UMM Siap Cetak Generasi Petani Modern dengan Teknologi

pwmu.co – Isu kedaulatan pangan menjadi tantangan global yang semakin mendesak di tengah perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, dan meningkatnya kebutuhan pangan dunia. Menjawab tantangan tersebut, Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang menggelar International Guest Lecture bertajuk “Achieving Food Sovereignty through the Integration of Smart and Sustainable Agricultural Technologies” pada Rabu (8/4/2026).Kegiatan ini menghadirkan dua akademisi dari Shandong Agricultural University, yakni Zhang Chao, Ph.D., dan Xiaoyun Wang, Ph.D. Dalam pemaparannya, Zhang Chao menegaskan bahwa transformasi sektor pertanian tidak bisa dilepaskan dari pemanfaatan teknologi cerdas. China telah mengembangkan sistem pertanian modern melalui integrasi Beidou Navigation, Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), serta platform smart cloud. “Sistem kami mampu menghubungkan sensor, drone, dan jaringan digital dalam satu ekosistem terpadu. Kehadiran AI dan sistem otomatis menjadi kunci dalam menciptakan pertanian presisi,” jelasnya. Menurutnya, teknologi ini menjadi solusi strategis dalam menghadapi krisis iklim sekaligus meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan sektor pertanian. Sementara itu, Xiaoyun Wang memaparkan keberhasilan China dalam mengembangkan teknologi pertanian, khususnya pada sektor hortikultura. Pemanfaatan protected agriculture seperti greenhouse terbukti mampu: Memperpanjang masa tanam Menstabilkan produksi Meningkatkan kualitas hasil panen “Kami berharap teknologi ini dapat diadaptasi di Indonesia untuk mendorong produksi sekaligus pertumbuhan ekonomi,” ujarnya. Namun, ia juga menekankan pentingnya penyesuaian teknologi dengan kondisi lokal Indonesia, seperti curah hujan tinggi dan karakteristik tanah tropis. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menegaskan bahwa mahasiswa harus siap menghadapi dunia tanpa batas. “The world is getting borderless. Batas geografis bukan lagi penghalang. Persiapkan diri untuk bersaing di tingkat internasional,” pesannya. Ia menambahkan bahwa sektor pangan, teknologi, dan energi akan menjadi kunci masa depan. Melalui forum internasional ini, UMM berupaya memperkuat kapasitas mahasiswa sekaligus memperluas jejaring global. Melalui integrasi teknologi modern dan penguatan sumber daya manusia, UMM optimistis kedaulatan pangan dapat diwujudkan secara nyata. Sinergi antara inovasi teknologi dan pendidikan tinggi diharapkan mampu mencetak generasi petani modern yang adaptif, produktif, dan berdaya saing global. *) Penulis : Humas Universitas Muhammadiyah Malang | Editor : Satria
Matahari Homecare UMM, Solusi Kesehatan Humanis dan Terjangkau

MALANG POST– Tidak semua pasien mampu datang ke rumah sakit. Keterbatasan mobilitas, kondisi penyakit, hingga faktor ekonomi kerap menjadi penghalang masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang layak. Padahal, kebutuhan perawatan tidak bisa menunggu. Menjawab persoalan tersebut, Matahari Homecare hadir sebagai layanan kesehatan berbasis kunjungan rumah. Ini sebuah pendekatan yang membawa perawatan langsung ke tempat tinggal pasien. Sekaligus membantu mereka tetap nyaman menjalani pemulihan. Matahari Homecare merupakan layanan perawatan kesehatan di rumah yang dirancang untuk meningkatkan, mempertahankan, maupun memulihkan kondisi kesehatan pasien. Lebih dari itu, layanan ini juga berfokus pada upaya mendorong kemandirian pasien di lingkungan tempat tinggalnya. Sebagai bagian dari pendekatan kesehatan yang komprehensif, program ini ditujukan bagi individu maupun keluarga yang membutuhkan perawatan jangka panjang tanpa harus meninggalkan rumah. Bagi banyak pasien, kehadiran tenaga kesehatan di rumah bukan sekadar solusi layanan. Melainkan juga bentuk dukungan yang lebih manusiawi dan sesuai kondisi nyata. Program Matahari Homecare merupakan hasil kolaborasi antara Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) dan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sinergi lintas fakultas ini menghadirkan layanan kesehatan berbasis keilmuan yang berdampak langsung kepada masyarakat. Tak hanya itu, Matahari Homecare juga menggandeng Rumah Zakat untuk memperluas jangkauan pelayanan kepada masyarakat yang memiliki keterbatasan ekonomi. Kerja sama ini memungkinkan pasien kurang mampu tetap memperoleh layanan kesehatan yang layak, tanpa terbebani biaya besar. Salah satu layanan unggulan dalam program ini adalah fisioterapi bagi pasien yang membutuhkan rehabilitasi fisik. Seperti pasien pascastroke, gangguan mobilitas, maupun kondisi lain yang memerlukan terapi berkelanjutan. Pelayanan dilakukan langsung di rumah pasien, sehingga proses rehabilitasi dapat berlangsung lebih nyaman, konsisten, dan efektif. Dengan begitu, terapi tidak hanya menjadi rangkaian tindakan medis, tetapi juga bagian dari perjalanan pemulihan yang lebih utuh. PIC Matahari Homecare, Rakhmad Rosadi, SST.Ft., Ftr., M.Sc.PT., Ph.D.(PT), menjelaskan program ini hadir sebagai komitmen memperluas akses layanan kesehatan bagi masyarakat. “Melalui Matahari Homecare, kami berupaya mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat. Tidak semua pasien memiliki kemampuan untuk datang langsung ke fasilitas kesehatan, baik karena keterbatasan mobilitas, kondisi penyakit, maupun faktor ekonomi. Dengan pelayanan di rumah, pasien tetap bisa mendapatkan layanan kesehatan secara optimal,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi dengan Rumah Zakat merupakan langkah strategis untuk memperluas jangkauan layanan. “Kolaborasi ini memungkinkan kami memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat yang kurang mampu. Matahari Homecare tidak hanya bergerak dalam layanan kesehatan, tetapi juga membawa misi kemanusiaan agar masyarakat mendapatkan perawatan yang layak,” tambahnya. Melalui pendekatan layanan kesehatan berbasis rumah yang humanis dan komprehensif, Matahari Homecare diharapkan menjadi solusi bagi masyarakat yang membutuhkan akses kesehatan lebih mudah dijangkau. Program ini sekaligus menegaskan bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga pada nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
WFH Bisa Hemat BBM? Begini Analisa Dua Pakar dari Malang

Malang (beritajatim.com) – Wacana penerapan kembali kebijakan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan sektor swasta sebagai solusi menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) memicu perdebatan. Meski terlihat solutif, dua pakar dari universitas ternama di Malang sepakat menilai kebijakan ini tidak efektif jika tidak dibarengi dengan sistem pengawasan yang kuat dan perbaikan infrastruktur transportasi. Pakar Kebijakan Publik dari Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB), Andhyka Muttaqin S.AP., M.PA., menegaskan bahwa WFH sebenarnya tidak memberikan dampak signifikan terhadap penghematan BBM secara nasional. Menurutnya, kebijakan ini lebih banyak berdampak pada efisiensi internal instansi, bukan pada cadangan energi negara. “Kebijakan WFH ini memang akan diterapkan untuk ASN, meskipun belum merata. Namun untuk penghematan BBM, ini tidak signifikan. Kebijakan ini justru lebih ke arah penghematan energi lain seperti listrik atau internet di kantor dan efisiensi anggaran,” ujar Andhyka Jumat, (10/4/2026). Andhyka menilai pemerintah seharusnya menyentuh akar permasalahan dengan memperketat kuota penggunaan BBM dan memperbaiki transportasi publik agar masyarakat secara sukarela beralih dari kendaraan pribadi. Ia juga khawatir jika WFH dilakukan di hari-hari tertentu, seperti hari Rabu atau Jumat, justru akan disalahgunakan untuk libur panjang (long weekend) yang berpotensi menurunkan kualitas pelayanan publik. Senada dengan hal tersebut, Pakar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Vina Salviana Darvina Soedarwo, M.Si., memperingatkan adanya fenomena Work From Anywhere (WFA). Jika pekerja tidak tetap tinggal di rumah, maka konsumsi BBM tetap akan tinggi. “Yang dikhawatirkan justru ketika orang yang mestinya WFH berubah jadi WFA. Mereka tetap menggunakan kendaraan bermotor untuk pergi ke kafe atau tempat lain, sehingga tujuan efisiensi energi tidak maksimal,” jelas Prof. Vina. Selain itu, ia menyoroti adanya pergeseran beban ekonomi. Saat WFH, biaya listrik dan internet yang semula ditanggung perusahaan atau negara kini berpindah menjadi beban rumah tangga pekerja. Hal ini dianggap bisa memberatkan kelompok pekerja berpenghasilan rendah jika tidak ada kompensasi yang adil. Kedua pakar sepakat bahwa jika WFH tetap ingin diterapkan, pemerintah harus membangun sistem yang komprehensif, bukan kebijakan yang bersifat parsial. Andhyka menyarankan adanya pengawasan ketat melalui teknologi, seperti absensi berbasis titik koordinat (geofencing) untuk memastikan pegawai tetap berada di rumah. Ia juga menegaskan bahwa WFH tidak boleh menyentuh sektor-sektor krusial. “Kebijakan ini tidak boleh diterapkan pada sektor kesehatan, pendidikan, dan layanan langsung kepada masyarakat,” tegasnya. Di sisi lain, Prof. Vina mengingatkan potensi kecemburuan sosial antara pekerja kantoran dan pekerja lapangan. Menurutnya, pemerintah perlu hadir dengan paket kebijakan yang lebih lengkap, termasuk bantuan atau subsidi bagi mereka yang terdampak secara ekonomi. “Jika tidak dirancang dengan adil dan komprehensif, kebijakan WFH ini justru berisiko melahirkan persoalan sosial baru di tengah masyarakat,” tutupnya. (dan/ian)
Harga Plastik Meroket, Pakar Ekonomi UMM Dorong UMKM Terapkan Budaya Ramah Lingkungan

KLIKMU.CO – Lonjakan harga kemasan plastik hingga 100 persen akibat dampak memanasnya konflik geopolitik global kini mulai menekan operasional Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner di Malang. Kenaikan ini turut dipicu meningkatnya harga bahan baku plastik serta naiknya harga minyak mentah dunia. Menghadapi kondisi tersebut, Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) M Sri Wahyudi Suliswanto SE ME PhD mendesak adanya langkah strategis dari dua arah. UMKM didorong menjadikan situasi ini sebagai momentum untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, sementara pemerintah diminta mencari alternatif pemasok bahan baku dari negara non-konflik. Di lapangan, tren kenaikan harga ini telah menjadi “biaya siluman” yang perlahan menggerus margin keuntungan pedagang kecil. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM tersebut menyoroti posisi UMKM kuliner sebagai sektor yang paling rentan karena ketergantungan pada wadah makanan, gelas minuman, dan kantong plastik. Biaya produksi yang meningkat tajam membuat pelaku usaha berada dalam dilema. Jika harga jual dinaikkan, risiko kehilangan pelanggan menjadi besar di tengah daya beli masyarakat yang masih lemah. Namun jika harga dipertahankan, keberlangsungan usaha terancam. Wahyudi menilai krisis ini membuka fakta lemahnya kemandirian industri dalam negeri. “Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika gejolak geopolitik mengganggu distribusi global dan memicu lonjakan harga minyak mentah, harga domestik ikut tertekan,” ujarnya, Rabu (8/4/2026). Kondisi ini semakin diperburuk oleh rantai distribusi yang panjang. Namun di sisi lain, ia melihat peluang perubahan perilaku konsumsi masyarakat sebagai solusi jangka panjang. “Ini saat yang tepat untuk mengurangi kebiasaan penggunaan plastik,” katanya. Ia menyarankan UMKM menerapkan strategi diferensiasi harga, yakni memberikan harga lebih murah bagi konsumen yang membawa wadah sendiri. Strategi ini dinilai tidak hanya membantu menjaga keberlangsungan usaha, tetapi juga mendorong budaya ramah lingkungan. Meski demikian, Wahyudi menegaskan bahwa beban ini tidak bisa ditanggung pelaku usaha saja. Pemerintah diminta hadir melalui kebijakan stabilisasi harga dan intervensi pasar karena dampaknya meluas ke berbagai sektor industri. “Pemerintah tidak boleh tutup mata. Harus ada intervensi untuk menjaga stabilitas harga plastik,” tegasnya. Ia juga mendorong pemerintah untuk memfasilitasi pencarian pemasok bahan baku dari negara yang lebih stabil secara geopolitik. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen diharapkan tidak hanya menyelamatkan UMKM, tetapi juga menjadi momentum perubahan menuju pola konsumsi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. (Faqih/AS)
Dosen UMM Sholahuddin Al Fatih Raih Pengakuan Akademisi Terbaik Dunia

koranmanado – Seorang pengajar dari Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM), Sholahuddin Al Fatih, berhasil menorehkan prestasi gemilang di tingkat internasional. Namanya kini tercatat dalam daftar 100 Akademisi Terbaik Dunia untuk bidang Ilmu Sosial yang dirilis oleh measuresHE. Pencapaian bergengsi ini menempatkan Fatih sejajar dengan para peneliti terkemuka dari berbagai perguruan tinggi prestisius dunia, termasuk Oxford University di Inggris dan Deakin University di Australia, sebagaimana dilansir dari Edukasi. Berbeda dari metode pemeringkatan institusi pada umumnya, measuresHE menggunakan pendekatan spesifik untuk menilai rekam jejak individu peneliti. Proses penilaian dilakukan secara objektif tanpa melibatkan skema langganan berbayar. Fatih menjelaskan bahwa pemeringkatan ini menerapkan tiga indikator metrik ketat dalam menentukan siapa saja yang layak disebut sebagai pilar intelektual sejati. Indikator-indikator tersebut dirancang untuk mengukur kualitas dan dampak riset seorang akademisi. Tiga indikator utama yang digunakan meliputi Research Gravitas, yang berfungsi mengukur kedalaman intelektual karya; Olympic Mean, untuk menyaring konsistensi mutu karya yang dihasilkan; serta Interaction Credit, sebagai bentuk apresiasi atas kolaborasi substantif yang dilakukan. Seluruh data yang diperlukan untuk penilaian dilacak secara murni melalui profil akademik yang telah terverifikasi di platform-platform seperti Scopus dan Web of Science. Dampak Riset dan Konsistensi Karya Fatih, yang menempati peringkat ke-91 dalam daftar ini, mengungkapkan apresiasinya terhadap metode yang diterapkan measuresHE. Ia menilai platform tersebut mampu mengkurasi kedalaman substansi tulisan para nominator tanpa terpengaruh oleh label nama besar atau reputasi institusi. Baginya, untuk bisa menembus jajaran elit akademisi tingkat dunia, bukan sekadar memperbanyak jumlah publikasi. Namun, hal itu lebih merupakan pembuktian kedalaman dan dampak nyata dari sebuah karya keilmuan yang dihasilkan. “Pengakuan ini memvalidasi upaya pengejaran riset yang menawarkan wawasan mendalam dan berdampak, bukan sekadar mengejar jumlah publikasi, tepatnya saya menempati peringkat ke-91,” tegas Fatih, dikutip dari laman UMM pada Jumat (10/4/2026). Sepanjang kariernya, ia telah berhasil menerbitkan sekitar 60 artikel yang terindeks Scopus, 5 artikel dalam Web of Science Core Collection, serta ratusan karya lain yang terdaftar di Google Scholar. Isu-isu yang diangkat dalam riset-risetnya konsisten bersinggungan langsung dengan masyarakat. Topik tersebut mencakup teknologi, dinamika media sosial, dan perkembangan hukum di tengah disrupsi zaman. “Kami harus menjembatani bagaimana hukum itu lebih aplikatif dan lebih banyak diterapkan. Tidak hanya berkutat di ranah konsep, tapi juga bagaimana implementasi nyatanya di masyarakat,” jelasnya Salah satu bukti nyata dari risetnya yang berdampak adalah karya unggulannya yang lahir pada masa pandemi 2021. Riset tersebut mengkaji ekspresi masyarakat di media sosial beserta konsekuensi hukum yang menyertainya. Meski topiknya dekat dengan keseharian, riset ini memiliki kekuatan besar dalam menganalisis bagaimana ruang digital dapat memicu tekanan psikologis dan bahkan menjerat individu dalam masalah hukum. Riset tersebut sekaligus menegaskan pentingnya hukum hadir secara praktis, tidak hanya berhenti pada tataran teori. Dukungan Universitas dan Motivasi Kontribusi Fatih melalui berbagai risetnya dirasakan di dua sisi, yaitu memperkaya diskursus akademik dan memberikan sudut pandang solutif dalam praktik lapangan. Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan ekosistem riset yang disediakan oleh UMM. Universitas Muhammadiyah Malang telah menyediakan fasilitas mumpuni, mulai dari akses ke jurnal primer, fasilitas internet yang memadai, hingga insentif untuk publikasi. Fatih berharap capaiannya ini dapat semakin mengharumkan nama UMM di kancah internasional. Selain itu, ia juga berharap prestasi ini dapat memotivasi rekan sejawat serta para mahasiswa untuk terus berkarya. Fatih membagikan rahasia suksesnya, yakni dengan merawat konsistensi ide melalui rutinitas mencatat kerangka pemikiran setiap hari.
Mahasiswa UMM Borong 3 Penghargaan Internasional Lewat Aplikasi NutriTrack MBG

pwmu.co – Inovasi mahasiswa kembali mengharumkan nama Indonesia di kancah global. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang, Muhammad Daffa Azmi, sukses meraih tiga penghargaan internasional melalui inovasi aplikasi NutriTrack MBG.Bersama timnya, Daffa meraih penghargaan dalam ajang International Youth Innovation Summit #20 Chapter Malaysia–Singapore yang digelar pada 23–26 Februari 2026. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kerap menghadapi berbagai kendala di lapangan, seperti keterlambatan distribusi hingga kasus keracunan makanan. Melihat kondisi tersebut, Daffa mengembangkan NutriTrack MBG—aplikasi digital yang dirancang untuk: Memantau kualitas makanan Menjamin keamanan pangan Mencatat distribusi secara real-time “Program MBG ini sangat baik, tapi di lapangan masih ada masalah seperti keterlambatan distribusi hingga makanan yang tidak layak konsumsi,” jelas Daffa. Aplikasi NutriTrack MBG menawarkan sistem pemantauan terintegrasi yang dapat diakses oleh berbagai pihak, mulai dari siswa, orang tua, hingga pengelola program. Fitur unggulan meliputi: Transparansi kandungan gizi (kalori, protein, dll) Pelacakan distribusi makanan secara real-time Monitoring kualitas dan keamanan pangan Sistem ini memungkinkan pengawasan yang lebih transparan, akurat, dan akuntabel. Berkat inovasi tersebut, tim Daffa berhasil meraih tiga kategori bergengsi: First Best Innovation Project Second Best Presentation Project Best Team Kompetisi ini menantang peserta untuk menghadirkan solusi konkret yang selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Bagi Daffa, pencapaian ini menjadi pengalaman berharga sekaligus bukti bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional. “Ini pertama kalinya saya ke luar negeri bukan untuk jalan-jalan, tapi untuk belajar,” ujarnya. Ia juga berpesan kepada generasi muda untuk berani mencoba hal baru. “Jangan takut bermimpi besar. Kalau tidak mencoba, kita tidak akan tahu hasilnya,” pungkasnya. *) Penulis : Humas Universitas Muhammadiyah Malang | Editor : Satria
Dosen UMM Masuk Top 100 Akademisi Terbaik Dunia

KLIKMU.CO – Menembus jajaran elit akademisi tingkat dunia bukan sekadar perkara memperbanyak publikasi, melainkan pembuktian kedalaman dan dampak nyata sebuah karya keilmuan. Prinsip inilah yang mengantarkan Dr Sholahuddin Al Fatih MH, Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menempati daftar 100 Akademisi Terbaik Dunia bidang Ilmu Sosial versi measuresHE. Capaian prestisius ini menempatkannya sejajar dengan deretan peneliti top dari kampus bergengsi mancanegara seperti Oxford University (Inggris) hingga Deakin University (Australia). Berbeda dengan ajang pemeringkatan institusi pada umumnya, measuresHE secara spesifik menilai rekam jejak individu peneliti di kancah global secara objektif tanpa skema berbayar. Fatih menjelaskan, pemeringkatan ini menggunakan tiga indikator utama, yakni Research Gravitas, Olympic Mean, dan Interaction Credit yang dilacak dari profil akademik terverifikasi seperti Scopus dan Web of Science. “Pengakuan ini memvalidasi upaya pengejaran riset yang menawarkan wawasan mendalam dan berdampak, bukan sekadar mengejar jumlah publikasi. Saya menempati peringkat 91,” ujarnya, Rabu (8/4/2026). Bukti nyata prinsip riset berdampak itu tercermin dari salah satu karyanya pada masa pandemi 2021 yang membahas ekspresi masyarakat di media sosial beserta konsekuensi hukumnya. Kajian tersebut menegaskan pentingnya kehadiran hukum secara praktis di tengah dinamika ruang digital. Sepanjang karier akademiknya, Fatih telah menelurkan sekitar 60 artikel terindeks Scopus, lima artikel di Web of Science Core Collection, dan ratusan karya di Google Scholar. Ia konsisten mengangkat isu teknologi, media sosial, dan dinamika hukum di tengah disrupsi zaman. “Kami harus menjembatani bagaimana hukum itu lebih aplikatif dan lebih banyak diterapkan, tidak hanya di ranah konsep,” ujarnya. Keberhasilan riset tersebut tidak lepas dari dukungan ekosistem Universitas Muhammadiyah Malang sebagai Kampus Putih yang menyediakan akses jurnal, fasilitas riset, hingga insentif publikasi. Fatih berharap capaian ini dapat semakin mengharumkan nama UMM di tingkat global sekaligus memotivasi dosen dan mahasiswa untuk terus berkarya. “Riset itu harus berdampak. Jadi mulai saja, jangan takut ditolak, dan teruslah maju,” pesannya. (Faqih/AS)
Gejolak Geopolitik Picu Lonjakan Harga Kemasan, UMKM Didorong Setop Plastik Sekali Pakai

Halopedeka.com – Memanasnya konflik geopolitik global yang memicu kenaikan harga minyak mentah dunia berdampak signifikan terhadap industri plastik dalam negeri. Harga kemasan plastik dilaporkan melonjak hingga 100%, sebuah kondisi yang kini mencekik operasional pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya di sektor kuliner. Menanggapi fenomena tersebut, Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Sri Wahyudi Suliswanto, menyatakan bahwa situasi darurat ini harus dijadikan momentum bagi UMKM untuk memutus ketergantungan pada plastik sekali pakai. Menurutnya, UMKM perlu segera beradaptasi dengan memberikan insentif bagi konsumen yang mendukung gerakan ramah lingkungan. “UMKM kuliner sebagai sektor yang paling rentan akibat ketergantungan absolut mereka pada wadah makanan, gelas minuman, dan tas kresek,” ujar Wahyudi pada Kamis (9/4/2026). Dilema Harga dan Daya Beli Dekan FEB UMM ini menjelaskan bahwa pembengkakan biaya produksi menempatkan pelaku usaha pada posisi sulit. Jika harga produk dinaikkan, ada risiko kehilangan pelanggan di tengah daya beli masyarakat yang masih lesu. Sebaliknya, jika harga dipertahankan, margin keuntungan yang tergerus dapat mengancam keberlangsungan usaha. Wahyudi menilai krisis ini menjadi cermin rapuhnya kemandirian industri nasional yang selama ini terlalu bergantung pada pasokan luar negeri. “Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika gejolak geopolitik mengganggu jalur distribusi internasional dan memicu lonjakan harga minyak mentah, harga domestik langsung tercekik,” tegasnya. Strategi Diferensiasi Harga Sebagai solusi praktis, Wahyudi menyarankan UMKM menerapkan strategi diferensiasi harga. Konsumen yang membawa wadah sendiri dari rumah berhak mendapatkan potongan harga atau harga yang lebih murah. Strategi ini dianggap efektif untuk menyelamatkan finansial UMKM sekaligus membangun budaya pro-lingkungan secara jangka panjang. “Ini adalah saat yang paling tepat untuk memukul mundur kebiasaan penggunaan plastik,” tambahnya. Tuntutan Intervensi Pemerintah Meski UMKM didorong untuk berinovasi, Wahyudi menegaskan bahwa beban ini tidak bisa dipikul sendirian oleh pelaku usaha. Mengingat plastik adalah komponen masif di berbagai sektor mulai dari manufaktur hingga otomotif, kehadiran negara sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas. Ia mendesak pemerintah untuk segera mencari penyuplai bahan baku alternatif dari negara-negara non-konflik guna menjamin ketersediaan stok dengan harga terjangkau. “Pemerintah tidak boleh tutup mata melihat penderitaan UMKM. Harus ada intervensi tegas mengamankan stabilitas harga plastik di pasaran karena daya rusaknya sangat luas,” pungkasnya. Melalui kolaborasi antara kebijakan pemerintah yang taktis, adaptasi pelaku UMKM, dan perubahan perilaku konsumen, krisis ini diharapkan menjadi titik balik bagi Indonesia untuk lepas dari ketergantungan limbah plastik.
Dosen UMM Sholahuddin Al Fatih Masuk Jajaran 100 Akademisi Terbaik Dunia

readers.id – Sholahuddin Al Fatih, seorang dosen dari Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM), berhasil mencatatkan prestasi membanggakan di kancah global. Namanya tercantum dalam daftar 100 Akademisi Terbaik Dunia di bidang Ilmu Sosial menurut pemeringkatan measuresHE, sebuah pencapaian yang menempatkannya sejajar dengan peneliti dari institusi bergengsi seperti Oxford University, Inggris, hingga Deakin University, Australia, dilansir dari Edukasi. Pemeringkatan measuresHE memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan penilaian institusi pada umumnya. Mereka secara objektif mengevaluasi rekam jejak individu peneliti tanpa melibatkan skema langganan berbayar. Penilaian ini berfokus pada kualitas dan dampak karya akademik. Fatih menjelaskan bahwa measuresHE menggunakan tiga indikator metrik yang ketat untuk mengidentifikasi akademisi sebagai pilar intelektual sejati. Indikator-indikator tersebut adalah Research Gravitas, yang mengukur kedalaman intelektual suatu penelitian, Olympic Mean untuk menyaring konsistensi kualitas karya ilmiah, serta Interaction Credit sebagai bentuk apresiasi terhadap kolaborasi yang substantif. Data yang digunakan dalam penilaian ini dilacak secara murni melalui profil akademik terverifikasi seperti Scopus dan Web of Science. Fatih mengapresiasi metode yang diterapkan measuresHE, yang dinilainya mampu mengkurasi kedalaman substansi tulisan para nominator tanpa memandang reputasi atau nama besar. Prinsip Riset Berdampak Bagi Fatih, mencapai jajaran elit akademisi dunia bukan sekadar soal memperbanyak publikasi. Ia berpegang pada prinsip bahwa yang terpenting adalah pembuktian kedalaman serta dampak nyata dari sebuah karya keilmuan terhadap masyarakat. “Pengakuan ini memvalidasi upaya pengejaran riset yang menawarkan wawasan mendalam dan berdampak, bukan sekadar mengejar jumlah publikasi, tepatnya saya menempati peringkat ke-91,” ujar Fatih, mengutip laman UMM pada Jumat (10/4/2026). Sepanjang kariernya, Sholahuddin Al Fatih telah menghasilkan sekitar 60 artikel yang terindeks Scopus, 5 artikel di Web of Science Core Collection, serta ratusan karya lain di Google Scholar. Isu-isu yang diangkatnya secara konsisten berkaitan langsung dengan masyarakat, seperti teknologi, media sosial, dan dinamika hukum di tengah disrupsi zaman. “Kami harus menjembatani bagaimana hukum itu lebih aplikatif dan lebih banyak diterapkan. Tidak hanya berkutat di ranah konsep, tapi juga bagaimana implementasi nyatanya di masyarakat,” jelasnya. Salah satu bukti nyata dari risetnya yang berdampak adalah karyanya yang lahir saat pandemi 2021. Riset tersebut membedah ekspresi masyarakat di media sosial serta konsekuensi hukum yang menyertainya. Meskipun topiknya dekat dengan kehidupan sehari-hari, penelitian ini memiliki kekuatan besar dalam mengkaji bagaimana ruang digital memicu tekanan psikologis hingga jeratan hukum. Riset itu sekaligus menegaskan bahwa hukum harus hadir secara praktis, tidak hanya berhenti di tataran teori. Dukungan Universitas dan Motivasi Keberhasilan Fatih tidak lepas dari dukungan ekosistem riset yang disediakan oleh UMM. Kampus ini memberikan fasilitas yang mumpuni, mulai dari akses jurnal primer, fasilitas internet, hingga insentif publikasi. Fatih berharap, pencapaian ini dapat semakin mengharumkan nama UMM di kancah internasional dan memotivasi rekan sejawat serta para mahasiswa.
Inovasi NutriTrack MBG, Mahasiswa UMM Sabet Tiga Penghargaan Internasional

Aplikasi pemantau kualitas dan distribusi makanan bergizi karya mahasiswa UMM ini sukses mencuri perhatian dunia dalam ajang International Youth Innovation Summit di Malaysia–Singapura. Tagar.co – Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Muhammad Daffa Azmi, bersama timnya berhasil meraih tiga penghargaan dalam ajang International Youth Innovation Summit (IYIS) #20 Chapter Malaysia–Singapore pada 23–26 Februari 2026 melalui inovasi aplikasi NutriTrack MBG, sistem pemantauan kualitas dan distribusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemuda asal Banjarbaru tersebut memborong tiga kategori bergengsi, yakni First Best Innovation Project, Second Best Presentation Project, serta Best Team. Kompetisi tingkat internasional ini menantang peserta untuk menghadirkan solusi konkret atas berbagai persoalan global yang selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Baca juga: Program CoE UMM Dorong Mahasiswa Siap Kerja di Industri Sawit Daffa menjelaskan bahwa ide NutriTrack MBG lahir dari evaluasi pelaksanaan program MBG di Indonesia yang masih menghadapi sejumlah kendala, seperti keterlambatan distribusi, makanan yang tidak layak konsumsi, hingga kasus keracunan. Baca Juga: Paradoks Keberagamaan: Ibadah Ramai, Moral Sosial Melemah “Program MBG ini merupakan langkah pemerintah untuk memberikan gizi terbaik bagi anak-anak. Namun, di lapangan masih ditemukan beberapa permasalahan seperti keracunan, keterlambatan distribusi, hingga makanan yang dilaporkan berbau tidak sedap,” jelasnya, dikutip dari siaran pers Humas UMM yang diterima Tagar.co, Jumat (10/4/26). NutriTrack MBG dirancang sebagai sistem pemantauan terintegrasi yang dapat diakses oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari siswa, orang tua, pemasok bahan pangan, hingga pengelola program. Aplikasi ini menghadirkan transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan MBG. Keunggulan utama aplikasi ini meliputi fitur transparansi informasi gizi yang memungkinkan pengguna mengetahui kandungan nutrisi makanan, seperti jumlah kalori dan protein. Selain itu, fitur pelacakan distribusi secara real-time memastikan ketepatan waktu pengiriman makanan hingga sampai ke tangan siswa. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa mahasiswa UMM mampu bersaing di tingkat global. Bagi Daffa, pengalaman tersebut memberikan perspektif baru sekaligus menjadi ajang pembelajaran yang berharga. “Ini pertama kalinya saya ke luar negeri bukan untuk jalan-jalan, tetapi untuk belajar dan mencari pengalaman,” tuturnya. Baca Juga: Prof. Chun-Yen Chang: AI Bisa Gerus Daya Pikir Kritis, Guru Tetap Kunci Pendidikan Melalui pencapaiannya, Daffa juga menyampaikan pesan inspiratif kepada generasi muda agar berani keluar dari zona nyaman dan tidak takut mencoba hal baru. “Jika kita tidak mencoba, kita tidak akan pernah tahu hasilnya. Jangan pernah takut untuk bermimpi besar,” ujarnya. (*)