Harnold, “Calon Diplomat Muda” UMM yang Jelajah Beberapa Benua

Tidak tanggung-tanggung, bukan hanya sekali, pria asal Tarakan itu berkesempatan menjadi salah satu delegasi dari Indonesia di Jerman, Kanada, dan terakhir di Bangkok awal tahun 2018. Bahkan, pria yang aktif di klub UMM MUN ini juga mendapatkan penghargaan Honourable Mention saat di Jerman. “Kita menyimulasikan bagaimana sidang PBB terjadi. Kita seolah-olah merepresentasikan negara kita seperti apa, jadi presiden, jadi diplomat, atau jadi menteri luar negeri membahas suatu isu,” ujarnya. MUN sendiri merupakan ajang mengasah kemampuan seperti public speaking, debat, kerjasama tim, dan keterampilan menulis. Ia mulai aktif melakukan kegiatan-kegiatan yang menggiringnya ke luar negeri tersebut sejak berada di semester empat. “Itu awalnya coba-coba,”akunya. Mulai dari sekedar coba-coba, Harnold kini justru sadar bahwa hadirnya berbagai peluang justru dari kenekatan niat untuk menjajal sesuatu.“Karena ketika mendaftar lalu diterima, peluang untuk mundur itu akan hilang. Ini real saya rasain waktu di Kanada. Sampai di sana saya takut, mau gimana lagi masak mau pulang. Sehingga mau nggak mau saya harus jalani. Jadi cari kegiatan yang memang memaksa kita melawan rasa takut itu,” tambahnya lagi. Kerap menjadi “diplomat muda” Harnold membagi tips yang menunjang aktivitas-aktivitas seputar dunia diplomasinya. Pria yang telah puluhan kali menjadi delegasi konferensi dan mengerjakan proyek internasional ini mengaku tidak suka membaca buku. Ia justru gemar membaca berita-berita online internasional. “Saya buka portal berita seperti BBC, newspaper, dan itu saya download aplikasinya. New York Times juga untuk anak HI ini cukup membantu,” tutup mahasiswa yang bercita-cita segera melanjutkan studi Strata 2 nya melalui beasiswa Strata 2 nya di luar negeri ini. Saat ini, setelah menyelesaikan studinya di UMM Harnold berencanakan untuk segera mengambil jenjang pendidikan selanjutnya dengan konsen baru yakni Politik Lingkungan. Pria yang sangat lekat dengan dunia politik ini mengaku sangat tertarik dengan isu lingkungan yang kini sudah mulai menjadi konsen banyak negara dan menurutnya Indonesia membutuhkan banyak ahli pada bidang politik lingkungan ini. “Sekarang saya sedang fokus mempersiapkan jenjang master saya. Saya mau ambil Politik Lingkungan karena saya rasa Indonesia sangat butuh banyak SDM untuk konsen di bidang ini,” tutupnya. (ani/ sil)
TECSID dan UMM 2018 Gelar Taiwan Educational Showcase
The Indonesia Taiwan Education Center in Surabaya (TECSID) bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan acara bertajuk beasiswa Taiwan. Melalui tema ‘2018 Taiwan Educational Showcase’ yang berlokasi di Aula BAU UMM, mahasiswa ditawarkan beasiswa di enam universitas ternama di Taiwan. Enam Universitas tersebut adalah Asia University, China Medical University, Fujen Catholic University, National Formosa University, National Sun Yat-sen University, dan Vanung University. Ke enam universitas tersebut memberikan tawaran beasiswa studi di Taiwan dalam Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris untuk S1/S2/S3 dan program internasional lainnya. Selain itu Taipe Economy and Trade Office (TETO) Surabaya juga memberikan penjelasan tentang visa di Taiwan. Asisten Rektor Bidang Kerjasama UMM Soeparto menyampaikan digelarnya acara ini menjadi salah satu bentuk dukungan UMM untuk meningkatkan minat mahasiswa baik internal UMM maupun eksternal untuk menempuh studi lanjutan dengan iklim internasional, khususnya di Taiwan. “Semoga ini menjadi pemantik semangat mahasiswa untuk merasakan iklim internasional dan belajar di luar negeri serta jalan untuk memperkuat kerjasama UMM dengan The Indonesia Taiwan Education Center in Surabaya,” tegasnya. Berlangsung meriah, acara tersebut berhasil menarik antusias mahasiswa untuk hadir. Salah satunya Lissari Albar, mahasiswa yang sedang menempuh Magister Kebijakan Pengembangan Pendidikan (MKPP) di sebuah universitas swasta ini mengaku tertarik dengan pendidikan di Taiwan karena pendidikan dan teknologinya yang maju. “Saya tertarik ke Taiwan karena Taiwan itu kan sudah menjadi negara maju, terus pendidikannya sudah bagus, teknologinya sudah bagus juga. Itu yang membuat saya tertarik kenapa saya mau ke Taiwan,”urainya. Hal berbeda diungkapkan Pambudiono, mahasiswa jurusan Ilmu Teknologi Pangan (ITP) UMM juga tertarik melanjutkan sekolah ke Taiwan. Pambudiono mengaku, besarnya peluang untuk menempuh studi di Taiwan dari pada universitas di Eropa membuatnya tertarik untuk belajar di negara yang menggunakan bahasa Mandarin ini. “Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, kuliah di Eropa itu persyaratannya sulit sekali sedangkan di Taiwan tidak,” ujar mahasiswa semester akhir tersebut. Sedangkan Nava Almaulidiah, salah satu mahasiswa jurusan Hubungan Internasional yang pernah singgah ke Taiwan mengatakan Taiwan adalah negara yang pendidikannya cukup bagus. Ia pun ingin kembali dan melanjutkan S2 dengan mengambil Chinese Language di sana. “Kalau saya pribadi pengen ambil Bahasa Mandarin. Soalnya bagi anak Hubungan Internasional, bahasa itu kan penting,” ungkapnya. Baginya, tidak ada masalah yang tidak bisa dihadapi termasuk kendala budaya maupun bahasa yang berbeda. “Culture shock pasti ada, tapi kalau kita sudah menyiapkan mental untuk langsung ke lapangan, dan langsung berkecimpung di sana, insyaallah bisa,” tutur gadis berdarah Malang itu. (apn/sil)
Sharing SPMI, UMM Ajak PT Asuhan Kembangkan Potensi Khas yang Dimiliki

Lokakarya yang berlangsung pada Selasa (8/5) ini membahas tentang Sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi dengan fokus pembahasan Penguatan Sistem Penjaminan Mutu Internal dan Eksternal. Prof. Dr. Noor Harini, M.S, Kepala Badan Kendali Mutu Akademik (BKMA) UMM menyampaikan bahwa adanya lokakarya ini bukan berarti membuat para PT harus mengikuti sistem yang dimiliki oleh UMM. Masing-masing PT perlu mengeksplorasi sumber daya yang mereka miliki untuk kemudian dikembangkan. “Penjaminan mutu sebenarnya bukan hanya soal sistem penjaminan mutunya saja, tetapi juga soal standar pendidikan tinggi, akreditasi, pangkalan data pendidikan tinggi serta yang terakhir terkait lembaga layanan pendidikan tinggi,” ujarnya. Mendapat banyak uraian dan penjelasan Noor, Kepala Penjaminan Mutu Universitas Kahuripan Kediri Kartika Kusumaningtyas, S. Si, M. Pd, mengaku bahwa pihaknya senang mendapat banyak ilmu baru untuk peningkatan kualitas dan mutu PT nya. “Kami mendapatkan banyak pengetahuan baru untuk menyusun dan menetapkan dokumen-dokumen yang lebih baik. Ini nanti bisa disosialisasikan sehingga bisa dilaksanakan dan dievaluasi,”tandasnya. Kartika demikian panggialn akrabnya juga mengaku belajar banyak tentang audit mutu secara internal. Hal tersebut lantaran pada momen ini, seluruh proses terkait SPMI dikupas habis. “Selain itu, kami juga mendapat pengetahuan terkait Audit Mutu Internal itu seperti apa. Karena selama ini kami memang belum paham betul tentang hal itu,” pungkasnya. Kewajiban PT untuk melaksanakan sistem penjaminan mutu tercantum pada undang-undang Nomor 12 Tahun 2012 Pasal 53 tentang sistem penjaminan mutu pendidikan tinggi. Ini menjelaskan bahwa setiap PT harus menjalankan SPMI yang dapat disesuaikan dengan karakeristik PT yang bersangkutan. Selain sebagai upaya pemenuhan standar nasional Dikti, langkah ini juga sebagai usaha untuk melaksanakan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME) yang merupakan penentu akreditasi bagi PT yang bersangkutan. (vin/sil)
Tak Hanya Kompetisi, ON MIPA PT Juga Jadi Proses Pembelajaran

Setelah berlangsung selama tiga hari, Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ON MIPA) tahun 2018 resmi ditutup Senin, (7/5/2018). Kasubdit Penalaran dan Kreativitas Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendiikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti RI), Misbah Fikrianto membuka acara penutupan ON MIPA dengan memberikan motivasi pada peserta agar tidak berhenti berprestasi. Ada dua hal yang disampaikan Misbah dalam pidatonya, pertama ia menyampaikan pada para pemenang agar prestasi yang diraih terus dikembangkan. Di samping itu, para peserta juga harus mensyukuri pengetahuan dengan mengaplikasikan dan mengamalkannya di kehidupan. Kedua, ia juga berpesan pada mahasiswa baik yang keluar sebagai finalis maupun tidak, agar tetap menjadikan kompetisi tersebut sebagai proses pembelajaran. “Proses pembelajaran dalam kehidupan tidak hanya pada pencapaian prestasi saat kuliah tetapi banyak lagi prestasi dalam kehidupan yang nantinya akan menunjukkan Anda pada perubahan-perubahan,” tutur Misbah. Misbah juga menyampaikan, selanjutnya Kemenristek DIKTI akan selalu menyelenggarakan olimpiade di kampus. Hal ini kata Misbah, karena kampus memberikan energy positif yang baik utamanya bagi para peserta olimpiade. “Karena di kampus itu fasilitasnya lengkap, interaksinya nggak hanya dengan ruangan. Tahun depan peserta akan meningkat dan olimpiade akan dilaksanakan di perguruan tinggi lain secara bergantian,” ungkap Misbah. Ditemui usai acara, peraih medali emas bidang kimia, Zulfa Hilmi Kautsar asal Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Kimia mengaku ini adalah kali ketiga ia ikut olimpiade ON MIPA. Mahasiswa asal Semarang yang masih semester 6 tersebut juga mengaku, mendapat peningkatan prestasi tiap tahunnya. Di tahun pertama mengikuti olimpiade, ia mendapat perunggu, tahun kedua perak, dan tahun ini berhasil meraih medali emas. “Ini ketiga kalinya ikut. Dulu pernah dapat perunggu, terus perak,” katanya. Sementara itu, peraih medali Emas Bidang Biologi, Siswadi Aji Hutomo asal Universitas Pertanian Bogor tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia memberitahukan tentang rahasia menjuarai olipiade nasioal yaitu dengan kekuatan doa. “Banyak berdoa dan terus berupaya mengetahui dimana kelemahannya. Yang penting berikutnya tawakkal dan ikhtiar,” ujar Siswadi.
Kali Kedua, UMM Dipercaya Kemenristekdikti jadi Kampus Asuh 6 PTS
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendapat kepercayaan sebagai pelaksana Program PT Asuh sesuai dengan surat Keputusan Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa) Kementrian Riset dan Teknologi (Kemenristekdikti) RI Nomor 99/b/sk/2018 tentang PT Pelaksana Program Penjamiin Mutu. UMM membina lima PTS Asuh di Kopertis Wilayah VII dan satu PTS di kopertis Wilayah VIII. Menindaklanjuti hal tersebut, pada hari ini Senin (7/5) UMM melaksanakan Penandatanganan Nota Kesepahaman, Sosialisasi, dan Need Assasment Program Asuh PT Unggul Dirjen Belmawa Kemenristekdikti RI dengan ke enam PT, yakni Universitas Muhammadiyah Surabaya, Universitas Islam Balitar, Universitas Kahuripan Kediri, Akademisi Farmasi Putra Indonesia Malang, Akademi Analisis Farmasi dan Makanan Putra Indonesia Malang, serta Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Asing Bumigora Mataram. Wakil Rektor I Prof Dr Syamsul Arifin Msi menyampaikan, UMM dan ke enam PT asuhan adalah mitra yang saling belajar dan melengkapi. Kedua kalinya mendapat kepercayaan sebagai PT asuhan, Syamsul mengajak seluruh PT mitra untuk saling belajar guna memperbaiki kualitas PT masing-masing. “Terimakasih atas kesediaan bapak ibu bermitra dengan UMM, mudah-mudahan ke depan kita bisa terus bisa memilihara silaturahmi untuk saling belajar dan memperkuat kualitas PT,”tandasnya. Membahas lebih peningkatan kualitas PT khususnya dalam bidang akademik, Syamsul menyampaikan bahwa ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam kriteria SDM. Pertama yaitu ketersediaan dan ketercukupan. Kriteria kedua yaitu kualifikasi. Kualifikasi akademik minimal yaitu tidak ada lagi dosen yang bergelar S1. “Dan hal terakhir yaitu, kompetensi. Kompetensi ini dilihat dari jabatan fungsional mulai dari tenaga pengajar, asisten ahli, lektor, lektor kepala sampai guru besar. Selama ini UMM selalu menerapkan keteladan, keseriusan, karena cinta itu membutuhkan sebuah keteladanan. Hal itu penting sehingga membantu mengembangkan perguruan tinggi,”tambahnya. Sementara itu, Kepala Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Asing (STIBA) Bumigora Mataram Wiya Suktiningsih, M. Hum. menyampaikan, sebagai PT asuh pihaknya ingin banyak belajar dari UMM, utamanya mengenai pengetahuan penjaminan mutu, karena selama ini STIBA hanya mengikuti workshop yang sifatnya tidak langsung ke assessment yang dibutuhkan. “Selain itu kami berharap dari sini dapat meningkatkan akreditasi STIBA. Karena kebetulan sampai saat ini akreditasi kami masih C. Kami juga berharap bisa mendapatkan pengetahuan bagaimana caranya untuk berkembang agar bisa seperti UMM nanti kedepannya,”pungkasnya. (Humas UMM)
Intip Persiapan Peserta Sambut ON MIPA di UMM

Banyak cerita muncul pada penyelenggaraan Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Perguruan Tinggi (ON MIPA PT) yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Dirjen Belmawa Kemenristekdikti RI) di Unversitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah seorang peserta ON MIPA Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Ali Bahri Lubis mengaku setelah terpilih oleh jurusan, ia belajar secara otodidak untuk menghadapi kompetisi ini. Tidak hanya itu, untuk memberikan penampilan terbaik ia juga rela mengorbankan hari liburnya untuk belajar lebih bersama kawan dan pembimbing dari pihak kantor jurusan. “Ada juga pelatihan antar mahasiswa dan dosen, dilaksanakan bahkan pada hari libur dan malam hari,”tandasnya. Lebih lanjut Ali, demikian panggilan akrabnya mengaku bahwa ini olimpiade kali ini menjadi momen ketiga dirinya bergabung. Sebelumnya, saat digelar di Jakarta ia juga sempat mengikuti even yang sama. “Sudah pernah dua kali. Tahun pertama di Jakarta, saya gak menang. Tahun kedua di Semarang, Alhamdulillah saya dapat perunggu dan ini tahun ketiga,”tandasnya.
ON MIPA-PT 2018 Media Pembentukan Kohesi Sosial Mahasiswa

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendapat kehormatan karena terpilih sebagai tuan rumah penyelenggaraan Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Perguruan Tinggi (ON MIPA-PT) 2018. Acara ini merupakan perhelatan akbar Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Dirjen Belmawa Kemenristekdikti RI) yang diselenggarakan setiap tahunnya. ON MIPA-PT digelar sebagai bagian dari upaya mempersiapkan mahasiswa untuk meningkatkan daya saing bangsa melalui peningkatan kualitas bidang MIPA. Digelar sejak 2009, olimpiade ini meliputi bidang Matematika, Kimia dan Fisika dan Biologi. Sekertaris Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Prof Rina Indriastuti SE MS menyampaikan, pada gelaran ON MIPA 2018 terdapat 256 dari 85 perguruan tinggi swasta dan negeri. Jumlah ini lebih banyak dari tahun sebelumnya. Rina Indriastuti juga menyampaikan, tidak hanya sekedar lomba, olimpiade kali ini diharapkan dapat menjadi ajang silaturahmi untuk melahirkan tenun kebangsaan. Peserta diharapkan tidak hanya dapat bersaing, namun juga mengambil banyak hal positif untuk dibawa pulang ke kampus masing-masing. “Jadi ada semacam penyatuan dan kohesi sosialnya menjadi lebih baik. Lesson learned mereka akan dibawa kembali lagi ke kampus, ini bisa menularkan kepada teman-temannya yang belum bisa ikut disini,”tambah Rina. Menjadi tempat penyelenggaraan acara, UMM yang baru saja meraih Juara I pada kategori Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI) Konter Robot Indonesia (KRI) Regional IV ini, telah mempersiapkan fasilitas terbaik yang dimiliki untuk acara yang digelar mulai Jumat-Senin (4-7/5) ini. Dipilihnya UMM sebagi tempat penyelenggaraan acara diakui Rina bukan tanpa alasan. Menurutnya, iklim kampus termasuk seperti yang ada di UMM dapat memberikan banyak dampak positif bagi peserta ON MIPA. “Sebetulnya kalau olimpiade itu lebih baik di kampus hanya kadang-kadang kita juga mencari formatnya. Saya punya keyakinan di kampus itu hasilnya lebih baik contohnya saja dari perguruan Kampus UMM ini. Mereka bisa kenal kampus lain, ini lebih,”tambahnya. Menyiapkan fasilitas terbaiknya, Rektor UMM Fauzan menyampaikan bahwa pihaknya telah mempersiapkan berbagai sarana dan prasarana sesuai dnegan standart yang diharuskan. “Sarana prasarana sudah kita siapkan semua sesuai dengan standart. Upaya ini dalam rangka untuk meminimalisasi problem-problem yang akan timbul,”pungkasnya. (ani/gan/sil)
FEB UMM Ajak Wujudkan Ketahanan Pangan Melalui Maksimalisasi Sumber Daya Maritim
Sejumlah masalah di berbagai sektor dihadapi pemerintah Indonesia dalam mewujudkan pembangunan bangsa, salah satunya yakni masalah pangan. Bagaimana tidak, ketika jumlah populasi penduduk bumi semakin meningkat, luas lahan justru semakin sempit tergerus oleh pembangunan infrastruktur. Salah satu akibatnya, produksi pangan pun juga semakin berkurang. Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) Dr. Widayat, MM mengatakan, di tengah pesatnya pembangunan bangsa masalah ketahanan pangan menjadi isu yang masih sering diperdebatkan. Ia juga menyampaikan, selama ini kebijakan pemerintah dinilai cenderung berasentris. “Kita sebagai next generation dari bangsa ini harus merubah orientasi tersebut, membangun ketahanan pangan yang tidak hanya berfokus pada swasembada beras,” ujarnya. Sementara itu, Prof. Dr. Laode Masihu Kamaluddin M.Sc Guru Besar FEB UMM menyampaikan, idealnya bumi hanya mampu menampung 3 sampai 4 milyar penduduk. Namun pada tahun 2017 jumlah populasi penduduk bumi sudah mencapai 8 milyar. “Dan lahan juga semakin banyak yang digunakan sebagai bangunan,” tandasnya pada kuliah tamu yang diadakan oleh Program Studi Ilmu ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) di Aula BAU, Rabu (2/5). Selain penyempitan lahan, masalah mendasar yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah di bidang pangan adalah tingginya tingkat ketergantungan Indonesia pada produk impor terutama benih holtikultura dan pakan ternak. “Saat ini, beberapa bahan pangan seperti beras, daging sapi, gula, gandum, bawang putih kedelai, dan garam masih harus diimpor dari luar,” tambahnya. Salah satu solusi dari permasalahan tersebut adalah pengembangan pedesaan sebagai upaya memakmurkan masyarakat pedesaan dengan memanfaatkan sumber daya alam, khususnya sumber daya maritim dan agraris sehingga hasil-hasil pertanian tersebut menjadi produk industri utama di tengah masyarakat. “Tidak akan mandiri suatu bangsa jika pangannya masih dikuasai negara lain”, ujar Prof Laode menandaskan.
Robot DOME UMM Sabet Juara I Regional IV Kontes Robot Indonesia 2018

Pada pertandingan penyisihan di Wilayah Regional IV yang terdiri dari Jawa bagian timur, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua, DOME yang memiliki tingkat akurasi tinggi dan kecepatan stabil keluar sebagai Juara I pada kategori Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI). Keunggulan ini membuat robot canggih tersebut berhasil menggeser 32 peserta lain dari berbagai universitas. Selanjutnya, Robotika UMM tengah menyiapkan diri untuk berlaga di tingkat nasional. Menyambut even berikutnya, banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh Robotika UMM, salah satunya meningkatkan kecepatan dan keakuratan DOME. Ketua Tim Alfan Achmadillah Fauzi menyatakan walaupun DOME telah pada posisi aman untuk maju ke tingkat nasional, masih banyak hasil evaluasi yang harus diselesaikan. “DOME memang sudah aman akan maju ke nasional, tapi kita tidak bisa bersantai. Justru dengan semakin ketatnya kompetisi, kita harus semakin kompak,” tegas mahasiswa Teknik Elektro tesebut. Setelah melewati tiga tahapan dalam KRI 2018 Regional IV, Robotika UMM akan berlaga bersama 24 tim lainnya di tingkat nasional pada Juli mendatang. Pembina Lembaga Semi Otonom (LSO) Robotika UMM Nur Alif Mardiyah mengaku bahwa Robotika UMM sudah sangat prima dan siap untuk melenggang ke nasional. “Walaupun sudah memperoleh juara tapi kita masih harus menyiapkan diri, karena jalan masih panjang untuk meraih prestasi lebih gemilang,” jelasnya. Keluar sebagai Juara I pada kompetisi ini, UMM berhasil mengungguli dua universitas negeri yakni Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) di Peringkat II dan Universitas Brawijaya (UB) di Peringkat III. Selain berlomba pada kategori KRPAI, pada kompetisi tahun ini UMM juga mengeluarkan tim untuk berlaga pada kategori Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) Beroda. (nis/ sil)
Gelar Expo Kewirausahaan, Mahasiswa FEB UMM Kampanyekan Percaya Diri Jadi Pengusaha

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelengarakan Pameran Produk Kreatif dan Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) bertajuk “ Let’s Start by Entrepreneur” di Area Dome UMM, (3/5). Acara ini digelar sebagai langkah menumbuhkan jiwa entrepreneurship sejak dini mahasiswa FEB UMM. “Mengembangkan jiwa entrepreneur harus mulai sejak dini,” ujar Wakil Rektor I Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si Kamis (03/05). Expo produk ini merupakan kolaborasi Program Studi Managemen, Akuntasi dan Ekonomi Studi Pembangunan (ESP) FEB. Pameran diikuti peserta sebanyak 21 kelas dan 205 kelompok wirausaha mahasiswa. Tidak hanya sebagai jalan untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan mahasiswa, melalui acara ini FEB juga ingin memupuk rasa percaya diri mahasiswa untuk menjadi wirausahawan yang sukses. Ketua pelaksana Expo Kewirausahaan Sulfian menegasakan, pameran ini juga sebagai ajang mahasiswa untuk menampilkan produk inovasi mereka setelah mengampu mata kuliah Kewirausahaan. ”Acara ini merupakan bentuk praktik nyata dari mata kuliah kewirausahaan,”ujar mahasiswa Program Studi Manajemen tersebut.