Markaz Dakwah UMM Resmikan Tempat Ibadah

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi umat. Salah satunya dengan meresmikan Musholla Nurul Hidayah oleh Markaz Dakwah Fakultas Agama Islam (FAI) yang diketuai Jamal, S.H.I, M.Sy, pada Minggu (13/12) lalu. Turut hadir Wakil Rektor I UMM, Dekan FAI serta perwakilan dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah Dau, Malang. Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si selaku Wakil Rektor I UMM menyampaikan ucapan terima kasih kepada para donatur, Abdul Aziz La Unazzan dan Syeikh Fahad bin Nasir. Keduanya sudah memberikan manfaat lewat pendirian Musholla tersebut. Ia juga menyebut beberapa alasan mengapa Mushola itu diberi nama Nurul Hidayah. Satu di antaranya adalah agar bisa menjadj tempat untuk menggali ilmu yang bermanfaat. “Di samping untuk ibadah, juga bisa digunakan sebagai pusat kajian keagamaan,” terangnya lebih lanjut. Syamsul, sapaan akrabnya, juga sedikit menyinggung terkait keimanan. Salah satu indikatornya adalah seberapa bagus dan makmur musholanya. Ia menyayangkan jika ada masjid besar nan megah, tapi jamaahnya hanya segelintir saja. “Memakmurkan mushola tidak hanya secara fisik bangunannya saja, tapi juga kegiatan ibadah dan keilmuan keagamaan,” pungkasnya dalam sambutan. Senada dengan apa yang disampaikan Syamsul, Prof. Dr. Tobroni, M.Si, Dekan FAI UMM juga mendorong agar mushola yang diresmikan bisa menjadi pusat dakwah Muhammadiyah. Ia menyebutkan beberapa contoh memakmurkan masjid yakni dengan pengajian, workshop keagamaan dan kegiatan lainnya. Ia juga berharap mushola bisa menjadi lampu pencerah bagi masyarakat sekitarnya. “Semoga mushola ini bisa memberikan manfaat lebih, tidak hanya dari aspek keagamaan tapi juga dalam aspek-aspek lainnya,” tandasnya di akhir sambutan. (wil)

Angkat Isu HAM, Mahasiswa UMM Raih Esai Terbaik

Berawal dari hobi menulis di blog, karya esai Ana Fuziah terpilih sebagai esai terbaik di kompetisi Lex Scientia Law Review Student Colloguium 2020. Acara ini diadakan oleh fakultas hukum Universitas Negeri Semarang (UNNES). Esai mahasiswa fakultas hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini juga di presentasikan secara daring dalam rangkaian acara yang dilaksanakan pada Minggu (20/12) lalu. Awalnya, Ana tidak manyangka bahwa esainya akan terpilih di perlombaan itu. Selain karena ajang ini dilaksanakan untuk umum, Ana sendiri baru menerima informasi pendaftaran sehari sebelum ditutup. “Untungnya, pihak panitia hanya mewajibkan para peserta untuk mengumpulkan abstrak di pendaftaran awal. Jadi saya masih ada waktu untuk menyusun esai dengan baik,” tutur mahasiswa yang lahir di Pasuruan ini. Dari sekian banyak abstrak yang dilombakan, hanya tujuh abstrak terbaik yang dipilih, salah satunya esai yang Ana tulis. Kemudian mereka diminta untuk mempresentasikannya di gelaran Lex Scientia Law Review Student Colloguium 2020. Nantinya ketujuh penulis esai terbaik ini akan mendapatkan pelatihan penulisan jurnal. Tulisan mereka juga berkesempatan untuk dimuat di jurnal Lex Scientia Law Review. Mahasiswa Fakultas Hukum ini mengungkapkan proses penulisan esai memakan waktu yang relatif singkat. “Jarak dari pengumuman abstrak terpilih dan presentasi berselang hanya dalam dua hari. Jadi saya tergesa-gesa dalam proses penyusunannya. Pengalaman saya dalam penulisan esai juga tidak banyak,” ujar anak kedua dari tiga bersaudara ini. Dalam perlombaan tersebut, Ana mengangkat tema Upaya Penegakan Hukum dan HAM melalui One Health Approach dan Law Enforcement. Judul yang ia angkat adalah bentuk upaya responsif untuk memberikan kebijakan yang intens dan kontinu, khususnya bagi pemerintah. Terlebih lagi dalam aspek pemberian peraturan yang berkaitan dengan kesehatan. Di samping itu, kualitas kesehatan memang sudah menjadi akar permasalahan selama masa pandemi Covid-19. “Karena telah lama menadalami isu ini, saya sangat berharap bahwa esai ini bisa direalisasikan di pemerintahan. Selain itu jika sudah termuat di jurnal, saya berharap pembahasan mengenai topik ini bisa semakin meluas” Kata Ana di akhir sesi wawancara. (syif/wil)

Tingkatkan Literasi di Malang, RBC Institute Luncurkan Platform Baru

Ada cara unik yang dilakukan Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute A. Malik Fadjar untuk mengapresiasi anak muda di kota Malang. Khususnya yang suka menikmati kopi sambil baca buku serta berdiskusi. RBC mengapresiasi anak-anak muda itu dengan meluncurkan platform ‘Teman Baca’ dan ‘Teman Ngopi’. Tidak ketinggalan ‘Kerabat RBC’ untuk komunitas literasi di Malang. Tiga platform tersebut dirilis, pada Rabu (23/12) di RBC, bersamaan dengan diadakannya kegiatan ‘Diskusi Akhir Tahun’. Maharina Novia Zahro, Marketing Communication (MarComm) RBC Institute, inisiasi ini dilakukan untuk memberikan penghargaan khusus pada para pengunjung yang sangat aktif mengunjungi RBC, baik untuk baca buku di public library RBC atau sekadar ngopi dan diskusi. RBC yang terletak di Ruko Perum Permata Jingga Kota Malang ini memang terdiri dari tiga area, yaitu learning space dan cafe di lantai satu, dan perpustakaan di lantai dua. Adapun apresiasi ‘Teman Baca RBC’ diberikan kepada Fitratul Akbar, Usman Abdurrasyid, Hanifah Rahmawati, Sholihatul Atik Hikmawati, dan Roni Versal. Dijelaskan Maharina, kelima orang tersebut dipilih lantaran mereka sangat aktif mengunjugi perpustakaan RBC. Atik dan Hanifah, misalnya, kerap berkunjung untuk menyelesaikan disertasi dan mengikuti perkulihan secara daring. Begitupun Fitra, seorang penulis muda dan mahasiswa UMM yang sering datang untuk membaca buku sebagai bahan tulisan di media massa. Lain lagi dengan Roni yang mengungkapkan bahwa koleksi buku di RBC sangatlah lengkap, beberapa di antaranya langka. Tidak jarang buku yang selama ini ia cari-cari, justru tersedia di rak buku koleksi milik A. Malik Fadjar. “Kehadiran lima ‘Teman Baca RBC’ ini menjadi penyadar bagi kami, bahwasannya, tidak sedikit orang yang masih mau kembali dan menghidupi perpustakaan,” kata staf RBC Institute, Chusnus Tsuroyya atau yang akrab disapa Unun. Nantinya, ‘Teman Baca RBC’ akan dibuka untuk umum, khususnya yang tengah berdomisili di Malang, dengan sejumlah syarat dan ketentuan. “Para teman baca itu akan mendapatkan sejumlah keuntungan, di antaranya free konsultasi menulis artikel populer dan konsultasi beasiswa luar negeri dengan para pakar di bidangnya. Ada juga free simulasi IELTS,” jelas Unun lebih lanjut Selain itu, apresiasi juga diberikan kepada Farros Imaroh dan Lady Charunica Ivanny sebagai ‘Teman Ngopi RBC’. Dijelaskan Unun, literasi tidak melulu berkaitan dengan membaca dan menulis saja. Namun, literasi juga erat kaitannya dengan berdialog. Bagi ‘Teman Ngopi’ seperti Farros dan Lady, mungkin, gagasan-gagasan dan ide-ide cemerlang tidak lahir dari membaca dan menulis saja. Gagasan dan ide-ide cemerlang justru lahir dari tegukan kopi yang diseruput secara bersama-sama, sambil berdiskusi. Terakhir, RBC juga mengapresiasi komunitas dan organisasi melalui platform ‘Kerabat RBC’. Penghargaan diberikan kepada Cangkir Opini dan Pimpinan Cabang Nasyi’atul ‘Aisyiyah Lowokwaru. Dua perkumpulan ini dipilih sebagai komunitas yang akan aktif menjadi partner RBC Institute. Sehingga kelak, RBC dapat dijadikan sebagai basecamp untuk menampung gagasan dan kegiatan-kegiatan mereka. Harapannya, lanjut Unun, dengan adanya program Teman Baca, Teman Ngopi dan Kerabat RBC, para kerabat dan teman-teman tersebut, dapat menjadi pionir literasi di RBC secara khusus dan di Malang Raya secara umum.(*/wil)

Bagikan Tips Raih Nilai Tinggi di Ujian Kompetensi Dokter

dr. Nabila Safira, perempuan kelahiran Lumajang yang berhasil meraih nilai tertinggi ke-2 Nasional Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) Batch November 2020. Nilai 93,5 dan gelar dokter  berhasil ia dapatkan berkat kerja kerasnya selama mengenyam pendidikan di FK UMM. Pada ujian kompetensi tersebut, prosentase kelulusan FK UMM juga mampu mencapai angka 94%. Dokter yang menyukai travelling ini menyampaikan bahwa ia tidak pernah belajar secara sistem kebut selamam. Selama ini, ia belajar secara teratur dan bertahap. Nabila juga tak pernah begadang hingga larut malam. Hal itu tak lepas dari prinsip yang ia pegang bahwa bukan seberapa lama waktu untuk belajar tapi seberapa berkualitas prosesnya. Tidur juga termasuk salah satu hal yang dibutuhkan dalam proses penerimaan materi. Meski demikian, Nabila tetap menyempatkan untuk bermain serta bercengkerama dengan keluarga dan kerabat di sela-sela waktu mengerjakan tugas belajarnya. “Memang perlu manajemen waktu yang baik agar kehidupan sosial dan belajar saya bisa berimbang,” ungkapnya saat diwawancara. Nabila menyampaikan, tujuan belajar adalah untuk bekal diri sendiri. Ia memegang teguh prinsipnya untuk selalu melakukan yang terbaik, bukan menjadi yang terbaik. Jika tujuannya menjadi yang terbaik, belajar menjadi tidak fokus dan menimbulkan perasaan iri dan dengki jika tidak tercapai. Bahkan bisa berujung pada perbuatan yang menghalalkan segala cara untuk menjadi yang terbaik. Putri dari Bapak Hartoko dan Ibu Qurrotul Ain ini juga membagikan amalan-amalan yang ia lakukan selama ini, yaitu bersedekah. Saat akan ujian blok, ujian tugas akhir, dan UKMPPD, ia selalu memberi makan dan meminta doa pada anak yatim. Selain itu ia juga selalu meminta doa orang tua. Bahkan setiap kali ia ujian, sang ibu selalu membaca Alquran di jam yang sama. “Saya ingat sekali saat ujian CIA (Clinical Integrated Assessment) secara daring, Mama saya mengaji di belakang saya. Intinya banyak-banyak minta doa dan ridho orang tua.” kenangnya. Atas capaian ini, Nabila, kedua orang tua, dan suaminya sangat bersyukur pada Allah. Ia berharap raihannya bisa memotivasi mahasiswa-mahasiswa FK UMM lain sehingga bisa kembali meraih nilai tinggi di UKMPPD. (wil)

E-Lemur, Bawa Mahasiswa UMM Raih Juara Lomba Esai Nasional

Melihat berbagai dampak pandemi dalam proses belajar mengajar, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tulis esai tentang aplikasi E-Learning For Make You Better (E-LEMUR). Esai ini berhasil meraih juara tiga dalam Lomba Esai Mahasiswa (LESMA) tingkat nasional. Tim UMM yang turut andil dalam lomba yang diadakan oleh Universitas Negeri Semarang (UNNES) pada Minggu (22/11) lalu ini terdiri dari dua mahasiswa Fakultas Kedokteran, Abdi Malik Rahardjo dan Jodii Arlan Kurnia. Malik, panggilan akrabnya, sadar bahwa pandemi telah membawa kebiasaan baru di kehidupan bermasyarakat, salah satunya dalam proses belajar mengajar. Sejak munculnya kasus penyebaran Covid-19 di Indonesia, pemerintah mengubah format proses belajar mengajar luring menjadi daring. Hal itu dilakukan untuk menekan angka penularan Covid-19 di lingkungan institusi pendidikan. “Sayangnya, format daring ini memunculkan problematika baru. Misalnya saja akses internet yang tidak merata. Guru dan siswa juga merasa kesulitan memahami berbagai macam aplikasi,” jelasnya. Beberapa realita tersebut menggugah Malik dan Jodii untuk menulis dan menuangkan idenya dalam sebuah esai. “Berawal dari permasalahan proses belajar mengajar saat pandemi, kami ingin membuat inovasi pembelajaran yang multifungsi dan efektif serta memudahkan proses pembelajaran” terang Malik lebih lanjut. Malik kembali menjelaskan bahwa aplikasi ini akan memiliki lima menu utama. Menu yang pertama adalah pembelajaran yang berfungsi untuk melakukan proses belajar dan mengajar. Adapun modelnya akan mengikuti Zoom dan Gmeet. Kemudian menu kedua adalah review materi. Sistem yang digunakan mirip dengan apa yang disajikan Google Drive. Nantinya, siswa dan mahasiswa dapat mengakses  materi yang telah disampaikan oleh guru atau dosen dengan sekali tekan. Menu ketiga adalah Augmented Reality yang berguna untuk mengubah semua gambar menjadi bentuk 3D. Sementara menu keempat dan kelima adalah evaluasi serta menu ujian. Kedua menu ini akan memudahkan guru untuk memuat berbagai post test, ujian, ulangan harian, ujian akhir semester dan ujiannya lainnya. Meskipun ide yang digagas masih berupa karya esai, mahasiswa asal Sidoarjo ini ingin agar ia dan timnya bisa merealisasikan idenya melalui aplikasi. Mereka berniat untuk menggandeng komunitas digital inovasi yang ada di Malang. “Saya berharap aplikasi ini tidak berhenti dalam bentuk esai saja, namun juga bisa berbentuk aplikasi yang sebenarnya. Selain itu juga bisa menjadi salah satu solusi pembelajaran online yang simpel dan mudah,” pungkasnya di akhir sesi wawancara. (syi/wil)

Mahasiswa UMM Beri kontribusi Sekolah Terdampak Pandemi

Dua belas mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tuntas jalani Program Kampus Mengajar Perintis (KMP). Program ini merupakan bagian dari Kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) yang digulirkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayan. Adapun tujuannya adalah mengajak mahasiwa untuk berpartisipasi serta memberikan solusi bagi sekolah-sekolah yang terdampak pandemi Covid-19. Kedua belas mahasiswa tersebut merupakan perwakilan UMM untuk program KMP yang dilaksanakan selama tiga bulan. Mereka juga bagian dari 2.500 mahasiswa terpilih se-Indonesia yang terjun langsung ke sekolah-sekolah terdampak Covid-19, khususnya di sekitar domisili masing-masing. Kegiatan yang digagas juga berbeda-beda tergantung permasalahan yang dihadapi tiap sekolah berdasarkan observasi awal. Rohmawati Mufida, misalnya, melaksanakan program tular teknologi pada guru di SDN 52 Parupuk Tabing, Kota Padang. Hal itu dikarenakan sebagian besar guru masih kurang memahami teknologi. “Program tular teknologi tidak hanya saya berikan kepada guru tetapi kepada siswa dan wali siswa, karena masih banyak yang masih gagap teknologi. Padahal pembelajaran dilaksanakan secara daring,” terang Rohma, sapaan akrabnya. Berbeda denga Rohma, Pripta Fajri Ramadhanti melaksanakan kegiatan yang berfokus pada literasi di SDN Mangunreja, Kab. Serang, Provinsi Banten. Hal itu berangkat dari hasil asesmen literasi dan numerasi siswa melalui  aplikasi Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) yang menunjukkan hasil di bawah rata-rata. “Kemampuan literasi anak-anak kebanyakan di bawah angka 60. Bahkan, ada anak kelas 4 SD yang ternyata belum bisa membaca. Jadi, selain mengimplementasikan Modul Literasi Numerasi dari Kemendikbud, saya membuat beberapa kegiatan lain seperti membuat poster menarik dan mading timbul sederhana,” jelas mahasiswa tingkat akhir Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia itu. Wakil Dekan I FKIP UMM, Dr. Sudiran, M.Hum, bersyukur bahwa kedua belas delegasi FKIP UMM yang didaftarkan lolos pada program yang didanai LPDP tersebut. Menurutnya, keterlibatan FKIP dalam KMP bukan hanya untuk mendukung kebijakan pemerintah, tetapi juga memberikan beragam manfaat bagi mahasiswa. Salah satunya adalah mengasah softskill dan hardskill mereka. Lebih lanjut, ia berharap para mahasiswa bisa berperan secara optimal dalam mengembangkan karir dan profesi lewat KMP ini. “Kami juga ingin pengalaman-pengalaman yang mereka dapatkan selama mengikuti KMP ini bisa diinternalisasikan dalam pengembangan karir dan profesi ke depan,” tambahnya. (wil)

Peduli Milenial, UMM Adakan Kajian Spiritual

Generasi milenial dianggap sebagai penerus bangsa dalam beberapa tahun ke depan. Tidak heran, banyak kajian yang membahasnya dari berbagai sisi. Begitupun dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang juga mengangkat tema generasi milenial lewat kajian rutin mingguan Kuliah Ahad Shubuh (KAS). Agenda  daring yang berlangsung pada Minggu (20/12) ini mengangkat tema Dimensi Spiritual Generasi Milenial dengan menghadirkan Dr. Faridi, M.Si. Faridi membuka materi dengan menjelaskan bahwa ajaran Islam mengapresiasi generasi milenial, umumnya para pemuda. Ia mengutip pepatah yang mengatakan syubbanul yaum rijalul ghod, sekarang pemuda esok hari sebagai pemimpin. Tak lupa Faridi juga menyebutkan penelitian yang memperlihatkan jumlah pemuda di Indonesia yang mencapai 87% dari total penduduk yang ada. Jumlah yang besar dibandingkan negara-negara lain, khususnya negara mayoritas muslim. “Hal ini membuat kita sadar bahwa generasi milenial adalah aset yang besar dan berharga bagi Indonesia untuk membangun masa depan,” terangnya lebih lanjut. Dosen yang juga menjadi kepala Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) UMM itu juga menyinggung hubungan antara milenial dan gadget. Kini gadget sudah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Hal itu membuat milenial susah untuk lepas dari media sosial dan juga telepon genggam yang dimiliki. “Teknologi itu layaknya pisau, berbahaya jika digunakan oleh penjahat. Tapi akan sangat bermanfaat kalau di tangan juru masak,” ujar Faridi dalam materinya. Meski begitu, ia berharap agar generasi milenial bisa memanfaatkan teknologi dengan baik dan benar. Apalagi penelitian memperlihatkan ada sekitar 67% anak muda yang menggunakan gadget sebagai pelarian saat tertekan dan stres. “Di sinilah nilai spiritual berperan. Mengisi kekosongan, mencoba menghadirkan tuhan lewat telepon genggam. Tuhan tidak hanya hadir di masjid, pura, atau gereja saja bukan?” tanyanya pada peserta kajian. Dalam uraiannya, Faridi juga menjelasan tentang pentingnya keseimbangan, khususnya antara dunia dan akhirat. Ajaran Islam mengajarkan bahwa orang yang baik adalah orang yang selalu memperhatikan dunia dan akhiratnya. Mencari dunia dengan tujuan meraih kebahagiaan abadi, yakni kehidupan setelah mati. Dosen yang sempat menjadi Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) UMM tersebut juga menegaskan salah satu inti dari nilai spiritualitas, yakni akhlak. “Jika kita menerapan akhlak yang baik ke siapapun dan apapun, maka hakikatnya kita sudah memaknai nilai spiritualitas yang sangat dalam,” jelas Faridi. Pada akhir sesi, Faridi kembali mengutip salah satu ungkapan menteri dalam kabinet Bill Clinton yang mengatakan bahwa standar kekayaan negara di era sekarang dan masa depan bukan seberapa banyak sumber daya alam yang dimiliki, melainkan seberapa bagus kualitas dan kuantitas sumber daya manusianya. “Maka dari itu, generasi milenial harus bisa mendayagunakan seluruh tekonologi degan sebaik mungkin. Memaksimalkan gadget hingga akhirnya memberikan kemajuan di masa depan,”pungkasnya di akhir materi. (wil)

Usung Tema Politik Identitas, Mahasiswa UMM Menangi Pekan Kebangsaan

Meskipun pandemi masih berlangsung, mahasiswa-mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak henti meraih prestasi di tingkat nasional maupun internasional. Tim yang terdiri dari tiga orang ini berhasil menyabet juara satu dalam lomba Pekan Kebangsaan yang diadakan oleh Universitas Negeri Malang (UM) dengan kategori lomba dialog interaktif demokrasi dan politik identitas. Final perlombaan ini diadakan Kamis (19/11) lalu. Tim tersebut beranggotakan Mariano Werenfridus, Wieby Winarto, dan Ilham Muhammad Shandy. Mereka bertiga berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Jurusan Ilmu Pemerintahan (IP). Dalam perlombaan itu, ketiganya mengangkat  tema antisipasi gerakan politik identitas Indonesia. Mariano mengatakan bahwa persiapan lomba ini dilakukan selama satu bulan lamanya. Persiapan ini terbagi menjadi empat tahapan, yang pada masing-masing tahapan memakan waktu satu minggu. Tahapan pertama adalah mencari dan menemukan berbagai referensi terkait tema yang mereka angkat. Setelah rampung, masing-masing anggota menulis sesuai bab yang telah dibagi. Terakhir, tahap penyusunan tulisan dari masing-masing anggota. Mereka juga tidak lupa untuk melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing. Mahasiswa kelahiran sulawesi ini mengungkapkan bahwa mereka sama sekali tidak memiliki kendala saat proses persiapan lomba. Semua berjalan lancar dan sesuai dengan rencana. “Kami bertiga memang sudah lama kenal dan kompak. Apalagi sama-sama berada di satu organisasi yang sama. Ditambah lagi dengan bimbingan dosen serta dukungan kampus, baik dari segi fasilitas maupun hal lainnya,” ujar Mariano, salah satu perwakilan kelompok. Ia juga menyampaikan bahwa motivasi terbesar yang di pegang timnya dalam mengikuti lomba tersebut adalah untuk tetap bisa berprestasi dan menjaga khazanah intelektual. Lebih lebih di tengah situasi serba sulit seperti saat ini. “Saya berharap tulisan kami tidak berhenti sampai lomba ini saja, namun berlajut menjadi sebuah jurnal agar dapat dinikmati oleh khalayak umum” tandasnya di akhir sesi wawancara. (syi/wil)

Tingkat Perceraian Tinggi, Dosen UMM Terbitkan Buku Hukum Perkawinan

Melihat realita sosial dari dekat membuat Tinuk Dwi Cahyani, S.H.,S.HI.,M.Hum merasa miris dengan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang hukum pernikahan. Berangkat dari hal itu, dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini memutuskan untuk menulis buku yang membahas tentang  hukum dalam perkawinan. Buku ini diterbitkan pada Selasa (07/12) lalu, melalui UMM Press. Tinuk, sapaan akrabnya, sudah mulai menulis buku ini sejak tahun 2018 yang lalu. Prosesnya memakan waku yang cukup lama karena harus melaksanakan penelitian terlebih dahulu. Selain itu juga melakukan penyuluhan dan pemberdayaan masyarakat. “Hal ini saya lakukan agar bisa mengetahui lebih dalam realitas sosial yang ada,” ujar dosen kelahiran Madiun ini. Banyak kisah yang ia dapatkan selama penelitian berlangsung. Tinuk mengungkapkan bahwa masyarakat kurang memahami tentang pentingnya mendaftarkan pernikahan ke negara. Padahal hal itu merupakan bentuk legalitas suatu pernikahan. Pendaftaran pernikahan memiliki dampak signifkan, khususnya bagi korban kasus perceraian dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Mereka akan kesulitan atau bahkan tidak dapat memperoleh haknya seperti nafkah Iddah, gugatan nafkah, dan perlindungan dari KDRT. Dampak lain yang ditemukan jika masyarakat kurang memahami hukum pernikahan adalah jumlah pernikahan di bawah umur dan kasus perceraian yang melonjak tajam, khususnya di Kabupaten Malang. “Mendaftarkan pernikahan itu merupakan hal yang sangat penting karena negara bisa melindungi hak-hak individu melalui hukum. Pelaku juga bisa mendapatkan hukuman yang setimpal bahkan lebih berat,” lanjut Tinuk. sejak diterbitkan pada awal Desember,  buku hukum pernikahan ini telah diedarkan ke masyarakat umum. Tinuk juga membagikan buku tersebut kepada narapidana binaan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita Sukuh dan para peserta Seminar hari ibu yang dilaksanakan oleh pimpinan daerah Aisyiyah Kota Malang. “Saya tentu berharap agar buku yang saya tulis ini bisa mendorong masyarakat untuk lebih memahami aturan hukum dan undang-undang yang berlaku ketika terjadi sesuatu, terutama dalam hal legalitas pernikahan” tandasnya. (syi/wil)

INTI-UMM Canangkan Bangun 1000 PLTMH

Pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memasuki babak baru. Ini terlihat setelah UMM berhasil menggandeng Perhimpunan Tionghoa Indonesia (INTI) dalam sebuah gerakan Membangun 1000 Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Pertemuan perdana kedua pihak berhasil menyepakati dibangunnya PLTMH di tiga titik dalam waktu dekat. Pertemuan dipimpin rektor UMM, Fauzan, dilakukan secara virtual, Kamis (17/12/2020). Turut serta dalam rapat, tokoh INTI Pusat yang juga pengusaha terkaya Indonesia, Murdaya Poo. Selain itu Ketua Umum INTI, Teddy Sugianto, serta beberapa pengurus INTI lainnya seperti Robert Njo dan Teddy Endra. Sementara dari pihak UMM, selain rektor, hadir pula para Wakil Rektor. Juga, Ketua Pengembangan Energi Baru Terbarukan  Suwignyo, Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Prof. Yus Cholili Dekan FT Dr. Ahmad Mubin. Fauzan mengatakan tekad UMM membangun 1.000 PLTMH merupakan komitmen menerjemahkan visi pembangunan dengan memanfaatkan sustanaibilitas energi baru terbarukan. Di Indonesia potensi alam yang melimpah masih belum tergarap optimal untuk menghasilkan energi, terutama untuk memenuhi kebutuhan listrik dan mengalirkan air bersih kepada masyarakat pedesaan. “Selama 13 tahun terakhir UMM telah membangun tujuh PLTMH di berbagai daerah. Semuanya memiliki manfaat besar bagi masyarakat. Ini harus kita lanjutkan sampai merata dan lebih luas lagi,” kata rektor. Baca juga : UMM Jalin Kerja Sama dengan Universidad EAFIT Kolombia UMM sendiri telah memiliki dua PLTMH yang berdiri di dalam lingkungan kampusnya, masing-masing menghasilkan listrik sebesar 100 KwH dan 75 KwH. Meski belum mencukupi untuk kebutuhan listrik kampus, kedua PLTMH itu setidaknya berhasil menjadi laboratorium terapan yang dapat dipelajari langsung oleh masyarakat yang berkunjung. “Ini tahap awal untuk memulai UMM sebagai kampus mandiri energi untuk menjawab kelangkaan energi di masa depan,” lanjut rektor. Murdaya Poo menyampaikan pengalamannya membangun PLTA dengan kapasitas 125 MW memang memerlukan investasi yang besar. Namun diakuinya, PLTMH sangat dibutuhkan masyarakat kecil di pedesaan terutama yang belum terjangkau aliran listrik. Pembangunan PLTMH dapat diarahkan sebagai charity (amal sosial). Muhammadiyah dan INTI sama-sama memiliki komitmen sosial yang sangat tinggi. “Air melimpah, ketersediaan turbin sudah banyak, tinggal dikonkritkan dimulai dari mana. Tentukan saja titik yang akan dibangun lebih dahulu bersama-sama UMM dan INTI,” ajak Poo memulai program ini. Dalam diskusi mengemuka, potensi alam Indonesia sangat melimpah dengan curah hujan tinggi. Hasil studi awal UMM yang dipimpin oleh Suwignyo, terdapat lebih dari 20.000 jaringan irigasi yang dapat diolah menjadi PLTMH. “Selain itu ada 1.249 titik potensi energi di Indonesia dengan kapasitas produksi energi hingga 6.644 MW per titiknya,” kata Wignyo mengutip studi JICA tahun 1999. Namun diakui masih ada problem regulasi. Seperti tertuang dalam Permen no 50/ 2017, ijin pembangunan PLTA masih sangat sulit. Poo menyarankan agar selain ada tim teknis untuk memulai pembangunan PLTMH, juga ada upaya lobi ke pemerintah melalui Menteri PUPR dan Ombusmen untuk memperjuangkan regulasi yang lebih memudahkan pembangunan PLTA ini. Menanggapi problem ini pihak INTI mempercayakan kepada UMM untuk melakukan langkah strategis ke pemerintah. “Apa yang mampu dilakukan oleh teman-teman INTI dan ingin sekali dikerjasamakan dengan UMM adalah membantu saudara-saudara kita di pedesaan. Jadi harus kita harus berjalan bersama-sama,” ungkap Teddy Sugianto. Lebih lanjut, Fauzan menginginkan sesegera mungkin titik-titik awal yang diminta Poo tadi segera ditemukan dan dimulai studi kelayakan dan pembangunannya. “Yang penting kita bekerja dulu, MoU bisa menyusul. Bila perlu penandatanganan MoU nanti bersamaan dengan peresmian dimulainya pembangunan PLTMH di salah satu titik itu,” katanya. Tiga titik yang sudah ditemukan dan diteliti UMM ada di Jember, Blitar dan Kabupaten Malang. Ketiganya memiliki potensi lebih mudah direalisasikan karena sudah ada studi kelayakan dan bekas PLTMH era kolonial. “UMM harus memberi solusi kepada bangsa bahwa hemat energi saja tidak cukup. Jika penghematan justru akan mengurangi produktivitas, maka solusinya adalah menggali potensi energi alternatif,” pungkas Fauzan yang telah dua kali menerima ASEAN Energy Award 2009 dan 2018 ini. (*/wil)