Rayakan Hardiknas, Ratusan Siswa SD Kuliah di UMM

Mengusung tema Penguatan Karakter dan Kebudayaan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2018 dengan cara unik. Bekerjasama dengan Jawa Pos Radar Malang, UMM merayakan Hardiknas 2018 dengan menghadirkan kurang lebih 460 siswa sekolah dasar (SD) di Malang Raya untuk menikmati pengalaman belajar di perguruan tinggi. Kegiatan dikemas menarik dalam bentuk eksplorasi kampus. Seluruh peserta diajak mengikuti upacara peringatan Hardiknas bersama seluruh civitas akademika UMM. Pada momen ini, setiap perwakilan sekolah mendapat kesempatan untuk disematkan toga oleh Rektor UMM Fauzan. Mereka lalu berkunjung ke beberapa laboratorium yang ada di UMM dan merasakan pengalaman diajar oleh profesor, diantaranya Laboratorium Jalan Raya, Laboratorium Drama, Laboratorium Terpadu Pertanian dan Peternakan, Laboratorium Ilmu Komunikasi, Laboratorium Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUSPA IPTEK), Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), dan Panel Surya. Selain memperingati Hardiknas, acara ini juga digelar sebagai bentuk tanggungjawab UMM untuk memupuk mimpi dan cita-cita generasi muda Indonesia yang merupakan para calon pemimpin bangsa. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Sidik Sunaryo pada pembukaan upacara menyampaikan bahwa ia berharap, acara ini dapat memberikan semangat kepada anak-anak untuk terus melanjutkan pendidikan hingga tingkat tertinggi. Ia pun mengapresiasi semangat para siswa yang datang ke UMM. “Saya ucapkan selamat kepada adik-adik SD yang hari ini turut serta merayakan Hardiknas di Kampus Putih,” jelasnya. Ratusan siswa SD berbondong-bondong mengunjungi satu laboratorium ke laboratorium lainnya. Salah seorang guru pendamping dari SD Kristen Petra Feri Ferdiansyah mengaku sangat mengapresiasi kegiatan ini. Baginya UMM merupakan kampus yang sangat menjunjung tinggi makna perbedaan kebudayaan sesuai dengan semangat perayaan Hardiknas 2018. “Saya sebagai perwakilan dari sekolah non-muslim sangat senang dan mengapresiasi kegiatan ini. Ini merupakan bukti nyata bahwa UMM sangat menjunjung tinggi perbedaan,” tegasnya. Tidak hanya menyajikan wisata mengelilingi UMM, agenda bertajuk Kids on Campus ini juga menghadirkan Mobil KaCa di tengah waktu peserta menunggu giliran masuk ke dalam setiap laboratorium. Syaqif Jalaludin Ahmad salah satu siswa dari SD As-Salam mengaku sangat senang saat diajak berkunjung ke Laboratorium Terpadu Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM. “Tadi ke pabrik roti dan nata de coco, belajar buat roti tapi gagal. Tapi gak masalah saya senang sekarang bisa buat roti di pabrik,” kata siswa kelas lima ini. Acara ditutup dengan gelaran wisuda bagi seluruh siswa-siswi sekolah dasar. Setiap siswa disematkan gordon layaknya wisudawan universitas sebagai tanda mereka telah lulus kuliah satu hari di UMM. (nis/ sil)
UMM Berangkatkan 20 Pelajar SMA ke Tiongkok

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (24/07), memberangkatkan 20 pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat ke Tiongkok untuk mengikuti Summer Camp. Mereka berkesempatan berangkat ke Negeri Tirai Bambu itu merupakan pemenang kompetisi National Chinese Competion, yakni lomba pengetahuan umum Tiongkok yang diadakan UMM bekerjasama dengan Confucius Institute. Ke-20 siswa SMA itu berhasil menyisihkan 2.369 peserta yang mengikuti lomba. Selama dua pekan, 24 Juli-6 Agustus 2017, selain mengenal lebih dekat kebudayaan dan bahasa Tiongkok, para pelajar itu bakal diajak mengunjungi sejumlah tempat ikonik di Tiongkok, termasuk di antaranya The Great Wall (Tembok Besar China) dan Tiananmen Square. Juga, peserta diajak mengunjungi pameran pendidikan di sejumlah perguruan tinggi di Tiongkok. Salah satu peserta, George Geraldo, siswa SMK Kristen Imanuel Pontianak, Kalimantan Barat mengungkapkan kesyukurannya masuk dalam daftar pelajar yang diberangkatkan. “Sepulang dari Tiongkok, saya ingin juga memotivasi teman-teman saya untuk juga bisa berangkat ke Tiongkok,” ungkapnya. Lomba yang diadakan Februari hingga April 2017 silam ini merupakan program kolaborasi UMM dan Konsulat Jenderal China melalui Confucius Institute. Kompetisi yang kali ketiga diselenggarakan di UMM ini merupakan bentuk kepercayaan Confusius Institute kepada UMM. Hal tersebut lantaran UMM yang telah begitu kooperatif di tiap program yang mengatasnamakan Confucius Institute. “Selain itu pada kompetisi serupa yang digelar Konsulat Jenderal China di Surabaya akhir tahun lalu, tiga mahasiswa UMM berhasil meraih juara pertama dan ketiga. Bahkan, UMM juga meraih juara untuk kategori perguruan tinggi dengan peserta lomba terbanyak, yakni 332 mahasiwa,” ungkap Asisten Rektor Bidang Kerjasama UMM Suparto dalam kesempatannya menghadiri Closing Ceremony National Chinese Competion 2017. Sementara koordinator China Corner UMM Karina Sari menerangkan, di akhir tahun 2017, 22 mahasiswa UMM juga akan diberangkatkan ke Tiongkok melalui program yang sama. Kesempatan itu mereka peroleh lewat keikutsertaannya dalam kursus gratis Bahasa Mandarin yang diselenggarakan di China Corner UMM. (can/han)
University of Technology of Compiagne Perancis Sambut Delegasi UMM

SEPULUH dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dari berbagai fakultas dan jurusan melakukan kunjungan ke University of Technology of Compiagne (UTC), Perancis. Mereka terdiri dari Dr Rinikso Kartono, Dr Masduki, Dr Daroe Iswatiningsih, Dr Iswinarti, Dr Hari Windu Asrini, Dr Listiari Hendriningsih, Dr Agustinus, Dr Ahmad Mohyi dan Dr Pradana Boy ZTF. Rombongan dari UMM diterima oleh Direktur Hubungan Internasional UTC Olivier Schoefs, Direktur Program Akademik Patrick Lanceleur, Penanggung jawab European Projects Stephanie Rossard , Guru Besar bidang Urban System Engineering Jean-Louis Batoz, serta Wakil Direktur bidang Hubungan Internasional UTC Gaelle Dacqmine dan Anne-Sophie Radel. Acara diawali dengan pemaparan singkat tentang UMM oleh Pradana Boy ZTF, kemudian disusul dengan tiga presentasi dari UTC masing-masing oleh Olivier Schofs yang memberikan informasi mendasar tentang UTC. Kemudian dilanjutkan oleh Patrick Lanceleur yang berbicara tentang sistem pendidikan di UTC. Presentasi terakhir dari Stephanie Rossard yang menjelaskan tentang riset di UTC. Dalam presentasinya, koordinator delegasi UMM, Pradana Boy ZTF menyebutkan bahwa sebagai universitas dengan orientasi internasional yang sangat kuat, UMM sangat aktif dalam menjalin kerjasama dengan berbagai universitas di dunia global. “Maka kami berharap, kunjungan ini akan menjadi awal bagi terjalinnya kerjasama antara kedua universitas,” ungkap Pradana. Di sela-sela kunjungan, delegasi UMM diajak berkeliling kampus dan mengunjungi Center for Innovation yang merupakan laboratorium teknik terintegrasi. Kunjungan ke lab memberikan inspirasi yang sangat penting bagi delegasi UMM. “Sangat inspiratif,” komentar Dr Iswinarti di tengah-tengah kunjungan ke lab tersebut. Center for Innovation menyediakan berbagai fasilitas bagi eksperimentasi dan inovasi dalam bidang sains dan teknologi mutakhir. Di dalamnya, dosen dan mahasiswa berkolaborasi dalam merancang temuan-temuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan, khususnya teknologi. Menariknya, meskipun UTC adalah universitas teknologi, perhatian pada bidang humaniora juga sangat tinggi. Olivier Schoefs menjelaskan, mahasiswa UTC dibekali dengan mata kuliah seperti etika, teknologi dan masyarakat, atau sejarah, agar teknologi yang mereka kuasai tidak terpisah dari masyarakat dan menuju ke arah yang salah. “Semua mahasiswa wajib menempuh mata kuliah humaniora yang jumlah totalnya kira-kira tiga puluh persen dari seluruh mata kuliah,” jelas Olivier. Kedua belah pihak diakhir pertemuan saling menawarkan kemungkinan kerjasama. Menurut Oliver, banyak hal yang bisa dilakukan untuk kerjasama, misalnya pengiriman mahasiswa magang atau dosen untuk studi lanjut di UTC. Olivier berjanji dalam waktu dekat akan melakukan kunjungan balasan ke UMM. “Bulan November kami ada agenda kunjungan ke Indonesia, dan mengunjungi UMM, adalah bagian dari agenda kami,” kata Olivier. (boy/zul/nas)
Hadirkan Gayus Lumbuun, FH UMM dan APPTHI Urai Konsep Kerja Sosial bagi Narapidana

SANKSI kerja sosial merupakan pidana alternatif yang mampu mengurai masalah kelebihan kapasitas warga binaan di sejumlah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Hal ini disampaikan Hakim Mahkamah Agung RI, Gayus Lumbuun saat menghadiri seminar nasional yang diselenggarakan Asosiasi Pimpinan Perguruan Tinggi Hukum Indonesia (APPTHI) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (25/5). Dalam seminar bertajuk “Rekonstruksi Konsep Pembinaan Narapidana Berbasis Kerja Sosial” ini Gayus mengatakan, sanksi kerja sosial merupakan upaya menjunjung prinsip restorative justice. Dengan prinsip tersebut, ia menjelaskan, kepentingan korban dan masyarakat juga dipertimbangkan. “Memaksakan narapidana menghuni Lapas yang sudah dalam keadaan penuh sesak kadang justru membuat narapidana terjerumus dalam bentuk kejahatan baru,” terangnya. Gayus menerangkan, tidak semua hukuman bisa digantikan dengan pidana kerja sosial. Berdasarkan RUU KUHP, hukuman kerja sosial merupakan alternatif terakhir bagi hakim setelah mempertimbangkan jenis pidana lain. “Syarat untuk untuk menjatuhkan hukuman kerja sosial pun tidak gampang, setidaknya hakim wajib mempertimbangkan pengakuan bersalah terdakwa,” imbuhnya. Berdasarkan Pasal 79 ayat 1 RUU KUHP sudah tegas menyebut batasan untuk bisa dikenakan sanksi kerja sosial. Dalam pasal tersebut dijelaskan jika pidana penjara yang akan dijatuhkan tidak lebih dari enam bulan. Senada dengan Gayus, Dirjen Pemasyarakatan Kemenkumham, I Wayan Kusmiantha Dusak sepakat jika pidana kerja sosial dijadikan alternatif dalam penegakan hukum di Indonesia.Ia tidak menampik jika berlebihnya muatan di sebuah Lapas memicu terjadinya tindak kejahatan di dalamnya. “Kerja sosial bisa mengurangi dampak negatif pemenjaraan dan meminimalisir tindak kejahatan di Lapas,” paparnya. Wayan memaparkan ada dua sanksi pidana kerja sosial yang pelaksanaanya diawasi oleh Balai Pemasyarakatan (Bapas) yakni konvensional dan non-konvensional. “Konvensional contohnya seperti narapidana bekerja menyapu jalan tanpa digaji, kalau yang non-konvensional itu seperti narapidana mantan lawyer misalnya, bisa bekerja di firma hukum dengan digaji, tapi gajinya untuk PHBP negara,” terangnya. Kegiatan seminar dihadiri oleh Dekan Fakultas Hukum (FH) di 142 perguruan tinggi swasta yang tergabung di APPTHI. Ketua Umum APPTHI, Laksanto Utomo mengatakan, semnas ini diselenggarakan atas keprihatinan forum dekan seluruh Indonesia dengan MA. “Kami ingin mengkoreksi lembaga yang agung ini, untuk mengembalikan akuntabilitasnya,” paparnya. Salah satu bentuk keprihatinan tersebut dituangkan dalam buku yang ditulis oleh APPTHI yang berjudul “Akuntabilitas Mahkamah Agung”. Laksanto menerangkan, buku tersebut nantinya akan digunakan APPTHI untuk disampaikan ke forum yang lebih tinggi. “Kami sampaikan ke lembaga-lembaga nasional yang memiliki keinginan untuk membersihkan lembaga hukum agar lebih kredibel,” ungkapnya. Sementara itu, Dekan FH UMM, Sulardi yang mempradonesia (APHI), Ahmad Sudiro dan Pakar Hukum Pidana FH UMM, Sidiq Sunaryo. (gas/han)
BK Fun Bridge Akrabkan Mahasiswa dengan UPT BK

Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bimbingan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperingati Anniversary BK UMM ke-23 dengan menggelar event “BK Fun Bridge”. Kegiatan diadakan di sepanjang Gazebo dan Jembatan GKB I UMM, dihadiri mahasiswa dan dosen UMM, Rabu (25/5). Ketua UPT BK UMM Mohammad Sohib dalam sambutannya mengatakan, kegiatan BK Fun Bridge ini merupakan puncak dari rangkaian acara memperingati 23 tahun BK UMM. Selain itu, ia berharap BK terus bersinergi dengan berbagai pihak di UMM demi kesuksesan karir mahasiswa, dosen dan seluruh civitas akademika. Gelaran ini juga diisi launching layanan baru Lembaga Konseling dan Terapi Psikologi (LKTP) dan launching logo baru BK oleh Wakil Rektor III UMM, Sidik Sunaryo. Kegiatan ini turut didukung tim PR Idea Laboratorium Ilmu Komunikasi UMM. Tema “BK Fun Bridge” digunakan untuk mengubah persepsi mahasiswa tentang BK. Sesuai dengan riset sebelumnya oleh PR Idea bahwa Kebanyakan mahasiswa beranggapan BK adalah tempat yang menakutkan, memalukan, dan identik dengan BK di sekolah yang mirip polisi. Sohib menilai, 23 tahun usia BK UMM merupakan usia yang cukup matang. BK berkembang kian dewasa dan matang. “Semoga hal itu bisa membantu persoalan pengembangan sumber daya manusia di UMM,” papar Sohib. Acara BK Fun Bridge terbagi menjadi tiga sesi, yaitu BK info center, games area dan booth kuliner. Pada BK info center pengunjung bisa melakukan free psikotes dan Konseling on the spot. Di area games terdapat beberapa permainan era 90an seperti dakonan, ular tangga, klompen, engklek dan beberapa permainan kekinian BK challenges dengan mengunggah foto menggunakan tagar yang dikirim ke @upt.bkumm. Salah satu permainan yang digandrungi mahasiswa yaitu permainan lempar balon berhadiah, di mana balon-balon tertata rapi untuk siap dilempar jarum. Di booth makanan pun tak kalah ramainya, di antara yang disajikan yaitu es dung-dung dan kembang gula. Selain itu, ada pula booth free psikotes, konseling on the spot, penampilan akustik dan bubble party. Ketua Pelaksana BK Fun Bridge Sathi’ul Burhan berharap, selepas acara ini mahasiswa tak lagi enggan ke BK, tidak bingung melakukan psikotes di luar kampus. “Harus lebih sering memanfaatkan BK untuk masa depan di bidang psikologi. Seluruh layanan di BK itu gratis. Datang saja ke BK,” tutupnya. (roh/han)
Thailand Festival Tandai Berdirinya Thailand Corner di UMM

SETELAH sebelumnya meluncurkan China Corner, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini secara resmi telah memiliki Thailand Corner. Keberdaan corner-corner itu sekaligus melengkapi American Corner dan Saudi Arabian Corner yang sebelumnya telah berdiri di UMM. Peresmian Thailand Corner yang berlangsung di area Gazebo Perpustakaan Pusat UMM ini ditandai dengan gelaran Thailand Festival yang menampilkan ragam khazanah dan kuliner Thailand. Festival yang berlangsung pada Selasa (24/5) ini diselenggarakan oleh International Relation Officer (IRO) UMM bekerjasama denganunit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA)UMM. “Ini untuk mengenalkan budaya Thailand di Indonesia, sekaligus launching Thailand Corner yang bertempat di lantai III Perpustakaan Pusat UMM. Ada beberapa booth pada event ini, yaitu makanan, budaya, bahasa, dan souvenir,” terang kepala IRO UMM, Abdul Haris. Terdapat sejumlah stan makanan yang menyediakan bermacam-macam kuliner khas negara Gajah Putih ini. Semuanya dibagikan secara cuma-cuma pada pengunjung. Mereka cukup menukarkan kupon yang didapat saatregistrasi untuk mendapatkan makanan tersebut. Salah satu stan makanan adalah yang terletak di ujung barat halaman perpustakaan. Stan bernama“Kudapan” ini menyediakan empat jenis makanan ringan khas Thailand. “Ada man boan ataumanisan labu, khoa pod buad yaitu jagung rebus yang dimakan dengan santan manis, look chubyang berbentuk bulat dengan isian kacang hijau kupas, seperti kue klepon di Indonesia, ada jugafog hiang, kuning telur yang dikocok dan digoreng,” jelas Pandan, salah satu mahasiswa penerima beasiswa Darmasiswa asal Thailand. Antusiasme mahasiswa tampak dari panjangnya antrean di meja registrasi. Seluruh stan yang disediakan pun berjubel dikunjungi mahasiswa. Rata-rata mahasiswa tertarik untuk mencicipi makanan Thailand. Namun tak sedikit juga yang mengantre untuk membeli souvenir, salah satunya Mie Instan Rasa Tomyam. “Ini sangat luar biasa. Karena dari semua kampus di Malang, hanya UMM yang memiliki Thailand Corner. Semoga semua negara Asean nantinya memiliki corner di UMM. Sekarang sudah era MEA, ini penting untuk menjadi media pembelajaran mahasiswa tentang negara-negara Asean,” ungkap Imam Basuki Iswanto, mahasiswa Jurusan Sosiologi UMM setelah mengantre di salah stan makanan. “Terget 300 pengunjung. Alhamdulillah melebihi target, sampai ada kupon tambahan. Semoga Thailand Festival ini akan menjadi agenda yang bisa dilakukan setiap tahun,” harap Abdul Haris. Berdirinya Thailand Corner ini menandai semakin kuatnya kerjasama UMM dengan Thailand. Sebelumnya, pada Maret lalu, UMM menjadi kampus pertama yang memelopori lahirnya Indonesian Corner di Thailand, yang terletak di Ayutthaya Technical College. “Kehadiran Thailand Corner juga sangat strategis mengingat semakin banyaknya mahasiswa Thailand yang kuliah di UMM,” kata Asisten Rektor Bidang Kerjasama UMM, Soeparto.Saat ini, jumlah mahasiswa Thailand di UMM sebanyak 70 orang. Mereka tersebar di berbagai program studi di UMM, di antaranya Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa Indonesia, Ilmu Pemerintahan, Akuntansi, dan Hukum Islam. (ich/han)