan. Kebiasaan ikan ini menggali lubang di tepian sungai menyebabkan erosi dan merusak area pemijahan alami ikan lokal. Lebih memprihatinkan lagi, ikan sapu-sapu memiliki sifat omnivora oportunistik. Ketika sumber pakan menipis, mereka memangsa telur dan larva ikan endemik. Aktivitas menyapu dasar perairan juga membuat telur-telur ikan lokal tertimbun sedimen hingga gagal menetas. Akibatnya, spesies ikan lokal seperti nilem, tawes, wader, dan betok kini berada di ambang kepunahan lokal. Sulitnya mengendalikan populasi ikan sapu-sapu tidak lepas dari kemampuannya bertahan hidup di berbagai kondisi ekstrem. Tubuhnya dilindungi pelat keras dan sirip berduri tajam, sehingga dihindari predator alami seperti biawak. Selain itu, ikan ini mampu hidup di perairan dengan kadar oksigen sangat rendah. Karakteristik ini menjadikan ikan sapu-sapu sebagai “super survivor” yang sulit dikendalikan secara alami. Merespons kondisi tersebut, Laboratorium Perikanan UMM mengambil langkah strategis melalui riset dan pengembangan ikan lokal, khususnya jenis wader. “Tujuan utama kami adalah melakukan restocking. Hasil pemijahan ini nantinya akan kita lepas liarkan secara berkala di Kali Brantas untuk merehabilitasi populasi ikan endemik,” tegasnya. Fery menegaskan bahwa upaya akademisi saja tidak cukup. Dibutuhkan langkah mitigasi komprehensif, mulai dari penangkapan massal hingga pemanfaatan ikan sapu-sapu secara ekonomis. Ikan ini dapat diolah menjadi tepung ikan atau pakan ternak berprotein tinggi, dengan catatan tidak dikonsumsi manusia jika berasal dari perairan tercemar. Ia juga menyoroti pentingnya edukasi masyarakat, terutama terkait kebiasaan melepas ikan peliharaan ke alam liar. “Ini bukan sekadar menyelamatkan satu spesies, tapi menjaga keseimbangan alamiah. Jika tidak ada sinergi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, kita berisiko besar kehilangan ikan lokal yang menjadi identitas serta penopang ketahanan pangan bangsa,” pungkasnya.(*) *) Penulis : Humas Kemendikdasmen | Editor : Satria

USTF dan Universitas Muhammadiyah Malang Resmikan Pusat Penelitian dan Sertifikasi halal di Tiongkok

mediaindonesia – DALAM rangka memperkuat kerja sama internasional di bidang industri halal, Universitas Sains dan Teknologi Fuyao (USTF) bersama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar upacara peresmian Pusat Penelitian halal dan Pusat Sertifikasi halal di Ruang Pameran, Institut Penelitian Pembangunan Global, Kampus USTF, Fuzhou, Tiongkok, Senin (20/4). Dalam keterangan resmi yang diterima Media Indonesia disebutkan, peresmian ini ditandai dengan pengguntingan pita oleh jajaran pimpinan kedua perguruan tinggi, serta dilanjutkan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama strategis yang mencakup pendirian Pusat Sertifikasi halal “Fuquanfa” (FQF halal Certification Center). Kerja sama ini bertujuan untuk membangun sistem layanan sertifikasi halal yang sesuai dengan standar internasional, serta mendorong pengembangan ekosistem halal yang terstandarisasi di Tiongkok. Dalam sambutannya, Cao Dewang, Ketua Dewan Pengawas USTF, menyampaikan apresiasi atas komitmen UMM dalam mendukung pengembangan sertifikasi halal yang kredibel dan berdaya saing global. “Kerja sama ini bukan hanya tentang sertifikasi juga tentang membangun jembatan antara industri halal Indonesia dan Tiongkok,” ujarnya. Sementara itu, Muhammad Salis Yuniardi, Wakil Rektor UMM, menegaskan bahwa UMM berkomitmen penuh untuk mentransfer keahlian dalam sistem sertifikasi, pelatihan auditor, serta pendampingan teknis guna memastikan pusat sertifikasi ini memenuhi standar Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) dan standar internasional lainnya. Acara ini juga dihadiri Elfi Anis Sati – Kepala Pusat halal, Ahli Evaluasi Pusat halal Nasional Indonesia, Dr. Dalia Elianani (Sekretaris Pusat halal UMM sekaligus Auditor halal Nasional Indonesia) dan Yudil Chatim, Mantan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar RI di Tiongkok. Turut hadir perwakilan dari berbagai institusi, seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan Fuzhou, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Provinsi Fujian, serta mitra industri seperti Danaher Tiongkok dan SCIEX Tiongkok. Sebelum upacara peresmian, kedua belah pihak menggelar Rapat Diskusi dan Kerja Sama Strategis yang membahas rencana kerja sama pendidikan, pembagian pembangunan pusat halal, serta alih hasil riset antara UMM dan USTF. Perjanjian kerja sama ini berlaku untuk jangka waktu 10 tahun dengan mekanisme evaluasi pada tahun kelima, serta mengatur hak kepemilikan, tanggung jawab teknis, dan operasional secara rinci. UMM bertindak sebagai pemegang otoritas kehalalan dan BPJPH liaison officer, sementara USTF bertanggung jawab atas operasional pusat sertifikasi di Tiongkok. Dengan didirikannya FQF halal Certification Center, diharapkan pelaku usaha di Tiongkok, khususnya di sektor makanan, minuman, kosmetik, dan farmasi, dapat mengakses layanan sertifikasi halal yang lebih mudah, cepat, dan diakui secara internasional.(H-2)

Sekda Kabupaten Malang Terima Audiensi Mahasiswa UNIDHA dan UMM: Edukasi Hukum Tata Negara bagi Masyarakat

PR JATIM – Perwakilan mahasiswa dari Universitas Wisnuwardhana (UNIDHA) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendatangi Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang, Dr. Ir. Budiar Msi, Jumat, 24 April 2026. Dengan didampingi Direktur Pascasarjana UNIDHA, Dr. Imam Ropii SH MH, perwakilan mahasiswa tersebut, yakni Awangga dan Endang dari UNIDHA dan Akbar dan Amel mahasiswa UMM menggelar Audiensi. Dikesempatan itu, Sekda Kabupaten Malang, Budiar mengapresiasi dan menyambut baik dan menerima dengan hangat kunjungan mahasiswa tersebut. “Ini sangat bagus, bisa berdampak positif, dan dapat membuat masyarakat melalui mahasiswa paham tentang wawasan hukum tata negara, bagaimana proses pembuatan undang undang dan peraturan daerah,” tegasnya. Sementara, Direktur Pascasarjana UNIDHA, Dr. Imam Ropii SH MH menjelaskan, dengan audiensi ini diharapkan bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait istilah dan nama kelembagaan dalam hukum di Indonesia didasarkan pada tata urutan peraturan perundang-undangan (hierarki) yang diatur dalam UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. “Produk hukum ini dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang, agar tidak ada kerancuan penyebutan dalam ilmu hukum tata negara,” jelasnya. “Pemahaman terkait dengan istilah dan nama kelembagaan, dimana istilah untuk menyebut berbagai kegiatan dan produk hukum atau kelembagaan dengan penyebutan lembaga yang ada didaerah itu sangat berbeda dengan penyebutan kelembagaan yang ada dipusat, yaitu lembaga perwakilan kalau dipusat disebut legislatif, kalau didaerah ya DPRD,” tambahnya. Imam juga menegaskan, diskusi terkait kelembagaan ini sangat baik agar menerapkan teori dan praktik dalam kegiatan produk hukum kelembagaan.***