Dukung Women Empowerment, UMM Beri Ruang Setara pada Perempuan

Suasana dialog dalam webinar “Give to Gain” yang membahas penguatan akses dan partisipasi perempuan di masyarakat. (Tangkapan layar/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Momentum International Women’s Day (Hari Perempuan Internasional) kembali dimanfaatkan sebagai ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen untuk memperluas akses dan partisipasi perempuan di berbagai sektor. Upaya tersebut diwujudkan melalui kolaborasi Pusat Studi Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PSP2A) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), serta Asosiasi Studi Wanita dan Gender Indonesia (ASWGI). Sinergi ini dikemas dalam webinar nasional bertajuk “Give to Gain: Membangun Akses dan Partisipasi Bermakna bagi Perempuan” pada Kamis (12/3/2026). Mendapat dukungan penuh dari Rektor UMM Prof Nazaruddin Malik MSi, webinar ini diikuti ratusan akademisi, mahasiswa, peneliti, dan pegiat isu gender dari seluruh Indonesia. Kegiatan secara resmi dibuka oleh Rektor UMJ Prof Ma’mun Murod MSi. Dia menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menghadirkan ruang yang inklusif. “Kampus harus memberikan kesempatan setara bagi perempuan. Esensi kesetaraan gender adalah memperluas peran perempuan agar memiliki akses setara terhadap sumber daya, pendidikan, hingga pengambilan keputusan,” tegasnya. Diskusi utama menyoroti pendidikan sebagai instrumen penting dalam pemberdayaan perempuan (women empowerment). Tim Dewan Pakar PSP2A UMM Dr Tutik Sulistyowati MSi menegaskan bahwa akses pendidikan merupakan langkah awal yang tidak bisa ditawar dalam membangun kapasitas perempuan. “Pendidikan dan partisipasi bermakna adalah fondasi paling esensial dalam mewujudkan kesetaraan. Pendidikan merupakan kunci utama untuk membangun kapasitas perempuan, sehingga mereka tidak hanya sekadar hadir, tetapi benar-benar mampu berperan aktif dan memberikan dampak nyata di berbagai sektor kehidupan,” paparnya. Isu tersebut diperdalam oleh Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif Daerah 3T Dr Rita Pranawati SS MA. Ia menyoroti pentingnya pemerataan akses pendidikan hingga wilayah terpencil yang masih menghadapi banyak keterbatasan. “Kita tidak boleh menutup mata terhadap berbagai tantangan di wilayah 3T, mulai dari keterbatasan infrastruktur, kondisi geografis, hingga hambatan sosial budaya yang masih membatasi kesempatan perempuan untuk belajar. Memperluas akses pendidikan bagi perempuan di wilayah terpencil dan tertinggal bukanlah sebuah pilihan, melainkan bagian mutlak dari agenda pembangunan yang inklusif,” tegasnya. Sesi diskusi berlangsung dinamis. Salah satu peserta, Trisakti Handayani, memantik dialog mengenai pengukuran kemajuan kesetaraan gender dalam pendidikan agar selaras dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), termasuk terkait dukungan anggaran pemerintah serta peran masyarakat sipil dalam pengawasan kebijakan. Melalui kolaborasi lintas lembaga ini, PSP2A UMM, PSGA UMJ, dan ASWGI berharap sinergi tidak berhenti pada forum diskusi akademik, tetapi dapat bertransformasi menjadi langkah nyata dalam memperluas akses pendidikan dan memperkuat partisipasi perempuan demi terwujudnya masyarakat yang inklusif, setara, dan berkeadilan. (Faqih/AS)
UMM Buka Jalur Beasiswa Khusus Aktivis OSIS/MPK/IPM

Kampus UMM UMM membuka jalur beasiswa bagi siswa aktif OSIS, MPK, dan IPM, dengan seleksi berbasis rekam jejak kepemimpinan di sekolah. Program ini menyasar calon mahasiswa yang teruji dalam organisasi serta memiliki kemampuan kolaborasi, tanggung jawab, dan inisiatif. Tagar.co — Ada pesan yang ingin ditegaskan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun ini: kepemimpinan bukan sekadar aktivitas tambahan di sekolah, melainkan modal utama masa depan. Melalui skema Beasiswa Jalur Prestasi Non Akademik (Minat dan Bakat), kampus yang dikenal sebagai “Kampus Putih” itu membuka jalur masuk tanpa tes bagi para penggerak organisasi seperti OSIS, MPK, dan IPM. Langkah ini bukan sekadar strategi penerimaan mahasiswa baru. UMM sedang “menjemput bola” — memburu pelajar yang sejak dini telah teruji dalam dinamika organisasi: mengelola program, memimpin tim, hingga mengambil keputusan di bawah tekanan. Mereka inilah yang dinilai memiliki fondasi kuat sebagai calon pemimpin bangsa. Baca Juga: Wisuda Ke-121 UMM di Hari Kartini Tekankan Peran Strategis Perempuan Wakil Rektor II UMM, Ahmad Juanda, menegaskan bahwa jalur ini dirancang khusus untuk mengapresiasi kerja nyata siswa di luar kelas. Menurutnya, pengalaman berorganisasi membentuk karakter yang tidak selalu bisa diukur lewat ujian tulis. “Kami ingin menjaring calon mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, dan kemampuan kolaborasi,” ujarnya, Sabtu (18/4/ 2026). Potongan Biaya hingga 75 Persen Daya tarik utama program ini terletak pada kemudahan akses dan insentif finansial yang signifikan. Penerima beasiswa berhak memperoleh potongan Biaya Studi Semester (BSS) sebesar 50 hingga 75 persen pada semester pertama. Besaran potongan disesuaikan dengan program studi yang dipilih. Program ini terbuka bagi lulusan SMA/sederajat tahun 2024 hingga 2026 — memberi ruang bagi lulusan baru maupun gap year yang tetap aktif dalam kegiatan organisasi selama sekolah. Syarat Terukur, Fokus pada Bukti Kepemimpinan Berbeda dari jalur akademik konvensional, seleksi ini lebih menekankan rekam jejak. Calon pendaftar diwajibkan melampirkan surat tugas atau bukti resmi keaktifan sebagai pengurus organisasi sekolah. Baca Juga: UMM dan Aisyiyah Paciran Perkuat Kemandirian Ekonomi Perempuan Untuk beberapa program studi seperti Biologi, Matematika, dan PGSD, terdapat tambahan syarat berupa surat keterangan tidak buta warna dari dokter—memastikan kesiapan mahasiswa mengikuti proses pembelajaran secara optimal. Dibuka Hingga 25 Juni 2026 Pendaftaran telah dibuka sejak 1 April dan akan berlangsung hingga 25 Juni 2026. Hasil seleksi dapat dipantau secara berkala melalui laman resmi UMM di online.umm.ac.id setelah proses verifikasi berkas selesai dilakukan. Lebih dari sekadar beasiswa, program ini menjadi sinyal kuat bahwa dunia perguruan tinggi mulai memberi tempat lebih besar pada soft skills — khususnya kepemimpinan. Di tengah persaingan global yang semakin kompleks, UMM tampaknya ingin memastikan satu hal: masa depan tidak hanya milik mereka yang pintar di atas kertas, tetapi juga bagi mereka yang terbiasa memimpin sejak muda. “Ini momentum bagi para aktivis sekolah untuk melangkah lebih jauh,” kata Juanda. (#) Penyunting Mohammad Nurfatoni
UMM Ajarkan Cara Perempuan Ambil Peran Nyata di Masyarakat, Tepis Slogan Women Empowerment Sekadar Tren

20 April 2026 | 17.09 WIB Dr. Tutik Sulistyowati, M.Si., selaku Tim Dewan Pakar PSP2A Universitas Muhammadiyah Malang dalam webinar nasional IWD 2026./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Salah satu pakar dari tim Pusat Studi Pemberdayaan Perempuan dan Anak Universitas Muhammadiyah Malang, Tutik Sulistyowati mengungkapkan bagaimana cara perempuan dapat berkontribusi nyata di lingkungan masyarakat. Pembuktian tersebut menjadi upaya untuk menepis tajuk pemberdayaan perempuan (women empowerment) hanya berhenti sebagai tren bukan implementasi nyata dan berkelanjutan. Pernyataan ini disampaikan Tutik dalam webinar nasional bertajuk ‘Give to Gain: Membangun Akses dan Partisipasi Bermakna bagi Perempuan’, pada Kamis, 12 Maret lalu. Webinar ini diselenggarakan dalam momentum International Women’s Day yang kembali dimanfaatkan sebagai ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen untuk memperluas akses dan partisipasi perempuan di berbagai sektor. Mewujudkan hal tersebut, Pusat Studi Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PSP2A) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) serta Asosiasi Studi Wanita dan Gender Indonesia (ASWGI) untuk menggelar webinar ini. Agenda ini mendapat dukungan penuh dari Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik, M.Si., dan dihadiri oleh ratusan akademisi, mahasiswa, peneliti, dan pegiat isu gender dari seluruh Indonesia. Kegiatan ini dibuka oleh Rektor UMJ, Prof. Ma’mun Murod, M.Si., yang menegaskan tanggung jawab perguruan tinggi dalam menghadirkan ruang inklusif. “Kampus harus memberikan kesempatan setara bagi perempuan. Esensi kesetaraan gender adalah memperluas peran perempuan agar memiliki akses setara terhadap sumber daya, pendidikan, hingga pengambilan keputusan,” ujar Ma’mun, yang dikutip dari rilis UMM (15/4). Diskusi utama dalam webinar ini memfokuskan secara tajam pada urgensi pendidikan sebagai instrumen utama pemberdayaan perempuan. Tim Dewan Pakar PSP2A UMM, Dr. Tutik Sulistyowati, M.Si., menegaskan bahwa akses pendidikan adalah langkah awal yang tidak bisa ditawar dalam membangun kapasitas perempuan. “Pendidikan dan partisipasi bermakna adalah fondasi paling esensial dalam mewujudkan kesetaraan. Pendidikan merupakan kunci utama untuk membangun kapasitas perempuan, sehingga mereka tidak hanya sekadar hadir, tetapi benar-benar mampu berperan aktif dan memberikan dampak nyata di berbagai sektor kehidupan,” beber Tutik. Isu tersebut kemudian diperdalam oleh Dr. Rita Pranawati, S.S., M.A., Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Ia menyoroti secara khusus krusialnya realisasi pemerataan akses pendidikan tersebut hingga ke pelosok negeri yang kerap luput dari perhatian. “Kita tidak boleh menutup mata terhadap berbagai tantangan di wilayah 3T, mulai dari keterbatasan infrastruktur, kondisi geografis, hingga hambatan sosial budaya yang masih membatasi kesempatan perempuan untuk belajar. Memperluas akses pendidikan bagi perempuan di wilayah terpencil dan tertinggal bukanlah sebuah pilihan, melainkan bagian mutlak dari agenda pembangunan yang inklusif,” ungkap Rita. Webinar nasional yang dihelat dalam momen International Women’s Day 2026./dok. UMM Sesi diskusi berlangsung sangat dinamis. Salah satu peserta, Trisakti Handayani, memantik dialog komprehensif mengenai bagaimana cara mengukur kemajuan kesetaraan gender dalam pendidikan agar sesuai dengan target Sustainable Development Goals (SDGs). Ia juga menyoroti ketersediaan dukungan anggaran pemerintah serta peran krusial masyarakat sipil dalam mengawasi implementasi kebijakan tersebut di lapangan. Melalui kolaborasi lintas lembaga ini, PSP2A UMM, PSGA UMJ, dan ASWGI berharap sinergi yang terbangun tidak berhenti pada forum diskusi akademik semata. Lebih dari itu, gagasan ini diharapkan mampu bertransformasi menjadi langkah nyata dalam memperluas akses pendidikan dan memperkuat partisipasi perempuan demi mewujudkan bangsa yang inklusif, setara, dan berkeadilan. *** Editor: YAN
Wisuda Ke-121 UMM di Hari Kartini Tekankan Peran Strategis Perempuan

Sidang Senat Terbuka Wisuda Ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang digelar di Hall Dome, 21 April 2026, berlangsung khidmat bertepatan dengan peringatan Hari Kartini. Wisuda Ke-121 UMM bertepatan Hari Kartini menegaskan pentingnya peran strategis perempuan, mendorong lulusan tampil sebagai pemimpin berdaya, adaptif, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa di masa depan. Tagar.co – Momentum Hari Kartini dimaknai secara reflektif dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 21 April 2026. Di tengah prosesi kelulusan yang berlangsung di Hall Dome UMM, muncul penegasan bahwa gelar akademik tidak cukup berhenti sebagai capaian pribadi, tetapi harus berlanjut menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat—terutama dalam mendorong peran strategis perempuan bagi kemajuan bangsa. Isu Menumbuhkan Perempuan Pemimpin untuk Indonesia yang makin Sejahtera menjadi sorotan utama dalam orasi Ira Puspadewi, Ph.D. Ia menegaskan bahwa kemajuan bangsa tidak semata ditentukan oleh faktor geografis, melainkan kualitas institusi dan sumber daya manusia. Dalam paparannya, Ira menyoroti masih rendahnya keterlibatan perempuan pada level kepemimpinan strategis, meskipun berbagai riset menunjukkan bahwa kehadiran perempuan mampu meningkatkan kualitas keputusan dan kinerja organisasi. Kondisi ini, menurutnya, merupakan tantangan serius yang perlu segera direspons oleh kelompok terdidik. “Jika kita ingin Indonesia maju, maka kualitas institusi harus diperbaiki, dan di dalamnya peran perempuan menjadi sangat penting. Wisudawan dan wisudawati hari ini adalah bagian dari kelompok kecil masyarakat terdidik yang memiliki tanggung jawab besar untuk membawa perubahan. Perempuan harus berani meningkatkan kepercayaan diri terhadap kemampuannya, tidak terjebak dalam batasan sosial, serta memiliki role model yang kuat agar mampu tampil sebagai pemimpin,” ujarnya. Ira Puspadewi, Ph.D menyampaikan orasi pada Wisuda Ke-121 UMM, menyoroti pentingnya peran perempuan dalam kepemimpinan strategis dan pembangunan bangsa. Lebih lanjut, perempuan yang merupakan Direktur ASDP periode 2017–2024 tersebut menekankan bahwa tantangan tidak hanya berasal dari struktur sosial, tetapi juga dari persepsi diri perempuan yang kerap meragukan kemampuannya sendiri. Ia juga menyoroti pentingnya dukungan lingkungan, baik keluarga maupun institusi pendidikan, dalam membentuk keberanian perempuan untuk tampil sebagai pemimpin. Menurutnya, keseimbangan antara iman dan kebebasan menjadi fondasi penting agar individu mampu bertahan dan berkembang di tengah tekanan sosial maupun profesional. Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur, Dr. Mukarromah, S.KM., M.Kes., dalam sambutannya mengingatkan bahwa wisuda bukanlah akhir perjalanan, melainkan gerbang awal pengabdian di tengah masyarakat. Ia menekankan pentingnya integrasi antara ilmu, keterampilan, dan nilai kejujuran sebagai bekal menghadapi masa depan. Selain itu, ia juga menegaskan peran perempuan sebagai pilar penting dalam menjaga nilai keagamaan sekaligus mendorong kemajuan bangsa. “Ilmu yang kalian peroleh harus dihidupkan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat, bukan hanya menjadi capaian akademik semata. Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, terutama di era digital, menjadi kunci agar tidak tertinggal. Di sisi lain, adab dan etika harus tetap menjadi landasan utama dalam setiap langkah, karena keberhasilan tidak hanya diukur dari capaian, tetapi juga dari cara mencapainya,” ujarnya. Rektor UMM Nazaruddin Malik menyampaikan sambutan dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Ke-121, menegaskan komitmen kampus mencetak lulusan unggul, adaptif, dan berkarakter di tengah tantangan global. Pandangan tersebut diperkuat oleh Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., yang menegaskan komitmen kampus dalam melahirkan lulusan unggul secara akademik sekaligus berkarakter kuat. Ia menjelaskan bahwa berbagai program pengembangan, termasuk Center of Excellence (CoE), dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan praktis dan adaptif terhadap dinamika global. Pendekatan ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan dunia kerja sekaligus melahirkan inovator dan problem solver di tengah masyarakat. “Universitas Muhammadiyah Malang akan terus kami proyeksikan untuk melahirkan lulusan yang berkualitas karena prosesnya kami jamin, sekaligus membentuk insan dengan karakteristik yang mulia. Kami ingin melahirkan alumni yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara mental, adaptif terhadap perubahan, serta mampu menjadi problem solver di tengah masyarakat,” ujarnya. Di balik khidmatnya prosesi wisuda, tersirat pesan kuat bahwa capaian akademik bukanlah tujuan akhir. Para lulusan kini dihadapkan pada realitas baru, di mana kemampuan, integritas, dan keberanian akan diuji dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, wisuda menjadi lebih dari sekadar penutup perjalanan pendidikan—ia adalah titik awal pembuktian peran nyata dalam mendorong kemajuan bangsa. (*) Penyunting Mohammad Nurfatoni
Memaknai Hari Kartini, Wisuda Ke-121 UMM Optimistis Lahirkan Perempuan yang Berdampak

Sidang Senat Terbuka Wisuda Ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang digelar di Hall Dome, 21 April 2026, berlangsung khidmat bertepatan dengan peringatan Hari Kartini. Wisuda Ke-121 UMM bertepatan Hari Kartini menegaskan pentingnya peran strategis perempuan, mendorong lulusan tampil sebagai pemimpin berdaya, adaptif, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa di masa depan. Tagar.co – Momentum Hari Kartini dimaknai secara reflektif dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 21 April 2026. Di tengah prosesi kelulusan yang berlangsung di Hall Dome UMM, muncul penegasan bahwa gelar akademik tidak cukup berhenti sebagai capaian pribadi, tetapi harus berlanjut menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat—terutama dalam mendorong peran strategis perempuan bagi kemajuan bangsa. Isu Menumbuhkan Perempuan Pemimpin untuk Indonesia yang makin Sejahtera menjadi sorotan utama dalam orasi Ira Puspadewi, Ph.D. Ia menegaskan bahwa kemajuan bangsa tidak semata ditentukan oleh faktor geografis, melainkan kualitas institusi dan sumber daya manusia. Dalam paparannya, Ira menyoroti masih rendahnya keterlibatan perempuan pada level kepemimpinan strategis, meskipun berbagai riset menunjukkan bahwa kehadiran perempuan mampu meningkatkan kualitas keputusan dan kinerja organisasi. Kondisi ini, menurutnya, merupakan tantangan serius yang perlu segera direspons oleh kelompok terdidik. Baca Juga: Perempuan Super Itu Mitos: Kartini Tidak Pernah Mengajarkannya “Jika kita ingin Indonesia maju, maka kualitas institusi harus diperbaiki, dan di dalamnya peran perempuan menjadi sangat penting. Wisudawan dan wisudawati hari ini adalah bagian dari kelompok kecil masyarakat terdidik yang memiliki tanggung jawab besar untuk membawa perubahan. Perempuan harus berani meningkatkan kepercayaan diri terhadap kemampuannya, tidak terjebak dalam batasan sosial, serta memiliki role model yang kuat agar mampu tampil sebagai pemimpin,” ujarnya. Ira Puspadewi, Ph.D menyampaikan orasi pada Wisuda Ke-121 UMM, menyoroti pentingnya peran perempuan dalam kepemimpinan strategis dan pembangunan bangsa. Lebih lanjut, perempuan yang merupakan Direktur ASDP periode 2017–2024 tersebut menekankan bahwa tantangan tidak hanya berasal dari struktur sosial, tetapi juga dari persepsi diri perempuan yang kerap meragukan kemampuannya sendiri. Ia juga menyoroti pentingnya dukungan lingkungan, baik keluarga maupun institusi pendidikan, dalam membentuk keberanian perempuan untuk tampil sebagai pemimpin. Menurutnya, keseimbangan antara iman dan kebebasan menjadi fondasi penting agar individu mampu bertahan dan berkembang di tengah tekanan sosial maupun profesional. Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur, Dr. Mukarromah, S.KM., M.Kes., dalam sambutannya mengingatkan bahwa wisuda bukanlah akhir perjalanan, melainkan gerbang awal pengabdian di tengah masyarakat. Ia menekankan pentingnya integrasi antara ilmu, keterampilan, dan nilai kejujuran sebagai bekal menghadapi masa depan. Selain itu, ia juga menegaskan peran perempuan sebagai pilar penting dalam menjaga nilai keagamaan sekaligus mendorong kemajuan bangsa. Baca Juga: Dari “Pupur, Dapur, Sumur” ke Ruang Karya, Smamdela Rayakan Kartini lewat Pasar PON “Ilmu yang kalian peroleh harus dihidupkan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat, bukan hanya menjadi capaian akademik semata. Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, terutama di era digital, menjadi kunci agar tidak tertinggal. Di sisi lain, adab dan etika harus tetap menjadi landasan utama dalam setiap langkah, karena keberhasilan tidak hanya diukur dari capaian, tetapi juga dari cara mencapainya,” ujarnya. Rektor UMM Nazaruddin Malik menyampaikan sambutan dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Ke-121, menegaskan komitmen kampus mencetak lulusan unggul, adaptif, dan berkarakter di tengah tantangan global. Pandangan tersebut diperkuat oleh Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., yang menegaskan komitmen kampus dalam melahirkan lulusan unggul secara akademik sekaligus berkarakter kuat. Ia menjelaskan bahwa berbagai program pengembangan, termasuk Center of Excellence (CoE), dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan praktis dan adaptif terhadap dinamika global. Pendekatan ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan dunia kerja sekaligus melahirkan inovator dan problem solver di tengah masyarakat. “Universitas Muhammadiyah Malang akan terus kami proyeksikan untuk melahirkan lulusan yang berkualitas karena prosesnya kami jamin, sekaligus membentuk insan dengan karakteristik yang mulia. Kami ingin melahirkan alumni yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara mental, adaptif terhadap perubahan, serta mampu menjadi problem solver di tengah masyarakat,” ujarnya. Di balik khidmatnya prosesi wisuda, tersirat pesan kuat bahwa capaian akademik bukanlah tujuan akhir. Para lulusan kini dihadapkan pada realitas baru, di mana kemampuan, integritas, dan keberanian akan diuji dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, wisuda menjadi lebih dari sekadar penutup perjalanan pendidikan—ia adalah titik awal pembuktian peran nyata dalam mendorong kemajuan bangsa. (*)
Inovasi Mahasiswa UMM: Mesin Pengering Hemat Biaya untuk Tingkatkan Produksi UMKM Mie Kering

Malang, WISATA – Kendala cuaca yang tidak menentu serta mahalnya biaya operasional oven listrik masih menjadi persoalan klasik bagi pelaku UMKM, khususnya produsen mie kering. Proses pengeringan yang memakan waktu lama dan ketergantungan pada kondisi lingkungan sering kali menghambat produktivitas usaha. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan solusi inovatif berupa mesin pengering berbasis gas bernama Gas Heated Air Circulation Dryer. Inovasi ini digagas oleh tim mahasiswa Program Studi Teknik Industri yang dipimpin oleh Hanum Salsabila Djirimu bersama rekan-rekannya. Ide tersebut lahir dari hasil pengamatan langsung di lapangan, ketika mereka mendapati pelaku UMKM masih menggunakan oven listrik berkapasitas kecil dengan waktu pengeringan yang bisa mencapai lebih dari tiga jam. Kondisi ini dinilai tidak efisien dan berdampak pada rendahnya kapasitas produksi. Berbeda dari metode konvensional, mesin pengering ini memanfaatkan sumber panas dari gas yang dikombinasikan dengan sistem sirkulasi udara modern. Di dalam alat tersebut terdapat blower yang berfungsi menyebarkan panas secara merata ke seluruh ruang pengering. Dengan demikian, proses pengeringan menjadi lebih cepat dan hasilnya lebih konsisten. Tak hanya itu, alat ini juga dilengkapi sensor suhu otomatis dan timer yang membantu menjaga kestabilan suhu selama proses berlangsung. Keunggulan lainnya terletak pada aspek efisiensi biaya. Penggunaan bahan bakar gas dinilai lebih ekonomis dibandingkan listrik maupun panel surya yang membutuhkan investasi awal besar. Dengan biaya pembuatan prototipe sekitar tiga juta rupiah, mesin ini dinilai sangat terjangkau bagi pelaku usaha kecil. Efisiensi ini diharapkan mampu membantu UMKM menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan daya saing mereka di pasar. Dosen pembimbing tim, Adhi Nugraha, turut mengapresiasi hasil karya mahasiswa tersebut. Menurutnya, inovasi ini mencerminkan kemampuan mahasiswa dalam mengaplikasikan ilmu teknik secara nyata untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Ia juga menekankan bahwa keberhasilan ini tidak hanya dilihat dari sisi teknologi, tetapi juga dari pertimbangan aspek ekonomi yang membuat alat ini relevan untuk digunakan oleh pelaku UMKM. Lebih jauh, inovasi ini menunjukkan peran aktif dunia akademik dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis masyarakat. Mesin pengering ini diharapkan tidak berhenti pada tahap prototipe, tetapi dapat segera diproduksi secara massal agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas. Dengan hadirnya Gas Heated Air Circulation Dryer, para pelaku UMKM, khususnya produsen mie kering, kini memiliki alternatif teknologi yang lebih praktis, hemat biaya, dan tidak lagi bergantung pada cuaca. Inovasi ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara ilmu pengetahuan dan kepekaan sosial mampu melahirkan solusi nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat.
UMM Siapkan Zona KHAS, 25 Tenant Kuliner Ditarget Tersertifikasi Halal dan Higienis

MAKLUMAT — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat identitasnya sebagai kampus Islami. Salah satunya melalui inisiasi Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS). Program ini tak sekadar menempelkan label halal. UMM menggabungkan standar syariat dengan prinsip kesehatan pangan modern. Ketua Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS-P3H) UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP., menegaskan, Zona KHAS dirancang untuk memberi jaminan menyeluruh. “Bukan hanya halal, tapi juga higienis dan bergizi. Kami ingin pengunjung merasa tenang saat mengonsumsi makanan di lingkungan kampus,” ujar Elfi Anis Saati seperti dilansir laman UMM, Sabtu (18/4/2026). Langkah konkret dilakukan lewat Focus Group Discussion (FGD) Zona KHAS yang digelar Rabu (15/4). Kegiatan tersebut melibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang sebagai mitra. Tiga Kantin Jadi Percontohan Program ini disiapkan sebagai agenda jangka panjang. Hal itu disampaikan Prof. Dr. Ir. Warkoyo, MP., IPM., saat membuka FGD. Persiapan sudah berlangsung sekitar delapan bulan. Selama periode tersebut, UMM menggelar workshop bagi pelaku UMKM kantin. Selain itu, pendampingan sertifikasi halal juga diberikan untuk tiga dapur hotel milik kampus. Pada tahap awal, ada tiga titik yang menjadi pilot project. Yakni kantin Fakultas Teknik di GKB III, Kantin Asri, dan kantin Rumah Sakit UMM. Ke depan, program ini akan diperluas ke area GKB I hingga kawasan wisata Sengkaling. Target 25 Tenant Tersertifikasi Ketua program, Dr. Ir. Asmah Hidayati, M.P., IPM., menjelaskan, dalam waktu dekat pihaknya akan menggelar pelatihan Sertifikasi Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Selain itu, pengawasan kualitas pangan juga diperketat. Mulai dari pengecekan air hingga uji sampel makanan untuk memastikan tidak mengandung bahan berbahaya seperti boraks dan formalin. “Target awal sekitar 25 tenant kuliner di area prioritas bisa tersertifikasi,” jelasnya. Jika berjalan sesuai rencana, Zona KHAS UMM akan diluncurkan secara resmi oleh Gubernur Jawa Timur dalam dua hingga empat bulan mendatang.***
Jaring Pemimpin Muda, UMM Buka Beasiswa OSIS Tanpa Tes Masuk

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang kembali membuka peluang bagi pelajar berprestasi melalui program Beasiswa Jalur Prestasi Non Akademik (Minat dan Bakat). Program ini secara khusus menyasar siswa aktif organisasi seperti OSIS, MPK, dan IPM, dengan keunggulan utama berupa tanpa tes masuk.Program ini menjadi langkah strategis UMM dalam menjaring calon pemimpin muda yang telah memiliki pengalaman kepemimpinan sejak di bangku sekolah. Kampus yang dikenal sebagai “Kampus Putih” ini ingin memberikan ruang bagi talenta non-akademik untuk berkembang di pendidikan tinggi. Salah satu daya tarik utama program ini adalah keringanan biaya pendidikan. Penerima beasiswa akan mendapatkan potongan Biaya Studi Semester (BSS) pada semester pertama sebesar 50% hingga 75%, tergantung program studi yang dipilih. Wakil Rektor II UMM, Ahmad Juanda, menjelaskan bahwa jalur ini dirancang khusus bagi siswa yang memiliki rekam jejak kepemimpinan di sekolah. “Melalui potongan biaya studi ini, kami berharap dapat menjaring dan mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh sebagai pionir pemimpin bangsa di masa depan,” ujarnya. Program beasiswa ini terbuka bagi lulusan SMA/sederajat tahun 2024 hingga 2026. Untuk mengikuti seleksi, calon mahasiswa diwajibkan melampirkan surat tugas atau bukti keaktifan sebagai pengurus organisasi dari sekolah. Selain itu, beberapa program studi seperti Biologi, Matematika, dan PGSD mensyaratkan surat keterangan dokter yang menyatakan tidak buta warna. Pendaftaran Beasiswa Jalur Prestasi ini telah dibuka sejak 1 April dan akan ditutup pada 25 Juni 2026. Calon pendaftar dapat memantau hasil seleksi secara berkala melalui laman resmi UMM setelah proses verifikasi berkas selesai dilakukan. “Mari bersama-sama mencetak sejarah baru dan menjadi pemimpin masa depan yang tangguh serta berdaya saing global melalui UMM,” tutup Juanda. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
Vape Dilarang, Akademisi UMM: Solusi Final Atau Bom Waktu

MALANG POST – Wacana pemerintah untuk melarang peredaran rokok elektrik atau vape, kini menuai polemik yang tajam. Di satu sisi, langkah represif ini diklaim otoritas kesehatan sebagai tameng pelindung masyarakat, terutama untuk membendung tren penggunaan di kalangan remaja. Namun, kebijakan sapu bersih ini justru memicu sebuah pertanyaan fundamental. Apakah pelarangan mutlak ini benar-benar akan menjadi solusi final, atau sekadar bom waktu yang memindahkan krisis ke ruang gelap tak teregulasi sekaligus mematikan urat nadi perekonomian rakyat kecil? Wacana pengetatan produk tembakau alternatif ini sejatinya didorong kekhawatiran atas minimnya payung hukum dan dampak kesehatan. Sayangnya, rencana tersebut dinilai masih terlalu prematur. Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. R. Iqbal Robbie, M.M., membedah isu kontroversial ini secara kritis dari kacamata ekonomi. Ia memperingatkan, kebijakan pelarangan tidak bisa dieksekusi dengan kacamata kuda, sebab ada ancaman konsekuensi finansial masif yang mengintai. Target pertama yang akan hancur lebur adalah pelaku usaha ritel yang napas operasionalnya bergantung penuh pada perputaran omzet harian. Ia menjelaskan bahwa tanpa masa transisi dan peta jalan regulasi pemerintah yang jelas, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak akan memiliki ruang untuk beradaptasi secara strategis. “Dampaknya bukan lagi sekadar grafik penjualan yang menukik, melainkan berpotensi memicu hilangnya sumber penghidupan pelaku usaha kecil yang selama ini menggantungkan hidupnya di sektor vape,” Lebih jauh, pakar manajemen ini menyoroti ancaman efek domino yang tampaknya luput dari kalkulasi otoritas. Tekanan pelarangan ini bukan cuma menghantam etalase toko ritel di hilir, melainkan bakal meluluhlantakkan seluruh ekosistem rantai pasok industri di hulu. Mulai dari pekerja peracik cairan (liquid), hingga produsen perangkat alat hisap (device), semuanya akan merasakan guncangan struktural yang sama. “Sistem industri ini hidup layaknya sebuah mesin. Ketika satu roda gigi dipaksa berhenti berputar, maka komponen lain dalam rantai tersebut akan ikut rontok.” “Industri ini memiliki jaring keterhubungan yang kuat, sehingga daya rusak dari pelarangan ini pasti meluas tak terkendali,” paparnya. Masalah lain yang tak kalah pelik adalah asimetri informasi. Iqbal menilai, selama ini publik dijejali narasi ketakutan yang cenderung satu arah. Minimnya edukasi komprehensif membuat vape selalu diposisikan sebagai musuh tunggal tanpa melihat aspek pengurangan bahayanya. “Masyarakat sangat perlu mendapatkan penjelasan yang lebih utuh dan objektif, bukan sekadar pelarangan buta, agar tidak terbentuk persepsi keliru di ruang publik,” urainya. Dari perspektif bisnis, larangan mutlak justru memicu anomali pasar. Para pelaku usaha secara naluriah akan mencari celah (loopholes) demi bertahan hidup. Termasuk bermanuver mengalihkan inovasi ke produk-produk modifikasi yang belum tersentuh radar regulasi. Pada akhirnya, sebuah kebijakan publik tidak seharusnya mengambil keputusan krusial secara sepihak dan arogan. “Apapun format kebijakannya, ruang dialog lintas sektoral untuk membicarakan hal ini adalah syarat mutlak. Dengan perumusan bersama, solusi yang dilahirkan tidak akan berpihak pada satu kubu saja, melainkan mampu mengakomodasi berbagai kepentingan yang lebih luas,” tutupnya. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
UMM Buka Beasiswa Jalur OSIS Tanpa Tes

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuka pintu selebar-lebarnya bagi para pelajar berprestasi untuk meraih impian di bangku perguruan tinggi. Memberikan panggung bagi talenta kepemimpinan, kampus putih secara resmi membuka Beasiswa Jalur Prestasi Non Akademik (Minat dan Bakat) yang secara khusus menyasar para pemimpin muda di tingkat sekolah. Program unggulan ini ditujukan bagi para pelajar yang memiliki rekam jejak aktif sebagai pengurus organisasi, mencakup OSIS, MPK, maupun IPM. Menariknya, penerimaan melalui jalur beasiswa prestasi ini memungkinkan calon mahasiswa untuk masuk UMM tanpa harus melalui tahapan tes. Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menjelaskan Jalur prestasi ini disediakan secara khusus bagi calon mahasiswa yang telah membuktikan dedikasinya sebagai pengurus organisasi di tingkat sekolah. UMM sangat menghargai jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, dan kemampuan kolaborasi yang diasah melalui keaktifan di OSIS. “Melalui potongan biaya studi ini, kami berharap dapat menjaring dan mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh sebagai pionir pemimpin bangsa di masa depan.” jelasnya Keuntungan yang ditawarkan melalui skema beasiswa ini sangat meringankan biaya pendidikan awal. Para penerima beasiswa berhak mendapatkan benefit berupa potongan Biaya Studi Semester (BSS) pada semester pertama dengan besaran mulai dari 50 persen hingga 75 persen. Besaran persentase potongan ini nantinya akan disesuaikan dengan program studi yang dipilih oleh calon mahasiswa. Kesempatan emas ini diperuntukkan bagi lulusan SMA/sederajat dari rentang kelulusan tahun 2024 hingga 2026. Bagi pendaftar yang ingin mengikuti seleksi ini, syarat administratif yang ditetapkan cukup terukur. Calon mahasiswa wajib membuktikan keaktifannya dengan melampirkan Surat Tugas kepengurusan organisasi dari sekolah. Beberapa program studi spesifik seperti Biologi, Matematika, dan PGSD juga mensyaratkan adanya Surat Keterangan Dokter tidak buta warna. Beasiswa Jalur Prestasi ini dibuka pada 1 April hingga ditutup pada 25 Juni 2026. Calon mahasiswa dapat memantau hasil pengumuman kelulusan seleksi secara berkala melalui laman resmi online.umm.ac.id setelah tim seleksi selesai melakukan proses validasi berkas. “Mari bersama-sama mencetak sejarah baru dan menjadi pemimpin masa depan yang tangguh serta berdaya saing global melalui Universitas Muhammadiyah Malang,” tutup Juanda.(imm/udi)