UMM Beri Beasiswa dan Pengakuan Prestasi bagi Mahasiswa Aktivis

readers.id – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengambil langkah maju untuk menghapus pandangan negatif yang kerap melekat pada aktivis kampus. Kebanyakan orang sering menganggap bahwa keterlibatan dalam organisasi hanya akan menghabiskan waktu dan menunda kelulusan mahasiswa. Perguruan tinggi yang dikenal sebagai Kampus Putih ini berencana memberikan apresiasi kepada mahasiswa yang aktif berorganisasi melalui skema beasiswa khusus. Selain itu, kiprah mereka juga akan diakui sebagai bentuk prestasi mahasiswa. Rencana strategis ini muncul dalam acara Dialektika Kampus Putih yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMM. Acara tersebut berlangsung di Convention Hall Sengkaling Kuliner pada Sabtu, 4 April 2026, seperti dilansir dari Edukasi. Forum yang awalnya diadakan sebagai ajang silaturahmi setelah Idul Fitri ini, kemudian berubah menjadi wadah penyampaian kabar baik bagi ratusan fungsionaris organisasi mahasiswa (Ormawa) yang hadir. Wakil Rektor III UMM, Nur Subeki, menyampaikan komitmen universitas untuk mengubah pandangan terhadap aktivis. Menurutnya, kontribusi mahasiswa yang aktif di BEM, Senat, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), merupakan aset penting bagi reputasi universitas. “Kami sedang mematangkan mekanisme beasiswa khusus bagi mahasiswa aktivis. Kami ingin mereka tidak hanya cakap dalam berorganisasi, tetapi juga merasa didukung secara finansial dan akademis oleh kampus,” ujar Subeki, yang juga dikutip dari laman UMM pada Selasa, 7 April 2026. Subeki menambahkan, ke depannya, keaktifan mahasiswa ini akan dikategorikan sebagai prestasi. Dia percaya bahwa partisipasi aktif dalam organisasi merupakan pencapaian yang luar biasa. Selain dukungan finansial, UMM juga berkomitmen menyediakan fasilitas pendampingan. Pihak kampus akan mendampingi setiap inisiatif mahasiswa, termasuk dalam Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa), dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan di lapangan. Respons Positif dari Mahasiswa dan Pengurus Organisasi Presiden Mahasiswa UMM, Wahyuddin Fahrurrijal, menyambut baik kebijakan baru ini. Ia melihat langkah universitas sebagai solusi atas dilema yang sering dihadapi mahasiswa, yaitu tantangan dalam menyeimbangkan antara biaya kuliah, tuntutan akademik, dan tanggung jawab organisasi. “Ini adalah langkah strategis. Selama satu periode ini, kami di BEM berusaha menjalankan program yang benar-benar menyentuh kebutuhan mahasiswa,” tutur Wahyuddin. Dengan adanya beasiswa bagi para pengurus ormawa, Wahyuddin optimistis bahwa minat mahasiswa untuk berorganisasi akan meningkat signifikan. Menurutnya, berorganisasi merupakan bentuk pengembangan soft skill yang tidak didapatkan di dalam kelas. Senada dengan Wahyuddin, perwakilan UKM, Siti Aminah, mengungkapkan rasa leganya terhadap kebijakan ini. Ia merasa bahwa peran aktivis yang selama ini sering dianggap bekerja di balik layar akhirnya mendapatkan apresiasi yang setara. “Selama ini kami sering merasa ‘pejuang di balik layar’ yang kurang terlihat. Dengan adanya kategori mahasiswa berprestasi bagi aktivis, kami merasa dihargai. Ini membuktikan UMM melihat prestasi secara luas, tidak hanya soal angka di KHS (Kartu Hasil Studi),” ungkap Siti. Melalui dukungan beasiswa dan pengakuan resmi ini, para aktivis UMM diharapkan tidak hanya lulus sebagai sarjana secara akademik. Lebih dari itu, mereka diharapkan dapat tumbuh menjadi pemimpin masa depan yang memiliki kemandirian serta integritas yang tinggi.

pwmu.co – Di tengah eskalasi konflik geopolitik global yang memicu fluktuasi harga minyak dunia, Indonesia dihadapkan pada ancaman serius berupa jebakan krisis energi. Tekanan inflasi serta pelemahan nilai tukar rupiah menempatkan pemerintah dalam posisi dilematis antara menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan stabilitas fiskal.Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang, Fitri Rusdianasari, menyebut kondisi ini sebagai jebakan krisis energi—situasi di mana setiap kebijakan publik yang diambil memiliki risiko ekonomi yang sama besar. “Dalam kebijakan publik, kita tidak bisa memaksimalkan dua tujuan sekaligus. Menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas fiskal sering kali menjadi trade-off,” ujarnya, Selasa (7/4). Fitri menjelaskan bahwa krisis energi memicu efek domino yang luas. Kenaikan harga energi sebagai komponen utama produksi akan mendorong kenaikan harga barang dan jasa, sehingga memicu inflasi yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat, khususnya kelompok rentan. Untuk meredam gejolak tersebut, pemerintah umumnya mengandalkan subsidi energi. Namun, kebijakan ini dinilai hanya efektif dalam jangka pendek. “Subsidi memang bisa menjadi tameng sementara. Tetapi jika tidak dikelola dengan presisi, subsidi dalam skala besar bisa menjadi beban fiskal serius bahkan memicu lonjakan utang,” jelasnya. Menurut Fitri, pencabutan subsidi secara drastis bukanlah solusi, karena berpotensi menimbulkan guncangan ekonomi di tingkat masyarakat bawah. Jalan tengah yang paling rasional adalah melakukan transformasi kebijakan subsidi. Subsidi berbasis komoditas perlu dialihkan menjadi subsidi langsung yang lebih tepat sasaran, sehingga perlindungan sosial tetap berjalan tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Lebih lanjut, Fitri menilai Indonesia sebenarnya sudah berada dalam fase awal jebakan krisis energi. Meski saat ini masih ditopang oleh bantalan fiskal (fiscal buffer), kondisi tersebut tidak bisa diandalkan dalam jangka panjang. “Kita masih punya buffer, tetapi ada batasnya. Diperlukan langkah strategis, termasuk percepatan transisi menuju energi baru terbarukan agar tidak terus bergantung pada energi fosil,” ungkapnya. Selain aspek kebijakan ekonomi, Fitri juga menyoroti pentingnya komunikasi publik pemerintah dalam menghadapi krisis. Ia menilai informasi yang tidak jelas dapat memicu kepanikan di masyarakat. “Komunikasi publik yang transparan dan satu pintu sangat penting. Jika masyarakat memahami kebijakan pemerintah, maka panic buying dan kelangkaan semu bisa dicegah,” pungkasnya. *) Penulis : Humas Universitas Muhammadiyah Malang | Editor : Satria

Jalur Mahasiswa UMM Bawa Portofolio Eksklusif dari CoE Kelapa Sawit, Jalur Cepat Bangun Karir

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Melampaui batasan teori di bangku kuliah, Novan Adhi Ramadhan kini mampu terjun langsung menangani operasional industri kelapa sawit berskala besar. Transformasi nyata dari yang awalnya ‘belum bisa’ menjadi ‘kompeten’ ini adalah wujud nyata komitmen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai kampus inovasi mandiri dan berdampak. Melalui program Center of Excellence (CoE) Kelapa Sawit, UMM mendobrak kebiasaan lama dengan menerjunkan mahasiswa ke jantung industri sejak masa kuliah. Novan, mahasiswa Program Studi Teknik Industri UMM, adalah bukti nyata dari efektivitas pendekatan ini. Sebelum mengikuti program bergengsi tersebut pada semester lima, ia mengaku pemahamannya terkait dunia industri sangat terbatas pada buku teks dan simulasi di dalam kelas. Ia merasa masih meraba-raba dan belum siap untuk menghadapi kompleksitas operasional pabrik yang sebenarnya. Namun, semuanya berubah drastis setelah ia dinyatakan lolos seleksi ketat CoE dan diberangkatkan untuk menjalani program magang profesional di PT Eagle High Plantations Tbk, sebuah perusahaan pengolahan kelapa sawit berskala nasional. Di sana, ia mengalami lonjakan kompetensi yang sangat signifikan. “Awalnya tentu kaget dengan ritme kerja industri yang jauh lebih cepat, di bawah tekanan tinggi, dan sangat dinamis dibandingkan lingkungan kampus. Sempat merasa tidak bisa mengikuti alurnya karena semuanya murni praktik lapangan. Namun, justru di titik itulah proses belajar yang sesungguhnya terjadi. Dari yang awalnya hanya tahu teori sistem produksi secara konseptual, saya akhirnya dituntut dan berhasil mengerti secara langsung bagaimana alur pengolahan bahan baku sesungguhnya, proses pengendalian kualitas mutu secara presisi, hingga merumuskan evaluasi efisiensi kerja langsung di lapangan,” ungkap Novan menceritakan pengalaman transformatifnya 6 April lalu pada Tim Humas UMM. Keberhasilan Novan melesat dari fase ‘tidak bisa’ menjadi sosok yang ‘kompeten’ ini tidak lepas dari ekosistem program CoE yang dirancang penuh dengan berbagai keuntungan (benefit) bagi mahasiswanya. Dari sisi efisiensi akademik, program unggulan ini menawarkan keuntungan konversi SKS secara utuh. Artinya, seluruh aktivitas magang di industri tersebut diakui sebagai pembelajaran formal, sehingga mahasiswa tidak akan rugi waktu kuliah. Lebih dari itu, permasalahan nyata yang diselesaikan Novan di lapangan langsung menjadi bekal data dan topik studi kasus yang sangat kuat untuk menyusun tugas akhir. Mahasiswa juga secara otomatis mendapatkan keuntungan berupa perluasan jaringan (networking) profesional yang eksklusif serta portofolio kerja dengan nilai jual tinggi. Transformasi keahlian dan kematangan mental mahasiswa inilah yang menjadi target utama dari UMM. Baiq Firyal Salsabila Safitri, S.T., M.Sc., selaku dosen penanggung jawab (PIC) CoE Kelapa Sawit UMM, menyatakan bahwa kurikulum kampus memang harus ditopang dengan kolaborasi praktis agar lulusan tidak gagap saat memasuki dunia kerja. “Kehadiran CoE Kelapa Sawit ini adalah wujud komitmen tegas UMM dalam melahirkan lulusan yang berkompetensi unggul dan relevan dengan kebutuhan nyata Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Kami memastikan setiap mahasiswa yang dicetak melalui program ini bukan sekadar sarjana biasa, melainkan talenta-talenta tangguh yang siap tarung, mudah beradaptasi, dan siap memberikan kontribusi nyata bagi industri sejak hari pertama mereka bekerja,” pungkas Firyal.(*)

Program CoE UMM Dorong Mahasiswa Siap Kerja di Industri Sawit

Program CoE Kelapa Sawit Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendorong mahasiswa terjun langsung ke industri, mengasah keterampilan praktis, sekaligus membangun portofolio dan jejaring profesional sejak masa kuliah. Tagar.co – Melampaui batasan teori di bangku kuliah, Novan Adhi Ramadhan kini mampu terjun langsung menangani operasional industri kelapa sawit berskala besar. Transformasi dari yang semula “belum bisa” menjadi “kompeten” ini menjadi bukti nyata komitmen Universitas Muhammadiyah Malang sebagai kampus inovatif, mandiri, dan berdampak. Baca juga: UMM Meluncurkan Identitas Baru sebagai Kampus Islami Melalui program Center of Excellence (CoE) Kelapa Sawit, UMM menghadirkan pendekatan pembelajaran yang progresif dengan menempatkan mahasiswa langsung di jantung industri sejak masih kuliah. Novan, mahasiswa Program Studi Teknik Industri UMM, menjadi salah satu contoh keberhasilan program tersebut. Sebelum mengikuti CoE pada semester lima, ia mengaku pemahamannya tentang dunia industri masih terbatas pada teori dan simulasi di kelas. Ia merasa belum siap menghadapi kompleksitas operasional di dunia kerja yang sesungguhnya. Perubahan besar terjadi ketika ia lolos seleksi ketat program CoE dan menjalani magang profesional di PT Eagle High Plantations Tbk. Di perusahaan pengolahan kelapa sawit berskala nasional itu, Novan mengalami peningkatan kompetensi yang signifikan. Baca Juga:  Desa Digital, UMKM Wiyurejo Makin Dikenal “Awalnya saya kaget dengan ritme kerja industri yang cepat, penuh tekanan, dan sangat dinamis dibandingkan suasana kampus. Sempat merasa tertinggal karena semuanya berbasis praktik lapangan. Namun justru di situlah proses belajar yang sebenarnya terjadi. Dari hanya memahami teori sistem produksi, saya akhirnya bisa melihat langsung alur pengolahan bahan baku, pengendalian mutu secara presisi, hingga evaluasi efisiensi kerja di lapangan,” ujar Novan saat diwawancarai 6 April 2026. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari ekosistem CoE yang dirancang komprehensif dan aplikatif. Program ini memberikan berbagai keuntungan bagi mahasiswa, salah satunya konversi Satuan Kredit Semester (SKS) secara penuh. Dengan demikian, seluruh aktivitas magang diakui sebagai bagian dari pembelajaran formal tanpa menghambat masa studi. Selain itu, pengalaman menyelesaikan permasalahan nyata di industri menjadi bekal berharga untuk penyusunan tugas akhir berbasis studi kasus. Mahasiswa juga memperoleh akses jaringan profesional yang luas serta portofolio kerja yang memiliki nilai jual tinggi di dunia kerja. Dosen Penanggung Jawab CoE Kelapa Sawit UMM, Baiq Firyal Salsabila Safitri, menegaskan bahwa kolaborasi antara akademik dan praktik industri menjadi kunci utama dalam menyiapkan lulusan yang siap kerja. Baca Juga:  Kenangan bersama Mas Mirdasy, Kematian Hadiah bagi Orang Beriman “Kehadiran CoE Kelapa Sawit merupakan bentuk komitmen UMM dalam mencetak lulusan yang unggul dan relevan dengan kebutuhan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Kami ingin mahasiswa tidak hanya menjadi sarjana, tetapi juga talenta tangguh yang adaptif, kompeten, dan siap berkontribusi sejak hari pertama bekerja,” ujarnya. Melalui program ini, UMM terus menunjukkan perannya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga menghadirkan pengalaman nyata sebagai jembatan menuju dunia profesional. (#)

Akademisi UMM Ingatkan RI Masuk Jebakan Krisis Energi dan Soroti Komunikasi Publik Pemerintah

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Fitri Rusdianasari, S.E., M.Si., memperingatkan bahwa Indonesia sedang masuk jebakan krisis energi dan menyoroti komunikasi publik dari pemerintah saat situasi ini terjadi. Akademisi UMM ini membagikan pendapatnya tentang eskalasi konflik geopolitik global yang memicu fluktuasi harga minyak mentah dunia, yang turut memengaruhi Indonesia. Eskalasi konflik ini membuat Indonesia kembali dihadapkan pada ancaman nyata, yakni jebakan krisis energi. Tekanan inflasi yang mengintai serta tren pelemahan nilai tukar rupiah menempatkan pemerintah dalam posisi trade-off yang dilematis. Pada satu sisi, negara wajib memproteksi daya beli masyarakat kelas bawah yang makin tercekik, namun di sisi lain, kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus dijaga agar tidak jebol akibat bengkaknya beban subsidi. Fitri Rusdianasari menyebut fenomena ini sebagai ‘jebakan krisis energi’, yakni sebuah kondisi pelik di mana setiap opsi kebijakan publik yang diambil sama-sama membawa risiko ekonomi yang besar. “Dalam kebijakan publik, kita tidak bisa memaksimalkan dua tujuan secara bersamaan. Menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan stabilitas fiskal adalah dua hal yang seringkali saling bertolak belakang atau menjadi sebuah trade-off,” ungkap Fitri kepada Tim Humas UMM (7/4) yang diterima JSN, Rabu (8/4). Fitri memaparkan, krisis energi selalu memicu efek domino yang sistemik. Kenaikan harga energi sebagai komponen vital akan langsung memukul sektor produksi. Ini otomatis mengerek harga barang dan jasa (inflasi), yang pada ujungnya memukul telak daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan. Agar dapat meredam gejolak ini, pemerintah kerap menenggak ‘obat pereda nyeri’ berupa kucuran subsidi energi. Meski ampuh menahan gejolak sosial dalam jangka pendek, Fitri memperingatkan bahaya laten dari kebijakan populis tersebut jika tidak dikalibrasi ulang. “Subsidi memang bisa menjadi tameng daya beli sesaat. Tetapi, jika tidak dikelola dengan presisi, subsidi dalam skala masif akan menjadi bom waktu yang membebani fiskal, bahkan memicu lonjakan utang negara,” jelasnya. Apa solusinya? Mencabut subsidi secara drastis dan menyerahkannya pada mekanisme pasar jelas bukan pilihan bijak karena akan memicu shock ekonomi di level akar rumput. Menurut Fitri, jalan tengah yang paling rasional adalah mengelola keseimbangan. Transformasi dari subsidi berbasis komoditas menjadi subsidi langsung yang tepat sasaran mutlak diperlukan, agar jaring pengaman sosial tetap berfungsi tanpa membuat APBN berdarah-darah. Lebih jauh, pakar ekonomi ini menilai Indonesia sejatinya sudah menginjakkan kaki di jebakan krisis tersebut. Beruntung, Indonesia saat ini masih tertolong oleh bantalan fiskal (fiscal buffer) untuk menahan rambatan harga global. Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tidak terlena. “Kita memang masih punya buffer, tetapi itu ada batasnya dan tidak bisa diandalkan terus-menerus. Harus ada langkah strategis dan reformasi struktural, terutama percepatan transisi menuju energi baru terbarukan (EBT), agar kita tidak terus terjebak dalam lingkaran setan ketergantungan fosil ini,” lanjutnya. Krisis energi akibat gejolak konflik global dapat menjebak Indonesia dalam kebijakan nasional yang sulit./dok. Istimewa Fitri juga menyoroti satu aspek krusial yang kerap luput dalam penanganan krisis yaitu manajemen komunikasi publik pemerintah. Kebijakan sebaik apa pun berpotensi memicu kekacauan jika dibumbui informasi yang simpang siur. “Komunikasi publik yang jernih, transparan, dan satu pintu sangat vital. Publik yang teredukasi dan memahami arah kebijakan pemerintah tidak akan mudah panik, sehingga fenomena kelangkaan semu akibat panic buying bisa dicegah sedini mungkin,” tandas Fitri. Seperti yang diketahui saat ini, terjadi ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat sejak 28 Februari 2026. Letusan konflik ini kemudian memicu keputusan Iran untuk menutup Selat Hormuz yang merupakan salah satu jantung peredaran 20 persen minyak dan gas dunia. Imbasnya, Indonesia juga dibayangi oleh potensi krisis energi akibat konflik geopolitik antara Iran dengan AS dan Israel ini. Inilah yang membuat salah satu pakar dari UMM, yakni Fitri Rusdianasari turut buka suara sembari berharap situasi ini dapat segera berakhir dan Indonesia keluar dari ancaman krisis energi. ***

CoE Kelapa Sawit UMM Permudah Mahasiswa Terjun ke Dunia Industri

KLIKMU.CO — Melampaui batasan teori di bangku kuliah, Novan Adhi Ramadhan kini mampu terjun langsung menangani operasional industri kelapa sawit berskala besar. Transformasi dari yang awalnya belum bisa menjadi kompeten ini menjadi wujud nyata komitmen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai kampus inovasi yang mandiri dan berdampak. Melalui program Center of Excellence (CoE) Kelapa Sawit, UMM mendobrak pola pembelajaran konvensional dengan menerjunkan mahasiswa langsung ke dunia industri sejak masa kuliah. Novan, mahasiswa Program Studi Teknik Industri UMM, menjadi salah satu bukti keberhasilan program tersebut. Sebelum mengikuti CoE pada semester lima, ia mengaku pemahamannya tentang dunia industri masih terbatas pada teori dan simulasi di kelas. Ia merasa belum siap menghadapi kompleksitas operasional di lapangan. Namun, semuanya berubah setelah ia lolos seleksi dan menjalani program magang profesional di PT Eagle High Plantations Tbk, perusahaan pengolahan kelapa sawit berskala nasional. Di sana, ia mengalami peningkatan kompetensi yang signifikan. “Awalnya kaget dengan ritme kerja industri yang jauh lebih cepat, penuh tekanan, dan dinamis dibandingkan kampus. Sempat merasa kesulitan mengikuti alurnya karena semuanya berbasis praktik. Namun, di situlah proses belajar yang sebenarnya terjadi. Dari yang awalnya hanya memahami teori sistem produksi, saya akhirnya bisa melihat langsung alur pengolahan bahan baku, pengendalian kualitas, hingga evaluasi efisiensi kerja di lapangan,” ungkap Novan, Senin (6/4/2026). Keberhasilan tersebut tidak lepas dari ekosistem program CoE yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar komprehensif. Salah satu keunggulannya adalah konversi SKS secara penuh, sehingga aktivitas magang diakui sebagai bagian dari pembelajaran formal tanpa menghambat masa studi mahasiswa. Selain itu, pengalaman di lapangan juga menjadi bekal penting dalam penyusunan tugas akhir. Permasalahan nyata yang dihadapi mahasiswa dapat dikembangkan menjadi studi kasus yang relevan dan aplikatif. Tak hanya itu, mahasiswa juga memperoleh jejaring profesional serta portofolio kerja yang memiliki nilai tambah di dunia kerja. Dosen penanggung jawab (PIC) CoE Kelapa Sawit UMM, Baiq Firyal Salsabila Safitri ST M Sc, menegaskan bahwa kolaborasi antara kampus dan industri menjadi kunci dalam menyiapkan lulusan yang siap kerja. “Kehadiran CoE Kelapa Sawit ini merupakan komitmen UMM dalam melahirkan lulusan yang kompeten dan relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Kami ingin mahasiswa tidak hanya menjadi sarjana, tetapi juga talenta yang siap beradaptasi dan berkontribusi sejak awal mereka memasuki dunia kerja,” ujarnya. Melalui program ini, UMM terus memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga praktik nyata yang berdampak langsung bagi mahasiswa dan dunia industri. (Faqih/AS)

FKIP UMM Tawarkan Kesempatan Mengajar Lintas Negara dan Beasiswa Internasional

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang melalui Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) terus memperkuat komitmen internasionalisasi pendidikan. Hal ini diwujudkan melalui gelaran Open House Internasional yang berlangsung pada Selasa (7/4/2026). Kegiatan ini diikuti oleh siswa SMA dari berbagai sekolah mitra di Malang, serta dihadiri siswa internasional dari Attarkiah Islamiah Institute, Narathiwat, Thailand. Kehadiran mereka menjadi simbol kuatnya kolaborasi lintas negara yang dibangun FKIP UMM. Acara disambut langsung oleh jajaran pimpinan FKIP, di antaranya Dekan Moh. Mahfud Effendi, Wakil Dekan I Husama, dan Wakil Dekan II Faizin, bersama pimpinan program studi. Dalam sambutannya, Dekan FKIP menegaskan bahwa jejaring internasional yang dimiliki bukan sekadar formalitas, melainkan memberikan dampak nyata bagi mahasiswa, terutama dalam penguatan kompetensi global. “FKIP UMM menawarkan kegiatan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) di berbagai negara, salah satunya Thailand. Program ini telah berjalan lama dan terbukti sukses dalam bidang pendidikan maupun pengabdian,” ungkapnya. Program PLP Internasional menjadi salah satu keunggulan FKIP UMM. Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman mengajar langsung di luar negeri. Hal ini menjadi bekal penting dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan global. Selain membuka peluang pengalaman global, FKIP UMM juga menghadirkan berbagai skema beasiswa bagi mahasiswa internasional. Koordinator Program Mobilitas Internasional di International Relations Office (IRO) UMM, Very Kurnia Aditama, memaparkan sejumlah program unggulan. Beberapa beasiswa yang ditawarkan antara lain: Kemitraan Negara Berkembang (KNB) Scholarship The Indonesian Aid Scholarship (TIAS) Non-Aligned Movement (NAM) Scholarship Selain itu, UMM juga menyediakan beasiswa mandiri, yaitu UMM SUMMIT Scholarship. “Beasiswa UMM SUMMIT terbagi dalam dua kategori. Kategori A mencakup pembebasan biaya kuliah, biaya hidup, dan program BIPA. Sementara kategori B mencakup pembebasan biaya kuliah dan program BIPA,” jelasnya. Kegiatan open house dikemas secara interaktif melalui sesi diskusi, presentasi program studi, hingga campus tour. Peserta diajak mengenal langsung fasilitas perkuliahan serta berbagai peluang pengembangan akademik dan non-akademik di FKIP UMM. Interaksi antara siswa lokal dan internasional selama kegiatan berlangsung menjadi nilai tambah tersendiri. Pertukaran budaya yang terjadi membuka wawasan global sekaligus memperkuat jejaring pendidikan lintas negara. Melalui kegiatan ini, FKIP UMM berharap dapat terus memperluas kerja sama internasional serta memberikan akses pendidikan global yang lebih luas bagi mahasiswa. Langkah ini menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak lagi terbatas pada ruang kelas, tetapi juga menjadi jembatan menuju pengalaman global yang kompetitif dan berdaya saing tinggi. *) Penulis : Humas Universitas Muhammadiyah Malang

Prodi Informatika UMM Raih Akreditasi Internasional IABEE, Perkuat Daya Saing Global Lulusan

Kota Malang, Hariancendekia.com – Program Studi (Prodi) Sarjana Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi meraih akreditasi internasional dari The Indonesian Accreditation Board for Engineering Education (IABEE) pada 31 Maret 2026 di Jakarta. Capaian ini menjadi bukti penguatan mutu akademik berbasis standar global sekaligus menegaskan kesiapan UMM bersaing di tingkat internasional. Status Accredited dari IABEE diberikan untuk disiplin Computer Science, Informatics, and similarly named programs. Pengakuan ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan di Informatika UMM telah memenuhi standar internasional yang terukur, relevan, dan berkelanjutan. Ketua Prodi Informatika UMM, Dr. Ir. Agus Eko Minarno, S.Kom., M.Kom., IPM., menegaskan bahwa akreditasi IABEE memiliki makna strategis di tengah kompetisi pendidikan tinggi yang semakin ketat. “Pengakuan ini mencerminkan keseriusan institusi dalam membangun sistem pembelajaran yang berorientasi pada capaian lulusan, penguatan kurikulum, proses akademik yang konsisten, serta budaya evaluasi yang berkesinambungan,” ujar Agus. Ia menambahkan, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh elemen kampus, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga alumni, dengan dukungan penuh dari pimpinan universitas. Capaian ini juga memberikan jaminan kualitas bagi mahasiswa dan calon mahasiswa bahwa proses pendidikan yang dijalani berada dalam ekosistem yang berorientasi kuat pada mutu. Di sisi lain, Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menilai akreditasi ini sebagai wujud konkret komitmen kampus dalam menembus persaingan global. “Penghargaan di mana Teknik Informatika UMM mendapatkan akreditasi internasional IABEE ini, sekali lagi menjadi komitmen sekaligus bukti bahwa UMM siap bersaing di tingkat global,” kata Salis.

Berkat CoE Kelapa Sawit, Mahasiswa UMM Bawa Portofolio Eksklusif Masuk Dunia Industri

www.majelistabligh.id – Melalui program Center of Excellence (CoE) Kelapa Sawit, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendobrak kebiasaan lama dengan menerjunkan mahasiswa ke jantung industri sejak masa kuliah. Adalah Novan Adhi Ramadhan, mahasiswa Program Studi Teknik Industri UMM menjadi bukti nyata dari efektivitas pendekatan ini. Ia kini mampu terjun langsung menangani operasional industri kelapa sawit berskala besar. Sebelum mengikuti program bergengsi tersebut pada semester lima, ia mengaku pemahamannya terkait dunia industri sangat terbatas pada buku teks dan simulasi di dalam kelas. Ia merasa masih meraba-raba dan belum siap untuk menghadapi kompleksitas operasional pabrik yang sebenarnya. Namun, semuanya berubah drastis setelah ia dinyatakan lolos seleksi ketat CoE dan diberangkatkan untuk menjalani program magang profesional di PT Eagle High Plantations Tbk, sebuah perusahaan pengolahan kelapa sawit berskala nasional. Di sana, ia mengalami lonjakan kompetensi yang sangat signifikan. “Awalnya tentu kaget dengan ritme kerja industri yang jauh lebih cepat, di bawah tekanan tinggi, dan sangat dinamis dibandingkan lingkungan kampus, ” ujar ungkap Novan menceritakan pengalaman transformatifnya, pada Tim Humas UMM. Novan Adhi Ramadhan. (dok umm) Ia sempat merasa tidak bisa mengikuti alurnya karena semuanya murni praktik lapangan. Namun, justru di titik itulah proses belajar yang sesungguhnya terjadi. Dari yang awalnya hanya tahu teori sistem produksi secara konseptual, ia akhirnya dituntut dan berhasil mengerti secara langsung bagaimana alur pengolahan bahan baku sesungguhnya. “Bagaimana proses pengendalian kualitas mutu secara presisi, hingga merumuskan evaluasi efisiensi kerja langsung di lapangan,” jelasnya. Keberhasilan Novan melesat dari fase ‘tidak bisa’ menjadi sosok yang ‘kompeten’ ini tidak lepas dari ekosistem program CoE yang dirancang penuh dengan berbagai keuntungan (benefit) bagi mahasiswanya. Dari sisi efisiensi akademik, program unggulan ini menawarkan keuntungan konversi SKS secara utuh. Artinya, seluruh aktivitas magang di industri tersebut diakui sebagai pembelajaran formal, sehingga mahasiswa tidak akan rugi waktu kuliah. Lebih dari itu, permasalahan nyata yang diselesaikan Novan di lapangan langsung menjadi bekal data dan topik studi kasus yang sangat kuat untuk menyusun tugas akhir. Mahasiswa juga secara otomatis mendapatkan keuntungan berupa perluasan jaringan (networking) profesional yang eksklusif serta portofolio kerja dengan nilai jual tinggi. Transformasi keahlian dan kematangan mental mahasiswa inilah yang menjadi target utama dari UMM. Baiq Firyal Salsabila Safitri, S.T., M.Sc., selaku dosen penanggung jawab (PIC) CoE Kelapa Sawit UMM, menyatakan bahwa kurikulum kampus memang harus ditopang dengan kolaborasi praktis agar lulusan tidak gagap saat memasuki dunia kerja. Kehadiran CoE Kelapa Sawit ini adalah wujud komitmen tegas UMM dalam melahirkan lulusan yang berkompetensi unggul dan relevan dengan kebutuhan nyata Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). “Kami memastikan setiap mahasiswa yang dicetak melalui program ini bukan sekadar sarjana biasa, melainkan talenta-talenta tangguh yang siap tarung, mudah beradaptasi, dan siap memberikan kontribusi nyata bagi industri sejak hari pertama mereka bekerja,” pungkas Firyal.(*/tim)

Akademisi Sepakat dengan Sikap Pemerintah soal 3 TNI Gugur: Tak Hanya Terkait Kepentingan Nasional

JAKARTA, KOMPAS.TV – Dosen Hubungan Internasional dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Prasetya mengaku sepakat dengan sikap pemerintah yang tak terburu-buru mengambil keputusan terkait gugurnya tiga prajurit TNI anggota pasukan penjaga perdamaian di Lebanon. Dion berpendapat, masalah terkait insiden yang mengakibatkan gugurnya personel TNI tersebut sangat rumit. Sebab, hal itu bukan hanya berkaitan dengan kepentingan nasional Indonesia saja, tetapi juga identitas di mata internasional. “Pertama, saya sepakat dengan pemerintah yang tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, misalnya menarik pasukan gitu ya, dengan bersikap reaktif gitu ya,” kata dia dalam dialog Sapa Indonesia Malam, Kompas TV, Rabu (8/4/2026). “Karena ini sangat rumit sebenarnya problem ini. Tidak hanya berkaitan dengan kepentingan nasional kita. Bahwa kita itu sebagai negara middle power yang memang sudah terkenal bahwa kita sebagai salah satu penyumbang terbesar pasukan perdamaian dunia,” bebernya. Menurutnya, Indonesia sebagai salah satu negara penyumbang terbesar pasukan penjaga perdamaian sudah menjadi salah satu identitas di mata dunia. Faktor lain yang juga harus menjadi pertimbangan adalah berkaitan dengan ‘kursi’ yang ingin diamankan oleh Indonesia di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). “Yang kedua, ini berkaitan juga dengan kursi yang sebenarnya ingin kita amankan di Dewan Keamanan gitu lho,” katanya. “Kita ingin memiliki satu justifikasi bahwa kita itu aktif dalam penjaga perdamaian dunia, sehingga kalau dengan reaktif kita menarik pasukan kita yang jumlanya itu sangat besar. Yang paling besar ya di Unifil ya, 756,” lanjutnya. Jika Indonesia menarik pasukan yang dikirimkan, menurutnya, hal itu justru akan menghancurkan bangunan identitas yang sudah lama dibangun. Dalam dialog itu, ia juga menyampaikan, dalam politik internasional yang ‘bermain’ bukanlah hukum internasional, melainkan kekuasaan. “Hukum internasional adalah bagian perwujudan dari bagaimana kekuasaan itu dimanaged,” tuturnya. Dion menambahkan, dalam resolusi konflik ada tahapan yang harus dilalui, yakni peacemaking, peacekeeping, dan peacebuilding. Saat ini status pasukan UNIFIL sebenarnya adalah penjaga perdamaian atau peacekeeping, dan seharusnya sudah tidak ada lagi kekerasan di lapangan. “Nah itu harusnya dahului dengan peacemaking. Peacemaking itu adalah upaya yang dilakukan oleh UN atau PBB untuk memunculkan negosiasi atau diplomasi antar pihak-pihak yang bertikai. Itu sebenarnya sudah muncul di tahun 2006, akhirnya memunculkan mandat 1701 itu kan,” ungkapnya. “Masalahnya sekarang adalah, sepertinya kita mundur satu langkah gitu lho. Jadi dari peacekeeping menjadi harusnya peacemaking lagi, gitu. Karena kondisi lapangan sudah tidak stabil lagi dan itu yang membahayakan pasukan kita,” katanya. Dengan status yang bertugas sebagai pasukan penjaga perdamaian, lanjut Dion, para personel tersebut tidak dibekali dengan peralatan sebagai pembuat kedamaian atau peacemaking. “Dalam kondisi ini, tadi kan disampaikan kita tampaknya mundur satu langkah. Yang harusnya tugasnya peacekeeping tapi jadi peacemaking. Dan kita tidak dikirimkan dalam perangkat untuk itu,” katanya. Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi menegaskan, pemerintah melakukan evaluasi terkait pengiriman prajurit TNI sebagai anggota pasukan penjaga perdamaian. “Kalau pertanyaan sampai ke keputusan penarikan, itu belum ya,” kata dia, seperti dikutip dari berita video Kompas TV, Rabu. “Tapi bahwa dengan adanya kejadian yang kemarin, tentu kami pemerintah terus melakukan koordinasi dipimpin oleh Bapak Menlu, melakukan evaluasi, nanti kita tunggu perkembangannya,” tegasnya.